Accident by prllnrhmwt

accident

prllnrhmwt present

Accident

Kang Seulgi [Red Velvet]

Teen

Poster by Ayame Yumi @ Poster Channel

WARNING : BAHASA GA TERLALU BAKU & TYPO

HAPPY READING!

 

“Bisa ga sih ga bawel? Ini baru keluar dari cafe.”

Gadis bertubuh mungil yang mengenakan pakaian hampir dari atas hingga ke bawah berwarna hitam itu menggerutu kesal kala berbicara dengan seseorang yang menelponnya.

Namanya Kang Seulgi, Seulgi baru saja menginjak usia 25 bulan Februari lalu, tepatnya tanggal 10. Ia bekerja di salah satu butik ternama di kota Seoul, Korea Selatan. Sebuah kebanggaan tersendiri baginya karena dapat bekerja di tempat tersebut.

Dari dulu, Seulgi memiliki cita-cita menjadi seorang designer ternama di negaranya. Ia selalu mendambakan hal tersebut, jadi bukanlah hal aneh kalau dia merasa sangat bahagia meski hanya bekerja di sebuah butik. Di sini dia juga bisa belajar untuk butik miliknya di masa depan nanti. Doakan saja itu dapat terwujud.

Sejak duduk dibangku SMA, Seulgi tinggal sendiri di distrik Nowon-gu sedangkan kedua orang tuanya tinggal di kawasan Gangnam, meski begitu orang tua Seulgi sangat jarang berada di rumah mereka karena urusan pekerjaan yang mengharuskan mereka pergi ke negeri orang.

Memang benar Seulgi memiliki latar belakang keluarga yang—sangat—mampu. Keluarganya memiliki beberapa perusahaan besar di Korea. Salah satu contoh adalah Ayahnyaa yang memimpin perusahaan StarK Group yang kini telah memiliki beberapa cabang di luar negeri.

Tentu saja keluarga Seulgi dikenal oleh banyak orang. Tapi, Seulgi tidaj menginginkan itu. Dia memilih untuk menutup diri, dia tidak ingin media mengetahui kalau dirinya adalah anak kedua dari pemilik StarK Group. Ia hanya ingin menjalani kehidupannya seperti gadis seumurannya yang lain, tanpa suara dan cahaya kamera yang mengisi kehidupannya.

Awalnya sang Ayah tak setuju karena bagaimanapun juga Seulgi akan menggantikan posisi kakak laki-lakinya, Kang Jeonwoo, tapi gadis itu keras kepala. Dia menolak. Segala cara ia lakukan agar sang Ayah menurutinya—terkesan memaksa tapi ia pikir itu lebih baik karena dia tidak ingin perusahaan Ayahnya hancur ditangannya sendiri.

Memang benar, hal itu bisa saja terjadi jika Seulgi yang memimpin perusahaan Ayahnya. Ketahuilah, Seulgi tidak mengerti sama sekali tentang mengatur perusahaan. Demi apapun daridulu dia tidak pernah mengerti. Sejak kecil dirinya dan saudaranya selalu diajarkan bagaimana cara mengelola perusahaan, tapi hanya Seulgi lah yang tak paham.

Berbeda dengan adik perempuannya—Kang Mina yang pandai tentang hal itu. Maka dari itu, Seulgi menyerah untuk menggantikan posisi kakaknya nanti dan ia berpikir kalau Mina jauh lebih cocok daripada dirinya.

Berkat beberapa kenekatannya, sang Ayah luluh juga. Ia tidak membiarkan Seulgi diketahui publik, dia benar-benar menutup rapat-rapat tentang Seulgi hingga publik hanya mengetahui kalau dia memiliki dua anak—Jeonwoo dan Mina— dan membiarkan Seulgi hidup sendiri.

