[Freelance] Clandestine Love (Chapter 1)

clandestine love-fancy

Title/Judul : Clandestine Love (Chapter 1)

 

Author : _Rain_Baek999

 

Cast:

Son Wendy – Red Velvet

Kim Jongin/Kai – EXO

Park Chanyeol – EXO

Byun Baekhyun – EXO

 

Other Cast:

Do Kyungsoo – EXO

Lee Taemin – SHINee

Kim Hyuna – 4Minute

Park Jiyeon – T-ara

 

Genre: Romance, School life, Friendship, Comedy (?).

Length : Multichapter

 

Rating : 15

 

Cover By : Airyn Choi

 

Disclaimer : Ini asli dari pikiran dan imajinasi saya sendiri. Diharapkan untuk tidak mengcopy paste karya saya TANPA IJIN!!!. Jika ada kesamaan latar, tempat, tanggal dan waktu, itu sama sekali tidak disengaja.

 

 

NOTE

 

Annyeonghaseyo^^… Semoga Readers menyukai Chapter pertama Clandestine Love ini. Kalau Readers pernah nonton Dream High dan baca Chapter 1 Clandestine Love ini, pasti Readers akan ke pikiran dengan Drama itu. Tapi ini gak ada unsur kesengajaan loe, Author hanya menyalurkan imajinasi Author, ehh saat di baca ulang Clandestine Love ini mirip Drakor Dream High.

 

Oiya, selalu lihat daftar Cast pemain utamanya ya, suatu waktu urutan pemain utama namjanya bisa nae ganti. Mungkin jika di sini Kai Cast utama cowoknya yang paling atas, di Chapter berikutnya bisa saja bukan Kai. Bisa saja Chanyeol atau Baekhyun urutan cast paling atas namja-nya. OK, untuk Note Chapter pertama kita akhiri sampai di sini. Kalau gitu Happy Reading^^…

 

 

Teaser

 

Chapter_1

 

“Yak! Tunggu aku!” Gadis itu berlari mengejar sahabatnya yang saat ini telah berjalan meninggalkannya lebih dulu. Gadis yang bernama lengkap Son Wendy itu menarik nafasnya lalu mengeluarkannya melalui mulut. Ia sedikit kewalahan saat mengejar sahabatnya yang satu ini.

 

“Kau ini, mengapa kau meninggalkanku!” Pekik Wendy kepada sahabatnya itu. Sahabatnya itu yang lain dan bukan adalah Kim Jongin atau biasa di sapa Kai hanya melirik sahabatnya itu dan tetap berjalan tanpa perduli gadis tersebut. Wendy yang melihat reaksi pria itu menghentikan langkahnya dan memanyunkan bibirnya. Tapi ia kembali berlari untuk menyamakan langkahnya dengan pria itu.

 

“Aku tidak menyangka kita sudah SMA saat ini.” Ucap Wendy sambil terus berjalan menyamakan langkahnya dengan Kai.

 

“Ugh.. Aku masih kesal saat Orientasi kita kemaren. Senior kita tidak pernah membuat kita duduk tenang. Ada saja yang mereka lakukan untuk kita.” Oceh Wendy tak henti-hentinya kepada Kai. Tapi Kai seperti tidak memperdulikan Wendy yang terus berbicara kepadanya.

 

“Kai, bagaimana menurutmu tentang sekolah baru kita? Apakah kau menyukainya? Apakah kau senang dengan sekolah baru kita?” Tanya Wendy sambil menatap pria itu antusias.

 

“Tentu saja kau menyukainya. Kalau tidak kau tidak mungkin berusaha keras untuk masuk ke sana. Aku benar bukan?” Lanjut Wendy. Sungguh jika Kai tidak ada di sebelahnya, Wendy seperti berbicara seorang diri. Karena ia terus berbicara tanpa sahabatnya itu membalas atau pun menyahuti perkataannya.

 

Setelah kurang lebih mereka berjalan setengah jam lamanya dan Wendy yang terus-terusan mengoceh tanpa henti, akhirnya mereka pun sampai di Sekolahan baru mereka. Keduanya dapat melihat bangunan Sekolah mereka. Wendy melirik sahabatnya itu menggunakan ujung matanya, Wendy bisa melihat dari kedua mata hitam milik Kai bahwa pria itu senang telah di terima di Anyang Art High School. Walaupun Kai tidak memberitahukannya atau pun menunjukkannya dengan senyuman, tapi Wendy dapat tahu pria itu dengan sangat baik melebihi orang lain.

 

Keduanya berjalan bersama-sama menuju sekolahan mereka. Mereka belum tahu kelas mereka di mana letaknya.

 

“Aku harap kita kembali di tempatkan kelas yang sama.” Ucap Wendy sambil menautkan kedua lengannya seakan berdoa. Diam-diam Kai melirik Wendy menggunakan ujung matanya. Tanpa Wendy sadari, Kai mengangkat sudut bibirnya membentuk senyuman mendengar perkataan gadis itu. Kai memasukkan kedua tangannya berjalan dengan santainya menuju sekolahan mereka.

 

Mereka berjalan bersama menuju Mading sekolah untuk melihat mereka di tempatkan di kelas yang mana. Wendy meneliti satu persatu nama di sana, sampai akhirnya ia menemukan namanya yang tertera di sana berada di ruangan 10-2. Dan tidak jauh dari namanya, Wendy melihat nama Kai yang juga tertera di Mading sekokah tersebut berada di satu ruangan dengannya.

 

“Kai, kita berada di kelas yang sama kembali. Kita berdua berada di kelas 10-2.” Wendy menepuk kedua tangannya dan melompat kecil. Ia sangat senang mereka kembali di tempatkan di kelas yang sama kembali.

 

“Ayo kita kelas.” Ucap Kai dan di balas anggukkan antusias oleh Wendy. Keduanya kembali berjalan bersama menuju kelas baru mereka.

 

Mereka -Wendy dan Kai- memasuki kelas dan langsung memilih tempat duduk mereka. Kai dan Wendy memilih meja di urutan nomor 2 paling belakang dekat jendela. Itu adalah tempat favorite mereka seperti tahun-tahun sebelumnya.

 

“Kai Wendy!” Kai dan Wendy mengalihkan perhatian mereka pada pria yang memanggil nama mereka berdua.

 

“Taemin!” Pekik Wendy girang melihat sahabatnya yang satu itu.

 

“Kau berada di kelas ini?” Taemin menganggukkan kepalanya menjawab pertanyaan Wendy.

 

“Kalian?”

 

“Kami juga berada di kelas ini.” Jawab Wendy mewakili mereka berdua.

 

“Dari tahun ke tahun kalian selalu berada di kelas yang sama. Sepertinya kalian berdua tidak bisa lepas ya. Kenapa kalian tidak berpacaran saja.” Ucap Taemin menggoda mereka. Dengan cepat Wendy menggelengkan kepalanya dan mengibaskan kedua tangannya kuat. Sedangkan Kai mengalihkan perhatiannya pada tempat di sekitarnya.

 

“Hhahaha.. Aku hanya menggoda kalian, mengapa ekspresi kalian seperti itu.” Taemin tersenyum senang telah menggoda mereka. Wendy berusaha menahan senyumnya di depan Taemin sedangkan Kai hanya cuek di tempatnya.

 

“Oiya, aku dengar Chanyeol masuk di Hanyoung High School. Apa itu benar?”

 

” Hmm..” Jawab Wendy sambil menganggukkan kepalanya pelan.

 

“Ada apa dengan wajahmu? Mengapa ekspresimu seperti itu?” Tanya Taemin.

 

“Ani, hanya saja akan lebih menyenangkan jika Chanyeol kembali satu sekolah bersama kita.” Wendy menghela nafasnya panjang.

 

“Aku sungguh merindukan Chanyeol.” Ucap Wendy sambil menatap lantai tempatnya berpijak.

 

“Sudah lama kita tidak melihatnya.” Lanjut Wendy. Taemin menganggukkan kepalanya menyetujui perkataan Wendy. Kai hanya diam di tempatnya tanpa ingin ikut campur pada percakapan keduanya.

 

.

 

Saat ini Taemin, Wendy dan Kai berada di Kantin. Mereka memakan makanan mereka sambil berbicara kecil. Diam-diam Wendy memperhatikan Kai yang saat ini sedang memfokuskan tatapannya pada satu objeck. Wendy mengalihkan perhatiannya pada objeck yang di lihat Kai tersebut. Objeck yang di lihat Kai tersebut adalah sumbae mereka angkatan kelas 11-2.

 

“Apa yang kau lihat?” Kai sedikit terkejut dengan pertanyaan Taemin dan apa yang di lakukan pria itu saat ini. Taemin mencondongkan tubuhnya mendekatinya yang membuat dirinya berdecak sebal.

 

“Tidak ada.” Jawab Kai.

 

“Tidak perlu berbohong. Kau melihat sumbae itu bukan?” Tunjuk Taemin tepat pada sumbae seksi tersebut yang tidak lain dan bukan adalah Kim Hyuna. Kai hanya diam tidak menjawab perkataan Taemin. Taemin meneliti sumbae mereka tersebut dari kepala hingga kaki.

 

“Tidak salah kau memperhatikan sumbae tersebut, karena sumbae itu adalah type idealmu.” Ucap Taemin pada akhirnya. Wendy terdiam di tempatnya sambil menatap Sumbae yang di bicarakan Taemin. Wendy mengalihkan perhatiannya pada sumbae tersebut dan menundukkan wajahnya memandang makanannya. Ia mengangkat sudut bibirnya kecil untuk memaksakan bibirnya tersenyum.

