[Freelance] WHAT IS LOVE

PhotoGrid_1462451340035

TITLE :   WHAT IS LOVE

CAST :   HWANG EUNBI

SONG MANSE

CHOI YUNA (YUJU)

HWANG FAMILY

KIM JOONMYUN

BAE JUHYUN

CHO SARANG

RATING : PG-13

LENGTH : ONESHOT

GENRE : SAD, MELODRAMA, FAMILY, ROMANCE, SLICE LIFE, HURT

SUMMARY : “I’m dreaming to be with you, the one and only.”

———————–STORY BEGIN—————————————–

BACKSONG:

KIM TAEYEON – IF

ADELLE – ALL I ASK

K-WILL – TALK LOVE

LYN – WITH YOU

 

 

 

 

EUNBI POV

Kulangkahkan kakiku menyelusuri bandara Incheon yang padat, kulihat banyak pasang mata yang sedari tadi mengikuti arahku, rambut panjang kecoklatan kubiarkan tergerai bebas, kulit seputih susu, mata yang berkelopak ganda, hidung runcing, dan bibirku yang merekah membuat penampilanku semakin sempurna dan jangan lupa dengan kedua bodyguard yang super kekar yang selalu mengikutiku kemanapun tapi aku tak meperdulikan itu yang kulakukan adalah menghirup udara segar seoul pada malam hari ini. Seoul terlalu banyak berubah setelah ku tinggal 7 tahun, bahkan sekarang seoul sudah menjadi salah satu negara maju seperti jepang dan amerika, dimulai dari fasilitas umum, ekonomi, politik bahkan pangan pun korea sudah banyak mengekspor ke seluruh dunia woaaaah itu kebanggaan tersendiri saat aku berada di Harvard dan mengatakan aku seorang orang korea selatan, yah meskipun sering terjadi perselisihan dengan negara tetangga-korea utara- itu tak banyak mempengaruhi reputasi korea selatan dimata dunia, bahkan sekarang seluruh dunia sedang terserang ‘KPOP HALLYU’.

Yah, tinggalkan saja tentang kesuksesan korea selatan sekarang aku akan membahas mengapa aku kembali ke negara yang sudah memberikanku air untuk hidup dan menghabiskan separuh hidupku. Appa-ku adalah seorang CEO panggung hiburan terbesar di korea, ya dia adalah pemilik beberapa stasiun tv, ditambah lagi sekarang appa punya proyek baru yaitu sebuah mall besar di daerah jantung seoul. Mau mendengarkan yang lebih gila lagi? Appa menyuruhku untuk menjadi CEO-nya, What the Hell!? Bahkan aku baru menyelesaikan kuliahku di Harvard dan dengan gelar master-ku paling tidak aku ingin bekerja di USA, namun aku hanyalah seorang anak yang tak bisa menolak permintaan ayahnya. Ya, sebut sajalah ‘anak yang baik’ aku terlalu menyayangi ayahku hingga tak sanggup menolak permintaan ayahku dengan wajah memelasnya itu.

 

 

Hari ini adalah hari pertamaku memimpin sebuah mall besar, sepertinya mustahil jika aku katakan jika aku tak gugup, bukankah itu manusiawi? Bahkan aku bisa saja merasakan gugup meski aku sudah sering memberikan pidato beratus-ratus kali bahkan saat aku dipinta pidato saat kelulusan di Harvard aku tak segugup ini, kalian aneh wanita sepertiku berpidato untuk kelulusan? Salahkan saja IPK-ku yang sempurna. Untung saja aku tak terkena jetlag setelah tadi malam aku langsung tidur saat tiba dirumah.

Kuhabiskan 30 menit untuk mempersiapkan diriku dan saat kulihat lagi pantulan diriku didepan cermin sudah kupastikan bajuku cocok dengan rapat yang kuhadiri pagi ini, rambut coklat sudah ku ikat sebagian dan ku gerai bebas sisanya lalu kuoleskan polesan terakhir make-up ku, sempurna! Kulangkahkan kakiku kelantai bawah dan saat ditangga aku melihat ibu tiriku sedang menyiapkan meja untuk sarapan pagi. Ya, dia ibu tiriku sejak 2 tahun yang lalu karena eomma-ku sudah meninggal saat aku berumur 6 tahun karena penyakit jantungnya.

“Jeon ahjumma, ayahku ada dimana?” ucapku sekenanya karena kuakui aku tak terlalu dekat dengan ibu tiri-ku ini, ya kalian tahu lah aku berada di amerika selama tujuh tahun dan aku hanya melihatnya saat upacara pernikahan kecil-kecilan yang diakan ayahku dulu. Dan ini percakapan pertama kita sebagai anak-ibu tiri

“Ayahmu sudah berangkat barusan karena ada urusan mendadak” ucapnya sambil tersenyum “Apa kau akan sarapan? Sudah kusiapkan roti panggang dengan selai coklat kesukaanmu.” Jeon ahjumma mengambilkan piring dengan sepiring roti yang sudah ada selai didalamnya dan seperti terkena hipnotis aku duduk dimeja makan sambil memandang jeon ahjumma“dan ini susu coklat low fat-mu.” Bagaimana dia tahu kebiasaanku saat pagi? Ah pasti appa. Jeon ahjumma mengingatkanku pada eomma yang selalu menyiapkan sarapan untukku dengan senyumnya, eoh hwang eunbi kau tak boleh bersedih karena eomma menyuruhku tak menangis saat mengingatnya.

“Gomawoyo jeon ahjumma, tapi kau tak perlu seperti ini biasanya bibi han yang menyiapkan ini semua untukku.” Ucapku canggung aku memang tak bisa terlalu bersahabat dengan orang yang baru aku kenal

“Gwenchana, aku menyukai kegiatan ini. Eoh, kau sudah akan berangkat? Kenalkan diri pada kakak tirimu”ucap jeon ahjumma pada seorang pria yang membawa tas hitam seperti seorang dokter saja

“annyeonghaseyo noonim, jeon jungkook imnida anak tunggal dari ibu tirimu. Senang bertemu denganmu” Ucap lelaki itu dengan sedikit gugup saat memandangku yang sepertinya seumuran denganku, ya aku tak mengingkari bahwa dia tampan, sangat tampan malah

“annyeonghaseyo, hwang eunbi imnida anak tunggal dari ayah tirimu. Senang bertemu denganmu” apa ada yang salah dengan ucapanku? Mengapa kedua orang ini tertawa? “kenapa? Apa ada yang lucu?” tanyaku

“aniya noonim, hanya saja …. Kau cantik” ujarnya dengan senyuman maut lalu duduk disebrang mejaku aku sudah biasa dibilang cantik oleh para lelaki diluar sana tapi ini adik tiriku sendiri yang mengatakannya terasa aneh karena aku tak bisa meneriakinya seperti yang biasa ku lakukan, ah sudahlah

“noonim? Kau lebih muda dariku?”

“nde, aku lebih muda 3 tahun darimu.” Dan aku hanya ber ‘oh’ ria dan mulai melahap makanan yang dari tadi sudah meminta untuk dimakan

“Eunbi noona, kau bisa memanggilku seperti itu.” Ucapku dengan mulut penuh “Dan Jeon ahjumma.” Aku menoleh kearah jeon ahjumma yang ada disampingku “Maaf jika aku belum bisa memanggilmu eomma, untuk saat ini panggilan Jeon ahjumma taka pa kan?” koreksiku sambil meneliti raut wajahnya

“Gwenchana eunbi-a” jeon ahjumma tersenyum dengan lembut dan tangannya mengambil sesuatu dipinggir mulutku. Demi apapun hatiku berdebar sekarang, bukan karena aku jatuh cinta dengan jeon ahjumma tapi perlakuannya persis seperti mendiang ibuku. Mungkinkah ini alasan appa menikahi jeon ahjumma?

“Apa kau seorang dokter?”

“eoh bagaimana noona tahu?” jungkook terkejut sampai-sampai ia berhenti memakn sup-nya

“aniii~ aku hanya melihat di drama-drama dokter selalu membawa tas hitam seperti itu haha”  setelah itu aku banyak berbincang dengan jungkook dan sesekali di timpali oleh jeon ahjumma. Saat aku melihat jam tanganku “Oh my god! Aku terlambat” lirihku seketika aku mengambil roti isi-ku

“jeon ahjumma, jungkook-ssi aku berangkat duluan ya” ucapku tergesa-gesa sambil berlalu tak lupa ku sunggingkan dulu senyumanku untuk kedua keluarga baruku -baru dua tahun-

“oppa! Ayo berangkat, aku tak mau telat di hari pertamaku berkerja!” ucapku lantang meskipun kim joonmyun berada tak jauh dari tempatku. ya itu kebiasaanku, Jangan menganggap itu aneh

 

AUTHOR POV

Tanpa sepengetahuan eunbi, jungkook dan nyonya hwang melihatnya sampai ia pergi dengan mobil dan bodyguard-nya

“aigoo, benar kata appa-mu dia wanita yang cantik, baik, ceroboh. Kukira kita bisa menjadi keluarga yang akur. Iyakan?”

“ya sepertinya, kalau saja dia bukan kakak tiriku aku sudah jatuh cinta pada pandangan pertama.”

“hush kau tak boleh berkata seperti itu jeon jungkook.”

“aku hanya bercanda eomma.” ‘eunbi noona wanita yang menarik’ batin jungkook

 

 

 

 

—————————————AT KUMA’S OFFICE——————————

EUNBI POV

Akhirnya! Pidato dan acara pembukaan resmi kuma’s mall berjalan dengan sangat lancar, tak percuma doaku yang kupanjatkan selama seminggu ini. Kuakui aku memang anak tuhan yang sering berdoa karena aku yakin adanya tuhan. Belum genap 2 menit sejak aku merenggangkan otot-otot ini, telfon dimejaku sudah berdering.

“nde, silakan masuk” titahku pada choi yuna, sahabat kecilku sekaligus asisten-ku. Aku sering memanggilnya yuju, ya bilang saja panggilan kesayanganku untuknya rasanya senang sekali bekerja sama dengan sahabat sendiri setelah 7 tahun aku meninggalkannya di seoul, aku bisa mengobati rinduku setiap hari dengannya. suara pintu terbuka menyadarku dan segera ku tegakkan tubuhku dan sedikit merapihkan bajuku yang kusut, dan secara tak sengaja aku menjatuhkan ballpoint-ku dan saat aku menenggakkan wajahku pandanganku kabur seketika

“perkenalkan ini model yang akan menjadi brand ambassador mall kita.” Aku tak mendengar dengan jelas apa yang yuju katakana karena yang kuperhatikan adalah seorang pria yang berdiri tepat didepanku

“Annyeonghaseyo, song manse imnida bagapshimnida.” Tidak ada orang yang senyum selebar itu selain dia, Song Manse-ku. Senyum itu masih bisa menggetarkan hatiku

“An.. Annyeonghaseyo” ucapku gugup namun saat ku melihat yuju yang sedang komat-kamit tak jelas dan saat aku meluruskan pikiranku aku tahu aku sudah bertingkah konyol dengan posisiku dan kegugupanku. Hey bukan kau yang seharusnya gugup! eyy dasar CEO pemula

“Annyeonghaseyo, saya Hwang eunbi CEO Kuma’s mall.”

“Saya manager song manse, Lee seojun imnida. Bagapshimnida, jalpeutakderimnida” ucapnya sopan dengan membungkuk beberapa kali. Aku berani bertaruh, dia lee seojun orang yang selalu mengikuti  song manse saat JHS. Bagaimana aku tahu? Karena aku satu sekolah dengannya.

“ah nde, silakan duduk” ucapku usai menguasai perasaanku dan memakai poker face-ku

“mereka disini hanya akan membahas tentang kontrak ambassador yang sudah fix dan tinggal meminta cap sajangnim untuk legal-nya” yuju menyerahkan  map berwarna hijau padaku dan setelah membaca dengan seksama aku langsung mencap-nya karena memang tak ada hal yang ganjil didalamnya.

“Anda sudah membaca kontraknya kan?”

“nde sajangnim saya sudah punya salinannya dan sangat menyutujuinya.” Lee seojun menatapku dengan mata yang berbinar, apa dia tak pernah melihat CEO muda yang cantik sepertiku? Dan tak sengaja aku menangkap mata manse seolah lumpuh aku tak bisa merasakan kakiku menapak, kendalikan dirimu hwang eunbi!

“Pemotretan pertama akan dilasanakan besok dan saya harap hasilnya memuaskan. jika ada yang tidak anda mengerti atau butuh bantuan kalian bisa langsung menghubungi asistenku.”

“nde, kalau begitu kami pamit hwang sajangnim. Annyeongigiseyo” lagi lagi seojun yang berbicara dan yang manse lakukan hanya menatapku dan memberikan senyum mautnya, tak bisakah ia berhenti tersenyum? Tak tahukah aku disini berusaha sekuat tenaga untuk tak pingsan sekarang juga? Dan yang kulakukan hanya berdiri sambil membungkukan badanku lalu melihat punggungnya yang pergi menjauh dariku, lagi.

“yuju-a aku akan keluar sebentar untuk mencari angin” ucapku tergesa-gesa

 

 

 

 

 

————————————–AT SUNGAI HAN————————————————-

 

Aku sudah tersesat dalam ingatan tentangmu untuk waktu yang lama. Tapi, ketika aku membuka mata aku hanya melihat punggungmu yang berjalan menjauh dariku. Jika aku ingin dekat denganmu, apa yang akan kau pikirkan?

 

Lagi dan lagi aku berakhir ditempat ini, tidakkah terlihat menyedihkan? Seoang wanita datang ke sungai han sendirian dan merenung seperti orang yang putus asa, namun sungai ini jadi saksinya, saat aku kehilangan cinta pertamaku. Ya, Song Manse. Nama yang sedikit aneh kan? Tapi itu sangat special dihatiku. Cinta pada pandangan pertama? Itu benar terjadi padaku saat aku pertama melihatnya di gang kecil dan merintih kesakitan.

 

FLASHBACK ON

Aku Hwang Eunbi, aku sangat bersyukur karena lahir dari keluarga hwang, aku anak tunggal dari Hwang Jihoo dan Ryu Hyeju. Selain dari bisnis keluarga yang terbilang sukses meskipun hanya turunan tapi ayahku membuktikan jika ia memang punya potensial untuk memajukan bisnisnya, tapi ayahku bukan workaholic ia sangat menghargai waktu dengan keluarganya appa adalah ayah terhebat yang ada didunia. Dan eommaku paling cantik, baik, penyayang, eomma seperti malaikat untukku. Sebenarnya aku mempunyai kembaran yang berbeda jenis kelamin denganku, Hwang Jinwoo. Sayangnya ia meninggal karena kelainan dengan jantungnya saat umur 4 tahun. Eomma terpukul dan sakit-sakitan setelah itu, karena ia yakin penyakit jinwoo itu adalah salahnya, eomma mempunyai penyakit jantung sejak kecil tapi eomma sudah sembuh tapi masih dibantu dengan obat-obatan, saat aku berumur 6 tahun eomma meninggal karena sudah tak kuat melawan penyakitnya. Yang tertinggal hanya aku dan appa, dari saat itu appa sangat protektif padaku dan aku sangat manja dan tak bisa melakukan apapun sendirian hingga akhirnya aku menjadi tak punya teman karena selalu dijaga oleh bodyguard yang merangkap menjadi pengasuh dan sudah seperti oppa untukku, kim joonmyun tapi aku selalu memanggilnya suho oppa karena dimataku sia seperti malaikat penjagaku. Selain itu aku hanya mempunyai choi yuna dan bae juhyun yang benar-benar kuanggap temanku, karena mereka satu-satunya teman yang ada disaat aku senang maupun sedih saat mamaku meninggal hanya mereka yang setia disampingku, tak seperti teman lainnya yang hanya ada disaat aku senang. Meskipun usia aku dan juhyun terpaut 2 tahun aku tetap tak memanggilnya eonni karena kurasa itu membuat jarak diantara kita, ya yuna dan juhyun  sudah kuanggap sebagai saudaraku sendiri bahkan mereka sudah kenal dekat dengan ayah, suho oppa dan seluruh pelayan yang ada dirumahku.

Ya, aku tak menyangkal jika banyak orang yang menyebutku cantik karena itu adalah kenyataan, rambut coklat asliku tak pernah kupotong dan selalu kupanjangkan dengan gelombang diujung rambutku banyak sekali yang iri padaku karena aku tak perlu susah untuk mem-blow rambutku dan kulit putih bersihku ku dapatkan dari ibu, tapi mata hidung dan bibir dan tinggiku dapatkan dari appa, sudah beratus-ratus surat cinta yang kudapatkan sejak aku sekolah dasar namun appa tak mengizinkanku untuk pacaran sebelum umur 17 tahun, dan aku menuruti itu karena aku tahu itu untuk kebaikanku juga, namun jangan salah jika kalian menganggapku bangga dengan kecantikan ini kadang aku juga merasa risih saat orang-orang memperhatikanku.

