Rendezvous [Chapter 2A] – by Sehun’Bee

rendezvous

Sehun’Bee

 Story Remake from My Fate

.♥.

Oh Sehun – Khaza Hanna – Byun Nami

Kai – Baekhyun – Hanbin

.♥.

Romance – Drama -Marriage Life – Hurt – Angst – Sad – Family – Friendship – Adult

PG-15

Multi-Chaptered

.♣.

Credit >> poster and Header Title by : Apinslaster

Disclaimer: Semua alur yang ada dalam cerita ini, milik saya. Jangan coba-coba copy-paste tanpa izin!

Prev:

Summary Meet You [1]

.♣.

Cemburu, membuat hasrat keliru.

.

Dark Romance [NOW]

Rendezvous

Tendensi cinta membuat otak serasa tumpul. Tak ubahnya manusia dungu yang acap kali melakukan sesuatu tanpa pikir panjang, penyesalan pun ada setelah kesadaran kembali seusai melakukan hal bodoh dan memalukan. Sehun tak bisa mengulang waktu, kendati merasa begitu tolol selepas mendaratkan bokong di atas kap mobil kesayangan. Penyebabnya itu tadi; menemui Hanna dan mengatakan akan menunggunya sampai pulang bekerja adalah tindakan tergila.

Sudah terlanjur memang, tetapi kalaupun lari tak akan menjadi masalah mengingat jarum jam kurus-pendek baru menunjuk angka sembilan. Itu artinya, masih ada waktu tiga jam sebelum Hanna keluar untuk menertawakan akal sehatnya yang tertinggal di kloset kamar mandi. Namun sayang, lari terdengar pecundang. Jadi, Sehun tidak akan melakukannya. Lebih baik, menyusun kata sampai dirasa memiliki maksud masuk akal mengapa ingin mengajak Hanna bertemu.

Akan tetapi, waktu tiga jam sebelum kepulangan gadis itu, agaknya, tak cukup untuk membuat otak brilian Sehun mampu merampungkan satu anak kalimat. Yang melintas malah ajakan untuk jujur menyuarakan rindu sebagai alasan mengapa ingin bertemu, padahal sudah jelas, Sehun tak akan sanggup jika harus berhadapan dengan reaksi Hanna nanti. Ada baiknya memang tidak berterus terang daripada canggung jika kembali bertemu di lain hari.

Untuk itu, Sehun akan berpikir ulang—kalau saja pada akhirnya, fokus tidak pecah oleh suara derap langkah kaki.

“Maaf, membuatmu menunggu!” Yang dinanti, menyapa lembut dan semakin mendekat. Kali ini, menghentak detak jantung sampai tubuh tetap bergeming tak tahu diri, namun Sehun harus berdiri jika tak ingin kalah tinggi, lalu tersenyum kalau memang merasa tampan untuk seorang bidadari malam.

“Bukan masalah,” jawabnya, dibubuhi sedikit canggung tak kasat mata. Diam-diam sibuk menendang rasa yang kiranya bisa membuat salah tingkah. Tak ingin saja jika sampai berakhir memalukan di depan gadis ber-coat hitam dengan bawahan celana jins abu-abu itu.

“Ini ….” Hanna mengulurkan tangan dengan kopi dalam genggaman, lalu mulai menggigit bibir tatkala Sehun hanya menatap ‘hasil’ peralihannya dari pelayan pengantar menjadi barista amatir tersebut. Bukan apa-apa sih; Hanna melakukan itu semata tak enak hati membuat pria tampan menunggu di tengah sapuan embun malam.

“Terima kasih.” Sehun menerima setelah berhasil mengontrol diri, sementara Hanna mulai berharap kopi racikannya tak membuat perut kembung atau uang gajinya akan berakhir di klinik terdekat.

“Omong-omong, ada apa? Kau sampai menungguku pulang bekerja.” Hanna bertanya dalam intonasi tenang kendati jiwa sibuk menampar canggung yang menggoda. Asal tahu saja, butuh waktu sepuluh menit sebelum Hanna memberanikan diri keluar dari tempatnya bekerja. Nah, sepuluh menit itu dihabiskan dengan berjalan bolak-balik dari pintu ke bar sampai Elise—teman satu shift-nya—bertanya khawatir.

Lain lagi dengan Sehun, yang belum juga menemukan alasan mengapa sudi kedinginan menunggu seorang pelayan seperti Hanna pulang bekerja. Padahal, jika mau, Sehun bisa terlelap pulas di bawah selimut tebal bersama salah satu wanitanya. Kalaupun tidak, tak seharusnya Sehun menunduk dan mengusap tengkuk sebelum menjawab pertanyaan Hanna. “Aku, aku hanya ingin mengantarmu pulang,” terangnya, kehabisan alasan—

—dan Sehun tahu itu tidak masuk akal.

“Mengantar?” Terbukti, ‘kan? Hanna tak bisa mencerna kata-kata sederhananya sampai tak sadar membeo.

Namun karena sudah kepalang tanggung, Sehun jadi tak berniat menarik kembali kata-katanya. Ia malah mengedarkan mata ke sembarang arah. “Bukankah, kau selalu pulang jalan kaki?” sambungnya bertanya.

Hanna pun diam, tak lekas menjawab. Malah menyimpan tanya, “Dari mana Sehun bisa tahu?” Karena seingatnya, tak pernah sekalipun saling bicara lebih dari sekadar menyapa saat bertemu di restoran. Hanna juga tak lupa bagaimana cara mereka saling mengenal dengan tidak menjunjung tinggi nilai formalitas berjabat tangan. Jadi, status mereka saat ini masih tak beda dari dua orang asing yang saling bertegur sapa—artinya, Hanna belum mengenal Sehun dan tak boleh menerima tawaran apa pun darinya.

