[Freelance] AUTUMN TO SPRING (Chapter 2)

redo

AUTUMN TO SPRING Chapter II

Title : Autumn to Spring

Author : re98hoon [RE]

Main Cast by

Oh Yoon Ji (OC)||Xi Luhan|| Kim Jong In||Kim Minseok||Oh Sehun||Park Hyesung (OC)

 

Genre : Hurt, university/School Life, Romance, family, sad

Rating : G

Length : Chapter

Poster by Lightlogy @IFA (Thanks for amazing poster)

 

All story is mine ^^

 

Sebelumnya >> Chapter I

 

“Yoonji-ya, kau masih dirumah?”

 

“Ne, eomma. Minseok oppa belum juga datang menjemputku. Seharusnya 1 Jam lalu dia sampai disini, mungkin dia terkena macet.”

 

Wanita paruh baya itu mengelus rambut putrinya, “Mungkin sebentar lagi sampai.”

 

“Ah, sebentar eomma ada telepon. Mungkin Minseok.”

 

“Angkatlah.”

 

“Yeboseyo…”

 

“….”

 

“Mwo?! Apa anda bercanda?”

 

“….”

 

“Tidak mungkin.”

 

“Yoonji ya, ada apa?” wanita paruh baya itu, khawatir melihat putrinya tampak puncak dan air mata gadis itu mulai menganak sungai. Nyonya Oh lansung menyambar ponsel Yoonji.

 

“Yeboseyo… Bisa anda beritahu ada apa sebenarnya?”

 

“….”

 

“Dimana?”

 

“….”

 

“Kami akan kesana.”

 

“….” Sambungan terputus.

 

“Yoonji-ya. Semua akan baik-baik saja.” Nyonya oh menyakinkan anak  pertamanya. “Kajja, kita akan kesana. Semoga kemungkinan terburuk tidak terjadi.”

 

Chapter 2 [Happy Reading]

 

Jeju Islands (13.00 KST)

 

Semilir angin khas berhembus pelan menyapu helaian rambut seorang pria, Xi Luhan pria itu kini tengah berdiri di hamparan ladang bunga dengan koper yang mendampinginya.

 

“Mungkin 1 tahun disini tidak buruk.” Dia berbicara pada dirinya.

Dia melanjutkan perjalannya menuju tempat tujuannya, sebuah desa di pelosok Jeju. Melewati jalan setapak dengan ladang bunga dikanan kirinya.

 

Luhan merasa ragu akan jalan yang dilewatinya karena jalan yang dilewati hanya hamparan ladang bunga dan jeruk. Dia memutuskan untuk bertanya pada seorang petani yang ia jumpai.

 

“Permisi, apa benar ini jalan menuju rumah kakek Chang?”

 

“Chang?” Jawab pria paruh baya yang dia jumpai.

 

“Iya benar, Kakek Chang. Apa anda mengenalnya?”

 

“Chang Sookyung, maja-yo?”

 

“Ne..”

 

“Aha…. Mari aku antar. Aku mengenalnya, apa keperluan anak muda sepertimu dengan beliau? Seingatku dia tidak  memiliki cucu laki-laki.”

 

“Saya mendapat tugas disini. Dan kebetulan sekali Kakek Chang adalah orang yang dipercaya keluarga saya.”

 

Jika Luhan ingin jujur mungkin dia akan mengatakan ‘Karena aku tidak sanggup meihat orang yang aku cintai bersama orang lain’

 

“Ternyata begitu. Siapa namamu anak muda? Perkenalkan Yoo Yoojin.”

 

“Maaf, Yoonji?”

 

“Bukan, Yoo Yoo-Jin, panggil saja dengan Paman Yoo. Aku bertetangga dengan kakek Chang.”

 

“Maaf saya salah dengar.”

 

“Kenapa kau kaget saat aku menyebutku dan kau malah salah tangkap dengar namaku? Apa namaku seperti nama seorang gadis?”

