[Freelance] Nana Diary’s (HUN―HAN SIDE STORY)

Nana Diary’s (HUN―HAN SIDE STORY)

Nana Diary’s (HUN―HAN SIDE STORY)

Author : SYAMMER

Subtitle :

[REGRET AND HATE]

MAIN CAST:

Oh Sehun Of Exo & Xi Luhan

SUPPORT CAST:

Oc, Hwang Family, Xi Family And Other Cast

GENRE:

Angst, Family, Hurt, Romance, Sadness, &  School Life

LENGHT:

Oneshoot

RATING :

PG 17+[WARNING!!]

DISCLAIMER

The plot is mine! Hanya Aku & Tuhan yang tahu.

Copyright© 2016 by SYAMMER

 

 

˜♠♥♠™

[Sehun pov]

 

Entah kenapa hatiku merasa ada yang aneh yang baru saja menghinggap dibenakku, aku tak tahu perasaan apa itu. Jantungku berdetak begitu kencangnya saat aku mendekap tubuh mungil itu kedalam pelukanku.Aku tak tahu kenapa aku begitu kalut melihatnya terkapar lemah di aspal berwarna hitam itu, kubawa tubuh kedalam pelukkanku. Aku merasakan darah segar terus mengalir dikepalanya membasahi lengan kemajaku. Aku melihat tersenyum kepadaku dimatanya yang sudah Nampak sayu.Aku melihat mata hazel yang indah dari balik kacamata tebalnya.Ia membuatku membeku. ‘Cantik. Lebih cantik dari mata Gain, kekasihku sendiri.’Batinku mengaguminya.

 

Aku melihat tangannya terangkat kemudian membelai wajahku membuatku reflek menyentuh tangan halusnya dan mengeratkan genggamanku. Aku melihatnya tersengal-sengal nampaknya ia ingin mengatakan sesuatu padaku. Kemudian ia berujar pelan, “Ssoredemo kimi….Ga bboku no soba hanareretei-te mo… Eien ni…kkimi ga shiawase de iru koto tada ne-ggatteru... Tatoe so… rre ga donna ni sabishikute mo…(Eventhought you’re away from my side. I’m just praying you will be happy forever for eternity. No matter how lonely I may be).”

 

Aku mengerti arti ucapan bahasa jepang itu, Ucapan itu semakin membuatku kalut dikala hembusan napasnya semakin tak teratur dan semakin lemah.Membuatku semakin panik, “Apa yang kau katakan, Na?” ujarku semakin tak karu-karuan kepanikanku.“Bertahanlah, Na!” tambahku untuk menyemangati agar gadis itu tetap bertahan. Aku melihatnya tersenyum lembut padaku.

 

Aku mendengar seseorang menelepon ambulans, itu membuatku sedikit bernapas lega.Tapi perasaan kalut masih membelengguku, dimana gadis itu semakin tak berdaya bahkan sudah banyak kehilangan darah.Gadis itu semakin lemah, napasnya semakin lemah.Ia memanggilku kembali, “Sehun-ah! B-biarkan… ak-ku… t-tidur…d-di pe-luk-kan…mu… ak-ku… sud-dah… sa-sang-at… l-le…lah….” Ucapnya tersengel-sengal.

 

Aku begitu panik dan kalut dengan keadaannya semakin tak berdaya, “Na! Andweee!!!!Andwee!!!!” teriakku semakin panik.Tanpa sadar airmataku luruh, airmataku jatuh untuk seorang wanita selain ibuku.Aku melihat matanya semakin sayu, aku merasakan hempusan napasnya semakin lemah.Ia kembali berucap dihembusan terakhirnya, “sa… rang…hae…” aku perlahan merasakan tangannya melemah kemudian langsung terjatuh dari genggamanku bersamaan kepala gadis itu tenggelam dalam pelukkanku, mata indah itu terpejam sempurna, bibirnya membentuk lengkungan indah disana dan ia tertidur untuk selamanya.

 

Deg.

 

Aku mendengarkan ucapan gadis itu membuatku terkejut sekaligus jantungku rasanya ikut mencelos keluar saat melihat gadis yang ada dipelukkanku sudah meninggalkan raganya. Aku mengguncang pelan tubuh mungilnya, tak ada respon, ia tetap menutup mata indahnya untuk selamanya. Aku menggelengkan kepalaku tak percaya ia telah pergi untuk selamanya setelah mengucapkan cinta padaku. “NANAAAA!!!!IREONNAAA!!! NANAAA!! IREONNAAA!! Ireonaa…” jeritku memanggil namanya hingga jeritanku melemah.

 

Kini rasa penyesalan melingkupi dibenakku, airmataku mengalir tak terbendung. Aku kembali mendekap tubuhnya yang dingin kedalam tubuhku. Entah dorongan darimana aku mengecup pelipisnya, Aku berucap maaf padanya, “maafkan aku!Aku terlambat menyadarinya…” aku kembali menatap wajah cantiknya sembari membelai lembut wajah tidurnya yang begitu damai.Baru aku sadari sekarang dari sikapnya yang selama ini begitu perhatian padaku tapi aku malah mengabaikannya saat itu.Aku merasa bodoh tak menyadari ada seorang wanita yang telah berkorban hanya untuk mencintaiku selama ini.

 

[Sehun Pov End]

 

Gain yang membeku dengan telah ia lakukan pada Nana. Gadis itu menoleh saat Nana sudah terkapar lemah diaspal hitam itu.Ia melihat Sehun berlari kearah Nana kemudian mendekap Nana kedalam tubuh bidang itu dengan mata kepalanya sendiri. Ia masih terpaku ditempat melihat pemandangan itu. Namun satu menit kemudian ia mendengar Sehun menjerit histeris memanggil nama saudaranya. Gain juga melihat Nana tertidur untuk selamnya dipelukan Sehun. Jemarinya bergerak-gerak gelisah menggantung bebas disisi tubuhnya begitu pula pelipisnya banjir dengan keringat dingin.“Apa yang telah akulakukan?” gumamnya semakin kalut sambil mengangkat kemudian menatap kedua tangannya didepan dadanya dengan bergetar.

 

Ia sempat terkejut melihat Sehun mencium pelipis saudaranya. Hwang Nana. Ia ingin melangkah mendekati Sehun namun kakinya terasa berat untuk melangkah. Gadis itu membiarkan Sehun memeluk wanita lain yang telah pergi itu. Rasa bersalah dan penyesalan kini menghampirinya. Mengucapkan kata maaf pada Nana kini sudah sangat terlambat. Nana tertidur untuk selamanya membawa luka, sakit hati dan patah hati tanpa kebahagiaan yang iadapatkan dalam kehidupnya selama ini.

 

 

[Luhan Pov]

 

Aku terkejut melihat Gain mendorong kekasihku kejalan raya hingga tertabrak dan terhempas di ujung trotoar, instingku untuk berlari kearahnya namun terlebih dulu langkah kaki dicegah dengan handbag-nya yang jatuh tepat didepan ujung kakiku. Aku melihat buku diari, ponsel, dan sebotol berisi setengah pil obat.Aku berjongkok memungutinya terlebih lagi aku melihat buku diarinya terbuka dihalaman terakhir.Rasa keingintahuan dibenakku begitu besar.Aku membaca setiap untaian kata yang gadis itu ciptakan dilembaran kertas putih itu.Setiap kata, setiap kalimat yang kubaca dari tulisan itu membuat perasaanku semakin terjatuh kedalam yang tak berdasar.

 

Pandanganku semakin buram tertutupi cairan bening dipelupuk mataku, jantungku terasa terkebas, membuatku seolah detak jantungku seketika berhenti dan seperti terhunus pedang yang tajam mengenai tepat disana.Membuat kakiku tak kuat hanya menahan beban tubuhku sendiri.

 

“Oh Sehun…” gumamku lirih tak percaya.Aku tak mengerti dengan situasi ini.

 

“Nana mencintai kekasih Gain…”

 

Aku mencoba kembali membacanya kembali buku diari itu.Kugerakkan kedua mataku menelusuri setiap untaian kata itu. Mataku membelalak samar saat membaca tulisan itu.

 

‘Jika aku sudah tertimbun tanah…

Aku berharap ada sosok tampan…

yang memberikan dua ikat bunga mawar dan bunga krisan

diatas makamku…

Aku berharap kalian bahagia tanpa kehadiranku disekitar kalian…

Oh Sehun, Xi Luhan, Gain Eonni, EommaAppa…

Aku mencintai kalian…

Terimakasih Oh Sehun sudah pernah mengisi hatiku

walaupun kau tak pernah disampingku…

Dan kau Xi Luhan kekasihku dan tunangan dari kakakku. Hwang Gain….

Terimakasih semua perhatianmu dan pelukkan hangatmu…

Mianhae, aku belum bisa membalas perasaanmu…

Sebagai balasannya,

jika kelak kita bertemu disurga aku membawakan cintaku untukmu… sayangku….

 

 

Selesai….

 

HWNA’

 

Aku kembali membuka halaman sebelumnya dan membuatku semakin teriris saat membaca diari-nya. Bola mataku terhenti seketika ada sebuah tulisan ‘Leukimia stadium 4.’ Membuat jantungku terasa berhenti seketika. Aku kembali mengangkat wajahku, aku melihatnya sudah tak lagi bernapas dipelukkan pria yang ia cintai. Aku mendengar jeritan pilu dari pria itu memanggil nama kekasihku berulang kali namun tidak ada tanggapan dari kekasihku. Kekasihku telah pergi dan tak akan pernah kembali. Pergi meninggalkanku dan pergi meninggalkan kenangan indah bersamaku.

 

Aku menutup mataku sambil mengadahkan wajah kelangit biru dengan airmata kesedihan yang mengalir dipipiku terlintas wajah cantiknya didalam otakku, saat ia tersenyum, saat jemarinya membelai lembut wajahku, melihatnya menangis, matanya yang indah, dan aku merasakan bibir cerinya. Aku tak tahu, aku yang pertama menciumnya.Aku ingin melihat wajahnya yang memerah namun tak kudapatkan.Semua itu kesalahan Gain.

 

Entah kenapa dihatiku tumbuh kebencian untuk Gain, membuatku ingin marah membuat kekasihku pergi untuk selamanya.Aku kembali membuka kelopak mataku lalu menundukkan kepalaku, aku sesegera memunguti buku diari, dompet dan ponselnya lalu memasukkan kedalam saku dalam coatku. Aku kembali berdiri sembari menguatkan hatiku untuk mengikhlaskan kepergiannya dengan tenang dan damai, ia pergi setelah mendapatkan pelukkan dari orang ia cintai walaupun aku tidak menyukainya.

