Emergency Husband Service (Chapter 7) – Kee-Rhopy

Emergency Husband Service Cover 1

Emergency Husband Service (Chapter 7) – Kee-Rhopy

 

  1. The Truth From The Past

 

|| Author: Kee-Rhopy | Title: Emergency Husband Service | Cast: Park Chanyeol (EXO) & Choi Shiyoung (OC) | Genre: Romance, Angst, Comedy, AU | Rating: PG | Lenght: Chaptered ||

 

=

 

Prev: 1. Reunion, Bad Result and Him | 2. A Good Liar | 3. The Key | 4. Changed | 5. The Feeling | 6. Desperation | 7. The Truth From The Past

 

“–Tu–tunggu! Istri?! Well, Chanyeol memang brengsek tapi dia belum pernah menikah.”

 

“La–lalu Choi Shi–“

 

“–Maksudmu Choi Shiyoung? Ah, dia kebetulan menyewa layanan suami darurat tempat Chanyeol bekerja.”

 

“….”

 

“Apa jangan-jangan Choi Shiyoung sakit?!”

 

=

Happy Reading!

=

 

Baekhyun dan Nari berjalan cepat secara beriringan menelusuri lorong rumah sakit. Baekhyun menenteng tas di tangan kanan, sedang Nari tak membawa apa-apa. Napas lega menghampiri keduanya saat melihat sosok Chanyeol bersandar pada dinding dengan kedua tangan terlipat di depan dada dan mata yang menatap kosong ke arah lantai.

 

“Chanyeol-ah!” panggil Baekhyun saat langkahnya berada dalam jarak semeter dengan sahabatnya.

 

Chanyeol mengalihkan pandangan ke arah Baekhyun dengan pandangan kosong. Bahkan ia tak sadar akan kehadiran Nari yang berdiri di samping Baekhyun dan tengah menatapnya.

 

“Bagaimana keadaan Shiyoung?” tanya Baekhyun dengan napas yang belum stabil.

 

Chanyeol diam. Ekspresinya terlihat datar. Setelah menarik napas dan mengeluarkanya pelan, pria itu memandang Baekhyun ragu dan berkata, “Dia akan baik-baik saja. Ya, dia pasti baik-baik saja.”

 

Dahi Baekhyun mengernyit mendengar nada suara Chanyeol yang terasa aneh di telinga. Sahabatnya itu berkata seolah menenangkan dirinya, bukan untuk memberi tahu Baekhyun.

 

“Kau tak mau menyapaku?” Jang Nari mengambil alih saat dua pria di depannya tak kunjung bersuara. Namun pertanyaan yang lebih seperti sebuah bentuk protes itu hanya tertuju pada Chanyeol yang tak menyadari kehadirannya.

 

Chanyeol menoleh ke arah Jang Nari dan mengangguk lemah. “Ah, maaf. Aku–“

 

“–It’s Okay. Aku baik-baik saja meski kau tak menyapaku.” Nari berkelakar seolah menenangkan dirinya sendiri. “Dimana Shiyoung?”

 

“Dia di dalam. Dok–Dokter sedang berusaha menyelamatkannya.”

 

Nari mengangguk-angguk paham. Melihat kekhawatiran yang tergambar dengan jelas di wajah Chanyeol membuatnya yakin bahwa pria ini masih terjebak pada hubungan mereka di masa lalu. Muncul berbagai pertanyaan dalam benaknya. Namun semua itu terkubur dalam rasa takut sekaligus bersalah yang tiba-tiba menyelimutinya.

 

Kenapa juga Nari harus tahu bahwa keduanya bukan suami istri?

 

Oh, seharusnya ia tetap tenggelam dalam kebohongan yang mereka berdua ciptakan. Seharusnya ia tetap tertipu agar rasa bersalah itu tak lagi muncul ke permukaan dan membuat perasaannya campur aduk seperti sekarang.

 

“Sebenarnya Shiyoung sakit apa hingga harus dioperasi?”

 

Chanyeol yang terlihat tak fokus kembali menatap Nari. “Eoh? Dia… ” pria itu ragu untuk melanjutkan mengingat Nari adalah saingan Shiyoung di masa lalu.

