[Freelance] A.T (Agent Target). Ep. 1

zxat

Title : A.T (Agent Target). Ep. 1

Author : Anemone.

Main Cast : Oh Se Hun (Exo) – Byun Baek Hyun (Exo) – Park Chan Yeol (Exo) – Kim Ha Ni (You/Oc) – Tiffany Hwang (Snsd).

Genre : Friendship – Family – School Life – Police

Leght : Chapter

Cover : Yeohan.Art

Recomended Backsong : Call Me Baby (Exo).

Annyeong, mohon kritikannya…
Ff ini murni karya pemikiran khayalan author yang terinspirasi dari komik Conan dan drama Boy Before Flower. Nama cast cuma meminjam, kecuali (OC), sepenuhnya cast milik Tuhan, keluarga, dan managenment.

Warning ! Typo bertebaran! Harap di maklumi, maaf kalau ada salah penulisan kata. Bahasa yang di gunakan juga bahasa sehari-hari anak muda umumnya. Mudah-mudahan bahasa gaulnya ngak nge-Alay. Semoga dapet fellnya…

DON’T BASH, DON’T PLAGIAT, DON’T BE SIDERES, SIDERES KICK. JANGAN LUPA KOMENTAR!

Happy Reading

 

Author Pov

 

Galeria Foret Apartement. Seongsu- dong, Seoul.

Memareun nae ipsure neo seumyeodeureowa nareul kkaewo.

The time’s wasting girl.

So don’t wait, don’t wait too long.

Biccnaneun geodeureun manha, geu ane jinjjareul bwabwa.

Call me baby. Call me baby…
Call me baby. Call me baby…

(You know my name girl) ~ Exo Call me baby.

Suara musik enerjik mengema di seluruh ruangan seluas 3×4 m, dengan nuansa hijau pupus itu. Seorang yeoja keluar dari pintu putih di samping ruangan dengan jubah mandinya. Ia bersenandung ria sambil membenarkan letak handuk yang ada di atas kepalanya.

“Call me baby. Call me baby.”

“Huft.” Yeoja itu menghela nafas pelan saat melihat sesuatu di atas ranjangnya.

“Ya, baiklah.” gumamnya sambil mengambil sebuah pakaian yang sangat harum itu.

Ia berjalan pelan untuk menekan tombol pada benda hitam kotak persegi panjang sebelum masuk kembali ke kamar mandi.

10 menit kemudian…

Ia memandang pantulan bayangannya yang tengah berdiri dengan menggunakan seragam Senior High School tepatnya Shinwa High School. SMA dengan stadar tinggi dan tidak mudah untuk masuk ke sana. Terutama masalah otak.

Ha Ni tersenyum tipis, andai hal ini terjadi 5th yang lalu, mungkin ia akan merasa bangga. Dulu ia pernah mencoba untuk masuk ke Shinwa High School tapi gagal karena nilai matematikanya yang buruk.

Lalu kenapa sekarang ia memakai seragam Shinwa High School?

“Huh. Ternyata wajahku memang cute, terbukti aku masih pantas memakai seragam SMA.” gumamnya. Setelah perdebatan panjang kali lebar yang di lakukannya dengan rekan timnya, akhirnya ia kalah.

Flashback…

@. Police Departement Seoul.

Seorang namja bertubuh jakung berjalan sambil tersenyum lebar kepada beberapa orang yang berpapasan dengannya, bahkan tidak segan-segan ia akan berteriak memanggil nama orang yang di kenalnya.

“Pagi. Miss Han.” sapanya sambil menunduk, membuat orang yang di sapa terdiam tampa berkedip.

“Aigo. Aku memang sangat tampan.” gumamnya sambil mengedipkan satu matanya, lalu melangkah untuk dapat menggunakan lift yang ada pada lantai dasar.

“Agio. Police Park tampan sekali.”

“Dia juga sopan sekali.”

“Lihat lah, caranya berjalan. Sangat cool dan berkarisma.” Namja itu semakin melebarkan senyumnya saat mendengar ucapan para wanita yang ada di belakangnya.

Setelah memasuki lift, tangannya akan menekan tombol 7, tapi pintu lift yang akan tertutup itu tiba-tiba terbuka, sebuah tangan nampak menahan pintu lift.

“Tunggu.” dengan nafas yang memburu, seorang yeoja akhirnya bisa bernafas lega karena pintu lift tidak jadi tertutup.

“Hampir saja.” gumamnya dan masuk ke dalam lift.

Sedangkan namja itu hanya mencibir. “Kebiasaan.” gumamnya.

Yeoja itu juga tak mau kalah, Ia membalas dengan menampilkan wajah angkuh dan menaruh kedua tangannya di depan dada. “Diamlah telinga gajah.” ujarnya.

Namja itu langsung menoleh kesamping, “Kau-“

“Apa?” ucap yeoja itu dengan intonasi suara lebih tinggi.

Namja itu menghela nafas pelan, ini masih terlalu pagi untuk mencari keributan. Baiklah ia mengalah. Mengalah bukan berarti kalah kan? Pikir namja itu.

Hening. Mereka terdiam hingga benda kotak itu membawa mereka ke lantai paling atas gedung ini. Setelah pintu lift terbuka keduanya melangkah bersama. Ya tujuan mereka sama.

Sepi. Tentu saja. Lantai atas gedung ini memang khusus untuk anggota tim A.T. Sebuah tim yang di miliki kepolisian Republik Korea untuk memecahkan beberapa kasus khusus.

