The Naked Truth: Happily Ever After

The Naked Truth krys fix copy

Twelveblossom (twelveblossom.wordpress.com) | Sehun & Jung Nara | Angst, Romance, and Marriage Life | PG 17

Previous: PrologMournfulThe Girl From The PastThe Man From The Past

Sudah beberapa kali aku memindahkan tatapanku pada kertas yang berada di tangan, lalu memandang pagar rumah itu. Hunian mewah yang berada di tengah kota, aku meyakininya sebagai tempat tinggal Sehun.

Beberapa hari yang lalu, Chanyeol menuliskan sebuah alamat yang akan mengantarkan diriku pada Sehun. Ia memintaku segera datang menemui Sehun. Entah apa yang akan terjadi nanti, aku tidak bisa memprediksikan. Ketidakpastian itu membuatku berkali-kali mengurungkan niat untuk berjumpa mantan suamiku. Nyali ini menciut.

Sekarang, aku pun hanya bisa tertegun, tidak berani melakukan apa-apa.

Sudah satu jam aku berdiri di sini. Matahari mulai tenggelam. Angin yang berhembus menusuk kulit. Pakaianku tidak cukup tebal, hanya kaus putih ditambah jaket biru tua dan celana jins bewarna senada. Aku lupa membawa syal. Suraiku yang lurus terurai, digoyangkan angin.

Aku layaknya pengemis yang menunggu di depan rumah dan meminta belas kasihan.

Betapa menyedihkan hidupku ini. Tadinya aku memiliki segalanya, namun malah membuangnya. Aku yang tidak bersyukur, hanya mendapatkan duka dan kesialan dalam hidup.

Aku berbalik pergi, meninggalkan rumah itu, sembari meyakinkan diri agar lain kali lebih bernyali. Mungkin besok, aku akan mengetuk pintu rumah Sehun, setelah kekuatan dan tekadku benar-benar terkumpul.

Hah. Besok? Benarkah esok aku akan memiliki nyali untuk mendatangi Sehun?

Atau lusa?

Atau minggu depan?

Atau satu tahun lagi?

Entahlah. Aku menghentikan lamunan.

Langkahku terhenti ketika mobil hitam melaju ke arah hunian Sehun, kemudian berhenti di sisi kiri rumah.

Siapa pun itu, pasti sudah melihatku. Aku berjalan lebih cepat, agar tidak tertangkap basah telah menguntit rumah seseorang. Akan tetapi, pijakkan kakiku melemah, saat suara  itu memanggilku.

“Nara.” Vokal Sehun, membuat langkahku berhenti.

Aku tidak bisa menoleh ke arahnya. Tubuhku kaku. Aku mendengar langkah kakinya mendekat.

“Jung Nara.” Ujar Sehun sembari membalik tubuhku. Ia mencengkram lembut lenganku. Sehun mengamati diriku dari ujung surai hingga sepatu. “Apa ada sesuatu yang terjadi? Kenapa kau kemari? Kenapa tidak menghubungiku terlebih dahulu?” Pertanyaan itu meluncur begitu cepat dari bibir Sehun, melalui nadanya yang dingin.

Perlahan aku menaikkan pandanganku agar bisa melihat sorot netranya yang tajam. Sehun menatapku penuh perhatian. Ia menunggu jawaban.

“A-aku―“

“―Sehun, siapa dia?” Jawabanku dipotong oleh gadis lain yang berdiri di belakang Sehun. Gadis itu sangat rupawan. Si gadis jelita bersurai hitam, kulitnya putih, dan tubuhnya proposional.

Mendengar gadis itu bertanya penasaran, mendorong Sehun melepaskan cengkramannya padaku. Pria itu mengontrol rautnya untuk kembali datar. Ia menarik kemeja lengan panjangnya hingga ke siku sebelum menjawab. “Dia Jung Nara, mantan istriku.” Jawab Sehun.

“Oh, aku tidak mengira bisa bertemu denganmu. Aku Olivia Kim, kau bisa memanggilku Liv.” Ujar si gadis dengan ceria. Ia mengangsurkan tangannya ke arahku, meminta berjabat.

Aku menerima keramahan Liv. Meskipun, hatiku seperti diremas karena cemberu. Liv pastilah calon istri Sehun. Aku yakin itu. Mereka berada di mobil yang samaa, berduaan.

“Jung Nara.” Kataku singkat. Cepat-cepat aku melepaskan jabat tangan kami. “Aku harus pulang, sampai jumpa.” Lanjutku, tanpa menatap Sehun.

Pria itu menarik tanganku. “Kau belum mengatakan tujuanmu kemari.” Ucap Sehun tergesa.

Aku berusaha melepaskan tangannya, akan tetapi dia menolak meloloskanku. Ia menunggu. Dia keras kepala, seperti dulu.

Seharusnya, dia tidak boleh bersikap seperti ini kepadaku di depan calon istrinya, bukan!