 

Nari merasa tersudut karena Chanyeol tak kunjung menjawab. Wanita itu menatap Chanyeol tepat di manik mata. “Biar bagaimanapun dia juga temanku. Aku juga ingin tahu keadaan temanku, Park Chanyeol. Tak bisakah kau memberitahuku?”

 

Keterkejutan tergambar jelas di raut Chanyeol saat tiba-tiba nada suara dan ekspresi Nari terlihat memohon. Seolah wanita itu memiliki kepedulian yang tinggi terhadap Shiyoung. “Sebenar–“

 

“Eii, Nari-ah. Jangan membuat Chanyeol bertambah bingung. Lebih baik kau duduk di sini bersamaku.” Baekhyun menarik lengan Nari untuk duduk di sampingnya. Ia mengerti bagaimana perasaan Chanyeol yang pasti sedang campur aduk menghadapi kenyataan bahwa Shiyoung berada di ruang operasi. Nari tak perlu membuat sahabatnya itu semakin kebingungan.

 

Nari menurut karena kakinya sudah terasa lemas. Wanita itu duduk di samping Baekhyun dan menutupi wajah dengan kedua tangannya. Oh, kenapa perasaannya menjadi tak enak seperti ini?

 

Diam-diam Baekhyun melirik sepupunya yang terlihat tak punya tenaga. Pria itu heran karena sejam yang lalu Nari terlihat tak terima –merasa tertipu karena Chanyeol dan Shiyoung bukan sepasang suami istri. Tapi kenapa sepupunya ini malah tak mengungkit masalah itu sama sekali setelah sampai di sini?

 

 

“Seharusnya aku tak mempermasalahkannya hingga membuat Shiyoung marah. Bagaimana jika terjadi sesuatu padanya?” Hana tak bisa berhenti mengkhawatirkan Shiyoung yang sampai saat ini masih belum keluar dari ruang operasi. Wanita itu menangis di pelukan Kyungsoo. Berharap Shiyoung bisa bertahan dan keluar dengan keadaan baik-baik saja.

 

Ya, semuanya berharap demikian. Chanyeol, Hana, Kyungsoo, Baekhyun, bahkan Nari, tak satupun dari orang-orang yang tengah menunggu di depan ruang operasi tersebut mengharapkan sesuatu yang buruk terjadi pada Shiyoung. Terlihat jelas dari raut mereka yang menunjukkan kekhawatiran.

 

Krieettt…

 

Delapan jam berlalu hingga akhirnya pintu ruang operasi itu terbuka. Semua orang bergegas mendekati dokter yang melepas masker.

 

“Operasinya berjalan lancar. Tapi kami tak bisa memastikan kejadian seperti ini tak akan terulang lagi. Kalau saja sel kankernya tak menyebar dengan cepat, lebih mudah bagi pasien untuk bertahan. Hanya ini yang bisa kami lakukan.” Dokter itu menepuk pundak Chanyeol dan akhirnya pergi meninggalkan beberapa orang yang sedari tadi menunggunya.

 

Semua orang bernapas lega setelah kepergian dokter.

 

Chanyeol menghela napas dan mengusap wajah. Sama dengan keadaan Kyungsoo dan Hana yang mengusap dada lega. Lain halnya dengan Baekhyun dan Nari yang tampak terkejut melebihi apapun saat kata ‘kanker’ keluar dari mulut dokter beberapa detik yang lalu.

 

Kyungsoo langsung menenangkan Hana yang kembali menangis di pelukannya. Kali ini tangis lega bercampur haru yang menyatu. Sementara Chanyeol yang sedari tadi berada dalam posisi berdiri kini mendudukkan diri di atas kursi panjang terdekat, diikuti Baekhyun yang duduk di sampingnya.

 

Baekhyun menghirup udara dan mengeluarkannya keras. Perlahan ia bisa menebak kebenaran yang tak ia ketahui sebelumnya. Chanyeol tidak memungut obat orang lain, tapi milik Shiyoung, orang yang dicintainya. Tangannya bergerak menyentuh pundak Chanyeol, mencoba menenangkan sahabatnya yang tengah dilanda kegundahan.

 

“Baekhyun-ah, sepertinya aku harus pergi.” Suara Jang Nari yang memecah keheningan membuat Baekhyun menatapnya.

 

“Tak mau melihat Shiyoung dulu?” tawarnya.

