[Freelance] The Other Romeo & Juliet

TORAJ

Title : The Other Romeo & Juliet

Author : Light Bi

Genre : Romance ‒ Sci-Fi ‒ Drama ‒ Sad ‒ Hurt/Comfort ‒ Fantasy

Rating : PG-12

Cast : EXO’s Oh Sehun — OC’s Casie Jung

Disclaimer : Terinspirasi dari novel ‘Cinder’ karya Marissa Meyer dan kisah Romeo and Juliet karya William Shakespeare. Cast milik Tuhan, agensi, dan orang tuanya.

Cinta tidak akan pernah diketahui kedalamannya sampai kau merasakan jam-jam perpisahan — Kahlil Gibran

Korea darurat wabah! Cyborg berkeliaran!

Sudah ribuan kali kalimat itu berkumandang di stasiun tv, radio, koran, internet, dan majalah. Wabah misterius menyerang Korea sekitar dua tahun terakhir, menjadi momok menakutkan bagi warga. Bahkan, wabah itu mulai merembet ke daerah sekitar seperti Jepang dan Cina, menularkan penyakit mematikan yang bahkan lebih menakutkan dari AIDS. Awalnya, akan ada bercak seperti noda hitam di kulit, kemudian penyakit itu akan mulai menggerogoti hidup si penderita. Tidak lebih dari dua bulan setelah terinfeksi, orang tersebut akan mati mengenaskan. Tidak tahu apa penyebabnya, pun belum ada penawarnya.

Tapi tentang Cyborg… bukankah itu berlebihan?

Walau mereka para Cyborg adalah manusia setengah robot, tidak ada alasan untuk takut pada mereka. Cyborg bukanlah monster yang akan membunuh seluruh manusia di atas permkaan bumi. Mereka masih memiliki sifat manusia, masih memiliki hati nurani dan pikiran. Mereka sama seperti manusia normal pada umumnya, hanya tubuh mereka sedikit berbeda.

Hanya karena satu kasus kesalah pahaman membuat manusia memusuhi cyborg selama bertahun-tahun.

Dalam stan kecil berdinding putih kusam, Casie duduk di balik meja. Kedua tangannya sibuk mengutak-atik sebuah portscreen[1] yang dipercayakan padanya untuk diperbaiki. Selain portscreen hitam itu, barang-barang seperti android[2] dan netscreen[3] sudah menunggu perbaikan di barisan rak.

Saat memutar obeng, Casie merasakan sesuatu mengganjal pada telapak tangan sebelah kanan yang tertutup sarung tangan merah. Setelah memastikan tidak ada yang memperhatikannya, ia melipat sedikit sarung tangan tersebut dan menampakkan tangan besi miliknya. Ternyata ada baut yang tidak terpasang dengan benar. Segera Casie menggunakan obeng tadi untuk memperbaiki letak baut tersebut.

Setelah selesai dengan urusan tangannya, Casie tutupi kembali dengan sarung tangan dan kembali pada kegiatan semula. Seperti cyborg lain, ia harus menyembunyikan identitas aslinya sebagai manusia setengah robot. Miris memang, padahal tidak melakukan kesalahan apapun, tapi harus bersembunyi layaknya buronan negara.

“Permisi.”

Casie mendongak kala mendengar suara bariton seorang pria. Netranya menyensor sosok bertubuh tinggi tegap dan berahang tegas, senyum manis yang dibuat oleh bibir tipisnya membuat mata kecilnya menyipit.. hampir seperti terpejam. Tampan.

“Apa kau Casie Jung? Kudengar kau bisa memperbaiki semua jenis android. Bisakah kau memeriksa android ini?”

Casie menerima sebuah android yang sistemnya entah sengaja dimatikan atau memang mati karena rusak. Ia mulai memeriksa setiap bagian dari benda itu, yang Casie rasa baik-baik saja. Ia mencoba menekan tombol on untuk menghidupkan si android. Dan.. hidup.

“Kurasa android mu baik-baik saja.”

“Sepertinya kau lupa memeriksa ini.” tukas pria itu kemudian menekan sebuah tombol hingga membuat suara si android terdengar. Namun suaranya sama sekali tidak jelas, seperti kaset rusak. Ah.. benar, Casie lupa memeriksa sistem audio-nya. Casie bertanya sejak kapan jadi begini.

“Sekitar… dua puluh menit yang lalu?”

Casie menatap pria itu dengan sebelah alis yang terangkat. Berarti belum lama. Apa pria ini benar-benar menyayangi android-nya? Pergi secepat itu setelah android-nya rusak.. wah. Casie mencoba mencari tahu penyebab kerusakan, tangan kanan dan kirinya bekerja sama dengan baik walau berbeda rupa.

“Mungkin hanya kerusakan pada chip.”

Tampak pria itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Diam-diam, Casie memandangi wajah rupawan pria itu. Ada keringat yang mengalir dari pelipis dan keningnya, membuat rambut hitam yang menutupi sebagian dahinya sedikit basah. Musim panas tahun ini memang lebih ekstrim dari tahun lalu.

“Kira-kira berapa lama untuk memperbaikinya?”

Casie tersentak ketika pria itu tiba-tiba bertanya. Ia sedikit berdehem untuk menghilangkan kegugupan yang mendadak datang entah dari mana. “Sekitar tiga sampai empat hari.”