“Terima kasih. Aku memang selalu pulang dengan berjalan kaki.” tolak Hanna, halus. Tangannya meremas ujung coat dan melanjutkan hati-hati, “Sekali lagi, terima kasih atas tawarannya.” Kepalanya juga merunduk santun, sebelum tersenyum ringkas, berbalik, berniat pergi, namun berakhir tak jadi melangkah. Bukan tanpa alasan, melainkan karena lengannya ditahan oleh kepalan tangan kekar.

“Aku tahu ini konyol,” ujar Sehun. Hanna pun menggelepar disentuh oleh tatapan tajam memukau tatkala tubuh kembali berhadapan. “Aku hanya ingin, Hanna … ingin mengantarmu pulang. Tak lebih,” sambungnya bagai rayuan magis. Tak segan membuat Hanna lupa cara menolak saat tangan ditarik dan dikunci rapat dalam mobil.

RendezvousSemenjak musim semi memekarkan ratusan sakura di Washington D.C., aroma manisnya seolah ikut berembus sampai ke bagian utara Boston. Membuat Hanna merindu Jepang sebagai tempat lahir dan tumbuh sebelum menetap di Busan bersama orang-orang baru. Bisa dibilang, semi, menjadi satu-satunya musim yang selalu berhasil menggoda Hanna untuk kembali, tetapi hari ini, ada hal lain yang mengganggunya selain kerinduan itu sendiri.

Oh Sehun.

Satu nama yang tak sadar telah Hanna tulis di atas lembar kerjanya, menggunakan bolpen biru safir. Itu baru akan menjadi masalah setelah Hanna berhenti menatap semak di seberang jalan, lantas menyadari tugasnya kotor dan akan berpindah tangan ke dosen dua jam lagi. Jika tak segera beranjak dari kursi taman, usahanya selama satu minggu akan berakhir menjadi sobekan kecil. Sayangnya, Hanna terlalu sibuk memikirkan alasan mengapa semalam Sehun bersikeras mengantarnya pulang.

“Sejak kapan kau belajar berbohong?”

Satu teguran dan Hanna kembali dengan pikiran duduk yang tak lagi mengambang. Ada efek kejut tersendiri saat melihat siapa yang datang, lalu ritme jantung pun mendadak tak tenang. “N-Nami—”

“Kau bilang ada kelas pagi sampai tidak sempat pergi sarapan bersamaku, tetapi yang kulihat justru kursi taman belakang yang menjadi tempat dudukmu.” Kalimatnya memang berupa omelan, namun cemas ada di setiap nadanya. Nami pun bersidekap dada; menunggu penjelasan.

Sementara Hanna mendadak linglung sampai tak sadar melarikan soket mata ke sembarang arah, kemudian lekas membalik kumpulan kertas di atas pangkuan saat menemukan susunan huruf membentuk nama ‘Oh Sehun’ di halaman depannya.

“Tidak, Nami,” elak Hanna. Anak kecil pun tahu mulutnya berdusta apalagi Nami yang sudah berada di garis dewasa. “Dosenku ada urusan lain, jadi kelasku akan dimulai …,” Hanna menjeda, melirik jam di tangan. “—dua jam lagi,” sambungnya. Tidak mampu berterus terang sedang tak enak hati pada gadis itu, makanya menghindar lantaran semalam diantar pulang oleh Sehun.

“Kau ingin aku memercayaimu, hm?” tukas Nami, menghakimi. Mencondongkan tubuh ke arah Hanna yang wajahnya dibuat mundur satu jengkal. “Memangnya kau yakin tidak sedang membohongiku?”

Hanna manggut.

“Baiklah!” Nami kembali menegakkan tubuh, lantas mengambil tempat kosong di sisi kanan kursi. “Ini rotimu. Habiskan! Lalu ceritakan mengapa kau datang lebih awal sampai tega membohongiku!”

“Nami—”

“Lima tahun, Hanna. Aku sudah mengenalmu selama lima tahun. Jangan coba-coba menyembunyikan apa pun dariku!” Nami memeringatkan dengan telunjuk mengetuk roti bulat isi cokelat di pangkuan Hanna. Memberi titah pada sahabatnya itu untuk segera melahap bekal sarapan yang sudah dibawakan olehnya tersebut.

“M-maaf …,” Hanna menatap ke bawah. “—aku tidak bermaksud membuatmu khawatir,” akunya, lalu menarik napas. “Aku hanya merindukan ayah dan kau akan marah jika aku mengatakan itu, karena memang ini salahku yang tak pulang saat liburan,” sambung Hanna, tak sepenuhnya dusta. Perihal Sehun, biarkan saja berlalu. Nami tak perlu tahu karena Hanna pun enggan menanggapi lebih serius alasan mengapa pria itu mendekatinya.

“Hanya ayah saja? Tidak dengan ibu?”

Deg.

Hanna mengerjap; baru sadar telah mengutarakan rindu kepada sosok ayah yang tidak Nami kenal. Terbata, bahasa tubuh pun mengelak dengan memberikan gelengan kepala dan senyum manis seumpama balita. “Kalimatku tidak lengkap, ya?” candanya canggung saat pengendalian diri kembali. “Kalau begitu kuulangi saja, aku-merindukan-keduanya, Nami,” sambung Hanna, memerbaiki dibubuhi penekanan dan tawa kecil di akhir.

“Benarkah?” Alih-alih tersenyum, Nami yang tak lepas memerhatikan pola tingkah sahabatnya itu justru merasa terluka. “Aku seperti tidak mengenalmu, Hanna,” imbuhnya, sendu. Kentara kecewa lantaran tak mampu memahami seorang Khaza Hanna, padahal statusnya jelas sebagai seorang sahabat. Nami juga tak bodoh untuk mengetahui ada banyak hal yang Hanna sembunyikan darinya, padahal Nami sangat berharap bisa diajak berbagi.

“Apa yang kau bicarakan?” Hanna balas menatap gadis berambut karamel tersebut.

