[Freelance] Intertwine

Intertwine new canvas

Intertwine

 

Title             : Intertwine

Author         : Rere_L.Kim

Genre           : Fantasy, Romance, Drama, School, Teens, A Little Bit Comedy

Cast              :

  • Byun Baekhyun (EXO)
  • Kim Myungsoo (INFINITE)
  • Ryu Lin (OC)
  • Ryu Raea (OC)

 

Rating         : PG-15

Type            : Chapter

 

Copyright ©2015 Rere_L.Kim

 

Intertwine Story

 

Chapter 1# – Saying Hello!

 

Sewon High School. Ditahun ajaran baru, sekolah yang memiliki banyak pohon sakura disetiap sudut halaman gedung itu ramai dengan kegiatan siswa baru. Yah, dari sekian banyak sekolah yang ada, Sewon satu2nya sekolah yang mengadakan acara khusus siswa baru. Tujuannya tentu untuk menciptakan kesan mendalam awal masuk sekolah serta sebagai ajang untuk memperbanyak teman.

 

Acara itu dibuka dengan upacara di convention hall milik sekolah. Memakan waktu kurang lebih 15 menit, sambutan dari kepala sekolah berakhir riuh dengan tepuk tangan seluruh peserta. Selanjutnya, mereka dibentuk menjadi 4 kelompok besar. Masing2 terdiri dari 55 peserta.

 

Masing2 kelompok tersebut dibentuk melingkar, memenuhi setiap sudut ruangan. Kegiatan itu dibuka dengan menyebutkan nama dan asal sekolah. Ada yang menyerukannya dengan malu2, ada pula yang bertingkah memalukan.  Dan hal itu pula lah yang memicu gelak tawa yang menggema diruangan besar itu. Belum selesai sampai disana, dilanjutkan dengan pembagian sub kelompok sesuai dengan hitungan yang didapat. Ganjil dan genap.

 

Persub kelompok ganjil dan genap, bersaing dalam permainan ‘jenga’ raksasa yang disiapkan oleh panitia. Sepanjang siang itu, convention hall tak terdengar sepi. Begitu riuh dan terasa meriah dengan tawa dan tepuk tangan.

 

Dan saat tiba waktu istirahat, keriuhan itu berpindah tempat kesetiap sudut gedung sekolah lantai 1 dimana kantin, taman, serta lapangan basket outdoor berada.

 

“Lin,” panggil Raea yang berlari menghampiri saudari kembarnya yang duduk disalah satu bangku taman. “Aku mencarimu kemana2. Phonsel mu kenapa tidak aktif?”

“Aku lupa mengisi dayanya.”

“Kau bertemu Myungsoo?”

“Aku tadi lihat dia sedang mengobrol dengan sekelompok gadis didekat lapangan basket.”

“Anak itu,” dengus Raea. “Seberapa banyak stok pesonanya sih? Senang sekali menebarnya sembarangan.”

“Kau terdengar seperti pacar yang sedang cemburu Raea,” goda Lin yang tengah mengunyah cookies greenteanya.

“Lin!” yang diteriaki hanya mengendikkan bahunya singkat.

 

Perhatian Lin dan Raea teralih pada sosok yang tak seberapa tingginya dari Myungsoo tengah berdiri dihadapan mereka berdua dengan senyum cerah seorang bocah umur 5 tahun. Kulitnya putih susu. Lin bahkan sempat berfikir bahwa sosok yang dihadapannya itu adalah seorang gadis yang berpakaian serta memiliki potongan rambut seperti laki2. Hingga persepsi itu runtuh begitu ia mendengarnya bersuara.

 

“Hai, aku Baek Hyun. Oh kalian kembar?” pemuda itu berujar dengan nada lucu yang ceria. Lin dan Raea tak menyahut. Mereka sibuk mencerna aura yang dibawa Baekhyun. “Hey, kita ada dikelompok yang sama bukan?” celetuknya yakin pada sosok Lin.

“Benarkah? Aku tak ingat.”

 

Tentu saja. Lin lebih memilih memperhatikan apapun selain objek manusia. Terlebih mata mereka. Lin menolak untuk melakukan kontak mata jika ingin dunianya tenang.

 

“Baiklah itu tidak penting. Kau saudara kembar Lin?”

“I–ya.”

“Boleh aku tau namamu?”

“Ryu– Raea.”

“Ryu Raea. Namamu juga indah.”

 

Lin dan Raea saling bertukar pandang. Kepala kedua gadis itu sedikit meneleng dengan expresi tak terbaca. Seolah saling berkata ‘orang aneh?’. Baekhyun tertawa ringan melihat tingkah teman kembarnya. Mencairkan suasana kembali, Baekhyun meminta maaf karena berujar seperti seorang playboy sebelumnya.

 

“Aku sedang mengumpulkan foto teman2 baru ku untuk aku tunjukkan pada papa dan mama. Boleh aku berfoto dengan kalian?”

“Aku tidak suka berfoto.” Lin menyahut dengan cepat.

