[Freelance] The Best for Someone Who I Love 2 (Part 12)

The Best For Someone Who I Love Poster

Title                        : The Best for Someone Who I Love 2 (Part 12)

Author                   : @YoMollayo

Cast                         : Cha Eunsung (OC), Park Chanyeol, Byun Baekhyun, EXO members

Genre                     : Romance, Friendship

Rating                     : PG-13/PG-17

Length                    : Chapter

Disclaimer             : All of the stories belong to God but written by me

Poster by               : Wuu

Previous                 : Part 1 , Part 2 , Part 3 , Part 4, Part 5, Part 6, Part 7, Part 8 , Part 9, Part 10, Part 11

“Sepertinya kau kenal dengan sahabatku. Kau bahkan menyimpan nomernya di ponselmu.”

“Ne?”

“Tapi kenapa kau menyimpan kontak nya dengan nama Kim Hana?”

“Ne?”

“Sahabatku itu seorang namja bukan yeoja. Nama dia bukan Kim Hana tetapi…..”

 

*****

—AUTHOR POV—

Busan Mega Hotel, 08.30 am

“Baekji-ya! Ya! Baekji! Irona! Ya!” seorang namja berusaha membangunkan sahabatnya yang tertidur pulas. Seluruh tubuhnya tertutup selimut seperti sebuah kepompong.

“Hmmm 5 menit lagi hyung.” balas namja ini pelan.

“Aigo apa yang terjadi dengan mu? Apa kau tidur sangat larut tadi malam?” teriak namja ini kesal.

Namja berdarah Tionghoa ini menatap sekeliling kamar namja yang masih tertidur pulas.

“Ya! Ada apa denganmu? Kau minum? Kenapa banyak sekali?” teriak namja ini heran melihat beberapa botol soju di atas meja yang terletak di beranda kamar Baekji.

“Gwenchana hyung, aku hanya rindu soju sepertinya aku terlalu berlebihan.” balas Baekji sedikit melantur.

Aneh. Namja ini merasakan suatu hal yang aneh. Dia bukan Baekji seperti yang dikenalnya.

“Ya! Irona!” Namja ini melepas paksa selimut yang dikenakan Baekji hingga akhirnya bisa melihat seluruh wajahnya.

Amarahnya meredam saat melihat wajah Baekji. Dia menangis?

“Wae? Apa kau ada masalah? Appo?” Namja ini merasa bersalah kepada sahabatnya karena sudah berteriak.

“Ne hyung. Kepalaku sakit. Aku butuh tidur lebih lama.” balas Baekji singkat.

“Arraseo. Istirahatlah. Aku akan kembali saat makan siang. Aku pergi” Namja ini tersenyum lalu segera memasang kembali selimut ketubuh Baekji seperti semula. Dia tidak mengerti apa yang terjadi dengan sahabatnya tetapi dia juga tidak bisa memaksa sahabatnya untuk bercerita.

“Hyung.”

“Ne?” Namja ini menoleh.

“Mian, aku tidak bisa menemanimu melihat Sand Festival.”

Namja ini merasa jika sahabatnya benar-benar meminta maaf secara tulus. Meskipun sedikit kecewa tetapi tetap saja……

“Gwenchana.” Namja ini tersenyum lalu segera pergi dari kamar sahabatnya.

 

01.15 pm

Seorang namja membuka kedua matanya. Perlahan-lahan dia mencoba untuk sadar dari keadaannya yang kurang baik. Semalam dirinya terus merasa gelisah dan tidak bisa tidur dengan tenang karena itu dia memutuskan untuk meminum banyak soju agar dapat tidur sekaligus menghilangkan rasa gelisahnya.

Entah mengapa melihat seorang namja yang melamar seorang yeoja dengan cara yang manis tadi malam membuat terbukanya kembali memori lama bersama seseorang, semuanya begitu indah sekaligus menyakitkan untuk dikenang. Sepertinya soju tidak cukup ampuh untuk menghapus semuanya.

“Sial! Seharusnya sejak awal aku menolak untuk di tugaskan ke Korea apalagi di Busan.”

Namja ini menatap kosong langit-langit kamarnya lalu segera berjalan menuju beranda kamarnya. Angin berhembus melewati seluruh tubuhnya. Pemandangan pantai dan laut yang indah membentang di depannya. Namja ini menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya. Perasaannya jadi lebih baik.

“Sudahlah aku ini seorang yang professional. Tidak boleh mengeluh hanya karena konflik personal.” Namja ini menatap hamparan biru di depannya lalu melangkahkan kakinya perlahan-lahan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.

20 menit kemudian

Kringgggggggg Kringgggggggg Kringgggggggg

Perhatian seorang namja yang sedang asik membaca komik terganggu karena suara nada dering handphonenya.

