诺言 (promise) — by echaakim

promise-by-echaakim-2016[1]

诺言
( p r o m i s e)
© echaakim 2016

Luhan & Sehun

1552 word count about historical-family-brothership for PG-13

You know how the time flies..
Only yesterday was the time of our lives..

“Aku mau keluar sebentar,”

 

Sehun lantas mengangkat kepalanya ketika mendengar ucapan sang kakak. Tidak mengiyakan, menghalangi juga tidak, remaja laki-laki itu hanya diam. Matanya—yang berkantung hitam di bagian bawah—menatap Luhan, menampilkan ekspresi yang sulit diterka.

 
“Janji, tidak akan lama. Aku akan kembali segera setelah kau selesai mambacanya sampai ke halaman terakhir.” Luhan berujar disertai senyuman tipis, menyodorkan buku yang sampul depannya telah hilang ke hadapan adiknya. Sehun melirik sekilas buku itu sebelum kembali memaku tatap pada Junmyeon. Ekspresinya datar, wajahnya tak seceria hari-hari sebelumnya.

 
Tak mengindahkan ekspresi adiknya, Luhan bergerak bangkit. “Tunggu, ya, Sehun.” Mengusap kepala adiknya, Luhan pun melangkah keluar kamp.

 
Egois. Luhan tahu permintaannya pada adiknya barusan terdengar begitu egois. Apalagi di saat seperti ini, saat di mana perang dingin tengah berlangsung. Serdadu Jepang dan Korea Utara tak henti-hentinya menyerang, menguasai blok-blok dan setiap inchi kota maupun desa.

 
Luhan juga tahu konsekuensinya jika keluar kamp dan berkeliaran seperti ini. Dijadikan tawanan atau lebih buruknya ialah mati di jalanan karena tembakan para serdadu keparat itu.

 
Luhan hanya rindu kotanya yang dahulu, Gunsan¹ yang aman. Bukan Gunsan yang sekarang, porak-poranda dan sepi seperti kota mati lantaran terus dihantui teror di mana-mana.

 
Hyung yang bilang kalau kita tidak boleh berkeliaran seperti ini.” Satu suara familiar terdengar dan membuat pemuda itu berhenti

 
Mau tak mau Luhan berbalik. Senyuman tipis terpatri di bibirnya tatkala menemukan Sehun―yang tengah berdiri sambil memilin ujung kaus putihnya yang kumal―memandangnya dengan mimik menyalahkan.

 
Ya, Sehun benar. Luhan sendirilah yang mewanti-wanti adiknya itu agar tidak berkeliaran di luar barang sekali pun. Ilegal, Luhan mengecapnya begitu. Tak ada yang tahu apa yang akan terjadi di luar sana. Luhan tak mau hidup mereka berakhir naas seperti Chanyeol, yang tertembak hanya karena mengejar kertas suratnya yang terbawa angin.

 
Sambil mengangguk, Luhan mendekat pada adiknya. Lamat-lamat merangkul pundak kurus Sehun dan berjalan beriringan. Syukur, ia tidak melangkah meninggalkan kamp terlalu jauh. “Ayo, kita kembali, Sehun.”

 

 

Malam-malam musim semi tahun ini jauh lebih kelam ketimbang tahun lalu. Senyap dan mencekam, meski sekali-kali terdengar suara tembakan serta ledakan, jeritan pun tak luput. Musim semi kini bukan lagi musim di mana bunga mulai mekar dan tumbuh, cicit burung bernyanyi, semerbak harum pohon kayu yang ditumbuhi daun muda, bukan. Tak ubahnya neraka, bunga pun enggan menunjukkan kuntum baru.

 
Luhan mengerjapkan matanya beberapa kali. Sejak kedatangan serdadu keparat itu, tidur jadi hal yang sulit dilakukan. Meski kepalanya berdenyut nyeri, matanya tetap tak bisa terpejam. Bayangan serdadu yang menyerang kamp mereka terus menghantui malam-malamnya.

 
Pemuda itu beringsut ke samping. Sehun terlelap di sebelahnya. Dalam hati, Luhan bersyukur. Entah sudah berapa malam Sehun ikut-ikutan terjaga lantaran suara ledakan yang memekakkan telinga itu mengganggu. Demi Tuhan, Luhan tak sampai hati melihat kantung hitam di bawah mata adiknya itu Dan kini deru napas Sehun terdengar begitu teratur. Luhan dapat menebak kalau adiknya itu kini tengah bermimpi indah.

