[Freelance] When a Man Loves (Part 1)

waml 1

When a Man Loves Part 1

 

Author                 : deergalaxy0620

Genre                   : Romance, Hurt, School-Life (a little bit)

Cast                     : Oh Jong Seok a.k.a Eddy ( JJCC )

Park Seo Yeol ( OC )

Song Se Hin ( OC )

Park Chan Yeol ( Seo Yeol’s brother ) ( EXO )

Wu Yi Fan a.k.a Kris

Oh Hae Ryung ( OC )

Ryu Ha Yeon ( OC ) as Seo Yeol’s close-friend

Lee Hwan Hee as Ha Yeon’s boyfriend ( UP10TION )

Rating                  : PG-15

Length                 : Chaptered

Disclaimer           : All the story is MINE. Jika ada kesamaan dalam alur cerita, mohon maaf.

 

 

https://deergalaxy0620.wordpress.com/2016/05/28/ff-chaptered-when-a-man-loves-part-1/

 

 

 

12 Februari 2016…

 

“Seo Yeol-ah,” seorang lelaki berjangkung itu memanggil nama adik kandungnya dengan berbisik, “ireona. Ini sudah pagi. Saatnya kamu berangkat sekolah dan mengerjakan ujian.” Tuturnya hingga gadis itu menggeliat pelan.

“Ini sudah jam berapa?” tanya gadis bernama Park Seo Yeol itu dengan maja masih terpejam. Lelaki berjangkung itu memperlihatkan arlojinya di pergelangan tangan kirinya.

“Ini sudah hampir jam delapan.” Mendengar jawaban dari sang lelaki itu, yang bernama Park Chan Yeol, Seo Yeol membelakkan matanya. Kemudian, gadis itu segera beranjak dari ranjang dan berdiri celingak-celinguk mencari benda yang dapat melilitkan tubuhnya itu, yakni handuk.

“Dimana handukku?!” tanya Seo Yeol setengah mengantuk dan sedikit heboh. Chan Yeol hanya tersenyum cengir dengan melipatkan tangannya di dada.

“Aku hanya becanda saja,” jawab Chan Yeol dengan tertawa setengah lepas, “ini masih jam enam pagi. Jangan khawatir, kamu tidak akan terlambat.” Ujarnya yang sukses mendapatkan jitakan kecil dari Seo Yeol. Gadis itu berdecak kesal.

Oppa hanya mengganggu mimpi indahku saja.” Gerutunya dengan memanyunkan bibir ranumnya. Chan Yeol tertawa kecil mendengar Seo Yeol cemberut.

“Aku hanya ingin mengatakan saja kepadamu.” Kata Chan Yeol seraya menahan tawanya.

“Apa yang oppa katakan padaku?” Seo Yeol bertanya dengan jutek dan sedikit kesal. Chan Yeol mencoba untuk memikirkan rangkaian kata yang akan dia katakan kepada sang adik.

“Aku memiliki oleh-oleh untukmu.” Mendengar kata ‘oleh-oleh’ membuat ekspresi Seo Yeol mendadak cerah. Rasa penasarannya tinggi dan dia tak mau melupakan hal itu.

“Benarkah? Apa itu?” Seo Yeol tampak tak sabaran. Bukannya menunjukkan oleh-oleh, Chan Yeol justru meninggalkan kamar Seo Yeol dengan larian kecil. Seo Yeol mungkin merasa tertipu dan segera mengejar Chan Yeol. Mereka berlari layak anak kecil yang sedang bermain. Bahkan Seo Yeol hampir meraih kaus putih yang dikenakan Chan Yeol, tetapi gadis itu justru terjatuh hingga Chan Yeol memeletkan lidahnya. Seo Yeol tampak geram dan tak mau kalah untuk menangkap sang kakak kandungnya.

Chan Yeol dan Seo Yeol adalah kakak-adik. Mereka sudah seperti hubungan saudara yang saling membutuhkan bantuan dan dibalas dengan tolong-menolong. Chan Yeol hanyalah seorang lelaki biasa yang dapat melakukan apa saja untuk Seo Yeol, demi membahagiakan adiknya. Setelah orang tua mereka meninggal dunia akibat tragedi Kapal Sewol dua tahun yang lalu, Chan Yeol terpaksa mengantar dan menjemput Seo Yeol, seperti mengantarkannya ke sekolah dan kemanapun gadis itu mau. Untuk makan saja mereka harus mencari sendiri agar hemat. Terkadang Seo Yeol membuatkan sarapan untuk Chan Yeol, tetapi hanya sandwich dan susu putih saja.