Sekitar lima menit yang lalu, Seulgi mendapat telepon dari sahabat yang sudah ia anggap sebagai kakak kandungnya sendiri. Dengan entengnya dia mengatakan kalau tempat pertemuan mereka tidak jadi di cafe dekat universitas Seulgi dulu, tapi di salah satu Mall yang terkenal di sini. Untunglah jarak antara cafe dengan Mall itu tidak terlalu jauh—hanya perlu naik dua bus saja yang memakan waktu kurang lebih 40 menitan. Sebenarnya ini cukup lama.

Seulgi sudah rela menyia-nyiakan waktu tidurnya yang sangat berharga dan susah didapatkan karena kepadatan jadwalnya itu hanya untuk bertemu dengan Red Velvet—nama gengnya saat masih sekolah—.

Meski sebenarnya Seulgi agak kesal karena kelakuan sahabat karibnya yang dari dulu selalu seperti itu, namun ia tak memungkiri fakta kalau dia sebenarnya juga sahabat-sahabatnya yang otaknya miring itu.

Bayangkan saja, sejak lulus SMA sekitar 7 tahun yang lalu, mereka sudah jarang dipertemukan lagi. Paling-paling ketika reuni angkatan atau ketika liburan saja. Selebihnya? Jangan harap. Mereka dan dirinya juga disibukkan dengan urusan masing-masing.

Ada yang sibuk karena urusan pekerjaan—seperti dirinya—, ada yang sibuk karena urusan pendidikan, ada juga yang sibuk karena urusan rumah tangga.

Dua dari empat sahabat dekat Seulgi memang sudah memiliki keluarga. Satunya tinggal menghitung bulan, yang lain masih berstatus dan fokus ke pendidikannya. Jadi hanya Seulgi yang masih single di antara mereka. Miris kalau mengingat hal itu.

Tapi itu bukan berarti Seulgi tidak populer dikalangan pria. Seulgi sangat populer, banyak laki-laki yang mengantri untuk mendapatkan hatinya. Namun sayangnya tak ada satu dari mereka yang mampu meluluhkan seorang Kang Seulgi.  Tak ada pria yang berhasil membuat jantung Seulgi berdetak dua kali lipat daripada biasanya.

Meski jarang bertemu langsung, mereka tetap berkomunikasi dengan baik. Tak jarang mereka melakukan video call ditengah waktu sibuk mereka.

“Ya Tuhan, tunggu sebentar saja ya? 30 atau 40 menit lagi aku sampai. Ini aku masih harus menyebrang trotoar untuk ke halte. Dan kak, bisa bilangin ke yang lain ga buat jangan berisik? Udah pada mau berkeluarga kelakuan masih sama aja kayak SMA, ga ngerti aku kenapa cowok itu mau sama mereka. Tolong ya, telinga ini rasanya mau pecah dengar teriakan mereka, please.”

Gadis bertubuh mungil itu mengecilkan suaranya. Takut orang-orang yang akan ikut menyebrang dengannya terganggu. Well, Seulgi tak mau menganggung malu kalau dia berbicara keras-keras.

Ketika Seulgi mengangkat kepalanya—karena sedari tadi ia menunduk, lampu lalu lintas sudah berubah menjadi hijau dan otomatis lampu untuk pejalan kaki menjadi berwarna merah. Seulgi mendecak sebal.

Ingin menerobos, tapi takut kenapa-kenapa. Tapi kalau dia menunggu lagi, ia akan ketinggalan busnya yang sudah menunggu di sebrang sana dan ia harus rela menunggu sekitar 15 menit untuk dapat bus lagi, oh dia tidak ingin mendengar ocehan panjang dari sahabat-sahabatnya nanti.

Jadi dengan segala keberaniannya, ia menerobos jalan raya itu. Untunglah jalan itu agak sepi.

Namun sayangnya Seulgi tak mengecek sisi kanannya selama dua kali. Dia tak menyadari kalau dari arah sana ada mobil sport berwarna merah melaju dengan kecepatan yang cukup tinggi.