 

.

 

Wendy memasuki kamarnya dan merebahkan tubuhnya pada kasurnya berada. Ia menghela nafasnya panjang. Hari pertama ia bersekolah di sekolah barunya sungguh sangat melelahkan untuknya. Ia memandang langit-langit kamarnya berada. Tiba-tiba saja perkataan Taemin beberapa waktu lalu kembali terngiang dalam otaknya.

 

Tidak salah kau memperhatikan sumbae tersebut, karena sumbae itu adalah type idealmu.

 

Wendy menyentuh di mana letak jantungnya berada. Mengingat perkataan Taemin membuat jantung Wendy memompa lebih cepat dari biasanya. Wendy mengangkat bibirnya memaksakan senyumannya.

 

“Kau karus kuat Son Wendy, kau harus kuat.” Wendy mengepalkan tangannya dan tersenyum dengan luasnya.

 

“Ini bukanlah pertama kalinya kau mengalami ini. Kau sudah beberapa kali mengalami ini. Ini tidak ada bandingannya dengan apa yang terjadi padamu dulu. Jadi kau harus kuat.” Wendy tersenyum bangga dengan perkataannya. Lalu ia kembali menatap langit-langit kamarnya dan menghela nafasnya panjang.

 

.

 

“Hey, sepertinya kau sudah memiliki beberapa penggemar.” Taemin menepuk punggung sahabatnya itu cukup kuat.

 

“Bukankah dari dulu aku memang mempunyai banyak penggemar.” Ucap Kai sambil mengangkat sudut bibirnya. Taemin yang mendengar perkataan sahabatnya itu hanya memutar matanya.

 

Saat ini keduanya sedang berada di Kantin. Taemin mengalihkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan kantin tersebut. Kai yang melihat Taemin seperti mencari seseorang tersebut mengerutkan kedua alisnya.

 

“Di mana dia?” Tanya Taemin. Kai mengerutkan alisnya mendengar perkataan ambigu Taemin.

 

“Dia?”

 

“Wendy, di mana gadis itu?” Kai yang menyadari Wendy tidak bersama mereka lantas mengalihkan perhatiannya pada sekitarnya. Kai tidak ingat dengan gadis itu.

 

“Di mana perginya dia?” Tanya Kai. Taemin mengangkat kedua bahunya tidak tahu.

 

“Aku akan pergi mencari dia.” Setelah mengatakan itu Kai langsung berdiri dari bangkunya untuk mencari Wendy.

 

Di tempat lain di waktu yang sama, saat ini Wendy sedang berada di taman belakang sekolahnya. Ia menghela nafasnya panjang untuk menenangkan dirinya. Hari ini ia tidak mood untuk berkumpul bersama teman-temannya. Ia ingin menenangkan pikirannya sejenak. Entah mengapa tiba-tiba saja ia merindukan Chanyeol sahabat dekatnya itu. Sebelum lonceng berbunyi, Wendy bangkit dari tempatnya menuju kelasnya berada.

 

Wendy berjalan pelan menuju kelasnya. Ia melewati lorong sekolahnya tersebut. Tapi langkahnya terhenti saat ia mendengar suara alunan piano dari ruangan musik.

 

Indah. Pikirnya.

 

Wendy tidak pernah mendengar permainan piano sebagus ini sebelumnya. Dan orang tersebut tidak pernah salah dalam memainkan melody piano tersebut yang semakin membuat Wendy kagum. Tapi tiba-tiba saja Wendy mengerutkan alisnya bingung.

 

Siapa yang bermain pada jam istirahat seperti ini? Pikirnya.

 

Karena penasaran, lantas Wendy melangkahkan kakinya pelan menuju ruang musik tersebut. Ia dapat mendengar alunan musik tersebut semakin terdengar nyaring olehnya. Wendy dapat melihat celah dari pintu yang tidak tertutup rapat dari pintu tersebut. Karena rasa penasaran yang sangat besar, lantas Wendy mengulurkan tangannya untuk membuka pintu tersebut.

 

“Apa yang sedang kau lakukan di sini?” Wendy menarik tangannya dan membalikkan tubuhnya menghadap orang tersebut.

 

“Kau mengagetkanku!” Pekik Wendy dengan suara pelan. Wendy menaruh tangannya di mana letak jantungnya berada. Kai mengerut alisnya mendengar respons dari Wendy.

 

“Apa yang sedang kau lakukan?” Tanya Kai (lagi).

 

“Tidak ada.” Jawab Wendy. Kai yang mendengar perkataan Wendy menatap tajam gadis itu dan mengalihkan perhatiannya pada pintu yang beberapa saat lalu ingin di masuki gadis itu. Kai mengulurkan tangannya ingin membuka pintu tersebut, tapi dengan cepat Wendy menarik pergelangan tangan Kai dan menarik pria itu menjauhi ruangan musik tersebut.

 

“Dari pada kita di sini, lebih baik kita pergi. Sebentar lagi kelas akan di mulai.” Ucap Wendy sambil menyeret sahabatnya itu. Kai hanya diam dan pasrah di seret sahabat terbaiknya tersebut.

 

.

 

Sepanjang mata pelajaran berlangsung, Wendy tidak pernah fokus pada guru di depannya. Apa yang di sampaikan Park Sonsaenim hanya masuk lalu keluar kembali dalam telinganya. Pikirannya hanya tertuju pada satu, yaitu alunan musik piano dan siapa orang yang memainkan piano tersebut. Sampai sekarang ia masih penasaran siapa orang tersebut. Permainan pianonya lebih bagus dari Chanyeol.

 

BRAK!!!

 

“SON WENDY!” Wendy terkejut saat Park Saem menggebrak meja dan berteriak memanggil namanya . Semua murid menatapnya termasuk sahabat-sahabatnya itu.

 

“Jika kau tidak serius dalam mata pelajaran saya, silakan kau keluar dari kelas saya.” Ucap Park Saem tegas. Wendy hanya bisa membungkuk dan meminta maaf tidak akan mengulangi perbuatannya lagi. Lee Saem hanya menatapnya sekilas lalu melanjutkan mengajarnya kembali. Wendy kembali duduk di bangkunya dan menghela nafas panjang. Ia akan fokus kali ini. Kai di tempatnya menatap sahabatnya itu dengan tatapan dalam miliknya.

 

.

 

“Aku pulang.” Wendy memasuki rumahnya dan langsung di sambut oleh Eommanya.

 

“Eomma, mana Appa?” Tanya Wendy sambil membuka kulkas dan mengambil minuman dingin dalam kulkas tersebut.

 

“Appamu masih di kantor, sepertinya dia akan lembur.” Jawab Eommanya. Wendy menganggukkan kepalanya tanda mengerti. Wendy melangkahkan kakinya menuju lantai dua kamarnya berada. Ia ingin mandi lalu mengistirahatkan tubuhnya.

 

Wendy bersenandung kecil di kamar mandi. Saat ini ia sedang berendam air panas sambil menggosokkan seluruh tubuhnya dengan sabun. Berendam dengan air panas membuatnya sedikit tenang dan rileks. Ia memejamkan kedua matanya untuk menikmati sensasi dari air panas tersebut. Setelah kurang lebih 30 menit, Wendy keluar dari kamar mandi dengan memakai handuk melilit tubuhnya.

 

“KYA!” Wendy berteriak saat seorang pria berada di kamarnya.

 

“Ya! Apa yang kau lakukan di sini huh!” Pekik Wendy saat melihat Chanyeol sahabatnya itu sedang tidur sambil memainkan handphone-nya. Chanyeol yang menyadari Wendy sudah keluar dari kamar mandi, melompat dari tempatnya dan berlari menghampiri sahabatnya tersebut dan memeluk gadis itu erat.

 

“Wendy aku merindukanmu.” Wendy memukul dada Chanyeol sedikit kuat, karena pria itu memeluk Wendy sangat erat sampai membuat dirinya tidak bisa bernafas.

 

“Yak! Lepaskan aku! Kau membuatku kehabisan nafas!” Pekik Wendy. Dengan berat hati Chanyeol melepaskan pelukannya pada Wendy. Wendy menghirup nafas sebanyak-banyaknya setelah Chanyeol melepaskan pelukannya pada dirinya.

 

“Yak! Apa yang kau lihat!” Wendy menyilangkan kedua tangannya pada dadanya, saat pria itu menatapnya dari atas sampai bawah. Chanyeol hanya nyengir menampakkan giginya.

 

“Aku tidak tahu kalau kau sangat seksi jika hanya memakai handuk.” Wendy memukul Chanyeol tepat pada kepalanya.

 

“Dasar mesum! Cepat keluar dari kamarku!” Wendy mendorong Chanyeol paksa sampai pria itu keluar dari kamarnya. Wendy bersandar pada pintu kamarnya dan menggeleng-menggelengkan kepalanya atas perilaku Chanyeol tadi.

 

Setelah kurang lebih 5 menit, Wendy turun dari kamarnya dan mendatangi sahabatnya itu yang saat ini sedang menonton TV. Wendy duduk di samping sahabatnya itu.

 

“Seharusnya kau menghubungiku dulu jika kau mau ke sini.” Ucap Wendy sambil menatap sahabatnya itu sekilas.

 

“Jika aku menghubungimu, mungkin aku tidak akan melihat tubuh seksi seorang Son Wendy.” Chanyeol mengangkat sudut bibirnya sambil menatap sahabatnya tersebut. Wendy memukul kembali kepala Chanyeol saat mendengar perkataan pria itu.

