Time Capsule: The Way to Escape

6251f062eb51a4aa0c8e83eac817c4d8

Time Capsule

by awackywallflower

Starring:

Sydney Lee as OC ◊ Park Chanyeol ◊ Kim Jongin ◊ Oh Sehun ◊ Lilliana Tan as OC

Rating: PG-17 || Genre: Friendship, Romance, Drama, Adult-life.

Previous: Prolog | #1 A Little Reunion | #2 Comeback | #3 The Things Left Unsaid | #4 Wretch | #5 The Way to Escape

Sudah beberapa hari ini wajah Sehun sekeruh tanah yang ditempa hujan semalaman, mood-nya juga terlihat sedang tidak baik. Sydney bukan bermaksud menjadi cenayang di sini tapi berbicara secukupnya dan tidak menjahilinya berhari-hari adalah salah satu tanda kalau Sehun sedang dilanda sebuah masalah. Sudah lama sekali Sehun tidak sesendu ini, terakhir kali ia seperti ini adalah ketika ibunya masuk rumah sakit.

“Kau okay?” tanya Sydney dengan segelas es jeruk lemon yang ia sodorkan ke hadapan Sehun. Seperti sudah menjadi perjanjian tak tertulis di antara mereka, kalau salah satu sedang dirasa tidak baik maka mereka akan membawakan segelas es jeruk lemon. Kenapa es jeruk lemon? Pertama, karena keduanya suka es jeruk lemon. Kedua, agar mereka sadar bahwa masamnya jeruk lemon saja masih bisa dinikmati jadi tidak ada alasan untuk tidak menikmati masamnya masalah yang tengah menerpa.

Sehun menerima es jeruk lemon pemberian Sydney kemudian menenggaknya dan menyisakan seperempat dari gelas, “Lumayan,” jawabnya seraya menaruh es limunnya di atas meja kerja, “Trims.”

Terlintas banyak tanya di dalam benaknya yang sudah siap keluar dari bibir Sydney namun pada akhirnya tertahan… atau lebih tepatnya sengaja ditahan. Rasanya saat ini bukan waktu yang tepat, lagipula tanyanya hanya dijawab dengan satu kata menandakan bahwa Sehun tidak ingin membicarakannya atau mungkin belum.

Anytime,” balas Sydney dengan suara lirih. Sydney sengaja menunggu untuk beberapa saat, mungkin Sehun akan memberikan responnya namun yang ia dapati adalah Sehun yang kembali berkutat dengan layar komputernya.

Sejak kapan Oh Sehun menjadi seorang workaholic? Tanya Sydney bersamaan dengan langkah yang menggiringnya kembali pada kubikel kerjanya, menyelesaikan beberapa laporan nasabah yang belum ia periksa dengan mengharap Sehun akan kembali seperti semula. Sehun yang banyak omong memang menyebalkan tapi Sehun yang bungkam dalam diam seribu kali lebih menyebalkan.

Sehun tiba-tiba saja menghalangi jalan Sydney ketika Sydney hendak meninggalkan kubikelnya untuk kembali ke apartemen. Alis Sydney terangkat dengan menatap makhluk yang memblokade jalannya penuh tanya.

“Keberatan tidak jika menemaniku ngopi?” tanya Sehun kemudian yang semakin membuat Sydney bertanya-tanya karena kopi dan Sehun adalah dua hal yang tidak mungkin bersatu, “I will pay the bill.”

Pardon? Apakah baru saja Sydney mendengar bahwa Oh Sehun, rekan kerjanya, yang tidak pernah bisa minum kopi daripada beer ingin mentraktirnya minum kopi? Sehun membuang uangnya pada sesuatu yang tidak ia sukai adalah bentuk ketidakwarasan, ada yang salah dengan kinerja otak Oh Sehun. Membuat Sydney cemas dua kali lipat dari sebelumnya.

Namun, Sydney bukan wanita yang suka membagi kuriositasnya secara terang-terangan. Satu-satunya cara untuk mencari tahu tanya yang membiak dalam benaknya hanyalah mengikuti alur seperti yang diingankan sosok yang kini tengah melipat lengannya di depan dada.

