Whatever After

Whatever After

Title: Whatever After

Author: Key

Cast: OC & Kim Taehyung as main cast. The rest member are minor cast.

Genre: School-life, Romance and Friendship

Rating: General

Length: Chapter

• First Day at School

Selama ini Mina tidak pernah mengerti rasanya kehilangan sampai kedua orang tua mereka membawa kabar buruk baginya―namun baik bagi kakaknya―bahwa mereka akan pindah ke Seoul.

Mina punya berpuluh destinasi yang ia tandai dengan pin pada sebuah peta dunia yang sengaja ia tempel pada dinding kamarnya namun meninggalkan Hokaiddo bukanlah salah satu di antaranya. Meninggalkan dan Hokaiddo tidak akan pernah berada dalam satu kalimat di dalam buku hariannya. Setidaknya sampai seminggu sebelum keberangkatan mereka ke Seoul.

Kehidupannya menjadi tidak semenyenangkan biasanya. Itik yang berjejer di jalan maupun burung-burung yang berterbangan tiba-tiba menjadi tidak menarik lagi untuk diabadikan. Memotret memang hobinya namun memotret tempat Mina tumbuh berkembang dan menjadikannya sebagai kenangan bukanlah suatu hal yang akan dilakukannya. Hal seperti itu hanya akan membuatnya menjadi gadis melankolis menjijikkan dan Mina tidak ingin terlihat menjijikkan.

Walaupun pada akhirnya ia berubah menjadi sosok menjijikkan di hari keberangkatannya menuju Seoul.  Semua teman sekelasnya datang mengucapkan salam perpisahan dan tidak ada yang bisa Mina lakukan selain memamerkan air mata dan juga ingus yang  keluar dari lubang hidungnya, tidak cukup satu tapi keduanya. Membuat Mina sempat bersyukur  karena hari itu adalah hari terakhirnya di Jepang dengan wajah super menjijikkan yang dapat diyakini membuatnya menjadi topik obrolan terhangat esok pagi di sekolah.

Jin yang sempat lahir dan tinggal di Seoul sampai umurnya delapan tahun sama sekali tidak mengalami keberatan atas kepindahan keluarganya. Bukan karena Jin tidak suka tinggal di Hokaiddo, hanya saja Jin sudah mendambakan hidup berpindah-pindah seperti yang dilakukan kedua orang tuanya selama Jin dititipkan kepada nenek dan kakeknya di Hokaiddo bersama dengan Mina.

Beda soal dengan Mina. Ia akan setuju dengan ide berkeliling dunia (peta dunia yang ditempel ditembok kamarnya bukan tanpa alasan berada di sana) tapi untuk hidup nomaden, Mina membutuhkan waktu berpikir selama seribu tahun cahaya untuk menyetujuinya.

Mina merasa ada yang salah saat dirinya bangun pagi ini selain ia yang tak menggunakan piyama panda favoritnya. Ia juga tak mendapati sebotol susu berada di depan pintu rumahnya karena sekarang Mina tinggal di apartemen bertingkat dua puluh. Tidak ada lagi nyalak suara anjing tetangganya yang bernama Chio setiap kali Mina mengambil surat kabar yang diantarkan oleh kurir sejak pagi buta. Mina juga tidak bisa menemukan cicip-cicip burung di pagi hari dan ia tidak akan menaruh harapan besar untuk mendengar kokok ayam jago di setiap pagi. Dan yang lebih menakutkan daripada hal yang sudah disebutkan sebelumnya adalah Mina tidak bisa dengan mudah menemukan nato di sini.

Mina kini mengerti bagaimana rasanya menjadi punuk yang merindu rembulan. ‘Rasanya seperti ada yang mengganjal di sepatumu’ satu-satunya perumpamaan yang bisa dibuat Mina untuk mendeskripsikannya. Sekonyong-konyong Mina curiga bahwa otaknya telah menciut semenjak menginjakkan kaki di Seoul karena riuh dan bisingnya pusat kota tersebut.

Ibunya bilang seiring berjalannya waktu Mina akan terbiasa dengan hiruk-pikuk Seoul. Ibu juga berkata bahwa ia mengerti betul perasaan Mina saat ini, yang dapat diyakini Mina bahwa yang diucapkan ibu hanyalah kata-kata penenang. Ibu tidak mengerti bagaimana hidup di kota dengan nato yang harganya lebih mahal dari sebungkus keripik jagung. Dan pagi ini yang menjadi topik hangat di dalam pikiran Mina yang sudah menciut ialah berapa banyak uang saku yang harus ia sisihkan untuk bisa mendapatkan nato setiap minggunya.

