RESUME THE NAME I LOVED [3] by noonapark

1456273904026.jpg

-noonapark present-

Personal blog (https://noonapark.wordpress.com/)

THE NAME I LOVED previous part : | #1 | #2 | #3 | #4 | and now….

*

*

***

Chanyeol menuntun Eunsoo masuk ke dalam kamarnya. Namun saat baru beberapa langkah masuk ke dalam kamar, Eunsoo bertanya apakah mereka harus tidur bersama lagi malam ini? Sembari memaksakan senyuman, Eunsoo berkata bahwa Ia pikir, sebaiknya mereka tidur di tempat yang terpisah karena toh mereka belum resmi menikah.

Chanyeol menanggapi itu dengan senyuman tipis dan bertanya kenapa? Chanyeol kemudian mengatakan tidak biasanya Eunsoo menolak ajakannya. Pria itu juga berkata “Ada apa denganmu? Hana, kau tidak seperti biasanya. Entah mengapa aku jadi merasa kau seperti orang lain jika kau seperti ini.”

Eunsoo diam sejenak. Karena dia berencana tidak akan memberitahu Chanyeol perihal identitas aslinya saat ini, maka untuk mencegah agar Chanyeol tidak curiga Eunsoo akhirnya menuruti perkataan Chanyeol dan merekapun tidur bersama.

Di atas tempat tidur, Eunsoo tidur dengan posisi memunggungi Chanyeol. Ucapan Chanyeol yang Eunsoo dengar saat pria itu membicarakan tentang memanfaatkan perjodohan untuk mendapatkan perusahaan keluarga Hana terus teringat dalam kepala Eunsoo, membuat Eunsoo kini merasa serba salah jika berada di samping pria itu. Wajah Eunsoo tampak bingung. Ia tengah sibuk memikirkan apa yang harus Ia lakukan untuk mengakhiri hubungan mereka. Eunsoo pikir Ia harus segera melakukan itu, Ia tidak bisa terus berpura-pura lebih lama lagi.

Tanpa Eunsoo ketahui, di belakang tubuhnya Chanyeol terus memperhatikannya. Pria itu memandangi Eunsoo dengan sorot mata yang dingin. Dan membatin “Sampai kapan kau akan terus menipuku? Shin Eunsoo..”

***

Pagi ini Chanyeol dan Eunsoo menikmati sarapan bersama. Tidak seperti biasa, kali ini keheningan yang lebih dominan menyelimuti kebersamaan mereka. Sesekali Chanyeol melirik Eunsoo yang duduk bersebrangan di hadapannya, kemudian Chanyeol bertanya apa masakannya tidak enak?

Eunsoo sedikit terkesiap dengan pertanyaan Chanyeol, wanita itu kemudian tersenyum dan segera menjawab bahwa masakan Chanyeol enak, seperti biasa, Eunsoo menyukainya.

Chanyeol menanggapi, jika masakannya enak, mengapa Eunsoo hanya memakannya sedikit? Mengapa dia lebih banyak menunduk dan melamun?

Eunsoo bertanya pada Chanyeol apakah dia terlihat seperti orang yang sedang melamun? Eunsoo menjelaskan bahwa dia tidak melamun, wanita itu berdalih dengan mengatakan bahwa tubuhnya mungkin sedikit lelah. Kemudian Chanyeol menawarkan pada Eunsoo agar Eunsoo pergi ke rumah sakit untuk memeriksakan kesehatan, tapi Eunsoo menolak dengan mengatakan bahwa dia hanya butuh istirahat di rumah.

Chanyeol mengangguk setuju. Lalu Chanyeol berdiri dan berpamitan pada Eunsoo bahwa dia akan pergi untuk bertemu dengan temannya. Eunsoo hanya mengangguk dan membiarkan Chanyeol pergi meninggalkannya sendiri di apartemen.

Chanyeol berjalan menuju mobilnya yang terparkir di lantai dasar apartemen. Ia kemudian masuk. Sebelum menghidupkan mesin mobil, Chanyeol menghubungi sebuah kontak di ponselnya. Tidak lama setelah Chanyeol menempelkan ponselnya ke telinga, seseorang di sebrang sana menjawab panggilannya. “Apa kau berubah pikiran? Apa sekrang kau percaya padaku?” Chanyeol menatap lurus ke depan dengan sorot mata yang dingin. Ia juga menjawab dengan nada yang terkesan dingin. “Ban Hana, kurasa kita perlu bicara.”

_

_

Sepeninggal Chanyeol, Eunsoo masuk ke dalam kamar Chanyeol dan duduk di tepi tempat tidur milik Chanyeol. Pandangan Eunsoo menunduk dan terkesan menerawang. Ia membatin, meyakinkan diri bahwa Ia akan mengatakan semuanya pada Chanyeol secepat mungkin. Eunsoo berencana akan mengatakan semuanya pada Chanyeol malam ini. Tapi sebelum Eunsoo mengatakan pada Chanyeol tentang siapa dirinya yang sebenarnya, Eunsoo harus melakukan sesuatu terlebih dahulu.

Eunsoo mendesah pelan, lalu mengangkat wajahnya dan memperhatikan sekitar, menatap ruangan itu lekat-lekat, dan bergumam. “Mungkin.. nanti aku akan merindukan ruangan ini.” Eunsoo tersenyum tipis, kembali menunduk. “Terutama kau, Chanyeol. Aku pasti akan sangat merindukanmu nanti. Ya, sepertinya.”

_

_

_

Saat jam makan siang, Sehun memilih keluar dari kantor. Pria itu pergi ke cafe milik Gayoung dan memesan sebuah minuman lalu duduk di kursi yang terletak di pojok ruangan. Sehun terlihat sedang memikirkan sesuatu. Melihat itu, Gayoung yang kebetulan berada disana segera menghampiri Sehun dan bertanya apa yang sedang Sehun pikirkan saat ini?

Sehun tidak langsung menjawab. Ia memandangi Gayoung selama beberapa saat sembari menimbang-nimbang pertanyaan yang akan Ia ajukan pada wanita itu. Gayoung kemudian bertanya mengapa Sehun menatapnya seperti itu? Sehun mendesah pelan, menyeruput minumannya sejenak, Sehun akhirnya bersuara. “Laki-laki yang kau ceritakan padaku saat itu.. Maksudku.. laki-laki yang menabrakmu di depan cafe ini. Apa kau yakin.. wanita yang dia panggil saat itu adalah Hana?”

Gayoung langsung menatap Sehun dengan mata memincing. “Kenapa tiba-tiba kau menanyakan masalah ini padaku? Bukankah saat itu kau mengatakan seolah-olah kau tidak peduli pada apa yang aku katakan? Kau jelas-jelas tidak percaya padaku saat itu.”

“Bukan begitu.. aku hanya..” Sehun bingung bagaimana Ia harus menjelaskan semuanya pada Gayoung. Pada awalnya Sehun memang tidak ingin peduli, tidak  ingin percaya, tapi setelah tanpa sengaja Ia mendengar percakapan Ban Hana dan Chanyeol di restoran kemarin, Sehun tidak bisa lagi untuk tidak peduli pada persoalan ini. “Baiklah, lupakan.” Sehun akhirnya menyerah dengan tidak menjelaskan apapun pada Gayoung. Ketika Gayoung menatapnya bingung, Sehun bangkit dari kursi dan pamit untuk pergi. Namun saat Sehun baru menjauh beberapa langkah dari mejanya, Gayoung tiba-tiba bersuara. “Oh? Bukankah dia orang itu?”

Sehun menghentikan langkah, Ia melirik Gayoung dan mendapati Gayoung tengah menunjuk ke arah seseorang yang barusaja memasuki cafe. Sehun pun mengikuti arah yang ditunjuk Gayoung, melihat seorang lelaki yang kini berjalan menuju meja pesanan. Lelaki itu tampak tersenyum setelah menyebutkan pesanannya pada seorang pelayan.

Sehun kembali menatap Gayoung dan bertanya siapa pria itu, apa Gayoung mengenalnya? Lalu Gayoung menjelaskan bahwa pria itu adalah pria yang menabraknya saat itu, pria yang memanggil Eunsoo dengan nama aslinya (Eunsoo), dan pria yang menunjukkan wallpaper ponselnya yang berisi foto Eunsoo pada Gayoung.

Setelah mendengar penjelasan Gayoung, Sehun kembali menatap pria itu—Minseok. Tanpa pikir panjang, Sehun bergegas mendekati Minseok, menyentuh pundak Minseok membuat Minseok langsung menoleh ke arahnya.

“Aku ingin bicara padamu.” Kata Sehun tanpa basa basi. Lantas Minseok menatapnya bingung. “Eh?” Sehun mengangguk. Sehun mengatakan ada hal penting yang ingin Ia tanyakan pada Minseok. Tapi Sehun tidak ingin membicarakannya di sini. Untuk itu Sehun mengajak Minseok pergi dari sini dan Ia pun memimpin langkah. Minseok bingung, meskipun begitu akhirnya Minseok mengikuti Sehun dan dengan berat hati meninggalkan minuman pesanannya yang belum jadi. Kedua pria itu pergi menyisakan Gayoung yang menatap punggung mereka dengan tatapan bingung. Gayoung berdecak pelan. “Ada apa dengan Sehun? Aneh, sepertinya dia mengetahui sesuatu.”

Sehun membawa Minseok ke sebuah cafe yang berada tak cukup jauh dari cafe Gayoung. Setelah Sehun memesankan minuman untuk mereka berdua, pesanan mereka datang. Setelah pelayan meninggalkan meja mereka, Sehun membuka percakapan dengan memperkenalkan dirinya. Ia juga menyodorkan kartu namanya pada Minseok. Minseok mengamati kartu nama Sehun, mendadak Ia merasa bingung bercampur aneh, Ia membatin mengapa orang penting seperti Sehun ingin bicara padanya?

Sehun yang tidak tahan dengan rasa penasarannya langsung menanyakan pada Minseok apakah Minseok mengenal seseorang bernama Shin Eunsoo? Minseok refleks menjawab. “Shin Eunsoo? Maksudmu Eunsoo? Tentu saja aku mengenalnya. Dia teman baikku.” Minseok tersenyum lebar setelah itu. Minseok menjelaskan.. bahwa pada awalnya Eunsoo tinggal di Busan, lalu Eunsoo pergi ke Seoul dan Minseok sempat kehilangan kontak dengan wanita itu, untuk memastikan keadaan Eunsoo, Minseok menyusul ke Seoul, Minseok sempat kebingungan mencari keberadaan Eunsoo, tapi sekarang Minseok merasa lega karena Ia sudah bertemu dengan Eunsoo dan wanita itu berjanji akan segera pulang ke Busan bersamanya.

Sehun menatap Minseok dengan tatapan yang sulit diartikan, dan membatin, apa ingatan wanita itu sudah kembali?

Setelah menjelaskan semuanya pada Sehun, Minseok kemudian bertanya. “Tapi.. kenapa kau bertanya soal Eunsoo padaku? Apa.. kau mengenalnya?”

Sehun menjawab bahwa dia tidak yakin, karena di negara mereka banyak orang yang memiliki nama yang sama. Untuk itu, Sehun meminta Minseok menunjukkan foto teman baiknya yang bernama Shin Eunsoo itu jika Minseok memilikinya. Minseok mengangguk dan mengatakan bahwa dia memiliki cukup banyak foto Eunsoo di ponselnya. Tanpa ragu Minseok pun menunjukkan salah satu foto Eunsoo di ponselnya pada Sehun. Sehun mengambil alih ponsel Minseok dari tangan sang empunya. Sehun kemudian mendekatkan ponsel itu ke wajahnya dan menatap lekat-lekat foto yang kini terpampang di layar ponsel Minseok.