“Tidak. Lupakan saja! Cepat habiskan sarapanmu! Aku harus segera pergi, sebentar lagi kelasku dimulai,” alih Nami, enggan memerpanjang masalah. Lalu bersiap bangun dari duduk, namun urung saat Hanna membuka plastik roti cokelatnya dengan gerakan ribut. Bunyi ‘kresek-kresek-kresek’ pun serta-merta terdengar dan mengganggu telinga.

“Kau ini apa-apaan?” komentar Nami.

Hanna tersenyum—rupanya sengaja menarik perhatian. “Sebenarnya, sebuah ikatan persahabatan tidak hanya berarti bisa saling memahami apa yang sedang dipikirkan dan dirasakan oleh sahabatnya, tetapi ada hal lain yang sesungguhnya jauh lebih penting dari itu,” katanya, lalu menggigit roti bulat tersebut. “Memberikan apa yang dibutuhkan sahabatmu, salah satunya,” bubuh Hanna sambil menggoyang-goyangkan roti di tangan. “Aku memang sedang lapar dan kau memberikanku roti. Terima kasih.”

“Oh, shit. Kau memang menyebalkan!” Nami mencubit pipi Hanna. Mengerti betul maksud sahabatnya itu, karena memang tak ada yang bisa memahaminya lebih baik dari Hanna. Bahkan ketika Nami tak mengutarakan mengapa raut wajahnya tiba-tiba murung; Hanna tahu, Nami terluka karena merasa tak diajak berbagi dan kesulitan memahaminya.

“Aku tahu.” Hanna mengendik. “Untuk itu, dengarkan aku!” titahnya sambil menyentuh sayang satu sisi wajah Nami; membuat gadis itu menurut dengan cara yang paling halus. Lalu dengan tulus, memberikannya tatapan penuh kesejukan tanpa menyertakan dusta di dalamnya. “Kau ada memberikan perhatian, memberikan apa yang kubutuhkan, dan hadir untuk mencintaiku. Itu saja sudah lebih dari cukup. Jangan merasa tak berguna sebagai seorang sahabat karena semua yang kau lakukan itu sudah sangat berarti untukku. Percayalah, hanya kau yang paling memahamiku, Nami.”

“Bohong!” timpal Nami, cepat. Tak lupa memasang wajah sebal guna mengalihkan rona menyenangkan di pipi.

Rendezvous

Di awal musim semi masih bisa bergaya dengan setelan kemeja urakan, tetapi tidak lagi setelah melewati beberapa minggu. Seragam universitas berwarna merah hati sudah kembali menjadi pakaian wajib untuk menuntut ilmu. Rasanya gatal bagi Sehun yang merasa sudah tak pantas menggunakan seragam (itu membuatnya terlihat seperti anak sekolah menengah atas yang tak kunjung lulus ujian akhir). Sementara sudah jelas, wajahnya terlalu tampan untuk dianggap bujangan tua yang terjebak di bangku SMU.

Namun, kebanyakan sekolah swasta di Amerika dan Eropa memang mengharuskan pelajarnya menggunakan seragam. Tidak seperti sekolah pemerintah yang membebaskan pelajarnya menggunakan baju yang mereka suka. Sistem itu jelas menjadi perbedaan mencolok jika dibandingkan dengan apa yang diterapkan kebanyakan sekolah di Asia, dimana mahasiswanya tak perlu menggunakan seragam untuk kuliah sekalipun berstatus sebagai pelajar di universitas swasta.

Ah, sudahlah. Itu tidak penting.

Sehun lebih suka memikirkan hal lain akhir-akhir ini, tak peduli meskipun sering mendapat teguran dari teman-teman dekat akibat melamun di sembarang tempat. Seperti sekarang ini, ketika teman-temannya menunduk membaca buku; Sehun justru mengangkat dagu dengan tatapan kosong ke arah jajaran kursi di perpustakaan.

 Harvard Library

Barangkali, hormon Sehun bermasalah sehingga apa yang dilihatnya seakan-akan tampak jauh lebih menarik daripada tubuh model seksi berkulit cokelat kayu. Setidaknya, itu kecurigaan kedua temannya yang tak lagi menitik beratkan fokus pada buku tebal usang. Apalagi si Pria Oh tersebut tetap betah bergeming sekalipun tengah dijadikan pusat perhatian.

“Sukses mengikuti ujian komprehensif proposal dengan mendapat nilai sempurna, bukan berarti kau bebas melamun karena ujian tertutup tesis masih menunggu,” tegur Nick—teman satu kelas sekaligus colega bisnisnya dari Melbourne. Menyadarkan Sehun bahwa tak ada waktu untuk itu karena Harvard tempat manusia unggul bersaing dan bekerja keras. Tak sedikit mahasiswanya yang mengaku tidur kurang dari lima jam, maka memikirkan hal lain di luar mata kuliah tidak baik untuk Sehun.

“Kau ingin lulus dengan nilai standar?” Andrew ikut bertanya retoris. Pria asal Virginia bermata zamrud tersebut sukses mendapat lirikan singkat dari lawan bicara.

“Jangan berlebihan. Aku belajar bukan untuk menjadi budak terpintar,” jawab Sehun, enteng sekali. Lalu kembali menatap jajaran kursi cokelat di depan sana, tak peduli dengan reaksi Andrew yang kedapatan menekuk alis.

“Budak?” Nick yang membeo.

Sehun pun menarik napas pertanda mengumpulkan ceceran kesabaran, sebelum menjawab, “Ya, apa lagi? Sistem yang diterapkan kebanyakan institusi pendidikan memang hanya menjadikan belajar sebagai pekerjaan untuk pelajar. Itu membuat mahasiswa sibuk mengejar nilai terbaik guna lulus dan mendapatkan selembar sertifikasi, bukannya untuk belajar yang benar-benar belajar. Benar, ‘kan?” Sehun menutup bukunya. Satu tangan merangsek naik; menarik simpul dasi. Memberi ruang untuk bernapas barang sejenak di tengah padatnya aktivitas mencari ilmu tambahan.

