[Freelance] REMINISCENE

CKrZhgOUsAAQJ5a-1

REMINISCENE

Tittle : Reminiscene

Author : re98hoon [RE]

Main cast by Oh Sehun (Hoon) & OC

Genre : Angst

Rating : G

Length : Oneshot

 

 

Teori relativas khusus dengan dilatasi waktunya, ‘Waktu yang dirasakan orang yang diam lebih lama daripada orang yang pergi.’

 

###

 

 

Aku tak tahu harus dimulai dari mana, banyak kenangan ditempat ini. Di sini, disebuah café dekat Sungai Han.  Dulu, aku bersamanya sering menghabiskan waktu ditempat ini. Aku sampai tidak ingat sudah berapa banyak sekon waktu yang aku habiskan bersamanya. Bukan hanya tempat ini yang menjadi kenangan, aku dan dirinya sering bermain basket di dekat sungai Han. Sungai Han yang menakjubkan, Sungai Han yang penuh kenangan.

“Nona…”

“Iya?”

“Capucino pesanan anda sudah siap, bel sudah berbunyi dari tadi tapi anda tidak mendengarkannya.”

“Oh, maaf mungkin saya terlalu banyak melamun,” aku hanya bisa tersenyum kikuk kepada pelayan café itu.

“Kalau begitu saya permisi dulu.”

Suasana yang sama dengan aroma kopi yang menyeruak diseluruh ruangan. Semenjak ia pergi meninggalkanku tanpa kabar yang jelas mungkin ini adalah kunjunganku yang ke 100 lebih. Menunggu, menunggu sesuatu yang tidak pasti.

“Yeon?” Aku menengok kearah suara yang yang memanggilku. Suara itu, hanya akan membuatku tersenyum kecut.

“Yeon, apa kau tidak mendengarku. Jung Yeon-a?”

“Aku sangat mendengarkanmu, tanpa aku melihatpun aku tahu itu suaramu. Kau masih sama saja Hoon. Seperti dulu.”

“Sudah berapa lama, Yeon?”

“Tujuh ratus tiga puluh hari yang lalu.”

“Terlalu sebentar kedengarannya.”

“Baiklah, enam puluh juta sekian ratus ribu sekon?”

“Itu terdengar lebih baik.”

Hoon, laki-laki itu tersenyum. Perlahan merobohkan diri, duduk disebelahku. Udara dan terik membuat anak rambutnya bergerak tak teratur, berkilau ditempa cahaya matahari pukul dua. Aku meliriknya sekilas, lima detik , sebelum dia menyadarinya dan akhirnya aku membuang muka.

“Tidakkah ingin tanya hal lain?

“Semacam?”

“Tidak ingin tahu bagaimana kabarku?”

Aku mendengus, mengguman lirih tanpa suara, menyumpah-nyumpah. Setelah sekian lama ia menghilang lalu menurutnya sekarang aku tak perlu canggung untuk menanyai bagaimana kabarnya. Bodoh.

“Untuk apa? Sekarang kamu disini, untuk apa aku menanyakan kabarmu. Hari ini setelah sekian lama tidak melihatmu, kau terlihat jauh lebih baik sekarang.” Jawabku basa-basi, mengendikan bahu.

“Begitu ya?” ujarnya setengah tertawa, “Baiklah kalau kamu tak ingin bertanya. Kamu, apa kabar? Baik-baik saja, kan?”

Aku tidak punya pilihan lain selain menjawab ‘iya’ dengan anggukan kecil.

“Yeon, kamu membenciku?”

Aku tertengun. Sepontan menghadapkan wajah kearahnya. Dia masih menatapku dengan sorot muka yang tidak kumengerti. Ada gesture lembut saat dia menatapku. Aku dibuat luluh, sarkatisku mencair.

“Kenapa bertanya begitu?”

“Siapa tahu?”

Aku ingin berteriak ditelinganya keras-keras. Memakinya dengan kata ‘bodoh!’ berkali-kali,  haruskah dia bertanya seperti itu? Mengintrogasiku dengan pertanyaan itu? Terlalu retoris. Karena dia pasti sudah pasti tahu bahwa bagiku membencinya adalah sesuatu hal yang mustahil kulakukan tanpa alasan.

“Apa menurutmu aku meninggalkanmu tanpa kabar?”

“Tidak.” Jawabku sambil tersenyum, dia hanya menyrengitkan dahi.

“…..”

“Gimana kuliahmu di sana?” aku bertanya padanya untuk mengalihkan topic basinya. Mencairkan suasana.

So far so good. Kamu sendiri yang bilang, kan? Aku terlihat jauh lebih baik sekarang.”

“Tinggal di sana pasti menyenangkan?”

Dia menggendikkan bahu, tersenyum kecil. “Tidak jauh berbeda dengan di sini.”

“Begitu ya? Kupikir lebih menyenangkan disana.”

Ia, laki-laki itu tersenyum. Ada hela nafas berat yang mati-matian ia tahan untuk dihembuskan. Sedangkan aku di sebelahnya sudah lebih dulu dibuatnya membisu. Urung melanjutkan kalimatku.

“Aku minta maaf karena tidak berusaha menghubungimu.”

“Terlalu berlebihan,” aku berusaha tertawa, menyorot satir wajah bersalahnya, “Lagi pula kenapa harus menghubungiku? Ada hal lain yang lebih penting untuk kau lakukan, bukan?”