 
Luhan menatap wajah sang adik lekat-lekat. Wajah itu sungguh mengingatkan pada kedua orangtuanya. Mata dan hidung itu mirip sang ayah, bibir itu tak ubahnya milik sang ibu. Ah, betapa rindunya Luhan akan sosok keduanya yang telah berpulang lima bulan silam. Para serdadu tak berprikemanusiaan itu telah merenggut orangtua mereka. Tanpa belas kasih, tanpa ampun.

 
Masih segar dalam ingatan Luhan bagaimana tangisan Sehun memanggil kedua orang tua mereka. Sehun tak ingin meninggalkan ibu dan ayahnya bersama para serdadu itu, begitu pun Luhan. Namun Luhan tak bisa berbuat apa-apa selain menarik paksa Sehun menjauhi kamp ketika sang ibu memekik, berteriak pada si sulung untuk membawa lari si bungsu.

 
Luhan mengibas-ibaskan tangannya, menghalau nyamuk agar tak mendekati adik semata wayangnya. Kamp bukanlah tempat yang layak seutuhnya. Persediaan makanan dan air sungguh terbatas. Belum lagi bantuan obat-obatan yang tak seberapa. Korban berjatuhan setiap harinya.

 
Baru saja hendak membelai kepala sang adik, telinga Luhan menangkap suara gemerisik pelan di luar sana. Matanya terbeliak, napasnya tercekat, keringat sudah membasahi pelipisnya. Luhan ingin mengintip barang sekejap, tapi hatinya terlalu was-was. Baru hendak bernapas lega setelah tak lagi mendengar suara gemerisik mencurigakan itu, detik berikutnya Luhan serasa telah dilemparkan ke neraka terbawah.

 

 

Satu-satunya hal yang ada di benak Luhan ialah bagaimana membuat Sehun tetap hidup. Luhan telah berjanji pada Tuhan, di depan jasad kedua orangtuanya, serta Sehun yang menangis tersedu-sedu dalam pelukannya kala itu; meski dalam kondisi tersulit sekali pun, Luhan akan selalu menjaga Sehun, menjadi ayah sekaligus ibu bagi sang adik, yang menjadi pelindungnya dan merawatnya sampai tumbuh dewasa. Dan selamanya akan seperti itu, janji Luhan pada Sehun.

 
Hyung, kemana kita harus pergi?” Rengek Sehun, kepalanya terus menoleh ke belakang. Napasnya memburu, entah sudah berapa lama mereka berlari menelusuri hutan yang gelap.

 
Luhan tak merespon apa-apa. Hanya deru napasnya dan suara ranting kering yang patah terdengar. Rembulan di atas sana redup tertutup awan, hutan terlampau gelap dan mereka berlari begitu saja tanpa setitik pun penerangan.
“Mereka masih mengejar kita, Hyung!” Sehun memekik. Jejak air mata membekas di pipinya. Seharusnya malam ini menjadi malam tenangnya dalam tidur, sebab belakangan ini rasa kantuk enggan menghampirinya. Mimpinya indah, namun terusik dan terputus karena Luhan membangunkannya secara paksa begitu saja. Tahu-tahu mereka sudah berlari jauh meninggalkan kamp, entah kemana.

 
“Kita sudah berlari sejauh ini, kenapa mereka masih mengejar kita?”

 
Luhan hanya menggeleng. “Entahlah, tapi percayalah padaku bahwa aku akan membawamu ke tempat teraman,” Luhan menjawab seadanya. Sungguh, dia bukan tipikal pemuda dengan kaki jenjang yang dapat berlari secepat kijang. Usianya enambelas tahun dan dia menggolongkan dirinya sendiri sebagai seorang yang pendek setelah menyadari bahwa ia tak jauh lebih tinggi dari Sehun yang empat tahun di bawahnya.

 

 

 
Arah tak menentu, Luhan terus menggengam tangan adiknya berlari ke luar hutan. Luhan merasa sudah terlalu jauh, tapi nyatanya prajurit Jepang masih mengejar di belakang sana, dan suara tembakan terdengar.
“Ya Tuhan, lenganmu tertembak, Hyung!” Sekali lagi, Sehun memekik. Luhan tak punya waktu untuk sekadar menoleh melihat lengan sebelah mana yang dimaksud si bungsu. Dia tak mengindahkan, tapi detik-detik berikutnya sensasi kebas dan perih mendominasi lengan sebelah kirinya. Luhan tetap berlari, meski Sehun terisak menangisi lengan kirinya yang berlumuran darah.

 
“Sehun, diamlah. Jangan menangis, tenangkan dirimu.”

 
Hyung, mereka menembakmu! Kau berdarah!”

