[Freelance] Isn’t Love Story Chapter 1 – Beginning

FIX

Title: Isn’t Love Story Chapter 1 – Beginning

Writen By: Vartstory

Main Character:

Kim Jongin | Jung Jihyun | Park Hyunji | Oh Sehun

Supporting Character:

Yook Sungjae | Park Soo Young/ Joy | Yoon Hyena | Jackson Wang | Do Kyungsoo | Kang Ahra

Genre:

Romance | Friendship | School

Leght:

Chaptered

Suara dentingan bell di sebuah restaurant berbunyi yang sebelumnya diikuti ucapan terima kasih oleh kedua gadis yang berpakaian sebagai pramusaji. Salah seorang dari gadis itu mengeluarkan ponselnya dan mengetikkan sebuah halaman website. Saat halaman website terbuka gadis itu menarik lengan sahabatnya, salah satu dari gadis pramusaji tadi.

“ini.” ucap gadis itu lalu memberikan ponsel itu kepada sahabatnya dan menyuruh sahabatnya itu untuk duduk di salah satu kursi.

“untuk apa?” tanya sahabat gadis itu dengan polos.

“tentu saja untuk mengecek apakah namamu masuk ke dalam daftar penerima beasiswa. Ini cepat cari namamu. Atau biar aku saja yang mencarinya.” gadis itu atau orang biasa memanggilnya Kang Ahra langsung merebut ponselnya dari tangan sahabatnya Jung Jihyun. Yang menurutnya sangat lamban, tidak taukah Jihyun jika sahabatnya ini sangat penasaran dengan hasil beasiswa yang beberapa bulan lalu tesnya diikuti oleh Jihyun.

Ahra pun mulai mengeja nama dari alphabet J lalu mengeja nama dengan marga Jung untuk mencari nama sahabatnya itu “Jung Aeri…Jung Eunjoo….Jung Hannah….Jung…JUNG JIHYUN !!” Ahra langsung berteriak begitu mendapatkan nama Jihyun di daftar penerima beasiswa sedangkan Jihyun hanya  terdiam tidak percaya sambil memandang namanya di layar ponsel Ahra dan saat sadar Jihyun langsung memeluk sahabatnya itu.

“tunggu sebentar, kita bahkan belum mengetahui kau mendapatkan beasiswa di sekolah mana.” ujar Ahra  lalu kembali memfokuskan matanya pada ponsel dihadapannya lalu meng’klik’ nama Jihyun. Dan keluarlah beberapa keterangan tentang Jihyun, mulai dari nama lengkap, tanggal lahir hingga asal sekolahnya. “Ya Tuhan Jihyun kau sangat sangat beruntung”

“kenapa?” sahut Jihyun kemudian mengarahkan pandangannya ke arah ponsel Ahra dan mulai membaca nama sekolah yang tertera di ponselnya. “Empire High School.”

Mata Jihyun membulat saat melihat nama sekolah yang tertera di ponsel milik Ahra. Katakanlah jika Jihyun shock karena mengetahui dirinya mendapatkan beasiswa di Empire. Empire adalah salah satu sekolah terbaik di Korea, hampir semua lulusannya diterima di perguruan tinggi negeri baik itu perguruan tinggi di Korea ataupun di luar negeri. Dan Jihyun juga tahu jika tidak sembarangan orang bisa diterima menjadi siswa di Empire. Untuk menjadi siswa di Empire seorang calon siswa harus melewati serangkaian test mulai dari test tertulis mengenai pengetahuan umum, test IQ, test ishihara (Color Vision Test), psikotest bahkan hingga virginity test.

“Jihyun kau sungguh beruntung, tahukah kau jika Empire adalah sekolah nomor satu di Korea yang rata-rata lulusannya di terima di perguruan tinggi negeri di seluruh dunia tanpa harus mengikuti tes lagi? Belum lagi hampir semua siswa dan siswi disana berasal dari kelas elit. Dan pasti semua pria disana sangat tampan.” Ahra berucap dengan nada berapi-api sedangkan Jihyun yang menjadi lawan bicaranya hanya menanggapi seadanya.

