The Dim Hollow Chapter 13 by Cedarpie24

Thedimhollow

The Dim Hollow

—Chapter 13

Jealous

.

a fanfiction by cedarpie24

.

Oh Sehun x Son Dahye

Slight!Kim Taehyung, Kim Jongin, Byun Baekhyun

Romance, school-life, hurt, teacher-student relationship || PG-16 || Chaptered

.

I just own the storyline and original-chara

.

Aku menyayangimu sedalam kau menyukaiku. Memujamu sebanyak kau mengagumiku. Menginginkanmu sesering kau merindukanku. Namun ada begitu banyak hal yang membuatku tak pantas untukmu. Aku, terlalu banyak kekelaman yang kupunya.—Oh Sehun

.

Foreword ♣ Chapter 1—Got Noticed ♣ Chapter 2—NightmareChapter 3—Detention ♣

Chapter 4—The Kiss ♣ Chapter 5—Sinner ♣ Side Story : Secret ♣

Chapter 6—Take Care of Her ♣ Chapter 7–Adore ♣ Chapter 8–Him ♣ Chapter 9—Confession ♣ Chapter 10—Elude ♣ Chapter 11—Decision ♣ Chapter 12—Deserve

.

Note di bawah tolong dibaca ya:)

“Sehun-ssi, boleh aku duduk di sini?”

Sehun mendongak dari makanannya begitu pertanyaan tadi sampai ke telinganya. Seulas senyum tipis kemudian terbit di bibir kala ia menemukan salah seorang rekan kerjanya tengah berdiri di hadapan mejanya sembari membawa senampan makan siang.

“Ya, tentu saja, Ahn saem,” sahut Sehun sembari mengangguk kecil.

Ahn Saejin, guru muda itu tersenyum senang lantas segera mendudukan diri di kursi di depan Sehun. “Jangan terlalu formal begitu. Saat ini kita bukan rekan kerja, tapi teman biasa. Jadi panggil saja namaku, oke?”

Saejin menyuguhkan senyum terbaiknya untuk Sehun, yang lantas dibalas Sehun dengan senyuman pula.

Dulu sebelum Sehun datang, Saejin merupakan guru termuda di sekolah ini. Lalu begitu pemuda Oh itu turut bekerja di sini, posisi guru termuda bergeser jadi milik Sehun. Saejin tidak keberatan tentunya, wanita cantik itu justru senang kini ia punya teman kerja yang usianya tak tepaut jauh. Dan kalau ia beruntung, mungkin ia dan Sehun bisa menjadi lebih dari sekadar teman kerja.

Yah, sedikit berharap bukan masalah, ‘kan?

Namun kelihatannya Sehun tak begitu mudah didekati. Pemuda itu lebih banyak menghabiskan waktunya di ruangannya. Bahkan kini, ketika mereka telah duduk berhadapan untuk makan siang Sehun sama sekali tak membuka percakapan. Yang dilakukan pemuda itu hanya menyuap makanannya dengan tenang, sambil sesekali menyapu pandang ke sekitar.

Ah, mungkin Sehun sedikit gugup di dekatnya. Begitu pikir Saejin.

“Jadi, Sehun-ssi, bagaimana rasanya mengajar di sini? Menyenangkan?” Saejin lantas berinisiatif memulai percakapan. Ia menatap Sehun, antusias dengan jawaban yang akan diberikannya.

Sehun mengerjap sebentar. Sebenarnya alasan ia datang ke kafetaria sekolah hanya untuk menyantap makan siangnya dengan tenang. Saat ini Sehun sedang tak butuh teman bicara. Tapi tak mungkin rasanya mengabaikan pertanyaan Saejin barusan. Maka ia mengangguk kecil, dan memberikan jawaban singkat dengan sopan, “Yah, menyenangkan. Anak-anak di sini tidak sulit diatur.”

Saejin mengangguk-angguk. Ia mengamati Sehun yang kini kembali menyuap makanannya.

“Kudengar ini kali pertamamu mengajar, ya?” Ia bertanya lagi.

Sehun kembali mendongak, lalu kembali mengangguk. “Iya. Aku baru lulus beberapa bulan kemarin, dan diterima di sekolah ini.”

“Wah, di usia semuda ini kau sudah bisa lulus dan cepat mendapat pekerjaan. Nilaimu semasa di sekolah pasti cemerlang semua, ya?” Saejin kelihatan tak punya niatan berhenti bertanya.

“Ah, tidak juga.” Sehun tertawa kecil, meski sebenarnya berusaha menutupi jengah yang mulai muncul. Demi Tuhan dia hanya ingin makan dengan tenang dan bukannya diwawancari dadakan begini!

Saejin ikut tertawa heboh. Ia memukul ringan lengan Sehun di atas meja, lantas menukas, “Kau ini selalu merendah! Pantas saja banyak sekali yang menyukaimu.”

Kali ini Sehun tak tahu harus memberi respon bagaimana. Ia hanya tersenyum kecil, berusaha kelihatan tetap sopan. Bagaimana pun wanita di depannya ini merupakan senior di tempat kerjanya. Sehun lantas kembali menyapukan pandangannya ke sekeliling, demi mencari alasan agar ia bisa cepat-cepat pergi dari Saejin. Ketika dipikirnya tak ada alasan bagus untuk menghindar, fokus Sehun terjatuh pada satu sosok yang duduk di meja seberang.

Meski gadis itu duduk membelakanginya, Sehun dapat mengenal dengan baik siapa ia. Rambut sepunggungnya yang ia ikat asal-asalan, punggung mungilnya, serta seragamnya yang sama sekali tak dibuat lebih kecil. Son Dahye. Gadis itu Son Dahye.

Sejenak Sehun mengamati figur belakang Dahye. Ia duduk sendirian di mejanya, nampak menyantap makan siangnya dengan tenang. Presensi Dahye di sana kelihatan agak janggal jika dibandingkan dengan murid-murid lain yang duduk berkelompok dan makan sambil bersenda gurau. Sehun perhatikan Dahye memang selalu sendirian. Ia tak punya teman untuk diajak makan bersama maupun bercengkrama bertukar canda.

Seharusnya tidak begitu. Dahye tak bisa terus sendirian tanpa teman. Bagaimana pun ia tetap seorang remaja yang jelas membutuhkan sosok teman sebaya untuk dijadikan pegangan. Tak peduli semandiri apa pun Dahye, gadis itu tetap membutuhkan seorang teman.

