[Freelance] Isn’t Love Story Chapter 2 – Met The Heirs

FIX

Title: Isn’t Love Story Chapter 2 – Met The Heirs

Writen By: Vartstory

Main Character:

Kim Jongin | Jung Jihyun | Park Hyunji | Oh Sehun

Supporting Character:

Yook Sungjae | Park Soo Young/ Joy | Yoon Hyena | Jackson Wang | Do Kyungsoo | Kang Ahra

Genre:

Romance | Friendship | School

Leght:

Chaptered

CHAPTER 1 CHAPTER 2 CHAPTER 3 CHAPTER 4 CHAPTER 5 CHAPTER 6 

 

Hari ini Jihyun memulai harinya sebagai siswi Empire, memang terlalu cepat bahkan kemarin Jihyun sempat kaget saat kepala sekolah mengatakan jika hari ini Jihyun sudah bisa masuk sekolah sebagai siswi Empire. Jihyun pikir proses perpindahannya dari Gyeonggi akan berjalan lama tapi ternyata tidak, sepertinya itu semua karena staff guru di Empire bergerak gesit. Saat mengetahui Jihyun menerima beasiswanya, staff guru di Empire langsung menghubungi Gyeonggi dan mengurus perpindahannya dengan sigap.

Begitu masuk ke area sekolah, Jihyun menatap mobil-mobil mewah yang berjejer untuk mengantar siswa/i Empire. Belum lagi beberapa mobil mewah yang terparkir yang rata-rata di dominasi oleh brand ternama seperti Audi, Chevrolet, Porsche, Mercedez, McLaren. Lihatlah dari brand-brand mobil itu sudah terlihat jika semua yang bersekolah disini adalah anak-anak dari para orang tua yang mengeluarkan uang seperti mengeluarkan tissue yang tidak akan pernah habis.

Tunggu, bahkan sekarang ada sebuah mobil mewah yang sepertinya habis terlibat ‘kebut-kebutan’ di jalan, memasuki area sekolah. Seorang pria berkulit putih dengan rambut coklat dan berahang tegas keluar dari mobil dengan menenteng sebuah tas di salah satu pundaknya sambil menyunggingkan senyum kemenangannya ah Jihyun tahu sepertinya pria itu memenangkan ajang ‘kebut-kebutan’ yang baru saja terjadi. Dan selang beberapa menit tiba lagi sebuah mobil yang sepertinya terlibat ‘kebut-kebutan’ dengan pria tadi karena mobil itu juga memasuki area sekolah dengan kecepatan yang lumayan diluar batas normal yaitu 10km/jam saat memasuki area sekolah sama seperti mobil tadi. Seorang pria dengan kulit agak gelap dan berambut coklat gelap keluar dari mobil dan membanting pintu mobilnya. Jihyun ingat pria itu, dia yang kemarin menolong Jihyun dari petugas keamanan dan mengantarkan Jihyun sampai ke ruang kepala sekolah.

Ah Jihyun juga ingat kedua mobil itu. Dua mobil itu adalah mobil yang tempo hari Jihyun lihat diberita yang sedang menayangkan mobil-mobil sports edisi terbatas yang dijual dengan harga fantastis dan yang pastinya hanya ada satu di Korea. Mobil yang pertama sampai adalah W Motors Lykan Hypersport yang hanya di produksi sebanyak 7 unit, yang tersedia dengan harga $3,400,000 dan yang kedua adalah Lamborghini Reventon yang di produksi sebanyak 20 unit dengan harga $1,560,000.

Sekarang lupakan soal mobil-mobil mewah itu, karena saat ini pria yang kemarin menolong Jihyun sedang berjalan dengan cepat kearah pria berahang tegas yang pertama kali sampai dengan wajah yang sepertinya menahan amarah. Ah bukan sepertinya lagi tapi memang pria itu sedang menahan amarahnya karena setelahnya pria itu menarik bahu pria berahang tegas dengan kasar lalu memakinya.

“Kau gila hah? Lihat apa yang telah kau lakukan pada mobilku bodoh!!”

Jihyun paham sekarang, sepertinya pria berahang tegas itu telah membuat sesuatu pada mobil pria yang menolong Jihyun. Tapi Jihyun sama sekali tidak menemukan raut penyesalan dari pria berahang tegas itu, pria berahang tegas itu malah kini sedang tersenyum sinis.