Hidden Number?’ batin namja ini.

Baekji-yaaaaa.

“Ne Hyung.” Namja ini tersenyum menjawab panggilan seseorang di seberang.

Kau mengenaliku?

“Eo. Jika ada seseorang yang menelfonku dengan hidden number, itu pasti Hyung yang memakai ponsel orang lain hahaha.” Namja ini terkekeh pelan.

Good job. Bagaimana keadaanmu?

“Aku sudah sehat Hyung.” balas namja ini kepada seseorang di seberang.  

Good. Kau pasti lapar. Datanglah ke Gukjehoegwan Restaurant. Letaknya tidak jauh dari pantai dekat dengan Haeunde Market. Kau pasti rindu masakan Korea kan? Cepat datang ada banyak makanan enak. Aku tunggu! Cepat datang. Annyeong.

Seseorang diseberang langsung menutup telefon tanpa menunggu balasan. Namja ini hanya bisa menghela nafas. Dia tidak memiliki selera untuk makan ataupun keluar dari kamarnya tetapi dia tidak punya pilihan lain selain pergi ke tempat yang dikatakan sahabatnya.

*****

Gukjehoegwan Restaurant

Seorang namja melangkahkan kakinya kedalam sebuah restaurant. Dari pintu masuk dia mencari-cari sosok seseorang yang berhasil ‘memaksanya’ untuk datang ke tempat ini.

Seseorang melambaikan tangan kepadanya. Namja ini tersenyum kecil lalu berjalan menuju seseorang yang dicarinya.

DEG

Namja ini baru menyadari jika seseorang yang dicarinya tidak sendiri tetapi sedang bersama dengan orang lain. Dia tidak dapat melihat wajah dua orang tersebut karena mereka duduk membelakangi pintu masuk. Sambil berjalan namja ini memperhatikan punggung kedua orang tersebut, seorang yeoja dan namja. Siapa mereka?

DEG

Jantung namja ini berdetak semakin cepat. Rasanya dia ingin berlari keluar dari tempat ini, perasannya benar-benar tidak nyaman. Sesekali namja ini menelan ludahnya.

‘Ada apa ini? Haruskah aku berlari? Tapi bagimana dengan Hyung? Dia pasti akan sangat marah.’ batin namja ini.

Langkah kaki namja ini sudah dekat dengan tempat di mana orang yang dicarinya duduk. Namja ini berhenti melangkah.

“Luhan hyung, aku tidak lapar jadi sebaiknya aku kembali ke—” Namja ini berhenti berbicara saat sampai di depan seseorang yang dicarinya. Dia hanya bisa diam melihat wajah dua orang yang duduk bersama dengan orang yang dicarinya.

“Baekhyun-ah.” seorang namja yang duduk di depan Luhan membuka mulutnya.

“Chanyeol-ah? Eunsungie?” namja bernama Baekhyun ini menatap tidak percaya kedua orang tersebut.

“Baekji-ah kau mengenal mereka?” tanya Luhan. Tidak ada yang memberikan jawaban.

Luhan terlihat bingung dengan suasana kelam yang terjadi antara hoobae dan sahabatnya. Jika mereka saling mengenal seharusnya tidak muncul suasana seperti ini. Daripada memperburuknya, memilih untuk diam adalah cara terbaik.

Tiga orang ini menatap satu sama lain. Mereka hanya bisa diam, larut dalam suasana yang kelam.

‘Pantas saja! Seharusnya aku sadar dari awal kenapa aku selalu merasa resah berada disini. Sial.’ batin Baekhyun.

“Lama tidak berjumpa Chanyeol, Eun—” Baekhyun berusaha mencairkan suasana.

Eunsung segera bangkit berdiri dari tempat duduknya lalu mendekati Baekhyun.

Baekhyun menelan ludahnya. Dia tahu ini akan terjadi. Pasti Eunsung akan menamparnya atau menendangnya karena berani muncul lagi dihadapannya setelah semua yang dia lakukan terhadap yeoja itu. Baekhyun siap atas semua perlakuan yang akan diterimanya.

Brugh

“Byun Baekhyun, kemana saja kau?”

Baekhyun terdiam. Hanya diam yang bisa dia lakukan saat ini. Dia tidak mengerti dengan apa yang terjadi. Setelah menghilang dan menghindari Eunsung begitu saja seharusnya dia menerima perlakuan yang sangat berlawan dengan apa yang diterimanya saat ini. Mengapa? Mengapa Eunsung malah memeluknya?

Baekhyun tidak bergerak sedikitpun, tidak memberikan respon apapun. Pelukan ini terasa benar-benar hangat. Apa Eunsung benar-benar tulus merindukannya? Kenapa Eunsung tidak membencinya?

