Emergency Husband Service (Chapter 6) – Kee-Rhopy

Emergency Husband Service Cover 1

Emergency Husband Service (Chapter 6) – Kee-Rhopy

 

  1. Desperation

 

|| Author: Kee-Rhopy | Title: Emergency Husband Service | Cast: Park Chanyeol (EXO) & Choi Shiyoung (OC) | Support Cast: Song Hana (OC) & Byun Baekhyun (EXO) | Genre: Romance, Angst, Comedy, AU | Rating: PG | Lenght: Chaptered ||

 

=

 

Prev: 1. Reunion, Bad Result and Him | 2. A Good Liar | 3. The Key | 4. Changed | 5. The Feeling | 6. Desperation

 

 

“Aku sudah memikirkannya matang-matang dan … aku tidak pernah melakukan hal itu pada orang tuamu. Kenapa juga aku harus menerima hukuman untuk sesuatu yang tak pernah kulakukan?”

“….”

 

“Aku tak akan pernah melepaskanmu lagi, Youngie-ah…”

 

=

Happy Reading!

=

 

Begitu mendengar penjelasan Baekhyun, Chanyeol langsung mengerti apa yang tengah terjadi. Pria itu pergi ke apartemen Shiyoung tanpa pikir panjang. Dalam benaknya hanya terbersit keinginan untuk melihat gadis itu, memastikannya baik-baik saja.

 

Namun saat melihat keadaan Shiyoung terlihat lelah dan pucat, Chanyeol tak kuasa menahan diri untuk tak memeluk gadis itu. Tubuhnya bergerak tanpa perintah. Hatinya terasa perih melihat keadaan gadis yang sampai saat ini masih dicintainya.

 

“Aku tak akan melepaskanmu lagi, Youngie-ah…” ucapnya sembari mengeratkan pelukan.

 

Shiyoung berusaha keras menahan genangan air yang tiba-tiba mendesak keluar. Ia menahan napas, mencoba meredam luapan kerinduan dalam pelukan Chanyeol yang terkesan tergesa. Sejujurnya ia tak tahu kenapa Chanyeol tiba-tiba muncul di hadapannya dan melakukan hal ini.

 

Beberapa detik berlalu. Seolah tersadar akan sesuatu, Shiyoung yang sebelumnya diam saja dengan pelan mencoba melepaskan tangan Chanyeol yang melingkari tubuhnya. Setelah pelukan yang sempat membuatnya merasakan sedikit kehangatan itu terlepas, ia menatap Chanyeol, tepat di manik mata. “Aku tak tahu kenapa kau muncul lagi, mengatakan bahwa kau tak bersalah dan memelukku tiba-tiba.”

 

“Kau baik-baik saja?” Chanyeol menjawab tanpa peduli dengan perkataan Shiyoung yang terdengar keberatan.

 

Shiyoung menelan ludah. “Pergilah! Aku tak peduli kau bersalah atau tidak. Yang jelas, aku tak ingin melihatmu lagi,” ujarnya dingin. Lalu ia langsung berbalik dan hendak menutup pintu apartemennya, namun terhenti karena Chanyeol lebih dulu menahan lengannya.

 

“Biarkan aku bersamamu lagi, Youngie-ah.”

 

Shiyoung mengatupkan bibirnya, menahan isak tangis sekuat tenaga. Tanpa berbalik menatap Chanyeol, ia berujar. “Kupikir kau cukup mengerti dengan apa yang kukatakan terakhir kali, Park Chanyeol. Sudah jelas kukatakan, aku tak ingin melihatmu lagi.”

 

Chanyeol menatap sosok Shiyoung yang membelakanginya dengan satu helaan napas. “Apa yang harus kulakukan agar kau mau kembali padaku?”

 

“Kalau kau bukan anak ayahmu, aku bisa menerimamu kembali kapan saja.”

 

Perkataan Shiyoung berhasil membuat Chanyeol melepas genggamannya di lengan gadis itu. “Bukankah sudah kukatakan sebelumnya? Aku tak melakukan hal itu. Untuk apa aku menerima konsekuensi dari sesuatu yang tak kulakukan?”