“Mobilmu? Aku hanya sedikit menabrakkan mobilku dengan mobilmu. Ayolah Kai jangan berlebihan, aku hanya membuat mobilmu tergores sedikit.”

Mobilnya tergores rupanya.

Hei, jangan berpikir jika saat ini Jihyun sedang menguping. Jihyun sama sekali tidak berniat menguping, salahkan kedua pria itu yang berbicara dengan nada tinggi dan berdiri di tengah-tengah pintu masuk membuat lingkaran ‘penonton’ yang menghalangi Jihyun masuk ke dalam gedung sekolah.

“Jangan memasang ekspresi seperti itu. Aku hanya menggores mobilmu, bukan mengambil gadismu!”

Sepertinya pertengkaran mereka memanas karena kini pria yang kemarin menolong Jihyun melayangkan pukulannya kearah pria berahang tegas itu membuat Jihyun sedikit memekik.

“Kim Jongin, hentikan!!!”

Tapi tenang, sebelum tangan pria yang menolong Jihyun sampai di wajah pria berahang tegas itu, seorang gadis berlari kearah mereka dan memeluk pinggang pria yang menolong Jihyun. Entah kenapa Jihyun menarik nafas lega karenanya. Benar-benar seperti di drama yang sering di tonton Ahra, pikir Jihyun.

Tunggu sudah jam berapa ini, karena dua pria itu Jihyun lupa jika dia masih harus mengurus beberapa hal dengan guru bagian kesiswaan. Dan dengan tanpa dosa Jihyun menerobos lingkaran siswa/i yang sedang menonton pertengkaran kedua pria tadi. Dan tanpa Jihyun sadari, Jihyun sudah hampir sampai di lingkaran terdepan dan hampir menjadi tontonan tambahan karena dengan beraninya melewati lingkaran ‘setan’. Namun hal itu tidak terjadi karena seseorang mencekal tangan Jihyun.

“Sungjae!!” Ah rupanya Sungjae, sahabat Jihyun yang bersekolah di Empire. Sungjae menarik mundur Jihyun sebelum dia masuk ke lingkaran ‘setan’ dua orang pria itu.

“Apa yang kau lakukan disini?” Sungjae melepaskan cekalannya pada tangan Jihyun saat mereka berada di luar kerumunan ‘penonton’.

“Aku sekolah disini.” Sahut Jihyun polos, ah ya Jihyun lupa memberitahu Sungjae perihal beasiswa dan kepindahannya ke Empire. Padahal rencananya Jihyun ingin memberitahu Sungjae sehari setelah dirinya tempo hari datang ke Empire, namun sepertinya Jihyun lupa karena terlalu fokus memikirkan seragam sekolahnya.

“Kau? Disini? Bagaimana bisa? Bukankah kau bersekolah di Gyeonggi? Apa ada sesuatu yang kulewatkan? Dan kau tidak menceritakannya padaku?” Salahkan Jihyun yang lupa menceritakan perihal beasiswanya dan kepindahannya ke Empire kepada Sungjae yang berakibat Sungjae memberondongnya dengan pertanyaan-pertanyaan seperti seorang ibu-ibu yang sehabis memergoki anak perempuannya bercumbu dengan kekasihnya.

“Yaa bisakah kau bertanya satu persatu. Baiklah aku jelaskan, kau ingatkan beasiswa yang tempo hari aku ikuti?” Tanya Jihyun yang dibalas anggukan oleh Sungjae. “Aku mendapatkan beasiswa itu, dan yang seperti kau lihat.”

Sungjae melanjutkan ucapan Jihyun “Kau mendapatkan beasiswa di Empire. Tapi kenapa kau tidak memberitahukan kepadaku dari awal?”

Jihyun mengusap keningnya yang baru saja disentil oleh Sungjae, “Aku sebenarnya ingin memberi kejutan untukmu dan memberitahunya sehari setelah aku mengurus perpindahanku, tapi aku malah lupa memberitahumu.”

“Ya ya dan aku sungguh terkejut, kau berhasil nona Jung. Ah aku baru ingat, kemarin guruku meminta tolong padaku untuk membimbing murid baru, ternyata murid baru itu adalah kau.”

