[Freelance] Yes, It’s Us (Our Happiness)

Yes, It's Us (Our Happiness)

Yes, It’s Us (Our Happiness)

 

Title : Yes, It’s Us (Our Happiness)
Author : Dhechan (Twitter: @RistuDini)
Cast : Oh Sehun (EXO), Oh Nahyun (OC)
Genre : Marriage Life, Romance
Rating : General
Diclaimer : This story is mine. Really.

Happy reading guys. Hope you’ll like this absurd fanfic J

Previous : (My Fear) (I’m Alone)

Nahyun keluar dari kamar mandi dengan handuk yang meliliti tubuhnya. Merasa lebih segar hari ini walaupun tetap ada yang kurang. Tidak ada kecupan hangat dari Sehun selama tiga hari karena memang suaminya itu belum pulang. Malah Nahyun berpikir mungkin Hyemin memiliki janji dengan Sehun di café tempo hari. Bisa saja Sehun menceritakan masalahnya dengan Nahyun pada Hyemin dan wanita itu lah sandaran baru Sehun saat ini. Nahyun memakai celana jeans biru gelapnya dengan T-shirt putih lengan panjang sebagai atasan. Berencana pergi? Tentu saja. Untuk mencari udara segar, kenapa tidak.

Nahyun keluar kamar menuju pantry. Ia sedang menuangkan air saat bel apartemennya berbunyi. Nahyun berjalan menuju pintu, melihat siapa yang datang di layar intercome. Seorang lelaki dengan pakaian formal sedang berdiri di sana. Jangan-jangan dia salah satu client Sehun. Oh, bagaimana ini?

Nahyun segera menghampiri pintu dan membukanya. Lelaki itu tersenyum lalu membungkuk singkat. Reflek, Nahyun juga membungkuk padanya.

Good Morning Mrs.Oh Nahyun. I am Peter. I was asked by your husband to drive you to airport.” Kata pria itu ramah.

Nahyun mengerutkan keningnya heran. “My husband?”

Yes, your husband, Mr. Oh Sehun.”

You said, to the airport? Me? Now?

Peter mengangguk.

Nahyun sedikit terkejut sekaligus bingung hingga ia hanya bengong selama sekian detik lamanya.

Hingga kemudian Peter berdeham pelan untuk sekedar menyadarkan Nahyun dari lamunannya. “Mrs. Oh?”

Ah, umm, where am I going? Where is he now?”

I am sorry, Madame. But I am afraid I can’t tell you that.”

“But I haven’t prepared anything. Could you wait?”

“You don’t have to do that. Mr.Oh had prepared everything there.”

“Oh really?”

“Yes.” Peter mengangkat lengannya sebentar untuk sekedar melihat jam di tangannya. “ Sorry Madame, but your flight is waiting.”

“I – I’ll take my bag. Wait a minute.” Nahyun masuk dan mengambil tas selempangnya yang telah ia siapkan di sofa. Dengan cepat ia memakai sepatu kets nya lalu menutup pintu apartemen.

Peter membimbingnya menuju basement. Setelah sampai ia membukakan pintu untuk Nahyun. Nahyun cukup canggung untuk perlakuan itu. Dia bahkan membungkuk sambil mengucapkan terima kasih pada pria itu, membuatnya tertawa kecil.

***

Nahyun duduk sambil memandangi awan putih yang tampak terbelah oleh sayap pesawat lewat jendela di sampingnya. Senyumnya kembali terukir ketika ia mengingat kemana tujuannya dengan burung baja raksasa ini. Ke tempat yang sebenarnya sudah sejak lama ingin ia kunjungi. Paris. Nahyun ingin sekali bisa melihat sendiri berbagai model busana di sana, karena Paris lah yang menginspirasinya untuk menjadi seorang designer.

Terlalu larut dengan lamunannya sendiri, membuat Nahyun tak menyadari adanya seseorang yang datang mendekat. Mengharuskan wanita berseragam itu menepuk bahunya pelan.

Mrs. Oh Nahyun? Are you okay?” tanya pramugari itu ramah.

Yeah, I am good.”

Pramugari itu tersenyum. “If you need something, you can tell me.

I will, Cath. Thank you so much.” Nahyun mengangguk pada wanita yang ia ketahui bernama Cathy. Seorang wanita Inggris dengan kulit seputih susu dan rambut pirang yang terlihat jelas dari sisi kepala yang tidak tertutup topi. Juga hidung mancung dan mata birunya yang menenangkan.

“It is a pleasure, Madame. If you fell tired you can sleep. We still need a long time to reach Paris.”

Nahyun mengangguk lagi, mengiyakan saran dari Cathy yang kemudian  dibalas senyuman lalu beranjak pergi. Dapat Nahyun lihat Peter sudah tertidur di kursi seberang sisi jendela yang lain. Mungkin pria itu terlalu lelah dengan pekerjaannya. Apalagi nanti setelah di Paris ia masih harus mengemudi untuk mengantar Nahyun ke hotel yang sudah dipesankan Sehun untuknya.

