Beautiful Monstar -Part 2- Babalee

tumblr_n8ay6vgOIF1qc1ft4o1_500

 

Beautiful Monstar

Kim So Hee | Byun Baekhyun

Marriage Life | Comedy | Friendship | Drama

Pg-17

Part 1| Part 2|

 

 

 

Aku pikir, Baekhyun akan pergi meninggalkanku sendiri. Tapi tidak, dia selalu berada di sampingku membiarkan lengannya dibebani oleh rangkulan tanganku. Setiap orang memandang iri atau sesekali tersenyum jail. Yah maksudnya adalah Kim So Hee yang sering terdengar selalu bertengkar dengan Byun Baekhyun ternyata berjodoh sekarang.

Sebenarnya aku lebih dekat dengan Kyungsoo. Menganggu pria itu lebih menyenangkan dari pada menganggu Chanyeol atau Baekhyun. Mereka akan balik membalas dan lebih kejam.

Waktu telah menunjukkan pukul sepuluh malam, dan pesta pernikahan telah selesai di laksanakan dari satu jam yang lalu. Kami-aku dan Baekhyun- lebih memilih pulang ke apartemen dengan berbagai alasan. Seperti alibi malam pertama agar bisa segera menyusul Jimin eonni. Padahal aku sendiri tidak tahu apa yang akan terjadi malam ini.

Baekhyun memang memiliki otak mesum yang sama parah dengan Chanyeol. Tapi, tidak pernah sekalipun aku memergokinya sedang menonton film porno atau mastrubasi-seperti kata Wendy-. Pria itu terlalu apik memainkan perannya.

Aku menyandarkan tubuhku pada dashbor tempat tidur sambil membaca novel Eleanor and Park yang ada diatas nakas. Apartemen ini milik Baekhyun sepenuhnya. Dia bilang ini adalah hasil jerih payahnya sebagai seorang dokter selama ini. Tinggal bersama orang tuanya tidak menyenangkan. Maksudnya kadang merasa tidak bebas.

Baekhyun keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit di lehernya. Netranya tertuju padaku dengan kening berkerut. Langkahnya perlahan lalu duduk di tepi kasur membuatku sedikit terguncang.

“Kenapa melihatku seperti itu?” tanyanya yang membuatku mengerutkan kening. Memangnya seperti apa aku menatapnya? Aku pikir ini adalah tatapan biasa seorang Kim So Hee pada Byun Baekhyun. Ah apakah setelah ini margaku ganti menjadi Byun?

Aku beringsut mendekat Baekhyun. Jarak kami hanya terpaut satu jengkal saja. Wangi sabunnya menyerbak memenuhi indra penciumanku. Wangi mint juga ada rasa jeruk lemon. Dia pakai sabun apa sih sebenarnya?

Mata kami saling beradu. Aku hanya mencoba menyelamnya semakin dalam. Tapi seperti sebuah tarikan, aku tidak dapat kembali. Seketika semuanya kacau. Seperti tiba-tiba ditarik lalu dijatuhkan pada masa-masa lampau. Pria ini, apa yang istimewa selain bakatnya menyanyi dan bermain musik?

Saat itu, acara pensi sekolah. Pria ini naik ke atas Baekhyun bersama Jongdae, Chanyeol, dan Kyungso. Baekhyun duduk di kursi berhadapan dengan piano besar, Jongdae memegang stik drum, Chanyeol dengan gitar dalam rengkuhannya dan Kyungsoo berdiri paling depan memegang mikrofon. Baekhyun yang usil, pecicilan, dan banyak bicara seketika menjadi asing bagiku. Dia duduk damai. Memainkan sepuluh jarinya membuat nada-nada indah hingga membuat banyak gadis seketika berkerumun di depan panggung. Jujur aku kesal setengah mati. Ingin rasanya berteriak pada semua gadis itu bahwa orang-orang di depan sana adalah teman-teman dan saudaraku.

“Ada apa So Hee?” tanya Baekhyun hingga membuat lamunanku seketika hilang. Satu tangannya meraih wajahku. Mengusapkan ibu jarinya pada pipi ini. Hangat.

“Baek, apa malam ini, kita..?” aku menggantungkan kalimatku karena ku pikir dia akan mengerti. Ini adalah pembicaraan orang dewasa dan rasanya aneh saja jika di Byuntae ini tidak mengerti.

Baekhyun tiba-tiba tertawa lalu melepaskan tangannya dan memegang perutnya. Aku pikir tidak ada yang lucu, jadi orang aneh ini sedang menertawakan apa?

“Jadi itu yang dari tadi kau pikirkan? Dasar mesum!” katanya lalu menyentil dahiku. Sial itu sakit. Tapi setelah itu tawanya reda. Dia menatapku dalam lalu tersenyum begitu manis. “Tidak sekarang Sohee, kapan-kapan saja. Tidakkah kau lelah? Ayo istirahat.” Lanjutnya. Aku mengangguk karena memang melelahkan sekali.

