The Dim Hollow Chapter 14 by Cedarpie24

Thedimhollow

The Dim Hollow

                                                                   —Chapter 14                                                                  

Meet Them

.

a fanfiction by cedarpie24

.

Oh Sehun x Son Dahye

Slight!Kim Taehyung, Kim Jongin, Byun Baekhyun

Romance, school-life, hurt, teacher-student relationship || PG-16 || Chaptered

.

I just own the storyline and original-chara

.

Aku menyayangimu sedalam kau menyukaiku. Memujamu sebanyak kau mengagumiku. Menginginkanmu sesering kau merindukanku. Namun ada begitu banyak hal yang membuatku tak pantas untukmu. Aku, terlalu banyak kekelaman yang kupunya.—Oh Sehun

.

Foreword ♣ Chapter 1—Got Noticed ♣ Chapter 2—NightmareChapter 3—Detention ♣

Chapter 4—The Kiss ♣ Chapter 5—Sinner ♣ Side Story : Secret ♣

Chapter 6—Take Care of Her ♣ Chapter 7–Adore ♣ Chapter 8–Him ♣ Chapter 9—Confession ♣ Chapter 10—Elude ♣ Chapter 11—Decision ♣ Chapter 12—Deserve ♣ Chapter 13—Jealous

“Sehun, kau bisa pulang hari ini? Mungkin kita bisa makan malam dan mengobrol bersama. Ibu merindukanmu, sayang.”

Pesan singkat itu muncul di layar ponselnya beberapa menit lalu. Sehun menelengkan kepalanya lantas mengesah pelan begitu usai membaca deretan kalimat yang dikirim sang ibu.

Pulang ke rumah, ya?

Sehun mengerang kecil kemudian mengantungi ponselnya tanpa membalas pesan dari ibunya.

Bukannya Sehun tak merindukan ibunya—tentu saja ia merindukannya, mengingat sudah bertahun-tahun ia tak tinggal serumah dengan ibunya lagi sehingga tak setiap hari mereka bisa bertemu. Hanya saja untuk pulang ke rumah, rumah di mana kedua orang tuanya tinggal, Sehun masih ragu dan sedikit enggan.

Jika ia pulang ke rumahnya, maka ia harus bertemu dengan ayahnya …

Ponsel Sehun lagi-lagi bergetar pendek. Mau tak mau Sehun membukanya. Masih pesan singkat dari ibunya.

“Sudah lama sekali sejak terakhir kau pulang ke rumah, sayang. Ayah juga sangat merindukanmu. Kau pulang, ya hari ini?”

Ayah juga sangat merindukanmu …

Sehun tercenung sejenak, hatinya tersentak kecil. Ayah … merindukannya?

“Ayah merindukanku?” Sehun bergumam pada dirinya sendiri, seolah tak percaya dengan apa yang ibunya tuliskan dalam pesan singkat tadi.

Lalu sebelum ia sempat berpikir lebih jauh lagi, jemarinya telah terlebih dulu mengetikan balasan untuk sang ibu. Tangannya agak gemetar dan berkeringat dingin.

“Ya. Ibu. Aku akan pulang.”

Sehun bergegas membereskan pekerjaannya, menutup buku-buku yang semula tengah ia periksa, dan bermaksud meneruskannya esok hari saja. Ia memasukkan barang-barangnya ke dalam tas, memakai mantelnya dengan terburu, lantas melesat ke luar dari ruangannya. Ia lekas-lekas mengunci pintu ruangannya, dan begitu berbalik, segera bersitatap dengan Dahye yang berjalan dari arah berlawanan.

Gadis itu seketika menghentikan langkahnya. Kedua tangannya mencengkram tali ranselnya dengan erat, sementara matanya menatap Sehun yang juga balik menatapnya.

“Sudah mau pulang?”

“Kau mau pulang?”

Keduanya bertanya bersamaan, dan sama-sama terkejut setelahnya.

Dahye berdehem pelan kemudian membuang wajah. “Tentu saja aku mau pulang, bel pulang kan sudah berdering dari tadi. Sudah ya, aku duluan.”

Lalu ia bergegas meneruskan langkahnya yang sempat terhenti, agak tak mengerti juga kenapa begitu melihat Sehun kedua kakinya otomatis berhenti berjalan.

Ketika Dahye lewat di depannya, sebelah tangan Sehun refleks meraih lengan gadis itu. Lagi-lagi membuatnya berhenti melangkah. Dahye tahu sesuatu dalam dadanya tersentak ketika merasakan sentuhan Sehun. Dengan cepat ia menoleh pada pemuda Oh itu, kedua alisnya berjingkat tinggi-tinggi.

“A-apa?”

Sejenak Sehun terdiam. Ia bahkan tak mengerti kenapa malah melakukan ini. Namun begitu melihat Dahye, ide itu mendadak muncul di kepalanya. Tanpa alasan yang jelas.

“Kau ikut aku, ya.”

“Huh?” Dahye bergumam bingung. Dan kebingungannya semakin bertambah ketika tanpa persetujuannya, Sehun malah menarik lengannya, membawanya ikut berjalan. “Yah—apa yang kau lakukan sih? Kau mau menculikku, huh?”

Sehun membawa Dahye masuk ke dalam mobilnya. Pemuda itu sama sekali tak berniat menjawab pertanyaan Dahye. Kalau sampai Dahye tahu kemana ia akan membawanya, gadis itu pasti akan berontak dan tak mau ikut. Sehun tak bisa membiarkan itu. Entah kenapa, ia ingin membawa Dahye bersamanya.

“Sehun, kita mau ke mana?” Dahye bertanya begitu mobil Sehun melesat meninggalkan area sekolah.

“Nanti juga tahu,” sahut Sehun tenang, sekilas mengerling Dahye sambil tersenyum lebar. “Sekarang diam saja dan nikmati perjalanan, oke?”

Dahye mendengus kecil. Paling-paling Sehun membawanya ke apartemennya. Menemani makan ramyun atau apalah itu. Namun Dahye lagi-lagi dibuat bingung ketika di tengah perjalanan Sehun menghentikan mobilnya di depan sebuah toko pakaian.

“Kau tunggu saja di sini, ya,” tukas Sehun sambil melepas seatbelt-nya lalu melangkah ke luar mobil.