Apa Liv tidak cemburu melihat tanganku dan Sehun yang bertautan? Sikap gadis itu sangat santai. Apa karena itu Sehun jatuh cinta padanya?

“Katakan, Jung Nara. Apa alasanmu datang ke rumahku?” Tanya Sehun.

Aku menggeleng sebagai jawaban.

“Apa kau sedang kesulitan, Nara?”

Lagi-lagi aku menggeleng. “Bukan urusanmu,” ucapku pelan.

“Jung Nara!” Seru Sehun tidak sabaran. Ia menghela napas. “Tentu saja menjadi urusanku. Kau tiba-tiba datang dengan pakaian seperti gelandangan dan ekspresi terluka. Kau membuatku khawatir.” Lanjut Sehun, nadanya tak kunjung melunak.

Aku tersulut, saat ia menyamakan diriku seperti gelandangan. “Aku ingin mengagalkan pernikahanmu dengan Liv, itulah tujuanku datang ke Seoul. Apa kau puas?” Jawabku lantang sambil menghempaskan tangannya.

Alis Sehun bertautan. Pria itu mengernyit bingung. Begitu juga dengan gadis yang berada di sampingnya.

“Siapa yang akan menikah?” tanya Sehun.

Olivia enggan menyembunyikan kekagetan dalam parasnya. “Aku dan Kak Sehun akan menikah?” Pernyataan itu lebih seperti pertanyaan.

Aku mengangguk.

Tawa mereka pun berhamburan, setelahnya.

“Rumah ini dibangun mirip dengan milik kita yang dulu. Jumlah ruangan, tata letak, dan perabotan.” Ungkap Sehun sembari meletakkan secangkir susu di atas meja, lalu duduk di sampingku.

Aku sedang berada di ruang santai rumah Sehun. Seperti katanya tadi, hunian ini duplikat dari tempat tinggal kami yang dulu. Terdiri dari dua lantai dan bercat kuning muda. Terdapat foto kucing kami. Ada hiasan gelas bergambar di lemari kaca dan televisi mengantung di dinding. Jangan lupakan sisi kanan yang dilapisi kaca, membingkai halaman belakang.

Rasa rindu itu langsung saja menyergapku.

“Aku pulang dulu ya, Kak Sehun. Sampai jumpa Nara.” Liv berpamitan, saat aku sibuk dalam pikiranku.

“Hati-hati di jalan.” Ujar Sehun dari tempat duduknya.

“Apa kau tidak mengantarnya?” tanyaku.

“Tidak, memangnya harus?” Sehun berujar santai.

“Dia calon istrimu.” Jawabku, menegaskan. Barang kali Sehun lupa ingatan.

Sehun melejitkan bahu, ia mengulum senyum. “Jangan membuatku tertawa lagi. Aku tidak akan menikah dengan Liv atau wanita lain.” Ujar pria itu.

“Tapi, Summer dan Chanyeol bilang kau akan menikah―“

“―Aku tidak tahu apa motif mereka berdusta kepadamu. Yang jelas, kau sudah tertipu. Jadi, hentikan membahas pernikahanku dan Liv.” Potong Sehun.

Aku menunduk malu. Bisa-bisanya aku begitu bodoh. Aku tidak tahu ini akan terjadi.

“Aku merindukanmu.” Ungkap Sehun, setelah jeda beberapa sekon. Yang langsung mebuatku, mencuri pandang ke arahnya.

“Kau membenciku.”

Sehun tersenyum. Pria itu semakin menawanku dengan parasnya. “Dulu memang begitu, tapi rasa rinduku jauh lebih besar daripada amarah dan kebencianku.”

Aku mencari kepastian dalam ucapannya. Aku yakin rona wajahku muncul kembali, ada rasa bahagia yang meletup dalam hatiku. “Kau tidak mencariku.”

“Kau tidak mencintaiku, Nara. Aku kira, kebahagianmu akan datang setelah diriku melepaskanmu.”

“Bodoh,” ucapku lirih. Aku menatap lekat pria itu. Lalu berucap perlahan, “Aku sangat mencintaimu, Oh Sehun. Maaf terlambat untuk menyadarinya.” Lanjutku.

Lalu Sehun pun menciumku.

Sementara diriku mengira-ngira apa arti kecupan itu.

-Fin-

a/n: Selesai, besok tinggal epilog!

5 responses to “The Naked Truth: Happily Ever After

  1. duh ya ampun jadi semua itu salah paham kah?sehun tidak akan menikah udahan iya yaampun swett tau sehun
    tadi udah siap aja sakit bacanya
    maaf yah baru coment dan comentnya dichapr ini td di chap dua ga ada kolom komentarnya jadi disini deh mau baca mumpung ga banyak tugas

  2. wahhhh
    akhirnya y nara bsa trbuka pkirannya
    stlah dgtuin dia bru sdar arti khdiran hun yg sbnrnya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s