#4 Time Capsule: Wretch

6895536952_7af3aab23c_k

Time Capsule

by awackywallflower

Starring:

Sydney Lee as OC ◊ Park Chanyeol ◊ Kim Jongin ◊ Oh Sehun ◊ Lilliana Tan as OC

Rating: PG-17 || Genre: Friendship, Romance, Drama, Adult-life.

Previous: Prolog | #1 A Little Reunion | #2 Comeback | #3 The Things Left Unsaid | #4 Wretch

∴∴∴

Suara dentingan sendok yang beradu dengan dasar cangkir menghiasi keheningan yang terjadi di antara Sydney dan Chanyeol. Keduanya tengah duduk berseberangan, dengan secangkir kopi di hadapan, pada sebuah kedai kopi langganan. Tentu saja bukan langganan Chanyeol, Chanyeol tidak terlalu suka kopi. Jadi, sudah jelas siapa dalangnya bukan?

Chanyeol menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi memandangi Sydney yang tengah menyesap nikmat kopi―yang diyakini Chanyeol―pahitnya. Matanya yang hitam pekat seperti tak berdasar itu memandang tepat pada manik mata Chanyeol. Tidak untuk mengatakan apapun karena kali ini Chanyeol sendirilah yang harusnya buka suara.

“Jadi? Bagaimana kabarmu setelah bertemu dengannya?” Chanyeol memecah hening setelah melakukan aksi saling pandang beberapa menit yang lalu.

Bukannya menjawab, Sydney malah balik melemparkan pertanyaan, “Kukira kau mengajakku bertemu untuk meminta maaf, bukannya membuat kesalahan yang baru lagi, Park Chanyeol?”

Chanyeol tersenyum timpang sepersekian mili sekon sebelum melemparkan pandangnya ke luar jendela. Memandangi orang-orang yang tengah berlalu-lalang. Ada hening yang menyapa kembali untuk detik-detik yang berjalan layaknya menit, setidaknya bagi Chanyeol. Bahkan saat ini ia mulai mempertanyakan bagaimana ia bisa hidup selama lima tahun terakhir tanpa sosok wanita bersurai kelam yang sedang duduk di depannya. Helaan nafas tanpa sadar keluar dari bibirnya kala sadar bahwa selama lima tahun terakhir ini ia bertahan hanya dengan bermodalkan memori indah masa lalunya bersama Sydney.

“Aku di sini tidak untuk memandangi kau yang sedang melamun.” Sydney membuat bunga-bunga memori Chanyeol yang akan mengembang berubah layu.

Chanyeol memutar kepalanya. Menghadap Sydney. Mencoba menelaah pancaran matanya yang kini sedingin es di gunung fuji padahal sebelumnya manik itu pernah bersinar secerah mentari.

“Kupikir kita sudah impas karena perjanjian tak tertulis minggu lalu.” Alis Sydney sontak mengerut penuh tanya, “seharusnya aku mentraktirmu makan tapi karena kau bertemu dengan orang itu, maka berakhir menjadi, aku menjadi sopir yang mengantarkan penumpangnya pulang ke apartemen.” Lanjut Chanyeol.

It wasn’t a big problem. Kau yang memiliki urusan denganku saat itu. Bukankah seharusnya kau berterima kasih karena aku akhirnya mau menemuimu? Dan tidak mengelak lagi untuk pertemuan berikutnya yang berarti saat ini.”

Chanyeol mengubah posisi duduknya, kini tangannya tengah terlipat di atas meja. “Sekedar mengingatkan, mungkin kau lupa. Aku tidak mengolok-olokmu ketika kau sedang menangis menatap amplop pemberiannya saat berada di dalam mobilku.”

Sydney yang baru saja akan mendengarkan ucapan Chanyeol―yang terdengar lebih seperti racauan di telinganya―sambil lalu langsung menegang. Kedua bola matanya melemparkan tatapan tajam ke arah Chanyeol.

