The Dim Hollow Chapter 12 by Cedarpie24

Thedimhollow

The Dim Hollow

                                                                   —Chapter 12

Deserve

.

a fanfiction by cedarpie24

.

Oh Sehun x Son Dahye

Slight!Kim Taehyung, Kim Jongin, Byun Baekhyun

Romance, school-life, hurt, teacher-student relationship || PG-16 || Chaptered

.

I just own the storyline and original-chara

.

Aku menyayangimu sedalam kau menyukaiku. Memujamu sebanyak kau mengagumiku. Menginginkanmu sesering kau merindukanku. Namun ada begitu banyak hal yang membuatku tak pantas untukmu. Aku, terlalu banyak kekelaman yang kupunya.—Oh Sehun

.

Foreword  Chapter 1—Got Noticed  Chapter 2—Nightmare Chapter 3—Detention 

Chapter 4—The Kiss  Chapter 5—Sinner  Side Story : Secret 

Chapter 6—Take Care of Her  Chapter 7–Adore  Chapter 8–Him  Chapter 9—Confession  Chapter 10—Elude  Chapter 11—Decision

“Cium! Cium! Cium!”

Dahye tertegun mendengar seruan teman-temannya. Wajahnya seketika memerah dan ia menyadari posisinya dengan Taehyung yang memang mengundang pikiran tidak-tidak dari orang lain. Ia baru saja hendak mendorong bahu Taehyung menjauh, ketika kemudian pintu kelas menjeblak terbuka, dan sosok yang paling tidak ingin dilihatnya di saat seperti ini muncul.

“Apa yang kalian lakukan?!”

Gelegar suara itu memenuhi kelas, mengalahkan riuh yang ditimbulkan oleh seluruh siswa.

Lalu seisi kelas mendadak senyap. Membeku tak kuasa menahan ngeri melihat presensi guru mereka yang kini berdiri di pintu masuk. Oh Sehun tampak mengerikan dengan raut keras terpeta di wajahnya. Kedua tangan pemuda Oh itu mengepal di sisi tubuh sementara sorot matanya dipenuhi emosi menggelegak.

Siapa pun ketakutan melihat Sehun saat ini, namun tak ada seorang pun yang lebih takut dari Dahye. Mendapati Sehun menatapnya tajam-tajam sementara Taehyung masih berdiri begitu dekat dengannya. Bergegas ia mendorong Taehyung, kemudian bagai disetrum melonjak bangun dari duduknya.

Ketika Sehun yang tengah dikuasi amarah berjalan mendekatinya, Dahye tahu tamat sudah riwayatnya.

“Apa yang terjadi di sini?” Sehun bertanya dengan suara rendah. Kedua tangannya terlipat di depan dada, dan Dahye dapat menemukan kilatan mengerikan di matanya.

Oh, sial. Ia benar-benar sudah tamat.

Dahye menarik napas kemudian berusaha menjelaskan sembari menghindari tatapan Sehun. “Ini hanya salah paham, kami—“

“Salah paham apanya?” Taehyung tahu-tahu menukas, menyambar perkataan Dahye dengan santai. Ia lantas mengedikan kepalanya pada Sehun. “Memangnya kau tahu apa yang orang ini pikirkan sampai bisa menyimpulkan ‘ini hanya salah paham’?”

Kepala Dahye dengan cepat menoleh pada Taehyung. Kedua alisnya saling bertautan dan raut panik mulai mewarnai wajahnya.

Apa yang murid baru ini bicarakan, sih? Kenapa dia malah memperburuk suasana?

“Benar-benar mengejutkan.” Sehun bergumam pada dirinya sendiri, meski begitu matanya masih menatap Dahye lurus-lurus, membuat sekujur tubuh Dahye meremang. Ia lantas mengembuskan napas perlahan, dan menatap Dahye serta Taehyung bergantian. “Atas apa yang telah kulihat tadi, kurasa kalian harus datang ke ruanganku sepulang sekolah nanti. Untuk menjelaskan apa yang mungkin telah membuatku salah paham.”

Kedua bahu Dahye melemas dengan lesu. Ia tahu akhirnya akan begini. Masalah lagi, masalah lagi.

“Kenapa harus?” Taehyung kembali menukas. Ia menatap Sehun dengan berani, kepalanya meneleng ke samping ketika ia bertanya. “Kenapa kami harus datang ke ruanganmu? Memangnya kau siapa?”

Oh, astaga. Si murid baru ini benar-benar idiot, rupanya. Dahye diam-diam menepuk kepalanya sendiri. Berdoa semoga kecerobohan Taehyung takkan membuatnya ikut-ikutan terjerumus ke dalam masalah yang lebih besar lagi.

Sementara itu Sehun mengulas seringai tipis mendengar pertanyaan dari Taehyung.

“Aku? Tentu saja guru Sastramu, Tuan Kim.” Sehun menyahut dengan tenang. “Kudengar kau murid baru, ya? Baiklah, mulai sekarang biar kuperhatikan setiap perilakumu di kelasku supaya aku lebih mudah memberi nilai, oke?”

Dan dengan itu Sehun berbalik melangkah menuju muka kelas. Ia berdiri di depan meja guru, kemudian meminta perhatian seluruh kelas untuk memulai pelajarannya. Dahye masih tercenung di tempatnya, masih tak percaya Sehun akan muncul di saat seperti tadi.

Mungkinkah pemuda itu mengira yang bukan-bukan?

Pasalnya posisinya dan Taehyung tadi memang benar-benar mencurigakan, dan seisi kelas menyerukan kata yang memperkuat kecurigaan itu. Perlahan Dahye kembali ke kursinya, ia mengerling Sehun di muka kelas yang kini sibuk menerangkan materi mereka.

Tadi ia kelihatan marah sekali. Dahye ingin tahu apakah Sehun sampai semarah itu karena dirinya sebagai seorang murid berada di posisi semencurigakan itu, atau karena dirinya sebagai perempuan yang Sehun sukai…

Dahye menggeleng-gelengkan kepalanya berusaha mengusir gagasan tadi.

Bukankah Sehun yang ingin membuat jarak? Seharusnya ia tak perlu marah melihat Dahye berdekatan dengan lelaki lain.

“Psst, Meja. Perempuan-meja.”