“Naega, jinjja bogoshipo.” Eunsung kembali membuka mulutnya. Perlahan-lahan air matanya turun. Nafasnya terengah-engah. Dia berusaha menahan tagisnya agar tidak seperti tangisan bayi. Persaan bingung, kecewa, dan senang menjadi satu. Entahlah perasaan mana yang harus dia prioritaskan setelah mengalami banyak hal yang terjadi antara dia dan Baekhyun. Jika saat ini dia memilih perasaan senang untuk di prioritaskan, bukan hal yang buruk kan?

“Neo jinjja napeun namja.” Eunsung terkekeh lirih. Yeoja ini berusaha tersenyum dalam tangisnya.

Baekhyun menghembuskan nafasnya berat. Senyum kecil mengembang diwajahnya. Entahlah dia tidak peduli dengan apa yang terjadi selanjutnya, yang pasti hal seperti ini hanya akan terjadi saat ini jadi dia ingin melewatinya dengan apa yang dia inginkan.

“Mianhae…” Baekhyun membalas pelukan Eunsung. Dia menguatkan pelukannya sehingga tubuh yeoja itu bisa lebih dekat dengannya.

“Nado bogoshipo.” tambah Baekhyun.

Tubuh Chanyeol bergetar melihat apa yang sedang terjadi. Perasaan kecewa dan marah yang hebat menyatu dalam dirinya. Bagaimana bisa Baekhyun berani menunjukkan wajahnya di depan dirinya dan Eunsung atas apa yang diperbuatnya selama ini? Bagaimana bisa Baekhyun tersenyum seperti itu? Bagaimana bisa namja sialan itu mengatakan maaf dengan mudahnya? Bagaimana bisa dia mengatakan jika dia juga merindukan Eunsung? Ada apa dengannya? Apa dia gila?

Chanyeol mengatur nafasnya berusaha bersikap tenang. Hal tersebut berdampak negatif, tidak menghasilkan apapun. Namja ini benar-benar tidak tahan lagi. Dia segera bangkit dari tempanya duduk lalu mendekati dua orang yang sedang berpelukan itu.

Beberapa orang yang ada di restaurant termasuk Luhan tidak mengerti dengan apa yang terjadi, beberapa dari mereka menghentikan aktivitas yang mereka lakukan karena hal ini. Melihat Chanyeol berjalan mendekati kedua orang tersebut membuat mereka yang menyaksikan semakin penasaran dengan apa yang akan terjadi selanjutnya.

Chanyeol menghembuskan nafasnya berat. Dia mengangkat kedua tangannya lalu….

Lalu namja bernama Chanyeol ini memeluk sekaligus Baekhyun dan Eunsung. Memang benar jika saat ini Chanyeol sangat marah dengan Baekhyun karena perbuatannya tetapi dia tidak bisa mengelak jika dia benar-benar merindukan sahabatnya, sahabat baik nya. Baekhyun selalu peduli dan baik terhadap nya. Apa karena perbuatan Baekhyun yang membuatnya marah dan benci dapat menghentikan perasaan rindunya terhadap Baekhyun? Sepertinya tidak.

“Hey bajingan, darimana saja kau?” Chanyeol membuka mulutnya.

Baekhyun terkekeh mendengar apa yang dikatakan sahabatnya. Perasaan apa ini? Apa sahabatnya menerima nya kembali?

“Kami benar-benar merindukanmu.” tambah Chanyeol.

*****

Busan Mega Hotel, Chanyeol’s room.

“Ya! Sebenarnya apa yang terjadi diantara kalian?” Luhan membuka mulutnya.

Eunsung, Baekhyun dan Chanyeol hanya bisa diam dan mengalihkan pandangan. Mereka bingung bagaimana menjelaskan nya kepada Luhan.

“Aku tidak mengerti tapi melihat ekspresi kalian, sepertinya sangat rumit.” Luhan menatap ketiga wajah mencurigakan tersebut.

“Mianhae hyung, aku ingin mencari udara segar.” Baekhyun berdiri dari sofa tempatnya duduk, dia membungkukkan badannya lalu pergi.

“Baekji-ya! Udara di sini tidak cukup segar?” Luhan bingung melihat perbuatan yang dilakukan sahabatnya, jendela dan pintu beranda kamar ini dibuka lebar seharusnya udaranya sudah sangat segar.

“Aku juga. Mian Luhan gege.” Eunsung tersenyum kikuk lalu segera keluar dari kamar Chanyeol.

Eunsung membuka pintu lalu tersenyum melihat sosok seseorang. Yeoja ini segera menutup pintu kamar Chanyeol.