Seulgi baru menyadari hal itu kala si pengendara mobil membunyikan klaksonnya. Secara otomatis kaki mungil gadis itu yang dibalut celana hotpants hitam dengan kaus kaki putih dan sepatu berwarna senada berhenti. Tubuhnya kaku.

Dan ketika jarak mobil itu dengannya sudah tak terlalu jauh, Seulgi hanya bisa menutup kedua matanya dan berteriak kencang, membuat seluruh perhatian di sekitarnya tertuju pada dirinya seorang. Dan juga membuat Irene—sahabatnya yang menelpon kebingungan setengah mati karena telepon mereka masih tersambung.

“Seulgi? Seul kamu denger aku ‘kan? Please jawab aku! Astaga jangan bikin aku khawatir sehari aja bisa ga sih?” Suara Irene masih terdengar dari ponsel Seulgi.

Satu menit terlewat begitu saja, namun Seulgi tak merasakan tabrakan antara mobil itu dengan tubuhnya. Ia tak merasa kalau tubuhnya—paling tidak terpental. Atau jangan-jangan… saking dahsyatnya tabrakan itu dia sampai tidak menyadari dan sekarang Seulgi sudah mati kala dia membuka kedua matanya?

Ah, sekarang Seulgi jadi takut untuk membuka mata.

Tapi mau bagaimana lagi, demi mengetahui apa yang sebenarnya terjadi dia harus membuka kedua matanya itu.

Dan kala ia membuka kedua matanya, betapa kagetnya dia saat mengetahui dirinya masih dalam posisi semula—berdiri ditengah jalan dengan mobil sport di depannya dan beberapa pengguna jalan lain memperhatikannya dengan tatapan yang sulit diartikan untuk Seulgi.

Seulgi memeriksa tubuhnya. Tidak ada yang kurang. Kedua kakinya dan tangannya masih dua, tidak ada bercak darah sama sekali dibaju putihnya yang dibalut cardigan hitam.

Kemudian gadis itu mengalihkan perhatiannya ke mobil sport di hadapannya. Ia melihat seorang pria yang kemungkinan besar adalah pengendara mobil itu tengah mengeluarkan kepalanya dari jendela.

“Kalau mau ditabrak itu minggir mbak! Bukannya diem aja sambil teriak gitu! Untung saya cepet-cepet ngerem tadi, kalau mbak beneran ketabrak ‘kan saya juga yang repot. Mbak kebanyakan nonton sinetron kayaknya. Sudahlah, cepat jalan. Lampu sudah hijau tuh nanti keburu merah lagi!” Cerocosnya panjang lebar.

DEG.

Gila.

Demi apapun Seulgi tak bisa mengalihkan pandangannya dari wajah pria itu sampai-sampai otaknya tak mampu mencerna kata demi kata yang keluar dari mulut pria itu saking terpesonanya.

Selama 25 tahun hidup di bumi ini, Seulgi baru pertama kalinya bertemu dengan lelaki yang ketampanannya melebihi model atau artis yang sering menjadi sampul dimajalah yang ia baca. Dan setelah 8 tahun, Seulgi merasakan getaran aneh ini lagi. Ya, jantungnya berdetak lebih cepat daripada biasanya, seperti yang ia rasakan kala melihat kekasihnya saat di SMA.

Lihatlah rambut hitam legamnya yang menutupi keningnya, hampir melewati kedua alis hitamnya. Matanya yang sipit namun mengintimidasi, membuat Seulgi sama sekali tak dapat berkutik. Dan jangan lupakan bibir tebalnya yang berwarna pink itu. Siapapun tolong hentikan pikiran kotor Seulgi sekarang?! Sungguh, pria itu benar-benar seksi.