Baekhyun mengambil tempat di sampingku. Pernikahan ini tidak memiliki perjanjian apapun. Jadi rasanya sah-sah saja jika kami tidur bersama bahkan sampai melakukan lebih. Ini semua memang tidak didasari dengan cinta. Hanya aku mungkin. Atau Baekhyun sudah tidak mencintaiku lagi? Waktu berlalu tanpa sadar membawa setiap orang pergi bersamanya. Aku hanya merasa, tidak ingin kehilangannya setidaknya setelah apa yang telah terjadi.

Aku sempat menatap wajahnya saat satu tangan Baekhyun memeluk pinganggku. Pada aku menyimpan guling diantara kami. Mata itu tertutup damai. Menyenangkan dan aku memang sangat suka melihatnya terlelap. Seperti bayi mungil tanpa dosa. Bedanya Baekhyun terlalu banyak dosa karena terlalu usil.

“Tidur Byun So Hee.” Katanya masih dengan mata terpejam. Aku terkekeh lalu ikut beringsut mendekati tubuhnya. Aromanya, aku suka.

 

***

Ini masih pagi dan seingatku semalam aku sempat menutup tirai hingga cahaya bulan tidak bisa masuk. Tapi pagi ini, aku terbangun karena sinar mentari tiba-tiba menyusup. Baekhyun sudah tidak ada. Pria itu tidak mungkin pergi kerja diwaktu cutinyakan? Seharusnya begitu jika dia tidak ingin kantor ayah panas akan gossip bahwa hubungan pernikahan kami akan segera berakhir bahkan saat baru di mulai.

Aku berjalan masuk kamar mandi, menggosok gigiku lalu kembali keluar. Aku butuh air. Mandi nanti saja. Toh hari ini libur tidak akan kemana-mana.

Kepala Baekhyun tertunduk sibuk mengoles selai pada roti. Segelas susu dan secangkir kopi-aku rasa itu Americano- sudah ada diatas meja dengan asap mengepul. Aku tersenyum lalu menghampirinya. Pagi ini seperti dalam drama-drama dan impianku. Pria itu mendongakkan kepalanya lalu tersenyum melihatku. Namun detik selanjutnya keningnya mengkerut dan dia mulai berkacak pinggang. Ada yang salah?

“Kau belum mandi? Jorok sekali.” Katanya dan aku hanya mendelik lalu duduk di kursi samping Baekhyun berdiri.

“Kenapa susu? Aku terlihat seperti bocah.”

“Kau memang bocah.”

“Jadi kau baru saja menikahi bocah?” Aku mendongak dan Baekhyun menghadiahiku dengan kecupan singkat dibibir. Mataku membelalak. Ini harusnya sudah kali ketiga dia menciumku. Pertama saat kejadian di pulai Jeju itu, lalu pernikahan kemarin, dan pagi ini.

Aku menggulum bibir lalu menyebik. Satu tanganku melayang lalu memukul pantatnya kuat. Ini hukuman Karena mencuri ciuman pagi-pagi begini.

“Ya! Aw! Apa yang kau lakukan?!” pekik Baekhyun.

“Suruh siapa menciumku begitu?!”

“Memangnya apa yang salah? Aku suamimu dan hey kau tidak pernah baca, morning kiss! Ya ampun, kuno sekali.” Katanya dan aku menatapnya tidak percaya. Apa dia bilang? Kuno?! Baekhyun menarik kursi di sampingku lalu mencicipi roti selai kacangnya sendiri. Dia bahkan tidak mengoleskannya untukku.

“Lalu apa karena aku istrimu sekarang kau bisa berbuat seenaknya? Kalau begitu kenapa tidak lemparkan aku pada kumpulan hiu?”

“Hiu akan menelanmu bulat-bulat. Lebih baik kau dicabik-cabik dulu oleh piranha.”

Aku menatapnya tidak percaya. Bahkan aku sadar sekali saat mulutku terbuka lebar tidak bisa berkata-kata lagi, “Kau tega melakukan itu?”

Baekhyun menggendikkan bahunya acuh tak acuh, “Kau juga tega memukul pantatku. Nanti kalau tepos bagaimana?”

“Siapa peduli. Bahkan dari awal tubuhmu tidak menarik.” Kataku dan sukses membuatnya menatapku tajam. Dia menyimpan rotinya yang tinggal seperempat lalu mendekatkan kepalanya pada kepalaku. Hidung kami hampir bersentuhan jika aku tidak mundur beberapa mili.

“Kau bahkan belum pernah secara sadar melihat tubuhku. Kau akan tergoda. Kau belum tahu yang didalam seperti apa.”

Aku mendengus apanya yang di dalam. Dia bahkan tidak punya otot dilengannya. Tidak seperti Chanyeol yang selalu berolah raga hingga tubuhnya tercetak bagus. Aku bahkan sudah jarang melihat Baekhyun berolah raga sejak lulus dari SMA.

Baru saja aku akan menjawab ucapannya, ponselku bordering. Minsoek oppa menelfon. Pagi-pagi begini?

“Ya oppa ada apa?” kataku lalu melirik Baekhyun di sampingku. “Aku dan Baekhyun sedang sarapan… tidak oppa tidak mengganggu kok. Kami benar-benar sedang sarapan… sekarang? Ada apa?” lagi-lagi aku menatap Baekhyun ragu. Namun setelah itu rasanya tubuhku sangat ringan. Aku mengerjapkan mata beberapa kali. Tidak berkata apa-apa lalu menutup telfon.