Pria itu tampak menerawang, mencoba mengingat-ingat sesuatu “Kalau begitu, bisakah kau nanti mengantarnya padaku? Minggu ini aku benar-benar sibuk.”

Sesibuk itukah hingga tidak bisa mengambil android kesayangannya? Adalah pertanyaan yang sempat hinggap pada otak kecil Casie. Alih-alih menyampaikan pikirannya, Casie malah setuju dan bertanya harus mengantarnya kemana.

“Kau tahu kantor pusat penelitian? Aku bekerja di sana. Katakan kau mencari Oh Sehun, jika ditanya oleh petugas.” Kantor pusat penelitian adalah tempat dimana para peneliti mencari penawar untuk mengatasi wabah. Apakah Sehun adalah salah satu peneliti di sana?

“Kau peneliti?” pria yang diketahui bernama Oh Sehun itu mengangguk penuh percaya diri. “Mengesankan.” Lanjut Casie. Well, Sehun terlihat terlalu muda untuk bisa disebut profesor. Wajahnya seperti terlihat baru berumur awal dua puluh tahunan.

“Apa itu pujian?”

“Kalau bukan?”

Sehun dan Casie tertawa kecil. Setelah itu, Sehun pamit dan melangkah pergi dari sana. Namun tiba-tiba dia berbalik lalu menarik selembar tisu di atas meja kerja Casie “Ada oli di pipimu” ujarnya singkat sambil menyodorkan tisu tersebut. Casie mengerjap, ia menerimanya yang kemudian Sehun langsung pergi, hilang di antara kerumunan manusia.

Untuk sesaat Casie merasa bingung. Bukankah wajar jika mekanik sepertinya memiliki noda oli atau noda-noda hitam semacam itu? sebenarnya bukan masalah.. atau jangan-jangan Oh Sehun itu maniak kebersihan?

Tapi pada akhirnya Casie tetap membersihkan oli yang menempel pada pipinya. Tanpa sadar gadis itu tersenyum, ia merasakan hawa yang panas kini semakin panas.. apalagi pada kedua sisi wajahnya, seperti akan terbakar.

**

Letak kerusakan benar-benar pada chip-nya. Tidak sampai sehari Casie memperbaiki android milik Sehun. Karena antrian, membuat Casie harus mengantarnya empat hari kemudian. Ia masih menunggu petugas yang melapor pada seseorang, mungkin Sehun.

“Prof. Oh menyuruh anda untuk masuk saja dan menunggunya di ruang tunggu. Di dalam akan ada petugas lain, bertanyalah di mana ruangan itu.”

Casie mengangguk kemudian membungkuk beberapa derajat. Kakinya menapaki ubin putih yang bersih dan mengkilap, petugas kebersihan di sini membersihkannya dengan sangat baik. Bau obat-obatan pun langsung menyergap penciuman Casie. Tempatnya sedikit mirip dengan rumah sakit, hanya saja yang membedakan adalah dinding sepanjang lorong benar-benar tertutup, setiap ruangan hanya akan ada satu jendela hitam yang tak tembus pandang berukuran sedang dan keberadaan pintu yang entah di mana. Selain itu, suasananya juga lebih hening, hampir tak ada suara apapun selain langkah kaki Casie.

Setelah bertanya, Casie langsung pergi menuju ruang tunggu dan menunggu Sehun di sana. Android Sehun yang tadi berjalan di belakang kini berdiri diam di depan Casie. Ia masih menunggu, hingga suara pintu otomatis yang bergerak menarik Casie dari kebosanan.

“Apa kau menunggu lama? Maaf, tadi masih ada sedikit urusan.” Sesal Sehun. Netranya mendapati android yang beberapa hari lalu rusak kini berjalan menuju sang pemilik “Prof. Oh.” Seulas senyum lega sekaligus senang muncul begitu saja. Yang jujur, membuat jantung Casie berdebar tak karuan. Takut saja kalau-kalau Sehun dapat mendengarnya, karena ruangan ini benar-benar hening.

“Syukurlah suaranya kembali. Berapa biaya yang harus kubayar?”

“Ah, tidak perlu. Hanya memperbaiki chip saja.”

Sehun terdiam selama beberapa menit setelah mendengarnya, membuat Casie dalam keadaan canggung.

“Kalau begitu, aku pergi.”

“Tunggu!” tiba-tiba Sehun menarik tangan Casie, menahannya agar tak pergi. Casie sendiri sangat terkejut, bukan hanya karena Sehun yang tiba-tiba melakukan itu, tapi karena Sehun memegang tangan robotnya yang tertutup sarung tangan. Sontak Casie segera menarik paksa tangannya.

Apakah Sehun merasakan benda keras pada tangannya?

Pria itu gelagapan, ia sama sekali tidak sadar dan tadi hanyalah gerakan refleks. Sehun kira Casie merasa tersinggung “Ma..maaf. Aku tidak bermaksud.” Sementara Casie masih diam karena jantungnya yang berpacu sangat cepat, Sehun mengutarakan maksudnya “Kami sedang membutuhkan mekanik. Jika kau bersedia, kau bisa bekerja di sini.”