Okay.”

***

“Apa yang kau lakukan jika perasaan cintamu terbalas?”

Sydney tentu tidak menduga pertanyaan ini yang akan ia dapatkan setelah bisu yang menghias lima belas menit pertama mereka sejak memesan segelas kopi dan jus melon.

Sydney tidak tahu bagaimana ia harus merespon pertanyaan Sehun jadi yang ia lakukan pertama kali ialah membersihkan tenggorokannya yang tiba-tiba terasa seperti tercekat disusul dengan tawa hambar yang dibuat-buat.

“Kenapa kau menanyakan hal yang kau tahu jawabannya? Jelas aku akan memintanya cerai dengan istrinya dan menikahiku atau kalau tidak kawin lari juga sepertinya ide yang bagus bukan?”

Sehun tahu wanita yang ada di hadapannya tengah berguyon tapi entah kenapa guyonan Sydney kali ini sama sekali tidak lucu untuknya. Sebut Sehun berlebihan tapi ia terlalu takut kalau-kalau Sydney benar-benar akan melakukannya, atau kemungkinan yang paling buruk, Sydney sudah melakukannya.

“Aku dengar dari Lilliana, Jongin memberimu oleh-oleh ya?”

Pertanyaan yang Sehun lontarkan sama tak terduganya dengan yang pertama tetapi Sydney tidak bodoh dengan melakukan hal yang akan menarik curiga sahabatnya untuk kedua kali, Jadi, ia menyesap kopinya terlebih dahulu untuk guna menghilangkan canggung.

“Ah, aku lupa belum memberitahumu ya? Jongin memberikannya di hari Chanyeol membuat janji denganku. Beberapa kartu pos yang ia beli saat travelling.”

Seketika sekujur tubuh Sehun meradang. Tangannya yang bersembunyi di balik meja terkepal kuat. Rahangya kaku tapi ia berusaha menyembunyikan kegelisahan tersebut dari Sydney. Ia belum cukup bukti untuk memutuskan siapa yang pantas mendapatkan kepalan tangannya.

Satu alis Sehun terangkat ke atas, “Oh, benarkah? Apa ia menuliskan sesuatu pada kartu posnya?”

“Tidak,” Sydney berbohong, “tidak,” kini dengan sebuah gelengan kepala dan senyum yang tersungging menyusul setelahnya, “dia tidak meninggalkan tulisan apapun. Memangnya ada apa?”

***

Sejak Chanyeol dan Sydney menghabiskan hari di kedai kopi minggu lalu kini hubungan mereka kembali seperti semula. Bukan semula dengan Chanyeol dan kisah cinta bertepuk sebelah tangannya tetapi semula saat keduanya belum terusik perihal asmara―setidaknya Chanyeol mencoba menahannya. Which is good.

Chanyeol dan Sydney tengah berjalan beriringan memasuki gedung apartemen kepunyaan Sydney. Walaupun Sydney bilang ia bisa pulang sendiri jadi Chanyeol tidak perlu kepayahan menemaninya pulang tapi sebagai pria yang pernah menyukai Sydney―dan masih menyukainya―ia dengan sukarela mengantarkan Sydney hanya untuk memastikan tidak akan ada hal buruk yang terjadi dengan sahabat lama yang kini menjadi sahabat barunya setelah lima tahun tak saling sapa.

“Kalau penggemarmu tahu aku bisa dijadikan makan malam mereka esok hari.” Tungkai Sydney melangkah memasuki lift diikuti Chanyeol di belakangnya. Telunjuknya menekan angka lima sebelum berdiri sejajar dengan pria jangkung berflanel kotak-kotak dengan topi hitam yang menghiasi kepalanya.

“Gampang. Biasanya mereka datang dengan ancaman dan aku tinggal memilih meniduri mereka saja.”

Pupil mata Sydney seketika melebar. “Semuanya?! Sinting.”

Bahu Chanyeol mengedik. “Tidak. Hanya yang paling cantik dari mereka.”

Double sinting.” Timpal Sydney cepat.

Chanyeol tergelak mendapati respon Sydney barusan. Obrolan mereka sempat tertahan ketika pintu lift terbuka pada lantai yang mereka tuju. Chanyeol mengekor langkah Sydney yang keluar dari dalam lift.

