Maraville: The Hirudinea & Antidote

image

MARAVILLE: Si Penghisap Darah & Si Penawar Racun

Krystal Jung as Krystal
Kim Jongin as Kai
Oh Sehun as Sehun

Fantasy, Romance

Terinspirasi dari film x-men

sudah di publish di http://www.andwhenitrain.wordpress.com

Semua makhluk yang ada di dunia ini ditakdirkan untuk hidup saling perdampingan. Manusia, hewan, bahkan tanaman tidak akan bisa hidup tanpa satu sama lain. Mereka diciptakan umumnya memiliki keunikannya tersendiri menurut masing-masing kodrat.

Tak terkecuali mereka, para kaum mutan. Makhluk berwujud manusia namun memiliki suatu kelebihan yang membuat mereka berbeda dari yang lainnya. Mereka yang tercipta dengan mutasi gen yang berbeda, yang menyebabkan diri mereka memiliki suatu kekuatan super yang tak dimiliki oleh manusia biasa.

Tahun 1973, ialah pertama kalinya kaum mereka tertangkap oleh publik. Dunia cukup gempar kala itu. Sejak saat itu sejarah berubah. Mereka yang dikira hanya ada di fantasi anak-anak delapan tahun, kini wujudnya terpampang nyata di depan mata.

Kini, 52 tahun sudah terlewat. Tahun 2025, tepatnya pada saat ini. Para kaum mutan yang dulunya dianggap makhluk tabu, kini sosok mereka sudah diterima oleh umat manusia. Dan mereka hidup saling berdampingan.

Bahkan, merekapun memiliki pola kehidupan yang sama. Bekerja, sekolah, bahkan cinta…

Di sebuah negeri bernama Maraville Land, dibangunlah sebuah sekolah khusus nan megah berbentuk istana untuk anak-anak yang terlahir berbeda. Sekolah itu diberi nama Maraville School. Tempat mutan-mutan berbakat mengemban ilmu demi mengasah sejauh mana mereka dapat mengendalikan kekuatan mereka.

Mereka mungkin memang terlahir spesial. Namun, bukan berarti mereka bisa langsung menggunakan kekuatannya. Banyak dari mereka, masih belum bisa mengendalikan kekuatan mereka sendiri.

Ialah Krystal, salah satu dari mutan-mutan itu. Gadis berbakat bersurai emas panjang. Paras cantik, serta tatapan tajamnya yang selalu ia perlihatkan kepada siapa saja yang lewat. Gadis yang sayangnya jarang sekali menunjukkan senyum. Menambah kesan misterius pada dirinya.

Gadis berkaki jenjang itupun berjalan menyusuri koridor Maraville School pagi hari ini. Seluruh pasang mata mengarah kepadanya. Beberapa dari mereka mencoba menghindar, menjauhi langkah Krystal. Bahkan tak sedikit yang berbalik arah ketika berpapasan dengannya. Krystal tahu arti dari semua itu. Dan Krystal membencinya.

Hirudinea. Begitu mereka menjulukinya. Dalam bahasa latin yang berarti penghisap darah.

Bukan, ia bukanlah seorang vampir. Melainkan, gadis itu memiliki bakat untuk menghisap energi kekuatan milik mutan lainnya.

Yang mengakibatkan, siapapun yang menyentuhnya dapat merasakan nyeri bak tertusuk ribuan pedang tajam yang teramat sangat pada setiap inci persendian bahkan hingga ke tulang-tulang, lalu setelah itu kekuatan mereka menghilang, dan beralih berpindah ke tubuh Krystal.

Gadis itu mempercepat langkahnya hingga tungkainya yang jenjang tiba-tiba berhenti ketika melihat seseorang yang berdiri di persimpangan koridor dengan tatapan yang menghunus kepadanya. Seketika pandangan mereka bertemu. Pandangan tajam itu seolah berperang, siapa yang akan kalah dan memilih untuk berpaling duluan.