Suara sepatu yang beradu dengan ubin lantai mengema seirama dengan langkah dua pasang kaki yang berjalan tidak beriringan. Sang Yeoja berjalan di belakang namja yang kini sibuk dengan ponselnya.

Langkah mereka terhenti saat tiba di sebuah pintu besar berbahan baja. Sang namja yang sejak tadi sibuk dengan ponselnya, menaruh ponselnya di saku jasnya lalu mengambil sebuah kartu card.

Klik!

Kartu persegi panjang kecil dengan warna hitam dengan label khusus ia tempelkan pada benda putih bergaris hitam yang terletak manis di samping pintu masuk. Secara otomatis pintu itu terbuka.

“Park Chan Yeol.” mesin itu bersuara.

“Kim Ha Ni.” mesin itu kembali bersuara saat gadis tadi juga melakukan hal yang sama.

Mereka berjalan pelan di sebuah lorong, dengan kanan kirinya adalah kaca yang tidak tembus pandang.

“Aku mengutuk siapapun yang mendekorasi ruangan ini.” gerutu Ha Ni.

Chan Yeol terkekeh saat mendengar ucapan teman satu timnya.

“Hati-hati, nanti tua bangka itu mendengarnya.” sahut Chan Yeol.

“Ck.” cibir Ha Ni dengan bibir bawah yang di majukan.

Setelah melewati lorong dengan dinding kaca, mereka kembali masuk ke sebuah lift khusus.

“Menurutmu kasus apa yang akan di berikan pada kita kali ini?” tanya Ha Ni.

“Mungkin kumpulan mafia lagi, atau pengedar narkoba.” jawab Chan Yeol.

“Huft. Tidak kah kita di beri cuti? Aku ingin berlibur di musim semi ini.” ujar Ha Ni.

“Sebenarnya bisa saja, Kau minta saja pada suamimu.” ujar Chan Yeol.

“Su-” belum sempat Ha Ni bersuara pintu lift sudah terbuka dan mereka telah tiba di sebuah ruangan dengan nuansa putih.

“Apa aku terlambat?” Chan Yeol keluar lebih dulu di susul Ha Ni.

3 orang yang kini duduk dan sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing menoleh.

“Kau tau sendiri jawabannya Mr. Park.” ujar namja berkulit putih pucat dengan kaca mata yang bertengger manis di hidung macungnya.

“Ok. 1 menit, 23 detik. Mianhae.” ujar Chan Yeol.

Ha Ni, Ia tidak perduli dan langsung duduk saja di sebuah kursi kosong yang memang biasa ia duduki.

“Waeyo?” tanyanya saat semua mata kini menatapnya.

“Baiklah. Kita mulai.” ujar namja putih berkaca mata tadi membuat 3 orang itu langsung menegakan tubuhnya, di susul Chan Yeol yang mengambil tempat duduk di samping Ha Ni.

Sebuah layar di depan mereka menyala dan menampilkan sebuah gambar.

“Gambar itu sama persis dengan yang ada di kertas yang kalian pegang sekarang.” ujar namja yang merupakan ketua tim yang berdiri di depan mereka untuk memimpin rapat.

“Maksudnya apa?” ujar Ha Ni. Ia tidak mengerti karena di kertas yang di pegangnya hanya ada tulisan Rubi-H?

Layar itu kembali menampilkan sebuah gambar, kali ini gambar seorang yeoja cantik. Kim Hyu Ah. Sebuah tulisan latin dapat di baca oleh Ha Ni dan teman-temannya.

“Dia Kim Hyu Ah korban bunuh diri, murid Shinwa High School 1th yang lalu kan?” tanya namja berwajah imut.

“Ne.” jawab ketua tim.

“Lalu?” tanya Chan Yeol.

“Beberapa hari yang lalu ada paket yang datang ke kantor kita, dan paket itu berisi kertas, isinya sama dengan yang kalian pegang sekarang. Ini adalah bukti yang di temukan pada TKP selain pisau kecil. Kertas itu sempat hilang dan entah kenapa tiba-tiba datang.” jelas ketua tim.

“Pengirim paket?” tanya Chan Yeol.

“Shinwa High School.” jawab yeoja cantik berambut blonde.

“Hah?” ucap Chan Yeol, Ha Ni dan Baek Hyun serentak.

“Mereka mengirim ini? Ini khasus lama. Bukankah sekolah itu menutup rapat kasus ini, mereka bahkan menutup akses beberapa pencari berita. Korban juga di nyatakan bunuh diri karena tidak di temukan sidik jari lain selain sidik jari korban pada pisau.” ujar Baek Hyun.

“Korban menyayat ujat nadi tangannya sendiri.” sambung Chan Yeol.

“Tidak. Ini kasus pembunuhan yang di rencanakan sangat rapi.” ujar Tiffany.

“Bahkan aku sudah mengecek sinyal telephone korban, seminggu sebelum kejadian. Tempat yang ia kunjungi, dengan siapa saja ia bertemu dan berkomunikasi. Tapi tidak ada satupun yang mencurigakan.” ujar Tiffany.

“Lalu kenapa ini di bilang kasus pembunuhan. Jelas-jelas yeoja itu bunuh diri.” ujar Ha Ni.