Minseok hanya menatap Sehun dengan tatapan bingung karena Sehun terdiam cukup lama. Kemudian, Minseok sengaja berdeham cukup keras dan bertanya apakah Sehun sudah melihatnya? Lalu bagaimana menurutnya? Apa Sehun pernah melihatnya?

Sehun mengerjap pelan. Ia menyerahkan kembali ponsel itu pada Minseok. Mendadak Sehun merasa sedikit lemas. Ia benar-benar terkejut melihat foto wanita yang Ia kenal sebagai Ban Hana berada di ponsel Minseok. Percakapan Chanyeol dan Ban Hana yang tidak sengaja Ia dengar kembali terngiang-ngiang dalam telinga Sehun. Sehun membatin, jadi yang dikatakan Ban Hana (yang asli) itu semua adalah benar?

Sehun meneguk minumannya dengan kasar. Ia menatap Minseok yang masih bingung melihatnya. Sehun kemudian tersenyum tipis, mengatakan maaf pada Minseok. Sehun juga menjelaskan bahwa sepertinya dia salah orang. Lalu tanpa menunggu tanggapan dari Minseok, Sehun bergegas pergi. Meninggalkan Minseok yang menatap punggungnya semakin bingung. Minseok kemudian bergumam. “Benar-benar orang yang aneh. Ck.”

_

_

Eunsoo tengah berada di rumah Nenek Sehun dan Chanyeol. Di ruang keluarga, Nenek duduk di sofa sementara Eunsoo berdiri di sebrang meja di hadapan Nenek. Eunsoo meletakkan sebuah wadah makanan di atas meja di hadapan Nenek. Saat Nenek bertanya apa itu? Eunsoo menjawab. “Dulu saat Sehun mengajakku ke rumah ini, aku sempat mendengar dari Anda sendiri bahwa Anda menyukai sup jamur. Dan yang kubawa ini.. adalah sup jamur.” Nenek tersenyum ringan setelah mendengar penjelasan Eunsoo. Nenek berniat mengucapkan terima kasih karena Eunsoo telah membawakan sup itu untuknya, namun belum sempat Nenek berucap, Eunsoo tiba-tiba bersuara. “Chanyeol yang memasaknya.”

Senyuman Nenek langsung memudar. Air mukanya seketika berubah terkesan tidak senang. Eunsoo menyadari itu, lalu Eunsoo menjelaskan. “Ternyata kegemaran Chanyeol pada sup jamur diturunkan dari Anda.” Eunsoo tersenyum simpul. “Chanyeol sangat menyukai sup jamur sampai-sampai makanan paling enak yang dia buat adalah sup jamur.”

“Sebenarnya apa tujuanmu membawakan ini untukku?” Tanya Nenek tiba-tiba. Eunsoo pun mulai menatap Nenek dengan serius, dan berkata. “Mungkin ini akan terdengar lancang dan tidak sopan, tapi.. anggap saja apa yang kulakukan ini adalah bentuk kepedulianku pada temanku, Chanyeol. (saat Sehun membawa Eunsoo ke rumah Nenek dulu, Sehun memperkenalkan Eunsoo pada Nenek bahwa Eunsoo adalah temannya juga teman Chanyeol) Aku tidak tahu alasan apa yang membuat Anda begitu membenci Chanyeol. Yang kutahu hanya.. bahwa Chanyeol benar-benar peduli pada Anda.”

Nenek mulai menatap Eunsoo dengan marah. “Siapa kau berani berbicara seperti itu padaku?! Berani-beraninya kau ikut campur urusan keluargaku.”

Eunsoo tak mengindahkan peringatan Nenek dan terus berbicara. “Sama halnya seperti Sehun, Chanyeol juga sangat menyayangi Anda. Karena sangat menyayangi Anda, selama ini Chanyeol telah bekerja keras untuk membuktikan bahwa Chanyeol juga bisa berguna untuk Anda, bahwa Chanyeol juga bisa Anda andalkan. Chanyeol terus bekerja siang dan malam, terkadang dia bahkan tidak memperdulikan kesehatannya sendiri.” Sembari Eunsoo mengingat, Ia memang sering melihat Chanyeol kerja hingga larut malam, suatu hari Eunsoo bahkan menemukan beberapa botol berisi pil-pil di dalam laci meja kerja Chanyeol. “Tapi mengapa Anda selalu mengabaikan kerja keras yang Chanyeol lakukan selama ini? Chanyeol memang tidak selalu sukses. Tapi bukankah Anda melihatnya sendiri? Akhir-akhir ini perusahaan Anda berkembang dengan pesat. Tidakkah Anda tahu bahwa Chanyeol sudah menyiapkan ini sejak lama? Saat Chanyeol seharusnya menikmati hasil jerih payahnya, mengapa Anda justru mengeluarkannya dari perusahaan?”

Nenek tampak semakin marah. “Apa-apaan kau ini, huh?!”

“Anda benar-benar wanita yang jahat.” Kata Eunsoo penuh penekanan. “Jika aku menjadi Chanyeol, aku pasti tidak akan mengakui Anda sebagai keluargaku. Tapi Park Chanyeol sampai detik ini bahkan masih menghormati Anda. Dan menuruti semua kemauan Anda. Tidakkah Anda malu pada diri Anda sendiri? Apa Anda benar-benar tidak tahu apa yang seharusnya dilakukan sebagai orang tua pada anak dan cucu mereka?”

Nenek menatap Eunsoo tak percaya, napasnya memburu lantaran amarahnya semakin menjadi.

“Anda seharusnya peduli padanya.” Suara Eunsoo memelan. Eunsoo tidak tahu alasan apa yang membuat matanya kini terasa panas. Eunsoo bahkan merasa pandangannya sedikit kabur karena ada benda cair yang kini menggenang di pelupuk matanya. “Anda seharusnya juga penasaran.. bagaimana kabarnya saat ini? Apakah dia merasa baik, atau tidak. Apakah dia makan dengan baik, atau tidak. Apakah saat tidur.. dia tidur dengan nyenyak, atau malah mimpi buruk yang selalu menemani tidurnya. Tidakkah Anda penasaran dengan semua itu?”

Nenek menatap Eunsoo dengan tatapan yang sulit diartikan, entah mengapa tenggorokannya terasa begitu tercekat saat ini.

“Jujur aku merasa kasihan sekali pada Chanyeol. Pria yang malang. Dia menghabiskan seluruh waktu dan hidupnya hanya untuk menyenangkan Anda. Tapi Anda..” Tatapan Eunsoo terlihat menusuk. “Sedikitpun Anda tidak pernah peduli dengan apa yang Chanyeol lakukan untuk Anda. Anda benar-benar tidak memiliki perasaan.”

Kedua tangan Nenek mengepal erat di atas pangkuannya. Tapi entah mengapa Nenek merasa tidak mampu mengeluarkan sepatah katapun untuk menanggapi seluruh perkataan yang barusaja Eunsoo lontarkan padanya.

“Sekali lagi aku minta maaf.” Eunsoo menundukkan pandangan, lalu membungkuk singkat, kembali menatap Nenek dan berkata. “Aku berharap.. Anda akan memberikan kesempatan lagi untuk Chanyeol. Tolong berikan Chanyeol kesempatan untuk tetap bekerja diperusahaan. Percayalah, jika Anda memperlakukan seseorang dengan baik, maka orang itu juga akan memperlakukan Anda dengan baik. Aku juga percaya bahwa Chanyeol adalah pria yang baik. Di mata Anda mungkin Chanyeol tidak pernah bersikap baik pada Anda. Ya, tentu saja. Karena Anda tidak pernah menganggap apapun yang Chanyeol lakukan selama ini adalah hal yang baik.” Eunsoo membungkuk singkat sekali lagi. Menatap Nenek selama beberapa saat, lalu Eunsoo mengatakan permisi dan berbalik untuk kemudian pergi, meninggalkan Nenek yang termangu ditempatnya.

Eunsoo dan Nenek mungkin tidak menyadari, jika sedari tadi Sehun berdiri di ambang pintu ruangan dan mendengarkan percakapan mereka. Saat Sehun melihat Eunsoo berbalik dan melangkah ke arah pintu, Sehun segera mundur, lalu Ia sembunyi dibalik dinding hingga Eunsoo melewati pintu begitu saja tanpa menyadari keberadaan Sehun.

Eunsoo berjalan menjauh, dan Sehun hanya bisa memandangi punggung wanita itu dalam diam. Setelah sosok Eunsoo tidak lagi tampak dalam penglihatannya, Sehun kembali mendekati ambang pintu, lalu melihat sang Nenek di depan sana yang kini tengah memandangi wadah sup itu lekat-lekat. Sehun pun menunduk, mendesah pelan, melihat sang Nenek sekali lagi sebelum akhirnya berbalik dan melangkah pergi.

Di perjalanan menuju kantornya, di dalam mobil, Sehun terus mengingat bagaimana dimatanya Eunsoo terlihat berani saat mengatakan semua hal tentang Chanyeol di depan Nenek. Selama ini, Sehun bahkan tidak berani membantah sedikitpun perintah Nenek. Sehun baru menyadari bahwa Ia adalah seorang pengecut. Sehun menyunggingkan senyuman miris untuk dirinya sendiri. Dan mendapati fakta bahwa Eunsoo jelas-jelas membela Chanyeol di depan sang Nenek, Sehun benar-benar merasa iri. Jika bisa, Sehun ingin sekali bertukar posisi dengan Chanyeol, hingga akhirnya wanita itu juga akan membelanya dengan berani di hadapan sang Nenek seperti yang tadi Eunsoo lakukan untuk Chanyeol.

Sehun memberhentikan mobilnya saat lampu merah menyala. Hembusan napasnya terdengar sangat berat. Hari ini Sehun merasa ada banyak hal mengejutkan yang harus Ia hadapi secara tiba-tiba. Membuat hati dan pikirannya benar-benar merasa lelah.

Sehun menatap lurus ke depan, ujung matanya tidak sengaja menangkap sesuatu yang berada tak jauh di sisi jalan. Sehun pun menoleh untuk memastikan, dari kejauhan Sehun melihat Chanyeol dan Hana tengah berdiri berhadapan di depan sebuah restoran. Kedua orang itu berdiri di sisi mobil mereka yang terparkir berdampingan, mereka sepertinya tengah membicarakan sesuatu yang penting, terlihat dari raut wajah Chanyeol yang tampak serius.

Lampu hijau menyala, bunyi klakson dari mobil di belakang Sehun tampak berisik membuat Sehun terpaksa segera menginjak pedal gas mobilnya. Sebenarnya Sehun sangat penarasan tentang apa yang Chanyeol dan Hana bicarakan, Sehun menduga, pembicaraan mereka pasti menyangkut tentang Eunsoo.

Sehun mengendarai mobilnya dengan menatap lurus ke depan, matanya menyorot dengan serius, lalu Ia bergumam, “Apa yang mereka bicarakan kali ini?”

Di depan restoran itu, Hana tersenyum simpul pada Chanyeol. “Baiklah, kita lakukan sesuai rencana.” Kata Hana, Chanyeol hanya diam. Kemudian Hana kembali berkata. “Kalau begitu sampai ketemu nanti malam, Park Chanyeol.” Hana kemudian menuju mobilnya dan masuk, Ia pergi, menyisakan Chanyeol yang memandangi jejak kepergiannya disertai tatapan yang masih terlihat dingin.