 

“KAU ANAKNYA, PARK CHANYEOL!!” Shiyoung berbalik dan mengatakan kalimat itu dengan wajah merah padam. Dalam hati tak suka keegoisan Chanyeol yang bersikeras mengabaikan kenyataan pahit tentang kematian orang tuanya. “Tidakkah kau mengerti, setiap melihat wajahmu, aku selalu teringat ketidak adilan yang dialami orang tuaku? Mereka meninggal karena aku berhubungan denganmu. Kalau dari awal kau dan aku tidak–“

 

“–Kalau begitu ajukan tuntutan untuk ayahku!” Chanyeol mengatakannya seolah itu bukan masalah besar. Terlihat dari ekspresinya yang tak menunjukkan raut keberatan sama sekali. Sebenarnya merupakan hal yang wajar, karena detik ini pikiran Chanyeol hanya terfokus pada satu tujuan; membuat Shiyoung kembali bersamanya. Jika tidak, kata penyesalan tak akan cukup untuk menggambarkan segalanya.

 

Shiyoung terdiam. Tindakan Chanyeol sungguh di luar dugaan. Tak pernah sedikitpun terbersit dalam pikiran bahwa Chanyeol akan dengan mudahnya mengatakan hal itu.

 

“Kenapa diam saja?” pertanyaan Chanyeol terdengar menuntut. “Kenapa kau tak menuntut ayahku dari dulu? Kenapa kau mengatakan bahwa kau tak mencintaiku lagi? Kenapa kau malah memilih untuk berpisah denganku?” Chanyeol menghela napas. “Kau tahu? Itu adalah tindakan terbodoh yang pernah kau ambil, Choi Shiyoung.”

 

Shiyoung terhenyak mendengar kata ‘terbodoh’ keluar dari mulut Chanyeol. Tak tahukah Chanyeol bahwa ia tak melakukannya karena takut pria di hadapannya ini terluka? Shiyoung menutup mata, menahan berbagai macam perasaan yang menghantam keras hatinya. “Pergilah, Park Chanyeol! Kau tak tahu apa-apa.”

 

“Apa yang tak kutahu? Kau tak menuntutnya karena takut aku terluka dan malah memilih untuk meninggalkanku?” Chanyeol menjawab dengan nada putus asa.

 

Mata Shiyoung membulat. Tak menyangka kalau Chanyeol bisa menebak alasan dari tindakan diamnya selama ini.

 

Chanyeol mendongak, menatap Shiyoung yang terkejut. “Aku tahu semua hal tentangmu. Aku hafal semua kebiasaanmu. Aku tahu saat kau berbohong dan segalanya tentangmu. Untuk itulah aku tak terima saat kau berkata tak mencintaiku lagi.” Napas Chanyeol memburu, menahan segala macam perasaan yang membentur hati. Di tengah pandangan yang tiba-tiba berubah sendu, Chanyeol sekuat tenaga berkata, “Dan… Aku tahu kau sakit. Untuk itulah aku tak mau–”

 

“–Diam, Park Chanyeol!” Shiyoung berkata tertahan. Entah kenapa ia tak suka dengan kenyataan bahwa Chanyeol tahu keadaannya. Ia mulai merasakan sesak tanpa alasan. Matanya mulai berair, dan sialnya air itu meruntuhkan dinding pertahanannya untuk tak terlihat rapuh. “Kumohon pergilah…”

 

Ini pertama kalinya Chanyeol mendengar Shiyoung memohon dengan nada seputus asa itu. Membuatnya tak bisa berbuat apa-apa selain diam di tempat dan membiarkan Shiyoung menutup rapat pintu apartemennya.

 

 

“Baek, apa wajar jika seseorang tak mau didekati karena sekarat?”

 

“DIAM KAU, PARK CHANYEOL!!” Baekhyun mengarahkan telunjuknya lurus ke arah Chanyeol. “Jangan berani mengalihkan pembicaraan sebelum aku mengklarifikasi semuanya.”

 

Chanyeol hanya diam di tempat dengan pandangan menunduk. Pasrah mendapat gertakan Baekhyun yang sepertinya tak terima dirinya tertipu.