Sehun. Mengingat namanya membuat Nahyun kembali tersadar. Apa benar lelaki itu yang melakukan semua ini? Ia senang, tentu saja. Namun masih tetap ada keraguan dalam hati. Mengingat bahwa tidak adanya komunikasi yang terjalin semenjak pertengkaran mereka beberapa hari yang lalu.

Setelah berjam jam perjalanan akhirnya pesawat yang Nahyun naiki mendarat juga. Nahyun segera turun dari pesawat bersama Peter menuju depan bandara dimana mobil Mercedes hitam telah tersedia di sana. Peter kemudian membawanya menuju sebuah hotel besar, Paris Marriott Hotel Champs Elysees, dan memastikan Nahyun sampai ke kamar yang benar. Tak lupa Nahyun mengucapkan terima kasih.

At Room.

Dari balkon kamarnya Nahyun dapat melihat pemandangan malam kota Paris yang menakjubkan. Sehun memilih kamar yang tepat. Ia dapat melihat menara Eiffel dari sini. Tidak terlalu dekat, namun tetap menakjubkan baginya. Nahyun menghela napas pelan. Memang indah, tapi kenapa ia harus menikmatinya sendiri. Ayolah, ia juga ingin menikmatinya bersama Sehun. Sambil menunggu kedatangan Sehun ia memutuskan untuk membersihkan diri. Ia langsung memakai jeans hitam dan kaos abu abu yang sudah disiapkan di kamar mandi.

Ketika Nahyun keluar dari toilet, ia cukup terkejut dengan keberadaan sosok yang ia rindukan selama ini. Sehun sedang berdiri memunggunginya di balkon dengan jeans dan kaos yang memiliki warna senada dengan Nahyun. Nahyun berjalan menghampiri Sehun perlahan. Ia berhenti tepat setengah langkah dari punggung Sehun.

“Sehun.”

“Hm?” Sehun berbalik dan langsung mendapatkan pelukan erat dari Nahyun.

“Sehun, aku merindukanmu. Maafkan aku Sehun karena memakimu. Kumohon, jangan tinggalkan aku lagi.” Nahyun mulai terisak.

“Hey, aku juga salah. Aku minta maaf. Jangan menangis, sayang.” Sehun merenggangkan pelukannya. Ia melingkarkan tangan kirinya di pinggang Nahyun sedangkan tangan kanannya ia tangkupkan  ke pipi Nahyun, menghapus air mata yang mengalir di sana. Sehun mengecup dahi Nahyun singkat. “Jangan menangis.”

Nahyun mengangguk pelan.

Sehun tersenyum lalu menarik Nahyun dalam pelukannya. Ia menciumi pelipis Nahyun beberapa kali. Mencoba menenangkan sang istri. Nahyun meneggelamkan kepalanya di dada bidang Sehun dengan kedua tangan di pinggang pria itu. Masih sedikit terisak, namun sesaat kemudian kembali tenang. Sehun melonggarkan pelukannya.

Sehun tersenyum memandangi wajah Nahyun sehabis menangis, sangat menggemaskan. “Lucu sekali wajahmu saat – “

“Sehun, jangan meledekku.”

Sehun tertawa kecil. “Baiklah, aku mengerti.” Tangan kanan Sehun merapikan rambut Nahyun yang sedikit berantakan. “Perjalananmu nyaman?”

Nahyun mengangguk.

What about Peter?” Tangan Sehun pindah ke pinggang gadis itu lalu menyatukan dahinya dengan Nahyun.

Good.” Nahyun melingkarkan tangannya ke leher Sehun.

And Cathy?” Sehun semakin mendekatkan wajahnya hingga ia mengatakannya tepat di depan bibir Nahyun.

“Baik.”

Sehun merasakan jawaban dari Nahyun menerpa bibirnya, membuatnya tersenyum. “Apa kau lelah?”

“Hm?”

“Kau tahu, mungkin kita bisa mulai petualangan kecil malam ini. Menikmati udara malam Paris sejenak, misalnya?”

Nahyun mengangguk.

“Di ranjang.”

“Oh Sehun. Kau mau mati, huh?” Nahyun menepuk kecil dada Sehun.

“Kau tidak akan mungkin membunuhku. Ku tidak bisa hidup tanpaku, Nahyun, aku tahu itu.”

Nahyun berdecih pelan. “Percaya diri sekali.” Namun apa yang terjadi kemudian benar-benar membuat Nahyun malu. Wajahnya, atau lebih tepatnya kedua pipi di wajahnya itu memanas. Tubunya sendiri merespon, memberikan jawaban bahwa apa yang dikatakan Sehun memang benar. Tak bertemu selama tiga hari saja membuatnya frustasi dan menangis sepanjang malam, apalagi selamanya. Sudah dapat dipastikan tubuh Nahyun tak akan bisa bertahan lebih lama dari rasa rindu yang seakan bisa membunuhnya kapan saja.