 

“A–ada hal mendesak yang terjadi. Aku harus pergi.”

 

“Baiklah.” Baekhyun menatap punggung Nari yang mulai menjauh dengan pandangan curiga. Ia tak bisa menyimpulkan banyak, tapi sikap Nari sungguh mengganggu pikirannya. Apa sepupunya itu menyembunyikan sesuatu?

 

 

Shiyoung belum siuman. Gadis itu masih betah berada di atas kasur dengan mata yang tak kunjung membuka sejak kemarin. Membuat kekhawatiran Chanyeol semakin menjadi hingga pria itu tak berniat melakukan apapun selain duduk di samping ranjang Shiyoung dengan menggenggam tangan gadis itu erat. Hana, Kyungsoo dan Baekhyun bahkan menyuruhnya tidur sebelum pergi. Namun pria itu tetap pada posisinya, tak berniat beranjak sedikitpun.

 

Chanyeol mendekatkan tangan Shiyoung pada bibirnya, lalu diciumnya tangan gadis itu penuh kasih.

 

“Kau tahu apa yang paling kusesali 15 tahun terakhir?” tanyanya menahan napas. “Aku menyesal tak mencarimu dan malah melampiaskan amarahku pada hal yang tak berguna. Aku menyesal melewati 15 tahun terakhir tanpa dirimu.”

 

Chanyeol menghela napas. Sekuat tenaga menahan air yang berkumpul di kelopak mata agar tak terjatuh. Shiyoung paling tak suka melihatnya menangis.

 

“Aku hidup sebagai orang brengsek, Youngie-ah. Mengencani banyak wanita yang memiliki kemiripan denganmu, lalu langsung kuputuskan saat mereka berubah.” Chanyeol menelan ludah, lalu melanjutkan dengan nada berat, “Kudengar kau tak pernah berhubungan dengan pria manapun setelah putus denganku. Jujur saja, aku senang mendengar pengakuanmu, senang saat kau berkata ingin hidup lama setelah melihatku malam itu. Kalau begitu boleh kan, ucapanmu kuartikan sebagai tanda bahwa perasaanmu belum berubah?”

 

Chanyeol menundukkan pandangan sejenak, lantas ditatapnya wajah Shiyoung di sampingnya. Tak ada pergerakan apapun. Mata gadis itu tetap tertutup, tak kunjung terbuka seperti yang ia harapkan.

 

“Youngie-ah, Kau bilang kau senang bisa melihatku. Kau bilang kau ingin hidup lebih lama setelah melihatku. Kalau kau membuka matamu sekarang, kau bisa melihatku sepuasmu. Ah–”

 

Chanyeol menahan rasa sesak yang terasa menghimpit dada. Pria itu menghela napas berkali-kali, mencoba menenangkan diri meski terasa sulit.

 

“Aku bukan orang pemalas sepertimu, Chanyeol-ah. Aku tak suka tidur terlalu lama karena itu artinya, aku menghabiskan waktuku yang berharga hanya untuk tidur.”

 

Ucapan Shiyoung lima belas tahun yang lalu tiba-tiba melintas dalam benak Chanyeol, membuat pria itu terhenyak lantas berkata, “Lalu kenapa sekarang kau menghabiskan waktu berhargamu dengan sia-sia?”

 

Tetap tak ada perubahan. Mata itu tak kunjung terbuka, membuat Chanyeol lagi-lagi menghela napas. Pria itu menunduk, mulai lelah karena usahanya tak membuahkan hasil. Ia tak tahu bahwa sedari tadi ia tak sendiri. Ada sepasang mata yang mengawasinya lewat jendela. Mendengar semua perkataan putus asanya agar Shiyoung terbangun. Sepasang mata yang menatapnya dengan raut sedih, menyesal, khawatir, dan bersalah di saat bersamaan.

 

 

“Jadi apa yang kau harapkan pada pernikahan keduamu?” Baekhyun mengajukan pertanyaan itu dengan mata yang masih menatap lurus ke arah laptop. Dibetulkannya letak kacamata yang bertengger di hidungnya sembari menunggu jawaban dari orang di sampingnya.

 

5 detik…

 

7 detik berlalu…

 

Apa pertanyaannya sangat sulit?