“Kertas itu adalah buktinya kalau ini pembunuhan. Kertas yang di tulis langsung oleh sang korban sebelum menghembuskan nafas terakhirnya, kertas itu juga sempat hilangkan? Bukankah sudah jelas.” jelas Se Hun.

“Lalu untuk apa Shinwa High School mengirim paket itu, artinya mereka yang menyembunyikan bukti itu selama ini?.” ujar Ha Ni.

“Salah satu siswa yang mengirimkan paket itu setelah aku cek, tapi petugas paket tidak menjelaskan dengan jelas seperti apa murid itu. Dia namja dan memakai seragam.” ujar Tiffany.
“Hah. Anak muda zaman sekarang mau bunuh diri saja, pakai teka-teki seperti ini.” ujar Baek Hyun.

“Ini kasus pembunuhan.” ujar Se Hun.

“Sudah intinya saja.” ucap Ha Ni kesal. Dari tadi ia bingung.

“Komandan Lee memberikan kita waktu 2 bulan untuk memecahkan kasus ini-“

“Yak! yang be-” Ha Ni terdiam saat Se Hun menatapnya tajam.

“Jangan ada yang memotong ucapan ku sebelum selesai.” ucap Se Hun.

“Karena kasus ini adalah kasus lama, jadi kita harus bekerja ekstra untuk mengumpulkan informasi dan bukti, sebenarnya kertas itu adalah petunjuk. Urusan siapa yang mengirim paket kita pikirkan nanti. Sekarang kita pikirkan cara untuk secepatnya memecahkan kasus ini.” ujar Se Hun.

“Apa kita sedang bermain TTS, Rubi-H, apa coba?.” celetuk Baek Hyun.

“Aku rasa pelaku orang dalam, kertas itu sempat menghilang dan keluarga pihak korban menyatakan secara cepat korban bunuh diri, bahkan sebelum pihak polisi memeriksa sidik jari pada pisau. Soal tertutupnya sekolah Shinwa yang beralasan tidak mau sekolah mereka bercitra buruk juga aku rasa sebuah alibi.” jelas Tiffany.

“Artinya mereka semua tau siapa penjahat itu dan berusaha melindungi pelaku?” tanya Ha Ni.

“Bisa tidak. Bisa iya. Maksudnya mereka tidak ingin masalah ini berlarut. Apalagi menurut kabar yeoja itu memang beberapa kali melakukan percobaan bunuh diri.” ucap Baek Hyun.

“Aku bingung.” gerutu Ha Ni.

“Aku juga.” sambung Chan Yeol.

“Kenapa kita mengambil kasus ini? Biasanya kau akan menolak jika di beri kasus pembunuhan?” tanya Ha Ni pada namja yang berdiri di depan.

“Karena korban cinta pertamanya.” ucap Tiffany sambil tersenyum tipis.

“Hah? Ci-“

“Hanya ada satu cara.” potong Se Hun. Ha Ni mendelik karena dengan seenaknya ucapannya di potong.

“Apa?” tanya mereka, kecuali Se Hun.

“Salah satu di antara kita harus masuk ke Shinwa High School.” ucap Se Hun.

“Menjadi guru?” tanya Baek Hyun.

Se Hun mengelengkan kepalanya, “Ini tahun ajaran baru, Kita masuk sebagai murid.” ucap Se Hun

“Apa?!” ucap Baek Hyun.

“Yang benar saja.” ucap Chan Yeol.

“April mop sudah lewat.” ucap Tiffany.

“Jangan konyol tuan Oh.” ucap Ha Ni.

“Tidak, sebelumnya aku sudah membicarakan ini dengan komandan Lee, beliau setuju. Dan semua sudah di rencanakan dengan cepat dan rapi.” jelas Se Hun.

“Kita berlima jadi murid SMA?” tanya Baek Hyun.

“Tidak. Hanya salah satu di antara kita.” jawab Se Hun.

“Lalu siapa?” tanya Ha Ni malas.

Semua manik mata kecuali Ha Ni kini menatap ke satu titik arah yang sama, sedangkan yang di tatap hanya bermain dengan pena di atas kertas, acuh tak acuh di atas meja. Ia tidak menyadari jika sedang di tatap semua orang yang ada di ruangan.

“Kau.” jawab Se Hun, Baek Hyun, Chan Yeol dan Tiffany kompak.

“Mwo?!!!” Ha Ni berteriak spontan ketika mendengar pernyataan temannya. Membuat mereka langsung menutup kedua telinga dengan tangan.

“Aihhhs. Jangan berteriak.” keluh Baek Hyun

“Suaramu itu seperti kaleng beradu dengan aspal.” gerutu Chan Yeol.

“Hanya kau yang cocok jika menyamar menjadi murid SMA, tingkah mu yang kekanakan dan ya, wajah baby face mu.” ujar Tiffany.

“Tidak. Tidak bisa. Enak saja.” jawab Ha Ni.

“Baek Hyun Oppa dan Chan Yeol Oppa juga masih pantas jadi murid SMA.” ujar Ha Ni.

“Kalau mereka, yang ada bukannya memecahkan masalah ini untuk mencari bukti malah sok tebar pesona di sekolah itu nanti.” ucap Tiffany.

“Hei. Siapa yang tebar pesona? Itu kenyataan kalau kami berdua memang mempesona.” ucap Baek Hyun.

“Kita berdua itu tampan. T. A . M. P. A. N.” ucap Chan Yeol.

