[Freelance] The Best for Someone Who I Love 2 (Part 11)

The Best For Someone Who I Love 2

Title                        : The Best for Someone Who I Love 2 (Part 11)

Author                   : @YoMollayo

Cast                         : Cha Eunsung (OC), Park Chanyeol, Byun Baekhyun, EXO members

Genre                      : Romance, Friendship

Rating                     : PG-13/PG-17

Length                    : Chapter

Disclaimer              : All of the stories belong to God but written by me

Annyeong chingudeul ^^. Author benar-benar minta maaf yang sedalam dalamnya, sudah lama banget ga update cerita ini hiks karena masalah personal dan (sok) kesibukan. Maafkan author yang sudah menyakitkan perasaan chingudeul (seperti Eunsung nyakitin perasaan seseorang eaaaa) dan sudah membuat chingudeul nunggu lama. Semoga chingudeul masih inget cerita ini dan masih tertarik untuk membacanya. Kali ini author merekomendasikan (harus di dengerin yak! kkkkkk) lagu “Tim Hwang – I Love You dan Loveholic – Dream of Doll” sambil baca part ff ini. Enjoy reading^^v

FF sebelumnya      : Part 1 , Part 2 , Part 3 , Part 4, Part 5, Part 6, Part 7, Part 8 , Part 9, Part 10

*****

 

“Mian aku… Aku… aku rasa aku… belum bisa melupakan Baekhyun. Jika aku menerima ini aku takut kalau hanya akan menyakitimu.”

“Geure….. Selama ini kau tidak dapat melupakannya karena kau tidak pernah menganggap aku sebagai seorang namja yang menyukaimu.”

 

—AUTHOR POV—

 

Bang! Seperti ledakan petasan yang kuat bagi Eunsung. Apa yang di katakan Chanyeol tepat sekali.

“Chanyeol-ah aku…..” Eunsung bingung harus berkata apa.

Chanyeol kembali mengambil nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya. Perasaan kecewa, sedih dan marah bercampur menjadi satu. Dia tidak bisa berkata apa-apa. Ini bukan salah Eunsung sepenuhnya. Perasaan seseorang tidak dapat di paksakan.

Suasana kembali menjadi tenang. Kedua sahabatnya ini diam, tidak menatap satu sama lain. Mereka berdua berada dalam pikiran mereka masing-masing, berpikir tentang apa yang sedang terjadi dan mengapa bisa terjadi. Angin malam Pantai Busan seperti menusuk kedua sahabat ini.

Eunsung membalikkan badannya lalu menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Perlahan air mata mengalir dari mata indahnya. Dia benar-benar tidak tahu apa yang harus dia lakukan. Semua terjadi begitu saja, semuanya membuat dia bingung bahkan dia tidak tahu apa yang dipikirkannya sejak tadi. Dia sadar jika hal yang selama ini dia lakukan hanya menyakiti sahabatnya.

Chanyeol terdiam melihat hal yang terjadi dengan sahabatnya. Tubuh sahabatnya bergetar hebat. Dia tahu sahabatnya menangis. Tidak ada yang bisa dia lakukan. Namja ini tetap pada pemikirannya.

“Eunsung-ah.” Panggil Chanyeol.

Sahabatnya tidak mengubris apa yang dikatakan Chanyeol.

“Eunsung-ah.” Panggil Chanyeol kedua kalinya.

Sahabatnya tetap tidak mengubris apa yang dikatakan Chanyeol.

“Eunsung-ah mianhae.” Chanyeol menghebuskan nafasnya berat.

“Mianhae…. maaf karena aku terlalu memaksamu.” Chanyeol melanjutkan kata-katanya.

“Aku tidak seharusnya bertindak gegabah seperti tadi. Aku sadar, mungkin ini terlalu cepat dan mendadak.”

“Maafkan aku juga yang selalu bersikap aggressive dan tidak pernah mengerti bagaimana perasaanmu.”

“Eunsung-ah, aku tidak ingin semuanya berakhir seperti ini saja. Aku sadar, aku yang mengatakan untuk menunggumu tapi justru aku yang selalu memaksa perasaanmu untukku.”

“Eunsung-ah…. maafkan aku.”

Chanyeol berjalan ke depan Eunsung. Dia melihat wajah Eunsung sudah penuh dengan air mata. Namja ini sadar jika dia benar-benar sudah menyakiti perasaan yeoja di hadapannya.

“Eunsung-ah….” panggil Chanyeol.

Eunsung menatap Chanyeol. Tidak seharusnya Chanyeol meminta maaf padanya, dia sadar jika dirinya yang selama ini salah tetapi yeoja ini tidak bisa mengatakannya.

“Eunsung-ah aku…. Aku ingin kita memulai semuanya dari awal.”

Eunsung menatap Chanyeol bingung.

“Aku ingin kita memulai semuanya benar-benar dari awal seperti pasangan lain di luar sana yang memulai hubungan melalui tahap pendekatan.” Chanyeol tersenyum singkat.

“Kali ini aku berjanji tidak akan aggressive kepadamu seperti layaknya seseorang yang baru mendekati satu sama lain.” lanjut Chanyeol.

“Dan tolonglah…. lihat aku sebagai seorang namja yang menyukaimu bukan sahabat atau oppa-mu.” pinta Chanyeol.

Eunsung tidak bisa mengatakan apa-apa, seluruh kalimat Chanyeol berhasil mengunci dirinya.