“Iya, kau benar. Pekerja adalah mereka yang terjebak dalam pengulangan dan menjadi budak yang terkurung dalam sebuah sistem. Tak ada beda antara lembaga pendidikan dan jasa di masa kini, tetapi sejatinya manusia adalah seorang pemikir, pencari pengalaman hidup, bukan pekerja yang hanya berkutat dengan itu-itu saja.” Nick ikut mengendurkan simpul dasi dan bersandar pada kepala kursi—persis seperti apa yang Sehun lakukan.

“Untuk itu, belajarlah karena memang kau ingin belajar. Jangan semata untuk mendapat sebuah nilai sempurna di atas selembar kertas. Kita hidup untuk mencari ilmu dan pengalaman, bukan nilai dan pengakuan. Hasil selalu mengikuti kesungguhan, bukan keterpaksaan ataupun tuntutan.” Sehun bangun dari duduk. Mengapit bukunya di antara ibu jari dan telunjuk. “Aku bosan. Di sini tak ada Miranda,” sambungnya sambil lalu begitu saja. Meninggalkan kedua temannya yang dibuat menggeleng di tempat.

“Isi otaknya, tak sebijak kata-katanya,” komentar Nick.

“Jangan salah! Sehun itu tipikal pria setia, Nick. Jika sudah jatuh cinta, sukar berpindah ke lain hati. Buktinya, sampai sekarang, masih mengidolakan Miranda Kerr,” timpal Andrew.

“Ah, kau benar.”

RendezvousSehun tak ambil peduli sekalipun rungunya menangkap topik pembicaraan tak jelas dari arah bangku yang ditinggalkan. Ia hanya tak bisa belajar dalam keadaan pikiran penuh oleh satu nama, yang tak kunjung bisa dibersihkan dari kepala. Bahkan rasanya tak punya jakun setiap kali mengingat apa yang terjadi semalam, tetapi sialnya, itu terlalu indah untuk dirutuk sekalipun memalukan. Sekarang malah sibuk berdoa agar Hanna menganggap itu mimpi, lalu melupakan semua tingkahnya semalam.

Terdengar berlebihan, tetapi sebenarnya bukan apa-apa. Sehun hanya tidak akan sanggup pamer jidat jika suatu saat nanti Hanna membuatnya menunduk dengan sengaja menyinggung kelakuan noraknya.

“Senior?”

Ada yang memanggil.

Langkah kaki Sehun berlabuh di jarak satu meter dari pantofel manis seorang wanita. Wajah tampannya yang semula merunduk pun, tak lagi terlihat santun saat kembali terangkat angkuh. Sementara lewat tatapan mata, Sehun memastikan gadis berparas cantik tersebut memang memanggilnya.

“Masih ingat aku?” tanya gadis itu, malu-malu. “Aku Byun Nami, junior yang pernah Senior bimbing,” sambungnya, merona. Jauh daripada itu, tubuhnya sudah panas-dingin lantaran lupa harus berkata apa lagi. Mula-mula malah berniat basa-basi, tetapi yang ada malah menggigit bibir. Akhirnya, Nami melemas dan berteriak pasrah dalam diam; mengharap kehadiran Hanna ada memberikannya kekuatan.

“Ya, ada apa?”

Ada apa? Nami mengulang dalam batin. Gelagapan dan bingung. Ia tidak tahu harus bagaimana dan menjawab apa. Buku tebal di depan dada pun dipeluk erat sebagai pengalih. “A-a-akuu—ah, apa Senior sibuk?” tanyanya, agak refleks. Itu didorong oleh sorak detak jantung di dalam sana—yang tak lagi beritme tenang dan terkendali.

“Tidak,” jawab Sehun, jujur sekali.

“Ka-kalau begitu … bolehkah aku meminta waktumu … sebentar?” sambung Nami, terputus-putus.

“Untuk?”

Lagi, Nami menggigit bibir. “Ada tugas yang tidak aku mengerti … lalu, saat aku meminta bimbingan pada dosen yang bersangkutan, Beliau malah merekomendasikan—”

I am not your teaching’s assistant anymore.” Sehun memotong. Tahu betul maksud Nami.

“A-aku tahu, tapi tugas ini benar-benar tidak kumengerti. Bisa dikatakan, semua jawaban berkaitan dengan praktek di lapangan. Bagaimana intangible asset mengambil peran di dalam pasar modal sehingga bisa memengaruhi diagram saham, sementara dalam prakteknya tak lebih dari pengakuan aset non-moneter yang teridentifikasi tanpa wujud fisik?” Nami buru-buru memaparkan masalah kecilnya—yang sengaja dijadikan kesempatan untuk alasan mendekati Sehun.

Namun alih-alih diajak duduk di bangku kosong perpustakaan untuk membahas lebih lanjut, Nami justru harus puas dengan jawaban brilian makhluk incarannya—yang sama sekali tak kesulitan memecahkan soal yang dianggapnya rumit.

“Itu merupakan hak istimewa bagi mereka yang terlibat dalam dunia usaha. Keuntungan bisa didapat sebagai pendapatan terus-menerus sekalipun berpangku tangan, asal dengan syarat adanya kekuatan berpikir melahirkan inovasi. Hal tersebut yang membuat seorang pemikir mampu mengendalikan pasar modal dan diagram saham. Itu saja?” Sehun balas bertanya. Sepasang orbs-nya sibuk berpendar ke sembarang arah, kemudian berhenti ketika menemukan ada yang menarik di luar pintu. Tepatnya, di pinggir jalan aspal abu-abu dengan mimik bingung mencari seseorang.

“Apa tak ada jawaban yang lebih spesifik?” Nami mengusik perhatian Sehun. Bola mata hitam rupawan milik lelaki tersebut lantas kembali menatapnya seorang; malah tak segan membuat jantungnya bekerja keras. Tangan pun sampai harus meremas sisi buku saat kaki semakin melemas.