Kerutan samar mulai tercipta di kening Dahye. “Dia mau apa sih?”

Tak sampai lima belas menit, Sehun kembali dengan sekantong tas belanjaan di tangan. Dahye menyadari pemuda itu telah mengganti kemeja kerjanya dengan sebuah kaus lengan panjang berwarna biru yang kelihatan nyaman. Masih dengan seulas senyum di bibir, Sehun membuka pintu di samping Dahye. Ia meletakan sebelah tangannya di pintu mobil sembari menyerahkan kantung belanjaan tadi pada Dahye.

“Ini. Kau ke toilet umum di sana, dan ganti seragammu dengan ini,” ujarnya.

“Apa?” Dahye menukas terkejut. Keningnya berkerut semakin dalam. “Buat apa aku ganti pakaian?”

Memasang tampang jengkel main-main, Sehun berdecak kecil. “Tidak usah banyak tanya. Lebih baik sekarang ganti seragammu di sana.” Ia berhenti sejenak untuk menaikkan kedua alisnya. “Oh, atau kau mau kugantikan bajumu di dalam sini, hm?”

Seketika Dahye merasakan kedua pipinya memanas. Ia menimpuk wajah Sehun menggunakan kantung belanjaan di tangannya, kemudian menukas kesal, “Dasar ahjussi mesum!”

Lalu sebelum Sehun sempat membalasnya, ia bergegas melompat ke luar mobil dan berlari kecil menuju toilet umum yang dimaksud Sehun. Rupanya Sehun membelikannya sebuah celana jeans dan kaus santai. Dahye merentangkan kaus itu begitu ia sampai di dalam salah satu bilik toilet. Keningnya lagi-lagi mengerut.

Kaus ini … memiliki model yang sama persis dengan yang Sehun kenakan tadi. Hanya dalam ukuran lebih kecil dan berwarna merah muda.

Kedua pipinya kembali merona begitu Dahye menyadari sesuatu. Sehun, membelikannya kaus couple?

Oh astaga. Astaga, jantungnya berdegup begitu cepat sekarang.

Sebelum jantungnya meledak dan pipinya semakin memerah, Dahye memutuskan mengganti pakaiannya cepat-cepat. Sejenak ia memandang refleksinya di cermin toilet, membayangkan bagaimana jadinya jika ia dan Sehun berdiri bersebelahan dengan kaus couple ini. Dahye membayangkan Sehun berdiri di sampingnya, merangkul bahunya sembari menyuguhkan senyum asimetrisnya yang begitu ia andalkan.

“Oh, ya ampun. Aku pasti sudah gila.” Dahye bergumam pada dirinya sendiri sambil menggeleng-gelengkan kepala. Tangannya bergerak memukul-mukul kedua pipinya yang sekarang lebih panas dari penggorengan.

Dengan jantung masih saja berdebar gila-gilaan, Dahye berjalan kembali ke tempat mobil Sehun diparkirkan. Pemuda itu tengah berdiri sambil menyandarkan sisi tubuhnya pada mobil, tersenyum mengamati Dahye yang berjalan menghampirinya.

Cute.” Sehun berujar pelan begitu Dahye sampai di dekatnya.

Kedua mata Dahye mengerjap beberapa kali, mengira mungkin ia salah dengar. “A-apa kau bilang?”

Sehun terkekeh lalu menggelengkan kepalanya. “Sudah, ayo masuk. Perjalanan kita masih panjang.”

Begitu Sehun melanjutkan perjalanan, Dahye di tempatnya mengerling pemuda itu berkali-kali. Wajahnya kembali memerah menyadari betapa tampannya Sehun bahkan hanya dalam balutan kaus sederhana begitu. Lalu ia menoleh pada dirinya sendiri, dan semakin merona saja kedua pipinya ketika memikirkan bahwa kini ia tengah mengenakan kaus yang serupa dengan milik Sehun.

Kaus couple, mereka mengenakan kaus couple …

Berusaha mengenyahkan pemikiran noraknya, Dahye berdehem pelan lantas menyuarakan pertanyaannya pada Sehun. “Sebenarnya kita mau ke mana sih, Sehun? Dan kenapa pula kita harus berganti pakaian?”

Sehun menoleh pada Dahye sebentar sebelum kembali fokus pada roda kemudi. Ia tersenyum ketika akhirnya menjawab. “Kau bilang kau ingin melihat kesungguhanku, kan? Anggap saja ini bukti yang akan kuberikan untuk membuatmu percaya bahwa aku benar-benar ingin kembali.”

Apa?

Dahye menoleh pada Sehun dengan kedua mata melebar. Lalu sebelum ia sempat berpikir lebih jauh lagi, pemandangan di luar mobil telah menarik seluruh atensinya. Jalan tol. Sebentar lagi mereka akan memasuki jalan tol.

Kedua mata Dahye semakin melebar panik, ia beralih pada Sehun, lantas mengguncang sebelah tangannya dengan heboh.

“Oh, astaga, Sehun! Kenapa kita kemari? Kita akan meninggalkan Seoul, huh?”

Sehun tak kuasa menahan kekehannya melihat kepanikan Dahye. “Tidak terlalu jauh, kok.”

“Tetap saja!” Dahye mengempaskan punggungnya pada jok dengan kesal. Ia mengerling langit di luar yang mulai gelap. “Sebentar lagi malam, Sehun. Mana mungkin aku pergi jauh-jauh sampai selarut itu.”

“Aku akan membawamu pulang sebelum tengah malam, oke? Jadi tenang saja,” sahut Sehun sambil menghadiahi Dahye senyuman lebar yang dianggapnya bisa menenangkan.

Dahye mendengus kasar mendengar ini. Ia menyilangkan kedua tangannya di depan dada dan membuang pandangan ke luar jendela. Mau memberontak sekali pun, ia takkan mungkin bisa kabur. Mereka sudah pergi sejauh ini.

Pada akhirnya, Dahye membiarkan Sehun membawanya ke mana pun. Yah, ke mana pun.

Ketika Dahye berpikir membiarkan Sehun membawanya ke mana pun, ia tak pernah sangka pemuda itu malah akan membawanya kemari.

Maksudnya, di antara begitu banyak tempat di Busan—di antara begitu banyak ke mana pun—kenapa Sehun harus membawa Dahye ke rumahnya?