“Karena hanya dengan cara itu kau bisa menghapus perasaanmu kepada orang yang telah meninggalkanmu.” Chanyeol kembali membuka mulutnya. Dia tersenyum melihat Eunsung, menutupi perasaan kecewa yang sebenarnya dia rasakan.

“Apa kau bersedia?” tanya Chanyeol menatap Eunsung.

Eunsung diam, dia benar-benar tidak mengerti sekaligus merasa bingung. Setiap moment dimana Eunsung dan Chanyeol berdebat karena perasaannya yang tidak berubah kepada Baekhyun, disitu Chanyeol selalu mengalah padanya. Chanyeol selalu berusaha mencari cara untuk dapat merebut hati yeoja ini. Sudah berkali-kali dia membuat hati sahabatnya kecewa tapi sahabatnya tidak pernah menyerah.

Eunsung diam dalam pikirannya. Jika dia menerima permintaan Chanyeol, dia takut pada akhirnya akan menyakiti perasaan sahabatnya tetapi jika dia menolak pasti sahabatnya akan merasa benar-benar kecewa saat ini.

“Apa yang harus aku lakukan?” batin Eunsung.

‘Biarkan aku menghapus perasaanmu yang tersisa untuk Baekhyun. Biarkan aku menjadi kebahagianmu.’

‘Biarkanlah orang lain masuk ke hatimu dan mengobati luka itu. Biarkan Chanyeol melakukannya.’

Kalimat yang diucapkan Chanyeol dan Yixing berkali-kali terlintas dipikiran Eunsung. Hal tersebut membuat pikiran yeoja mungil ini semakin kacau.

“Dengar! Perasaan dan perlakuan Chanyeol sangat tulus kepadamu. Jangan sia-siakan dia atau kau menyesal nantinya.”

DEG! Kalimat yang diucapkan Kim Jihyu tiba-tiba melintas dipikiran yeoja ini.

“Eunsung-ah?” Chanyeol menunggu jawabannya Eunsung.

“Ne?” Eunsung menatap Chanyeol.

“Aku akan berusaha membuatmu benar-benar kembali merasakan perasaan jatuh cinta saat remaja.” Chanyeol terkekeh malu.

“Mwoya?” Eunsung terkekeh malu juga mendengar ucapan Chanyeol.

“Karena itu mari kita bersikap layaknya orang yang berada dalam tahap pendekatan.” kekeh Chanyeol.

Eunsung terdiam, dia benar-benar bingung tetapi jika tidak mencoba dia tidak akan tahu hasilnya. Jika ini dapat membuat Chanyeol senang dan dapat membuat Eunsung melupakan Baekhyun, dia akan mencobanya.

“Baiklah, ayo lakukan.” balas Eunsung malu.

Chanyeol tertawa lepas mendengar perkataan Eunsung. Melihat luapan tawa Chanyeol, Eunsung ikut tertawa lepas juga. Dia merasa malu dengan apa yang baru saja dia katakan.

“Aigo… jinjja. Aku merasa senang sekaligus malu. Aughhh.” Ucap Chanyeol dengan nada imut.

“Ya! Jinjja.” Eunsung terkekeh malu lalu memukul tubuh Chanyeol pelan.

“Hahahaha.” Chanyeol kembali tertawa lepas.

“Mwoya? Aku yang mengatakannya tetapi aku yang merasa malu. Bagaimana bisa aku mengatakan hal tersebut?” Chanyeol membelalakkan matanya bingung.

“Kau benar-benar aneh. Park Chan Isang Yeol!” cibir Eunsung.

“Sudahlah tidak usah dipikirkan lagi. Jigeum…” Chanyeol menatap Eunsung dalam.

Eunsung terdiam menunggu sahabatnya, ani bukan sahabatnya tetapi namja yang sedang mendekatinya.

“Karena kita sekarang adalah seseorang yang baru dekat satu sama lain. Aku akan memperkenalkan diriku terlebih dahulu.” Chanyeol tersenyum.

“Annyeong haseyeo. Park Chanyeol imnida. Aku bekerja sebagai seorang arsitek di sebuah perusahaan swasta di Busan. Mari kita berusaha dekat satu sama lain. Bagapta. Gomawo.” Chanyeol tersenyum memperkenalkan dirinya.

“Mwoya?” Eunsung terkekeh.

“Sekarang giliranmu.” Chanyeol menunjuk Eunsung.

“Aih mwoya… mwoya…” Eunsung tertawa terbahak bahak. Dia merasa malu sekaligus aneh dengan ini.

“Wah kau melakukan aegyo pada saat pengenalan? Aggressive sekali.” Chanyeol menunjukkan smirk nya.

“Aegyo aniya! Ya mwoya!” cerca Eunsung sebal.

“Sudahlah perkenalkan dirimu, aku penasaran.” balas Chanyeol terkekeh.

“Ah jinjja.” Eunsung mengeluh.

“Annyeong haseyeo. Cha Eunsung imnida. Aku juga bekerja sebagai seorang arsitek di sebuah perusahaan swasta di Busan. Terima kasih karena kau ingin dekat denganku. Mari kita berusaha membantu satu sama lain. Gomawo.” Eunsung terkekeh dengan apa yang dia ucapkan ke Chanyeol.

