You Don’t Know Everything- Remake Story – Part 1 Babalee

YKDE

 

You Don’t Know Everything

Remake Story

Byun Baekhyun | Shim Chaesa | Park Chanyeol | Do Kyungsoo | Kim Suho | Kim Jongin | Oh Sehun

Kim Minsoek | Xi Luhan

 

 

 

Setiap hari adalah hari-hari sial bagi Shim Chaesa, tapi hari ini yang terburuk. Tubuhnya terhempas hampir tak sadarkan ketika mobil audi merah melaju cepat ke arahnya. Seorang ibu tua membantunya-seharusnya dia berterima kasih- karena ibu itu sekarang Chaesa duduk di samping kursi kemudi. Sedang Park Chanyeol-pria yang tadi menabraknya- terus saja mendesah sambil sesekali menatapnya.

Tidak ada yang parah-ini menurut Chaesa-. Hanya lututnya yang tergores dan keningnya yang berdarah karena kepalanya tadi membentur kaca mobil. Sebenarnya darahnya tidak keluar sampai seember. Hanya beberapa tetes saja. Kepalanya sedikit pening. Itu saja. Dan semuanya baik-baik saja.

“Hei siapa namamu. Apa kau ada di angkatan pertama? Ini pertama kali aku melihatmu.” Kata Chanyeol yang Chaesa tahu jelas bahwa itu hanyalah basa basi busuk setelah ratusan permintaan maaf yang terlontar dari mulutnya.

Seketika perjalan menuju sekolah jadi sangat lama. Chaesa menghela nafas berat. Sejujurnya dia tidak suka berada di sini. Dimanapun yang ada Chanyeol di dekatnya. Dia tidak suka. Apapun alasannya tidak. Dia bukan gadis remaja yang jatuh cinta dan tergila-gila pada pria jangkung ini. Entalah, menurut Chaesa, apa yang menarik dari seorang Park Chanyeol selain dari wajahnya dan kekayaannya-kekayaan orang tuanya-.

“Tidak. Aku diagkatan ke tiga.” Kata Chaesa tanpa menatap Chanyeol. kedua tangannya sibuk menatap ponselnya. Mengetikkan sesuatu lalu kembali memasukkannya ke dalam saku.

“Ah benarkah? Ini pertama kali aku melihatmu. Kau murid baru?”

“Bukan.”

“Ah begitu.”

Dan suasana menjadi canggung lagi. Ada jutaan prasangka dalam benak Chanyeol. Gadis itu marah? Jual mahal? Atau memang benar-benar tidak apa-apa?

“Pertigaan di depan tokok roti. Turunkan aku di sana.” Kata Chaesa membuat Chanyeol menatap gadis itu tidak percaya. Maksudnya jarak ke sekolah masih sepuluh menit lagi, itupun jika menggunakan mobil. Dan di depan bukan halte bus.

“Tidak dengar. Aku bersungguh-sungguh saat mengatakan akan bertanggung jawab tadi. Jadi tidak apa-apa tidak usah sungkan.”

Chaesa mendengus dan Chanyeol dapat mendengarnya dengan jelas, “Temanku menungguku di sana. Bisa kau berhenti?”

Tatapan gadis itu, setelah sekian lama duduk berdua dan ini kali pertama dia menatap Chanyeol. tatapannya terlalu biasa. Tidak ada emosi apapun di dalamnya. Terlalu kosong.

Chanyeol menghentikan mobilnya tepat dimana Chaesa bilang tadi. Gadis itu segera melepas selfbeltnya lalu keluar dari mobil tanpa mengatakan apapun. Chanyeol menatap gadis itu dan ternyata dia menemui seorang pria yang sedang menyandarkan tubuhnya pada mobil hitam. Dalam hati dia merutuk. Jadi dia sudah ada janji dengan pria.

 

***

 

Minsoek menegakkan tubuhnya. Matanya membelalak ketika melihat Chaesa keluar dari mobil mewah. Tapi buru-buru dia mendelik lalu melangkah terserok-serok mendekati pria itu.

“Itu mobil Chanyeol. Dia menabrakku tadi.”

“Kau tidak apa-apa?” Tanya Minsoek meraih kedua bahu Chaesa lalu melihat kesekitar tubuh gadis itu.

“Tidak. Tapi aku rasa kau harus membantuku di klinik sekolah nanti. Ayolah nanti kita terlambat.” Chaesa melangkah masuk ke dalam mobil Minsoek tanpa mengatakan apapun. Pria itu mendengus melihat kelakuan salah satu temannya. Yah Shim Chaesa memang seperti itu. Rasanya tidak terkejut. Tapi yang masih dalam pikirannya adalah, bagaimana bisa dia berteman dengan gadis pendiam seperti itu.

