[CHAPTER] DAY DREAM- BECAUSE I MISS YOU TODAY #12 (APPLYO)

daydream1

Title: Day Dream – Because I Miss You Today #12 by APPLYO

Author: Applyo (@doublekimj06)

cast:

– Kim Jongin

– Yoon Ji  Hyun

Genre: Romance, Marriage Life, Drama.

Lenght: Multichapter  

Rate:  PG-15

Poster by ken-ssi @ ART Fantasy

TeaserChapter 1 Chapter 2 – Chapter 3 –Chapter 4 – Chapter 5 –Chapter 6A – Chapter 6B – Chapter 7 – Chapter 8 – Chapter 9 – Chapter 10 – Chapter 11A  – Chapter 11B

I waited and waited for you and I cried a lot
Because I know it won’t work even if we meet again
I waited and waited for you
I really hate you so much
But I hate myself for still crying and laughing because of you alone
[PLAY -> Davichi – Because I Miss You Today]

**

“Apa maumu?”

Tanya Jihyun geram. Mereka tengah berada diatas gedung Apartemen,  menatap satu sama lain tanpa berbuat apapun. Sudah hampir setengah jam berlalu, dan Jongin tidak melakukan apapun selain memandanginya dari bawah kaki sampai ujung kepala.

Melihat Jongin yang tetap dalam posisinya, Jihyun kembali mendesah. Tanpa pikir panjang ia melangkahkan kakinya pelan meninggalkan Jongin. Karena percuma saja ia berbicara sementara Jongin hanya terdiam memandanginya.

“Apa hubunganmu dengan Luhan?” Suara berat Jongin memaksa Jihyun untuk berhenti dan berbalik menatapnya dengan pandangan meremehkan. Kini Jihyun terkekeh, lalu melipat kedua tangannya di atas dada. “Apa hubungannya denganmu?” Ucap Jihyun santai, melupakan semua yang ia pikirkan sebelumnya.

Jongin balik membalas tatapan Jihyun. Dan ia berjalan pelan menghampiri Jihyun. “Aku serius, Kim Ji Hyun!” Sentaknya tidak sabaran.

“Namaku Yoon Ji Hyun!” bentak Jihyun tak mau kalah.

Mereka berdua mulai terdiam kembali untuk beberapa menit hingga akhirnya Jongin kembali membuka suaranya.

“Apa kau mencintainya?” tanya Jongin pelan.

Ingin sekali Jihyun terkekeh mendengar pertanyaan Jongin barusan, apa Jongin berpikir bahwa ia gadis yang mudah berpindah hati secepat itu?

“Jika aku berkata aku mencintainya, apakah itu berpengaruh padamu?” Jihyun berhasil menahan kekehannya lalu mendelik sebal ke arah Jongin, ia kembali pada sifatnya yang dulu. Angkuh, keras kepala dan selalu menomorsatukan harga diri dibanding apapun.

Jongin melangkah maju lagi, menatap Jihyun sama seperti saat lelaki itu menarik tangannya dari Luhan tadi. Tapi Jihyun sama sekali tidak berminat untuk mundur. “Aku bertanya padamu, apa kau mencintainya?!” Ulangnya lagi hingga jarak keduanya begitu dekat.

“Aku… Aku—” Jihyun tak tahu apa yang ia harus katakan, dan bibir Jihyun berhenti begitu saja saat ia berusaha untuk mengeluarkan kata-kata dan semua itu berlangsung begitu cepat, saat Jongin menarik dagunya, lalu mencium bibirnya kasar membuat semua kata-kata dalam tenggorokannya terletan begitu saja—tergantikan dengan lumatan di bibirnya yang seolah tak ada hari esok untuk melakukannya lagi. Jongin menggerakan kepalanya kesana kemari mencari posisi yang pas untuk terus mencium bibir Jihyun, tangan Jongin terus menekan tengkuk Jihyun untuk memperdalam ciuman mereka.

Jongin mulai mengigiti bibir Jihyun, mencoba untuk memaksa Jihyun tenggelam dalam ciuman panas miliknya, tapi Jihyun sama sekali tak melakukan apapun untuk membalasnya. Dia hanya menutup matanya dan membiarkan Jongin merusak lipstik di bibirnya, tapi tiba-tiba Jongin melepaskan tautan sepihaknya lalu menatap Jihyun nanar.

Gadis itu hanya memundurkan kepalanya, terengah menatap Jongin yang menatapnya nanar.

“Jangan katakan apapun..” Bisik Jongin kecil. Menatap Jihyun penuh harap, tatapan yang semula dingin penuh cela kini terganti dengan tatapan nanar penuh luka.

Jantung Jihyun mulai berlari sekencang petir dan otaknya mulai mengkhianati semua organ tubuhnya. Jihyun tidak bisa mendefinisikan apa yang tengah terjadi saat ini,  pikirannya melayang entah kemana. Ingin sekali ia merangkul Jongin, memeluk pria itu lalu berkata bahwa ia baik-baik saja, bahwa ia amat rindu ciuman pria itu. Tapi….

“Kumohon….. Jihyun.”

Tapi semuanya kembali menggelap, Jihyun berharap apa yang terjadi sekarang adalah mimpi buruknya. Jihyun akan membenci dirinya sendiri jika ia terjatuh lagi dalam pesona milik Jongin. Dan ia akan memastikan hal itu tidak akan pernah terjadi lagi.

“Jangan mencoba melarangku untuk jatuh cinta pada siapapun.” Sentak Jihyun. Matanya membulat, dan nafasnya hampir berhenti. “Kau tak berhak melarangku.” Ucap Jihyun kasar berbanding terbalik dengan apa yang ia rasakan saat ini. Jihyun berjalan mundur perlahan, meninggalkan Jongin yang menatapnya sangat tajam, seolah menariknya kembali untuk jatuh pada pesonannya. Jihyun merutuk cepat, segera ia sadar bahwa –hampir saja ia menghancurkan pertahanannya.