Takut Sehun melihat pipi merah mudanya, Nahyun berdehem pelan. “A – aku ingin keluar.” Ujarnya sedikit gugup.

“Baiklah, kalau begitu cium aku.”

Nahyun memajukan wajahnya sehingga mengecup bibir Sehun singkat.

“Apa kau bercanda? Ciuman macam apa itu? Lakukan dengan benar, Oh Nahyun.”

Nahyun tersenyum lalu mempersatukan bibirnya kembali dengan bibir Sehun.

***

Telapak tangan besar Sehun menggenggam tangan Nahyun semakin erat. Berusaha menyalurkan kehangatan, sesaat ketika kaki mereka telah membawa tubuh sampai ke depan hotel. Sebuah mobil bermerk Maybach berhenti beberapa meter di depan mereka. Tak lama, seorang pria berseragam seperti pegawai hotel Paris Marriott lainnya turun dari mobil dan berlari menghampiri Sehun. “Your car, Sir.” Ucap pria itu sambil menyodorkan kunci mobil pada Sehun.

Thank you.” Sehun menerima kunci yang diberikan padanya lalu kembali menarik Nahyun. Membawa Nahyun untuk masuk ke dalam mobil hitam mewah itu dan langsung beranjak dari hotel. Sehun memang baru membeli mobil itu kemarin dan berencana menggunakannya untuk memfasilitasi setiap perjalan dengan Nahyun selama mereka di Paris. Bahkan ia memutuskan membawa mobil itu pulang ke Korea. Sehun melintasi kota malam Paris dengan lihai. Seakan ia sudah mengetahui setiap inci jalanan di kota itu. Sesekali ia sedikit mengendurkan injakannya pada pedal gas, saat dilihat sang istri tengah mengagumi bangunan juga suasana malam bagian Paris yang mereka lalui.

Selang beberapa menit kemudian, Sehun menepikan mobilnya dekat dengan jembatan di tepian Sungai Seine. Nahyun membuka pintu mobil, hendak menyapa udara malam Paris secara langsung. Tak terlalu menghiraukan tarikan dari sang suami yang kembali menyatukan telapak tangan. Di sana, ia dapat melihat keindahan malam kota Paris juga salah satu ikon Negara Perancis yang terkenal, Menara Eiffel. Namun ketika matanya hendak bergerak untuk bermanja pada kecantikan Paris lainnya, yang ia temukan malah bayangan seorang wanita sedang berdiri di samping mobil Mercedes hitam. Wanita yang menjadi awal permulaan pertengkarannya dengan Sehun, Hyemin.

Tatapan Nahyun berubah tajam, ia menoleh kea rah Sehun. “Kenapa dia di sini, Sehun?”

Sehun mengeratkan genggaman tanganya pada tangan Nahyun sembari menghela napas pelan. “Ada sesuatu yang harus kami jelaskan padamu.”

“Kami? Maksudmu, kau dan dia?”

“Tolong dengarkan dul – “

“Jadi kalian memang menyembunyikan sesuatu dariku?”

“Kami tidak menyembunyikan apapun, Nahyun. Ini hanya salah paham.”

“Omong kosong.” Nahyun mendengus kesal. “Aku ingin kembali ke hotel.”

“Nahyun.”

Nahyun sudah akan berbalik masuk kembali ke dalam mobil. Tetapi gerakannya terhenti saat Sehun masih bersikukuh menggenggam tangannya, bersamaan dengan masuknya suara lembut Hyemin ke indra pendengaran. Sekretaris Sehun itu tengah berjalan mendekati mereka, dan berhenti ketika dirasa Nahyun bisa mendengarnya dengan jelas saat ia bicara.

“Kumohon dengarkan dulu. Sehun benar, ini semua hanya salah paham.” Lanjut Hyemin. “Izinkan aku menjelaskannya padamu.”

Nahyun diam sesaat, hingga kemudian ia menghembuskan napas dalam sebelum menciptakan jejak dengan sepatu kets yang ia pakai. Mengambil langkah menjauh dari Sehun sebagai isyarat bahwa Nahyun tak keberatan untuk sekedar bicara dengan Hyemin. Nahyun berhenti saat tubuhnya telah mencapai pinggir jembatan, disusul Hyemin yang sudah berada di sebelahnya. Semilir angin nan menenangkan saat ini tak mampu menyejukkan hati Nahyun yang tengah dilanda badai emosi. Malah makin tersulut walau sudah disiram dengan uapan embun sungai Seine.

“Nahyun.”

“Jelaskan.”

“Baiklah. Pada intinya, kau hanya salah paham.”

Nahyun memutar bola matanya jengah. “Sejak tadi kalian berdua selalu mengatakan bahwa ini hanya salah paham. Tapi kalian tidak menjelaskan dimana letaknya?”

“Kau mengira bahwa aku berselingkuh dengan suamimu kan? Nah, di situ letak kesalahannya. Aku dan Sehun tidak memiliki hubungan semacam itu.”