 

“Yak! Mengapa kau senang sekali memukul kepalaku!” Teriak Chanyeol tak terima. Wendy hanya menjulurkan lidahnya pada pria itu. Chanyeol berdecak kesal dan kembali fokus pada Drama yang ada di TV tersebut.

 

“Ke mana Eomma?” Tanya Wendy kepada Chanyeol saat ia tidak melihat Eommanya di rumah.

 

“Tadi bibi bilang ingin ke tempat temannya dan menyuruhku untuk menyampaikannya kepadamu.” Wendy menganggukkan kepalanya tanda mengerti. Chanyeol mengalihkan perhatiannya saat merasakan sebuah beban pada bahunya. Wendy bersandar pada bahunya dengan nyaman.

 

“Apa kau merindukanku?” Wendy menganggukkan kepalanya. Mendengar jawaban Wendy membuat Chanyeol tersenyum.

 

“Chanyeol mengapa kau tidak mendaftar di Anyang Art High School. Pasti akan seru jika kita kembali masuk ke satu sekolah yang sama.”

 

“Bagaimana denganmu?”

 

“Apa?” Wendy menegapkan tubuhnya dan menatap sahabatnya itu dalam.

 

“Bagaimana denganmu? Kenapa kau tidak mendaftar di Hanyoung High School untuk satu sekolah bersamaku?” Wendy terdiam di tempatnya. Chanyeol menunggu jawaban gadis itu atas pertanyaannya.

 

“Aku mempunyai alasan masuk di sana.” Jawab Wendy akhirnya. Chanyeol dapat melihat ekspresi mimik wajah gadis itu berubah 180°.

 

Apa karena Kai? Chanyeol hanya bisa bertanya dalam hati. Ia mungkin tidak sanggup jika alasan Wendy masuk ke Anyang Art High School karena Kai. Walau pun ia tahu jawabannya sudah. Tapi asalkan Wendy tidak mengatakannya secara langsung kepada dirinya semuanya akan baik-baik saja.

 

.

 

Saat ini Wendy berada di perpustakaan untuk meminjam salah satu buku di sana dengan Kai yang menemaninya. Kai berdiri tidak jauh dari Wendy sambil menyandarkan tubuhnya pada tembok dan memasuki kedua tangannya dalam kantung celananya.

 

“Apakah belum selesai?” Wendy menggelengkan kepalanya.

 

“Jika kau ingin pergi tidak apa, aku harus mencari beberapa buku Bahasa terlebih dahulu.” Ucap Wendy dengan masih berkutat pada buku-buku di rak buku tersebut.

 

“Aku akan menunggumu.” Ucap Kai dan di balas Wendy dengan mengangkat kedua bahunya.

 

Kai berjalan mendekati Wendy, membantu gadis itu mencari buku yang dia perlukan. Keduanya terus mencari sampai akhirnya semua buku yang di perlukan Wendy telah terkumpul semuanya.

 

“Ayo.” Ucap Wendy. Keduanya berjalan bersama-sama menuju kelas mereka berada. Keduanya membuat percakapan kecil di antara mereka berdua.

 

“Kai, kau akan mengambil bidang apa?” Tanya Wendy.

 

“Entahlah, aku belum memikirkannya.” Ucap Kai.

 

“Tapi mungkin aku akan mengambil lebih pada tari.” Lanjut Kai. Wendy menganggukkan kepalanya tanda mengerti. Wendy menundukkan kepalanya memandang lantai tempatnya berpijak.

 

Sepertinya kali ini aku tidak akan mengikuti Kai. Pikir Wendy.

 

“Kau?”

 

“Hmm?” Wendy mengalihkan perhatiannya pada Sahabatnya itu.

 

“Kau, apa yang akan kau ambil?” Tanya Kai sambil menatap sahabat terdekatnya itu. Wendy terdiam beberapa saat sampai akhirnya ia menemukan jawabannya untuk Kai.

 

“Karena hobby ku adalah bernyanyi dan suaraku tidak terlalu buruk, sepertinya aku akan mengambil vokal.” Jawab Wendy. Kai menganggukkan kepalanya mendengar jawaban sahabatnya itu. Keduanya terus berjalan sampai akhirnya mereka sampai pada tujuan awal mereka.

 

.

 

“Hey, lihatlah sepertinya sumbae itu melihatmu?” Kai dan Wendy mengalihkan perhatiannya pada arah telunjuk Taemin.

 

“Wah.. Kau beruntung Kai sepertinya sumbae itu juga tertarik padamu.” Lanjut Taemin. Wendy di tempatnya hanya diam sambil memandang makanannya. Ia tiba-tiba saja menjadi down saat mendengar kalau Sumbae seksi mereka Kim Hyuna memperhatikan Kai. Sedangkan Kai di tempatnya hanya mengangkat kedua bahunya acuh.

 

“Hey, bukankah kau tertarik padanya? mengapa kau tidak mendekatinya?” Ucap Taemin bingung dengan sahabatnya itu.

 

“Aku tidak akan mendekatinya. Cepat atau lambat gadis itu yang akan lebih dulu mendekatiku. Bukankah seorang Kim Jongin selalu seperti itu?” Jawab Kai. Taemin yang mendengar perkataan Kai hanya mengangkat bahunya. Mereka berdua terus berbicara tanpa Wendy ikut serta dengan mereka sampai akhirnya lonceng masukkan pun berbunyi.

 

Semua murid kelas 10-2 berbondong-bondong masuk ke dalam ruangan seni tari. Mereka kali ini tidak akan belajar tentang materi tetapi langsung pada praktek menari.

 

Wendy mencengkeram erat pada roknya. Ia merasa gugup untuk praktek kali ini. Ia belum pernah mencoba menari sebelumnya dan ini membuat dirinya gugup. Kai di tempatnya yang bersebelahan dengan Wendy melihat apa yang di lakukan gadis itu. Wendy sedikit terkesiap saat merasakan seseorang menggenggam tangannya. Wendy mengalihkan perhatiannya pada tangannya dan melihat siapa yang menggenggam tangannya itu. Wendy terdiam beberapa saat sampai akhirnya ia tersenyum kecil. Diam-diam Taemin di tempatnya melihat kejadian itu. Kai yang menggenggam tangan Wendy.

 

“Apakah semua sudah berkumpul?” Tanya Lee Saem. Dan di jawab oleh semua murid.

 

“Baiklah kali ini kita tidak akan belajar tentang materi, tapi kita akan langsung praktek.” Ujar Lee Saem yang membuat semua murid berbisik-bisik dan beberapa dari murid ada yang merasa tidak siap untuk praktek yang sangat mendadak tersebut.

 

“Dengan praktek ini, saya dan kalian sendiri akan tahu bakat kalian apakah ada di sini atau tidak.” Lee Saem menatap semua murid yang ada di ruangan tari tersebut.

 

“Saya akan menunjukkan beberapa gerakan yang tidak terlalu sulit dan kalian harus mengikutinya.” Lanjut Lee Saem.

 

“Dan saya akan membuat dua kelompok setelah tarian ini habis. Yaitu kelompok merah dan biru. Kelompok merah adalah kelompok untuk yang dapat menari, dan kelompok biru yang kurang dalam bidang menari.” Wendy meneguk air ludahnya susah payah mendengar perkataan Lee Saem. Kai mengalihkan perhatiannya pada Wendy saat ia merasakan Wendy mengeratkan genggamannya.

 

“Baiklah mari kita mulai.” Lee saem mulai menghidupkan musik dan mulai menari dengan ketukkan yang ia buat. Dan semua murid berusaha mengikuti guru mereka tersebut. Sama halnya dengan Wendy, ia pun berusaha semaximal mungkin mengikuti tarian Lee Saem. Wendy melirik sekilas pada Kai yang terlihat serius dalam menari. Kai sungguh mengagumkan dalam bidang ini.

 

Aku harus bisa. Ya, aku harus bisa untuk dapat satu kelompok bersama Kai. Wendy semakin semangat mengikuti gerakan Lee Saem. Kai di tempatnya memperhatikan Wendy yang bersemangat mengikuti tarian Lee Saem. Tanpa ia sadari dirinya tersenyum.

 

Lee Saem pun menyelesaikan tariannya pada ketukan terakhir. Ia menatap semua muridnya yang saat ini terlihat lelah.

 

“Kerja yang bagus. Kalian sudah sangat bagus untuk sebagai pemula terutama Kai.” Semua murid menatap Kai dan berbisik-bisik mendengar Lee Saem memuji pria itu. Kai di tempatnya hanya tersenyum kecil.

 

“Tapi ada beberapa murid yang aku lihat kurang dalam bidang ini dan selalu melakukan ke salahan.” Wendy kembali mencengkeram erat roknya.

 

“Tapi saya memaklumi itu semua.” Lanjut Lee Saem.

 

“Baiklah waktunya untuk memilih kelompok.” Semua murid berdoa semoga mereka berada dalam kelompok merah termasuk Wendy.

 

“Yang saya panggil namanya akan memasuki kelompok biru. Dan hanya dua orang saja yang namanya akan saya panggil.” Salah satu murid mengangkat tangannya yang lain dan bukan bernama Bambam dan langsung di persilahkan oleh Lee Saem.

 

“Saem, bukankah itu tidak sebanding dengan jumlah kelompok merah jika kelompok biru hanya dua orang?” Semua murid setuju dengan perkataan salah satu murid tersebut.

 

“Tidak.” Mendengar jawaban Lee Saem membuat semua murid berbisik.