“aku tahu, apa kau lupa jika Sungjae bersekolah disana?” Ah ya Ahra merasa sangat bodoh karena lupa kalau salah satu sahabat Jihyun selain dirinya bersekolah di Empire dan sudah pasti Jihyun mengetahui seluk beluk Empire High School.

“aku lupa jika kau mempunyai sahabat kelas atas yang bersekolah di Empire. Yaa tapi kenapa wajahmu tidak bersemangat seperti itu huh? Kau seharusnya bahagia karena sudah mendapatkan beasiswa di Empire, itu artinya sebentar lagi kau akan pindah dari Gyeonggi dan masuk sebagai siswi Empire.”

Jihyun menghela nafas berat lalu menidurkan kepalanya di meja yang notabene adalah meja untuk pelanggan namun karena saat ini suasana restaurant sedang sepi jadi tidak masalah jika Jihyun sekedar menidurkan kepalanya di meja. “kau tahu bukan bagaimana ibuku, aku takut jika dia tidak mengijinkanku untuk mengambil beasiswa itu “

“aku yakin ibumu mau mengijinkanmu, katakan saja padanya jika lulusan Empire sangat diperhitungkan di dunia kerja selain itu kau juga bisa menaikkan status sosialmu karena kau adalah seorang siswi di Empire, yang artinya tidak ada lagi yang akan meremehkan keluargamu.”

Walau merasa kurang setuju dengan alasan yang diberikan Ahra, dalam hatinya Jihyun membenarkan semua alasan yang dikatakan sahabatnya itu. Jika dia berhasil lulus dari Empire dengan nilai yang memuaskan, pasti tidak akan sulit untuk mencari pekerjaan di perusahaan besar. Dengan begitu Jihyun tidak perlu lagi membiarkan ibunya bekerja keras untuk membiayai hidup mereka.

Suara bell berbunyi, menandakan jika Jihyun dan Ahra harus segera berhenti bercakap-cakap dan melanjutkan pekerjaan mereka sebagai pramusaji di sebuah kedai bubur. Kedai kecil yang hanya memiliki 2 orang pelayan dan seorang pria yang berumur kurang lebih 10 tahun lebih tua dari mereka sebagai pemilik dari restaurant ini.

-o-

Jihyun berjalan menyusuri trotoar jalan menuju rumahnya sambil memikirkan alasan yang tepat untuk dia katakan pada ibunya. Sambil berharap jika Tuhan membantunya kali ini dengan membuat ibunya mengijinkannya untuk mengambil beasiswa di Empire dan pindah ke sekolah elit itu.

Jihyun membuka pagar rumahnya dan melihat lampu rumahnya sudah menyala yang menandakan jika ibunya sudah berada di rumah. Jihyun menarik nafas lalu membuangnya dan menyemangati dirinya “Jung Jihyun semangat!!”

Jihyun pun masuk ke dalam rumahnya dan melihat ibunya sedang melipat beberapa pakaian. “kau sudah pulang?” tanya ibu Jihyun yang dibalas anggukan kecil olehnya.

“Ibu.” panggil Jihyun dan duduk di samping ibunya sambil memainkan jarinya yang merupakan tanda jika dirinya sedang gugup.

Ibu Jihyun pun menengok ke arah Jihyun “Ada apa?” lalu melanjutkan pekerjaannya melipat pakaian.

“Apa Ibu ingat test beasiswa yang aku ikuti beberapa bulan yang lalu?” Sungguh Jihyun benar-benar takut akan reaksi yang akan dikeluarkan ibunya, Jihyun ingat dulu ibunya melarang dirinya berteman dengan Sungjae karena mengetahui Sungjae berasal dari kalangan atas namun saat Sungjae menjelaskan pekerjaan ayahnya yang hanyalah seorang karyawan, ibu Jihyun baru mengijinkan anaknya berteman dengan Sungjae.

Ibu Jihyun berhenti dari kegiatannya, “Iya Ibu ingat. Ada apa memangnya”

“Aku mendapatkan beasiswa itu.” lanjut Jihyun yang langsung mendapatkan respon bahagia dan juga pelukan dari ibunya.