“Kau menungguku?” Eunsung tersenyum.

“Bisakah kita berbicara sebentar?” tanya Baekhyun.

“Baiklah. Dimana?” tanya Eunsung.

“Dipantai.” Baekhyun tersenyum.

*****

Haeundae Beach                                                                                      

“Cuaca nya sangat bagus bukan?” tanya Baekhyun membuka pembicaraan.

“Ne. Choa.” balas Eunsung.

Suasana kembali hening. Kedua orang ini kembali melihat pantai yang indah dihadapannya.

“Apakah Sand Festival sudah berakhir?” tanya Baekhyun lagi.

“Sepertinya sudah.”

“Sayang sekali aku tidak melihatnya.” kekeh Baekhyun.

“Datanglah kembali tahun depan.”

“Aku tidak tahu apakah akan kesini lagi tahun depan.”

Suasana kembali awkward. Kali ini Eunsung dan Baekhyun memandang dan memberikan senyum satu sama lain.

“Kau sama sekali tidak berubah. Hanya gaya bicaramu sedikit berubah.” Eunsung membuka pembicaraan.

“Ah ini karena aku tinggal diluar negeri dan kembali kesini jadi logat ku sedikit aneh.” Baekhyun terkekeh.

“Kau juga tidak berubah.” tambah Baekhyun.

“Eunsung-ah, maafkan aku karena pergi begitu saja dan mengacuhkanmu.” Baekhyun langsung mengatakan apa yang sudah dipendamnya sejak tadi.

Eunsung hanya bisa diam. Yeoja ini mencoba untuk tersenyum.

“Kau pasti banyak mengalami masa-masa yang sangat sulit.” tambah Baekhyun. Dia bahkan tidak berani menatap mata Eunsung.

Angin berhembus melewati tubuh Eunsung dan Baekhyun. Hening. Tidak ada suara. Tidak ada pembicaraan.

Eunsung menghembuskan nafasnya berat, dia tersenyum kecil.

“Baekhyun-ah aku….”

Baekhyun menoleh, memberanikan diri menatap Eunsung.

“Aku percaya padamu.” tambah Eunsung.

DEG! Jantung Baekhyun berdetak. Apa maksud perkataan Eunsung? Hal itu membuatnya bingung tetapi dia senang mendengarnya.

“Meskipun sulit tetapi aku selalu percaya kepadamu. Aku tidak mengerti dengan apa yang kau lakukan tetapi aku yakin pasti ada alasan dibalik semua itu dan aku juga yakin jika tujuanmu bukan untuk menyakitiku.” Eunsung berusaha tersenyum, bersikap keren di depan Baekhyun tetapi sepertinya hal tersebut tidak berhasil. Beberapa tetes air matanya jatuh mengingat luka lama. Dengan cepat yeoja ini menghapus air matanya.

Baekhyun terkejut mendengar semua kalimat yang dikatakan Eunsung. Jantungnya berdetak sangat kencang. Mata namja ini mulai berair. Kenapa Eunsung melakukan semua ini? Kenapa Eunsung tidak membencinya? Ada apa dengannya?

“Lagipula, kau tidak sepenuhnya mengacuhkanku.” tambah Eunsung.

“Terima Kasih karena kau memperhatikan design-design yang aku posting di social media dengan berpura-pura menjadi Kim Hana, seseorang yang sudah kuanggap seperti dongsaengku sendiri. Dia selalu hadir disaat aku benar-benar membutuhkan seseorang, dia juga sangat peduli dan mengerti aku.” Eunsung menatap Baekhyun. Kali ini dibiarkannya air matanya mengalir. Dia benar-benar tidak peduli. Entahlah apa yang sedang terjadi pada perasaannya dia benar-benar tidak mengerti.

“Eunsung-ah bagaimana bisa kau?” Baekhyun terkejut mendengar penjelasan Eunsung.

“Luhan gege tadi meminjam handphone ku untuk menelfon mu.”

Baekhyun mentap Eunsung. Dia tidak melakukan apa-apa. Dia membiarkan Eunsung seorang diri dalam tangisnya. Namja ini tidak berani untuk menghibur atau menenangkan yeoja itu karena penyebab Eunsung seperti itu adalah dirinya.

“Baekhyun-ah, kenapa kau lakukan itu? Kenapa kau berpura-pura menjadi Kim Hana?” Eunsung menatap Baekhyun.

Baekhyun menatap kedua mata Eunsung.

“Karena aku tidak bisa berhenti memikirkanmu. Aku benar-benar khawatir dengan apa yang terjadi padamu. Karena itu aku berusaha untuk dapat menghubungimu tetapi bukan dengan identitas asliku.” Baekhyun mengalihkan pandangannya dari mata Eunsung.