 

“Aku bahkan repot-repot menyelidiki obat itu, mengkhawatirkanmu dua hari penuh, memelukmu seperti orang gila dan kau bilang itu bukan obatmu? Kau bilang kau menemukannya di lantai?” Baekhyun menepuk dahinya keras, mengutuk tindakan Chanyeol yang kurang kerjaan karena memungut obat orang lain. “Kalau aku tahu obat itu bukan milikmu, aku tak akan pernah memelukmu seperti itu! Oh, memalukan sekali!” lagi-lagi Baekhyun menepuk dahinya keras. Mengingat kejadian memalukan tadi pagi membuatnya frustasi. Untung saja Chanyeol mendatanginya malam ini hingga ia bisa melampiaskan kekesalannya sekarang.

 

Chanyeol diam. Pertemuannya dengan Shiyoung sanggup membuat moodnya semakin buruk. Ia bahkan tak berminat sama sekali dengan ocehan Baekhyun yang protes padanya.

 

“Kau tahu? Aku mendatangi banyak tempat untuk menyelidiki obat itu karena aku tak ingin percaya kalau itu obat untuk kanker lambung.” Baekhyun melanjutkan ocehannya, bernapas sebentar lalu lanjut lagi. “Lalu, mendatangi banyak tempat tak membutuhkan dana yang sedikit. Aku bahkan memakai uang yang akan kugunakan untuk riset novelku. Oh, aku menghabiskan uang demi sesuatu yang tak berguna! Dan itu semua karena seorang sahabat kurang kerjaan yang memungut obat orang lain! ITU KAU, PARK CHANYEOL! HARUSNYA KAU–”

 

“–Kau ingin aku mengganti uangmu?”

 

Perkataan Chanyeol yang tiba-tiba sanggup membuat Baekhyun bungkam. Yeah, sebenarnya kelanjutan dari kalimat Baekhyun adalah ‘HARUSNYA KAU MENGANGKAT TELEPONKU AGAR AKU TAK BERTINDAK GEGABAH’, bukannya kalimat ‘HARUSNYA KAU MENGGANTI UANGKU’. Tapi karena Chanyeol sudah mengatakannya, apa boleh buat? “Ehm… yaa, sebenarnya… bukan…”

 

“Aku akan mengirimnya ke rekeningmu,” lagi-lagi Chanyeol tak membiarkan Baekhyun selesai bicara. “Jumlahnya pasti dua kali lipat. Dan sebagai gantinya, sementara waktu aku akan menginap di sini.”

 

Baekhyun hendak membalas perkataan Chanyeol kalau saja ponselnya tak bergetar. Terpaksa ia mengambil ponsel dari saku celananya. Senyumnya merekah saat melihat nama yang tertera di layar. Telepon dari Sepupu Ekstrim.

 

Yeobseo?” Baekhyun sumringah. Wajahnya berbinar dan yang terjadi selanjutnya, ia terlarut dalam pembicaraan yang sangat asyik hingga mengabaikan Chanyeol yang menatapnya dengan aneh.

 

Chanyeol menggelengkan kepalanya melihat betapa asyiknya sahabatnya itu berbicara lewat telepon. Baekhyun memang aneh. Padahal baru saja Chanyeol melihatnya menggebu-gebu karena merasa tertipu, sekarang sahabatnya itu malah terlihat seperti orang paling bahagia sedunia.

 

“Baiklah… baiklah… aku menantikan kelanjutannya.”

 

Klik.

 

Baekhyun kembali berbalik dan menghadap Chanyeol begitu urusannya dengan si Sepupu Ekstrim selesai. Kini wajahnya secerah matahari di musim panas, tak merah padam seperti tadi.

 

“Siapa?” Chanyeol bertanya tanpa minat.

 

“Sepupuku yang paling ekstrim, Jang Nari.”

 

“Jang Nari?” Chanyeol mengernyitkan dahi.

 

“Eoh, kenapa memangnya?”