“kau memang anak Ibu yang sangat pintar.”

Jihyun mencoba mengatur kata-kata yang sedari tadi berputar di otaknya sembari berharap jika mendapatkan respon positif dari eommanya. “tapi beasiswa bukan dari Gyeonggi ataupun pemerintah bu.”  Jihyun meyakinkan dirinya sendiri, dirinya sudah sangat mantap akan mengambil beasiswa itu apapun yang terjadi.

“lalu?” Ibu Jihyun langsung menatap anaknya dalam-dalam.

“beasiswa itu berasal dari Empire High School, dan mereka mewajibkanku untuk bersekolah disana setelah aku mengambil beasiswanya.” Mendengar ucapan Jihyun, raut wajah ibu Jihyun berubah menjadi datar. Melihat raut wajah ibunya, Jihyun pun langsung membujuk Ibunya.

“Ibu aku mohon. Ijinkan aku mengambil beasiswa itu. Jika aku mengambil beasiswa itu, saat aku lulus nanti aku akan diterima di perguruan negeri manapun selain itu aku juga akan mudah mendapatkan pekerjaan di perusahaan besar. Dengan begitu Ibu tidak perlu lagi bekerja, dan aku juga akan menaikkan status sosial kita agar tidak ada lagi yang meremehkan Ibu dan aku.”

“kau tahu bukan bagaimana Empire itu? Hampir semua siswa disana adalah anak dari pengusaha, chaebol dan juga pejabat. Dan kau juga tahu jika Ibu tidak menyukai orang-orang seperti itu. Mereka pasti akan meremehkanmu dan menyakitimu jika mereka tahu kalau kau tidak sederajat dengan mereka.”

“Tidak semua siswa Empire seperti itu Ibu, apa Ibu lupa jika Sungjae bersekolah disana? Sungjae pasti akan melindungiku. Ku mohon Ibu, ijinkan aku mengambil beasiswa itu.” Jihyun memandang ibunya dengan tatapan memohon. Bahkan kini air mata sudah menggenang di pelupuk matanya.

“Ibu tetap tidak setuju!” Ibu Jihyun berkata dengan tegas lalu memalingkan wajahnya dari Jihyun dan melanjutkan kegiatannya tadi.

Jihyun menundukkan kepalanya dan mengumpulkan semua keberaniannya, “Ku mohon Ibu, kabulkan permintaanku. Selama ini aku tidak pernah meminta apapun darimu, aku selalu menurut apa yang Ibu katakan. Bahkan aku juga menurut untuk tidak lagi menanyakan siapa ayahku dan juga tidak keluar rumah seperti remaja pada umumnya kecuali untuk sekolah dan bekerja. Dan untuk kali ini saja Ibu, ku mohon.” Jihyun sudah tidak bisa lagi menahan air matanya, dia bingung apa yang selanjutnya dirinya lakukan jika ibunya tetap tidak setuju dengan keputusannya itu.

Ibu Jihyun yang tahu sifat anaknya yang jika ada sesuatu yang diinginkannya dia harus mendapatkannya dan dengan terpaksa menyetujui permintaan anaknya itu, selain itu ucapan Jihyun juga membuatnya terenyuh. Ibu Jihyun membenarkan semua perkataan anaknya, termasuk untuk tidak lagi menanyakan siapa ayahnya.

“Ya baiklah Ibu ijinkan kau mengambil beasiswa itu dan bersekolah di Empire tapi kau harus berjanji pada Ibu akan menghindari semua anak orang kaya yang bersekolah disana.”

Jihyun menganggukkan kepalanya lalu memeluk ibunya, “terima kasih Ibu. Aku menyayangimu.”

“aku juga menyayangimu.” Ibu Jihyun membalas pelukan anaknya, gurat kecemasan terlihat dari wajahnya. Entah apa yang kini dipikirkan ibu Jihyun.