 

Menyadari hal itu membuat Baekhyun mau tak mau mengalihkan perhatiannya pada seseorang yang duduk di sampingnya. Napas keras dikeluarkannya begitu tahu bahwa orang di sampingnya sedang melamun. “Yak, Jang Nari!!”

 

Nari terhenyak. Lamunannya buyar saat suara Baekhyun mendobrak pendengarannya. “Eoh, ada apa?”

 

“Kau melamun atau sedang memikirkan jawaban dari pertanyaanku?!” Baekhyun terlihat kesal. Novel yang tengah ia tulis benar-benar membutuhkan jawaban Jang Nari. Namun sedari tadi tak ada satupun jawaban dari sepupunya itu yang bisa ia jadikan referensi. Jawabannya terlalu singkat dan kurang menarik. Sungguh di luar dugaan mengingat di pertemuan sebelumnya Nari memberikan jawaban berkualitas.

 

“Maaf, Baekhyun-ah. Sepertinya hari ini aku tak bisa menjawab pertanyaanmu. Ada hal yang–”

 

“–Kau memikirkan Shiyoung? Chanyeol? Atau keduanya?”

 

Nari menghembuskan napas pasrah. “Bagaimana kau bisa tahu?”

 

“Woah, aku benar?” Baekhyun menunjuk dirinya sendiri, takjub karena bisa menebak dengan benar apa yang tengah sepupunya pikirkan. “Sudah kuduga, aku cerdas,” lanjutnya mengeluarkan pujian.

 

Nari tak menanggapi perkataan Baekhyun yang membanggakan diri. Wanita itu memilih untuk memejamkan mata berkali-kali yang disertai dengan helaan napas, berharap kegelisahannya hilang.

 

“Sebenarnya kau punya masalah apa dengan mereka?” Baekhyun memutuskan untuk menutup laptop dan berniat mendengarkan keluhan Nari. Biar bagaimanapun ia tahu dengan benar bahwa Nari tak bisa dimintai opini saat ini. Pikiran sepupunya itu sedang kacau.

 

Lagi-lagi Nari menghela napas. Ditatapnya Baekhyun dengan mata yang sarat akan kegelisahan. “Aku harus bagaimana, Baekhyun-ah?”

 

“Apanya yang bagaimana?” Baekhyun bertanya keheranan. Tak biasanya sepupunya yang ia kenal sebagai pribadi cukup ekstrim ini terlihat tak berdaya seperti saat ini. Bagaimana tidak? Setahunya, Jang Nari tak pernah gelisah. Wanita itu bahkan berani mengajukan gugatan cerai pada suaminya yang baru ia nikahi selama dua minggu karena alasan tak masuk akal –Nari tiba-tiba tak tahan melihat suami yang sekarang sudah berstatus mantan itu selalu pulang telat karena lembur. Baginya, pria yang suka lembur lebih mementingkan pekerjaan daripada istrinya.

 

“Aku bersalah pada mereka berdua.”

 

“Bersalah? Kalau begitu tinggal minta maaf saja. Gampang, kan?”

 

Bagi Nari tak semudah itu. Ia tahu akibat dari perbuatannya yang berdampak sampai ssekarang. “Kemarin aku pergi ke rumah sakit dan mendengar perkataan Chanyeol. Dan… sepertinya dia masih mencintai Shiyoung. A–aku…”

 

Baekhyun memutar bola mata, tak tahan mendengar penjelasan Nari yang terlalu bertele-tele. “Baiklah, cukup. 15 tahun tidak cukup bagi Chanyeol untuk menghapus semuanya. Dia melampiaskan rasa marahnya dengan mengencani gadis yang mirip Shiyoung. Kau tahu kenapa? Karena Chanyeol tak bisa melupakan gadis itu. Yeah, kira-kira seperti itulah.” Terdengar satu helaan napas dari Baekhyun. “Kudengar Shiyoung juga tak pernah berhubungan dengan pria lain setelah putus dari Chanyeol.” Ya, itu benar. Baekhyun mendengarnya dari Hana dua hari yang lalu. Saat mereka semua menemui Shiyoung setelah operasi tanpa kehadiran Nari karena sepupunya ini pulang lebih dulu. “Mereka berdua benar-benar sesuatu. Siapa yang bisa menjamin perasaan seseorang tak berubah setelah 15 tahu–”

 

Nari beranjak berdiri, membuat Baekhyun yang heran menghentikan kalimatnya.