Ketika Mina merasa nato sudah menguasai pikiran bahkan alam bawah sadarnya nyatanya tidak. Saat ini konsentrasinya bahkan sudah terpecah antara nato dengan surai jingga yang diyakini milik teman sekelas―barunya. Ada yang perlu dikonfirmasi sebelum cerita ini berjalan terlalu jauh, yaitu Mina bukanlah seseorang yang mudah terdiktrasi apalagi saat nato adalah hal yang sedang ia pikirkan tapi melihat warna mencolok berada di antara surai-surai hitam di kepala yang lain membuat pandangnya teralih untuk satu atau dua detik untuk mengernyit.

“Namanya Kim Taehyung, jika kau ingin tahu.”

Mina seketika memutar kepalanya untuk menghadap pada sumber suara. Sesungguhnya Mina ingin menyanggah kalimat kedua yang dilontarkan gadis yang bangkunya berada tepat di sebelah kanan dari miliknya karena ia sama sekali tidak ingin tahu nama dari pemilik rambut oranye. Namun, pada akhirnya bibirnya malah balik melontarkan tanya, “Ya?”

“Aku melihatmu memandanginya cukup lama kukira kau tertarik dengannya seperti para gadis pada umumnya.” Jelasnya yang tak langsung mendapat respon dari Mina membuat gadis dengan rambut dikucir kuda itu mengambil inisiatif untuk memperkenalkan diri. “Namaku Jisoo.”

Mina menjabat tangan Jisoo. “Aku―”

“Kau Mina kan? Myoui Mina? Murid pindahan dari Hokaiddo?” potong Jisoo cepat diakhiri dengan senyum penuh kebanggaan―terlihat seperti itu di mata Mina.

Mina hanya mengangguk tanpa berniat bertanya darimana Jisoo mengetahui hal tersebut walaupun sebenarnya ia cukup penasaran. Hanya saja banyak bertanya di hari pertamanya sekolah, Mina rasa bukanlah sesuatu yang tepat. Salah-salah ia bisa dicap sebagai murid baru yang banyak omong. Dan Mina merasa terganggu jika sebutan itu bersanding dengan namanya. Ya… memang ada yang ingin di cap sebagai orang yang banyak omong di dunia ini?

 “Kau sebaiknya tidak usah dekat-dekat dengan Taehyung jika tidak ingin mendapat masalah. Dia itu biang onar.” Kali ini bukan Jisoo yang menyapa rungunya melainkan sosok lain yang entah sejak kapan sudah berdiri di antara dirinya dan Jisoo.

Mina tidak perlu sepintar Einstein untuk tahu bahwa Taehyung bukanlah murid sekolah menengah pada umumnya. Di buku  peraturan yang Mina dapatkan sehari sebelum masuk sekolah terdapat larangan untuk mewarnai rambut yang tidak sesuai dengan warna aslinya dan akan mendapatkan poin pelanggaran sebesar sepuluh poin. Tapi pada akhirnya kepalanya mengangguk hanya lantaran bingung harus merespon ucapan laki-laki itu seperti apa.

“Aku Jimin.” Sosok laki-laki dengan rambut berantakan seperti baru bangun tidur itu melepas jabatan Jisoo pada tangan Mina, menggantinya dengan miliknya. “Salam kenal.”

Mina mengangguk kemudian saling melempar senyum untuk beberapa mili sekon sampai akhirnya Jimin lebih dulu berpaling dari Mina ke Jisoo. “Jisoo, aku pinjam uangmu dong!”

Kelas terakhir sebelum bel pulang sekolah berhasil membuat Mina menguap lebar. Ia tidak pernah bisa tahan dengan pelajaran yang memaksa memorinya bekerja keras selama satu jam tanpa jeda. Mina menggerak-gerakkan tubuhnya, mengantisipasinya dari terlelap. Sejarah dan seorang guru killer tentu bukanlah kombinasi favoritnya untuk tertidur di kelas (Jisoo yang memberitahu Mina betapa galak guru sejarahnya)

“Memang ramen di Jepang sebegitu enaknya?”

Suara itu berasal dari balik punggungnya. Mina yang berada di bangku nomor dua dari belakang tidak memberikan respon selain mengerutkan kening sampai sebuah ketukan mendarat pelan di kepala bagian belakangnya. Dapat dipastikan yang baru saja mengenai kepalanya adalah ujung pulpen milik orang dengan rambut mencolok; Taehyung.