Jihyun tertawa menanggapi ucapan Sungjae, “Ah ya Sungjae, bisa kau antarkan aku untuk bertemu guru bidang kesiswaan?”

“Tentu, ayo ikut aku.” Sungjae menarik tangan Jihyun dan memutari lingkaran ‘penonton’ yang masih asik menonton pertengkaran dua pria tadi. Jihyun pikir pertengkaran mereka sudah usai ternyata belum.

Sungjae dan Jihyun masuk ke ruang guru dan bertemu guru bagian kesiswaan, guru itu memberi tahu kelas berapa yang akan Jihyun tempati dan tentunya guru itu juga membahas tentang seragam sekolah Jihyun.

Guru tersebut menatap tajam kearah Jihyun, kentara sekali jika dirinya tidak menyukai pelanggaran kecil yang Jihyun lakukan. “Kau masih memakai seragam lamamu? Bukankah kepala sekolah kemarin sudah menjelaskan perihal seragam sekolah kepadamu?”

“Ya kepala sekolah sudah menjelaskannya. Maafkan saya, saya kemarin tidak sempat mengunjungi butik.” Jihyun terpaksa berbohong, tidak mungkin kan jika dirinya mengatakan kalau uangnya tidak mencukupi untuk membeli sepaket seragam? Ya walaupun Jihyun bukanlah dari kalangan atas, setidaknya Jihyun masih mempunyai malu dan harga diri.

“Baiklah tapi besok kau sudah harus memakai seragam Empire. Dan Sungjae kebetulan kau ada disini, tolong kau bantu nona Jung untuk beradaptasi dengan lingkungan sekolah.”

“baik Guru Han, saya akan membantu Jihyun semampu saya.” Setelahnya Sungjae dan Jihyun keluar dari ruang guru, karena masih ada waktu Sungjae mengantar Jihyun untuk berkeliling. Jihyun cukup tercengang dengan fasilitas yang disediakan Empire, mulai dari auditorium kolam renang dan cafetaria. Bahkan taman sekolah yang saat ini Jihyun lihat terlihat sangat asri.

“Ji, selama 2 tahun kau bersekolah disini, usahakan jangan sampai kau terlalu terlihat mencolok.” Jihyun yang kini sedang duduk di area taman bersama Sungjae, menatap Sungjae dengan tatapan bingung.

“Kehidupan disini sangat keras, kalau kau terlihat mencolok hidupmu pasti tidak akan tenang. Aku berkata seperti ini karena aku khawatir kepadamu, baru hari pertama saja kau hampir masuk ke dalam lingkaran setan.”

“Lingkaran setan? Maksudmu?” Sungguh Jihyun tidak paham dengan arah pembicaraan Sungjae, semuanya terdengar samar.  Yang pertama Jihyun tidak boleh terlihat mencolok dan terakhir adalah Jihyun hampir masuk lingkaran setan. Apa lingkaran setan yang dimaksud Sungjae adalah lingkaran yang sering terdapat di film-film horror? Tidak mungkin kan lingkaran setan yang dimaksud Sungjae adalah permainan membentuk lingkaran untuk memanggil roh-roh orang yang sudah meninggal.

“Lingkaran yang tadi di dalamnya terdapat kedua pria yang sedang bertengkar, kau hampir masuk ke tengah-tengah mereka. Dan jika kau masuk, kau tidak akan tenang bersekolah disini.” Jihyun memang ingat jika saat dua orang pria yang tadi bertengkar, mereka berdua berdiri di tengah-tengah penonton. Tapi kenapa Sungjae harus mengatakan lingkaran setan? Apa jika dirinya masuk ke lingkaran tersebut akan ada hantu yang menggentayanginya?

“Kau bicara apa? Sungguh aku masih tidak paham apa maksud pembicaraanmu.” Jihyun masih belum paham benar dengan ucapan Sungjae yang dimatanya dan telinganya masih samar-samar. Bagaimana tidak, Sungjae menceritakan dengan kata-kata yang terdengar aneh. Jihyun yakin siapapun yang mendengar perkataan Sungjae pasti tidak akan mengerti, sama seperti dirinya.