“Sehun-ssi? Sehun-ssi, kau dengar aku?”

Suara nyaring Saejin kembali menggusur Sehun ke dunia. Ia lekas-lekas membuang pandangannya dari Dahye, kemudian beralih menatap wanita di hadapannya.

“Ya?”

“Kelihatannya kau melamun, ya.” Saejin terkekeh kecil sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. “Jadi tadi aku bercerita tentang Kim saem yang belakangan mengajakku pergi—“

“Eh, Saejin-ssi, kau sudah lama bekerja di sini, kan?” Sehun menyela perkataan Saejin tanpa pikir panjang. Matanya sesekali masih mengerling Dahye di seberang sana.

Saejin mengerjap beberapa kali. Tak sangka akan Sehun yang tiba-tiba menyambar ucapannya. “Yah, lumayan lama. Sekitar lima tahun lebih, kalau tidak salah.”

Sehun mengangguk-angguk. Tatapannya sekali lagi jatuh pada Dahye di sana sebelum kembali pada Saejin. “Kalau begitu sebelumnya kau pernah kedapatan mengajar Son Dahye?”

Apa?

Kenapa jadi tanya-tanya soal muridnya?

“Son Dahye? Iya, tentu saja. Tahun kemarin dan sekarang aku mengajar kelasnya,” jawab Saejin meski masih tak mengerti mengapa Sehun tiba-tiba mengajukan pertanyaan tadi.

“Aku hanya penasaran,” mulai Sehun sembari menangkupkan kedua tangannya di atas meja. “sejak dulu, sejak Saejin-ssi mengajarnya, apa dia memang selalu sendirian? Aku jarang sekali melihatnya bersama teman-temannya.”

“Son Dahye memang seperti itu. Dari yang para guru ketahui sejak dulu dia tak punya banyak teman. Meski prestasi akademisnya benar-benar bagus, kurasa kemampuannya bersosialisasinya agak kurang. Sangat disayangkan, memang.” Saejin mengedikan bahu. Ia kemudian menatap Sehun penasaran. “Tapi tunggu, kudengar bukankah kalian merupakan sepupu? Kenapa Sehun-ssi harus menanyakan ini semua padaku?”

“Ah, sebelumnya aku dan Dahye tidak terlalu dekat. Kami sering bicara setelah aku bekerja di tempat ini. Jadi, aku penasaran bagaimana keadaan sepupuku sebelum aku mengenalnya.”

Bagus. Satu kebohongan disambung kebohongan lain.

Sehun tertawa miris dalam hatinya. Ia memang pandai sekali menciptakan ribuan bualan.

Sementara di tempatnya Saejin mengangguk-angguk paham. “Nah kalau begitu biar kuteruskan ceritaku sebelumnya. Sampai mana tadi? Ah iya, Kim saem ….”

Sehun tak lagi mendengarkan celotehan Saejin setelahnya. Sebab kemudian seluruh atensinya tersedot pada Dahye yang kini tak lagi duduk sendirian. Entah kapan datangnya, bocah yang kemarin bermasalah dengan Dahye—si murid baru itu—tampak duduk dengan nyaman di meja Dahye. Sehun tidak tahu, tapi ia tak suka melihat ini.

Terlebih ketika bocah itu mengatakan sesuatu dengan begitu bersemangat lantas tergelak heboh seolah berusaha mengundang Dahye ikut tertawa.

Dasar bocah sialan. Memangnya dia pikir siapa dia bisa mengajak Dahye tertawa begitu?

Sesuatu dalam hati Sehun kemudian menggeram marah ketika bocah itu mendadak menjulurkan tangannya untuk mengacak puncak kepala Dahye. Cengiran lebar menghias wajahnya begitu Dahye dengan cepat menangkas tangannya.

Astaga.

Keterlaluan.

Kenapa bocah itu bisa bertingkah seolah ia dan Dahye merupakan teman dekat?

Sehun pikir Dahye akan mengusir bocah tadi dari mejanya. Sebab bukankah Dahye lebih senang sendiri? Bukankah sejak dulu Dahye tak pernah membiarkan seorang pun mendekatinya untuk berteman? Seharusnya dia tidak membiarkan bocah itu duduk bersamanya.

Namun rupanya Dahye tak melakukan apa yang Sehun inginkan. Gadis itu sama sekali tak mengusir si bocah dan tetap membiarkannya duduk di sana.

Sebelumnya Sehun memang berpikir Dahye butuh seorang teman. Namun jelas teman yang ia maksud bukan bocah sialan itu.

Kesal sendiri melihat Dahye yang duduk bersama si bocah sialan, Sehun memutuskan ia tak bisa lebih lama lagi di tempat ini. Lagi-lagi memotong cerita Saejin, Sehun bangkit dari duduknya setelah sebelumnya berpamitan bahwa ia masih punya pekerjaan yang menunggunya. Dengan langkah lebar ia berjalan keluar kafetaria, tak menyadari bahwa tepat ketika itu Dahye menoleh ke arahnya, dan menatap kepergiannya sampai punggungnya menghilang di balik tikungan.

Siang itu sama seperti siang-siang sebelumnya, Dahye tak punya nafsu makan sama sekali. Namun dari pada menghabiskan jam istirahatnya di ruang kelas bersama Kim Taehyung-yang-demi-Tuhan-tak-bisa-berhenti-mengoceh, Dahye memutuskan kafetaria merupakan tempat terbaik untuknya saat ini. Soal tempat duduk, rupanya Taehyung sudah tak mau lagi berdebat dengan Dahye. Ia membiarkan Dahye duduk di mejanya di samping jendela, sementara Taehyung sendiri duduk di meja di sebelah Dahye. Sejak pagi tadi Taehyung menagih Dahye berterimakasih karena telah merelakan mejanya. Mana mau Dahye melakukan itu. Sejak awal meja di samping jendela merupakan mejanya, kenapa ia harus berterima kasih ketika Taehyung memberikan meja itu—padahal meja itu telah menjadi mejanya dari dulu.

Ah, kenapa kedengarannya memusingkan begitu. Dahye memijat pelipisnya sendiri dengan gerakan lelah. Belum genap dua hari Kim Taehyung telah sukses membuat kepalanya super sakit.

