[2/3] A Heart Like Yours

image

Cast

Kim Jongin, Cleo Hwang

Genre

Drama, Family, Angst

Length

Three shoot

Previous Chapter

A Heart Like Yours

Jumlah rintik hujan yang turun. Uap yang berevaporasi dari secangkir kopi dalam genggaman. Tangan kiri si lelaki dimasukkannya ke dalam saku celana. Sementara tangan yang lainnya memegang secangkir kopi panas. Sesekali meniup lalu menyeruputnya.

Lelaki itu berdiri di depan sebuah jendela kaca besar, memandangi gedung-gedung lain yang terpapar di luar sana dari ketinggian lantai 55 tempatnya berpijak. Lebih tepatnya di sebuah ruang kerja mewah miliknya.

Iris pekat miliknya boleh saja terus memandang ke luar jendela. Tetapi pikiran si lelaki berkelana jauh ke masa lampau. Dimana dosa-dosanya terus berputar di memori. Dan sebelum semuanya menjadi serumit seperti saat ini.

“Kau mau kemana? Kau kan baru pulang. Kenapa pergi lagi?” 

Pria itu tak menggubrisnya. Ia menutup pintu rumah cukup keras, lantas meninggalkan si wanita yang terus berteriak memanggil-manggil namanya.

“Jongin, ini cobalah makan masakkanku. Aku sengaja menyiapkannya untukmu. Ayo, dicoba! Aku yakin ini akan pas di lidahmu.”

“Tidak perlu. Aku sudah kenyang.”

 

“Dia siapa?”

“Rekan kerjaku.”

“Aku tidak suka dengan rekan kerjamu itu. Bisakah kau rr-jangan terlalu dekat-dekat dengannya?”

Si pria tak menjawab. Tetapi matanya menatap si wanita begitu tajam. Membuat si wanita tak berkutik di tempatnya.

“Jangan pernah mengaturku! Aku tidak suka diatur. Kau mengerti?!”

 

“Sudah kubilang dia menyukaimu! Terlihat jelas dari sorot matanya itu. Dan aku tidak suka. Wanita itu licik!”

“Bisakah kau diam?! Aku sedang banyak kerjaan. Lagipula kalaupun ia menyukaiku itu sama sekali bukan urusanmu!”

“Tentu itu urusanku! Aku istrimu!”

“Istri? Istri kau bilang?! Aku dan kau menikah hanya karena perjodohan! Tidak ada cinta di antara kita, perlu kau ingat! Jadi, pernikahan ini sama saja seperti pernikahan kontrak!”

“Berengsek…”

Serapah itu terdengar lirih… Namun mampu menyayat hati kala diikuti dengan setetes bulir air mata yang jatuh di pipi mulus wanita itu.

Sementara si pria yang melihat itu mematung. Ada sedikit perasaan bersalah yg terbesit, namun enggan ia perlihatkan. Lantas berkata dengan nada dingin seperti biasa, berpura-pura tak peduli “A-apa maumu sekarang?”

Wanita itu menghapus air matanya kasar. Lalu menjawab, “Mauku? Aku ingin kau menangis. Ya, aku bersumpah suatu saat nanti kau akan menangis karenaku…”

Ucapnya, lantas pergi meninggalkan ruangan itu dengan emosi yang menggebu-gebu.

 

“Kau berciuman dengannya?”

“A-aku. A-aku bisa menjelaskannya…”

Wanita itu tersenyum sinis.

“Tidak perlu. Bukankah pernikahan ini adalah pernikahan kontrak? aku pun hanyalah seorang istri kontrak. Jadi, kau tidak perlu buang-buang waktu untuk menjelaskan semuanya.”

 

“Kau mau kemana?”

Tak dihiraukannya pertanyaan itu. Tangan mulus milik si wanita sibuk memasukkan semua pakaiannya ke dalam koper.

“Kau mau kemana?!” 

“Hei! Aku berbicara padamu!”