Tapi hari itu, hari dimana suho oppa tak kunjung datang menjemputku aku memutuskan untuk berjalan kearah halte bis, yah meskipun aku tak tahu bagaimana cara menggunakan kendaraan umum. Hari itu takkan pernah kulupakan seumur hidupku, bukan karena aku pertamakali naik bis sendiri tapi aku menemukan someone special, orang-orang menyebutnya dengan kata ‘cinta pertama’

Sebenarnya aku hanya melewat dan tak sengaja melihat ada segerombolan murid yang berkelahi, saat kulihat ada yang terluka aku ingin mendekat tapi aku yakin itu takkan menghentikan mereka memukuli lelaki malang yang sudah tak berdaya itu. Dengan ide brilliant-ku ku bunyikan alarm handphoneku yang menyerupai sirine polisi dan dan itu berhasil!

4 orang leleaki itu lari terbirit-birit, setelah itu aku mendekati seorang lelaki yang dipukuli dan keadaannya sangat parah sampai tak sadarkan diri. Sekuat tenaga aku berteriak tak ada yang datang, jadi kuputuskan menelfon ambulance meskipun pertamanya mereka tak percaya dan mengira hanya sebuah lelucon anak kecil tapi setelah menunggu 15 menit ambulance itu datang juga dan aku disuruh untuk ikut oleh para ahjussi yang memakai pakaina putih itu. Saat dirumah sakit aku di introgasi tentang apa yang terjadi, kapan, siapa, dan bla … bla … bla … aku diperbolehkan pulang saat ada dua orang pria yang lebih tua dariku datang dan mengaku sebagai kakak korban itu, saat aku akan pulang lenganku dicekal oleh seorang pria yang memakai seragam SHS.

“tunggu nona, kau yang menyelamatkan uri manse?” ujar lelaki yang kini sedang memandangku dengan mata berbinar-nya

“manse?” Tanya ku

“nde, song manse anak yang kau bawa kemari. Terimakasih karena sudah menyelamatkannya, kau akan pulang? Oppa antar ya” kurasa oppa ini tidak memiliki niat jahat, lihatlah senyumnya yang begitu tulus. Karena aku takut pulang sendirian dan tak tahu caranya pulang akhirnya kuputuskan untuk meng-iya-kan tawaran oppa ini

Song manse, dari situlah aku memulai cinta pertama atau cinta monyet? Terserah kalian akan menganggap apa karena saat itu aku masih kelas 1 JHS.

Tiga hari kemudian aku melihat lelaki yang aku tolong ah song manse itu datang kesekolah yang sama denganku, saat aku melihat ke jendela teman-teman sekelasku pun melakukan hal yang sama.

“lihat itu song manse! Aaaaa mengapa ia bisa tampan seperti itu?”

“tapi lihat dimukanya ada lebam! Mungkin itu alasannya tak sekolah 2 hari ini”

“aigoo aku akan membelikan salep untuknya”

“ya! Manse oppa itu milikku”

“sejak kapan manse oppa punya pacar? Dia itu single”

“ah terserah yang pasti mulai sekarang manse oppa adalah milikku”

Ya, itu adalah percakapan tak penting dari dua gadis yang super genit dikelasku. Aigoo aku ingin untah mendengarnya. Namun saat aku melihat keluar jendela lagi song manse itu sudah tak ada. Jadi dia kakak kelasku? Mengapa aku bodoh sekali waktu itu juga dia memakai seragam yang sama denganku pastilah dia satu almamater. Salahkanlah kecerobohanku yang satu itu.

Setelah hari itu hari-hariku selanjutnya dipenuhi dengan lelaki itu, dia dua tahun lebih tua dariku, aku suka semua yang ada pada dirinya, jika dilihat sekilas ia seperti orang yang tidak peduli pada apapun yah ‘pribadi yang bebas’ ia melakukan apa yang ia suka, selalu tesenyum sangat ramah pada siapapun dan yang penting ia sangat berterus terang.

Dalam setahun itu aku sudah hafal tentang semua kebiasaannya dimulai dengan kebiasaannya membolos, kapan waktu dia ke kantin, dan apa apa saja yang disukainya aku tahu bahkan alamat rumah dan keluarganya pun aku sudah hafal. Aku mungkin terlihat seperti penguntit tapi itu karena kami berpisah saat aku menginjak kelas dua JHS dan ia memasuki SHS, meskipun aku memasuki SHS yang berbeda dengannya –karena aku tak suka seni- aku terus mengikuti apapun yang ia kerjakan selama 6 tahun itu tanpa jeda. Bahkan aku tahu selama ini ia sudah menyukai seorang wanita yang lebih tua darinya, karena aku sering menguntitnya kencan, Meskipun hatiku sakit tapi aku tetap menguntitnya namun semenjak kelas 3 SHS wanita itu menghilang entah kemana. aku tak mengerti mengapa aku melakukan itu selama 6 tahun, padahal aku bisa saja muncul dihadapannya dan mengatakan aku menyukainya, dengan tampangku yang seperti ini ia pasti tak menolak mengingat ia selalu mengencani wanita cantik disekolahnya. Ya, song manse menjadi playboy dan sangat suka berganti pasangan, ia mengganti pacar bisa 1 minggu sekali dan meninggalkannya tanpa penyesalan sama sekali.

 

Namun satu kejadian yang membuatku berhenti menjadi ‘stalker’ song manse, saat aku mendengarkan percakapan manse dan seojun. Disitu aku pertama melihat seorang song manse menangis, karena wanitanya pergi dengan membawa hati manse, dia bahkan berkata dia tak mungkin mencintai wanita lain selain sarang noona-nya. Aku mengerti, jadi alasan manse menjadi player yang selalu berganti wanita itu karena melampiaskan kemarahannya?

Aku berfikir, jika aku ingin mendekat pada manse akankah ia menerimaku dengan tulus? Bukan sebagai mainannya, tapi sebagai pemilik hatinya yang baru. Aku sadar Selama ini aku seperti orang bodoh yang hanya melihatnya dari jauh, semua itu karena ketakutanku. Aku takut jika aku menunjukan diriku yang mencintaimu sebegitu besar akan terlihat menyedihkan, biarkanlah waktu yang mendatangi kita. Aku yakin, kita akan bertemu kembali. Karena hal yang paling menyakitkan adalah melihat orang yang aku sayangi hancur tapi aku tak bisa melakukan apapun.

Dan jika aku menyebut namamu sekuat tenaga, salahkah aku berharap kau akan datang padaku. Ya, aku akan berharap dan berharap.. seperti orang bodoh.

FLASHBACK OFF

 

Merasakan angin berhembus yag berhasil menerbangkan rambutku seakan menertawakanku, 7 tahun berlalu tapi mengapa hanya tempat ini yang berubah dan hatiku masih tetap sama dan mengapa kenangan buruk itu selalu menghantuiku?  Sudah cukup selama ini aku menutupi kesedihanku dengan senyuman ini. Bayangan kau sangat mencintai wanita lain, aku benar-benar tak bisa menahannya lagi aku juga ingin menjadi bagian dihidupmu, aku ingin menjadi alasan dibalik senyumanmu, aku ingin menjadi wanita yang tepat berada disisimu dan aku ingin menjadi wanita yang dicintai olehmu setidaknya sekali sebelum aku lenyap didunia ini.

 

 

AUTHOR POV

 

2 Days later

Aku sudah menangis untuk waktu yang lama. Aku hanya ingin kau, mencintaiku. Akankah cinta itu datang?

 

Malam ini 22 february 2016 adalah dinner para staff dan karyawan termasuk artis yang mempromosikan kuma’s mall berkumpul untuk berharap suksesnya ‘planning’ mereka. Setelah CEO kuma’s mall memberi satu dua patah kata pesta itu dimulai, ya mereka makan malam ditempat yang cukup mewah berterimakasihlah pada CEO kita yang pemilik restoran ini. Dengan ruangan yang di design modern classic dan pemandangan yang luarrr biasa itu seolah menyuruh kita untuk melihat indahnya dunia, bintang-bintang yang bertaburan bulan yang menunjukan sinarnya dan jangan lupa angina yang mneyapa kulit kita dengan lembutnya. Setelah 1 jam didalam ruangan manse berpamitan untuk ke toilet namun itu hanya alasan karena sebenarnya ia ingin mendapatkan udara yang segar dan bebas untuk merokok. Setelah membakar ujung rokoknya manse meletakkan rokok itu dimulutnya lalu mengeluarkan asap-asap pembawa penyakit itu

“sudah bosan?” terlihat sekali jika manse terperanjat saat CEO-nya bersuara tepat dibelakangnya dan secepat kilat manse mematikan rokok yang baru ia hisap dan mengahadapkan badannya untuk melihat hwang eunbi dan kemudian menyandarkan punggungnya dipagar pembatas

“aniya sajangnim aku hanya ingin mendapatkan udara segar, dan juga pemandangan ini sangat sayang jika dilewatkan. Keutji?” ucap manse dengan senyumnya, manse tak tahu jika itu membuat kaki wanita dihadapannya lemas

“eum aku memang tak salah memilih spot yang indah, keutji?” ujar eunbi membalas senyuman manse dan menyadarkan kedua tangannya diatas pembatas besi yang hanya sampai perutnya

“kau terlihat cantik dengan senyuman itu sajangnim” rayu manse-kebiasaan-namun itu membuat senyuman eunbi memudar ‘jadi bergini rasanya dipuji manse’ batin eunbi dan malah menatap manse dengan intens, dan itu berhasil membuat manse terdiam dalam 5 detik. Terpanah kecantikan eunbi bung?

“aku tahu, dan tolong singkirkan kata sajangnim itu. Panggil saja aku eunbi karena aku lebih muda darimu”

“baiklah jika itu maumu” manse menganggukan kepalanya berkali-kali “eunbi, hwang eunbi. Tapi bagaimana kau tahu umurku?” Ucap manse dan entah mengapa itu membuat hati eunbi berdesir. ‘akhirnya, dia menyebut namaku’ batin eunbi

“eyy apa sekarang oppa berpura-pura tak terkenal dikalangan wanita huh?” eunbi menenggakan wajahnya dan melirik manse dengan ujung mata “wae? aku boleh memanggilmu manse oppa kan?” manse terlihat terperangah, lihat saja buktinya manse menganga mendengar ucapan eunbi “aku lebih muda darimu 2 tahun, itu bisa menjadi alasannya kan?” demi apapun manse sangat membenci jika ada orang memanggilnya ‘manse oppa’ karena itu terdengar menggelikan bahkan saat ia masih memainkan wanita ia selalu melarang pacar-pacarnya memanggil kata terkutuk itu, tapi kenapa saat eunbi memanggilnya terasa berbeda?

“kau tak suka?” eunbi memalingkan wajahnya kembali memandangi langit yang gelap dan dihiasi bintang-bintang, sial mengapa manse menjadi seperti ini? Bukankah ia playboy? Apa dia berbohong selama ini? Kenapa mengatakan bahwa ia tak suka jika ada yang memanggilnya ‘oppa’

“baiklah aku anggap kau tak keberatan aku memanggilmu oppa. Manse oppa, kau ingin mendengar ceritaku?” eunbi menegakkan tubuhnya dan membalikkan badannya untuk menghadap manse dan memandangnya dengan jelas dan manse pun hanya mengangguk dan melihat eunbi dari arah yang membuat wajah eunbi tersinari bulan

 

“Dulu  aku punya lelaki yang menjadi cinta pertamaku, aku bertemu dengannya saat JHS dan terus mengikutinya sampai SHS aku bahkan rela menjadi stalker untuknya. Aku mengetahui semua tentang dirinya, bahkan melebihi aku tahu tentang diriku. Tapi, dia tak tahu jika aku ada didunia ini, aku bahkan belum pernah berbicara padanya karena aku takut dia akan menolakku. Tapi sepertinya takdir mempermainkanku, baru-baru ini aku bertemu dengannya. menurutmu apa yang harus kulakukan?”

“Aku tak percaya wanita secantikmu mengejar pria sebegitunya, tapi aku sarankan teruslah berjuang sampai kau mendapatkan hatinya. Karena cinta tak akan tersampaikan jika hanya dipendam, kau harus menunjukan cintamu, tapi jika aku boleh tahu… kira-kira siapa pria beruntung itu?” eunbi menatap manse tepat dimatanya, lalu menunjukan senyum terindah yang selalu ia banggakan

“Song manse.” Eunbi mengucapkannya dengan lirih dan menatap manse dengan lekat seakan ada yang ingin disampaikan dengan cara menatapnya saja “Namanya Song Manse.”

“jangan bercanda eunbi-ssi.” Manse berusaha berpaling namun dengan cepat eunbi menahan lengan manse

“aku tak bercanda oppa, aku menyukaimu daridulu. Jadi, mau kah kau kencan denganku?” manse terdiam dan berusaha mencari kebohongan diwajah eunbi namun ia tak menemukan itu yang ada hanya mata eunbi yang memenjarakannya

“Saat JHS manse oppa berada dikelas G selama 3 tahun, mempunyai 2 hyung yang sama tampannya, oppa selalu bolos pelajaran kyuhyun saem dan pergi kekantin dengan seojun sunbae, oppa sangat menyukai jajangmyun kim ahjumma dan selalu meminta ekstra untuk makanan pendampingnya, saat SHS oppa selalu melepas almamater dan hanya memakai rompi saja, pukul 6-8 pm oppa selalu ada di sungai han sendiri dan kadang dengan seojun sunbae, oppa sangat membenci serangga, warna kesukaanmu merah, pertama kali kau merokok itu saat kau berada dikelas 3 SHS dan langsung dihukum oleh Hyung-mu Dulu oppa sangat sering berganti wanita, oppa memakai sepeda motor pertama kali saat kelas 2 SHS dan tentu saja oppa suka kecepatan dan terbukti sekarang oppa menjadi pembalap nasional korea yang berbakat. Dan musim ini kau akan mengikuti balapan di swiss. Bagaimana? Apa kau masih menganggap aku bercanda? Mungkin kau sekarang sangat terkejut dan kau masih belum mengenalku dengan baik jadi bagaimana kalau kita melakukan kencan 3 kali? Selama itu aku akan berusaha membuatmu mencintaiku”

“Jika aku menolak?”

“Aku akan memutuskan kontrak kerja kita dan menyabotase seakan kau yang bersalah lalu menyalahkanmu dan kau akan mengganti rugi yang besar, setelah itu kau takkan pernah bisa live di tv untuk menjadi model kau tahu kan ayahku yang sangat berpenagruh untuk itu? Dan juga aku bisa membujuk para investormu untuk tak memberimu dana untuk balapan musim ini jadi kau tak bisa mengikuti balapan yang kau tunggu selama 2 tahun ini. Bagaimana? Kau tetap akan menolakku?”

“Woah daebak! Ternyata wanita sepertimu bisa juga mengancam. Memang benar kata Minguk tak boleh menilai seseorang dari tampilan luarnya saja” manse melihat eunbi dengan mata yang tak berkedip

“Deal?”

“Tapi apa yang akan kau lakukan jika kita sudah kencan dan aku tetap tak menyukaimu?”

“Aku yakin bisa membuatmu mencintaiku, percayalah.” Eunbi menunjukan senyumnya “Bagaimana?”

“Deal?” eunbi mengulurkan tangannya namun manse mengerutkan dahinya dan sedetik kemudian senyuman mautnya kembali menghiasi bibirnya dan tanpa ragu ia menggapai tangan eunbi

“Deal! Hanya berkencan 3 kali kan? Lagipula itu takkan merugikanku.” Setelah menggenggam tangan eunbi sebagai peresmian perjanjiannya manse memasukkan kedua tangannya dia saku celananya dan memiringkan kepalanya agar bisa melihat eunbi lebih jelas

“Baiklah, kita mulai kencan pertama kita besok di taman kota jam 8. Jangan telat, aku akan menunggumu.”

“kau tak menanyakanku ada jadwal atau tidak? Bagaimana jika aku mengatakan sibuk?”