Dan dua hari kemudian Jihyun mengurus beasiswanya di Empire. Karena Ahra harus sekolah dan setelah itu juga harus menjaga restaurant, dengan terpaksa Jihyun datang ke Empire seorang diri. Sebenarnya Jihyun ingin meminta Sungjae untuk menemaninya namun Jihyun belum ingin memberitahu tentang beasiswanya kepada Sungjae.

Saat Jihyun melangkahkan kakinya untuk memasuki Empire, Jihyun bisa melihat perbedaan sekolahnya dan Empire yang sangat jauh. Arsitektur Empire yang indah, fasilitasnya yang mewah dan juga siswa-siswinya yang semuanya diantar jemput oleh mobil-mobil mewah, berbeda dengan Gyeonggi yang mempunyai fasilitas seadanya, arsitektur yang sama dengan sekolah-sekolah lainnya dan juga siswa-siswi yang hanya berjalan kaki dan menaiki kendaraan umum ke sekolah.

Seorang security yang sedari tadi memperhatikan Jihyun yang menurutnya mencurigakan, langsung menghampirinya “ada yang bisa saya bantu nona?”

Melihat security menghampirinya membuat Jihyun menarik nafas lega karena jujur saja, Jihyun benar-benar tidak tau ruangan mana yang harus dia datangi untuk mengurus beasiswanya. Tapi securtiy tersebut memandang Jihyun dengan penuh kecurigaan.

“Maaf, bisakah anda beritahu dimana ruangan Kepala Sekolah berada?” tanya Jihyun namun security itu hanya memandangnya dari atas hingga ke bawah yang membuat Jihyun merasa risih. Namun bukannya menjawab pertanyaan Jihyun atau mengantarnya menuju ruang guru, security itu malah langsung menarik paksa lengan Jihyun dan menyeretnya keluar.

“Yaa ahjussi, lepaskan tanganku.” Jihyun terus meronta agar security itu melepas tangannya namun usahanya sia-sia.

“Lepaskan dia.” suara seorang pria menghentikan security itu untuk menarik tangan Jihyun. Jihyun langsung mengarahkan pandangannya kearah suara tersebut berasal. Dan menemukan seorang lelaki tengah berjalan kearahnya sembari memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana.

“Dia penguntit dari sekolah wanita di seberang jalan.” Mendengar ucapan security itu yang menurutnya fitnah langsung membuat Jihyun membelalakkan matanya. Bisa-bisanya dirinya dikira seorang penguntit, apa penampilannya mirip seperti seoran penguntit? Lagipula untuk apa dirinya menguntit di sini, jika memang akan menguntit Jihyun lebih memilih menguntit para idol bukan warga biasa.

“Yaa aku bukan penguntit, aku datang kesini untuk mengurus beasiswaku.”

Laki-laki itu pun melipat kedua tangannya di depan dada, “Dia bukan penguntit, jadi lepaskanlah tangannya.” Petugas keamanan itu pun terpaksa melepas tangan Jihyun dan pergi sesuai dengan aba-aba pria tadi.

Pria itu menatap penampilan Jihyun, tatapannya sulit diartikan, tatapannya bukan tatapan meremehkan tapi juga bukan tatapan kekaguman. “Jadi kau adalah siswa beasiswa?”

“Iya dan aku ingin mengurus beasiswa itu hari ini namun bukannya memberitahu dimana letak ruang Kepala Sekolah berada, petugas keamanan itu malah menarik paksa tanganku.” Jihyun mengusap tangannya yang tadi di tarik oleh petugas keamanan.

Lelaki itu tersenyum kecil menanggapi ucapan Jihyun dan berjalan mendahului Jihyun “ikuti aku.” ujarnya namun karena tidak mengerti maksud pria itu, Jihyun hanya diam di tempatnya.

Karena merasa jika Jihyun tidak mengikutinya, pria itu pun membalikkan tubuhnya dan melihat Jihyun hanya terdiam di tempatnya “bukankah kau bilang kau ingin tahu dimana ruang Kepala Sekolah?” ucap pria itu yang dibalas anggukan kepala oleh Jihyun.