Dahye tersentak ketika bisikan tadi sampai ke telinganya. Ia menoleh ke samping, dan menemukan bisikan tadi berasal dari Taehyung yang duduk di meja di sebelahnya. Sebelah alis Dahye berjingkat.

Apa tadi katanya? Perempuan-meja?

Nama konyol macam apa itu?

“Yah—dia sungguhan guru kita?” Taehyung mencoba berbisik sambil menuding-nuding Sehun di depan kelas. Meski begitu usahanya untuk berbisik-bisik sama sekali tidak berhasil, suaranya tetap kedengaran kencang, dan Dahye yakin perempuan yang duduk tiga meja di depan mereka bisa mendengar pertanyaan Taehyung tadi.

Anggukan pelan dari Dahye merupakan jawaban yang kemudian Taehyung terima. Belum puas bertanya, Taehyung kembali berbisik-bisik—dengan volume suara yang sama sekali tak bisa dikategorikan sebagai bisikan.

“Wah, yang benar saja! Tapi dia kelihatan sangat muda! Kupikir tadi dia cuma mahasiswa lewat atau senior yang sudah lulus.”

Dahye mendengus sambil memutar matanya. Sehun memang kelihatan sangat muda untuk ukuran seorang guru, tapi mana ada orang sebodoh Taehyung yang sampai salah sangka begitu.

“Kau bodoh, ya? Tidak sembarang orang diperbolehkan masuk ke area sekolah, mana mungkin ada mahasiswa sekedar lewat masuk kemari.”

Taehyung mengedikan bahunya.

Membicarakan Sehun seketika membuat Dahye teringat kembali kejadian beberapa saat lalu. Ia berusaha menahan dongkol ketika melanjutkan berbisik-bisik pada Taehyung.

“Lalu apa maksud perkataanmu tadi, sih? Kenapa kau menentangku saat kubilang salah paham?”

Kini giliran Taehyung yang mengangkat sebelah alisnya. “Aku tidak menentangmu, aku hanya tanya. Kenapa kau bilang semua itu salah paham? Memangnya kau tahu apa yang dipikirkan oleh dia? Kau pasti mengira dia berpikiran bahwa kita akan berciuman ‘kan, karena itu kau bilang ini salah paham. Padahal bisa saja dia tidak berpikir begitu.”

Dahye menatap Taehyung tidak percaya. Ia menarik napas sebelum menyahut dalam bisikan tajam. “Tapi siapa pun yang melihat kita tadi pasti akan mengira begitu, belum lagi sorakan-sorakan dari anak-anak yang lain.”

“Tapi kita tidak berbuat seperti apa yang orang-orang pikirkan ‘kan? Dengan kau yang salah tingkah seperti tadi sama saja seperti mengakui apa yang ada di pikiran orang-orang.” Taehyung menangkas pertanyaannya dengan lugas.

Dahye mengerutkan keningnya dalam-dalam. “Aku tidak bisa mengerti jalan pikiranmu. Kau benar-benar aneh.”

“Sudah selesai diskusinya?”

Baik Taehyung maupun Dahye dibuat membeku begitu mendengar pertanyaan Sehun tadi. Keduanya segera memutar kepala hingga kembali menghadap ke depan kelas. Khusus untuk Dahye, ia berusaha sekuat tenaga menghindari tatapan Sehun dengan memandang bukunya yang terbuka.

“Kim Taehyung, kau masih murid baru di sini. Aku belum tahu bagaimana kemampuanmu, tapi setidaknya tunjukan padaku sikap baikmu. Mengerti?” Sehun berujar dingin.

“Ya, Saem.” Taehyung menyahut sekenanya.

“Dan kau Son Dahye.”

Dahye lekas-lekas mengangkat kepalanya, namun masih saja menghindari tatapan Sehun. Lihat kemana saja, kemana saja yang penting bukan ke mata pemuda Oh itu.

“Nilai-nilaimu sudah sempurna, tapi bukan berarti sikapmu di kelas tidak akan mempengaruhinya. Jadi cobalah bersikap baik kalau tak ingin nilaimu dikurangi. Kau mengerti?”

Sial.

Sama seperti semula Sehun menggunakan nilainya sebagai senjata membuat Dahye tunduk.

Sambil mengangguk kecil, Dahye bergumam pelan. “Mengerti, Seonsaeng-nim.”

Serius, ia mulai lelah dengan semua ini.

            Begitu bel pulang berdering, Dahye punya perasaan bahwa sesuatu yang buruk telah menantinya. Lagi-lagi ia dipanggil ke ruangan Sehun, dan lagi-lagi berpasang-pasang mata itu kembali menghujamnya penuh rasa ingin tahu ketika ia berjalan menyusuri koridor. Di belakangnya, Dahye bisa mendengar langkah kaki Taehyung. Pemuda Kim itu mengekorinya dengan santai sambil sesekali bersiul genit ketika mereka melewati sekumpulan perempuan berseragam ketat. Terkadang menyerukan sapaan sok manis seperti,

“Hai, Cantik.”

Atau,

“Halo, Manis.”

Oh, astaga. Dahye mendecak pelan lantas segera mempercepat langkah yang diambilnya, enggan kelihatan berjalan terlalu dekat dengan Taehyung—karena sumpah, si murid baru itu sungguhan membuatnya malu!

“Yah—Son Dahye, tunggu aku!” Taehyung tahu-tahu berseru pada punggung Dahye begitu menyadari gadis itu telah berjalan terlalu jauh darinya.

Sementara Dahye diam-diam menutup wajahnya sendiri dengan kedua tangan. Sudah susah-susah menjauh dari Taehyung, pemuda itu malah menyerukan namanya dengan kencang.

Tanpa kesulitan Taehyung mengejar Dahye dan berhasil menyamai langkahnya. Ia segera mencondongkan badannya untuk menatap wajah Dahye.

“Jangan berjalan duluan, dong. Kau lupa aku murid baru? Aku ‘kan tidak tahu di mana ruangan guru muda itu berada, bagaimana kalau aku sampai tersesat, huh? Bagaimana kalau aku tidak bisa pulang dan harus bermalam di sini?” Taehyung di sampingnya merepet bertanya seperti petasan tahun baru.