 

Aku menoleh kesamping, aku melihat Gain masih membeku ditempat.Membuatku tersenyum sinis sambil menahan amarahku yang hampir meledak seraya tanganku mengepal kuat.Aku melangkahkan kakiku cepat menghampiri Gain lalu mencengkram kuat kedua lengan Gain, gadis merintih kesakitan dengan matanya berkaca-kaca.

 

“Sakit…” rintihnya.

 

“Sakit?!Ini tak seberapa yang Nana rasakan selama ini!” seruku meninggi.

 

“Setelah apa yang kau lakukan pada Nana?Kau ingin minta maaf? Silahkan! Tapi percuma saja,kau minta maaf.  Itu semua sudah terlambat. Nona Hwang Gain.”Ujarku dingin.

 

“Kau punya kekasih dibelangkangku, aku juga begitu.Itu saudaramu sendiri. Hwang Nana. Dia lebih baik darimu.Ia selalu mengalah untukmu. Merelakan cintanya untukmu dan sayangnya kau tak tahu terima kasih dengan semua pengorbanan Nana.Kekuranganmu adalah kau tidak peka pada saudaramu sendiri, kau terlalu egois kau hanya ingin mendapatkan semuanya.Kau tahu, Nana sekarang sakit! Aku yakin kau tak pernah tahu.Nana mengidap leukemia stadium 4. Yang terakhir, pria itu yang memeluk Nana. Itu kekasihmu, kan? Daebak! Nappeun Yeoja! Aku sungguh membencimu, Hwang Gain.Setelah ini jangan harap kau hidup tenang setelah kematian Nana. Gadis sialan! Semua ini gara-gara kau! Kekasihku mati karena kau, ara!” tambahku dingin mengucapkan semua perasaan kekasihku yang ia tulis dibuku.

 

Aku menatapnya penuh dengan kebencian, sedangkan Gain masih membeku setelah mendengar ucapanku. Gain menatapku sendu. Ekspresi Gain membuatku tersenyum sinis.Aku melepaskan cengkraman tanganku dengan kasar membuat Gain sedikit terhuyung kebelakang. Tiba-tiba ada sirine ambulans membuatku tertoleh, aku melihat ambulans itu berhenti didekat kekasihku. Beberapa perawat langsung keluar membawa kasur darurat. Aku melihat kekasihku diangkat oleh pria itu lalu merebahkan kekasur darurat itu.Instingku menyuruhku untuk lari. Aku melangkahkan kakiku. Aku berlari kearah ke ambulans dan meninggalkan Gain.

 

[Luhan Pov End]

 

Luhan pergi menghampiri Nana yang dibawa masuk kedalam ambulan meninggalkan Gain dissat itu pula Sehun juga ikut masuk menemani Nana. Luhan yang melihat Sehun membelai lembut puncak rambut Nana dengan mata memerah harus membuatnya menahan emosi dan amarahnya, bagaimana Luhan tidak marah.Nana mencintai pria yang tengah duduk didepan matanya dan sekaligus kekasih dari tunangannya. Hwang Gain. Sedari tadi Luhan menatap tajam pada Sehun, membuat pria itu mendongak menatap Luhan bingung.

 

“Kau siapa?” Tanya Sehun dingin.

 

Luhan tersenyum sinis dan berujar dingin, “aku? Aku Xi Luhan. Tunangan dari kekasihmu. Oh Sehun-ssi!”

 

Sehun nampak shock dan tak percaya dengan ucapan Luhan sambil menggelengkan kepalanya, “Yak! Kau jangan bercanda! Hwang Gain tak mungkin memiliki tunangan.”

 

“Wah…Kekasihmusepertinya tidak mengatakan hal ini padamu, ya? Aku sudah bertunangan dengan kekasihmu, Oh Sehun. Dia selama ini ia hanya membohongimu.Dan diajuga penyebab kematian Nana yangmurni kesalahan kekasihmu. Hwang Gain.” Ucap Luhan sinis menyindir Sehun.

 

Jemari Sehun mengepal kuat yang masih basah dengan darah Nana langsung menyentak kuat kerah kemeja Luhan. Membuat Luhan tersenyum miring. Sukses membuat Sehun geram.

 

“Yak! Sekiya! Bastard!” umpat Sehun didepan Luhan.

 

Mendengar Sehun mengumpat Luhan langsung tergelak.“Hahaha… kau membela wanita yang telah membuat saudaranya sendiri, mati tertabrak? Kau ini buta atau apa, eo? Asal kau tahu, Oh Sehun.Nana jatuh cinta padamu sejak pertama kau masuk sekolah itu tapi sayang sekali kau tak mengetahuinya.Matamu terlalu buta dengan Hwang Gain. Aku akui kau cinta pertamanya yang membuatnya terluka dan patah hati karenamu.Tapi aku, akuadalah pria pertama yang membuatnya lupa akan sakit hati dan lukanya, lalu aku juga pria pertama yang memilikinya…” jelas Luhan datar dan begitu santai. Namun ia sendiri tak menyukainya saat mengatakan hal itu pada Sehun.

 

“Apa maksudmu memilikinya, eo?” seru Sehun sedikit geram mendengar ucapan Luhan yang tak masuk akal itu.

 

“Aku kekasihnya.Aku bertunangan dengan Gain hanya untuk mendekati saudaranya. Hwang Nana, karena aku mencintainya dan satu lagi, aku adalah pria pertama yang mencicipi bibirnya yang menggoda itu…” Ujar Luhan menggantung seraya matanya melirik sekilas dibibir mungil milik Nana lalu menatap Sehun dengan tatapan mengejek sambil tersenyum smrink-nya.

 

“… kau tahu, Nana is Good Kisser. Kau cinta pertamanya tapi sayang sekali kau tak bisa memilikinya…”Lanjut Luhan dengan santai sambil menyentak kasar tangan Sehun dari kerah kemejanya dan akhirnya terlepas.

 

Mwo?”

 

“Dan satu lagi, gadis cantik yang tertidur ini.Nana sakit yang sudah tidak tertolong lagi.”

 

“Bisakah kau langsung bicara pada intinya saja?”Tanya Sehun to the point.

 

“Nana mengidap kanker stadium akhir.” Pungkas Luhan walau lidahnya kilu untuk sekedar berucap. Sontak membuat Sehun terkejut dengan ucapan Luhan.

 

Tiba-tiba ada suara nyaring menyaring menginterupsi mereka, wanita itu mendengar semua pembicaraan Luhan dan Sehun.Gadis itu menatap keduanya tak percaya dan menggelengkan pelan kepalanya.Kedua pria itu menoleh pada gadis itu.

 

“Lu? Kau…?”

 

WAE?!”Luhan menoleh kemudian membentak gadis itu dengan tatapan benci. “Kau memiliki kekasih dibelakangku dan pria itu sekarang dihadapanku bahkan duduk berhadapan seperti ini… Dan selama ini kau membohongi kekasihmu sendiri. Hebat sekali. Aku tak tahu harus memanggilmu apa?”

 

Sehun langsung menatap tajam pada Gain dengan kilatan marah dimatanya, “NEO?! Selama ini kau membohongiku? Bahkan sekarang kau memiliki tunangan dibelakangku, eo?Bagus sekali, sayang… lebih baik akhiri saja hubungan kita. Setelah apa yang kau lakukan pada saudaramu, aku tak ingin melihat wajah polosmu hanya untuk sekedar menutupi topengkeserakahanmu! Ternyata selama ini mataku terlalu buta hanya melihatmu.Kini aku mulai membencimu, mantan kekasihku!”seketika Sehun melengos dari pandangan Gain.

 

Luhan tersenyum menyeringai mendengar ucapan Sehun yang cukup dingin apalagi menekankan kata ‘mantan kekasihku’.Membuat Gain tertunduk dengan kegelisahan, kemudian Luhan menyela.“Aku tak akan membatal pertunangan ini karena aku tak ingin kau lepas begitu saja setelah apa yang kau yang lakukan pada Nana. Tapi aku ingin membuatmu merasakan yang Nana rasakan selama hidupnya, Hwang Gain…” membuat Gain mendongakkan wajah sembabnya dengan ekspresi terkejut.

 

“Telepon orang tuamu yang juga tak peduli pada saudaramuitu dan katakan kalau sekarang kau sedang dirumah sakit.” Ujar Luhan dingin, ia juga ingin mengetahui kepedulian orang tua Gain pada Nana.

 

Tangan Gain bergetar saat akan men-dial up orang tuanya, Luhan menghujami tatapan tajam pada Gain. Gadis itu nampak ketakutan apalagi Luhan menatap gadis itu begitu mengintimidasi.Dengan tangan bergetar, Gain menempelkan ponselnya pada telinganya sekilas bola matanya beralih memandang Sehun yang kini membelai lembut wajah Nana yang sedikit ada goresan luka yang sudah terbujur kaku disana bahkan Sehun tak peduli padanya malah sibuk dengan dunianya sendiri.

 

Tatapan sendu terpancar dari mata Gain, ia merasa diabaikan oleh kedua pria itu bahkan Luhan sendiri tak memperdulikannya. Hanya tatapan tajam yang ia dapat dari tunangannya. Tiba-tiba ada suara diseberang telepon menginterupsinya…

 

Ada apa sayang?” tanya lembut dari seseorang diseberang.

 

Eomma…” jawab Gain dengan suara bergetar.

 

Kau kenapa? Katakan pada eommasayang? Kenapa kau ketakutan seperti itu. eo?” tanya panik Nyonya Hwang diseberang.

 

“Aku sekarang dirumah sakit Hangkook.” jawab Gain bergetar seraya langsung menutup sambungan telepon dengan ibunya. Jemari Gain kini beralih meremas ujung dress-nya sembari menunduk gelisah.

 

Setibanya ambulan yang membawa Nana sudah tiba dipelataran rumah sakit Hangkook. Para suster dengan cekatan membawa Nana masuk kedalam UGD. Sehun, Luhan, dan Gain ikut masuk kedalam. Mereka bertiga terhenti dipintu masuk UGD. Mereka bertiga masih menunggu didepan pintu itu dengan gelisah. Mereka bertiga memanjatkan doa untuk Nana. Tiba-tiba ada suara menginterupsi mereka.

 

“Gain… Gain…. kau tak apa-apakan?” tanya Nyonya Hwang cemas setelah ia berdiri disamping Gain. Nyonya dan Tuan Hwang mendesah lega. “O… nak Luhan kau juga ada disini?”