“Cha Eunsung-ssi besok ada sand festival bagaimana jika kita pergi bersama melihat-lihat?” tanya Chanyeol.

“Ide yang bagus.” balas Eunsung.

“Karena ini sudah malam mari kita beristirahat dan mempersiapkan diri untuk besok.”

“Kajja!” balas Eunsung terkekeh.

“Cha Eunsung-ssi dimana kamarmu?” tanya Chanyeol sambil berjalan menuju pintu untuk masuk ke hotel.

“Kamarku tepat disamping kamarmu.”

“Woah bagaimana bisa kamar kita bersebelahan.” Chanyeol membelalakan matanya bingung.

“Berhentilah bersikap seperti kita baru saja kenal Yeol. Rasanya aneh sekali. Bersikaplah biasa saja.” Kekeh Eunsung.

“Apa hal tersebut membuatmu tidak nyaman? Mianhae.” balas Chanyeol bingung.

“Ani…. Gwenchana. Rasanya lebih nyaman jika bersikap biasa saja hahaha.” balas Eunsung kikuk.

“Arraseo.” balas Chanyeol datar.

“Besok kita sarapan lalu berkeliling pantai melihat sand festival. Aku akan datang ke kamarmu jam 8 bagaimana?” Chanyeol tersenyum.

“Arraseo.” balas Eunsung terkekeh.

“Selamat tidur Cha Eunsung-ssi.” Chanyeol mengeluarkan senyum terbaiknya.

“Neo do…. Annyeong.” balas Eunsung terkekeh.

Kedua orang yang sedang dalam tahap pendekatan ini saling melempar senyum satu sama lain lalu masuk ke dalam kamar masing-masing.

*****

Kringgg kringggg kringggg kringggg kringggg

“Yeoboseo.” balas seorang yeoja setengah sadar kepada seseorang yang menelfonnya. Yeoja ini mengutuki seseorang disebrang karena sudah membangunkannya di pagi hari.

“Ya! Eunsung-ah! Kenapa lama sekali?” teriak orang di seberang berhasil membuat setengah tubuh yeoja ini bangkit dari tempat tidur.

“Mwo?” teriak yeoja yang baru sadar ini.

“Jeosonghamnida. Akan ku ulangi.” balas seseorang diseberang.

Eunsung diam masih diam tidak mengerti.

Good morning Eunsung-ssi, apa tidur mu nyenyak? Kau tidak lupa dengan janji kita untuk melihat sand festival kan? Aku sudah menunggu di depan kamarmu selama 30 menit.” seseorang diseberang mengeluarkan kata-kata manisnya.

Eunsung membelalakkan matanya, kata-kata seseorang diseberang seolah-olah menamparnya. Yeoja ini melihat jam dinding dikamarnya yang menunjukkan pukul 8.35.

“Chanyeolie mian. Changkaman!” yeoja ini terkekeh lalu segera menutup telfon tanpa menunggu balasan. Dia yakin, seseorang diseberang saat ini sedang mengutukinya.

Eunsung segera berlari menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Tanpa berpikir panjang, yeoja ini langsung menggunakan pakaian yang pertama kali dilihatnya yaitu short jeans dan kaus berwarna biru muda, setelah itu memakai skincare di pagi hari tidak lupa juga sunblock karena mereka akan pergi ke pantai lalu mengikat ponytail rambutnya.

“Tidak buruk.” Eunsung memuji dirinya di depan meja rias. Yeoja ini terdiam melihat liptint yang ada di meja riasnya.

“Haruskah aku memakai makeup?” tanya Eunsung pada dirinya sendiri.

“Aniyo untuk apa, aku hanya bertemu Chanyeol.” balas Eunsung lalu berjalan menuju pintu keluar.

“AH jinjja!” teriak Eunsung.

*****

“Aigo Eunsung-ah neo jjinja!” Chanyeol bergumam frustasi menunggu sahabatnya di depan pintu. Kesabarannya sudah habis.

“EUNSUNG-AH PALLI! AKU LAPAR SEKALI” teriak Chanyeol mengtuk-ngetuk pintu kamar Eunsung.

KREK

DEG! Jantung Chanyeol berdetak kencang begitu pintu kamar Eunsung terbuka.

“Mi mian kau pasti menunggu lama” Eunsung tertawa kikuk.

Chanyeol diam tidak dapat mengeluarkan kata-kata dari bibirnya. Namja ini hanya bisa diam memandang yeoja di depannya. Dia sangat manis.

“Apa aku aneh?” tanya Eunsung menyadari reaksi Chanyeol.

“Tidak.” balas Chanyeol cepat.

Eunsung tersenyum. Hari ini bajunya sangat cerah. Gaun mini tanpa lengan berwarna oranye dengan motif bunga-bunga besar melekat indah di tubuh mungil yeoja ini. Riasan wajah yang ringan dan pemoles bibir berwarna orange juga rambut yang di kepang kelabang membuat kesan yang semakin imut.

“Tidak salah lagi.” tambah Chanyeol.

“Mwo?” teriak Eunsung.

“Ya! Ada apa denganmu? Tumben?” Chanyeol terkekeh.

Eunsung menatap Chanyeol kesal.

“Sudahlah lupakan. Aku lapar. Kajja!” Eunsung memukul dada Chanyeol lalu segera berjalan.

“Argh.” teriak Chanyeol lalu segera menyusul Eunsung.