“Baek..”

 

***

Ayah tersenyum begitu manis. Aku bahkan sampai lupa, kapan terakhir ayah tersenyum setenang itu. akhir-akhir ini, setelah kepulanganku dari London, dia selalu terdiam. Merenung kadang melamun. Tapi sekarang dia tersenyum.

Rangkaian bunga terukir. Putih. Dia tersenyum diantara bunga-bunga itu. Ibu duduk bersimpuh. Menatap tanpa arah. Tidak ada polesan apapun hingga wajah pucatnya terlihat jelas. Kedua matanya bengkak karena terlalu banyak menangis. Rambutnya hanya diikat sembarang. Asalkan rambut panjangnya tidak menghalangi penglihatannya.

Beberapa pelayat datang membawa setangkai bunga lalu menyimpannya di depan foto ayah. Bahkan Nyonya Liu Mei-ibu kandung Minsoek oppa– datang langsung dari China. Nyonya Yoo Kang Ja-ibu kandung dari mendiang Suho oppa juga datang. Wajah mereka juga terlihat pucat.

Aku menatap wajah ayah baik-baik. Minsoek oppa datang, meremas bahuku mencoba memberi kekuatan. Seketika, aku merasa sudah mati untuk yang ketiga kalinya. Pertama saat kecelakaan. Kedua saat tahu bahwa Suho oppa meninggal. Dan sekarang, saat kepergian ayah.

“Dokter bilang, ayah mengalami serangan jantung. Sepertinya tubuhnya menegang sampai tidak bisa menyentuh obat. Obat ayah jatuh tidak jauh dari meja kerjanya. Aku tidak tahu, kalau ayah sudah separah itu.” jelas Minsoek oppa yang seketika membuatku membalikkan badan lalu memeluknya. Tubuhku bergetar hebat. Rasanya terlalu sesak. Ada banyak hal yang ingin ku ucapkan. Seperti pembicaraan seorang anak pada ayahnya. Percakapan ringan hingga membuat kami tertawa diatas tikar pada musim semi.

Aku mengeratkan pelukan pada Minsoek oppa. Dia membalas, mengusap punggungku hangat dan sesekali mengeratkan pelukannya. Dia juga pasti merasa sangat kehilangan.

Minsoek oppa melepaskan pelukannya. Dia menggiringku keluar menepi pada jendela yang dihiasi rintik gerimis. Tangisku semakin pecah. Minsoek oppa mengusap wajahku. Aku mendongak seketika melihat dua tetes air mata jatuh pada kedua kelopak matanya. Katanya, dia pernah membenci ayah Karena terlalu pecinta wanita. Tapi kali ini tangis ini terasa sangat nyata.

Aku menggeleng pelan lalu kurasakan remasan pada kedua pundakku. Itu Baekhyun. Dia mencoba mengajarkanku untuk tersenyum. Tapi, lengkungan tipis pada bibirnya juga palsu. Aku mendudukkan diri pada kursi lalu menutup wajahku.

“Hei, So Hee kan gadis kuat.” Kata Baekhyun menarikku ke dalam pelukannya. Aku menyandarkan kepalaku pada bahunya. Kembali menangis namun tertahan karena aku berteriak pada kemejanya.

“Aku benci Baek! Kenapa kenapa..” Kenapa mereka meninggalkanku. Aku hanya ingin berkata itu namun rasanya sulit sekali. Baekhyun menyandarkan kepalanya pada puncak kepalaku. Satu tangannya menyentuh punggungku sedang yang satu lagi mengusap kepalaku.

 

***

Aku masih duduk menyandarkan kepala pada jendela. Hujan diluar malah semakin deras saja. Tapi orang-orang yang datang juga semakin banyak. Ada teman-teman ayah yang beberapa aku kenal. Beberapa diantara mereka datang padaku sambil mengucapkan beberapa kata penyesalan. Tapi aku mencari sosok lain.

Jongin datang bersama tunangannya. Dia memelukku erat hanya sedetik setelah itu melepaskannya. Dia mengusap kepalaku. Matanya sayu. Si hitam usil ini ternyata punya empati juga. Jongdae juga datang, matanya berkaca-kaca hampir menangis jika aku tidak tertawa. Dia sangat dekat dengan ayah. Katanya, Jongdae sudah seperti anak ayah sendiri. Orang tuanya lebih sering pergi ke luar negeri untuk bekerja di kantor cabang ayah. Makanya dia lebih sering bermain di rumahku-saat kecil dulu-. Dan sekarang karena sudah besar-katanya- lebih enak bermain dengan Jongin.

Mentari menutup cahayanya di ufuk barat. Hanya gurata jingga membentang diatas langit. Aku tidak terlalu memperhatikan orang-orang. Hanya saja beberapa kali Baekhyun membantu Minsoek oppa melayani tamu-tamu yang berdatangan. Setelah cukup sepi, dia datang menghampiriku. Duduk disampingku dan menatapku dengan senyum tipisnya.