Begitu mendapat menu makan siangnya, Dahye agak kesulitan mendapat meja kosong di kafetaria. Nyaris semua meja telah ditempati berkelompok orang. Ish, Dahye benci orang-orang yang selalu duduk berkelompok ketika makan siang dan enggan berbagi meja mereka dengan orang lain yang bukan bagian dari kelompok mereka. Untuk seseorang yang selalu makan siang sendirian, Dahye jadi punya kesulitan tersendiri mendapat tempat duduk untuk makan.

Sambil menggerundel dalam hati, Dahye menyapu pandangannya ke seluruh kafetaria. Berharap semoga masih ada satu saja meja kosong yang tak ditempati sekelompok orang.

Dan rupanya memang masih ada meja kosong yang tersisa.

Sebenarnya tidak benar-benar kosong, sih. Seseorang telah menempatinya, tapi kalau Dahye mau ia bisa minta ikut bergabung untuk duduk di sana.

Namun maukah ia minta bergabung di sana?

Dahye harus berpikir ulang. Sebab meja itu, ditempati oleh Oh Sehun.

Sehun nampak duduk seorang diri di meja itu, menyantap makanannya dengan tenang tanpa memedulikan keadaan sekitar. Ia mungkin juga tak menyadari presensi Dahye yang berdiri beberapa meter darinya, menatapnya ragu untuk ikut bergabung di mejanya atau tidak.

Hanya memilih meja untuk makan, tapi Dahye telah dibuat bingung begini.

Dahye menelengkan kepalanya sementara matanya tak lepas dari Sehun. Kalau ia duduk di sana, Sehun pasti takkan keberatan. Tapi bagaimana dengan reaksi orang-orang? Seorang murid duduk makan siang dengan gurunya. Terlebih guru yang dimaksud merupakan guru muda yang jadi incaran satu sekolah.

Ah, tapi bukankah semua orang mengenal Dahye dan Sehun sebagai sepupu? Bukankah tidak masalah jika sepasang saudara duduk bersama?

Benar.

Maka setelah menarik napas dalam-dalam, dan menenangkan debaran jantungnya yang mendadak menggila—Dahye akan duduk makan siang dengan Sehun, oke, jangan salahkan ia kalau jantungnya berulah begini—ragu-ragu disusunnya langkah menuju meja Sehun.

Namun baru saja Dahye sampai di langkah ketiga, seseorang telah mendahuluinya sampai ke meja Sehun. Dalam diam Dahye memperhatikan guru Ahn yang kelihatan berbicara dengan Sehun, mungkin memintanya untuk duduk bersama. Sehun yang semula menunduk menatap makanannya perlahan mendongakan kepala, lalu refleks tersenyum begitu melihat siapa yang bicara padanya.

Sesuatu dalam hati Dahye mengentak tak suka melihat ini.

Kenapa Sehun harus tersenyum selebar itu sih? Seingat Dahye, selain ketika sedang bersamanya Sehun tak pernah tersenyum seperti itu pada orang lain.

Oh, ya tentu saja. Guru Ahn memang dikenal sebagai guru wanita muda yang cantik dan digemari nyaris setiap kaum adam di sekolah ini. Sehun pasti kepalang senang melihat guru Ahn ingin duduk makan siang dengannya.

Cih.

Meski begitu, Dahye tetap berharap Sehun menolak guru Ahn duduk dengannya. Maksudnya, sebagian hatinya tak mau melihat Sehun makan siang berduaan dengan guru Ahn.

Namun rupanya Sehun tak mengikuti apa yang Dahye inginkan. Pemuda Oh itu mengizinkan guru Ahn duduk di mejanya, membiarkan mereka menghabiskan jam makan siang bersama.

Sial. Kenapa Dahye panas sendiri.

Tepat ketika Dahye berpikir ia akan menghabiskan makan siangnya di luar kafetaria, sekelompok orang bergerak meninggalkan meja mereka. Meja yang letaknya persis di seberang meja Sehun. Nah, setidaknya Dahye punya tempat duduk. Ia memacu langkahnya cepat-cepat menuju meja itu, dan memilih kursi yang membelakangi Sehun.

Dahye berusaha melahap makanannya tanpa memikirkan Sehun. Namun agak sulit juga rupanya. Sebentar-sebenatar tanpa disadarinya ia menoleh ke belakang, hanya untuk menemukan Sehun yang kelihatan tengah berbicara dengan guru Ahn. Wah, pasti menyenangkan sekali kan duduk bersama guru cantik begitu. Dahye berpikir ketus.

“Yah—Meja, di sini kau rupanya!”

Dahye terlonjak di kursinya begitu Kim Taehyung muncul entah dari mana dan mendudukan diri di hadapannya. Tangannya membawa nampan makan siang yang mengepul.

“Selamat makan!”

Kernyitan tercipta di kening Dahye setelahnya. Ia mendorong nampan makanan Taehyung sembari menukas, “Siapa bilang kau boleh duduk di sini, huh?”

“Meja yang lain penuh! Kau tidak bisa lihat, ya?” Taehyung menyahut dengan mulut penuh. Sebutir nasi terjun bebas dari mulutnya ke atas meja ketika ia berujar.

Dahye mengernyit jijik dan menatap nasi tadi dengan mata memicing. “Dasar jorok. Telan dulu makananmu baru bicara.”

Dan Taehyung menurutinya. Begitu mulutnya telah kosong, ia mengulang perkataannya sebelumnya. “Kubilang, meja yang lain penuh. Cuma meja ini yang kosong, jadi aku makan di sini.”

Dahye mendengus mendengarnya. Di luar kesadaran, ia kembali menoleh ke belakang untuk mencari meja Sehun. Dilihatnya Sehun tengah mendengarkan guru Ahn bicara dengan raut kelewat serius. Untuk kedua kalinya Dahye mendengus sembari memalingkan wajah. Memang apa sih yang mereka bicarakan sampai Sehun kelihatan seserius itu? Menyebalkan sekali.

“Yah, jangan pasang tampang jengkel begitu. Kau mengurangi nafsu makanku, tahu tidak.” Taehyung menukas. Ia menunjuk-nunjuk hidung Dahye dengan ujung sendoknya yang dilumuri kuah kari. Anak ini benar-benar tidak mengerti tata karma di meja makan sepertinya.

“Bagaimana aku tidak kesal jika orang sepertimu duduk di mejaku.” Dahye menyahut geram. Dan melihat si Oh Sehun duduk dengan guru Ahn yang cantik, kau pikir bagaimana bisa aku tidak kesal kalau sudah begini huh?

Dahye menahan ucapannya tadi di ujung lidah. Ia tentu tak mau Taehyung tahu apa yang sebenarnya terjadi di antaranya dan Sehun.