“Aku harus pergi.” Sehun menjawab lain. Rasanya tak perlu menjelaskan semua jenis intangible asset satu-satu hanya untuk membuat seorang mahasiswa seperti Nami mengerti. Jadi bergegas melewati pintu keluar tidak akan menjadi masalah, tetapi Sehun harus berhenti menuruni anak tangga ke-3 tatkala melihat gadisnya melangkah pergi.

“Senior, aku masih memiliki tiga pertanyaan lagi.” Nami di belakang, juga ikut menahan—

—dan Sehun harus rela membiarkan Hanna-nya berlalu.

Rendezvous

Ada banyak hal yang mengganggu pikiran Hanna, kesemuanya datang seperti semilir angin yang menghantam dari berbagai macam arah. Andai ponselnya tak kehabisan baterai, sesore tadi tak akan berakhir sia-sia dengan memutari halaman Sekolah Bisnis Harvard hanya untuk mencari Nami. Hasilnya, tak ada. Hanna tak menemukan Nami di mana pun dan itu membuatnya khawatir, apalagi harus segera pergi bekerja sehingga tak bisa terus membuang waktu. Berkaitan dengan itu, Nami sendiri yang memintanya untuk datang lewat pesan singkat, sedetik, sebelum ponselnya mati.

Terang saja itu yang membuat Hanna lupa; tak fokus mengerjakan perintah adalah larangan bagi seorang budak. Itu sebabnya pula, Hanna mendapat teguran keras dari sang Manajer di dekat bilik bar. Wajah cantiknya malah sudah menunduk takut sedari tadi alih-alih atas dasar patuh pada atasan.

Alurnya sendiri sederhana: semuanya berawal dari stiletto manja yang tersandung kaki meja, lalu membuat keseimbangan condong ke depan sehingga tiga gelas wine tumpah—yang satunya kurang ajar mengenai gaun mahal seorang pelanggan, makanya keributan tercipta dalam sekejap apalagi suara pecahan tiga gelas kaca membuat suasana semakin dramatis. Beruntung wanita yang menjadi korban tumpahan wine memiliki hati malaikat sehingga tak memermasalahkan kecerobohannya.

Atau mungkin merasa tak tega melihat Hanna yang membungkuk berulang kali hanya untuk meminta maaf, lalu menjatuhkan harga diri ke lantai dengan segera membersihkan serpihan tajam di sana. Apalagi manajernya bergegas menghampiri dengan tatapan buas luar biasa, yang membuat Hanna semakin tak fokus dan membuat tiga jarinya ikut terluka bersama harga diri. Tetapi seakan tak memiliki hati nurani, Hanna tetap ditarik ke sudut ruangan seusai membersihkan kekacauan yang tak sengaja dibuat tersebut.

“Ingat, ini pertama dan terakhir kalinya untukmu dilegalkan melakukan kesalahan atau cukup tinggalkan papan namamu di sini jika berniat mengulangi,” katanya sambil menepak meja bar bergranit hitam. Hanna pun mengangguk patuh, lantas ditinggalkan.

“Tak apa.” Willy si Bartender lekas menghampiri setelah si Penguasa pergi. “Kau tak sengaja melakukannya. Nona bergaun hitam itu juga memaklumi dan tidak terlihat marah sama sekali,” imbuhnya sambil menarik beberapa lembar tisu dari meja pelanggan, lantas menggunakannya untuk membersihkan jemari Hanna dari darah segar yang tak bosan mengalir keluar.

“Willy benar. Jangan terlalu dipikirkan, ya!” Gehna ikut mendekat dan menenangkan lewat usapan di punggung. “Ayo, kuantar ke toilet. Lukamu itu harus dibersihkan dengan air agar tak infeksi,” sambung gadis seprofesi dengan Hanna tersebut.

“Tidak apa-apa, kalian kembalilah bekerja. Aku tak ingin bos ikut marah pada kalian karena membantuku dan melalaikan pekerjaan,” tolak Hanna, halus. Memberikan senyum manisnya guna meyakinkan, yang dibalas tatapan sayu kedua temannya.

“Kau yakin bisa mengobati lukamu sendiri?” Gehna bukan gadis dingin yang tak bisa mengerti masalah teman. Masih ada raut khawatir di wajah bule-nya yang khas saat menatap Hanna.

“Mm, jangan kha—”

“Apa yang terjadi?” Suara lain datang dari arah pintu depan. Rasa ingin tahu segera menggerogoti saat melihat Hanna yang diberi perhatian penuh oleh pegawai lain. Apalagi melihat tisu yang membelit tiga jemari Hanna sudah ternoda warna merah darah. Tak salah jika Baekhyun mendadak gamang atas apa yang baru saja terjadi dan terlewatkan olehnya.

Namun tak jauh di luar bangunan merah bata dan tepat berdiri di sisi pojok jendela kaca; ada seorang pria yang luar biasa terluka melihat Hanna tersenyum setelah dicaci maki di depan umum. Kuku-kukunya bahkan sudah memutih bersama kepalan tangan di samping tubuh. Dalam hati tak tanggung-tanggung memberi berjuta sumpah serapah untuk pria yang membuat Hanna-nya ketakutan. Tunggu saja sampai besok, pria sok berkuasa itu yang akan meninggalkan jabatan.

RendezvousMati-matian memacu kemudi sampai dikira pembalap amatir yang kedapatan tak memiliki kartu SIM, namun saat tiba di tempat tujuan justru pemandangan memuakkan yang didapat. Padahal niat awalnya hanya ingin melihat senyum Hanna, lalu mengantarnya pulang seperti kemarin malam, tapi apa ini? Sehun sama sekali tak berharap menemukan jemari gadisnya ada dalam genggaman seorang Byun Baekhyun. Lebih buruknya lagi, mereka duduk saling berdampingan di tempat favoritnya setiap kali datang berkunjung. Boleh jadi, Sehun menyesal terburu-buru memasuki restoran karena memang bukan situasi seperti ini yang diharapkan.

“Oppa?”