Apakah Sehun benar-benar tidak merasakannya? Apakah dia tidak curiga? Pertanyaan-pertanyaan seperti itu berputar di dalam otak Casie, keringat dingin pun keluar dari pori-pori kulitnya. Ia tidak pernah menghadapi situasi hampir ketahuan seperti ini, ini benar-benar menakutinya. Sehun yang melihat itu langsung merasa khawatir “Kau baik-baik saja?” ia hendak menyentuh pundak Casie, namun gadis itu mundur selangkah ke belakang.

“A..akan kupikirkan.” Setelahnya, Casie menunduk memberi salam kemudian pergi dari hadapan Sehun. Sedangkan pria yang ditinggal tersebut mengacak-acak rambutnya sebal.

**

Sampai di stan, Casie langsung duduk di atas kursi. Tangannya menyambar gelas berisi air putih di atas meja untuk diminum dalam sekali tegukan. Bayangan saat Sehun memegang tangan robotnya tadi masih mengantui. Casie tidak bisa membayangkan bagaimana nanti jika Sehun tahu bahwa dia adalah seorang cyborg. Bahkan ia belum memulai…

Tapi Casie dapat sedikit bernapas lega. Karena sepertinya, Sehun masih belum tahu. Ia menyandar pada senderan kursi, digerakkannya roda kursi itu agar berputar, lagi dan lagi. Casie tidak tahu berapa lama ia melakukan itu, yang kini menjadi pikirannya adalah…

Menjadi mekanik di pusat penelitian seperti yang ditawarkan Sehun tadi.. apakah lebih baik ia terima, atau tidak?

Di satu sisi, ingin sekali bekerja di sana. Selain gajinya yang pasti, ada.. Sehun di sana. Lalu kenapa jika ada Sehun? Entahlah, sesuatu sejenis perasaan memanglah tidak pernah bisa dijabarkan dengan jelas. Terkadang, hal-hal seperti itu bahkan tak memiliki alasan.

Namun di sisi lain, resiko ketahuan akan lebih besar. Karena akan lebih banyak manusia berada di sekelilingnya. Sedangkan di stan ini, tidak ada siapapun kecuali dirinya sendiri. Pelanggan pun hanya akan datang sebentar lalu pergi.

Casie menghembuskan napasnya kasar ketika sama sekali tak menemukan jawaban.

**

“Casie, bisakah kau memperbaiki portscreen ku? Tadi masuk ke dalam air, sekarang tidak bisa nyala.” Itu Jessica Jung, kakak Casie. Dia tiba-tiba saja datang ke stan tanpa pemberitahuan, membuat Casie sedikit terkejut dibuatnya. Berbeda dengan Casie, Jessica bukan cyborg. Perempuan itu adalah manusia sepenuhnya..

Satu hal yang membuat Casie iri.

Tapi tentu saja, Jessica tahu bahwa adiknya adalah seorang cyborg. Sebelum kedua orang tua mereka meninggal karena tertular wabah, Jessica menyaksikan sendiri ayahnya berusaha menyelamatkan Casie yang terluka parah karena kecelakaan, mengubah beberapa bagian tubuh Casie kecil dengan mesin.

Tidak ada yang tahu ini kecuali keluarga mereka.

“Taruh di rak sana, nanti kuperbaiki.” Ucap Casie singkat lalu kembali berkutat dengan sebuah mesin yang tengah dia perbaiki.

“Aih.. ayolah Casie, aku harus segera menelpon kekasihku. Dia bisa marah-marah karena aku belum membalas pesannya. Apa kau tidak tahu berapa lama dia marah? Berapa lama dia mengoceh? Untuk ukuran pria dia sudah sangat cerewet. Gendang telingaku bisa robek karenanya. Dan lagi, aku harus segera mengirim email ke kantor. Laptop ku yang rusak bahkan belum kau perbaiki sampai sekarang. Untuk itu—“

“Aish.. tck.” Casie segera mengambil portscreen yang berada dalam genggaman Jessica dengan tak sabaran “Kurasa bukan kekasihmu yang cerewet. Tapi kau, unni.”

Jessica hanya meringis mendengarnya. Saat sedang memeriksa portscreen tersebut, suara seseorang yang tak asing bagi Casie namun benar-benar asing bagi Jessica menyambangi kakak beradik itu.

“Permisi.”

Deg. Sehun datang.

Setelah seminggu kejadian itu berlalu, ini adalah pertama kalinya mereka bertemu kembali. Tidak seperti pertemuan pertama mereka, kali ini suasana benar-benar canggung.

“Oh, Sehun-ssi. A.. ada apa?” tanya Casie gugup.

“Umm..” Sehun tampak memikirkan kata-kata yang akan keluar dari mulutnya. Bagaimanapun, harus berhati-hati setelah melakukan kecerobohan seminggu yang lalu “Apa kau ada waktu sekarang? Ada yang ingin kubicarakan.” Sama seperti Casie, Sehun rasa dirinya benar-benar gugup. Jessica yang sejak tadi masih berdiri di sana merasa seperti hantu yang tak kasat mata karena dua orang ini sungguh mengacuhkannya.

“Kutunggu di taman.” Setelah itu Sehun buru-buru pergi tanpa mendengar jawaban dari Casie.