 

Sebuah dorongan aneh muncul saat nama Jang Nari terdengar. Namun karena suasana hati yang buruk, Chanyeol memilih untuk mengabaikanya dengan berkata, “Tidak apa-apa. Hanya bertanya saja.”

 

 

“Aku merasa bersalah harus mengatakannya langsung. Tapi kondisimu benar-benar memburuk. Kankermu menyebar dengan cepat. Obat yang kuberikan mungkin tak akan terlalu membantu.”

 

Shiyoung menghela napas saat perkataan Dokter Zhang dua jam yang lalu melintas kembali. Perasaannya benar-benar kacau. Bingung harus menangis, mengeluh atau marah saja sekalian. Belum lagi kedatangan Chanyeol yang membuatnya selalu memikirkan pria itu. Kenapa hidupnya terasa menyulitkan sekali?

 

Cklek!

 

Shiyoung membuka apartemen dan masuk ke dalamnya. Gadis itu berbalik dan hendak melepas sandal saat dilihatnya sosok Hana berdiri di hadapannya dengan tatapan menyelidik. “Wasseo?” ucapnya dengan senyum yang dipaksakan.

 

“Kau anggap aku apa, Shiyoung-ah?!” Hana berucap tertahan, terselip amarah dalam nada bicaranya.

 

Shiyoung mencoba mengendalikan emosinya dengan tetap berekspresi tenang. Gadis itu tak menggubris kalimat Hana yang terdengar marah. Ia malah melangkahkan kakinya dengan santai memasuki ruang tamu, melewati TV dan akhirnya sampai di depan kulkas. Dibukanya pintu kulkas untuk mengambil air putih.

 

“Kenapa kau memutuskan untuk berhenti?!”

 

Shiyoung meminum langsung air dari dalam botol tanpa menggubris pertanyaan Hana yang menyelidik. Setelah selesai, ia berbalik dan menatap balik sahabatnya. “Apa maksudmu?” ujarnya dengan tatapan kosong.

 

“Kudengar kau membatalkan cutimu dan memilih untuk berhenti bekerja.” Hana terlihat tak tenang saat mengatakannya.

 

“Kau benar.” Shiyoung menjawab pendek sambil melangkah pelan menuju sofa di depan TV.

 

“Ya! Kenapa tak mengatakannya padaku lebih dulu?!” Hana protes. Perlahan nadanya semakin tinggi. Melihat ekspesi Shiyoung yang santai membuatnya bertambah kesal. “Aku tahu kau mennginginkan pekerjaan ini melebihi apapun. Kau memperjuangkannya mati-matian dan sekarang malah membuangnya begitu saja?! Apa kau–”

 

“–Aku akan mati. Untuk apa mempertahankan sesuatu yang nantinya memang akan terlepas?” Shiyoung berucap cepat tanpa memandang Hana.

 

Hana menatap Shiyoung nanar. “Jadi kau melakukannya karena penyakit itu?! Sudah kubilang semuanya akan membaik, Choi Shiyoung! Kau tak akan mati–”

 

“–MEMANGNYA KAU SIAPA BERKATA SEPERTI ITU?!” habis sudah. Shiyoung tak bisa menahan amarahnya lagi. “BERHENTILAH BERKATA BAHWA AKU TAK AKAN MATI SEOLAH KAU BISA MENJAMIN AKU AKAN HIDUP SELAMANYA! TERIMALAH KENYATAAN, SONG HANA!!”

 

Air mata Hana mengalir tanpa diminta. Rasa sesak benar-benar memenuhi rongga dadanya. Bukan karena kenyataan tentang penyakit yang Shiyoung derita, namun lebih pada sikap Shiyoung yang terkesan menyerah dan tak memiliki semangat untuk hidup lagi. “Lalu apa kau ingin mati sia-sia dengan penyakit sialanmu itu?!”

 

Tidak. Masih banyak hal yang ingin Shiyoung rasakan daripada mati sia-sia. Tapi apa yang bisa ia lakukan selain menerima semuanya?

 

“Sampai kapan kau akan menerima semuanya begitu saja? Tidakkah kau harus protes atas semua ketidak adilan yang kau terima?! Berhentilah bersikap menyedihkan dan batalkan pengunduran dirimu!”