“Sekali saja, ayolah. Ini penting untukku.” Baekhyun otomatis merajuk seperti anak kecil. “Boleh ya?”

“Ayolah Lin, sekali saja.” Satu kelemahan Raea. Tidak pernah tahan ada orang yang merajuk didepannya. Tanpa terkecuali seorang Myungsoo yang sering bertengkar dengannya.

 

“Sekali saja,” putusnya seakan pasrah mendengar mereka mendesaknya.

Assa!”

 

Baekhyun duduk disebelah Lin. Tangan kirinya terulur jauh didepan wajahnya dengan menggenggam smartphonenya. Dengan satu sentuhan, gambar ketiganya terabadikan dengan sempurna. Dan tepat saat acara selfie itu berakhir, angin berhembus. Tak terlalu kencang, namun cukup untuk menerbangkan kelopak2 sakura yang berguguran dibawah kakinya.

 

“Akh.” Lin memekik sambil merapatkan kelopak matanya yang terpejam.

“Kenapa Lin?”

“Ada yang masuk kedalam mataku,” keluhnya seraya menggosok mata kanannya.

“Hei jangan digosok seperti itu.” Baekhyun menahan lengan kanan Lin. Gadis pemilik rambut hitam panjang itu otomatis menoleh dan menatap Baekhyun setelah beberapa kali mengerjapkan matanya.

 

Baekhyun membatu ditempatnya. Perlahan cekalan tanganya dilengan kurus Lin melonggar. Kedua kelopak matanya terpaku pada sosok itu. Raea hanya mampu menjadi penonton.

 

“Ma–mata mu.”

 

Satu kata yang terbata keluar dari mulut Baekhyun sukses membuat Lin bahkan Raea terkejut. Dengan sigap, Raea melepaskan tangan Baekhyun yang masih ada dilengan Lin. Raea menyempatkan diri untuk menarik wajah Lin agar menghadapnya. Dan benar saja, mata kanan Lin yang berwarna biru kehijauan terlihat begitu jelas. Lin otomatis menutupi matanya dengan telapak tangan lalu beranjak bersama Raea, meninggalkan Baekhyun yang masih belum kembali fokusnya.

 

 

“Ini.”

 

Myungsoo menyerahkan sebuah botol bening berisi contact lens berwarna hitam pada Raea. Pemuda itu berlari kesetanan keluar sekolah setelah mendapat ijin dari guru untuk membeli lensa kontak. Tentu saja pemuda yang memiliki tubuh tinggi menjulang itu tidak benar2 memberikan alasan sebenarnya pada guru. Disini hebatnya Myungsoo, alasan konyol yang ia berikan selalu berhasil membuatnya bisa diandalkan.

 

Menghela nafas kasar untuk menetralkan deru nafasnya yang masih memburu, Myungsoo membanting tubuhnya diatas tempat tidur tepat disebelah Lin yang memilih UKS sebagai tempatnya bersembunyi bersama Raea.

 

“Dia melihatnya?” seru Myungsoo yang sudah berbaring disana.

“Eung,” gumam Lin setelah memastikan lensa itu terpasang sempurna.

“Dia terkejut?”

“Tentu saja,” sahut Raea.

“Kau dalam masalah Lin,” seloroh Myungsoo yang melipat lengannya dibawah kepalanya.

“Myungsoo! Ada option selain menabur garam diatas luka?” Raea bersungut marah.

“Akan aku pikirkan,” jawabnya enteng seraya mencari posisi yang lebih nyaman.

 

Lin tak menanggapi sedikitpun perakapan absurd Raea dan Myungsoo. Gadis itu sibuk mengulang momen beberapa saat lalu. Dia sangat yakin jika mata mereka bersiborok untuk beberapa detik. Tapi mengapa? Ada yang salah. Haruskah ia bersyukur? Atau malah harus bergulat dengan dirinya sendiri untuk menemukan kemungkinan terbesar, mengapa kemampuannya tidak berfungsi pada pemuda bernama Baekhyun itu? Apa kemampuannya sudah lenyap? Tapi retina mata kanannya masih berwarna biru kehijauan bukan?

 

“Lin apa yang kau pikirkan?”

“Ah.” Sentuhan tangan Raea membawanya kembali pada kenyataan. “Tidak.”

“Apa kau melihatnya?” Raea bertanya cemas.

 

Lin menatap Raea lekat, enggan berkedip. Membuat Raea kembali mengguncang bahu kanan Lin pelan. Gadis itu mendesah lemah sebelum memanggil Myungsoo. Ditatapnya lekat manik sehitam langit malam yang tajam milik Myungsoo.

 

“Aneh.”

“Aneh?”

“Aku masih bisa melihat masa lalu kalian berdua.” Raea dan Myungsoo saling bertukar pandang. “Tapi pada pemuda tadi–?”

 

Lin tak melanjutkan kalimatnya. Raea tau kelanjutannya tanpa harus mendengar kalimat lanjutan dari saudarinya. Mungkin semacam telepati antar saudara kembar.