_

_

Chanyeol membawa kakinya melangkah masuk ke dalam sebuah bar. Keadaan bar itu masih tampak sepi karena hari pun masih terbilang sore. Chanyeol menarik kursi di depan meja panjang dan duduk di atasnya. Seorang bartender kemudian mendekatinya dan menawarkan minuman di dalam botol.

Chanyeol menerima gelasnya, lalu merampas botol dari tangan sang bartender, setelah itu Chanyeol menuangkan minuman dalam gelas dan memasukkan beberapa teguk minuman itu ke dalam kerongkongannya. Pandangan Chanyeol kosong. Wajahnya tampak begitu frustasi. Bayangan wajah Eunsoo yang tiba-tiba melintas di benaknya membuat Chanyeol semakin sulit berpikir. Kenangan yang pernah mereka rangkai, waktu yang pernah mereka bagi, dan semua hal yang pernah mereka lalui bersama terasa terulang kembali di benak Chanyeol. Semuanya terlihat begitu jelas. Semakin jelas kenangan itu terputar kembali, semakin jelas pula rasa sakit yang Chanyeol rasakan saat ini.

Chanyeol menuang kembali minuman dalam gelas, lalu menghabiskan minuman dalam gelas itu hanya dalam beberapa kali tegukan.

Chanyeol merasa kecewa. Ia sangat benci keadaan yang harus Ia alami saat ini. Disaat dirinya sudah bisa memulai untuk membuka diri dan hatinya untuk orang lain, untuk wanita itu, mengapa kenyataannya terasa semenyakitkan ini? Chanyeol tidak tahu bagaimana mengungkapkan dengan kata-kata rasa sakit yang Ia rasakan itu. Sebagai pelampiasan, yang bisa Ia lakukan saat ini hanya meneguk minuman beralkohol itu berulang kali.

_

_

Eunsoo barusaja selesai menyiapkan hidangan makan malam di atas meja. Malam ini Eunsoo memasak cukup banyak makanan, dan kesemua makanan itu adalah makanan yang paling disukai Chanyeol. Eunsoo tersenyum tipis sembari memperhatikan permukaan meja makan. Ia berencana akan mengatakan yang sejujurnya pada Chanyeol setelah mereka selesai makan malam nanti. Tidak peduli apakah Chanyeol akan membencinya setelah itu, Eunsoo akan tetap mengatakannya.

Ponsel Eunsoo berdering, ternyata Chanyeol yang menelfon. Sudah seharian ini pria itu tidak pulang ke apartemen. Kali ini Chanyeol menelfon dan mengajak Eunsoo untuk makan malam di luar. Sebelum menyetujui, Eunsoo memandangi permukaan meja makan yang penuh makanan. Karena tidak ingin membuat Chanyeol kecewa, Eunsoo akhirnya setuju mereka makan malam di luar. Wanita itu kemudian menyimpan masakannya ke dalam lemari pendingin. Ia berpikir, jika tidak sekarang, mungkin besok Chanyeol bisa memakannya. Eunsoo akhirnya pergi menggunakan taxi menuju tempat yang telah Chanyeol janjikan.

Di tempat lain; di kantor. Di dalam ruangan Sehun, Sekretaris Kim tampak sibuk menyiapkan materi rapat. Ia mengatakan pada Sehun bahwa rapat pertemuan dengan beberapa pimpinan perusahaan lain ini sudah direncanakan sejak satu bulan yang lalu, jadi Sehun tidak boleh gagal. Banyak hal yang harus Sehun paparkan pada pertemuan nantinya. Sekretari Kim terus berbicara sementara Sehun justru terlihat sedang melamun. Pria itu duduk di kursinya sembari memandangi ponselnya yang berada di atas meja di depannya.

Sehun merasa begitu gelisah. Ia bingung. Bukan masalah rapat, tapi masalah Eunsoo. Ada banyak hal tentang Eunsoo yang kini memenuhi kepalanya. Setelah menimbang-nimbang, Sehun akhirnya meraih ponselnya dan menghubungi Eunsoo. Setelah Eunsoo menjawab panggilannya, Sehun bertanya sedang berada dimana wanita itu sekarang? Eunsoo mengatakan Ia sedang berada di dalam taxi menuju sebuah restoran untuk makan malam bersama Chanyeol, mungkin sebentar lagi Eunsoo sampai. Kemudian Eunsoo bertanya kenapa? Tapi Sehun hanya menjawab tidak apa-apa. Lalu pria itu menyudahi percakakapan mereka. Sehun kemudian meletakkan kembali ponselnya di atas meja lalu mendesah pelan.

Sehun terdiam sejenak, tiba-tiba Ia teringat tentang pertemuan Chanyeol dan Ban Hana yang Ia lihat tadi siang. Sehun baru ingat jika restoran yang barusaja Eunsoo sebutkan sama dengan restoran yang menjadi tempat Chanyeol dan Ban Hana tadi siang bertemu. Sehun mulai berpikir, apakah Chanyeol dan Ban Hana sedang merencanakan sesuatu terhadap Eunsoo? Sehun mendadak cemas. Tidak, Sehun pikir ini tidak seharusnya terjadi.

Sehun tiba-tiba bangkit dari kursinya, menyambar ponselnya dari atas meja lalu melangkah cepat meninggalkan ruangan. Sekretaris Kim yang duduk di sofa tamu sangat terkejut dengan kepergian Sehun. Ia meneriaki Sehun dan bertanya kemanakah pria itu akan pergi? Ia juga mengatakan bahwa pimpinan dari perusahaan lain akan segera tiba di kantor mereka. Tapi Sehun sudah lenyap dari jangkauan Sekretaris Kim. Sekretaris Kim bingung setengah mati, Ia frustasi, Ia yakin pasti Nenek akan memarahinya karena membiarkan Sehun pergi begitu saja. Sekretaris Kim merasa ingin gila menghadapi atasannya yang seperti itu.

Ditengah perjalanan, Sehun kembali menghubungi Eunsoo. Tapi wanita itu justru menolak panggilan darinya. Sehun semakin cemas, Ia membanting ponselnya begitu saja lalu menambah kecepatan mobilnya. Restoran itu tidak terlalu jauh, Sehun berharap agar Ia cepat tiba di sana.

Eunsoo mendapatkan panggilan dari Sehun saat Eunsoo berada tepat di depan pintu ruangan VIP yang dijanjikan Chanyeol. Setelah menolak panggilan dari Sehun, Eunsoo kembali menatap pintu di hadapannya lekat-lekat. Tiba-tiba Eunsoo merasa gugup. Apalagi seharian ini Chanyeol tidak pulang, sebenarnya Eunsoo juga khawatir pada pria itu. Apa yang harus Eunsoo katakan pertama kali pada Chanyeol untuk memulai penjelasannnya? Semakin memikirkan itu, perasaan Eunsoo semakin tak menentu. Wanita itu pun berusaha meyakinkan diri, menghembuskan napas panjang lalu menyentuh kenop pintu.

Eunsoo mulai memutar kenop pintu, lalu perlahan mendorongnya. Hal pertama yang Ia lihat adalah Chanyeol yang tengah duduk di depan meja makan. Lalu saat Eunsoo membuka pintunya lebih lebar, ada orang lain yang duduk di hadapan Chanyeol; Ban Hana. Eunsoo terkejut. Ia kemudian terdiam di ambang pintu saat pandangannya kini bertemu dengan pandangan Hana.

Hana tersenyum tipis pada Eunsoo. “Lama tidak bertemu, Shin Eunsoo.”

Bola mata Eunsoo melebar. Ia kemudian memandang Chanyeol. Pria itu yang sedari tadi menunduk akhirnya mengangkat wajahnya, membalas tatapan Eunsoo dengan tatapan yang sulit diartikan. Eunsoo merasa tidak ada kesan bersahabat dalam sorot mata Chanyeol kali ini. Tatapan Chanyeol terasa begitu asing bagi Eunsoo, menimbulkan sesuatu yang menyesakkan kini terassa bersarang di dalam hati Eunsoo.

“Kenapa kau terus diam di sana?” Hana kembali bersuara. “Kemarilah, kau tidak perlu malu ataupun takut.”

Eunsoo kembali melirik ke arah Hana. Yang Eunsoo pikirkan saat ini adalah bagaimana Hana bisa berada di tempat ini? Di hadapan Chanyeol? Dan apa saja yang telah mereka bicarakan sebelum kedatangan Eunsoo?

Dada Eunsoo tiba-tiba terasa sesak. Ia kembali memandang Chanyeol dalam diam. Apa yang harus Eunsoo lakukan sekarang? Tubuhnya terasa kaku. Kakinya terasa berat untuk melangkah. Haruskah Ia masuk, ataukah pergi meninggalkan tempat ini? Hana kembali memanggil nama Eunsoo karena Eunsoo terus diam di tempatnya. Masih memandang Chanyeol, Eunsoo berusaha menggerakkan kakinya. Dengan segala perasaan yang berkecamuk di dalam dadanya, seraya satu tangannya meremas rok dress di sisi tubuhnya, Eunsoo berusaha melangkah masuk. Lalu ketika Eunsoo baru sempat mengambil dua langkah kecil untuk masuk, seseorang tiba-tiba menarik pergelangan tangannya dari belakang.

Eunsoo terkejut. Ia langsung menolah dan mendapati Sehun kini berada tepat di hadapannya. Eunsoo memanggil nama Sehun dengan nada tak percaya. Namun Sehun hanya diam. Sejenak, mata tajam Sehun melirik Hana dan Chanyeol bergantian. Lalu Sehun kembali menatap Eunsoo dan mengatakan pada Eunsoo bahwa mereka harus pergi dari tempat ini. Tanpa menunggu persetujuan dari Eunsoo, Sehun menarik Eunsoo pergi begitu saja. Hana menatap Sehun dengan kesal. Sementara Chanyeol memandangi jejak kepergian Sehun dan Eunsoo dengan sorot mata yang semakin tajam. Tanpa Chanyeol sadari, kedua tangannya yang kini berada di sisi piring bahkan mengepal dengan erat.

_

_

Di sebuah taman, Sehun dan Eunsoo duduk berdampingan di atas bangku kayu. Sudah hampir lima menit mereka lalui dalam keheningan. Sehun adalah orang pertama yang akhirnya membuka suara. Ia berdeham pelan sebelum akhirnya bertanya. “Jadi.. namamu Shin Eunsoo?”

Eunsoo yang sedari tadi menunduk kini menangguk kecil. Ia kemudian membalas tatapan Sehun dan menjawab dengan suara pelan. “Aku tidak tahu sejauh mana kau mengetahuinya. Yang jelas.. aku minta maaf jika kau merasa ditipu olehku.”

Sehun tersenyum tipis. “Aku yakin kau punya alasan tersendiri. Kau tenang saja, aku tidak akan memaksamu untuk menjelaskan semuanya. Aku yakin kau orang baik. Dan aku juga yakin bahwa.. alasan mengapa kau menjadi Ban Hana bukanlah untuk melakukan sesuatu yang jahat.”

Eunsoo menatap Sehun lekat-lekat. Bibirnya melengkung tipis. Dalam sesaat, matanya mulai berair. Eunsoo mengatakan terima kasih pada Sehun. Lalu Ia kembali menunduk, dan berharap dalam hati agar Chanyeol memikirkan hal yang sama seperti apa yang dipikirkan Sehun barusan.