Satu lagi, Sehun benci mendengar suara halus Hanna saat memanggil pria lain. Itu membuatnya terbakar api cemburu sampai rasanya bisa menghanguskan apa saja yang dikehendaki. Namun seperti seorang pengecut, Sehun tak juga beranjak barang sesenti pun dari tempat. Raganya seolah dikendalikan oleh cinta, yang memintanya untuk tetap bertahan sekalipun muak melihat Hanna bersama pria lain.

“Apa?” Baekhyun menjawab sambil terus fokus melilit plaster di jari telunjuk Hanna. Sehun pun menekuk alis saat menyadari apa yang sedang Pria Byun itu lakukan.

“Sore tadi, aku menerima pesan singkat dari Nami. Ia memintaku untuk datang ke fakultasnya, tapi aku tak menemukannya di mana pun karena ponselku kehabisan baterai. Terang saja, itu membuatku khawatir. Aku takut telah terjadi sesuatu yang buruk padanya—akh!” Hanna meringis sebelum sempat merampungkan kalimat. Kapas putih dengan tetesan alkohol terasa perih sekaligus menyebalkan saat Baekhyun yang memegangnya beralih menyentuh luka di jari tengah.

“Nami baik-baik saja,” kata si Pria Byun sambil mengangkat wajah dan tersenyum. “—karena Nami sendiri yang memaksaku untuk datang dan menjemputmu pulang seperti malam sebelumnya. Ia sangat khawatir karena kau tak membalas pesan singkatnya dan pergi kerja tanpa pamit,” sambungnya, menenangkan.

“Benarkah?” Hanna bisa bernapas lega sekarang, kemudian menyimpan senyum sambil menunduk.

Namun, tidak dengan Sehun yang mendadak cemas. Ia benar-benar butuh gambaran singkat atas apa yang sudah terjadi pada gadis itu, apalagi melihat luka di tiga jemarinya. Itu membuat Sehun berpikir; Hanna baru saja melakukan kecerobohan besar. Karenanya, Sehun melangkah mundur untuk mencari tahu, lalu menjauh—tanpa tahu, Hanna sempat menangkap bayangannya sebelum pergi.

Rendezvouswidener_general_harvardWidener Library, Harvard

“Tangan Hanna terkena pecahan gelas.”

Sehun tak ambil peduli pada harga diri yang berteriak tatkala memutuskan untuk menjadi penguntit dari seorang gadis sederhana. Termasuk ketika mengikuti Hanna sampai ke perpustakaan utama dan tak menghiraukan kelas Profesor Parker yang akan dimulai 20 menit lagi. Itu semua karena kata-kata seorang bartender, Sehun jadi ingin tahu kondisi Hanna sekarang. Anggap saja sikapnya berlebihan, tetapi cinta memang selalu memiliki cara tersendiri untuk membesar-besarkan sebuah perkara.

“Hanna!”

Ada yang memanggil.

Sehun mengambil haluan kanan karena Hanna tiba-tiba berhenti. Sekilas terlihat, suara itu milik seorang gadis berkacamata tebal yang datang bersama troli berisi tumpukan buku. Sehun pun segera membuat kamuflase dengan berjalan asal menuju rak berisi kumpulan buku Fisika.

“Kebetulan sekali kau datang!” seru si Gadis berkacamata, berdarah Polandia tersebut. Parasnya amat manis dengan papan nama bertuliskan Eva Smith. Namun dilihat dari gelagatnya, salah satu pekerja paruh waktu di perpustakaan Harvard tersebut, agaknya berada di titik lelah tertinggi.

“Ada apa? Kau sampai berkeringat.” Hanna mengulurkan sebelah tangan guna menghapus butir air di kening Eva.

Sehun pun tersenyum kecil melihat itu.

“Ada banyak mahasiswa tingkat akhir yang datang meminjam arsip skripsi para alumni untuk dijadikan referensi. Aku harus mengolah data masuk dan keluar semua arsip yang dipinjam dan dikembalikan, tapi Elise tidak masuk untuk mengembalikan buku-buku bacaan ini ke rak. Aku sudah mencoba untuk mengambil dua tugas sekaligus walaupun ini bukan bagianku, tapi yang kumampu hanya mengembalikan setengahnya karena—”

“Aku mengerti. Kalau begitu, biar aku yang menggantikan tugas Elise untukmu. Kau pergilah! Kembali bekerja,” potong Hanna, lembut. Bukan tanpa alasan, melainkan karena tahu apa yang ingin Eva sampaikan sebagai inti kalimat.

“Benarkah? Oh, kau memang pengertian, Hanna! Terima kasih. Aku harus segera pergi, kalau tidak, Nyonya Gwen akan marah.” Eva berkata sambil berjalan mundur, lalu berlari setelah berbalik. Meninggalkan Hanna yang pelan-pelan menunduk dengan tatapan jatuh ke atas tumpukan buku.

Diam.

Bagaimana ini? Masalahnya sekarang bukan ada pada banyaknya buku yang harus dikembalikan, tetapi ketidaktahuan Hanna mengenai letak buku-buku itu berasal. Awalnya tak ingin ambil pusing dengan menjadikan buku pertama yang disentuh sebagai langkah awal mencari raknya, namun diluar dugaan karena membaca judulnya saja sudah membuat alis Hanna bertaut.

Essay Concerning Human Understanding.” Berkedip. Hanna lalu menoleh cepat ke kanan tatkala apa yang dibacanya, dirapalkan oleh bariton bernada rendah. Maka, tak butuh waktu lama untuknya tergugu saat mendapati wajah rupawan berkulit putih mulus di samping muka.

“Jangan bilang, mahasiswa psikologi sepertimu tidak tahu buku apa itu?” sambung si Pemilik Bariton, bertanya sekaligus menghakimi.