Decakan kembali lolos dari mulut Dahye. Sambil mendelik, ia menyahut dengan ketus. “Pertama, kau takkan mungkin tersesat di area sekolah seperti ini. Dan kedua, kalau pun kau benar-benar tersesat, aku tidak akan peduli. Oke?”

“Wah, jahat sekali.” Taehyung menukas sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Lalu ketiga,” Dahye mendadak menghentikan langkahnya. Ia memutar badan sehingga menghadap Taehyung, kemudian menyilangkan kedua tangannya di depan dada ketika berujar, “kau membuatku terlibat ke dalam masalah ini sampai Oh seonsaeng memanggil kita ke ruangannya. Kau bisa tebak seberapa kesalnya aku padamu? Karena itu, berhenti bicara padaku seolah kita ini teman—karena hei, aku tidak mau berteman dengan seseorang yang telah membuatku berada dalam masalah. Kau mengerti?”

Taehyung dibuat membeku oleh Dahye. Pemuda itu mengerjap-ngerjapkan matanya, kentara sekali tengah dilanda kaget. Sementara Dahye membalasnya dengan tatapan tajam, seolah ia ingin melubangi kening Taehyung.

“Kimtae! Yak, Kimtae! Di sana kau rupanya!”

Ketika Dahye dan Taehyung tengah berduel tatap, seruan nyaring itu pecah ke seluruh koridor, membuat baik Taehyung maupun Dahye segera memutar kepala mencari sumber suara. Helaan napas lelah segera terdengar dari Taehyung begitu pemuda itu menemukan siapa sosok yang menyuarakan namanya. Siapa lagi kalau bukan Chaeyeon.

Chaeyeon yang berdiri di ujung koridor segera berlari-lari kecil menghampiri mereka. Begitu sampai gadis itu langsung mengangkat sebelah tangannya untuk memukul belakang kepala Taehyung dengan keras, sukses menghasilkan aduhan sakit dari sang empunya kepala dan kernyitan ngeri dari Dahye.

Astaga, siapa lagi ini? Dahye membatin dalam hatinya.

“Kau kemana saja sih? Aku menyusul ke ruang kelasmu dan kau sudah menghilang, kau mau pulang duluan, ya? Kau mau meninggalkanku di sekolah baru ini, huh? Bagaimana kalau aku sampai tersesat dan tidak bisa pulang?” Chaeyeon bertanya tanpa jeda, persis seperti apa yang Taehyung lakukan sebelumnya.

“Tidak usah berlebihan, kau tidak mungkin tersesat di area sekolah seperti ini.” Tukas Taehyung, tanpa malu mengutip perkataan Dahye sebelumnya. “Aku ada urusan sebentar. Kau tunggu saja kalau mau.”

Chaeyeon mendengus kecil mendengar ini. Tatapannya kemudian jatuh pada Dahye yang baru saja berniat meninggalkan mereka.

“Omona! Siapa ini?” Chaeyeon segera menangkap lengan Dahye, menahannya pergi.

Dahye menoleh tidak suka pada Chaeyeon. Ia mengibaskan lengannya dengan harapan Chaeyeon akan melepaskannya. Namun gadis itu tetap menahannya.

“Kau … jangan bilang,” Chaeyeon berhenti sejenak untuk menatap Dahye dan Taehyung bergantian. “pacar si Kimtae? Kau pacar barunya Taehyung, ya? Omo, omo!”

Oh ya ampun. Asumsi murahan macam apa itu?

“Yang benar saja.” Dahye mendengus jengkel, lalu dengan kasar menepis genggaman Chaeyeon pada lengannya. Tanpa berniat menjelaskan apa pun pada gadis yang tidak ia kenali ini, Dahye berniat pergi, namun lagi-lagi ia kembali ditahan. Kali ini oleh Taehyung. Pemuda itu menyentuh bahunya sekilas, mencegahnya untuk pergi.

“Jangan salah paham, Kimchae. Kami hanya teman—atau setidaknya untuk saat ini begitu.” Taehyung menambahkan dengan seulas cengiran jahil di bibirnya. Dahye memilih pura-pura tidak dengar dan membiarkan Taehyung meneruskan apa yang ingin ia katakan. “Jadi, Dahye, ini Kim Chaeyeon adik kembarku. Dan Kimchae, ini Son Dahye, teman sekelasku.”

Dahye mengerutkan kening begitu Taehyung saling memperkenalkan diri mereka. Jadi gadis di hadapannya ini saudara kembar Taehyung? Oh astaga, satu Taehyung saja sudah cukup membuat kepalanya nyaris pecah—bahkan dalam waktu kurang dari 24 jam—bagaimana dengan dua Taehyung dalam versi berbeda—satu lelaki dan satu perempuan?

Dalam hatinya Dahye memantapkan niatan untuk menjaga jarak dari Kim bersaudara kalau ia tak mau terlibat lebih banyak masalah.

“Oh, hai, Son Dahye.” Chaeyeon berseru dengan ceria. Namun kemudian ia tertegun, menelengkan kepalanya seolah berusaha mengingat sesuatu. “Tapi tunggu. Son Dahye? Kenapa kedengaran tidak asing?”

Taehyung mendekat pada Chaeyeon kemudian berbisik di samping telinganya—lagi-lagi dengan volume cukup keras untuk sampai ke telinga Dahye.

“Dia itu murid nomor satu di sekolah ini. Tentu saja kau pernah mendengar namanya—orang-orang pasti sering membicarakan dia.”

“Aah, begitukah?”

Chaeyeon membulatkan kedua matanya kemudian mengangguk-angguk dengan antusias. Sementara Dahye memutar bola matanya terang-terangan. Lihat ‘kan, belum apa-apa duo Kim ini sudah berhasil membuat dirinya gondok.

Tanpa menunggu reaksi apa pun lagi, Dahye segera mengayun tungkainya untuk meninggalkan sepasang saudara kembar ini. Disusunnya langkah cepat-cepat, berharap semoga Taehyung tak bisa mengejarnya dan membuatnya tambah jengkel. Dahye tak mau terus-menerus dibuat kesal oleh Taehyung, ia masih harus menyimpan energinya untuk menemui Sehun.

Dan bicara soal Sehun, kini Dahye telah tiba di depan ruangan pemuda itu. Pintunya terbuka lebar, membuat Dahye dapat melihat ke dalam ruangan, di mana Sehun tengah terduduk di belakang mejanya sembari menunduk mengurusi tumpukan kertas tebal.

