Flower ~ohnajla~

Author : ohnajla

Genre : Romance & drama

Length : Oneshoot

Rate : G

Cast : – Oh Sehun (EXO)

-Kei (OC)

-Alpha (OC/cameo)

“Kei, tunggu!” Sehun mempercepat laju langkahnya. Ia berhasil meraih tangan Kei hingga membuat gadis itu berbalik.

“Apa lagi?! Semua sudah jelas, ‘kan?” Kei menampik tangan Sehun. Air mata merembes turun, melunturkan eyeliner di matanya.

“Tidak, tidak. Kau salah paham, Kei.” Sehun mencoba meyakinkan Kei sekali lagi. Namun tangis Kei malah makin keras. Sehun bingung harus bagaimana. Orang-orang di sekitar mereka mulai memperhatikan, beberapa ada yang berbisik-bisik.

“Kita bicara di tempat lain ya?”

Kei menggeleng. “Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi. Semua sudah jelas. Aku memang gadis bodoh, aku tidak seharusnya seperti ini. Tolong jangan ikuti aku lagi.” Kei menyelipkan rambutnya ke belakang telinga, lalu berbalik dan pergi tanpa mengucapkan selamat tinggal. Sehun hampir mengejarnya lagi, namun ia urungkan. Seperti orang bodoh, dia hanya berdiri diam memandang punggung itu sampai tak tampak lagi.

Inilah akhir dari kisah mereka. Hanya seperti ini. Memutuskan pergi ke arah yang berbeda tanpa harus mengucap kata ‘putus’.

***

6 bulan berlalu.

Ponsel Kei tiba-tiba raib setelah dia menyelesaikan tugas presentasinya. Padahal saat ini dia harus segera menghubungi Julia, menanyakan apakah gadis itu sudah mempelajari semua materi untuk presentasi besok. Dia makin kalut begitu melirik jam berbentuk lingkaran di dinding. 12.30. Oh tidak, dia harus segera tidur untuk presentasi besok. Dia sangat panik.

Lupakan soal ponsel, sekarang Kei memutuskan untuk mengobrak-abrik buku-bukunya, mencari nomor ponsel Julia yang seingatnya pernah dia simpan di halaman paling belakang sebuah buku.

Ketemu. Buku berisi nomor-nomor yang pernah disimpannya akhirnya ketemu juga setelah 10 menit mencari. Tapi sial, dia tidak mencantumkan nama di nomor-nomor itu. Sialnya lagi dia tidak begitu ingat nomor belakang ponsel Julia. Menambah kerjaan saja.

Berbekal nekat, Kei pun membawa buku itu ke luar, pergi ke ruang keluarga di mana telepon rumah diletakkan. Dia menarik kursi, duduk, memangku buku itu, lalu meraih horn telepon.

“Sebaiknya mulai dari mana ya?” Kei menggigit bibir sambil menimang-nimang mana yang harus ia coba terlebih dulu. Dari sekian angka itu, akhirnya dia menjatuhkan pilihan ke nomor yang menurutnya familiar.

Dengan penuh keyakinan, ia pun menekan angka-angka di telepon tersebut. Selesai, segera ia dekatkan horn telepon ke telinga.

***

“Suara berisik apa ini?!”

Sehun terbangun setelah mendengar teriakan Alpha. Nyawanya masih belum penuh. Kepalanya menoleh ke sana kemari seperti orang linglung, sedang beradaptasi dengan suasana ruang tengah boarding house-nya yang hanya diisi oleh dia dan Alpha.

“Oh baguslah akhirnya kau bangun juga. Suara berisik itu, ponselmu?”

Sehun menatap pemuda berdarah Swedia itu dengan dahi mengerut. Samar-samar akhirnya dia mendengar suara nada dering ponselnya.

“Ah ya, itu ponselku.” Sehun menurunkan kakinya dari sofa.

“Dia berisik sekali sejak tadi. Cepat matikan suaranya.”

Sebenarnya dia malas sekali untuk bergerak. Seharian ini jadwalnya sangat padat, seakan tidak ada waktu untuk sekadar menarik napas. Dilihatnya jam dinding, 45 menit lewat tengah malam, ternyata dia sudah tidur selama hampir 4 jam. Samar-samar suara ponselnya kembali terdengar, ia pun bergegas pergi ke kamar.