Napas Hanna pun berhenti, alih-alih menjawab dan membela diri. Terkejut dan jarak yang terlalu dekat terlanjur membuat bibir mungilnya merenggang kecil tak ubahnya ikan dalam jaring. Agaknya itu yang membuat si Lelaki menarik tipis kedua sudut bibir, lantas mengangkat satu telunjuk untuk menggoda—menyentuh dagu si Cantik sampai bibir mungilnya kembali terkatup manis. “Maaf, membuatmu terkejut.”

Hanya ada detak konyol dalam dada yang memainkan rasa dan mencipta semu magenta di pipi, sebelum Hanna refleks menjauh setelah sadar sedang disentuh. Namun sial, pengendalian dirinya malah semakin nakal mengolok lantaran canggung meraja. Menggelengkan kepala pun kentara terbata kaku, sehingga membuat Sehun berdeham dan mengusap tengkuk lantaran ikut terbawa suasana.

“Itu buku epistemologi (teori pengetahuan). Salah satu cabang ilmu filsafat.” Sehun memberitahu, guna memerbaiki keadaan. Lalu mengambil alih buku bersampul hitam di tangan Hanna, juga membuka dan memerlihatkan siapa pengarangnya. “Ini karya John Locke. Beliau rekan Isaac Newton.”

Hanna menatap Sehun. “Isaac Newton?”

“Ya. Jangan bilang, kau tidak mengenalnya juga?” canda pria bermarga Oh tersebut. Senyum sipu Hanna adalah bumbu pemanis yang terekam netra sedetik kemudian.

“Beliau, Bapak Ilmu Fisika Klasik.” Masih dengan senyum tipis, Hanna menjawab. Sepasang orbs-nya lalu beralih menatap buku di tangan pria itu. “Apa isinya menarik?”

Sehun mengendik. “Jika kau menyukai filsafat, maka ‘ya’ adalah jawabannya.”

“Kenapa begitu?” Lagi, Hanna menatap Sehun. Karena setahunya, setiap cabang ilmu merupakan pecahan dari Ilmu Filsafat itu sendiri. Jadi, tak ada alasan untuk tidak menyukai filsafat. Namun daripada penasaran menunggu jawaban, Hanna lebih memilih mengambil alih buku itu dari tangan Sehun. Membuka dan melihat sendiri daftar isinya.

“Aku rasa, kau akan menyukainya.” Karena beda kepala, beda pemikiran. Untuk sebagian orang, filsafat itu membosankan. Pembahasannya terlalu berbelit dengan bahasa yang sulit dicerna. Pun, dengan buku itu. Jadi menurut Sehun, semua tergantung pada gairah si Pembaca. Makanya, jawabannya terdengar acuh tak acuh. Namun pintarnya Sehun, tetap sempat mengambil kesempatan dengan membuat Hanna (yang sedang sibuk membaca) bergeser sedikit, untuk kemudian mengambil alih kuasa troli.

Sesaat, lewat ekor mata, Sehun memerhatikan jemari Hanna yang dililit plaster. Kemudian beralih menatap petakan kramik di depan troli, menarik napas barang sejenak, sebelum akhirnya berlaku usil menyenggol lengan Hanna dengan siku—yang secara tidak langsung, mengajak calon psikolog cantik itu untuk mengambil langkah pertama. Dari gelagatnya, kentara sekali enggan membahas luka tersebut. Sehun malah memilih buta dan tak peduli, alih-alih terus terang menunjukkan kekhawatiran.

Saat ini, canggung yang justru lebih dominan, tetapi Sehun ataupun Hanna tak menanggapi berlebihan dengan tetap bersikap biasa. Bersama, keduanya pun berjalan di antara dua rak buku tinggi tanpa ada niat kembali memulai keakraban. Yang tak disangka, justru ada pada peran pengarang buku bersampul putih tersebut. Karena jika pada biografinya; John Locke sukses menjadi kiblat filsuf bapak-bapak pendiri Amerika Serikat, maka dewasa ini, salah satu bukunya berbaik hati membantu Sehun yang sedang dimabuk cinta untuk melakukan pendekatan.

Beruntung, Hanna belum pernah membaca epistemologi karangan filsuf terkenal. Yang ia tahu hanya teori dimana sebuah pengetahuan didapat secara empirisme (pengalaman), rasionalisme (akal), fenomenalisme (terlihat), intuisionalisme (pandangan), dan dialektis (komunikasi dua arah). Kebetulannya, buku ini banyak berkaitan dengan teori empirisme yang baik dibaca untuk seorang mahasiswa psikologi, tetapi Hanna malah meletakkan kembali buku tersebut ke tumpukan paling atas dan beralih mengambil buku lain dari Sehun.

“Rak ke-3 dari atas,” intruksi Sehun. Hanna pun mengerti dan berjalan mendahului guna mengembalikan buku tersebut ke rak yang Sehun maksud, lantas berdiri di ujung kaki demi menjangkau tempat tertinggi.

“Katanya, pengetahuan ada karena adanya pengalaman. Aku baru ingat, Locke itu salah satu ahli filsuf yang banyak memberikan konstribusi di bidang psikologi.” Hanna tak sadar telah kembali memulai percakapan, sebelum menyerah pada usahanya dan beralih menghadap Sehun saat buku di tangannya kembali diambil alih.

“Ya. Beliau juga dikenal sebagai Bapak Empirisme Dunia. Berkaitan dengan itu, kegiatan mengetahui memang merupakan bagian tak terpisahkan dari seorang manusia untuk hidup sebagai manusia. Mungkin itu sebabnya, teori empirisme selalu menjadi yang terdepan,” timpal Sehun, seusai mengembalikan buku ke tingkat yang tak bisa Hanna jangkau.

“Terlebih, manusia mencari pengetahuan tak semata untuk bertindak secara tepat dan berdaya guna di lingkungan sosial; namun juga untuk sebuah pengalaman dan rencana hidup ke depan. Karena dengan begitu, seseorang akan terhindar dari kubangan takdir berlumpur kebodohan,” sambung Sehun.