“Ah, berlebihan sekali.” Taehyung berdecak sambil menjilati sendoknya, membuat Dahye kembali mengernyit jijik. “Lagi pula anggap saja ini bayaran karena aku telah memberikan mejaku di samping jendela untukmu.”

Duh, masalah ini malah dibahas lagi.

“Sejak awal itu memang mejaku, jadi tidak perlu ada acara berterima kasih, oke?” tukas Dahye sembari mengaduk-aduk makanannya tanpa selera.

“Memangnya kenapa sih kau suka sekali meja itu? Karena posisinya yang di samping jendela? Atau karena apa?” tanya Taehyung sembari menelengkan kepalanya. Kemudian ia tersentak dan raut jenaka segera mewarnai wajah tirusnya. “Oh! Aku tahu!”

“Tahu apa?” Dahye bertanya dengan kening mengerut.

“Aku tahu kenapa kau suka sekali meja itu!” Kali ini Taehyung menukas dengan bersemangat. “Pasti karena letaknya di samping jendela memudahkanmu mengamati keadaan di luar sana kan! Misalnya ketika jam olahraga kelas lain berlangsung, kau bisa dengan mudah menelengkan kepalamu dan mengawasi setiap murid lelaki berlarian di sekeliling lapangan dengan keringat membanjiri tubuh mereka. Benar kan begitu? Wah, aku tidak sangka kebiasaanmu agak mengerikan juga!”

Lalu ia terbahak heboh atas tebakannya sendiri, seolah apa yang baru saja dikatakannya merupakan hal paling konyol sedunia.

“Sok tahu sekali,” dengus Dahye.

“Tapi pasti memang benar kan? Kau diam-diam pasti suka melihat para laki-laki sehabis olahraga bersimbah keringat begitu? Ya kan?”

Akibat tebakan Taehyung ditambah tatapan menyudutkan yang diberikan pemuda itu, entah mengapa Dahye merasakan kedua pipinya mendadak memanas. Padahal serius, sekali pun ia tak pernah mengamati laki-laki dari kelas lain yang sedang berolahraga. Tapi rupanya Kim Taehyung memang pintar sekali membuat ia mengkeret.

“T-tidak! Mana mungkin begitu!” Dahye menukas cepat sementara pipinya masih saja memanas. Tanpa diminta kepalanya diam-diam malah membayangkan sekumpulan laki-laki sehabis olahraga … astaga, pipinya semakin panas!

“Oh ya ampun! Pipimu merah sekali!” cetus Taehyung puas sembari menunjuk-nunjuk pipi Dahye. Gelegar tawanya semakin heboh membuat Dahye makin merasa pipinya terbakar.

“Aku tidak—“

“Kau lucu sekali sih!”

Taehyung menukas dan tanpa aba-aba mendaratkan sebelah tangannya di puncak kepala Dahye, mengusaknya dengan gemas. Dahye tercenung untuk sepersekian sekon.

Biasanya Sehun yang melakukan ini. Mengusak puncak kepalanya, hingga rambutnya berantakan.

Namun kemudian ia tersadar. Saat ini tangan Kim Taehyung-lah yang tengah mengacak rambutnya. Tangan yang entah sudah dipakai untuk apa saja. Tangan yang tidak Dahye ketahui seberapa bersihnya.

Astaga. Bisa saja tangan itu penuh kuman.

“Yaak!”

Dahye cepat-cepat menyingkirkan tangan Taehyung dari kepalanya dengan geram. Sang empunya tangan justru tergelak semakin senang.

Aish, pasti ada yang salah dengan anak ini.

Seenaknya saja menyentuh kepala Dahye. Kalau Sehun sih tidak masalah.

Sehun …

Kepala Dahye refleks menoleh ke belakang, hanya untuk menemukan kursi Sehun yang kini telah kosong. Hanya ada guru Ahn di sana. Ke mana Sehun?

Dahye memutar kepalaya, lantas segera menemukan sosok yang dicarinya tengah berjalan tergesa menuju pintu keluar kafetaria. Kenapa Sehun tiba-tiba pergi? Ia juga meninggalkan guru Ahn di mejanya. Seharusnya kalau mereka makan siang bersama, pulangnya pun bersama juga kan?

Belum sempat Dahye berpikir lebih jauh, suara usil Taehyung telah kembali menginterupsinya, dan menyulut emosinya yang semula telah padam.

“Hei, kau pasti sedang melamunkan laki-laki yang berolahraga ya?”

“Yak! Enak saja!”

Mereka bahkan duduk bersebelahan.

Sehun berusaha sekuat tenaga menahan rasa kesalnya. Ia menggertakan giginya, dan menaruh buku-buku dalam pelukannya ke atas meja dengan kekuatan berlebih, hingga menimbulkan suara bruk kelewat keras yang membuat seisi kelas terlonjak. Sekilas tatapannya jatuh pada Dahye yang rupanya juga tengah memandangnya. Sehun menghela napas kasar, sebelum mengalihkan tatapannya pada murid-muridnya yang lain.

Ia menyapa seisi kelas dengan muram, sebelum memulai materi yang disampaikannya. Sehun sadar suaranya terkadang kedengaran terlalu tinggi dan ia tak henti-hentinya membuang napas kasar di tengah penjelasan yang ia berikan. Murid-muridnya pun mungkin menyadar itu. Sejujurnya ia agak menyesal juga karena tak bisa bersikap professional dalam mengajar, dan malah membiarkan emosinya ikut campur. Maka sebelum hal yang lebih buruk terjadi, Sehun memutuskan menyudahi pemberian materinya.

Ia menatap seisi kelas sembari berujar, “Kegiatan kita selanjutnya adalah mengerjakan kolom yang ada pada modul di halaman 142-156.”

Erangan dan keluhan tak suka segera terdengar ke seluruh kelas begitu menyadari tugas yang Sehun berikan terlalu banyak.

“Jangan banyak mengeluh!” Sehun berseru mengalahkan keributan yang ditimbulkan seisi kelas. “Tugas yang kuberikan memang tidak sedikit. Karena itu aku memberi keringanan sehingga kalian bisa mengerjakannya berkelompok.”

Dan erangan serta keluhan itu segera digantikan oleh sorak gembira dan seruan terima kasih. Murid-murid bergegas memutar tempat duduk untuk mencari teman kelompok. Sehun di tempatnya memperhatikan Kim Taehyung yang kini berjalan menghampiri meja Dahye, tentu saja ingin minta jadi teman kelompoknya.