“Mian aku hanya bercanda. Neomu kyeowo.” Chanyeol tersenyum kuda.

“Jjinja?” balas Eunsung tersenyum.

“Gomawo. Apa kau sengaja melakukan itu untukku?” tanya Chanyeol to the point.

“MWO? ANIYO!” Eunsung menatap Chanyeol kesal. Wajahnya memerah. Entah mengapa dia memang ingin sekali tampil berbeda dari biasanya.

“Kotjimal…..” kekeh Chanyeol.

“Bukan! Sudah kubilang bukan!” Eunsung berjalan semakin cepat. Kesal sekaligus merasa malu.

“Eunsung-ah kau sangat cantik sekali. Aku berterima kasih karena kau melakukan ini tapi….. kita akan pergi melihat sand festival, kau tau kan jika angin pantai itu sangat kencang? Bagaimana nanti rok mu tertiup—” Chanyeol mengatakan secara hati-hati.

Dengan cepat Eunsung menoleh Chanyeol. Yeoja ini terdiam.

“Mak mak maksud ku aku ak aku tidak ingin rok mu—” Chanyeol berusaha menjelaskan agar Eunsung tidak salah paham dengan perkatannya.

“Kau benar Chanyeol-ah.” balas Eunsung cepat.

“Ne.” Chanyeol menganggukkan kepalanya.

“Kalau begitu aku ganti baju dulu.” balas Eunsung lalu berjalan kembali menuju kamarnya.

“MWO? Jigeum? YA! Eunsung-ah! Aku sudah sangat lapar!! AH JINJJA!” teriak Chanyeol.

*****

“WOAH”

Sepasang namja dan yeoja hanya bisa membulatkan kedua matanya saat berjalan melintasi Pantai Heunde. Pantai ini dipenuhi orang banyak turis domestik maupun mancanegara. Padahal kemarin pantai ini sama seperti pantai-pantai lainnya, hanya ada hamparan pasir dan lautan berwarna biru tetapi saat ini benar-benar berubah. Banyak sekali bagunan tinggi terbuat dari pasir. Tema Busan’s Heunde Sand Festival kali ini adalah KOREA, karena itu banyak sekali di buat bangunan dari pasir berbentuk raksasa menyerupai istana raja, namsam tower, tempat-tempat terkenal bahkan sampai artis-artis top di Korea.

“Chanyeol ah ini KEREN SEKALI” teriak Eunsung.

“Eo.” Chanyeol hanya bisa mengangguk.

“Kajja! Kita harus melihatnya dari dekat.” Eunsung menarik tangan Chanyeol lalu segera berlari mendekati salah satu bangunan pasir raksasa.

“Ya! Ambil gambarku yang cantik. Arra?” Eunsung memberikan handphone ke Chanyeol lalu segera mendekati patung pasir raksasa Poporo. Patung ini cukup berbeda dari patung pasir lainnya karena diwarnai sama persis seperti aslinya, dengan dominasi warna biru, putih dan kuning.

“Cih menyebalkan. Bersiaplah. Hana, dul, set.” teriak Chanyeol.

“Bagaimana?” tanya Eunsung mendekati Chanyeol.

“Bagus.” balas Chanyeol acuh.

“Coba kuli— YA!” Eunsung kaget melihat hasil gambar yang di ambil Chanyeol. Namja ini hanya mengambil gambar Pororo nya saja tanpa Eunsung.

“YA! Kau mau mati?!” teriak Eunsung lalu segera memukuli Chanyeol.

“YA! Aku hanya bercanda. Mian. Cepat berpose lagi akan ku foto.” kekeh Chanyeol.

Eunsung menatap sinis Chanyeol lalu segera berjalan mendekati patung pasir raksasa pororo. Chanyeol memberikan aba-aba lalu segera mengambil gambar. Setelah selesai Eunsung segera melihat hasil foto yang di ambil Chanyeol. Hasilnya bagus. Sempurna sesuai dengan keinginannya.

“Bagaimana?”

“Choa.” Balas Eunsung tersenyum.

Puas dengan patung Pororo raksasa, dua orang ini kembali berjalan melihat-lihat bangunan pasir.

“Eunsung-ah ayo kesana.” Chanyeol menunjuk Istana Dinasti Korea yang sangat besar.

“Ne.” balas Eunsung tersenyum.

Eunsung sedikit membelalakkan matanya. Tangan Chanyeol menggenggam tangannya. Mereka memang sudah biasa melakukan skinship tetapi jika berjalan bergandengan tangan, rasanya sedikit canggung.

“Kajja.” Chanyeol tersenyum lalu segera berjalan.

“Eo.” balas Eunsung kikuk.

Sepanjang jalan mereka hanya bisa terkagum-kagum melihat hasil karya para seniman dan tidak lupa juga untuk mengabadikan momen tersebut dengan mengambil banyak foto.

“Bagaimana bisa mereka membuat ini?” tanya Eunsung melihat istana pasir besar dihadapannya.

“Kita juga bisa membuat ini.”

Eunsung mengalihkan perhatiannya ke Chanyeol. “Cih micho.”

“Tetapi tidak sebesar ini.” Kekeh Chanyeol.

“Mwo?” Eunsung tidak mengerti.

“Dasar bodoh.” Guman Chanyeol.

“Ya!” Eunsung menaikkan suranya.

“Kau mau membuat istana pasir? Seperti yang kita dan teman-teman buat di sekolah menengah dulu?” Chanyeol tersenyum.

