[Freelance] Mood (Part 2)

Mood2

Alicellion’s Storyline |Mood -2- [Series]    ∞|Oh Sehun  and OC |Romance, Campuss-life, Sad, Adult etc| PG – 17  | Leght :  ±1100 words

Warning for Mature !

̅

NATURALY STORY FROM MY MIND. NO PLAGIATOR AND STEAL MY IDEA STORY !

≈Happy Reading !!≈

Tidak ada gunanya lagi.

Sudah lelah, semuanya telah usai. Senior kami kecewa besar. Aku bukan pimpinan tapi rasanya sangat malu, sungguh. Katanya, angkatan kami benar -benar buruk. Uh, bahkan ada yang mengatakan jikalau kami melakukan kesalahan terburuk setelah dua dekade kami membangun ekskul ini.

Aku berjalan menuju halte dengan penuh gontai. Sangat buruk, bahkan banyak iris yang ogah memandang diri ini. Uhh, menyebalkan sekali. Aku merogoh saku untuk melihat pukul berapa sekarang, bukan apa -apa. Tadi pagi memang aku tidak memakai jam tangan.

17.23

“Sudah setengah enam ya.”hirauku, aku hendak memasukkan ponselku kembali ke saku tapi terhenti ketika merasakan ponselku bergetar.

Sehun Oh

 

Belum pulang ya ? Bibi tadi menelefon ku.

 

 

Me

 

Belum, aku baru selesai rapat tadi.

 

Sehun Oh

 

Perlu jemputan ?

 

 

Enggan membalas, sebenarnya sangat ingin. Apalagi mendapat wajah tersenyum Oh Sehun, yakin aku pasti bisa UpMood. Bahkan bisa sampai lupa kalau aku punya masalah. Satu – satunya pengubah Mood ku Oh Sehun.

Sulitnya dia ini sangat berlebihan.

“Hei.”

Nah, benar kan ? Berlebihan.

“Dasar Sombong, cepat naik.”

“Tidak, Hun.”

“Nara, ayo cepat.”

Malas beradu mulut dengan pemuda berpantat tepos ini aku berjalan lemas. Dengan mata sembab aku melihat Sehun membukakan pintu untukku dan mempersilahkan diriku ubtuk duduk.

“Munafik sekali, tidak butuh padahal butuh.”

“Diamlah Hun. Aku lelah.”

“Kenapa ?”

“…”

“Engg, tentang karya siswa dan tweet anak anak tadi ya ?”

“…”

Tidak terdengar apapun sampai akhirnya ujung mataku terasa berat. Rasanya seperti membawa beban yang siap jatuh. Dadaku terasa sesak kini makin sulit meraih napas, “Hiks..”

Terdengar decitan kursi mobil, Sehun memutar tubuhnya yang baru saja memasangkan sabuk pada tubuhnya. “Babe, ada apa ?”

Alih – Alih menjawab tubuhku malah meraih leher panjang Sehun. Meminta pelukan dalam, meraung – raung di balik bahu tegap pemuda ini. Meminta sentuhan hangat yang menenangkan.

Makin menangis tersedu saat Sehun merangkul balas diriku dan menyapu punggungku hangat, “Tenang, sayang.”bisiknya di indra pendengarku halus sembari berkali – kali mengecup kening, puncak kepala dan pipiku.

“Aku takut, Hun.”

“Apa yang kamu takuti, hm ?”

“Soal itu -”

Bibir Sehun membungkamku, mengecup lamat hingga aku terdiam. Hanya sekedar tersedak isakan mengerikan dari tenggorokanku. “Dengar ya,” Napasnya terasa di depan wajahku. “Kamu tidak perlu khawatir Nara, toh kamu bukan pimpinan. Keep calm, baby.”

“Sulit Hun.”

“Aku mencintaimu kamu tahu ‘kan ?”

“Serius Sehun, aku sedang tidak ingin menggombal.”

