My Perfect Girl (Chapter 1) – by Choi Yura

mpg chap 1

Author: Choi Yura │ Cast: Oh Sehun, Park Jang Mi (OC) │Other Cast: Park Chanyeol, Oh Semi (OC), Kim Jong In, EXO K │Genre: Romance, Drama │Rated: PG-17

***

Previous Chapter : Prolog

****

Tujuh tahun kemudian…

Dunia terasa berputar-putar bagi gadis dengan potongan rambut long haired beauty  berwarna hitam legam itu. Walau sempoyongan, dia terus saja melangkah memasuki rumah mewah bak sebuah istana. Sesekali dia cegukan akibat efek dari alkohol yang dia minum sewaktu di bar.

Karena dunia terasa semakin berputar ditambah lagi dengan langkah kakinya yang gontai, gadis itu pun terjatuh di ruang tamu dan memekik kesakitan. Suara pekikannya berhasil mengundang  beberapa orang di rumah itu dan menghampirinya dengan cemas. Salah satu di antara mereka, seorang pria berusia 30-an dengan pakaian serba hitam bertanya padanya apakah dia baik-baik saja. Sementara yang lainnya mencoba memanggil dirinya dengan sebutan Nona muda, berusaha menyadarkan gadis itu dari mabuknya.

Merasa risih dengan orang-orang itu, gadis itu pun berteriak, “Pergilah.”

Empat orang; yang di antaranya dua perempuan dan dua lelaki itu tersentak dengan teriakannya yang terdengar seperti raungan raja rimba. Mereka sudah mengenal bagaimana tabiat gadis itu selama bekerja di rumah itu sebagai pengawal maupun pelayan. Yang mereka tahu, tabiatnya benar-benar buruk untuk gadis berusia tujuh belas tahun.

Dengan masih sempoyongan, gadis itu berdiri dan melanjutkan langkahnya lagi. Setibanya dia di sebuah ruangan yang hampir dekat dengan kamarnya, dia berhenti dan tertegun. Meski penglihatannya masih mengabur, namun dia melihat jelas bahwa benda yang sedang bertengger di sudut ruangan itu adalah piano berwarna cokelat tua.

“Siapa yang meletakkan benda itu di sini? Sudah kukatakan berapa kali bahwa aku tidak suka melihat benda itu di rumah ini,” ujarnya dengan nada keras.

Tiga orang pelayan wanita yang sejak tadi berada di belakangnya langsung menegang, gugup dan ketakutan.

“Tapi, Nona Jang Mi. Piano itu baru saja dikirim dari Jerman karena Tuan besar yang memesannya. Katanya itu untuk ulang tahun Nona,” jelas salah satu pelayan itu dengan takut-takut.

Jang Mi menoleh ke belakang dan berjalan mendekati mereka, “Bukannya sudah kubilang untuk menyingkirkannya sekarang? Aku tidak peduli dengan hadiah atau apapun itu. Ulang tahunku yang ke delapan belas masih delapan bulan lagi. Jangan jadikan ini sebagai alasan.” Sesekali gadis itu memejamkan matanya erat-erat mencoba mengusir rasa sakit di kepalanya. Lalu, sebelah tangannya terangkat dan mencengkeram bahu pelayan wanita yang menjawabnya tadi. Wanita itu meringis menahan sakit karena cengkeraman gadis itu semakin kuat saja.

“Aku yang memesan piano itu dan aku juga yang menyuruh mereka untuk tidak memindahkannya meski kau yang memintanya. Piano itu akan tetap berada di situ.” Suara seorang pria paruh baya menghentikan cengkeraman Jang Mi dari bahu pelayan itu.

Jang Mi tahu pemilik suara itu sehingga dia membuang wajahnya ke arah lain, tidak ingin menoleh pada sosok pemilik suara.

Seorang pria paruh baya berjalan mendekat ke arah mereka dan memperhatikan Jang Mi dengan tatapan menilai.  Baju yang dikenakan gadis itu memiliki potongan yang pendek sehingga perut dan pusarnya terlihat, juga modelnya tanpa lengan. Untung saja celana yang dikenakan adalah jins panjang, kalau tidak pria paruh baya itu akan menceramahinya abis-abisan.

“Sifatmu setiap harinya semakin buruk saja. Apa aku perlu membawa pengasuh untukmu agar kau bisa menjadi seorang yang lebih beradab?” tanya pria paruh baya itu membentak.