 

***

Jika dilihat –tanpa perlu diperhatikan- sekolah ini penuh dengan kumpulan anak orang kaya. Sekolah swasta Young Do milik Kim Joomyun ayah dari Kim Suho sudah menarik perhatian banyak orang karena dari sini para orang tua bisa bertemu rekan bisnis baru untuk keperluan pribadi.

Tidak ada siswa yang datang berjalan kaki atau menggunakan angkutan umum. Beberapa datang dengan menggunakan mobil atau motor dengan mengendarai secara pribadi-beberapa siswa masih belum punya lisensi juga nekat-. Beberapa datang dan pergi dengan jemputan. Mungkin hanya Shim Chaesa yang datang menggunakan bus umum atau sesekali menggunakan sepeda dengan menggunakan headphone. Apa yang salah?  Seharusnya tidak ada, tapi beberapa orang malah mengatainya tidak tahu malu karena sudah berani sekolah di sini.

Ini semua karena ayahnya- Shim Donghae- yang memaksa Chaesa sekolah di sana dengan alasan banyak anak dari rekan bisnisnya yang pasti bisa berteman dengannya. Tapi nyatanya yang mau dekat dengan gadis pendiam tidak bisa bersosialisasi dengan benar hanyalah Kim Minsoek dan Xi Luhan. Dua orang kaya keturunan Korea-Tiongkok yang kadang berbicara dengan bahasa yang sama sekali tidak bisa Chaesa pahami.

“Chanyeol tidak mau bertanggung jawab?” Tanya Minsoek sambil mengusap kening Chaesa yang berdarah dengan antiseptik lalu membalutnya dengan pembalut luka.

“Tidak dia sudah sangat bertanggung jawab. Hanya saja aku tidak suka. kau tidak memberi tahu Luhan kan?” Tanya Chaesa masih menatap Minsoek lekat. Pria itu menjauh satu langkah lalu menghela nafas pelan. Bahunya bahkan sampai turun dan itu terlihat jelas.

“Tidak, dia pasti akan heboh dan aku tahu mood mu sedang jatuh sekarang.”

“Trims.”

“Ayo ke kelas.”

Minsoek membantu Chaesa berdiri lalu membiarkan gadis itu berjalan sendiri. Sebenarnya dia ingin membantu setidaknya memapahnya atau menggandeng lengannya. Tapi gadis itu tidak suka sentuhan empati atau simpati. Minsoek tahu jelas Chaesa pasti akan menolak bahkan saat tangannya belum menyentuh tubuh gadis itu.

 

***

Baekhyun memainkan apel di tangannya. Melemparnya lalu meraihnya terus seperti itu sampai Chanyeol datang dan duduk di sampingnya dengan wajah di tekuk. Baekhyun ikut mendudukkan dirinya di samping Chanyeol sambil menggigit apelnya lalu menyodorkan pada si Yoda.

“Baekhyun aku baru saja menabrak seseorang. Gosh!” Chanyeol menutupi wajahnya dengan kedua telapat tangannya. Baekhyun yang mendengar itu mengerjapkan matanya beberapa kali lalu mengangguk.

“Lalu dia mati?”

Chanyeol menatap Baekhyun tidak percaya. Rasanya dia ingin membawa mobilnya lalu menabrakkanya pada Baekhyun saja. “Tidak bodoh! Dia baik-baik saja. Dia satu sekolah dengan kita. Ah Holy shit kenapa aku tidak tahu namanya.”

“Beritahu aku ciri-cirinya seperti apa. Barang kali aku tahu.” Kata Baekhyun kembali memakan apelnya.

Chanyeol menegakkan tubuhnya menatap sahabatnya lebih fokus. Kedua tangannya saling bertautan. Ini adalah salah satu caranya mengingat. Gadis tadi pagi ya..

“Dia cantik. Yah rambutnya panjang lebih dari sebahu. Sedikit pirang. Matanya sipit bibirnya tipis.”

“Bodoh banyak yang seperti itu. Krystal Jung juga seperti itu.”

“Tidak tidak. Gadis ini tidak galak. Dia hanya tidak banyak bicara. Tapi dia seperti pendiam. Aku baru pertama kali melihatnya. Tapi katanya dia sudah lama di sini. Ah tapi tadi dia bersama kau tahu anak yang juga ikut punya yayasan sekolah ini. Kim, bukan Suho tapi marganya Kim ah sial aku lupa.”

Baekhyun menggendikkan bahunya tidak peduli. Ada banyak Kim yang ikut andil pada yayasan sekolah. Seketika itu juga Chanyeol menyonor kening Baekhyun hingga membuat mereka hampir terlibat perkelahian. Tahulah, perkelahian Baekhyun dan Chanyeol hanyalah sebatas saling menusukkan hidung pada lubang hidung atau telinga sedalam-dalamnya.