Eunsung tidak mengeluarkan pendapatnya tentang apa yang dikatakan Baekhyun.

‘Baekhyun memilih pergi mungkin karena dia tidak bisa lagi menahan diri melihat penderitaan Chanyeol, sahabat terbaiknya. Dia juga tidak bisa melakukan apapun karena tidak ingin menyakiti perasaan yeojachingunya. Baekhyun berada di posisi yang sangat sulit. Karena itu, lebih baik dia kehilangan keduanya daripada memilih satu pihak dan membuat satu pihak yang lain menderita.’

Eunsung tersentak mengingat apa yang dikatakan Kyungsoo kepadanya tiga tahun lalu, ketika Baekhyun pergi meninggalkan segalanya: keluarga, sahabat dan juga yeojachingunya.

“Baekhyun-ah, maafkan aku…. kau melakukan ini semua karena keegoisan ku…”

“Eunsung-ah….”

“Jadi jangan pernah menyalahkan dirimu sendiri atas semua yang terjadi.” air mata Eunsung kembali mengalir dari kedua matanya.

“Maafkan aku… karena aku kau mengalami banyak melewati banyak masa-masa yang sulit.” tambah Eunsung sambil berusaha tersenyum.

Satu….. dua…. tetes air mata Baekhyun mengalir dari salah satu matanya. Dia tidak dapat menahan emosi nya lagi. Tubuhnya bergetar mendengar semua yang di ucapkan Eunsung.

Ada apa dengan Eunsung? Kenapa dia sangat bijaksana? Apa sifatnya berubah seiring berjalannya waktu?

Tidak, Eunsung tidak berubah karena sejak aku pergi, dia tetap berusaha menghubungiku dan menganggapku tetap miliknya. Dia selalu menulis email ucapan ulang tahun dan di hari anniversary kami tetapi dia tidak mengirimkannya untukku, aku bisa mengetahui nya karena aku tahu password emailnya dan selalu memata-matainya.

Kenapa Eunsung-ah? Kenapa kau melakukan ini? Kenapa kau sangat mempercayaiku? Kenapa kau sangat peduli kepadaku?

Apa karena kau sangat mencintaiku?

Ah tidak mungkin, dia menyukai Chanyeol. Hanya Chanyeol yang dia sukai. Dia selalu merasa tidak nyaman jika Chanyeol jauh darinya.

Aku meninggalkannya agar dia bisa bersama Chanyeol. Tapi kenapa? Bahkan sampai sekarang mereka tidak berpacaran. Chanyeol dan Eunsung memang sama-sama memakai gelang couple Kerang Cowry. Tapi tetap saja, Eunsung sudah berjanji pada Kim Hana jika dia memiliki namjachingu maka dia akan segera memberitahu Kim Hana. Bahkan hingga kemarin siang sebelum Luhan hyung menelfonku, dia tidak memberi kabar apapun. Itu tandanya dia bukan yeojachingu Chanyeol bukan?

Aneh. Kenapa semua jadi seperti ini? Apa karena Eunsung mencintaiku sejak dahulu kami masih bersama hingga saat ini? Jadi, dia tidak mencintai Chanyeol? Benarkah? Tapi……

“ARRGGGHHHHH!” teriak Baekhyun frustasi sambil menjambak rambutnya dengan kedua tangan miliknya.

Orang-orang disekitar pantai mengalihkan perhatiannya kepada Baekhyun.

“Baekhyun-ah gwenchana?” tanya Eunsung panik melihat apa yang dilakukan Baekhyun.

“Hah?” Baekhyun tersadar dari perang antara hati dan logikanya. Dia bingung melihat banyak orang yang menatapnya.

“Gwenchana?” tanya Eunsung lagi.

“Ne.” Baekhyun mengangguk cepat. Keringat dingin mengalir dari pelipis Baekhyun.

“Baekhyun-ah ayo kita ke klinik terdekat.” Eunsung panik melihat kondisi Baekhyun. Dia menaruh tangannya di jidat Baekhyun, memeriksa suhu tubuh namja ini.

“Eunsung-ah…” Baekhyun memegang telapak tangan Eunsung yang ada di jidatnya lalu dengan lembut menjauhkan telapak tangan itu dari wajahnya.

“Bisakah kita…” Baekhyun menarik nafas panjang. Dia benar-benar tidak peduli dengan apa yang terjadi, saat ini dia akan melakukan apapun yang dia inginkan meskipun itu di luar logika nya.

“Bisakah kita bersama lagi?” tanya Baekhyun tegas. Tidak ada keraguan dari wajah namja ini.

Eunsung tidak berkutik sama sekali mendengar apa yang baru saja Baekhyun katakan.