“Ayo makan malam bersama.”

Jongin mendongakkan kepalanya dan merasakan jantungnya berdebar tak terkendali saat wajah dingin tanpa ekspresi dan tatapan mata tajam itu kembali tertangkap oleh lensa matanya.

Jihyun membawa nampan berisikan mangkuk samgyetang (sup ayam) kesukaannya dan salah satunya ia letakan di hadapan Jongin. Jihyun sendiri memposisikan diri duduk di hadapan lelaki itu dan mulai menekuni samgyetang nya. Hembusan napas kecil keluar dari bibir Jihyun sebelum gadis itu memasukkan sesendok samgyetang  panas  ke mulutnya, lalu ia meresapi rasa samgyetang  itu sambil menatap ke arah lain.

Tanpa berbicara sepatah katapun, Jongin menggeser kursinya kasar dan beranjak berdiri. Ia tidak tahan berdiam diri  melihat Jihyun yang memaksakan diri untuk makan di hadapannya— setelah apa yang terjadi hari ini. Gadis itu pasti sedih, dan Jongin cukup tahu bagaimana pintarnya Jihyun menyembunyikan apa yang ia rasakan sebenarnya.

Jihyun memang bukan gadis yang mudah tersulut emosi, Ia hanya selalu berusaha tampak kuat demi harga dirinya itu. Dan sikapnya pada Jongin saat ini… mungkin adalah caranya untuk tidak terlihat menyedihkan.

“Bisakah kau berpura-pura bahwa kita baik-baik saja?” ujar Jihyun memaksa sambil memegangi tangan Jongin.

“Aku tak lapar.”

“Apa aku bertanya pendapatmu?”

“Harusnya aku yang bertanya hal itu padamu!” Sentakan keras Jongin membuat pegangan Jihyun di tangan pria itu terlepas sangat keras. Lalu dengan langkah panjang, Jongin meninggalkan Jihyun yang duduk terpaku di kursinya.

Jongin tahu betapa bodoh sikapnya sekarang. Melukai Jihyun, mengingkari perasaannya, dan membuat dirinya sendiri menderita… ia merasa menjadi pria paling tidak berguna di dunia. Tapi Jihyun seolah tak peduli dengan semua sikap dingin Jongin selama ini, ia tetap tersenyum manis, ia tetap saja diam, kebal ketika Jongin memperlakukannya kasar, bahkan dengan polosnya Jihyun seolah berusaha terlihat baik-baik saja. Hal itu tentu saja membuat Jongin semakin putus asa dan terluka.

Jongin memejamkan matanya, tak mampu lagi membayangkan hal yang membuatnya takut selama ini. Ia menghela napas panjang, memasukkan udara banyak-banyak ke dalam paru-parunya yang terasa sesak sebelum akhirnya ia hembuskan.

Tubuh Jongin menyandar di pembatas balkon apartemennya. Langit malam nampak begitu pucat. Angin yang membekukan bumi kini mulai menerpa wajahnya. Mengirimkan gelenyar dingin itu kedalam tulang rusuknya tanpa permisi.

“Apa aku bersikap terlalu berlebihan? Kehilangan Jihyun tidak akan membuat dunia ini berakhir bukan?” ujar Jongin lemah. Senyum tersungging di wajahnya, senyum miris karena lagi-lagi ia mengingkari perasaannya sendiri. Yah… memang tidak ada jalan lain yang lebih baik selain menjauh dari Jihyun. Dengan cara itu pula Jihyun akan berhenti bersikap bodoh dan memaksakan diri lagi. Gadis itu, pasti hanya akan bersedih sebentar, tapi kemudian ia akan baik-baik saja dan hidup seperti biasa lagi. Ya, Jihyun mungkin telah jatuh cinta padanya, tapi sebelum perasaan itu semakin membesar, Jongin harus segera menghentikannya.

Dengan perasaan yang sulit digambarkan, Jongin berjalan masuk ke kamarnya. Ruangan itu gelap tanpa cahaya dan ranjang besarnya kosong tanpa siluent.

Jihyun pasti masih terdiam di meja makan sedari tadi. Tidak ada Jihyun di ranjangmu lagi Kim Jongin, bagaimana jika kau merindukannya nanti? Pertanyaan itu lagi-lagi menghantui pikirannya. Ya, pertanyaan yang selalu memporak-porandakan keputusannya untuk semakin menjauh.

Ceklek.

Suara pintu terbuka membuat kepala Jongin reflek tertoleh. Dan saat ia melihat ke arah sumber suara yang berada di belakangnya, Jongin terhenyak. Wajah dingin. Mata tajam. Rambut hitam indah sebahunya. Kulit pucat. Tubuh ramping nampak tak memiliki semangat hidup.

“Kim Jongin—” Jongin segera membalikkan badannya . Berusaha bersikap tidak peduli. Ia buru-buru memasukan tangannya kedalam saku.

Dengan tangan di saku celana, Jongin berjalan. Berusaha untuk tidak menengok ke arah Jihyun.

“Berhenti…”

“Kubilang berhenti.”

cutecouple

Mata Jongin membelalak, Tubuh Jongin menegang di hadapan pintu, kaku.

Tidak. Jongin segera menyadarkan dirinya bahwa gadis itu tidak boleh bersikap seperti ini padanya. Perlahan ia melepasakan rangkulan tangan Jihyun di lehernya lalu kembali berjalan, mengabaikan Jihyun yang terus menginterupsi nya.

Tapi saat Jongin hendak melangkah, Jihyun buru-buru berlari menghalangi jalannya. Ia merentangkan tangannya di depan pintu.

“Minggir,”desis Jongin dingin.

Jihyun tak bergeming.

“Yoon JIhyun! Bisakah kau tidak menghalangi jalanku?”