 

***

Kim Suho adalah presiden sekolah yang selalu sibuk dengan urusannya mengurus para siswa dan segala acara tetek bengek yang beberapa siswa benci. Bukan kebetulan dia terpilih. Dia menang demokrasi melawang Xi Luhan yang hanya bermodalkan tampan dan wajah imut cantik. Setelah mendapat voting banyak yang menyesal tidak memilih Luhan, mereka pikir Xi Luhan adalah wanita yang suka berdandan seperti pria.

Do Kyungsoo selalu sibuk dengan pelajarannya. Katanya dia akan mengambil kedokteran diuniversitas elit di Seoul. Mangkanya dia sekarang sudah mulai sulit di hubungi. Apalagi Hagwon yang membatasi ruang geraknya. Tapi sesekali batang hidungnya akan terlihat jika Do Kyung Hee sudah berbuat ulah.

Desas desus Kim Jongin baru saja diterima sebagai trainee SM. Jadi setiap pulang sekolah dia akan keluar lalu berlatih. Ada sekitar Sembilan jam perminggu dan hal itu membuat kawan-kawannya merasa prihatin karena tubuh Jongin semakin hitam dan kurus.

Tersisa yang masih bisa berkeliaran tanpa beban hanyalah Park Chanyeol, Byun Baekhyun dan Oh Sehun. Angkatan terakhir dan beberapa bulan lagi akan menghadapi ujian universitas memang membuat setiap siswa harus menguras otaknya. Chanyeol bilang dia akan kuliah jurusan musik dan sudah mendapat kursi Karena berprestasi-dalam hal musik- dan Baekhyun akan masuk jurusan bisnis dimanapun dia tidak peduli. Sedang Sehun akan menjadi seorang guru-katanya- dan jelas itu hoax karena bagaimanapun ayahnya akan memasukkan Sehun ke jurusan Manajemen atau apapun yang berhubungan dengan bisnis ayahnya.

“Ayolah Chanyeol, kau tidak usah terlalu memikirkannya. Lagipula tadi katamu dia baik-baik saja?” Kata Baekhyun sambil memegangi pundah Chanyeol yang jangkung. Namun sedetik kemudian, pria jangkung itu berhenti melangkah dengan tatapan fokus. Sesuatu atau seseorang pasti telah menarik perhatiannya.

“Hey!” Kata Chanyeol lalu melangkah cepat. Baekhyun yang masih tidak mengerti hanya menghembuskan nafas kesal. Bagaimana bisa dia diabaikan oleh kawan seperjuangannya sendiri?

Langkah Chanyeol cepat-cepat mendekati seorang gadis dan pria di sampingnya. Siapa lagi kalau bukan seseorang yang dia tabrak tadi pagi. Rasanya semua bebannya terhempas begitu saja. Dilihat tidak ada yang serius-seperti katanya tadi- hanya saja ada sesuatu yang mengganjal. Seperti perasaan bersalah? Sepertinya begitu.

Chanyeol meraih lengan Chaesa sebelum gadis itu pergi lagi, “Hey kau. Wah kita berjodoh. Aku kira tidak akan pernah lagi bertemu dengan mu…” katanya sedikit menggantungkan kalimatnya lalu melirik pada nametag. “Shim Chaesa?”

Tidak ada respon berarti. Chaesa hanya menatap Chanyeol sekilas lalu mencoba menggerakkan tangannya. Rasanya rishi apalagi melihat beberapa orang mulai menatap mereka dengan alis terangkat. Tertarik tapi terlalu takut untuk bertanya. Mereka jadi seperti hiburan tiba-tiba. Bisa menyebutnya topeng monyet?

“Aku baik-baik saja jadi lepaskan aku.”

Alis Chanyeol terangkat. Gadis ini terlalu, angkuh? Tanpa ia sadari Baekhyun sudah bergabung bersamanya. Netranya menatap Chaesa dan Chanyeol sesekali. Bertanya, ada apa ini. Tapi tidak ada yang menjawab. Lalu pembalut luka di kening dan lutut gadis itu menjawab semuanya.

“Kasar sekali. Kau tidak punya tatakrama?” kali ini Baekhyun menyahut. Chaesa masih belum berhasil melepaskan genggaman tangan Chanyeol.

Kali ini apa? Mereka terlihat seperti Kim Tan, Cha Eun Sang, dan Choi Young Do. Bedanya Kim Tan dan Young Do di sini berteman baik dan Cha Eun Sang bukan gadis biasa-biasa.

“Apa aku mengenalmu. Ada apa dengan kalian? Bisa lepaskan aku?  Kau tidak lihat orang-orang sedang menatap kemari?” Tanya Chaesa yang lagi-lagi membuaut Baekhyun tidak bisa berkata-kata. Gadis ini terlalu arogan?

Chanyeol menatap sekeliling. Benar katanya, beberapa siswa mulai menatap mereka dengan penasaran. Apa ada perkelahian? Dua pria dengan satu wanita dan pengawal di belakangnya? Perlahan Chanyeol melepaskan genggaman tangannya. Yah benar, ini terlalu memalukan.