Casie terdiam. Mengira-ngira apa yang akan dikatakan Sehun. Apakah sesuatu yang buruk? atau sebaliknya? Ia merasakan lengannya disenggol dari samping. Ah, benar.. ia melupakan Jessica.

“Dia siapa? Heol! kau sudah punya kekasih? Kenapa tidak pernah mengatakannya padaku? Kau beruntung sekali.. kekasihmu benar-benar tampan.”

Sementara Casie sama sekali tak menggubris Jessica, ia segera bangkit untuk menyusul Sehun. Dia bahkan sudah tak peduli dengan kakaknya yang berseru tentang ‘bagaimana nasib portscreennya’. Sesampainya di taman, terlihat Sehun duduk di atas kursi panjang bewarna coklat. Casie berdehem pelan menyadarkan Sehun.

“Oh, kau sudah datang? Duduklah.” Walau sedikit ragu harus duduk di sebelah Sehun, tapi akhirnya Casie mendaratkan bokongnya di sana. Tubuh mereka tegak, ada jarak pada posisi duduk mereka, kentara sekali aroma ketegangan.

“Ingin bicara apa?” tanya Casie memecah keheningan tanpa menoleh.

Karena terlalu tegang, Sehun hampir melupakan tujuan awalnya. Sesekali kepalanya menoleh ragu, kemudian menatap penuh pada sosok gadis yang sampai sekarang belum mau menghadapnya. “Tentang kejadian waktu itu.. aku benar-benar minta maaf. Sungguh aku tidak berniat seperti itu, hanya.. tanganku reflek.. um, maksudku.. itu.. aku benar-benar tidak—“

“Tak apa.” Casie buru-buru menyela, ia menoleh meski matanya masih berkhianat ke arah lain “Tidak apa-apa. Kau tak perlu menjelaskannya, aku sudah tahu. Sungguh, tidak perlu merasa bersalah.” Bukan apa-apa, tapi Casie tak ingin mengingat kejadian itu lagi.

Hening. Baik Sehun maupun Casie sama-sama membisu, larut dalam berbagai pikiran yang berkecamuk. Selama bermenit-menit, hanya ada suara cekikikan anak kecil dan deru mesin pemotong rumput yang mengisi ruang kosong di antara mereka. Dan lagi-lagi, Casie adalah yang pertama bersuara.

“Tentang pekerjaan yang kau tawarkan dulu..” Sehun menoleh dengan cepat, begitu antusias menyimak kelanjutannya. “Apakah masih berlaku?” sepersekian detik kemudian senyum cerah mengembang begitu saja, menampakkan eye smile yang sekali lagi, Casie menyukainya.

Sehun bergeser mendekat, ia mencondongkan tubuhnya pada Casie hingga hanya berjarak beberapa senti saja dan berbisik, “Datanglah besok. Kutunggu.” Sehun tersenyum begitu lembut, manik mereka terkunci satu sama lain, merasakan perasaan lain yang semakin membuncah. Dan pada akhirnya, Tuhan meniupkan kasih sayang di antara dua makhluknya. Perasaan hangat, sesuatu yang disebut sebagai cinta.

**

Seiring waktu berjalan, Sehun dan Casie semakin dekat. Mereka kerap kali berpapasan di lab, jalan-jalan bersama, tak jarang pula Sehun mampir ke stan Casie saat gadis itu tak ada jadwal di lab. Sekarang mereka tengah makan es krim di balkon apartemen Sehun. Yeah, ini adalah kali kedua Casie menginjakkan kaki di sana. Seperti yang diduga, apartemennya begitu rapi, baunya juga harum.. sangat mencerminkan si pemilik.

Sesekali Casie dibuat tertawa karena mendengar guyonan Sehun. Ia harus akui, Sehun memiliki rasa humor yang cukup menyenangkan. Saat itu, tapa sengaja matanya melihat tangan kanan Casie yang selalu tertutup sarung tangan.

“Kau suka pakai sarung tangan, ya?”

Casie sangat terkejut dengan pertanyaan tiba-tiba Sehun. Ia hanya mengangguk kecil tanpa berani membalas tatapan lelaki itu.

“Bahkan saat tidak sedang bekerja?”

Lagi-lagi Casie hanya mengangguk tanpa memberi penjelasan lebih. Dan Sehun tampaknya mengerti itu, dia menggumamkan kata ‘oh’ kemudian beralih pada jalanan kota Seoul yang ramai, walau dalam hati masih mengganjal sesuatu.

Selama beberapa menit, tidak ada lagi percakapan. Casie masih sibuk menyantap es krim nya yang sebentar lagi akan habis, sedangkan Sehun memikirkan sesuatu yang membuatnya beberapa kali menoleh pada Casie. Menyadari tingkah Sehun yang aneh, lantas membuat Casie bertanya, “Apa ada yang ingin kau katakan?”

Jari telunjuknya menunjuk sudut bibirnya sendiri “Ada sisa es krim di sana.”

Casie mengangkat kedua alisnya bersamaan, saat ia akan membersihkan es krim yang kata Sehun belepotan, tiba-tiba lelaki itu merengsek maju, meraih tengkuknya dan Casie merasakan sesuatu yang lembab kini melumat lembut bibirnya. Casie sempat terbelalak kaget, namun semakin lama, ia terbuai dan memejamkan mata, merasakan lembut dan hangatnya bibir Sehun. Begitu nyaman.

