[Freelance] Close as strangers (Chapter 1)

close as strangers

Title: Close as strangers [Chapter 1]

 

Author: Kookiecchi|

 

Cast: Diva kwon (OC), Jungkook, Jin|

 

Other Cast: Sehun, Wendy, Naeun|

 

Genre: Romance, Family, Hurt|

 

Rated: PG-15|

***

 

“BRANDAL!!!”

“Mau jadi apa kamu ini”

“Bersihkan gedung olahraga”

 

Ketiga guru BK bergantian mengomeli ku, kata-kata yang mereka lontarkan selalu sama, membuatku bosan saja. Hanya karena membolos kelas matematika 3 minggu berturut-turut, mengharuskanku untuk berurusan dengan BK lagi. Yah…sepertinya namaku sudah ada di daftar hitam sekolah ini, “Diva yang tak punya rasa takut”, Entah darimana julukan itu berasal, sebagian orang mungkin setuju dengan julukan itu, tapi menurutku itu salah. “Aku ini juga seorang siswa, sama seperti yang lainnya, jadi mana mungkin aku tak mengkhawatirkan nilaiku”.

 

Diva anak seorang pebisnis yang memiliki saham di berbagai perusahaan besar mendapatkan nilai akhir terbaik disekolahnya. Ia memutuskan untuk mendaftar ke salah satu SMP terkenal di Seoul. Sekolah yang sama dengan seniornya sewaktu sekolah dasar yaitu Ken, Ken juga masuk dalam deretan senpai tereksis di SMP tersebut. Tampang Ken yang sempurna ditambah dengan keahliannya di bidang bahasa asing dan basket membuat Diva merasakan secuil keindahan cinta.

 

Aku terus memandangi Ken senpai yang sedang bermain basket dari lantai 2 gedung kesenian. Ku abadikan moment ini melalui goresan pensil diatas sebuah sketch book yang telah penuh dengan sketsa wajah seseorang, Ya… itu wajah Ken senpai. Segera ku tutup sketch book ku ketika kudengar seseorang memasuki ruang kesenian.

 

“Ya… gadis bodoh”

“Ahh… Jane, kau mengagetkanku saja”

“Dasar bodoh, sudah berapa tahun kau memperhatikannya? “

“5 tahun”

“Dan tak ada yang mengetahuinya?”

“Kau tau kan, aku tak punya cukup keberanian”

“Yah… yang aku tau kau benar-benar bodoh”

 

Ku abaikan Jane yang tengah mengoceh mengomeliku, sorot mataku berpindah fokus memandangi Ken yang sedang beristirahat dengan keringat yang bercucuran di wajahnya, ingin rasanya menjadi seseorang yang mampu menghapus keringatnya, menghapus laranya. Tatapan Ken yang teduh mampu membuat hati yang mendidih sekalipun menjadi tenang dan setelah itu senyumnya yang tipis akan membuatmu terpanah dengannya.

 

Ku bulatkan mataku ketika melihat seorang gadis mendekati Ken dan menghapus keringatnya. Ku lihat pula tatapan Ken, tatapan yang berbeda dari biasanya, terlukis juga sebuah senyuman yang tampak bebas mengambang, seperti suasana hati yang begitu gembira hingga tak dapat dijelaskan dengan kata-kata. Ken memang dekat dengan banyak gadis, namun hanya ke arah wanita itu tatapannya berbeda.

 

Entah mengapa hatiku terasa sangat sesak, belum pernah sesesak ini sebelumnya, terasa seperti tercabik-cabik. Memiliki Ayah yang selalu sibuk dengan pekerjaannya dan ibu yang tega meninggalkan keluarga demi kesenangannya saja, memang tak adil, namun itulah dunia, tak ada keadilan. Mungkin Ken senpai adalah alasanku untuk hidup satu-satunya, namun sekarang aku rasa alasanku untuk hidup telah sirna. “Mungkin aku memang ditakdirkan untuk tak pernah bahagia”.

 

Ku coba untuk tetap tegar, namun rasa sesak dihatiku sudah melewati batasku. Mataku memerah menahan air mata yang siap terguyur sebentar lagi. “Semua hal yang ku lakukan selama ini sia-sia? Aku mencoba melakukan segalanya agar dia melihat ke arahku walau hanya sekali saja, setidaknya agar dia menyadari keberadaanku selama ini, dan pada akhirnya dia tak akan pernah menganggapku ada”.