 

“Karena mereka berdua akan langsung di pindahkan ke kelas lain.” Semua murid tak percaya mendengar perkataan Lee Saem sama halnya dengan Wendy, ia pun tak percaya.

 

“Baiklah saya akan memanggil nama yang akan masuk di kelompok biru.” Semua murid mulai berdoa kembali semoga mereka tidak akan masuk ke dalam kelompok biru.

 

“Do kyungsoo.” Semua murid menatap anak laki-laki tersebut dan bersimpati kepada pria itu.

 

“Dan.. Son Wendy.” Kai dan Taemin dengan cepat langsung menatap kepada Wendy. Wendy terdiam di tempatnya mendengar namanya di panggil.

 

“Baiklah saya sudah menentukan kelompok kalian dan pelajaran kita akhiri sampai di sini.” Semua murid keluar dari ruang tari. Wendy di tempatnya masih terdiam. Taemin menghampiri Wendy dan Kai menyentuh bahu sahabatnya itu.

 

“Kau tidak apa?” Tanya Kai pelan. Wendy mengangkat bibirnya memaksakan senyuman terbaiknya meyakinkan kedua sahabatnya itu.

 

“Aku baik-baik saja.” Jawab Wendy.

 

“Ayo kita ke kantin. Perutku sudah sangat lapar sekali.” Kai dan Taemin menatap Wendy dalam.

 

“Ada apa dengan tatapan kalian? Ayolah aku baik-baik saja.” Ucap Wendy meyakinkan kedua sahabatnya itu.

 

“Sungguh?” Tanya Taemin dan di balas anggukkan oleh Wendy.

 

“Ayo kita ke kantin aku sudah sangat lapar sekali.” Wendy menggandeng kedua tangan sahabatnya itu menuju kantin berada.

 

.

 

Wendy dan juga teman satu kelompoknya yaitu Do Kyungsoo saat ini berada di dalam ruangan Lee Saem. Keduanya menundukkan kepalanya tidak berani menatap Lee Saem.

 

“Duduklah.” Ucap Lee Saem kepada mereka berdua. Wendy dan Kyungsoo mendudukkan bokong mereka pada kursi tersebut.

 

“Ada apa dengan wajah kalian? Santai saja, tidak perlu tegang seperti itu.” Wendy dan Kyungsoo menatap satu sama lain sampai akhirnya mereka berusaha membuat diri mereka senyaman mungkin.

 

“Saya memanggil kalian ke sini untuk mengkonfirmasikan tentang pembagian kelompok yang saya lakukan beberapa waktu lalu.” Wendy dan Kyungsoo mendengarkan apa yang di katakan Lee Saem dengan seksama.

 

“Saya tahu mungkin ini kejam bagi kalian tapi saya juga tidak mempunyai pilihan lain selain melakukan ini. Jika saya tetap mempertahankan kalian dalam kelas 10-2 saya yakin kalian tidak akan berkembang. Karena bidang kalian bukanlah pada tari seperti kebanyakkan anak-anak kelas 10-2.” Wendy merenungkan apa yang di katakan Lee Saem.

 

“Tapi bukan berarti kalian buruk dalam bidang tari.” Lanjut Lee Saem

 

“Lalu mengapa Saem tidak memberikan kami kesempatan untuk tetap belajar di kelas 10-2.” Kyungsoo menganggukkan kepalanya membetulkan perkataan Wendy.

 

“Bukankah sudah saya katakan jika saya tetap mempertahankan kalian, kalian tidak akan dapat berkembang.” Wendy terdiam di tempatnya mendengar perkataan Lee Saem.

 

“Yang harus kalian lakukan setelah ini adalah mencari bakat terpendam kalian. Kalian harus mengetahui apa yang dapat kalian lakukan dan apa yang paling kalian kuasai. Apa kalian mengerti?” Wendy dan Kyungsoo menganggukkan kepalanya tanda mengerti.

 

“Jika kalian tidak menemukan bakat kalian, kalian akan mendapatkan konsekuensinya yaitu di keluarkan dari sekolah ini.” Wendy tak percaya mendengar perkataan Lee Saem sama halnya dengan Wendy Kyungsoo pun sama.

 

“Saem, bukankah ini terlalu kejam?” Ucap Kyungsoo.

 

“Bukankah kehidupan memang seperti itu?” Wendy dan Kyungsoo terdiam di tempatnya.

 

“Posisi kalian saat ini seperti cinta bertepuk sebelah tangan.” Wendy dan Kyungsoo mengerutkan alisnya mendengar perumpamaan Lee Saem yang sangat aneh menurut mereka.

 

“Jika kalian tetap dengan cinta yang tidak mencintai kalian, kalian akan terluka. Tapi jika kalian mencari cinta yang lain, kalian akan menemukan kebahagiaan.” Ucap Lee Saem akhirnya.

 

“Bukankah kehidupan seperti itu? Jika kalian tidak bisa melakukan sesuatu yang tidak bisa kalian lakukan, mengapa kalian harus melakukannya dan tetap bertahan pada bidang tersebut? Masih banyak yang dapat kalian lakukan dan menemukan bakat kalian sendiri.” Wendy dan Kyungsoo merenungkan apa yang di katakan Lee Saem.

 

“Mulai besok kalian akan di pindahkan di ruangan 10-1 yang artinya kalian akan berada di kelompok biru.”

 

“Dan mulai besok wali kelas kalian bukanlah saya lagi. Tapi Choi Saem.”

 

.

 

Wendy dan D.O keluar dari ruangan Lee Saem. Wajah keduanya terlihat sedikit murung dan tidak bersemangat seperti biasanya. Di luar Kai dan Taemin telah menunggu Wendy sahabat terbaik mereka. Wendy menatap sahabatnya itu satu persatu.

 

“Wendy aku duluan.” Wendy tersenyum kecil dan menganggukkan kepalanya menjawab perkataan D.O.

 

“Apa kau baik-baik saja?” Tanya Kai menatap Wendy khawatir.

 

“Hmm. Aku baik.” Jawab Wendy pelan.

 

“Apa yang di katakan Lee Saem?” Kali ini Taemin yang bertanya.

 

“Lee Saem hanya mengkonfirmasikan bahwa kami mulai besok akan di pindahkan di kelas 10-1.” Jawab Wendy.

 

“Jadi, mulai besok kau tidak akan satu kelas bersama kami?” Wendy menganggukkan kepalanya pelan menjawab perkataan Taemin.

 

“Tidak apa. Kita akan tetap bertemu. Jadi kau tidak perlu khawatir.” Wendy menganggukkan kepalanya dan tersenyum ke arah sahabat-sahabatnya itu.

 

“Ayo kita ke kelas. Sebentar lagi sepertinya lonceng masukkan akan berbunyi.” Wendy dan Kai menganggukkan kepala mereka dan mereka mulai berjalan menuju kelas mereka berada.

 

.

 

Bel pertanda kelas telah berakhir telah berbunyi. Saat ini Kai dan Wendy sedang menyimpun barang-barang mereka di dalam tas.

 

“Ayo.” Jawab Kai. Wendy menganggukkan kepalanya menjawab perkataan Kai. Mereka berjalan menuju pintu kelas mereka. Tapi langkah mereka terhenti saat melihat Sumbae mereka Kim Hyuna berada di depan kelas mereka bersama teman-temannya yang lain. Hyuna tersenyum manis ke arah Kai dan hanya melirik sekilas ke arah Wendy.

 

“Hai, kau Kim Jongin bukan?” Tanya Hyuna. Kai mengangguk kepalanya menjawab perkataan Hyuna.

 

“Perkenalkan aku Kim Hyuna sumbae-mu angkatan kelas 11-2 kelompok merah.” Ucap Hyuna mengulur tangannya ke arah Kai. Kai menatap tangan gadis itu sebelum akhirnya ia menyambut tangan tersebut.

 

“Kim Jongin.” Jawab Kai.

 

“Senang bisa berkenalan denganmu Jongin.” Ucap Hyuna semanis mungkin. Wendy yang melihat dan mendengar perkenalan manis mereka hanya menundukkan kepalanya.

 

“Kudengar kau masuk kelompok merah apa aku benar?” Kai menganggukkan kepalanya menjawab perkataan sumbae-nya tersebut.

 

“Ini akan sangat menyenangkan. Kita akan sering bertemu nantinya saat latihan.” Ucap Hyuna (lagi) dengan senyuman yang tak pernah hilang dari bibirnya.

 

“Apa kau pulang sendirian? Bagaimana jika kita pulang bersama? Aku akan mengantarmu.” Tawar Hyuna dan menatap penuh harap pada Kai.

 

“Terima kasih Sumbae, tapi aku akan pulang bersama sahabatku.” Jawab Kai sopan.

 

“Ahh.. Begitu. Apakah dia?” Tunjuk Hyuna tepat pada Wendy. Kai menganggukkan kepalanya.

 

“Baiklah, mungkin lain kali.” Jawab Hyuna sambil memaksakan senyumnya.

 

“Sampai jumpa Jongin.” Ucap Hyuna dan melambaikan tangannya kepada Kai, setelahnya barulah ia pergi dari hadapan mereka berdua.

 

“Ayo kita pulang.” Wendy menganggukkan kepalanya dan mereka pun mulai berjalan menuju gerbang sekolah mereka.

 

.

 

Wendy menjatuhkan tubuhnya pada kasur King Size sahabatnya. Chanyeol yang melihat Wendy mengerutkan alisnya.