 

“BERHENTILAH BERSIKAP SEOLAH KAU TAHU APA YANG TERBAIK UNTUKKU! INI HIDUPKU, DAN AKU BERHAK MENENTUKAN PILIHAN TANPA HARUS MEMBERITAHUMU!” Shiyoung berdiri dan berteriak keras. Sungguh, ia tak bermaksud membentak Hana. Hanya saja kata-kata Hana terasa begitu menyudutkan sementara ia sendiri sudah cukup tersudut dengan keadaannya.

 

Hana mengambil tas di atas meja dan pergi begitu saja.

 

CKLEK!

 

Napas Shiyoung memburu. Gadis itu terduduk lemah setelah kepergian sahabatnya.

 

“Sampai kapan kau akan menerima semuanya begitu saja? Tidakkah kau harus protes atas semua ketidak adilan yang kau terima?!”

 

Kalimat Hana kembali terngiang. Memangnya ia salah jika memutuskan untuk menerima semuanya begitu saja? Kalau memang ia harus protes, pada siapa ia harus melakukannya? Lantas setelah ia mengajukan protes, akankah semuanya berjalan sesuai dengan apa yang ia harapkan? Apakah kebahagiaan akan berpihak padanya?

 

 

Shiyoung menghela napas melihat pantulan dirinya di cermin. Tubuhnya terlihat semakin kurus karena kanker lambung itu membuatnya kehilangan banyak berat badan. Wajahnya pucat dan beberapa helai rambut berserakan di kedua bahunya. Gadis itu menutup mata, sadar melihat dirinya yang begitu menyedihkan.

 

Setelah memantapkan hati, diraihnya lipstik di depannya sembari langsung mengoleskan benda itu tepat di bibirnya. Tak lupa dipoleskannya bedak di permukaan wajah. Lalu langkah terahir, ia menyisir rambutnya hati-hati, meminimalisir kerontokan.

 

Shiyoung tersenyum menatap pantulan dirinya di cermin. Senang karena setidaknya ia tak terlihat seperti orang sakit yang akan segera mati.

 

Mati?

 

Kata itu tak lagi terdengar mengejutkan. Biar bagaimanapun Shiyoung harus bersikap realistis. Penyakit itu sudah terlanjur menyebar dan tak ada harapan lagi untuk memperpanjang hidup. Jadi tak masalah, kan, kalau Shiyoung mau bersenang-senang untuk malam ini saja?

 

“Yeah, akan kugunakan waktuku dengan baik selagi tak merasa sakit,” ucapnya menghibur diri sendiri.

 

Shiyoung mengambil tas kecil di atas nakas dan bergegas melangkah keluar. Gadis itu berniat untuk melupakan semuanya sementara waktu. Ia memutuskan untuk pergi ke tepi sungai Han, sekedar menghirup udara segar atau hanya dengan melihat sepasang kekasih yang sibuk berkencan.

 

Saat taxi yang Shiyoung tumpangi berhenti, lekas-lekas ia melangkahkan kaki keluar. Senyumnya merekah melihat Sungai Han di depannya. Gadis itu berjalan pelan. Matanya menelusuri setiap sudut yang ia lewati. Sepasang kekasih yang berjalan berdampingan, seorang ayah yang menggendong anaknya, seorang ibu dan putrinya yang tertawa bersama, dan aliran sungai yang begitu tenang. Semuanya terlihat bahagia, tak ada satupun ekspresi sedih yang tergambar di raut mereka. Hanya dia satu-satunya. Mengetahui hal itu membuatnya ingin tertawa. Tertawa karena keadaan itu justru berbanding terbalik dengan dirinya yang menyedihkan.

 

“Kenapa hanya aku yang terlihat menyedihkan? Akh–“

 

Tiba-tiba rasa sakit itu datang. Shiyoung refleks memegang perutnya. Tertatih didekatinya kusi panjang terdekat dan segera duduk di sana. Ia menghela napas berkali-kali, berharap rasa sakit yang datang punah secara perlahan.