Dahye pasti menolaknya.

Seharusnya begitu.

Tapi Sehun lagi-lagi keliru. Memang kelihatannya Dahye tak begitu senang merespon setiap ucapan Taehyung yang tak bisa Sehun dengar dari sini, namun gadis Son itu diam saja ketika akhirnya Taehyung menggusur kursinya ke sebelah mejanya. Mereka duduk bersebelahan, dan mulai serius mengerjakan tugas yang Sehun berikan.

Atau lebih tepatnya Dahye saja yang serius. Karena setiap beberapa menit sekali, Taehyung akan mencolek-colek tangan Dahye yang sedang menulis, membuat gadis itu mendongak dengan raut terganggu, lalu Taehyung akan mengucapkan sesuatu dan membuat Dahye mendengus lantas meneruskan pekerjaannya. Atau kalau tidak, Taehyung akan mengacak-acak isi kotak pensil Dahye, membuat sang empunya kotak pensil mencak-mencak marah dan menghasilkan kekehan tawa dari Taehyung sendiri.

Di mejanya Sehun mengamati semua ini.

Kim Taehyung positif menyukai Dahye, atau mungkin lebih tepatnya tertarik. Sehun yakin itu.

Sehun mendengus sembari menatap Taehyung jengkel. Egonya begitu saja muncul ke permukaan dan membuat perasaannya jadi berantakan. Sehun tidak suka dengan kenyataan Taehyung yang tertarik pada Dahye. Seisi hatinya berkata bahwa Son Dahye adalah miliknya seorang, meski ia tidak meresmikan hubungan mereka. Dahye adalah miliknya, dan tak seharusnya lelaki lain menyukai gadis miliknya. Terlebih jika lelaki itu adalah bocah sialan semacam Kim Taehyung.

            “Lagipula memangnya kau mau melihat Dahye bersama dengan bocah itu? Kau bilang dia kelihatan tertarik dengan Dahye, bukan tidak mungkin dia akan merebut Dahye darimu jika kau tidak segera ambil tindakan.”

Lalu perkataan Baekhyun kemarin tiba-tiba saja bergaung di telinganya.

Sehun semakin mengernyit tak suka.

Ia tak bisa membayangkan kelak Kim Taehyung akan semakin mendekati Dahyenya dan pelan-pelan merebut gadis itu dari sisinya.

Tidak. Sehun tak bisa membiarkan Taehyung melakukan itu.

Mungkin Baekhyun benar. Mungkin dengan hadirnya Kim Taehyung Sehun jadi dibuat sadar bahwa ia tak pernah ingin kehilangan Dahye, dan bayangan gadis itu dibawa pergi lelaki lain benar-benar membuat hatinya sakit.

Maka ketika kelasnya hampir berakhir, Sehun mengikuti apa yang Baekhyun sarankan padanya. Mengambil tindakan.

“Son Dahye, sepulang sekolah nanti jangan lupa kau masih punya detensi denganku. Mengerti?”

Setelah sejauh ini, kenapa Sehun kembali mengingatkannya bahwa mereka masih punya detensi?

Seingat Dahye, Sehun hanya menjadwalkan satu bulan untuk detensinya. Dan hari ini jelas telah lewat dari satu bulan. Iya, memang selama satu bulan tak melulu Dahye penuhi detensinya. Apalagi setelah segala pertengkaran yang melibatkan keduanya—Dahye menghindari Sehun begitu pula sebaliknya, ingat?

Lalu kenapa, hari ini tanpa ada peringatan Sehun kembali membahas mengenai detensinya?

Laki-laki itu benar-benar sialan ya.

Dahye membalik kertas kusam di hadapannya, meneliti tanggal yang ditulis kecil-kecil di sudut bagian atas, lantas melepas kertas itu dengan kekuatan penuh dari bukunya untuk kemudian ia susun.

“Yah—pelan-pelan, dong, melepasnya. Bagaimana kalau kertasnya sampai sobek?”

Dahye mendengus begitu Sehun yang duduk di hadapannya melayangkan protes.

“Masa bodoh,” gumam Dahye tanpa memandang Sehun.

“Apa tadi kau bilang?”

Pada akhirnya Dahye mendongak dan segera menatap Sehun lurus-lurus. Masih saja sama seperti dahulu, jantungnya kembali berdebar liar begitu ia bertatapan langsung dengan manik pemuda Oh itu. Namun berhubung saat ini Dahye tengah dilanda jengkel bukan main, ia berusaha mengabaikan jantungnya yang tak bisa diajak kompromi, lalu menghadiahi Sehun tatapan datar.

“Kubilang, aku tidak peduli kalau kertasmu sampai sobek.”

Kedua mata Sehun melebar mendengar ini. “Wah, kau mau detensimu ditambah ya? Atau nilaimu kucoreng jadi merah, huh?”

Dahye memutar kedua bola matanya dengan jengah, kemudian menyahut, “Tidak ada ancaman yang lain, ya? Aku sudah bosan mendengar gertakamu itu.”

“Yah—aku bukan menggertak! Ini serius!” Sehun menukas dengan suara tinggi. “Aku benar-benar akan mengurangi nilaimu, atau menambah detensimu kalau kau berulah terus. Kau tahu aku tidak pernah main-main dengan perkataanku.”

Sejenak Dahye menatap Sehun dengan kedua mata memicing. Mulanya ia ingin melontarkan kaliimat lain untuk membalas perkataan Sehun. Namun begitu disadarinya bahwa ia tak mau terlibat lebih jauh dengan Sehun, diputuskannya untuk berhenti membangkang. Maka Dahye menghela napas pelan, lantas mengangkat kedua tangannya ke udara pertanda ia menyerah.

“Baik. Aku tidak akan berulah lagi.” Ia berujar dengan nada monoton. “Aku akan mengerjakan tugasku dengan benar, tapi jangan menggangguku, oke?”

Dan ia kembali menunduk menekuni pekerjaannya sebelumnya menyusun modul-modul milik Sehun.

Mendapati bungkamnya Sehun, Dahye pikir pemuda itu juga telah menyerah dan akan berhenti menganggunya. Namun rupanya ia terbukti keliru ketika kemudian Sehun malah meraih kotak pensilnya yang memang ia letakan di atas meja. Sehun mulai mengeluarkan isinya satu-persatu, dan mengamatinya seolah peralatan tulis Dahye merupakan barang penemuan ilmiah.