“Dua pria yang bertengkar tadi, Kai sunbae dan Sehun sunbae. Dua pria yang harus kau hindari di sekolah ini. Mereka satu tingkat diatas kita, mereka berdua adalah pembuat onar terutama Oh Sehun sunbae dan teman-temannya. Jika kau sudah berurusan dengan seorang Oh Sehun, jangan harap kau bisa lepas darinya. Sebenarnya sifat Kai sunbae tidak separah Sehun sunbae hanya saja jika kau sudah berurusan dengan Kai sunbae otomatis kau juga akan berurusan dengan Sehun sunbae. Selain mereka kau juga harus menghindari Yoon Hyena, dia versi wanita dari Oh Sehun. Jika Oh Sehun tidak bisa melakukan kekerasan pada seorang wanita, Yoon Hyena akan senang hati melakukannya untuk Oh Sehun.”

Jihyun cukup tercengang mendengar penjelasan Sungjae, seburuk itukah tabiat seorang Oh Sehun dan Yoon Hyena? Tapi yang benar saja, kekerasan? Ini adalah lingkungan pendidikan, mana ada yang berani melakukan kekerasan. Dan guru mana yang membiarkan kekerasan merajalela di sekolahnya “Kekerasan? Kau jangan bercanda Sungjae, disini sekolah. Ada banyak guru disini.”

“Guru mana yang berani melarang siswa/i golongan satu?”

Golongan satu? Ya Tuhan apalagi ini, tadi lingkaran setan dan sekarang golongan satu. Sepertinya banyak hal di Empire yang akan mengejutkan Jihyun.

“Di sini siswa dibagi menjadi beberapa golongan sesuai dengan status kekayaan mereka. Di bagian siswa golongan satu atau bisa dibilang golongan chaebol ada Kai sunbae, Sehun sunbae dan juga Jackson sunbae, mereka semua adalah pewaris dari semua kekayaan orang tua mereka yang rata-rata mempunyai lebih dari 5 sampai 10 cabang perusahaan, golongan kedua adalah pewaris dari saham orang tuanya Soo Young berada di golongan ini, golongan ketiga ada ahli waris kehormatan ya orang tua mereka adalah para petinggi di pemerintahan salah satunya ada ketua ekskul radio Do Kyungsoo ayahnya adalah seorang hakim agung Do Jae Moon dan ibunya adalah pengacara nomor satu di Korea yang selalu memenangkan setiap kasus yang dipegangnya, lalu ada siswa golongan keempat mereka adalah anak dari pemilik perusahaan kecil yang perusahannya rata-rata bergantung dengan perusahaan para chaebol, gadis yang tadi melerai Kai sunbae dan Sehun sunbae berada di posisi ini orang tuanya memiliki perusahaan fashion yang hampir setengah sahamnya dimiliki oleh orang tua Kai sunbae, yang terakhir adalah siswa golongan kelima atau mereka sering menyebutnya siswa kesejahteraan sosial, siswa golongan bawah dan siswa level rendah, mereka adalah siswa penerima beasiswa”

“Aku berada di golongan kelima, benar kan? Lalu bagaimana denganmu” Satu fakta yang cukup mencengangkan, bagaimana bisa di lingkungan pendidikan seperti ini ada penggolongan kekayaan, Jihyun pikir hal itu hanya ada di drama namun ternyata tidak.

“Aku berada di golongan yang sama denganmu.”

Sepertinya Jihyun agak tidak terima jika Sungjae ditempatkan digolongan kelima karena ekonomi keluarga Sungjae jelas jauh diatas keluarganya, “Kau golongan kelima? Bagaimana bisa?”

Sungjae terkekeh kecil saat mendengar ucapan Jihyun, “Aku sama sepertimu Ji, aku juga penerima beasiswa. Aku bersekolah disini atas bantuan Presdir Kim, ayah Kai sunbae yang juga atasan ayahku.”

“Apa selama ini kau mendapat perlakuan tidak menyenangkan?”