 

 

Lin berjalan gontai menuju kelompoknya berada, disudut ruangan sebelah kanan dekat panggung. Gadis itu takut jika Baekhyun menyebar luaskan keanehan yang ia miliki pada seantero sekolah. Pembawaannya yang ceria dan ramah membuat Lin yakin bahwa Baekhyun sudah memiliki banyak teman. Namun pikiran itu tertepis kasar. Tidak akan ada yang berubah sama sekali bukan? Lin sudah sangat sering melewati masalah seperti ini. Jadi dia akan baik2 saja.

 

Ketakutan Lin terjadi. Tepat beberapa langkah sebelum ia sampai, semua anggota kelompoknya menoleh kearahnya. Tatapan aneh yang sama sekali jauh dari kesan ramah itu sangat dibenci Lin. Baekhyun sama saja, ratap batin Lin.

 

Eo?”

 

Pekikan dengan nada terkejut menelusup masuk keindra pendengaran Lin. Ia menoleh kesamping kanannya. Itu Baekhyun. Orang yang tadi melihat mata kanannya. Orang yang tadi tak dapat dilihat masa lalunya olehnya. Yah pemuda itu.

 

“Kenapa kau ada disini?” tanyanya. Lin mengangkat sebelah alisnya. Memberikan tatapan yang benar2 sulit dipahami Baekhyun.

“Benar.” Itu suara pemuda yang sebelumnya memperkenalkan diri dengan nama Jung Jin. “Kau yakin kembali kesini?” Alis Lin semakin terangkat tinggi. Tubuhnya kaku.

 

“Baekhyun! Kau berbohong ya?” nada menuduh itu terdengar dari seorang gadis bernama Emily Kim.

“Tidak, tidak, tidak,” sanggah Baekhyun cepat. “Aku benar2 melihatnya.” Lin menegang. “Lin dibawa ke UKS oleh saudara kembarnya. Tadi mata kanannya kemasukan debu dan langsung iritasi parah.”

“Iritasi?” batin Lin.

“Aku bahkan mendengar siapa tadi namanya, Kim Sungsoo eh bukan Myungsung, oh iya Myungsoo dari kelompok 1 disana itu,“ Baekhyun menyempatkan diri untuk mengarahkan telunjuknya pada sekumpulan anak yang berada dikelompok satu, “Izin pada guru untuk membelikannya obat. Katanya di UKS tidak ada obat untuk Lin.”

“Tapi dia tampak baik2 saja. Tidak ada tanda2 iritasi atau semacamnya.” Itu suara dari gadis berwajah lucu bernama Hwi Yeon.

 

“Syukurlah kalau kau tidak apa2.” Dia, Jaehyun. Pemuda yang mendapat kesan sendiri bagi Lin. Masa lalu yang manis bersama dengan keluarga kecilnya yang bahagia.

 

Percakapan itu berakhir setelah ada intruksi dari panitia yang bertanggung jawab dimasing2 kelompok. Mereka kembali berkumpul sesuai dengan sub kelompok ganjil genap per kelompok. Takdir kembali merajut perannya. Beberapa saat lalu, panitia menyuruh sub kelompok ganjil dan genap berpasangan sesuai dengan barisannya. Dan kesialan Lin adalah, ia berdiri tepat dihadapan Baekhyun.

 

“Baiklah, masing2 harus menjaga pasangannya agar tidak terkena bola,” seru salah seorang panitia yang memakai name tag ‘Hwiseol’ setelah menyuruh 27 pasang peserta itu membentuk dua kubu dan membagikan gelang seperti rantai yang terbuat dari kertas. “Jangan lepaskan tangan pasangan kalian. Usahakan gelang kertas yang mengikat tangan kalian tidak sobek atau putus. Kalian akan langsung dianggap gugur sekalipun tidak tersentuh bola. Apa semua sudah paham?”

 

Seruan nyaring menggema, sahut menyahut memenuhi ruangan besar itu. Kegiatan itu berlangsung begitu sengit. Peserta semangat melempar bola karet seukuran bola basket ke arah kubu lawan. Satu persatu berjatuhan. Satu persatu pula rasa canggung dimasing2 peserta rontok. Mereka menikmati setiap kegiatan yang berlangsung. Benar2 kegiatan yang membuat keakraban terjalin.

 

Lin mengembangkan senyumnya dibalik punggung Baekhyun tanpa ia sadari. Ada sesuatu yang membuncah dalam dirinya. Kegiatan ini membuatnya bersemangat dan melupakan sejenak rasa takutnya akan hardikan, kasak kusuk orang2, dan hujatan tajam yang ditujukan padanya karena ‘sedikit’  special.

 

 

Jalanan sepi yang sedikit menurun saat kegelapan menyentuh itu terisi dengan suara Raea yang tengah berdebat dengan Myungsoo. Entah apa topik yang benar2 mereka debatkan, Lin tidak pernah mengerti. Topik itu berganti beberapa detik setelah suara salah satu menyahut. Dan yang Lin lakukan sekarang hanyalah berjalan cuek sambil memakan odeng yang ia beli diwarung depan sebelum masuk gang.