“Tapi bagaimana aku bisa mempercayaimu? Dari apa yang kulihat selama ini, kalian punya potensi untuk berselingkuh dibelakangku. Kalian menghabiskan waktu berdua lebih banyak. Kau sadar tidak, kau dan Sehun hampir selalu bersama setiap hari. Di kantor, ke luar negeri bersama dengan alasan bertemu klien, bahkan saat di apartemen kami untuk membahas pekerjaan. Dalam banyak kesempatan itu, tidak mustahil kau ingin merebut Sehun dariku.”

“Astaga, memangnya hanya suamimu saja yang pintar dan tampan? Kurasa masih banyak lelaki lain seperti itu di dunia ini.”

“Tapi Sehunlah yang terdekat denganmu.”

“Nahyun, aku adalah sekretaris Sehun. Sudah sewajarnya aku selalu berada di dekatnya.”

“Tapi kalian terlalu dekat.” Nahyun dapat mendengar Hyemin menghela napas sekilas. “Itu tidak wajar.”

“Kau sebegitu irinya padaku?”

“Siapa bilang aku iri padamu? Aku sedang marah padamu, Hyemin. Dan aku hanyalah seorang istri yang khawatir dengan kedekatan antara suami dan sekretarisnya yang single – “

“Aku akan menikah.”

“Oh bagus kalau begitu. Memang sudah seharusnya kau – tunggu, apa?” Nahyun yang baru menyadari apa yang barusaja Hyemin katakan, menoleh ke arah Hyemin dengan tautan alis di dahinya.

“Aku bilang, aku akan menikah.” Ucap Hyemin penuh ketenangan.

“K – kau akan menikah?” Nahyun membelalakkan matanya lebar, terlalu tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.

Hyemin mengangguk singkat. “Kau tampak sangat terkejut. Sehun tidak mengatakan apapun padamu?”

“Sehun tahu kau akan menikah?”

“Tentu saja. Aku akan menikah dengan sepupunya. Bagaimana mungkin dia tidak tahu.”

Sehun tahu Hyemin akan menikah karena gadis itu akan menikah dengan siapa? Sepupu? Tunggu dulu. Biarkan Nahyun berpikir sebentar. Memori otak Nahyun mulai mengingat nama nama sepupu yang mungkin pernah atau sering lelaki itu sebutkan. Dan dari sekian banyak nama keluarga besar yang Sehun ceritakan padanya, yang cukup sering disilabelkan adalah…. “Maksudmu, dengan Kim Jongin?”

“Kau mengenalnya? Well, memang dia lah calon suamiku.” Hyemin mengelurakan sesuatu dari dalam tasnya. Ia menyodorkan kertas berukuran cukup tebal dengan hiasan ikatan pita disamping pada Nahyun. Untuk sesaat, Nahyun hanya memandangi si kertas ragu. Tangannya kemudian bergerak menggapai benda persegi itu. Dapat Nahyun lihat tulisan nama ‘Jongin dan Hyemin’ di sana, menandakan bahwa undangan pernikahan tersebut dibuat untuk acara pernikahan Hyemin.

Nahyun mendesah pelan. “Tidak mungkin.”

Sekarang giliran Hyemin yang mengerutkan dahinya. “Ada apa, Nahyun?”

Hyemin tidak tahu bahwa Nahyun tengah membodoh bodohi dirinya sendiri sekarang. Mengatakan hal hal berupa umpatan ringan yang ditujukan pada situasi yang membuatnya menjadi si ‘tolol’ pada saat ini. Ia malu sekali. Dia sudah menuduh, memaki, serta memarahi Hyemin untuk suatu hal sebenarnya bukan kesalahannya. Ia bagai seseorang yang ketahuan salah menangkap pencuri di depan umum. Sial. Bodoh. Ini Konyol. Nahyun ingin sekali Bumi menelannya sekarang juga dan mengunyahnya hingga hancur. Oh, ini sungguh memalukan.

“Nahyun?” Hyemin mengguncang bahu Nahyun pelan. “Kau kenapa?”

“Ah, tidak.” Nahyun tersenyum kikuk. “Ng, Hyemin, aku – “

“Sudahlah, tidak perlu mengatakan apapun.” Hyemin berdecak pelan sambil menolehkan kepalanya kea rah Sehun yang tengah berdiri bersandar di depan kap mobilnya. “Sehun benar-benar keterlaluan. Dia pasti hanya ingin melihatmu cemburu, Nahyun.”

Nahyun mengikuti arah pandang Hyemin dengan geram. “Tidak masuk akal. Lelaki itu bosan hidup rupanya.”

Hyemin tertawa kecil. “Ya, dia memang menyebalkan hingga terkadang aku ingin menendangnya dari lantai 10 kantornya. Tapi kurasa dia masih terlalu berharga untuk dilenyapkan begitu saja.”

“Menurutmu begitu?”