“Wah, alat tulismu lengkap sekali ya. Pasti teman-temanmu sering pinjam.” Sehun berkomentar.

Dahye menarik napas perlahan. Abaikan saja, Dahye. Abaikan saja.

“Ah, dulu saat aku masih sekolah aku juga suka memakai pena ini. Kualitasnya memang bagus, sih ya. Tintanya tebal dan tidak mudah habis. Yah, meski pun harganya sedikit mahal ….”

Dia sedang membuat iklan pulpen, ya? Menjengkelkan sekali.

Abaikan, Dahye. Abaikan.

“Apa ini? Oh astaga, pulpen warna-warni! Dulu beberapa teman perempuanku juga punya barang seperti ini. Katanya supaya catatan mereka tidak melulu diwarnai tinta hitam.”

Demi Tuhan, siapa juga yang peduli.

Dahye, abaikan saja, oke? Abaikan saja.

“Wah! Penghapus pulpen—“

“Kau bisa diam tidak sih?!”

Dan, kesabaran Dahye habis sudah.

Ia mendongak dari kertas-kertasnya, lantas menatap Sehun dengan mata membeliak. Sementara yang ditatap malah balas memandangnya dengan sorot polos tak berdosa.

“Apa? Kenapa kau tiba-tiba marah begitu?” Ia bertanya sambil mengerjapkan matanya berkali-kali.

Dahye mendengus lantas merampas penghapusnya dari tangan Sehun juga peralatan tulisnya yang lain yang kini tercecer berantakan di atas meja. Sambil memasukannya kembali ke dalam kotak pensil, mulutnya tak henti menggerundel.

“Dasar sialan, memangnya dia pikir lucu menggangguku seperti ini? Katanya aku harus mengerjakan tugasku dengan benar, mana bisa aku melakukannya kalau dia ribut terus.”

“Kau tidak semarah ini saat bocah itu melakukan hal yang sama padamu.” Sehun tahu-tahu berujar. Ia menopang dagunya dengan sebelah tangan, dan menatap Dahye dengan sebelah alis berjingkat.

Mendengar ini, Dahye menghentikan kegiatannya lalu beralih menatap Sehun. “Apa maksudmu?”

“Iya, tadi di kelasmu bocah itu juga mengacak-acak isi kotak pensilmu. Tapi kau tidak semarah itu padanya.” Sehun menjelaskan maksud perkataannya sebelumnya dengan sabar.

Kening Dahye mengerut, masih tak mengerti dengan maksud Sehun.

“Bocah itu? Mengacak isi kotak pensilku juga?” Lalu ia segera tersadar dan menatap Sehun bingung. “Maksudmu Kim Taehyung?”

Sehun mengangguk-angguk. “Memang apa sih yang begitu istimewa darinya?”

Ha?

Dahye sama sekali tak mengerti ke mana Sehun akan membawa pembicaraan mereka.

“Istimewa apanya? Dia super menjengkelkan, mana mungkin dia istimewa.” Dahye menyahut ketus, teringat seberapa mengesalkannya Kim Taehyung.

“Kau membiarkan dia berteman denganmu, padahal orang lain selalu kau beri jarak. Kau jelas-jelas mengistimewakan dia,” balas Sehun.

“Aku tidak berteman dengannya!” tukas Dahye kesal. Kenapa sih orang-orang selalu menyangka ia punya hubungan baik dengan Kim Taehyung? Kemarin Kim Chaeyeon, lalu sekarang Sehun.

“Kalau kau tidak berteman dengannya kenapa kau makan siang dengannya?”

“Apa? Kapan aku makan siang dengan Kim Taehyung?”

“Siang tadi.”

Dahye tersentak, tak sangka rupanya Sehun melihatnya duduk bersama Taehyung di kafetaria. “Itu bukan makan siang bersama! Dia duduk di mejaku tanpa seizinku.”

“Kau juga duduk bersebelahan dengannya di kelas.” Sehun menukas cepat, seolah tak ingin mendengar alasan Dahye tadi.

“Ap—“

“Dan kau membiarkan dia jadi teman sekelompokmu.”

“Juga membiarkan dia mengacak rambutmu.”

“Juga mengacak kotak pensilmu, mengusilimu, dan dekat-dekat dengamu.”

“Kemarin kau bahkan hampir berciuman dengannya.”

Dahye mengerjap tak percaya begitu melihat Sehun tak hentinya mencetukan kalimat-kalimat tadi. Ia membuka mulutnya, hendak mengatakan sesuatu, namun mengatupkannya kembali karena bingung kalimat apa yang harus dilontarkannya terlebih dulu.

“Sudah kubilang aku tidak berciuman dengannya! Kenapa susah sekali memberitahumu sih!” Dahye balas menukas begitu ia berhasil menemukan kembali kemampuannya menyusun kata.

“Oh yeah, kau memang tidak ciuman dengan dia. Tapi kau makan siang dengannya,  membiarkan dia duduk di sebelahmu, jadi teman sekelompokmu, dan melakukan segala hal yang selalu dilakukan dengan teman.” Sehun mengulang perkataannya sebelumnya dengan wajah menyebalkan.

`           Emosi Dahye dengan cepat tersulut mendengar ini. Ia balas menatap Sehun dengan tatapan menyudutkan dan mengemukakan isi hatinya yang sejak siang tadi ia pendam.

“Lalu memangnya kenapa kalau aku makan siang dengan Taehyung? Kau juga makan siang berdua dengan guru Ahn!”

“Apa?” Sehun terkejut setelahnya. Jadi Dahye melihatnya duduk dengan Saejin tadi?

“Lihat, kau juga makan siang dengan perempuan lain tadi. Lalu kenapa kau harus marah-marah kalau melihatku makan dengan lelaki lain huh?” Dahye semakin menyudutkan Sehun. Enak saja, Sehun pikir dia saja yang memergoki Dahye berduaan dengan laki-laki lain? Dahye juga dengan mata kepalanya sendiri melihat bagaimana bahagianya Sehun ketika makan siang bersama guru Ahn.

“Aku dan guru Ahn makan siang bersama karena kami rekan kerja. Lagi pula dia duluan yang meminta duduk bersamaku.” Sehun membela dirinya sendiri.