 

2 menit berlalu. Peluh menetes dari kedua pelipis Shiyoung. Rasa sakit itu masih ada, namun sekuat tenaga ia menahannya. Sekuat tenaga tak dikeluarkannya suara untuk merintih. Tak ingin membuat suasana di sekitar kacau karena dirinya.

 

“Kau baik-baik saja?”

 

Shiyoung merasa jantungnya berdegup kencang saat sebuah suara samar yang terdengar familiar menyentuh indera pendengarnya. Pelan diangkatnya kepala untuk memastikan siapa sosok yang tengah berbicara padanya. Senyumnya merekah saat dilihatnya sosok Chanyeol duduk di sampingnya dengan pandangan khawatir. Oh, dia pasti berhalusinasi lagi. Tuhan pasti mengabulkan keinginannya untuk melihat Chanyeol di saat terakhir. “Aku baik-baik saja, terima kasih sudah hadir di sini menemaniku.”

 

“Kau benar-benar baik-baik saja?”

 

“Tuhan baik sekali membiarkanku melihatmu saat ini. Sebenarnya aku senang melihatmu datang dan berkata tak akan melepaskanku. Aku senang kau memelukku dan memintaku bersamamu kembali.” Shiyoung mengatur napas yang memburu karena rasa sakit yang kian menyiksa. “Tapi aku tak berhak kembali padamu. Orang tuaku tak akan menerimanya. Selain itu… mereka bilang aku tak punya cukup waktu untuk melanjutkan hidupku.”

 

“Berhentilah bicara yang–

 

Kau pasti akan menderita jika bersama dengan orang yang akan mati sepertiku.” Shiyoung terus meracau. Mengabaikan tatapannya yang mulai buram. “Dan aku memutuskan untuk menerima semuanya. Tapi, melihatmu sekarang… kenapa aku ingin hidup lebih lama?”

 

Mata Shiyoung mulai tertutup. Sayup masih bisa didengarnya suara seseorang yang memanggil namanya, sebelum semuanya bertambah kabur dan kesadarannya menghilang.

 

“CHOI SHIYOUNG, BANGUNLAH!!”

 

 

Yeobseo?”

 

“Baekhyun-ah, tolong bawakan pakaianku ke rumah sakit. Aku tak akan pulang malam ini dan mungkin beberapa hari ke depan. Aku–“

 

“–Park Chanyeol?” Gadis itu mengernyit bingung.

 

“Bukankah ini ponsel Byun Baekhyun?”

 

“Ah, sudah kuduga itu kau, Park Chanyeol. Memang benar ini ponsel Baekhyun, tapi dia sedang keluar untuk membeli sesuatu.”

 

“Kau… siapa?”

 

“Ck, kau membuatku kecewa. Ini aku, Jang Nari, teman SMA-mu. Aku saja bisa mengenali suaramu, masa kau lupa begi–“

 

“ –Nari-ah, tolong katakan pada Baekhyun untuk membawakan pakaianku ke rumah sakit Seungwon.”

 

“Siapa yang sakit?”

 

“Youngie.”

 

“Baik–“

 

Klik.

 

Sambungan terputus. Jang Nari mengernyitkan dahi sambil menatap layar ponsel Baekhyun yang mati. Tak habis pikir dengan sikap Chanyeol yang terkesan tak sopan sekali. Padahal saat terakhir kali bertemu, pria itu bersikap manis padanya meskipun ada Shiyoung di antara mereka. Memangnya siapa laki-laki itu yang dengan beraninya membalas keramahannya dengan sikap semaunya–

 

Cklek!

 

Pintu apartemen yang terbuka memutus segala bentuk protes yang melayang dalam benak Jang Nari. Pandangannya terarah pada Baekhyun yang membuka sandal dan melangkah masuk mendekatinya.

 

“Yak, kenapa memandangku seperti itu?” Baekhyun bertanya penasaran karena tatapan Nari yang begitu menyelidik.

 

“Kenapa tak pernah bilang kalau kau berteman dengan Park Chanyeol?”