Tiffany memutar bola matanya malas memdengar celoteh BaekYeol couple.

“Se Hun juga bisakan?” tanya Ha Ni.

“Dia terlalu dingin. Jangan Se Hun. Dia juga tidak mudah bersosialisasi, yang ada mereka pada takut kalau melihat wajah setan esnya.” ucap Tiffany.

Orang yang di sebut namanya menatap tajam Tiffany sedangkan yang lain terkekeh mendengar ucapan Tiffany.

“Lalu, Eonni juga bisakan?” tanya Ha Ni.

“Tidak. Aku masih di sibukan dengan persiapan pernikahan ku.” jawabnya

“Sudah. Kau saja. Kalau kita bisa memecahkan masalah ini, Aku yakin kita di beri bonus besar.” bujuk Baek Hyun.

“Tidak. Aku tidak mau.” tolak Ha Ni

“Hei. Nona Kim, Ka-” ucap Chan Yeol

“AKU TIDAK MAU!” teriak Ha Ni membuat Chan Yeol kembali menutup mulutnya sambil menyelamatkan telinganya.

“Sudah aku bilang suaramu, suara kaleng.” gerutu Chan Yeol.

“Aku tidak-” ucapan Ha Ni terpotong saat seseorang berbicara yang membuat semuanya terdiam.

“Mau? Atau kita bercerai.”

“Jangan membawa masalah pribadi!” teriak Ha Ni.

Flashback End.

“Kau tidak sarapan dulu?” tanya Se Hun.

Ha Ni yang sibuk memakai sepatu di dekat pintu menghentikan kegiatannya.

“Tidak.” jawabnya acuh.

“Masih belum selesai ngambeknya?” Se Hun berdiri dengan kedua tangan yang di masukan ke saku celana sambil bersandar pada tembok.

Ha Ni mendongkak, “Cih. Apa pedulimu.” jawabnya

Se Hun. Ia tidak menjawab. Se Hun tau istrinya ini marah besar karenanya. Bahkan ia mengamuk saat pulang ke rumah.

Flashback.

“Apa maksudmu?!” teriak Ha Ni.

Yang lain hanya bisa mendengar dan menonton drama live di depan mereka.

“Kita bicarakan ini di rumah.” ucap Se Hun lalu melangkah pergi.

Ha Ni terdiam sambil menahan amarahnya. Wajahnya sudah memerah dan asap mulai muncul di kedua telinganya. Pintu lift tertutup dan sosok Se Hun menghilang.

“Arghhhh.” erang Ha Ni sambil mengacak rambutnya dan berjalan cepat menuju lift.

“Aku masih bingung dengan mereka. Bagaimana mereka bisa menikah?.” tanya Baek Hyun.

“Aku bahkan masih belum percaya kalau mereka sudah menikah.” ujar Tiffany.

“Pacaran saja tidak. Mereka aneh.” ucap Chan Yeol.

“Tapi bukannya Ha Ni menyukai Se Hun, dan mengejarnya sampai rela masuk ujian pegawai sipil dan menjadi polisi.” ujar Tiffany.

“Tetap saja aneh.” jawab ChanBaek

@.home Se-Han.

“Yak. Oh Se Hun. Apa maksudmu hah?!” teriak Ha Ni.

“Bisa tidak berteriak. Tetangga sebelah bisa mendengarnya.” ucap Se Hun.

“Apa maksud mu?”

“Memang apa maksud ku?” tanya Se Hun sambil duduk di sofa merah marun yang ada di ruang tengah sambil melongarkan dasinya.

“Astaga. Hei kau benar-benar.”

“Aku tidak masalah kalau kita bercerai.” ujar Se Hun.

“Apa?” Ha Ni merasa jantungnya seperti di tusuk sejuta jarum. Segampang itu kah?

“Oh. Aku juga tidak keberatan.” ucap Ha Ni.

Se Hun menoleh dan menatap lekat istrinya. Apa ia tidak salah dengar. Sudah menjadi rahasia umum kalau istrinya itu mengejar-ngejarnya sejak zaman kuliah dulu.

“Sungguh?” goda Se Hun.

“Kau pikir hanga kau yang bisa.” ucap Ha Ni.

“Kita baru menikah 2 minggu yang lalu.” ucap Se Hun.

“Terserah kau lah.” Ha Ni berjalan cepat meninggalkan Se Hun di ruang tengah.

“Hei. Kau tidak takut jadi janda hm. Lalu bagaimana dengan Bunda dan Ibumu?” ucap Se Hun membuat Ha Ni menghentikan langkahnya dan menoleh.

Flashback End.

“Pernikahan ini seharusnya memang tidak terjadi. Kalau bukan karena Bunda dan Ibu, Aku sudah menerima tawaran ceraimu.” ucap Ha Ni dan membanting pintu dengan keras membuat Se Hun tergejolak kaget.

“Sedang apa kalian?” tanya Ha Ni saat melihat dua namja berdiri di depan apartementnya.

Baek Hyun dan Chan Yeol yang kaget karena suara bangtingan pintu hanya bisa mengeleng sebagai jawaban.

“Ya sudah. Minggir.” Ha Ni memisahkan jarak Baek Hyun dan Chan Yeol dengan kedua tangannya untuk ia lewati.

“Dia galak sekali.” gumam Baek Hyun.

“Tapi dia manis sekali.” ucap Chan Yeol.