“Tetap saja intinya kau makan bersama dengan perempuan lain, meski perempuan itu rekan kerjamu sendiri!” Dahye tak mau kalah. “Kau pikir aku tidak melihat ketika kau tersenyum lebar begitu melihat guru Ahn tiba di mejamu? Kau pikir aku tidak menyadari seberapa senangnya kau ketika bicara dengan guru Ahn? Tentu saja kau senang, guru Ahn memang guru paling cantik di sekolah ini kan! Kau pasti sennag akhirnya bisa makan siang berdua dengan rekan kerjamu yang paling cantik kan!”

Napas Dahye memburu setelahnya. Sedikit banyak hatinya lega juga karena telah mengutarakan beban yang sejak tadi menggantunginya. Lalu Dahye mengira akan mendapati Sehun yang terkejut dan kelimpungan mencari sanggahan atas perkataan Dahye tadi. Namun alih-alih begitu, pemuda Oh itu malah menatapnya lamat-lamat dengan seulas senyuman lebar, ia masih bertopang dagu, dan sesuatu dalam matanya berkilat jenaka.

tumblr_o2x2o63O7G1shzgo7o1_500

“A-apa?” Dahye mencoba bertanya ketus meski kini kedua pipinya mulai memanas akibat tatapan yang Sehun berikan.

“Kau … cemburu, ya?” Sehun menukas pelan, senyum itu masih belum juga hilang.

Dahye melebarkan kedua matanya dan pipinya semakin memanas. “Apa kau bilang? Cemburu? Yang benar saja!”

“Kalau tidak cemburu kenapa membahas tentang aku dan guru Ahn ysng makan siang bersama, hm?” Sehun melanjutkan, senyuman kian lebar.

Nah benar juga. Kalau dipikir-pikir tadi tingkahnya memang seperti perempuan yang sedang cemburu setengah mati.

Oh astaga memalukan sekali.

“Sudahlah, mengaku saja kalau memang cemburu,” ujar Sehun dengan nada menyebalkan.

Dahye memutar kepalanya berusaha mencari jawaban yang bisa menyumpal mulut besar Sehun. “A-aku … aku membahas ini semua karena kau duluan yang meributkan aku dan Taehyung makan siang bersama!” Benar, bagus juga alasannya. “Kalau pun iya, yang ada kau yang cemburu! Bukan aku.”

Sehun tak langsung menjawabnya. Sejenak ia membiarkan keheningan menyapa begitu Dahye usai menuntaskan kalimatnya. Sampai kemudian raut wajahnya berangsur-angsur berubah menjadi lebih serius, dan senyum lebarnya perlahan memudar.

“Kau benar. Aku memang cemburu.”

Apa?

Dahye terpekur di tempatnya mendengar jawaban Sehun tadi. Tak disangkanya pemuda Oh itu akan dengan mudahnya mengakui bahwa ia tengah cemburu. Dahye pikir Sehun akan membantah seperti apa yang dilakukannya tadi, Dahye pikir …

“Aku memang cemburu, Dahye-ya. Aku tak suka melihatmu berduaan terus dengan Kim Taehyung. Aku tak suka melihat dia mendekatimu,” ujar Sehun dengan raut serius. Matanya menatap Dahye lurus-lurus, mengunci gadis itu agar tetap balas menatapnya. “karena aku takut jika terus begini kalian akan semakin dekat, aku takut dia akan membawamu pergi. Aku takut kehilanganmu bahkan sebelum aku sempat memilikimu.”

Dahye menatap Sehun dengan tatapan kosong. Ia tak mengerti. Kenapa Sehun tiba-tiba mengatakan ini semua? Setelah apa yang telah terjadi beberapa hari kemarin, kenapa Sehun malah mengatakan bahwa ia tak mau Dahye pergi?

“Aku tak mengerti.” Pada akhirnya Dahye berujar. “Bukankah kemarin kau yang menghindariku? Bukankah kemarin kau yang bertingkah seolah kau tak mau aku ada di dekatmu lagi? Lalu setelah aku pergi dan kini seseorang mendekatiku, kenapa kau malah berontak?” Ia berhenti sejenak untuk mengisi paru-parunya dengan udara. “Sebenarnya apa yang kau mau? Berhenti membuatku pusing dengan sikapmu, Sehun.”

Sehun menundukan kepalanya sembari menghela napas pelan. “Maafkan aku. Semula kupikir aku bisa melakukan itu semua, semula kupikir aku cukup kuat melihatmu menjauh dariku. Tapi rupanya aku salah.” Sehun mendongak dan kembali menatap Dahye lamat-lamat. “Rupanya aku tak bisa membiarkanmu jauh-jauh dariku. Bahkan sekedar membayangkan kau bersama laki-laki lain pun sudah cukup membuatku terluka sendiri.” Beberapa sekon ia terdiam, membiarkan keheningan lagi-lagi menyelimuti mereka. Kemudian ia menarik napas, dan berujar perlahan. “Aku berjanji tidak akan mengulangi kesalahanku lagi, Dahye-ya. Aku tidak akan membuatmu terluka seperti sebelumnya. Karena itu, maukah kau menerimaku kembali?”

Dahye tertegun di tempatnya mendengar ini. Apa maksudnya Sehun ingin kembali padanya? Ia ingin kembali seperti dulu lagi, dimana mereka bisa bersama tanpa perlu memikirkan luka-luka lama, begitu?

Semula Dahye tak tahu harus menjawab bagaimana. Sebagian hatinya berkata bahwa ia tak boleh membiarkan Sehun kembali dan membuat ia terluka lagi. Tapi hatinya yang lain sudah sejak lama sekali merindukan Sehun. Ingin memilikinya dan tak mau ditinggalkan lagi.

Maka setelah hening yang entah bagaimana terasa begitu lama, Dahye mendongak dan menatap Sehun lurus-lurus.

“Buktikan kalau memang kau ingin kembali. Beri aku bukti sehingga aku percaya bisa menerimamu kembali. Karena kau harus tahu, Sehun, aku tak mau kau permainkan untuk kedua kalinya.”

…kkeut

Note♥

Haluuuu^^ Chapter 13 up!