Chanyeol tersenyum tanpa suara, hanya deretan giginya yang rapi yang terlihat menghiasi. Chanyeol di atas angin. “Aku tidak akan menjadikanmu bualanku jika kau membiarkan kita seperti ini.”

Sydney mengendur. “Seperti ini?” Satu alisnya terangkat, “Kukira kau mau kita berbaikan?”

Kedua sudut bibir Chanyeol tertarik turun membuat bibirnya membentuk sebuah lengkungan tak sempurna, bibir bawahnya mencuat sedikit dari tempatnya. “Begitukah? Tetapi aku tidak pernah merasa kita sedang bermusuhan selama ini.”

“Oh ya?” suara Sydney agak meninggi, mulai tersulut emosi. “Lalu kenapa kau meminta maaf?”

“Karena aku penyebab kau bermusuhan dengan perasaanmu sendiri. Kalau saat itu aku tak sengaja datang dan mengutarakan perasaanku padamu mungkin sekarang ini kalianlah yang menjadi sepasang suami-istri.”

Sydney menyesap kopinya yang asapnya sudah tak lagi menguar. “Semua sudah terjadi. Maafmu percuma. Penyesalanku tak ada guna. Tidak akan mengubah mimpi buruk yang sudah terlanjur menjadi nyata.”

Chanyeol menghempaskan tubuhnya lagi ke belakang dibarengi helaan keras yang keluar dari bibirnya. Hening lagi-lagi tercipta di antara mereka. Keduanya sama-sama sibuk menarik benang kusut pada pikiran masing-masing.

“Kau tahu,” kini giliran Sydney yang memecah bisu, “sesungguhnya aku tidak benar-benar membencimu seperti yang kau kira selama ini.” Sydney mengubah pandanganya dari ampas-ampas kopi yang diaduknya asal ke kedua mata sewarna mahoni milik Chanyeol.

Kedua alis Chanyeol terangkat, meminta Sydney untuk melanjutkan omongannya. “Hanya saja ketika melihatmu aku selalu teringat akan diriku yang pengecut ini. Aku iri denganmu yang berani mengungkapkan perasaan begitu saja tanpa harus memikirkan ini dan itu―”

“Tidak juga,” potong Chanyeol, “selama lima tahun ini kau pikir aku hidup dengan tenang? Aku masih mencarimu, bukan lagi untuk membujukmu membalas perasaanku tapi untuk meminta maaf karena kesengsaraan hidupmu disebabkan olehku dan untuk kita yang tak lagi ‘kita’.”

Kita yang diucapkan Chanyeol bukan lagi terdiri dari dirinya dan Sydney saja. Jongin, Lilliana dan Sehun termasuk di dalamnya.  Kalau saja Chanyeol bisa kembali ke masa lalu ia pasti akan membuat dirinya sewaktu muda babak-belur. Membuat otaknya yang picik kembali suci, membuat bibirnya bungkam. Kalau saja waktu bisa terulang, Chanyeol akan membiarkan Jongin mengungkapkan perasaannya terlebih dahulu dan Chanyeollah yang akan mencuri dengar pernyataan cinta mereka. Bukan sebaliknya.

“Kau masih memiliki satu kesempatan lagi, Sydney.” Sydney bergeming. Ia hanya memandang kosong keluar jendela. Tidak fokus dengan orang-orang yang berlalu-lalang, tidak fokus memandang kendaraan yang lewat dan berharap telinganya tidak juga awas dengan suara Chanyeol, yang sayangnya malah berlaku sebaliknya. “Kau tahu kau bisa mendapatkan kembali Jongin kapan pun kau mau.”

“Dan membuat Lilliana membenciku?” Sydney akhirnya memutar kepalanya untuk menghadap Chanyeol. “Aku tidak ingin dikejar rasa bersalah karena menjadi seorang pengecut untuk kedua kalinya, jadi, tidak. Terima kasih.”