Cukup lama pandangan itu berperang, salah satu diantara mereka memilih untuk memutus kontak mata ketika sebuah tubuh mungil dari arah belakang Krystal tanpa sengaja menubruknya hingga membuat buku-buku yang ia bawapun berserakan di lantai.

Krystal beralih memandang siapa yang telah menabraknya. Dan di sana lah seseorang itu berada. Seorang gadis mungil berambut hitam pekat yang ikut meringkuk di lantai, menahan nyeri yang ia rasakan. Mungkin akibat tanpa sengaja kulitnya bersentuhan dengan milik Krystal.

Sesungguhnya si gadis mungil mampu untuk mengcegah buku-buku yang jatuh itu karena kemampuannya yang mampu melayangkan setiap objek yang ada, namun kali ini kekuatannya sedikit terasa lumpuh.

“Maaf…”, ucap si gadis mungil.

Krystal tak menghiraukannya. Ia lebih memilih untuk membereskan buku-bukunya yang berserakkan di lantai. Dan ketika pandangan gadis itu menengadah, fokusnya beralih pada objek yang kini berlari mengarah pada mereka.

“Kau tak apa?”, tanya objek itu. Sehun namanya. Si tampan yang sering mereka juluki sebagai The Ice Man karena kemampuannya yang dapat membekukan apa saja yang ada di depan mata.

Krystal tahu betul pertanyaan itu bukanlah ditujukan untuk dirinya. Melainkan untuk gadis mungil yang ada di hadapannya.

“Aku tak apa”, jawab si gadis mungil yang tertangkap oleh pendengaran Krystal.

Krystal masih sibuk membenahi buku-bukunya yang berserakkan. Sudut matanya melihat adegan yang sangat tidak ingin ia lihat dari dua orang yang paling ia hindari di seluruh kampus ini.

Pemuda bernama Sehun itu pun kini mengalihkan pandangannya pada Krystal. Ia ingin mengatakan sesuatu, namun tenggorokannya serasa tercekat.

Krystal bangkit dari posisinya semula tanpa berkata apa-apa kemudian beranjak dari tempat itu.

Sementara si gadis mungil, dan Sehun, pemuda yang baru saja menolongnya menatap punggung itu menjauh. Baru saja pemuda itu akan membantu Krystal, tetapi gadis itu sudah pergi menjauh. Kemudian terdengar helaan nafas berat yang keluar dari bibir si pemuda melihat punggung yang semakin menjauh itu.

—οΟο—

Dulu mereka pernah sedekat nadi, sebelum kini mereka sejauh matahari. Sehun yang dulu selalu menemaninya, berada di sisinya, ternyata sama saja dengan mereka yang mengatakan akan tetap tinggal. Namun pada akhirnya tetap pergi meninggalkannya karena keadaannya saat ini.

lunar-eclipse-moon-22921626-1024-768-1024x576

Malam itu, kala bumi sebagai alas dan langit sebagai atapnya. Dua insan itu duduk di bawah naungan sinar Lunar Eclipse. Di atas bukit Maraville.

“Kiss me..”, she said.

Then he got closer to her. And when their lips touched, the time froze for a moment. Tetapi itu tak berlangsung lama. Karena setelahnya, yang terdengar adalah suara rintih kesakitan yang keluar dari bibir Sehun. Padahal baru beberapa detik mereka bersentuhan, tetapi efek dari sentuhan Krystal sudah membuatnya seperti itu.

“I’m sorry…”, he said.

Lalu ia pergi meninggalkan Krystal begitu saja.

Dua minggu berlalu setelah kejadian itu. Kedekatan mereka perlahan memudar. Mereka kian menjauh, kembali menjadi seperti orang asing. Dan tepat beberapa saat setelah itu, datanglah si anak baru. Gadis mungil berambut hitam pekat yang mampu mengalihkan perhatian Sehun padanya.