 

“Ya…gadis bodoh, selalu menahan perasaanmu”

“Hah? Apa maksudmu?”

“Jika kau ingin menangis, menangislah”

“Aku baik-baik saja”

“Mungkin kau bisa membodohi orang lain, tapi tidak denganku”

“J…Jane”

“Mungkin kau malu untuk menangis, jadi…Aku akan membiarkanmu sendiri”

 

Sahabatku yang paling menjengkelkan itu terus dan mampu memberikan semangat untuk diriku yang bodoh ini. Ketika semua orang menganggap diriku genius karena nilaiku yang sempurna di berbagai pelajaran, hanya Jane yang menyebutku bodoh, mungkin sekarang aku mengerti mengapa dia menyebutku bodoh. Dia benar, “aku bodoh karena menyembunyikan perasaanku selama 5 tahun dan hanya menginginkan Ken menyadari keberadaanku, jika aku ingin membuat Ken menyadari perasaanku, harus berapa lama lagi aku menunggu?

 

Air mataku menetes menelusuri pipiku, inikah yang dinamakan perasaan cemburu? Aku memang tak berhak untuk marah, tapi terasa begitu sesak hingga ingin mati rasanya. Walau aku tau jika aku tak akan pernah menyebut dia menjadi “milikku” dan hanya memperhatikannya dari kejauhan, aku rasa itu sudah cukup bagiku. Sosok senior yang ku kagumi selama ini, haruskah aku melupakannya?

 

Entah sampai kapan pun aku mencoba, aku tak akan bisa untuk melupakan Ken, bagaimana pun juga dia adalah satu-satunya orang yang mengisi hatiku, tak peduli jika hatiku harus merasakan sakit seperti ini, aku hanya perlu mengabaikannya dan akan terus menatap kearahmu sambil menyimpan harapan kecil agar kau berbalik menatapku juga, walau aku tau itu tak akan terjadi, setidaknya biarkan harapan itu terkunci didalam hatiku.

 

 

Aku berlari meninggalkan ruang kesenian dan dengan cepat menghapus air mataku, lalu mengubahnya menjadi sebuah senyuman kebohongan ketika menyadari Ken senpai yang sedang bermain basket melirik kearah ku dan tiba-tiba sebuah bola basket mendarat tepat dihadapanku.

 

“Hei…tolong ambilkan bola di depanmu”

“Ah…Ini”

“Thanks ya”

 

Aku berbicara pada Ken senpai, ini seperti mimpi, mimpiku yang kusimpan dalam-dalam karena aku tau mimpi itu tak akan terwujud namun sekarang, mimpi itu terjadi, ini nyata. Aku terlalu takut untuk bermimpi tinggi karena aku tak sanggup menahan rasa sakit yang kudapatkan ketika terjatuh, tapi karena Ken senpai aku belajar untuk mengabaikan rasa sakitku, “walau hatiku hancur sekalipun aku akan tetap mencintainya dengan serpihan hatiku yang masih tersisa”.

 

Rasa cintaku pada Ken senpai sudah tak bisa ku bendung, jika aku menunggu sampai dirinya menyadari perasaanku, mungkin sampai hari kelulusan dia tak akan mengetahuinya”.

 

 

Ku beranikan diriku untuk memberikan sepucuk surat pada Ken senpai yang berada di gedung olahraga karena kegiatan club basketnya yang belum selesai. Ku intip kegiatan mereka melalui celah pintu yang sedikit terbuka, terdengar pula teriakan para siswi wanita yang menyorakkan nama Ken senpai. Rasa gerogi menyelimuti tubuhku, ingin ku luluhkan niatku untuk memberikan surat pada Ken senpai, tapi hatiku berkata sebaliknya. Ku yakinkan langkahku menuju Ken senpai yang sedang beristirahat.

 

“Eum…senpai aku ingin memberimu ini”

“Apa ini?”

“Kau bisa membacanya sendiri”

 

Aku tak percaya kalau aku akhirnya melakukan ini, berbicara langsung dengan Ken senpai lagi, rasanya seperti mimpi. “Suaranya, tatapannya, semuanya sempurna, Ya tuhan…siapa pun yang dapat memilikinya akan menjadi orang terbahagia didunia”, pikirku.  Aku masih memandangi Ken senpai dari kejauhan, hingga tak sengaja kudengar percakapannya dengan seorang lelaki.