Tangan kanan Sehun membuang es krim yang dipegangnya, beralih pada pipi mulus Casie. Bayangan mereka menjadi satu diiringi mentari yang bersiap pulang, memberi bias cahaya oranye yang menjadi kado terakhir sebelum malam menjelang.

Perlahan, bibir mereka menjauh. Sehun menempelkan keningnya pada Casie, terpaku satu sama lain tanpa bisa beralih sama sekali dan berucap, “Aku mencintaimu, adalah yang ingin kukatakan.”

**

Tiga bulan sudah Casie dan Sehun menjalin hubungan. Dan selama tiga bulan itu, tidak pernah ada masalah yang berarti dalam hubungan mereka. Casie terbangun dari tidurnya. Masih di bawah selimut putih ini, ia merasakan hangat rengkuhan kekasihnya. Napas Sehun masih berhembus tenang dan teratur, Casie membiarkannya dan melangkah menuju kamar mandi tanpa menimbulkan kegaduhan.

Setelah dirasa tubuhnya bersih dan wangi, tak lupa ia memakai pakaian dan tentu saja, sarung tangan merah. Dilihatnya Sehun masih terpejam dengan damai. Dia pasti lelah. Well, kemarin saat menjemputnya mata Sehun tampak berat.

Casie pun membereskan beberapa kertas yang berserakan di meja. Namun perhatiannya mendadak tertuju pada selembar kertas yang menampilkan foto seseorang dengan sebelah kaki dan tangannya terbentuk dari besi, sudah dipastikan dia adalah cyborg. Ia membaca satu persatu kalimat yang tertulis di sana, memahami maksud dari setiap kata.. dan semua itu membuatnya tercengang.

“Jadi.. selama ini yang menjadi percobaan penelitian adalah.. cyborg?”

**

Casie tak pernah menyangka sebelumnya, bahwa cyborg dimanfaatkan sebagai percobaan penelitian. Jadi ini alasannya kenapa cyborg terus ditemukan dalam keadaan mati? Ia tidak tahu harus berkata dan berbuat apa. Di stan pun Casie tak dapat mengerjakan apapun karena pikirannya benar-benar kacau. Berkali-kali ia mengusap wajahnya, berharap dengan begitu akan sedikit mengurangi beban.

Semenjak menemukan fakta tersebut, Casie megurangi keinginannya untuk bertemu Sehun lima hari ini. Karena setiap kali melihat lelaki itu, maka bayangan Sehun menyuntikkan wabah pada tubuhnya sebagai percobaan juga akan muncul. Casie tidak pernah ingin itu terjadi, semua kebahagiaan yang dirasakannya tidak boleh hancur begitu saja hanya karena jati dirinya sebagai cyborg, atau percobaan gila itu. Ia tak ingin Sehun pergi. Katakan Casie mencintainya terlalu dalam, katakan bahwa Casie akan melakukan apapun untuk membuat Sehun tetap di sisinya, bahkan mati sekalipun.

Semalam Casie bercerita pada Jessica, semua. Perempuan itu pun tidak percaya, namun kenyataan begitu adanya. Jessica tidak dapat mengeluarkan sepatah katapun tadi malam, sama halnya seperti Casie. Sebagai seorang kakak, satu-satunya keluarga Casie yang tersisa, Jessica hanya mampu berkata untuk lebih berhati-hati lagi.

Hari ini Sehun meminta untuk berkencan, dan Casie tidak bisa lagi menolak permintaan tersebut karena tak ingin membuat pria itu merasa ada perubahan pada dirinya. Setelah dijemput di stan, mereka pergi jalan-jalan ke sungai Han. Untuk mengunjungi tempat itu, waktu malam adalah yang terbaik. Lampu-lampu kota dan lampu hias warna-warni yang sengaja di pasang memantul di atas permukaan air, terlihat begitu indah. Sehun dan Casie juga mencoba “Hangang River Ferry Cruise” yang membawa mereka menjelajahi sungai sambil menikmati makan malam dan pemandangan malam Seoul yang indah.

Setelahnya, Sehun dan Casie kembali ke hover[4] untuk pergi ke tempat lain, Hongdae misalnya. Mereka berkata tentang betapa menyenangkannya tadi. Kemudian suara Sehun yang menyerukan nama Casie melewati gendang telinganya. Tampak Sehun mengeluarkan sebuah kotak berbentuk persegi dari jok belakang. Dibungkus pita pink tanpa tahu Casie akan menyukainya atau tidak, ia menyodorkan benda itu pada kekasihnya.

“Untukmu.”

“Sepertinya kau lupa jika ulang tahunku masih lama.” Casie masih belum menerimanya.

“Terima saja.” Sehun mengerucutkan bibirnya lucu, tiba-tiba melakukan aegyeo yang membuat Casie gemas. Inikah Profesor Oh sang peneliti? Tidak akan ada yang percaya. Mau tidak mau, ia menerima kotak tersebut dan membukanya. Sebuah sarung tangan bewarna pink pastel dengan bordir bertuliskan ‘SeSie’ itu sukses membuat Casie menyemburkan tawanya “SeSie? Apa itu singkatan Sehun-Casie?” Sehun hanya meringis. Gadis itu melanjutkan, “Tapi, kenapa cuma satu?”