“Bahkan ada di antara mereka yang sampai hamil.”

Seketika langkah kaki Sydney terhenti dengan cepat lehernya berputar menghadap Chanyeol dengan tatapan mata mendelik. “Holy moly! You are really such a jerk. Double jerk. Bagaimana jika mereka meminta pertanggungjawabanmu?”

They won’t but if it happen they will never win over me. Aku sudah membuat perjanjian tertulis di atas materai bahwa apapun yang terjadi setelahnya tidak akan menjadi tanggungjawabku.”

Uh-hu, triple jerk.” Ujar Sydney dengan memutar kedua bola matanya, “Sekarang kau tahu alasan mengapa aku tidak bisa menerimamu kan, jerk?”

Chanyeol tertawa sedangkan Sydney mulai merajut langkahnya kembali. “Tapi kau pengecualian, Sydney. Aku rela kau jadikan ayah dari sebelas anakmu atau bahkan kau menjadikanku budak pun aku tak akan menolak.” Kelakar Chanyeol ketika langkahnya sudah sejajar dengan milik Sydney.

Sydney menoleh menghadap Chanyeol yang tengah memamerkan cengirannya. Sydney menggelengkan kepala kehilangan kata. “Jangan mimpi ya, triple―” ucapannya terhenti kala maniknya menangkap sosok yang tengah berdiri di depan pintu apartemennya.

Chanyeol yang penasaran dengan Sydney yang tiba-tiba membatu memutuskan mengikuti arah pandang netra gelap Sydney pada sosok yang kini menyadari eksistensi mereka.

“―jerk with cheese, ketchup, and onion ring in it.” Sambung Chanyeol. Tangannya melambai ke arah sosok tersebut. “Hai, Jongin. Sudah lama tidak bertemu.”

Si pemilik nama hanya tersenyum samar. “Boleh aku pinjam Sydney sebentar, Chanyeol? Ada yang ingin aku bicarakan dengannya.”

“Kenapa kau harus pinjam kalau faktanya ia mil―”

“Chanyeol!” Hardik Sydney cepat.

Wow, calm down darling. You scare me. Okay, okay, I will leave.

Sydney menahan lengan Chanyeol. “Don’t.” ucapnya dengan manik yang masih terpancang lekat dengan milik Jongin. “Please don’t,” lanjutnya. Kini pandangnya telah teralih ke Chanyeol.

Chanyeol membalas tatapan Sydney untuk beberapa saat kemudian beralih menatap Jongin dan kembali pada kedua mata wanita yang menggambarkan berbagai perasaan yang pasti tengah berkecamuk di benaknya. “When I said you should ruin our bond of friendship. I really meant it. You… both of you shouldn’t be the one who suffer. You, Sydney, must be happy.” Chanyeol mengacak puncak kepala Sydney. “Tell me if it going well or not. My ears on you. Always.

***

Jongin menyapu pandangannya ke seisi ruangan. Apartemen milik Sydney tidak terlalu besar tapi cukup lengkap dengan dapur dan ruang tamu serta satu kamar tidur. Apartemen milik Sydney bernuansa hitam-putih dengan interior desain yang minimalis. Jongin mengulas senyum, takjub bagaimana apartemen yang tengah ia singgahi saat ini sangat menggambarkan pemiliknya.

Sydney menaruh nampan berisi dua cangkir teh di atas meja kemudian menghempaskan tubuhnya pada sofa yang berhadapan dengan Jongin. Manik Jongin bergulir ke sana-kemari mengikuti setiap perubahan gerak tubuh Sydney sedangkan Sydnye sebaliknya, ia berusaha sekuat mungkin untuk tidak bertemu pandang dengan Jongin.

“Apa kabar?”

Sydney menghentikan tangannya yang hendak membalik halaman majalah fashion yang tengah berada di pangkuannya. Tidak ada yang masuk di pikirannya, tidak barang sejengkal pun Sydney merasa terhibur dengan melihat model-model cantik dengan baju yang indah, tentu saja. Sydney hanya berpura-pura. Pura-pura sibuk, pura-pura acuh dan pura-pura bahwa persensi pria dihadapannya tidak berarti lagi.