Krystal ingat pada suatu malam ketika ia tidak sengaja melihat dua insan di luar sana dari balik tirai putih di dalam kamarnya. Krystal melihat bagaimana Sehun membekukan salah satu kolam di halaman asrama Maraville School. Dan bagaimana pemuda itu dan si gadis mungil memakai sepatu seluncur es, kemudian mereka bersama-sama menikmati permainan yang Sehun ciptakan sendiri. Saling bergandengan tangan. Dan saling melempar tawa.

Seketika sesuatu serasa menghantam dadanya.

Krystal juga ingin seperti itu. Ia juga ingin seseorang dapat menggenggam tangannya tanpa harus merasa sakit seperti itu. Ia ingin seseorang dapat memeluknya dan mengatakan semua akan baik-baik saja.

image

—οΟο—

Semester baru di tahun ini. Banyak anak-anak berbakat yang baru memulai semester pertamanya di Maraville School. Ada juga beberapa yang menjadi murid pindahan. Mereka yang berkumpul di taman belakang sekolah. Termasuk Krystal. Gadis itu tengah duduk membaca bukunya di bawah pohon rindang, di tepian danau belakang sekolah seorang diri.

Lagi-lagi ia mendapati beberapa pasang mata yang memandangnya takut. Namun tak dihiraukannya. dan tiba-tiba sebuah suara bariton milik seseorang menginterupsi.

“Boleh aku tanya mengapa mereka memandangmu seperti itu?”

Krystal menengadah. Kemudian kelereng madu miliknya bertemu dengan kelereng pekat milik seseorang di depannya. Gadis itu diam saja, tak mengindahkan pertanyaan itu.

Melihat lawan bicaranya yang diam saja, si pemuda kemudian melanjutkan.

“Perkenalkan, aku Kai. Murid pindahan di sekolah ini”, ucap pemuda itu kemudian mengulurkan tangannya ke arah Krystal.

Lagi-lagi gadis itu hanya diam saja. Cukup lama tangan itu menggantung di sana dan cukup lama tatapan tajam Krystal mengarah pada telapak tangan yang terulur di hadapannya. Kemudian satu kalimat keluar dari bibir ranum milik gadis itu.

“Percayalah, kau tidak akan suka saat aku menyentuhmu”, lantas gadis itu beranjak dari duduknya meninggalkan pemuda itu yang setengah menyeringai menatap punggungnya menjauh.

tumblr_inline_ntag4uyfmk1twn597_500

—οΟο—

Kelas Profesor Xavier adalah salah satu kelas yang sangat dinanti-nanti oleh para mutan. Sejarah. Banyak di antara mereka yang sangat ingin mendengar kisah-kisah para mutan sebelum dunia mengetahui keberadaan mereka seperti saat ini.

Profesor tampan yang kini tengah berdiri gagah di depan kelas menuliskan topik yang akan mereka bahas di kelas itu pada papan tulis.


THE ANTIDOTE



“Baiklah anak-anak, kalian tahu apa maksud dari kata yang tertulis di depan ini? Menurut kalian apa itu The Antidote? Dan jika ada yang ingin menjawab, silahkan acungkan tangan kalian.”

Salah seorang murid di bangku terbelakang kini mengacungkan tangan.

“Ya. Anda silahkan sebutkan nama dan lalu pendapat anda.”

“Terimakasih Profesor Xavier. Saya Rue dan menurut buku sejarah yang pernah saya baca sebelumnya. The Antidote adalah salah satu kaum kita yang memiliki kekuatan untuk menetralkan energi. Atau dalam bahasa latin artinya penawar racun.”

“Yup, tepat sekali”, si Profesor menjentikkan jari. “Terimakasih saudari Rue.”