“Tapi kamu menggombal soal kamu takut dengan orang orang seperti itu. Jung Nara belahan Jiwa Sehun tidak pernah takut pada apapun kecuali pada Ayah, Ibu, Tuhan, dan Sehun Oh.”

“Mereka mengatai aku sebagai tidak berguna.”

“Apakah tertuju padamu seorang ? Untuk semua sayang.”

“Dan itu termasuk aku Hun.”

Sehun menarik napasnya dalam, benar juga ucapan Nara. Gadisnya ini memang tidak peduli, namun mudah sekali tersinggung. Selepasnya, Nara tidak lagi menyembunyikan wajahnya di bahu Sehun. Ia menaruh tubuhnya nyaman di kursi mobil dan memejamkan mata.

“Tersenyumlah sayang.”

I can’t do it now, darl.

Sehun kembali duduk dan meraih tangan gadis itu lalu meletakkannya di atas kendali kemudi. Melajukannya bersama dan degan suara parau Sehun bertanya, “Mau pergi kemana ? Kau mau apa ?”

“Serius Hun. Kamu mau menyogokku agar bisa tersenyum ya ?”

“Tentu saja.”

Nara membuka mata merahnya dan menatap Sehun, “Paris Boquette.” melihat respon Sehun penuh tanya ia tersenyum, “Pertama, patbingsu. Denganmu.”

Sehun memarkirkan mobilnya di depan toko roti dan kedai minuman. Menarik gadis lemahnya keluar dan memesankan beberapa menu untuk di lahap bersama gadis itu.

“Ini, cepat makan.”

Melihat gadis itu hanya diam menatap minuman gunung es itu Sehun ikut terdiam. “Honey, kenapa? Kamu tidak suka at -”

“Kedua, Suapi aku Oh Sehun.”

Sehun menaikkan alisnya tinggi, “Apa ?”

Melihat gadisnya akan kembali merenggut dan menangis Sehun mengalah. “O-Oke, tersenyumlah selagi aku memecahkan es milikmu oke ?” Sehun berujar sabar. Melihat gadis itu mengangguk angguk dengan mata kucingnya membuat hati Sehun membuncah.

Sungguh, Sehun tidak ingin memvuat gadisnya terkena lara sedikitpun. Jadi pria ini mulai menyuap satu persatu menuju bibir gadisnya.

Setelah dirasa patbingsu keduanya telah tertelan bersih, Sehun menaikkan alis. “Mau apa lagi ?”

“Pulang.”

Sehun tersenyum, Nara pasti sudah merasa lebih baik. Maka Sehun akan mengantar Nara kemana kira –kira ? Apartemennya kah atau rumahnya?

“Kau –“

“Aku masih punya dua permintaan Sehun. Lalu kau bisa membawaku kemanapun.”

“Eh.”

Sehun menatap Nara penuh tanya dan pada akhirnya ia tersenyum. Ia menarik tangan Nara agar bisa menggapainya ke dalam rangkulan dan mulai mengabulkan beberapa permintaan Nara.

Tangan Sehun membuka pintu ubtuk Nara dan mempersilahkan gadis itu duduk. Lalu dengan segera Sehun berlari dan masuk. “Ayo pergi ke man –“

“Cium aku Oh Sehun.”

Sehun baru saja akan menautkan sabuk pengamannya ke kunci namun terurungkan karena ucapan Nara. Matanya membulat lebar, kali ini mata elang Sehun tak lagi terligat satu garis.

“Kenapa diam, Cepat.”

Sehun masih tak bergeming, hatinya bergemuruh. Pasti gadis itu mempermainkan hormonnya, uhh mobil ini terasa panas secara tiba tiba!

“Kau mau aku mencuri start ?”

Sehun tersadar ketika Nara mulai menggapai tangannya dan melihat gadis itu mulai mendekat. Seolah tak ingin gadis itu memimpin, Sehun segera menempelkan bibirnya. Melumat bibir Nara dengan perlahan. Tangan sebelahnya memeluk gadis itu dengan yang lain menahan tengkuk gadis itu. Tangan gadisnya merambat dari perut menuju dadanya, begitu perlahan.