“Siapa sih menelepon malam-malam begini?” Dahinya mengerut, mengetahui kalau yang meneleponnya adalah nomor asing. Nomor telepon rumah pula. Terbesit dugaan negatif di pikirannya, pasti ini kerjaan orang iseng. Walau begitu tetap saja dia angkat.

hej (halo).”

Ini suara perempuan. Entahlah, suara yang familiar sekali.

***

“Kei?”

Rahang Kei tiba-tiba mengeras. Ini … dia kenal suara ini. Ah sial! Kenapa harus salah sambung ke nomor ini. Ia pun mengambil napas kemudian menghembuskannya perlahan.

Ursäkta (maaf), salah sambung.”

Kei sudah akan memutuskan panggilan, namun suara itu tiba-tiba berteriak. “Tunggu sebentar!”

Kei dengan enggan mengurungkan niatnya. “Apa ada yang ingin anda bicarakan?”

Bola mata Kei tampak gelisah. Tidak, bukan karena perkataan Sehun di telepon, Sehun hanya menanyakan kabarnya. Dia gelisah karena suara ini membuat dirinya teringat akan masa-masa indahnya dengan Sehun.

“Kei, bagaimana kabarmu? Baru dua hari tidak bertemu denganmu aku sudah sangat merindukanmu. Ah, rasanya waktu mulai semakin melambat. Bagaimana bisa dua hari serasa seperti dua abad?” Sehun berbaring dengan kepala berada di atas pangkuan Kei, dia sangat ceria begitu mendapat kesempatan bertemu dengan Kei lagi.

“A-aku baik-baik saja.”

“Tentu saja, kau tidak boleh sakit. Kalau kau sakit, aku tidak akan memaafkan diriku sendiri.” Sehun mengelak ketika Kei akan menarik hidungnya.

Kei menghela napas. Hari ini adalah hari yang paling sial baginya. Dewi Fortuna seakan sedang menghianatinya. Semua yang terjadi hari ini, termasuk salah sambung ke nomor Sehun merupakan kesialan. Sial, sial dan sial.

“Sudah lama ya, sejak hari itu.”

Kei hanya diam mendengarkan.

“Aku sudah menyerah berusaha berkomunikasi denganmu sejak nomormu tidak aktif lagi. Kau juga sudah pindah dari tempat tinggalmu yang lama. Aku tidak menyangka kita bisa terhubung kembali.”

“Aku tidak pernah berencana menghubungimu lagi. Ini hanya kebetulan, jangan sangka kalau aku sengaja.”

Kei bisa merasakan kegetiran dari deru napas Sehun. Dia begitu khawatir dengan respon pemuda itu. Akan tetapi, dia menahan diri untuk tidak mengungkapkan kekhawatirannya.

“Bagiku ini adalah takdir.”

Cengkraman Kei pada horn teleponnya makin erat. Matanya mulai memanas. Kenangan-kenangan masa lalu kembali terputar di ingatannya.

“Sehun.”

“Eum?”

“Besok, bisakah kita bertemu?”

***

Sehun memandang layar ponselnya tak percaya. Barusan itu, Kei mengajaknya bertemu? Dia tidak salah dengar ‘kan?

“Boleh. Di mana?”

“Djurgården.”

“Baiklah.”

“Kalau begitu aku tutup dulu. God natt.”

God natt.”

Sambungan terputus. Sehun tidak buru-buru menjauhkan ponsel dari telinga. Dia masih terlalu bahagia karena Kei tiba-tiba mengajaknya bertemu besok, di tempat pertama kali mereka bertemu dulu.

***

Djurgården dua tahun lalu

Sehun merasa seolah dia merupakan orang Korea pertama yang bisa mengecap sekolah kedokteran di Swedia. Dia begitu bangga ketika pemerintah Korea Selatan memutuskan memberinya beasiswa untuk sekolah kedokteran di Swedia hingga mendapat gelar professor. Kesempatan ini jelas tidak mau ia sia-siakan begitu saja. Meskipun dia harus bekerja paruh waktu untuk memenuhi kebutuhan hidupnya di negara ini.

Hari itu merupakan minggu pagi yang indah. Keceriaan seakan sedang menyelimuti ibukota negara Swedia itu. Semuanya nampak bahagia menyambut satu hari libur dalam satu pekan ini. Trotoar dipenuhi oleh masyarakat Stockholm yang sedang jalan-jalan santai bersama keluarga. Pemandangan seperti ini membuat Sehun teringat kota asalnya, Seoul.

Setelah menghabiskan waktu cukup lama, Sehun akhirnya sampai di lokasi yang sedang ditujunya, Djurgården.