 

“Kau mau kemana?” tanya Baekhyun tak habis pikir dengan keanehan Nari.

 

“Bukan apa-apa. Aku janji akan membantumu lain kali. Sekarang aku harus pergi.” Nari langsung berbalik, tak mempedulikan Baekhyun yang kebingungan dengan tingkahnya.

 

 

Nari menatap ruangan Shiyoung lewat jendela. Napas lega langsung keluar begitu dilihatnya ruangan Shiyoung yang kosong. Tanpa pikir panjang lagi, wanita itu membuka knop pintu dan masuk ke dalamnya. Ia tak sadar jika pintu masih setengah terbuka.

 

“Shiyoung-ah, anyyeong,” sapanya kaku. “Ini aku, Nari. Jang Nari. Orang yang dulu selalu mengganggumu. Dan ini pertemuan ketiga kita setelah acara reuni itu.”

 

Melihat Shiyoung yang tak berkutik membuat Nari tak kuasa menahan luapan emosinya. Air matanya keluar tanpa bisa dicegah. Rasa bersalah memenuhi rongga dadanya, membuatnya merasakan sesak yang tak terhingga.

 

“Shiyoung-ah, aku… aku… bersalah. Aku sudah melakukan kesalahan besar padamu.” Nari sesenggukan. Dipegangnya tangan kanan Shiyoung dan ia menangis di sana. Membiarkan air matanya membasahi punggung tangan Shiyoung. “Tak bisakah kau bangun dan mendengar pengakuanku?”

 

Tak ada reaksi. Shiyoung tetap pada posisinya.

 

“Baiklah. Aku tak tahan untuk terus menutupinya. Selagi kau masih ada di sini, aku akan mengatakannya padamu.” Ya, itu benar. Ia harus mengatakannya selagi masih ada waktu. Nari menghela napas, menahan rasa sesak yang memenuhi rongga dada. “15 tahun yang lalu, aku menyuap sekretaris ayah Chanyeol untuk menemuimu. Aku menyuruhnya meyakinkanmu bahwa ayah Chanyeol adalah dalang dari kecelakaan itu. Tapi sungguh! Waktu itu a –aku hanya benci melihat kedekatan kalian. Aku tak tahu kalau–”

 

“–Bagaimana bisa kau melakukan hal serendah itu, Jang Nari?”

 

Suara Chanyeol yang mendobrak pendengaran membuat Nari membelalakkan mata. Perlahan ia berbalik dan menemukan Chanyeol menatapnya dengan pandangan nanar.

 

“Kau tahu apa akibat dari tindakan bodohmu?!” Chanyeol berkata penuh penekanan. Sekuat tenaga ditahannya keinginan untuk tak berteriak. Tatapannya tajam, menembus manik mata Nari yang ketakutan.

 

“A-aku tak tahu kalau–”

 

“–Berhentilah beralasan, Jang Nari!!” napas Chanyeol memburu. Wajahnya merah padam menahan luapan emosi. “Kalau kau benar-benar sadar, kenapa tak mengatakan kesalahanmu dari dulu?! Kenapa baru sekarang?! Kenapa harus menunggu 15 tahun?! Kenapa baru mengatakannya setelah keadaan Shiyoung–”

 

“–KALIAN DATANG SEBAGAI SUAMI ISTRI!!” Nari berteriak. Tak tahan dengan kalimat Chanyeol yang menyudutkan. Napasnya tak teratur. Dipegangnya kepala dengan tangan kanan, menghindari tatapan Chanyeol yang mengintimidasi, lantas kembali menatap pria yang pernah ia sukai itu. “Kalian datang sebagai suami istri di acara reuni. Untuk itulah aku menganggap semuanya selesai. Tindakanku waktu itu tak berpengaruh apapun pada hubungan kalian. Kalau kalian tak bersandiwara, aku … aku…” Nari kehilangan kata-kata. Setelah menghela napas sejenak, ia melanjutkan, “Lagipula siapa yang tahu kalau kalian masih saling mencintai bahkan setelah 15 tahun–”

 

“–Jadi kau menyalahkan kami?! Kau menyalahkan kami karena masih saling mencintai meski 15 tahun sudah berlalu?!” Chanyeol mengusap wajah. “Seandainya Shiyoung datang di acara reuni itu dengan orang lain, apa kau akan tetap menganggap semuanya selesai?!”