 

“Chanyeol? Kau mengenalnya?” Baekhyun menanggapi dengan santai. Pria itu menaruh kantong plastik berisi beberapa minuman dan snack di atas meja, lantas langsung mendudukkan dirinya di samping Jang Nari, sepupunya yang ia anggap ekstrim.

 

“Dia teman SMA-ku.”

 

“Aku mana tahu kalau kau pernah berteman dengannya.” Baekhyun mencibir. “Tapi kenapa kau tiba-tiba membicarakannya?”

 

Nari mengambil kaleng bir dari kantong plastik yang baru saja Baekhyun bawa, membukanya dan meneguk isinya pelan. Setelahnya, ia menaruh kaleng itu dan menatap Baekhyun seraya berkata, “Aku baru saja bicara dengannya melalui ponselmu. Dia memintamu untuk membawa pakaiannya ke rumah sakit Seungwon.”

 

Dahi Baekhyun mengernyit mendengar kata rumah sakit keluar dari mulut Nari. “Rumah sakit?”

 

“Istrinya sedang sakit. Tentu saja dia harus menemani–“

 

“–Tu–tunggu! Istri?!” mata Baekhyun membola karena terkejut. Apa yang baru saja Nari ucapkan sungguh tak bisa diterima nalar. “Well, Chanyeol memang brengsek tapi dia belum pernah menikah.”

 

Nari terdiam seketika, pun dengan gerakan tangannya yang hendak mengarahkan kaleng bir pada mulut. “La–lalu Choi Shi–“

 

“–Maksudmu Choi Shiyoung? Ah, dia kebetulan menyewa layanan suami darurat tempat Chanyeol bekerja.” Baekhyun hendak meneguk kaleng birnya kalau saja ia tak menyadari sesuatu. “Apa jangan-jangan Choi Shiyoung sakit?!” ujarnya dengan panik. Pria itu bangkit dari duduknya dan melangkah menuju kamar Chanyeol dengan tampang cemas. Ia tak sadar jika Nari, orang di sampingnya, terlihat sangat terkejut mengetahui kenyataan bahwa Chanyeol–Shiyoung bukan sepasang suami istri.

 

 

TBC

90 responses to “Emergency Husband Service (Chapter 6) – Kee-Rhopy

  1. Nari jdi salah satu tamu di pesta waktu itu ya? Kok aku gak inget, hehehe wes abaiken😀 Apapun pokoke tetplep semangat buat berimajinasi dan melanjutkan ceritanya thor-nim ^^

  2. huhuhu baper nangus bneran bacanya berasa tuhan gx adil bnget sama shinyoung
    huwaaaaa baperrrr
    ff nya daebbak

  3. Shiyoung ketahuan kah? wahh gimana tuh nantinya, udah mah penyakitnya makin parah ahh nggak mau sampe liat Shiyoung meninggal 😭
    daann aku suka bamget Chanyeol di sini, bertanggung jawab banget sama Shiyoung nya uhh 🙆

  4. Annyeong aku readers baru disini Salam kenal ^^
    aku gak punya banyak kata buat ini FF tapi ini kereeen syedih tapi gimana gitu (?) baguuusss Thor FF Nya bangus pake BANGET Di tunggu next cahp Nya Thor

  5. Sediiih bgt jadi shiyoung
    Udhlah sakit kanker, gak bs ngejalani hub sm chan gara” masa lalu😦

    Baek tanpa sengaja ngebuka rahasia shiyoung dan chan
    Apa yg bakal dibuat nari ya ?
    Mudah”an dia gak akan berbuat jahat

  6. Jgn smpe shinyoung mninggal author,,, jgn bkin sad ending yaa,,,,,
    Chanyeol,,, ksihan sekali,,,

    Next chap,,, fighting author,,,,

  7. Aigoooo….. sedihnya hidupnya Shiyoung *puk puk
    Semoga aja author kasih keajaiban ke dirimu Shiyoung wkwk

  8. Aaaaakhhhh…entahlah. sesekali bocornya baekhyun memang ada guna.terjebak cinta masa lalu beneran bikin sakit hati..berharap Nari g macem2 soal hubungan mereka.