Eunsung membelalakkan matanya. Senyum mengembang di wajahnya mengingat kejadian yang sudah berlalu kurang lebih sepuluh tahun yang lalu. Dirinya terbawa nostalgia lama saat, dia dan teman-teman SMP nya termasuk Chanyeol hampir setiap hari setelah pulang sekolah bermain ke pantai. Di sana mereka bermain banyak permainan mulai dari menangkap ikan, mengejar burung-burung yang ada di pantai termasuk membuat istana pasir. Omelan orang tua sudah menjadi hal yang sangat biasa dan tidak dapat menjadi penghalang untuk bermain. Semua terjadi begitu menyenangkan hingga mereka memasuki sekolah menengah atas. Mereka tidak lagi melakukan hal tersebut dan memutuskan untuk beristirahan di rumah selesai jam sekolah karena banyaknya pekerjaan rumah dan kegiatan disekolah lainnya.

“Sung.” Chanyeol melambaikan tangannya di depan wajah Eunsung.

“Eo.” Eunsung bingung dengan sikap Chanyeol.

“Kau kenapa bengong?”

“Ah aku hanya teringat masa-masa kita bermain saat di sekolah menengah hahaha.” kekeh Eunsung.

“Geure. Aku juga merasakan hal yang sama. Kajja.” Chanyeol terkekeh lalu segera menggandeng tangan Eunsung.

Lagi-lagi Eunsung merasa perasaan yang sangat aneh. Benar-benar terasa aneh dengan hal yang Chanyeol lakukan.

“Eodi?” tanya Eunsung kikuk.

“Ayo kita ke toko dekat sini untuk membeli sekop dan cetakan istana pasir.”

Chanyeol tersenyum menunjukkan gigi putihnya. Namja tinggi ini hanya memakai kaos putih tanpa lengan yang memperlihatkan otot-otot lengannya yang cukup atletis dan celana pendek yang menunjukkan kaki jenjang atletis dan berbulu miliknya. Rambut hitamnya yang cukup panjang tidak di tata dan bergerak sesuai arah angin. Mungkin Chanyeol tidak sadar jika sejak tadi banyak sekali yeoja yang menatapnya dan terkadang memberikan tatapan aneh terhadap Eunsung, membuat yeoja ini sedikit tidak nyaman. Tapi bukan hal tersebut yang mengganggu pikiran Eunsung, hal tersebut sudah sering dialaminya. Saat ini yeoja mungil ini tersadar akan satu hal. Dia sadar jika sahabatnya, bukan sahabat tetapi orang yang sedang mendekatinya itu, benar-benar seorang namja yang sempurna. Apa yang kurang dari Chanyeol? Namja ini memiliki fisik yang sempurna. Dia anak yang sangat ramah, sopan, bertanggung jawab terhadap pekerjaan, memiliki sense dalam humor dan seni juga cerdas terbukti dari prestasi akademi yang diraihnya.

Apa yang kurang dari Chanyeol? Apa? Kenapa sulit sekali menemukan hal yang buruk dari dirinya?

Apa tidak ada? Jika memang tidak ada, mengapa? Mengapa sulit sekali untuk—

“Eunsung-ah. Wae?” Chanyeol mengguncang bahu Eunsung.

“Kau sakit? Kenapa sejak tadi mata mu kosong? Apa yang kau pikirkan?” Chanyeol menatap Eunsung bingung sekaligus kawatir.

“Hah?” Eunsung masih bingung.

Chanyeol memegang kepala Eunsung, tidak terasa apapun.

“Apa kau merasa pusing? Kita sudah cukup lama berada di bawah terik matahari.” Tanya Chanyeol kawatir.

“Aku tidak apa-apa.” balas Eunsung kikuk.

“Syukurlah. Kau haus? Mau ice cream? Ayo kita beli, sekaligus beli peralatan membuat istana pasir.” Chanyeol tersenyum senang. Dia kembali menggenggam tangan Eunsung lalu menariknya untuk berjalan.

*****

“Bagaimana?” tanya Eunsung kepada temannya. Sejak tadi yeoja itu bingung memilih topi musim panas yang sesuai dengan dirinya.

“Bagus.” balas Chanyeol.

“Mana yang paling bagus untukku?” tanya Eunsung menunjukkan 3 topi musim panas yang mendekati seleranya.

Chanyeol menghela nafas. Menurutnya semua sama saja, tidak merubah apapun saat Eunsung pakai. Lagipula hal ini sangat berlawan dengan rencana sebelumnya. Niat awal datang ke Heundae Market adalah untuk membeli minum dan peralatan membuat istana pasir tapi berakhir menjadi berbelanja dan jalan-jalan mengelilingi pasar ini.

“Yang ini.” tunjuk Chanyeol asal.

“Ini? Tapi bukankah ini terlalu besar untuk ku?” Eunsung kembali memakai topi yang ditunjuk Chanyeol lalu menatap dirinya di cermin.

“Bagus.” Kekeh Chanyeol kikuk.

“Kau yakin? Bagaimana dengan ini?” Eunsung memakai topi musim panas lain, salah satu dari tiga yang dipilihnya.

“Eunsung-ah kau sudah menanyakan ini sebelumnya.” Chanyeol memandang Eunsung lelah. Sejak tadi yeoja ini berkali kali bertanya tentang topi yang dipakainya.