 

Nari terdiam dengan pandangan menunduk. Perkataan Chanyeol benar-benar membuatnya tak bisa terkutik.

 

“Kau tahu akibat kelakuan tololmu itu?!” Chanyeol menelan ludah. Tatapan tajamnya tak sedikitpun teralih pada hal lain selain Nari. “Aku menjadi orang brengsek dan Shiyoung menjalani hidupnya sendirian. Aku bahkan menuduh ayahku sebagai pembunuh kejam yang tak tahu kesalahannya sendiri!!”

 

“Ma–maafkan–”

 

“–Maaf? Kau kira semuanya selesai saat kau mengucapkan maaf?” Chanyeol bertanya retorik. Kalau saja Nari bukan seorang perempuan, mungkin pria itu sudah meluapkan emosinya dengan memukulnya tanpa ampun.

 

Nari terpojok. Bibirnya terkatup rapat. Kini ia tahu, tindakan bodohnya menimbulkan kehidupan orang lain rusak. Ia tak pernah tahu kalau konsekuensinya akan sebesar ini.

 

“Kalau kau tak melakukan hal itu, aku tak akan pernah menjadi orang brengsek dan Shiyoung takan akan pernah kesepian selama hidupnya! Sekarang apa yang akan kau lakukan? APA YANG AKAN KAU LAKUKAN UNTUK MEMPERBAIKI SEMUANYA?!!” Chanyeol berteriak. Tak kuasa menahan luapan emosi yang menggebu. Ia tak peduli dengan isak tangis Nari yang semakin keras terdengar, memenuhi setiap sudut ruang rawat Shiyoung.

 

Nari tetap pada posisinya. Wanita itu berdiri di hadapan Chanyeol dengan pandangan menunduk dan tangis yang tak kunjung reda.

 

“Apa yang akan kau lakukan untuk mengembalikan 15 tahun kami yang terbuang karena ulahmu? Aku bahkan tak yakin punya cukup waktu untuk terus bersamanya.” Chanyeol tak kuasa menahan tangis. Setetes air lolos dari kelopak matanya. Biarkan ia menangis sekali ini saja. Mengeluarkan semua emosi yang terpendam sejak 15 tahun. Memprotes segala kebodohan yang terjadi hingga membuat semuanya terasa menyedihkan.

 

Sejenak suasana di ruangan itu menjadi hening. Nari tetap diam sementara air matanya tak berhenti menetes. Chanyeol terdiam, larut dalam pikirannya. Mereka berdua larut dalam perasaan masing-masing. Tak sadar bahwa setetes air mata keluar dari kelopak mata orang yang tengah berbaring di belakang mereka.

 

“Pergilah! Jangan pernah muncul di hadapanku lagi!” pada akhirnya Chanyeol kembali bersuara.

 

“Aku sungguh menyesal. Maaf.”

 

“Aku tak peduli kau sadar atau tidak akan tindakanmu, yang jelas aku tak mau melihat wajahmu lagi. Pergilah!”

 

Cklek!

 

Pintu ruangan tertutup, menyisakan Chanyeol yang terdiam, bersama Shiyoung yang masih terpejam.

 

Chanyeol melangkah lemah mendekati ranjang Shiyoung. Ditatapnya Shiyoung sendu. Lalu di detik selanjutnya, pria itu mencium kening gadisnya, menyalurkan seluruh perasaan yang tumpah setelah sebuah kebenaran menjawab seluruh kesalahpahaman.

 

“Aku mencintaimu, Choi Shiyoung…” bisiknya tepat di telinga Shiyoung. “Kau sudah tidur terlalu lama. Bangunlah, Youngie-ah…”

 

 

TBC

Note: Jangan pernah melakukan tindakan salah saat kau sadar bahwa itu salah. (bener nggak, sih?)

 

Akhirnya Jang Nari kelar! Ahahhaa…

 

Ah, aku lupa mengucapkan selamat berpuasa untuk semua yang menjalankan. Padahal kemarin udah sempat ngepost sesuatu tapi lupa ngucapinnya. Hehhe. Uhuuuuu.. exo juga  come back. Senengnya..