Hyemin mengengguk. “Akan kuberitahu kau satu hal. Kau tau apa yang suamimu itu lakukan selama tiga hari ini? Dia menyambangi setiap hotel, restoran dan tempat wisata di Paris untuk memastikan sendiri kau mendapatkan yang terbaik. Membuat janji dengan perancang busana dari Dior, Channel dan Prada yang ia kenal hanya agar kau bisa bertemu dan belajar dengan mereka secara langsung. Melakukan semuanya dalam dua hari tentu bukan hal yang mudah. Tubuhnya tidak sekuat yang dia mau, hingga mengharuskannya masuk rumah sakit tadi pagi karena kelelahan. Keluar dari sana dalam keadaan belum pulih total sore tadi hanya untuk menyambut kedatanganmu.” Hyemin berdecak pelan. “Jujur saja, suami seperti itu sulit didapatkan.”

“Tidak mungkin.”

“Ini mungkin memang terdengar melebih-lebihkan. Tapi percayalah, dia benar-benar melakukannya sendirian.” Hyemin tersenyum. “Kupikir, dia hanya ingin mengerjaimu dengan tidak menjelaskan apapun tentang hubunganku denganya, bahkan menyembunyikan berita pernikahanku. Tapi bisa jadi, dia hanya tidak sempat mengatakannya karena terlalu sibuk menyiapkan kejutan untukmu.”

Kedua sudut bibir Nahyun terangkat sedikit, ia mengangguk mengiyakan. Seakan berkata bahwa ia sepemikiran dengan Hyemin. Mereka kembali berpandangan kemudian saling melempar senyum. “Baiklah, kurasa tugasku sudah selesai.” Ia berjalan ke arah Sehun, diikuti Nahyun disampingnya.

“Kau kemari dengan Kim Jongin?”

“Ya, dan sepertinya kami harus segera pergi.” Ketika Nahyun dan Hyemin sampai di tempat Sehun, sudah ada Kim Jongin di sana dengan pakaian tuxedo lengkap yang dilapisi coat hitam dibagian luarnya. Nahyun baru menyadari bahwa sedari tadi Hyemin memakai gaun malam anggun yang tak kalah formalnya dengan tuxedo Jongin.

Jongin melempar senyum ke arah kedua wanita cantik yang datang menghampiri. “Kalian sudah selesai? Selamat malam, Nahyun. Kudengar kau baru sampai tadi sore. Selamat datang di Paris.”

Nahyun tersenyum balik. “Terima kasih. Aku sudah selesai bicara dengan Hyemin.”

“Baguslah.” Jongin kembali tersenyum tatkala sang kekasih menyambut uluran tangannya dan bergerak mendekat. “Aku dan Hyemin juga harus pergi karena ayah dan ibu kami sudah menunggu acara makan malam .”

“Mereka sudah sampai?” tanya Hyemin dengan tautan samar di kedua alisnya.

Jongin mengangguk, tangannya bergerak merapikan beberapa anak rambut Hyemin yang tersibak angin. “Mereka menunggu di restoran hotel sekarang.”

“Kalau begitu sebaiknya cepat.” Hyemin mengalihkan pandangannya pada Nahyun dan Sehun. “Kami permisi dulu.” Ia dan Jongin membungkuk singkat. Setelahnya mereka berjalan beriringan menuju mobil kemudian berlalu ke arah jalanan umum dengan meninggalkan suara klakson sekali pada Nahyun dan Sehun.

Saat mobil hitam mengkilap Jongin itu sudah tak terlihat lagi, Sehun memandangi Nahyun lewat ekor matanya. Dapat ia lihat sekilas gadis itu masih tersenyum ke arah mobil Jongin yang sudah menghilang entah kemana. Ia pun berdehem pelan. “Akhirnya semua selesai dan berakhir bahagia.” Ia menoleh saat dirasa Nahyun memandang ke arahnya. Sehun ikut tersenyum ketika melihat Nahyun menarik kedua sudut bibirnya ke atas.

“Jadi kau pikir semuanya berakhir bahagia?”

“Ya, tentu saja. Kesalahpahaman antara kau dan Hyemin sudah terselesaikan. Kalian tidak saling mencakar, menarik rambut, atau hal-hal menyakitkan lainnya seperti yang kukira. Tidak ada yang terluka. Dan lagi, Hyemin akan menikah, itu berita bagus kan untukmu? Jadi sekarang kita bisa menikmati liburan kita di sini dengan tenang.” Sehun tersenyum lagi, sambil menaik turunkan kedua alisnya jenaka.

Nahyun menyilangkan kedua tangan di depan dada, menghadapkan tubuhnya pada Sehun. Awalnya Nahyun hanya tersenyum sambil mengangguk angguk kecil. Namun tak lama kemudian, apa yang selama ini ditahannya dikeluarkan begitu saja. “YA!!” Serunya dengan nada yang tak bisa dibilang rendah dan volume yang cukup memekakkan telinga.

Membuat Sehun sedikit berjengit saking kagetnya. Ia bahkan sudah menelan ludah karena takut dengan amukan Nahyun.