Chanyeol tersenyum timpang. “Kau tidak seharusnya mempertahankan persahabatan kita lagi, Sydney. Persahabatan kita sudah retak sejak tujuh tahun silam, buatlah menjadi lebur sekalian.”

Sydney tak memberi respon yang berarti kecuali helaan nafasnya yang diyakini Chanyeol mulai memberat. “Selalu ada Sehun yang akan menjadi sandaran Lilliana, Sydney.”

“Aku pernah mengharapkannya, Chanyeol. Aku pernah berada pada tempat dimana perceraian mereka adalah kebahagiaan untukku―” Sydney tercekat sesaat ketika bibirnya mengucap kata kebahagiaan, “―tapi tidak sekarang. Bagaimana bisa aku melukai Lilliana yang tidak tahu apa-apa selama ini? Kau bisa bayangkan bagaimana perasaannya jika akhirnya ia tahu bahwa selama ini suaminya tidak benar-benar mencintainya? Terlebih, Sehun tidak akan menyukai ide gila seperti ini, ia lebih rela tersiksa daripada melihat Lilliana terluka,” Sydney memberi jeda pada ucapannya untuk memberi ruang salivanya menerobos tenggorokan, “Aku percaya Jongin akan baik-baik saja berada di samping orang yang mencintainya setulus hati―”

Chanyeol menyela, “Tapi Sehun belum mengetahuinya, Sydney. Ia tidak tahu kalau perasaanmu dengan Jongin berbalas, ia tidak tahu bahwa kau tahu kalau Jongin juga mencintaimu.”

Dari pertemuannya bersama Chanyeol hari ini, Sydney dapat menyimpulkan bahwa  Chanyeol masih sama menggemaskannya dengan Chanyeol yang ia kenal sepuluh tahun silam. Bagaimana ia memberi label jahat terhadap dirinya sendiri padahal dalam kenyataannya ia adalah orang yang baik. Lihatlah bagaimana ia bersikeras menyatukan Sydney dan Jongin kembali untuk menebus rasa bersalahnya di masa lalu.

“Percayalah padaku, Sehun tidak akan setuju dengan ide kotor seperti itu lagipula aku tidak mungkin membiarkan kau patah hati sendirian tanpa memiliki seorang sandaran hati, Chanyeol.”

Chanyeol terkekeh, “Sampah!”

Sydney ikut terkekeh. Ia mengambil satu rokok dari tempatnya dan kemudian menyodorkannya pada Chanyeol. “Rokok?”

Chanyeol mengambil satu, “Sure. Thanks.” Ucapnya dengan memperlihatkan satu batang yang ia ambil bersamaan dengan senyum yang tersungging pada bibirnya.

Sydney balas tersenyum. “Don’t mind.”

Percakapan yang terjadi setelahnya tidak cukup menarik untuk diikuti. Mereka hanya membicarakan hal-hal random seperti apakah rambut guru Matematika mereka masih sama botaknya, kenapa pria yang berada di depan toko itu berdiri sendirian, bagaimana bisa wanita itu memakai sweater di cuaca sepanas ini, kenapa langit begitu biru, kemana perginya awan, apa yang terjadi jika pohon di depan toko itu roboh, sampai pada kelakar yang membuat tawa mereka membelah hari, menggantinya menjadi pagi.

Don’t you think we were wretch?

Sydney mengedikkan kepalanya ragu. “No,” ucapnya, “but we are,” lanjutnya. Tawa menyambut setelahnya, diikuti obrolan tentang hal-hal absurd lainnya.

.to be continued

Author’s note:

1. Udah tahu alesannya ya kenapa Sydney—Chanyeol nggak muncul di part kemaren karena emang udah ada rencana bikinin mereka part khusus. Fufufu. Dan aku udah ngasih banyak banget hint di sini, harusnya di sini udah jelas masalah mereka apaan sih.