_

_

Mobil Sehun tiba di depan bangunan apartemen Chanyeol saat malam sudah cukup larut. Sehun menawarkan diri untuk mengantarkan Eunsoo hingga depan apartemen Chanyeol tapi Eunsoo menolak. Eunsoo meyakinkan Sehun bahwa dia akan menyelesaikannya dengan Chanyeol malam ini juga. Setelah itu, Eunsoo pergi meninggalkan Sehun yang hanya bisa diam menyaksikan Eunsoo menjaduh dari hadapannya.

Eunsoo masuk ke dalam apartemen. Langkahnya kemudian terhenti di ruang tengah saat bola mata Eunsoo menyadari keberadaan Chanyeol yang tengah duduk di sofa tak jauh di depan Eunsoo. Chanyeol duduk dengan melipat satu kakinya seraya kedua tangannya Ia lipat di depan dada. Tatapan yang Eunsoo terima saat ini sama dengan tatapan yang Chanyeol berikan saat mereka baru pertama kali bertemu saat itu, tatapan Chanyeol yang terkesan dingin. Bahkan nada bicara yang kemudian Chanyeol suarakan pun terdengar dingin. “Jadi aku sudah ditipu olehmu selama ini?”

Eunsoo menatap Chanyeol dengan serius. Meskipun rasa sesak sudah memenuhi rongga dadanya, Eunsoo mencoba menjelaskan. “Aku.. punya alasan sendiri mengapa aku melakukannya.”

“Apa karena uang?” Tanya Chanyeol. Lalu Ia berdiri. “Kau menjadi seorang penipu hanya demi uang?”

Eunsoo merasa kata penipu yang dilontarkan Chanyeol seperti sebuah pisau yang sengaja ditancapkan di dadanya. Menimbulkan rasa sakit yang teramat sangat, membuat mata Eunsoo memanas detik ini juga. Eunsoo mengepalkan tangannya erat-erat di sisi tubuh, merasa tak mampu menatap mata Chanyeol, Eunsoo memilih menundukkan pandangan, lalu menjawab. “Ya.. kau benar. Aku melakukannya demi uang.”

Chanyeol hanya diam. Sungguh, bukan jawaban itulah yang sebenarnya Chanyeol harapkan. Sebenarnya Chanyeol berharap Eunsoo akan menyangkal tuduhan yang Ia lontarkan barusan.

Eunsoo kembali menatap Chanyeol, jelas sekali matanya kini nampak memerah. “Alasan mengapa saat ini kau menatapku seperti itu.. apa karena kau sudah mendengar semuanya dari Hana?” Tanya Eunsoo. “Jika benar kau sudah mendengar semuanya dari Hana.. sepertinya yang kau dengar semua itu adalah benar. Aku bukan orang sepertimu yang dengan mudah bisa mendapatkan uang. Aku adalah orang yang harus bersusah payah dan melakukan apa saja untuk mendapatkan uang.”

“Termasuk menjadi seorang penipu?” Tanya Chanyeol. Tatapannya kian marah. “Bahkan saat ingatanmu sudah kembali.. kau tetap saja berpura-pura menjadi Ban Hana. Apa.. kau melakukan itu hanya untuk mendapatkan keuntungan lebih dariku? Karena selama kau bersamaku, aku memberimu uang, fasilitas, dan membelikanmu banyak barang. Apa benar.. bahwa kau terus berpura-pura menjadi Ban Hana hanya untuk mendapatkan semua itu?”

Eunsoo tidak menyangka Chanyeol akan berpikir seperti itu mengenai dirinya. Mendengar Chanyeol bertanya seperti itu benar-benar membuat hatinya terluka. Eunsoo tidak tahu, merasa bingung harus bagaimana menjelaskan yang sebenarnya pada Chanyeol. Eunsoo kemudian menundukkan pandangan dan akhirnya menjawab. “Ya, kau benar.” Hanya itu yang mampu Eunsoo ucapkan saat ini. Meskipun dalam hati Eunsoo justru berkata sebaliknya; Tidak Chanyeol, kau salah. Aku tidak mengatakan yang sebenarnya karena aku ingin tetap berada di sampingmu, karena aku tidak ingin kau membenciku, karena aku.. ingin selalu bersamamu.

Chanyeol tersenyum tak percaya. “Jadi kau adalah orang yang seperti ini?” sindir Chanyeol. Ia mendengus marah. “Sudah cukup. Aku tidak mau melihat orang sepertimu lagi berada di rumahku. Mulai sekarang, sebaiknya kau pergi dari tempat ini. Aku tidak tahan lagi melihat penipu sepertimu terus berada disekitarku.” Chanyeol kemudian melangkah pergi, Ia berniat masuk ke dalam kamarnya, namun saat pintu kamarnya tinggal beberapa langkah lagi darinya, terdengar Eunsoo bersuara.

“Lalu bagaimana denganmu?”

Langkah Chanyeol terhenti. Ia kemudian berbalik, kembali menghadapkan tubuhnya pada Eunsoo yang berada tak jauh di depannya.

“Bukankah.. kita adalah orang yang berada di jalan yang sama?” Tanya Eunsoo.

Chanyeol menatap Eunsoo tak mengerti.

“Aku mengetahui semuanya, Park Chanyeol. Alasan kau menyetujui perjodohanmu dengan Hana.. adalah hanya untuk mendapatkan perusahaan keluarga Hana.”

Chanyeol langsung menatap Eunsoo dengan tatapan yang sulit diartikan. Chanyeol bingung, bagaimana wanita itu mengetahuinya?

“Bukankah kita adalah orang yang sama?” Eunsoo tersenyum tipis. “Kita melakukan semua ini hanya demi uang. Jika kau mengatakan aku sebagai penipu, maka aku juga berhak menyebutmu sebagai penipu. Ya, kau juga penipu, Park Chanyeol. Kau telah menipuku—tidak, kau bermaksud menipu Hana selama ini. Kau pura-pura bersikap baik pada Hana, kau bahkan merawat Hana setelah dia mengalami kecelakaan. Kau bahkan…” Tenggorokan Eunsoo terasa tercekat. Sedetik kemudian pertahanan Eunsoo akhirnya runtuh. Air matanya mengalir dengan sendirinya. “Kau bahkan mengatakan bahwa kau mencintainya… Kau memeluknya, menjaganya saat dia tidur. Kau bahkan… menciumnya. Dan semua itu ternyata hanya sandiwaramu agar Hana percaya padamu. Agar Hana bersedia menikah denganmu hingga akhirnya kau bisa menguasai perusahaan keluarga Hana. Bukankah itu tujuan utamamu mendekati Hana?”

Kedua tangan Chanyeol mengepal erat di sisi tubuhnya. Dadanya sesak. Hatinya memaksa untuk menyangkal tapi bibirnya tak mampu bergerak.

“Baiklah jika itu maumu, aku akan pergi sekarang juga dari hadapanmu.” Kata Eunsoo. Ia kemudian melangkah mendekati Chanyeol, berniat menuju kamarnya. Lalu saat Eunsoo beberapa langkah lewat di hadapan Chanyeol, pria itu bersuara. “Yang kulakukan padamu selama ini…”

Eunsoo menghentikan langkahnya. Ia menoleh ke arah Chanyeol dan mendapati pria itu seolah menggantung kalimatnya seraya pandangannya menunduk. “Kenapa? Bukankah yang kau lakukan selama ini adalah cara agar Hana jatuh hati dan percaya padamu? Tapi sayangnya aku bukanlah Ban Hana yang asli. Apa kau kecewa? Apa kau menyesal telah melakukan semua itu pada orang yang salah?” Mata nanar Eunsoo menatap Chanyeol dalam-dalam. Namun pria itu tetap bergeming di tempatnya, pandangannya terus menunduk dan bibirnya tak mengeluarkan sepatah katapun. Eunsoo tersenyum miris. “Ya, kau pasti sangat kevewa. Kau pasti juga sangat menyesalinya, Park Chanyeol.” Setelah itu Eunsoo melanjutkan langkah dan masuk ke dalam kamarnya.

Sejenak Eunsoo berdiam diri dengan menyandarkan punggungnya di belakang pintu. Air matanya kembali mengalir. Eunsoo merasa hatinya benar-benar sakit saat ini. Setelah membersihkan air matanya, Eunsoo mengambil koper miliknya. Lalu memasukkan baju-baju miliknya yang Ia bawa dari Busan saat itu. Eunsoo hanya mengemasi barang-barangnya sendiri. Ia juga mengganti dress nya dengan pakaian yang Ia bawa dari Busan, karena dress yang semula Ia kenakan adalah dress pemberian Chanyeol.

Sebelum keluar kamar, Eunsoo mendekati sisi tempat tidur. Memandangi tempat tidur itu lekat-lekat. Eunsoo ingat, beberapa kali Chanyeol menemaninya tidur di atas tempat tidur itu dan pria itu juga memeluknya dengan erat. Eunsoo bahkan masih bisa mengingat dengan jelas bagaimana hangatnya saat Chanyeol memeluk tubuhnya. Eunsoo kemudian menghadapkan tubuhnya ke meja nakas di sisi tempat tidur. Ia melepas cincin dari jari manisnya dan meletakkan cincin itu di atas meja nakas, lalu memandanginya lekat-lekat sembari bergumam. “Semuanya sudah selesai. Semuanya sudah berakhir.”

Ketika Eunsoo keluar dari kamar, Chanyeol masih berdiri di tempat semula. Chanyeol kemudian menoleh ke arah Eunsoo yang berjalan sembari membawa koper mendekatinya. Wanita itu kemudian berhenti di hadapan Chanyeol. “Sebelum aku pergi.. aku ingin meminta maaf padamu. Bagaimanapun juga.. aku ingin berterima kasih atas semua hal yang pernah kau lakukan padaku selama ini.” Untuk terakhir kalinya, Eunsoo menatap Chanyeol dalam-dalam. Wanita itu kemudian menundukkan pandangan sebelum akhirnya melangkah pergi.

Chanyeol hanya diam menyaksikan kepergian Eunsoo. Ia bingung, saat melihat punggung Eunsoo semakin jauh darinya, dada Chanyeol terasa semakin bergemuruh. Chanyeol tidak mampu melihatnya. Hingga akhirnya Chanyeol memilih berbalik untuk membelakangi wanita itu. Chanyeol menundukkan pandangan, Ia benci saat mengingat fakta bahwa Eunsoo terang-terangan mengaku telah menipu dirinya. Tapi melihat wanita itu pergi, mengapa dada Chanyeol terasa begitu sesak seperti saat ini?

Sebelum membuka pintu untuk keluar, Eunsoo diam sejenak, lalu menoleh ke belakang dan mendapati Chanyeol tengah berdiri membelakanginya. Dimata Eunsoo pria itu terlihat seperti tidak lagi peduli padanya, dan itu membuat hati Eunsoo semakin terluka. Eunsoo mendesah pelan, kemudian membuka pintu dan memutuskan untuk segera pergi.

Setelah mendengar pintu yang dibuka lalu ditutup kembali, Chanyeol segera menoleh kebelakang. Sudah tidak ada siapa-siapa lagi disana. Dan entah mengapa, detik itu juga.. Chanyeol merasa ada sesuatu yang hilang dalam dirinya. Rasanya benar-benar hampa. Chanyeol bingung mengapa dirinya seperti ini. Wanita itu jelas-jelas mengaku telah menipu dirinya, seharusnya Chanyeol membencinya, seharusnya Chanyeol senang saat wanita itu pergi darinya. Tapi mengapa.. Chanyeol justru merasakan hal yang sebaliknya?