Dan kini, Seo Yeol sudah tumbuh menjadi seorang gadis yang dewasa dan mandiri. Dia mengerti apa nasihat orang tua mereka. Sayangnya, Chan Yeol terpaksa pulang larut karena pekerjaannya yang menumpuk dan hanya menambah beban pikiran saja. Sama seperti Seo Yeol. Dari pagi hingga malam dia selalu berada di sekolah setiap hari, belum lagi bimbingan belajar yang terpaksa dia lakukan hingga tengah malam ia dapat pulang ke rumah. Lebih memberatkannya lagi adalah pekerjaan rumah yang selalu menumpuk dan membuat gadis itu mengalami stres. Akan tetapi, ini semua demi membahagiakan orang tua yang telah tiada, begitu juga dengan Chan Yeol. Justru semakin banyak tugas yang dia kerjakan, dia akan menghasilkan banyak uang untuk memenuhi kebutuhan hidup, seperti membayar biaya sekolah setiap satu bulan dan sisanya hanya untuk membeli makan dan keperluan mendadak saja.

“Selamat ulang tahun, Seo Yeol-ah.” tiba-tiba dari kejauhan, Chan Yeol menunjukkan sebuah oleh-oleh yang ternyata adalah kado ulang tahun Seo Yeol. Ya, gadis itu akhirnya mulai menginjak usia 19 tahun. Seo Yeol mematung saat pria bersurai hitam itu melangkah mendekatinya. Kemudian, Chan Yeol menyodorkan kado ulang tahun Seo Yeol yang telah dibungkus dengan kotak dan dihiasi pita. Tetapi, Seo Yeol malah menanggapinya dengan cukup sinis.

“Apakah ini yang oppa maksud adalah oleh-oleh?” Seo Yeol segera bangkit, kemudian menerima hadiah kecil dari Chan Yeol.

“Yang aku katakan oleh-oleh itu, anggap saja perkataan yang kuno. Sekarang, bukalah kado dariku dan jangan terkejut.” Lelaki itu hanya membalasnya penuh enteng dan santai. Seo Yeol segera membuka kado yang berbungkus merah muda itu. Tiba-tiba, mata hazel Seo Yeol bergemetaran setelah ia melihat isi kado tersebut. Ekspresinya mendadak tegang dan ingin rasanya gadis itu menolak hadiah tersebut. Apakah ini yang dinamakan kado?

“Mengapa… kamu… mendadak tegang? Apakah aku salah memberimu kado?” Seo Yeol tak menanggapi pertanyaan Chan Yeol. Justru tangannya tak sengaja menjatuhkan kado tersebut ke lantai. Seo Yeol memasang ekspresi tak percaya dan sulit diartikan. Dia pikir kado dari Chan Yeol sangat istimewa dan dapat menyentuh hati. Entah itu boneka, dress, ataupun mungkin kunci mobil karena usianya yang sudah melewati usia 17 tahun. Dan Seo Yeol pikir kado dari Chan Yeol akan membuatnya bahagia dan akan mengingat kado tersebut hingga ajal menjemputnya. Semua yang Seo Yeol pikirkan adalah hal yang terindah dalam hidupnya mengingat hari ini adalah hari ulang tahunnya.

Namun ternyata, kado dari Chan Yeol bukanlah harapan yang Seo Yeol inginkan. Justru malah membuat gadis itu tegang dan amarahnya hampir memuncak. Bibir ranumnya terkatup kuat saat mata hazelnya kembali memandang isi kado tersebut. Sementara Chan Yeol hanya memerhatikan Seo Yeol dengan heran dan bingung.