Jihyun mengikuti pria itu hingga ke ruang kepala sekolah, Jihyun sendiri tidak habis-habisnya berdecak kagum saat melihat interior Empire. Semuanya benar-benar mewah, bahkan Jihyun merasa jika Empire lebih cocok menjadi sebuah mall atau hotel dibandingkan menjadi sebuah sekolahan. Karena terlalu terfokus pada interior Empire, Jihyun tidak sadar jika pria yang mengantarnya sudah menghentikan langkahnya. Jihyun pun secara tidak sengaja menabrak punggung pria itu.

“Ah maaf, aku tidak melihatmu berhenti.” ujar Jihyun sembari menundukkan kepalanya, ini sungguh memalukan.

“Ini ruang kepala sekolahnya.” pria itu menunjuk sebuah ruangan di hadapannya. Ruangan dengan pintu besar bercat putih yang kokoh.

Jihyun membungkukkan sedikit tubuhnya dan mengucapkan terima kasih pada pria yang mengantarnya, “Terima kasih” ujarnya sembari memberikan senyum. Pria yang mengantar Jihyun hanya menganggukkan kepalanya lalu pergi meninggalkan Jihyun.

Sebenarnya Jihyun cukup gugup namun Jihyun tetap memberanikan diri mengetok pintu ruang kepala sekolah, dan sesaat setelah itu Jihyun masuk ke ruangan kepala sekolah. Jihyun duduk di sofa yang memang di khususkan untuk tamu yang datang bertemu dengan kepala sekolah.

“Senang bertemu denganmu nona Jung.” tanpa perlu Jihyun memperkenalkan diri, kepala sekolah tersebut sudah mengetahui jika gadis yang datang ke ruangannya adalah Jung Jihyun, si gadis penerima beasiswa. “Tadi sekolahmu menelpon, jika kau akan datang untuk mengurus beasiswamu. Dan aku ingin mengucapkan selamat karena kau telah menerima beasiswa dari Empire High School, karena ini pertama kalinya Empire ikut bergabung dengan pemerintah untuk mengadakan tes beasiswa untuk siswa kurang mampu bersama dengan sekolah-sekolah lainnya dan kau adalah orang pertama dan terakhir yang menerima beasiswa tersebut.”

Pertama dan terakhir. Tiga kata itu cukup membuat Jihyun penasaran dan mengambil kesimpulan jika Empire tidak akan membuka tes beasiswa terbuka lagi dan disisi lain Jihyun juga bingung karena menurutnya gedung sekolah Empire yang sangat besar ini, masih mampu menerima puluhan atau bahkan ratusan murid beasiswa.

“apa kau membawa berkas-berkasmu?” tanya kepala sekolah tersebut, Jihyun pun langsung mengeluarkan berkas-berkas yang diminta dari dalam tasnya dan memberikannya kepada kepala sekolah yang langsung melihat dan membaca berkas-berkas itu dengan cermat. Beberapa kali kepala sekolah tersebut menganggukkan kepalanya saat membaca nilai-nilai yang diterima Jihyun saat di sekolahnya dulu dan juga beberapa penghargaan yang diterimanya dari setiap lomba yang diikutinya. Kepala sekolah itu kemudian berjalan kearah meja kerjanya dan menyerahkan beberapa kertas yang berisikan data diri yang harus diisi oleh Jihyun. Setelah beberapa menit, Jihyun selesai mengisi data dirinya.

“baiklah yang pertama harus kau tahu adalah beasiswamu sudah termasuk biaya ekstrakulikuler yang wajib kau ikuti. Tapi beasiswamu tidak termasuk dengan biaya seragam. Kau bisa membeli seragammu di butik pakaian khusus sekolah di Apgujeong.”

Butik di Apgujeong. Mendengar nama tempatnya saja Jihyun sudah bisa menebak kalau seragam sekolahnya tidaklah murah. Bagaimana tidak, Apgujeong sendiri terkenal dengan butik-butik mewah dari para brand dan desaigner ternama yang karyanya selalu menarik perhatian baik kaum hawa maupun kaum adam seperti Dolce Gabana, Stella McCartney, Guess, Club Monaco, Giorgino Armani dan masih banyak lagi.