  9. Shinyoung sakitnya makin parah, kasihan banget. Situasinya kelihatan sulit banget deh, semoga Chanyeol bisa membantu.
    Dan Baek, sadar gak sih keceplosanmu yg imut itu menghadirkan perkara baru?

  10. baca ff ini perasaanku jadi campur aduk dari yg haru biru yg lucu2 karena baekhyun sampai yg sedih2, aku bahkan harus sabar biar engga nangis #ingatpuasa tinggal bahagianya belum ada, walaupun sedikit setidaknya berilah shiyoung kebahagiaan…. ‘amin’

  11. Hmmm.. makin sedih aja ceritanya..
    Apalagi ketika shiyoung sdh putus asa
    Shiyoung gak meninggalkan…
    Ahhh.. semoga nari gak buat masalah lg sm shiyoung.

  12. shinyoung egois. udah tau mau mati knp harus di sia-sia in?
    aduh itu si baek mulut nya minta dicium, ketauan doang kalo mereka cuma pura2.

  13. Komplit dah ceritanya, pada akhirnya mereka ketahuan bukan suami istri hahaha semoga shinyoung nggk mati ya huhu

  14. Kayaknya penyakitnya shiyoung makin parah, semoga aja chanyeol berhasil ngeyakinin shiyoung kalau dia bener2 mau balik lagi sama shiyoung kayak dulu. Baekhyun mah ngebongkar rahasia orang nih. Ya meskipun nggak sengaja sih tapi tetep aja takut nanti nari ngelakuin hal yang buruk sama shiyoung

  15. oh god baek!!
    mulutmu ember banget yaaa????
    huwaaaaaaa apa yang akan jang nari lakukan selanjutnya??

  16. haduh baekhyun emang gabisa deh keknya kalo ga ngomong celetak celetuk-_- and then now jang nari know about this,gimana jadinya kalo ntar dia ketemu sama chanyeol shinyeong bakalan ngejek? Atau gimana? Apa ntar shinyeong mau nerima chanyeol lagi? Kasian sumpah sama chanyeol udah mah masih cinta dari dulu sampe sekarang eh pas ketemu shinyeong dalam keadaan sakit,sumpah gatega banget apa chanyeol bakalan nemenin shinyeong pas lagi sakit? Aa next yaa

  17. kasihan Shiyoung astagaa.Itu kenapa Baekhyun kalo omong emang gak bisa direm dikit kenapa hahaha 😂😂

  18. Baek membeberkan rahasia antara chanyeol sama shinyoung secara ga sadar ke nari yang jelas jelas musuh shinyoung waktu sma. Dan ya kasian itu shinyoung nya sakit ;((

  19. Heh, Kee-Rhophy, kamu itu bener-bener deh. Kamu mau nguji ingatan readermu, ya? Akkkhhhhhh, untung aku baca semua. Chanyeol kayaknya harus mainin ceritamu ini, Kee-Rhophy, soalnya tabiat Chanyeol di sini sama kayak yang dimainin di EXO Next Door.

  20. Sebelum nya aku mau minta maaf aku nya gak inggin ngomen duluan tapi malah ngomen di chapter akhir dulu baru seterus nya buhan nya karena chapter 8 nya diproktif tapi aku kebawa emosi apa lagi pas selesai baca chapter 1 udah Ada chapter berikut NY jadi aku langsung baca chapter selanjut nya tanpa komen dulu,sekali lagi aku minta maaf tapi aku tetep akan ngomen di chapter ini yang sempat terbesat di Benak Ku saat membaca chapter ini
    Kenapa baekhyun di situ jadi O2n yaah Dan nari apa nari pernah suka Sama Is chanyeol

  21. Yang aku pikir di situ kenapa Si shiyoung itu bersikeras menolak chanyeol padahalkan dia juga sakit hati saat menolak oke alasan nya karena kematian kedua orang tua nya,emang yakin beneran ayah nya chanyeol yang ngelakuin itu

  22. oke baekhyun keceplosan.. ntah apa yg bakal terjadi… gila parah emang ya si nari nari itu… iyain aja dah klo ntar bakal ada balas dendam/? yg penting keep writing and hwaiting!~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s