Sungjae menggeleng, “Untungnya tidak pernah, ini semua berkat Soo Young-ku. Kau tahu bukan bagaimana sifatnya? Dia bisa mengumpat habis-habisan kepada orang yang bersikap tidak menyenangkan kepadaku.” Jihyun tertawa dan mengiyakan ucapan Sungjae karena Jihyun cukup hafal dengan sifat pacar sahabatnya itu, bagaimana tidak setiap kali Jihyun bertemu dengan Sungjae dan Soo Young mengetahui hal itu, pasti Soo Young langsung cemburu dan marah-marah tidak jelas padanya dan juga Sungjae.

Karena bel pertanda masuk sekolah sudah berbunyi, Sungjae dan Jihyun menyudahkan pembicaraannya. Secara kebetulan Sungjae dan Jihyun berada di kelas yang sama, dan tentunya itu memudahkan Jihyun jika membutuhkan pertolongan Sungjae.

“Tadi kenapa kau berbohong?” Saat berjalan menuju kelas Sungjae teringat pembicaraan Jihyun dengan Guru Han tadi. Kalian pasti bingung darimana Sungjae tau kalau Jihyun berbohong. Sungjae sudah bersahabat dengan Jihyun dari kecil, Sungjae sudah tau semua kebiasaan Jihyun, baik-buruknya Jihyun begitu juga dengan Jihyun. Dan satu yang Sungjae tau, Jihyun akan mengusap tengkuknya saat dia sedang berbohong. Jadi sekarang percuma saja Jihyun mengelak karena saat ini Sungjae sedang menatapnya dengan intens.

“Uangku belum mencukupi untuk membeli seragam, kau tahu kan jika uang tabunganku ku serahkan kepada ibuku. Aku tidak mungkin memintanya hanya untuk membeli seragam. Karena sejak awal ibuku menentang kepindahanku ke Empire, jadi ini adalah tanggung jawabku karena aku yang memaksa ibuku untuk menyetujui beasiswa itu.”

Belum sempat Sungjae menanggapi ucapan Jihyun, seseorang yang meneriaki nama Sungjae lebih dulu menginterupsinya.

“YOOK SUNGJAE….!!!!” seorang gadis dengan headband di kepalanya berlari kearah Sungjae dan Jihyun, gadis yang tidak lain adalah Soo Young kekasih Sungjae. Soo Young terlihat terkejut melihat Jihyun berada di sekolahnya.

“Kau! Kenapa kau ada disini?” Soo Young langsung menarik Sungjae agar sedikit menjauh dari Jihyun. Asal kalian tahu, Soo Young sangat cemburu jika mengetahui Jihyun berada di dekat Sungjae. Bahkan walaupun mereka berjarak beberapa meterpun, Soo Young masih tetap cemburu. Mungkin kecemburuan Soo Young akan hilang jika Jihyun dan Sungjae berada di negara atau benua yang berbeda.

“Mulai sekarang Jihyun bersekolah disini bersama dengan kita Joy, dia mendapatkan beasiswa.” Ucap Sungjae sambil merangkul kekasihnya itu sedangkan Soo Young hanya ber-Oh ria. Kalian pasti bingung bukan kenapa Sungjae memanggil Soo Young dengan nama Joy? Itu semua akibat sindrom Inside Out, kalian tahu kan karakter Joy si pembuat perasaan bahagia? Sungjae menganggap jika karakter Soo Young mirip dengan Joy karena mereka sama-sama membuat perasaan bahagia, Joy membuat perasaan bahagia untuk Riley sedangkan Soo Young membuat perasaan bahagia untuk Sungjae. Dan satu lagi Soo Young pernah menggunakan gaya pewarnaan two tone pada rambutnya, sehingga dari tengah hingga ujung rambutnya berwarna hijau persis seperti Joy di Inside Out. Sebenarnya dari yang Jihyun tahu Soo Young hampir mewarnai seluruh rambutnya dengan warna hijau namun Sungjae melarangnya dan mengatakan jika Soo Young akan terlihat mirip seperti karakter Buttercup di  Powerpuff Girls.

“Kau bisa memakai uangku untuk membeli seragam sekolahmu. Dan jangan menolak.”

“Jihyun memakai uangmu? Untuk apa?” Soo Young memicingkan matanya dan menatap tajam kearah Sungjae dan Jihyun secara bergantian.

Sungjae mencoba memberi pengertian pada kekasihnya itu, “Jihyun harus membeli seragam Empire.”