“Setiap orang pasti akan mengalami kehilangan. Segalanya sudah ditentukan waktunya. Kita saja yang tidak tahu dan merasa ini semua terasa mendadak.” Katanya sambil mengusap kepalaku, “Mau mendengar ceritaku? Aku belum pernah menceritakan pada siapapun, tapi semua keluargaku tahu.” Lanjutnya membuatku tertarik. Aku menegakkan tubuhku. Mulai fokus menatap netranya. Baekhyun menarik nafas dalam, menata langit-langit sebentar lalu kembali padaku.

“Saat aku kelas satu sekolah dasar, aku punya adik kecil. Namanya Byun Wendy. Tadinya dia akan dinamai Baek Hee. Lucukan, Boom, Hyun, Hee. Tapi karena dia tidak sengaja dilahirkan di Canada saat ibu sedang menghadiri pernikahan sahabatnya, maknaya Baek Hee berubah jadi Wendy. Ibu bilang, dia ingin nama anaknya sedikit kebarat-baratan. Dia cantik sekali. Usianya berbeda empat tahun denganku. Manja dan usil. Aku rasa dia benar-benar sepertiku.” Katanya lalu terkekeh. Dia sedang menceritakan adiknya? “Tapi, dia menderita leukemia. Anak sekecil itu sudah menderita. Ibu sering menangis. Dan aku yang tidak mengerti apa-apa menuntut penjelasan dari Baekboom hyung. Tapi dia terus menutupinya dariku. Mungkin karena aku masih kanak-kanak. Akhirnya aku mencari buku mengenai leukemia. Dulu masih belum tenang tentang internet, kau tahukan?” katanya dan aku mengangguk. “Dan tidak lama, Wendy meninggal. Semua orang menangis. Aku juga. Padahal banyak hal yang ingin aku lakukan bersamanya. Ibu merasa frustasi lalu mengambil liburan bersama ayah ke Canada. Katanya dia ingin sedikit mengenang Wendy. Tapi setelah dua minggu di sana, ibu membawa pulang seorang gadis cantik. Sebenarnya namanya Son Seung Wan. Bocah pantiasuhan keturunan Korea Canada. Dan ibu memanggilnya Wendy. Byun Wendy. Awalnya aku tidak menerima kehadirannya. Tapi melihat betapa senangnya ibu membuatku luluh. Sampai sekarang kami semua mencintai Wendy. Meskipun semuanya tahu bahwa pada faktanya Wendy bukanlah adik kandungku. Dia juga tahu. Dan saat pertama kali tahu dia merasa frustasi dan kabur dari rumah. tapi aku mencarinya dan memukul keningnya.” Baekhyun mengusap kepalaku lagi dan rasanya nyaman. “Waktu memang mempermainkan kita. Tapi bukankah yang datang membayar untuk yang pergi?”

Aku memeluk Baekhyun. Mungkin maksud ucapannya adalah, dia datang untuk menggantikan ayah. Tapi pada kenyataannya tidak ada yang bisa menggantikannya. Meskipun aku sering kesal karena sifatnya yang so tahu, suka memaksa, egois, dan banyak bermain curang, tapi dia tetap ayahku.

“Kau bisa sakit jika terlalu memikirkan ayah. Bagaimana jika ayah marah diatas sana dan meminta tuhan untuk mengutukmu? Katamukan ayah suka berbuat semaunya. Dia sudah berada di surge dekat Tuhan. kau dalam bahaya Byun So Hee.” Kata Baekhyun terdengar mengancam. Aku tersenyum kecil. Bahkan di saat seperti ini dia masih sempat mengarang cerita. Aneh pula.

***

Aku masih diam duduk menyandar pada dashbor. Masih belum mengganti gaun hitam. Pemakaman ayah sudah dilangsungkan sejak beberapa jam lalu. Kami semua- Baekhyun dan aku, Minsoek oppa dan Jimin Noona- sengaja pulang ke rumah untuk menemani ibu. Memang ada beberapa pembantu rumah tangga. Tapi kami tetap tidak tega meninggalkan ibu sendirian setelah kematian ayah.

Baekhyun duduk di sampingku. Dia sudah mengganti pakaiannya dengan baju tidur.

“Istirahat So Hee. Kau akan sakit jika terus seperti ini. Kau pikir ayahmu senang kau seperti ini?” kata Baekhyun yang membuatku menatapnya.

“Ayah bilang dia sempat berbicara denganmu sebelum pernikahan ini. Apa yang dia katakan?”

Baekhyun terdiam. Dia kembali menyelam pada kelopak mataku. Aku tidak tahu apa yang sedang dia cari. Tapi dia terus seperti itu lalu mengangkat kedua tangannya menyentuh bahuku, meremasnya pelan dan tersenyum begitu manis.

“Istirahat So Hee. Kau akan sakit jika terus memaksakan diri.” Katanya. Aku langsung melepas cengkraman tangannya kasar.

“Aku tahu Byun Baekhyun bukan orang yang suka berbohong. Dia akan memilih mengalihkan perhatian dari pada berbohong. Kau pikir sudah berapa tahun lamanya kita berteman. Kenapa kau seperti ini?!!” sadar atau tidak, tapi saat itu aku memekik di depan wajahnya. Tapi Baekhyun tetap tersenyum dan kembali meremas pundakku.