“Aku harap kado ini menjadi kado terindah dalam hidupku. Dapat aku peluk dan pandangi setiap hari. Dan aku pikir kado ini menjadi bagian terindah dalam hidup kita sebagai saudara kandung. Namun ternyata,” Seo Yeol mengatupkan bibirnya sejenak karena air matanya mengalir deras, “this gift isn’t like my expectation. This is so bad to remember me like that.” Ujarnya seraya membalikkan tubuh pendeknya dan berlari meninggalkan Chan Yeol sendirian. Sementara sang pemberi kado hanya merasa heran dengan sikap Seo Yeol yang kian berubah. Ada apa dengannya?

“Seo Yeol-ah.” sahut Chan Yeol dengan intonasinya yang khas lelaki. “Park Seo Yeol!” dia kembali menyahut, namun Seo Yeol hanya berlari memasuki kamarnya, kemudian menutup pintunya keras, dan naasnya pintunya dikunci oleh sang pemilik kamar. Seo Yeol mengurung di dalam kamar dan menangis sesegukan. Menangis pilu yang ikut menyayat hatinya.

Namaku Park Seo Yeol. Aku adalah seorang gadis yang selalu merasa kesepian dan selalu ditinggal seseorang. Hidupku penuh dengan pembelajaran di sekolah dan tak ada hiburan setelah pulang dari sekolah. Hanya mandi dan membasuh wajah, kemudian tidur. Tak ada hiburan yang membuatku tenang, kecuali suatu tempat yang menjadikanku tenang.

***

Di sebuah perusahaan mewah, salah seorang lelaki yang tengah termenung di tempat kerjanya dengan mata terfokus ke arah foto yang telah dibingkai kaca. Seorang wanita dengan paras cantiknya dengan surai blonde dan bentuk tubuhnya yang ideal. Senyumannya itu telah sukses mengiris hati seorang lelaki bersurai cokelat itu perlahan. Air matanya tak sengaja menetes kala hatinya semakin diiris lebih dalam. Menahan isakan tangisnya yang tertahan di mulutnya.

Bias matahari telah mengacaukan suasana pilu disertai dengan suara ketukan pintu yang terdengar cukup keras. Tangan kekarnya itu segera menghapus air mata sebelum salah seorang wanita bersetelan hitam-putih itu membuka pintu, yang tak lain adalah Sekretaris Oh Hae Ryung. Lelaki segera menatap wanita berperawakan tinggi itu, ditambah dengan surai hitamnya yang sengaja tergerai sepunggung.

“Ada surat izin untuk anda.” Ujar Hae Ryung sembari menyodorkan sebuah amplop putih yang telah ditoreh tulisan tangan seseorang. Lelaki bertubuh cukup kekar itu segera meraihnya, membiarkan Hae Ryung izin pamit dengan melangkah keluar dari ruangannya.

Oh Jong Seok atau dipanggil dengan sapaan Eddy. Dia memandang amplop putih di tangannya. Secarik surat izin yang membuat hatinya kembali teriris atau penasaran. Perlahan lelaki itu membuka isi surat tersebut, kemudian membaca isi surat tersebut. Dan lagi-lagi, ia harus menerima semua rasa sakit yang dia alami sekarang. Ini bukan surat izin, melainkan surat pribadi teruntuknya, Oh Eddy.

Namaku Oh Jong Seok. Panggil saja aku Eddy. Aku adalah seorang lelaki yang kini ditinggal kekasihku karena ada lelaki lain yang berhasil merebut hatinya dariku. Sekarang, setelah aku membaca isi surat ini, malah ternyata dia memojokku dengan kembali menoreh luka di hatiku. Kekasihku telah berselingkuh dengan lelaki lain karena dia lebih tampan dan manly dariku. Aku tak bisa mendeskripsikan kekasih barunya itu karena dia sungguh tampan dan cocok menjadi suaminya.

***

“Seo Yeol-ah,” seorang gadis bersurai cokelat muda itu menyahut nama Seo Yeol, “mengapa kamu terus murung?” tanyanya, membuat Seo Yeol tersadar dari lamunannya.

“Maaf?”

“Mengapa kamu terus murung setiap hari?” tanya gadis bernama Ryu Ha Yeon. Seo Yeol memang setiap hari selalu murung. Apalagi jika bukan karena hadiah dari Chan Yeol? Hadiahnya sungguh menyakitinya, bahkan dengan tak bersalah Chan Yeol malah tak mengerti apa yang terjadi.