Dengan sigap Jang Mi menghadap pria paruh baya itu dan menatapnya lekat-lekat meski rasa mabuknya belum juga hilang. “Untuk apa aku punya kelakuan baik kalau tidak ada seorangpun yang peduli padaku? Yang ada orang-orang akan meremehkan dan menginjak-injak harga diriku. Oh tunggu dulu, pasti kau ingin berkata bahwa kau peduli padaku karena kau adalah kakekku dan satu-satunya keluarga yang kupunya sekarang. Sudah pasti kau akan berkata demikian, tapi aku.” Tangannya bergerak menunjuk dirinya sendiri, “Tidak membutuhkan keluarga seperti Kakek terlebih lagi pengasuh, aku bukan anak kecil lagi. Dan sa―”

Tanpa diduga, tamparan keras mendarat di pipi kanan Jang Mi dan sistematis membuat perkataannya terpotong. Para pekerja yang berada di sekitar ruangan itu langsung melongo sambil mendelikkan matanya tanda tak percaya. Sementara Jang Mi malah tersenyum mengejek sambil memegangi pipinya yang berdenyut.

“Jangan pernah berbicara kurang ajar kepadaku, Park Jang Mi. Kau sama sekali tidak memiliki sopan santun. Karena sifatmu yang benar-benar makin memburuk, aku akan memberikan sesuatu untukmu besok, tentunya yang tidak dapat kau tolak.” Sudah hilang kesabaran kakeknya. Bentakkan pria paruh baya itu bukannya membuat Jang Mi takut, justru para pekerja di rumah itu yang takut akan kemarahan Tuan besar; pemilik dari rumah besar itu.

Sebelumnya Jang Mi tak mengira kakeknya akan ada di rumah sebelum dirinya. Padahal seperti hari biasanya, kakekya sering keluar negeri dan keluar kota, sibuk dengan pekerjaannya sebagai ketua Moon Group; perusahaan terbesar dan berpengaruh di korea yang mengelola banyak usaha seperti hotel, mall, stasiun televisi, sekolah, dan masih banyak lagi.

Bagi Jang Mi, banyak uang dan hidup bergelimangan harta tidak menjadi prioritas kebahagiaan seseorang. Rasa bahagia baginya adalah kasih sayang yang tulus dari sebuah keluarga. Tapi semenjak kedua orang tuanya tiada, kebahagiaan itu tidak pernah lagi dia rasakan. Dia tidak ingin berharap banyak kepada kakeknya karena semenjak hari itu dia tahu harus bersifat bagaimana kepada pria paruh baya itu.

Kakeknya menghela napas dalam-dalam sebelum berkata sarkastis, “Bawa dia ke kamarnya dan gantikan pakaiannya. Sepertinya dia semakin tidak waras karena mabuk.”

“Baik, Tuan,” jawab para pelayan itu dengan serempak.

“Tidak perlu. Aku bisa melakukannya sendiri,” geram Jang Mi sebelum berlalu dan memasuki kamarnya.

Selepas kepergian Jang Mi, para pelayan itu pun meninggalkan ruangan itu dan hanya Tuan Park Chun Sik yang masih menetap. Sesungguhnya, hatinya mulai bergejolak dan bertanya-tanya, apa yang salah dengan dirinya mengapa cucu satu-satunya itu seolah membencinya. Padahal saat Jang Mi baru saja kehilangan orang tuanya tujuh tahun yang lalu, dia masih menangis di pelukkannya dan membutuhkan kasih sayangnya. Namun semenjak tujuh hari berselang setelah kematian orang tuanya, sifat Jang Mi menjadi dingin kepadanya dan sering menunjukkan tabiat buruk kepada banyak orang.

Orang yang mengenal Jang Mi dari kecil, akan tahu bahwa gadis itu memiliki sifat yang baik, ramah dan sopan terhadap banyak orang. Tetapi sekarang, gadis kecil berhati lembut itu seolah berubah menjadi putri es; dingin dan tak berperasaan. Sepertinya, hanya dia gadis berusia sepuluh tahun yang tidak pernah lagi tersenyum sampai sekarang―di usianya yang ke tujuh belas.

***

Jang Mi terbangun dari tidurnya dengan jantung berdebar-debar. Napasnya terdengar memburu dan keringat membasahi wajah serta lehernya. Mimpi buruk yang tidak mau dia bahas lagi selalu saja menghantui mimpinya di tiap malam.

Dengan perlahan dia bangkit dari tidurnya sambil menghela napas kasar. Matanya melirik jam mewah yang terpatri di dinding. Waktu menunjuk pukul setengah enam pagi, itu artinya dia harus segera bersiap untuk pergi ke sekolah.