 

Luhan tersenyum miring disamping Gain lalu mengangguk mendengar pertanyaan Nyonya Hwang. “Kenapa kalian ada disini? Siapa yang sakit?”tanya Nyonya Hwang pada Luhan dan Gain.

 

Sedangkan Sehun hanya terduduk lesu dikursi tunggu dengan tatapan sendu menatap pintu kaca UGD itu. Namun Luhan hendak menjawab pertanyaan dari Nyonya Hwang tiba-tiba…

 

CEKLEK.

 

Pintu UGD terbuka otomatis lalu satu persatu dokter yang mengenakan baju serba hijau dan bermasker keluar dari ruangan itu. Sehun langsung berdiri menghampiri dokter itu kemudian disusul Gain, Luhan, Tuan dan Nyonya Hwang. Dokter itu membuka maskernya dan bertanya, “siapa keluarga dari korban yang bernama Hwang Nana?” tanya dokter itu seraya mendesah panjang.

 

Tuan dan Nyonya Hwang bingung dengan ucapan dokter itu, Luhan mengamati ekspresi Gain, Tuan dan Nyonya Hwang tersenyum miring sambil menggelengkan kepalanya pelan tak percaya. “Kami keluarganya… ada apa?” tanya Tuan Hwang sedikit tenang.

 

Sekali lagi dokter itu mendesah panjang sambil menatap Tuan dan Nyonya Hwang dengan tatapan menyesal. “Kami sudah berusaha sekuat tenaga untuk menyelematkan Nona Hwang Nana tapi Tuhan sudah berkehendak lain. Nona Hwang Nana sudah tak bisa ditolong lagi dan Nona Hwang Nana memiliki riwayat penyakitLeukimia stadium 4 setahun terakhir yang sekarang sudah menggerogoti seluruh tubuhnya. Kami turut berduka amat dalam atas kepergian anak anda yang cantik itu.” ujar dokter itu sendu seraya berlalu meninggalkan lima orang yang masih membeku ditempat.

 

DEG.

 

Luhan dan Sehun seperti mendapatkan serangan jantung, jantung mereka seperti dipaksa mencelos keluar setelah mendengar ucapan dokter itu beberapa detik yang lalu. Luhan menggeleng pelan tak percaya sedangkan Sehun airmatanya terjatuh kembali. Pintu UGD kembali terbuka dua orang suster mendorong Kasur dorong yang ditumpangi tubuh Nana yang sudah terbujur kaku diatas ranjang dorong yang sudah tertutup kain putih itu yang akan dipulangkan kerumah mendiang Hwang Nana. Sehun langsung menghentikan ranjang dorong yang didorong oleh dua suster itu. Tangan Sehun terangkat dan bergetar yang hendak membuka penutup wajah Nana.

 

Ia membuka perlahan penutup itu hingga sebahu Nana dengan tangan bergetar. “Nana…” panggil Sehun lirih sembari tangannya terangkat yang masih bergetar, airmatanya semakin deras keluar dari matanya. Jantungnya seperti terhimpit terasa sesak. Ia menyentuh wajah cantik Nana pucat dengan hati-hati, ia melihat sedikit ada goresan dan memar diwajahnya bahkan ia merasakan dinginnya kulit Nana. Ia merasa tak kuat lagi menahan tubuhnya membuatnya hampir terjatuh jika sajasalah satu tangannya tak menahan tubuhnya dipinggiran ranjang dorong itu.

 

Luhan hanya bisa terpaku menatap tubuh Nana yang sudah terbujur kaku diatas ranjang dorong itu, tanpa sadar airmata itu kembali terjatuh bebas dilekuk pipinya. Ia menggelengkan kepalanya tak percaya kalau kekasih sudah pergi dan tak pernah kembali lagi. Ia memejamkan matanya sejenak.

 

Next day.

 

Suasana duka menyelimuti keluarga Hwang pagi ini. Kepergian Nana membuat Tuan―Nyonya Hwang, dan Gain menyesali sikap mereka selama ini dan kepergian gadis itu membuat dua pria tampan itu terpukul dan sembari bersila menghadap foto Nana dengan ukuran 10R yang berada ditengah bunga krisan putih bermekaran yang menghiasi disisi lain frame foto Nana.

 

Luhan dan Sehun hanya duduk bersila yang tidak jauh dari foto mendiang Nana. Tatapan manik mata mereka begitu kosong saat memandang foto gadis itu. Bola mata Luhan melirik orang tua yang duduk disana yang menangisi mendiang Nana penuh dengan penyesalan sedangkan Gain hanya menangis dalam diamnya tapi lebih tepatnya lebih terlihat ketakutan. Luhan menatap dingin gadis itu sembari mencoba beranjak dari duduknya lalu menghampiri Gain dan duduk disamping Gain, gadis itu sedikit mendongak melihat Luhan berjalan kearahnya dengan tatapan dingin. Luhan hanya pura-pura perhatian pada Gain didepan orang tua gadis itu, tangan pria itu terangkat meraih lembut kepala Gain dan merangkuh kedalam dekapannya. Sempat Gain sedikit terkejut melihat sikap Luhan yang lembut, Luhan menenggelamkan wajah gadis itu kedalam lehernya. Gain tak menolak dan tak membalas perlakuan Luhan padanya.

 

Kemudian pria itu sedikit menoleh lalu berbisik ditelinga Gain dengan ucapan dingin, “kenapa kau ketakutan seperti itu, heum? Bukankah itu keinginanmu untuk melenyapkan Nana dari dunia ini agar kau bebas memiliki segalanya? Kau tahu!Selama kita bertunangan, aku selalu mengawasimu. Aku sering melihatmu pulang dan berangkat kesekolah bersama Oh Sehun, mataku melihat semuanya yang kau lakukan selama dibelakangku. Tapi aku memakluminya karena aku lebih tertarik pada mendiang adikmu. Aku sering melihatnya ketoko buku, pergi ke tempat bakti sosial penderita kanker, ia selalu semangat pantang menyerah menghadapi penyakitnya sendiri dan itulah membuatku tertarik padanya. Ia lebih peduli dengan orang lain daripada peduli dengan dirinya sendiri. Terlebih lagi selama ini ia lebih mengorbankan perasaannya untukmu. Tapi sayangnya ia harus pergi dengan cara tragis… ia pergi didekapan pria yang ia cintai untuk yang pertama dan terakhir dengan tersenyum tenang…” sukses membuat Gain semakin terisak dipelukan Luhan sedangkan pria itu malah tersenyum sinis melihat reaksi tunangannya. Ucapan Luhan begitu memojokannya secara halus.

 

Sedangkan Sehun masih mematung disana dengan airmata kembali keluar tanpa ia sadari, “aku menyesal, Na! Selama ini aku yang salah, aku selalu mengabaikanmu, aku selalu tak peduli padamu, aku selalu mengacuhkanmu, dan aku selalu mengabaikan perasaanmu yang membuatmu terluka dan sakit hati. Mianhae…” ujar Sehun sendu bahkan terdengar rasa penyesalan pada setiap ucapan pria itu.

 

[Sehun pov]

 

Aku hanya bisa mematung dengan tanpa sadar airmataku kembali mengalir, “aku menyesal, Na! Selama ini aku yang salah, aku selalu mengabaikanmu, aku selalu tak peduli padamu, aku selalu mengacuhkanmu, dan aku selalu mengabaikan perasaanmu yang membuatmu terluka dan sakit hati. Mianhae…” ujarku sendu. Penglihatanku buram melihat foto Nana yang cantik.

 

Tiba-tiba ada suara yang menginterupsiku, orang tua Nana, dan Gain beserta tunangan mantan kekasihnya. “Tuan dan Nyonya, sudah waktunya mendiang Nona Muda Hwang Nana untuk dimakamkan.” Lapor pria itu.

 

Aku mengangkat wajahku lalu langsung menoleh kearah orang tua Gain. Entah kenapa ucapan pria itu membuatku tak rela melepas kepergian Nana untuk selamanya. Tapi aku bukan siapa-siapa dikeluarga itu. Aku berusaha mengumpulkan tenagaku yang tersisa, aku berusaha bangkit dari dudukusembari menghampiri orang tua Nana dan membungkuk hormat. Tuan dan Nyonya Hwang menatapku seperti bertanya ‘siapa kau?’ Dua orang paruh baya itu lalu tersenyum padaku dan kemudian bertanya kepadaku.

 

“Siapa namamu, nak? Kau kekasih Nana?” tanya Nonya Hwang dengan sedikit serak. Gain langsung menoleh kearah ibunya dan kearahku secara bergantian setelah melepas pelukan dari tunangannya.

 

Deg.

 

Aku terkejut dengan pertanyaan orang tua Gain membuatku terdiam. Aku tak menjawab dan tak mengiyakan pertanyaan orang tua Gain. Aku tahu Nana adalah kekasih Luhan.Tunangan Gain. Gain? Gadis itu! Gadis yang sudah membuat nyawa Nana melayang. Aku langsung mengalihkan pandanganku kearah Gain dengan tatapan dingin. Aku melihat ekspresinya yang begitu terkejut namun ia tetap bungkam, aku mengalihkan tatapanku kearah Gain dengan tatapan dingin membuat gadis itu menunduk pelan.Aku kembali menatap kedua orang tua Nana sambil tersenyum tipis, aku merasa dibohongi oleh Gain selama ini aku tak pernah mengenalkan kepada orang tuanya dan lebih buruknya lagi orang tuanya mengira aku adalah kekasih Nana. Membuatku ingin enyah dari hadap orang-orang itu.

 

“Permisi…” pamitku seraya membungkuk hormat pada kedua orang tua Nana dan Gain.

 

“Iya, nak. Terima kasih atas kedatanganmu.” Ujar Tuan Hwang pelan. Aku hanya mengangguk kemudian pergi dari ruangan itu.

 

Setibanya dipemakaman aku mengikuti upacara pemakaman Nana. Namun aku berdiri sedikit lebih jauh dari keluarga besar Hwangdan berdiri disamping pohon besar gingo. Aku tak sanggup melihat upacara itu yang begitu menyedihkan tanpa sadar airmataku kembali terjatuh dari balik kacamata hitamku, “Nana….” panggilku lirih dan kembali menyebut nama gadis itu.

 

“Iya, Sehun-ah! Aku disini.” Ujar suara lembut itu berdendang kembali di indera pendengaranku sontak membuatku menoleh kearah samping.