“kau tak ada jadwal sampai rabu nanti oppa, jadi jangan berlagak sibuk jika yang kau lakukan hanya menjadi zombie di apartement-mu.” goda eunbi dengan alis yang dinaikkan sebelah dan jangan lupa smirk-nya

“woah kau benar-benar seperti rubah bagaimana bisa kau tahu jadwal dan kebiasaanku? Tapi apa kau ada waktu? Jabatan CEO-mu akan dicabut jika kau bermain-main seperti ini terus.” Manse bertingkah seperti ayah yang menyeramahi anaknya

“Gwenchana, aku sudah lembur kemarin dan menyelesaikan pekerjaan untuk seminggu yang akan datang. Tunggu dulu, apa sekarang oppa sudah mulai mengkhawatirkanku?” eunbi mendekatkan wajahnya pada manse dan dengan refleks manse memundurkan wajahnya jika tak ingin bibirnya saling bersentuhan

“Eyy tak mungkin sudahlah aku masuk duluan udaranya sudah semakin dingin.”  Eunbi menyunggingkan senyumnya dan mengikuti manse masuk ke ruangan dinner

“Tak apa kan jika aku lebih agresif? Aku tak punya waktu yang banyak. ” Batin eunbi

 

 

 

 

 

 

—————————————–Kencan Pertama Di Taman Hiburan———————

Seakan anak kecil yang baru pertama kali diajak ke taman hiburan oleh kedua orangtua-nya hwang eunbi bersemangat untuk menjelajahi semua yang ada di taman hiburan ini. Bukankah sekarang kencan pertama mereka? Tidakkan eunbi ingin menunjukan sisi feminimnya dengan memakai rok yang super mahal, riasan yang menggoda, dan menjaga sikapnya untuk memikat perhatian manse? Namun yang manse lihat sekarang hanyalah seorang gadis yang sederhana dengan kaos putih sepundak, jeans yang sedikit robek dibagian lututnya, rambut coklat bergelombang ia biarkan terurai dan jangan lupa sneakersnya, lupakanlah jabatannya sebagai CEO yang berwibawa di perusahaannya bahkan sekarang mamnse hampir lupa jika wanita yang sedari tadi melingkarkan tangannya dilengan manse itu adalah seorang CEO terkenal karena kecantikannya. Tapi, mengapa semua itu terlihat sempurna dimata manse? Yang ia ingat ia tak pernah memperhatikan pakaian wanita-nya dulu karena ia memang tak benar-benar menganggap mereka ada, mereka hanya mainan untuknya.

“Oppa, ayo kita berfoto dengan pororo. Aigoo lucunya.”

“Oppa, apa kau ingin naik itu? Ayo sepertinya seru.”

“Oppa, aku ingin permen kapas seperti anak kecil itu.”

“Oppa, aku bisakah kau memenangkan permainan ini dan memberiku boneka beruang putih itu?”

“Oppa, apa kau lelah?”

“Oppa, kau ingin makan apa?”

“Oppa, apa kau sering ke taman hiburan seperti ini?”

Manse sempat terdiam dengan tingkah laku eunbi sekarang. Dan yang manse lakukan hanya menuruti semua permintaan eunbi, ia bertaruh jika ia memakai kaos yang berbahan murahan mungkin sekarang kaos bagian lengannya sudah robek karena eunbi selalu memegang lengannya seperti orang yang berkencan pada umumnya.

Bagaimana bisa ia tak lelah sama sekali bahkan sekarang eunbi merengek padanya untuk menaiki wahana roller coaster yang sangat menakutkan itu-menurut manse- tak peduli berapa kali manse menolak tapi ia tetap takkan menang melawan eunbi dan aegyo-nya itu dan pada akhirnya manse selalu kalah.

Terkutuklah hwang eunbi yang memaksa manse untuk menaiki permainan sialan itu, lihatlah sekarang manse berada di toilet dan eunbi terus mengabaikan para pria yang menatapnya aneh karena berdiri didepan toilet pria.

“Oppa gwenchana? Ini minum dulu.” Ujar eunbi saat ia melihat manse keluar di toilet pria dengan wajah muramnya “masih pusing? Apa perlu aku membelikan obat? Pasti ada yang menjualnya disini, tunggu ya.” Seperti sihir rasa kesal dan mual manse hilang saat melihat eunbi khawatir seakan melihat kecelakaan tepat didepan matanya dan tak ada siapapun. Saat eunbi akan melangkahkan kakinya untuk mencari obat manse menahan tangannya dengan wajah yang masih muram

“tak usah, aku sudah mendingan.”

“mianhae oppa, aku tak tahu kau tak bisa naik wahana itu.” namun manse tak menggubrisnya ia terlalu kesal dan malu(?) dan setelah berjalan 5 menit manse merasa bersalah karena eunbi hanya mengikutinya dibelakang dan menundukan wajahnya. Ia tak bisa jahat pada wanita dan akhirnya manse membuat keputusan BRAKK “Awww” eunbi menabrak punggung manse dan langsung memegang kepalanya yang terbentur badan tegap manse

“Kau bilang tadi kau lapar kan?” eunbi hanya menganggukan kepalanya dan menatap manse dengan berbinar “Kajja” setelah melihat manse berlalu dihadapannya ia segera menyelipkan kembali tangannya dilengan manse

“Kenapa kau selalu menyelipkan lenganmu? Lenganmu itu berat tahu.” Keluh manse dan berusaha melepaskan lengan eunbi

 

 

“Wae? Bukankah kau suka seperti ini jika berkencan dengan pacar-pacarmu dulu? Aku hanya ingin merasakan bagaimana rasanya menggandeng lenganmu oppa” eunbi yang tak mau kalah ia melingkarkan kembali tangannya dilengan manse bahkan lebih intens karena eunbi berani menyenderkan kepalanya dipundak manse

“apa kau tak pernah berkencan sebelumnya? Hal-hal seperti ini seharusnya pria yang duluan melakukannya.”

“Ini kencan pertamaku oppa, karena oppa tak kunjung menggenggam tanganku jadi aku saja yang mengambil inisiatif. Lagipula tadi oppa tak keberatan kenapa sekarang oppa mengeluh?” eunbi memiringkan wajahnya dan saat manse tak kunjung melihat wajahnya eunbi mencoba mengahalangi pandangan manse dengan membuatnya harus jinjit dan itu membuat manse terkekeh

“Dasar anak kecil” manse menyentil dahi eunbi

“kita hanya berbeda 2 tahun! Kau tak bisa mengatakan aku anak kecil oppa!” eunbi berhenti didepan manse dan mau tak  mau manse pun harus berhenti “dan jangan lupa aku ini direktur yang mengontrakmu, arra?”

“Ya tentu saja aku tak lupa, kau adalah seorang direktur yang memaksa dan mengancam modelnya untuk berkencan.”

“benarkah kau mau berkencan denganku karena aku mengancammu? Bukan karena kau juga tertarik padaku?” eunbi mengangkat alisnya dan membuat smirk yang membuat manse memalingkan wajahnya dan tersenyum sekilas

“aigoo bagaimana bisa kau tak tahu malu seperti itu?”

“gwencahana, karena aku seperti ini hanya dihadapanmu. Sudahlah oppa aku benar-benar lapar sekarang, ayo kita makan.” Ucap eunbi tentu saja dengan aegyo-nya dan yang manse lakukan hanya memalingkan wajahnya lagi dan lagi

 

 

“Bukankah kau yang sedari tadi selalu membuat perjalanan kita terhenti. Ayo didekat sini ada restoran favorite-ku” manse terlihat pasrah saat eunbi kembali menggandeng tangannya bahkan lebih erat saat manse tertangkap basah sedang tersenyum pada wanita lain bahkan saat eunbi berada tepat disebelahnya.

“oppa! Bagaimana bisa kau tersenyum pada wanita lain saat aku berada disampingmu?” eunbi kesal dan memanyukan bibirnya lalu menatap tajam wanita yang menggoda-manse-nya

“wae? Lagipula kau bukan pacarku, kau hanya teman kencan. Arra? Jadi aku bebas melihat siapapun”

“aish jinjja, lihat saja aku akan membuatmu tak bisa melihat wanita lain selain aku.” Eunbi mengernyitkan dahinya dan menatap manse dengan tatapan yang sengaja ia buat menyeramkan namun yang manse lihat eunbi yang sedang merajuk

“whoa aku tak yakin kau bisa melakukannya” goda manse dan mencolek dagu eunbi berkali-kali sampai eunbi tersenyum kembali

“kau terlalu meremehkanku oppa, kau tak tahu kan sudah berapa banyak aku mematahkan hati pria hanya untukmu?” eunbi menengadahkan wajahnya dan mengangkat dagunya seolah meyakinkan manse untuk mempercayai perkataannya

“haruskah aku berterimakasih dan terharu?” ucap manse dengan mata yang ia buat berbinar seolah berakting terharu

“aish oppa! kajja sepertinya akan hujan, aku tak suka bajuku basah” ucap eunbi dan menarik manse berlari menuju parkiran, tanpa manse sadari eunbi tersenyum sambil melihat wajah manse dari samping, eunbi tak tahu kata apa yang pas untuk ia katakana tentang perasaannya saat ini. Se[erti mendapat lotre 1 milyarpun rasanya takkan sesenang ini.

 

 

—————————–at restorant—————-

“Kau tak suka makanannya?” manse memperhatikan eunbi hanya menempelkan sumpitnya dimulut seperti mau tak mau memakan daging babi yang sudah ia panggangkan dan berikan di piring eunbi

“aniyo, aku menyukainya hanya saja perutku sedang tak enak oppa.” Eunbi langsung memakan daging yang manse letakkan di piringnya dan tersenyum saat manse memandangnya

“Oppa ini restoran favorite oppa sejak kapan?” memandang manse ang tengah makan dnegan lahap

“mungkin lima tahun yang lalu” jawab manse yang masih mengunyah dan menelannya “wae?”

“pantas, aku tak pernah tahu oppa pernah mengunjungi restoran ini. Apa oppa sering membawa pacar-pacarmu ke restoran ini?” ucap eunbi enteng seperti ia tak sakit saat menanyakan tentang mantan-mantan manse yang sudah tak terhitung olehnya

“mungkin, aku tak ingat. Sudahlah cepat habiskan makananmu dan aku akan mengantarkanmu pulang karena sudah malam.”

“mwo? Sudah malam? Mengapa waktu berlalu begitu cepat? Aku masih ingin berkencan denganmu oppa.” Rengek eunbi, tidak tahukah ia bahwa para pria disekitarnya memperhatikan eunbi Karena aegyonya?

“aigoo tak bisakah kau lebih frontal dari itu? Kita bahkan baru berkenalan seminggu yang lalu dan kau sudah seperti ini. Apa kau tak ingin mencoba trik ‘Tarik ulur’ padaku?”

“aniyo, aku sudah mengenalmu lebih dari 13 tahun oppa, hanya kau saja yang tak pernah tahu keberadaanku. Tarik ulur? Aku tak punya waktu untuk itu, sekarang hanya tersisa 2 kali berkencan untuk membuatmu mencintaiku.” Eunbi meletakkan tangannya dikening seakan frustasi

“kau benar-benar wanita yang luar biasa hwang eunbi, sudahlah aku akan mengantarkanmu pulang sekarang.”

“Aku tidak mau pulang, tak bisakah kita lebih lama? Oh ya oppa tahu café yang baru buka dekat kantorku? Kita kesana saja yuk!”

“Aniya, ini sudah malam. Kau harus pulang, bukankah kau besok kerja?”

“emmm oppa sudah mulai mengkhawatirkanku ternyata.”

“aku hanya tak mau jadi alasanmu bolos kerja besok” Manse berdiri dan menuju kasir yang diikuti oleh eunbi dan setelah berdiri tepat didepan kasir eunbi mengeluarkan card-nya namun dicegah oleh manse

“Apa-apaan kau? Jika berkencan pria yang harus membayar tagihannya.” Setelah manse membayar bill-nya ia merasa aneh karena eunbi terus memandangnya tanpa berkedip “wae tto?”

“aniyo, geunyang gomawoyo oppa aku sangat senang hari ini” eunbi menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal dan kembali menyelipkan tagannya dilengan manse. Eunbi mengulas senyumannya disepanjang jalan, ia sangat bahagia. Apakah ia bermimpi?

“kau sudah mengatakannya tadi, dasar anak kecil” ucap manse dan mengacak rambut eunbi karena gemas ia tak tahu mengapa ia merasa tak asing dengan eunbi dan yang pasti ia merasa harus menjaga eunbi, bukan sebagai wanita tapi sebagai seorang adik kecilnya. Manse tak menganggap eunbi aneh karena ia tahu bagaimana rasanya suka pada seseorang yang tak pernah menganggapmu ada, bahkan sepertinya manse lebih mengerti dari eunbi bagaimna mencintai dalam diam

 

 

 

 

————————————————Kencan kedua Piknik———————————-

 

Sepanjang jalan kim joonmyun mendengar suara keluhan eunbi yang menyalahkan alarm yang mengkhianatinya karena tak berfungsi saat hari penting seperti hari ini, ya hari ini eunbi dan manse akan pergi kencan yang kedua kalinya. Dengan dress putih selutut dengan Brenda didaerah leher yang berwarna pink,  sepatu flat shoes putih, dan rambut yang ia biarkan tergerai namun ia memakai jepit rambut berwarna pink untuk sedikit menyingkirkan poni-nya yang mulai panjang dan jangan lupa slingbag coklat muda yang menempel ditubuhnya. Eunbi berlari kea rah manse yang sudah terlihat membusuk karena menunggu-nya hampir 2 jam.

“oppa!” dan ketika manse menoleh dan segera mengeluarkan sumpah serapahnya karena eunbi memebuat waktu berharganya terbuang sia-sia, entah pura-pura atau benar-benar lupa manse meninggalkan wanita yang sedari tadi ia ajak bicara saat menunggu eunbi dan kebingungan wanita itu pergi begitu saja

“ya! Kau tak tahu ak-“ tak tahu mengapa manse menghentikan kata-kata yang sudah ia siapkan jika eunbi datang, manse melihat eunbi yang berlari kecil kearahnya dengan membawa keranjang yang ia yakin itu adalah makanan yang sudah disiapkan eunbi untuk mereka dan saat eunbi berhenti tepat didepannya manse makin terdiam karena melihat keringat yang bercucuran didahinya namun sama sekali tak melunturkan make-up nya karena eunbi-nya tak pernah memakai make-up tebal yang seperti para mantan kekasihnya. Tunggu, eunbi-nya? Manse sekejap terpanah atas penampilan eunbi yang benar-benar sempurna seperti boneka Barbie keponakannya, cantik.

“mianhae mianhae oppa, aku terlambat bangun karena tak bisa tidur semalaman dan sialnya alarm-ku tak menyala tadi pagi. Aku sudah berusaha secepat mungkin untuk sampai kesini tapi aku juga tetap harus terlihat cantik didepanmu, aku juga mengabaikan roti kesukaanku yang dibuatkan jeon ahjumma tadi pagi dan memilih menyiapkan makanan untuk kita, sepanjang jalan aku selalu mengomeli suho oppa untuk memotong jalannya tapi suho oppa bilang hari ini ada event di balai kota jadi tak bisa memotong jalan. Mianhae oppa kau pasti kesal menungguku, dan tunggu apa oppa daritadi bersama wanita itu?” Ucap eunbi dengan cepat seperti idol yang sedang ‘rapp’ ia menggerakan tangannya seakan menunjukkan betapa susahnya ia sampai disini dan menajamkan matanya pada wanita yang tadi ngobrol bersama manse oppa-nya

“aigoo aku tak bisa berkata apapun padahal tadi aku sudah menyiapkan beribu pertanyaan mengapa kau telat hari ini dan kau malah menjawab sebelum aku bertanya, sudahlah aku memaafkanmu. Dia hanya gadis yang menanyakan arah jalan padaku jadi kau tak usah cemburu”

“hanya bertanya arah? Tapi mengapa ia duduk berdua denganmu? Aku tak suka” eunbi memeluk manse dan menghentakkan kakinya lalu memeluk manse erat namun manse menyadari banyak pengunjung yang memperhatikan mereka dan segera melepas pelukan eunbi lalu menarik tangan eunbi dan mengambil keranjang yang eunbi jatuhkan saat akan memeluknya

“anak kecil yang cemburuan, Kajja kita cari tempat!” ucap manse namun tanpa manse sadari eunbi membeku saat melihat tangan manse menggenggamnya dan kemudian ia menatap manse dengan tatapan memuja. Eunbi benar-benar tak mengerti dengan hatinya mengapa eunbi bisa memaafkan manse begitu saja dan kembali menjadi eunbi yang manja, bahkan eunbi menunjukan sikap itu hanya pada ayahnya. Dan setelah mengelilingi taman pilihan eunbi jatuh pada spot yang tak jauh dari pertama mereka bertemu.