Belum saja dia beranjak dari kasurnya, suara ketukan pintu membuatnya menoleh. “Nona Jang Mi, ayo bangun bersiap-siap untuk ke sekolah. Saya sudah menyiapkan sarapan untuk Nona,” suara seorang wanita terdengar dari balik pintu kamarnya.

Tidak sedikitpun Jang Mi bersuara ataupun membalas panggilan wanita itu. Meski begitu, para pelayan tidak berani membangunkan Jang Mi dengan berulang-ulang. Karena bisa saja Jang Mi marah dan memecat pelayan yang sedang membangunkannya itu. Ugh, gadis itu benar-benar tidak berperasaan dan kejam.

Sejam kemudian setelah Jang Mi sudah mengenakan seragamnya, gadis itu segera menyisir rambut lurusnya dan mengenakan make up natural di wajahnya yang cantik serta mulus. Tidak lupa dia mengoleskan lipstik di bibirnya. Kemudian, mengenakan tas punggungnya sambil melangkah keluar dari kemarnya dan menuju ruang makan.

03.10394660.1_99_20150818145714

Setibanya di ruang makan, Jang Mi dibuat tak percaya dengan keberadaan seorang pria di meja makannya―sedang duduk dengan santai sambil sibuk memainkan tab di tanggannya.

Jang Mi melirik sekitar ruang makan itu tapi tak menemukan siapa-siapa di sana selain dirinya dan pria itu. Apa para pekerja di rumah ini tidak ada yang melayaninya sehingga tidak seorangpun berada di ruang makan itu?

Ini tidak bisa dibiarkan. Pria bersetelah jas berwarna hitam itu adalah orang asing dan Jang Mi tidak mengenalnya sama sekali. Dan sebenarnya apa saja yang dilakukan para pekerja di rumahnya? Kenapa penjagaan di rumah ini tidak ketat sehingga pria ini bisa berada di sini―di ruang makannya―tanpa merasa malu sedikitpun.

sehun-erasure

“Siapa kau?” tanya Jang Mi tanpa basa-basi sambil melipat kedua tangannya di depan dada.

“Aku Oh Sehun,” jawab Sehun santai sambil meletakkan tabnya di atas meja lalu mendongak, menatap Jang Mi tanpa ekspresi. Sedetik kemudian dia menyesap kopi hangatnya sebelum mengeluarkan kartu tanda pengenal dari dalam dompet kulit miliknya.

“Aku pengacara pribadi keluarga ini,” ucap Sehun singkat dengan memberikan kartu tanda pengenalnya kepada Jang Mi.

Bukannya menerima kartu tanda pengenal Sehun, Jang Mi malah tertawa sebelum kemudian dia menatap Sehun dingin. “Kau penipu dari mana? Pengacara pribadi keluarga kami adalah Pak Kim Hae Jin. Jika kau menjawab bahwa kau adalah putra dari Pak Kim, tentu saja aku tidak percaya karena Pak Kim hanya memiliki dua orang putri. Jadi, sebaiknya kau pergi sebelum pengawalku menyeretmu keluar,” ancamnya tak main-main.

Muak dengan tatapan Sehun yang begitu lekat padanya, Jang Mi pun segera mengeluarkan ponsel dari tasnya dan berkeinginan menelepon pengawalnya untuk datang ke ruang makan sekarang juga. Belum sempat panggilan itu tersambung, Sehun sudah lebih dulu bangkit dan merebut ponsel itu dari genggaman Jang Mi.

Mata Jang Mi membulat dengan dahi yang berkerut. Tidak menyangka pria asing yang sedang menipu ini berani melakukan hal gila semacam merebut ponselnya tanpa izin.

“Ponsel ini aku sita. Dan pasti kau bertanya-tanya kenapa tidak ada pekerja di daerah sini, karena aku yang menyuruh mereka meninggalkan ruangan ini agar kau tidak memarahi mereka seperti orang yang kehilangan akal,” ujar Sehun sarkastis dan memasukkan ponsel milik Jang Mi ke dalam saku celana panjangnya.

Melihat ponselnya yang disita Jang Mi pun menyipitkan matanya tak suka, “Sudah cukup, kesabaranku habis.” Napas Jang Mi terdengar memburu, tangannya mengepal erat di sisi tubuhnya. “Pergilah sebelum aku menghajarmu,” lanjutnya dengan nada mengancam.