“Aku bilang istirahat So Hee. Ini sudah malam.”

Aku kembali menghempaskan tangannya kasar, “Aku bertanya padamu Byun Baekhyun.”

“Aku tidak bisa mengatakan padamu.” Katanya dan benar-benar membuatku naik pitam, tapi buru-buru dia kembali membuka mulut, “Kau bahkan masih belum pulih benar. Jika kau mendapat guncangan aku takut terjadi sesuatu yang buruk denganmu.”

“Sekedar informasi, aku sudah sehat! Aku sudah mengingat segalanya. Apa yang salah denganmu?”

“Kalau begitu beritahu aku apa yang terjadi pada pertengahan musim dingin pada saat salju pertama turun? Saat itu kita berada di tingkat ke tiga SMA?” aku terdiam. Apa aku baru saja melupakan sesuatu? Apakah ingatan memang penting sampai Baekhyun masih mengingatnya padahal itu sudah terjadi Delapan tahun yang lalu. Memangnya ada apa?

Aku beranjak dari kasur. Baekhyun masih terdiam menatapku. Tatapannya semakin melembut, dia bahkan tidak marah setelah apa yang telah aku lakukan padanya.

“Suho oppa meninggal bukan karena kecelakaan biasa! Aku bisa mencium ada sesuatu yang aneh. Kecelakaanku itu, rekayasa. Aku tahu itu. Dan ayahku adalah orang yang sangat berhati-hati pada hal kecil. Apa menurutmu mungkin jika sakitnya kambuh dan obatnya tergelatak jauh dari tempatnya meninggal? Ini pembunuhan Baek! Dan kau pikir aku anak domba yang hanya harus diam saja?” dadaku naik turun seiring dengan nafas yang memburu, tatapanku kembali hilang arah. Air mata sialan ini kembali datang diwaktu yang salah.  “Aku tidak bisa diam saja ketika orang itu pasti akan mengincar salah satu nyawa kami. Entah itu , Minsoek oppa, Jimin Eonni, kau, atau bahkan aku lagi. aku tidak bisa kehilangan siapapun lagi, Baek.”

Baekhyun beranjak. Dia meraih wajahku. Mengusap air mata yang mulai derah turun. “Maka dari itu, dengarkan aku oke. Kau percaya padakukan?”

“Kalau begitu aku harus tahu, katakan apa yang kalian bicarakan? Seharusnya ayah tahu banyak bukan?”

“Kita istirahat dulu,oke? Kita bahas ini-“

“Persetan denganmu! Aku pergi!”

Aku berjalan keluar kamar lalu membanting pintu di depan wajah Baekhyun. Pria itu memanggil namaku namun segera aku masuk ke kamar ibu.

Ada ibu dan Jimin eonni sedang duduk di tepi kasur. Kepala ibu yang tadinya bersandar pada bahu kakak ipar mulai tegak. Tangannya bergerak mengusap cairan bening yang baru saja mengalir. Seulas senyum terpatri di bibirnya. Aku mengunci pintu lalu bersandar menatap mereka berdua.

“Anakku yang paling cantik, ada apa? Kau bertengkar dengan Baekhyun?” tanyanya yang membuat mengangguk cepat. Ibu berdecak, netranya menatapku tajam. Aku tahu itu hanya gurauan, “Baru kemarin menikah sekarang sudah bertengkar lagi. kalian ini memang tidak pernah akur apa? Kemari sayang.” Mom merentangkan kedua tangannya. Aku berlari kecil berhambur ke pelukannya. Pelukan seorang ibu memang selalu menenangkan. Jimin Eonni tersenyum lalu mengusap kepalaku gemas. Aku merasakan kehadiran seorang kakak perempuan semenjak Minsoek oppa menikah.

Bukan pernikahan karena dasar cinta. Mereka di jodohkan. Minsoek oppa menolak untuk menjadi penerus perusahaan. Dia lebih memilih menjadi seorang dokter. Lalu ayah memberi penawaran. Aku tidak tahu pernikahan tanpa cinta mereka akan berakhir bahagia. Bahkan sesekali aku melihat mereka begitu romantis sekarang. Awal pernikah mereka memang terlihat menyedihkan. Beberapa kali aku melihat Minsoek oppa dan Jimin eonni tertekan. Lalu, bagaimana denganku dan Baekhyun? Apakah akan baik pada akhirnya?

“Aku ingin tidur bersama mom.” Kataku masih dalam dekapannya.

“Tapi Jimin juga mau tidur denganku?”

“Tidak apa, aku bisa tidur bersama Minsoek.” Katanya dan aku buru-buru bangkit.

“Tidak, mari tidur bertiga. Mari habiskan malam ini seperti pesta seorang gadis?”

“Apa muat?” tanya Jimin Eonni.

“Aku tidak berulah saat tidur. Iyakan mom?”