“oppa disini saja, aku ingin melihat air terjun itu.” eunbi memilih tempat dibawah pohon yang terlihat rindang dengan pemandangan rumput hijau dan danau yang tenang kira-kira jauhnya sekitar 10 meter tepat menghadap yang menjadi view yang sangat indah. Eunbi menuntun manse dan membatu meletakkan alas laken yang bercorak coklat putih kotak yang cukup besar untuk ukuran 2 orang yang akan mendudukinya, setelah manse meletakkan keranjang ditengah eunbi mencoba membuka isi dan mengeluarkan kimbab yang ia buat dan orange juice yang ia buat pagi tadi. Setelah menuangkan kedalam gelas ia menyuguhkannya pada manse “oppa ige”

“gomawo” eunbi tersenyum seperti orang bodoh saat manse meminum orange juice buatannya

“emm kau kan membelinya di supermarket, tentu saja enak”

“aniya oppa! Itu juice buatanku!” eunbi tak terima juice buatannya disamakan dengan juice supermarket

“tapi rasanya sama, apa kau yakin ini buatanmu? Bisa saja kan kau membelinya di supermarket dan kau masukan ke Tupperware ini. Dan juga kurasa aku kenal rasa kimbab ini, apa kau membelinya di toko disekitar sini?”

“tentu saja kau kenal dengan rasa kimbabku karena saat junior high school aku selalu menyimpan kimbab ini di loker-mu.”

“Aigoo kau benar-benar fans-ku ternyata.” Manse menyampaikan rasa terimakasihnya dengan mengacak rambut eunbi sembarangan dan lanjut memakan makanan yang eunbi bawa. Dan tanpa eunbi sadari disekitarnya ada anak kecil yang sedang bermain bola dan dalam hiutngan detik eunbi merasakan ada sesuatu yang membentur kepalanya

“AWWW” eunbi mengerang saat merasa ada suatu benda asing yang menerjang kepalanya dan saat menoleh ia melihat anak kecil yang mengambil bola dan membungkukan badan sebagai tanda permintaan maafnya

“YA! MAIN BOLA YANG BENAR TIDAKKAH KAU LIHAT ADA ORANG DISINI? BAGAIMANA JIKA WANITA INI GEGER OTAK KARENA BOLA YANG KAU TENDANG TADI ITU!” eunbi hanya terdiam saat manse berteriak memarahi anak kecil yang lari ketakutan saat manse berdiri dan mengepalkan tangannya seolah ingin menghajar anak kecil tadi

“Sudahlah oppa lagipula dia sudah meminta maaf” ucap eunbi berusaha menahan manse dengan cara memegang tangannya

“gwenchana? Bukankah tadi kau berteriak pasti sangat sakit ya? Sini kulihat apakah berdarah?” ucap manse dan mendekati eunbi mengecek kepala eunbi dengan cara yang berlebihan

“gwenchana oppa, aku hanya kaget” manse terpanah, seakan dunia berjalan lambat dari sebelumnya saat ia melihat eunbi tersenyum,  bukankah ia sudah biasa melihat eunbi tersenyum padanya? Tapi mengapa ini sangat berbeda? Seakan ada gemerlap disekitar eunbi dan mata eunbi lenyap saat ia tersenyum, Lucu.

“syukurlah kalau begitu” Namun dengan cepat manse mengalihkan wajahnya dan kembali makan kimbab yang mulai sekatang menjadi favorit-nya. Namun saat manse lahap memakan kimbab yang sudah hampir habis eunbi melihat wanita yang tadi bersama manse datang dengan sekotak yang ia yakin itu makanan

“oppa, ini untukmu semoga kau suka.” Ucap wanita itu dengan genit dan eunbi melihat manse lagi lagi tersenyum ramah “kau bisa membaginya dengan adikmu, aku akan menunggu telfonmu” dan parahnya manse mengedipkan matanya saat wanita itu akan pergi

“AKU BUKAN ADIKNYA! TIDAKKAH KAU LIHAT KAMI SEDANG BERKENCAN? OPPA? KAU PIKIR KAU PANTAS BERKATA SEPERTI PADA MANSE OPPA-KU? HANYA AKU YANG BOLEH MENGATAKANNYA! LIHAT SAJA JIKA KAU BERANI MENGGODA MANSE OPPA-KU LAGI AKU AKAN MEMBUAT RAMBUTMU RONTOK!” eunbi melihat wanita itu dengan garang namun apa daya wanita itu sudah pergi menjauh namun disini eunbi masih terlihat sangat marah sampai-sampai wajahnya memerah

“oppa! Mengapa kau tersenyum padanya? Dan aku lihat tadi kau mengedipkan matamu padanya! Bahkan akupun belum pernah melihat kau berkedip padaku. apa tadi sebelum aku datang kau meminta nomer telfonnya? Kau jahat oppa bukankah kau sudah janji denganku mengapa kau masih bermain dengan wanita lain? Kau membuat mood-ku menjadi rusak” eunbi terlihat sangat kesal dan mengalungkan kedua tangannay didepan perut dan yang manse lakukan hanya melihat eunbi mengomel sambil memakan makanan dari wanita tadi sampai habis seakan yang diucapkan eunbi adalah lelucon

“aigoo aku kenyang” manse mengelus perutnya dengan gaya seperti kakek-kakek kekenyangan dan tersneyum bodoh

“oppa! Apa kau tak mendengarkanku? Apa aku tak terlihat? Kau pikir aku hantu?” eunbi melambaikan kedua tangannya dihadapan manse

“mana ada hantu secantik kau hwang eunbi.” Manse mengalihkan pandangannya dan menatap eunbi penuh makna “aku tak tau wanita itu, dia yang pertama menyapaku dan memberiku selembar kertas, ah mungkin selembar kertas itu ada nomer handphone-nya. Tidakkah kau ingat aku seorang model? Jadi aku harus bertingkah ramah pada siapapun.” Ucap manse sambil melihat eunbi tepat pada matanya seakan ia mengatakan ketulusannya melalui mata

“lalu dimana kertas itu berikan padaku, kau tak boleh menelfonnya! Kau bahkan tak pernah menelfonku duluan, selalu aku yang pertama inisiatif menelfon dan mengirim pesan padamu.” Eunbi menengadahkan tangannya tepat diwajah manse dan mau tak mau manse harus memundurkan sedikit wajahnya
“aku tak ingat, mungkin terbawa angin karena aku menyimpan ditempat duduk taman tadi” entah mengapa manse melihat eunbi yang sedang cemburu ini adalah tontonan menarik, baru kali ini ia merasa benar-benar disukai oleh seseorang

“JINJJA?” eunbi menumpukan kakinya seperti orang yang berlutut saking senangnya berarti manse memang tak tertarik pada wanita tadi ia hanya bersikap ramah, mood eunbi mulai membaik. Sangat baik malah

“jinjja lagipula untuk apa aku berbohong eun-a” manse menjentik dahi eunbi seakan menegaskan ia tak berbohong dan menyuruh eunbi berhenti mengintrogasinya

“mwo? eun-a? apa oppa sekarang memberiku panggilan? Baiklah aku akan mengizinkanmu memanggilku seperti itu” ucap eunbi sambil menyilangkan tangannya didepan dada dan tersenyum

“eun-a? bukankah sedikit aneh?”

 

 

“gwenchana, asal kau yang memanggilku begitu aku tak keberatan. Ige mwoya? Oppa! Hujan!” senyum eunbi memudar ketika menyadari air hujan sedang menyerbunya dengan refleks ia menumpukan kedua tangannya seakan menghalangi air hujan menyentuh tubuhnya

“kajja bereskan ini dan pergi. Palli” manse membuka jaket kulitnya dan menaruhnya dikepala eunbi dan itu cukup membuat eunbi diam membeku

“ya mwoyaneungoya? Kajja” setelah memasukkan semua barang kedalam keranjang manse mengangkatnya dan mengambil jaketnya lalu memegang kedua ujung jaketnya untuk melindungi kepalanya dan eunbi dari hujan meskipun itu percuma. Setelah sampai ke parkiran dan masuk ke mobil Ferrari merah kebanggan manse eunbi segera mengeringkan badan dan kepalanya dengan handuk yang manse berikan.

Namun ada sesuatu yang menangkap mata eunbi, anjing kecil yang malang berteduh dibawah pohon yang tak begitu besar dan sepertinya menggigil kedinginan, tanpa sepatah katapun eunbi kembali memakai jaket manse yang sudah basah dan mengabaikan panggilan manse. Setelah mendapatkan anjing kecil itu ia segera masuk kedalam mobil dan sibuk mengeringkan anjing kecil dan sesekali memeluknya seakan ingin memberinya kehangatan

“eun-a apa yang akan kau lakukan pada anjing itu? kau tak berniat memungutya kan?” manse terlihat ngeri karena ia memang takut pada anjing bahkan ia lebih takut pada anjing kecil

“oppa apa kau akan membiarkan anjing ini kedinginan? Bagaimana jika ia sakit dan mati?” ucap eunbi dengan ekspresi yang dibuat-buat seakan anjing ini adalah anjing paling malang didunia

“tapi bagaimana jika ada pemiliknya yang mencari?” manse mencoba untuk tak terbujuk dengan mata eunbi yang berbinar, bukankah manse sudah bilang jika ia lemah atas aegyo eunbi? Ia tak tahu sejak kapan ia mulai menuruti semua perintah eunbi, mungkin karena eunbi adalah direktur-nya atau ada alasan lain?

“aniya, anjing ini taka da pemiliknya oppa, taka da tanda apapun. Jika ia punya pemilik biasanya ada tanda kalung atau apapun. Oppa, bisakah kita rawat saja anjing ini? Apa hatimu tak tergerak melihat anjing ini?” lagi dan lagi eunbi menunjukan wajah itu pada manse, ya manse mengaku ia kalah

“yasudah kalau begitu kau yang rawat, aku tak suka anjing dan tak tahu bagaimana cara merawatnya”

“aku tak bisa oppa, ayahku alergi pada bulu anjing. Tak bisakah oppa sajayang merawatnya? Aku berjanji akan mengunjunginya di apartement-mu dan menyiapkan semua kebutuhannya. Eoh? Oppa? Ya?” seperti hukum alam, manse selalu tak bisa mengatakan tidak pada eunbi apalagi dengan mata kucingnya itu, ia benar-benar kalah

“kau memang benar-benar, bagaimana aku menolak jika kau mengeluarkan aegyo-mu itu?” gumam manse namun masih terdengar oleh kuping kelelawar eunbi

“aegyo? Maksudmu aku baru saja ber-aegyo padamu?” eunbi terkejut dengan perkataan manse karena yang ia tahu semua orang mengatakan jika ia adalah orang yang terlalu simple dan cuek dan tak ada yang pernah mengatakan ia punya aegyo kecuali ibu dan ayahnya

“tentu saja! Semua orang akan sependapat denganku jika mereka melihat kau dengan mata yang bulat dan berbinar yang kulihat barusan” ucap manse ketus karena ia masih tak menerima jika ia harus berada  satu ruangan dengan anjing kecil itu

“mungkin itu perilaku-ku yang terpendam dan otomastis keluar jika hanya denganmu oppa.” Eunbi mengeluarkan senyumnya seakan manse baru saja mengatakan kata cinta untuknya

“eyyy kau mulai menggoda-ku sekarang? Arasso arasso asal kau berjanji akan mengurusnya juga kan?” eunbi mengangguk berkali-kali

 

“nde! Whoa sekarang kita sudah punya anjing peliharaan bersama? Bukankah ini yang dilakukan couple-couple lainnya saat berkencan? Whoaaa senangnya~” sambil menggelengkan kepala manse menyalakan mesin mobilnya dan mulai bergabung dnegan mobil-mobil lainnya di jalan utama. Namun sepanjang jalan yang ia dengar hanya eunbi yang mengajak bicara anjing baru-nya bahkan sekarang manse merasa diabaikan, biasanya eunbi selalu mengganggunya menyetir dengan cerita aneh yang ceritakannya

“oppa! Kita harus memberinya nama. Mwohalka? Kai? James? Moss? Aniya aniya, itu sudah terlalu mainstream. Kita harus memberi nama apa oppa?” tanpa eunbi sadari manse tersenyum sekilas atas perilaku eunbi yang benar-benar menggemaskan, bahkan manse tak tahan untuk tak mencubit pipi yang digembungkan eunbi –kebiasaan eunbi saat berfikir-

“eun-a?”

“mwo?” eunbi menoleh dan terpaku saat tangan manse yang hangat memegang pipinya, sepertinya ia takkan mencuci mukanya malam ini

“eun-a, namanya eun-a” ucap manse tersenyum dan masih memegang pipi eunbi. Bukankah mereka seperti dua sejoli yang sedang dimabuk cinta? Manse yang menyetir dengan satu tangan dan tangan yang lainnya memegang pipi eunbi

“oppa! Bukankah itu panggilanmu untukku? Aish” eunbi berpura-pura kesal dan melepaskan cubitan manse dipipinya yang memerah “bagaimana dengan eunse atau manbi? Kurasa lebih baik manbi karena ini betina, bagaimana oppa? Manbi? Apa kau menyukainya?” eunbi menggoyangkan tangan manse yang sedang memegang stear mobil

“gwenchanci, tapi agak sedikit aneh”

“man untuk manse dan bi untuk eunbi, jadi namanya manbi. Bukankah romantic? Manbi adalah bukti kencan kita, keutchi manbi-a?” eunbi membawa anjing itu berhadapan dengannya dan mulai berbicara pada anjing kecil yang sudah ia resmikan bernama manbi itu

“dasar anak kecil aneh” manse kembali mengacak kepala eunbi karena terlalu geli dan tak habis pikir dengan hwang eunbi.

Setelah kencan kedua mereka yang mengaharuskan manse merawat anjing mereka-manbi-, eunbi benar-benar menepati janjinya untuk merawat manbi dengan baik ia selalu datang ke apartement manse saat pulang kerja dan kembali ke rumahnya sebelum jam 9 malam. Ya, sekarang manse dan eunbi jauh lebih dekat karena sekarang eunbi tahu password apartement manse dan bisa masuk kapan saja bahkan hari minggu kemarin eunbi memasak diapartement manse dan itu sangat membuat manse terkejut dan hampir terkena serangan jantung karena ia hanya memakai boxer saja saat keluar. Meskipun sangat sulit untuk manse bergaul dengan anjing tapi ia merasa ada ikatan batin dengan manbi karena manbi sangat menurut padanya. Manse kadang merasa diterror oleh pesan atau telfon dari eunbi yang ia anggap tak penting karena selalu menanyakan kabarnya, sedang apa, dan yang sering ia ucapkan adalah ‘jangan coba-coba melirik wanita lain oppa!’, tapi entah mengapa ia terbiasa dengan eunbi yang suka membangunkannya dan selalu mengucapkan selamat malam, dan yang lebih parahnya manse merasa terenyuh saat eunbi memintanya berhenti merokok dan mengurangi kadar minum alkoholnya dengan cara sederhana seperti

“oppa aku tahu kau sudah merokok pada 3 SHS, tapi apakah kau tahu merokok itu merusak paru-parumu oppa bagaimana jika kau terkena penyakit? Aku pasti sedih dan aku inign hidup lebih lama denganmu”

“oppa bisakah kau hanya minum saat ada acara penting saja? Melihat kau minum dan bagaimana cara wanita memandangmu membuatku marah, aku tak suka saat kau tak sadar dan mulai berdekatan dengan wanita lain”

entah mengapa manse merasa dicintai dengan tulus tak seperti mantan-mantannya yang matre dan selalu memuja wajahnya saja, sudah lama ia tak merasa ketulusan itu dan ia merasakannya saat eunbi datang ‘Hwang eunbi, memang berbeda’ batin manse

Setelah seminggu berlalu eunbi menelfon manse dan mengatakan ia punya tiket theater yang sangat popular dan ingin menontonnya dengan manse, dan ya itu jadi kencan ketiga mereka.

 

————————————AT COFEE SHOP—————————————————-

“Sudah jangan menangis lagi, bukankah theater-nya sudah selesai 3 jam yang lalu? Lihatlah hidungmu yang memerah itu dan juga kau terlihat jelek saat menangis.” Manse berusaha menenangkan eunbi yang terus menangis setelah melihat film “the ugly duck”. Ia tak tahu harus berbuat apa jika wanita menangis, apalagi di café terbuka seperti ini banyak orang yang salah paham bahwa ia yang membuat gadis manis itu menangis, jika bukan hwang eunbi ia pasti akan meninggalkan wanita yang sedang menangis ini karena ia paling tak suka melihat wanita menangis dihadapannya

“Aku hanya terhanyut oleh jalan cerita-nya oppa, bukankah kasian bebek buruk rupa itu? sudah susah payah dan mencoba berbagai cara agar mendapatkan cinta pangeran tapi akhirnya ia harus mati karena patah hati.” Eunbi masih tak bisa menenangkan dirinya sendiri dan terus terisak saat membayangkan kembali theater tadi. Bahkan eunbi tak mempedulikan banyak pasang mata yang sedang memperhatikannya.