Sehun tersenyum mengejek, “Ah, rasanya aku sudah tidak mood mengenalkan diriku kepadamu secara baik-baik. Tapi sayangnya, aku juga tidak bisa mengenalkan diriku secara kasar, karena kau perempuan. Baik aku akan coba menjelaskan kenapa aku berada di sini dengan wanita pemarah seperti dirimu,” jedanya beberapa detik. “Yang pertama, aku bekerja di bagian hukum perusahaan Moon Group. Awalnya aku hanya berkerja untuk perusahaan sebelum akhirnya kakekmu sendiri yang mengangkatku sebagai pengacara pribadi keluarga ini. Sepertinya kau tidak tahu kalau Pak Kim sedang sakit keras, dan memang sudah selayaknya dia beristirahat dari pekerjaannya ini,” jelas Sehun sesantai mungkin.

Kalau betul pria itu memang pengganti Pak Kim untuk menjadi pengacara keluarga ini, kenapa kakeknya tidak memberitahunya? Coba dia ingat-ingat adakah kakeknya memberitahunya atau tidak. Dan setelah dia berpikir selama satu menit, baru teringatlah perkataan kakeknya tadi malam.

“Jangan pernah berbicara kurang ajar kepadaku, Park Jang Mi. Kau sama sekali tidak memiliki sopan santun. Karena sifatmu yang benar-benar makin memburuk, aku akan memberikan sesuatu untukmu besok, tentunya yang tidak dapat kau tolak.”

Perkataan kakeknya itu langsung terngiang di kepalanya. Jadi ini yang dimaksudkan kakeknya; sesuatu untuknya. Keputusan kakeknya ini benar-benar gila dan Jang Mi tidak henti-hentinya mencemooh dalam hati.

Fine. Aku percaya padamu.” Walau berbicara seperti itu, tetapi tatapan menilai dan curiganya tidak juga hilang kepada Sehun. “Dan sebenarnya aku juga tidak tahu apa maksud dari kedatanganmu ke rumah kami. Apakah kau tidak tahu kalau kakekku sudah pergi ke kantor pagi-pagi sekali?”

“Aku tahu,” jawab Sehun singkat.

“Oh mungkin kau ingin mengambil berkas kakekku yang tertinggal ya,” simpulnya sok tahu.

“Juga tidak,” balas Sehun tanpa ekspresi.

“Lalu?” tanya Jang Mi spontan.

Sehun menghela napas sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana, “Aku diutus kakekmu ke sini untuk merubah perilakumu.”

Mendengar pernyataan itu, Jang Mi pun tertawa tak percaya dan jari telunjuknya mengarah ke wajah Sehun, “Apa kau kira aku percaya? Aku bukan anjing peliharaan dan lagi pula kau terlalu muda untuk bisa mengatur-ngatur hidupku.”

Sehun menurunkan tangan Jang Mi yang menunjuk-nunjuk wajahnya dengan tidak sopan, “Usiaku dua puluh lima tahun dan apa gunanya kau percaya atau tidak. Yang penting kau tidak dapat menolak keberadaanku. Aku akan mengantar dan menjemputmu hari ini. Jika kau menolaknya, kakekmu akan menutup kartu kreditmu dan setiap pergi kemana-kemana kau harus naik kendaraan umum. Kau tahu itu?”

“Keputusan gila macam apa ini?” teriaknya tak suka dan memandang Sehun sebenci-bencinya.

Segala jenis umpatan keluar dari mulutnya yang sudah berjalan lebih dulu meninggalkan ruang makan.

Bagaimana bisa kakeknya setega ini padanya? Mengirim orang seperti pria itu? Dia tak pernah menduga akan begini nasibnya. Ya ampun, kalau semua fasilitasnya ditarik, bagaimana dia bisa bersenang-senang untuk menghilangkan rasa kesepiannya? Kalau saja dia tidak kesepian, mungkin dia tidak akan peduli dengan kratu kredit atau semacamnya.

***

Jang Mi melirik jam mahal yang melingkar di tangan kirinya dan tak lama setelah itu bel istirahat berbunyi. Banyak para murid yang langsung ricuh, ada yang langsung meninggalkan kelas dan ada yang menetap termasuk Jang Mi sendiri.

“Hai, Park Jang Mi,” terdengar suara seorang pemuda menyapanya dari sisi kanan.

Bukan Park Jang Mi namanya kalau dia membalas sapaan seseorang. Dia tetap tak bergeming di tempat duduknya.

Merasa tidak dihiraukan, murid lelaki itu segera memutar bangku kosong yang berada di depan meja Jang Mi lalu duduk di sana sambil menumpuhkan sebelah tangannya di dagu, memerhatikan Jang Mi dengan tatapan tertarik. Sementara Jang Mi menyandarkan punggungnya di kursi dan membuang wajahnya ke arah jendela kelas, tidak ingin dekat-dekat apalagi melihat wajah pemuda itu.