Dan pada akhirnya menginap seperti seorang gadis berakhir dengan aku yang tertidur terlebih dahulu. Rasanya lelah sekali. Mom dan Jimin eonni masihi membicarakan tentang masa lalu ketiga anaknya yang dulu sering bertengkar tapi kembali hidup rukun saat sudah mulai dewasa. Atau membicarakan hal-hal yang memalukan tentang Minsoek. Dan aku harus hati-hati dari sekarang. barang kali Mom akan berbicara dengan Baekhyun dan mengatakan semua hal yang memalukan.

 

***

Pagi ini, lagi-lagi aku bangun paling terakhir. Jimin eonni dan Mom sudah tidak ada di kasur. Lagi pula mentari sudah mengintip dari atas sana. Ah jam berapa sekarang ini?

Kematian Ayah masih teringat jelas dibenakku. Pagi-pagi begini aku sudah diresahkan dengan banyak hal. Kematian Suho oppa dan ayah. Kecelakaanku yang janggal. Kekosongan kursi presdir semenjak beberapa bulan yang lalu. Jika Minsoek oppa tertarik untuk pergi ke dunia bisnis, mungkin aku tidak akan di pusingkan dengan berbagai hal mengenai perusahaan. Karena meninggalnya direktur utama, terpaksa aku dinaikkan jabatan menggantikan posisinya.

Aku melangkahkan kakiku turun. Ternyata semuanya sudah berkumpul di meja makan. Wajahnya memang terlihat segar, tapi pancaran kesedihan masih melekat erat di sana. Terutama pada wajah Mom dan Minsoek oppa.

Jimin eonni yang pertama kali menyadari kehadiranku. Dia menyapa dengan senyum dan basa-basi pagi seperti, tidurmu nyenyak? Baekhyun ikut melihatku lalu tersenyum. Aku menarik kursi di sampingnya. Sebenarnya ini bukan berarti gencatan senjata.

“Kau akan pergi ke kantor hari ini?” tanya Jimin eonni sambil menatap suaminya teduh. Aku ikuta menatap mereka secara bergantian.

“Banyak kekosongan tempat dan berkas terlalu menumpuk di meja kerja. Aku tidak yakin bisa tidur tenang. Tapi Baekhyun akan ikut membantu.” Katanya dan membuatku terhenyak. Seketika menatap Baekhyun di sampingku. Dua orang dokter akan berurusan dengan berkas. Apa yang akan terjadi?

“Aku ikut!” kataku tiba-tiba membuat semua mata tertuju padaku. “Aku Direktur utamanyakan. Dan aku rasa tugasku juga semakin menumpuk.” Kataku akhirnya.

Minsoek oppa tersenyum manis padaku lalu berkata, “Tidak apa-“

“Tidak oppa , seperti yang kau bilang, banyak kekosongan tempat dan berkas yang menunmpuk. Pekerjaanku juga menumpuk.” Aku menundukkan kepala lalu menggigit bibir, sebenarnya ini semua sangat meragukan. “Kalian pikir kalian bisa apa? Dokter seperti kalian tahu apa?” aku mencibir lalu terkekeh pelan. Meraih roti yang sudah diolesi selai coklat di piring Baekhyun lalu memakannya lahap. Bukan berarti aku senang akan kembali dengan puluhan dokumen dan kertas-kertas bodoh itu. Ini hanya kamuflase agar semua orang tidak melihat bahwa Byun So Hee sedang gugup.

Lengan Baekhyun terangkat mengusap pelan kepalaku. Aku tidak menatapnya. Terserah apapun yang akan dialakukan. Lagi pula aku masih marah padanya. Walaupun tidak sebanyak semalam.

 

***

 

Sekarang sudah pukul delapan pagi. Dan betapa terkutuknya anak ayah ini. Setelah satu hari kematiannya kami malah disibukkan dengan pekerjaan. Aku mematut diri depan cermin. Mata bengkak sebab menangis semalam dan lingkaran hitam masih tercetak jelas. Baekhyun masih sibuk memakai kemejanya juga seseorang dibalik telfon. Aku tidak mengerti sebenarnya sesibuk apa dia sampai kehilangan fokusnya dan salah menyimpan kancing pakaian.

“Oh ayolah keluarga Kim baru saja berduka tidak bisakah orang-orang mengeri? … Tidak bukan begitu, Ya! … ah maafkan aku, aku hanya bingung. Tidakkah kau mengerti, maksudku apa harus sekarang? hari ini juga? Apa orang-orang tidak bisa menunggu setidaknya tiga atau empat hari?” katanya terdengar frustasi. Aku mendekat lalu mengambil alih tangannya dan mulai mengkancingkan kemejanya. Aku pikir saat menikah nanti, aku akan melihatnya berjalan di sekitar lorong rumah sakit menggunakan jas putih panjang atau membawa pasien terluka parah sampai darahnya mengenai dirinya sendiri. Namun ternyata aku malah mellihatnya sebagai rekanku di kantor. Tatapannya berubah jadi terus menatapku. “ ah benar, aku lupa. Tapi tidakkah kau berfikir ini keterlaluan? … siapa yang akan memimpin nanti? … baiklah aku mengerti…” Baekhyun mematikan panggilannya lalu tersenyum. “Sudah tidak marah?” tanyanya dan aku sudah selesai memasang dasi di kerahnya.