“Ya! Mungkin pendapatmu berubah.” balas Eunsung sebal.

“Apanya yang berubah? Sama saja.” balas Chanyeol menahan emosi. Dia tidak menyangka sangat menyebalkan membeli sesuatu dengan seorang yeoja.

“Eonni bagaimana pendapatmu?” tanya Eunsung pada seorang yeoja yang menjaga toko aksesoris dan souvenir ini.

“Menurutku dari semuanya ini yang paling bagus eonni. Warna nya sangat bagus dipakai dimusim panas dan ukurannya cocok dengan eonni.” balas penjaga toko ini ramah.

“Benarkah? Kalau begitu aku ambil yang ini.” Eunsung tersenyum senang lalu memberikan uang sejumlah harga yang tertera kepada penjaga yeoja penjaga toko.

“Eonni, bagaimana dengan gelang couple? Gelang ini sangat popular akhir-akhir ini?” tanya penjaga toko ramah.

Eunsung dan Chanyeol saling memandang satu sama lain.

“Gelang ini berbentuk Kerang Cowry. Lalu ini bisa di lepas. Lihat.” Yeoja ini menarik dua buah tali gelang yang memiliki 1 butir kerang cowry. Kerang tersebut terbelah menjadi dua.

“Tenang saja. Di bagian tengahnya terdapat magnet jadi bisa di satukan dan dilepaskan.” Yeoja ini kembali menjelaskan.

“Kenapa Kerang Cowry?” tanya Eunsung yang sepertinya tertarik.

“Pertama karena kerang ini bentuknya hampir menyerupai jantung manusia. Anda pasti sudah banyak mendengar filosofi antara jantung dan cinta atau hubungan kekasih dan semacamnya. Kedua, perhatikanlah. Kerang ini memiliki bagian tengah yaitu lubang pemisah antara satu sisi dengan sisi yang lain tetapi kenyataannya kerang ini tetap menyatu. Hal tersebut seperti sebuah hubungan. Dalam sebuah hubungan pasti akan muncul suatu masalah yang dapat memisahkan, tetapi hal tersebut tidak berlaku jika kedua orang yang menjalani hubungan tetap konsisten untuk bersama.” Yeoja penjaga toko menjelaskan.

“Terima kasih agashi untuk penjelasan anda tetapi kami bukan sepasang kekasih. Kajja Eunsung-ah.” Chanyeol segera menarik tangan Eunsung untuk pergi.

“Changkamaneyo Chanyeol-ah.”

“Eonni. Aku beli ini satu.” Eunsung mengeluarkan sejumlah uang lalu memberikannya kepada yeoja penjaga toko.

“Kamshamida.” Kedua yeoja ini saling membungkukkan badan.

Eunsung membali gelang tersebut menjadi dua. Yeoja ini memakai salah satu bagian gelang tersebut di tangan kanannya.

“Tangan kirimu.” Eunsung menatap Chanyeol datar.

Chanyeol mengulutkan tangan kirinya sambil menatap Eunsung. Pipi namja ini mendadak merah padam. Dia tidak mengerti dengan apa yang dilakukan yeoja dihadapannya tetapi ini membuatnya benar-benar senang. Jantung namja ini berdetak dengan sangat cepat.

“Cih menyebalkan. Cinta tidak selalu untuk sepasang kekasih kan? Sepasang sahabat-pun layak untuk memiliki ikatan kasih yang kuat seperti filosofi gelang ini.” Eunsung mendumel kesal sambil memasangkan sisi lain gelang tersebut di tangan kiri Chanyeol.

Debaran hebat jantung dan merah padamnya pipi Chanyeol perlahan-lahan mereda. Namja ini tersenyum kecut. Sadar akan ekspektasinya yang terlalu berlebihan.

“Ne. Gomawo.” balas Chanyeol singkat.

“Yeppeo?” Eunsung tersenyum senang melihat gelang barunya.

“Ne. Choa.” balas Chanyeol tersenyum singkat.

“Chogiyo (Excuse me)”

Suara seorang namja berhasil membuat Eunsung dan Chanyeol menoleh.

“Jinjja Chanyeolie? Eunsungie?” namja ini dengan logat khas nya memanggil nama seseorang yang dulu sangat dikenalnya.

“Luhan gege?” teriak Chanyeol dan Eunsung bersamaan.

Eunsung, Chanyeol dan namja bernama Luhan tersebut berlari mendekati satu sama lain meskipun jarang mereka sudah dekat. Mereka saling berbagi pelukan. Saat itu juga beberapa orang menatap mereka.

“Argghh gege. Oremanineyeo. Bogoshipo.” teriak Eunsung tidak percaya karena baru saja melihat sunbae-nya.

“Woah gege. Apa yang kau lakukan disini? Kau kembali ke Korea?” tanya Chanyeol masih tidak percaya.

“Ne, tapi hanya untuk beberapa bulan. Ada pekerjaan.” Namja bernama Luhan ini tersenyum.

“Apa kalian lapar? Bagaimana kalau kita berbicara lebih lanjut sambil makan?” Luhan tersenyum.

“Gege yang traktir?” tanya Eunsung. Chanyeol mengangguk setuju.

“Neo jinjja! Aigo, baiklah aku yang traktir. Kalian mau makan apa?” Luhan menghela nafas melihat kelakuan dua hoobae yang sudah seperti adiknya sendiri.