 

“Ah sepertinya begitu paman.” Pria paruh baya itu hanya tertawa melihat tingkah Luhan mau tidak mau Luhan ikut tertawa dibuatnya.

 

“Itu rumah kakek Chang. Kita sudah sampai.”

 

“Terima kasih paman sudah mengantar.”

 

“Luhaaaaaaeeen…!” Luhan yang yang merasa terpanggil merasa kaget dengan sambutan yang diberikan Kakek Chang. Beliau tidak terlihat membosankan.

 

“Ne… kakek Chang?” Jawab Luhan canggung.

 

“Menurutmu? Ya, aku Chang Sookyung!” jawab lelaki yang sudah tidak muda lagi itu bangga.

 

Annyeonghaseyo, harabeoji.” Luhan memberi hormat kepada kakek chang. Kakek Chang yang melihatnya hanya bisa tersenyum tulus.

 

“Mari masuk.”

 

***

Hanyang University International Hospital (13.30 KST)

 

Langkah yang tergesa-gesa merupakan hal yang biasa ditempat ini. Bau-bauan obat yang menusuk hidung juga hal yang biasa. Seorang gadis yang baru saja menurui mobil yang ditumpanginya segera berlari diikuti oleh sang Ibu, memastikan semua yang didengarnya tidak benar. Dia yakin semua akan baik-baik saja. Dia percaya itu. Yoonji pecaya.

 

Terlihat disana ada Keluarga Kim, semua terlihat kecuali Kim Minseok. Ya Minseok sedang kritis didalam sana. Dia mengalami kecelakaan saat hendak ke rumah Yoonji. Minseok ingin menunjukkan cincin pernikahan yang diambilnya tadi kepada Yoonji.

 

“Yoonji-ya…” Nyonya Kim menghampiri Yoonji dan memeluknya.

 

“Bagaimana bisa terjadi?” Tanya Yoonji lemah, air matanya masih sama seperti pertama mendengar kabar tadi.

 

“Semua akan baik-baik saja.”

 

“Iya semua akan baik-baik saja.”

 

Tak lama berselang, seorang laki-laki berseragam hadir diantara mereka.

 

“Sehun-ah…”

 

“Noona, bagaimana bisa?”

 

Sehun memeluk kakaknya erat, “Semua akan baik-baik saja noona.”

 

“Tentu…”

 

“Tentu baik-baik saja, Minseok hyung akan baik-baik saja.”

 

Sehun tidak menyangka akan terjadi hal seperti ini. Sehun sempat mendapat kabar ketika pelajaran tengah berlangsung. Sehun tidak bisa meninggalkan peajaran begitu saja mengingat akhir-akhir ini dia jarang belajar dan nilainya sempat turun dari peringkat 1 menjadi peringkat 5.

Pintu ruangan yang didalamnya ditempati Minseok terbuka, seorang dengan pakaian dokter keluar darisana.

 

“Dokter, bagaimana anakku? Apa dia baik-baik saja?”

 

Orang yang disebut dokter itu masih terdiam.

 

“Apa Minseok baik-baik saja?” kini giliran Yoonji yamg bertanya.

 

“Dokter, apa Minseok hyung baik-baik saja. Minggu depan noona akan menikah dengannya. Minseok hyung baik-baik saja kan?”

 

Dokter itu melihat satu persatu orang yang ada disana, tatapan sendu adalah tatapan yang diberikan kepada keuarga itu.

 

“Maaf…”

 

***

Seoul, 14 Oktober 2013

Kediaman Keluarga Kim

 

“Yoonji-ya….” Nyonya Kim menghampiri Yoonji yang masih terdiam menatap foto Minseok.

 

“Ne.”

 

“Ikhlaskan Minseok, biarkan dia tenang disana. Dia pasti sedih jika kita terus menangis.”