Djurgarden

Djurgården bisa dibilang merupakan salah satu taman bermain yang dimiliki Stockholm. Perpaduan alamnya sangat mencengangkan, benar-benar sanggup memanjakan mata siapa pun, termasuk salah satunya Sehun. Dia terburu-buru mengeluarkan kamera, diambilnya semua potret Djurgården dari berbagai angle. Ia begitu puas setelah potret alam menakjubkan itu berhasil tersimpan di kameranya.

Ini seperti sedang berlibur di surga.

Sehun beranjak ke area lain, sambil tak lupa mengambil gambar. Dia sangat asik mengoperasikan kamera sampai-sampai tidak lihat jalan. Sebuah insiden pun terjadi, dia bersinggungan dengan seseorang hingga terdengar pekikan dan suara orang jatuh.

Sehun buru-buru mengalungkan kameranya dan membantu seseorang yang tadi ditabraknya. Dia terkejut melihat semburat merah bekas goresan di lutut orang itu. Gadis itu juga mengaduh saat tangannya berusaha mengepal, ternyata luka itu tidak hanya ada di lutut tapi juga di kedua permukaan tangannya.

Are you okay, Miss?” tanyanya panik.

Gadis itu menggeleng, wajahnya memucat.

Sehun memungut tas gadis itu yang tergeletak di dekat kakinya. “I’m so sorry. I ‘ll responsibility for my mistakes.”

Gadis itu menurut ketika Sehun menyuruhnya untuk duduk di sebuah kursi. Sehun mengeluarkan kotak obat darurat dari dalam ransel, dia akan bertanggung jawab mengobati luka gores di lutut dan kedua telapak tangan gadis tersebut.

Ng… Vad heter du (Siapa namamu)??”

Gadis itu meringis pelan saat Sehun tak sengaja menekan lukanya terlalu keras. Ia menoleh ketika Sehun menggumamkan ‘maaf’. “Jag heter Kei.”

Intressant (menarik),” puji Sehun sambil menampakkan senyum manisnya.

Var kommer du från (dari mana asalmu)?” tanya Kei penasaran. Dia tahu betul Sehun bukan warga asli Swedia, dari logat bicaranya saja sudah beda.

Jag kommer från South Korea.” Sehun menutup luka di kedua telapak tangan Kei dengan membebatnya menggunakan perban. Sekarang giliran bagian lutut yang harus dia selesaikan, dia pun mengubah posisinya dengan berlutut di hadapan gadis itu.

“Senang berkenalan denganmu.”

Sehun langsung mendongak setelah mendengar bahasa yang digunakan Kei. Kei tersenyum padanya.

“Ibuku orang Korea, aku bisa bahasa Korea, tenang saja.”

Sehun memang tidak percaya. Tapi dia bersyukur karena menabrak gadis ini. Kenapa? Tentu saja karena akhirnya dia bisa berbicara bahasa Korea lagi di negara lain.

“Senang berkenalan denganmu juga.”

***

Sehun langsung menemukan batang hidung Kei setelah sampai di Djurgården. Ia bergegas mendekat dan menduduki tempat kosong di samping gadis itu.

“Maaf aku terlambat.”

Kei hanya menoleh tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Dia memerhatikan Sehun sejenak lalu setelah bosan kembali melihat perairan di depan mereka.

***

Djurgården satu setengah tahun lalu.

Sehun dan Kei sedang duduk-duduk di sebuah bangku menghadap perairan Djurgården. Mereka sedang menonton pemandangan sore hari di mana sekarang matahari sedang berusaha menyembunyikan diri di balik serentetan bangunan yang ada di seberang mereka.

Kei menggeleng pelan saat mendapati Sehun sibuk mengabadikan moment itu dengan kamera kesayangannya. “Asyik sekali ya, sampai-sampai lupa tujuan kita ke sini.”

Sehun menoleh, nyengir. “Pemandangannya terlalu bagus, mubadzir ‘kan kalau dilewatkan begitu saja.”

Kei membalasnya dengan senyum kecut. “Dasar kau ini.”

Sehun tahu betul kalau Kei kesal padanya. Ia pun usil mengarahkan lensa kamera ke wajah Kei. “Wajah cemberut khas nona Kei juga sangat mubadzir untuk dilewatkan.”

Ckrek!

Kei melotot sebal. “Hapus tidak?”

Sehun segera menyembunyikan kamera itu di belakang tubuh. “Kalau tidak mau?”