“Apa kau benar-benar tidak mencintaiku lagi?” tanya Jihyun, nada suara gadis itu bergetar. Tapi ia masih mencoba tersenyum. Senyuman palsu yang Jongin ketahui sebagai tanda kesedihan gadis itu.

Jongin tergeragap, ia tidak tahu harus berekspresi seperti apa saat ini. Hatinya sungguh tidak bisa berbohong apalagi melihat wajah terluka Jihyun yang begitu mengiris hatinya sendiri.

Jihyun tersenyum dan ia mulai melepaskan cincin pernikahannya secara perlahan. “Jika iya, maka aku akan berhenti mencintaimu juga …”

Malam ini Jongin kembali tenggelam dalam kubangan alkohol. Ia menari-nari sempoyongan di atas lantai dansa yang berkerlap-kerlip ditemani musik disko remix yang di putar keras-keras menghancurkan telinga. Ia juga di temani seorang gadis sexy di sampingnya.

Jongin belum begitu mabuk, tapi kepalanya terasa sangat pusing. Mungkin karena efek masalahnya yang terlalu berat hingga tiga botol wiskey  kadar tinggi saja tidak cukup untuk menghilangkan masalah-masalah itu dari otaknya.

Kepalanya sungguh terasa berat hingga ia merasa benar-benar ingin meledak.

Seo Minju—gadis yang menemani Jongin minum malam ini  kini terduduk di samping Jongin setelah sebelumnya ia menemani Jongin menari di lantai dansa. Ia duduk di sebelahnya sambil terus mencekoki Jongin dengan gelas alkohol yang sengaja ia sajikan.

“Apa kau benar-benar tidak mencintaiku lagi?”

Jongin memejamkan matanya rapat-rapat. Ingatannya pada peristiwa satu jam yang lalu, lagi-lagi mengoyak perasaannya. Wajah Jihyun, wajah sedih sekaligus terluka gadis itu, dan airmata yang menggenang di matanya… oh sial.. kenapa ia harus mengalami hal seperti ini?

Tangan Jongin menyambar gelas yang berisi wiskey  pemberian Minju dan meminumnya hingga tandas. Tenggorokan dan dadanya terasa panas, tapi tetap saja… tetap saja rasa sakit itu menghantui perasaannya.

“Kau baik-baik saja?” tanya Minju penasaran melihat raut terluka Jongin yang benar-benar mengerikan.

Jongin menggeleng pelan,  lalu menjambak rambutnya sendiri. “Arghtt!!!…” Jongin menggeram sebagai bentuk ke-frustasiannya.

Minju yang melihatnya kini memeluk Jongin dari samping lalu memberikan segelas wiskey  lagi kearah Jongin. Sebagai seorang wanita penghibur, inilah tugasnya, inilah pekerjaanya dan Jongin sama sekali tak begitu menghiraukan kehadiran Minju. Sedari tadi Jongin hanya diam, mengabaikan Minju yang ada disisinya.

Jongin menyandarkan kepalanya di atas meja, lalu ia menghela napas pelan, ia tak tahu apa yang harus ia lakukan agar Jihyun membencinya. Dan Jongin masih cukup sadar saat tiba-tiba Minju mulai menyandarkan kepalanya yang berat di bahunya Dan jemari nakal Minju sudah menjalar di pahanya. Tubuh yang panas karena pengaruh alkohol dan gadis di pelukannya, membuat Jongin tak mampu menahan diri untuk tidak meraih Minju dan membenamkan gadis itu pada ciumannya sebagai pelampiasan.

Jongin meraih bibir Minju lalu mencumbu bibir itu amat rakus tanpa nafsu apalagi perasaan yang berarti. Tapi, baru beberapa menit Jongin tenggelam dalam cumbuan itu tiba-tiba Ia melihat sekilas sosok gadis yang sangat familiar di hadapannya. Sosok itu seolah  pergi terburu-buru saat menyadari Jongin melihatnya. Buru-buru pemuda itu melepas tautannya dengan Minju begitu saja dan beranjak dari kursi tempatnya berada.

Jongin berjalan mengitari semua ruangan di pub itu. Berusaha mencari sosok gadis kurus berambut hitam sebahu dengan sebuah dress pendek yang amat Jongin kenali.

Dan saat Jongin menengok ke lantai dansa ia melihat  sosok itu dan ternyata benar, sosok itu adalah Jihyun.. istrinya.

Ia melihat Jihyun berada diantara orang-orang di lantai dansa. Tubuh gadis itu menari sama gilanya dengan orang-orang disana. Ia bahkan melupakan baju yang ia gunakan saat ini, Membuat pria mata keranjang yang tengah kelaparan seolah mendapat umpan menarik.

“Apa yang Ji Hyun lakukan sebenarnya!!!”  Jongin mengepalkan tangannya kuat-kuat lalu berjalan tak sabaran ke arah Jihyun. Ia menarik kasar gadis itu dan membuat beberapa pria yang menemani Jihyun menari sebelumnya kini tertoleh padanya.

 

“Apa kau pikir hanya kau yang boleh bersenang-senang di tempat ini?!” Jihyun mendorong tubuh Jongin menjauh. Sementara tubuhnya sendiri sudah terhuyung dan hampir saja jatuh jika Jongin tidak segera menahannya. Jongin mendesah lelah dan segera menarik tubuh Jihyun untuk masuk ke dalam mobilnya.

Di dalam pub tadi, Jongin memukul pria-pria yang menemani Jihyun menari hingga tandas. Menimbulkan sedikit keributan—hingga akhirnya dilerai oleh orang-orang. Jongin memaki pria itu dan ia langsung menyeret Jihyun menjauh lalu menggendongnya  karena Jihyun terus menolak ikut dengan Jongin.

Jongin benci Jihyun datang ke pub. Tapi gadis itu sudah mengenal pub sejak dulu, dan setiap kali ada masalah Jihyun pasti akan melarikan dirinya kesana. Dua minggu ini Jongin dan Jihyun terus bertengkar, tentu gadis itu akan memilih pergi ke pub sebagai pelarian.