Tak dipungkiri lagi, Nyonya Kim juga merasa terpukul atas kejadian yang menimpa anaknya. Namun dia tetap mencoba terlihat tegar.

 

“Aku akan mencobanya.” Gadis itu tersenyum untuk menyakinkan Nyonya kim.

 

“Aku harap hubungan kita tetap seperti ini walau tanpa Minseok.”

 

“Tentu eomma.”

 

“Kalau begitu aku keluar sebentar.”

Yoonji mengangguk mengiyakan.

Tak lama berselang, sang adik Oh Sehun datang menghampirinya.

 

“Noona…”

 

“Umhh”

 

“Noona”

 

Waeyo?”

 

“Kau ingat aku adikmu.”

“Tentu.”

 

“Aku tidak ingin kau terus menangis, aku menyangimu.”

 

“Aku tidak menangis, bodoh.”

 

“Bohong.”

 

Akhirnya Yoonji memeluk sehun dan menangis didalam pelukan namja yang lebih muda darinya.

“Menangislah sekarang, tapi besok jangan menangis. Aku tidak ingin melihat kakakku yang cantik menangis.”

 

“Uhm..”

 

“Noona, apa Luhan Hyung sudah tau akan hal ini?”

 

“Jangan beritahu dia.”

 

“Kenapa?”

 

“Aku tidak enak dengannya, aku selalu memyusahkannya. Aku bahkan sudah menyuruh dia untuk datang dipernikahanku, tapi kenyataanya aku batal menikah.” Yoonji tertawa miris.

 

“Jika itu kemauanmu aku akan melakukannya. Jika nanti sudah siap untuk mengatakannya katakana saja padaku.”

 

“Ne, Tuah Oh.”

 

***

1 Tahun Kemudian

Jeju, 24 Desember 2014

 

“Luhaaaaeen…!” Teriak seorang pria paruh baya itu untuk memanggil cucunya. Cucunya? Anggap saja Luhan adalah cucunya, Luhan sudah menemani Kakek Chang selama 1 tahun lebih.

“Ne, Haraboeji, tunggu sebentar!” Jawab Luhan sambil menuju kakek Chang.

 

“Darimana saja?”

“Hanya mencari signal.”

 

“Sepertinyakau sangat merindukan Seoul.” Kakek Chang tersenyum menatap Luhan. Luhanpun hanya bisa tersenyum malu.

“Kenapa tidak kembali dulu?”

“Apa boleh begitu?”

“Jika kau yakin, kenapa tidak boleh Luhan-ah.”

“Tapi ….”

“Kau takut terluka, kau menghindarinya?”

“Kenapa harabeoji bisa tahu?”’

“Beberapa hari yang lalu, harabeoji bertemu dengan seseorang dari Seoul dan dia mengenalmu. Dia datang mencarimu, tetapi saat kakek ingin memanggilmu dia bilang, ‘Biarkan saja aku bertemu dengan kakek Chang, jangan beritahu Luhan’ dia menceritakan semuanya tentangmu yang kakek tidak tahu dan menceritakan semua yang tidak kau tahu selama kau di Jeju. Jadi jika kau ingin kembali, kembalilah nak.”

 

“Tapi nanti kakek sendiri, aku  tidak tega.”

 

“Aku lebih tidak tega melihatmu Lu. Gadis itu membutuhkanmu Lu.”

 

“Dia sudah bahagia dengan pilihannya.” Luhan hanya tersenyum miris.

“Kembalilah, Lu.”

“Baiklah kalau itu kemauan kakek.”

“Itu bukan kemauanku, itu kemauan hatimu Lu. Bukankah esok adalah Natal?”

“Ne, apa harabeoji ingin merayakannya denganku?”

“Tentu, mari rayakan sekarang. Dan setelah itu rayakanlah dengan keluargamu di Seoul.”

 

Jeju International Airport

24 Desember 2014 (18.30 KST)

 

“Terima kasih karena kakek Chang telah merawatku selama setahun ini.”