“lagipula itukan hanya theater tak benar-benar terjadi, sudahlah jangan menangis.”

“tapi bagaimana jika itu terjadi padaku? Bagaimana jika aku mati karena patah hati olehmu oppa?! Hiks”

“aniya, kau tak akan mati karena patah hati. Percayalah, dan kumohon berhenti menangis kau membuatku seakan pria yang jahat, lihatlah tatapan pengunjung lain.”

“jinjja? Oppa takkan membiarkanku mati karena patah hati? Oppa  takkan meninggalkanku kan?”

“eum, aku janji. Sekarang berhentilah menangis. Eun-a Lihat! Coffee-mu sudah dingin dan sudah tak enak, apa perlu kupesankan lagi?”

“aniya oppa, tak apa aku tak suka jika coffee yang panas membuat bibirku terbakar” manse tersenyum karena eunbi-nya sudah kembali karena sudah mengatakan kata-kata yang manse sangat polos. Saat eunbi meminum coffee-nya ia melihat manse yang sepertinya sedang memperhatikan seseorang dibelakang eunbi, saat eunbi menoleh ia juga cukup terpaku karena ia baru saja melihat wanita yang menggunakan baju yang sangat-sangat kurang bahan sampai-sampai memperlihatkan seluruh tubuhnya. dan parahnya manse bersiul saat wanita itu melewati meja mereka dan sontak itu membuat eunbi marah dan langsung menangkup wajah manse dengan kedua tangannya.

“Jangan melihatnya oppa! Kau hanya boleh melihatku!”manse sejenak terpanah karena jarak wajah mereka sangat dekat bahkan jika manse bergerak sedikit ia yakin bibir mereka akan bersentuhan, manse melihat bibir itu bibir yang tipis dan berwarna peach khas eunbi, ia penasaran bagaimana rasanya? Apakah sama dengan wanita lain atau berbeda, haruskan ia merasakannya? lupakan tentang wanita tadi manse hanya mencuci matanya tapi mengapa sekarang jantung berdetak cepat? Mungkinkah karena wanita yang dihadapannya ini? Tak mungkin, eunbi bukan tipe manse. Ia tak suka gadis yang berisik dan manja, ia lebih menyukai wanita yang lebih tua darinya karena lebih bisa diandalkan dan tak bergantung padanya. Setelah mneyadarkan kembali kewarasannya manse menjauhkan tangan eunbi yang berada diwajahnya

“kenapa aku tak boleh melihatnya? Jadi untuk apa aku mempunyai mata jika tidak dipakai untuk melihat?” ucap manse dengan tergesa-gesa karena ia gugup dan mencoba mengalihkan kegugupannya dengan menyenderkan badannya dan meminum coffee-nya

“oppa? Kenapa kau gugup seperti itu? waeee~? Karena wajah kita berdekatan?” eunbi kembali mendekatkan badannya seakan sedang menggoda manse

“ya! Bicara apa kau? Bahkan jika kau memakai pakaian seperti wanita tadi aku takkan tertarik padamu” ucap manse menjauhkan badannya seakan eunbi akan melakukan sesuatu padanya

“oppa mengapa kau jahat padaku?”eunbi kembali pada tempat duduknya dengan wajah yang lesu, tapi anehnya manse tersneyum melihat semua itu `karena aku menyukai ekspresimu saat merajuk hwang eunbi` batin manse

“sudah malam, ayo kuantarkan pulang” ucap manse setelah melihat jam berapa sekarang

“oppa mengapa kau selalu menagajakku pulang cepat~ aku masih mau melihat wajahmu” eunbi terlihat mengerutkan keningnya dan mengalungkan tangannya didepan dada seperti orang yang sedang marah, sungguh manse tak bisa berbuat apa-apa selain tersenyum manse benar-benar tak tahan akan keunikan eunbi yang satu ini sepertinya mulai hari ini ia mengakui ia benar-benar lemah atas aegyo eunbi.

“karena ini sudah malam eun-a, apa yang akan dikatakan ayahmu jika anak perempuannya selalu pulang larut malam?” manse mengucapkan itu dengan lembut dan meruntuhkan pertahanan eunbi yang benar tak ingin berpisah dengan manse

“aarasso oppa tapi sebenarnya 1 jam lagi aku akan berangkat ke shanghai karena akan ada project besar disana dan sepertinya akan memakan waktu yang lama, mungkin 2 minggu aku takkan bertemu denganmu.”eunbi membuat mulutnya cemberut dan itu membuat manse tak tahan untuk menangkupkan kedua tangannya diwajah eunbi yang sedang murung

“jadi kau akan sedih karena 2  minggu ini tak bisa menemuiku?” eunbi mengangguk

“kau tak ingin berpisah denganku?” eunbi mengangguk berkali-kali dan itu membuat senyum manse mengembang, dimata manse eunbi seperti anak kucing sekarang

“tapi bagaimana ya? Aku seperti kehilangan beban yang ada pada pundakku bahkan hidupku lebih baik jika tak ada kau yang menerorku sepanjang hari, sepertinya aku harus bersyukur pada tuhan karena akan membuat hidupku tenang selama 2 minggu ini” dan itu membuat eunbi kesal dan menggigit jari manse yang ada tepat dipinggir wajahnya, sontak itu membuat manse menjerit dan mengundang banyak mata untuk melihat kearahnya

“ish aku memang berlebihan mengharapkan oppa sedih dan merindukanku karena kita takkan bertemu selama 2 minggu tapi apa ini? Kau bahkan bersyukur tanpa aku, mengapa kau bisa semudah itu oppa? bahkan sekarang aku sudah merindukanmu lagi, padahal kita belum berpisah. Apa yang harus kulakukan?” eunbi menyembunyikan wajahnya dikedua tangan yang ia letakkan di atas meja, saat akan mendongkakkan kepalannya eunbi merasakan ada tangan yang mengelus dengan lembut eunbi yakin jika ia tak ingat sekarang akan ke shanghai ia pasti akan tidur di café ini.

“Bukankah kau sudah 7 tahun sendirian di LA? Kau bahkan menamatkan gelar mastermu dengan cepat tanpa bantuan ayahmu, tapi aku tak tahu kau sangat manja seperti ini.” Ucap manse dengan lembut seperti sedang mneyanyikan lullaby untuk eunbi “Ayo oppa antarkan ke bandara, bukankah pesawatmu akan berangkat 1 jam lagi?”

“meskipun aku masih ingin bersamamu tapi aku akan berangkat ke bandara dengan suho oppa. Oppa pulang saja, mungkin sbentar lagi suho oppa akan datang menjemputku” eunbi mengatakannya dengan lesu dan mengangkat kepalanya dan itu berhasil mempertemukan matanya dengan mata manse

“suho oppa?” tanya manse dengan nada yang tak bersahabat

“eum” eunbi mengangguk dan setelah ia lihat jalan raya melalui kaca besar yang ada disampingnya ia melihat suho oppa-nya sedang berdiri disamping mobil dan sontak eunbi melambaikan tanganya seakan berusaha memberitahu suho jika eunbi ada dicafe ini

 

“oppa, aku akan berangkat sekarang. Jaga kesehatanmu dan jangan berani melirik wanita lain saat aku pergi, kau tahu kan aku sekarang dekat dengan lee seojun dan ia akan melaporkan semua kegiatanmu padaku. Anyyeong!” eunbi mengatakan itu dengan terburu-buru lalu melambaikan tangannya sekilas namun manse melihat eunbi dengan rasa curiga,  manse melihat itu! melihat eunbi tersenyum pada namja yang ia sebut ‘suho oppa-nya’, bukankah eunbi melarang ia melihat dan tersenyum pada wanita lain? Lalu sekarang apa yang dilakukan wanita itu?

 

‘woah hwang eunbi kau memang wanita yang sulit ditebak, belum 5 menita kau sedih karena akan berpisah denganku tapi lihat sekarang kau memberikan senyuman manis itu pada pria lain. Bukankah kau bilang kau tak ada waktu untuk melihat pria lain selain aku? Apakah kau sekarang kau sedang memainkan trik Tarik ulur denganku? Woah kau benar-benar!  Lihat saja balasanku hwang eunbi’ batin manse

 

 

1 weeks later

 

Manse POV

Ada pepatah mengatakan bahwa semua orang akan berubah pada waktunya, ya itu terjadi pada hwang eunbi. Tapi apakah ia tak keterlaluan? Ini adalah rekor terlama hwang eunbi tak menghubungiku, Ia bahkan tak pernah mengirimkan 1 pesanpun padaku, tak pernah menelfonku, dan bahkan ia tak menghubungi seojun yang ia katakan saat berpisah denganku di café. Haruskah aku yang pertama mengirim pesan padanya? Tapi itu akan terlihat jika kau merindukannya song manse!

 

‘ya! Anak kecil mengapa kau tak menghubungiku?’

‘hwang eunbi bagaimana kabarmu?’

“eun-a bagaimana pekerjaanmu, berjalan lancer?’

‘ya! Apakah kau merindukanku?’

Kuterus mengetik dan menghapus pesanku pada eunbi. Tak apa kan jika aku yang pertama menghubunginya? Itu hal yang wajar pada orang yang sedang berkencan. Tunggu, aku mengakui jika aku berkencan dengan anak kecil yang suka merajuk dan mengeluarkan aegyonya itu untuk membuatku luluh? Bukankah aku terlalu berfikir rasional?

Aish molla! Yang aku mau hanya ucapan selamat pagi dari eunbi-ku, rasanya terlalu aneh tak mendapat pesan selamat pagi dan selamat malam dari eunbi, aku jadi teringat saat pertama mendapat pesan itu aku sangat membencinya karena yang ia lakukan sama dengan para mantanku tapi mengapa aku merasa kesal karena eunbi sudah tak melakukannya lagi selama seminggu ini?

Ya, memang aku tak berhak marah, tapi aku sekarang adalah pria yang sedang dikencaninya kan? Jadi tak masalah kan?

“Eun-a apakah pekerjaanmu lancar?” -send-

“Woahhhh aku mengirimnya! Aku mengirim pesan duluan pada hwang eunbi untuk pertama kalinya!” aku berteriak tak karuan di ruang tengah sambil menggulingkan badanku ke kanan dan kiri sampai akhirnya terjatuh ke lantai dan dipandang aneh oleh manbi

5 menit

10 menit

30 menit

 

“Manbi-a apa eun-a sekarang sudah mengabaikanku? Apa di shanghai ia bertemu dengan pria lebih tampan dariku dan berkencan disana? Aniya aniya eun-a bukan tipe wanita seperti itu kan manbi-a?” kuambil manbi dan meletakkannya dipangkuanku dan kuusap bulu manbi yang sudah lebat sekarang

“Tapi mengapa aku segusar ini tak mendapat kabar darinya? Bukankah yang seharunya gusar itu eunbi, dia masih mencintaiku kan?”

“ya! Manbi-a jawab aku! Kau sama saja seperti eun-a.” manse mengangkat manbi dan melayang-layang diudara

“lihat bahkan ia hanya membacanya saja dan tidak membalas pesanku. lihat saja kau hwang eunbi!” manse menggerutu tak jelas saat ia mengecek smartphone-nya dan menyadari eunbi hanya men-read- pesannya, ia melesat ke dapur dan mengambil air dingin untuk menurunkan emosinya

“dia yang pertama mengatakan ia mencintaiku selama 13 tahun dan sekarang ia mengabaikanku karena ia di shanghai? Bukankah ia keterlaluan? Aku sudah mengabaikan harga diriku untuk mengirimnya pesan duluan tapi apa yang kudapat? Apa ia berfikir aku gampangan karena bersikap terlalu baik padanya? Apa ia sudah merasa bosan padaku? Ia pasti sekarang sedang bersenang-senang dengan suho oppa-nya aishhhh memikirkannya pun membuatku sakit kepala” manse mundar-mandir tak jelas didapur sambil berbicara sendiri dan saat melihat manbi yang sedang memperhatikannya manse tak tahu kenapa teringat eunbi lagi

“dia benar benar keterlaluan kan? Sekarang sudah sore dan ia masih tak mengabariku! Bagaimana ia bisa hidup tenang tanpa tahu keadaanku? Aku adalah pria yang dicintainya, apakah ia tak khawatir dan bertanya-tanya aku sedang melakukan apa? Jawab aku manbi-a! aish menyebalkan melihatmu hanya mengingatkanku padanya” triiing triing manse segera berlari kea rah sofa dimana smartphone-nya berada dan dengan tak sabaran ia melihat siapa yang menelfonnya tapi ia harus kecewa karena dugaannya salah dan mengangkat telfon dengan lesu

“yoboseo? Oh hyung…. eodi?…. arasso keuno”

“kau diam disini dan jangan mengikutiku lagi, kau dilarang masuk ke kamarku anggap saja itu hukuman karena majikanmu yang sudah mengabaikanku.” Manse masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintu sedangkan manbi hanya terdiam seakan mengerti perkataan manse. Namun tak lama manse keluar dengan membawa makanan anjing dan menumpahkannya di tempat makan manbi

“tapi aku tak boleh mengabaikanmu, jika kau sakit eun-a pasti akan sedih” setelah mengusap manbi, manse kembali ke kamarnya dan keluar dengan baju khas-nya. Kaos putih polos ditimpa dengan jaket kulit coklat semu yang pas dibadannya, jeans hitam yang sedikit robek didaerah pahanya menambah kesan ‘anak berandalan’ dan dan jangan lupa rambut yang sengaja ia berikan gel untuk berdiri menambah ketampanannya 100%.

—————————————————————————————————–

Author POV

Terkutuklah Hwang Eunbi, manse benar-benar akan membuat perhitungan jika eunbi kembali, ia berjanji takkan luluh dengan aegyo eunbi kali ini. Hari ini tanggal 12 Maret 2016 Song manse resmi berumur 28 tahun dan parahnya ia sendiri lupa jika hari ini adalah hari ulangtahun-nya. Seperti biasa song manse mendapat kejutan ulangtahunnya dari keluarganya, ia senang saat ia dan kedua kakak-nya berkumpul seperti ini karena ini jarang terjadi karena pekerjaan mereka yang super sibuk dan juga jangan lupa bidadari yang selalu menerangi hidup mereka bertiga, siapa lagi kalau bukan lee yongjin noona. manse tak mengerti mengapa selama ini pria-pria lai membiarkan wanita secantik dan se-sempurna yong noona sendiri, bukannya manse tak menyukai yong noona tapi manse tahu daehan hyung menyukai yong noona tapi mereka tak pernah jadian, hey pria mana yang tak terpikat aura yong noona? Entahlah aku tak mau mengurusi hubungan orang. Dan sekarang hanya ada 1 orang yang terus mengelilingi kepalanya, Ia tak mengerti kenapa ia merasa sangat kesal seperti ini karena hwang eunbi-nya, apa karena tak dihubungi selama 1 minggu? karena eunbi melupakan ulangtahunnya? Atau keduanya? Entahlah yang pasti ia sangat kesal pada eunbi. “Bukankah ia berkata tahu semuanya tentangku? Ia pasti tahu hari ini ulangtahunku kan? Tapi mengapa ia tak mengucapkan selamat ulangtahun padaku?! Aiiish menyebalkan.” Gumam manse saat berjalan dengan kerennya, kalian tidak lupa kan manse seorang model? Bahkan jika menurut manse ia berjalan biasa orang-orang didekatnya pasti melihat itu dengan mulut ternganga.