“Ini gencatan senjata. Lagipula banyak hal yang harus kita urus bersama. Ngomong-ngomong, siapa tadi?”

“Sekertarisku.”

Aku mengerutkan kening menatapnya tidak percaya, “Terdengar seperti suara wanita?”

Baekhyun terkekeh. Dia mengacak poniku. Dan holyshit aku sudah membenarkan ini selama beberapa jam lamanya. “Iya, dia Jung Ji Hyun. Sebenarnya dia sudah lama bekerja di perusahaan ayahmu. Hanya saja dia bekerja di bagian cabang di Jepang.” Katanya dan aku mengangguk paham. Siapapun itu sepertinya nama itu tidak aneh.

Baekhyun memakai jasnya lalu mendekat padaku. Dia menatap wajahku dari pantulan cemin. Matanya menelisik sambil mengerutkan kening. Jujur itu sangat risih.

“Kau mau bekerja atau menggoda laki-laki? Kenapa lipstiknya harus tebal sekali?”

Aku mendelik, “Ini tidak tebal Baek, hanya sedikit agar aku tidak terlihat pucat.”

“Kau tidak pucat. Suruh siapa kulitmu putih sekali. Sekali-sekali datang ke pantai lalu berjemur. Sekalian tidak usah pakai apa-apa agar tidak belang.”

“Byuntae!!!”

Baekhyun terkekeh. Dia menarik leherku. Menyimpannya diantara ketiaknya. Harum, tapi menyebalkan. Tatanan rambut yang tadinya rapih jadi berantakan. Baekhyun sialan!!

 

***

 

Q&A

Q: Katanya mau dipublish di wattpad? kok ngga jadi?

A: Aku udah mau beberapa kali ngepublish di sana. Tapi aku selalu bermasalah dengan sinopsis, dan kebanyakan pembacaku di sini.

Q: Kalau beautiful Monstar yang di posting berarti YDKE mundur dong?

A: Aw, aku juga engga tahu. Untuk sekarang aku lagi punya mood BM buat update. Doakan aku biar BM cepet rampung dan aku bisa update yang lain.

Q: Cepet rampung? Berarti cerita ini bakalan jadi chapter pendek?

A: Kayaknya engga deh, liat dari konfliknya, ini bakal jadi cerita yang panjang banget, apa siap nunggunya?????

Q: Tiap hari apa sih baba update?

A: Aku usahain tiap hari senin aku update. staytune di hari senin yaaaa.

Q: Apa ada yang mau diomongin lagi?

A: Ah aku minta maaf karena tulisan ini dibaca ternyata aneh banget nget nget nget. soalnya jarang jarang aku pake sudut pandang ini. Yah semoga next chap bahasanya bisa lebih baik. dan Maaf aku jarang bales komen. aku baca semua kok seriusan. tapi kalo di wordpress kadang sinyalnya suka jelek-diaku- jadi kalo buka di pc suka ngeload. Next part insyaalloh hari senin depan. Jangan bosen nunggu yaaaa

137 responses to “Beautiful Monstar -Part 2- Babalee

  1. Duhh ini baekhyun manis” gentle gini sih jadi pengen gantiin posisi sohee 😁
    Kann ini si sohee juga udah yakin kalo ada yang misterius sama keluarganya , dan tbtb aku jadi ragu sama pernikahan baekxsohee , maksudnya keak apa bener baek cinta sama sohee atau ada perkara lain ?

  2. Waah aku suka ff nya 😄 tapi aku masih bingung ama ceritanya masih teka teki, penasaran ama masa lalu nya sohee sebelum lupa ingatan, terus penasaran sama perasaan nya baekhyun ke sohee gimana 😞 di tunggu ya next chapter nyaa. Dan tolong jangan post di wattpad ya soalnya aku gk punya wattpad hehe 😅 aku lebih suka baca disini 😅😅

  3. Siap nunggu kok kak ^^ penantian akan setimpal dengan hasil yg dinantikan. Hehehe masi banyak yg belum muncul ke permukaan kan? Jadi pasti bakalan tetep ditunggu kelanjutannya hahahaha

    • Semoga cerita ini engga mengecewakan yaaaaa aku harap sih begitu semoga ya ampunnnn
      masih buanyak sekali. Mari kita sama sama berfikir buat next next next chap nyaaaa hehehe

  4. Update juga akhirnya. Yeee^^
    Dari awal udah penasaran sama baekhyun. Sabar banget.
    Btw typo bertebaran dimana2 kak.
    Ditunggu senin depan. Fightingg^^

  5. Yaah jangan post di wattpad dong 😭 aku lebih suka baca disini 😭, ff nya bagus 😄 tapi masih bingung masih teka teki 😞 yaudah lanjut thor keep writing 😅😉

  6. jgn dipost di wattap kak, aku nggak mudeng sama wattap hahaa (?) iih penasaran bgt sama nextnya. tapi aku boleh berkritik dikit? kakak author bisa nggak pemilihan kata di ff ini dibenerin? maksudnya aku rada bingung sama kosa katanya kakak, bisa dikatakan belepotan mungkin.. aku sering bingung bacanya, dan suka ulang2 . ini kayak dari bahasa lain terus ditranslate gitu.. jadi kalo bisa dirapiin lagi ya kak.. ceritanya bagus kok , aku suka^^