“Justru kau yang selalu merawat kakek tua sepertiku ini Lu.”

“Aku akan sering datang menjenguk kakek.”

“Datanglah sesukamu Lu.”

“Apa kakek Chang tidak ingin ikut saja denganku ke Seoul?”

 

“Aku akan mengabiskan sisa hidupku di Jeju Lu. Kakek tidak terbiasa dengan kehidupan kota. Bukankah desa kita jauh dari kota Lu? Itu menyejukan. Hati-hati Lu.”

 

“Iya pasti, terima kasih sudah mengantar Luhan.” Luhan memeluk kakek Chang erat. “Kalau begitu Luhan masuk dulu. Kakek juga harus hati-hati.”

 

“Iya Lu. YooJi juga sudah menungguku di depan. Aku juga akan kembali ke desa.”

 

“Annyeong harabeoji…” Kata terakhir Luhan untuk kakek Chang sambil melambaikan tangannya. Kakek chang hanya mampu untuk tersenyum, melihat kepergian Luhan.

 

Setelah dirasa kakek Chang jauh darinya, Luhan mengeluarkan ponselnya.

“Ooh.. Banyak sekali notifnya. Apa di desa kakek Chang terlalu terpencil. Molla.”

Luhan mengecek satu per satu notif yang masuk diponselnya. Bibirnya tampak digembungkan saking banyaknya notif yang masuk. Sampailah di Line sehun, “Huaah daebak, Sehun hampir setiap hari mengirimi pesan line.”

 

Xi Luhan :

Sehun-ah jemput aku di Incheon Airport pukul 20.00 KST. Jangan terlambat.

 

Pria itu lalu menekan tombol send.

Tak lama kemudian dia mengecek lagi, “sepertinya tidak ada Line satupun dari Yoonji. Apa da melupakanku. Kenapa dia tidak menanyakan kenapa aku tidak hadir dipernikahannya. Dia sudah bahagia. Iya sudah bahagia.”

 

Uhh Sehun.

Oh Sehun :

Jinjja-yo? Siap Tuan Xi.

 

 

Incheon A.P (20.00 KST)

 

Tampak seorang pria sedang mencari seseorang yang akan menjemputnya, siapa lagi pria itu jika bukan Luhan yang mencari Sehun.

‘Sehun-ah kau dimana?’ batinnya kesal. Pasalnya sejak 5 menit dia tiba di Incheon belum melihat batang hidung dari seorang Oh Sehun.

 

5 menit? Padahal baru 5 menit. Luhan sangat suka tepat waktu, 5 menit sangat berarti baginya.

 

Hyuuuuuung!” Luhan tahu sapa yang memanggilnya, pastilah Tuan muda Oh.

“Terlambat 5 menit.”

“Hyung, semakin tampan. Tapi aku lebih tampan darimu.”

Aniyo, aku yang lebih tampan. Kecuali kalau kau sudah berani mengatakan perasaanmu kepada Park Hyesungmu itu, aku akan mengatakan Oh Sehun benar-benar tampan.”

“Jangan ungkit-ungkit itu lagi. Aku belum mengatakan apapun tentang perasaanmu.”

“Aku tahu, kau selau mengirimiku pesan Line hampir setap hari, tentang Park Hyesung. Aku bahkan sampai bosan membacanya.” Sehun yang mendengar penuturan dari Luhan hanya bisa meringis menahan malu.

 

Luhan berjalan duluan menuju mobil Sehun.

 

“Ah, Hyung. Apa kau ingin merayakan malam natal dengan kami.”

“Kami yang kau maksud?”

“Keluarga Oh.”

“Baiklah jika itu maumu.”

“Oh iya ayah dan kakakmu selama 1 bulan kedepan berada di Jepang untuk mengurus proyek terbarunya. Jika di Jepang menang, maka akan dilanjutkan ke Belgia. Dan satu lagi kakakmu menitipkan pesan untukmu, hyung harus mengajar di Sekolahku sampai aku lulus. Oh iya apa di Jeju Luan hyung juga mengajar?”