Setelah kepergian Eunsoo, Chanyeol masuk ke dalam kamar yang semula ditempati Eunsoo. Chanyeol duduk di tepi tempat tidur dan memperhatikan ruangan yang kini tampak kosong dan sepi itu. Chanyeol kemudian memandangi cincin dan ponsel yang terletak di meja nakas. Chanyeol ingat, ponsel itu Chanyeol belikan setelah ponsel Eunsoo rusak dalam kecelakaan saat itu. Ternyata wanita itu meninggalkan semua pemberiannya. Chanyeol bertanya dalam hati kecilnya mengapa wanita itu melakukannya? Apa wanita itu berniat melupakan dirinya? Chanyeol kemudian meraih cincin di atas meja nakas, mengelusnya, lalu menatapnya lekat-lekat sembari mengingat saat Chanyeol menyematkan cincin itu dijari manis Eunsoo. Chanyeol bahkan masih ingat bagaimana indahnya senyuman wanita itu setelah Chanyeol menyematkan cincin itu dijari manis Eunsoo. Dan mulai sekarang, Chanyeol harus berusaha melupakan semuanya.

_

_

Sebelum meninggalkan ponselnya di kamar apartemen, Eunsoo sempat menghubungi Minseok dan menyuruh pria itu untuk menjemputnya di depan gedung apartemen Chanyeol. Setelah tidak lama menunggu, sebuah taxi berhenti di tepi jalan dan Minseok keluar dari sana. Minseok bergegas menghampiri Eunsoo dan bertanya apa yang terjadi pada Eunsoo, mengapa Eunsoo ingin pergi malam-malam seperti ini dan mengapa wajah Eunsoo terlihat begitu sedih? Eunsoo hanya menjawab bahwa Ia sedang lelah, Ia tidak ingin menjelaskannya sekarang. Minseok berusaha mengerti, lalu Minseok mengajak Eunsoo masuk ke dalam taxi. Minseok berencana akan membawa Eunsoo menginap di rumah Baekhyun malam ini. Karena ini sudah sangat malam, jadi sebaiknya mereka kembali ke Busan besok pagi saja.

Sebelum Eunsoo dan Minseok masuk ke dalam taxi, terdengar seseorang yang menyerukan nama Shin Eunsoo. Eunsoo dan Minseok pun langsung menoleh, tak jauh di belakang taxi itu, Sehun keluar dari mobilnya, Sehun kemudian berlari mendekati Eunsoo dan bertanya apa yang terjadi.

Minseok heran mengapa Sehun mengenal Eunsoo. Bukankah sebelumnya saat Minseok menunjukkan foto Eunsoo, Sehun mengatakan dia salah orang? Lalu sekarang mengapa Sehun bisa berada di depannya bersama Eunsoo seperti sekarang? Minseok jadi kesal dengan Sehun.

Sehun terus bertanya apa yang sebenarnya terjadi diantara Eunsoo dan Chanyeol. Apakah Chanyeol marah pada Eunsoo? Apakah Chanyeol mengusir Eunsoo dari apartemen? Eunsoo hanya mengatakan bahwa sudah saatnya dia menjauh dari kehidupan Chanyeol. Eunsoo juga mengatakan bahwa sebenarnya dia malu bertemu dengan Sehun, karena selama ini secara tidak langsung Eunsoo juga telah menipu Sehun.

Sehun mengatakan bahwa itu tidak apa-apa. Sehun akan mengerti. Sehun bahkan menawarkan agar Eunsoo menginap saja di apartemennya, karena ini sudah malam. Tapi Eunsoo menolak, dengan alasan bahwa dia tidak bisa menanggung rasa malu dan bersalahnya lebih lama lagi. Pada akhirnya Sehun tidak bisa berbuat apa-apa karena Eunsoo terus menolak tawarannya. Sehun membiarkan Eunsoo masuk ke dalam taxi bersama Minseok. Sehun terus diam ditempatnya sembari memandangi taxi yang kemudian mulai melaju dan menjauh darinya.

“Kenapa kau malah pergi, Shin Eunsoo? Aku barusaja senang mengetahui fakta bahwa kau bukanlah Ban Hana yang asli.” Gumam Sehun. “Bukankah itu berarti.. kau tidak akan memiliki ikatan apa-apa dengan Chanyeol? Jadi.. aku akan mempunyai kesempatan untuk mendekatimu.”

***

Pagi ini Chanyeol merasakan sesuatu yang sangat berbeda. Ia merasa tempat tinggalnya itu terasa begitu sunyi dan sepi. Hampa. Kosong. Seperti ada yang kurang, dan Chanyeol bertanya-tanya dalam hati apakah yang kurang itu?

Chanyeol membuka lemari pendingin dan mendapati beberapa makanan yang tersusun rapi di dalam kotak makanan. Chanyeol terdiam sejenak, dan berpikir apakah wanita itu yang melakukannya? Ya, pasti dia yang melakukannya. Siapa lagi? Berbagai pikiran mulai beradu di dalam kepala Chanyeol, Ia mundur perlahan, lalu menutup pintu lemari pendingin itu dengan gerakan yang kasar.

Chanyeol marah pada dirinya sendiri, Ia benci jika pikirannya selalu mengingat wanita yang telah menipu dan membuatnya tampak seperti pria yang bodoh.

Ya, Chanyeol membencinya. Sangat membencinya. Setidaknya hal itulah yang masih berusaha Chanyeol tanamkan di dalam hatinya. Bahwa dia ingin melupakan wanita itu. Bahwa dia tidak ingin mengingat sedikitpun tentang wanita itu. Chanyeol ingin menghapus semua kenangan yang pernah Ia lalui bersama wanita itu. Tapi mengapa, semakin Chanyeol mencoba, rasa sakit itu terasa semakin jelas di dadanya?

Chanyeol kemudian berbalik dengan wajah yang tertunduk. Saat itu juga, ponselnya berdering. Chanyeol menjawab panggilan yang ternyata berasal dari neneknya. Dalam percakapan lewat telfon itu, sang nenek meminta agar Chanyeol datang ke rumah pagi ini karena ada hal penting yang ingin Nenek bicarakan. Chanyeol menurut dan Ia pun datang ke rumah Nenek. Saat tiba di rumah Nenek, Chanyeol bingung karena Sehun ternyata sudah berada di sana. Nenek kemudian menyuruh Chanyeol dan Sehun ikut sarapan bersama Nenek.

Dalam acara sarapan bersama itu, Nenek membahas kesalahan fatal Sehun yang semalam meninggalkan rapat penting begitu saja. Nenek berkata bahwa Ia kecewa pada Sehun. Sehun meminta maaf pada Nenek. Sehun menjelaskan, “Bukankah aku sudah mengatakan dari awal? Posisi itu terlau berat bagiku. Aku tidak berpengalaman dan harus belajar lebih banyak lagi.”

Nenek menatap Sehun tak habis pikir. Kemudian Nenek berdeham sebelum akhirnya memandang ke arah Chanyeol, dan mengatakan pada Chanyeol bahwa kali ini beliau tidak punya pilihan lain. Chanyeol yang bingung bertanya apa maksud Nenek sebenarnya? Nenek pun mengatakan bahwa beliau meminta Chanyeol untuk menggantikan posisi Sehun saat ini. Chanyeol sebagai direktur dan Sehun sebagai wakilnya. Mendengar itu, Sehun langsung tersenyum puas dan mengatakan bahwa Ia sangat setuju.

Chanyeol diam, Ia memandang Nenek dan Sehun bergantian. Tatapannya terkesan curiga. Nenek yang menyadari itu pun langsung menjelaskan bahwa Nenek melakukan itu hanya untuk menyelamatkan perusahaan keluarga mereka. Karena setelah kejadian semalam saat Sehun meninggalkan rapat penting dengan beberapa pimpinan perusahaan lain, perusahaan keluarga mereka mengalami penurunan saham, juga banyak orang-orang penting yang menghubungi perusahaan dan mengatakan bahwa pimpinan perusahaan; Sehun, telah membuat mereka kecewa.

Chanyeol akhirnya mengangguk mengerti, dan berkata jika itu keinginan Nenek, Chanyeol akan melakukannya. Chanyeol kemudian melanjutkan acara sarapannya, tanpa menyadari Nenek yang kini menyunggingkan senyuman tipis kearahnya. Sehun melihat Nenek tersenyum pada Chanyeol. Itu membuat Sehun merasa lega. Sehun berharap setelah ini Nenek akan memperlakukan mereka secara adil, sehingga Chanyeol tidak akan membencinya lagi.

Akhirnya Sehun pun ikut menikmati sarapannya, sembari dalam hati Ia berkata, jika saja Eunsoo mendengar ini, Eunsoo pasti akan sangat bahagia, karena ternyata usahanya untuk menemui Nenek tidak berakhir sia-sia.

Setelah keluar dari rumah Nenek, saat perjalanan pulang menuju apartemen, di dalam mobil Chanyeol mendapat telfon dari Ibunya. Di dalam telfon, Ibu Chanyeol marah, Ibu Chanyeol mengatakan bahwa beliau mendapatkan kabar dari Ibu Hana bahwa Hana tidak ingin menikah dengan Chanyeol. Lantas Ibu Chanyeol pun bertanya pada Chanyeol apa yang sudah terjadi? Bukankah sebelumnya saat Chanyeol menelfon semuanya berjalan baik-baik saja? Chanyeol bahkan mengatakan bahwa dia benar-benar menyukai Hana. Chanyeol menghembuskan napas berat sebelum memulai penjelasannya. Chanyeol mengatakan, bahwa ada beberapa masalah, jadi Chanyeol dan Hana memutuskan untuk berpisah. Chanyeol juga mengatakan bahwa sekarang Nenek sudah mengembalikan jabatannya di perusahaan. Jadi Chanyeol akan bekerja keras untuk mempertahankan jabatan itu.

Mendengar penjelasan Chanyeol, sang Ibu merasa tidak bisa berbuat apa-apa. Beliau hanya akan percaya pada Chanyeol dan berharap Chanyeol akan terus berhasil ke depannya.

_

_

Eunsoo dan Minseok tengah duduk berdampingan di tempat pemberhentian kereta. Saat mereka masih menunggu kedatangan kereta menuju Busan, Hana datang menghampiri mereka. Eunsoo nampak terkejut saat Hana memanggil namanya, Hana kemudian berdiri di hadapan Eunsoo dan Minseok hingga Eunsoo serta Minseok pun lekas berdiri.

Eunsoo menatap Hana dengan serius. “Hana-ya…”

Hana mendengus pelan. “Apa kau penasaran mengapa aku bisa bertemu dengan pria itu?” Kata Hana. “Ini semua gara-gara kau, Eunsoo. Kau bertindak diluar rencana kita semula.”

Minseok menatap kedua wanita itu dengan bingung, dalam hati bertanya, sebenarnya apa yang sedang mereka bicarakan?

Eunsoo meminta maaf pada Hana atas kecelakaan yang tidak sengaja terjadi padanya, hingga menyebabkan dirinya lupa ingatan dan masalahnya menjadi serumit itu. Eunsoo juga menjelaskan bahwa sebenarnya, setelah ingatannya kembali dia ingin segera jujur pada Chanyeol. Kemudian Eunsoo bertanya pada Hana, mengapa Hana tidak menemui Eunsoo terlebih dahulu? Mengapa Hana justru memilih menemui Chanyeol terlebih dahulu dan membuat pertemuan di restoran seperti malam itu? Apa Hana ingin membuatnya terlihat buruk dimata Chanyeol?