 

“Tumben kau ke sini?” Tanya Chanyeol yang tidak biasanya melihat Wendy mendatangi rumahnya.

 

“Kenapa? Apa aku tidak boleh mendatangi rumah sahabatku sendiri?” Ucap Wendy sedikit ketus dan menaiki suaranya sedikit tinggi. Chanyeol yang mendengar suara mengerikan dari gadis itu sedikit bergidik.

 

“Ada apa? Apa ada masalah?” Tanya Chanyeol lembut. Ia tahu jika gadis itu datang tiba-tiba ke rumahnya tanpa pemberitahuan terlebih dahulu, pasti gadis itu mempunyai masalah. Wendy menghela nafasnya panjang lalu mengeluarkannya melalui mulut.

 

“Aku di pindahkan ke kelas 10-1.” Jawab Wendy tidak bersemangat.

 

“Lalu apa masalahnya?” Tanya Chanyeol yang tak mengerti.

 

“Itu artinya aku tidak lagi sekelas dengan Kai.” Chanyeol yang mendengar perkataan Wendy terdiam di tempatnya.

 

“Seharusnya sejak pertama aku sudah tahu bahwa aku tidak akan berhasil dalam bidang seni.” Wendy kembali menghela nafasnya.

 

“Mengapa kau berkata seperti itu? Kau sangat bagus dalam bernyanyi.” Ucap Chanyeol berusaha membuat Wendy tidak berkecil hati.

 

“Benarkah? Tapi di bandingkan dengan suaraku suara Ailee lebih bagus dan indah. Aku tidak sebanding dengannya.” Wendy kembali menghela nafasnya panjang.

 

“Kau bisa mengasah kemampuan vokalmu.” Ucap Chanyeol menyemangati sahabatnya itu.

 

“Dan aku yakin suaramu akan lebih bagus dari pada Ailee.” Wendy yang mendengar perkataan Chanyeol tersenyum.

 

“Gomawo.” Ucap Wendy sambil tersenyum. Dan Chanyeol menganggukkan kepalanya dan membalas senyuman Wendy.

 

.

 

Wendy berjalan seorang diri menuju sekolahnya. Kali ini ia tidak berjalan bersama Kai, karena ia ingin ke sekolah seorang diri. Dan ia bangun lebih pagi dari biasanya sebelum Kai menjemputnya. Ia berhenti saat melihat Kyungsoo berdiri di gerbang sekolahan mereka. Kyungsoo melambaikan tangannya ke arah Wendy dan memberikan senyuman yang paling luas miliknya kepada gadis itu. Wendy pun membalas senyuman pria itu dan kembali melangkahkan kakinya menuju pria itu berada.

 

“Hay.”

 

“Hay.” Balas Wendy.

 

“Pergi ke kelas bersama-sama?” Tawar Kyungsoo dan di jawab oleh Wendy dengan anggukkan kecil. Mereka membuat percakapan kecil sambil berjalan menuju kelas mereka. Sampai akhirnya mereka pun sampai pada tujuan awal mereka.

 

.

 

“Selamat pagi anak-anak.”

 

“Selamat pagi Choi saem.” Jawab semua murid kelas 10-1 serempak.

 

“Kita kali ini kedatangan murid baru dari kelas sebelah, setelah kita kehilangan dua murid dari kelas kita. Silakan maju ke depan dan perkenalkan diri kalian kepada teman-teman baru kalian.” Wendy dan Kyungsoo maju ke depan kelas dan mulai memperkenalkan diri mereka masing-masing.

 

“Perkenalkan nama saya Do Kyungsoo. Kalian bisa memanggil saya D.O.”

 

“Perkenalkan nama saya Son Wendy. Kalian bisa memanggil saya Wendy.” Setelah memperkenalkan diri, mereka kembali menuju meja mereka berada.

 

“Baiklah kali ini kita akan membahas tentang pembagian kelompok beberapa waktu lalu. Ada yang tahu mengapa kalian di bagi seperti ini?” Semua murid menggelengkan kepala mereka serempak. Mereka sangat penasaran mengapa mereka bisa di bagi dan di buat kelompok oleh guru mereka tersebut.

 

“Karena tidak ada yang tahu maka Saya akan memberitahukannya kepada kalian.” Ucap Choi Saem sambil berjalan menuju bangku murid-murid.

 

“Setiap tahun sekolah kita Anyang Art High School selalu menghasilkan artis-artis muda berbakat. Semua itu kita dapatkan dari latihan, kerja keras dan persaingan.” Mendengar perkataan Choi Saem membuat semua murid berbisik-bisik tidak mengerti dengan perkataan terakhir Choi Saem.

 

“Ya persaingan. Persaingan antar kelompok yaitu kelompok biru dan merah. Kalian akan bersaing satu sama lain untuk menjadi yang terbaik dari yang terbaik.” Mendengar perkataan Choi Saem membuat semua murid termotivasi.

 

“Untuk mengetahui kalian adalah murid terbaik dari yang terbaik adalah melalui lomba. Oleh sebab itu, setiap tahunnya Anyang Art High School akan mengadakan lomba yang di peruntukkan untuk setiap siswa yang berani dan mau menjadi yang terbaik.” Salah satu murid mengangkat tangannya dan langsung di persilahkan oleh Choi Saem.

 

“Apakah Sumbae kami juga melakukan hal yang sama?” Tanya salah satu murid.

 

“Ya.” Jawab Choi Saem.

 

“Dan mereka pun juga mempunyai kelompok yang sama seperti kalian. Kelompok merah dan biru.” Lanjut Lee Saem.

 

“Ada perlombaan di mana kalian akan bergabung dengan Sumbae kalian di kelompok biru.”

 

 

“Dan untuk membuat murid tambah bersemangat dan giat dalam berlatih, bagi siapa saja yang menang akan mendapatkan sertifikat dan mendapatkan hadiah berlibur.” Mendengar perkataan Choi Saem membuat semua murid bersorak-sorai.

 

“Tapi..” Semua murid terdiam menunggu kelanjutan dari Choi Saem.

 

“Tidak semua murid dapat mengikuti lomba tersebut. Kalian akan di seleksi terlebih dahulu untuk mengetahui pantas atau tidaknya kalian mengikuti lomba tersebut.” Semua murid tak percaya mendengar perkataan Choi Saem.

 

“Oleh sebab itu perlombaan ini di buat. Kalian tidak akan mendapatkan semua itu dengan mudah. Kalian harus terus berlatih dan bekerja keras untuk mengetahui seberapa bagusnya kalian dari sekian banyaknya orang-orang terbaik di antara kalian.”

 

.

 

Saat ini Wendy dan Kyungsoo sedang berjalan menuju kantin sekolah. Mereka membuat percakapan kecil di antara mereka. Dan terkadang keduanya tertawa bersama saat mendengar lelucon satu sama lain.

 

“Aku tidak menyangka untuk menjadi artis kita harus melakukan berbagai cobaan.” D.O menganggukkan kepalanya menyetujui perkataan Wendy.

 

“D.O, saat kau mendaftar di Anyang Art High School, apa yang kau pikirkan?”

 

“Apa maksudmu?” Tanya D.O yang tak mengerti dengan pertanyaan Wendy.

 

“Maksudku, apa motif dan tujuanmu saat kau mendaftar di sini?” D.O terdiam sejenak sebelum menjawab perkataan Wendy.

 

“Aku ingin menjadi penyanyi yang terkenal dan berbakat. Dan aku ingin membuktikan kepada kedua orang tuaku bahwa aku bisa menjadi penyanyi terkenal, tidak seperti apa yang di katakan mereka selama ini.” Wendy mendengarkan D.O dengan baik dan menatap lekat sahabat barunya tersebut.

 

“Apa orang tuamu tidak menyetujuimu untuk menjadi artis?” D.O menganggukkan kepalanya.

 

“Mereka bilang menjadi artis tidak ada gunanya. Mereka akan terkenal pada awal mereka debut, setelah beberapa tahun kau akan di lupakan.” D.O menundukkan kepalanya menatap jalanan di depannya. Wendy yang mendengar perkataan D.O merasa bersimpati kepada sahabatnya itu.

 

“Aku ingin membuat kedua orang tauku menarik perkataan mereka dan membuktikan kepada mereka bahwa aku bisa menjadi artis terkenal yang terus dapat diingat dan tak akan terlupakan.”

 

“Aku yakin kau pasti bisa.” Wendy menyentuh pundak D.O pelan dan tersenyum meyakinkan pria itu. D.O balas menatap Wendy dan membalas senyuman gadis itu.

 

Keduanya terus berjalan sampai akhirnya Wendy menghentikan langkahnya saat melihat Kai dan Taemin di hadapan mereka. D.O pun menghentikan langkahnya saat Wendy menghentikan langkahnya tiba-tiba. D.O pun mengalihkan perhatiannya pada arah pandangan Wendy. D.O dapat melihat dua anak laki-laki saat ini berada di hadapannya. Kai menatap pria yang ada di samping Wendy dengan sangat lekat. D.O pun balas menatap Kai.

 

.

 

Saat ini Wendy, D.O, Kai dan Taemin berada di kantin dengan satu meja yang sama. Mereka terdiam satu sama lain tidak membuat percakapan sedikit pun di antara mereka. Taemin yang membenci dengan suasana seperti itu lantas berinisiatif untuk memecahkan keheningan. Taemin berdehem dua kali sebelum membuat percakapan di antara mereka.