Tidak. Tempat sebesar dan seluas ini jelas tidak mungkin disebut rumah.

Ini, sih mansion!

Dahye di joknya terperangah ketika mobil Sehun berhenti di depan sebuah rumah ekstra besar dengan pagar menjulang mengelilinginya. Pemuda itu hanya perlu menjulurkan kepalanya lewat jendela untuk bertegur sapa dengan petugas yang berjaga—rumah ini bahkan punya petugas keamanan sendiri, oh astaga—, lalu pagar tinggi di hadapan mereka bergerak membuka. Dengan segera menyuguhkan Dahye pemandangan berupa jalanan berbata yang membawa mereka ke rumah utama.

Sementara Sehun melajukan mobilnya menyusuri jalanan, Dahye tak bisa menahan diri untuk tidak memandang sekitar. Di sekeliling mereka, merupakan hamparan rumput hijau yang dirawat dengan baik. Berbagai tanaman tumbuh dengan cantik di atasnya. Sementara di beberapa spot, Dahye bisa menemukan patung-patung artistik beserta air mancur kecil ditata dengan apik.

Oh astaga.

Dahye menoleh pada Sehun dengan wajah shock. “Sehun, ini … rumahmu?”

Bertepatan dengan itu, Sehun mematikan mesin mobilnya. Mereka telah sampai di depan rumah utama. Sehun tak sempat menjawab pertanyaan Dahye, karena kemudian sesosok wanita akhir empat puluhan melangkah keluar dari rumah, dan menghampiri mobil Sehun dengan sumringah.

Sehun tersenyum pada wanita itu lewat jendela mobilnya. Kemudian ia menoleh pada Dahye yang masih saja terperangah bercampur terkejut.

“Yap, ini rumahku. Dan yang itu,” Dagu Sehun bergedik pada wanita tadi yang kini menunggu mereka. “ibuku.”

Apa?!

Kedua bola mata Dahye seketika melebar. Sehun membawanya ke rumahnya, menemui ibunya?

Oh astaga!

“Tapi Sehun—“

“Ah, ya. Dan kurasa ada baiknya kau tidak memanggilku ‘Sehun’ saja di depan kedua orang tuaku. Oppa kedengaran tidak buruk.” Sehun mengedipkan sebelah matanya pada Dahye, sebelum bergerak keluar mobil. Ia berjalan memutar, dan membukakan pintu untuk Dahye. Kedua alisnya naik-turun, seolah meminta Dahye untuk turun. Namun Dahye malah menggelengkan kepalanya, rautnya panik berlebihan.

“Aku di sini saja. Boleh, ya?”

Sehun terkekeh kecil. “Yah, mana mungkin. Ayo, turun. Kau mau membuat ibuku menunggu lebih lama?”

Dan Dahye segera mengerling posisi di mana ibu Sehun kelihatan menunggu dengan sabar. Dahye menarik napas dalam-dalam, berpikir ia tak punya pilihan lain. Maka setelah berusaha menyingkirkan kepanikannya—yang mana sama sekali tidak berhasil—pelan-pelan Dahye melangkah keluar dari mobil.

Begitu menjejak tanah, Sehun segera meraih sebelah tangannya dan menggenggamnya erat. Dahye tentu dibuat terkejut. Ia mendongak, hanya untuk menemukan Sehun yang tengah memandang ke arah ibunya sembari tersenyum lebar.

“Sehun, sayang.” Ibu Sehun berujar pelan begitu mereka tiba.

Wanita itu segera merengkuh anak laki-lakinya, memeluknya dengan begitu erat. Kedua tangan Sehun bergerak melingkari tubuh mungil ibunya. Pemandangan ini, mau tak mau mampu membuat Dahye tersenyum kecil. Mereka berbagi pelukan untuk beberapa saat, melepas rindu yang mungkin sudah begitu lama tertahan.

Sampai kemudian nyonya Oh melepas pelukannya pada Sehun, lalu menangkup wajah anaknya dengan sayang. Kedua matanya berbinar hangat.

“Kau semakin tampan. Aku tak pernah mengira anakku akan tumbuh sebaik ini,” ujarnya membuat Sehun ikut tersenyum. Lalu perlahan tatapan nyonya Oh jatuh pada Dahye yang sejak tadi jadi penonton.

Deg.

Oh astaga.

Nyonya Oh bergerak menghampirinya. Tak terduga, ia memberikan Dahye sebuah pelukan hangat. Hanya sebentar, namun mampu mencairkan seluruh kepanikan dan kegugupan Dahye.

Sejenak Dahye terpekur dalam pelukan nyonya Oh. Pelukan seorang ibu, yang telah begitu lama tak ia dapatkan. Ragu-ragu Dahye membalas pelukan itu. Ikut merengkuh nyonya Oh sementara benaknya membayangkan sosok ibunyalah yang kini tengah ia peluk.

Baru Dahye sadari betapa ia merindukan ibunya sendiri.

“Kau pasti teman Sehun.” Nyonya Oh berujar sembari melepas pelukan mereka. Ia tersenyum begitu ramah, membuat wajah senjanya kelihatan semakin cantik. “Atau mungkin … lebih dari sekadar teman?”

Dahye dibuat tersentak mendengar ini. Ia tertawa canggung sementara pipinya kembali memanas. Di sampingnya Sehun yang malah terkekeh sama sekali tak membantu.

Nyonya Oh ikut tertawa geli melihat Dahye malu begitu. Ia lalu mengerling Sehun sebelum berujar, “Sebaiknya kita lanjutkan pembicaraannya di dalam saja, ya.”

Tangannya masing-masing merangkul Dahye dan Sehun, membawa mereka masuk ke dalam rumah. Dahye tak punya waktu untuk mengagumi bagian dalam rumah yang seharusnya mampu membuatnya berdecak kagum kalau saja ia tak berada dalam posisi semenegangkan ini. Dahye tidak tahu kenapa, tapi jantungnya tak bisa tenang sama sekali.

Ibu Sehun memang kelihatan begitu baik dan hangat. Dahye bahkan bisa mengatakan ia merasa nyaris nyaman berada dalam pelukannya tadi. Namun Dahye masih harus menemui ayah Sehun. Dahye tak tahu harus bersikap bagaimana.