Namun belum sempat Sungjae menjelaskan Soo Young sudah terlebih dahulu menyanggah ucapan kekasihnya itu dan melepaskan rangkulan Sungjae padanya, “Yaa maksudmu kau ingin membelikannya seragam sekolah begitu?” Sungjae menganggukkan kepalanya sedangkan Jihyun hanya terdiam sambil menghela nafas, “Aku tidak setuju.” Soo Young kembali menggandeng Sungjae dan menatap Jihyun, “Kau tidak boleh memakai uang Sungjae-ku sepeserpun.”

Sungjae memandang kekasihnya yang terlihat sedang sangat cemburu, “Tidak ada cara lain Joy, Jika sampai besok Jihyun tidak memakai seragam Jihyun tidak akan bisa melanjutkan sekolahnya.”

“Biar aku yang membelikannya seragam.” Soo Young mengambil ponselnya yang berada di sakunya dan menelpon seseorang. “Pak Lee tolong sekarang kau pergi ke butik yang menjual seragam sekolahku, dan belikan satu paket seragam sekolah yang berukuran sama denganku. Kau tahu ukuranku kan? Dan setelah itu antarkan ke sekolah.”

Sungjae tersenyum geli melihat tingkah laku kekasihnya, inilah yang membuat Sungjae tergila-gila pada Soo Young. Memang Soo Young sedikit kekanakan, keras kepala dan pecemburu namun dibalik sikapnya sebenarnya Soo Young adalah gadis yang baik hati dan manis.

“Soo Young kau tidak perlu melakukannya.” Jihyun yang merasa tidak enak, memutuskan menolak bantuan Soo Young. Ya walaupun tidak bisa dikatakan bantuan, karena Soo Young melakukannya semata-mata karena tidak ingin Sungjae mengeluarkan uang untuk Jihyun.

Soo Young mengangkat sebelah tangannya ke pinggang, “Lalu aku harus melihat kekasihku membelikanmu seragam sekolah begitu?”

Jihyun merasa serba salah, jika menolak bantuan Soo Young, pasti Sungjae yang akan membelikannya seragam dan berakhir dengan kemurkaan Soo Young. “Aku juga tidak akan membiarkan Sungjae mengeluarkan uang sebanyak itu untukku.”

“Banyak? Ya Tuhan Jihyun, bahkan harga seragam sekolah tidak sampai dari setengah uang saku ku selama seminggu. Ah tapi tenang saja ini tidak gratis.” Soo Young menyunggingkan senyumnya, sebenarnya sudah lama Soo Young ingin melakukan hal ini, tenang Soo Young bukanlah tipe orang yang suka melakukan tindakan pembullyan. Yang dimaksud Soo Young tidak gratis adalah Soo Young berniat meminta foto masa kecil Sungjae pada Jihyun, karena Jihyun sudah berteman sejak kecil dengan Sungjae pasti mereka berdua mempunyai foto semasa kecil.

Mendengar Soo Young yang meminta imbalan kepada Jihyun membuat Sungjae menatap Soo Young dengan tatapan peringatan.

“Tenanglah aku tidak akan melakukan hal-hal aneh pada sahabatmu itu paling-paling imbalan yang aku minta berhubungan denganmu.” Soo Young mengerucutkan bibirnya karena sikap Sungjae yang lagi-lagi membuatnya cemburu. Karena tidak mau lagi diintimidasi oleh tatapan kekasihnya, Soo Young menarik lengan Sungjae untuk masuk ke kelas mereka. Ya Soo Young juga berada di kelas yang sama dengan Sungjae dan Jihyun.

“Gadisku sangat manis bukan?” Sungjae tersenyum dan berbisik pada Jihyun yang mengikutinya dari belakang. Inilah keanehan yang dimiliki Sungjae, Sungjae sangat senang saat Soo Young sedang cemburu seperti ini. Menurutnya wajah Soo Young terlihat lebih lucu dan manis saat seperti ini. Dan hal itulah yang membuat Sungjae sering menggoda Soo Young tentunya dengan Jihyun sebagai tumbalnya.

Saat kelas dimulai, Jihyun memperkenalkan dirinya di hadapan kelas-kelasnya. Beruntung siswa/i tidak terlalu memperdulikan kehadiran Jihyun sebagai siswi baru, jadi ada kemungkinan jika Jihyun akan hidup tentram selama beberapa tahun ke depan hingga kelulusan.