 

Baiklah…

Karena aku ngepostnya agak cepet, maklumin aja kalo banyak typo di sana sini. Lalu, mengenai ff ini, sejak ketahuan kalo Shiyoung penyakitan kayaknya banyak yang khawatir sama ending ya. Udahlah, masalah ending nanti terima aja gimana kelarnya. Hahaa. Aku juga masih bingung mau buat ending yang kayak gimana.

 

Makasih buat yang masih ngikutin ff ini. Udah chap 7 aja, semakin mendekati akhir. Hehee

 

Ya udah deh. Segitu aja cuap-cuap dariku.

 

Salam hangat,

Kee-Rhopy ^^

72 responses to “Emergency Husband Service (Chapter 7) – Kee-Rhopy

  1. Huwaa 😭😭😭 baru sempat baca gegara tugas kuliah bejibun😭😭 please happy ending ya thor 😉😉😆😆

  2. jadi selama ini yg bikin semua nya kayak gini itu nari ?? wtf aku tercengang banget lol. gak nyangka kalo bakal kayak gini,malah shiyoung ny gak bangun2 kan ngeri banget.chanyeol nya jug kasian kak-_-
    hebatt mereka masih sling mencintai setelah 15 thn lama nya. woww itu beneran kuat banget hatinya wjwkwk
    ahh yea aku penasaran sama next nyaa. aku tunggu kak FIGHTING YAA

  3. Buset daahhhh….
    Ternyata si Nari ckckckckck huffffff sabar ae lah park chan hohohohoho
    Semoga si Shiyoung cepet sadar yaakkk

  4. ya ampun… jd kayak gtu… kslahpahaman yg ngbuat smuanya brantakan.. kasihan bgt…
    duh sdih bgt deh.. apalagi pas chanyeolnya blg kalo dia g yakin pnya ckup waktu bnyak brsma…
    hueee… mewek.. T.T
    keep writing ^^

  5. ternyaaaa yg bersalah di sini nari ternyata aku kirain beneran ayah chanyeol yg bersalah, aku jadi ikut berburuk sangka… sedih pake banget…. semoga shiyoung cepat sadar…..nexttttt chapter

  6. jadi dalang dari semua ini jang nari ??? omo
    dan itu si shiyoung udah bangun kn sebener’ya iya kn ? duuuhh semoga shiyoung bner’an udah sadar

  7. Gatau harus ngomong apa lagi, speechless. Kesalahan dan kebodohan satu orang menyebabkan kehidupan beberapa org hancur😥

  8. woah ternyata eh ternyata ayah chanyeol tak bersalah. gela ya si nari jahat amat weh weh gilak. oiya gimana cara minta password chapter 8 nya? 😉

  9. Jahat banget nari sampe segitunya? Dia ga sadarapa kalau perbuatan dia bakalan jadi gini 😣 dan ya kasian juga ya shinyoung, dia kapan bangunnya? Chanyeol udah sabar banget nungguin shinyoung ;(

  10. Njirrrrr, jadi Nari dalangnya? Lha trus, bapak-ibunya Shiyoung itu mati murni karena kecelakaan? Woah, nggak nyangka. Okelah Kee-Rhophy, aku pasrah sama endingmu

  11. Kee-Rhophy atau reader yang lain. Tolong aku, jeballlllllll. Kee-Rhophy, aku mau minta passwordnya emergency husband service yang terakhir tapi kamu nggak ngasih petunjuk atau cp yg bisa dihubungi trus aku buka how to ask password tapi itu juga dipassword. Aku harus gimana? Maaf kalau aku alay dan menyusahkan. Mianhae

  12. haiiii kakak
    wah udah lama ga buka fanfiction ini,
    btw, ini ceritanya mendebarkan
    wkwk
    awesome
    well, menurut aku sih drama nya dapet banget kak
    overall udah bagus kak
    thanks for the story ^^

  13. nari… gk nyangka aku dia kyk gtu huaaa… author aku nangis… nih tanggung jawab…. ksian chanyeol ama shiyoung… gara” nari mereka slama 15 th gk bsa bersama… oke ini apa bgt…. intinya… Keep writing and hwaiting!~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s