“Sehun!!”

Terjadilah aksi saling berebut kamera. Sehun berusaha menjauhkan benda itu, sedangkan Kei bersikeras meraihnya. Sehun terus mundur, karena Kei mendesaknya. Hingga akhirnya mereka berdua pun terjatuh saling tumpang tindih –Sehun berada di bawah-.

“Ah punggungku.”

Sadar dengan posisi mereka, wajah Kei mendadak memanas. Ia lekas mengganti posisinya dengan menjauhi pemuda itu. Diliriknya kanan kiri, memalukan sekali semua orang memperhatikan mereka.

Sehun duduk dengan perlahan, ia mengusap punggungnya yang mungkin memar karena dia jatuh begitu keras. “Kau ini berat sekali ternyata.”

Kei menoleh sembari melotot. “Itu termasuk pelecehan, tahu. Beruntunglah dirimu karena aku tidak berniat melaporkanmu ke komisi Hak Asasi Manusia setempat.”

Ucapan Kei terdengar lucu bagi Sehun. Pemuda itu tersenyum-senyum. Diraihnya tangan Kei dan digenggamnya erat. “Kei….”

Dahi Kei tampak mengerut melihat ekspresi Sehun. “Kau kenapa?”

“Kau mau jadi kekasihku?”

Entah karena apa, rona kemerahan tiba-tiba terbentuk di kedua pipi Kei. Netra gadis itu tampak gelisah. “Kepalamu baru terantuk batu, ya?”

Sehun tertawa gemas. “Aku serius, Kei.”

Kei memperhatikan tangan mereka yang saling bertautan. “Benarkah?”

“Tentu saja. Kita sudah saling mengenal selama 6 bulan, apa selama itu kau masih tidak tahu bagaimana aku?”

Kei masih ragu-ragu. Entahlah, baginya ini terlalu cepat. Mereka yang tidak pernah bertemu selama 19 tahun hidup mereka, tiba-tiba bisa saling mengenal di tempat ini. Berawal dari pertemuan tidak sengaja, sampai hari ini Sehun menyatakan perasaan padanya.

Kei balas menggenggam tangan Sehun. “Baiklah, aku mau … menjadi kekasihmu.”

***

“Katamu kau tidak sengaja menelepon ke nomorku. Memang rencananya siapa yang akan kau hubungi? Seorang pria?” Sehun memecah keheningan dengan pertanyaan, karena sedari tadi mereka hanya duduk-duduk tanpa saling bicara.

Kei menggeleng. “Julia, teman satu jurusanku.”

“Oh….” Sehun mengangguk kecil.

Hening lagi.

“Kenapa kau memintaku kemari?”

Kei masih tidak menjawab. Tapi dia menoleh, terlibat acara saling pandang dengan Sehun.

**

Djurgården tahun lalu

“Sehun-a.”

Mendengar namanya dipanggil, Sehun langsung menoleh. Ia terkesima melihat Kei datang mengenakan setelan yang tidak biasa. Kei tampak begitu anggun memakaidress putih selutut dan flatshoes berwarna kontras.

Sehun hampir menjatuhkan buket bunga yang ia sembunyikan di balik punggungnya. Dia juga hampir lupa caranya menarik napas.

“Maaf menunggu lama.”

Sehun menggeleng cepat. “Aku juga baru sampai, kok.”

Kei tersenyum. Dia juga terkesima melihat Sehun yang begitu tampan dengan setelan semiformalnya. Hari ini memang hari yang spesial untuk mereka. Karena hari ini adalah perayaan hari Valentin.

Sehun mengeluarkan buket bunga, mengisi ruang kosong di antara mereka. “Ini untukmu.”

Kei menerima bunga itu dengan sukacita. “Terima kasih.”

Bunga yang Sehun berikan adalah jenis bunga Amaranth. Sehun memilihnya karena arti bunga itu sama persis dengan perasaannya –Amaranth: kesetiaan-.

“Kei, maafkan aku selama ini.”

Kei mendongak, menatap Sehun penuh minat. “Apa kau baru melakukan kesalahan padaku?”

“Bukan sekarang, tapi sejak hubungan kita seperti ini.”

“Aku tidak tahu apa maksudmu.”

Sehun memeluk Kei tiba-tiba. Pelukannya begitu erat dan hangat. Kei bisa merasakan deru napas Sehun di tengkuknya.