 

“Pertama, terima kasih pemberitahuannya Tuan muda Oh, kedua harusnya aku ikut dalam proyek itu. Tapi kenapa aku terjebak menjadi guru. Ketiga, aku masih mengajar selama di Jeju dan aku juga membantu para petani untuk memanen bunga dan jeruk.”

 

“Mungkin ada maksud tersembunyi dari kakakmu itu hyung.”

“Entahlah… Aku masih harus mengajar, masih harus berkuliah. Baiklah jika itu kemauannya.”

“Luhan hyungkan pandai.”

“Diamlah.”

“Hyung, gara-gara kau pindah tugas Yoon-Ah kembali melekat denganku lagi. Kau taukan betapa mengganggunya dia.”

“Mungkin seorang Oh Sehun harus membuka hati untuk permen karet yang selalu merekat, Yoon-Ah.”

“Yaaaaak hyung!!!!!!!!”

 

Selama di dalam mobil sampai ke kediaman keluarga Oh sehunlah yang paling berisik di mobil. Luhan hanya menanggapi seperlunya. Luhan masih memikirkan apa yang terjadi kemudian, ketika dia bertemu dengan putri sulung dari keluarga Oh, Oh Yoonji.

 

—-

 

 

Kediaman Keluarga Oh

 

Sehun dengan tidak sabar membuka pintu rumahnya. Tidak lupa dengan Luhan, Luhan nampak lebih diam dari keadaan sebelumnya.

Eomma… Abeoji…. Noona!!!

“Sehun-ah ada apa?” Nyonya Oh yang mendengar teriakan sehun yang tidak seperti biasanya, hanya bisa penasaran ada apa dengan anak bungsunya itu.

“Lihat siapa yang datang!”

“Luhan-ah, kapan kembali?” Nyona Oh memeluk Luhan singkat dan memegang pundak Luhan memerhatikan apa perubahan selama Luhan di Jeju.

“Baru saja eomonim, Sehun yang menjemput saya di bandara.”

“Sehun-ah panggil noonamu, pasti Yoonji merinduan Luhan juga.”

“Ne, eomma kurasa juga begitu. Kalau begitu Sehun ke kamar noona dulu.”

 

 

“Noona, ayo bangun!”

Shiro!

“Palliwa, Luhan hyung menunggu dibawah.”

“Mwo?!”

“Kenap kaget? Bukankah sangat merindukannya?”

“Sehun-ah bukankah kau masih ingat perjanjian kita satu tahun yang lalu?”

“Aku sudah melaksanakan janji itu, apa salahnya menemui Luhan hyung sekarang?”

Naega shiroyo…”

“Wae?”

“….”

“Temui sekarang atau tidak sama sekali, noona.”

 

 

Note :

Taruh belakangan ajalah, oke ! FF ini mungkin terlalu mainstream tapi saya sudah memcoba membuat FF ini. Mohon kritik dan sarannya.

 

Oh iya kayaknya lagi FF ini mudah ketebak ceritanya, tapi jangan salah dulu ya dan lagi FF ini FF yang pernah aku buat kurang lebih 4 tahun yang lalu, masih jaman-jamannya UN SMP, sekarang sudah semester 2 dan bismillah calon maba lagi, Aamiin. Oh iya, Perbedaan dari FF 4 tahun lalu hanya  perbedaan pada cast dan pengembangan cerita aja sih.

One response to “[Freelance] AUTUMN TO SPRING (Chapter 2)

  1. Yoonji sama Luhan bisa jalin hubungan akrab lagi gak yah?
    Perihal Minseok, kalo Luhan tau apa yg bakalan terjadi ya?
    Aku tunggu kelanjutannya authornim, selamat menulis 😊😊

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s