 

Aku melihat sosok cantik berdiri disampingku, begitu terkejutnya aku melihat bayangan Nana berdiri disampingku tanpa aku sadari. Aku melihatnya tersenyum lembut, rambut hitam panjang tergerai indah dipunggungnya tanpa kacamata, ia mengenakan dress warna putih selutut dan stileto silvernya ditambah tubuhnya tinggi sempai hingga aku tak bisa mengalihkan pandanganku.

 

Tanganku terangkat dengan cepat melepas kacamata hitamku agar tak menghalangi pandanganku kuulurkan tanganku membelai pipinya namun sayangnya tanganku tak bisa menyentuh sosok cantik itu membuat airmataku mengalir semakin deras. Aku melihatnya mulai berkaca-kaca dan menggelengkan pelan kepalanya.

 

Mianhae…” ujarnya dengan suara bergetar. “Maafkan aku yang harus menemuimu dengan keadaan seperti ini. Kumohon jangan menangis, Sehun-ah.” gadis itu mencoba menyentuh pipiku tetap saja tak bisa. Ia seperti menggapai angin. Semakin membuatku bersalah kepadanya. Penyeselanku semakin dalam pada Nana dan membuatku jatuh kedalam lubang tak berdasar.

 

Aku hanya bisa menggelengkan pelan dalam diamku, “aku sudah memaafkanmu, Sehun-ah… terimakasih membuatku merasakan jatuh cinta… dan kumohon biarkan aku pergi, lepaskan akupergi dengan ‘oppa’ keatas sana dengan tenang. Aku akan tetap didalam hatimu Sehun-ah….” ujar Nana memohon padaku untuk melepaskannya ia pergi.

 

“Baiklah tapi aku punya permintaan padamu kuharap kau mengabulkannya?”

 

“Apa?”

 

“Cium aku dan aku akan membiarkanmu pergi…”

 

“Apakah aku bisa mengabulkan permintaanmu itu?”

 

“Kumohon… aku ingin menyentuhmu sebelum kau pergi dari pandanganku untuk selamanya….” ujarku memohon padanya. Airmataku kembali mengalir.

 

Tiba-tiba aku merasakan hangat telapak tangan Nana menutupi pandanganku dan perlahan aku merasakan bibir Nana hanya menempel dibibirku, membuat jantungku berdebar kencang dan hendak aku menyingkirkan tangannya ia mencegahnya, Nana melarangku hanya untuk sekedar melihatnya.

 

“Biarkan seperti ini dan biarkan aku pergi…”

 

Naddo saranghae…” ujarku disela ciumanku dengannya.

 

Perlahan aku merasakan Nana semakin menghilangkan bahkan kini kedua mataku tertutup oleh telapak tanganku sendiri pada akhirnya aku harus kembali menangis dalam diamku. Seikat bunga mawar dan bunga krisan yang ada digenggamanku langsung terjatuh keatas rumpuh hijau yang basah karena embun. Dan tubuhku sudah tak bisa menahan beban tubuhku sendiri hingga membuatku berlutut dirumput itu sambil menunduk dalam.

 

“Apakah seperti ini akhir pertemuanku denganmu?”ujarku sendu seraya mendongak menatap awan biru disana saat melihat akhir pertemuanku dengannya sungguh membuatku semakin frustasi dan gila. “Aku akan membiarkanmu pergi dengan tenang, Na.”

 

[Sehun Pov End]

 

Sehun mencoba bangkit dari berlututnya seraya mengumpulkan tenaganya yang sedikit terkuras, pemuda itu membungkuk mengambil seikat bunga krisan putih itu ia melihat para peziarah mulai membubarkan diri dari upacara pemakaman itu. Sehun terus melangkah dengan tatapan sendu kedepan. Kemudian ia melihat Luhan menarik tangan Gain dengan kasar dari tempat itu. Gain terus memberontak mencoba melepaskan diri dari genggaman Luhan. Saat mereka berpas-pasan Sehun menatap dingin kedepan, Luhan menatap kedepan dengan tatapan mengintimidasi seraya terus menarik Gain mengikuti langkah kakinya. Sedangkan gadis itu menoleh kearah Sehun dengan mata sembab, ia baru pertama kali melihat Sehun dingin padanya. “Sehun-ah! Tolong aku…” gumam pelan.

 

“Lu! Sakit!” rintih Gain kesakitan.

 

Luhan menulikan indera pendengarannya. Ia terus menarik Gain hingga memaksa masuk kedalam mobilnya. Luhan menyusulnya masuk kedalam mobilnya. Beberapa detik kemudian melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi setelah memakai seatbeltnya. Luhan membawa Gain entah kemana. Luhan juga sudah mendapatkan ijin dari orang tua Gain untuk membawa Gain untuk menenangkan pikiran gadis itu untuk beberapa hari.

 

“K-kita ma-mau kemana?” tanya Gain ketakutan pada Luhan.

 

Luhan terdiam dan jauh terkesan dingin sambil menatap kedepan yang masih sibuk dengan kemudinya setelah mendengar pertanyaan Gain membuat pemuda itu menyunggingkan seringaiannya dibibirnya dan tak menjawab pertanyaan oleh gadis yang ia culik sekarang.

 

Sedangkan Gain hanya bungkam tapi entah kenapa perasaannya tak enak. Ia tak pernah melihat Luhan seperti ini. Pasti ia merencanakan sesuatu dibalik keterdiamannya apalagi Luhan tak mengantarnya pulang kerumahnya membuatnya sedikit terkejut. Ia menoleh kearah Luhan kembali.

 

“Kita akan pergi ketempat dimana tidak ada jaringan ponsel tersambung.”

 

M-mwo?”

 

“Kenapa kau begitu terkejut,  sayang…”

 

“A-apa yang kau inginkan?” tanya Gain sedikit ketakutan melihat Luhan sedikit menyeramkan.

 

‘Tentu saja ingin menikmati tubuhmu… Hwang Gain.’ batin Luhan tersenyum iblis.

 

Luhan menulikan pendengarannya sambil tersenyum misterius, “kita akan tiba disana satu jam lagi.” ucap Luhan datar dan singkat. Mencoba mengalihkan pembicaraan.

 

Ditempat berbeda, Sehun duduk bersimpuh disamping gundukan tanah yang masih gembur. Kini ia hanya sendirian dipemakaman itu orang tua Nana dan para peziarah sudah pergi meninggalkannya. Ia termenung setelah meletakan bueket bunga diatas gundukan tanah itu sambil menatap batu nisan itu.

 

REST IN PLACE

HWANG NANA

MARCH, 1995―2015

 

“Kau pasti kedinginan disana…” ujar Sehun sendu dengan suara bergetar saat melihat makam wanita yang mengorbankan perasaan untuknya dan harus pergi untuk selamanya. Terkubur didalam tanah. Jemarinya menggenggam erat gundukan tanah itu membuat kotor lengan tuxedo hitam miliknya.

 

FLASHBACK

 

“Sehun-ssi! Bukumu terjatuh…” ujar gadis berkacamata tebal itu sembari berlari kearahnya sambil menyerahkan buku itu pada pemiliknya seraya tersenyum hangat pada lelaki itu. Sehun hanya ber-oh lalu tersenyum tipis kemudian berlalu. “Saranghae…” ujar gadis itu pelan namun ucapan itu sedikit terdengar jelas ditelinga Sehun, karena lorong loker itu masih sepi dari haksaeng. Sehun langsung menghentikan langkahnya dan langsung menoleh kearah gadis itu dengan tatapan penasaran.

 

“Oops!” ujar gadis itu langsung membungkam mulutnya. Ia begitu ceroboh. Ia menggelengkan pelan kepalanya. “Mmm… maksudku kata saraji (lenyap) dalam cerita buku ini. Hehehehe… aku harus kembali kekelas. Sehunnie Annyeong…” ucap gadis itu langsung pergi dari tempat itu. Sedangkan Sehun hanya menatap punggungnya aneh dan sekaligus bingung.

 

“Dasar aneh.” gumam Sehun datar sambil mengedikkan bahunya tak peduli ia kembali melanjutkan langkahnya kekelasnya karena ia sudah berbeda kelas dengan Nana.

 

Suatu hari ia melihat Nana nampak kerepotan menaruh beberapa buku tebalnya dilokernya dan lembar tumpukan kertas putih berisi coretan tangannya. “Kau sedang apa?” tanya Sehun penasaran dengan yang dilakukan gadis itu. Ucapan tiba-tiba darinya membuat Nana menjengit terkejut. “MATI! MATI!” ucap gadis itu keceplosan dan saat itu juga barang yang ada ditangan terjatuh kelantai. Membuat Sehun terbahak-bahak.

 

“Yaa… jadi berantakan, kan?!” keluh gadis itu sambil mempoutkan bibirnya. Sehun ikut berjongkok membantu gadis itu merapikan berkas-berkas itu. “Kau tak perlu membantuku, Oh Sehun-ssi. Aku bisa sendiri. Pergilah, kekasihmu mungkin sudah mencarimu.” Gadis itu beranjak berdiri kemudian meletakan barangnya kedalam loker.

 

“Biar saja, aku masih ingin mengerjai temanku yang satu ini.” ujar Sehun datar dan santai.

 

Gadis itu menutup loker itu lalu menatap Sehun, “aku bukan teman atau sahabatmu, Oh Sehun. Aku hanya orang lain yang beruntung bisa bertemu denganmu.” ujarnya sambil tersenyum kulum.

 

Ucapan gadis itu seperti ingin membuatnya menjauh darinya. Ia sedikit terkejut melihat gadis itu hidungnya mengalir darah. “Na… hidungmu berdarah. Kau tak apa?”

 

“Benarkah?” tanya gadis itu sambil menyentuh hidungnya dengan ujung jemarinya. Dengan cepat gadis itu meraih tisu disaku blazernya untuk mengusap darah segar yang mengalir dihidungnya. “Ini bukan apa-apa.”Kemudian gadis itu berbalik meninggalkannya dan Sehun sedikit kasihan pada gadis itu tapi kekasih pasti sudah mencarinya hingga akhirnya ia kembali melangkah kekelasnya.

 

Suatu hari di Minggu pagi ia ingin mengajak kekasihnya berkencan dan pergi kerumah kekasihnya. Ia menghentikan motornya didepan rumah kekasihnya dan ternyata gadis berkacamata tebal itu adalah saudara kembar dari kekasihnya. Hwang Gain dan Hwang Nana.