Minseok semakin bingung dengan pembiraan kedua wanita itu. Apa yang sebenarnya terjadi? Kecelakaan? Lupa ingatan? Ada apa ini? Namun Minseok memilih menahan rasa penasarannya dan mendengarkan Hana yang kemudian berbicara.

Hana menjelaskan bahwa Ia tidak memiliki cara lain untuk menghentikan semua ini selain mengatakan langsung yang sejujurnya pada Chanyeol. Hana tidak ingin memperpanjang masalah. Hana kemudian bertanya, lagipula, mengapa Eunsoo harus khawatir jika seandaninya Chanyeol benar-benar membencinya? Mengapa Eunsoo harus peduli pada Chanyeol?

Eunsoo hanya diam, dia tidak berkata apa-apa lagi meskipun sebenarnya Eunsoo ingin mengatakan bahwa Ia kecewa dengan cara Hana menyelesaikan masalah mereka. Karena Hana mungkin tidak sadar bahwa apa yang Hana lakukan memang benar membuat Eunsoo terkesan jahat dimata Chanyeol.

Hana kemudian berpamit akan pergi. Sebelum pergi, Hana melirik Minseok cukup lama. Minseok hanya diam, Ia tampak bingung mengapa Hana melihatnya seperti itu. Kemudian, Hana kembali melirik Eunsoo dan bergumam pelan. “Banyak sekali laki-laki yang berpihak padamu. Aku sungguh iri padamu, Eunsoo-ya.” Meskipun suara Hana pelan, tapi Eunsoo masih bisa mendengarnya. Eunsoo menatap Hana bingung sementara Hana langsung mengambil langkah untuk pergi.

Hana terus berjalan menjauh dari hadapan Eunsoo, sembari membatin, bahwa sebenarnya dia tidak terlalu menyukai Eunsoo. Entah mengapa Hana merasa tidak suka jika ada laki-laki yang mendekati Eunsoo, termasuk Chanyeol. Apalagi saat Ia bertemu dengan Chanyeol untuk pertama kalinya, dan Chanyeol bersikap seolah-olah bahwa Chanyeol benar-benar menyukai Eunsoo. Hana benci dengan hal itu. Untuk itu dipertemuan selanjutnya, Hana sengaja merencanakan untuk menjebak Eunsoo di dalam restoran. Meskipun rencananya tidak sepenuhnya berhasil karena Sehun membawa Eunsoo pergi begitu saja malam itu.

Hana bersikap seperti ini bukanlah tanpa alasan. Semenjak SMA, sebenarnya Hana sudah menaruh perhatian pada Minseok. Hana tahu bahwa Minseok adalah teman baik Eunsoo sekaligus tetangga dekat Eunsoo. Untuk itu Hana sengaja mendekati Eunsoo agar Hana bisa mendekati Minseok. Namun setelah berhasil menjalin pertemanan dengan Minseok, Hana justru lebih banyak menahan sakit hati, lantaran jika Ia bersama Minseok, pria itu lebih banyak menceritakan soal Eunsoo. Tentang hobi Eunsoo, makanan kesukaan Eunsoo, hal yang biasa Minseok lakukan bersama Eunsoo, dan semua hal tentang Eunsoo. Hana muak. Jelas sekali Minseok menyukai Eunsoo tapi sayangnya Eunsoo tidak pernah menyadarinya, dan Minseok pun sepertinya tidak berani mengungkapkan isi hatinya karena pria itu hanya ingin menjaga hubungan pertemanannya dengan Eunsoo.

Dan alasan mengapa Hana meminta bantuan pada Eunsoo untuk berpura-pura menjadi dirinya adalah karena Hana tidak memiliki teman dekat selain Eunsoo. Ya, Hana orang yang tertutup dan satu-satunya teman dekat yang Ia miliki adalah Eunsoo. Pada awalnya Hana berpikir bahwa rencananya akan berjalan lancar, tapi Hana tidak menyangka semuanya menjadi serumit ini. Secara tidak langsung, Hana justru membuat lebih banyak laki-laki berniat mendekati Eunsoo. Sebut saja Chanyeol dan Sehun. Kedua pria itu jelas sekali memiliki ketertarikan pada Eunsoo. Sekarang, Hana merasa sangat menyesal telah meminta bantuan Eunsoo untuk berpura-pura menjadi dirinya demi menolak perjodohannya dengan Chanyeol.

Saat punggung Hana tidak tampak lagi dalam jangkauan Minseok dan Eunsoo, Minseok langsung bertanya pada Eunsoo tentang apa yang terjadi sebenarnya. Tapi Eunsoo hanya diam. Kereta yang menjadi tujuan mereka kemudian tiba. Lalu Eunsoo menatap Minseok dan mengatakan bahwa Ia akan menjelaskannya saat di dalam kereta nanti. Dan Minseok setuju.

***

1 bulan kemudian…

Sehun masuk ke dalam cafe Gayoung. Sehun berjalan dengan penuh percaya diri menuju meja pesanan lalu memesan minuman di sana. Gayoung yang melihat keberadaan Sehun langsung berlari mendekati Sehun. Gayoung mengatakan bahwa semakin hari Sehun semakin tampan saja. Sehun mengangguk setuju, Ia mengatakan bahwa Ia tidak bisa menolak takdir dari Tuhan yang telah memberikan wajah begitu tampan untuknya. Gayoung mencibirnya. Lalu Gayoung mengungkapkan candaan bahwa jika Sehun semakin tampan setiap hari, lama-lama Gayoung bisa menyukainya. Sehun kembali mengangguk setuju, dan mengatakan bahwa Ia akan memikirkannya.

Gayoung bingung dengan ucapan Sehun. Gayoung bertanya apa yang Sehun maksud namun Sehun tidak menjawab, Sehun malah mengambil dua minuman pesanannya yang telah jadi, setelah itu Ia pergi begitu saja, meninggalkan Gayoung yang menatapnya semakin bingung. Gayoung bertanya-tanya dalam hatinya, apa maksud Sehun tadi adalah Sehun akan berpikir untuk menyukainya?

Sehun masuk ke dalam mobil. Ia duduk di kursi belakang bersama Chanyeol yang sedari tadi menunggu, sementara Sekretaris Kim yang bertugas mengemudikan mobil. Sekretaris Kim kemudian mengemudikan mobil itu menjauh dari depan cafe Gayoung. Kemudian, Sehun memberikan satu gelas es kopi yang Ia beli pada Chanyeol. Chanyeol menerimanya lalu meminumnya. Mereka kemudian melakukan perbincangan ringan yang awalnya dimulai oleh Sehun. Sehun mengatakan bahwa Chanyeol terlihat semakin kurus saat ini, Chanyeol juga sering melamun membuat Sehun merasa takut, jangan-jangan ada makhluk halus yang tertarik pada Chanyeol.

Chanyeol tersenyum ringan dan mengatakan bahwa Sehun gila. Lalu Sehun membalas bahwa Chanyeol lah yang gila. Sehun mengatakan bahwa Chanyeol terlihat sangat aneh, Sehun benar-benar takut jika makhluk halus yang tertarik pada Chanyeol juga akan tertarik pada ketampanannya, Sehun khawatir jika ketampanannya nanti akan pudar, Sehun khawatir jika nanti Ia akan banyak melamun seperti Chanyeol dan banyak menghabiskan waktu seorang diri seperti Chanyeol. Sehun tidak mau hal itu terjadi padanya.

Chanyeol mengatakan bahwa yang Sehun katakan itu sangat tidak sopan untuk ditujukan pada kakak sepupunya. Sehun tak peduli, dan tetap mengatakan bahwa Chanyeol sudah gila. Lalu Sehun merogoh sesuatu dari dalam saku jasnya, sebuah kertas kecil berisikan sebuah alamat yang kemudian Ia sodorkan ke hadapan Chanyeol. Meskipun bingung, Chanyeol menerima kertas itu sembari bertanya apa itu? Sehun menjawab bahwa jika Chanyeol pergi ke tempat itu, penyakit gila yang Chanyeol derita pasti akan sembuh.

Chanyeol tersenyum mengejek. Ia mengatakan bahwa Sehun benar-benar gila. Chanyeol kemudian menolak tawaran Sehun. Ia berniat mengembalikan kertas itu pada Sehun namun Sehun lebih dulu bersuara. “Itu alamat rumah Shin Eunsoo.” Chanyeol langsung terdiam. Sehun kemudian menyarankan Chanyeol untuk pergi ke sana. Sehun menjelaskan bahwa beberapa hari yang lalu Sehun berhasil menemukan alamat Eunsoo dan Sehun bahkan pergi menemui wanita itu.

Chanyeol diam, menundukkan pandangan, lalu Chanyeol bertanya dengan gumaman apa maksud Sehun sebenarnya? Chanyeol menjelaskan bahwa dirinya tidak memiliki urusan dengan wanita itu lagi. Sehun meminta Chanyeol agar sebaiknya Chanyeol tidak membohongi dirinya sendiri. Sehun kemudian menjelaskan, peristiwa saat Eunsoo pergi ke rumah Nenek saat itu, bahwa Eunsoo telah meminta Nenek agar Nenek bersikap baik pada Chanyeol. Sehun juga menjelaskan bahwa niat Eunsoo saat berpura-pura menjadi Ban Hana bukanlah karena uang semata, Sehun menjelaskan bahwa saat itu Eunsoo membutuhkan banyak uang segera karena harus melunasi hutang-hutang Ayahnya, jadi Eunsoo tidak memiliki pilihan lain selain menerima tawaran Hana, Sehun mengatakan bahwa Eunsoo sendiri yang mengatakan hal itu pada Sehun.

Chanyeol langsung menatap Sehun dengan tatapan yang sulit diartikan. Kemudian Sehun tersenyum tipis, mengatakan bahwa sepertinya Eunsoo juga mengidap penyakit gila yang sama seperti Chanyeol. Karena Sehun yakin, hanya orang gila yang akan menolak cinta dari seorang pria tampan nan dermawan seperti dirinya.

Chanyeol langsung menatap Sehun disertai kulit kening yang mengerut. Sorot mata Chanyeol seketika berubah menjadi sedikit menakutkan. Sehun kemudian memalingkan wajahnya dari Chanyeol, Ia menyentuh pundak Sekretaris Kim dan menyuruh Sekretaris Kim untuk menghentikan mobil. Setelah mobil berhenti, Sekretaris Kim bertanya pada Sehun mengapa Sehun menyuruhnya menghentikan mobil? Sehun menjawab, bahwa ada seseorang yang harus pergi ke suatu tempat, jadi dia dan Sekretaris Kim harus segera turun dari mobil. Sehun pun langsung turun dari mobil, begitupun Sekretaris Kim, meskipun bingung, Ia menuruti perintah Sehun dan ikut turun dari mobil.