Berlebihan memang, tapi begitulah yang dirasakan oleh Seulgi. Maklum, sejak kuliah  Seulgi hanya dikelilingi oleh pria yang otaknya sedikit miring dan wajahnya biasa-biasa saja. Terakhir kali dia melihat lelaki yang tampan seperti pemuda itu ya 8 tahun yang lalu, saat di SMA.  Jadi tidak salah ‘kan kalau Seulgi berlebihan sedikit?

“WOY! MBAK INI DENGAR GA SIH?!” Dan teriakan pria itu langsung menyadarkannya dan membuat gadis itu berjalan mengikuti rombongan penyebrang lainnya. Tanpa memperdulikan tatapan yang ditujukan padanya dari beberapa orang di sampingnya.

Ketika dirinya sudah sampai di halte yang memang hanya berjarak sekitar 1,5 meter, Seulgi berhenti sebentar—tidak langsung menaiki bus dan malah melirik mobil sport yang masih berhenti. Dari kaca mobil itu ia dapat melihat pria itu yang menggumamkan sesuatu dengan wajah kesalnya. Dapat dia tebak kalau pemuda itu tengah mengucapkan sumpah serapah untuknya. Entah kenapa dirinya malah tersenyum melihat pria itu. Dan sekarang pipi tembamnya pasti sudah memerah seperti kepiting rebus! Oh ini benar-benar memalukan.

Langsung saja gadis itu menaiki bus yang sedari tadi menunggunya—tidak juga sih sebenarnya tapi anggap saja seperti itu. Bus ini sudah cukup ramai. Ada beberapa orang yang berdiri. Ah Seulgi tidak mau berdiri, kakinya pasti akan pegal setengah mati. Jadi dia mencari kursi yang kosong ke belakang dan untunglah masih ada dua atau tiga kursi yang tersisa di bagian belakang. Langsung saja Seulgi mendudukan bokongnya dikursi yang berwarna biru itu.

Entah sadar atau Seulgi mengulum senyum—lagi kala melihat mobil sport merah itu sudah berjalan mendahului bus yang ia naiki. “Nyebelin sih, untung ganteng.” Gumamnya tanpa mengalihkan pandangan.

“Hah? Kamu ngomong sama siapa?”

Oh. Dia baru saja menyadari kalau telepon dirinya dan Irene masih tersambung. Ah, dia harus rela menghentikan lamunannya karena sahabatnya itu.

“Rene, percaya atau ga, tapi kamu harus percaya, tadi beberapa menit yang lalu aku baru ketemu sama cowok yang gantengnya ngalahin mantanku dulu. Ah mungkin ketampannya selevel sama artis-artis populer. Kalau kamu lihat aku yakin pasti kamu bakal punya pikiran buat selingkuh dari suamimu, Rene.” Jawabnya asal. Membuat Irene disana mengernyitkan dahinya kebingungan. Well mungkin inilah yang akan terjadi kalau kelamaan menjomblo.

 

fin

 

Hai! Tebak siapa yang balik? AKUUUUUUUUU! *lol* abaikan  :v

btw aku balik dengan ff absurd lg hmm maafkan :c habis gmna lagi ya, daripada ga update kan? ehehhee. oiya aku jg mau bilang kalau aku gabakal bikin sequel buat elevator :’v. aku mau fokus sama ***************** /apa hayoo/ abaikan lg😄 dan buat cerita ini, sama seperti elevator, bakal ada versi cowoknya…. oiya(lagi:v) ff ini terinspirasi dari meme yg sering bermunculan di teel fb aku :’v gatau kenapa kayanya bakal seru(?) aja klo dijadiin ff gt wkwkwk jd yah begitulah~ ini settingnya ttp di korea cuma yagitu bahasanya sengaja aku bikin gaterlalu baku biar gampang aja(?) /apasih

ada yg bisa nebak siapa cowoknya? :v

 

udah ah kebanyakan ngomong kayanya ya ehehehe. okay ditunggu komentarnya! see u next time~ maafkan kalau ada typo.

2 responses to “Accident by prllnrhmwt

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s