 

“Pagi Ga― oh kau ternyata…” sapa Sehun datar. Gadis itu hanya mengangguk. Tiba-tiba ada suaranya nyaring menginterupsinya dengan gadis berkacamata tebal itu dan membuat Sehun tersenyum saat pemilik suara itu datang padanya. Gadis itu langsung menyingkir tanpa sepatah katapun. Sehun dan kekasihnya itu pergi ketempat-tempat hiburan.

 

Dirinya begitu penasaran kenapa kekasihnya sangat jauh dengan saudaranya sendiri. Kekasihnya bercerita semua sempat membuatnya sedikit terkejut dengan cerita yang ia dengar akhirnya ia mengangguk mengerti walaupun sedikit terbesit rasa kasih pada gadis itu.

 

Beberapa jam kemudian ia mengajak kekasih jalan-jalan ditaman Sungai Han. Tiba-tiba kekasihnya menghentikan langkahnya ia menatap tajam lurus kedepan. iamengikuti arah tatapannya, ia melihat pemandangan yang cukup… ya begitulah. Gain melihat gadis itu tanpa kacamata sedang dicium mesra oleh seorang pria. Kekasihnya. Xi Luhan. Gain berteriak memanggil nama gadis itu yang tengah menikmati ciuman itu.

 

“HWANG NANA!” teriak Gain menginterupsi kegiatan mereka. Gain melangkahkan kakinya menghampiri gadis itu. Hwang Nana.

 

Sehun sedikit terpesona melihat wajah cantik seorang Hwang Nana tanpa kacamata namun sedetik kemudian pria itu memberikan kacamatanya kembali dan beranjak dari duduknya pria itu juga.

 

“Kau jahat!” desis Gain lalu beberapa detik kemudian.

 

PLAKK.

 

Gain menampar Nana. Sontak membuatnya dan pria itu terkejut. Ia tak percaya melihat kekasihnya sendiri tega-teganya menampar saudaranya sendiri. Ia dan pria itu masih terpaku melihat Gain menampar Nana. Gain langsung pergi meninggalkan mereka bertiga tak lama kemudian Nana menyusul Gain. Ia dan pria itu masih saling berpandangan dengan tatapan dingin satu sama lainnya.

 

Mereka kembali menyusul Nana dan Gain. Mereka kembali berjalan mendekati Nana dengan Gain yang masih berperang dingin. Ia dan pria itu melihat Gain mendorong  Nana kejalan raya dan beberapa detik kemudian.

 

BRUAKK!

 

“AKH!”

 

Jeritan dan pekikan panik orang pedesiran disekitar membuat kedua pria itu seperti terkena serangan jantung. Ia lebih cepat berlari kearah gadis itu yang sudah terkapar tak berdaya disana. Ia membawa tubuh gadis yang sudah lemah bahkan napasnya sudah tersengal. Ia melihat gadis itu berusaha mengatakan sesuatu sambil membelai wajahnya dan saat itu ia melihat wajah cantik Nana dari jarak dekat. Dan setelah gadis itu mengucapkan cinta padanya, tangan gadis itu terjatuh dari genggamannya matanya perlahan terpejam. Ia tak lagi merasakan hembusan napas  hangatnya.

 

Terkejutnya lagi saat ia naik ambulans pria itu juga ikut naik kedalam ambulans bahkan pria itu mengatakan kalau ia adalah tunangan kekasihnya.

 

FLASHBACK END

 

Sehun menghapus kasar airmatanya dengan punggung telepak tangannya, ia tersenyum tipis sembari berujar dengan suara bergetar, “Ku harap disana kau bahagia disurga bersama oppamu disisi-Nya.” Kini ia beranjak berdiri dengan pelan sembari menegakkan tubuhnya. Tanpa sengaja ia melihat nisan dengan memiliki marga yang sama tepat disamping marga gadis itu. Ia berjalan menghampiri gundukan itu lalu ia melihat nama yang tertera di batu nisan itu, sontak membuat mata membelalak samar.

 

REST IN PLACE

HWANG CHANGSUB

APRIL, 1993―2012

 

“Ini makam Hwang Changsub? Bukankah ini kakak Gain dan Nana?” batin Sehun bertanya pada dirinya sendiri.

 

˜♠♥♠™

 

Kini satu jam berlalu, Luhan benar-benar membawa Gain ketempat jauh dari jaringan ponsel. Dan berhenti dipelataran depan rumah mewah. Gain hanya terpaku melihatnya, ia menoleh pada Luhan. “I-ini di-dimana?” tanya Gain gugup sekaligus was-was saat melihat wajah Luhan yang tampan dengan senyuman creepy-nya.

 

Luhan menoleh kearah Gain yang nampak was-was, jemari pria itu dengan rusuh membuka seatbelt yang melingkar ditubuhnya dan akhirnya terlepas. Tubuh Luhan kini sudah bisa bergerak bebas dengan keinginannya. Perlahan Luhan menyunggingkan seringaiannya sembari lengannya bergerak dibelakang kepala Gain. Sontak membuat gadis itu bergerak memundurkan tubuhnya hingga memojok kepintu mobil. Wajah cantik itu nampak sedikit ketakutan dengan sikap Luhan.  “A-apa y-yang kau lakukan?” Tanya Gain gugup setengah ketakutan. Membuat Luhan tambah tersenyum miring lalu mendekatkan wajahnya kemudian berbisik husky ditelinga gadis itu. Bisikan Luhan membuat Gain membelalak lebar dan terkejut, kalau Gain menoleh kearah Luhan dan satu gerakan sedikitpun ia bisa menyentuh bibir Luhan yang setengah mengatup itu.

 

M-mwo?” Tanya Gain ketakutan saat Luhan kembali menghadap kearahnya.

 

“Kita… disini hanya untuk menghilangkan beban pikiranmu and every night I’ll touch you.”ucap Luhan dengan suara husky-nya.

 

Sukses membuat Gain terkejut setengah mati dengan cepat ia mendorong bahu lebar Luhan menjauh darinya. “Aku bukan budak nafsumu!” desis Gain yang sudah kehabisan kata-kata untuk membalas ucapan Luhan.

 

Luhan masih tak bergeming malah wajahnya menyeruk dileher Gain sambil berucap, “waeyo? Kau memang pantas mendapatkannya, sayangku. Kau…” ucap Luhan menggantung dan masih sibuk mengendus bahkan mengecup leher gadis itu.

 

“Ku akan menjadikanmu milikku seutuhnya, malam ini.”

 

“Ja-ah! Jangan bercanda!” ucap Gain mendorong bahu Luhan. Pria itu hanya bergeser beberapa senti saja diri tubuhnya sedangkan tangan Luhan dengan lincah menelusuri lekuk tubuh Gain.

 

“Memangnya kapan aku bercanda, sayang?” bisik pria itu ditelinganya lalu beralih dileher putih milik Gain dan meninggalkan tanda merah mawar disana.

 

“Lu… geumanhae…” kini cegah Gain dengan suara bergetar menahan isakan. “Geuman…” ucap Gain mulai terisak pelan yang masih mendorong Luhan yang masih asyik dengan aktifitasnya.

 

Pria itu perlahan menghentikan aktifitas sembari menatap wajah sembab gadis itu. Airmata gadis itu terjatuh juga walau ia sudah menahannya. Luhan menatap dingin Gain dengan jarak yang dekat hanya terpaut 15 senti saja. Sekelebatan, Luhan melihat sosok cantik yang membuatnya nyaman. Hwang Nana. Tapi bukan Nana melainkan Gain.

 

“Nana…” panggil Luhan dengan suara beratnya. “Kenapa kau meninggalkanku?” sembari mengelus sisi wajah Gain hampir mirip dengan wajah Nana. Pandangan Luhan nampak buram karena cairan bening berkumpul dipelupuk matanya. Airmatanya terjatuh pelan, “APA SALAH NANA PADAMU, EO?” tiba-tiba Luhan berteriak didepan wajah Gain dengan ekspresi penuh emosi kemudian langsung menjauhkan wajahnya lalu dengan rusuh membuka pintu mobilnya. Ia pun keluar lalu mengitar mobilnya.

 

Sedangkan Gain kembali menangis setelah dibentak oleh Luhan, matanya mengekor pergerakan Luhan. Ternyata Luhan membukakan pintu mobil untuknya dengan ekspresi dingin. Luhan sedikit membungkukan tubuhnya. Salah satu tanganya menyelinap dilipatan kaki Gain dan satunya dipunggung Gain. Luhan melihat wajah Gain begitu sembab tapi tak mengurungkan niat Luhan untuk menyiksa Gain. Gadis itu terkejut langsung melingkarkan lengannya dileher Luhan. Gadis itu melihat perubahan ekspresi Luhan begitu cepat dalam hitungan detik.

 

“Kau mau bawa aku kemana?” Tanya Gain serak sekaligus perasaannya was-was. Apalagi Luhan memasang senyuman yang misterius seperti itu.

 

Luhan menoleh kesisi dimana suara itu berasal. “Ke suatu tempat untuk menghukummu.” Ujar Luhan seduktif sembari menutup pintu mobil dengan salah satu kakinya.

 

Gain sudah lelah untuk memberontak. “Menghukumku?” beo Gain. Ia melihat Luhan semakin membawanya masuk kedalam rumah mewah itu. Rumah mewah itu memang jauh dari jaringan ponsel tapi tidak dengan jaringan satelitnya.

 

“Iya, aku akan memberikan hukuman. Hukuman yang menyenangkan tentunya.”

 

Luhan secara otomatis terbuka dengan pemindai retina yang canggih. ‘Aku pasti tidak akan bisa keluar dengan pintu berkode seperti ini dan terkurung disini.’ Batin Gain pesimis saat menatap pintu itu.

 

Ia melihat beberapa pembantu Luhan untuk membersihkan rumah mewah ini. Luhan terus berjalan menelusuri ruang tengah yang mewah itu kemudian ia menaiki satu persatu anak tangga hingga ia menemukan sebuah pintu berdaun pintu dua berwarna putih dengan kualitas terbaik. Luhan membuka sebuah ruangan yang cukup luas ukuran 12×6 m2dan ternyata itu ruang pribadi Luhan. Luhan kembali menutup pintunya dengan kakinya dan otomatis terkunci kembali.

 

Luhan menyeringai menatap Gain yang mendapatinya menatapnya dengan sulit diartikan. Luhan membawa gadis yang ada digendongannya berjalan menghampiri ranjang ukuran King Size. Lalu merebahkan tak sabaran diatas ranjang seraya Luhan malah menindih Gain berada dikurungannya. Luhan tanpa aba-aba langsung menyerang kulit lehernya secara bergantian kesisi lain, Gain tak bisa berontak kedua tangannya telah dikunci oleh kedua tangan Luhan. Ia percuma saja memberontak dan melawan Luhan.