“Aku tahu ini sangat mendadak tapi aku benar-benar tidak bisa menahan ini semua. Kita masih saling peduli satu sama lain. Bisakah kau kembali lagi kesisi ku?” Baekhyun hanya fokus kepada mata Eunsung.

Baekhyun dan Eunsung saling melempar pandangan satu sama lain. Suasana berubah menjadi diam, tidak ada seorangpun yang mengeluarkan suara.

“Baekhyun-ah ada apa denganmu? Bukankah ini yang kau inginkan?” Eunsung membuka mulutnya.

“Ne?” balas Baekhyun spontan.

“Apa kau tidak ingat isi pesan yang kau tinggalkan saat pergi? Kau bilang ‘ada orang lain yang sangat mencintaimu, hiduplah bahagia bersamanya’.” lanjut Eunsung.

“Aku sedang berusaha untuk hidup bahagia bersamanya, karena itu aku—”

“Aku tidak memintamu untuk menjawab saat ini.”potong Baekhyun.

“Sekali lagi aku meminta maaf atas perbuatan bodohku. Saat ini, aku hanya ingin kau mengikuti kata hatimu. Jika memang akhirnya keputusan mu menolakku, aku menerimanya tapi jangan jawab saat ini juga karena kau berfikir mengikuti logikamu.” Baekhyun berkata dengan tegas, matanya tetap fokus pada Eunsung.

“Aku pergi…” Baekhyun segera meninggalkan Eunsung yang terdiam.

Eunsung menatap pundak Baekhyun yang semakin menjauh.

DEG!

Melihat punggung Baekhyun yang semakin menjauh Eunsung merasa kembali perasaan saat namja itu pergi. Apa dia akan pergi lagi dan meninggalkan Eunsung? Apa yang harus Eunsung lakukan?

“Baekhyun-ah kajima…. jebal dorawa…..”

*****

Busan Mega Hotel, Baekhyun’s room

Ada apa denganku? Kenapa aku seperti ini?

Baekhyun tidak bisa berhenti memikirkan apa yang baru saja dia katakan kepada Eunsung. Dia merasa bersalah dengan apa yang dilakukannya, di satu sisi dia merasa lega karena bisa menyampaikan keinginannya. Mata sipit namja bertubuh mungil ini terbelalak saat melihat seseorang yang sangat di kenalnya duduk di sofa kamarnya sambil menonton tv.

“Ah perusahaan mu baik sekali memberikan kamar vvip seperti ini. Aku iri.” Chanyeol mengedipkan sebelah matanya kepada Baekhyun.

“Ah pasti Luhan-hyung sudah menceritakan semuanya kepadamu.” kekeh Baekhyun.

“Meskipun tinggal di tempat terbaik di bumi ini tetap saja yang terbaik adalah rumah.” Baekhyun memberikan sebuah kopi kaleng kepada Chanyeol.

“Eo kau benar.” Chanyeol menerima kopi kaleng dari Baekhyun.

Kedua namja ini diam menikmati kopi. Bukan karena kopinya enak tetapi karena tidak tahu harus mengatakan hal apa setelah berpisah cukup lama. Mereka tidak lagi seperti dulu. Suasana sedikit awkward.

“Bagaimana rasanya tinggal di Singapore?” tanya Chanyeol memecah keheningan.

“Makanannya enak, orang-orang nya ramah, lingkungannya juga nyaman. Yang paling penting adalah tidak ada musim dingin hahaha jadi aku tidak pernah kedinginan disana.” kekeh Baekhyun.

“Hah itu membuatku semakin iri dengamu, terkadang aku juga ingin merasakan bagaimana tinggal di luar negeri.”

“Sudah kukatakan akan lebih nyaman tinggal dirumah. Biar bagaimanapun aku terkadang merindukan Korea. Padahal sebelumnya aku sangat keberatan untuk kembali kesini tetapi setelah disini aku merasa rasa rinduku sedikit terobati.” balas Baekhyun.

“Keberatan?” tanya Chanyeol.

“Eo.”

“Wae?” Chanyeol bingung.

Baekhyun menatap mata Chanyeol. “R-A-H-A-S-I-A.”

Chanyeol tersentak melihat tingkah yang baru saja Baekhyun lakukan.

“Ya! Berani-beraninya kau! Setelah pergi lama kau berani bertingkah seperti ini kepadaku, huh?” Chanyeol mengapit leher Baekhyun dengan sikutnya dan memberikan beberapa jitakan kepada namja malang ini.

“Ya! Ya! Ya! Appo….” teriak Baekhyun kesal.

“Ya! Gunakan hapkindo mu untuk melawanku.” Chanyeol melepas Baekhyun.

“Kau bukan lawan yang pantas untukku.” Baekhyun menatap Chanyeol rendah.