 
“Tenang, Sehun, ini tidak separah yang kau lihat, jangan cengeng begini.”

 
“Tapi darahnya begitu banyak, Hyung, kau harus dengarkan aku!”

 

Bersamaan dengan itu, Luhan tiba-tiba saja menjerit dan jatuh tersungkur. Prajurit Jepang berhasil melepaskan peluru tepat mengenai kakinya. Sehun yang menangis sejadi-jadinya kini berjongkok, berusaha memapah Luhan yang serasa tak mampu berdiri. Sehun menoleh ke belakang, prajurit-prajurit itu kini semakin dekat ke arah mereka.

 
Hyung, kau harus kuat! Mereka semakin dekat!” Seru Sehun sambil melingkarkan lengan Luhan di bahunya. Sayangnya, Sehun yang kurus tak akan mampu membawa Luhan berlari lebih jauh lagi.
Luhan memejamkan matanya. Sial, para prajurit itu kian mendekat dan rasa perih yang kelewatan di kakinya itu terasa begitu memuakkan. Luhan mengerang, berusaha bangkit berdiri dengan bantuan Sehun, tapi sia-sia. Dia kembali jatuh.

 
Sehun membantunya bangkit sekali lagi, tapi Luhan menolak, yang mana membuat si bungsu bingung dan kalut setengah mati.

 
“Ada apa denganmu, Hyung? Kita tidak bisa—“

 
“Maafkan aku,”

 
Luhan tersenyum pahit sementara air mata mulai muncul di pelupuk matanya. Ditatapnya wajah sang adik yang telah lebih dulu basah dengan air mata. Ia menangkup pipi Sehun yang tirus. Tak ada pilihan lain. Melihat kondisinya sekarang, ia tak mungkin bisa melanjutkan pelariannya dengan sang adik.

 
Pemuda itu menghela napas, dan menatap adiknya penuh arti. “Pergilah, Sehun,”

 
Sehun membulatkan matanya. “A-apa?”

 
“Pergilah sekarang, lari sejauh mungkin,”

 
Sehun menggeleng cepat, “Apa maksudmu, Hyung? Jika aku lari, maka Hyung juga harus lari!” Ia menarik lengan Luhan namun pemuda itu memaksa untuk tinggal.

 
“Kubilang pergi, Sehun! Pergi sejauh mungkin dari sini! Kau harus tetap hidup. Ingat impianmu menjadi seorang pilot ‘kan? Kau harus tetap hidup untuk mewujudkannya!”

 
“Tapi kau bilang kita akan mewujudkannya bersama,” Suara Sehun bergetar menahan tangisnya lagi.

 
Luhan tertegun mendengarnya. Benar, dia pernah menjanjikannya pada Sehun. Tapi, lagi-lagi Luhan tak punya pilihan lain. “Pergilah! Kubilang, pergi!” Bentak Luhan sambil menahan air matanya.

 
Sehun menggeleng sekali lagi. Air matanya yang tumpah menandakan penolakan yang kuat. “Kenapa kau jadi membangkang begini, huh? Pergilah sekarang!” Luhan mendorong Sehun untuk menjauh.

 
Hyung,” Tangis Sehun, tapi Luhan sengaja tak mengindahkannya. “Pergi, Sehun! Aku akan membencimu kalau kau tidak menuruti perintahku!” Luhan melempar ranting kering ke arah Sehun. “Pergi!!”

 
Sehun menangis lebih keras. Bentakan Luhan mau tak mau membuatnya bangkit berdiri. Perintah Luhan adalah harga mati baginya, sejak dulu ia tak pernah membantah perintah kakaknya. Tapi kali ini, ia terpaksa melakukan perintah itu. Mundur beberapa langkah, Sehun mulai berlari menjauhi Luhan.

 
“Tumbuhlah menjadi laki-laki yang baik, Sehun! Kelak kau akan menjadi pilot yang hebat, berjanjilah padaku!”
Itu kalimat terakhir Luhan sebelum suara tembakan terdengar lagi beberapa kali. Sehun terus berlari menjauh, kerongkongannya sakit akibat terlalu lama menangis. Sehun menoleh ke belakang, gelapnya hutan membuat sosok Luhan dan prajurut yang mengejar tak lagi tampak di matanya.

 
Bibirnya terus menyuarakan nama kakaknya, namun cukup sadar kalau sang kakak tak akan berlari menyusulnya. Ia bahkan belum siap menerima kenyataan pahit bahwa Luhan telah mengikuti ayah dan ibunya.

 
“Aku menyayangimu, Hyung.”