2. Mungkin rasanya nggak adil bagi yang kemaren struggle tanya password tapi part ini nggak di password padahal part ini banyak hintnya, tapi minggu ini bakal nggak banyak waktu buat balesin email jadi aku putuskan buat nggak dipassword aja. Pertimbangan kedua, karena isinya aman, jadi yaudah sekali-sekali nggak dipassword nggakpapa ya. Ntar kalo ada bahasan yang lebih kompleks lagi bakal di password lagi kok.

3. Kritik dan saran selalu diterima dengan tangan terbuka.

4. Thank you very kamxxa❤

 

 

68 responses to “#4 Time Capsule: Wretch

  1. Baru nemu chap 4 nya wkwkwk Udah lah, si sydney sama chanyeol ajaa.. Ayo sydney, buka hatimuu, bukalah sdkt untuk chanyeol wkwkwk biarkan sehun aja yg sendirian😀 Melihat masalah jongin – sydney saling suka tapi ga jadian itu tuh rasanya nyesek banget, kesel, gemes, knp jongin milih ga nyatain perasaannya juga.. Kesel tapi seru, nebak nebak si sydney nanti jadiannya sama salah satu dari mereka atau malah ada orng baru.. Next chap lah🙂

  2. Gk tahu kenapa part yg ini jdi fav aku deh,
    ohh chan kau baik sekali sih, merelakan sydney biar dia bisa sama si kamjong, jadi ternyata oh ternyata sydney pun tahu kalo kai punya perasaan yg sama dengannya cuma sehun dn liliana yg belum tpi kenapa jong lebih memih liliana ? Apa spya krna gk nyaktin ceye ? Intinya sih biang kerok disini chanyeol tpi chanyeol mau memperbaiki sekaligus meleburkan persahabatn mereka yg udah retak katanya tpi menurutku gk usah dh chan terlalu ribet tpi kalo iya kamunya sama aku aja *abaikan

    aaaaa kk ajeng aku suka banget semua dialognya sydney ama chan terutama bang ceye, bkin klepek” dn penuh empati akunya, yg jelas mau sydney ama jongin atau sama chanyeol ttap ada satu orang yg gk punya pasangan, pilih mana kk jeng satu orng gk punya pasangan atau tiga orng yg jdi jones kecuali ada cast tambahan sih hhehe,
    aku tunggu pokoknya dn penasaran emang hadiah dri jongin yg buat liliana tp dikasih sydney itu apa yh sampe” sydneynya nangis😀
    ganbatte kk

  3. Aku udah komen belum sih?kayanya belum
    yah sebenernya rada bingung sama pembicaraan chanyeol & sydney aku terlalu polos qaqa *polos apa bego?*
    pokoknya terus lanjut oke!

  4. oh gua salah. teryata bukan masalah keluarga wkwk… teryata penyebab gak bersatunya jongin sama sydney adalah chanyeol yang ngungkapin perasaannya ke sydney yang dipergokin sama jongin. ekwkwkw… jonginnya aja goblog nguping kok setengah setengah 😝

  5. wihh jongin ternyata suka sydney… ngerasa kasihan banget sama Chanyeol dan Sehun di ff ini.
    oke thor ditunggu kelanjutannya yaa…

  6. hm jadi ceritanya dulu jongin kalah start sama chanyeol, jadinya jongin mundur dan berakhir sama liliana dengan tetap menyimpan rasa buat sydney bahkan sampai sekarang.
    dan oh chanyeool, segitu relanya yaa patah hati sendirian kali ini karna masih merasa bersalah atas dulu2an menyatakan perasaan dulu. lagipula siapa yg tau juga kan kalo ternyata jongin ternyata suka sama sydney. hmmmm
    yaahh kenyataannya mereka sama2 berkorban untuk yang lain, karna keadaan dan ketidaktauan.
    hhhhh, inilah yaa resiko yang terkadang muncul dalam sebuah persahabatn atara laki2 dan perempuan.