 

“Whaa…surat lagi Ken? Kau sudah 5 kali mendapatkannya hari ini”

“Bukan urusanmu”

“Dan pada akhirnya surat itu akan berakhir di tempat sampah, sama seperti surat sebelumnya bukan?”

“Tidak”

 

Senyumanku tak dapat kusembunyikan, mungkin hati ku akan meledak. Setidaknya nasibku lebih beruntung daripada wanita yang lain. Aku tak sabar menunggu besok, bertemu dengan Ken senpai di aula berdua, lalu mengungkapkan isi hatiku selama ini, walaupun jika akhirnya tak sesuai dengan apa yang ku inginkan, aku akan tetap bersyukur karena aku dapat mengenalmu.

 

 

Ku buka perlahan pintu aula yang tertutup rapat, ku lihat Ken senpai telah tiba terlebih dahulu disana. Entah mengapa aku segugup ini, terlihat jelas dari raut wajah Ken yang nampak kebingungan dengan diriku yang sudah terlanjur salah tingkah duluan. Suasana menjadi sangat canggung ketika aku berdiri tepat dihadapan Ken, suasana sempat hening sejenak, hingga suara ken mampu mencairkan suasana.

 

“Apa yang ingin kau bicarakan?”

“Eum…besok adalah hari kelulusan, jadi aku tak akan bisa melihatmu lagi”

“Ya, aku tau itu”

“Jadi, aku ingin memberitahumu perasaanku selama ini”

“Maksudmu?”

“Ken senpai, sebenarnya sejak pertama kali aku melihatmu, kau sudah berhasil mendapatkan hatiku dan aku sudah 5 tahun mencintaimu dan selama itu pula, aku hanya dapat memandangmu dari jauh karena aku tak memiliki keberanian untuk mengatakannya padamu, namun sekarang aku mengerti jika aku tak mengatakannya, maka aku akan menyesal seumur hidupku, aku melakukan semua cara agar kau dapat melihat kearahku”

“Sekarang berapa umurmu? ”

“13 tahun”

“Aku rasa kau masih terlalu muda untuk merasakan yang namanya cinta”

“Tapi…Kau tak tau, kalau ini cinta pertamaku”

“Aku tau…tapi ga ada yang bisa dipaksakan

 

Terdengar seseorang yang membuka pintu aula, orang ini… aku ingat siapa dirinya, seorang gadis yang menghapus keringat Ken saat itu. Chelsea, begitu beruntungnya dia dapat berada didekat Ken kapan pun. Kata-kata yang keluar dari mulut gadis ini membuatku begitu terkejut.

 

“Sayang…kamu ngapain disini?”

“Hah? Sayang? Senpai… apa kau dan wanita ini berpacaran?”

“Eum…”

“Tapi…sejak kapan?”

“Minggu lalu”

Senpai…aku mohon lupakan yang aku katakana tadi, itu hanya omong kosong”

 

Air mataku kembali menetes, kali ini tak dapat ku sembunyikan. Rasa sakit yang selama ini ku abaikan seolah mengiris hatiku dan ini puncaknya. “Kau tau senpai, mencintaimu selama 5 tahun itu tak mudah, karena mencintaimu itu selembut awan namun setajam pisau, dan aku mengabaikan semua itu, selama ini aku hanya merasakan kelembutan cintamu, namun kini aku tau setajam apa pisau itu”, ucap ku, lalu berlari meninggalkan aula dengan langkah gontai dan air mata yang terus berlinang.

 

 

Hari kelulusan akhirnya tiba juga, hari yang paling ku benci karena setelah hari ini berlalu, aku tak akan melihat Ken lagi, namun tak bisa kubayangkan jika aku harus bertemu dengannya lagi. Kulihat banyak siswi berfoto dengan para senpai sebagai kenang-kenangan sebelum mereka menginggalkan sekolah ini. Mata ku tak sengaja menatap kearah Ken, kulihat begitu banyak siswi yang berfoto dengannya, tersimpan sedikit rasa iri dihatiku karena pada akhirnya tetap saja aku hanya dapat memandangnya dari kejauhan.

 

“Divv…ini hari terakhir lo bisa ngeliat doi”

“Ugh Jane, lo ngagetin gua ae, emang kenapa?”

“Lo ga mau foto bareng Ken?”