Pemuda itu awalnya bergumam sambil memerhatikan Jang Mi dengan seksama sebelum mengatakan, “Aku sudah lama memerhatikanmu dari tahun pertama. Tapi sayangnya sewaktu tahun pertama kita tidak satu kelas dan syukurlah tahun ke dua ini kita satu kelas, tapi sudah empat bulan kita sekelas dan kulihat sifat dinginmu juga tidak hilang. Ayolah, kau juga butuh teman, kan?”

Jang Mi menghela napas dalam-dalam dan tetap tidak menghiraukan kehadiran pemuda itu. justru baginya pemuda itu sangat mengganggu.

Benar-benar gadis keras kepala. Pemuda itu terus saja memutar otaknya agar Jang Mi mau berbicara dengannya. Apalagi sekarang ini perhatian seisi kelas sedang menuju ke arah mereka―ada yang menatap iri sambil berbisik―pemuda itu tentu tidak akan membiarkan dirinya dipermalukan oleh gadis dingin itu hanya karena kehadirannya tidak dihiraukan sama sekali.

Pemuda itu menyondongkan tubuhnya sedikit ke depan, “Aku melihatmu semalam keluar dari bar dengan keadaan mabuk,” bisiknya kepada Jang Mi. “Aku bisa menjadi teman minummu kalau kau mau. Kau tahukan kalau banyak gadis yang menginginkan bisa menghabiskan waktu denganku,” lanjutnya dengan suara yang bisa membuat gadis-gadis langsung histeris mendengarnya, tapi tidak dengan Jang Mi. Kelakuan lelaki itu begitu memuakkan.

Jang Mi menatapnya tanpa ekspresi sebelum bertanya, “Kau siapa?”

Mendengar pertanyaan itu, seisi kelaspun tersenyum geli. Namun mereka tidak mungkin tertawa hingga terbahak-bahak karena pemuda itu bisa saja marah. Siapa yang tidak mengenalnya, bahkan seisi sekolah tahu siapa pemuda itu. Dia sangat populer terlebih lagi di kalangan para murid perempuan. Selain tampan dan berasal dari keluarga kaya, dia juga bertalenta dan sedang mengikuti pelatihan di agensi hiburan terbesar Korea. Bahkan kabarnya, sebentar lagi dia akan memulai debutnya menjadi salah satu anggota boyband.

Dalam hati, pemuda itu mengumpat akan sikap Jang Mi terhadapnya. Gadis itu adalah gadis pertama yang berani menolak sekaligus mempermalukannya. Dengan berpura-pura santai, pemuda itu melirik sekitarnya dan melihat seisi kelas sedang menatap mereka ingin tahu.

“Tidak mungkin kau tidak mengenalku. Aku Byun Baekhyun dan satu sekolah mengenal wajahku dan juga namaku,” ujar Baekhyun sombong sekaligus terlalu percaya diri.

“Salahnya aku tidak tahu kau, tidak pernah tahu wajahmu dan tidak tahu namamu. Maka itu, aku heran mengapa kau berpura-pura sok akrab seperti ini padahal aku tidak pernah melihat wajahmu berkeliaran di sekolah ini,” balas Jang Mi santai.

Baekhyun berpura-pura tertawa dengan kedua tangan yang mengepal, mencoba menahan rasa kesalnya. “Itu karena kau tidak pernah memerhatikan sekitarmu.”

“Sepertinya kau sudah tahu jawabannya. Jadi bisakah kau pergi? Apa perlu kuulangi bahwa aku tidak mengenalmu dan tidak ingin tahu tentangmu.”

Tiba-tiba saja seorang gadis datang dari arah belakang Jang Mi dan memukul kepalanya dengan cukup keras, membuat Baekhyun dan seisi kelas lainnya terkejut tak menyangka.

Jang Mi meringis kesakitan karena pukulan yang tidak bisa dia hindari. Dengan susah payah dia mengontrol amarahnya sambil bangkit dari duduknya, menatap gadis yang memukulnya itu dengan tatapan membunuh. “Apa kau yang memukulku?” tanyanya dengan nada yang cukup tenang walau sebenarnya dia sedang menahan emosinya yang sudah menggebuh-gebuh.

“Kalau iya kenapa?” tanya gadis itu balik dengan wajah menantang. “Kau itu tidak tahu diri dan tidak sopan, selama ini aku tidak membully-mu karena kau orang yang tidak peduli dan penyendiri, tapi ternyata kau berusaha menggoda Baekhyun dan sekarang malah berbicara kurang ajar seolah kau adalah seorang ratu yang sombong,” lanjutnya dan tersenyum mengejek.