Mina tidak lantas menjawab, ia hanya menoleh dengan tatapan nyalang seakan berkata ‘jangan ganggu aku’ ke arah Taehyung.

Dan seperti layaknya Taehyung ia tidak mengindahkan peringatan yang diberikan Mina. “Aku hanya penasaran saja kenapa Naruto suka sekali makan ramen. Memang seenak itu?”

Mina dapat memastikan bahwa presentase seorang Taehyung yang tidak suka tidak diacuhkan sebesar 99,9 persen. Terlihat dari caranya mencari atensi Mina dengan menendang kursi Mina beberapa kali. Membuat Mina terpaksa menoleh untuk kedua kali, matanya masih sama nyalangnya namun kali ini bibirnya membawa jawaban, “Seenak itu,” jawabnya singkat.

“Taehyung dan anak baru!” Suara menggelegar itu jelas membuat tubuh Mina langsung terperanjat. Ketika ia memutar tubuhnya ke posisi semula seluruh pasang mata sudah mengarah kepadanya dan tentunya Taehyung. “Apa yang kalian bicarakan berdua?!”

Mina hendak berkelit sebelum ia ingat bahwa dari skala satu sampai sepuluh kemampuannya dalam mata pelajaran sejarah hanya bernilai tiga. Membuatnya mengurungkan niat untuk mengelak dari tuduhan yang tidak-tidak. Lebih baik ia berakhir dengan amarah guru Hwang daripada dengan tawa seisi kelas.

“Ramen, Pak! Dia bilang padaku kalau ramen itu memang enak sekarang saya menjadi tahu sejarah Naruto menyukai ramen, Pak.”

Tapi Taehyung berhasil melakukannya. Ia berhasil membuat dirinya dan juga Mina jadi bahan tertawaan seisi kelas, seketika wajah Mina berubah merah.

“Kalian Bapak hukum membersihkan kamar mandi sepulang sekolah!”

Terdengar helaan napas tertahan dari Mina. Seharusnya ia tidak mengindahkan pesan Jimin begitu saja. Karma memang selalu datang secara tak terduga bahkan di hari pertamanya masuk sekolah.

To be continued….

Author’s note from awackywallflower:

Jadi, ide awal asalnya dari aku, dan Key yang nulis juga mengembangkan. Aku nggak bakal ngepost lanjutannya di sini sih soalnya chapter berikutnya aku nggak ada campur tangannya sama ceritanya Key. Kalau kalian mau mengikuti seriesnya follow aja blognya Key di (http://bluemecolour.wordpress.com). Key juga open request untuk ff, siapa tau dari kalian ada yang mau dibuatin. So, yeah, mind to gimme review for my idea in this story?

Author’s note from Key:

I kinda miss Boy In Luv’s era so I made this fict with my friend. Reviews are welcome🙂

12 responses to “Whatever After

  1. Gurunya sadis amat, cuma ngomong segitu doang lgsg dsuruh cuci wc 😱😱😱

    Ini ttg kehidupan anak skolah yak? Sukak lah yg ringan2 gini, yg ada komedi2, polos2nya anak skolah jg boleh, uda jarang bca yg sejenis itu hehe… Butuh refreshing…

    • Hai, aku Key selaku penulis ff Whatever After. Thank you for passing by. Kebetulan aku suka juga bikin ff school-life.
      Sekali lagi makasih ya udah baca🙂

  2. Kyak kyakk!!! Anjir pertanyaan Taehyun nyebabin karma kalo Mina njawab wkwk
    Baru njawab skali langsung dapet kamar mandi dr gurunya wkwk bener2 sial yee

  3. Kyknya bakal seru nih, tae tae jadi pengganggu yg unyuu sexy gitu wkwkwk tapi aku rada ga ngerti sama posisi pas si mina merhatiin rambut taehyung dan jisoo ngasih tau kalo itu taehyung dengan taehyung yg tiba tiba nanya ke mina soal ramen dan ngetuk kepalanya dari belakang #ribet Wkwkwk gapapa lah, aku berusaha untuk mengerti dan memahami taehyung *salah fokus*

    • Waktu Mina sama Jisoo, mereka lagi duduk sebelahan.
      Waktu scene Mina sama Taehyung, mereka duduk depan belakang dan di waktu yang udah berbeda dari pas ngobrol sama Jisoo. Gitu.
      Thank you for passing by, bw🙂

  4. Mina tipe2 polos penurut gitu/? Sedangkan taehyung tipe2 anak bandel yg cerewet/? Ah next dah seru nih kehidupan sekolahan genrenya ringan2 gitu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s