 

“Kau selalu cari gara2 denganku ya!”

“Siapa? Aku? Hello nona muda! Kau duluan yang mengomentari cara makan odengku.”

“Aku kan hanya memberi saran. Kenapa malah menyahut pada kebiasaan setelah makanku?”

“Kan topiknya masih tetap seputar makan.”

 

“Kalian benar2 sepasang kekasih,” celetuk Lin polos sambil meniup2 odengnya yang masih mengepulkan asap.

“Apa?” Raea dan Myungsoo menoleh serta berseru bersamaan. Lin menoleh, menatap mereka datar.

“Sepertinya yang lebih cocok jadi saudara kembarmu itu Myungsoo, Raea. Kalian benar2 kompak.” Senyum jahil dibibir Lin tersungging. Membuat dua orang disampingnya makin tersulut api peperang.

 

Dan sepanjang jalan menuju rumah mereka yang sebenarnya sudah sepi saat jam menunjukkan pukul 8 malam, tak benar2 sepi karena ulah Raea dan Myungsoo. Dan untuk Lin? Gadis itu entah sengaja atau tidak, selalu menjadi jembatan penghubung perdebatan Raea dan Myungsoo saat mereka menunjukkan tanda2 menyerah untuk berdebat. Diam2, Lin menyukainya.

 

Tanpa seorangpun dari mereka yang tau, seseorang disudut kegelapan mengamati mereka dengan khitmat.

 

 

“Selamat pagi Baek,” sapa seorang paruh baya yang menyibakkan tirai putih dijendela kamar Baekhyun.

“Selamat– pagi,” sahut Baekhyun sambil meregangkan tubuhnya diatas tempat tidur.

“Tidurmu nyenyak?”

“Eung.” Baekhyun bergumam saat mencoba untuk membuat tubuhnya bergerak dan mengambil posisi duduk.

“Mau mencoba cara injeksi hari ini?” Baekhyun menatap laki2 itu sakartis.

“Kau tidak akan berani.”

 

Dia, laki2 paruh baya yang dipanggil ‘Ayah’ oleh Baekhyun, terkekeh geli mendengar jawaban Baekhyun yang tak ada sedikitpun nada sopan. Selain kecoa, hal yang ditakuti Baekhyun adalah jarum suntik. Dia akan meraung hebat seperti anak balita saat netranya menangkap sosok jarum suntik yang diarahkan padanya.

 

“Jadi Gil,” laki2 itu beralih dari tempatnya menuju sebuah troli dorong berisi sarapan Baekhyun didekat pintu masuk, “Bagaimana sekolahmu?”

“Menyenangkan,” jawab Baekhyun seraya menerima semangkuk bubur bertabur sayuran hijau.

“Luangkanlah waktu pulang sekolah nanti untuk bermain.” Laki2 itu berkata tanpa menoleh kearah Baekhyun yang menatapnya dari kursi disalah satu meja makan dikamarnya.

“Memang tanggal berapa ini?”

“6 mei.”

“Ah,” sahutnya dengan mulut penuh bubur.

“Mereka terlalu senang saat kau memperlihatkan banyak foto teman2mu disekolah.” Laki2 itu kini berdiri tepat disebelah kursi Baekhyun.

“Benarkah?”

 

Mendengar nada tak bersemangat dari seorang moodbooster seperti Baekhyun, laki2 paruh baya itu menarik kursi yang tersisa dan memposisikan diri untuk duduk. Menumpukan kedua lengannya diatas meja. Mengetuk meja dengan telunjuk kanannya pelan untuk mendapatkan atensi penuh Baekhyun.

 

“Ada apa dengan raut itu?” Baekhyun membuang nafas kasar. Meletakkan sendoknya didalam mangkuk.

“Sampai kapan kehidupanku berjalan seperti ini? Maksudku hari ini aku berumur 16 tahun. Dan selama itu pula aku tidak pernah benar2 mendapat kehidupan normalku. Papa dan Mama tak pernah benar2 ada disampingku seperti Ayah. Kenapa mereka harus bersembunyi? Kenapa mereka tidak membiarkanku hidup bersama mereka? Kenapa mereka bisa menemuiku sesuka hati mereka tapi tidak denganku? Kenapa harus Ayah yang merawatku?”

 

Kamar besar Baekhyun terisi penuh dengan keheningan yang seakan mencekik kuat leher Baekhyun, hingga pemuda itu kesulitan mengatur nafasnya yang memburu setelah menumpahkan keluh kesahnya. Berbeda dengan Baekhyun, laki2 paruh baya itu tetap menampilkan wajah tenang dengan seutas senyum simpul. Selalu begitu. Dan mungkin akan selalu begitu.