“Kau benar. Tidak aku sangka, Aku berpikir memang dia seharusnya menjadi murid SMA.” ucap Baek Hyun. Dan mereka tertawa bersama.

***

Langit menampakan warna biru laut cerahnya dengan gumpalan awan putih yang berjalan mengikuti arah angin. Aroma musim dingin begitu menyejukkan, banyak bunga cerry blosoom bermekaran dengan indahnya.

Ha Ni terdiam menatap sepanduk besar di depannya. Sepanduk bertuliskan selamat datang untuk para murid baru Shinwa High School.
Ha Ni mengagumi gedung mewah di depannya, Ia tersenyum, masa sekolah adalah masa yang begitu menyenangkan.

“Baiklah. Nikmati saja.” gumamnya.

“Yak! Jangan melamun. Cepat sana berbaris.” suara cempreng dari seseorang di sebelah Ha Ni yang berbicara mengunakan pengeras suara membuat Ha Ni terjatuh karena saking kagetnya.

“Ya-” Ha Ni menghela nafas pelan dan kembali menutup mulutnya, hampir saja ia berteriak untuk membalas seniornya. Tanda pinta yang tertempel pada seragam seniornya, bukti bahwa orang di depannya ini adalah panitia penerima murid baru. Ha Ni tidak mau berurusan dengan senior sebagai murid baru. Dan masa orientasi benar-benar hal yang ingin Ha Ni hindari. Cukup dulu saja, tapi sayangnya ia akan merasakannya dua kali.

“Nee, Subnae.” Ha Ni langsung berdiri dan lari ke lapangan.

“Permisi. Murid baru.” ucap Ha Ni sambil ikut berbaris dengan murid baru lainnya.

Semua murid terdiam saat para panitia berbaris di depan mereka. Ternyata walaupun sekolah elit, Shinwa High School tetap menjujung tinggi persoalan bimbingan masa orientasi murid baru.
“Ok. Karena kalian-” ucap ketua panita, Namja yang membuat Ha Ni jengkel tadi terpotong saat ada sebuah motor besar melintas lapangan dan berhenti di depan mereka.

“Bummmmm… “

Semua mata kini tertuju pada sosok pengemudi motor besar itu. Pengemudi turun dari motornya, lalu membuka helem dan masker mulutnya. Mereka semua takjub saat mengetahui bahwa pengemudi adalah seorang yeoja.

“Aigo. Aku pikir namja.” gumam Ha Ni.

“Yak. Kau siapa yang menyuruhmu parkir di situ, dan kau murid baru apa kau sudah punya sim? Kau juga terlambat, motormu singkirkan dan cepat masuk barisan.” ucap ketua panitia dengan pengeras suara.

“Ck. Aku rasa setelah ini yeoja itu akan menjadi incaran para senior untuk di kerjai.” gumam Ha Ni

“Murid disini pada aneh.” ucapnya dalam hati.

“Hei.” Ha Ni menoleh saat ada seseorang yang menepuk bahunya. Sedari tadi ia fukos kedepan mendengarkan celotehan ketua panitia yang suaranya seperti radio rusak.

“Dia bukannya murid tadi.” ucap Ha Ni sambil menatap heran yeoja di depannya.

“Jung Eun Ji.” ucapnya sambil menyodorkan tangannya.

“Ki-” Ha Ni menutup kembali mulutnya saat ia ingat bahwa beberapa menit lalu Baek Hyun mengirimkan pesan e-mail bahwa sekarang ia menyamar menjadi gadis bernama Oh Se Na. Hah Oh Se Na? Dari pada pusing, menurut saja lah.

Eun Ji menatap bingung yeoja di depannya. Ha Ni yang menyadari itu langsung tersenyum.

“Oh Se Na.” Ha Ni menerima uluran tangan Eun Ji.

“Selamat menjadi teman baru.” ucap Eun Ji riang. Lalu ia ke baris depan dan berkenalan dengan yang lain.

“Sepertinya aku salah menilai orang.” gumam Ha Ni.

“Hei. Hei.” Ha Ni yang kesal akhirnya menoleh saat ada yang menarik-narik rambutnya.

“Yak-“

“Tao.” ucap Tao sambil mengulurkan tangannya. Ha Ni terdiam sambil menatap lekat orang di depannya. Datang tak di undang, muncul tak tau dari mana.

“Huang Zi Tao.” ucap Tao lagi.

“Huang?” ucap Ha Ni lalu menerima uluran tangan Tao. Setahu Ha Ni marga orang Korea tidak ada yang Huang.

“Se Na. Oh Se Na.” ucapnya.

“Nee. Aku orang China” ucap Tao.

“Ah. Pantas dialog mu aneh.” ucap Ha Ni (Se Na). Kenapa ia baru menyadarinya.

“Benarkah? Padahal aku sudah belajar banyak.” ucapnya dengan wajah cemberut.

Ha Ni menatap Tao lekat. “Sepertinya aku salah lagi menilai orang, Namja ini jauh lebih bertampang dingin dan galak dari Se Hun, tapi sikap?” ucap Ha Ni dalam hati.

***

Next Day…

@.Home -Se Hun.

“Kau masak apa untuk sarapan?” tanya Ha Ni yang baru saja keluar dari kamar setelah berjam-jam berdandan.

Se Hun yang masih sibuk meminum susunya di depan lemari es menoleh begitu mendengar suara istrinya.