Mereka berhenti di sebuah ruang duduk yang nyaman. Sofa-sofa empuk diletakkan mengelilingi meja rendah yang dibuat dari kayu jati, tepat menghadap taman yang hanya dibatasi oleh pintu kaca, membuat mereka dapat memandang keluar taman itu.

“Jadi, sayang, coba beri tahu aku siapa namamu, hm?” tanya nyonya Oh begitu mereka semua telah duduk di atas sofa. Seorang pelayan datang dan meletakan empat cangkir teh yang mengepul ke atas meja.

Dahye tersenyum kecil ketika ia menjawab, “Namaku Son Dahye, Ahjumma.”

Nyonya Oh mengangguk-angguk mendengarnya. “Nama yang cantik. Kau harus tahu, Dahye-ya, meski terkejut, aku senang sekali melihat Sehun membawamu kemari.”

Kedua alis Dahye naik dengan penasaran. Ia menoleh pada Sehun yang kini tengah tersenyum samar, sebelum kembali pada nyonya Oh. “Memangnya kenapa, Ahjumma?”

“Kau perempuan pertama yang Sehun bawa kemari.” Nyonya Oh menyahut sambil tersenyum jenaka. “Aku tahu selama ini Sehun senang sekali main-main dengan teman perempuannya, tapi tak pernah ada seorang pun yang dia seriusi dan ajak untuk menemuiku. Kau yang pertama, Dahye-ya. Benar kan, Sehun?”

Dahye tak bisa tak terkejut mendengar ini. Ia menatap nyonya Oh, tak tahu harus memberi respon bagaimana. Perlahan Dahye kembali menoleh pada Sehun, dan menemukan pemuda itu tengah mengiriminya seulas senyuman tulus.

“Buktikan kalau memang kau ingin kembali. Beri aku bukti sehingga aku percaya bisa menerimamu kembali.”

“Kau bilang kau ingin melihat kesungguhanku, kan? Anggap saja ini bukti yang akan kuberikan untuk membuatmu percaya bahwa aku benar-benar ingin kembali.”

“…tapi tak pernah ada seorang pun yang dia seriusi dan ajak untuk menemuiku. Kau yang pertama, Dahye-ya.”

Untuk ke sekian kalinya hari itu, Dahye merasakan pipinya merona hebat dan jantungnya berdebar cepat.

“Kau ingat pulang juga, ya?”

Atensi ketiganya teralih begitu suara berat tadi mengudara. Baik nyonya Oh, Sehun, maupun Dahye, menoleh untuk menemukan sesosok pria separuh abad yang kini berjalan menuruni tangga di seberang ruangan. Pria itu tinggi tegap, kelihatan begitu sehat dan tampan meski usianya tak lagi muda. Ia persis sama seperti Sehun, hanya saja dalam versi lebih tua.

Tuan Oh bergabung dengan mereka. Berdiri sembari mengantungi kedua tangannya di dalam saku celana. Tatapannya hanya jatuh pada Sehun seorang.

Dahye bisa merasakan atmosfer di sekitar mereka perlahan berubah. Dari yang semula hangat, meski agak canggung, menjadi tegang, dan semakin canggung. Sehun perlahan bangkit dari duduknya, berjalan menghampiri sang ayah tanpa mengatakan apa pun.

Semula tuan Oh hanya bergeming begitu Sehun tiba di hadapannya. Lalu begitu saja, tanpa tedeng aling-aling pria itu melayangkan sebuah tinjuan telak yang jatuh di sisi rahang Sehun. Tinjuannya memang tak seberapa kencang untuk menciptakan bekas luka, namun cukup kuat untuk membuat Sehun terhuyung kehilangan keseimbangan. Dahye menahan napasnya melihat ini, tak sangka akan mendapati tuan Oh yang meninju anaknya sendiri. Ia melirik nyonya Oh, dan menemukan wanita itu duduk di tempatnya dengan raut cemas bercampur tegang.

“Yeobeo ….” Nyonya Oh bergumam pada suaminya.

Namun tuan Oh tak menanggapinya. Ia masih saja menatap Sehun yang kini memegangi rahangnya. Tatapannya sama sekali tak terbaca. Suasana kian mencekam ketika tuan Oh perlahan kembali mendekati Sehun yang bergeming, mengira sesuatu yang lebih buruk dari sekadar tinjuan akan terjadi.

Lalu tanpa terduga-duga, tuan Oh mengalungkan sebelah lengannya di sekeliling bahu Sehun. Menarik anaknya ke dalam pelukan penuh. Sebelah lengannya lagi ia gunakan untuk menepuk-nepuk punggung Sehun dengan sayang.

“Yang tadi itu hukuman karena kau tak pernah meluangkan waktu sibukmu untuk pulang kemari dan menemuiku.” Tuan Oh berujar, merujuk pada tinjuannya tadi. Pelukannya belum juga lepas. “Kau tak tahu seberapa khawatirnya aku di sini karena tak pernah dapat kabar darimu. Kalau bukan dari ibumu, mungkin aku akan berpikir kau sudah mati kelaparan di Seoul sana. Kau sudah tak menganggapku ayah lagi, huh?”

“Bukan begitu.” Sehun bergumam pelan. “Kupikir Ayah masih marah dan tak mau tahu kabarku.”

Mendengar ini tuan Oh segera melepas pelukannya. Ia menatap Sehun dengan mata berkilat. Suaranya begitu tajam ketika ia berujar, “Siapa bilang aku sudah tak marah padamu? Aku masih dan akan selalu marah akan keputusan yang telah kau ambil.” Ia berhenti sejenak untuk mengamati Sehun yang kelihatan kecewa. “Tapi itu bukan berarti aku berhenti peduli padamu dan tak mau mendengar kabarmu lagi.”

Lalu seolah belum cukup, tuan Oh kembali menarik Sehun ke dalam pelukannya. Kali ini tersenyum kecil, sembari berujar hangat. “Aku merindukanmu, Nak.”

Di tempatnya Dahye mengembuskan napas yang sejak tadi ia tahan. Meski tak mengerti benar, Dahye pikir sebelumnya hubungan Sehun dan ayahnya kurang baik. Rasanya melegakan juga melihat sepasang ayah dan anak itu kini berpelukan hangat.