Tanpa berkata apa-apa, Chaesa menarik lengan Minsoek menjauh dari keramaian. Mereka berjalan berdua seperti sepasang kekasih yang sedang bertengkar. Di belokan menuju tangga, Luhan datang dengan dua minuman dingin ditangan. Senyumnya yang merekah seketika menghilang ketika merasa hawa aneh. Terlebih Chaesa yang benar-benar tanpa ekspresi melangkah menaiki tangga.

“Itu gadis yang kau tabrak?” Tanya Baekhyun sambil menunjuk Chaesa dari bawah. Kepalanya dan kepala Chanyeol mendongak menatap setiap langkah gadis itu. “Wah jika aku jadi kau, akan ku tabrak dia sampai mati.”

 

***

Masih ada lima belas menit lagi sebelum bel mata pelajaran selanjutnya di mulai. Chanyeol yang merasa kesal sendiri lebih memilih pergi ke ruang kesehatan lalu tidur. Tapi Baekhyun sebagai kawannya yang baik-katanya- pergi menjadi minuman dingin. Soda di tengah hari tidak terlalu buru sepertinya.

 

Membayangkan kejadian tadi membuatnya gelid an marah sendiri. Maksudnya ini adalah kejadian pertama seorang wanita di sekolah ini tidak merasa takut atau kagum padanya atau Chanyeol. Hebatnya Baekhyun tidak pernah melihat gadis itu sebelumnya. Sudah tiga tahun bersekolah di sini, berkeliaran kemana-mana tapi wajah itu rasanya tetap asing kalau diingat-ingat.

Langkah Baekhyun terhenti. Seorang gadis sedang berjongkok dari jarak seratus meter dari tempatnya berdiri. Seperti tengah mencari sesuatu. Kebiasaaan. Kata Baekhyun dalam hati. Tanpa ekspresi apapun, dia melangkah mendekat.

“Sekarang apa yang hilang?” tanyanya ikut mencari. Gadis itu mendongak lalu tersentak hampir saja jatuh. Baekhyun menatap manik itu. Sudah lama sekali rasanya.

“Ba-baekhyun.”

“Apa yang hilang? Kaca mata? Lipbalm? Pulpen kesayangan?”

Gadis itu terkekeh kembali mencari sekeliling. Satu tangannya terangkat menyimpan helaian rambut yang jatuh menghalangi pandangannya. “Kali ini kaca mata. Kau benar-benar paham.”

“Kau selalu saja ceroboh. Bagaimana bisa kau hidup dengan kecerobohan tingkat tinggi di kepalamu?” Tanya Baekhyun yang ikut mencari bahkan sampai ke sela-sela pot bunga.

“Kau terdengar sedang menggodaku lagi Baek. Kau masih menyukaiku?” kata gadis itu yang langsung membuat Baekhyun mendongak. Ada seringai menyebalkan terpatri di sana. Kenapa? Padahal dulu dia pikir gadis itu akan berbeda. Maksudnya  menjadi teman saat sudah putus bukan sesuatu yang sulitkan?

“Ini sudah beberapa bulan yang lalu. Seharusnya kau mencari gadis lain. Tidak baik terus memperjuangkan gadis yang sudah punya kekasih.” Katanya tanpa menatap Baekhyun.

Seharusnya memang seperti itu. Hyun Joo pergi mengkhianatinya lalu berkencan dengan kapten basket sekolah. Si tiang Wu Yi Fa. Baekhyun lebih senang memanggilnya begitu dari pada Kris. Sudah lewat beberapa bulan namun wajah gadis itu tetap terpatri dalam ingatannya. Kenapa susah sekali?

“Aku sudah melupakanmu tenang saja.” Baekhyun beranjak berdiri lalu menyerahkan sebuah kaca mata pada Hyun Joo. Gadis itu mengerjap seketika. Meraihnya lalu ikut berdiri.

“Terima kasih. Terima kasih juga sudah melupakanku.”

Baekhyun melangkah pergi tanpa kata. Rasanya ingin ikut Chanyeol saja tidur di ruang kesehatan. Ah dia bahkan lupa membeli minuman soda untuk menenangkan pikiran mereka.

 

***

Do Kyungsoo memainkan pensil dalan genggamannya. Netranya fokus pada rintik air yang jatuh perlahan dari kaca. Seharusnya ada mata pelajaran tambahan untuk siswa kelas tiga. Tapi para guru akan mengadakan rapat mendadak-katanya- dan beberapa siswa masih terjebak di sekolah. Di sampingnya Sehun menidurkan kepalanya dengan melipat kedua tangannya sebagai bantal. Sepertinya Chanyeol sudah lebih baik karena dia sedang bernyanyi bersama Baekhyun dan Jongin yang melakukan rap. Masih ada beberapa siswa di kelas seperti Lee Won sang ketua kelas. Kim Ah ran gadis cantik namun idiot-maksudnya dia lebih sering seperti kenaka-kanakan- dan Jung Hyo Rin sang pesaing. Sebenarnya dia bersaing hebat dengan Kyungsoo dan sesekali perseteruan mereka menegang saat pembagian peringkat.