“Bagaimana bisa kau tidak memberitahuku bahwa Hyemin akan menikah. Kau tahu tidak, aku sudah memaki-makinya, menuduhnya sebagai wanita simpananmu yang pada kenyataannya bukan. Astaga, aku malu sekali. Apalagi ternyata yang akan menikah dengannya adalah Jongin, sepupumu. Bagaimana mungkin hal sepenting ini tidak pernah kau singgung denganku? Kau ini benar-benar.” Nahyun mengayunkan kedua tangannya memukuli lengan atas Sehun. “Dasar menyebalkan.”

“Hey, hentikan. Dengarkan dulu, Nahyun. Aku punya alasan untuk melakukan ini. Aw… “

“Kau pembual. Kau menyebalkan.”

“Hey.” Sehun menangkis pukulan Nahyun yang sudah akan mengenainya lagi. Ia menggenggam kedua tangan yang Nahyun gunakan sebagai senjatanya itu. “Aku tahu kau tidak akan percaya jika aku hanya mengatakannya saja. Maka dari itu aku membawamu untuk bertemu dengannya.”

“Kau membuatku kelihatan seperti orang bodoh karena tidak tahu apa-apa.” Isakan lirih mulai terdengar dari mulut Nahyun. Hingga tak lama kemudian tubuhnya telah direngkuh tangan kekar Sehun, membawa tubuh yang berguncang itu masuk ke dalam lingkar pelindung sekaligus penenangnya.

Sehun mendekatkan bibirnya pada telinga Nahyun dan berkata lirih di sana. “Maafkan aku. Aku tahu aku memang jahat padamu. Aku pernah berjanji tidak akan pernah membuatmu menangis. Tapi kau menangis dua kali hari ini dan itu semua karena aku. Aku benar-benar menyesal, Nahyun. Tolong maafkan aku.”

“Aku tidak akan memafkanmu.” Ucap Nahyun disela isak tangisnya.

Sehun memejamkan matanya sejenak, lalu merenggangkan pelukannya. Memandangi wajah sedih Nahyun penuh sesal. “Aku pasti sudah membuatmu kecewa.”

Kepala Nahyun terangguk dua kali. “Dan aku tidak akan memaafkanmu kali ini.” dapat Nahyun lihat Sehun mulai menundukkan kepalanya. “Sebelum kau berjanji satu hal padaku.”

Sehun mendongak, agaknya sedikit terkejut dengan kata kata yang Nahyun lontarkan. “Apa?”

“Kau harus berjanji padaku.”

“B – berjanji apa?”

“Bahwa kau tidak akan meninggalkanku sendirian lagi. Kau tahu kan jika aku tidak bisa hidup tanpamu.”

Seketika, senyum Sehun mengembang lebar karena terlalu senang. Nahyun-nya memaafkannya, dan kembali menciptakan debaran bahagia dalam irama detak jantung. Sehun berdehem pelan. “Aku, Oh Sehun, berjanji tidak akan pernah meninggalkan istriku tercinta, Oh Nahyun. Tidak akan pernah. Dan Sungai Seine adalah saksinya. Jika aku melanggar janjiku, Seine boleh menelanku kapan saja. Apa itu cukup?”

Dengan isakan kecil yang tersisa, Nahyun mengangguk pelan sambil mengusap air matanya. “Kau sudah berjanji, dan kau ada di sini bersamaku, bisa kulihat dan kusentuh. Jadi, ya, itu sudah cukup bagiku.” Perlahan, tubuh Nahyun bergerak semakin mendekat ke arah Sehun. “Tapi aku masih menangis. Kau tidak ingin menenangkanku, hm?”

Tawa kecil spontan keluar dari bibir Sehun. Merasa sikap manja yang Nahyun lakukan benar-benar membuatnya gemas. Ia segera memeluk tubuh wanita itu lagi, semakin erat ditiap detiknya, namun tetap nyaman dan menenangkan. “Kurasa sebaiknya kita memang menghabiskan malam Paris di ranjang.”

“Jujur saja, sebenarnya aku sedikit kedinginan di luar sini. Jadi mungkin kamar hotel terdengar lebih hangat dan – oh astaga.” Nahyun memekik pelan saat dirasa kakinya tak lagi menapak jalanan. Sehun telah menggendongnya ala bridal dengan cepat, seakan tubuhnya seringan kapas. Membuat Nahyun reflek mengalungkan tangan ke leher suaminya itu.

“Kamar hotel?”

Nahyun menggigit bibir bawahnya sembari mengeratkan kalungan di leher Sehun.

“Kajja.” Sehun membawa Nahyun masuk ke mobil hitam mewahnya untuk kemudian kembali menyisipka diri dalam kerumunan jalan malam Paris. Biarlah ia batalkan penyewaan yacht yang sudah ia persiapkan untuk malam ini. Karena sekarang yang ia butuhkan hanya Nahyun. Hanya Nahyun.