“Mm, epistemologi. Essay Concerning Human Understanding. Aku rasa, aku akan meminjamnya jika sudah memiliki banyak waktu luang.” Hanna membaca lagi judul buku Locke. Lantas berlalu; mengambil empat buku lain yang kedapatan berasal dari cabang ilmu serupa.

Berikutnya, hening menyela. Untuk sesaat tak ada lagi percakapan selain suara gesekan sampul dengan rak kayu. Namun di saat Hanna sibuk mengembalikan buku, Sehun justru mengambil dan membuka buku lain alih-alih kembali membantu. Namun ketika semua buku filsafat telah kembali ke tempatnya, Hanna justru kehilangan sukma secara perlahan.

Bukan karena lelah, tetapi karena mendapati Sehun yang bersandar ke rak penuh buku dengan menggunakan sebelah bahu sebagai penopang. Apalagi melihat wajah tampannya sedikit menunduk; memfokuskan pusat perhatian pada deretan karakter huruf pada buku yang terbuka di tangan. Jujur saja, itu terlihat seksi bagi Hanna yang memang begitu menyukai lelaki pintar, berkacamata, yang senang membaca.

Bahkan sekarang, tak ada yang bisa Hanna lakukan selain larut memanjakan mata. Menikmati detak jantung yang cepatnya melebihi gerak detik jam di dinding, sekaligus membiarkan suhu tubuh yang mulai menghangat tak karuan.

“Kemarilah!” panggil Sehun, tetapi Hanna sedang lupa daratan sebelum sadar dan jatuh. Semua itu terlihat dari bagaimana caranya berpaling dan menjadikan buku bisu kawan berhadapan, seolah tertangkap basah sedang menatap seorang pria adalah hal paling memalukan. Tingkahnya malah semakin manis saat Sehun tersenyum dan berjalan mendekat. Seperti membawa hawa panas, pipi Hanna pun bersemu merah saat pria itu tiba dan kembali bersandar ke rak.

“Ini buku Henri Bergson. Tokoh aliran intuisionalisme, filsafat.” Seperti sebelumnya, Sehun menunjukkan bagian dalam buku di tangannya kepada Hanna. “Menurutnya, apa yang terlihat adalah apa yang memang tampak, tetapi sebuah kesimpulan tidak bisa diambil begitu saja. Maka dari itu, menganalisis dengan menggunakan intuisi sangat perlu karena hati nurani tak bisa dibohongi,” sambungnya; menjelaskan betapa cocok buku itu untuk seorang calon psikolog seperti Hanna, karena bisa digunakan sebagai bahan referensi praktek memahami pasien.

Namun oleh sebab ketidakmampuan Hanna menguasai medan, reaksi pertamanya hanya tersenyum dengan binar mata menunjukkan ketertarikan. Tetapi pelan-pelan, lewat gerak canggung, Hanna tetap mengambil alih buku tersebut—yang tanpa disadarinya, telah membuat tangan si Pria bebas melakukan manuver lain; seperti, menyelipkan helai rambut panjangnya ke belakang telinga.

“Jangan pulang sendirian tengah malam dengan berjalan kaki lagi.” Sehun meminta. Dagu Hanna adalah tempat telunjuknya berlabuh. “Mulai malam ini, biarkan aku menjemput dan mengantarkanmu pulang.”

.

.

.

To Be Continued
.

.

.

Rendezvous – Dark Romance (part B)

.

.

.

Mau langsung baca? Tunggu dulu. Abis lebaran ya. Terlalu ekstrim kalau di-post sekarang. Tapi berhubung aku bagiin password-nya secara cuma-cuma lewat clue, jadi aku gak mau chapter ini jadi sampah untuk sebagian pembaca. Dengan kata lain, ditinggal gitu aja tanpa ada jejak kehadiran. Untuk itu, bagian dua baru akan kubuka (setelah lebaran) kalau kalian gak males komen.

Jadi, aku akan memertimbangkan perkembangannya dulu ya (sebelum bener-bener post). Tapi yang pasti, semuanya tergantung kemauan kalian untuk hadir dan post, catet! Makanya jangan betah jadi silent readers, soalnya yang rugi gak cuma author sebagai pembuat cerita, tapi juga kamu sendiri.

Oh-iya, sebenernya aku ini lagi ngambil cuti alias semi-hiatus, makanya ngilang lama. Mau bikin pengumuman, males. Hehe lagian pas bete, aku sempet aktif di FanPage SehunBee Fanfiction, jadi ga bisa dibilang ‘hiatus beneran’ karena sempet bikin cerita-cerita pendek di sana. Kalau mau baca, buka dan klik aja. Ini juga sebenernya mau post abis lebaran, biar sekalian sama The Violinist, tapi yang bener-bener suka cerita ini, pengen sekarang. (Nih, aku dengerin kalian ya. Aku cuma keliatannya aja cuek. Aslinya penurut, kok.)

Udah ah, aku jadi banyak omong. Makasih ya buat kesetiaan kalian—pembaca aktif. Lobee you^^

Regards,

Sehun’Bee

404 responses to “Rendezvous [Chapter 2A] – by Sehun’Bee

  1. Kudu baca ini berkali2 buat ngobatin panyakit kangennya sama sehun hanna. Udah seneng mbayangin abis lebaran bakal apdet yang Bnya tapi nyatanya. Cewa berat ah sampe november juga belum diapdet astaghTT

  2. Ya ampunn adakah satu org laki2 yg sifatnya kyk sehun ….
    Aku sampai feelnya ngefly gitu hahahaha …
    Hanna yg sdh memulai menyukai sehun dan sehun udah star pertama🙂 tapi seperti biasanya aku khawatir dengan nami😦
    Fighting saengg ^^

  3. Akhirnya sehun berani juga buat deketin hanna secara langsung meskipun mereka masih canggung gitu. Penasaran sih sebenernya hubungan baekhyun sama hanna itu kayak gimana sebenernya. Berharap banget hanna mau buat dianter jemput sama sehun. Semangat terus lah buat kak bee lanjutin ffnya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s