Dia menatapku canggung, merenung. “Aku bisa menjelaskan kenapa aku tidak memberimu kabar waktu itu,”

“Tidak perlu,” aku menggeleng tersenyum menatapnya, “Aku tahu di sana kamu punya hal yang lebih penting untuk kau lakukan, jadi tidak perlu kamu menjelaskan. Buang waktu.”

“Apa kau yakin?”

“Buat apa aku tidak yakin?”

“Baiklah jika itu maumu,” dia tersenyum lemah. Kecewa.

Kami terdiam melihat pemandangan Sungai Han disore hari. Sebentar, maksudku ‘Aku’ dan ‘Dia’ terdiam melihat pemandangan Sungai Han disore hari. Sesuatu yang lama tidak pernah ‘aku’ dan ‘dia’ lakukan. Dalam hatiku aku merindukan hal ini. Hal kecil yang selalu ada dalam kenangan. Bahkan jika aku boleh meminta lebih, aku ingin bersepeda di pinggiran sungai atau bermain basket bersamanya seperti dulu. Sepertinya hal ini harus kupendam dulu.

“Hoon, pukul berapa sekarang?”

“Baru pukul tiga lebih sebelas, kenapa?”

“Diamlah, biarkan seperti ini sebentar.”

“….” Dia hanya terdiam  mengangguk paham. Apa dia juga memikirkan hal yang sama? Entahlah.

Angin dimusim gugur kembali menunjukkan hembusan khasnya. Daun-daun yang menguning mulai berguguran kembali. Aku menyeruput kopiku yang sudah dingin.

“Hoon, pukul berapa sekarang?”

“Sudah lebih dari dua puluh menit sejak kamu menanyakan yang pertama.”

“Oh, …” aku menunduk dan menatapnya kembali, “Hoon, biarkan tiga menit seperti ini.”

Dia, pria yang kupanggil Hoon, menatapku. Dia hanya terdiam, dia paham apa yang kumaksud. Kubiarkan seperti ini, dia menatapku begitupun denganku. Aku ingin melihat kejujuran dari sorot matanya. Angin musim gugur kembali berhembus, aroma kopi kembali menyeruak di seluruh ruangan. Dunia terasa berputar kembali kemasa itu, masa dimana aku dan dia bersama, orang-orang seperti hilang satu persatu.

“Cukup.” Kataku cukup membuatnya kaget.

“Masih kurang 15 detik untuk tiga menitmu itu.”

“Lima belas detik? Cukup untuk berkata-kata.” Aku mencoba untuk tertawa lagi.

Lima belas  detik masih tersisa, sungguh waktu yang terlalu cepat, andai bisa menghentikan waktu seperti Do Minjoon dalam drama Korea. Apa hanya aku yang merasakan waktu terlalu cepat untuk keadaan ini? Lima belas detik yang seharusnya ku manfaatkan sebaik mungkin.

Dia melihat arlojinya, “Lima detik  lagi. Kenapa masih belum berkata-kata?”

Aku berdiri sebagai jawaban atas pertanyaannya.

“Mau pergi kemana?”

“Kamu bisa bertanya dua tahun lagi, dan saat itu aku akan meminta maaf kepadamu karena aku tidak berusaha menghubungimu setelah ini.”

Dia terdiam. Kata-kataku terdengar seperti petir disiang bolong. Dalam hatiku aku bersorak. Ini bukanlah pembalasan, hanya saja soal bagaimana aku harus bersikap normal.

Dua tahun lalu, ia pergi, tanpa permisi. Kemudian datang kembali dalam skala waktu yang tidak pernah terprediksi. Dua tahun yang lalu, aku juga menunggu dengan debar yang sama. Untuk kemudian mengerti bahwa menunggu seseorang yang tidak berniat datang adalah kesia-sianya yang paling bodoh. Dari hal ini, bahwa hukum fisika dari teori relativas dengan dilatasi waktunya memang benar adanya, ‘Waktu yang dirasakan orang yang diam lebih lama daripada orang yang pergi.’

Maka kali ini, dengan alasan yang tidak pernah dia katakan atas kepergiannya, aku melakukan hal yang sama. Meski berat, meski tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Aku tidak tahu ini berat bagiku, tapi aku tidak tahu bagaimana dengannya. Apakah dia akan menungguku, seperti yang kulakukan dulu? Who knows. Aku tahu dia tidak akan melakukan hal bodoh yang pernah kulakukan, setidaknya dia tahu aku ‘pernah’ menunggunya.

Jika dia bisa memilih datang dan pergi pada saat kapanpun dia mau. Lalu kenapa aku harus memilih tetap tinggal, dan menunggu?

-FIN-

Jika mau lihat Fanfic yang lain bisa cek :

[FF Saeguk] The Moon in Sungkyunkwan || We Never Know

Masih dalam proses melanjutkan tapinya >,<

Note : Sebenernya ini salah satu tugas kuliahku kemaren baru aja dikumpul. Jadilah seperti ini, ya nggak tau motivasi apa pengen post aja. Kritik dan sarannya ditunggu. Thank you hihihi

 

10 responses to “[Freelance] REMINISCENE

  1. suka sama ffnya … ini gak ada sequelnya thor …. ??
    pengen tau kelanjutan mereka 2 tahun lagi ?? nice … fighting

  2. keren niiih kak.. Jung Yeon juga bisa ngelakuin hal yg sama kaya Hoon 2 tahun lalu. apa Hoon juga nunggu sama halnya dengan Jung Yeon???
    klo bisa ya kak… sequel doong😚😉 wkwkwkwk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s