Sayangnya Sydney bukanlah artis dengan keahlian dalam berperan. Jongin merasakan gelagat ganjil pada diri Sydney bahkan jauh sebelum ia hanya berjarak beberapa senti dengannya. “I miss you.

“Kukira kita sudah melakukan percakapan basa-basi ini sebelumnya, Jongin.” Cepat Sydney menjawab dengan tatap yang masih fokus pada halaman pertama majalahnya.

“Aku tidak sedang basa-basi kali ini, Sydney. Ada suatu hal yang ingin aku sampaikan kepadamu.”

Sydney membali satu halaman majalahnya. Jemarinya bergetar. “Cepat katakan jika begitu. Aku masih harus kerja besok.”

Jongin yang sebelumnya bersandar pada punggung kursi kini menegakkan badanya. Kedua tangannya saling mengatup di atas kedua pahanya. “Do you miss me too?”

Tangan Sydney mengepal kuat ketika rungunya menangkap suara yang terlontar dari bibir Jongin. Bukan karena Sydney membenci Jongin, Ia hanya tidak mau Jongin menyadari tangannya bergetar dan fakta bahwa ia―Sydney―merindukan presensi Jongin di hidupnya.

Setelah hening berhasil menguasai dua insan dengan kecamuk masing-masing pada benaknya akhirnya Sydney mengangkat dagunya membalas tatap Jongin. “Tidak. Kenapa aku harus merindukan suami sahabatku sendiri?”

Ya. Kenapa aku harus merindukannya? Sydney mempertanyakan hal yang sama kepada dirinya, kepada hati nuraninya kepada perasaannya yang sudah lama ia simpan dalam kapsul dan telah dimasukkan ke dalam kotak bernama kenangan dan meninggalkan kunci kotak tersebut kepada sahabatnya sendiri. Kini kunci itu kembali mencari pemiliknya. Kini Jongin kembali menemuinya dengan membawa segudang kisah masa lalu yang ia pikir sudah tenggelam termakan janji suci sebuah persahabatan.

“Aku pun menanyakan hal yang sama kepada diriku. Kenapa aku harus merindukan sahabat istriku sendiri?”

Manik mereka bertemu. Manik mereka saling bertatapan. Manik mereka bersatu. Ada rindu yang tampak terbayang pada pantulan diri yang terpatri pada bola mata sewarna malam. Untuk menit yang terasa bak detik, mereka saling menukar rindu dalam bisu. Sampai salah satunya tersadar bahwa apa yang mereka lakukan adalah sesuatu yang menyalahi kodrat.

“Ini sudah terlalu larut untuk suami orang bertandang ke apartemen seorang perempuan. Jadi, bisakah kau pulang sekarang, Jongin?”

“Tidak sebelum kau menjawab pertanyaanku dengan jujur.”

“Kalau begitu biarkan aku yang pergi.” Sydney bangkit berdiri. Tungkainya melangkah dengan pasti melewati Jongin. Namun, tiga puluh senti dari pintu langkahnya tertahan, lagi-lagi oleh Jongin.

“Sebegitu sulitkah menjawab pertanyaanku sampai membuatmu ingin pergi dari rumahmu sendiri?”

Sydney bergeming. Jongin memperpendek jarak diantara mereka.

“Apakah mungkin bagi aku dan dirimu untuk menjadi kita, Sydney?”

Sydney membalik bahunya kasar menatap Jongin dengan nanar. “Kenapa baru sekarang, Jongin? Kenapa harus sekarang kau kembali?! Khilafmu terlalu lama untuk bisa kuampuni.” Suara Sydney bergetar. Bulir-bulir alir mata lolos dari kelopaknya.

Jongin menghapus jarak diantara mereka berdua. Direngkuhnya tubuh Sydney yang bergetar pada peluknya. Menyakitkan menahan rindu yang menggebu selama ini tapi melihat perempuan yang dikasihi menangis rasanya melebihi sakit dari menyayat nadi sendiri.