  7. Jadi tadinya jongin mau nyatain tapi gegara chanyeol juga suka akhirnya jongin milih ngalah ya (bener ga si ?) Wkkwwk, duh chanyeol satuin lgi dong merekanya kwkwkwkw

  8. uuuuu kak ajeng kan kan kan bener jonginku aaaaaaa!!!
    makin greget aku sumpah deh aduhhhh..jadi chanyeol yang sebenarnya tau semua gitu kakk? uh astaga idenya. chanyeol sm aku ajalah kak sini sandaran ikhlas bgt kok aku kakk kalo dia mau bersandar padaku hahahaha

  9. aku lompat part loh , jadi jongin juga punya perasaan sama si sydney? dan sehun gatau uh kukira sydney dan sehun senasib (?) tapi keknya nasib sydney lebih bagus, cy lumayan baik disini soalnya pas aku baca di part 1 dia bad as hell! dan kata kata cy “Kau tidak seharusnya mempertahankan persahabatan kita lagi, Sydney. Persahabatan kita sudah retak sejak tujuh tahun silam, buatlah menjadi lebur sekalian.” gila nusuk bgt!! okay see u!

  10. Tapi Chanyeol~ sekarang Sehun sudah mengetahui kalau Jongin mebalas perasaan Sydney :’D Nah loh makin kompleks aja.. Masing-masing dari mereka kayanya punya seauatu yg tidak bisa diungkapkan. Aku inginnya Sydney balikan sama Jongin, tp aku kasian juga sama Chanyeol. Biarlah apa kata Sydney. dia nemenin Chanyeol juga yang ga punya sandaran hati :’)

  11. Oh jadi sebenarnya Jonginyg duluan ngungkapin perasaannya ke Sydney tapi keburu Chanyeol yg dtg pertama terus ngungkapin perasaannya. Gua gak bisa bayangin bagaimana klu jongin yg pertama ngungkapin perasaannya pasti gak seru deh:3
    Btw ntar bagaimana si Liliana apalagi soal tulisan surat yg dibuat Jongin utk Sydney klu sebenarnya Jongin cinta sama Sydney?:3

    Berharap sih endingnya ntar Sydney sadar akan perasaannya jika mungkin dia suka sama Chanyeol. Dan Jongin membalas cinta liliana yg mencintainya dgn tulus😘

    Next ya eonni!!! Fighting!!❤️

  12. aku mulai paham,jadi Jongin emang punya perasaan ke Sydney,duh bikin gemes ini ceritanya
    Jadi Sehun sm Lilliana 2 orang yg gk tau kalo si Jongin ada rasa ke Sydney

    Kalimatnya Chanyeol ughh ngena banget “buatlah menjadi lebur sekalian”

  13. Tuhkan bener si Jongin emang cinta sama Sydney. Jadinya Jongin mundur perlahan-lahan waktu tau si Chanyeol lagi nyatain cinta ke Sydney, ya? Tapi mereka saling cinta, huhu. Chanyeolnya rela ngorbanin cintanya ke Sydney buat nebus rasa bersalah, huhu. terus Sehun belum tahu kalo si Jongin cinta sama Sydney, ya? Bagus, kak ceritanya. Semangat nulis, ya!

  14. Wahhhh kerennnnn banget.jadi Sidney suka sama jonggin dan sehun menyukai Liliana.sama”menyukai orang yg udah beristri.makin penasaran nih D tunggu next chapter nya fighting🙋🙋

  15. Hufftt persahabatan dan cinta, mungkin hal ini g akan bisa berjalan beriringan selamanya. Apalagi persahabatan antara pria dan wanita. Mustahil kalo g akan muncul benih2 cinta antara mereka. Tapi itu semua tergantung dari individu masing2 dan bagaimana cara berpikir mereka untuk menjalaninya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s