“Ppyong..” Sehun mengeluarkan sebelah sarung tangan yang menjadi pasangan sarung tangan milik Casie “Yang satunya untukku. Gunakan ini saat berkencan. Jangan gunakan yang merah itu! bau oli.” Casie terkikik mendengarnya. Namun ucapan pria itu setelahnya membuat Casie menegang.

“Pakailah.”

“Eh? Sekarang?” Dia mengangguk. Casie berpikir sejenak, lalu menjawab “Akan kupakai nanti.” Terlihat sekali bahwa Sehun merasa kecewa. Senyum yang terukir pun perlahan luntur. Ia menghembuskan napas berat lalu memandang lurus ke depan.

“Sebenarnya kau kenapa? Akhir-akhir ini sulit sekali diajak bertemu.” Casie tahu betapa menyebalkannya ketika kekasihmu sering sekali menolak ajakan berkencan, ia juga tahu Sehun merasa benar-benar kecewa. Namun ada alasan di balik tindakannya ini. Mulutnya terbuka, hendak memberi Sehun beberapa alasan bohong yang masih terdengar masuk akal, namun Sehun buru-buru menyela, “Akan kuantar pulang.” Dan setelah itu, Sehun sama sekali tak pernah menatap matanya, lelaki itu pergi segera setelah mengantarkan Casie.

**

Karena pasar masih sepi, Casie membuka sarung tangannya untuk membersihkan besi yang mulai sedikit berkarat itu. Bukan berarti ia tak memikirkan tentang kejadian kemarin malam, itu benar-benar membuat kepalanya seperti akan meledak. Mata Sehun yang selalu teduh berubah dingin. Casie menyesal hal ini harus terjadi.. tapi..

Casie masih setia dengan kegiatannya, hingga tak menyadari seseorang memperhatikan dengan mata terbelalak. Tiba-tiba suara klakson yang memekakkan telinga berbunyi dari arah jalan, membuat Casie penasaran. Lantas ia menoleh dan matanya bertemu dengan Sehun. Casie membeku, mendadak begitu sulit menelan ludah.

Sesuatu yang ditakutkannya benar-benar terjadi.

Casie berdiri, ia menurunkan tangannya, berusaha tuk tutupi dengan bersembunyi di balik meja. Namun sia-sia saja, Sehun telah melihat semuanya. Ingin sekali memanggil nama Sehun, tapi tidak ada satupun kata yang berhasil keluar. Lalu Sehun pergi.

Dunia Casie seakan runtuh seketika, membawanya jatuh hingga dasar. Ia terduduk lemas dengan pandangan kosong. Tangannya meremas ujung kaosnya, merasakan sesak yang begitu mendalam. Sehun tahu semua, bahwa kekasihnya adalah cyborg, bahwa orang yang selama ini dikencaninya adalah manusia setengah robot. Sebuah kebohongan, sepintar apapun disembunyikan pasti akan diketahui, Casie sadar itu. Tapi untuk sekarang.. rasanya terlalu cepat kebohongan itu terbongkar, terlalu cepat membawa Sehun pergi. Ingin sekali tuk menangis, namun bahkan kelenjar air matapun dirinya tak miliki.

Di hari-hari berikutnya, Sehun tak pernah lagi menghubunginya, tak pernah lagi datang ke stan. Saat di lab, kentara sekali bahwa Sehun berusaha menghindar dari Casie. Seluruh impiannya bersama pria itu luruh begitu saja, pergi bersama pengharapan yang berakhir sia-sia. Ini bukanlah akhir yang diharapkannya, di mana Sehun bahkan tak pernah mau menatapnya lagi. Terlalu mengerikan bagi Casie untuk mengalami itu, terlalu menyakitkan bagi gadis itu untuk hadapi. Ia tak tahan lagi, dilampiaskannya segala rasa sakit tersebut, semua barang di rumah hancur, Casie bagaikan orang gila yang berteriak histeris.

“Casie berhenti!” teriakan Jessica tak mampu menghentikan Casie yang terus memukul cermin dengan tangan besinya hingga hancur. Sebagai seorang kakak hatinya sakit melihat sang adik yang terpuruk, dia menangis lalu memeluk Casie penuh kasih sayang. “Casie.. jangan seperti ini, kumohon..”

“Sehun membenciku! Dia akan meninggalkanku, unni!” Jessica menggeleng, ia mencium puncak kepala Casie begitu lembut “Tidak.. Sehun tidak akan meninggalkanmu. Kumohon Casie, berhenti..”

Casie tahu Jessica hanya berusaha menghibur, dan itu adalah kebohongan yang paling diinginkan olehnya. Namun manusia tetaplah manusia. Mereka memusuhi cyborg sampai kapanpun, tidak akan pernah ada manusia yang mau hidup bersama cyborg. Sebuah kenyataan yang sekali lagi, membuat Casie membenci dirinya sendiri.

Berhari-hari Casie membisu, mengurung diri di dalam kamar dan meringkuk di atas kasur. Jessica tak pernah membayangkan adiknya akan sehancur ini. Sosok Sehun memberi pengaruh sebegitu dalam pada Casie. Bahkan, adiknya itu mulai berpikir mati lebih baik.