 

Sebuah ketukan dari ujung telunjuk sang Ayah kembali terdengar. Seperti magnet, kepala Baekhyun yang sebelumnya tertunduk lemah, perlahan terangkat. Maniknya menatap sang Ayah sendu. Tatapan itu membuatnya terlihat seperti seekor anak anjing yang tersesat.

 

“Apa kau menyesal, Gilbert?”

 

Entah mengapa, satu pertanyaan yang dilontarkan sang Ayah dengan wajah damai penuh senyum ramah itu membuat Baekhyun sesak. Sudut matanya panas. Tanpa ia sadari, satu kalimat itu membuatnya terisak kecil.

 

“Maafkan aku,” ucapnya susah payah.

 

Senyum diwajah sang Ayah semakin merekah. Dimatanya, Baekhyun tak pernah benar2 tumbuh dewasa. Baekhyun tetap menjadi balita yang cengeng namun periang diwaktu bersamaan. Tak dipungkiri olehnya, batinnya pun terasa seperti tersayat dalam. Sekalipun Baekhyun bukan anak kandungnya, tapi tetap saja. 16 tahun bukanlah waktu yang sebentar. Bukan perkara mudah pula menjaga dan merawat seorang Baekhyun hingga detik ini. Sebuah tanggung jawab besar dengan nyawa sebagai taruhannya, diemban tanpa pamrih.

 

“Minumlah obatmu dan kau akan mendapat kue mu.” Laki2 itu beranjak dari tempatnya. Mendekati Baekhyun dan mengusap pelan puncak kepalanya. “Selamat ulang tahun, Gilbert Culver.”

 

 

Pagi yang tenang mendadak menjadi ricuh itu hal biasa. Selama itu adalah Raea yang berdebat dengan Myungsoo, Lin tak pernah mempermasalahkan paginya yang buruk. Tapi hari ini, tepat diluar pagar sekolah, berjajar beberapa orang dengan membawa keranjang penuh dengan bunga.

 

“Selamat pagi,” sapa salah seorang yang membawa keranjang bunga lady moon roses pada sosok Lin yang hendak melewati pintu pagar.

“Selamat pagi,” sahut Raea, seakan mewakili Lin yang lebih dulu disapa.

“Silahkan,” laki2 berwajah cerah dan rupawan itu menyerahkan setangkai mawar berwarna pink keunguan cantik pada Lin. “Oh maaf,” sahutnya saat Raea kembali mewakili Lin yang tak juga merespon baik niat laki2 itu. “Satu bunga untuk satu orang,” jelasnya dengan sebuah kurva manis yang mengiringi.

“Eh?” Raea kikuk. Diliriknya tangan kanannya yang sudah memegang setangkai peach avalanche rose.

“Tapi omong2,” Myungsoo bersuara dibelakang Raea sambil mengamati setangkai juliet rose ditangannya, “Apa ini hari bunga?” laki2 itu kembali menarik kedua sudut bibirnya ramah.

“Hari istimewa,” sahutnya meralat. “Kebahagiaan perlu dibagikan bukan? Bersyukurlah atas kehidupanmu. Hari inipun begitu. Rasa syukur atas kehidupan yang diberikan tuhan.”

 

Raea dan Myungsoo terbengong. Pada akhirnya Lin menerima setangkai lady moon rose itu dengan pikiran kosong. Entah karena tak ingin lama2 disana dan mendengar omong kosong laki2 yang ditaksir berumur pertengahan 20 an itu, atau karena Lin melihat sesuatu dimasa lalu laki2 itu yang membuatnya ingin cepat2 pergi kesalah satu ruangan kosong digedung sekolah untuk… menangis.

 

Sebuah mobil mewah berwarna putih berhenti tepat didepan pagar sekolah. Baekhyun terbengong didalam mobil dengan pandangan yang mengarah pada keramaian yang ada didepan pagar sekolahnya.

 

“Semoga harimu menyenangkan, Gil.”

 

Setelah berpamitan pada sang Ayah, Baekhyun turun dari mobil dan melangkah menuju pintu gerbang. Dan disana berdiri seorang laki2 yang membawa keranjang bunga lady moon roses. Tersenyum ramah pada Baekhyun, seperti yang ia lakukan sebelumnya pada semua orang yang lewat.

 

“Selamat pagi,” sapanya pada sosok Baekhyun yang menekuk wajahnya.

Lady moon roses?” celetuk Baekhyun. “Aku tidak mau,” sungutnya. “Aku lebih suka lily.” Laki2 itu terkekeh.

“Aku mendapatkannya dari seorang wanita yang menanamnya secara khusus. Lihatlah,” laki2 itu menarik setangkai mawar dari keranjangnya, “Cantik sekali bukan? Ini masa yang indah untuk dijalani dengan warna secantik ini.”

“Jadi?” Baekhyun melipat kedua tangannya didepan dada.

Intertwine.”