Baekhyun menari ponselnya lalu mendengus sambil mendelik. Nama pada layar ponselnya seketika membuat moodnya turun, walau tidak drastis.

“Ya nona Byun Wendy, ada apa?” Tanya Baekhyun yang sebenarnya tidak ingin mengangkat panggilan dari adik tirinya. Bukan karena benci, hanya saja gadis itu kadan meminta sesuatu yang menyebalkan. “Dengar, aku juga masih terjebak di sekolah jadi pulang sendiri saja. Kau ini manja sekali. Tidak, aku tidak bawa. Aku bersumpah ya kau ini. Aku membawa si hitam. Kau mau hujan hujanan denganku seperti drama? Ah sial baiklah aku ke sana. Tunggu dan jangan pergi.” Baekhyun menyimpan ponselnya ke dalam saku celana lalu meraih tasnya.

“Aku pulang. Aku lupa kalau ada acara hari ini.”

Chanyeol ikut turun dari atas meja, “Baekhyun aku ikut. Malam ini aku menginap ya? Aku tidak mau pulang. Yoora noona masih membuatku kesal.”

Yah pagi ini Yoora baru saja pulang pukul tiga lalu menyalakan alrm Chanyeol hingga membuat pria itu kalang-kabut seperti orang yang kesiangan. Bagusnya gadis itu tetap di Jeju dan melanjutkan pendidikannya sampai selesai bukannya malah pulang lalu membuat orang lain naik pitam.

“Tapi aku ada pembukaan kerja sama sore nanti. Sampai malam sepertinya kau tidak apa di rumah? Ada Wendy ngomong-ngomong.” Kata Baekhyun sambil melangkahkan kakinya keluar kelas. Chanyeol mengekor dari belakang sambil membenarkan letak tas nya.

“Dia tidak ikut?”

“Eh dia ikut aku lupa maafkan aku. Di rumah sendirian tidak apa-apa?”

“Tidak apa-apa, asal ada makanan di kamarmu. Aku tidak akan membuat kamarmu jadi kapal pecah, aku janji!”

Baekhyun mendengus lalu mengeluarkan paying dari dalam tasnya. Masih harus berjalan di bawah hujan sekitar lima puluh meter untuk sampai ke parkiran lalu masuk ke dalam mobil Chanyeol. Tidak, dia tidak ingin basah-basahan dalam mobil apalagi ini awal musim dingin. Dia tidak mau melihat salju pertama dengan ingus melambai-lambai dari lubang hidungnya.

Gadis itu lagi. Hyun Joo sedang berdiri di depan pintu. Menunggu bersama hujan katanya dan selalu saja membuat Baekhyun ingat. Dia akan sanggup berdiri selama apapun asalkan bersama hujan. Entah apa yang membuat langkah kakinya berkhianat dengan pikirannya. Dia malah mendekati Hyun Joo lalu dengan lancing menepuk pundaknya hingga membuatnya berjengit lalu membelalakkan matanya.

“Sudah sore. Cepat pulang.”

Gadis itu buru-buru meraih paying dari Baekhyun lalu melemparnya ke dinding. Matanya terlihat sangat panik dan tubuhnya sedikit bergetar. “Tidak usah so peduli padaku Baekhyun. Sudah ku bilang berhenti. Kau seperti sedang menggoda wanita. Aku sudah tidak menyukaimu jadi pergilah, cari wanita lain!” pekik Hyun Joo lalu melesat pergi menembus hujan. Satu tangan Baekhyun terkepal. Seharusnya dia yang marah bukan Hyun Joo.

 

***

Chaesa menatap dirinya di pantulan cermin. Plester pembalut luka di kening cukup mengganggu. Dia takut banyak orang akan beranya macam-macam mengingat dia adalah anak dari keluarga Shim yang paling jarang di ekspose ke media. Ini adalah kali pertama dia ikut acara pembukaan kerja sama antara perusahaan ayahnya dengan temannya. Katanya ini akan menjadi pembelajaran pertamanya untuk melanjutkan bisnis ibunya. Lebih dari ini Chaesa harus berani membuka diri pada dunia luar.

Pintu di ketuk, Chaerin-kakaknya- masuk perlahan. Perutnya buncit. Dia sedang mengandung anak yang berusia enam bulan. Tiga bulan lagi Chaesa akan menjadi tante. Membayangkannya saja sudah membuatnya gemas sendiri. Akan ada tangis bayi sebentar lagi. Pasti menyenangkan.

“Sudah siap? Kim ajjhusi sudah menunggu di bawah.” Kata Chaesa sambil membantu membenarkan rambut adiknya yang sedikit berantakan.

“Changmin ikut?”