Dahye bisa merasakan getaran aneh itu kembali merayapi dadanya. Ia berusaha membuang tatapannya dari Sehun, namun tak bisa. Seolah ada kekuatan magnet yang membuatnya ditarik untuk terus menatap pemuda itu.

Dan ketika perlahan Sehun mendongak, tatapan mereka segera bertemu.

Sehun kelihatan agak terkejut menemukan Dahye telah berdiri di ambang pintunya dan mengamati dirinya. Ada sesuatu dalam tatapan pemuda itu yang membuat Dahye yakin bahwa bukan hanya ia seorang yang merasakan gejolak aneh di dalam hatinya. Tatapan keduanya terkunci, seolah ingin menyalurkan rasa yang tak bisa disampaikan lewat kata-kata.

Rindu, bimbang, sesal, juga marah bercampur jadi satu.

“Wah, jalanmu cepat juga, ya. Aku sampai kesulitan mengejarmu.”

Lalu Taehyung yang sedikit terengah begitu saja muncul dan berdiri di samping Dahye. Pemuda Kim itu kelihatan ingin berceloteh lagi ketika kemudian ia menemukan suatu kejanggalan. Son Dahye yang berdiri di sampingnya, terpaku menatap lurus-lurus ke depan, ke dalam ruangan, sama sekali tak terusik oleh kedatangannya. Penasaran apa yang tengah Dahye tatap, Taehyung melongokan kepalanya ke dalam ruangan dan menemukan guru muda yang tadi marah-marah padanya tengah duduk di sana, membalas tatapan Dahye.

Keduanya kelihatan tak menyadari kedatangan Taehyung. Seolah mereka tenggelam dalam dunia sendiri lewat tatapan itu.

Ada apa ini?

Taehyung berdehem keras-keras, dan menyenggol bahu Dahye tak kalah kerasnya. Tak pelak membuat Dahye segera tersentak dan digusur dari dunianya. Ia menoleh cepat pada Taehyung agak linglung.

“Kau … kau sudah sampai?”

Ia bahkan menyuarakan pertanyaan bodoh seperti itu. Menatap mata Sehun setelah sekian lama menghindarinya cukup banyak membuat Dahye kehilangan orientasi.

“Kenapa tidak masuk?” Taehyung balas bertanya, mengedikan dagu pada Sehun yang kini memandang mereka berdua dari belakang mejanya. “Kami tidak diperbolehkan masuk, Saem?” Taehyung bertanya pada Sehun.

Sehun meletakan pena yang sejak tadi ia gunakan untuk menulis, kemudian mengangguk pelan. “Masuklah.”

Tanpa menunggu perintah kedua Taehyung segera melangkah masuk dengan santai. Berbeda dengan Dahye yang justru ragu-ragu mengambil langkah. Padahal sudah kelewat sering ia memasuki ruangan ini, tapi rasanya aneh kembali melangkah kemari setelah apa yang terjadi terakhir kali di sini. Mereka bertengkar, di tempat ini Sehun memintanya menjauh.

“Sebenarnya aku tidak mau membesar-besarkan masalah ini.” Sehun memulai begitu Dahye dan Taehyung mendudukan diri di kursi di hadapannya. “Tapi kurasa apa yang kalian lakukan di kelasku tadi sedikit tidak bisa ditolerir.” Ia berhenti sejenak untuk menatap Taehyung dan Dahye bergantian. Tatapannya berhenti lebih lama di Dahye. “Aku mendengar teman-teman kalian menyoraki kalian untuk berciuman. Benarkah itu?”

“Tidak. Tentu saja tidak.” Dahye menjawab cepat, lebih cepat dari yang diperlukan.

Sehun menatap Dahye sejenak. Ia mengembuskan napas dan berujar pelan-pelan. “Sebagai remaja tentu kalian boleh saja menjalin hubungan lebih dari sekadar teman. Tapi bermesraan di dalam kelas bukankah sedikit berlebihan?”

Kali ini Sehun benar-benar menujukan tatapannya untuk Dahye seorang. Pemuda itu menatap Dahye lurus-lurus, membor kepalanya dan menguak ingatan dulu sekali ketika mereka di dalam mobil. Tentang nasehat yang Sehun sampaikan mengenai hubungan berpacaran pada Dahye.

“Kau boleh saja punya pacar, itu wajar mengingat usiamu juga sudah cukup. Tapi ingat, kau harus menjaga diri dan jangan sampai melakukan hal-hal bodoh yang bisa membahayakan masa depanmu sendiri. Jalanan di hadapanmu masih sangat panjang, kau tak boleh lupa bahwa masih banyak sekali rintangan yang menunggumu. Jadi jangan sia-siakan masa depanmu untuk hal sepele. Mengerti?”

Lalu setelah ia mengatakan bahwa ia tak punya kekasih, Sehun … menciumnya. Ciuman pertama mereka.

Ciuman pertamanya …

Bahkan sampai detik ini pun Dahye masih tak punya kekasih. Bagaimana mungkin Sehun menuduhnya berhubungan dengan Taehyung kalau hatinya telah dimiliki pemuda Oh itu.

“Tapi aku dan Taehyung tidak berhubungan, kami tidak berpacaran.” Dahye menyahut. Suaranya lantas melemah ketika ia meneruskan. “Seonsaengnim seharusnya tahu itu dengan benar.”

Iya, bukankah Dahye telah menyatakan rasa sukanya pada Sehun tempo hari? Seharusnya Sehun tahu dengan benar bahwa ia tak mungkin menjalin hubungan dengan pemuda lain.

“Wah, sudah dua orang yang mengira aku kencan dengan si Meja.” Di tempatnya Taehyung bergumam pelan. Yang mana berusaha Dahye hiraukan.

Sejenak Sehun dibuat bungkam oleh pernyataan Dahye. Perkataannya secara tak langsung menyatakan bahwa Sehun merupakan satu-satunya yang Dahye sukai. Namun tatapan matanya berkata bahwa Sehun telah membuatnya terluka.

Ia telah membuat gadis Son itu jatuh hati dan terluka di saat bersamaan.