“Jihyun kau ingin ikut dengan ku ke kantin?” tawar Sungjae yang telah ‘ditinggal’ oleh Soo Young pergi ke kantin terlebih dulu bersama dengan teman-temannya.

“Kau duluan saja, nanti aku menyusul. Aku masih harus merapikan catatan yang tadi diberikan guru Lee. Oh ya Sungjae, aku pinjam buku catatanmu ya. Aku harus mengejar ketertinggalanku.”

Sungjae mengambil buku catatannya dan memberikannya kepada Jihyun, “Ini, kau bawa saja bukuku. Kalau begitu aku duluan ya, aku tunggu di kantin.” Jihyun menganggukkan kepalanya dan memfokuskan pada catatan yang diberikan Sungjae. Karena mata pelajaran yang diajar di sekolahnya yang lama sepertinya sudah tertinggal jauh dengan mata pelajaran yang diajarkan di Empire. Jika di sekolahnya yang lama satu mata pelajaran dihabiskan dalam dua pertemuan sedangkan di Empire satu mata pelajaran dihabiskan dalam satu pertemuan.

Setelah lima menit, Jihyun selesai merapikan catatannya dan bersiap menyusul Sungjae. Jujur saja, sebenarnya Jihyun ragu untuk makan di kantin sekolah karena sepertinya harga makanan disini tidaklah murah, hal itu bisa ditebak dari interior kantin yang lebih terlihat seperti restaurant bintang lima. Jihyun kemudian mengeluarkan uang yang berada di sakunya lalu menghitung kira-kira berapa won dia akan menghabiskan uang sakunya, karena Jihyun masih harus mengeluarkan uang untuk perjalanan pulangnya.

“Yang ini untuk membayar bus saat nanti pulang, sisa 3000 won. Ini cukup atau tidak ya?” Jihyun menatap uang yang saat ini dipegangnya sambil berharap jika uang sakunya cukup untuk membeli makanan di kantin. Dan hal itu membuat Jihyun tidak menatap jalanan yang ada dihadapannya. Berjalan menunduk dan hanya memperhatikan uang yang ada di tangan, sudah pasti Jihyun akan menabrak sesuatu. Dan untungnya sesuatu yang ditabrak Jihyun itu bukanlah dinding, pot bunga atau semacamnya melainkan seorang pria.

 

28 responses to “[Freelance] Isn’t Love Story Chapter 2 – Met The Heirs

  1. Mirip banget ma the heirs.
    Apa alurnya sama? Sapa yang jadi Kim Tan sama Choi Young Do. Kai apa Sehun? Jung Jihyun ini ma Cha Eun Sang.

  2. Rasanya sudah lama sekali gak baca ff yg model giniiii, jujur aja aku seneng bacanya. Next chap ditungguu

  3. Hahahhahahahahhahahhahah yang ditabrakkk kai atauu sehon yahh?? Wkwkwkwkwkw

    Akuuu ketwaa baca bagiannya joy nelpon pak lee,, kebayang expresinyaa.

  4. ceritanya kaya the heirs yaaa tapi gapapa sih tapi lumayan seru kok remake annya inii, wwkk pengen baca lagi penasaran siapa yang ditabrak jihyun, antara sehun sama kai? hohooo~

  5. Ooh… Sungjae jg di golongan yg sama kyk Jihyun tho…
    Baca moment Joy-Sungjae disini jdi keinget Minhyuk-Krystal di The Heirs. Sweet plus lucu soalnya…

  6. Pingback: [Freelance] Isn’t Love Story – Heroes? #3 | SAY KOREAN FANFICTION·

  7. Pingback: [Freelance] Isn’t Love Story Chapter 6 – The queen | SAY KOREAN FANFICTION·

  8. Pingback: [Freelance] Isn’t Love Story Chapter 4 – Promise | SAY KOREAN FANFICTION·

  9. Pingback: [Freelance] Isn’t Love Story Chapter 5 – Past | SAY KOREAN FANFICTION·

  10. Pingback: [FREELANCE] Isn’t Love Story Chapter 7 – Dinner | SAY KOREAN FANFICTION·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s