Gimana chapter ini? Agak ngebosenin kah? Kepanjangan atau masih kependekan? /banyak tanya ah-_- tapi yaaa semoga chap ini bisa cukup ngehibur kalian yaps:”)

Ah iyaaa anw aku pengen minta bantuan kalian nih hehe. Jadi ceritanya kemaren aku ikutan event nulis ff di Do Kyungsoo Fanfiction. Terus salah satu penilaiannya itu diliat dari viewersnya, jadiii aku minta bantuan kalian untuk baca fanfic aku di sana hehe. Buat yang berkenan, boleh meluncur ke sini

https://dokyungsoofanfictionindonesia.wordpress.com/2016/06/18/1st-dkfi-event-dissemble/

Sebelumnya makasih banyak yaa buat kalian yang mau baca fanfic aku di sana^^ cukup baca juga udah banyak ngebantu akuu kok, apalagi kalau kalian mau meluangkan waktu buat ninggalin komen ehehehehe /eak

Daan makasih juga buat kalian yang udah baca The Dim Hollow chap 13 ini^^ seeya on next chap ya geng~~~

…mind to leave a review?

138 responses to “The Dim Hollow Chapter 13 by Cedarpie24

  1. wah eonni … ini bagus banget .. sehun akhirnya membuka hatinya untuk dahye… terus sehun cemburu wajah daebak eonni .. lanjut terus on..

  2. waduuhh,, aku komennya nelat terus yaakkk😰 maaf ya kak..
    suka bgt part ini!!! mreka saling cemburu gitu!!!>< Sehun yg cemburu sama Taehyung deket" Dahye. dan Dahye yg cemburu sama Saejin duduk berdua waktu makan. tpi.. kok aku rada gimanaaa gtu ya sama Saejin??? dia suka sama Sehun kah?? awas aja klo suka.. haha
    Taehyung kaga kapok" yee deketin Dahye, pdahal udh sering d marahin gitu😒
    Dahye jual mahal dikit kaga napa kn??? wkwk^^
    aku tunggu next chap!!! kaga sabar bgt pokoknya dah😘 hihihi

  3. ahelah sehun nekat amat sih ketauan masa lalunya aja berabe nanti wkk
    udah sama taehyung aja hihi

  4. benar dahye minta bukti sama sehun, jangan sampai kamu di jadikan pelarian sama sehun yg masih plin-plan itu….dan sehun buktikanlah…..#apaanini
    nexttttttt

  5. Pingback: The Dim Hollow Chapter 14 by Cedarpie24 | SAY KOREAN FANFICTION·

  6. Hahahahhaha bener bener lucu yaaa, saling gak sadar kalo mereka merhatiin satu sama lainnn.
    Lucu masa pas bagian sehun dahye yang pas di kantor sehun, sehun bener bener kaya anak kecil.
    Maksudnya dahye itu, dia nerima lagi sehun atau gimanaa?

  7. buktinya apa hayoooo.. please deh, mereka itu ngegemesin kalo udah cemburuan kekgitu, tapi syg konsentrasi ku buyar pas tiba2 pictnya sehun nongol, serius itu ekspresinya aneh (?) ‘-‘

  8. Mereka jadian ?? Jinjja ?? Wah senangnya😀 semoga taehyung makin sering ganggu dahye supaya sehun makin cemburu🙂 cerita yang bagus ♡♡

  9. Mereka lucu ya,saling cemburu gitu tapi gamau saling ngaku haha,apa lagi dahye yang keliatan jelas kalo dia cemburu sama Sehun hehe. Waaahhhhh kira kira Sehun bisa engga ya bikin Dahye percaya lagi ? Duh penasaran ya,semangat menulis!!!!!

  10. Pingback: The Dim Hollow Chapter 15 by Cedarpie24 | SAY KOREAN FANFICTION·

  11. Huh comment telat cuz hp lg error huhuhu😭
    Tp aku sneng bgt akhirnya sehun mau ngakuin jg perasaannya ke dahye

  12. Seru kali ya pas dahye tau masa lalu sehun terus disana cuman ada taehyung terus sehun cemburu aaahhh

  13. Duh lupa udh coment chap ini belum ya? Yaudah skrg aku coment aja deh gppa kan yahhhh
    Ihhhh Sehun bisa.a tarik ulur hati org aja deh, rada greget jga yah sma Sehun
    Oke next ya eon

  14. Kependekan eon chapter ini :” yampun sehun bikin ku melt gitu deh elaaah :3 aku pasti baca kok event ff kamu itu tapi nanti ya setelah the dim hollow udh aku baca sampe akhir update-an kamu hihihi soalnya aku penasaran sama kelanjuta TDH selanjutnya gimana sehun sama dahye huhu bye bye eon see u di comment next chap ya hihi fighting ♡

  15. ayo sehun buktikan, buktikan kalo dahye harus menerina mu lagi, jangan sampe dahye ama kimtae

  16. Pingback: The Dim Hollow Chapter 16 by Cedarpie24 | SAY KOREAN FANFICTION·

  17. Pingback: The Dim Hollow Side Story: Forbidden by Cedarpie24 | SAY KOREAN FANFICTION·

  18. Tuh buktiin hub buktiib jangan cuma cemburuan doang
    Ejieeee di akuin ihh kalo emang cemburu, dasar nappeun namja hft
    Oh iya tapi masa aku kasian sama jongin. Jongin , where are you? What do you feel now ? Hmmm kesian juga.
    Kak boleh masukkan ga ? tapi aku lupa mau ngomong apa wkwkwk yaudah abaikan sama komentar ini

  19. Pingback: The Dim Hollow Chapter 17 by Cedarpie24 | SAY KOREAN FANFICTION·

  20. Pingback: The Dim Hollow Chapter 18 by Cedarpie24 | SAY KOREAN FANFICTION·

  21. Pingback: The Dim Hollow Chapter 19 by Cedarpie24 | SAY KOREAN FANFICTION·

  22. Pingback: The Dim Hollow Chapter 20 by Cedarpie24 | SAY KOREAN FANFICTION·

  23. sumpah pas liat foto sehun langsung ngakak ngebayanginnya yaampun hahah mereka berantem gara gara cemburu satu sama lain haha lucu banget hahah tuhh hun buktiiin cinta tuh butuh pertolongan dan juga bukti bukan janji belaka heuhhg #korbanjanjipalsugini/abaikan
    baguskak!! semangat!!

  24. Nah gitu dong, berani ambil sikap.. dan selanjutnya tinggal buktiin aja ke Dahye.. ya walaupun nanti pas Daehye tau kalo Sehun penyebab semua kesedihannya pasti dibenci juga.. tapi untuk sekarang pikirin aja dulu buat kebahagiasn bersama..

  25. ya ampun kalau aku diliatin kayak sehun gitu pasti salting sendiri
    perlakuan sehun bikin baper
    lanjut baca ah…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s