“Baiklah.” Sehun berdehem dan memperbaiki posisi duduknya. “Kalau begitu kalian bisa jelaskan apa yang sebenarnya terjadi tadi?”

Lalu Dahye segera membuka mulutnya untuk menjelaskan apa yang memang terjadi. Tentang perebutan tempat duduk dan perdebatan tidak penting yang melibatkan ia dan Taehyung. Memang aneh sekali rasanya menjelaskan kejadian konyol tadi pada Sehun, tapi Dahye tak punya pilihan lain lagi.

“Posisi kami tadi mungkin memang mengundang kecurigaan banyak orang, terlebih sorakan-sorakan yang teman-teman kami lakukan. Tapi kami sungguhan tidak melakukan apa yang Seonsaeng-nim pikirkan. Karena itu, kumohon untuk,” tidak salah paham tentang aku dan Taehyung. “tidak mempermasalahkan kami lebih jauh lagi.”

Sehun terdiam sejenak setelah mendengar penjelasan Dahye. Pemuda itu kemudian beralih pada Taehyung yang kini tengah menguap lebar-lebar. Sejak tadi Dahye saja yang bicara, untuk apa ia disuruh datang kemari kalau akhirnya hanya Dahye yang didengar? Tapi berhubung apa yang Dahye katakan tidak melenceng dari fakta, Taehyung tak bisa menyangkal.

“Benar begitu kejadiannya, Tuan Kim?” Sehun bertanya pada Taehyung.

Sambil menahan kuapan ke sekiannya, Taehyung mengangguk. “Yeah. Memang begitu.”

“Tapi ada satu hal yang ingin kutanyakan padamu.” Sehun berujar serius, matanya kali ini menghujam Taehyung. “Untuk apa bicara pada Nona Son dengan posisi sedemikian dekat? Kau tahu, apa yang kau lakukan telah membuatmu, dan juga Nona Son, terjerat masalah begini?”

Taehyung mengerjap lantas mengedikan bahunya. Sekilas ia mengerling Dahye ketika akhirnya menjawab. “Entahlah. Wajahnya kelihatan lucu saja dilihat dari dekat. Hahaha.”

Seketika suasana ruangan menjadi berubah. Tegang dan agak mencekam dengan Sehun yang memasang raut keras di wajahnya. Bibir pemuda Oh itu terkatup rapat sementara tangannya terkepal tanpa sadar. Dahye sendiri diam-diam mengutuk Taehyung dalam hatinya. Apa yang pemuda ini katakan sih? Kenapa dia selalu membuat suasana menjadi lebih buruk?

Menyadari kejanggalan ini, Taehyung segera berdehem dan meralat jawabannya tadi. “Eh, maksudku aku hanya ingin main-main dengan dia saja.”

Sehun memandang Taehyung agak lama, mencoba menahan diri untuk tidak berbuat di luar batas. Demi Tuhan, Kim Taehyung hanya muridnya dan ia hanya bicara semaunya. Tidak seharusnya Sehun semarah ini hanya karena mendengar jawabannya tentang Dahye tadi.

Maka setelah berhasil menguasai diri, Sehun mengempaskan punggungnya ke sandaran kursi lantas berujar. “Baiklah, kurasa ini memang hanya kesalahpahaman saja. Tidak ada yang perlu ditindaklanjuti. Kau boleh pergi sekarang.”

“Ah, terima kasih, Saem.” Taehyung menukas kemudian bergerak bangun dari duduknya.

Di kursinya Dahye melepaskan helaan napas lega. Syukurlah, masalahnya cukup berhenti sampai di sini. Ia baru saja bergerak hendak mengikuti Taehyung bangkit dari kursinya, ketika suara Sehun menginterupsinya.

“Aku belum selesai denganmu, Nona Son. Kau belum bisa pergi.”

Apa?

Kedua mata Dahye membola mendengar ini. Begitu pula dengan Taehyung yang kini menghentikan langkahnya, menatap bingung Sehun dan Dahye bergantian.

“Kenapa…?” Dahye bertanya tak mengerti.

“Masih ada yang harus kubicarakan denganmu.” Jawab Sehun sembari menatap Dahye lurus-lurus. Tatapannya kemudian beralih pada Taehyung yang masih saja berdiri di dalam ruangannya. “Apa lagi yang kau tunggu, Tuan Kim? Kubilang kau bisa pergi sekarang.”

Seolah tersadar, Taehyung tersentak kecil. Sebelum membungkuk dan benar-benar pergi, ia mengerling Dahye sekilas. “Ah, ya. Baik, Saem.”

Sepeninggal Taehyung, ruangan kembali senyap. Dahye menjatuhkan tubuhnya kembali ke atas kursi, lantas menunggu Sehun membuka suara. Namun sampai beberapa menit ke depan tak ada yang keluar dari mulut pemuda ini. Lagi-lagi mereka terjebak dalam keheningan tanpa ujung.

Dahye yang sejak tadi menundukan kepalanya untuk menghindari tatapan Sehun, perlahan mendongak. Hanya untuk menemukan Sehun yang rupanya tengah mengamatinya sejak tadi. Tatapanya tak terbaca, Dahye tak bisa menafsirkan arti di balik tatapan itu.

Lekas-lekas ia membuang wajah, tak mau terperangkap lagi dalam tatapan Sehun.

“Jadi, ada apa?” Dahye bertanya, memecah sunyi untuk pertama kalinya.

Sehun masih saja bungkam. Semula kelihatan tak ingin menjawab pertanyaan Dahye. Namun kemudian ia menarik napas dalam-dalam, lantas menyuarakan isi hatinya. Melepas beban yang sejak kemarin menggelayutinya.

“Aku … aku hanya ingin minta maaf.”

Dahye segera menoleh pada Sehun begitu ia mendengar ini. Matanya menatap Sehun yang kini justru menundukan kepalanya. Untuk pertama kalinya Dahye menemukan Sehun yang kelihatan rapuh dan tak berdaya.

Lalu perlahan Sehun mendongak, dan matanya yang dipenuhi kekalutan segera bertemu dengan manik Dahye.