“Byurrrrrr.” Se Hun yang kaget langsung menyeburkan susu yang ada di mulutnya yang belum masuk ke tenggorokan.

“Yakkk!” teriak Ha Ni karena Se Hun berhasil membuat hasil dandannya rusak.

“Oh Se Hun.” ucap Ha Ni kesal sambil mengelap mukanya yang kena semprot dengan telapak tangan kanan.

“Kau Ha Ni?” tanya Se Hun.

“Ya iyalah. Memang siapa lagi. Setan.” ucap Ha Ni jengkel.

“Hahahahaha…. ” tawa Se Hun meledak seketika.

“Tertawa sepuas mu.” ucap Ha Ni dan melangkah pergi.

“Yak. Mau kemana? Kau belum sarapan?” Se Hun mengejar Ha Ni yang kini hendak memakai sepatu.

“Ketawa saja sana! Aku sudah terlambat.” ucap Ha Ni.

“Kemarin kau sudah tidak sarapan. Sekarang sarapan. Aku yang akan mengantarmu.” ucap Se Hun berusaha menahan tawanya.

“Ck. Senang sekali ya melihatku menderita.” gumam Ha Ni.

“Apa? Oia kau mirip orang-orangan sawah.” ucap Se Hun dan berlari.

“Oh Se Hun.” teriak Ha Ni.

“Aish. Ini semua karena panitia sialan itu. Seenaknya menyuruh murid yeoja mengucir rambutnya sebanyak dengan tanggal lahir. Aishh. Dan kenapa juga aku lahir di tanggal 31.” gerutu Ha Ni.

***

“Hahahahaha… ” gelak tawa terdengar di dalam mobil BMW hitam dengan lima orang di dalamnya.

“Tertawa selagi kalian bisa.” ucap Ha Ni sambil bersedekap. Ia duduk di samping pengemudi. Sebelahnya Se Hun yang menjadi supirnya. Dan di belakang ada Chan Yeol, Baek Hyun dan Tiffany dengan ipad di pangkuannya.

Setelah Se Hun tadi, sekarang 3 temannya ikutan tertawa melihat penampilannya. Apa mereka tidak pernah melihat yeoja manis dan terlalu cute? PIkir Ha Ni.

“Kalau kalian menjemput ku untuk mentertawakan ku, Aku turun disini. Biar semua orang Korea mentertawakan ku.” ucap Ha Ni sarkatis.

“Aigo. Mianhae, mianhae.” ucap Baek Hyun sambil berusaha meredakan tawanya.

“Tapi, Kau manis sekali, sungguh.” Chan Yeol otomatis mengangkat tangan kanannya membentuk huruf V.

“Ya. Terimakasih untuk pujiannya Mr. Park.” ucap Ha Ni

“Ini, Kau pakai. Itu alat untuk bisa berkomunikasi dengan kami, alat itu juga di lengkapi GPRS.” Tiffany menempelkan benda kecil pada kerah seragam Ha Ni. Ha Ni memiringkan tubuhnya kebelakang untuk memudahan Tiffany memasangnya.

“Hmmm… ” jawab Ha Ni

***

3 hari berlalu terasa lambat dan berat untuk Ha Ni atau yang sekarang menyamar menjadi Se Na untuk di jalani. Sungguh hanya dia satu-satunya yang mengalami masa SMA dua kali. Lucu sekali.

Masa orentasinya tidak berjalan mulus. Sialnya dia sering mendapat hukuman dari senior. Entah itu menyanyi lagu anak-anak dengan gaya lucu, mengombali panitia namja. Astaga ingin rasanya Ha Ni makan satu persatu panitia orentasi itu.

“Capeknya.” Ha Ni menoleh saat ada seorang yang duduk di sebelahnya. Ia langsung memberikan botol minuman yang belum ia minum.

“Xie. Xie.” ucap Tao sambil menerima botol minuman dari Ha Ni dan langsung meminumnya sampai habis.

Sesuai dugaannya, Tao dan Eun Ji menjadi sasaran hukuman panita. Soal Eun Ji, dimana gadis itu.

“Eun Ji dimana?” tanya Ha Ni. Sejak kemarin mereka bertiga berteman dekat tampa disadari. Entahlah apa karena sering di hukum bersama.

“Masih di hukum.” jawab Tao.

***

Se Hun berdiri sambil memperhatikan istrinya yang sibuk mengeluarkan pakaian dari lemari dan memasukannya ke dalam koper besar berwarna coklat. Ia mengehela nafas pelan. Bagaimana pun ia seorang suami, dan mana ada suami yang rela di tinggal istrinya.

“Ha Ni.” panggil Se Hun.

Tidak ada jawaban. Entah pura-pura tidak dengar atau malas mendengarnya.

“Oh Ha Ni.” Se Hun yang jengkel akhirnya melangkah maju.

“Yakkk!” Ha Ni terdiam saat Se Hun memeluknya dari belakamg. Ha Ni tersenyum tipis dan menaruh kedua tangannya di atas tangan Se Hun yang melingkar di perutnya.

***

Hani melihat sebuah kertas besar yang tertempel di sebuah mading. Ha Ni mencari-cari namanya dan asrama kamar berapa yang akan ia tempati. Sesuai aturan murid Shinwa High School akan tinggal di asrama yang di sediakan.

“Wah, Kita satu kamar.” Ha Ni menoleh saat mendengar seseorang berbicara di belakangnya.

Eun Ji.