“Pria  brengsek!!” racau Jihyun di dalam mobil sambil terus memukul Jongin dengan tangannya. Kesadarannya sudah diambang batas karena pengaruh alkohol.

Benar. Jongin memang brengsek. Jongin yang sedikit mabuk membawa Jihyun yang tertidur karena pengaruh alkohol ke apartemennya. Dan rasanya benar-benar menyakitkan mendengar Jihyun memakinya seperti itu.

**

Sejak pertemuan terakhirnya dengan Jongin hari itu, Hyunjo mendadak diam. Gadis itu tidak lagi menghubungi Jihyun ataupun Jongin; dia hanya sibuk bekerja dan mulai kembali menekuni hobi lamanya untuk melukis. Rasa kesal memang selalu ada ketika membayangkan kedua orang itu, namun Hyunjo berusaha sibuk dengan sesuatu yang lain.

Bukan karena ia mengalah atau pun merasa kalah. Bukan, sama sekali bukan. Tidak ada kata kalah dalam kamusnya. Hanya saja, ada perasaan rasional yang membuatnya berpikir bahwa ia terlalu kejam pada Jihyun.

Ia teringat masalalunya, masalalu saat ia bersama Jihyun dulu. Masa lalunya, yang memang cukup menyenangkan jika dipikir kembali.

Hyunjo mengaduk white creamy-nya dengan sendok kecil, kemudian menyeruputnya sedikit demi sedikit. Rasa cream yang cukup manis, membuat lidah Hyunjo sempat menolak rasa manis itu. Karena kenyatannya yang ia pikirkan saat ini bukanlah sesuatu yang manis.

Malah bisa dikatakan pahit.

Hyunjo meletakkan cangkir minumannya kembali ke atas meja dan menumpukan kepalanya pada tangan yang ia lipat di atas meja. Matanya menatap ke luar jendela dengan tatapan menerawang.

Dan otaknya mulai memutar kembali, kenangan masa lalunya.

Ketika itu, Hyunjo dan Jihyun menghabiskan waktu cuti mereka untuk sama-sama menikmati hari penuh kebebasan itu dengan merayakannya—berbelanja dan bepergian sesuka hati mereka—berdua.

Selama perjalananHyunjo tak hentinya menceritakan tentang  Jongin, pemuda yang membuatnya jatuh cinta pada pandangan pertama, pria yang ia temui di rumah sakit tempat ayahnya bekerja. Kala itu Jihyun mendengarkan cerita sahabatnya itu dengan seksama,sesekali menanggapi dengan tawa dan ejekan ringan tentang jatuh cinta pada bocah ingusan.

Dan ketika Hyunjo sudah selesai dengan semua ceritanyagiliran Jihyun yang buka suara. Jihyun mulai bercerita tentang bagaimana perasaannya selama ini pada Junmyeon—yang merupakan temannya di masa perkuliahan dulu, pemuda tampan kaya raya itu memang benar-benar baik padanya tapi Jihyun sama sekali tak pernah merasakan perasaan yang sama pada Junmyeon.

Jihyun mengaku bahwa ia sama sekali tak pernah merasakan jatuh cinta pada Junmyeon. Dan cinta pertamanya adalah seorang pria vokalis band di SMA nya. Dia begitu lucu dan tampan tapi sayang sekali karena pria vokalis itu harus dipindahkan ke Jepang oleh kedua orangtuanya. sejak saat itu—Jihyun tak pernah merasakan perasaan cinta pada pria lain.

Hyunjo turut tersenyum lebarkala ia melihat Jihyun menceritakan isi hatinya yang amat teramat sangat rahasia itu pada Hyunjo. Ia jadi merasa spesial,merasa benar-benar menjadi orang penting.

Kini Jihyun menjadi musuhnya… Yah, tidak ada yang lebih menyedihkan, daripada menjadi musuh dari ‘mantan sahabat’. Dan seperti dalam drama, semuanya akan berubah saat itu menyangkut tentang seorang pria.

Hyunjo mengangkat kembali cangkir white creamy-nya dan menyeruputnya sedikit demi sedikit. Gadis itu sedikit berjengit ketika merasakan bahwa coffee-nya kini sudah tidak lagi hangat, apalagi panas—yang menandakan bahwa ia sudah termenung cukup lama.

Gadis Kim itu melirik ke keluar jendela cafe tempatnya duduk sekarang. Ia baru menyadari, bahwa keadaan langit di luar sana memang sudah sedikit gelap, dengan titik-titik air yang turun dari atas langit sana.

Oh, Hujan. Hyunjo benci itu.

Jadilah gadis itu menghabiskan waktunya di dalam cafe itu, menunggu, hingga hujan di luar sana berhenti.

Takut merasa kebosanan, Hyunjo melirik ke arah kursi di belakangnya yang sudah sepi, awalnya kursi itu di duduki oleh beberapa pelajar yang bercoleteh amat berisik. Tapi nampaknya Hyunjo melamun terlalu lama hingga ia tak sadar bahwa orang-orang yang duduk di dekatnya kini mulai menghilang.

Mata Hyunjo tiba-tiba menyipit seketika, ia merasa melihat sesuatu—ah, maksudnya seseorang. Seseorang yang tampak tak asing baginya di café itu. Lucu, karena tampaknya Hyunjo cukup tahu siapa dia.

Dia, Luhan. Dengan seragam basketnya yang sudah lusuh. Nampak jelas ia barusaja pulang dari acara latihannya.

Hyunjo memincingkan matanya, mengamati pemuda itu baik-baik. Memperhatikan setiap bagian wajah dan tubuhnya dengan tatapan menelisik. Dan ia sadar bahwa Luhan terlihat tampan dengan setelan seragam itu.