“Ayo makan yang enak-enak. Bagaimana kalau So-galbi (beef short ribs)?” tanya Chanyeol bersemangat.

“Aku setuju. Ah lapar sekali.” Eunsung tersenyum senang.

“Ayo kita makan!” teriak Eunsung dan Chanyeol bersamaan.

“Ya! Hoobae macam apa kalian!?” teriak Luhan tetapi di acuhkan oleh Chanyeol dan Eunsung.

*****

Gukjehoegwan Restaurant

Eunsung, Chanyeol dan Luhan bernostalgia dengan kejadian ketika mereka masih berada di sekolah. Luhan adalah anak keturunan Tionghoa yang lahir dan tinggal di Korea hingga selesai sekolah menengah atas. Ketika kuliah Luhan dan keluarganya pindah ke Singapore karena bisnis ayahnya lebih berkembang disana. Luhan, Chanyeol dan Eunsung berada di sekolah yang sama di sekolah menegah dan sekolah menengah atas. Namja cantik ini atau yang terkenal dengan sebutan Pretty Boy ini merupakan kaka kelas Chanyeol dan Eunsung. Mereka bisa sangat akrab karena mengikuti club yang sama.

“Woah gege, kau sama sekali tidak berubah. Kau tetap seperti dulu, pretty boy.” Eunsung kagum.

“Ya! Aku ini manly man bukan pretty boy. Aish jinjja!” balas Luhan kesal. Dia tidak suka jika di panggil pretty boy.

Manly?” tanya Chanyeol.

Eunsung dan Chanyeol terkekeh bersamaan. Namja di depannya ini memiliki kulit putih halus dan tubuh yang sangat ramping. Wajahnya tirus, hidungnya mancung dan bibirnya tipis juga berwarna merah muda. Namja ini sangat cantik untuk di jadikan costplay seorang wanita.

“Ya! Kalian tau kan jika aku sangat pandai bermain sepak bola dan basket? Aku memilih ikut club seni karena itu mendukung cita-citaku.” balas Luhan kesal. Ironis sekali, jika di kantor dia sangat di hormati oleh junior dan seniornya karena pekerejaannya tetapi oleh hoobae di sekolahnya nya dia malah diledek habis-habisan.

“Arraseo ge. Arraseo.” kekeh Eunsung.

“Memang gege bekerja sebagai apa saat ini?” tanya Chanyeol.

“Aku ini seorang arsitek khusus untuk bangunan bertingkat.” Luhan tersenyum.

“Woah kami juga arsitek. Aku sama seperti gege tetapi Eunsung spesifikasinya ke rumah dan urban area.” Balas Chanyeol.

“Jinjja? Woah aku senang sekali. Kita sama-sama berhasil menggapai cita-cita.” Luhan tersenyum bahagia.

“Ngomong-ngomong.” Luhan memandang Eunsung dan Chanyeol curiga.

“Sampai saat ini kalian masih sering bersama? Woah kalian memang tidak terpisahkan.” tambah Luhan.

“Apa kalian berkencan? Ya! Jinjja?” Luhan menatap Eunsung dan Chanyeol curiga.

Eunsung dan Chanyeol menatap satu sama lain.

“Ya! Aku bisa menebak. Woah, akhirnya kalian berkencan. Kenapa tidak dari dulu saja? Aigo kalian sangat dekat sejak sekolah menengah bahkan sampai masuk perguruan tinggi yang sama. Woah kalian bahkan memakai gelang Kerang Cowry.” Luhan tidak berhenti berbicara.

“Sejak kapan kalian berkencan? Aku tidak yakin hal tersebut terjadi sejak sekolah menegah atas. Apa sejak kalian berada di perguruan tinggi? Sepertinya benar. Ya! Park Chanyeol!” Luhan tetap tidak berhenti berbicara. Namja terbawa suasana. Rasanya sangat senang melihat kedua hoobae didepannya dapat bersama setelah mengalami banyak peristiwa.

“Ne gege?” Chanyeol menatap Luhan.

“Biar aku beritahu satu rahasia. Cha Eunsung sudah menyukaimu sejak kalian berada di sekolah menengah pertama. Dia juga mengikuti club seni di sekolah menengah dan sekolah menengah atas karena mu. Mengapa aku tau? Hmm karena aku bisa melihat sorotan mata nya dan perlakuaannya yang tulus terhadapmu. Hah aku sangat frustasi melihat bagaimana Eunsung hanya melihatmu saja. Ada beberapa hoonbae dan sunbae yang menyukainya tetapi Eunsung tidak memberikan respon sama sekali bahkan Kris, sahabatku ditolaknya. Kau ingin tau alasannya? Saat itu dia bilang jika dia menyukai seseorang dan aku yakin orang itu kau.” Luhan menunjuk jari tengahnya kepada Chanyeol.

Chanyeol mengalihkan pandangannya ke Eunsung. Eunsung mengalihkan pandangannya ke jendela sambil menatap pantai yang membentang. Sesekali dia menenguk gelas yang berisi minuman. Chanyeol tidak berhenti menatap Eunsung. Yeoja ini benar-benar menjalani waktu yang sangat sulit karenanya.

“Jadi kau harus menjaga Eunsung dengan baik. Arraseo? Dia itu hoobae yang sangat baik dan peduli kepada sunbae nya termasuk aku.” Luhan tersenyum kepada dua hoobae di depannya.