“Mereka selalu berhasil membuatku nyaris jantungan.” Di sampingnya nyonya Oh berujar pada Dahye sembari menggeleng-gelengkan kepala. Meski begitu, bibirnya mengulas senyum lega.

Perlahan Sehun melepaskan diri dari ayahnya. Dahye dapat menemukan kedua mata pemuda itu memerah dan basah. Ia menangis, karena haru. Entah mengapa, hati Dahye menghangat melihat ini.

“Ah, maaf membuatmu melihat semua ini di kunjungan pertama.” Tuan Oh tahu-tahu berujar pada Dahye.

“H-halo, Ahjussi.”

Lekas-lekas Dahye bangun dari duduknya dan membungkuk pada tuan Oh. Pria itu kemudian menggeleng-geleng sembari mengisyaratkan Dahye kembali duduk di tempatnya. Raut seriusnya seketika lenyap digantikan senyum usil begitu ia berujar. “Jadi kau kekasih Sehun, hm?”

Untuk kedua kalinya, Dahye kembali tertawa canggung. Oh ya Tuhan, ia harus menjawab apa?

“S-sebenarnya aku … murid Sehun o-oppa di sekolah.”

Oh, sial. Kenapa menyebut oppa di belakang nama Sehun susah sekali?

Baik nyonya Oh maupun tuan Oh terkejut mendengar ini.

“Jadi kau muridnya?” Nyonya Oh memastikan dengan raut terkejut yang lucu. Dahye mengangguk kecil sembari tersenyum kikuk. “Pantas kau kelihatan muda sekali, Dahye-ya.”

“Kami hanya beda enam tahun, Bu!” Sehun berseru di kursinya, seolah tak terima dengan perkataan ibunya yang menyiratkan bahwa Sehun-terlalu-tua-untuk-Dahye.

“Oh, ya tentu saja, perbedaan umur enam tahun tidak begitu jauh,” sahut nyonya Oh sambil tersenyum jenaka.

“Jadi karena alasan ini kau mati-matian ingin jadi guru, huh?” Tuan Oh menukas sembari mengerling Sehun. “Supaya bisa memacari murid-muridmu, begitu?”

“Ayah, bukan begitu!” sahut Sehun tidak terima. Sekilas ia melirik Dahye, melayangkan tatapan kau-tahu-aku-tidak-begitu-kan.

Nyonya Oh kemudian beralih pada Dahye, menatapnya dengan antusias. “Ah, Dahye-ya, bagaimana Sehun di sekolah? Apa dia senang tebar pesona?”

“Ibu!” Sehun menukas setengah merengek, tak terima dengan pertanyaan ibunya tadi.

Di tempatnya Dahye terkekeh kecil. Ia memasang raut berpikir sejenak kemudian menjawab, “Sebenarnya Sehun punya banyak sekali fans di sekolah kami. Semua teman perempuanku menyukainya dan berkata bahwa dia keren dan tampan.”

“Ah, teman-temanmu begitu pasti karena Sehun yang tebar pesona duluan, ‘kan?” sahut nyonya Oh sambil mengerling Sehun yang kini tak tahu harus berbuat apa. “Dari dulu dia memang senang main-main dengan perempuan. Kau hati-hati saja, ya, Dahye-ya.”

“Aku tidak begitu, Ibu!” Sehun lagi-lagi menukas tidak terima.

“Anak itu, dia senang sekali kalau perempuan sudah mengejarnya. Dia selalu merasa paling tampan dan paling keren.” Tuan Oh yang kelihatannya tak tahan diam saja, berusaha ikut-ikutan memojokkan Sehun.

“Ayah—“

“Ah, iya, memang benar.” Dahye lantas menyahut, membuat Sehun menoleh dengan cepat padanya. “Sekali waktu teman-teman perempuanku pernah minta pelajaran tambahan khusus dengan Sehun oppa. Mereka mengerubuninya dan Sehun oppa kelihatan begitu menikmatinya.”

“Begitukah? Sehun, kau benar-benar.” Nyonya Oh mendecak sembari main-main menatap Sehun tak percaya.

Dahye menyeringai tipis pada Sehun, mengingatkannya pada kejadian di mana Sehun berusaha menghindar ketika Dahye mengajaknya bicara. Ia menggunakan murid-murid perempuannya sebagai tameng agar Dahye menghindar, ingat?

“Dahye-ya, bahkan kau juga.” Sehun merengek kecil, tak mengerti kenapa Dahye ikut-ikutan berkomplot dengan ayah ibunya untuk menyudutkannya.

`           Rengekan Sehun lantas disambut gelak tawa dari Dahye dan nyonya Oh. Bahkan tuan Oh pun ikut terkekeh. Suasana dengan cepat berubah menjadi jauh lebih nyaman dan hangat. Dan Dahye menemukan dirinya tak lagi canggung maupun kikuk berbincang bersama kedua orang tua Sehun. Perbincangan mereka terus berlanjut dengan menyenagkan sampai jam makan malam tiba.

            Jam menunjukan pukul delapan ketika sesi makan malam berakhir dan nyonya Oh membawa Dahye ke ruang keluarga yang hangat, sementara Sehun dan tuan Oh berbincang berdua di taman belakang. Satu hal yang Dahye sadari dari kediaman Oh ini. Walau pun bangunannya dibuat sedemikian megah dan besar, namun Dahye tak pernah mendapat kesan terintimidasi. Justru ia selalu merasa setiap ruangannya menyuguhkan kehangatan dan kenyamanan untuk siapa pun yang duduk di sana. Mungkin ini terjadi karena tuan dan nyonya Oh merupakan pribadi yang ramah dan terbuka bahkan pada orang baru seperti Dahye sekali pun.

“Mungkin kau akan suka melihat ini, Dahye-ya,” ujar nyonya Oh sembari duduk di samping Dahye. Tangannya membawa sebuah album foto besar.