Tapi apa yang pemuda itu lakukan  disini?’’ tanya Hyunjo dalam hati.

Akhirnya, Hyunjo bangkit dari kursinya lalu menghampiri Luhan. Ia sedikit tersenyum samar sebelum akhirnya menepuk bahu Luhan dari belakang.

“Lu Han?”

**

Jihyun memeluk bantalnya erat, sangat erat, seraya duduk dan menggulung tubuhnya di atas tempat tidur. Gadis itu menenggelamkan wajahnya dalam-dalam pada bantal. Keadaan kamarnya begitu gelap, tanpa disinari cahaya barang sedikit pun. Ia butuh kesunyian saat ini.

Perasaan Jihyun campur aduk sekarang. Dan jujur saja, ia tidak tahu bagaimana cara mengekspresikan perasaanya saat ini. Hatinya begitu hancur, Ada kalanya Jihyun ingin berteriak sekeras-kerasnya. Atau mungkin menangis sejadi-jadinya. Tapi sayang, tidak ada satu pun yang benar-benar terlaksana untuk saat ini. Ia tidak menangis apalagi berteriak. Ia hanya mampu terdiam dan termenung.

Ia lelah dan setidaknya ia butuh istirahat saat ini.

Jihyun merebahkan tubuhnya perlahan, melemaskan otot-ototnya, sehingga lengannya yang memeluk bantal pun kini perlahan-lahan mengendur, membiarkan bantal tersebut berguling ke samping kanan tubuhnya.

Kini, Jihyun dalam posisi telentang, menatap kosong pada langit-langit kamarnya.

Sejurus kemudian, benaknya memutar kembali kejadian beberapa jam lalu, ketika Jongin dengan entengnya mencumbu gadis lain di pub.

Jihyun terlalu menyukai Jongin.

Namun entah, ia tidak mengerti. Berkali-kali Jihyun berusaha meyakinkan pada dirinya sendiri, bahwa ia dan Jongin tak akan bisa bersama. Ia hanya akan menyakiti Jongin lebih dalam lagi jika ia terlalu egois dan Hyunjo jelas tidak akan baik-baik saja jika ia bahagia.

Jihyun pun ingat betul, bagaimana Hyunjo mencoba menghancurkan kebahagiannya, menghancurkan alasan terakhirnya untuk tetap bisa bersama Jongin, dan sejujurnya Jihyun tahu semuanya. Ia tahu jika Hyunjo yang menabraknya dan alasan kenapa Jongin berubah begitu signifikan akhir-akhir ini adalah karena Hyunjo pula….

Jauhi Jihyun… Atau dia akan semakin menderita.’

Jihyun memejamkan matanya rapat, berusaha untuk menghilangkan bayang-bayang perkataan Hyunjo saat ia menemui Jongin waktu itu. Sesuatu yang seharusnya tidak terjadi jika ia tidak jatuh dalam jerat cinta Jongin.

Jihyun semakin menutup rapat kedua matanya, menghitamkan pengelihatannya, sementara otaknya berusaha keras menghapus semua kenangan—kejadian—‘manis’ antara dirinya dengan Jongin selama ini.

Jihyun berusaha keras melupakan betapa nyamannya ia bersama Jongin, betapa rindunya ia pada Jongin dan-oh, Jihyun harus berhenti memikirkannya lagi sekarang.

Gadis Kim itu membuka matanya dan mengerang kesal.

Dan seketika itu juga sebuah nama terlintas dalam benaknya.

Jihyun terdiam.

Ia punya jawabannya sekarang.

From: Yoon JiHyun

Kim Hyunjo, bisa kita bertemu?

Hyunjo mengerutkan keningnya. Cukup heran, kenapa gadis itu tiba-tiba menghubunginya setelah sekian lama mereka tidak berkomunikasi sama sekali. Namun, Hyunjo mencoba tegar, karena ia tahu ada hal penting yang jelas akan Jihyun sampaikan hari ini. Hyunjo pun segera membalas pesan Jihyun.

 

To: Yoon JiHyun

Kebetulan sekali aku juga ingin menemuimu, Tunggu aku di coffee droptrop.

Hyunjo melangkahkan kakinya masuk ke coffee droptrop siang itu. Gadis itu menatap ke arah bagian dalam coffee droptrop, dan ia menemukan objek yang tengah ia cari itu. Dia duduk membelakanginya di meja paling pojok. Sosok itu masih duduk manis di kursi yang sama seperti dulu saat pertama kali mereka bekerja dan berkunjung ke cafe ini.

Dia—Yoon Jihyun, dengan setelan khasnya yang modern.

Hyunjo menatap punggung Jihyun dalam diam. Lalu, dengan sebuah tarikan napas panjang, gadis itu mulai melangkahkan kakinya mendekati Jihyun. Seraya mengusahakan dirinya agar terlihat tenang.

Bohong kalau Jihyun bilang ia tidak tahu Hyunjo datang. Gadis itu tahu, pasti, apalagi mendengar ketukan hels yang terdengar menggema di coffee droptrop yang sepi. Tapi Jihyun enggan untuk menoleh, apalagi menyapa Hyunjo. Jihyun benar-benar merasa enggan melakukannya, entah mengapa.

Keduanya larut dalam keheningan, hanya saling memandang tanpa suara. Tidak ada satu pun yang ingin membuka mulutnya untuk sekedar berbasa-basi, apalagi memulai pembicaraan.

Jihyun memperhatikan Lattenya yang mulai mendingin. Kemudian mengalihkan pandangannya ke luar jendela, ia merasa bosan hanya diam dalam kebisuan.

kim-tae-hee-

*Wajah kejam Ji Hyun😀

“Kau tahu apa yang selalu orang-orang pikirkan tentang Seoul?” Jihyun mengangkat gelas Latte nya dan tersenyum miris menatap Hyunjo.

Wanita itu hanya menatap Jihyun dengan ekspresi yang tidak terbaca.