“Tidak. Dia harus belajar. Ada Lim Ajhuma, ayah dan ibu akan pulang sebentar lagi.”

“Ha Neul oppa akan ikut?”

Lagi-lagi Chaerin menggeleng, “Tidak Chaesa, hanya kau dan aku yang ikut. Ayah dan ibu masih dalam perjalanan dari Jepang. Ha Neul oppa juga masih mengurus perusahaan cabang di sana. Kalau Changmin juga harus belajar.” Chaesa mengangguk. Tidak pernah terbayang dalam dirinya akan bertemu dengan puluhan orang. Semoga saja semuanya akan baik-baik saja.

 

***

“Jadi kau akan tetap datang?” Tanya Chanyeol yang tengah duduk di ambang tempat tidur Baekhyun.

Baekhyun membenarkan letak dasi yang sekarang tengah mengikat lehernya. Ugh. Dia benci datang ke acara seformal itu.

“Menurutmu siapa lagi? Aku tidak bisa percaya pada bocah itu begitu saja.”

Chanyeol menutup kedua matanya. Dia membenarkan letak topi yang tengah ia pakai. Terkadang jika mendengar cerita Baekhyun membuat Chanyeol merinding. Dibalik tawa nya, dibalik senyumnya, dia sangat menderita.

“Tidak ada niat kabur lagi?” Chanyeol menatap Baekhyun lekat lekat. Ada sebuah ide bodoh yang pasti akan membantu Baekhyun dari jeratan perintah orang tuanya.

“Kau ingat? Terakhir aku kabur, aku tidak sekolah selama seminggu. Ayah benar-benar menyiksaku.”

Baekhyun meraih sebuah jas hitam yang tergantung tak jauh dari cermin lebar yang tengah menampilkan kopian Baekhyun. Lengkap sudah, jas dan dasi. Lihat, bahkan karena penampilannya sekarang tidak akan ada yang menyangka kalau dia seorang murid sekolah menengah akhir yang sebentar lagi akan menempuh ujian perguruan tinggi.

Chanyeol mengangguk kecil. Benar, ia ingat betul ketika dia datang menjenguk Baekhyun. Kamarnya begitu acak acakan, pecahan kaca, guci dan apapun itu berserakan dimana mana. Yang ia lihat Baekhyun tengah terbaring lemah dengan tubuh yang terbesit, seperti seseorang telah mencambuknya. Percaya tidak percaya, tapi ayahnya sendiri yang telah melakukannya.

See, aku benar benar tampan sekarang?” Tanya Baekhyun pada Chanyeol. Chanyeol mencibir.

“Kau tidak lebih tampan dari seorang Park Chanyeol”

Tiba tiba pintu terbuka. Sosok pria yang berusia enam puluh tahunan itu masuk tanpa mengetuk pintu sedikitpun. Chanyeol yang kaget langsung terdiri disamping Baekhyun. Pria itu menatap tajam kearah Baekhyun dan Chanyeol.

“Aku kira kau akan kabur. Cepat pergi, acaranya akan dimulai sebentar lagi.” ucap tuan Byun tanpa berbasa basi, atau sekedar mengucapkan jika ankanya itu tampan dan gagah. Baekhyun mengangguk kecil.

“Jika aku diperbolehkan aku ingin sekali.”

Chanyeol membulatkan. Ya ampun berani sekali anak ini.

“Bahkan tidak dalam mimpimu.” Ayah Baekhyun melirik kearah Chanyeol, tatapannya semakin tajam. Chanyeol benar benar kikuk. Dia membungkukkan badannya. Biarpun sudah bersahabat dengan Baekhyun sejak dalam kandungan, tapi benar benar sulit hanya untuk berbicara hal ringan dengan ayahnya itu.

Annyeong haseyo ajjushi.” tuan Byun tidak mengucapkan apapun. Dia melangkah pergi meninggalkan Baekhyun dan Chanyeol.

Setelah punggung tuan Byun menghilang Chanyeol menjatuhkan dirinya dikasur milik Baekhyun “Ya tuhan, aku benar benar kaget. Sungguh!”

 

***

Gedung yang menjulang tinggi itu benar benar sudah di penuhi oleh beberapa orang penting berdasi dan wajah serius mereka. Mereka tidak peduli dengan orang lain. Tatapan nya lurus kedepan dan langkahnya yang panjang panjang sudah mengatakan jika mereka orang orang berkelas yang sibuk.

Baekhyun menatap kesekeliling. Ia menghela nafas kesal. Ia tidak suka dengan suasana seperti ini. Ini bukan dunianya. Lebih baik terus terusan bersama Chanyeol dan dianggap homo dari pada harus berada disini. Ugh! Sial. Lagi lagi ia terjebak dalam permainan yang dibuat oleh ayahnya.

Acara hari ini adalah peresmian kerja sama antara perusahaan milik ayahnya Byun dan perusahaan milik keluarga Shim. Baekhyun hanya perlu berpidato sebentar setelah itu duduk lagi menunggu acara selesai lalu pulang.