Oh, Jang Mi ingat siapa gadis ini. Yang dia tahu gadis itu adalah pem-bully paling ditakuti di sekolah ini dan sering menyiksa para murid yang lemah. Yang dia tahu juga, gadis itu tidak berasal dari kelas yang sama dengan mereka. Bagaimana bisa gadis sialan itu melabraknya dengan kasar?

“Hei, apa-apaan kau ini, Hyeri? Kenapa tiba-tiba datang dan ikut campur?” Baekhyun segera berdiri dari duduknya dan memasang wajah tak suka pada Hyeri.

Hyeri menoleh, menatap Baekhyun tak percaya, “Kenapa kau menggoda gadis lain, Baekhyun? Bukankah baru dua hari kita pacaran?” tanyanya dengan wajah sedih yang menurut Jang Mi terlalu berlebihan dan tentunya menjijikkan.

“Sejak kapan kita pacaran? Aku bahkan tidak pernah menyatakan bahwa aku suka padamu,” bantah Baekhyun.

Jang Mi berdecak, mulai muak dengan mereka berdua. “Kalau kalian memiliki masalah sendiri sebaiknya pergi dan tidak usah merusuh di sini apalagi membawa-bawa diriku.” Tatapan membunuhnya beralih kepada Hyeri, “Dan kau ingat ya Nona pem-bully, aku tidak pernah menggodanya atau merebut pemuda yang kau aku-akui sebagai pacarmu ini. Mengenai pukulanmu tadi, aku tidak akan memukulmu balik kalau kalian berdua pergi dari hadapanku.”

Tanpa diduga-duga satu tamparan keras mendarat di pipi Jang Mi. Hyeri mengangkat tangannya lagi dan mencoba mendaratkan tamparan ke dua, tapi sebelum itu terjadi, Jang Mi sudah lebih dulu menahan tangannya dan mencengkeramnya kuat-kuat di udara. Hyeri berusaha melepaskan cengkeraman itu karena Jang Mi semakin membuatnya kesakitan. Tangan Hyeri yang lain mencoba memukul Jang Mi dan untuk yang kedua kalinya gadis itu mampu menahan pukulan Hyeri.

maxresdefault

Kesabaran Jang Mi benar-benar sudah berada di ambang batas, dengan cepat dia menampar Hyeri kuat-kuat membuat gadis itu terjatuh dan menabrak meja. Pukulannya sangat kuat seperti seorang lelaki hingga seisi kelas langsung ricuh dan merekam aksi mereka itu.

“Kau perempuan murahan. Beraninya kau memukulku dua kali dengan tangan kotormu itu. Brengsek kau! Kalau begitu kau akan merasakan yang lebih,” teriak Jang Mi sambil membungkuk dan menarik kera seragam Hyeri, memaksa gadis itu untuk berdiri. Segera Jang Mi pun melayangkan pukulannya lagi dan mendorong Hyeri hingga terjatuh. “Kesalahanmu padaku benar-benar fatal karena telah berani mencari gara-gara. Jangan biarkan aku memukulmu secara berulang-ulang.”

Yang bisa Hyeri lakukan hanya menjerit kesakitan ketika Jang Mi terus-terusan menamparnya, belum ada kesempatan baginya untuk melawan. Sementara Baekhyun seolah tidak berniat memisahkan perkelahian di antara kedua gadis itu, dia malah tersenyum puas.

Dan saat Jang Mi lengah, Hyeri mulai berdiri dan menjambak rambutnya. Tidak tinggal diam Jang Mi langsung menendang kaki Hyeri dan membuat gadis itu menjerit keras sebelum akhirnya terjatuh.

Beberapa guru lelaki langsung menerobos kerumunan yang memenuhi pintu kelas dan juga ruang kelas tempat perkelahian itu terjadi. Salah satu di antaranya berteriak agar Jang Mi dan Hyeri segera menghentikan perkelahian.

***

Berulang kali Sehun mengetuk-ngetuk jarinya di meja kafe yang dia duduki. Pandangannya tak pernah lepas menatap Jang Mi  dengan lekat, sementara yang ditatap malah melihat pemandangan luar melalui dinding kaca yang berada tepat di samping meja mereka.

“Kau ini benar-benar, ya. Bagaimana bisa seorang gadis terlibat dalam perkelahian? Untung saja aku sudah menyelesaikan segala kekacauan yang kau buat,” omel Sehun pada Jang Mi yang seolah tidak memedulikan keberadaannya.