“Ah.” Baekhyun menghela serta menghembuskan nafas lemah. “Pada akhirnya, aku tidak akan pernah mengerti alur pemikiran dan rangkaian kalimatmu,” ujarnya dengan lengan kanan yang terulur untuk mengambil tangkai mawar yang tak lagi berduri itu. “Terima kasih,” imbuhnya.

 

“Apa itu lebih baik?”

“Yah.” Baekhyun memilin2 tangkai ditangannya. Memperhatikan lebih cermat lagi kelopak mawar berwarna pink keunguan itu. “Lebih baik.”

“Semoga harimu menyenangkan.” Laki2 itu tersenyum semakin cerah.

“Sampaikan rasa terima kasihku juga pada wanita yang menanam mawar ini secara khusus.”

“Tentu.”

“Sampai jumpa,” pamit Baekhyun sambil berlalu.

 

“Pastikan kau juga membalas sapaan yang ditujukan padamu.” Baekhyun berbalik dan berhenti ditempatnya. Senyum diwajahnya terlihat begitu merekah.

“Selamat pagi.” Baekhyun menepuk pipi kanannya dengan jari telunjuknya. Lalu bergumam tanpa suara diakhir tepukannya, “Papa.”

 

Setelahnya, Baekhyun kembali merajut langkahnya menuju gedung utama sekolah yang menjadi tempatnya belajar selama kurang lebih 2 bulan lalu. Baekhyun menyempatkan diri untuk mampir kegudang perlengkapan yang tak jauh dari ruang guru dilantai 1 untuk mendapatkan sebuah vas bunga kecil berwarna bening. Setelah mengisinya dengan air, setangkai mawar cantik ditangannya, ia masukkan kedalam vas berisi air.

 

Tepat saat bel berdering, Baekhyun berbelok masuk kedalam kelas. Ada yang aneh hari itu. Bukan karena tiap anak didalam kelasnya memegang setangkai mawar dengan jenis yang berbeda2. Bukan juga karena jeritan histeris anak2 perempuan yang ia lewati. Hanya sebuah tatapan menyelidik dari seorang gadis yang duduk tepat didua bangku dari belakang dekat jendela.

 

Baekhyun tak mau ambil pusing. Ia menganggap itu hal yang biasa ia terima sejak dulu, jadi ia memilih untuk mengabaikannya. Setelah meletakkan vas berisi setangkai mawar cantik itu di kusen jendela kaca disebelahnya, Baekhyun melepaskan tas ransel dipunggungnya lalu menggantungkannya pada sisi meja sebelah kiri.

 

“Selamat pagi anak2.”

 

Sapaan renyah itu datang dari seorang guru matematika yang sudah berdiri didepan kelas. Perawakannya tinggi, tidak terlalu kurus namun juga tak bisa dibilang gemuk juga. Guru Kim itu tidak seperti guru matematika kebanyakan. Umumnya, guru mata pelajaran rumit seperti matematika akan terlihat garang dan mendapat gelar ‘killer’. Pengecualian untuk guru Kim. Pribadinya sangat hangat, ramah, supel dan bijaksana. Oh, jangan lupakan parasnya yang menawan.

 

“Lin ssi?”

 

Keheningan didalam kelas saat pelajaran tengah berlangsung sejak setengah jam yang lalu membuat suara guru Kim terdengar menggema. Yang dipanggil sedikit terkejut. Beberapa pasang mata mengikuti pergerakannya.

 

“Ku perhatikan, sejak 10 menit yang lalu fokusmu pada pelajaran hilang. Keberatan jika aku memintamu untuk memperhatikan pelajaran?”

Ne.”

 

Seiring dengan pasang mata yang mengikuti arah pandang guru Kim, Lin mengambil sisa kesadarannya yang masih tertinggal dalam lamunan singkatnya. Memalukan, memuakkan.

 

 

“Soo?”

 

Ibarat ada badai, panggilan itu berlalu tanpa pernah sampai dirungu yang bersangkutan. 3 kali panggilan itu terdengar, namun tanda2 pemilik nama akan merespon adalah nol besar. Gemas, Raea mencubit lalu menarik pipi Myungsoo sekuat yang ia mampu pada level normal.

 

“Ouch, aw.”

 

Raea terpaku ditempatnya. Reaksi Myungsoo jauh lebih parah dari apa yang ia pikirkan. Biasanya, pemuda bermarga ‘Kim’ itu akan berteriak lantang, menyuarakan kata2 pedas, bahkan tak segan2 membalasnya. Kali ini tak demikian. Pemuda itu hanya mengerang pelan, lalu mengusap pipi kirinya yang mendapat jatah aniaya gadis bersurai coklat madu itu.  Reaksinya mirip seperti baru saja seekor nyamuk menghisap darah dipipinya dan sekarang sudah pergi.

 

“Myungsoo, sadar! Soo sadar!”

 

Raea mengguncang hebat tubuh pemuda itu hingga Myungsoo bereaksi normal kembali. Pemuda itu berteriak tak terima atas perlakuan Raea. Gadis itu menghela napas lega saat mendengar kata2 pedas mulai bergulir teratur dari bibir Myungsoo.