“Selama ini aku tidak pernah punya waktu untukmu, tidak sering menghubungimu. Itu karena jadwal kuliahku yang sangat padat akhir-akhir ini. Aku takut kau tidak akan datang hari ini. Maafkan aku.”

Kei menepuk punggung Sehun sembari tersenyum. “Tidak apa, aku memakluminya.”

“Aku sangat mencintaimu, Kei. Aku bersungguh-sungguh.”

“Aku juga mencintaimu, Sehun.”

***

“Bagaimana kuliahmu?”

Dahi Sehun mengerut. Aneh karena tiba-tiba Kei menanyakan hal itu. “Sejauh ini baik, bagaimana denganmu?”

“Bulan depan kalau aku berhasil, aku akan mengikuti pertukaran pelajar ke California.”

Sehun membelalak terkejut. “California? K-kenapa tiba-tiba?”

Kei menggeleng. “Aku sudah memikirkannya sejak 6 bulan lalu.”

Sehun tampak kesal dengan keputusan Kei yang menurutnya tiba-tiba. “Jadi kau sudah merencanakannya? Hanya itukah yang ingin kau bicarakan?”

Kei menoleh. Terlihat sekali sorot matanya yang sendu. “Sehun-a….”

***

Djurgården 6 bulan lalu.

Mereka memutuskan merayakan 1st anniversary di tempat pertama kali mereka bertemu. Kei berdandan habis-habisan demi perayaan ini. Sesekali dia ingin Sehun memuji kecantikannya secara lisan. Sehun menjanjikan satu hari penuh untuk hari mereka ini.

Setelah siap, ia pun lekas berangkat menggunakan taxi.

Dalam perjalanan Kei tak hentinya menatap kagum jalan yang dilalui. Padahal semua pemandangan itu sudah ia lihat selama 19 tahun. Semua orang yang ia lihat tampak berbahagia, sebahagia dirinya sekarang. Berlebihan memang, tapi Kei memang selalu begitu jika sedang bahagia.

Perjalanan 10 menit akhirnya terlampaui. Kei segera turun dari taxi setelah membayar bill. Dengan langkah mantap, ia pun bergegas menuju lokasi pertemuan mereka.

25 meter di depan, Sehun berdiri memunggunginya, terlihat gaya dengan setelan casualnya. Tangan kiri pemuda itu memegang sebuket bunga, sementara tangan yang lain sedang memegang ponsel. Sehun sepertinya sedang menerima telepon dari seseorang.

Kei tersenyum. Dia mendekat sambil mengendap-endap. Samar-samar dia bisa mendengar suara Sehun yang sedang bicara.

“Bisakah kau mengusirnya dari boarding house?”

“Kalau kau memang tidak suka padanya bicaralah padanya!! Yang keberatan di sini bukan hanya aku, tapi juga yang lain.”

“Pokoknya aku tidak mau tahu. Aku tidak mau bertemu dengan gadis bodoh itu, aku sudah capek dengan satu gadis bodoh lainnya. Jangan tambahi beban pikiranku.”

“Siapa … gadis bodoh itu?”

Sehun buru-buru berbalik. Ia menelan ludah melihat keberadaan Kei yang tepat di belakangnya. Lekas dia putuskan sambungan dengan Alpha.

“Oh Kei, kau mengagetkanku.”

“Aku tanya siapa gadis bodoh itu. Aku dengar kau sudah capek dengan satu gadis bodoh lainnya. Memang siapa gadis itu?”

Sehun menggeleng cepat. “Aku tidak bicara begitu. Sepertinya kau salah dengar, Kei.” Sehun tertawa garing.

Kei melirik buket bunga yang dibawa Sehun. Rosemary. Kei tersenyum kecut.

“Aku mendengarnya sendiri, Sehun. Kau tidak sadar kalau aku berdiri di belakangmu sejak tadi?”

Sehun tampak gelisah. “Itu.”

Kei mundur selangkah. “Aku sudah tahu, Sehun. Aku tidak akan menyusahkanmu lagi. Permisi.” Kei pun berbalik begitu saja.

***

Kei ingin mengucapkan sesuatu, tapi urung ia lakukan. Dia tampak ragu-ragu, antara mengatakannya atau tidak. Dan jawabannya adalah tidak. Sebelum air matanya tumpah, dia segera bangkit dari lari secepatnya.

“Kei!” Sehun dengan sigap mengejarnya. Ia kerahkan seluruh tenaga untuk menggapai gadis itu.

“Kei!”

Sehun berhasil menarik lengan Kei. Segera dia kunci pergerakan gadis itu dengan cara merangkul pinggangnya.