“Aigo jinjja! Ya! Dasar kau sama sekali tidak berubah.” Kekeh Chanyeol.

“Bagaimana bisa berubah kita baru bertambah 3 tahun. Payah.” Balas Baekhyun.

“Aigo! Dengan tindakan mu seperti ini, kenapa aku tidak bisa membencimu?” kekeh Chanyeol.

“Hah?”

“Hmmm dari hatiku yang terdalam aku sangat ingin membencimu, hanya saja aku tidak bisa melakukannya. Entah kenapa….” Chanyeol menatap Baekhyun.

“Mianhae.” Baekhyun membuka mulutnya.

“Hah?”

“Aku minta maaf karena pergi begitu saja dan mengacuhkanmu lalu kembali seperti ini.” lanjut Baekhyun.

“Ya! Byun Baekhyun ada apa denganmu? Kenapa kau kaku sekali kepadaku? Ya! Kita ini namja dewasa. Masa lalu biarlah berlalu, tidak perlu dibahas lagi. Yang jelas aku sangat senang karena aku bisa bertemu sahabatku lagi.” kekeh Chanyeol.

“Ah aku lupa menghubungi Yixing dan Kyungsoo kalau kau ada di Busan. Bagaimana kalau aku telfon mereka sekarang?” Chanyeol mengeluarkan handphone nya bersemangat.

“Kau masih berhubungan dengan Yixing dan Kyungsoo?” tanya Baekhyun terkejut mendengar dua nama sahabatnya saat duduk di universitas.

“Kau gila ya? Mereka juga sahabatku. Lagipula aku dan mereka bekerja di perusahaan yang sama.” kekeh Chanyeol.

“Chanyeol-ah…” Baekhyun menatap Chanyeol dengan tatapan serius.

“Wae? Kenapa kau menatapku seperti itu?” Chanyeol merasa tidak nyaman dengan pandangan Baekhyun.

“Bolehkah aku memiliki Eunsung lagi?” Baekhyun menatap mata Chanyeol. Namja ini tidak siap dengan reaksi sahabatnya tetapi bagaimanapun juga dia tetap harus menyampaikannya karena ini yang diinginkannya.

Tubuh Chanyeol membeku. Apa apa dengan Baekhyun? Apa dia menginginkan sebuah perang? Chanyeol datang kemari untuk kembali bertemu dan menghabiskan waktu dengan sahabatnya. Kenapa dia tiba-tiba membahas Eunsung? Jangan Baekhyun-ah, jangan membuka luka lama.

“Mwo?” Chanyeol menatap Baekhyun sinis membuat namja itu semakin tidak nyaman.

“Mianhae. Aku tidak bisa terus membohongi diriku. Aku mencintai Eunsung dan ingin bersamanya.” balas Baekhyun tanpa ragu.

Chanyeol diam. Namja ini mengalihkan pandangannya ke beranda kamar Baekhyun yang terbuka. Disana dia melihat awan putih dan pemandangan biru langit. Hal itu sedikit meredam amarahnya.

“Aku tahu aku tidak pantas berbicara seperti ini setelah melakukan hal tersebut. Tetapi aku melakukan hal tersebut karena kebodohanku yang tidak menyadari suatu hal dan juga karena tidak tega melihat penderitaan sahabatku, yaitu kau.” Baekhyun kembali membuka mulutnya.

Chanyeol menghembuskan nafas berat dari mulutnya. Dia kembali memberikan pandangannya kepada Baekhyun.

“Baekhyun-ah biar aku pertegas…. Apa kau pergi begitu saja demiku? Agar aku tidak terlihat menyedihkan?”

“Baiklah aku berterima kasih atas niat baikmu karena sangat peduli padaku. Tapi maaf, aku tidak pernah menginginkan pengorbanmu Byun Baekhyun.”

“Kau mungkin tidak menyadarinya tetapi Eunsung benar-benar sangat menyayangimu saat itu. Mungkin aku sering mengganggu hubungan kalian atau kau merasa Eunsung menyukaiku karena aku selalu ada di dekatnya atau karena dia selalu mendekatiku. Baekhyun-ah, dia melakukan itu karena dia sudah menganggapku seperti ‘oppa’ bukan karena dia menyukaiku.”

“Aku menyadari bagaimana perasaanmu…… Kau pergi agar aku bisa bersama Eunsung bukan? Agar kami berdua bisa bahagia bersama?”

“Baekhyun-ah kenapa kau berbohong pada dirimu sendiri?”

“Saat itu kau memiliki yeoja yang sangat kau sayangi. Seharusnya kau menjalin hubungan yang baik dengannya. Tidak usah menghawatirkanku karena seiring dengan berjalannya waktu aku pasti dapat merelakan Eunsung dengan mu dan menemukan yeoja lain.”