***

Nahyun membuka pintu kamar mandi dengan menggunakan bathrobe sambil bersenandung ringan. Menggosok-gosokkan rambutnya yang setengah basah dengan handuk kecil adalah apa yang ia lakukan untuk mengimbangi gumaman nadanya. Tetapi, kedua kegiatan itu ia hentikan secara bersamaan tatkala matanya mendapati wajah tampan suaminya yang masih terlelap. Sebagian tubuhnya tertutupi oleh selimut coklat tempat tidur hotel namun terlihat jelas kulit putih pada bahu Sehun, karena ia masih belum memakai atasan. Nahyun mengulum senyum. Ia lalu melempar handuk kecilnya ke kursi di dekat tempat tidur, naik ke atas ranjang dan berbaring di samping Sehun, menggunakan kedua tangan sebagai penyangga wajahnya.

Dapat Nahyun dengar suara dengkuran halus seorang Oh Sehun, yang sangat ia rindukan tentunya. Nahyun semakin mendekatkan diri untuk dapat melihat wajah Sehun dengan seksama. Tiba-tiba bibir pria itu melebar, menampakkan senyumnya dengan mata yang masih tertutup.

“Ck, ternyata kau memang sudah bangun.”

Sehun tertawa pelan sambil melingkarkan tangannya pada pinggang ramping Nahyun. Memeluknya namun tetap dengan mata tertutup, seakan bisa mengenali istrinya itu walau hanya dengan aroma tubuh sang istri. “Selamat pagi, Sayang.”

“Selamat pagi.” Nahyun mencium pipi Sehun lembut. Dapat ia lihat senyum Sehun semakin mengembang. Namun sepertinya tak ada niatan bagi Sehun untuk membuka matanya, membuat Nahyun mengerang lirih. “Hey bangun. Kau tidak lupa kan kau harus mengantarkanku ke perancang Dior kenalanmu itu? Ayo Sehun, bangun.” Jari telunjuk Nahyun mengetuk etuk pipi Sehun pelan.

“Hari ini rasanya aku ingin menghabiskan waktu denganmu saja. Kita bisa bertemu dengannya lain waktu.”

“Sebenarnya aku ingin pergi hari ini. Karena kau sudah menyiapkan ini untukku, bahkan sampai jatuh sakit. Aku tidak mau usahamu sia sia.” Ucapnya lirih.

Sehun membuka matanya perlahan, mengarahkan pandangannya pada Nahyun yang melirikinya sekilas.

“Tapi, kalau kau memang masih merasa tidak enak badan, maka itu juga tidak masalah bagiku.” Nahyun tersenyum manis, membentuk lekukan bulan sabit pada matanya.

“Kau pintar sekali.”

“Apa?”

“Kau mengatakannya hanya agar aku mau mengantarmu kan? Aku tahu seberapa inginnya kau bertemu dengan salah satu perancang Dior, dan kau tahu bahwa aku tidak bisa menolak keinginanmu walaupun kau sudah berkata ‘tidak masalah’.”

Nahyun terkikik. “Kau juga pintar, suamiku. Aku memang tidak terlalu memerdulikan apakah kau mau ikut atau tidak. Jika tidak, maka aku akan pergi menemuinya sendiri. Dan kau bisa beristirahat untuk memulihkan kesehatanmu. Ah – “

Pekikan dari bibir Nahyun kemudian disusul oleh suara tawanya sendiri. Tangan Sehun secara  menggebu menyerangnya, menggelitiki perut dimana itu adalah area yang membuatnya merasa geli. Nahyun tidak tahan untuk membendung gelak tawanya. Area perutnya memang sensitive terhadap sentuhan, dan Sehun yang mengetahui itu selalu memanfaatkan kelemahan Nahyun yang satu ini. Sehun terus menggelitiki dan Nahyun terus berusaha bergerak menjauh atau menghalau Sehun menyentuh bagian perutnya. Namun sepertinya gagal karena Sehun selalu bisa mendapatkannya. “Sehun, hentikan. Aku hanya bercanda.”

“Bercanda? Jadi kau hanya bercanda, huh?” Tangan Sehun kembali bergerak menggelitiki perut Nahyun.

“Ahahaa… Kumohon, hentikan.” Kikikan Nahyun perlahan berhenti karena tangan Sehun yang sudah tak lagi bergerak.

Tanpa mereka sadari, posisi Sehun sekarang berada di atas Nahyun. Menindih wanita itu dengan tangan sebagai penyangganya. Mereka tengah mengatur napasnya yang masih terdengar memburu dan perlahan mulai normal. Mata mereka bertemu pandang, mencoba menyelami pikiran dari benak lawan. Nahyun kemudian menggerakkan kedua tangan guna menangkup wajah Sehun sembari menyunggingkan senyum. Dapat ia rasakan bibir tipis Sehun yang mencium tepak tangannya penuh kasih.

“Aku merindukanmu, Nahyun. Sangat merindukanmu sampai hampir gila rasanya. Apa kau juga merindukanku?”