Dahye dibuat antusias melihatnya. Dengan cepat ia bergeser lebih dekat pada nyonya Oh, dan menyaksikan setiap lembaran foto yang ditempel di sana. Jika dahulu ketika Dahye berkunjung ke apartemen Sehun ia tak menemukan potret apa pun, maka kini Dahye dapat melihat foto-foto yang mengabadikan momen-momen penting dalam hidup Sehun. Dimulai dari ketika Sehun bayi yang menangis dalam pelukan nyonya Oh, Sehun remaja yang berpose bersama rusa di kebun binatang, sampai Sehun dewasa yang tersenyum lebar memeluk bunga dan trofi kelulusan.

Dahye mendapati dirinya sendiri tersenyum begitu lebar tiap kali melihat beragam ekspresi Sehun dalam foto. Disadarinya sejak dulu sampai sekarang wajah Sehun tetaplah sama. Rupanya sejak kecil Sehun telah dianugerahi wajah yang tampan.

Atensi Dahye kemudian jatuh pada salah satu foto yang luput dijelaskan oleh nyonya Oh. Dalam foto itu tuan dan nyonya Oh berfoto bersama Sehun remaja juga seorang pemuda berusia dua puluhan. Dahye tak mengenali pemuda itu, fotonya juga kelihatan tak sebanyak foto Sehun.

“Ahjumma, kalau aku boleh tanya … ini siapa?” Dahye bertanya pelan sembari menunjuk pemuda itu.

Nyonya Oh sejenak tersentak. Semula ia kelihatan enggan menjawab, membuat Dahye sedikit tak enak hati.

“Ah, maaf. Aku—Ahjumma tidak perlu menjawabnya jika ….”

“Tidak, tidak. Tidak apa-apa, Dahye-ya. Kurasa kau juga perlu tahu.” Nyonya Oh segera menyahut sembari tersenyum menenangkan. Ia kemudian menatap udara kosong di hadapannya dengan seulas senyum tipis di bibir. Tatapannya kelihatan menerawang, seolah ia mencoba memandang sesuatu yang begitu jauh dari jangkauannya. “Pemuda yang kau tanyakan itu Oh Sejoon. Dia kakak Sehun. Anak sulungku.”

Dahye tercenung sesaat. Ia tak pernah tahu Sehun memiliki kakak laki-laki. Namun kemudian disadarinya bahwa ia tak pernah tahu apa pun mengenai Sehun.

“Bertahun-tahun lalu Sejoon meninggal dunia, kecelakaan mobil.” Nyonya Oh melanjutkan, membuat Dahye terkesiap dan menekap mulutnya. “Tepatnya sembilan tahun lalu, Sejoon menerima undangan untuk kuliah di Universitas Seoul. Dia pergi ke sana, namun sayang belum sempat menginjakan kaki di kampusnya telah lebih berpulang karena kecelakaan itu.”

Perlahan Dahye meraih tangan nyonya Oh, lalu menggenggamnya. Berusaha menyalurkan kekuatan pada wanita itu. Ada sedikit sesal dalam hati Dahye karena membuat nyonya Oh kembali mengingat luka lama akan ditinggalkan anak sulungnya.

“Maaf, Ahjumma.”

Nyonya Oh menggeleng kecil, senyumnya belum juga sirna. Seolah ingin meyakinkan Dahye bahwa ia baik-baik saja. Tatapannya kemudian beralih pada Dahye ketika ia berujar, “Kau mungkin menyadari bahwa tadi, ketika Sehun bicara dengan ayahnya, ada sesuatu yang tak baik terjadi di antara mereka?”

Dahye mengangguk pelan.

“Itu semua karena ayah Sehun tak pernah menyetujui keputusan Sehun untuk menjadi guru dan tinggal di Seoul,” lanjut nyonya Oh. “Sama seperti mendiang kakaknya, Sehun juga mendapat undangan dari Universitas Seoul. Ayahnya sempat menentang keputusan Sehun keras-keras. Ia melarang Sehun pergi ke Seoul dan menjadi guru di sana. Tapi Sehun tetaplah Sehun yang keras kepala. Bahkan tanpa restu ayahnya ia pergi ke Seoul dan tinggal di sana sejak masih kuliah. Hidup terpisah dariku dan ayahnya. Sejak saat itu hubungan Sehun dan ayahnya tak pernah baik lagi. Sehun juga jarang sekali pulang kemari. Mungkin sebagian dari dirinya menyesal karena telah menentang keputusan ayahnya, dan mengecewakannya.” Nyonya Oh berhenti sejenak untuk mengembuskan napas dan balas menggenggam balik tangan Dahye. “Padahal ayah Sehun berbuat begitu karena ia terlampau menyayangi Sehun. Ia terlalu takut hal yang dialami mendiang Sejoon menimpa Sehun juga—sebut saja seperti semacam trauma. Sebetulnya ayah Sehun hanya tak mau kehilangan anaknya untuk kedua kalinya.”

Mereka terdiam sesaat. Baru Dahye tahu seperti itulah kisah Sehun yang sebenarnya. Pantas saja Sehun tak pernah punya foto keluarganya di apartemennya. Dahye bisa membayangkan, ketika Sehun memutuskan pindah ke Seoul pemuda itu dikuasai emosi dan amarah pada sang ayah yang tak memberinya izin untuk pergi. Boleh jadi pemuda itu sempat membenci ayahnya dan enggan membawa barang yang mengingatkannya akan keluarga di Busan, termasuk foto. Tapi seperti yang dikatakan nyonya Oh, saat ini Sehun pastilah sadar akan kesalahannya menentang sang ayah. Mungkin ia juga merasa sedih dan menyesal.

“Nah, Dahye-ya, kau sendiri bagaimana, hm?” Nyonya Oh kemudian menukas, berusaha mengusir aura sedih di antara mereka.

Dahye mendongak dan menatap nyonya Oh agak terkejut. Dahye mengerti maksud pertanyaan nyonya Oh tadi. Nyonya Oh baru saja menceritakan tentang keluarganya, saat ini ia meminta Dahye untuk menceritakan keluarganya sendiri.

Sejenak Dahye memilih bungkam. Sebelumnya ia selalu enggan jika seseorang memintanya bercerita mengenai keluarga. Namun entah kenapa, pada nyonya Oh yang begitu hangat dan ramah padanya, Dahye merasa tak bisa menolak bercerita.