Semua yang dikatakan Chanyeol membuat tubuh Baekhyun membeku. Namja ini tidak dapat berkata apapun. Semua yang dikatakan Chanyeol itu…… benar.

“Tapi semua berjalan tidak sesuai dengan keinginan mu. Kau pergi begitu saja dan meninggalkan Eunsung yang menderita dengan pikiran tentangmu. Apakah kau pikir aku hanya diam saja? Tidak Baekhyun-ah. Aku selalu berusaha untuk membuat Eunsung bahagia dengan segala yang bisa kulakukan. Meskipun membuatnya bahagia tidaklah mudah.” Chanyeol kembali membuka mulutnya.

“Setelah semua yang kulakukan kepada Eunsung. Dengan mudahnya kau datang padaku dan meminta Eunsung kembali?” Chanyeol menatap Baekhyun tajam.

“Jinjja Byun Baekhyun! Apa kau tidak memiliki perasaan?! Kau tidak merasakan bagaimana diposisiku!” gertak Chanyeol.

“Mianhae, saat ini yang aku inginkan adalah Eunsung. Aku mencintainya dan dia mencintaku. Apakah salah jika aku bersama lagi dengannya? Seperti yang kau katakan, seiring berjalannya waktu kau akan merelakannya dan menemukan yeoja lain.” Baekhyun menatap Chanyeol.

Chanyeol tersentak mendengar kalimat yang baru saja dikatakan Baekhyun. Hatinya bagaikan di tusuk oleh banyak benda tajam, sangat menyakitkan.

“Jadi kau ingin bersaing denganku?” tanya Chanyeol.

“Bersaing?”

“Baiklah kita bersaing. Aku tidak akan berhenti sampai Eunsung memutuskan dia ingin bersama aku atau kau.” Chanyeol mengarahkan jari telunjuknya kepada Baekhyun.

“Dan aku tidak akan memposisikan diriku sebagai sahabatmu tetapi sebagai orang yang mencintai Cha Eunsung.” mata bulat dan hitam Chanyeol menatap mata Baekhyun.

Namja bertubuh tinggi ini berdiri dari sofa tempat nya duduk lalu menatap tajam sahabatnya.

“Baekhyun-ah, aku tidak ingin kehilangan sahabatku lagi karena itu bersainglah sebagai seorang namja.” Chanyeol berjalan menuju pintu kamar Baekhyun.

“Ah satu hal lagi.” Chanyeol membalikkan badannya lalu mendekati Baekhyun yang terdiam di sofa.

“Kau tau kan aku tidak suka kekerasan tapi….”

BRUG

Satu pukulan keras mendarat di perut Baekhyun.

“YA!” teriak Baekhyun terkapar di lantai sambil memegang perutnya.

“Hehehe itu karena kau pergi begitu saja tiga tahun lalu. Annyeong.” Chanyeol segera berjalan menuju pintu kamar Baekhyun lalu segera meninggalkan kamar namja malang tersebut.

“Apa yang aku lakukan benar? Kenapa aku sangat kawatir?” Chanyeol menggaruk kepalanya. Dia merasa benar-benar aneh dengan apa yang terjadi padanya. Entahlah, dia selalu lemah di hadapan Baekhyun.

Chanyeol mengeluarkan handphone dari kantong celana pendeknya. Lalu mencari kontak seseorang yang ingin di hubunginya.

‘Eo Chanyeol-ah wae?’

“Kyungsoo-ya, beritahu ini juga kepada Yixing. Baekhyun ada di Busan.” balas Chanyeol kepada seseorang diseberang.

**TBC**

8 responses to “[Freelance] The Best for Someone Who I Love 2 (Part 12)

  1. NICE!! DAEBAK!1 (y)
    Lanjutin terus…secepetnya..penasaran dgn cerita selanjutnya

  2. aaaah….
    aku sampe lupa sama cerita ini,,
    maaf ya , aku gak tau kalo udah ada update baru
    dulu aku baca cma sampe part 9
    hehehe

  3. Aku khawatir.. kalau kalian berdua bersaing.. aku rasa baek menang.. huaaa😢😢 bang Chaaan.. sama aku aja yuk dripda sakit terus😆 update seceptnya ya thor.. aku harap endingnya baka adil ya untuk ketiganya.. aku nantiin banget nih 😀

  4. Pingback: [FREELANCE] The Best for Someone Who I Love 2 (Part 14) | SAY KOREAN FANFICTION·

  5. Pingback: [FREELANCE] The Best for Someone Who I Love 2 (Part 15/END) | SAY KOREAN FANFICTION·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s