 

“Jadi, mari kita makan makanan kita sebelum lonceng masukkan berbunyi.” D.O dan Wendy menganggukkan kepalanya menyetujui perkataan Taemin. Mereka pun lantas memakan makanan mereka dengan hikmat. D.O dan Wendy terkadang membuat percakapan kecil di antara mereka untuk membuat suasana lebih cair dari sebelumnya.

 

Kai menatap keduanya lekat satu sama lain. Ia tidak suka jika Wendy berdekatan dengan pria lain selain dirinya minus untuk Taemin. Tapi terkadang Kai pun tidak suka jika Taemin berdekatan dengan Wendy. Itu membuat dirinya kesal.

 

Wendy dapat merasakan tatapan menusuk dari pria yang ada di hadapannya saat ini. Tapi Wendy berusaha mengabaikan pria itu dan tetap fokus pada makanannya dan D.O yang ada di sampingnya.

 

“Jadi, sejak kapan kalian berdua mulai dekat?” Kai yang mendengar perkataan Taemin langsung mengalihkan perhatiannya pada sahabatnya itu.

 

“Maksudku.. Sejak kapan kalian mulai kenal satu sama lain?” Ralat Taemin. Melihat tatapan Kai sebelumnya membuat Taemin bergidik ngeri. Jika ia salah sedikit saja dalam berbicara maka tamatlah riwayatnya.

 

“Baru saja. Saat kami di pindahkan ke kelas baru kami.” Jawab Wendy mewakili mereka berdua.

 

“Ahh begitu rupanya. Tapi sepertinya kalian berdua sudah cukup dekat satu sama lain.” Ucap Taemin lagi, berusaha mengorek informasi dari mereka berdua.

 

“Itu karena Wendy adalah gadis yang easy going. Aku merasa nyaman saat bersamanya.” Mendengar perkataan D.O entah mengapa membuat Kai tidak suka. Kai menatap tajam ke arah D.O, D.O yang di tatap seperti itu hanya cuek dan tak peduli dengan pria yang ada di hadapan mereka saat ini

 

“Ya kau benar, Wendy memang gadis yang easy going. Jadi wajar jika Wendy dapat bergaul dengan mudah dan beradap tasi dengan lingkungannya dengan cepat.” Ujar Taemin membetulkan perkataan D.O. Setelah kurang lebih 15 menit, akhirnya lonceng pun berbunyi menandakan pelajaran berikutnya akan di mulai.

 

“Kami sudah selesai. Kami akan pergi ke kelas kami lebih dulu.” Ucap Wendy berpamitan dengan mereka berdua.

 

“Sampai jumpa.” Wendy melambaikan tangannya kepada mereka dan berjalan bersama D.O menuju kelasnya.

 

“Kurasa D.O akan menjadi teman dekat Wendy yang lain.” Mendengar perkataan Taemin membuat dirinya tidak suka.

 

“Dan aku lihat kau akan tersingkir oleh pria kecil itu.” Tunjuk Taemin tepat pada punggung D.O.

 

“Tidak akan.” Jawab Kai. Taemin mengangkat salah satu alisnya dan menatap sahabatnya itu.

 

“Kenapa tidak? Tidak ada yang mustahil di dunia ini Kim Jongin.” Ujar Taemin menekankan pada kata terakhirnya.

 

“Kau, jujurlah padaku kali ini. Apa kau cemburu pada pria kecil itu?” Kai terdiam di tempatnya tidak bisa berkata-kata kepada pria itu.

 

“Apa aku benar?”

 

“Tidak. Aku tidak cemburu pada mereka berdua.”

 

“Lalu apa jika kau tidak cemburu pada mereka berdua? Oh ayolah Kai.. Aku sudah sangat sering melihatmu yang tidak suka melihat Wendy berdekatan dengan pria lain termasuk aku dan Chanyeol. Jadi jika itu bukan cemburu lalu apa? Semua yang kau tunjukkan beberapa saat lalu adalah ekspresi tidak senang dan cemburu terhadap pria itu.” Kai terdiam di tempatnya mendengar perkataan Taemin.

 

“Jujurlah padaku jika kau menyukai Wendy. Apa aku benar?” Kai tetap diam tidak menjawab perkataan Taemin.

 

“Jangan bilang kau masih tidak mengerti tentang perasaanmu kepada gadis itu?” Taemin menjambak rambutnya frustrasi dengan sahabatnya yang satu ini.

 

“Aist.. Aku bisa gila jika terus seperti ini.” Ujar Taemin sambil mengacak-ngacak rambutnya.

 

.

 

Kai menjatuhkan tubuhnya pada kasur kesayangannya. Ia menatap langit-langit kamarnya saat ini. Tiba-tiba saja perkataan Taemin saat di sekolah terlintas kembali di dalam otaknya.

 

Kau, jujurlah padaku kali ini. Apa kau cemburu pada pria kecil itu?

 

Jujurlah padaku jika kau menyukai Wendy. Apa aku benar?

 

“Ya aku memang menyukai Wendy.” Ucap Kai pelan kepada dirinya sendiri.

 

“Aku sangat menyukai Wendy, sangat-sangat menyukainya.” Ucap Kai lagi.

 

“Tapi aku mempunyai alasan untuk tidak memberitahukan perasaanku padanya.” Kai menghela nafasnya panjang. Dan kembali berkata setelahnya.

 

“Maka biarkan aku untuk menyimpan alasanku dan perasaanku pada Wendy.” Setelah mengatakan itu Kai menutup kedua matanya untuk menenangkan pikirannya sejenak.

 

.

 

Wendy dan D.O berjalan menuju kelas mereka. Keduanya membuat percakapan kecil di antara mereka. Wendy tertawa kecil saat mendengar perkataan D.O yang membuatnya tertawa. Tapi ia menghentikan tawanya saat melihat Kai tidak jauh darinya bersama Sumbae mereka Hyuna. Keduanya terlihat berbicara kecil satu sama lain. Akhir-akhir ini Wendy sering melihat keduanya bersama-sama di waktu senggang. Wendy menatap dalam dengan pandangan lirihnya ke arah Kai dan juga Hyuna.

 

D.O yang menyadari Wendy tidak memperhatikannya menghentikan perkataannya. Ia menatap gadis itu dan mengalihkan perhatiannya pada arah pandang gadis tersebut. D.O bisa melihat sahabat Wendy yang ia ketahui namanya Kai saat ini sedang berbicara dengan salah satu sumbae wanita mereka yang cukup terkenal. D.O mengalihkan perhatiannya kembali pada Wendy dan menggenggam pelan tangan gadis itu. Wendy sedikit terkejut dengan apa yang di lakukan D.O padanya.

 

“Ayo.” Ucap D.O dan membimbing gadis itu berjalan menuju kelas mereka. Wendy hanya diam tidak menolak sedikit pun yang D.O lakukan padanya. Wendy kembali melirik sekilas ke arah Kai yang masih asyik berbicara dengan sumbae-nya tersebut. Wendy menundukkan kepalanya menyembunyikan wajah kecewanya. Dan Mereka pun kembali berjalan ke kelas mereka dengan tangan yang saling bertautan.

 

.

 

Wendy menatap bintang yang berada di langit. Saat ini Wendy berada di balkon kamarnya, sambil memandang langit malam yang di terangi bintang dan bulan. Tiba-tiba saja kejadian beberapa waktu lalu saat di sekolah terlintas di dalam otaknya. Senyuman Kai masih terlintas di dalam pikiran Wendy saat dia bersama Sumbae mereka. Wendy menatap langit malam dengan pandangan lirih miliknya.

 

“Haruskah aku merelakan Kai kali ini?” Wendy menatap bintang yang berada di langit, seakan menanyakan jawaban apa yang harus ia ambil. Wendy menundukkan kepalanya dan memaksakan senyuman terbaik miliknya.

 

“Seharusnya aku sudah tahu jika ini akan terjadi. Aku tidak seharusnya mempunyai perasaan terhadap Kai. Karena ini salah. Sejak awal ini tidak benar.” Wendy memaksakan senyumannya dan berusaha menahan air matanya untuk tidak keluar.

 

“Aku memang bodoh mengira Kai akan menyukaiku nantinya seperti aku menyukainya. Aku memang bodoh.” Wendy menyeka air matanya yang tidak dapat ia bendung.

 

“Aku akan melepaskanmu. Aku akan merelakanmu bersama orang lain.” Wendy memaksakan senyumnya sambil memandang langit malam.

 

“Maka biarkan aku untuk menyimpan perasaanku terhadap Kai.” Wendy tersenyum dengan sangat luasnya menatap bintang yang menerangi langit malam.

 

.

 

Wendy berjalan-jalan menuju taman kota yang tidak jauh dari rumahnya bersama Bromzy anjing peliharaannya. Hari ini adalah hari minggu jadwalnya untuk membawa Bromzy jalan-jalan. Ia sedikit memanyunkan bibirnya sambil membawa anjing kesayangannya itu.

 

“Bromzy, Chanyeol sangat tega bukan? Ia tidak ingin berjalan-jalan bersama kita. Dia lebih memilih video games-nya dari pada kita berdua. Ugh.. Itu sangat menyebalkan.” Wendy mengentak-entakkan kakinya saat mengingat dirinya yang ke rumah pria itu dan tidak di pedulikan oleh sahabatnya itu. Mengingat kejadian beberapa waktu lalu membuat dirinya kesal.

 

Tiba-tiba saja sebuah mobil Lamborghini Reventon melaju ke jalan raya dan menabrak gubakan air yang membuat percikan air dari gubakan air tersebut mengenai tubuh dan baju Wendy. Wendy shock di tempatnya dengan kejadian yang tiba-tiba tersebut. Beruntung bagi Wendy karena pria yang mengendarai mobil tersebut turun dari mobilnya.