 

Luhan menjauhkan wajahnya kemudian melihat Gain sudah nampak berantakan karena ulahnya. Lehernya penuh bercak merah bekas gigitannya. “Siapkan dirimu nanti malam…” ujar seduktif berbisik ditelinga Gain. Luhan kini beranjak dengan banyak berkeringat dipelipisnya sembari melangkah menghampiri lemarinya. Ia membuka seraya mengambil kemeja putih itu, Luhan kembali menutup daun pintu lemari itu dan meletak kemejanya dipinggiran ranjangnya.

 

“Bibi akan membantumu untuk mempersiapkan mandimu, sayang…”

 

Luhan pergi meninggalkannya terkurung dikamar pria itu yang notabenennya tunangannya sendiri dan salah satu pelayannya masuk kedalam kamar mandi untuk mempersiapkan perluan Gain mandi. Gain termenung, menatap kemeja putih itu namun beberapa saat kemudian wanita paruh baya keluar dari kamar mandi itu menginterupsi lamunannya, “Nona ayo mandi saya sudah siapkan.” Ujar wanita paruh baya itu kemudian berlalu namun langsung dicegah Gain.

 

“Aku ingin keluar.” Pinta Gain pada wanita itu.

 

“Maafkan saya Nona, tidak boleh sebelum Tuan Muda sendiri memerintahkan pada kami untuk membiarkan nona untuk keluar.” Jawab wanita itu penuh menyesal. “Permisi.” Wanita itu pergi meninggalkannya kembali tertutup.

 

“Haruskah seperti ini?” gumamnya pilu. Kemudian ia mengambil kemeja itu lalu melangkah kekamar mandi. Ia berendam dibath tube kemudian memejamkan kedua matanya.

 

Pukul 20.00 KST. Gain pergi keapartement Sehun, karena sedari tadi Sehun tak membalas pesan dan mengangkat teleponya. Ia begitu penasaran ia ingin tahu kenapa Sehun berubah akhir-akhir ini. Hingga ia memutuskan untuk menemui Sehun diapartementnya.

 

Ia sudah tiba didepan pintu kamar apertement Sehun, ia menekan beberapa kali namun tak ada jawaban. “Sehun-ah! Aku ingin bertemu dan biraca denganmu.” Ujar Gain serius diinterkom itu.

 

Sedangankan pria itu sedang asyik berciuman panas dengan wanita berbeda didalam apartementnya. “Sehun-ah!” Sehun kembali meraup bibir menggoda gadis itu yang sudah bengkak karena ulahnya.

 

Sehun terus merangkul pinggang ramping itu dengan posesif yang tengah mengenakan lingeri tipis dan minim yang hampir mengekspos paha mulusnya. Sehun tak peduli dengan Gain. Sehun mendorong tubuh gadis itu merapat kedingin. Sehun hanya mengenakan celana hitam panjang tanpa atasan bahkan lengan gadis itu sudah mengalung dilehernya. Salah satu tangan Sehun sengaja memencet tombol open diinterkom itu.

 

PLIP.

 

“Se—” ujar Gain terpotong dan hazelnya mengharuskan melihat pemandangan yang menyesakkan melihat Sehun berciuman panas dengan wanita lain membuat matanya memerah. Ia lebih terkejutnya lagi wanita yang itu adalah saudara kembarnya sendiri. Hwang Nana.

 

“Nana?” panggil Gain tak percaya.

 

Gadis yang dipanggil namanya langsung melepaskan pagutannya dengan Sehun. Ia menoleh pada Gain yang sudah berdiri sana dengan ekspresi tak percaya dan terkejut setengah mati. Nana melepaskan dari kurungan Sehun, Nana hanya tersenyum miring seraya menghampiri Gain dengan mata sudah berkaca. Ia menggeleng tak percaya, tak mungkin Sehun mempunyai wanita lain dibelakangnya.

 

“Ja-jadi ini yang kau lakukan beberapa hari tak pulang?” ujar Gain bergetar sambil menatap miris kearah Nana namun teralih melihat Sehun melangkah menghampiri Nana bahkan memeluk pinggang ramping gadis itu.

 

“Sejak kapan kau peduli padaku, Nona Hwang Gain? Bahkan orang tuamu tak menganggap kehadiranku dirumah itu. Hanya kau yang dielu-elukan orang tuamu. Semua itu membuatku iri. Bahkan kau sudah ditunangkan dengan pria tampan bernama Xi Luhan. Pria tampan keturunan Cinapewaris perusahaan XIL di Beijing. Kau tak perlu pria lain lagi, Hwang Gain. Dan sekarang pria yang berdiri disampingku adalah milikku sesungguhnya yang kau rebut. Selama ini aku mengalah untukmu tapi saat ini aku akan mengambil yang seharusnya menjadi milikku.” Ujar Nana dingin dan memandang sinis pada Gain.

 

“CUKUP!” teriak Gain yang tak bisa lagi membalas ucapan Nana. “Sssssttt!” Nana langsung mengangkat salah satu jari telunjuknya lalu menempelkan dibibirnya untuk menginterupsi Gain yang menahan emosi.

 

“Kau terlalu berisik, Nona. Ini juga sudah malam, seorang wanita datang malam-malam keapartement seorang pria itu keputusan yang tidak baik.” Ujar Nana santai. Gain teralih pada sosok tampan itu, ia melihat kekasih begitu berantakan. Rambutnya berantakan, shirtless, bahkan ada bekas merah dilehernya. Pria itu hanya diam menatapnya dingin.

 

“Se-sehun-ah… kenapa kau tega melakukan ini pada?” Tanya Gain lirih sambil menarik Nana menjauh dari Sehun lalu mengguncang pelan lengan kekar itu menatapnya dengan tatapan kulit diartikan.

 

“Seharusnya aku bertanya seperti itu padamu. Akhiri saja hubungan kita.” Ujar Sehun terlempau dingin padanya. “Dan sekarang kau sudah mengganggu kegiatanku dengan Nana. Lebih baik kau pergi dari sini!” usir Sehun sarkanis bahkan langsung menyeret Gain keluar dari kamar apartementnya.

 

“Sehun! Andwe!” cegah Gain berusaha melepas cengkraman kasar dari Sehun. Nana tersenyum miris sembari melipat tangannya. Ia melihat Sehun kembali menutup pintunya dari dalam dengan kasar kembali melangkah panjang kemudian menghampiri Nana lalu menggendong gadis itu ala bridal style. Nana dengan manja menyampirkan lengannya dileher Sehun dan pria itu membawa kembali kekamar melanjutkan aktifitas mereka yang tertunda tadi.

 

Sedangkan Gain diluar menangis seunggukan, hatinya remuk melihat kekasihnya bersama wanita lain terlebih lagi wanita itu saudaranya sendiri. ‘Sekarang kau mengganggu kegiatankudengan Nana.’ batin Gain semakin sesak setelah mendengar ucapan itu. Ia melangkah pergi meninggalkan tempat itu. “Sehun, wae?” gumamnya pilu.

 

“Sehun!” desis Gain langsung terbangun dari mimpi buruknya, ia masih berada dikamar mandi. Ia terduduk kemudian menggeleng pelan kepalanya sesegera mengenyahkan mimpi buruk itu dan perlahan bangkit dari tempat mandi itu. Ia mengenakan handuk kimono untuk mengeringkan air yang membasahi seluruh tubuhnya.

 

Saat ia keluar dari kamar mandi manik matanya melihat Luhan sudah berdiri disana sambil bersandar dimeja rias seraya melipat tangan dibawah dada yang hanya mengenakan celana hitam panjang yang masih melekat indah dipinggulnya tanpa atasan dan rambutnya cukup berantakan. Luhan mendengar derit suara pintu terbuka hingga kepalanya tertoleh melihat sosok indah disana. Seringaianya mengembang dibibir tipisnya. Gain keluar hanya mengenakan handuk kimono yang hanya menutupi tubuh telanjangnya. Lelaki itu menegakan tubuhnya sambil menarik lipatan tangannya.

 

“Kemarilah…” pinta Luhan lembut. Gain sedikit terkejut dan masih berdiri mematung disana. Luhan yang melihatnya menghela napas panjangnya. “Jangan membuatku marah, Hwang Gain. Karena hatiku masih baik. Jadi jangan membuatku marah dan bertindak kasar padamu.” Luhan memperingatkan Gain yang berdiri disana. Gadis itu tersentak dan mengangguk patuh ia kemudian melangkahkan kakinya menghampiri Luhan disana dan berhenti tepat didepan pria itu.

 

“Duduklah…”perintah luhan kalem. Gain yang sedikit bingung mengikuti intruksi Luhan. Gadis itu akhirnya duduk dikursi rias. Gain melihat Luhan dari pantulan cermin melihat wajah Luhan yang tampan dengan poker face-nya. Gadis itu hanya melihat gerak-gerik Luhan yang mengeluarkan hair dryer dari laci meja riasnya. “Kenapa kau menatapku seperti itu?” tanya Luhan datar sambil menatapnya dari pantulan cermin itu sembari menyalakan hair dryer itu. “B-bukan begitu…” jawab Gain gugup. “A-aku hanya terkejut saja.”

 

Ia melihat Luhan mendesah pelan dan kemudian, “jangan banyak bicara.” Gain langsung terbungkam rapat. Jemari Luhan menyentuh puncak kepalanya dan memulai menggerakkan hairdryer itu. Gain mulainya nyaman dengan gerakan tangan Luhan lembut dikepalanya membuatnya perlahan mengantuk. Selang lima belas menit kemudian, Luhan selesai mengeringkan rambutnya dan perlahan ia membuka kedua matanya dan disambut Luhan yang menunduk menatapnya sambil tangan kanannya menyangga tubuhnya dimeja rias dan tangan lainnya mengusap lembut puncak kepala gadis itu. Gain sontak mengadahkan kepalanya hanya untuk menatap Luhan yang tersenyum miring.

 

“Mengantuk?” tanya Luhan kalem. “Tapi sayangnya aku tak akan membiarkan kau tidur, sayang.”

 

Gain mengangguk tapi setelah mendengar ucapan Luhan beberapa detik yang lalu langsung membola kedua matanya. “Haruskah…” cicit Gain.