Jihyun keluar dari ruangan kepala sekolah setelah mendengar sedikit penjelasan tambahan dengan wajah bimbang. Apalagi jika bukan tentang seragam sekolahnya yang membuat Jihyun bimbang, saat ini status Jihyun sudah resmi menjadi siswi Empire itu artinya Jihyun harus mengenakan seragam yang sama dengan siswa/i lainnya dan tentunya Jihyun harus mengeluarkan uang yang tidak sedikit untuk membeli seragam sekolahnya. Dan setelah menimbang-nimbang akhirnya Jihyun memutuskan untuk mengunjungi sekaligus melihat harga seragam sekolahnya. Dari Empire yang terletak di Daechi, demi menghemat waktu Jihyun harus menempuh perjalanan menggunakan Seoul Subway di Line 3 untuk sampai di Apgujeong. Sebenarnya Jihyun bisa saja menaiki bus karena Daechi dan Apgujeong sama-sama terletak di distrik Gangnam, namun untuk menghemat waktu Jihyun memutuskan untuk menaiki subway karena setelah ini Jihyun tetap harus bekerja di restaurant. Karena jika menggunakan bus Jihyun harus menempuh perjalanan hampir 1 jam namun jika menggunakan subway Jihyun hanya menempuh waktu setengah jam.

Setelah sampai di butik yang dimaksud, Jihyun hanya terdiam di depan butik tanpa ada niatan untuk melangkahkan kakinya lagi. Melihat bangunan butik yang mewah ‘nyali’ Jihyun langsung menciut, namun Jihyun kembali meyakinkan dirinya sendiri. Saat memutuskan masuk ke dalam butik, Jihyun disambut oleh karyawan butik yang langsung menanyakan barang apa yang Jihyun cari. “Ada yang bisa saya bantu?”

“ah ya aku kesini hanya untuk melihat-lihat.” jawab Jihyun dengan kikuk. Mendengar jawaban Jihyun, wajah karyawan tadi yang semula tersenyum langsung berubah masam.

Jihyun yang tidak memperdulikan karyawan tersebut melangkahkan kakinya untuk mencari seragam sekolahnya, setelah mencari beberapa saat akhirnya Jihyun menemukan seragam sekolah Empire. Ya sepertinya Empire memang sekolah nomor satu di Korea, buktinya saja butik ini sampai membuat ruangan khusus untuk seragam sekolah Empire. Dan hal itu juga terbukti dari harga seragam yang dijual, 500rb won. Tapi itu tidak termasuk seragam olah raga, seragam musim dingin dan seragam-seragam lainnya. Harga untuk sepaket seragam Empire sekitar 1jt won. Dan harga itu cukup membuat Jihyun kesulitan bernafas, bahkan gajinya selama sebulan saja tidak sampai 1jt won.

Sepanjang perjalanan menuju restaurantnya yang terletak di Gwacheon, Jihyun memikirkan bagaimana dirinya bisa mendapatkan 1jt won dalam sehari. Bisa saja Jihyun mengambil uang tabungannya tapi Jihyun tidak tahu apakah uang tabungannya itu cukup dan lagi Jihyun juga bingung mengatakan pada ibunya tentang harga seragamnya yang mencapai 1jt won. Karena mengambil beasiswa Empire dan menjadi siswa Empire adalah keinginan Jihyun, jadi Jihyun menganggap dia yang harus bertanggung jawab atas semua keputusannya.

“kau kenapa terlihat tidak semangat, bukankah tadi kau habis mengurus beasiswamu?” Ahra yang sudah lama mengenal Jihyun sangat afal dengan sifat sahabatnya itu, jika Jihyun hanya diam tanpa mengatakan apapun dan terlihat tidak fokus pada apa yang dikerjakannya pasti ada sesuatu yang sedang dipikirkannya.

“aku bingung Ahra, Empire menanggung semua biaya sekolah dan ekstrakulikulerku tapi tidak dengan biaya seragam.” Jihyun menghempaskan tubuhnya di kursi dan menatap Ahra dengan tatapan menyedihkan, memang benar di dunia ini tidak ada sesuatu yang mudah.