Maka ia memulai, meski dadanya tiba-tiba saja sesak begitu dipaksa kembali mengingat kisah pedih keluarganya. “Aku … punya keluarga yang sangat menyenangkan. Ayah dan ibu begitu menyayangiku, begitu juga dengan eonniku. Mereka senang sekali membawaku ke taman bermain di akhir pekan.” Dahye berhenti sejenak untuk mengenang memori indah yang dimilikinya bersama keluarganya. “Sampai kemudian, ketika usiaku menginjak lima belas, ayah dan ibu … dinyatakan meninggal dalam kecelakaan beruntun. Seolah belum cukup, sepekan setelahnya eonni memutuskan untuk bunuh diri dan mengakhiri hidupnya.”

Dahye berusaha meringkas kisahnya menjadi sesederhana dan sesingkat mungkin. Namun tetap saja hatinya tak bisa berdenyut sakit mengingat ini semua.

Di sampingnya Dahye bisa merasakan nyoya Oh terkesiap. Ia segera merangkul Dahye, kemudian mengusap-usap lengannya dengan gerakan menenangkan. “Oh, ya Tuhan, Dahye-ya. Maaf, aku tak tahu.”

“Tidak apa-apa, Ahjumma. Lagi pula itu sudah lama sekali.” Dahye menyahut sembari tersenyum kecil. Bohong, sekali pun sudah lama sekali, Dahye tak pernah merasa ia baik-baik saja.

“Lalu sekarang kau tinggal dengan siapa, sayang?” Nyonya Oh bertanya prihatin.

“Dengan nenekku. Aku beruntuk memiliki nenek yang mau merawatku,” sahut Dahye, tersenyum begitu teringat sang nenek yang meskipun tak terlalu sering ia ajak bicara, begitu disayanginya.

Nyonya Oh mengeratkan rangkulannya pada Dahye. “Oh, Dahye, kau benar-benar kuat sekali, sayang.”

Dahye tersenyum kecil, membiarkan nyonya Oh merangkulnya. Untuk beberapa saat mereka bertahan di posisi itu, sampai kemudian Sehun muncul dari arah taman disusul tuan Oh di belakangnya.

“Aku melewatkan apa?” tanya Sehun begitu melihat Dahye dan ibunya duduk bersebelahan. Tatapannya lantas jatuh pada album foto di pangkuan Dahye. “Oh ya Tuhan, di foto-foto itu wajahku kan jelek sekali.”

Nyonya Oh terkekeh kecil melihat reaksi anaknya.

“Memang kapan wajahmu tampan, huh?” tukas tuan Oh membuat Sehun merenggut.

“Ah, tapi kurasa sudah tiba waktunya pulang,” ujar Sehun kemudian.

Mendengar ini Dahye segera menoleh pada jam yang melingkari tangannya. Pukul sembilan malam. Tidak terasa sudah selama ini. Ia bergegas bangun dari duduknya diikuti nyonya Oh.

“Kalian tidak akan menginap?” tanya nyonya Oh menatap Sehun dan Dahye bergantian.

Sehun mengerling Dahye sekilas sambil tersenyum samar. “Aku sudah berjanji akan membawanya pulang sebelum tengah malam.”

Nyonya Oh mengangguk-angguk. “Begitu. Tapi lain kali kalian harus menginap di sini, mengerti?”

Baik Sehun maupun Dahye mengangguk setuju. Kini Dahye sama sekali tak keberatan harus berkunjung lagi ke rumah ini.

Setelah bersiap keduanya kemudian berjalan menuju ruang depan diantar nyonya dan tuan Oh. Seorang pelayan telah menyiapkan mobil Sehun di depan rumah utama. Sebelum memasuki mobil nyonya Oh bergantian memeluk Sehun dan Dahye.

“Senang sekali bisa mengenalmu, Dahye-ya,” ujar nyonya Oh sebelum melepas pelukannya pada Dahye.

Dahye tersenyum mendengar ini. “Aku juga, Ahjumma.”

Lalu sebelum mobil mereka meninggalkan area rumah, tuan Oh membungkuk di samping jendela Sehun yang terbuka. Untuk pertama kalinya pria itu tersenyum begitu lebar pada Sehun, mengantarkan selusin kehangatan ke dalam mobil mereka.

“Kau tahu, Sehun. Aku tak pernah benar-benar marah padamu. Bagaimanapun kau anak kebangganku, dan akan selalu begitu,” ujarnya, membuat Sehun tak henti tersenyum sepanjang perjalanan pulang.

            Sehun baru melajukan mobilnya setelah ia memastikan Dahye masuk dengan selamat ke dalam rumah. Pemuda itu lantas tersenyum sendiri memikirkan setiap hal yang seharian ini mereka lalui.

Sebetulnya mulanya Sehun sama sekali tak punya niatan mengajak Dahye pulang bersamanya dan menemui kedua orang tuanya. Namun begitu melihat gadis itu, entah kenapa keinginannya untuk membawa Dahye mendadak muncul. Rupanya hasilnya tidak buruk juga. Kedua orang tuanya kelihatan menyukai Dahye, dan begitu pula sebaliknya. Dahye dan kedua orang tuanya dapat menjadi akrab dengan cepat.

Ketika lampu jalanan berganti merah, Sehun meraih ponselnya di dashboard kemudian menempelkan earpiecenya. Ia menekan nomor Dahye, dan menunggu sambungan hingga terhubung. Seulas senyum segera menghias wajahnya ketika mendengar Dahye mengangkat teleponnya.

“Halo, Dahye? Kau sudah tidur?” tanyanya ceria pada ponselnya.

Sejenak hanya hening tak wajar yang menjawabnya. Sehun sempat mengira Dahye memutus sambungan, ketika akhirnya ia mendengar helaan napas gadis itu dari seberang sana.

            “Sehun ….”

Tubuh Sehun terasa menegang sementara jantungnya mencelus sampai ke dasar perut begitu didengarnya suara Dahye yang parau dan bergetar. Juga isakan kecil yang mengisi hela napasnya.

Dahye … menangis?

“Dahye, kau menangis?” Sehun bertanya begitu panik pada Dahye di ujung sana. “Apa yang terjadi? Katakan padaku.”

Lagi-lagi hening, membuat Sehun semakin tak tahan diam saja di tempat.

Sampai akhirnya suara pelan Dahye kembali terdengar, membuat jantungnya semakin berdebar kacau.

            “Sehun … tolong aku, kumohon ….”