 

“Yak!” Teriak Wendy kepada pria tersebut dan mendatangi pria tersebut. Pria itu yang lain dan bukan adalah Baekhyun hanya menatap sekilas pada Wendy dan berjalan menuju taman kota tersebut. Wendy tak percaya melihat reaksi pria itu. Lantas Wendy berlari mengejar Baekhyun dengan masih memegangi tali anjing kesayangannya. Baekhyun mengerutkan alisnya menatap Wendy yang menghadang jalannya.

 

“Nonna, bisakah kau minggir? Kau menghalangi jalanku.” Wendy menjatuhkan rahangnya tak percaya mendengar perkataan pria itu.

 

“Mwo?” Ucap Wendy tak percaya. Baekhyun langsung berjalan tanpa peduli tentang gadis itu.

 

“Yak! Berhenti!” Wendy langsung menyusul pria itu dan pria itu menghentikan langkah kembali saat Wendy menghadang jalannya. Pria itu mengerutkan alisnya seakan bertanya kepada gadis itu.

 

“Kau harus bertanggung jawab!” Pekik Wendy tepat pada pria itu. Baekhyun mengerutkan alisnya mendengar perkataan ambigu gadis itu.

 

“Bertanggung jawab? Bertanggung apa? Nonna kita belum pernah tidur bersama sebelumnya dan ini adalah pertemuan pertama kita. Dan kau sudah memintaku untuk bertanggung jawab? Apakah itu masuk akal?”

 

“Yak! Siapa yang menyuruhmu untuk bertanggung jawab tentang itu!” Pekik Wendy histeris.

 

“Lalu tentang apa?” Tanya pria itu tidak mengerti.

 

“Saat kau mengendarai mobilmu kau menabrak gubakan air yang tepat berada di sampingku yang mengakibatkan bajuku kotor. Dan kau harus menggantinya.” Tunjuk Wendy ke arah bajunya.

 

“Ahh.. Baiklah. Berikan nomor teleponmu.”

 

“Apa?” Tanya Wendy tak mengerti.

 

“Nomor teleponmu. Aku akan mengganti rugi saat aku sudah selesai dengan urusanku.” Jawab Baekhyun acuh.

 

“Tidak. Aku ingin kau menggantinya sekarang.”

 

“Apa? Sekarang? Tidak bisa. Aku mempunyai urusan lain.” Tolak Baekhyun.

 

“Aku tidak perduli, aku ingin kau menggantinya sekarang.” Tegas Wendy.

 

“Aku tidak bisa. Jika kau tidak ingin bernegosiasi maka aku pergi.” Baekhyun ingin melangkahkan kakinya tapi tak jadi saat mendengar perkataan Wendy.

 

“Aku akan berteriak dan mengatakan kau ingin memperkosaku jika kau pergi dan tidak menggantinya sekarang.” Baekhyun tidak bergerak dan terdiam di tempatnya. Wendy tersenyum menang atas kemenangannya.

 

“Bagaimana? Apa kau tidak mau? Baiklah kalau begitu. Tolong pria ini ma-” Baekhyun mendekap mulut Wendy dan langsung menunduk dan tersenyum kepada orang-orang yang ada di sekitar mereka.

 

“Baiklah, aku akan menggantinya sekarang.” Gumam pria itu tepat di telinga Wendy. Wendy tersenyum senang dengan kemenangannya.

 

.

 

Saat ini Wendy dan Baekhyun berada di pusat perbelanjaan. Wendy saat ini sedang memilih baju yang berada di toko tersebut. Baekhyun melihat jam di pergelangan tangannya, ia berdecak sebal dengan Wendy yang belum juga memilih pakaiannya.

 

“Bisakah kau cepat sedikit?” Wendy mencibir pria itu dari cermin pantulannya. Wendy mengambil salah satu dress, memasangkan Dress itu dan melihat pantulan di cermin.

 

“Aku ambil ini.” Setelah mengatakan itu, Wendy berjalan menuju ruang ganti dan mengganti baju di sana. Baekhyun menyandarkan tubuhnya di dinding sambil mengetuk-ngetukkan kakinya pada lantai. Baekhyun kembali menatap jam tangannya dan berdecak.

 

“Aist.. Mengapa lama sekali. Apa yang di lakukan gadis itu?” Gerutu Baekhyun. Setelah kurang lebih 5 menit, akhirnya Wendy keluar dengan menggunakan Dress pink yang cantik tersebut. Baekhyun melihat gadis itu dari atas sampai bawah. Wendy yang di lihat seperti itu menyilangkan tangannya di dada.

 

“Apa yang kau lihat?” Wendy melotot kepada pria itu dan Baekhyun hanya mengangkat bahunya.

 

“Cepatlah, ayo kita pergi. Kau tidak perlu menutupi dadamu seperti itu. lagi pula tidak ada yang dapat di lihat darimu.” Baekhyun melangkahkan kakinya meninggalkan Wendy yang tak percaya di tempatnya.

 

“Apa-apaan pria itu.” Wendy tak percaya, lalu melangkahkan kakinya dengan mengentak-entakkannya cukup keras sambil mengikuti pria itu.

 

Baekhyun menuju ke kasir dan membayar baju yang di pakai Wendy saat ini. Keduanya berjalan bersama-sama meninggalkan toko tersebut. Diam-diam Wendy melirik Baekhyun yang menatap lurus ke depan.

 

“Jika ada yang ingin kau katakan, katakan saja.” Wendy sedikit terkejut dengan perkataan pria itu. Tapi dengan cepat ia menyembunyikan keterkejutannya.

 

“Aku tidak tahu pria sepertimu ternyata bertanggung jawab juga.” Baekhyun mengalihkan perhatiannya pada gadis itu. Sedangkan Wendy menatap ke arah lain asalkan bukan pria itu.

 

“Apa tampangku seperti pria tak bertanggung jawab?” Tanya Baekhyun. Wendy diam tidak menjawab perkataan pria itu. Ia hanya memainkan jari-jarinya.

 

“Terserah apa yang kau pikirkan tentangku. Tapi yang jelas aku bukan pria seperti itu.” Baekhyun memasukkan tangannya ke dalam saku celananya.

 

“Tapi kenapa kau ingin melarikan diri waktu itu?”

 

“Aku tidak melarikan diri.” Bela Baekhyun

 

“Lalu apa jika bukan melarikan diri?” Baekhyun mendorong pelan kening Wendy yang membuat gadis itu cemberut.

 

“Bukankah sudah kukatakan bahwa aku memiliki urusan. Oleh sebab itu aku meminta nomormu.” Wendy cemberut dan menundukkan kepalanya. Mereka kembali berjalan bersama.

 

Tiba-tiba saja sebuah teriakan gadis membuat mereka menghentikan langkah mereka. Gadis itu berlari dan merangkul tangan kiri Baekhyun manja. Wendy yang melihat kelakuan gadis itu sedikit mengerutkan alisnya dan merasa terganggu dengan kehadiran gadis itu.

 

“Baekhyun Oppa, kau ke mana saja? Aku dari tadi mencarimu.” Gadis itu bersandar ke bahu Baekhyun dengan nyamannya. Sedangkan Baekhyun diam, tapi ia sedikit terganggu karena semua orang sedang melihat mereka saat ini.

 

Jadi namanya Baekhyun. Pikir Wendy. Tiba-tiba saja sebuah ide gila terlintas dalam otaknya. Wendy tersenyum samar. Gadis yang bergelayut manja itu menghentikan aksinya dan menatap Wendy seakan bertanya siapa gadis itu.

 

“Oppa, siapa gadis ini?” Tanya gadis itu sambil menunjuk ke arah Wendy.

 

“Dia..”

 

“Perkenalkan aku Son Wendy istri Baekhyun.” Potong Wendy cepat. Baekhyun dan gadis itu tak percaya mendengar perkataan Wendy. Wendy hanya tersenyum sangat manis kepada mereka berdua.

 

“MWO!” Gadis itu berteriak tak percaya dan menghadap ke arah Baekhyun. Baekhyun tak percaya dan balas menatap gadis itu.

 

“Tidak itu tidak benar.” Baekhyun gelagapan sambil menatap wanita itu.

 

“Ini tidak seperti yang kau bayangkan Jiyeon. Dia-”

 

PLAK!!!

 

Wendy menutup mulutnya shock dengan kejadian yang baru saja terjadi. Baekhyun terpaku sambil memegang pipinya yang terasa panas habis terkena tamparan tersebut.

 

“Beraninya kau mendekatiku saat kau ternyata mempunyai istri. Dasar brengsek!”

 

PLAK!!!

 

Setelah menampar Baekhyun kedua kalinya gadis yang bernama Jiyeon itu barulah pergi meninggalkan pria itu dan juga Wendy yang tak percaya di tempatnya.

 

Dengan langkah perlahan Wendy melangkahkan kakinya menjauhi pria itu lalu berlari sekuat tenaga sambil membawa kantung plastik yang berisikan pakaiannya sebelumnya. Ia tidak ingin di makan hidup-hidup oleh pria itu.

 

Baekhyun mengepalkan tangannya dan berniat untuk memberi pelajaran kepada gadis itu. Saat ia mengalihkan perhatiannya gadis itu telah tidak ada di tempatnya. Ia menatap ke depan dan melihat gadis itu telah berlari bersama barangnya.