“ya tuhan Jihyun, hanya masalah biaya seragam saja kau sampai seperti itu. Memangnya berapa harga seragamnya?” Jihyun memicingkan matanya saat melihat reaksi Ahra, Jihyun yakin pasti saat ini Ahra menyamakan harga seragam sekolahnya di Gyeonggi.

Jihyun menebak jika setelah dirinya menyebut harga seragam Empire, pasti Ahra akan mengeluarkan reaksi berlebihan “1jt won”

“sa-satu juta won? Yaa jangan bercanda. 1jt won? Ya Tuhan seragam macam apa yang harganya mencapai 1jt won. Itu harga seragam atau harga cicilan rumah?” Reaksi yang berlebihan dari Ahra membuat Jihyun tertawa kecil.

Benarkan apa yang Jihyun pikirkan. Wajar saja reaksi Ahra sebegitu berlebihannya, karena bagi mereka berdua 1jt won bukanlah nominal yang kecil. Seragam sekolahnya di Gyeonggi saja hanya 100 won, tidak sampai setengah dari harga seragam di Empire.

“aku tidak bercanda Ahra.” Jelas Jihyun.

“Aku mempunyai simpanan beberapa ratus won, kau bisa memakainya.”

“Tidak usah, aku tidak mau merepotkanmu. Mungkin selama beberapa hari aku akan memakai seragam Gyeonggi.” Jihyun menggelengkan kepalanya, Jihyun tahu bagaimana perekonomian keluarga Ahra. Ayah Ahra hanyalah seorang pegawai swasta biasa dengan gaji seadanya sedangkan ibunya hanyalah seorang ibu rumah tangga.

“Apa kau yakin?”

“Iya aku yakin, kau tenang saja.” Ucapan Jihyun berbanding terbalik dengan apa yang kini sedang dirasakannya, sebenarnya tawaran Ahra bisa sangat membantunya tapi Jihyun merasa tidak enak meminjam uang dengan jumlah besar kepada Ahra. Dan sekarang yang Jihyun pikirkan ialah bagaimana caranya mencari alasan yang masuk akal kepada gurunya di Empire agar besok Jihyun bisa selamat.

———-

Well gimana chapter 1-nya? Sesuai dengan judul di chapter ini, ini baru permulaan. Di awal cerita pasti ada beberapa yang ngeh soal Jihyun sama Ahra yang kerja di kedai bubur sama kayak BBF. Yep ff ini terinspirasi dari drama Boys Before Flower dan The Heirs tapi dengan banyak perubahan, dan tentunya dengan ending yang tidak terduga kkk. Aku harap kalian terus membaca ff ini dari chapter awal hingga ke chapter selanjutnya, karena di setiap chapternya akan ada beberapa clue tersembunyi yang berhubungan dengan endingnya. Dan yang terpenting, jangan lupa berikan kritik dan sarannya ya ^^

 

17 responses to “[Freelance] Isn’t Love Story Chapter 1 – Beginning

  1. Keren.. Tapi msih penasaran sama co yg nolongin jihyun dri si satpam.. jongin kah? Atau sehun? Atau Kyungsoo??
    Lanjut min..🙂

  2. Maaf karna bru bisa comment skrng. Tpi suka kok sama ceritanya.
    Tu cowok yg bantuin Jihyun spa ya…? Klo gk Jongin ya sehun…

  3. Pingback: [Freelance] Isn’t Love Story Chapter 2 – Met The Heirs | SAY KOREAN FANFICTION·

  4. Pingback: [Freelance] Isn’t Love Story – Heroes? #3 | SAY KOREAN FANFICTION·

  5. Pingback: [Freelance] Isn’t Love Story Chapter 6 – The queen | SAY KOREAN FANFICTION·

  6. Pingback: [Freelance] Isn’t Love Story Chapter 4 – Promise | SAY KOREAN FANFICTION·

  7. Pingback: [Freelance] Isn’t Love Story Chapter 5 – Past | SAY KOREAN FANFICTION·

  8. Pingback: [FREELANCE] Isn’t Love Story Chapter 7 – Dinner | SAY KOREAN FANFICTION·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s