…kkeut

Note♥

Haluuu~

Hihi gimana chap ini? Berhubung dari awal kita ga pernah tau gimana latar belakang keluarga si sehun, jadi sekarang aku ceritain soal tuan dan nyonya oh deeh, semoga kalian suka Oh family yaak wehehe

Yaudah segini dulu aja darikuu~ makasih buat kalian yang udah baca chap 14 inii^^

Seeya on next chap gengs~~

…mind to leave a review?

141 responses to “The Dim Hollow Chapter 14 by Cedarpie24

  1. Hmmm jadi… Aku gak tau mau ngomong apa astaga><
    Hmm apa ya…
    Senengnya punya keluarga hangat gitu ya, dahye juga jadi gampang berbaur sama keluarganya sehun. Oh ya, jadi ceritanya disini dahye sama sehun udah gak marahan lagi ya weheee. Itu diakhir, dahye kenapa deh? Bikin penasaran deh.
    Ditunggu next chapternya ya~

  2. oh what happen with dahye????
    aq suka bgt di chapter ini sehun dan dahye sweet banget🙂
    dan gk ada satupun pengganggu,hahaha…..
    moga hubungan mereka makin mmbaik deh,,
    gk bisa bayangin gimana ntr klau dahye tau knyataan yg sbenarnya tntg kakaknya,, setelah semua kenangan yg dilalui bareng sehun, akankah dahye bisa mnerima dan memaafkan sehun nantinya?

  3. I-tu k-kenapa?? *lebayy
    Aduhh senengnya yaa yg udah punya calon mertua yg siap nerima Dahye wkwk udah anaknya ganteng, kaya, orangtuanya wellcome, kurang apa lagi coba??
    Ko pas mau tbc Dahye nangis gitu ka? Knapa? Kepleset kamar mandi’kah?? *abaikan
    Okay ditunggu next part ka, tengkyu

  4. Akhirnya di beri juga buktinya:DBhakkk emang idaman banget itu keluarga Oh udah pada baik juga nerima Dahye meski statusnya sebagai murid Sehun….pas bagian akhir itu DahyeO_O….. Semangat ya kak buat lanjutin menulisnya-nya:D

  5. Moemnt mrka bnyak sukaaaaa tp y d akgir Daehye knp??? Woahhhh mrka pacaran ahhahaha seru sukaaa mntab kerennya

  6. Duh sehun blm apa2 dahye udh diajak ketemu ortunya aja. Semoga hubungan mereka ga rumit lg thor, klo pun dahye tau ttg kakaknya jgn dibikin sedih2/? Btw itu dahye knp? Penasaran deh sama kelanjutannya. Di chapt ini aku kurang puas, feelnya kurang begitu dpt deh thor

  7. Eh udah main dikenalin aja hun buset anak orang di baik2in hun jangan talik ulur pedih wkwk lah dahye kenapa nangis kangen sehun? Eh kan baru ketemu:(

  8. itu si dahye kenapa wahh jgn” ada masalah nihh .. aduh kenapa coba jd takut . ditunggu ka lanjutannya ya^^

  9. Ap yg trjdi sma dahye ? Knp dahye mnta tlng smbl nangis ? Suka bngt sma kluarga oh,, aku kra ayh sehun gk nganggp sehun ank nya sndri tp malahan beliau syng bngt sma sehun.. Pkrn ku slh hihihi

  10. Ahh Taehyung gak ada d episode ini ya

    Tahap pertama tu, dikenalin k orang tua berikutnya lamaran
    Wkwkwkkw

    Btw dahye belum tau ya tentang apa hubungannya sehun ama kakaknya itu?

    Bersambung lagii,
    Dahye kenapa juga nangis, jangan2 ada apa2 sama neneknya

  11. Pingback: The Dim Hollow Chapter 15 by Cedarpie24 | SAY KOREAN FANFICTION·

  12. Padahal w masih kesel sm kelakuan sehun sebelumnya, tapi ngeliat ini,duh dahye-sehun keliatan cite bgt, aku bisa apa😦

  13. Akhirnyaaaaaaaaaa chap ini muncul jugaaa. Gak sabar buat bacaaa yaampunnnn.
    Eh ini dahye knapaa??
    Baru aja pulang dri rumah sehun uda gini aja situasinyaaaaaa.
    Sehun??? Yaampun makin hari makin cinta aja wkwk
    D tunggu thor lanjutannyaaa. Penasraan bngettt yaampunnn

  14. Waduhhhh Dahye knpa nangis? Jangan” nenek.a meninggal ato gmna nihhh?
    Aduh aku senyum” sendiri bca.a ampe dimarahin mama gegara baca ff mulu kkkkk~
    Next ya eon

  15. Pingback: The Dim Hollow Chapter 16 by Cedarpie24 | SAY KOREAN FANFICTION·

  16. ciiee ketemu camer dahyee..
    nah lho, abis seneng2 kenapa tiba2 nangis gitu??
    eeiiii, ga bisa yaa seneng agak lamaan gituuu..hmmm

  17. Pingback: The Dim Hollow Side Story: Forbidden by Cedarpie24 | SAY KOREAN FANFICTION·

  18. Yahh kak kurang gregett soalnya orang tua sehun welcome gitu. Coba ada yang nentang gitu kan makin dramatis kak wkwkwkw
    Oh iya jongin? Apa nanti ada jongin di chap selanjutnya ? Trs itu kenapa si dahye ?

  19. Pingback: The Dim Hollow Chapter 17 by Cedarpie24 | SAY KOREAN FANFICTION·

  20. Pingback: The Dim Hollow Chapter 18 by Cedarpie24 | SAY KOREAN FANFICTION·

  21. Pingback: The Dim Hollow Chapter 19 by Cedarpie24 | SAY KOREAN FANFICTION·

  22. Pingback: The Dim Hollow Chapter 20 by Cedarpie24 | SAY KOREAN FANFICTION·

  23. hahah ngebayangin wajah sehun yang ngerek lucu banget pasti ..
    dasar sehun eemang selalu kepedean ya ..
    seneng akhirnya dahye dikenal sama keluarganya sehun itu artinya dahye lebih spesial dr pada kakanya dulu …
    nahloh ada ap tuh kok dahye nangis begitu???

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s