“Sepertinya aku di takdirkan dekat denganmu.” ucap Ha Ni dalam hati.

***

Next day…

Ha Ni berjalan pelan melewati koridor Shinwa High School, sungguh ia kagum dengan bangunan sekolah itu. Sekolah kalangan elit tentu saja kelihatan berbeda. Murid-murid yang lewat pun kelihatan berkelas dengan seragam, sepatu dan acsesoris yang di pakai. Seperti kemarin Ha Ni berjalan menuju mading, kali ini untuk melihat berada di kelas mana.
Kenapa tidak sekalian saja kemarin ini di tempel. Pikir Ha Ni.

Ha Ni mencari nama samarannya ‘Oh Se Na’ . Penentuan kelas di sesuaikan dengan nilai jadi karena Ha Ni tau kemampuan otaknya, Ia mencoba mencari nama penyamarannya di kelas 10-7.

“Kenapa tidak ada?” gumam Ha Ni setelah mengecek nama dari kelas 10-6. Tadi di kelas 10-7 juga tidak ada namanya.

“Tidak mungkin kan?” gumamnya tapi matanya kini teralih menatap kertas bertuliskan.

“Daftar murid 10-1.”

“Mwo?” matanya membulat saat melihat nama Oh Se Na tertera di sana, bahkan ada di urutan no 2.

“Astaga.” ucap Ha Ni.

“Wah. Kita satu kelas. Jadi teman sebangku bagaimana?” Ha Ni menoleh dan melihat namja tampan disebelahnya.

“Tao?”

***

“Yak. Kalian semua sengaja mengerjaiku hah! Apa-apaan, kelas 10-1.” Ha Ni berceloteh pada layar ponselnya yang kini menampilkan seseorang. Ya panggilan 3G.

“Jangan berteriak. Kalau ada yang tidak sengaja dengar bagaimana?” Baek Hyun menjawab.

“Yak. Suaramu tidak disana tidak disini tetap seperti kaleng.” suara Chan Yeol .

“Semua orang sedang sibuk di aula untuk upacara penerimaan murid baru.” ucap Ha Ni.

“Ha Ni fokus. Kita hanya memiliki waktu dua bulan.” gambar berganti dengan Tiffany.

Di waktu yang sama di tempat berbeda, mereka bertiga sedang menatap layar laptop yang menampilkan yeoja yang sedang kesal.

“Kalau mau protes pada suamimu saja.” ujar Chan Yeol.

“Ahh. Kalian menyebalkan.” ucap Ha Ni dan menutup panggilan.

“Bagaimana kau bisa memiliki istri ajaib begitu?” tanya Baek Hyun.

Se Hun yang tau pertanyaan tertuju padanya hanya diam. Malas sekali menjawab pertanyaan seperti tadi.

***

@. Shinwa High School.

Setelah 4 jam melakulan proses pembelajaran yang membuat otak dan pantat panas. Bel istirahat pertama berbunyi. Ha Ni menghela nafas lega. Pelajaran pertama adalah sastra di lanjut fisika. Sungguh membuatnya mengantuk.

“Tidak ke kantin?” Tao bertanya sambil memasukan buku sisa pelajaran tadi ke dalam tasnya.

“Ti-” belum sempat Ha Ni menjawab sebuah suara yang melengking terdengar nyaring.

“Se Na!” Eun Ji berlari masuk ke dalam kelas 10-1.

“Aish. Kenapa semua yeoja memiliki suara yang sangat menganggu telinga.” gerutu Tao sambil meniup tangan kanan yang ia kepal lalu di taruh di telinga kanan-kiri secara bergantian.

“Wah. Kita tidak satu kelas. Aku 10-3.” ucap Eun Ji sambil cemberut, Ha Ni yang melihatnya hanya diam dan menghela nafas.

“Ayo. Kita ke kantin. Aku tlaktir.” Eun Ji menarik tangan Ha Ni dan Tao.

@. Kantin.

“Kau tidak pesan makanan?” tanya Tao saat melihat Ha Ni yang hanya memesan orange jus.

“Sedang diet ya?” tanya Eun Ji sambil memakan kentang gorengnya. Tao mengambil kentang dari piring Eun Ji lalu memakannya.

“Kenapa wanita selalu diet?” gumam Tao.

“Tidak. Aku sudah kenyang.” jawab Ha Ni.

“Kenyang hati.” dumal Ha Ni dalam hati.

“Yakkkkk!”

Suasana kantin tiba-tiba ramai, banyak para murid terutama murid yeoja berlari menuju pintu utama kantin. Suara riuh dengan beberapa dari mereka yang berteriak. Ha Ni dan Tao bingung sendiri. Sedangkan Eun Ji menghela nafas pelan.

“Ada apa?” Ha Ni menoleh untuk melihat tapi sayang tertutup oleh beberapa murid di depan sana.

“Ini yang membuatku malas di sekolahkan disini.” gumam Eun Ji

Ha Ni dan Tao mengangkat alisnya, dan mengerutkan dahi. Pertanda kalau mereka bingung.

Eun Ji menoleh ke belakang sebentar sebelum menjelaskan sesuatu.

“Mereka seperti itu karena ada F4.” ucap Eun Ji.

“F4?” tanya Ha Ni.

“Hmm…. ” Eun Ji mengangguk dan kembali memakan kentang gorengnya.