Juliet memilih mati karena tidak bisa bersanding bersama Romeo.. sekarang Casie tahu bagaimana perasaan Juliet. Bagaimana pedihnya ketika cinta ditentang oleh dunia.. Casie merasakannya.

**

Dalam ruangan putih berukuran sedang, Sehun terduduk di belakang meja kerjanya. Wajahnya tampak sangat lelah, lingkaran hitam terlihat begitu jelas di bawah mata sipitnya. Selama ini Sehun berusaha menghindar dari Casie, dia masih ingin menenangkan hatinya. Semua ini membuat Sehun gila, sama sekali tidak seperti apa yang dia sangka-sangka. Tentang sarung tangan itu, tentang Casie yang menjadi sulit untuk ditemui, sekarang semua menjadi masuk akal baginya.

Karena Casie ternyata adalah cyborg.. hanya ada dua opsi : Pergi tanpa mencampuri urusan masing-masing lagi, atau menjadikan Casie sebagai alat percobaan berikutnya. Dan di antara kedua opsi tersebut, tidak ada yang bisa disebut sebagai pilihan yang bagus, keduanya sama saja.

Sehun masih sangat mencintai Casie, gadis itu adalah segalanya. Namun di saat ia tahu tentang jati diri Casie yang sebenarnya… entahlah. Sebagian hatinya berkata untuk menjauh dari cyborg itu, namun sebagian lagi memberontak ingin berada di samping Casie. Sehun mengusap kasar wajahnya yang kusut. Berhari-hari dia tidak pulang, mencoba melupakan masalahnya dengan kesibukan. Namun usahanya sia-sia, wajah Casie masih terbayang-bayang si setiap hal yang ia lakukan.

Kenangannya bersama Casie kembali berputar layaknya sebuah film, menampilkan segala hal yang pernah mereka lalui bersama selama ini. Sehun sadar, dirinya merindukan senyum itu, merindukan suara lembutnya..

Romeo tidak pernah meninggalkan Juliet..

Sehun segera menyambar portscreennya di atas meja. Pada akhirnya, tidak ada satupun opsi yang ia pilih, karena memang dari awal, tidak ada yang perlu dipilih. Hatinya.. tidak. Hidupnya telah miliki Casie. Sehun memanggil nomor Casie, berniat mengajaknya untuk bertemu. Dari sana, muncul layar hologram yang menampilkan seorang wanita, dia bukan Casie. Mata wanita itu tampak sembab, bekas air mata pun masih terlihat begitu jelas. Sehun ingat pernah bertemu wanita ini di stan Casie dulu. Gadisnya pernah bercerita, dia adalah Jessica Jung.. kakak Casie.

“Sehun.. Casie..” tubuh Sehun menegak kala mendengar nada suara Jessica, apalagi saat menyebutkan nama Casie. Perasaannya tak karuan, sesuatu berbisik bahwa ada hal buruk yang terjadi. Jessica melanjutkan, “Dia menghilang. Sarung tangannya ditinggalkan di sini, dan.. aku melihat artikel tentang cyborg yang dimanfaatkan sebagai percobaan penelitian di portscreennya.. lakukan sesuatu Oh Sehun!!” Segera setelah Jessica berteriak, lelaki itu melempar portscreen ke sembarang arah dan berlari sekencang-kencangnya. Keringat dingin bercucur, ketakutan terbesar melandanya. Tidak, ini tidak bisa dibiarkan.

Kaki panjangnya sampai di depan pintu putih. Dilihatnya lampu di atas yang menunjukkan bahwa sedang ada praktik percobaan di dalam. Napasnya tersenggal-senggal, tangannya bergerak memukul-mukul pintu, berharap tuk terbuka.

“Buka pintunya!!” walau tahu usahanya sia-sia, Sehun terus berusaha mengancurkan pintu. Semua orang terbelalak melihat Sehun yang kalap. Beberapa kali ia menendang, bahkan membanting dengan kursi.. namun pintu baja itu tetap tak terbuka. Peluh kini membanjiri, Sehun menyandarkan kepalanya pada pintu, mencoba memukul-mukul lagi dengan tenaga yang tersisa “Kumohon..”

Beberapa saat setelah itu, pintu terbuka seperti yang diharapkan. Menampilkan prof. Kim yang diikuti dengan perawat yang membawa tubuh seseorang yang berada di atas bangsal. Tubuhnya membeku, matanya memanas seiring langkah kaki mendekati sosok gadis itu, Casie.. terlihat begitu menyedihkan dengan wajah pucatnya.

“Pof. Oh? Ada apa?” kemudian Prof. Kim segera mengerti ketika Sehun terus menatap Casie penuh ketidak percayaan “Ah.. tentang ini. aku tidak menyangka jika nona Casie adalah seorang cyborg. Dia mekanik yang hebat, juga baik. Aku menyesal ini harus terjadi.. tapi—“

“Apa dia masih hidup?”

“Well, kemungkinannya 50 banding 50. Jika dia bangun sebelum matahari terbenam, otomatis Casie masih hidup dan penelitian kita kali ini berhasil. Tapi jika tidak..” Sehun tidak lagi dapat mendengar apa yang dikatakan oleh Prof. Kim. Pikirannya sibuk menyesali semua.. menyesali tentang perasaannya yang meragukan Casie, tentang dirinya yang meninnggalkan Casie.. pria itu berani bersumpah, jika Casie mati maka dirinya juga akan ikut mati.