 

“Yak! Jangan lari kau!” Teriak Baekhyun. Tapi percuma gadis itu telah pergi jauh darinya. Baekhyun menendang udara kosong dan berkacak pinggang.

 

“Awas kau.” Ucap Baekhyun kesal sambil memegang pipinya bekas tamparan dari Jiyeon.

 

.

 

Wendy bangkit dari tempatnya menyelesaikan sarapannya dan mengecup kedua pipi eomma dan Appanya.

 

“Appa Eomma aku berangkat.” Wendy berjalan ceria ke arah pintu. Ia membuka pintu rumahnya dan terdiam saat melihat Kai sudah berdiri di gerbang rumahnya. Wendy menatap pria yang saat ini menundukkan kepalanya itu. Wendy menghela nafas.

 

Ini akan berat bagiku. Batinnya.

 

Dengan perlahan Wendy melangkahkan kakinya dan membuka gerbang rumahnya itu. Kai mendongakkan kepalanya saat mengetahui Wendy telah berada di sana. Kai tersenyum sangat manis ke arah Wendy dan Wendy membalas senyuman Kai kecil. Keduanya berjalan pelan tanpa bicara menuju sekolah mereka.

 

Kai diam-diam melirik ke arah Wendy. Ia menyadari Wendy akhir-akhir ini menjauhinya. Ia tidak tahu pasti mengapa gadis itu menjauhinya tapi yang jelas ini membuatnya tidak menyukainya.

 

“Wendy..” Wendy mengalihkan perhatiannya pada Kai.

 

“Hhmm..” Jawab Wendy.

 

“Mengapa kau menjauhiku?” Wendy sempat terpaku di tempatnya mendengar perkataan Kai, tapi dengan cepat ia kembali bersikap seperti biasa.

 

“Itu hanya perasaanmu saja.” Jawab Wendy sambil tertawa renyah. Kai hanya diam mendengar perkataan Wendy.

 

“Jika kau merasa terganggu untuk sesuatu hal tentangku ceritakan padaku. Aku akan mengubahnya untukmu.” Wendy terdiam sambil menatap Kai dan Kai balas menatap Wendy.

 

Aku mencintaimu. Bisakah kau mencintaiku seperti aku mencintaimu?

 

Wendy hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Jika ia mengatakan apa isi hatinya, ia takut jika persahabatannya bersama Kai akan hancur. Ia tidak ingin itu terjadi. Dan ia sudah berjanji untuk merelakan Kai mulai saat ini. Dan ia akan berusaha sedikit demi sedikit menghilangkan perasaannya pada Kai.  Kai tersenyum melihat respons Wendy.

 

Mereka terus berjalan sampai akhirnya mereka sampai di gerbang sekolah mereka. Wendy dan Kai dapat melihat Kyungsoo atau sering di sapa D.O itu sedang berdiri di gerbang sekolah sambil menendang kerikil kecil yang berada di sana. D.O mendongakkan wajahnya dan melihat ke arah Wendy dan Kai. Ia melambaikan tangannya ke arah gadis itu dengan senyuman lebar dan Wendy pun membalas lambaian D.O.

 

“Kai, aku duluan. Sampai jumpa saat pulang sekolah, bye.” Setelah mengatakan itu, Wendy berlari kecil ke arah D.O dan membalas senyuman manis pria itu. Mereka berjalan bersama sambil membuat percakapan kecil di antara mereka. Kai yang melihat itu hanya bisa menghela nafas panjang. Tiba-tiba saja seseorang menepuk bahunya yang membuat dirinya terkejut.

 

“Apa yang kau lihat?” Tanya Taemin kepada sahabatnya itu. Kai hanya diam tidak ingin mengatakannya kepada sahabatnya itu. Karena tidak ada jawaban dari pria itu, lantas Taemin mengalihkan perhatiannya ke arah pandang Kai dan menyipitkan matanya.

 

“Ahh.. Wendy dan pria kecil itu.” Ucap Taemin sambil mengangguk-anggukkan kepalanya tanda mengerti mengapa Kai melihat keduanya.

 

“Kau cemburu?”

 

“Tidak.” Jawab Kai cepat.

 

“Hanya dengan jawabanmu yang sangat cepat aku sudah tahu jawabannya adalah ya. Apa lagi dengan wajahmu itu yang sangat jelas menampakkan ekspresi cemburu.” Kai yang mendengar perkataan Taemin sedikit cemas.

 

“Apakah sangat jelas?” Taemin menganggukkan kepalanya.

 

“Sangat.” Jawab Taemin menekankan perkataannya.

 

“Apa kau sekarang mengakui bahwa kau cemburu dan menyukai Wendy?”

 

“Tidak.” Mendengar perkataan itu lagi membuat Taemin kesal terhadap sahabatnya itu.

 

“Sampai kapan kau akan mengelak tentang perasaanmu!” Teriak Taemin frustrasi. Kai hanya diam dan tak perduli.

 

“Sebaiknya kita ke kelas, sebelum lonceng kelas berbunyi.” Setelah mengatakan itu Kai langsung pergi meninggalkan sahabatnya itu yang tak percaya dengannya. Taemin mengacak rambutnya frustrasi.

 

“Aku bisa gila.” Ucapnya, lalu melangkahkan kakinya menyusul Kai.

 

.

 

Wendy keluar dari Toilet dan berjalan menuju kelasnya berada. Ia menghentikan langkahnya saat mendengar suara piano tidak jauh darinya.

 

Lagu ini..

 

Wendy kembali mendengar suara piano yang beberapa hari lalu di dengarnya saat Kai menemuinya. Wendy melangkahkan kakinya menuju suara musik tersebut yang berada di ruang musik. Ia penasaran siapa yang bermain piano dengan sangat indahnya tersebut.

 

Wendy menghentikan langkahnya saat ia sudah berada di depan ruang musik. Ia menghirup udara di sekitarnya untuk mengembalikan deru nafasnya yang memburu. Wendy mengulurkan tangannya dan menyentuh Knop pintu ruangan musik tersebut.

 

Ia memutar dan mendorong pelan pintu tersebut. Wendy dapat melihat seorang pria yang membelakangi dirinya dengan masih menyentuh not-not Piano. Ia masih bermain dengan sangat indahnya dan tidak terganggu sedikit pun dengan kehadiran Wendy di sana. Pria itu menggulung kemeja sekolahnya sampai sebatas siku dan membuka dua kancing teratas pada kemejanya. Wendy dapat melihat betapa sempurnanya pria itu saat ini. Di tambah lagi kemampuan pianonya yang begitu mengesankan.

 

Entah apa yang Wendy perhatikan saat ini. Kemampuan pria itu dalam bermain piano atau betapa sempurnanya Pria itu saat ini. Entahlah yang jelas keduanya dapat mengalihkan perhatian dirinya untuk saat ini.

 

Pria itu menghentikan permainannya saat lagu terakhir. Wendy masih terdiam di tempatnya tidak beranjak sedikit pun dari sana. Pria itu berdiri dari tempatnya dan membalikkan tubuhnya yang membuat tatapan mereka bertemu. Keduanya terdiam di tempat masing-masing dengan posisi bertatapan satu sama lain. Wendy terpaku di tempatnya saat melihat pria itu mengangkat sudut bibirnya.

 

“Kita bertemu lagi.”

 

TBC

 

Tada.. Bagaimana FF terbaru Author ini? Apakah seru? Memuaskan? Atau biasa saja? Author harap FF ini memuaskan untuk readers semuanya ya. Ada yang tahu siapa pria yang di temui Wendy? Ada yang tahu? Hhhahaha.. Pasti tahu dong ya😀 FF ini sangat panjang loe, Word untuk FF ini adalah 8.600+ word. Ini adalah FF terpanjang yang pernah Author buat.😀 *prokprokprok*

 

Oiya tentang judul FF ini yaitu Clandestine Love yang artinya Rahasia Cinta, Author harap nyambung ya sama isi ceritanya. Habisnya Author bingung mau beri FF ini judulnya apa, akhirnya Author menentukan Clandestine Love sebagai judulnya. Pasti ada Readers yang bingung, bukankah Secret artinya rahasia? Memang Secret artinya rahasia. Tapi Clandestine juga artinya rahasia. Kalau Author pakek Secret kayaknya sudah pasaran banget deh judulnya, jadi Author ingin buat yang beda dari yang lain. J

 

Ok sekian Note’s Author. Jangan lupa meninggalkan jejak untuk FF ini. Annyeong^^

 

_Rain_Baek999

 

 

6 responses to “[Freelance] Clandestine Love (Chapter 1)

  1. wahh aku suka bgtt. mana cast nya wendy lagii bias bangett. btw yg bener itu sunbae bukan kak? tapi gapapa sih ga terlalu mengganggu. lanjutin yaaa

  2. ini apa-apaan si wendy ngaku jadi istri si byunbaek :v
    laah si jongjong kalo memang cinta kenapa harus ditahan tahan.
    yaampun si chanyeol ternyata pervert juga ya hihihih, ganyangka kamu begini nak😀
    itu jgn jgn si kyungsoo mulai tumbuh rasa sama si wendy ya? acieee xD
    keep writing kak…!!! >.<

  3. Lanjut thorrr. Ternyata seru jugaaa. Wkwk wendy beruntung banget dikelilingin sama orang orang ya suka sama dia secara tulus. Lucu banget pas bagian wendy sama baekhyunn hahaha ternyata dugaanlu benar kalo yang mainin pianonya itu baekhyun tapi ganyangka dia bakal punya kenangan memalukan sama baekhyun hahaha, lanjut ya thorr✌🏼️😹

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s