 

“Tentu. Karena aku tak suka penolakan.” Jawab Luhan tegas. “Dan sekarang berdirilah…” suara Luhan mulai melembut. Gain hanya patuh daripada harus menerima paksaan Luhan. Gain berdiri tegak dengan rambut sudah kering. Luhan berjalan kebelakang tubuh Gain seraya menyingkirkan kursi rias itu dengan salah satu kakinya.

 

Tiba-tiba salah satu lengan kekar Luhan melingkar kebahunya dan tangan lainnya memijat garis tulang punggung gadis itu berulang kali. Gain merasakan nyaman saat menerima sentuhan tangan Luhan yang pas ditubuhnya. “Sayangnya benda ini menghalangnya, sayang…” bisik Luhan husky ditelinga Gain dan membuat gadis itu meremang sekaligus geli. Tinggi Gain yang hanya sebatas bahunya membuatnya menunduk saat mencium leher Gain. Tangannya beralih melingkar diperut ramping milik Gain. Perlahan Luhan menyingkap sedikit kerah handuk kimono itu dari bahu Gain.

 

Gain melihat pantulan dirinya dicumbu mesra oleh Luhan dari cermin. Terlintas dibenaknya, ‘Sehun tak pernah lebih dari ini.’ Tiba-tiba ada yang interupsinya, “Sehun pernah melakukan ini denganmu? Pasti belum pernah, kan? Karena ia kekasihmu bukan tunanganmu. Ia tak akan berbuat lebih dari sekedar ciuman dan sudah terlihat jelas dimatamu.” Ujar Luhan santai menatap Gain datar dari cermin. “Kau menolak ajakanku tapi tidak dengan tubuhmu yang ingin kusentuh setiap inchinya, sayang.” Tangan Luhan terus menggerayang disetiap tubuhnya dan Luhan kembali menenggelamkan wajah tampannya bahu sempit itu.

 

“Lu… geumanhae…”ujar Gain serak dan panik saat rasa panas mendadak didalam tubuhnya muncul kepermukaan saat menerima belaian mesra dari Luhan, “Aahhh…” bibirnya berucap lain. Luhan membuatnya sedikit demi sedikit kehilangan akal pikiran dan melepaskannya. Jemarinya mengarahkan dagu Gain kearahnya dan mendaratkan ciuman panas disana. Ciuman panas itu berlangsung lama tak lama kemudian Luhan melepaskan ciuman itu seraya melihat Gain merona diwajahnya. Luhan menyunggingkan seringaiannya dengan lembut Luhan menggendongnya keranjang dan merebahkan lembut disana.

 

“Malam ini akan menjadi malam yang menyenangkan, sayang…” ujar Luhan kalem seraya membelai sisi wajah Gain yang memerah saat mendengar ucapannya sambil mengurung Gain dibawahnya. “Apakah kau akan menggunakan pengaman?” tanya Gain spontan saat menatap Luhan menjulang diatasnya. Luhan yang mendengarkan pertanyaan spontan dari Gain langsung terkekeh. “Menurutmu?” tanya Luhan balik. “Karena kau akan mengambilnya dan bukan dari orang yang mencintaiku. Aku tak yakin kau akan bertanggung jawab dengan benih yang akan kau tanam. Dan kenapa kau tak membunuhku langsung?”

 

Luhan tersenyum sinis, “Tidak. Karena aku ingin membunuhmu secara perlahan dan aku ingin menikmati tubuhmu terlebih dulu, sayang.” jawab Luhan sarkanis.

 

“Bisakah aku mencintaimu sebelum kau bunuh disuatu hari, Lu?” tanya Gain gemetar dan putus asa. “Aku sudah siap untuk kau bunuh, Lu.” Tambah Gain sembari memejamkan matanya.

 

Luhan terperangah mendengar setiap ucapan Gain. Ia hanya bungkam beribu Bahasa, ‘pasti ada yang salah pada gadis ini.’ Batin Luhan tak percaya. Luhan tetap menatapnya lurus sembari melihat ujung dikelopak mata itu berlinang air mata. Hingga Luhan menghujami ciuman panas yang berangsur lama hinggs mereka saling memiliki dan berakhir berpelukan tanpa busana kecuali selimut hitam tebal menutupi tubuh mereka.

 

˜♠♥♠™

 

[Sehun POV]

 

Aku menepikan mobile dipinggiran sungai Han, disana aku hanya termenung, mata elangku menangkap sebuah buku berenda putih yang tadi ku taruh diatas dasbor mobilku yang diberikan Luhan padaku. Rasa penasaranku membuat tanganku kuulurkan mengambil buku itu. “Buku apa ini?” gumamku pelan. Bahkan aku tak menyadari sinar sore telah ditelan bumi dibagian barat.

 

Jemariku gerakan untuk membuka halaman pertama. Bola mataku bergerak membaca sebuah kalimat indah dilembar halaman itu.

 

 

Rasaku tak akan pernah sirna meski harus ke ujung dunia.

 

 

HWNA.

 

Mataku terhenti oleh nama rahasia dari penulis itu. “Hwna? Hwang Nana?” tanyaku pada diriku sendiri. Aku menggeleng tak percaya. Bagaimana bisa buku ini ada disini. Aku sekali lagi kugerakan membuka lembar baru. Aku membaca setiap untaian kata dan kalimat ungkapan perasaan.

 

2012 April 12

 

Oppa…

Maafkan aku,

Kenapa kau harus menyelamatkanku?

Seharus biarkan aku yang mati saja…

 

Aku tak mempunyai siapapun disini.

Kecuali Oppa… yang menyayangiku…

aku selalu datang padamu, kau selalu memberikan pelukan semangat.

Kau tahu, aku tak sepintar Gain.

Yang selalu disayang oleh kedua orang kedua orang tua kita.

Tapi kau selalu menyemangatiku disaat aku jatuh.

 

Sekarang aku akan merindukanmu disaat kau memintaku

Membuatkan sebuah cerita untuk tugasmu lalu kau pulang dengan tersenyum lebar.

‘Gomawo, Na. Kau adikku yang terbaik. Ceritamu luar bisa dan aku mendapatkan nilai 99. Padahal aku sama sekali tidak menyukai hal yang berbau sastra.’

 

Oppa.

Aku berjanji padamu suatu saat cerita-cerita yang tulis akan ku terbitkan lalu kau orang pertama kuberika buku fiksi-fiksiku.

 

Tapi…

Sekarang…

Kau malah meninggalkanku sendirian…

Disini…

Didunia yang kejam ini…

 

 

HWNA

 

Aku hanya termenung kembali setelah membaca buku diari itu. “12 April? Bukankah itu hari ulang tahunku?”

 

Aku terus membaca setiap untaian kata yang tertulis disana. Sampai terhanyut didalam sana. Hingga bola mataku terhenti disebuah kalimat yang membuatku terhunus pedang tepat dijantungku.

 

‘Kau berciuman dengannya. Ditempatku! Beraninya kau mengajaknya dan bercinta disana!’ (Atap sekolah.)

 

HWNA

 

“Maafkan aku, Na.” ujarku lirih. Seraya kularikan lagi jemariku membuka halaman baru. Mataku melihat sebuah kertas foto. Membuatku ingin tahu apa gambarnya. Perlahan kuraih kertas itu. sebuah foto. Ada dua murid sedang berciuman disana. Sosok itu persis denganku dan seorang gadis siapa lagi kalau bukan Gain. Membuatku terkejut dan tak tahu aku harus mengucapkan apa. Nana mengetahuinya. Tapi saat jemariku membuka halaman baru, aku menemukan dua buah foto. Foto pertama. Foto Nana bersama pria nampak lebih tua empat tahun dari Nana. pria itu pasti kakak laki-lakinya, lalu foto kedua. Foto Nana yang masih berambut panjang dan rambut Nana yang habis. Foto itu bertuliskan.

 

‘Leukimia.

Oppa, aku akan menyusulmu… hehehe… kita akan bertemu lagi.’

 

HWNA

 

Perasaanku mulai buncah, rasanya ingin menangis. Aku kembali membuka lembaran baru dan aku menemukan beberapa lembar foto. Aku terkejut dengan foto-foto itu dan semuanya adalah fotoku. Mulai dari ekspresi marah, tertawa, cemberut, dan tersenyum. Aku mengembalikan foto-foto itu. dan ada sebuah foto yang terjatuh dipangkuanku. Aku mengambilnya seraya ingin tahu gambarnya. Foto itu menunjukan Nana sedang dipeluk seorang pria dari belakang bahkan mencium pipinya, aku terkejut sekaligus tak percaya. Dan bukankah wajah itu wajah Luhan. Dengan Nana tak mengenakan kacamata yang tengah tersenyum malu-malu disana. Entah kenapa mataku panas melihat foto itu. ada note dibawah foto itu. ‘mungkin aku sudah jatuh cinta padamu, Lu. But I’m sorry I still loving him.’

 

Aku tak berniat mengembalikan foto itu kedalam sela halaman itu. aku kembali menemukan sebuah foto yang sedikit lebih besar dihalaman berikutnya. Aku terkejut setengah mati, itu fotoku. Tapi tunggu…aku sedang shirtless. SHIRTLESS? ‘Sehunie… tubuhmu indah sekali. Tapi sayang aku lebih dulu melihatmu daripada kekasihmu. Aku seperti gadis penggoda. Hehehe…’

 

“Darimana dia mendapatkan fotoku ini bahkan dari ruang ganti.” Aku hanya bertanya-tanya. Kemudian mataku tak sengaja melihat ada tulisan dibelakang foto itu.

 

‘Sehunie…

Kenapa kau tampan sekali, heum?

Pertanyaan itu selalu ingin ku tanyakan padamu.

Tapi sayangnya aku tak bisa.

Melihatmu bersikap dingin, cuek, dan wajah mesummu.

Ingin rasa menendangmu kejurang!

Tapi sayangnya aku tak bisa.

Rasanya sangat ingin membencimu!

Rasanya ingin menghilang perasaan ini.

Tapi sayangnya aku tak bisa.

Aku menyerah.

Hanya ada tiga kata untukmu.

Tampan. Mempesona. Dan menggoda imanku.

Kau selalu membuat benteng pertahananku runtuh.’

 

Terlintas dibenakku terlintas ucapan Luhan waktu itu, ‘kau tahu! Ternyata Nana good kisser.’ Ternyata Nana adalah gadis pendiam tapi menggoda disaat bersamaan. Aku tak menyangka Nana seperti itu, aku hanya bisa menggeleng kepala tak percaya dan bahkan gadis itu memiliki fotoku yang tengah shirtless di ruang tempat ganti baju. Dibandingkan dengan Gain, dia terlalu menuntut. Terlalu overprotective padaku. Dan terlalu mengekang kebebasanku. Gadis itu memang cantik dan pintar tapi sayangnya hatinya seperti iblis. Aku kembali tertunduk menatap lembar buku itu. Aku melihat hanya satu kalimat panjang dihalaman itu dan sekaligus membuatku terkejut tak percaya dengan ucapan yang menurutku sedikit vulgar.