Tak tahu mengapa manse merasa sangat lelah hari ini,  pada saat akan memasukkan passcode ada petugas keamanan yang memberikan banyak kotak-kotak yang ia yakin pasti kado dari penggemar dan juga wanita yang pernah didekatinya, setelah membuka pintu apartementnya ia langsung meletakkan kado-kado itu di sofa. Dan saat akan menyalakan saklar manse melihat ada cahaya yang ia yakin bukan dari lampu neon tapi dari lilin, mungkinkah? Dengan tergesa-gesa manse berlari kearah dapur dan tanpa sadar manse menunjukan semua giginya. Lega? Senang? Itu yang dirasakan manse sekarang. Rencananya yang akan balas dendam dan mendiamkan eunbi luntur saat itu juga saat melihat eunbi membawa kue yang diatasnya tertulis ‘Kau bertambah tua manse ahjussi, Tapi perasaanku takkan berubah, aku mencintaimu’. Manse tak bisa berkata apa-apa sekarang ia speechless bahkan untuk menggerakan badannya pun manse kesusahan, setelah melihat tulisan kue itu ia bertemu dengan mata itu. mata hitam pekat yang selalu melihatnya dengan berbinar, dan ia baru sadar jika eunbi memakai bando Minnie mouse dan dress putih selutut tanpa lengan khasnya tak tahu mengapa dimata manse sekarang eunbi sangat cantik, lebih cantik dari boneka Barbie. Ini bukan khayalanku saja kan? Ini benar hwang eunbikan?

“Oppa sampai kapan kau akan memandangiku seperti itu? aku sih tak masalah tapi lihatlah lilinnya hampir habis dan tanganku juga sudah pegal.” Lagi dan lagi manse memang ditakdirkan tak bisa menolak tingkah lucu eunbi, setelah berjanji takkan luluh pada aegyo eunbi tapi yang ia lakukan sekarang hanya menuruti eunbi dan segera meniup lilinnya.

“Oppa! Kau harus berdoa dulu jika akan meniup lilinnya!” eunbi menyimpan kuenya di pinggir meja makan lalu menyilangkan kedua tangannya didepan dada

“apa kau tak punya keinginan satupun? Appa bilang jika aku berdoa sebelum meniup lilin saat ulangtahunku, hal itu akan terkabul.”

“mengapa kau hanya diam saja oppa?” tanpa eunbi sangka manse hanya melewatinya dengan santai dan membuka kulkas untuk mengambil air dingin lalu duduk disofa setelah menyalakan saklar. Eunbi yang tak paham manse sedang merajuk hanya memperhatikan hal yang daritadi mengganggu matanya

“Oppa itu kado untukmu? Dari siapa? Kau menemui wanita lain saat aku di shanghai?” eunbi meninggikan suaranya diakhir kalimat, Eunbi menuju tumpukan kotak-kotak yang beragam dari yang kecil sampai besar dan setelah membukanya asal-asalan dan eunbi menyesali apa yang dibaca-nya saat ini. Benar dugaannya, manse memang bukan pria yang gampangan bahkan setelah berkencan dan diancam olehnya ia tak bisa menghilangkan kebiasaan manse yang satu ini.

“Lihat saja akan kubunuh siapapun yang mendekati manse oppa-ku aish menyebalkan! Oppa! buang saja semua itu!” eunbi membantingkan kotak-kotak dan menendangnya berkali-kali dan dengan langkah yang cepat ia menuju kamar manse dan mengambil sesuatu di tasnya

“Oppa, tutup matamu.” Namun manse tak menurut dan malah melebarkan matanya saat eunbi ada dihadapannnya “Oppa! Palli” rengek eunbi

“shirreo, aku takut kau berbuat yang aneh-aneh padaku.” Manse berusaha untuk terlihat biasa saja padahal bibirnya sudah gatal untuk menanyakan mengapa eunbi menghilang seminggu ini

“Palliyo oppa” manse benar-benar tak sanggup untuk melihat rengekan eunbi lagi dan ia memutuskan untuk menutup matanya dan saat itu juga eunbi berlutut dihadapan manse lalu mengambil tangan manse dan memasangkan benda bulat dijari telunjuk manse. Merasakan ada benda dingin terpasang dijarinya manse langsung membuka mata dan melebarkan matanya lalu mengalihkan pandangannya pada eunbi

“seolma? Kau melamarku?” masih dengan mata yang melebar dan mulut yang menganga manse melihat eunbi horror

“jika kau mau aku tak keberatan” eunbi mengembangkan senyumannya dan duduk disebelah manse “tenang saja oppa, itu bukan lamaran aku hanya ingin memberikan hadiah yang akan kau kenang selamanya.” Setelah mendengar itu manse mengehmbuskan nafasnya yang sempat terganggu karena shock yang dirasakannya lalu ia melihat cincin yang sudah melingkar dijari telunjuknya, tapi manse merasa aneh dengan design-nya

“Tapi maaf aku bukan pria yang bisa disogok dengan cincin ini.” ujar manse sambil memalingkan pandangannya

“menyogok? Kenapa aku harus menyogok dengan cincin itu oppa?” eunbi mengalihkan pandangannya pada wajah manse

“kau pasti merasa bersalah karena tak menghubungiku selama seminggu ini kan? Dan ige mwoya? Kau memberiku kejutan ulangtahun disaat hari ulangtahunku sudah lewat? Bahkan sekarang sudah jam 12 lebih.”

“ani, tadi kau meniup lilinmu jam 11.56pm itu berarti aku memberi kejutan sebelum hari berganti karena aku ingin menjadi orang terakhir yang mengucapkan selamat ulangtahun padamu dan tentang aku tak menghubungimu itu aku sengaja” manse menolehkan wajahnya dan tepat berhadapan wajah eunbi yang sedari tadi memandanginya dengan jarak yang sedekat ini manse bisa merasakan hembusan nafas eunbi yang teratur

“sengaja?” manse mengertukan dahinya dan menaikkan alisnya sebelah

“eum, aku hanya memberimu waktu untuk merindukanku. Tak sia-sia perjuanganku terus menerus bekerja untuk cepat pulang ke korea. Oppa, bagaimana rasanya merindukanku?” manse mengalihkan pandangannya dan hanya melihat kedepan

“seperti tercekik kan? Seperti ada yang menghalangi paru-paru kita untuk berjalan dengan baik, makan tak kenyang, tidur tak nyenyak, saat melakukan apapun kau kesal karena tak ada yang berjalan dengan baik, kau hanya akan kesal pada dirimu sendiri karena tak tahu alasannya. Itu yang kurasakan selama 13 tahun ini saat tak bisa melihatmu” manse menolehkan wajahnya pada eunbi-lagi- dan yang ia dapatkan sebuah benda kenyal yang menempel di bibirnya, ya hanya menempel dan setelah beberapa detik benda kenyal itu menjauh dan digantikan dengan semburat merah dipipi eunbi

“Selamat ulangtahun manse ahjussi, kau sudah tua sekarang. Apa kau tak ada niat untuk membuka hatimu padaku? Bahkan aku sudah susah payah pulang sebelum deadline lalu membuatkan cake sepanjang hari hanya untukmu dan sekarang aku sudah memberikan ciuman pertamaku untukmu, tolong nikahi aku!” eunbi mengatakan itu dengan gaya childish-nya dan itu sukses membuat kerja jantung manse bertambah

“A-apa yang sudah kulakukan sampai aku harus menikahimu? K-Kau sendiri yang menciumku!” saat manse tergagap yang dilakukan eunbi hanya tertawa lepas sambil memegang perutnya dan itu membuat manse terpanah, eunbi sangat cantik saat tersenyum seperti itu. saat setelah menenangkan dirinya eunbi mendekati manse dan memegang tangan manse

“Oppa, apa kau lihat garis merah di cincin ini? Itu adalah darahku. Jadi kita sudah menjadi satu, kau tak bol-“

DRRTTTT DDRRTTT DDDRRRTTT

Eunbi menggangtungkan perkataannya saat melihat smartphone manse bergetar dan ia yakin itu adalah telfon. Manse langsung mengambil smartphone-nya dan menggeser lambang hijau lalu terdengar suara wanita “Manse-a ini sarang noona, maaf terlambat tapi aku tetap ingin mengatakan selamat ulangtahun untukmu. Tetap sehat, tetap menjadi manse adik kecilku, Saranghae.”

 

Eunbi baru pertama melihat itu, ekspresi manse yang menunjukan kebencian. Bukankah manse-nya adalah pria yang selalu tersenyum? Tapi kenapa hanya satu telfon yang tak tahu dari siapa manse berubah seperti ini. Manse tak mengatakan sepatah katapun dan langsung masuk ke kamarnya lalu menguncinya.

Eunbi seperti diabaikan, dibiarkan sendirian tanpa keterangan apakah ia harus menunggu atau pergi saja? Eunbi yakin dia belum mati dan masih dapat terlihat oleh retina manse. Seharusnya eunbi sekarang menanyakan perasaan manse padanya, haruskah eunbi terus berada disisi manse atau pergi saja karena mereka sudah melakukan 3 kencan dan sepertinya manse melupakannya ya tipikal manse yang terlalu easygoing.

Setelah berfikir lama eunbi tetap menunggu manse disofa, tapi ia mengalah dan membereskan kekacauan yang dibuatnya. Setelah merapihkan semuanya eunbi mengambil tasnya dan pergi.

——————————————3 days later————————————————–

Dengan percaya diri manse melangkahkan kakinya di kantor kuma’s mall. seperti biasa ia mengenakan kaos putih sepundak yang dilapisi jaket biru terang yang terdapat  gambar tak jelas dan jangan lupa celana andalan manse yang satu ini jeans hitam yang tak terlalu ketat dan sedikit ada robekan dipahanya ditambah dengan sepatu nike berwana putih memperlengkap penampilan manse kali ini, terbukti semua pandangan tertuju padanya sekarang.

 

 

Sebenarnya ia merasa bersalah pada eunbi karena malam itu, ia mengabaikan eunbi begitu saja. Ia sendiri tak mengerti apa yang terjadi pada dirinya sendiri, ia lupa jika ada eunbi disampingnya, ya manse memang bisa dikatakan gila jika sudah menyangkut cho sarang. Setelah ia bangun pagi harinya ia baru ingat tadi malam ia sedang bersama eunbi setelah melihat bando yang tergeletak dimeja dan juga cake yang dibuat eunbi seharian hanya terpajang dikulkasnya.

Dan sekarang manse akan memberi kejutan pada eunbi sebagai permintaan maafnya, setelah dipersilakan masuk ke ruang CEO manse segera membuka pintu dan terlihat sosok wanita yang selalu membuatnya tak berkutik saat mengeluarkan aegyo-nya, tapi tidak dengan sekarang wanita itu terlihat seksi dengan rambut yang ia ikat tinggi dan menampilakan leher putih mulusnya, dengan anak rambut yang tertinggal didaerah pundaknya, poni yang ia biarkan menutupi dahinya dan jangan lupa kacamata-nya. Manse seperti melihat oranglain sekarang dan tanp sadar manse pun melangkahkan kakinya mendekati objek yang membuatnya terpanah

“Duduk oppa, apa kau datang kesini sebagai model yang bekerja sama atau hanya sebagai manse oppa-ku?” ‘manse oppa-ku? Mengapa sekarang aku berdebar? Tak mungkin song manse tak mungkin’ batin manse

“aku datang sebagai model yang diancam untuk berkencan dengan CEO-nya. Jadi apakah anda bisa meluangkan waktu untuk kencan kita hari ini?” tanpa menjawab pertanyaan manse eunbi mengangkat telfon dan

 

“Yuju-a kosongkan jadawalku hari ini, undur rapatnya dan jangan ada yang menggagguku”eunbi menoleh kearah manse dan tersenyum “ karena aku ada kencan” mendengar itu manse dan eunbi melukiskan senyuman diwajahnya dan tanoa mereka sadari mata mereka berbinar saat ini

—————————————————————————————————-

“Woahhh ini luar biasa oppa! Aku baru pertama kali datang ke tempat seperti ini.” Sesaat setelah manse membuka pintu masuk untuk melakukan latihan eunbi berteriak tak jelas dan berlari dan berhenti ditengah jalan sircuit. Pelatih manse hanya tersenyum dan membisikkan sesuatu ke telinga manse ‘yeojachingu-mu menggemaskan, kalian sangat cocok.’ Manse tersenyum dan menoleh kearah eunbi saat eunbi meneriakkan namanya

“oppa! apa kau selalu berlatih disini? Aku hidup 18 tahun di seoul tapi kenapa aku tak tahu tempat ini ya?” eunbi berkata sambil terengah-engah karena berlari dan manse mengusap kepala eunbi dan menghapus keringat eunbi dengan telaten seperti sudah terbiasa

“naiklah keatas, aku akan latihan sekarang. Berhentilah berteriak, tenggorokanmu akan kering dan lehermu akan patah.”

“aish oppa!” eunbi memajukan bibirnya merajuk dan kali ini tangan manse gatal untuk tidak mencubit pipi eunbi lalu menggoyang-goyangkannya “cepatlah naik, kau ingin melihat betapa kerennya aku saat bermain di sircuitkan?” eunbi menganggukan kepalanya berkali-kali dan tak tahu mengapa manse makin gemas dengan wanita satu ini.

Memang banyak wanita manse yang lucu seperti eunbi tapi ia merasa eunbi berbeda, ia terlihat natural dan tak dibuat-buat seperti mantannya. Setelah memastikan eunbi duduk dibangku penonton ia mulai memasuki mobil balapnya dan setelah diberi aba-aba oleh pelatihnya manse menancapkan gas dan berusaha untuk melakukan yang terbaik dan keren supaya saat turun nanti eunbi akan meneriakkan namanya dan makin jatuh cinta padanya. Tunggu, sejak kapan manse peduli jika eunbi mencintainya atau tidak?

Namun setelah apa yang dilakukan manse harus menerima kenyataan bahwa eunbi sedang diajak berbicara oleh beberapa pria, yap ria yang menjadi rival-nya. Tidak, manse tidak marah pada rivalnya yang sedang mencoba mendekati eunbi-nya tapi ia kesal saat eunbi menunjukan senyuman itu untuk rivalnya. Senyuman itu hanya untuknya!

“sepertinya dia tak bisa membiarkan wanita cantik itu sendiri.”

“mengapa tak kau beritahu jika wanita itu datang denganku?”

“eoh mianhae, kau tak memerintahkan itu padaku. Lagipula kewajibanku itu mengarahkanmu untuk lebih meningkatkan keahlianmu untuk balapan, bukan untuk menjaga pacarmu dari godaan rivalmu” ucap pelatih sambil melepaskan peralatan yang melekat pada tubuh manse setelah di check selesai manse membuka helm-nya dan langsung menghampiri eunbi

“eun-a kau melihatku tadi?”

 

“eum neomu mochisso oppa! Apa oppa tak mendengar aku berteriak setiap oppa melewat?” eunbi harus menenggak saat berbicara pada manse dan manse dengan sengaja mengacak rambut eunbi dan mengulurkan tangannya pada eunbi, tanpa ragu eunbi menyambut tangan manse lalu menggenggamnya

“kau ingin kencan kemana lagi?” manse menrangkul pundak eunbi dan mendekatkan wajahnya pada eunbi

“pantai, aku ingin melihat sunset oppa.”

“arasso, kita harus berangakat sekarang untuk mendapatkan sunsetnya. Kajja, eoh apa kau sedang berbicara padanya tadi? Kalian berbicara tentang apa?” eunbi menyadari manse sedang cemburu sekarang karena raut mukanya yang kaku

“aniya oppa, kita hanya membicarakan kehebatanmu saat balapan.”

“eum geure? Kalau begitu kami duluan jonghyun-a. kajja eun-a” manse melingkarkan tangan eunbi dilengannya dan entah mengapa itu membuat jantung eunbi berdetak lebih daripada biasanya. Eunbi hanya tersenyum dan menolehkan pandangannya pada bagian wajah manse bagian kiri, manse sungguh menggemaskan saat cemburu seperti ini.

“Aish mengapa ia selalu mendapatkan semuanya? Ketenaran, wajah sempurna, prestasi menjulang dan pacar cantik sepertinya. Membuatku iri saja” gumam jonghyun

———————————————————————————————-

 

 

—-At Car—-

“Oppa, kau tadi cemburu kan?” eunbi menghadapkan seluruh badannya pada manse dan membuat gerakan aneh karena ia duduk menyamping seperti itu untuk melihat wajah manse dengan jelas

“cemburu? Kau pikir kau siapa membuatku cemburu hah? Jangan bermimpi Hwang eunbi” manse masih memfokuskan pandangannya pada jalanan

“Benarkah? Tapi dari wajahmu terlihat jelas jika kau cemburu, jangan mendekati wanita-ku atau kau akan mati ditanganku. Kau bahkan bertanya apa yang kubicarakan, kau tahu tadi dia tak membicarakan kehebatanmu saat balapan. Ia bertanya apakah aku sendirian dan meminta nomer telfonku, kau tahu apa jawabanku?” manse menoleh pada eunbi sebentar dan memfokuskan pandangan pada jalanan “apa?”

“Aku adalah yeojachingu manse, jangan mendekatiku atau manse akan mengamuk. Tapi ia langsung menjelekanmu, ia bilang kau hanya mempermainkan hati wanita dan lebih baik berpacaran saja dengannya.”