“Maksudmu, kumpulan 4 murid namja Shinwa High School yang berciri khas memakai kaca mata?” tanya Tao.

“Itu kau tau.” ujar Eun Ji.

“Tunggu. Maksudnya seperti F4 genk Goo Jun Pyo, Boy Before Flower?” tanya Ha Ni. Sepertinya ia mulai paham.

“Heem. Empat orang namja tampan dan kaya.” ucap Eun Ji.

Ha Ni kembali menoleh kebelakang, dan disana berdiri 4 orang namja yang sedang berjalan pelan menuju salah satu meja. Para murid saling berbisik dan murid yeoja sibuk heboh sendiri. 4 namja dengan kaca mata. Ha Ni memperhatikan 4 namja itu seksama. Sungguh. Ha Ni kagum bahkan tampa berkedip memandangnya

“F4 ?” ucap Ha Ni dalam hati.

“Kau tidak tau mereka?” tanya Eun Ji yang mendapat gelengan kepala dari Ha Ni.

“Kalau aku tau sedikit.” ujar Tao.

“Aku tidak bertanya padamu. Pabo!” ujar Eun Ji.

“Siapa yang pabo. Enak saja.” ujar Tao.

“Se Na, teman sebangku mu menyebalkan.” ujar Eun Ji.

Sedangkan Ha Ni, sedari tadi terus menatap 4 namja yang duduk tak jauh dari tempatnya.

Eun Ji yang paling tau mencoba menjelaskan. “Baiklah, Aku jelaskan. F4 terdiri dari kumpulan anak-anak orang kaya di negara kita. Mereka adalah Kim- “

Tbc…

Hohoho kelar juga, makasih ya yang sudah mau baca dan komentar..

 

24 responses to “[Freelance] A.T (Agent Target). Ep. 1

  1. woww.. permulaan yang bagus.kenapa sehun macam itu sama hani?
    tidak sabar tunggu kelanjutannya.keep writting authur.

  2. aaa ini seruuu, omo itu gimna coba sehun sma hani pasangan suami istri ??? kesehariannya gimna yaaa pasti lucu wkwkwk gimna bisa nikahnya coba hehe.
    sehun kesepian tuhhh wkwkwk kasian salah sndri ngrim istrinya sndri.

    kim hani fighting yaaaa !! buat authornya juga hehe .
    di tunggu kelanjutannya thor !!

  3. waahhh boleh juga nih ceritanyaa
    nice thoorr unik banget sih
    karakternya juga 👌🏼👍🏼
    okaaylaah ditunggu chap selanjutnya yaa 끝
    keep writing fighting thank you✨

  4. Seruuu!!
    Harusnya jgn kasih nama F4 eonn, terlalu pasaran :s
    Sayang banget hani tinggal di asrama, sehun jd susah ngawasinnya hahaha
    Btw, bikin hani deket sn namja cakep dong eonn, biar sehun jealous😀

    Ditunggu nextnyaa~ jgn lama2 yaa eonn

  5. Ya ampun sehun kasian yah punya istri ajaib kayak hani 😂😂😂
    Tapi gak apa-apalah ceritanya bikin penasaran tingkat provinsi 😆😆
    Keep writing kak✊✊✊✊

  6. Ihhh astagaaaa gantungnyaaa bisaa bngt buat penasaarannn, dan ga nyangka trrnyata ha ni sama sehun udh nikahh wkwkwkw, lanjutttttt thorrr

  7. Hani istrinya sehun…. ih gila ni ff penuh kejutan. Siapa aja itu anggota F4. Boleh aku tebak? Kim suho. Kim jongin. Kim minseok sama kim jongdae. Wahahahaha itu mah kluarga kim. Eh penasaran siapa aja itu f4. Apa mgkn pelaku pembunuh nya itu mreka? Lanjut ya jgn lama lama

  8. Uwa kaaaaaaak
    Tbc nya nanggung sekaleeeee
    Ditunggu chapter berikutnya yaa
    Semoga cepet updatenya kkkk😉

    FIGHTING!

  9. Pasti muka hani cute bgt ya amoe sehun tega nyuruh nyamar jdbanak sma hahahaaha….wahh bakalan seru kaya y..d tunggu next chap y

  10. Pasti di antara kelompok f4 itu ada yg naksir hani..abis ini sehun cemburu…rasain sapa suruh istri sndiri suruh nyamar…klo gak salah fokus…korban itu mantan sehun???

  11. Kereeenn
    Aku suka
    Suka sama sehun-hani yg suami istri tp aneh
    Suka sama baekyeol couple
    Suka semua deh🙂

  12. Ditunggu kelanjutannya thorr, kayanya si f4 ini diketuain kai yaa wkwkwk. Ada konflik percintaannya juga nih kayanyaa hohooo

  13. Kekkeke~ ditunggu chap selanjutnya eon^ suka sama alurnya hehhe😅 suka moment sehun hani kiyut gimana gitu rumah tangga mereka

  14. Kyaaa…lg seru2’a mlh TBC,,gantung nih.
    Bakalan ada cinta sgitiga ga nih antra slh stu mmber F4,hani,sm Sehun.ckck
    sehun dingin bgt,dan hani ajaib:D
    ditunggu next chapternya.

  15. hahahaaaa… aku suka sma karakter Kim Hani / Oh Sena ini.. emosian..
    next chap. thor ff-nya keren apa lgi soal pengintaian… ahh.. DAEBAK..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s