“Aku minta maaf karena telah membuatmu begitu tersiksa, membuatmu terluka dan tersakiti. Salahku yang telah memilih mengambil tindakan sepihak, kupikir apa yang kulakukan akan membuat kita menjadi lebih baik. Aku tak mengira perbuatanku justru membuatmu semakin tersiksa.” Sehun berujar sungguh-sungguh. Sebenarnya ada banyak sekali yang ingin ia sampaikan, namun untuk mewakili rasa sesalnya telah menyakiti Dahye, hanya itu yang bisa ia katakan. “Jadi … maafkan aku atas segala yang telah kuperbuat padamu.”

Dahye tercenung mendengar pengakuan Sehun tadi. Ia tak sangka Sehun akan meminta maaf seperti ini padanya. Ia pikir Sehun tak lagi peduli pada perasaannya, Ia pikir …

“Kau bilang kau menjauhiku karena ingin menjagaku dari rasa sakit. Pasti ada alasan di balik itu, ‘kan?” Dahye memulai, menyuarakan rasa ingin tahunya sejak kemarin. “Rasa sakit apa yang tengah kau coba hindarkan dariku? Kenapa aku akan terluka jika kau tak menjauh?”

Sehun tahu pertanyaan ini akan Dahye sampaikan juga. Ia pun telah menyiapkan diri untuk menjawabnya.

Menjawab tentang masa lalunya, masa lalu yang ia miliki dengan Dayoung kakak dari Dahye sendiri. Masa lalu yang menyimpan ribuan kesalahan, hingga membuatnya tak mampu membiarkan Dahye berada di sisinya meski hatinya ingin. Sebab Dahye akan semakin terluka jika itu sampai terjadi.

Sehun telah menyiapkan diri untuk mengatakan semua itu pada Dahye. Membeberkan mengenai kisahnya dengan Dayoung dan dahulu.

Ia mengisi paru-parunya, kemudian menatap Dahye lamat-lamat. Mungkin setelah ini Dahye akan semakin membencinya. Mengetahui bahwa Sehunlah alasan dibalik kakaknya meninggal dunia. Mengetahui bahwa tanpa sengaja Sehunlah yang telah membuat kisah hidupnya semakin redup.

Mungkin Dahye takkan mau sekadar menatapnya setelah tahu segalanya. Mungkin Sehun takkan bisa lagi melihat senyum Dahye yang begitu ia gilai, mendengar tawa dan juga gerutuannya. Mungkin Sehun takkan bisa lagi menggenggam tangannya, merengkuhnya dan berjalan berdampingan di sisinya.

Sebab Dahye sudah pasti akan membencinya. Seperti Sehun yang membenci dirinya sendiri.

Tapi kemudian Sehun menemukan dirinya kembali tersihir oleh manik Dahye. Keraguan perlahan-lahan tumbuh di hatinya.

Jika ia mengatakan segalanya yang telah terjadi, sanggupkah ia menerima hal-hal yang tadi ia pikirkan? Sanggupkah ia menerima kenyataan bahwa Dahye akan membencinya dan benar-benar menjauhinya?

Sehun menatap manik Dahye lebih lama lagi. Merasakan hatinya bergetar, dan perasaan meluap-luap yang tak bisa ia jabarkan.

Tidak. Ia tak bisa membayangkan Dahye jauh darinya.

Kemarin mudah rasanya memikirkan Dahye akan membencinya, menjaga jarak darinya. Tapi sekarang, setelah Dahye duduk tepat di hadapannya dan perasaan untuk gadis itu semakin membuncah di dadanya, Sehun tahu sesungguhnya ia tak mau Dahye pergi darinya.

Sehun pikir ia telah siap menerima konsekuensi dari pengungkapan masa lalunya pada Dahye. Namun ternyata ia keliru. Ia belum siap. Ia belum siap kehilangan Dahye.

Mungkin ia tak bisa menyembunyikan masa lalunya pada Dahye selamanya. Ia tetap harus mengatakan kisah itu, meski entah kapan. Yang pasti, jelas bukan hari ini. Sehun akan mempersiapkan hatinya terlebih dulu untuk dibenci oleh Dahye—walau ia tahu ia takkan pernah bisa siap.

Maka Sehun mengurungkan niatan mulanya. Menelan kembali kisah yang telah berdiri di ujung lidah.

“Aku … aku tak bisa mengatakannya sekarang.” Sehun berujar akhirnya. “Kau mungkin akan membenciku setelah tahu apa yang sebenarnya terjadi. Sebut aku egois, tapi untuk saat ini aku tak mau kau benci.”

Kerutan samar terbit di kening Dahye. Apa yang Sehun katakan? Sebelum ia sempat mencerna maksud perkataannya, Sehun telah meneruskan kembali penuturannya, menutup pembicaraan mereka hari itu.

“Karena harus kau ketahui, aku lebih dari sekadar senang kau membalas rasa sukaku juga.”

            Byun Baekhyun membalik halaman buku di tangannya dengan tenang. Sebenarnya tak ada niatan membaca buku malam ini, hanya saja berkat undangan Sehun untuk datang ke apartemennya dan perpustakaan merupakan satu-satunya ruangan paling menarik di tempat tinggal Sehun, maka Baekhyun tak punya pilihan lain selain melihat-lihat koleksi buku pemuda Oh itu.

“Aku nyaris mengatakan semuanya pada Dahye tadi.” Sehun memulai, pemuda itu duduk di atas meja, memandang udara kosong di hadapannya.

Baekhyun menutup buku di tangannya dan meletakkannya kembali ke dalam rak. Ia beralih pada buku-buku lain sebelum berhenti untuk berbalik menatap Sehun.

“Lalu bagaiman reaksinya?”

Sehun mengesah dan menyugar rambutnya dengan gerakan lelah. “Kubilang ‘kan nyaris. Aku belum mengatakannya.”

“Oh.” Baekhyun bergumam kecil dan meneruskan kegiatan sebelumnya mencari-cari buku yang sekiranya menarik. “Kalau kuperhatikan kau kelihatan benar-benar depresi sekarang.”

Tawa hambar lolos dari mulut Sehun. “Banyak sekali yang memenuhi pikiranku belakangan ini. Masalah pekerjaan tak perlu ditanyakan lagi, lalu belum selesai masalahku dengan Dahye, bocah itu muncul dan memperburuk segalanya.”

Sebuah buku berhasil menarik perhatian Baekhyun. Bersampul kulit dan tak tercetak kalimat apa pun di punggungnya. Iseng, ia menariknya dan membaca sampul depannya. Memories.