“Orang-orang berpikir Seoul adalah kota terburuk, dan ku pikir aku juga sependapat dengan mereka saat ini, Bagaimana bisa aku kehilangan kedua orangtuaku, hidup sebatang kara, kelaparan, di campakan, dan saat aku hamil, aku hampir di bunuh di kota Seoul.” Jihyun tertawa hambar. “Dan di Seoul pula, aku kehilangan sahabatku sendiri.”

“Yoon Ji Hyun,” cicit Hyunjo.

Jihyun bisa melihat genangan air mata di sudut mata Hyunjo. Ia hanya diam dan tidak bergeming. Perasaan sakit ketika Hyunjo mengancam Jongin tempo hari membuatnya berusaha tegar di hadapan Hyunjo saat ini, ia tak akan terbuai oleh airmata kesedihan itu.

“Jihyun—Ma-aafkan aku.” Air mata itu luruh di wajah Hyunjo. Ada luka yang tidak bisa Jihyun jelaskan saat mata Hyunjo menatap matanya. Jihyun tidak mengerti—satu-satunya hal yang bisa ia rasakan saat ini adalah serpihan hatinya yang menghilang ditiup angin.

Ia tersenyum lirih.

“Aku tidak tertarik dengan permohonan maaf setengah hati yang diucapkan oleh pembunuh anakku, kau bitch!”

Jihyun tahu itu cukup melukai Hyunjo. Hyunjo menatap Jihyun tidak percaya—dia mungkin tidak pernah berpikir bahwa Jihyun bisa mengatakan kata-kata menyedihkan seperti itu, karena selama ini ia selalu menganggap Jihyun sebagai sahabatnya yang tidak berdaya dan harus dienyahkan.

Jihyun meremas jemarinya, menahan semua ledakan emosional yang berada di puncak kepalanya.

“Apa kau menyadari arti ucapanmu? Apa kau menyadari apa yang telah kau lakukan padaku? Apa kau tahu betapa menderitanya seseorang karena kau telah memperlakukannya seperti sampah?” mata Jihyun memandang Hyunjo kejam, tapi air mata tetap saja tidak bisa membohongi betapa terlukanya Jihyun karena perkataannya yang tidak berdasar.

Wanita itu hanya diam dan membiarkan air matanya jatuh. Jihyun menggigit bibirnya kelu.

“Pernahkah kau berpikir bahwa aku ini adalah sahabatmu? Pernahkah satu kali saja kau menganggap aku adalah sahabatmu?” Hyunjo mendongkak, berbicara dengan bibir bergetar dan tangis yang pecah.

“Apa itu adil bagiku? Aku melalui banyak hal sendirian dan aku tidak memiliki satu orang pun yang bersedia berdiri bersamaku. Satu-satunya hal yang bisa ku lakukan hanyalah mempertahankan diriku sendiri saat orang lain berusaha mengabaikanku. Aku mencoba melalui semua rasa sakit itu seorang diri dan karena itulah aku bisa duduk berhadapan denganmu saat ini.—“ ada jeda beberapa saat sebelum akhirnya Jihyun meneteskan airmatanya. “—Bukan kau satu-satunya orang yang menderita di sini, Kim Hyunjo,”

Jihyun berusaha mengumpulkan tingkat kewarasannya, ia berusaha untuk tidak terisak dan membiarkan ledakan emosinya membuat ini semakin buruk.

“Ada banyak orang yang menderita di dunia ini, kau tahu?” Jihyun tersenyum lirih dan memandang ke luar jendela, meredam tangisnya setiap kali ia melihat Hyunjo.

“Mereka menderita karena keadaan ekonomi, lingkungan sosial yang kejam dan semua tekanan emosional yang mencekik seluruh sendi kehidupan mereka, harusnya kau bersyukur memiliki semuanya; Orangtua yang menyanyangimu, kehidupan mewah yang bertumpah riah, pekerjaan yang nyaman, dan orang-orang yang tak pernah berpikir negativ tentangmu.”

Kata-kata Jihyun mungkin menyakitkan, tapi ia tahu inilah hal terbaik yang bisa ia katakan pada Hyunjo.

”Aku tahu kau juga ingin menemuiku karena hal ini menyangkut Kim Jongin bukan?”

Hyunjo kembali mendongak dan lagi-lagi menatap Jihyun tidak percaya.

Jihyun menggigit bibirknya dan menarik napas panjang. “Aku mendengar semua yang kau katakan pada Jongin. Aku mendengarnya sendiri saat itu.”

Jihyun tidak bisa menahan getaran pada suaranya dan membiarkan hatinya hancur untuk kesekian kalinya. Ia menggenggam jemarinya, menundukkan kepalanya sedalam yang ia bisa dan tidak terisak di hadapan Hyunjo.

Hyunjo mungkin heran bagaimana mungkin Jihyun bisa mengetahui hal itu. Dan Jihyun bisa menebak dengan jelas hal itu akan terjadi saat Kim Jong In tiba-tiba pergi meninggalkannya pagi hari itu, Jihyun tidak terkejut saat mengetahui Hyunjo yang menabraknya, ia hanya tertawa hambar mengetahui sahabat baiknya adalah orang yang siap membunuhnya, ada hal lain yang lebih membuat Jihyun terkejut yaitu Jongin yang dengan teganya mengorbankan perasaannya hanya untuk kebahagiannya.

Yang jelas tak pasti.

Jihyun sadar bahwa dirinya adalah manusia munafik. Ia bahkan bisa mengucapkan kata ia baik-baik saja pada Jongin dengan wajah tersenyum yang penuh kepalsuan sementara hatinya terluka berdarah-darah.

“Ini maumu? Kau berhasil.” Jihyun tahu dirinya benar-benar menyedihkan. Ia bahkan tidak bisa menemukan kata-kata yang tepat untuk sekedar mengasihani dirinya sendiri.