Apa Jang Mi benar-benar tidak menghargai usahanya yang sudah buru-buru datang ke sekolahnya? Padahal sewaktu di kantor, masih banyak pekerjaan yang harus dia selesaikan, tapi karena dia pengacara keluarga Park dan sekaligus wali Jang Mi, maka dengan sigap dia harus menyelesaikan segala kekacauan yang telah dibuat gadis itu. Untung saja, sekolah itu dikelola oleh Moon Group, kalau tidak entah bagaimana cara mengatasi masalah itu dengan cepat.

Sehun menghela napas melihat kelakuan Jang Mi yang sangat cuek. Kemudian membuka tutup botol alkohol dan menuangnya sedikit di atas kapas, berkeinginan mengobati luka kecil yang sudah mengering di ujung bibir gadis itu. Dengan perlahan Sehun menggeser kursinya ke samping meja agar dekat dengan kursi Jang Mi.

Sebelum Sehun meletakkan kapas itu ke wajahnya, Jang Mi sudah lebih dulu mengelak seraya berkata, “Sedang apa kau?”

Tanpa memedulikan protesan Jang Mi, Sehun segera memegang dagu gadis itu dan mulai mengobatinya perlahan-lahan. Tentu saja hal itu membuat Jang Mi tersentak. Namun diam-diam dia memerhatikan wajah tampan milik Sehun. Walau pria itu masuk kategori lelaki sempurna, tapi Jang Mi tak merasakan gugup ataupun jantung berdebar-debar yang sering gadis lain rasakan ketika berada di samping lelaki tampan. Mungkin juga karena dia sama sekali tidak mengagumi pria itu.

Dengan posisi yang seperti itu, keduanya dapat merasakan bahwa hembusan napas mereka saling menerpa wajah satu sama lain. Jang Mi merasa napas Sehun beraroma mint, sementara Sehun menghirup aroma stoberi dari napas gadis itu.

Tiba-tiba saja suasana di antara mereka menjadi canggung. Jang Mi pun memalingkan wajahnya, “Tidak usah mengobatiku. Aku bisa mengobatinya sendiri.”

Sehun berdehem sebelum berkata, “Sebaiknya kita ke rumah sakit agar lukamu cepat sembuh dan tidak membekas. Lagi pula hari ini kau harus terus bersamaku karena nanti malam kita akan menghadiri pesta ulang tahun Moon Group.”

Jang Mi menatap Sehun dengan mata membulat, “Apa?” tanyanya tak percaya.

“Sebelumnya kau tidak pernah mau menghadiri pesta ulang tahun perusahaan, kan? Maka itu kakekmu menyuruhku agar membawamu ke sana. Kalau kau juga menolak, segala cara akan kulakukan walau itu harus menyeretmu secara paksa,” Sehun menyunggingkan senyum yang terlihat sangat misterius bagi Jang Mi.

Menurut  Jang Mi, perkataan atau senyuman pria itu memiliki makna lain―seperti bukan hanya mengancam atau sekedar menakut-nakutinya saja. Apa tadi dia salah lihat? Sepertinya tadi Sehun bukan sedang tersenyum, tapi menyeringai?

Namun sedetik kemudian, dia segera mengenyahkan pikirannya dan bertanya, “Kau berusaha mengancamku?”

Sehun tertawa, “Sebaiknya kau menurut saja daripada kakekmu mengetahui masalah yang kau buat di sekolah.”

Jang Mi mengerutkan keningnya, tidak suka dengan arah pembicaraan ini. “Sudah kukatakan, bukan aku yang melakukan kecauan itu dan lagi pula perempuan gila mana yang menggilai siapa itu namanya Baekjun, Baekhyung, Baekhyun atau siapalah itu. Sudah jelas perempuan itu gila karena menyukai pria sok keren itu. Dan satu lagi, perempuan itu  yang mencari gara-gara duluan, dengan tiba-tiba datang dan memukulku. Ditambah lagi dia mengaku-ngaku pacar si pemuda sok hebat itu. Jelas-jelas gadis pem-bully itu memang gila karena merasa paling jago dan suka menghakimi orang yang lemah,” jelasnya dengan kesal.

“Baiklah aku terima penjelasanmu itu. Tapi itu tidak menjadi alasan untukmu tidak datang ke pesta. Karena kalau kau bersikeras tidak mau datang, maka―”

“Ok. Ok. Aku akan ikut ke pesta itu denganmu,” potongnya dengan cepat sebelum kemudian mendesis dengan wajah frustasi.

Terpaksa mengalah karena pria itu selalu saja mengancam.

.

.

.

―TBC―

Haalo semua….