“Gege sebenarnya—” Chanyeol membuka mulutnya ragu-ragu.

“Ah aku lupa!” Luhan menepuk jidatnya.

“Changkaman.” Luhan tersenyum lalu mengeluarkan ponselnya lalu mencari kontak seseorang yang harus dihubunginya.

“Sial. Pulsa ku habis. Eunsung-ah, boleh aku pinjam handphone mu?”

“Ne gege.” Eunsung tersenyum manis sambil memberikan handphonenya. Meskipun dia tidak begitu nyaman dengan apa yang baru saja Luhan katakan tapi tetap saja dia adalah sunbae yang dihormati, selalu menjaga dan memperhatikan nya dengan baik. Lagipula yang dia katakan semuanya benar.

“Geure, akan ku ubah sedikit pengaturannya.” guman Luhan.

“Baekji-yaaaaa.” Luhan memanggil seseorang diseberang.

………..

“Kau mengenaliku?”

………..

Good job. Bagaimana keadaanmu?”

………..

Good. Kau pasti lapar. Datanglah ke Gukjehoegwan Restaurant. Letaknya tidak jauh dari pantai dekat dengan Haeunde Market. Kau pasti rindu masakan Korea kan? Cepat datang ada banyak makanan enak. Aku tunggu! Cepat datang. Annyeong.” Luhan segera menutup telefon tanpa menunggu balasan dari seberang. Dia tau pasti teman di seberang telefon akan menolak jadi dia perlu sedikit memaksa.

Luhan mengatur kembali ponsel Eunsung agar kembali normal seperti sebelum dipakainya.

“Gomawo Eunsungie.” Luhan memberikan ponsel dan dibalas senyum oleh pemiliknya.

“Sampai mana kita tadi?” tanya Luhan.

“Baekji? Itu nama temanmu hyung?” Chanyeol segera membuka mulutnya berusaha mengalihkan perhatian agar tidak kembali ke topik awal.

“Ne dia hoobae-ku. Dia orang Korea juga. Aku terkejut saat pertama kali bertemu dengannya di tempat kerja.” Balas Luhan.

“Namanya Baekji (Blank Paper/ White)? Unik sekali.” tambah Eunsung.

“Aniyo hahaha itu panggilan khusus dariku untuknya. Dia itu orang yang sangat baik dan polos karena itu aku memanggilnya Baekji. ‘Baek’ itu nama aslinya lalu aku tambahkan ‘Ji” hahaha.” Kekeh Luhan.

“Baek?” Chanyeol menatap Eunsung. Yeoja itu bersikap seolah-olah tidak mendengar, dia tetap melanjutkan percakapan dengan Luhan.

‘Kenapa aku khawatir? Ada banyak orang yang bernama ‘Baek’ batin Chanyeol.

“Ah ngomong-ngomong Eunsungie.” Luhan memotong percakapan.

“Wae gege?” Eunsung bingung melihat raut wajah Luhan yang tiba-tiba berubah menjadi curiga.

“Sepertinya kau kenal dengan sahabatku. Kau bahkan menyimpan nomernya di ponselmu.” Balas Luhan.

“Ne?” Eunsung mengerutkan dahinya tidak mengerti.

“Tapi kenapa kau menyimpan kontak nya dengan nama Kim Hana?” tanya Luhan bingung.

“Ne?” Eunsung membelalakkan matanya. Chanyeol memusatkan perhatiannya pada Luhan.

“Sahabatku itu seorang namja bukan yeoja. Nama dia bukan Kim Hana tetapi…..”

**TBC**

9 responses to “[Freelance] The Best for Someone Who I Love 2 (Part 11)

  1. Astaga😦
    Asli deh Chanyeol tuh super duper baik banget! Kenapa sih dia kekeh banget sama Eunsung? Kan banyak yeoja lain😦
    Apa gara-gara dia nyesel waktu jaman kuliah dulu ngak nganggep Eunsung? Ah sedih😦
    Konflik batin banget ini ff nya😦
    Heooool next episode nya sepertinya mulai ketebak nih. Hahaha penasaran!!!

  2. akhirnya lanjut. …
    hmmm.. aku mau saran kak. kalo bisa mungkin jangan terlalu banyak pake bahasa korea dalam dialognya jadi agak terkesan aneh. trus itu kadang pakai kata “maaf” kadang juga pake “mianhae” kalo menurut aku kurang enak ya kalo gitu.. maaf ya kak kalo tersinggung hehee.. ini cuman saran kok

    • Aw so sweet ><
      Enggak tersinggung kok, malah seneng bgt karena ada yg kasih saran untuk memperbaiki FF selanjutnya ^^
      Terima kasih banyak chingu. Next chapter udh keluar, semoga suka ya :))))

  3. Caa.. molla molla.. aku ngambek sama author.. ceritanya bikin perasaanku naik turuuun :””
    Another complicated problem is coming~~
    Aku berdoa yg terbaik untuk chapter2 selanjutnya.. semoga berakhir bahagia & ga ada yg tersakiti seorangpun😊

  4. Pingback: [FREELANCE] The Best for Someone Who I Love 2 (Part 14) | SAY KOREAN FANFICTION·

  5. Pingback: [FREELANCE] The Best for Someone Who I Love 2 (Part 15/END) | SAY KOREAN FANFICTION·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s