Wendy membuyarkan lamunannya. Dia menarik lengan Baekhyun ke sebuah meja bundar di tengah-tengah. Ah gadis ini kenapa harus di tempat yang seperi ini. Sejujurnya Baekhyun lebih senang duduk di pojok lalu melahap habis makannya.

Baekhyun duduk dengan tenang. Kedua matanya terus mengamati orang orang yang tengah sibuk dengan kertas dan laptop milik mereka. Sebenarnya sesibuk apa mereka sampai tidak menghiraukan calon pengurus perusahaan Byun Coperation?

Netra Baekhyun membulat seketika. Ia menangkap sosok perempuan dengan gaun hitam lengan panjang selutut. Bahkan ia tidak dapat melepaskan pandangannya. Wanita itu membuatnya tidak dapat berkedip. ‘Cantik’ hanya itu yang mampu Baekhyun cerna.

Tapi tunggu, sedang apa dia sini? Apa mungkin dia salah satu dari orang orang dengan otak yang dipenuhi dengan kata kerja disana?

“Ya! Kau tahu kan setiap rekan kerja ayah?” Tanya Baekhyun pada Wendy yang masih terlihat menatap sekeliling. Gadis itu tersenyum bangga seolah dia lebih hebat dari kakaknya ini.

“Kau tahu orang itu, itu yang duduk di dua meja dari pojok sebelah barat.” Baekhyun menunjuk dengan hati-hati, takut ada beberapa orang yang ikut melihat arah pandangnya. Wendy melihat seksama. Tiba-tiba satu tangannya menjentikkan jari. Dia ingat.

“Itu, Shim Chaeri anak dari Shim Donghae yang bekerja sama dengan kita. Karena tuan Shim sedang pergi ke Jepang dengan istrinya jadi anak sulungnya yang datang. Sendiri? Biasanya dia datang dengan suaminya.” Kata Wendy masih menatap meja Chaesa dan Chaerin. “Tuan Shim punya tiga anak. Shim Chaeri, Shim Chaesa, dan Shim Changmin. Kalau aku tidak salah itu gadis yang menggunakan gaun hitam seharusnya Shim Chaesa. Gadis itu sangat misterius. Padahal dia yang akan meneruskan bisnis fashion milik ibunya. Wah hebat. Cantik sekali ternyata Shim Chaesa.”

“Kau tahu info tentang Shim Chaesa?” Tanya Baekhyun. Kali ini Wendy menatap kakaknya dengan kening berkerut. Matanya menatap langit-langit lalu mengangguk kecil.

“Dia masih sekolah sekarang di tingkat tiga kalau aku tidak salah. Dia pernah sekolah di London dan Jepang dulunya lalu menetap di Korea. Dia sangat pendiam dan tidak pernah terekspose oleh publik.  Aku tidak tahu apa dia memang pemalu atau tidak suka dengan dunia bisnis sepertimu.”

“Dari mana kau dapat informasi sebanyak itu?”

Wendy menatap Baekhyun lalu tersenyum lebar, “Aku kan suka ke kantor ayah lalu mendengar banyak orang dewasa bergosip. Aku jadi tahu setiap desas desus. Hebatkan aku?”

Baekhyun mendelik tidak ada yang hebat dari seorang calon biang gossip yang sialnya adalah adiknya sediri. Mungkin lain waktu dia harus mengajari adiknya cara agar menjadi lebih tenang dan tidak ingin tahu segala hal.

 

***
Pukul enam tepat.Baekhyun tersenyum kecil. Suasana pagi hari disekolah benar benar menyenangkan. Udara yang segar dan yang lebih baik adalah tidak ada jeritan atau teriakan wanita yang membuat Baekhyun menutup kedua telinganya dengan earphone dengan volume penuh.

Baekhyun melangkahkan kedua kakinya kearah ruang tempat biasa kluc balet latihan. Baekhyun tersenyum kecil. Ingatan yang menyesakkan kembali terekam ulang dalam otaknya.

“Oh, Baek. Kau menungguku disini?” Baekhyun mendongakkan kepalanya. Perempuan dengan bandana pita besar melekat dirambut hitamnya tersenyum kecil kearah Baekhyun.

“Baek, disini dingin. Kenapa tidak masuk?” Tanya nya lagi. Baekhyun hanya tersenyum kecil. Sebenarnya dia kedinginan, sebenarnya tubuhnya menggigil, tapi untuk wanita dihadapannya, dia rela kedinginan. Bahkan sampai sakit pun dia rela.

Wanita itu meraih kedua tangan Baekhyun. Di genggamnya erat. Sebuah kehangatan menjalar keseleruh tubuh Baekhyun. Sial dia terjebak.