“Pergi.”

“Aku tahu kau mau pergi. Tapi kemana?!”

“Terserah aku mau pergi ke mana.”

“Itu bukan jawaban! Aku bertanya kau mau pergi kemana?!!!”

“Aku mau keluar dari rumah ini, puas?!!!! Aku muak dengan semua ini! Aku muak dengan pernikahan ini!!! Aku muak denganmu!!! Aku mau pergi kemanapun yang tidak ada kau disana!!!!” 

Teriak wanita itu frustasi diikuti dengan tangisan sedu sedan yang menyayat hati. Membuat si pria lagi-lagi mematung tak percaya dibuatnya.

Dan begitu terakhir kalinya pria itu melihat wajah sang istri.

Dia, Kim Jongin. Akhirnya harus mengaku kalah, kala merasakan setetes air mata yang mengalir dari sudut matanya kemudian jatuh ke dalam secangkir kopi panas yang ia genggam.

Lihat air mata itu… Kau berhasil. Aku sudah kalah, Cleo. Aku sudah kalah. Jadi tolong pulanglah.

 —οΟο—

“Mirae…”

Gadis yang dipanggil berbalik. Mendapati seorang wanita cantik berdiri di belakangnya membawa bingkisan bekal di tangannya.

Setelah beberapa bulan tidak pernah lagi menampakkan batang hidungnya di depan gadis itu mengingat penolakkan yang diberikannya berkali-kali, akhirnya Cleo, ibu kandung Mirae memberanikan diri untuk menemui putri nya sekali lagi.

Wanita dewasa itu terlihat memilin ujung telunjukknya ketika ingin melanjutkan kata-katanya.

“A-apa kau sibuk? Bagaimana kuliahmu? Ah… Apakah kau juga sudah lapar? I-ibu… I-bu membawakanmu bekal. Kalau kau mau, kita bisa memakannya bersama-sama…”

Dan Mirae yang melihat itu ingin menangis saat itu juga. Bagaimana bisa ibunya terlihat begitu takut kala melihatnya. Betapa berdosa nya ia selama ini.

 —οΟο—

“Bagaimana? Enak?”

Mirae hanya mengangguk, menanggapi. Dan Cleo yang melihat itu hanya mampu tersenyum senang. Perasaannya tak mampu ia ungkapkan dengan kata-kata. Akhirnya, putri kesayangannya terlihat sudah mulai bisa menerimanya lagi. Meski Mirae jarang mengucapkan kata-kata pada Cleo. Ia hanya menjawab mengangguk ataupun menggelengkan kepala, tapi itu sudah bisa membuat Cleo puas.

Cleo melihat jam yang ada di pergelangan tangannya. Wanita itu mendesah pelan. Sudah saatnya ia pergi karena sudah ada janji dengan rekan bisnisnya.

“Ibu sudah harus pergi. Kau habiskan bekalnya, ya? Ibu akan tinggalkan di sini. Ibu pergi dulu, jaga dirimu baik-baik ya, Sayang. Ibu akan menemuimu lagi di lain waktu.”

Setelah menyelesaikan kalimat itu, Cleo pun mengelus rambut putrinya lembut. Lantas beranjak pergi dari tempat itu.

Namun, belum jauh langkahnya berlalu, sebuah suara kembali menghentikannya.

“Ibu tunggu…”

Ia tidak salah dengar kan? Mirae memanggilnya ibu lagi? Sungguh, Cleo ingin menangis saat ini. Wanita itu kemudian berbalik mengarah pada sang anak.

Mirae lantas menghampiri Cleo yang berhenti berjalan. Gadis itu lalu memeluk ibunya lembut. Cleo yang tidak menyangka mendapatkan perlakuan itu pun hanya mampu terdiam tidak percaya.

“Ibu… Pulanglah… Pulang ke rumah kita…”

“…Mirae rindu… Ayah juga…”

Dan detik itu juga tangis keduanya pecah.