“Bocah itu?” Baekhyun bertanya sembari mengamati buku tebal di tangannya. “Siapa?”

“Dia murid baru di kelas Dahye. Dan, yah, kurasa dia tertarik pada Dahye. Aku tak bisa mengatakan aku suka bocah itu.” Sehun menyahut dengan raut jengkel terpeta di wajahnya.

Baekhyun mengamati Sehun kemudian tergelak kecil. “Kau tahu, kau kedengaran seperti anak kecil yang bercerita tentang temannya yang merebut lollipop kesukaannya.”

“Apa?” Sehun mengulang dengan tidak percaya. “Yang benar saja!”

“Yah—masihkah belum cukup jelas untukmu? Aku tahu saat ini kau menjauhi Dahye bukan hanya untuk menjaganya dari kisah masa lalumu. Tapi juga karena kau belum cukup yakin tentang perasaanmu sendiri.” Baekhyun berujar dengan tenang, sukses menghasilkan kerutan bingung di dahi Sehun. “Kau masih ragu apakah kau benar-benar menyukainya atau hanya menjadikanya pelarian saja. Kau masih tak yakin apakah perasaanmu untuknya benar-benar tulus atau hanya karena kau merindukan sosok gadis di masa lalu.”

Baekhyun sengaja tak menyebutkan nama gadis yang ia maksud. Bahkan hatinya masih terasa sakit untuk sekadar menyebut nama gadis itu.

“Kadang orang ketiga memang dibutuhkan untuk membuat seseorang sadar akan perasaannya yang sebenarnya.” Baekhyun meneruskan sembari mengulas senyum simpul.

Sejenak Sehun terdiam. Memang benar ia seperti itu. Tapi jika saja ia sudah yakin tentang perasaannya sendiri, apa yang akan ia lakukan? Bukankah ia merasa tak pantas berada di sisi Dahye?

“Aku … kupikir aku tak pantas mendapatkan Dahye setelah apa yang kulakukan di masa lalu.” Sehun menyuarakan isi hatinya dengan gamang.

Baekhyun menghela napas perlahan mendengar ini. “Sehun, dengar. Semua orang pantas untuk bahagia, kau jelas bukan pengecualian. Karena itu kenapa harus menyakiti dirimu sendiri jika kenyataannya kau bisa bersama dengan Dahye? Memang perbuatanmu di masa lalu benar-benar buruk, tapi seperti yang selalu kukatakan, penyesalan dan segala penderitaan yang telah kau lalui sudah cukup untuk menebus kesalahanmu. Jangan terlalu lama larut dalam rasa bersalah. Kau juga harus bahagia.” Ia berhenti sejenak untuk melepas kekehan usil. “Lagipula memangnya kau mau melihat Dahye bersama dengan bocah itu? Kau bilang dia kelihatan tertarik dengan Dahye, bukan tidak mungkin dia akan merebut Dahye darimu jika kau tidak segera ambil tindakan.”

Perkataan Baekhyun tadi segera memenuhi kepala Sehun. Membuatnya bagai ditubruk kenyataan baru bahwa selama ini dirinya memang selalu merasa menjadi manusia paling kotor di dunia dan tak pantas mengecap bahagia. Tapi bukankah memang seperti itu? Bukankah ia benar-benar kotor dan tak pantas rasanya mendapat kebahagiaan setelah apa yang ia lakukan di masa lalu?

“Memang perbuatanmu di masa lalu benar-benar buruk, tapi seperti yang selalu kukatakan, penyesalan dan segala penderitaan yang telah kau lalui sudah cukup untuk menebus kesalahanmu. Jangan terlalu lama larut dalam rasa bersalah. Kau juga harus bahagia.”

Perkataan Baekhyun kembali berdengung di telinganya.

Benarkah begitu? Benarkah ia juga harus bahagia, sama seperti orang lain?

Sementara Sehun sibuk dengan pikirannya sendiri, Baekhyun memilih kembali memusatkan atensinya pada buku yang tadi sempat ia hiraukan. Buku ini cukup menarik perhatiannya dengan sampul kulitnya dan tulisan emas meliuk-liuk yang diukir di sampul depan.

Memories.

Baekhyun lantas membuka halaman depannya. Sederet kalimat segera menyambutnya.

“Tentang selusin kenangan yang sukar dilupakan mau pun dihapus dari memori. Kurekatkan seluruh kenangan itu di atas kertas ini, hingga kuharap kau pun takkan pernah menghapusnya. Teruntuk Oh Sehun, yang selalu mengisi setiap relung memori terindahku.”

Deg.

Entah bagaimana lewat kalimat pembukanya saja Baekhyun sudah tahu apa-apa saja yang akan ia temui di halaman selanjutnya. Namun tangannya bagai bergerak sendiri, membuka halaman-halaman selanjutnya yang ditempeli berbagai foto dan kalimat-kalimat manis di sekitarnya. Foto yang memotret kebahagiaan tersendiri bagi dua objek di dalamnya. Kebahagiaan yang ironisnya membuat ia terluka.

Baekhyun menutup buku itu dan meletakannya kembali ke dalam rak. Tak kuasa menahan sakit jika ia meneruskan membuka buku itu.

Bahagia, ya?

Baru saja ia berkata pada Sehun bahwa semua orang pantas bahagia.

Lalu kalau benar begitu, kenapa kebahagiaan belum juga menyapanya?

            “Kimtae! Kimtae, buka pintunyaaa!”

Taehyung yang semula tengah berkutat dengan komik kesayangannya mengerang kesal begitu mendengar gedoran kencang di pintu kamarnya disusul seruan tak sabaran dari adik kembarnya. Semula ia berniat mengabaikan Chaeyeon, namun ia tahu semakin diabaikan, justru semakin gencar pula Chaeyeon mengejarnya.

Maka setelah malas-malasan bangun dari posisi tidurannya di atas kasur, Taehyung berjalan menuju pintu kamarnya dan membukanya. Segera dihadapkan dengan Chaeyeon yang menatapnya dengan kedua mata melebar.

“Apa sih?”

“Aku ingat! Aku ingat!”