“The Antidote adalah sebutan untuk kaum mutan yang memiliki kekuatan untuk menetralkan energi. Maksudnya di sini adalah mereka memiliki gen penawar dalam tubuh mereka. Mengalir di dalam darah. Sebenarnya, kekuatan mereka tidak memiliki sifat untuk menghilangkan kekuatan mutan lainnya. Ketika kalian menyentuh salah satu dari mereka, kalian pasti akan merasa seolah kehilangan kekuatan. Namun, sebenarnya tidak. kekuatan kalian tetap ada. Hanya saja kalian tidak bisa memakai kekuatan kalian kepada para kaum The Antidote. Dalam artian, kekuatan mereka menjadi salah satu kekuatan terkuat di dunia mutan. Mereka seperti mempunyai perisai di dalam diri mereka. Kekuatan kalian tidak akan melukai mereka, kecuali mereka yang membiarkannya. Kecuali mereka yang melepas perisai itu dan mengizinkan kalian melukainya.”

“Lantas Profesor, apakah kaum The Antidote itu masih ada? Atau hanya sebuah legenda?”, tanya salah satu murid yang ada di sana.

Sang profesor tersenyum penuh arti.

“Selama ini aku hanya menemukan beberapa dari mereka. Mereka masih ada di antara kita.”

Dan suara bel yang menggema di ruangan menandakan kelas hari itu berakhir. Meninggalkan Krystal dalam ketermenungannya yang panjang tentang seperti apa sosok The Antidote yang diceritakan dalam sejarah.

Apakah mereka sungguh ada di antara kita?

Dan sejak hari itu mencari sesuatu apa saja yang berhubungan dengan The Antidote menjadi salah satu kebiasaan gadis itu ketika ia berada di perpustakaan atau toko buku.

—οΟο—

Oi, Blonde!”, suara itu kembali menganggu Krystal. Hampir dua minggu sudah sudah Kai, nama pemuda itu, selalu mengikuti kemanapun Krystal berada.

Gadis itu terus melangkahkan tungkai kakinya tanpa menoleh ke arah suara itu.

“Oi, Krystal!”, suara itu tetap memanggilnya. Dan lagi-lagi gadis itu tetap berjalan tak acuh.

“Hei, Hirudinea!”

Dan panggilan terakhir itu yang mampu menghambat langkah kaki jenjang si gadis misterius. Tak hanya gadis itu, seluruh murid yang berada di koridor tersebut pun seolah terdiam mendengar dengan beraninya murid pindahan seperti dirinya memanggil Krystal seperti itu.

Krystal berbalik. Semua yang berada di sana terpekik kaget kala dengan tanpa aba-aba, gadis itu menyerang Kai dengan kekuatan yang dimilikinya. Krystal mengarahkan tangannya pada leher kai dari jarak tiga meter. hingga membuat tubuh pemuda itu melayang di udara karena serangannya. Kelereng madu milik gadis itu memancarkan kemarahan dan juga… luka?

“Jangan pernah memanggilku seperti itu lagi.”, ucapnya dingin dan menusuk. Kemudian gadis itu melepaskan serangannya pada Kai. Dan membiarkan pemuda itu terjatuh di lantai, lalu segera pergi dari tempat itu.

Kai lagi-lagi hanya tertawa kecil melihat punggung itu menjauh.

—οΟο—

Seminggu telah berlalu. Hari ini, tepat satu tahun terakhir kali Lunar Eclipse terjadi. Dan malam ini, seluruh penghuni Maraville School kembali menunggu kedatangan gerhana tersebut. Seperti biasa, pihak sekolah selalu mengadakan sebuah pesta untuk menyambut gerhana bulan itu.

Krystal terduduk seorang diri di puncak bukit Maraville. Gadis itu terlihat menjauhi kerumunan murid yang berada di halaman belakang sekolah. Ia terduduk memeluk lututnya, dengan sebuah dress putih sederhana yang membalut kulit poselen nya.

Lama termenung, tiba-tiba seseorang menghampiri lalu ikut duduk di sampingnya.

“Mengapa kau selalu terlihat sendiri kemanapun kau berada?”

Krystal tahu betul siapa pemilik suara itu. Ia diam tak membalasnya.

“Krystal, jawab aku, please?