 

‘Sehun-ah…kenapa kau begitu menggiurkan dan rasanya ingin menyerangmu sekarang juga.’

 

HWNA

 

“AKu tak menyangka ternyata kau semenggoda itu, Na…” ujarku sedikit menelan salivaku melihat foto seorang gadis.

 

[Sehun pov end]

 

[author pov]

 

“Aku tak menyangka ternyata kau semenggoda itu, Na…” ucap Sehun terjerat penuh pada foto yang ada dibuku diari gadis itu. Bagaimana Sehun tidak tergoda, gadis itu. Hwang Nana. Tengah mengenakan kemeja putih tipis kebesaran dan kusut yang menenggelamkan tubuh rampingnya hingga setengah paha apalagi rambutnya seperti tumpukan jerami, kemaja itu sedikit melorot mengekspos bahu sempitnya yang mulus. Kaki jenjangnya bahkan terekspos betapa mulusnya tak ada cacat sedikitpun disana yang bersandar di headboard diatas ranjang tidur yang berantakan. Apalagi wajah putih, mulus, cantik nan polosnya sungguh seperti iblis cantik yang menyeretnya kedalam neraka.

 

“Bukankah… pria suka melihat pemandangan yang seperti ini?” ulang Sehun saat membaca tulisan dibawah foto itu. “Aku bisa gila melihat foto Nana yang seperti ini.” Pungkas Sehun langsung mengembalikan foto itu dan menutup buku itu. “Andai saja aku bisa memutar waktu.” Tambah Sehun sembari berandai-andai sambil menyandarkan punggungnya dijog.

 

_

 

_

 

_

 

ENDING??

 

_

 

_

 

_

 

_

 

NO, NOT YET. PLEASE SCROLL DOWN AGAIN…

 

_

 

_

 

_

 

_

 

_

 

APRIL 12th, 2020

HUFBURG, VIENNA. AUSTRIA

 

If I don’t need you. Then why am I crying on. My bed? If I don’t need you. Then why does your name resound. In my head? If you’re not for me. Then why does this distance maim. My life? If you’re not for me. Then why do I dream of you. As my wife? If You’re Not The One—Daniel Bedingfiled.

 

“Akan sampai kapan kau akan melamun seperti itu?” tanya wanita itu lembut sembari menoleh kesampingnya lalu dengan lembut menyentuh rahang lelaki itu. Suara lembut itu langsung membuyarkan lamunan panjangnya. Lelaki itu perlahan menoleh sembari tersenyum lembut menatap wajah itu. Jemarinya meraih kemudian menggenggam lembut jemari itu kedalam genggamannya lalu mencium punggung jemari itu tepat dimana cincin itu terselip.

 

Lelaki itu menatapnya begitu teduh dan penuh kasih sayang disana. “Sayang… kau tahu?”

 

“Apa?”

 

“Betapa baruntungnya aku mendapatkan istri sepertimu.Aku begitu takut saat aku tahu kau punya penyakit ‘itu’ didalam tubuhmu dan hampir merenggut nyawamu bahkan membuatku gila, untungnya kau mau menjalani perawatan itu. Tapi aku merasa bahagia saat Gain memilih Xi Luhan sebagai suaminya. Disisi lain, aku bahagia karena aku bisa melihatmu tersenyum bahagia disisiku, didalam pelukanku untuk selamanya. My Wife. My Angel. My Love. Oh Nana… I’ll always carry on you forever until kept our death.”

 

I don’t know why you’re so far away. But I know that this much is true. We’ll make it through and I hope you are. The one I share my life with. And I wish that you could be the one. I die with. And I pray in you’re the one I build. My home with! I hope I love you all my life. If You’re Not The OneꟷDaniel Bedingfield.

 

Wanita itu. Oh Nana. Istri dari pria tampan duduk disebelahnya. Nana tersenyum kulum sambil menatap jemarinya digenggam suaminya begitu erat.

 

“Sehun-ahMy husband. I’ll same do it.” Balas Nana lembut seraya menatap genggaman jemari pria itu menurun menjatuhkan dipangkuan lelaki itu. Lelaki itu Oh Sehun. Duduk bersama Hwang Nana. Istrinya.

 

Pria itu duduk dikursi taman umum sembari jemarinya menggenggam erat jemari lentik nan halus milik seseorang diatas pangkuannya. Seorang wanita yang juga duduk tepat disebelahnya. Pria itu tersenyum bahagia begitu juga wanita yang ada disampingnya seraya menikmati honeymoon mereka. Mata mereka manatap lurus kedepan memandang sebuah bangunan Romawi bergaya Yunani dan terdapat patung-patung dewa disana bahkan terdapat air mancur yang diyakin oleh masyarakat asli tempat itu dapat mengabulkan segala permintaan dari setiap pasangan.

 

Tiba-tiba pria itu beranjak berdiri, kemudian menunduk menoleh pada sosok cantik yang mendogak menatapnya penuh tanya. Senyuman lembut terpasang dibibir tipis itu, wanita anggun itu ikut tersenyum membalas senyuman lembut sembari beranjak dari kursi itu.

 

Digenggamnya lembut namun erat jemari wanita itu menuju pinggiran kolam air mancur itu hingga tiba disana. Hendak meleparkan koin itu keair mancur, mereka menundukkan kepala dan berdoa sambil mengatupkan kedua tangan didada mereka. ‘Semoga cinta kita abadi hingga kembali bersama disurga.’ Batin mereka bersama didalam doa. Kedua pasang mata itu berbuka kemudian bersamaan mereka meleparkan koin itu dan koin mereka mengenai dewa cinta bahkan koin mereka jatuh bersama kedalam kolam air mancur itu.

 

“Indah sekali…” puji Nana melihat koin itu tenggelam kedalam kolam itu. “Iya. Indah sekali.” Tambah Sehun lembut sembari meraih kedua jemari Nana yang bebas membawa kearahnya hingga wanita itu menghadap penuh kearahnya.

 

Nana mendongakan kepalanya karena tubuhnya Sehun yang tinggi menjulang didepannya. Perlahan Sehun bersujud didepannya dengan satu kaki, didepan umum. Membuatnya terkejut setengah mati. Apalagi Sehun mengadakan kepalanya untuk sekedar menatapnya lembut dan kemudian,

 

“Apakah kau keberatan jika aku menitipkan anakku diperutmu, untuk kita besarkan bersama-sama kelak sayang?” tanya Sehun lembut apalagi kepala Sehun perlahan mencium perutnya penuh kasih sayang. Nana hanya menggelengkan kepalanya bahkan ia kehabisan kata-kata karena bahagia.

 

Terlebih lagi mereka menjadi pusat perhatian para pedestrian disana. Mereka bersorak gembira apalagi Sehun memakai logat Vienna. Pria itu melepaskan ciuman diperutnya dan perlahan beranjak berdiri menjulang didepan Nana. Sehun melepaskan genggamannya sembari menangkup wajahnya dan Sehun mendaratkan kecupan lembut dibibirnya, ia terkejut. Sehun menciumnya didepan umum. Kemudian Sehun beralih mencium lembut kedua pipinya lalu kedua matanya bergantian dan terakhir mencium dahinya dengan waktu yang cukup lama hingga rasa hangat menjalar ketubuhnya saat tubuhnya dibawa Sehun kedalam dekapan itu. Dan Nana reflek membalas pelukan Sehun sembari melingkarkan dipinggang Sehun dengan erat. Hatinya merasa bahagia, terharu, ingin menangis dan campur aduk yang jelas ia tak bisa mengungkapkan dengan kata-kata.

 

Hingga kata sakral itu keluar dari bibir tipis itu berbisik ditelinga Nana, “Naneun neo saranghae….”

 

Cause I miss you. Body and soul so strong that it takes my breath away. And I breathe you. Into my heart and pray for the strength to stand today. Cause I love you. Whether it’s wrong or right. Though I can’t be with you tonight. And know my heart is by your side. If You’re Not The One—Daniel Bedingfield.

 

 

 

 

FINISH….

 

JJANGG….

SYAMMER IS BACK. How about it?

Sehun hanya melamun, chingudeul, saeng, eon…

Pada ketipu, ya? Hehehe mianhae…. Jeongmal mianhae…

Cerita tak harus sad ending maupun happy ending. Tapi pada akhirnya kitalah yang menentukan cerita hidup kita akan berakhir seperti apa?

Typo? Gak nyambung? Kebalik?

Tak tunggu sliramu komentar, kritik, dan sarannya ya?

 

Salam sayangku untuk readerku….

SYAMMER.

10 responses to “[Freelance] Nana Diary’s (HUN―HAN SIDE STORY)

  1. Kok aku gak ngerti alurnya yg terakhir itu ya?
    Jadi si Nana gak bener2 meninggal meski sakit? Sehung menghkayal doan? Atau gimana sih? Gak ngerti😄 (mian)

  2. Aaaaaaa…kak SYAMMER!!!

    HEOL, MAKSUDNYA?! NANA GA BENARAN MATI GITU YA? DAN YANG NANA MATI ITU JUST SEHUN ILLUSION, EH!? OH TEGA SEKALI, SAMPE CAPSLOCK B ERLEBIH :V
    Ih, sampe sesak banget. Aku beneran terhayut kedalam cerita, kak! Daebak.

    Eh? Kak SYAMMER bisa b.Jawa? Orang mana kak emang? Kulo empun komen niki mbak SYAMMER. Matur nuwun sampean mpun Update/WoiKramanyaSalahMungkin :v ga jago pake Krama Inggil/alus bisanya ngokoan terus/malahcurhat
    See you. And I miss you so much

    • Jangan baper gitu…
      Inikan cuma cerita.

      Kn akhir crta gk mungkin selalu sedihkan?

      Aku orang jawa timuran.

      Mksh udh komentar. Dan komentar kamu bikin aku senyum2 sendiri.

  3. aq bingung cz banyak pengulangan kata yg diulang”
    jadi itu semua hnya ilusi sehun bgitu?
    perihal luhan yg kekasih nana sekaligus tunangan gain itu kenyataan bukan?
    atau juga bagian dr ilusi sehun????
    sehun ini sbnarnya kekasih gain atau nana???

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s