Jihyun merasakan Hyunjo menarik tangannya dan menggenggamnya dengan erat. Matanya dipenuhi oleh air mata dan bibirnya bergetar. “Ku mohon maafkan aku,”

Jihyun melepaskan genggaman tangannya dan kembali mengumpulkan seluruh kekuatannya. “Permintaan maaf itu tidak akan membuat hidupku jauh lebih baik, kau justru membuatku terlihat seperti pecundang payah, kau tahu?”

Sebutlah Jihyun sebagai manusia sarkastis yang tidak memiliki hati nurani. Ia menyumpahi Hyunjo, berkata kasar padanya dan sama sekali tidak berusaha terlihat seperti seorang sahabat yang baik lagi. Kenyataannya Jihyun lelah dengan semua keadaan ini. Ia hanya lelah dengan hidupnya dan seluruh tekanan emosional ini.

“Kau bahkan tidak mengetahui betapa tersiksanya aku hanya dengan menyadari bahwa aku hamil anak Jongin saat itu.”

Bagaimanapun juga, terlalu sulit membayangkan keadaan Jihyun saat itu. Ia di putuskan oleh pria yang menanggung hidupnya saat itu, lalu di pecat dari perusahaan yang membuatnya hidup, di usir dari apartemen yang ia tinggali, dan yang lebih buruk adalah ia hamil anak dari kekasih sahabatnya  sendiri.

“Tapi kau tahu? Aku tetaplah seorang benalu, seperti yang kau katakan saat itu.” Jihyun terisak dan memeluk dirinya sendiri. “Pada akhirnya aku menyerah. Seperti janjiku saat itu, aku akan mengembalikan semuanya seperti dulu…”

“Jihyun—“

“Ini adalah awal. Benar bukan?”

Hyunjo beranjak dari kursinya dan berlutut untuk memeluk Jihyun.

“Maaf, maafkan aku—maafkan aku—“

Jihyun hanya ingin menyerah dengan hidupnya. Gadis itu hanya tidak ingin semakin terluka hanya karena orang-orang yang begitu ia cintai menangis dan mabuk-mabukan setiap harinya.

Jihyun hanya merasa ingin lenyap. Ia tidak tahu ada berapa banyak hal buruk lagi yang akan ia alami. Jihyun hanya menunggu sebuah hal yang tidak mungkin.

“Ku mohon berhentilah menyakiti Jongin!” Jihyun menyadari satu tamparan keras yang menghantam pipinya. Percuma saja ia memohon jika pada akhirnya ia tetap akan kalah.

“Menikahlah dengan nya dan aku akan memaafkanmu.” Jihyun tersenyum lalu menarik Hyunjo dalam pelukannya. Ini menyakitkan, tapi inilah satu-satunya cara agar ia terbebas dari semua rasa bersalah itu.

**

Jihyun tidak tahu sudah berapa lama ia berada disini, berdiam diri dan terkadang melamun. Gadis itu mengabaikan makan malamnya yang baru saja ia delivery dari sebuah kedai kesukaannya, Mie kacang hitam yang terlihat menggiurkan itupun tak mampu membuatnya merasa baikan seperti biasa—sama sekali tak membuat Jihyun tertarik untuk sekedar menyentuhnya. Tatapan Jihyun lebih tertarik pada amplop coklat dihadapannya, dia lebih suka menatap amplop itu berlama-lama di banding mie kacang hitam yang mengeluarkan kepulan asap menggiurkan.

Saat ini jam menunjukkan pukul setengah tujuh malam, dan Jihyun tak berniat sama sekali untuk menyiapkan makan malam untuk Jongin. Ia malas dan hanya berpikir bahwa Jongin mungkin akan makan diluar atau mungkin ia tak akan pulang hari ini.

Tapi detik berikutnya suara langkah kaki dari arah pintu masuk membuatnya sigap menoleh; Itu Jongin. Dan dia tengah berjalan kearahnya lalu  duduk didepannya tanpa ekspresi, tak lagi ciuman di kening, tak ada lagi senyuman hangat khas Jongin—itu membuat Jihyun kembali sadar jika Jongin mungkin membencinya,

Tanpa berbasa-basi lagi, Jihyun menggeserkan amplop coklat yang ia tatap sedari tadi itu ke arah Jongin. Ia sedikt tersenyum. Senyuman palsu agar ia terlihat baik-baik saja.

“Ini.” Ucap Jihyun serak, Tangannya bergetar seakan ia butuh pegangan untuk berpijak saat amplop coklat itu ia geserkan.

Senyuman di wajah Jihyun luntur begitu pandangannya  beralih menatap Jongin. Pemuda itu menatapnya dingin, tidak ada cinta, tatapan mendamba, hanya ada tatapan benci. Rasanya, Jihyun begitu sedih mengetahui bahwa orang yang dicintainya itu tidak bisa tersenyum sedikitpun saat bersamanya lagi.

Untuk kesekian kalinya, Jihyun terperangkap dalam tatapan milik Jongin. Mata tajam dan iris coklat pekatnya itu seakan menyeretnya masuk kedalam lubang kegelapan tanpa dasar, menyeretnya untuk kembali terjerumus dalam cinta pemuda itu.

“Apa ini-” Jongin berkata sinis, lalu buru-buru membuka amplop coklat itu tak sabaran.

“Maaf….” Jihyun menatap Jongin sayu dan airmata sudah mengembun di pelupuk matanya. “Sepertinya pernikahan kita. Tak bisa berlanjut lebih lama lagi.” Ia menunduk lalu setetes airmatanya jatuh tanpa kata malu, melambangkan kesedihan yang tak mampu ia tahan lagi.