“Aku tidak apa-apa.” Apa yang Seo Yeol jawab sejak tadi justru menimbulkan rasa penasaran dari Ha Yeon beserta kekasihnya, yakni Lee Hwan Hee.

“Ayolah, jika kamu terus berbohong seperti ini, apakah kamu akan terus berbohong kepada dunia? Jangan biarkan masalahmu terus membara dan merenggut pikiranmu.” Ha Yeon sedikit merengek dan terdengar cukup memaksa hingga Hwan Hee ikut penasaran. Seo Yeol ingin sekali berbohong, tetapi kebohongannya akan menimbulkan permasalahan yang rumit.

“Aku benar-benar tidak apa-apa. Percayalah padaku,” Seo Yeol telah memasang ekspresi seolah dia benar-benar membaik, padahal hatinya berkata lain. Terdengar melegakan bagi Ha Yeon dan Hwan Hee jika memang benar apa yang dikatakan Seo Yeol.

“Baiklah jika kamu benar-benar terlihat baik-baik saja. Kami tak akan memaksamu.” Hwan Hee menyerah, kemudian diikuti dengan Ha Yeon. Seo Yeol segera mengalihkan topik agar pikirannya kembali tak mengganggu.

“Ngomong-ngomong,” Seo Yeol segera menyesapkan secangkir cappucino ke bibirnya, “bagaimana ujian kalian?” tanyanya disusul dengan helaan napas dari sepasang kekasih itu.

“Kau tahu sesulit apa ujian tadi? Jika soal ujian kita tidak berbeda, kita pasti dapat menjawabnya.” Jawab Hwan Hee yang terdengar mengeluh.

“Kamu mungkin sangat beruntung, Seo Yeol-ah,” ujar Ha Yeon sembari mengunyak Tteoppoki miliknya, “jika kamu memang selalu belajar dengan tekun dan bersungguh-sungguh, nilaimu pasti tinggi dan sangat mudah untuk diterima di perguruan tinggi negeri.” Lanjutnya dengan mantap dan yakin. Seo Yeol memasang ekspresi yang berbeda dengan sepasang kekasih dihadapannya.

“Aku mungkin tak seberuntung orang pintar di luar sana.” Seo Yeol membalas dengan semangat yang tak menunjukkan rasa percaya diri. Sayangnya semuanya disangkal sepasang kekasih dihadapannya.

“Tak mungkin orang sepertimu memiliki kepintaran yang kalah dari orang lain. Jika kamu selalu meraih peringkat satu di kelas kita, mungkin saja kamu akan diterima secara langsung di perguruan tinggi.” Sangkal Hwan Hee yang disertai dengan anggukan dari Ha Yeon.

“Kamu sudah melakukan yang terbaik, Seo Yeol-ah. Tak mungkin orang secerdas dirimu ditolak di perguruan tinggi negeri. Kamu pasti bisa!” Ha Yeon sudah cukup memberinya semangat yang dapat membangkitkan rasa percaya diri Seo Yeol, membuat gadis berotak cerdas itu tersenyum kecil. Dalam hatinya ia tahu bahwa dirinya pintar, akan tetapi orang lain jauh lebih pintar darinya. Dan Seo Yeol hanyalah gadis biasa yang memiliki kepintaran yang rata-rata. Dia tidak pintar dan juga tidak bodoh.

***

Jam 22.30 KST…

 

Seo Yeol meregangkan sendi-sendinya setelah ujian telah berakhir. Seharusnya sejak pagi tadi ujian hari pertama telah berakhir, namun sisa waktunya wajib untuk belajar setelah ujian hingga sore. Kemudian, setelah belajar, mereka istirahat sejenak untuk makan malam, lalu kembali diwajibkan menghadiri kelas untuk belajar hingga jam tengah malam. Sungguh melelahkan bagi Seo Yeol hingga tak ada waktu luang untuk sekadar liburan sedikit.