Mungkin saya akan buat cerita ini dengan alur maju mundur. Jadi pahami dengan cermat ya setiap chapternya, terimakasih yang sudah mengkomen. Dan untuk para pembaca gelap, jangan kecewain authornya dong. Nanti kalau ada yang saya proteck dengan syarat id komen baru deh ngebut komen. Saran saya sih jadi pembaca yang baik aja. Kita sama-sama saling menghargai sesama manusia😄

Suatu saat mungkin ada beberapa chapter yang akan saya protect. Btw dialog-alognya si Jang Mi agak kasar karena dia kayak cewek bar-bar gitu, saya udah letak PG-17 ya: selain adegan, perkataan yang jelek juga menjadi pertanda dari rated hehehe. Cerita ini juga punya plot drama, jadi lambat laun nanti akan ada konflik yang terkuak. Oh ya, itu covernya sebenernya poto Sehun sama Irene yang udah saya edit jadi muka Kim Sae Ron a.k.a Park Jang Mi.

Dan saya akan usahakan ngereply komen dari kalian. See you next time *lambai-lambai centil

189 responses to “My Perfect Girl (Chapter 1) – by Choi Yura

  1. Wohahahahahahah
    Kerennn jang mi,, nampar si ratu bully tuh wkwkkw

    Yaampunnnkirain tadi tuh kai/ceye cwonyaa
    Ternytaa
    B
    A
    E
    K
    H
    Y
    U
    N

  2. waaaa
    yah jang mi keterlaluan min
    wkwkwk
    tapi keren sih
    cewek tenaga laki2 gitu ya?
    wkwk
    duh,smoga sifat buruk jang mi bisa sehun rubah
    wkwk
    well, I can’t wait for the next story
    fighting thor

  3. Otokekkk??? Astagaaaaa
    Eh jangmi itu anaknya majikan bapaknya sehun yaa?? Jangan2 sehun mau balas dendam. Oh cidakkkkkk. Au au

  4. Sumpah penasaran banget sama Jang mi, kenapa dia jadi dingin banget thor ? Terus kenapa tiba” sehun bisa jadi pengacara di moon group ?
    Btw, si baekhyun lucu juga yaa kalo lagi serius gitu, biasanya kan dia banyak tingkah, suka ngelakuin hal konyol hahahah ..
    Di lanjut terus ya thor!!!

  5. Annyeong haseyo Authornim.. q bru bca ff ini_sbnrx td mlm nemux pas author post part 3_ penasaran jd izin bca dlu y😀

  6. Eoohh?! Klrga kaya yg dbenci sehun dlu itu, klrga jang mi kan? Gmana mngkn sehun kerja d perusahaan jang mi? Ap mngkn sehun balas dndam gt sma klrga jang mi?
    Whoaa jang mi kuat bgt eoh. Baekjun? Baekhyung? Hahaha dsar nama.a teh baekhyun lo jang mi.
    Wahaha jang mi nurut gt yaa sma sehun. Lgian siapa cb yg bsa tahan sma ancman+seringaian sehun.

  7. si jangmi perubahannya jauh banget,dari anak polos jadi badgirl,tapi aku suka karakternya karena ga mudah ditindas orang lain

  8. kk.. apa jang mi itu dulunya anak majikannya appa sehun kk..???
    wktu itu kan dia masih kecil & sehun masih SMA kan..??
    trs gmna ceritanya sehun, tau” uda jadi pengacara aja nihh
    appa sehun gmna keadaannya kk?? hbs kecelakaan kan di prolog..??
    semi semi..?????
    seruuu kk….. menarikkk hihihii

  9. Eeyy…Jadi Sehun lebih tua dari pada baekhyun disini. hmmmm agak aneh aja rasanya…tp it’s okay la~~~ chapter satunya menarik kok dgn perubahan sifat Jangmi..misteruis banget.

  10. Haloooo kak. Gak sengaja nemu ff kakak di blog saykorean. Iseng2 baca eh ternyata ceritanya menarik banget. Apalagi cast nya si sehun dan cover cwe nya si kim sae ron jadi lebih mudah membayangkan pas baca hehe. Kakak ada akun pribadi? Yah biar enak ngobrol si. Trus biar aku bisa tanya2 juga kalo ketinggalan chapter nya. Ada line atau ig kak? Kalo gak keberatan add line aku ya kak : kamjongren dan ig nya : riah_park

    Krna ini masih awal, masih banyak misteri yg belom aku tau. Jadi aku lanjut chap 2 ya kak.

  11. halo.. udh lama gk baca ff eh nemu ff ini hehe
    seru jg nih, apa orang tua jang mi jg meninggal bareng ayahnya sehun?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s