“Lo lupa? Kemaren doi baru nolak gua”

“Ahh…ya maap”

“Udah ah, lo pergi sono”

“Oh…ywdh padahal gua bawain lo surat dari Ken senpai

“Ehh…elunya pergi, suratnya tinggal”

“Kampret lo, oke dah gua tinggalin diatas sketch book lu”

“Makasih loh”

 

Surat dari Ken, aku tak mengira dirinya akan memberiku sebuah surat. Perlahan ku buka surat dari Ken, tanganku bergetar ketika membacanya, “Jadi…namamu Diva, Apa kau sedang mabuk ketika kau mengungkapkan perasaanmu padaku? Kau hanya bermimpi jika kau mengira aku akan menanggapi perasaanmu, dan soal kau telah mencintaiku selama 5 tahun, sebenarnya aku sudah tau jika kau telah menyukai ku selama 5 tahun, asal kau tahu, aku tak pernah memintamu untuk mencintaiku”. Kau jahat Ken, benar-benar jahat, aku tak habis pikir kau akan mengatakan hal seperti ini.

 

Emosiku bercampur menjadi satu, perasaan sesak, marah dan benci bercampur aduk. Kubanting pintu ruang kesenian dan segera menuju lapangan untuk menyusul Ken. Ku tatap tajam matanya yang melirik sinis kearah ku, tanpa berpikir panjang tanganku sudah terlebih dahulu mendarat kasar di pipi Ken senpai. “Kau…apa yang sebenarnya ingin kau lihat? Terkadang, ucapan yang keluar dari mulut mu itu sangat menyakiti hatiku”, ungkapku, lalu pergi meninggalkan Ken yang masih terheran-heran.

 

 

 

Mulai saat itu perasaan cintaku pada Ken berubah menjadi rasa benci yang mendalam, tapi kejadian itu telah berlangsung 2 tahun yang lalu. Tanpa kusadari karena Ken, aku berubah menjadi monster yang tak memiliki perasaan, tak memiliki rasa takut. Melanggar peraturan sekolah, membolos dan mendapatkan nilai jelek sudah tak asing bagiku, walau begitu pihak sekolah tak akan berani memberi sanksi yang berat bagiku karena ayah merupakan salah satu penyumbang dana terbesar disekolah ini.

 

Ayah memang tak pernah mempedulikanku, Ia lebih mementingkan pekerjaannya, menurutnya uang adalah segalanya. Aku tak pernah mengharapkan hartanya, aku hanya ingin perhatiannya. Selama ini aku belajar siang malam untuk menjadi yang terbaik dan membanggakannya, namun kini aku ingin diperhatikan olehnya, maka dari itu aku memilih untuk menjadi penyebab onar di sekolah, agar guru BK menelpon dan memanggil ayah.

 

Aku dibuat ayah tak habis pikir ketika guru BK menunggu kehadirannya, namun tak ku lihat sosok yang tampak gagah dengan kacamata dan jas hitam, melainkan seorang ahjuma dengan make up yang menor untuk mewakili ayah. “Cukup…ayah kira ini sebuah permainan, mengirimkan seorang ahjuma aneh sebagai waliku, dia hanya membuatku malu, sampaikan perkataanku ini pada ayah”, ungkapku pada ahjuma itu dan beranjak meninggalkan ruang BK, namun salah satu guru menahanku.

 

“Apa kau tak punya tata krama?”

“Siapa kau berani mengurusi hidupku?”

“Kau sungguh tak sopan memanggil sensei mu dengan sebutan “kau””

“Hah…apa peduliku”

“Kau sungguh tak sopan, apa orang tuamu tak pernah mengajarimu sopan santun?”

“Jika tidak lalu kenapa?”

“Apa kau bercanda? Semua orang tua akan mengajarkan anaknya sopan santun”

“Tapi tidak denganku, mulai sekarang keberadaanmu disekolah ini akan terancam sensei

 

Yah…sekarang, begitulah diriku, tak memiliki perasaan dan rasa iba pada orang lain. Memberhentikan para sensei yang tak kusukai, mengucilkan murid yang berani menentangku, ditambah perkataanku yang tajam mungkin mampu menyayat dan menyisakan luka permanen di hati mereka. “Memang seorang monster yang hinggap di raga gadis berwajah kosong tanpa ekspresi”, salah satu sensei pernah mengatakan hal keji seperti itu padaku, tapi dia melupakan satu hal yang sangat penting, siapapun yang mencoba membuatku menderita, aku akan membalasnya berpuluh kali lipat.

 

9 responses to “[Freelance] Close as strangers (Chapter 1)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s