 

 

“Apa cita-citamu kalau sudah besar nanti, Sehun?”

“Sehun ingin jadi seorang pilot yang bisa berkeliling dunia, Hyung. Ya, ya, ya, Sehun ingin jadi pilot yang hebat!”

“Ah, bagus! Kalau begitu, Sehun harus rajin belajar agar bisa mewujudkannya.”

“Tapi Sehun tidak suka. Belajar itu membosankan, Hyung.”

“Sehun tidak boleh begitu. Sehun tidak boleh malas, Hyung akan bantu mewujudkannya bersama.”

“Benarkah?”

“Tentu.”

“Hyung janji?”

“Ya, janji.”

 

 

—fin

foot note :
* Gunsan
adalah sebuah kota di Utara Provinsi Jeolla, Korea Selatan. Letaknya di tepi selatan Sungai Geum. Sekarang telah menjadi teknologi tinggi industri kota dan pelabuhan perdagangan internasional yang kira-kira 200 km sebelah barat daya dari Seoul di pantai barat pertengahan Semenanjung Korea. Gunsan adalah sebuah desa nelayan kecil di tepi Sungai Geum. Gunsan menjadi pelabuhan di akhir abad ke-19 sebagian besar karena tekanan dari Jepang di Korea untuk kapal beras ke Jepang. Pada tahun 1899, Pelabuhan Gunsan resmi dibuka untuk perdagangan internasional. Kota ini sebagian besar dihuni oleh Jepang selama periode penjajahan Jepang. Lama (sekarang dibongkar) City Hall dan Customs House konstruksi Jepang. Setelah pembebasan dari Jepang pada tahun 1945, Gunsan mulai tumbuh perlahan-lahan.

* Well, is it too late now to say sorry? Oke, pertama-tama, aku minta maaf yang sebesar-besarnya pada seluruh pembaca sekalian. Maafkan aku yang hilang bak ditelan zaman ini TToTT
Maafkan aku yang tak kunjung melanjutkan ff chapter sebelah huhuhu, aku betulan minta maaf. Awalnya kukira aku bisa menghandle waktu buat ngerjain ff sama waktu buat ngerjain tugas sekolah. Tapi maaf (lagi), ternyata itu terlampau sulit kulakuin. Aku gak nyangka kalau tugas sekolahku makin banyak menjelang semester akhir dan ujian di mana-mana. Oh, Gosh, itu semua di luar apa yang aku pikirin. Aku bahkan gak sempet buat sekadar ijin hiatus, megang laptop jadi hal yang langka kemarin ))))’:

* Fic ini sebenernya fic yang udah lama banget. Fic ini kuketik buat ikutan challenge di suatu blog dengan pairing yang super duper crack. Siapa? Kyungsoo x Arin, how crack, ugh! Jadi karena sedang dalam waktu yang lumayan senggang, jadilah kurombak dengan HunHan saja, ehe. Im so fcking miss them ))))’:

* Kutaktau harus mengoceh apa lagi, karena…why footnotenya begitu panjang seperti ini? :’v Oke, beritahu aku kalau kalian ngeliat adanya typo, kesalahan tanda baca atau semacamnya, dan akhir kata kuucapkan ribuan terima kasih pada kalian yang udah menyempatkan waktu membaca fiksi-tak-layak-publis-ku ini dan berkomentar🙂

with love,
echaakim❤

13 responses to “诺言 (promise) — by echaakim

  1. Aduuh nyesek :’) hah kipas mana kipas /ga/ paling suka fic kayak gini😄 dan.. HunHan here! Makin kerasa tali(?) kakak-adiknya😀 nice🙂

  2. Haloo kak echaa, bisa panggil bgitu kan ya? salam kenal, Niswa 99line (apakah kita se-line atau bagaimana hehe).
    Sukaaa sama fiksinya. Pengen nangis tiap baca brothership-nya hunhan karena selalu selalu selalu ngenakkkk! :””)

    Apalagi Luhan tuh selalu berkorban gitu, dan suasana perang gini bikin aku makin baper ajah. so far aku lihat tulisan kakak rapi, nggak ada typo juga. keep writing yaa ♥

    • Halo, kak niswa~
      Kebalik nih kak, akunya 00’s hihi, salam kenal😆
      Alhamdulillah kalo kakak suka, makasih banyak juga udah nyempetin baca dan berkomentar💞💞💞

  3. wah brothership, suka sekali ff yg sperti ini jarang skali nemu ff exo yg brothership dan ini bagus bnget feelnya ngena sekali, menegang sndiri bacanya ..
    ditunggu karya slanjutnya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s