Apa yang ada dibenak Seo Yeol, seharusnya memikirkan tentang masa depannya, namun tiba-tiba saja pikiran tersebut mengabur seketika saat gadis itu kembali memikirkan tentang kejadian terpahit di sebuah ruang privasi. Seo Yeol bukan tak sengaja ia melihat itu, melainkan dia penasaran siapa orang yang ada di dalam ruangan tersebut. Dan Seo Yeol tak salah melihat saat ada dua insan yang tengah menikmati hidup berdua di ruang privasi, membuat mata gadis bersurai hitam itu kian memanas. Tidak hanya matanya yang memanas, melainkan hatinya telah terbakar hingga ia rela menahan emosinya agar tidak tertangkap basah. Seo Yeol masih merasakan sakit di hatinya, lantaran orang yang bersama wanita asing itu adalah kekasihnya. Jika lelaki itu meminta maaf kepada Seo Yeol, mungkin gadis itu tak akan memaafkannya. Terlanjur sakit hati membuat Seo Yeol tak ingin memaafkan kesalahan orang tersebut.

Tiba-tiba, bus yang ditumpangi Seo Yeol mendadak terhenti saat seorang lelaki bersetelan hitam itu melangkah dengan langkahan sempoyongan. Seo Yeol berpikir bahwa orang itu adalah seorang preman yang suka mabuk-mabukkan, tetapi ternyata tidak. Lelaki itu adalah seorang direktur di perusahaan yang terkenal. Penampilannya memang benar bahwa dia adalah direktur ternama. Dan Seo Yeol cukup tertegun saat lelaki yang melangkah mendekatinya itu cukup tampan, meski dalam keadaan mabuk.

Awalnya, Seo Yeol berniat melarikan diri dari bus karena lelaki itu mungkin akan mengancamnya dengan keji. Sayangnya, tiba-tiba saja tubuh lelaki itu sudah terkapar di atas kursi dekat Seo Yeol, membuat gadis itu terkejut. Lelaki bersurai cokelat itu pingsan dalam keadaan ambuk. Seo Yeol tak tahu harus berbuat apa karena lelaki itu sangat asing di matanya, sementara yang ada di bus hanyalah ia dan lelaki bertubuh cukup kekar itu.

“Apa yang terjadi dengannya?” tiba-tiba supir bus menyahut sembari matanya fokus ke depan. Seo Yeol menggeleng pelan dengan ketakutan. Takut jika supir bus menuduhnya sebagai pembunuh.

***

Alangkah lebih baik jika lelaki itu segera dilarikan menuju rumah sakit terdekat agar mendapatkan perawatan lebih intensif. Sementara Seo Yeol harus menunggu dalam waktu yang cukup lama. Menunggu beberapa dokter untuk menyelamatkan nyawa sang lelaki bersetelan jas hitam, Seo Yeol lebih memilih untuk termenung di deretan kursi yang kosong.

Setelah menunggu dalam waktu yang lama, salah seorang dokter akhirnya keluar dengan melepaskan masker putihnya. Tentu saja Seo Yeol segera bangkit dengan rasa penasaran itu. Seorang dokter berjas putih itu berkata bahwa lelaki bersetelan jas hitam itu memerlukan waktu yang cukup lama untuk beristirahat sejenak hingga kadar alkoholnya telah menghilang dari tubuhnya. Untungnya, lelaki tak dikenal itu telah sadar dalam keadaan normal. Seo Yeol merasa bersyukur karena ternyata dia telah sadar juga. Dokter tampan itu segera pamit untuk pergi melaksanakan tugas lainnya. Kini, hanya Seo Yeol yang sekarang berada di ruang gawat darurat.

Bersama dengan lelaki tanpa dikenal itu, Seo Yeol dapat memandang wajah tampan lelaki yang berjabat sebagai direktur itu. Seo Yeol merasa penasaran dengan identitas seorang lelaki di matanya.

“Apakah anda sudah sadar?” tanya Seo Yeol dengan menggunakan bahasa formalnya hingga lelaki itu membuka pelan matanya. Kemudian, matanya beralih tertuju ke arah Seo Yeol yang duduk di sampingnya. Seketika dahi lelaki bersurai cokelat itu mengernyit seolah ia tak mengenal Seo Yeol.

“Si… siapa… siapa anda? Dan… apa yang terjadi denganku?” lelaki itu mencoba untuk duduk, tetapi kepalanya terasa berdenyut cepat karena kadar alkoholnya belum sepenuhnya hilang.