Dari dalam mobil, Chanyeol memandangi Sehun dan Sekretaris Kim yang berjalan menjauh dari mobil. Sehun terlihat merangkul paksa pundak Sekiretaris Kim dan Sekretaris Kim tampak pasrah-pasrah saja meskipun terlihat agak risih dengan perlakuan Sehun. Chanyeol menunduk, memperhatikan kertas kecil berisi alamat yang masih berada di tangannya. Chanyeol menatapnya lekat-lekat, setelah menimbang-nimbang, memantapkan hati, Chanyeol mendengus kasar. Lalu Ia keluar dari mobil dan berpindah pada kursi kemudi. Chanyeol menghidupkan mesin mobil, lalu menginjak pedal gas dan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, dengan pandangan yang tearah lurus ke depan, sembari menggumamkan sebuah nama, Shin Eunsoo…

***

Di Busan, Eunsoo bekerja sebagai pelayan di sebuah restoran, dari pagi hingga menjelang malam, setelah itu Eunsoo akan pergi ke sebuah minimarket untuk menjalani kerja paruh waktu di sana. Eunsoo pulang ke rumah saat malam sudah cukup larut. Seperti malam ini, Eunsoo tengah berdiri di tepi trotoar untuk menunggu lampu penyebrangan bagi pejalan kaki menyala. Wanita itu tampil dengan pakaian yang sederhana; sneakers, celana jeans, kaos polos warna abu-abu yang dilapisi jaket, dan hanya mengikat asal rambutnya kebelakang.

Eunsoo memperhatikan lampu lalu lintas, sesekali menunduk dan mendesah pelan, wajahnya nampak lelah. Ketika lampu bagi pejalan kaki menyala, Eunsoo dan beberapa orang disana langsung mengambil langkah untuk menyebrangi jalan.

Saat Eunsoo tiba di pertengahan jalan, langkah Eunsoo tiba-tiba terhenti perlahan karena bola matanya menyadari sesuatu. Di ujung jalan penyebrangan, Eunsoo melihat Chanyeol berdiri menghadapnya. Eunsoo terdiam memperhatikan sosok itu, menatapnya lekat-lekat, dan bertanya dalam hati apakah yang Ia lihat saat ini nyata? Ataukah hanya ilusi yang terbentuk lantaran Eunsoo terlalu merindukan pria itu?

Detik selanjutnya Eunsoo menemukan jawabannya. Sepasang kaki Chanyeol bergerak, melangkah menyusuri jalan penyebrangan dan berhenti saat Ia tiba di pertengahan jalan, tepat di hadapan Eunsoo. Selama beberapa saat, mereka hanya saling memandang dalam diam. Membiarkan mata mereka bertemu, membuat rasa gemuruh kini memenuhi rongga dada keduanya.

Chanyeol menatap Eunsoo dalam-dalam. Sebenarnya, tanpa sepengetahuan Eunsoo, tadi Chanyeol sempat pergi ke restoran tempat Eunsoo bekerja dan Chanyeol memperhatikan wanita itu dari kejauhan. Chanyeol juga mengikuti Eunsoo saat Eunsoo bekerja di minimarket, dan kembali memperhatikan wanita itu dari luar toko. Lalu Chanyeol terus memperhatikan Eunsoo dari kejauhan, hingga mereka akhirnya bertemu seperti saat ini.

Chanyeol adalah orang yang pertama membuka suara. “Shin Eunsoo… apa.. aku boleh memanggilmu seperti itu?”

Setelah mendengar untuk pertama kalinya suara berat Chanyeol menyebut nama aslinya, Eunsoo merasakan sesuatu yang luar biasa yang membuat dadanya begitu bergejolak, matanya memanas, dan dengan cepat Eunsoo merasa pandangannya mulai kabur karena ada sesuatu yang bening dan cair yang kini tergenang di pelupuk matanya.

“Shin Eunsoo…” Chanyeol kembali bersuara, matanya yang mulai memerah kini menatap Eunsoo semakin dalam. “Kurasa.. aku merindukanmu.”

Pertahanan Eunsoo runtuh, air bening itu akhirnya jatuh dan menganak di kedua pipinya.

“Kenapa kau tidak mengatakan yang sebenarnya padaku?” Tanya Chanyeol dengan suara tercekat. “Kenapa kau tidak mengatakan padaku mengapa kau membutuhkan uang itu. Kenapa? Kenapa kau justru menjelaskan itu pada orang lain?”

Eunsoo diam sejenak sebelum menjawab. “Jika aku mengatakannya padamu mengapa aku membutuhkan uang itu, apa.. kau akan percaya padaku?”

Chanyeol hanya diam. Eunsoo kemudian melanjutkan. “Saat aku belum mengatakan apapun padamu, kau bahkan sudah menyebutku sebagai penipu.” Eunsoo menangis. “Sepertinya kau bahkan lebih percaya pada orang lain daripada percaya padaku.”

“Maafkan aku..” Kata Chanyeol. “Maafkan aku..”

Saat itu juga, lampu hijau kembali menyala. Beberapa mobil yang semula berhenti kini melintasi di sekitar mereka. Baik Chanyeol maupun Eunsoo seperti tidak lagi peduli dengan keadaan sekitarnya. Mereka terus saling memandang, hingga Chanyeol kembali bersuara. “Aku sudah mencobanya. Aku sudah mencoba menghapusmu dari hati dan ingatanku. Tapi semakin aku mencoba.. kenapa semuanya semakin terasa begitu berat? Kau selalu muncul dalam bayanganku, suaramu selalu terdengar dalam pendengaranku. Sebenarnya apa yang telah kau lakukan padaku hingga membuatku seperti ini? Kupikir aku akan gila jika aku menahannya lebih lama lagi.”

Eunsoo hanya diam, Ia terus menangis. Sesungguhnya.. Eunsoo juga merasakan hal yang sama seperti Chanyeol. Selama ini Eunsoo mencoba menghapus Chanyeol dari hati dan ingatannya, tapi semakin Eunsoo mencoba, rasanya semakin berat, bayangan Chanyeol justru selalu muncul dalam benaknya dan suara Chanyeol selalu terdengar dalam pendengarannya. Eunsoo bertanya-tanya apa yang telah dilakukan Chanyeol hingga membuatnya seperti ini? Eunsoo pikir dia mungkin akan gila jika terus menerus seperti ini.

Beberapa mobil masih tampak melintas di sekitar mereka. Chanyeol mengambil satu langkah maju ke hadapan Eunsoo membuat jarak diantara mereka semakin dekat. Satu tangan Chanyeol terulur ke wajah Eunsoo, menyentuh pipi Eunsoo, menangkupnya dengan hangat lalu mengelusnya dengan lembut.

Chanyeol bergumam di depan wajah Eunsoo, meminta maaf pada Eunsoo, mengatakan bahwa dia merindukan Eunsoo, bahwa dia sangat merindukan pemilik nama Shin Eunsoo sampai-sampai dia ingin gila rasanya. Chanyeol mengatakan bahwa dia tidak mampu lagi menahannya. Detik itu juga, setitik air bening dari mata Chanyeol jatuh ke pipinya. Lalu, Chanyeol mengatakan bahwa dia mencintai Eunsoo. Bahwa dia mencintai wanita yang telah menghabiskan waktu bersamanya saat itu, wanita yang selalu membuatkan masakan dan kopi paling enak untuknya, wanita yang terkadang mengganggunya, dan wanita yang telah berhasil membuat kehidupannya lebih berarti. Chanyeol mengatakan bahwa semua hal yang telah Ia lakukan pada Eunsoo saat itu; mengatakan bahwa Chanyeol mencintainya, memeluknya, dan menciumnya.. bukanlah sebuah sandiwara. Chanyeol melakukan semua itu dengan sungguh-sungguh dari dalam hatinya. Setelah itu, Chanyeol menarik tubuh Eunsoo ke dalam pelukannya, mendekap Eunsoo erat-erat, sangat erat seolah tak membiarkan apapun mendekati wanita itu selain dirinya.

Chanyeol membenamkan wajahnya di sisi leher Eunsoo, menghirup aroma tubuh Eunsoo yang sumpah mati sangat Ia rindukan. Chanyeol membisikkan kata maaf sekali lagi, namun Eunsoo tetap diam, tidak membalas Chanyeol dengan sepatah katapun. Isakan Eunsoo kemudian terdengar semakin jelas. Lalu Chanyeol merasakan.. sesak di dalam dadanya hilang seketika saat Ia merasakan Eunsoo membalas pelukannya. Chanyeol mempererat pelukannya dan mengatakan sekali lagi bahwa dia merindukan Eunsoo, bahwa dia ingin bersama Eunsoo dan tidak ingin wanita itu pergi lagi darinya. Eunsoo tetap tidak menjawab, namun Chanyeol lega karena merasakan pelukan wanita itu terasa semakin erat.

Mereka terus berpelukan seperti itu hingga lampu merah kembali menyala. Beberapa mobil berhenti di sisi tubuh mereka, dan beberapa pejalan kaki yang menyebrang jalan menatap mereka dengan aneh. Tapi mereka sama sekali tidak memperdulikan hal itu. Tak jauh dari tempat mereka berdiri, di tepi jalan, Minseok menyaksikan pemandangan itu dengan berbagai perasaan yang bercampur di dalam hatinya. Sebenarnya, tadi sore Minseok melihat Chanyeol datang ke rumah Eunsoo. Saat mendengar Chanyeol memperkenalkan nama, Minseok ingat tentang cerita Eunsoo saat berada di Seoul dulu. Jadi Minseok menunjukkan Chanyeol tempat dimana Eunsoo bekerja.

Minseok memang sempat menyukai Eunsoo. Tapi saat kembali dari Seoul, Eunsoo terlihat sangat berbeda. Minseok merasa wanita itu menyembunyikan sesuatu darinya. Dan sepertinya sekarang Minseok tahu jawabannya. Meskipun Minseok tidak akan memiliki kesempatan untuk jujur pada Eunsoo tentang isi hatinya, tapi dengan melihat Eunsoo dan Chanyeol seperti itu sudah membuat Minseok cukup bahagia. Minseok pikir lebih baik seperti ini dari pada harus melihat Eunsoo murung dan sering melamun setiap harinya, karena itu membuat Minseok merasa sedih. Sekarang, Minseok hanya berharap agar Eunsoo bisa bahagia bersama pria bernama Park Chanyeol itu. Karena jika Eunsoo bahagia, maka Minseok juga akan bahagia.

Minseok tersenyum tipis sembari mencibir tidak seharusnya Chanyeol dan Eunsoo melakukannya di tempat seperti itu. Benar-benar memalukan, Minseok menggeleng pelan, kemudian melangkah pergi. Setelah beberapa meter Ia berjalan menjauh, Minseok bertemu dengan Ban Hana di tepi jalan. Mereka kemudian menghentikan langkah dan saling menyapa. Minseok bertanya apa yang dilakukan Hana malam-malam di sini? Hana mengatakan bahwa Ia sedang berlibur di tempat ini; Busan. Tapi mobilnya mogok jadi Hana memilih jalan kaki dan berharap ada halte bus di dekat sini. Minseok mengatakan bahwa halte bus sangat jauh. Jadi Minseok menawarkan diri pada Hana akan mengantar wanita itu menggunakan motor matic nya yang Ia parkirkan tak jauh dari sini.

Hana menatap Minseok dengan tatapan yang sulit diartikan. Wanita itu hanya diam saat Minseok menyuruhnya untuk menunggu selagi Minseok mengambil motor matic miliknya. Tidak lama kemudian, Minseok tiba di sisi tubuh Hana. Meskipun sedikit gugup, Hana akhirnya naik ke atas motor matic Minseok dan membiarkan pria itu mengantarnya pulang menuju hotel yang Ia tempati. Di belakang tubuh Minseok, Hana tersenyum senang sembari menatap Minseok lekat-lekat.

_

_

Setelah mereka (Chanyeol dan Eunsoo) bertemu di tengah-tengah penyebrangan jalan, Chanyeol pergi ke rumah Eunsoo untuk bertemu dengan Ibu Eunsoo dan melakukan pembicaraan terkait hubungan mereka yang ingin mereka jalani dengan serius mulai saat ini. Ibu Eunsoo merasa tidak keberatan jika hal itu bisa membuat putrinya bahagia. Kemudian karena malam sudah sangat larut, Ibu Eunsoo menyuruh Chanyeol untuk menginap di rumahnya.