“MWO?! Lee Jonghyun Aish geu sekki.” Tanpa sadar manse memukul steer-nya

“sejujurnya aku tertarik oleh penawarannya” manse langsung membantingkan steer-nya kepinggir jalan dan menatap eunbi lekat “YA!” Manse tak kuasa menahan makiannya yang akan ia akeluarkan tapi melihat eunbi yang tersenyum ia langsung lupa apa yang akan ia katakana

 

“Tapi saat melihatmu datang padaku dengan baju balap-mu entah berapakali aku jatuh cinta padamu lagi dan lagi.” Eunbi menatap manse tepat dimatanya dan memberikan senyuman terbaiknya dan itu sukses membuat manse gugup lalu meneruskan perjalanannya ke pantai

“Ehm” manse mencoba untuk tak terlihat gugup saat ini

“Oppa kau sedang gugup kan?” eunbi berusaha menggoda manse yang sedari tadi tak bicara sepatah katapun degan mencolek lengan manse berkali-kali

“Oppa kau tahu? Kau terlihat paling tampan saat mengenakan baju balap-mu seperti tadi, kukira aku terkena serangan jantung karena jantungku berdetak sangat cepat aku bahkan takut jantungku akan meloncat keluar.”

“Memang kapan aku tak terlihat tampan dimatamu? Bahkan saat bangun tidurpun kau bilang aku terlihat sexy kan?” eunbi mengangguk berkali-kali dan itu berhasil melunturkan kebisuan mereka sedari tadi “aku tak tahu sudah berapa kali aku memuji tuhan karena sudah membuat karya sempurna sepertimu oppa” manse tersenyum dan mencubit pipi eunbi

“Oppa, apa kau pernah takut saat balapan? Kata pelatihmu tingkat kecelakaan balapan di sircuit itu 80%.”

“aku menyukai apa yang kukerjakan, aku berusaha untuk melakukan yang terbaik karena hanya ini hal yang aku bisa banggakan. Aku tak sepintar hyung-hyungku yang selalu yang terbaik di sekolahnya. Aku tak suka belajar dan hanya menyukai kecepatan, jadi aku putuskan untuk melakukan apa yang kusukai dan bisa menjadi seperti sekarang dan itu tak mudah. Aku memikirkan berates-ratus kali untuk mengambil pekerjaan ini eun-a kau tak perlu khawatir, asal kau tahu aku sangat pintar menjaga tubuhku.” Manse meletakkan tangannya di kepala eunbi lalu mengusapnya, entah mengapa ia suka sekali mengusap kepala eunbi seperti ini, mungkin ini akan menjadi hal favorite-nya mulai sekarang

“Aku tahu oppa sudah berhenti merokok tapi aku tak yakin jika oppa sudah benar-benar berhenti minum, Oppa bahkan masih menemui para wanita itu cih” eunbi membalikkan badannya dan memperhatikan jalanan yang sudah mulai gelap

“Dasar gadis cemburuan, asal kau tahu aku tak benar-benar menemui mereka. Mereka sendiri yang menyuguhkan dirinya padaku.” Manse mencubit pipi eunbi dan tersenyum geli

“Itu sama saja oppa, bukankankah mereka terlihat menyedihkan? Demi mendapatkanmu mereka rela membuang harga dirinya dan mencoba menggodamu. Sama sepertiku saat ini.” Eunbi melihat manse dengan wajah yang berkaca tak tahu mengapa eunbi merasa ia wanita yang menyedihkan sekarang, namun dengan cepat manse menangkup wajah eunbi dengan satu tangan lalu menghadapkannya pada manse

“Mengapa kau berkata seperti itu?”

“Itu memang kenyataan oppa, tapi yang terpenting oppa harus tahu jika aku akan selalu mendukungmu oppa. Bahkan jika semua orang berkata kau takkan bisa, aku adalah satu-satunya orang yang akan selalu menyemangatimu dan berkata kau bisa melakukannya.” Eunbi menggenggam tangan manse yang menangkup wajahnya dan menempelkannaya dipipi “Hangatnyaaaa~” manse hanya tersenyum pada tingkah aneh eunbi sekarang.

Tanpa manse sadari eunbi sudah mengeluarkan keringat dingin, memang dasar hwang eunbi yang terlalu pintar beracting sedari tadi ia berusaha senyum saat ia kesakitan seperti sekarang. Ya, eunbi sakit dan seharusnya hari ini ia berobat di dokter-nya tapi tanpa diduga manse datang dan mengajak kencan adalah tawaran yang menggiurkan bagi eunbi, dan ia tak tahu tubuhnya selemah ini jika tak mengkonsumsi obat-obat sialan itu.

 

——————————Beberapa Saat Kemudian———————————

Eunbi tersenyum saat ia mulai melihat pantai dan mendengar suara ombak, setelah memilih dimana mereka akan melihat sunset manse membukakan pintu untuk eunbi dan itu membuat eunbi terbang keawan. Mereka jalan dipesisir pantai tanpa alas kaki dan sambil bergandengan tangan, dan sesekali manse mengagetkan eunbi dengan menyeretnya ke pantai dan saat kakinya terkena air eunbi hanya bisa berteriak karena ia memang tak bisa berenang dan tak suka badannya basah. Dengan tingkat kejailan manse yang tinggi, ia takkan membiarkan eunbi berjalan tenang dan melihat sunset begitu saja ia menggendong eunbi dan membawanya ke tengah pantai tapi niatan itu tak jadi karena eunbi memohon dan itu menjadi bahan tawa untuk manse karena muka eunbi yang lucu saat memohon. Setelah lelah bermain eunbi mengusulkan untuk duduk dibatu besar dan manse hanya mengangguk, tapi saat sudah terduduk di batu dan siap melihat sunset bersama tiba-tiba manse merasakan ada getaran disaku-nya, setelah mengangkat telfon eunbi bisa melihat perubahan ekspresi manse sama seperti saat ulangtahun manse kemarin. ‘mungkinkah wanita itu lagi?’ batin eunbi

“Eun-a mianhae aku harus pulang sekarang, kita lihat sunset-nya lain kali saja eoh? Ayo kita pulang” manse menggapai tangan eunbi berniat untuk pulang

“Wae Oppa? Sebentar lagi kita akan melihat sunset-nya. Apakah terjadi sesuatu?” eunbi berusaha mencegah manse untuk pergi dengan menggenggam tangan manse

“Ini penting! Kita harus pulang sekarang.”

“Tapi oppa, aku ingin melihat sunsetnya. Memang sepenting apa oppa? Apakah keluargamu sakit?” Eunbi kekeh “apa …. Karena wanita itu? Cho Sarang, apa wanita itu yang menelfonmu saat ulangtahunmu dan dia menelfonmu lagi sekarang? Apa yang dikatakannya sampai kau sepanik ini?” seperti angin yang berhembus eunbi mengucapkannya dengan pelan dan mata yang sayu

“Ya, dia yang menelfonku. Dia sakit dan tak ada seorangpun yang mengantarkannya ke rumah sakit, dia selalu seperti ini . Aku harus segera mengantarnya ke rumah sakit. Maka dari itu kita harus pulang sekarang eun-a” manse menarik eunbi namun terlihat seperti menyeret dan eunbi mengehentikan langkahnya

“Aku ingin melihat sunset-nya bersamamu oppa! Kita sedang kencan, tak bisakah kau melupakan sarang noona-mu untukku kali ini saja, eoh?”

“Apa kau akan keras kepala seperti ini? Jika kubilang pulang ya pulang! Tak bisakah kau menuruti perkataanku sekarang?” manse meninggikan suaranya dan tak sadar sudah membentak seorang hwang eunbi yang ayahnya pun tak pernah berteriak seperti itu padanya dan yang eunbi lakukan adalah mengeratkan genggamannya pada tangan manse

“Cho sarang hanya sakit biasa oppa! Kau tak perlu sepanik ini! Sakit itu biasa dan dia akan sembuh tanpa ke rumah sakit!” eunbi meninggikan suaranya seakan menantang manse

“Apa kau bilang? Kau ingin aku membiarkan orang yang kesakitan dan melihat sunset dengan tenang? DIMANA HATI NURANI-MU HWANG EUNBI!” eunbi benar-benar sakit saat manse memanggil namanya dan tak menggunakan nama panggilannya

“Arasso, kalau begitu kau harus pilih membiarkan aku sendiri disini atau pergi ke Cho sarang.” Eunbi mengatakan itu dengan berat tapi ia ingin tahu jawaban manse karena sekarang ia sudah merasakan gejala penyakitnya kambuh, tangannya sudah banyak mengeluarkan keringat jika saja ia tak memegang tangan manse ia yakin ia tak ada kekuatan untuk berdiri

“Apa kau tak tahu jika hari sudah gelap takkan ada kendaraan umum? jangan seperti ini, aku berjanji akan menemanimu melihat sunset lain kali. Eoh? Tolonglah sarang sedang membutuhkanku saat ini.” Manse mengacak rambutnya dan terlihat sangat panik

“Aku juga membutuhkanmu disini oppa, tak bisakah kau tak memikirkan wanita lain saat bersamaku?” eunbi seperti memohon pada manse karena kini kedua tanggannya memegang tangan manse seperti mencegah manse pergi darinya namun yang didapatkan eunbi adalah tangannya yang terhempas karena manse melepaskan genggamannya

 

“Ternyata seperti ini Hwang Eunbi yang sebenarnya? Tak berperasaan, keras kepala. Apalagi yang kau sembunyikan dariku?” manse memandang dengan sinis dan itu seperti tamparan untuk eunbi, manse-nya tak pernah seperti ini. Dan ia menyadari jika manse masih mencintai cho sarang dengan rasa ketakutan yang semakin menjadi-jadi eunbi langsung memeluk manse dengan erat, ia tak ingin khayalannya menjadi kenyataan, ia tak ingin manse meninggalkannya dan pergi menemui wanita lain. Eunbi sangat membutuhkan manse sekarang

“Jika aku tak berperasaan dan tak keras kepala aku takkan bertahan untuk mencintaimu selama 13 tahun ini! tak bisakah kau rasakan ketulusanku? Aku bahkan rela membuang harga diriku untuk menyatakan cintaku padamu, kau tak tahu berapa ratus kali aku berfikir untuk melakukan ini? hatiku terluka jika kau bermesraan dengan wanita lain dan yang lebih menyakitkan saat aku melihat kau terluka karena wanita lain. Aku tahu dari dulu kau mencintai cho sarang mungkin sampai sekarang, tapi tak bisakah kau memberiku kesempatan untuk berada dihatimu? Aku sudah mulai lelah dengan cinta sepihak ini, kesabaranku juga ada batasnya oppa. Tolong jangan pergi padanya, tetaplah bersamaku. Aku berjanji jika kau bersamaku aku takkan pernah meninggalkanmu seperti ia meninggalkanmu, aku akan menjadi wanita yang lebih baik. Oppa jebal kajima” tanpa terasa butiran yang selalu ia sembunyikan dari siapapun mengalir deras ya eunbi sedang menangis dipelukan manse sekarang, ia tak sanggup menahan ini lebih lama ia harus mengungkapkannya sekarang. Sebenarnya manse merasa bersalah pada eunbi melihat eunbi rapuh seperti sekarang sedikit menggoyahkan pendiriannya tapi lagi lagi ia tak bisa berpikir jernih sekarang yang ia khawatirkan hanya sarang sekarang dan ia tak peduli dengan yang lain termasuk eunbi-nya

“Perasaanku adalah milikku, kau tak bisa mengaturku untuk mencintaimu. Dan aku kecewa padamu hwang eunbi, kukira kau berbeda dengan wanita lain namun ternyata kau … sama saja.” dengan perlahan manse melepaskan pelukan eunbi yang terasa sangat lemah sekarang dan yang eunbi lakukan sekarang hanya menunduk dan tak berhenti menangis. Eunbi merasakan manse membalikkan badannya dan “Oppa, kau benar akan baik-baik saja jika aku tak ada disampingmu?” manse terdiam sebentar dan kembali melanjutkan langkahnya

“Oppa, kau ingat janji kita untuk 3 kali berkencan. Aku ingin mendengar jawabannya sekarang. Apa benar kau tak ada perasaan apapun padaku? Sedikitpun tak ada” manse terus berjalan dan eunbi hanya bisa melihat punggung manse yang menjauh “SONG MANSE! BAGAIMANA MUNGKIN KAU SETEGA INI PADAKU? LALU HARUS BERBUAT APA DENGAN PERASAAN INI?!” ?” eunbi mengeraskan suaranya karena suara ombak yang semakin kencang dan manse yang semakin menjauh darinya

Tanpa membalikkan badannya manse berkata “Aku tak pernah memintamu untuk mencintaiku, itu urusanmu jadi urus saja sendiri. Aku pergi, aku tak punya banyak waktu untuk meladeni anak kecil yang egois sepertimu.”

Sungguh sakit, eunbi mendengar itu dengan jelas. Bagaimana mungkin manse menyebutnya egois? salahkah jika eunbi ingin terus bersama manse? Salahkah jika tak ingin melihat manse lebih peduli pada wanita lain selain dirinya? Namun yang terjadi sekarang manse pergi menjauh dan yang eunbi lihat hanya punggung manse yang sudah tak terlihat. Sepertinya kekuatan eunbi untuk berdiri hilang.

“SONG MANSE! KAU BERJANJI TAKKAN MEMBIARKANKU MATI KARENA PATAH HATI! Kau berjanji takkan me.. ning.. gal .. kan.. ku…. Akh sakit….”

Dan sakit itu kembali, betapa kencang ia memukul dadanya tetap saja sakit itu tak hilang. Jantungnya kambuh disaat yang tepat! Sakit yang sempurna, dan saat eunbi mengalihkan pandangannya pada langit ia melihat sunset yang indah. Bukankah ini saat yang indah untuk mati?

‘Eomma bagaimana ini? Sakit, sakit sekali eomma. Apa aku akan meninggal seperti ini?’ batin eunbi

Dan pada saat penglihatan eunbi akan menghilang ia melihat pria datang dan mengangkatnya tak tahu kemana karena ia sudah kehilangan kesadarannya.

 

————————————-Sarang’s Apartement————————

Manse membuka pintu apartement sarang dengan tergesa-gesa ia bahkan sudah hafal diluar kepala password apartement sarang. Setelah berteriak memanggil nama sarang dan menegelilingi apartement yang cukup luas itu ia menemukan sarang tergeletak di kamar mandi. Dengan sekuat tenaga manse berlari membawa sarang ke parkiran, setelah sampai di rumah sakit ia langsung membawanya ke UGD jangan tanyakan ia memarkir mobilnya dimana karena manse meninggalkannya tengah jalan yang sedang macet. Setelah mendapatkan pertolongan pertama sarang dibawa ke ruangan VIP karena mengingat Rumah sakit ini adalah salah satu milik Song corp, manse masih menunggu sarang dan menggenggam tangan sarang sedangkan yuto sedang berkonsultasi dengan dokter tentang kesehatan sarang.

 

Saat terdengar suara pintu terbuka manse langung menolehkan wajahnya pada siapa yang datang dan saat itu juga sarang membuka matanya. Saat yuto berdiri disebelah sarang dan disebrang manse yuto memberikan sebuah berkas yang tak jelas isinya.

“Apa ini Yuto-a?” sarang yang masih lemah melepaskan genggaman manse dan mengambil berkasnya, setelah membuka ia terlihat kaget dan

“Aku Hamil?”

“Ya, 3 bulan. Karena itu kau pingsan, kau terlalu sibuk sampai tak makan dan istirahat yang cukup sarang-a. kau jangan khawatir, aku akan bertanggung jawab, aku sudah menelfon ayah dan ibumu mereka berkata kita harus cepat menikah sebelum perutmu semakin membesar. Aku akan mengatur semuanya, sarangahe cho sarang.” Yuto membungkukkan badannya untuk memeluk sarang yang sedang terbaring dan tak tahu mengapa manse yang menyaksikan itu hanya melangkahkan kakinya keluar tanpa kata-kata, manse terdiam cukup lama dibangku ruang tunggu. Ia bertanya apakah ia baik-baik saja jika sarang menikah dan meninggalkannya lagi dan lagi?