 

“Kau baik2 saja?” tanya Raea dengan suara lembut.

“Otakku bergeser beberapa centi setelah kau guncang demikian anarki jika itu yang kau maksud baik2 saja,” Myungsoo mendengus.

“Kalau kau tidak bertingkah aneh, aku tidak harus sampai mengguncangmu hingga sadar,” sahut Raea tak mau kalah.

“Oh.” Myungsoo kembali diam dengan wajah datarnya.

 

“Ada masalah?” Raea terlalu peka untuk mengabaikan intuisinya. “Sejak kau kembali dari kantor guru, kau jadi aneh.”

“Iya.” Myungsoo menoleh dengan wajah serius. Raea menatapnya lekat. “Aku lapar. Ayo kekantin.”

 

Myungsoo berlalu dari bangkunya menuju pintu keluar kelas. Meninggalkan Raea yang mendengus keras karena ulah Myungsoo. Raea mengendikkan bahunya singkat sebelum memutuskan untuk mengikuti langkah Myungsoo kearah kantin.

 

Dibangku salah satu sudut kantin, Raea dan Myungsoo duduk nyaman dan mulai menyantap makanannya. Fokus Raea tertuju pada benda kecil yang mengintip dari balik saku jas almamater yang dipakai Myungsoo. Dengan usil, Raea menariknya keluar.

 

“Liontin?” celetuk Raea setelah berhasil menarik benda yang membuatnya penasaran.

“Ya!” seru Myungsoo tidak suka.

“Cantik sekali.” Raea mengangkat liontin itu setinggi wajahnya dan memperhatikan pendant berbentuk cahaya matahari.

“Kembalikan Raea.” Dengan sedikit memaksa, Myungsoo mengambil liontin itu dari tangan Raea.

“Kasar sekali,” dengus Raea.

“Maaf.” Hanya satu kata itu sebelum Myungsoo melanjutkan kegiatannya menyantap makan siangnya.

“Milikmu?” Raea bertanya dengan suara manja. “Aku tidak pernah melihat sebelumnya.  Apa itu dari seorang gadis yang menyukaimu?” godanya.

“Bukan.”

“Lalu?”

“Seseorang yang memberikannya padaku,” jawabnya bersamaan dengan sosis sapi yang ia lahap.

“Romantis sekali.”

“Hentikan Raea. Itu memalukan.”

 

Dan sepanjang waktu istirahat  itu, Myungsoo harus bersabar diri dengan Raea yang tengah dalam mode penasaran. Gadis cantik itu akan berubah menjadi sangat menyebalkan dan manja jika tengah penasaran.

 

 

Alis Baekhyun mengerut dalam saat mendapati sebuah kotak berwarna hitam legam didalam lokernya. Tangannya terulur untuk meraih kotak yang berukuran tak lebih besar dari telapak tangannya.

 

“Liontin?” Baekhyun bertanya pada sebuah liontin berbentuk cahaya dengan inti lambang ininity yang ia bumbung setinggi wajahnya.

 

Maniknya menangkap ‘sesuatu’ yang teronggok didekat sepatunya. Sebuah kertas yang dilipat 4 kali. Sebaris kalimat membuatnya menyunggingkan sebuah senyuman.

 

‘Selamat ulang tahun.’

 

Tanpa pikir panjang, Baekhyun memakai liontin itu dan memperhatikannya dengan tatapan berbinar. Langkahnya terajut menuju laboratorium dimana pelajaran selanjutnya akan dilangsungkan setelah menyimpan jas almamaternya diloker.

 

Baekhyun bersenandung kecil saat berjalan menyusuri koridor menuju laboratorium sambil menggulung lengan kemeja putih yang terdapat logo sekolah. Sesekali senyumnya terkembang dengan telunjuknya meraih liontin yang menggantung dilehernya.

 

Pintu laboratorium sudah terlihat saat sebuah suara menyerukan namanya. Seorang gadis yang membawa beberapa buku dalam pelukannya berjalan kearah Baekhyun dengan langkah pendek2.

 

“Lin?” Baekhyun memutar tubuhnya agar menghadap sang gadis dengan sempurna. “Ada apa?”

“Kau tidak ingat kita berada dikelompok sastra yang sama?” seru Lin ketus begitu sampai beberapa langkah didepan Baekhyun. “Kau membuatku berkutat sendiri diperpustakaan untuk mencari referensi buku untuk tugas sastra kita. Dan lihatlah, kau bahkan tidak mengingatnya.”

 

Baekhyun melongo, menatap Lin dengan intens. Seutas senyum terlukis disana setelah gadis itu terlihat salah tingkah.

 

“Maafkan aku. Aku akan merangkumnya untukmu.” Tangan Baekhyun terulur untuk meraih buku2 dalam dekapan Lin.

“Itu bagus.” Lin berdehem untuk menghilangkan sesuatu yang terasa mengganjal ditenggorokannya. “Kalau begitu, aku pergi.”

“Eung.”