Tak ada jawaban. Kai menghela nafasnya.

“Okay, baiklah. I’m so sorry kalau selama ini sikapku benar-benar menjengkelkanmu. Aku hanya ingin lebih mengenalmu, kau tahu? Selama ini jika aku memanggilmu kau selalu saja menghindar. Makanya saat itu aku memanggilmu seperti itu, dan aku minta maaf.”

Krystal mengalihkan pandangannya pada pemuda yang sedang duduk di sampingnya. Desai angin menemani mereka malam itu.

“Mengapa kau tahu namaku?…”

“Semua orang di Maraville School pasti tahu siapa dirimu.”

“Mengapa kau ingin lebih mengenalku?”

“Entahlah. Apa aku butuh alasan untuk itu?”

“Tidak ada yang ingin berteman denganku sebelumnya. Bagiku ini cukup aneh ketika  ada seseorang yang tiba-tiba datang menghampiriku dan mengatakan ia ingin lebih mengenalku. Percayalah, kau akan menyesal jika terus berdekatan denganku.”

Hening menghampiri mereka untuk beberapa saat.

“Maka, jangan pernah menganggap ini aneh lagi. Yang perlu kau lakukan adalah membuka dirimu untuk seseorang yang ingin mengenalmu. Dan apa-apaan kalimat terakhir itu? Aku tidak akan menyesal Krystal, aku tahu itu.”

“Ya, kau akan menyesal. Dan pada akhirnya kau sama saja seperti mereka yang pergi meninggalkanku.”

Kai hanya menanggapi kalimat itu dengan senyuman manis yang tercetak di bibirnya. Lantas pemuda itu mengulurkan tangannya pada gadis itu.

“Pegang tanganku.”

“Kau gila.”

“Aku serius. Pegang tanganku.”

“Kau tidak akan suka ketika kulitku menyentuh kulitmu. Itu akan terasa sakit yang teramat sangat.”

“Aku tidak perduli. Kau hanya perlu memegang tanganku.”

Krystal memandang Kai tak percaya. Pemuda itu begitu gigih memerintahkannya untuk memegang tangannya. Krystal tampak sedikit berpikir, sebelum dirinya memutuskan untuk mengikuti perintah dari pemuda itu.

“Aku sudah memperingatkanmu.”

“Aku tahu.”

Detik-detik berlalu dengan perlahan ketika tangan Krystal mulai membalas uluran tangan milik Kai. Dan ketika kuliat mereka bertemu, betapa terkejutnya gadis itu saat apa yang ia pikirkan akan terjadi, ternyata tak terjadi. Rintihan sakit yang tadinya ia pikir akan keluar dari bibir pemuda itu, ternyata pun tak terjadi.

“K-kau?…”

Kai tersenyum manis. Pemuda itu menarik tangan Krystal mengisyaratkan gadis itu untuk berdiri bersamanya.

Yes. I am the Antidote…”

“Bagaimana bisa? Saat i-itu aku bisa menyerangmu…”

“Kau lupa dengan ‘kekuatan kalian tidak akan melukai kami, kecuali kami yang membiarkannya. Kecuali kami yang melepas perisai itu dan mengizinkan kalian menyerang’?”

Krystal masih terpaku menatap lawan bicaranya tak percaya. Sampai-sampai gadis itu tidak sadar kalau tubuh keduanya kini sudah melayang dari permukaan tanah.

“Jangan lihat ke bawah”, bisik pemuda itu tepat di telinga Krystal.

“A-apa?”

“Jangan lihat ke bawah”, ulang pemuda itu sekali lagi.

Krystal yang terlihat bingung pun, justru mengalihkan pandangannya ke bawah. Gadis itu terkejut bukan kepalang. Tubuhnya sedikit limbung, namun dengan tangkas Kai menahannya. Seketika pandangan mereka bertemu.

“Injak kakiku”, perintah pemuda itu. Krystal hanya mampu mengikuti apa yang diperintahkan.