Baekhyun mengehela nafas. Banyak sekali kenangan di tempat ini, kenangan dirinya dengan teman teman disekitarnya, namun kenapa malah ingatan tentang wanita itu yang dia ingat. Kenapa ingatan tentang hari dimana wanita itu sukses membuat hati Baekhyun berdebar sangat kencang?

Baekhyun terlonjak kaget. Ia mundur beberapa langkah. Wanita yang tadi telah membuatnya flash back sekarang tengah menantapnya dengan tatapan yang sama kagetnya dengan nya. Keningnya mengkerut

“Baekhyun ah, sedang apa kau disini?’ Tanya wanita itu-Jung Hyun Joo-. Baekhyun mengedipkan kedua mata berulang ulang. Mencoba memikirkan jawaban apa yang akan dia berikan pada Hyun Joo.

“Merindukan ku?” Tanya Hyun Joo dengan nada mengejek. Baekhyun menatap Hyun Joo dengan tatapan tajam, tidak suka. Hyun Joo melipat kedua tangannya didepan dada. Seolah olah menantang Baekhyun dengan pertanyaan nya tadi.

“Untuk apa aku merindukan mu?” Tanya Baekhyun dengan nada sedingin mungkin. Meski terelihat aneh.

“Kau masih mencintaiku kan? Kau masih belum dapat berpindah hati dari ku kan? Bakan sampai sekarang aku belum pernah melihat mu dekat dengan wanita lain. Sepertinya kau benar benar mencintaiku”

Damn it! Wanita ini baru saja menjatuhkan nya? Dia pikir siapa dia berani mempermalukan seorang Byun Baekhyun.

“Aku sudah punya seorang pacar.”

“Oh benarkah?”

“Yah, dan aku rasa dia jauh lebih baik dari pada kau.”

 

***

Baekhyun menendang pintu lokernya dengan keras. Sial harga dirinya jatuh begitu saja karena mantan kekasihnya itu.

“Kau gila?!”

Satu tendangan lagi meluncur bebas pada loker besi dihadapan Baekhyun. Suaranya begitu menggema. Tapi untung saja dia datang pagi-pagi hari ini jadi tidak banyak orang yang melihatnya.

Chaesa baru saja datang. Dia menyimpan payung dan beberapa buku ke dalam loker. Baekhyun menatap Chaesa dengan tatapan tajam, namun ia tidak mengeluarkan sepatah katapun. Gadis itu melangkah dihadapan Baekhyun. Tidak mengeluarkan sepatah katapun, seperti seseorang yang tidak mengenal sebelumnya.

“Ya! Nyonya Shim!” ucap Baekhyun dengan nada lantang. Tapi sosok didepannya tidak bergeming. Ia tetap berjalan, dan menganggap ucapan Baekhyun angin lalu.

“Ya! Tidak perlu berpura pura tidak mendengar, nyonya Shim, calon penerus designer milik nyonya Kim Seul ah yang memiliki dua puluh cabang di korea dan sepuluh cabang di luar negeri.”

Chaesa menghentikan langkahnya seketika. Kedua matanya membulat kaget. Bagaimana bisa dia tau. Dia membalikkan tubuhnya. Pria itu tengah menatapnya dengan segaris senyum aneh di bibirnya.

“Omo omo, apa aku mengatakan kata rahasia?” Baekhyun menutup mulutnya dengan kedua tangan seperti seorang wanita yang baru saja membocorkan rahasia besar.

“Apa yang kau mau?” ucap Chaesa dengan tatapan benci. Baekhyun menurunkan kedua tangannya lalu tersenyum yang dibuat buat sangat manis.

“Aku? Aku mau kau jadi pacar ku”

-TBC-

 

Aw aw aw gimana???? Aku emang berencana bikin remake karena banyak orang yang nanya kemana cerita ini pergi???  Yah aku hapus sebagian dan sebagian lagi masih ada. Kenapa??? Yah begitulah aku engga bisa bilang alasanya hehehe. Gimana-gimana??? Sebenarnya ini ff percobaaan sama yang tau ituloh beautiful monster. Aku pengen tau lebih banyak mana, respon cerita ini atau beautiful monstal. Yang paling banyak respon itu yang aku lanjut. Soalnya kalo tiga cerita sekaligus aku engga bisa bayangin. Mungkin bakal terlantar seperti sebelum-sebelumnya.

Jadi pilih baik-baik mending beautiful Monstar yang aku lanjut atau remake dari ff pertamaku ini hehehe.

 

56 responses to “You Don’t Know Everything- Remake Story – Part 1 Babalee

  1. Wahhh… jeng jeng jeng kisah cinta mereka dimulai…. sejujurnya aku lebih pengen sequel dari YDKE daripada remake nya.. ini salah satu ff favorite ku… yahh tapi nggak masalah….
    Klau di tanya mau BM atau YDKE… aku mau kedu-dua nya *maruk
    Tapi terserah deh yang pnting ttp nulis….

    Next yaaa…
    Keep writing

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s