 

Manik Baekhyun mengekor sosok Lin yang menghilang dibalik pintu laboratorium. Ada yang berbeda dari gadis itu hari ini. Dan ini kali pertama Baekhyun mendengar Lin berbicara panjang lebar pada orang lain selama 2 bulan ini. Mendapati Lin yang tidak seperti biasanya, membuat Baekhyun semakin penasaran dengan sosok kembaran Raea dari kelas 1-2 B itu.

 

 

“Ini saya,” sapa sosok yang berdiri membelakangi pintu disalah satu ruang penyimpanan dilantai 1. “Saya rasa informan benar. Anak laki2 itu ada disini.” Sosok itu memainkan ujung jarinya kekusen jendela kaca kecil yang ada dihadapannya. “Kali ini tidak salah lagi. Ciri2nya cocok 90%, tapi saya akan tetap menyelidikinya.” Sosok tinggi berkacamata terlihat berbalik menghadap pintu. “Baiklah, akan saya urus semuanya.”

 

Myungsoo melintas dijarak pandang sosok itu begitu sambungan telepon itu terputus. Senyum tak ramah itu tersungging menghias siluet wajahnya yang tersembunyi dibalik pintu besi gudang penyimpanan dilantai satu. Letaknya disudut koridor.

 

“Aku akan mendapatkanmu kali ini,” sosok itu bergumam lalu menghilang dalam gelapnya gudang penyimpanan.

 

Sementara itu, Myungsoo sibuk memantul2kan bola basket yang ia bawa. Sesekali ia membenarkan letak tali tasnya yang melorot kelengannya. Langkahnya terajut menuju lapangan bola basket outdoor disisi gedung bagian barat.

 

 

Lin menahan nafasnya, jantungnya bermaraton. Kepalanya mulai pening karena darah yang dialirkan keseluruh tubuhnya terlalu cepat. Lin melangkah dengan terburu dan terlihat panik.

 

“Lin?”

 

Lin hampir memekik keras saat seseorang menepuk bahunya ketika dirinya tengah bersandar ditembok yang berada dikoridor samping gedung utama.

 

“Hey, kau baik2 saja?” Raea bertanya panik. “Kenapa kau berkeringat sampai seperti ini?” Raea mengambil sapu tangan didalam saku kemejanya lalu menepuk2 kening Lin yang basah karena keringat.

“Myungsoo.”

“Ada apa dengan Myungsoo?”

“Kita cari Myungsoo.” Baru akan membuka mulutnya, Lin sudah kembali memberi perintah. “Sekarang Raea.”

 

Lin bersyukur memiliki saudara seperti Raea. Disaat genting seperti apapun, Raea akan memilih bertindak sesuai sikon daripada berkoar2 meminta penjelasan. Raea langsung meraih phonselnya dan menekan speed dial 2 sebelum menyusul Lin yang sudah berjalan terlebih dahulu.

 

“Myungsoo!” Raea berteriak sambil meremas phonselnya saat melihat sosok yang dicarinya berdiri dipinggir lapangan basket outdoor dengan salah satu lengannya mengampit bola basket dan tangan lainnya tengah sibuk mengambil sesuatu yang diletakkan diatas bangku.

 

Beberapa detik setelah teriakan itu menggema dilorong, sebuah papan nilai yang diletakkan tak jauh dari tempat Myungsoo rubuh. Disaat yang bersamaan, Lin jatuh pingsan didepan laboratorium.

 

XOXO

 

To Be Continued

 

Note :

 

Pertama mau ucapin terimakasih pada readers-deul yang ‘alhamdulillah’ banget apres FF ku. G nyangka bisa segitunya. Banyak yang nungguin juga.

 

Kedua mau ucapin maaf pada readers-deul yang sudah menunggu luuuaaammaa untuk chap 1 nya. Aku revisi berulang kali sebelum benar2 dipublish. Karena yah, berat banget rasanya gara2 banyak yang nungguin. Tapi bukan karena g bersyukur ya, bukan. Karena aku takut nanti tidak sesuai expektasi readers-deul yang sudah repot2 nungguin chap 1 nya.

 

Tapi aku berusaha dengan sangat keras agar ceritanya g ribet, bahasanya g sulit, alurnya g ruwet dan yang pasti g mainstream. Hehe.

 

Ini ff action keduaku dengan gandeng our precious Myungsoo dan our lovely Baekhyun.Tapi yang berhasil dipublish duluan sebelum yang satunya, hehe.

 

Semoga bisa dinikmati ya.

Baiklah, note nya kepanjangan.

Terimakasih juga untuk SKFF yang memberi kesempatan untuk FF ku bisa publish.

Terakhir, ditunggu kritik dan sarannya untuk review ya readers-deul.

Likenya juga mohon bantuannya😀

 

Regrads,

 

Rere_L.kim

7 responses to “[Freelance] Intertwine

  1. Pingback: [FREELANCE] Intertwine Chap 2 | SAY KOREAN FANFICTION·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s