“K-kau juga bisa terbang?”

Pria itu tersenyum penuh arti.

“Hanya saat aku merasa bahagia.”

Pandangan mereka masih bertemu. Keduanya terhanyut ke dalam lingkaran memikat yang terdapat pada masing-masing pihak. Lama kedua insan itu menyelami lebih dalam lagi masing-masing netra. Hingga mereka melupakan sejenak apa yang ditinggalkan di permukaan tanah. Memilih untuk lebih menikmati setiap momen dari atas sana.

Lunar Eclipse telah terjadi. Para penghuni Maraville School yang menyaksikan gerhana itu cukup terkejut kala melihat bayangan dua insan yang tergambar di atas sana dari sinar gerhana yang memancar. Beberapa dari mereka bertanya-tanya siapa sosok dari bayangan itu. Dan beberapa sudah tahu bahwa bayangan itu adalah bayangan dari Si Hirudinea dan mereka cukup terkejut dengan apa yang mereka lihat. Bukankah siapapun tidak bisa menyentuh gadis itu kecuali mereka yang memiliki kekuatan seperti kaum The Antidote.

Lantas, mungkinkah? Jika benar. Mereka baru saja menyaksikan salah satu sejarah di dunia mutan. Di mana salah satu The Antidote yang lama tidak pernah tampak, kini terpampang nyata di depan mata.

Dan kenyataan itu menampar salah satu mutan tampan yang hanya terpaku menatap bayangan ke dua insan itu. Kejadian yang menghambat kerja sistem pernapasannya yang semula baik-baik saja.

4cebbb880506ffa56f5b322999513f7c

END


A/N: hehehe maaf cerita baru lagi… aku hanya ingin menuangkan yang ada di pikiran. Ini terinspirasi dari karakternya Rogue di X-men. Aku sedih lihat dia. Meskipun pacarnya tidak sejahat sehun di cerita ini tapi tetap aja aku sedih liat karakternya di x-men. wkwk. Sudah cukup cuap-cuapnya. Terimakasih. Aku harap kalian meninggalkan like dan komentar untuk cerita ini.

Baca cerita ku yang lain di http://www.andwhenitrain.wordpress.com

tumblr_n92bi99spl1s7lc3ho1_500

image

 

tumblr_inline_mqpd5tqwmk1qz4rgp

tumblr_inline_mqpe5efdai1qz4rgp

35 responses to “Maraville: The Hirudinea & Antidote

  1. penggemar xmen ya?? samaan donk wkwkwk
    iya nih krystal jadi kek rogue ya, tapi rogue akhirnya tetep sama pacarnya kan 😂
    keren keren bagus 👍

    • Iyaaaa hehe. Sebenernya mulai suka baru2 ini sihhh. Tp sbnrnya dari x-men yg dulu jg udh kyk suka bgt sm si tokoh Rogue. Eh skrg pas nonton x-men yg baru, jd pgn nonton yg lama lagi krn inget Rogue. Soalnya di yg baru rogue nya udh ga ada sih wkwk. Anyway makasih udh komentar ya:)

  2. wow keren banget…
    Kerasa ngk nyaman juga sih
    kalo jadi Krystal dijauhin orang mulu bahkan kayak ditakutin … Dan Sehun juga bilang ngk bakalan kayak yg lain tp nyatanya sama aja… Ini udah end?bikin seriesnya donk author…

    • Terimakasih ya komentar dan kritik nyaaa😉 iya aku juga ngerasa kok ada beberapa kalimat atau kata yg msh rancu. Pas nulis aku buru2 bgt soalnya. Awalnya sih aku nulis nya enak eh pas ke tengah2 rada melibet otakku wkwk. Jadilah begini. Kedepannya akan ku usahakan perbaiki yg typi typo hehe

  3. Aaah udah lama banget sejak terakhir kali aku baca ff. This is my first ff i’ve read since my last fanfiction hahaha. I love the story so much, i don’t know, but i think this ff can make me sleep well this night haha. Goodd story eonnieee and fightingg💪😊. I’ll wait your next storyyyy😂