**

Satu jam terasa bagai sehari bagi Sehun, menunggu kedua kelopak mata itu terbuka dalam bayang-bayang kematian. Ia menggenggam sarung tangan bertulis ‘SeSie’ yang diberikan Jessica beberapa menit yang lalu, memakaikannya pada tangan besi Casie dengan lembut penuh kasih sayang, lalu memakai pasangannya di tangan kiri miliknya sendiri. Ia menggenggam erat tangan itu, tak perduli bahwa yang dipegangnya adalah besi atau bukan, tak perduli sedingin apapun tangan besi itu, ia teramat merindukan gadis ini.

Sehun memasang indera nya baik-baik, berjaga-jaga jika jantung Casie berhenti berdetak, maka saat itu pula ia akan menusuk jantungnya sendiri menyusul Casie. Namun tentu bukan itulah harapannya. Sehun masih ingin mendengar suara Casie, melihat senyumnya, merasakan sentuhannya..

Ia terlonjak ketika merasakan pergerakan kecil pada genggamannya “Casie..” Sehun berdiri, mengusap ujung kepala gadisnya bersamaan dengan air mata yang merembes keluar. Kelopak mata tersebut bergerak-gerak, lalu memisah dan tampaklah manik coklat Casie.

“Sehun..” Pria itu segera menenggelamkan kepalanya pada ceruk leher Casie, terisak begitu pilu sembari mengucap syukur yang tak terhingga. Suara lemah Casie seolah membuatnya kembali hidup, kata maaf keluar tanpa henti dari mulut Sehun.

“Jangan pergi..” mohon Casie dengan suara seraknya. Sehun menggeleng, dia mengangkat wajahnya, menatap dan menangkupkan kedua tangannya pada pipi Casie.

“Tidak.. tidak akan.” Sehun mencium kening gadis Jung itu perlahan dan begitu lembut, seolah takut bahwa tersenggol sedikit saja akan membuat gadis rapuh ini hancur. Sekarang bagaimana dia akan meninggalkan kekasihnya? Bahkan di saat dia siap untuk mati ketika Casie pun mati.

Sehun akan tetap berada di sisi Casie, ia berjanji. Seperti pengorbanan Romeo dan Juliet, mereka adalah Sehun dan Casie yang bersatu karena perpisahan itu sendiri. Bukan lewat kematian, tapi mereka akan membuktikan bahwa cinta mereka sejati dengan menghadapi bersama dunia yang menentang. Siapapun jati diri Casie, dia tetaplah jiwa Sehun.

 

Kau mulai mencintai bukan karena menemukan seorang yang sempurna, tapi dengan sempurna melihat orang yang tak sempurna Sam Keen

 

The End

 

Ehem. Tes.. tes. Aku mau buat projek ‘Once Upon A Time’ yang nanti bakalan diisi dengan ff ff buatanku. Jadi nanti, ff dalam projek ini adalah ff yang aku buat berdasar/terinspirasi dari dongeng-dongeng lama. Kayak princess-princess disney, cerita roman zaman dulu, kisah dewa-dewi, bahkan cerita malin kundang /gak/ :v

Dan ff The Other Romeo and Juliet ini yang menjadi pembukaannya //mwehehe// mungkin ada yang pernah baca di suatu tempat? Iya, karena memang pernah aku posting di fanpage dan blog pribadi dengan nama pena yang sama.

Umm.. udah segitu aja :v salam RCL :v😉🙂

[1] Ponsel yang memiliki kecanggingan melebihi smartphone.

[2] Televisi yang memiliki kelebihan seperti sebuah smartphone.

[3] Robot yang berpenampilan mirip manusia.

[4] Mobil terbang

10 responses to “[Freelance] The Other Romeo & Juliet

  1. Sukaa sama ceritanyaaaa. Dulu romeo juliet karena keluarganya skrng gara gara yg satu objek penelotian yg satunya profnyaa

  2. njay jadi keinget MV vixx yg error. selalu baper kalo liat itu :’3 sukses banget bikin mewek :”v

  3. What…..ini apaa
    Kok bikin nyesek
    Kok bikin iri
    Kok bikin jatuh cinta
    Kok bikin pengen
    Kok bikin ngayal
    Kok bikin ………
    Ini apaaaaaaa

  4. demi apa ini keren banget, jadi makin pengen beli novel cinder padahal kemaren kemaren udah nggak pengen😭😭 great job author

  5. ah suka sama cerita nya!
    bener2 romeo dan juliet dalam versi yang sangat modern ^^
    suka deh sama ke-kreative-an kakak… project nya kayaknya menarik deh~~
    Fighting!

  6. bagus bgt ceritanya….
    feelnya dapet banget, aq smpe terharu bacanya…
    nyesek’nya dapet…
    sedihnya dapet….
    bahagianya dapet…
    pkoknya keren bgt deh🙂
    dan semakin sempurna karna kisah ini berakhir happy ending🙂
    aq udh takut bgt kalau” casie akhirnya mati,, tp ternyata dia masih hidup…..duh leganya🙂
    makasih ya kak krna udh buat cerita ini berakhir bahagia ^__^
    ditunggu cerita lainnya….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s