Nahyun mengangguk sambil mengalungkan tangannya ke leher Sehun.

Sehun tersenyum. “Aku mencintaimu. Sangat mencintaimu sampai nyaris gila rasanya. Apa kau juga mencintaiku?”

Nahyun kembali mengangguk dan mendekatkan Sehun padanya. Mempertemukan bibirnya dengan bibir suaminya itu. Megecupnya ringan berulang kali dengan senyuman yang terpatri baik di wajahnya sendiri maupun Sehun. “Aku mencintaimu, Sehun.”

“Aku mencintaimu, Nahyun. Oh, astaga, terdengar indah dan menyenangkan. Kau dengar detak jantungku? Aku rasa dia suka saat aku mengatakan cinta padamu. Apa kau keberatan jika aku mengatakannya setiap hari?”

Nahyun menggeleng pelan lalu tertawa kecil. Dan kembali menarik Sehun padanya.

“Aku mencintaimu, Nahyun.” bisik Sehun tepat di telinga Nahyun sebelum ia menggenggam selimut dan menariknya untuk menutupi dia dan Nahyun. Seolah olah melindungi sinar matahari dan langit yang berusaha mengintip kegiatan pagi mereka. Walau begitu, suara derai tawa keduanya tetap terdengar. Berusaha menyampaikan pada dunia betapa bahagianya mereka saat ini. Ya, ini lah mereka yang sesungguhnya, dalam balutan hangatnya cinta dengan penuh kebahagiaan.

 

FIN

Yeeaaayyyy….. akhirnya selesai ~~~ #niup terompet

Maaf ya kalo endingnya tidak seperti yang kalian harapkan, ngga dapet feelnya, aneh, zonk gitu dan ngaret abiizz, maapkaaannn. Buat readers yang selalu menunggu, terima kasih banyak yaaa… semoga cerita ini endingnya bisa buat kalian lega karena ngga nunggu nunggu lagi dan aku bener bener minta maaf kalo rada absurd, wehe  

So, thanks a lot, guys. See you, muah muah :*

wkwk

32 responses to “[Freelance] Yes, It’s Us (Our Happiness)

  1. aaaa mereka bikin iri banget sih yaampun. baca ginian sampe senyum2 cem orang gelo😦 ini beneran end? ga ada lanjutannya lagi? pas lagi hamil gitu atau ga pas punya anak? *nawar*

    • hmm, gimana ya, wkwk… entahlah kak. aku orangnya labil and moody abis e, hehe
      btw, makasih udah komen🙂

  2. Nahyun malu banget pasti tapi yang namanya istri liat suami deket sama cewek mana bisa biasa aja. Hyemin udah punya pacar untung dia baik kalo tiba2 ngerebut Sehun dan Sehun khilaf udahdeh Nahyun kasian bangetttt. Ending-nya keren gak mengecewakan.

  3. aaa akhirnya ini couple muncul lagi
    ternyata nahyun cuma salah paham duh malunyaaaaa
    so sweet bnget merekaaaaaa aaaa envy wkwkw

  4. Hey kalian berdua ? Lagi ngapain itu di balik selimut ? Emang gak bosen berdua terus mending nambah anggota keluarga baru wkwk, sehun manis banget ya sampe sakit cuma mau buat kejutan ke nahyun, bener” husband materials

  5. horee… happy ever after🙂
    nahyun, beruntung bange bisa jadi istrinya sehun
    jadi ngiri#Plakkk

  6. Aaah, romantis banget yaa.
    Happy ending.
    Nahyun yg keras kepala akhirnya mau mendengarkan juga, seneng mereka berdua baikan dan menghabiskan hari2 bersam di Paris.
    Envy deh

  7. yeeeyy….akhirnya happy ending🙂
    sehun so sweet bgt deh….
    suka bgt ma mereka brdua sehun-nahyun daebak🙂

  8. Ternyata .. untung bukan selingkuhan beneran, duh sehun bikin readers su’uzhon aja 😂😂😂

  9. Ternyata sehun memang mencintai nahyun. Kirain selama ini sehun emg selingkuh, tau taunya… ck dasar ohseh jail
    Sequel dong~ buat sehun dan nahyun punya dedek bayi 😄

  10. haaaaaaaa. aku nungguin ff ini..akhirnya apdet jugaaa..
    ciyeeehh, Hyemin sama Jongin udh mau nikaaahh…chukkae yaa…
    kirain Hyemin selingkuh ama Sehun.. jauhkan pikiran burukmu Nahyun(???)
    waaduuh, mreka ngapain tuh di balik selimut?? wakakakakaka
    Sehun jooos bgt deh jdi suami.. rela kaya begituan ampe sakit.. saluuut bgt deeehhhh.. wkwk

  11. Lanjut~~
    Sequelnya ya ya ya?? 😂😂😂😂 seru nihh~~
    Adem bacanya dri atas sampe bawah 😊😊😊
    Bikin jongin sm hyemin jg ya ya ya ya~~ 😂😂😂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s