Sementara Jongin, hanya membaca surat yang berasal dari amplop coklat itu. Ia meremas tangannya sendiri hingga buku-buku nya memutih pucat. “Aku mengerti..” ujar pemuda itu singkat. Jongin tersenyum sekilas. Senyuman yang terlalu ia paksakan saat ini.

wpid-img_20150722_113500

Jongin sadar—bahwa sekarang, kehidupannya dan Jihyun benar-benar berakhir. Ia tak mungkin menahan Jihyun lebih lama lagi disisinya— ia sudah membuat gadis itu membencinya dan sekarang ia akan menandatangani kertas sialan itu.

Sebuah gugatan perceraian.

Selama ini, ia bodoh dengan membiarkan dirinya sendiri terluka, lalu sekarang apa gunanya menahan Jihyun disisinya? Jongin harus menerima semua kenyataannya.

Jihyun sudah membencinya dan inilah tujuannya.

Pemuda itu menunduk, memperhatikan abjad-abjad surat itu yang terasa perih untuk ia baca lebih lama lagi. Ia merasa ingin menangis, tapi jika ia menangis maka sandiwaranya selama ini akan terbongkar.

“Aku tak akan pulang malam ini.” Jongin berdiri lalu menandatangani isi surat itu seringan ia melemparkan batu ke atas tanah -setelahnya ia pergi, meninggalkan Jihyun yang masih termenung di meja makan dengan tinta pulpen yang bahkan masih belum mengering. Begitu Jongin menutup pintu, Airmata begitu saja tumpah dari mata Jihyun, gadis itu menangis tersedu-sedu.

Dan Jongin yang belum sepenuhnya pergi hanya mampu meremas tangannya sendiri di balik pintu mendengar tangisan menyakitkan itu di telinganya.

“Maafkan aku..” cicitnya pelan.

eco-kai-knk-20160311-06

Jongin menjambak rambutnya sendiri, merasa frustasi dengan apa yang terjadi. ia melemparkan handphonenya nya ke lantai hingga isinya berhamburan. Pemuda itu langsung merebahkan tubuhnya di lantai ruang latihan. Dengan tubuh telentang dan tangan terentang. Rambutnya basah oleh keringat dan napas lelahnya menderu kencang.

Jongin menghabiskan waktu malamnya dengan menari hingga ia lelah. Sejak sore hingga menjelang pagi ia tak henti melatih gerakan dance-nya hingga engsel lututnya terasa kebas. Tapi, rasa letih di tubuhnya terasa ribuan kali lebih baik daripada rasa nyeri yang masih menggerogoti hatinya saat ini.

Jongin memejamkan mata dan menaruh lengannya menutupi wajah. Pikirannya kembali pada saat-saat dimana ia bersama Jihyun. Mendengar gadis itu menangis di balik pintu. Perasaannya ikut sedih dan ia tak tahu apakah ia akan baik-baik saja setelah ini.

..

to be continue…

Kangen banget nulis ff *.* astagaaaaa~

Maaf, maaf, maaf dan maaf Xd Gatau meski berapa kali ngucapin maaf rasanya gak bisa di maafin u,u lama banget tenggelam *Tenggelam dalaam cinta kai* TT-TT

Semoga suka part ini :v jangan lupa komentar + love nya❤

EX’ACT-ERA

CkRfTsxVEAIA7Sp

credit pic by. knk, captureayi, & owner

65 responses to “[CHAPTER] DAY DREAM- BECAUSE I MISS YOU TODAY #12 (APPLYO)

  1. Mian author jadi siders dulu dari chapter 1 sampe chapter 12 hehe.
    Campur aduk banget thor ff ini, sumpah pengen berenti baca tapi penasaran banget. Aku baper thor sama ff ini *curhat* nda tau lah poko nya next chapter author, fighting!!

  2. kangen banget sama ff ini
    kenapa jihyun malah mau cerai sama jongin padahal dia tau kalau jongin bersikap kayak gitu sama dia karena ancaman hyunjo,kapan mereka bahagia lagi kangen sama momen manis mereka

  3. SUMPAH INI GREGET BANGGEETTT
    JONGIN JIHYUUNNN ASTAGAAA KALIAANNN GEMEESSS BANGEETTTTTTT
    btw ini hyunjo minta maafnya tulus apa kagak?😂😂
    Oke author harus tanggung jawab it made me so suspicious so you must update it ASAP
    hahahahahha😂😂😂😂
    Dont take it seriously✌✌✌😊
    Love u, 😚😚😚😚

  4. Aaaaaaaakkkkkk tidaaakkkkkkkkk kenapa malah jadi seperti ini.
    Kenapa jihyun malah nyuruh hyunjo buat nikah sama jongin,
    dan kenapa ff nya makin mellow ginih,
    author tanggung jawab sedian tisu ya harrrggghhh..
    Kasihan banget sama jongin dan jihyun, semuany gara2 hyunjo yg egois dan ga terima takdir, hrrrrr
    jangan cerai dong, pasangan ter pervert haha masa cerai, klo cerai jongin nikah ajah sama gue, gue ikhlasss…
    Next thor ditunggu banget

  5. Sumpah bacanya bikin naek darah, bikin nangis, bikin sesek di hati. Gue gilaaaaa ama nih ff hahaha…
    Paling sakit ya jadi jihyun, udah mah hidupny sndiri eeehhh malang lg. Jonginn apa lagi kamu ngejauhin jihyun tp liat jihyun sama luhan ehh ngamuk harrrhhh…
    Hayooo moga tobat tuh si hyunjo udah di ceramahin, dasar egois.

    Hahhh knp harus cerai andweeeee jangannnnn

  6. Authooooorrrrr kenapa harus pisaah😥 gila gw baca ni ff sambil nangis jadi semuanya tersakiti gw jadi ikut tersakiti huaaaaa #mulaialay:D
    Di tunggu next chapternya thor jangan lama-lama yaaaa🙂 nice story

  7. sedih banget di chapter ini
    ga rela kalo jongin sama jihyun cerai
    ayo dong hyunjo bersikap baik ke mereka berdua biar bisa bersama, dah cukup nyakitinnya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s