Chanyeol tidur di dalam kamar Eunsoo, sementara Eunsoo berada di kamar Ibunya. Ketika Eunsoo melihat Ibunya sudah terlelap, Eunsoo bangkit dari tempat tidur, entah mengapa Ia tidak merasa mengantuk sedikitpun. Eunsoo akhirnya keluar dari kamar Ibunya. Ia masuk ke dalam kamarnya untuk memastikan Chanyeol bisa tidur dengan nyaman di kamarnya. Eunsoo duduk di tepi tempat tidur lalu membetulkan selimut di tubuh Chanyeol. Ia memandangi wajah tidur Chanyeol lekat-lekat sembari tersenyum lembut.

Eunsoo begitu merindukan pria itu, dan memandangi wajah Chanyeol seperti saat ini menjadi pemandangan yang paling indah yang tidak ingin Ia lewatkan begitu saja. Satu tangan Eunsoo menyentuh rambut Chanyeol, membelainya dengan lembut, setelah itu Eunsoo mendekatkan wajahnya ke wajah Chanyeol, mendaratkan kecupan hangat di kening Chanyeol—cukup lama—lalu Eunsoo menarik wajahnya kembali. Eunsoo berkata dengan nada pelan bahwa Ia berharap Chanyeol akan mimpi indah malam ini. Kemudian Eunsoo bangkit, berniat pergi, namun tangan Chanyeol tiba-tiba menahan tangannya. Eunsoo langsung menoleh ke arah Chanyeol, terkejut saat mendapati pria itu kini menatapnya disertai bibir yang melengkung.

Eunsoo bertanya apakah Chanyeol pura-pura tidur? Bukannya menjawab, Chanyeol malah duduk, lalu menarik tangan Eunsoo hingga Eunsoo kembali terduduk di tepi tempat tidur, setelah itu Chanyeol langsung mendaratkan bibirnya pada bibir Eunsoo untuk memberikan kecupan yang manis untuk wanita itu. Setelah memisahkan bibir mereka, Chanyeol mengajak Eunsoo untuk tidur bersamanya. Lantas Eunsoo menatapnya tak percaya, dan bertanya apakah Chanyeol sudah gila? Chanyeol menjawab tidak akan terjadi apa-apa karena dulu mereka juga sering melakukannya.

Mendadak Eunsoo menjadi gugup. Eunsoo menjelaskan bahwa dia tidak bisa melakukannya di sini, bagaimana jika Ibunya tahu? Ibunya pasti akan membunuhnya. Chanyeol tidak peduli dengan hal itu, Chanyeol kemudian menarik paksa tubuh Eunsoo dan menidurkan Eunsoo di samping tubuhnya. Eunsoo memekik tertahan karenanya, Ia berusaha berontak, tapi Chanyeol dengan cepat mengunci kaki dan tubuh Eunsoo dengan mendekap Eunsoo erat-erat. Eunsoo menyerukan nama Park Chanyeol dengan nada tertahan. Chanyeol justru tersenyum menanggapinya, menyelimuti tubuh mereka lalu mendekap Eunsoo semakin erat.

Eunsoo benar-benar takut Ibunya akan mengetahui ini, Ia memohon pada Chanyeol agar melepaskannya namun Chanyeol malah menutup mata dan mengatakan bahwa dirinya sudah mengantuk. Eunsoo mendengus kesal, Ia menatap Chanyeol selama beberapa saat juga dengan tatapan yang kesal. Tubuhnya sulit bergerak karena Chanyeol terus mendekapnya. Dan pada akhirnya, Eunsoo pasrah. Ia sedikit membetulkan posisinya agar bisa tidur senyaman mungkin, semakin mendesak ke arah Chanyeol lalu mulai menikmati dekapan pria itu yang terasa begitu hangat dan nyaman.

Eunsoo menahan senyuman sebelum akhirnya menutup mata. Chanyeol kemudian meliriknya sejenak, mendaratkan kecupan hangat di kening Eunsoo. Lalu mereka memulai tidur dengan bibir yang sama-sama mengukir senyuman.

Chanyeol dan Eunsoo berharap, mulai saat ini mereka bisa menjalani hubungan percintaan mereka dengan normal, dan dengan jujur tanpa ada kebohongan diantara mereka berdua.

***

1 tahun kemudian…

Pagi hari yang cerah. Chanyeol masih berada dalam dunia mimpinya, dibawah selimut putih yang tebal yang terlihat begitu hangat. Dari balik pintu kamar mandi, Eunsoo keluar dengan mengenakan handuk kimono sembari mengeringkan rambutnya menggunakan handuk kecil. Melihat wajah tidur Chanyeol yang begitu damai, Eunsoo menggeleng pelan. Lalu Eunsoo mendekati tempat tidur dan naik ke atasnya. Eunsoo mendekatkan wajahnya pada wajah Chanyeol, memanggil nama Chanyeol berulang kali sembari mengelus-elus pipi Chanyeol.

Setelah beberapa saat, Chanyeol hanya mengerang pelan, matanya masih saja tertutup. Eunsoo mulai mengomel, mengatakan bahwa Chanyeol harus segera bangun karena pria itu harus bekerja. Chanyeol meracau bahwa dia akan bangun lima menit lagi. Kemudian Eunsoo duduk tegap, mengatakan bahwa jika Chanyeol terus begini, Chanyeol tidak akan bisa mendapatkan banyak uang, bukankah biaya persalinan, susu bayi dan segala perlengkapan bayi sekarang sangat mahal?

Mendengar itu, mata Chanyeol langsung terbuka. Ia diam sejenak, lalu menatap Eunsoo dengan tatapan tak mengerti. Eunsoo mendecak pelan, mengatakan bahwa Chanyeol akan menjadi Ayah dan tidak seharusnya Ayah malas bekerja seperti ini, bagaimana nanti nasib anak dan istrinya? Chanyeol menatap Eunsoo dengan serius, dan bertanya dengan nada ragu apakah… maksud Eunsoo adalah.. Eunsoo mengatakan bahwa dia hamil?

Eunsoo tidak langsung menjawab, perlahan bibirnya melengkung membentuk senyuman tertahan, Eunsoo kemudian mengelus perutnya yang masih rata dan berucap, “Tiga minggu. Kemarin aku ke rumah sakit dan dokter mengatakan bahwa usianya sudah tiga minggu.” Chanyeol langsung duduk menghadap Eunsoo. Ia menatap Eunsoo disertai berbagai perasaan yang berkecamuk di dalam hatinya, senang, terharu, setelah sepuluh bulan menikah, akhirnya Chanyeol bisa mendengar kabar bahagia itu dari mulut istrinya sendiri.

Chanyeol memastikan dengan bertanya apakah Eunsoo serius? Wanita itu mengangguk dan tersenyum. Kemudian Chanyeol langsung mengecup bibir Eunsoo dan setelah itu menarik Eunsoo dalam dekapannya yang erat.

Eunsoo membalas pelukan Chanyeol dan mereka larut dalam suasana itu selama beberapa saat. Setelah melepas pelukannya, Chanyeol mengatakan bahwa Ia akan merayakan kabar bahagia ini. Eunsoo bertanya bagaimana Chanyeol akan merayakannya? Pria itu menunjukkan senyuman cerah, lalu merebahkan tubuhnya dan tubuh Eunsoo di permukaan tempat tidur, menutupkan selimut hingga batas pinggang mereka, lalu Chanyeol memeluk tubuh Eunsoo dengan hangat. Chanyeol berkata bahwa dia tidak akan bekerja hari ini, dia ingin menghabiskan waktu bersama Eunsoo di atas tempat tidur, Chanyeol ingin memeluk Eunsoo sepanjang hari dan memastikan agar Eunsoo serta calon bayi mereka harus dalam keadaan baik-baik saja, Chanyeol ingin melindungi Eunsoo dan calon bayi mereka secara penuh hari ini.

Eunsoo mencibir Chanyeol, mengatakan bahwa ini adalah perayaan yang paling aneh yang pernah Ia dengar, tapi jika yang mengatakan itu adalah pria tampan seperti Park Chanyeol, suaminya, maka Eunsoo tidak akan keberatan. Eunsoo pun mendesak ke arah Chanyeol dan membalas pelukan pria itu. Eunsoo bertanya apa yang harus mereka lakukan sekarang? Apakah mereka harus tidur lagi? Tapi Eunsoo tidak mengantuk saat ini. Chanyeol berpikir sejenak, pria itu akhirnya menemukan ide, bagaimana jika mereka terus berpelukan sambil mendiskusikan nama bagi calon bayi mereka? Eunsoo menyetujui itu.

Kemudian mereka mulai berdebat tentang nama bagi calon bayi mereka jika yang lahir nantinya adalah laki-laki atau perempuan. Chanyeol juga menyarankan pada Eunsoo rumah sakit terbaik untuk Eunsoo memeriksakan kehamilan secara rutin dan melakukan persalinan nanti. Membeli peralatan bayi, susu, bahkan sekolah terbaik untuk anak mereka kelak juga mereka diskusikan.

Mereka terkadang memiliki pendapat berbeda yang membuat mereka harus berdebat, terkadang mereka tertawa bersama, saling mencibir, tapi aura hangat yang menenangkan terus menyelimuti kebersamaan mereka di kamar yang cukup luas itu.

Eunsoo akhirnya tersenyum lembut pada Chanyeol dan bergumam bahwa anaknya nanti pasti akan bangga karena memiliki Ayah yang tampan seperti Chanyeol. Chanyeol juga mengatakan bahwa anaknya nanti pasti akan bangga karena memiliki Ibu yang cantik dan baik seperti Eunsoo.

Chanyeol mengecup kening Eunsoo dengan lembut, lalu mengatakan bahwa dia sangat mencintai Eunsoo. Kemudian Eunsoo membalas bahwa dia juga sangat mencintai Chanyeol. Setelah itu, Chanyeol meletakkan dagunya di puncak kepala Eunsoo, membawa Eunsoo ke dalam pelukan yang paling hangat dan nyaman yang tidak akan Chanyeol berikan pada wanita manapun selain Shin Eunsoo.

_

_

_

_

_

_

_

_

_TheEnd _

Akhirnya kelar juga. Legaaaaa….. Terima kasih untuk semua yang udah ngikutin cerita ini dari awal sampai akhir, meskipun banyak kendala, banyak ini itu dalam perjalanan pembuatannya. Meskipun ceritanya masih banyak—banyak sekali—kekurangannya, tapi masih ada aja yang mau nunggu. Ngga bisa tergambarkan gimana senengnya aku. Big thanks and big love pokoknya. Sarangek!❤

105 responses to “RESUME THE NAME I LOVED [3] by noonapark

  1. Baca ini sampe mata perih nahan ngantuk. Kalo tidur nanti kebawa mimpi saking penasarannya, jadinya yaudah di lanjutin ampe tuntas..
    Baby Hoon udah ada nih ceritanya aihhhhh seneng dehh, itu ga ada kabar lagi si Sehun alias bra merah ? Ahahha
    Baiklah kita ucapkan Congratulation buat kalian ya Canyol Ensu yang sekarang udah baean wkwk

  2. akhirnya aku baca cerita ini jugaa….awal nyampe akhir cerita berhasil bawa aku kedalam imajinasi yang bener bener wow banget.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s