Oh, Gadis dengan marga Jung ini benar benar mempermainkan Oh Sehun!

Lumatan Nara pada bibir Sehun membuat Oh Sehun hilang akal makin menenggelamkan bibirnya cepat dan tergesa di atas bibir Nara dan meraba perut Nara.

“Mmhh..”

Telinga Sehun terasa terbakar mendengarnya, “Jung. Nara.”Panggilnya di rungu gadisnya, kecupannya turun di Leher putih gadis itu dan menciuminya tanpa ampun. Mata Sehun terbuka, melihat gadisnya memejamkan mata ia tersenyum.

Kembali menautkan bibir mereka dan Sehun mulai mendorong Nara pada pintu mobil. Oh pemuda ini sudah kehilangan akal ya?

“Se -Sehun…” Erang Nara memohon, Sehun berdecak sesaat setelah bibir mereka terlepas. Namun tak berlangsung lama karena Sehun hanya menatap Nara sebentar dan kembali meraup bibir gadisnya.

“Oh Se-hun.”

Nara mendorong dada Sehun, meminta berhenti. “Sehun, Henti-kan.”

Sehun berhenti.

Ia duduk pada kursi dan mulai melihat Jalan Raya dengan tatapan dingin. Jadi Jung Nara memang benar –benar  mempermainkan hormonnya ?

“Oh Sehun kamu ma –“

“Aku lelah, ayo pulang.”

Nara berdesir, Moodnya sudah benar benar naik tadi. Tapi Merasa Sehun sudah terlewat panas maka ia meminta berhenti. Tapi, ia tidak akan menyangka jika Sehun akan marah.

Habis sudah.

Mood Nara tergantung perilaku Sehun padanya, bisa bisa setelah ini Nara makin turun Mood dan bunuh diri. Tawa Sehun, senyum Sehun. Bercengkrama sepanjang malam dan meluangkan waktu untuk di ranjang bersama Sehun adalah hal yang benar –benar membuat Mood Nara melejit naik.

“Janngan marah.” Gumam Nara saat mereka berada di depan apartemen. “Kau berjanji akan membuat Mood ku naik dan kau kembali menurunkannya.”

Sehun masih diam, mencengkram kemudi kuat kuat dan mulai mengendur. “Kau membuatku lepas kendali.”

“Aku masih punya satu permintaan kalau kamu masih ingat.”

Sehun menengok Nara tak mengerti.

“Dan setelah itu kamu bisa membawaku kemana pun kamu ingin, Sehun.”

Sehun tak mengerti, ia berfikir namun terlalu lama hingga ia merasa rahang bawahnya di kecup oleh seseorang.

“Cepat bawa aku kemanapun kamu mau. Permintaanku sudah habis, melanjutkan kegiatan di mobil tadi di kamar lebih menyenangkan bukan ?”

Sehun membulatkan mata, lalu tak lama ia tersenyum. “Oh, baiklah.”Gumam Sehun kelewat senang. Senyum miring Sehun tak bisa berhenti selagi ia mengemudi sampai tempat parkir apartemen Nara.

“Saat kita melakukannya di mobil tadi, kaca mobilmu tidak tembus pandang ‘kan ?”

“Tenang saja Nara. Tidak akan.”Ucap Sehun melepas Self-belt mereka dan mulai keluar dari tempatnya lalu mengeluarkan Nara dengan menggendongnya.

“Kau akan masuk kuliah terlambat besok.”Sehun berbisik.

“Aku tidak memiliki mata kuliah di hari Jumat Oh Sehun.”

“Selesaikan Skripsimu sayang, dan kita akan menikah.”

Nara tersenyum di leher Sehun sebelum menjawab, “Serius, kamu adalah Moodku Sehun.”

 

FIN

©Alicellion Storyline.

 

8 responses to “[Freelance] Mood (Part 2)

  1. aduh yaampun sehun-_- bener bener ngelakuin apapun biar bisa bikin nara senyum,nara agresif banget haha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s