    • Eh iyakah??? Eh iya sih aku juga nyadar banget, aduh malu aku heheheh iya aku perbaiki next chap semoga engga mengecewakan yah, eh part 3 masih mengecewakan. Part 4 deh aku usahain yaaa yaaa yaaaa makasih banget sama komennyaaaa

  7. Ceritanya seru penuh tekateki jdi bikin penasaran, tpi harus sbar nunggu wkwkw
    Msh penasaran tentng kecelakaan sohee, trs kematian suho, sma ayahnya meninggalnya mendadak bngt. Nah sma bagian ini “Bahkan Nyonya Liu Mei-ibu kandung Minsoek oppa– datang langsung dari China. Nyonya Yoo Kang Ja-ibu kandung dari mendiang Suho oppa juga datang.” Jdi sebenrnya minseok sma suho sma sohee itu sodara apa gmn? Kok ibunya beda2._. Ok sekian aku bnyk nanya ya ka heheheh

    • Kayaknya aku terlalu banyak nyimpen misteri deh di part awal ya? (?) atau gimana aaakkkk bingung sendiri aku juga hehehehe. Nanti bakal ada penjelasannya mhon sabar yaaaa ^^

  8. kayaknya ada yg iri sama keluarga sohee karna punya perusahaan yg cukup berkembang. jadinya sebagian anggota keluarga so hee emang sengaja dibunuh biar perusahaannya jatuh

  9. Pingback: Beautiful Monstar – Part 3 – Babalee | SAY KOREAN FANFICTION·

  10. Apakah ada dalang di balik peristiwa yg terjadi sama keluarga so hee?????? Pihak dr dalam/luar?????

    Tp aku suka…walau pun mereka suka bertengkar tp tetep sweet….

    Keep writing dan semangat buat ngelanjutin ceritanya…😀

    • Ayo terus tebak hehehehehe, barang kali tebakannya ada yang bener hehehe
      aku juga sukaaaa lucu gimana gituuuu jadi pengen punya suami kaya Baek di cerita ini deh T_T

  11. Banyak banget teka-tekinya. Ku jadi penasaran sendiri.
    Lanjut ah biar gak mati penasaran wkwk

  12. Masih belum bisa nebak alur ceritanya bakal kaya gimana, bikin penasaran aja hehe
    Ijin lanjut baca ya ^^ seperti biasa, aku selalu suka dengan fanfic buatanmu ^^

  13. Masih belum ngerti bgt sama ceritanya mungkin karna bru dua chpter ya kak😀
    Iya mending disini aja kak publish nya, ga biasa di wattpad huhu

  14. Aku baru tau kalo udah di update hahahahha
    Aku suka aku sukaaaaaa….
    Semangat terus authoor!!

  15. Aku lupa sudah komen apa belum di chapter 2 ini. Yang jelas aq suka banget baca ulang jika ceritanya menarik..so aq tinggalin komen jg disini.

    Namanya aja baru chapter 2 ya jadi wajar aja jika masih banyak misteri yg belum terungkap dan be a good reader i am, aq akan setia menunggu. hehehe

    Karena interaksi Sohee dan Baekhyun itu cute menurut aq, meski mereka suka debat, itu yang jadi bumbu dalam hubungan mereka.. Hmmm…mereka saling cinta? aa we will now in time. just wait. am i right? hehehe

    semangat terus babalee!!!!! i’m waiting patiently🙂

  16. Baekhyun masih cinta so hee kah? So hee cinta baekhyun kah? Masih bgt banget tanda tanya di kepala aku -_-

  17. Di chapter 1 itu alurnya maju mundur ya?
    Dan di chapter ini aku juga masih rada bingung alurnya. Tapi ceritanya bagus kok, aku suka😊

  18. Hmm aku rada bingung gitu sama alur ceritanya, eh tapi gpp deh soalnya bisa bikin penasaran hehe
    Tapi aku beneran penasaran sama keluarga sohee serius deh! Ahh pokoknya semangat terus yaa!

  19. Loh lohh pengantin baru kok ngambekan, masih baru lohh/? Kekekeke
    Eh? Kok bau Mistery makin kental ya? Dan aku sempat kaget sama kematian Tuan Kim. Well, itu terjadi saat pernikahan mereka aja baru seumur taoge/?
    Aku masih bingung dengan mereka.
    Untuk Author tetap semangat yak! Kukira ff ini ga akan dilanjut, jadi aku ga komen dari awal deh hihi😀

  20. seketika baek di sini gck kyk cabe:v ada gebtlenya ada lucunya juga
    ehh jd itu kematian suho itu baru aja yah anju gitu langsung ayahnya meninggal

  21. aku rasa disini banyak sesuatu yang misterius ya… jujur saja ada beberapa kalimat yang membuatku bingung. ini kaya ada cerita pembunuhnan berencana ya? kalau memang iya lebih baik saran aku saja sih lebih banyak cari referensi novel misteri biar bahasanya lebih membuat orang teramat sangat penasaran dengan kalimat yang misterius. aku bingung jelasinnya ya gtu lh intinya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s