“Lepaskan aku.”

Sehun makin mengeratkan rangkulannya. “Aku akan lepaskan setelah kau mendengar penjelasanku.”

Kei akhirnya tidak memberontak. Dia mendongak, untuk membalas tatapan Sehun.

“Dengarkan aku. Yang waktu itu kau dengar adalah kesalahpahaman. Gadis bodoh yang kumaksud itu bukan dirimu. Tapi masa laluku, masa lalu yang benar-benar sudah aku lupakan. Aku sangat kesulitan menjelaskan itu padamu, aku takut kalau jawabanku ini akan merusak hari kita. Maafkan aku, andai aku mengatakannya dari awal….”

Sehun tidak dapat melanjutkan ucapannya karena Kei tiba-tiba membungkam bibirnya. Ini ciuman pertamanya selama 21 tahun dia hidup. Rasanya tidak sefantastis yang dikatakan kawan-kawannya sewaktu SMA. Yang ia rasakan hanya sensasi seperti sengatan listrik di permukaan bibirnya, hanya itu. Karena Kei menciumnya dengan durasi yang sangat singkat.

“Aku juga minta maaf, Sehun. Aku merasa sangat bersalah karena tidak mendengar alasanmu dari awal. Maaf aku terlambat mengatakannya.”

Sehun membiarkan Kei menangis di pelukannya. Ia bahkan dengan gentle ikut membungkus tubuh Kei dengan coat yang dipakainya, agar orang lain tidak bisa melihat air mata gadisnya itu.

***

Pesawat dari California akan arrived 30 menit lagi. Sehun bolak-balik melirik arlojinya.Ferrari yang ia pinjam dari Alpha hampir mencapai kecepatan 100 km/jam. Seharusnya dengan kecepatan sedemikian dia bisa sampai di bandara sekitar 20 menit lagi.

Sesampai di Stockholm Arlanda Airport, Sehun segera keluar dari mobil sambil mengikutsertakan sebuket Heliotrope yang dibelinya di toko bunga. Dia langsung berlari ke dalam setelah mengetahui bahwa pesawat dari California akan datang 5 menit lagi.

Menunggu dengan waktu yang singkat namun lama baginya, penumpang dari California pun satu-persatu keluar dari pintu batas pengantar/penjemput. Sehun mempertajam penglihatannya agar bisa menemukan batang hidung Kei. Setahun tidak bertemu, Sehun tidak yakin apakah Kei berubah atau tidak. Dia juga tidak tahu Kei memakai baju apa.

Orang-orang yang keluar dari pintu itu makin menipis. Penjemput yang ikut menunggu bersamanya juga hampir habis. Kini hanya tersisa dia dan dua orang lainnya. Sehun mulai cemas, terbesit pikiran yang tidak-tidak.

“Sehun.”

Ia bernapas lega begitu mendengar suara itu. Seorang gadis baru saja keluar dari pintu dan langsung mendekatinya. Kei tampak begitu baik-baik saja. Sehun mendesak maju saking tidak sabarannya ingin memeluk Kei.

“Syukurlah kau sampai dengan selamat….”

Kei membalas pelukan itu dan tersenyum. “Terima kasih sudah menghawatirkanku.”

Sehun mengecup sisi kanan kepala Kei sebelum menyudahi pelukan itu. “Selamat datang kembali di Swedia, Kei. Aku membawa hadiah untukmu.”

Kei menerima buket Heliotrope itu dengan ekspresi ceria seperti biasa. Namun dahinya mendadak mengerut ketika menemukan kotak kecil di dalam rangkaian bunga tersebut. Dia menatap Sehun sebentar, tapi Sehun malah tersenyum seakan tidak tahu menahu soal itu. Akhirnya Kei memutuskan mengambil kotak itu, lalu membukanya.

“C-cincin?”

Sehun tiba-tiba menarik cincin itu dari kotaknya, lalu ia kenakan di jari manis Kei. “Ini bukti keseriusanku padamu, Kei. Maukah kau menikah denganku?”

END

7 responses to “Flower ~ohnajla~

  1. Salah paham ternyata. Kagum sama mereka yang bisa memaafkan satu sama lain. Itu sehun nya juga manis bgt ><
    nice ff!!

  2. salah paham yeee??
    Sehuuunn,, ciyeee yg bisa sikap kaya gitu(???) wakaka
    habis balikan mau nikah tuuuhh*bener kn?*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s