Kening Taehyung mengerut. Kadang Chaeyeon memang seaneh ini. “Ingat apa? Kau ingat kalau ternyata meski kita kembar aku jauh lebih keren darimu, begitu?”

“Aku serius!” Chaeyeon berseru dengan raut tak main-main. “Tadi sore ketika bertemu dengan teman barumu, aku bilang aku tidak asing dengan namanya, ‘kan? Sekarang aku ingat di mana dan dari siapa aku dengar namanya.”

“Maksudmu … Son Dahye?” Taehyung mencoba memastikan bahwa memang si Perempuan-Meja yang Chaeyeon maksud.

Chaeyeon segera mengangguk cepat. “Iya, benar Son Dahye. Kau tahu, teman-teman sekelasku sesekali membicarakan dia ketika mereka meributkan guru Oh—sekarang aku juga ingat nama guru itu. Kau tahu guru Oh, ‘kan? Guru Sastra yang masih muda dan tampan ituu.” Chaeyeon berhenti sejenak untuk menarik napas, sebab sejak tadi ia bicara tanpa jeda. “Dari pembicaraan mereka, kurasa Son Dahye tidak disukai banyak orang. Mungkin dia bukan anak baik.”

Bukan anak baik?

Sejak pertama bicara Dahye memang tak memberikan kesan baik lewat sikap kurang sopannya. Gadis itu agak congkak dan semaunya sendiri. Tapi Taehyung masih ragu jika harus menilai gadis itu tidak baik. Sesuatu dalam hatinya berkata bahwa sebenarnya Dahye tak sekurang ajar yang ia lihat.

“Dan sepertinya,” Chaeyeon masih belum selesai rupanya. “Son Dahye juga punya hubungan khusus dengan guru Oh.”

Lalu Taehyung tercenung mendengar ini. Tanpa bisa dicegah kepalanya kembali memutar kejadian yang berlangsung siang tadi. Dimulai dari Dahye yang berdiri membeku di depan ruangan Sehun sembari bertatapan dengan pemuda itu, sampai Sehun yang menahan Dahye untuk tak pergi dari ruangannya.

Belum lagi reaksi berlebihan yang Sehun berikan ketika Taehyung mendekati Dahye terang-terangan.

            Son Dahye dan guru itu … apa yang sebenarnya terjadi diantara mereka?

…kkeut

Note♥

Haluuuu

Yeayy ga ngaret lagi updatenya^^

Waaa chapter kali ini panjangnya +5000w, gimana masih kependekan, atau jangan-jangan malah kepanjangan? Semoga ga ada yang mulek bacanya yak._.

Ah iya aku mau minta maaf karena di chapter sebelumnya aku nulis kalo Taehyung-Chaeyeon itu sodara kembar identik, padahal ternyata cewe-cowo itu ga mungkin nyampe kembar identik/.\ Hadudu maafin kecerobohan aku, kalau bukan karena ka emanuellathania yang koreksi kesalahan aku, mungkin sampe sekarang aku ga akan tau. Buat ka emanuellathania  makasih ya^^

Ah mungkin segini dulu aja hehe makasih buat kalian yang udah menyempatkan baca fic ini:) seeya on next chap gengs~~

…mind to leave a review?

P.s. SEHUN GANTENG BGT DI MONSTER AW

127 responses to “The Dim Hollow Chapter 12 by Cedarpie24

  1. makanya lamar aku baekhyun, dijamin kebahagiaan akan menghampirimu.. Mpppffftts😀 dududuuu aku degdegan sama tingkah kimtae di nextchap ><

  2. 😰😰😰 udh pd curiga dahye sm sehun ada hubungan 😕😕
    Bener taehyung tertarik (?) sm dahye 😂😂😂

  3. Pingback: The Dim Hollow Chapter 15 by Cedarpie24 | SAY KOREAN FANFICTION·

  4. ayo sehun buat dahye comeback ke pelukan mu, dan tolong beri tambahkan sati cast wanita yang alan menjadi sumber kebahagiaan byun baek ya authornim.. :))

  5. Pingback: The Dim Hollow Chapter 16 by Cedarpie24 | SAY KOREAN FANFICTION·

  6. Pingback: The Dim Hollow Side Story: Forbidden by Cedarpie24 | SAY KOREAN FANFICTION·

  7. Kenapa mphi? Cemburu?
    Kepo? Penasaran?
    Oh iyaaa di chapter ini kurang dag dig dug yak kak, mian ini cuma opini aku ajinn kok kakk
    Btw ini masih tbc nya ampe kapan ya kak? Kepo sama scene nanti kaalo dahye tau kalo sehun itu yg bikin eonninya meninggal

  8. Pingback: The Dim Hollow Chapter 17 by Cedarpie24 | SAY KOREAN FANFICTION·

  9. Boleh jujur kh
    Mf kalau nyakitin
    Aq kurg suka sama kembaran nya TaeTae
    Klo bsa gk usah kmbr” sgla lh

    Trus nanti TaeTae ini jd siapa.y ??

  10. Pingback: The Dim Hollow Chapter 18 by Cedarpie24 | SAY KOREAN FANFICTION·

  11. Kasian bgt disni ma baekhyun dari yg bysanya liat di ff2 dia nakal disini menderita bgt huhu ksian
    Kasi jodoh buat baekhyun plus kai juseyoo~

  12. Pingback: The Dim Hollow Chapter 19 by Cedarpie24 | SAY KOREAN FANFICTION·

  13. Pingback: The Dim Hollow Chapter 20 by Cedarpie24 | SAY KOREAN FANFICTION·

  14. Baek kasian bgt ya:’) ak kira jongin yg bakal jd org ke3, tp trnyt si tae. Ak suka sm jalan crtanya. Lanjut ya kak^^

  15. hahahah sehun bener bened cemburu sama tae …
    ngeliat baekhyun yang sebegitu dewasanya padahal dia menyimpan rasa sakit juga yaampun sedihnya udahlah yangbeb sama aaku aja ya #plakk ..
    hayoloh hubungan mereka udah mulai mau ketauan hmmm

  16. Pingback: Rekomendasi Fanfiction – 2 4 h o u r s·

  17. Sehun,berhenti merasa bersalah sama diri kmu sndiri ): aku tau ini susahh,tapi kmu juga harus bahagiaa…. kmu punya hak bahagiaa );

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s