  4. Oh my god ini keren sangat, aku suka banget Karakter Rouge di XMen ditambah aku kaistal maniak, cerita ini menghanyutkankuuu huuu boleh minta sekuel? 😘😘 muah dede authornya kecehhhh

  5. Ini bagus banget ya ampun >< sedih banget si pas krystal mikir "pengen bisa genggaman sama orang tanpa harus ngelukain orang itu tanpa harus dijauhi" nyeseknya kerasa, apalagi ketika sehun lebih milih cewek baru itu.
    Hm Krystal penghisap kekuatan, Kai penetral kekuatan, berarti emang udah ditakdirin gitu ya buat melengkapi 😊 ini mohon banget yaa dilanjut, bagus banget mau lagi hehe
    Nice story kak^^

  6. Ini bagus banget ya ampun >< sedih banget si pas krystal mikir "pengen bisa genggaman sama orang tanpa harus ngelukain orang itu & tanpa harus dijauhi" nyeseknya kerasa, apalagi ketika sehun lebih milih cewek baru itu.
    Hm Krystal penghisap kekuatan, Kai penetral kekuatan, berarti emang udah ditakdirin gitu ya buat melengkapi 😊 ini mohon banget yaa dilanjut, bagus banget mau lagi hehe
    Nice story kak^^

  7. Uwahhh keren kerenn emang ya kaistal tu pada akhirnya pasti berasatu hahahha kere suka banget sama ceritanya 👍👍

  8. Keren ceritanya..kaistal pula..walaupun aku nggak penikmat xmen sih hehehe..tp ini keren banget..sayang cuma oneshoot..di lanjut mungkin lbh ok🙂

  9. Btw, aku udah baca ceritanyaa..
    keren cuyyy… ane baru nemu ff yang terinspirasi dari gilm layar lebar >< sama2 keren lagii❤❤

  10. ouhhh ak baru tahu ad ff kaistal yg kece dsni hhee.
    btw isi blog yg dsamperin it kaistal smuany isiny ?
    klo iya, sayang bgt gk bsa dbka..

    wew ….
    walau bagaimanapun kehidupan kaistal
    fast,before and after always happy end..
    okkkk

  11. waaah bener2 ok bingit ni ff, seruuuu.
    kasian krystal saat dijauhi oleh teman2nya dan sehun, trus ketambah sehun lagi sama si gadis mungil sambil tertawa2 gitu…
    untung ada kai datang, yang bisa buat krystal tidak sendiri lagi…

  12. Ihh bener deh ini cerita keren banget sci-fi gimana gitu.. walaupun aku ga ngukutin x-men sihh hehe😆 sudah kuduga juga sih mereka bakal ditakdirkan untuk bersama…
    Aku juga suka sama gaya penulisan ffnya jadi enak dibacanya😊😊 keep writing yaa ✊✊✊

  13. Rame nih kalo disetiap cerita ada gambar2 gitu jadi bisa ngebayain gimana sih suasananya, apalagi settingnya dibangun sama authornya ndiri, Maraville Land kan? Keren namanya~ Pokoknya aku doa’in semoga kka selalu dapat ide untuk menulis lebuh banyak ff keren, selalu dukung deh! Semangat yah~

  14. manis bgt sungguh kai-nya. ya Allah suka bgt pas baca bagian kaistal terbang. kek ikut nge-fly brg merek *LOL

  15. Ini keren banget kak. Penyampaian ceritanya itu simple tapi feel-nya bisa dapet banget. Ayo dong kak bikin sequel atau apalah gitu. Aku penasaran sama kelanjutan hubungan mereka🙂

  16. Wah… keren2. Walaupun aku gk tau film x-men, tpi ni menarik utk dibaca. Ditunggu ya next chap nya…. (Klo ada jg sih…)
    Ada next chapnya gk sih, kak?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s