‘sebenarnya apa yang kuharapkan? Berharap sarang noona melihatku sebagai seorang pria? Jangan bodoh song manse, kau harus mengakui sarang hanya mencintai yuto dan bahkan mereka sudah akan punya bayi aku tak boleh seperti ini. Sial! Tapi kenapa hati ini sakit’ batin manse

 

 

—————————————7 days later————————————-

Eunbi POV

Aku mencium bau yang sudah sangat kukenal, bau rumah sakit yang kental. Sepertinya aku masih diberi kesempatan hidup, dan saat kupaksakan membuka mata kulihat Appa dengan wajah lelahnya melihat kearahku dan menggenggam tanganku, aku tersenyum karena masih bisa melihat appa. Tak lama kemudian tersengar suara wanita menjerit dan berlari keluar, sepertinya itu yuju karena tak ada wanita yang berlari sekencang itu kecuali dia, kulihat ada suho oppa, juhyun eonni, jeon ahjumma sedang melihat kearahku dengan wajah yang menahan tangis. Kupalingkan wajahku dan mataku bertemu dengan mata ayah, kuusahakan tersenyum dan itu membuat appa meneteskan air matanya lalu mengusap kepalaku dengan lembut, aku selalu suka jika appa melakukan ini padaku. “Gomawo karena sudah terbangun”

Setelah dokter datang semua orang disuruh keluar. Dan dari situ aku tahu penyakitku semakin parah dan aku sudah koma 1 minggu, dan saat itu juga appa selalu menjagaku tanpa istirahat bahkan ia mengabaikan pekerjaannya, ia bahkan membawa semua yang dibutuhkannya kesini hanya untuk menemaniku karena ia tahu aku takut tidur dirumah sakit. Saat dipantai suho oppa yang membawaku ke rumah sakit karena ia memang selalu menguntitku, aku harus berterimakasih padanya nanti.

Saat jam besuk datang semua orang datang termasuk yuju yang berusaha menahan tangisannya dan membuat wajahnya sangat merah sekarang dan seperti biasa hanya juhyun yang bisa membuat yuju tenang, lihat saja mereka sedang berpelukan sekarang. Apa karena aku? Karena penyakit sialan ini?

“Mengapa kau tega pada appa? Kenapa kau membiarkan dirimu sakit sendirian? 7 tahun, kau bertarung dengan penyakit ini. apa kau tak membutuhkan appa lagi? Apa gunanya appa ada jika putri appa  sendiri menanggung penyakit bahaya sendirian? Ya tuhan mengapa harus anakku” ini yang tak aku inginkan, aku tau jika appa mengetahui aku menderita penyakit ini ia akan hancur. Eomma, Jinwoo dan sekarang aku.

“Appa mianhae karena aku mewarisi penyakit eomma, aku bahkan baru menyadarinya saat aku akan lulus SHS dulu. Kukira aku bisa sembuh tapi sepertinya itu mustahil, mungkin sebentar lagi aku akan menyusul eomma dan jinwoo.” Aku berusaha berbicara meskipun suara yang kukeluarkan hanya seperti bisikan “Hwang Eunbi!” semua sontak mengeluarkan suaranya untuk menyanggah perkataan eunbi barusan

“bi-a! apa yang kau bicarakan? kau bisa sembuh, percaya padaku. Jika kau butuh jantung baru aku rela menukar jantungku denganmu! Maka dari itu jangan mati” yuju  memegang tanganku dan menangis sambil menaruh kepalanya dibahuku

“aigoo uri yuju, sejak kapan kau menjadi cengeng seperti ini huh? Kau sudah punya pacar yang menjagamu, jadi aku bisa pergi dengan tenang sekarang.” Eunbi sebenarnya ingin memeluk yuju sekarang tapi apa daya ia sangat lemah dan bahkan tak bisa menggerakan tangannya

“kalau begitu aku akan memutuskannya agar kau tak bisa pergi, ya tuhan mengapa kau masih bisa bercanda disaat seperti ini. bi-a kumohon bertahan jangan menyerah aku tahu kau kuat.”

“Noona, aku tahu specialist jantung yang hebat kau harus berobat dengannya. Aku dan appa sudah merencanakan pengobatanmu dan sebentar lagi noona akan berangkat ke Amerika untuk melakukan pengobatan yang intensif” jungkook yang sedari tadi melihat haru karena kakak tirinya yang ceria ternyata menderita penyakit yang serius

“Tapi jungkook-a” eunbi berusaha menolak tapi ia merasakan genggaman appanya saat ia menoleh ia melihat appa yang sedang menangis, eunbi tak bisa melihat wajah itu. ia benci melihat ayahnya sedih, seperti saat eomma-nya meninggal.

“Appa, kenapa menangis? Aku belum meninggal”

“Tolong turuti perkataan appa, pergilah ke amerika dengan joonmyun. Appa tahu kau anak kuat, kau pasti bisa sembuh. Setelah menggelar rapat pengalihan direktur appa akan menyusul, appa takkan membiarkanmu sakit sendirian bi-a. tolong demi appa, eoh?” dengan air mata yang tak bisa kuseka aku terus mengeluarkan cairan bening itu dengan lembut appa mengusap air mataku “Jangan menangis sayang, itu menyakiti hati appa.” Namun aku tak bisa menahannya aku terus menangis sampai aku tertidur-lagi-

Setelah menyelesaikan rapat dadakan penyerahan tanggung jawab sebagai direktur, Tuan Hwang segera menyusul anaknya yang sudah duluan berangkat ke amerika dengan pesawat pribadinya. Dan jabatan CEO Kuma’s Mall sekarang beralih pada yuju. Yuju akan menggantikan jabatan eunbi sampai eunbi sembuh dan kembali.

 

———————————————–1 Weeks later——————————————

Song Manse, dia telah menghadiri pernikahan Cho Sarang dan Yuto 3 hari yang lalu. Meskipun dadanya sesak ia berusaha tersenyum dan mengucapkan selamat menempuh hidup baru, tapi ada yang aneh pada dirinya sekarang. Bahkan setelah datang ke club untuk meluapkan stressnya ia tak bisa berdekatan dengan wanita lain seperti ada yang mencegahnya, bukan karena hwang eunbi datang tapi kata hati yang tak mengizinkannya, setelah minum dan mabuk yang ia lihat hanya hwang eunbi, apakah ia merindukan hwang eunbi? Sepertinya iya, bahkan seminggu ini wanita itu tak menghubunginya, dan saat manse menghubunginya yang menjawab hanya provider. Apakah eunbi marah padanya?

Ya, setelah beribu kali berfikir akhirnya manse disini, Kantor Kuma’s mall. Dan yang mengejutkannya adalah saat dipersilakan masuk ruang CEO yang ia lihat bukan hwang eunbinya tapi

“Asisten Choi? Aku kesini untuk bertemu CEO Hwang, bisa kau panggilkan?” ucap manse dengan sopan dan tersenyum seperti biasa

“Kau memang hebat sekali Tuan Song, masih bisa tersenyum seperti itu setelah menghancurkan hidup sahabatku? Memangnya kau pikir kau sehebat apa hah?” yuju menatap manse dengan tatapan yang tajam dan nada yang sangat sinis

“Apa maksud anda asisten choi?”

 

 

“Sekarang aku bukan asisten lagi, panggil aku direktur choi. Haruskah aku berterimakasih padamu? Berkatmu aku bisa menjadi direktur sekarang , jika bukan permintaan eunbi mungkin sekarang aku sudah memukul dan membatalkan kontrak kita. Jadi, mulai sekarang jangan mencari eunbi lagi. Silakan keluar” mendengar itu manse sedikit tak paham dan mencoba bertanya lagi

“Jangan bertanya mengapa, karena jika kau bertanya aku tak bisa menjawab. Tolong pergi sebelum aku memanggil petugas keamanan.”

“Kenapa aku tak boleh bertanya? Beritahu aku imana eunbi sekarang”

“Tolong kirimkan petugas keamanan keruanganku sekarang dan seret orang ini keluar, cepat.” Setelah petugas keamanan datang manse tak pasrah saat dibawa ia masih meronta dan berteriak dimana eunbi namun yang yuju lakukan hanya diam lalu saat manse keluar ia terduduk dan meneteskan air mata melihat foto eunbi yang tersenyum dimeja kerjanya “apa ini yang kau inginkan? Mengapa kau begitu baik bi-a? kuharap kau cepat sembuh dan cepat kembali menjadi eunbi yang tangguh seperti dulu dan tidak lemah seperti sekarang.” Gumam yuju sambil mengusap wajah eunbi difoto “aish mengapa harus kau yang sakit? Dan selama ini aku hanya tersenyum tanpa tahu kau kesakitan! Mengapa kau membairkanku menjadi orang jahat?” yuju kembali menangis saat mengingat eunbi dan membayangkan betapa menderitanya eunbi selama ini

 

 

 

————At Lobby————

Bae juhyun, tadinya ia akan mengunjungi yuju yang baru saja resmi menjadi direktur kuma’s mall dan ia yakin yuju sedang menangis sekarang maka dari itu ia akan menyemangatinya. Namun pandangan yang tak asing mengalihkan perhatiannya, seorang namja tampan diseret petugas keamanan dengan paksa. Setelah mengingat ia selalu melihat foto namja itu dikamar eunbi, mungkinkah? Juhyun  melangkahkan kakinya mendekati pria yang sudah berada di halaman. Dengan hati-hati ia melihat dengan dekat wajah namja itu

“Chogiyo, apa kau song manse?”

“Nde, wae?” manse yang masih dengan nafas terengah-engah meladeni juhyun dengan malas karena pikirannya sedang kacau sekarang dan melihat wanita ini tak kunjung menjawab manse memutuskan untuk pergi dan mencari informasi kenapa eunbi berhenti menjadi CEO Kuma’s Mall, apa karena dirinya?

“Tunggu, apa kau sedang mencari eunbi?” dengan cepat manse menolehkan wajahnya pada wanita tadi

“apa kau mengenal hwang eunbi? Kau tahu dimana ia sekarang?”

“Arra” juhyun menjawabnya dengan singkat dan melihat ke kanan dan kiri seakan takut ada yang memergokinya

“beritahu aku dimana, kumohon ada sesuatu hal yang ingin kubicarakan dengannya.”

“Ikuti aku” juhyun memberi aba-aba untuk manse dan setelah berjalan cukup jauh ia datang ke coffe shop yang cukup mewah, setelah memesan juhyun menyeruput sedikit kopinya

“mengapa kau membawaku kesini? Apa jika aku kesini eunbi akan datang?” manse bertanya dengan wajah polosnya, benarkah manse playboy? Bahkan ia bisa sepolos ini

“Tidak, eunbi takkan datang.”

“Lalu mengapa kau membawaku kesini? Jika kau berfikir untuk berkencan denganku kau harus kecewa karena aku sudah punya teman kencan. Permisi.”

“Bukankah kau sudah menolaknya?”

“Huh?”

“Kau sudah menolak hwang eunbi, dan kau tak bisa mengatakan jika eunbi adalah teman kencanmu sekarang. Pria macam apa yang hanya mempermainkan hati wanita seperti itu? Apa kau senang sudah mempermainkan hwang eunbi seperti itu huh? Bagaimana mungkin kau setega itu menghancurkan hati gadis baik sepertinya?” juhyun  menahan saat air matanya turun dengan menengadahkan wajahnya

“apa maksudmu?”

“Aku Bae Juhyun, 2 tahun lebih tua dari hwang eunbi. Kita satu angkatan saat SMP. Mungkin kau tak mengenalku, tapi aku tahu tentangmu song manse bukan karena aku menyukaimu tapi .. setiap hari eunbi selalu datang kerumahku untuk bercerita tentangmu sebenarnya aku lelah mendengar namamu setiap hari tapi aku tak bisa menolak saat eunbi ingin bercerita tentangmu dengan mata berbinarnya, itu pertama kalinya aku melihat matanya berbinar setelah kematian ibunya. Ya tuhan dia hanya berusia 13 tahun dan sudah membicarakan lelaki, kukira itu hanya cinta monyet tapi ternyata tidak ia selalu menceritakanmu selama 6 tahun sampai ia lulus SHS. Aku pernah menganggapnya gila karena dikamarnya terpampang semua fotomu dimulai JHS sampai SHS ia tergila-gila padamu, sudah kusarankan untuk menyatakan cintanya padamu tapi ia menolak, apa kau tau alasannya apa? Ia selalu kaku saat berhadapan didepanmu. Uri eunbi memang menggemaskan ia hanya ber-aegyo pada orang terdekatnya dari kecil ia hanya bergaul dengan orang yang membuatnya nyaman bahkan sampai sekarang ia hanya punya 2 teman 1 Appa dan 1 Oppa. Secara mendadak ia mengatakan akan kuliah diluar negeri. Kukira eunbi tak ingin menyia-nyiakan otaknya yang cemerlang dan meneruskan pendidikannya di luar negri tapi ada alasan lain. Dia, uri eunbi sakit. Dan kami semua tak tahu, selama 7 tahun dia menyembunyikan penyakitnya sendiri, berjuang sendiri, dan menahan rasa sakit sendiri. Kau tahu dia hanya anak perempuan manja yang berumur 18 tahun saat terkena penyakit itu, bahkan ia pergi tanpa pengawasan da-”

“Ini semua bohong kan? Kalian mempermainkanku ka? Eunbi tak mungkin sakit, ia sehat! Dimana eunbi sekarang! Aku harus bertemu dengannya!.” manse memotong perkataan juhyun karena ia tak sanggup mendengar lagi

“kau tak bisa menemuinya! Tujuanku menemui saat ini adalah untuk mengatakan biarkan eunbi bahagia, jangan pernah masuk ke kehidupannya lagi dan jangan pernah mencarinya.”

“aku tak butuh saranmu, yang aku butuhkan itu hwang eunbi! Tolong beritahu aku dimana!”

“Mengapa kau egois sekali song manse-ssi? Apa kau pikir kau berhak marah seperti sekarang ini? Kau bahkan tak tahu apa-apa tentang eunbi! Apa kau tahu makanan kesukaan eunbi? Ia alergi pada daging babi. uri eunbi tak bisa terkena hujan ia trauma, ibunya meninggal saat hujan. Apa kau tahu olahraga kesukaannya? Tempat favoritnya? Rasa coffee favorite-nya?artis favoritenya? Ulangtahunnya? Penyakitnya? Dan … apakah kau tahu siapa yang membuatnya tak bangun selama seminggu ini? kau song manse! Kau yang membuatnya koma dan kau masih tak tahu malu untuk ingin bertemu dengannya! sebenarnya kau manusia atau bukan?”

“MWO?!” manse tidak bisa menahan amarahnya ia tahu ia salah maka dari itu ia ingin bertemu eunbi dan meminta maaf

“Jantung, eunbi punya penyakit jantung. Ia mewarisi penyakit dari ibunya, sudah 7 tahun ia bertarung dengan penyakit itu tapi akhirnya ia hampir kalah. Kau tahu mengapa ia berani menyatakan cintanya padamu dan bertingkah agresif padamu? Itu karena ia tak punya pilihan lain, hidupnya sudah divonis bertahan 1 tahun lagi oleh dokter dan kau juga yang memperpendek vonis itu. Tidakkah kau punya hati nurani? Bagaimana mungkin kau meninggalkan wanita sendirian di pantai kau tahu kan takkan ada kendaraan umum yang lewat untung saja ada suho oppa jika tidak mungkin eunbi udah tak ada di dunia ini. jadi kumohon jangan mencari eunbi, biarkan dia bahagia ia sudah terlalu lama kesakitan. Tolong jangan hadir dihidupnya lagi, biarkan adik kecilku bahagia tanpamu” Manse yang mendengar itu hanya terdiam

“Aku harap aku tak melihatmu lagi” ucap juhyun dengan air mata yang sudah menggenang dipelupuk matanya saat membayangkan eunbi dan PLAKKK juhyun menampar manse sebelum ia melangkahkan kakinya keluar di café “Itu untuk uri eunbi, mungkin ini tak sebanding dengan sakit yang dirasakan eunbi tapi kuharap kau takkan bahagia. Selamanya.” Takkan pernah ada yang menyangka jika Bae juhyun yang diberi julukan ‘bidadari yang tak bisa marah’ saat shs sekarang sedang mengutuk song manse dengan matanya yang menunjukan amarah yang besar. Dengan langkah besarnya juhyun keluar dari café dan berjalan ditengah hujan ‘eunbi-a, aku sudah melakukan hal yang benar kan? Cepatlah kembali, adik kecilku’ batin juhyun

1 jam

2 jam

3 jam

Tak terasa manse sudah duduk di coffe shop ini seharian bahkan ia harus diberitahu jika restorannya akan tutup.

‘Ya Tuhan dosa apa yang sudah kulakukan? Maafkan aku Hwang Eunbi. Aku akan menunggumu kembali padaku … lagi’ batin manse

 

———————————————END————————————–

6 responses to “[Freelance] WHAT IS LOVE

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s