“Sydney… maafkan aku. Aku kira dulu kau… Chanyeol… Kita…” Jongin memutuskan diam setelah gagal merajut kata. Sistem kerja otaknya rusak seketika kala suara tangis Sydney masih menderu di telinga.

Sydney melepaskan pelukan Jongin. “Kau pikir berapa hati yang harus dipatahkan untuk melihat kita bahagia? Dan apakah kita masih akan bahagia karenanya?”

Jongin tidak merespon. Ia memberi waktu untuk Sydney melanjutkan ucapannya. “Pulanglah Jongin. Kembalilah ke tempat di mana kau berada semestinya. Lupakan yang terjadi. Lupakan pertemuan ini. Lupakan tentang kita.”

Jongin merogoh saku celananya. Ia mengeluarkan selembar tiket pesawat dan menyodorkannya kepada Sydney. Pada tiket itu tertulis namanya, tertera pula tujuan penerbangannya; Sydney.

“Beri aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya, Sydney. Aku akan mengembalikan tujuh tahun kebahagiaan kita yang terbuang. Kita bisa melakukan apapun yang kau mau. Apapun yang kau minta. Selama seminggu… hanya ada kita.”

Sydney mendongak menatap Jongin. “Kau sudah gila ya?!”

“Yang lebih gilanya lagi, Sydney,” maniknya bergerak menatap mata sembab yang ada di depannya, “Bahkan aku akan menceraikan Lilliana jika selama seminggu kebersamaan kita membuatmu mengubah pikiran untuk mendapatkan bahagiamu. Bahagia kita.”

Sydney tertawa hambar. “It isn’t April, too early to say shit to me, Jongin. This is too much.

There’s no too much in love, Sydney.

Sydney kehabisan kata.

“Aku tunggu jawabanmu dua minggu lagi. I choose my own happy ending and it’s you. Now it’s  your turn to decide to be happy with me, someone else or enjoy your misery.” Jongin mencium puncak kepala Sydney. “I hope I can see you, Sissy. Good night.

Dan Jongin pergi meninggalkan Sydney dengan tiket yang masih di tangan dan ribuan gelisah yang datang menyerbu malamnya. Apa yang harus ia lakukan saat keinginannya yang telah lama sirna kini kembali kehadapannya?

to be continued…

Author’s note:

  1. Akan hiatus sampai bulan depan (pastinya setelah lebaran tapi tanggal kembali ngepost belum dapat dipastikan)
  2. Sengaja nggak dipassword lagi karena nggak ada waktu buat balesin email. Yang udah tanya password belum dibalas mohon sabar ya.
  3. Kritik dan saran dipersilahkan. Mau komentar perasaannya habis baca part ini juga boleh. Komentarnya bebas kok dan nggak harus panjang. Btw, ngomongin panjang, part ini terpanjang dari part-part yang lain, sekitar 2000an :”)
  4. Terima kasih untuk readers setia yang udah baca sampai sejauh ini❤

 

57 responses to “Time Capsule: The Way to Escape

  1. Pingback: #6 Time Capsule: Dillema | SAY KOREAN FANFICTION·

  2. sydney jangan sampai, chanyeol aja deh….

    kirain Jongin nggak suka ke sydney, eh ternyata…. nggak kepikiran sama aku. keren lah, ff nya, beda sama yang lain.

  3. Omegadddd aq ktinggalan chap ini ka huhuhu ,dikoreanff udah ada chap 6 ,udah mo baca tapi eh keknya aq blom bca yg 5 dehhh ,ya udah aq mutusin buat bca chap ini heheh *opss curcoll .oiiyya ka itu mas jongnya holy sh*t bingit yess ..masa iya kek gitu maen cerecere gituu ,tapi aq SETUJU SI HAHAHAHAHHA #epil kesian jga si mereka kan g bisa berstu krna slahpaham ,udah deh cere aja ma lian ehhh ,okķehh ka mo lnjutt chap 6 doeloeee

  4. Wahhhh kerennnnn banget.hhh jadi jonggin ngajak selingkuh nih.padahal sehun udh mulai mencium kebenarannya nih.makin penasaran kedepannya d tunggu next chapter nya fighting🙋🙋🙋

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s