“Anda secara tiba-tiba pingsan di bus, tepatnya di samping saya.” Jawab Seo Yeol cukup hormat. Memandang ke arah lelaki yang mulai tertegun dan mencoba untuk berpikir apa yang terjadi dengan insiden tersebut

“Apakah anda… yang… membawaku kesini?”

“Tentu saja karena supir buslah yang mengantarkan kami kesini.” Kali ini Seo Yeol menjawab cukup santai hingga lelaki itu sadar bahwa dia berada di rumah sakit, bersama dengan gadis bernama Park Seo Yeol itu.

“Kamu sedang menaiki bus menuju apartemen saya dan tanpa sadar anda pingsan dan terjatuh di atas kursi yang ada di samping saya. Untung saja kursi tersebut kosong sehingga anda dapat tidur di kursi yang kosong.” Seo Yeol bercerita tentang kronologis seorang lelaki yang pingsan setelah meminum banyak alkohol. Kini, lelaki itu telah sadar bahwa dia berada di rumah sakit, tepatnya di ruang gawat darurat.

“Aku ingin sekali pulang. Bayarkan aku sejumlah uang biaya pengobatan agar aku dapat pulang ke rumah,”

“Tidak bisa. Anda diminta untuk beristirahat disini hingga kadar alkohol dalam tubuh anda menghilang. Sementara anda seharusnya yang membayar biaya rumah sakit, bukan saya,”

“Siapa yang membawaku ke rumah sakit ini siapa? Mengapa malah aku yang membayar semua biaya pengobatan ini?”

“Justru… justru karena anda adalah pasien,”

“Justru seharusnya anda yang membayar biaya pengobatan ini, bukan aku,”

“Sudahlah, biar aku saya yang membayar.” Tiba-tiba, Seo Yeol dan lelaki tak dikenal itu segera mengalihkan pandangan tertuju kepada seorang lelaki paruh baya yang tak lain adalah supir bus.

“Daripada kalian berdua tak ingin mengalah dan berakhir dengan perdebatan, lebih baik saya saja yang membayar biaya ini. Lagipula, saya sudah membantu gadis belia ini untuk mengantarkanmu ke rumah sakit.” ujar supir bus dengan senyumnya yang ramah. Seo Yeol dan lelaki itu akhirnya menyerah dan membiarkan supir bus itu membayar semua biaya pengobatan.

***

Jika tidak ada supir bus, yang rela membayar biaya rumah sakit, mungkin Seo Yeol dan lelaki tanpa nama itu akan terus berdebat hingga berakhir dengan pertengkaran adu mulut. Supir bus sudah ikhlas jika uang hasil jerit payahnya dalam bekerja itu digunakan untuk membayar biaya rumah sakit, bukan menghidupi anak dan istrinya. Toh, ini merupakan perbuatan yang terpuji.

Setelah lelaki itu diperbolehkan untuk pulang, Seo Yeol justru mengajak lelaki bersurai cokelat itu ke gerai kaki lima untuk memesan Haejangguk – rebusan untuk menyembuhkan mabuk. Jarang-jarang biasanya makanan tersebut dapat ditemui di pagi hari di lokasi yang sama, yakni di gerai kaki lima. Entah apa yang membuat Seo Yeol harus bermampir terlebih dahulu sebelum ia pulang.

Di gerai kaki lima, lelaki berbibir tebal itu hanya memandang Haejangguk saat Seo Yeol menikmati segelas air putih. Gadis belia itu memerhatikan lelaki dihadapannya sejenak, kemudian segera menggerakkan tangannya di depan mata lelaki itu. Dan akhirnya, lelaki berbibir tebal itu telah sadar dan justru memandang Seo Yeol cukup dingin.

“Anda sedang mabuk sejak tadi. Jadi, saya membawa anda menuju kesini. Jarang-jarang sebenarnya makanan ini dijual esok pagi.” Ujar Seo Yeol dengan membalas tatapan sayu lelaki bersetelan jas hitam. Lelaki itu bernama Eddy.

“Jika anda tidak memiliki uang, gunakan saja uang saya. Anggaplah saya mentraktir anda makan agar anda puas.” Gadis bersurai hitam itu kembali berkata, menimbulkan senyuman kecil di bibir Eddy.

Gamsahabnida.” Ucap Eddy dengan sopan pula, meski dirinya yang lebih tua.

“Tak perlu sungkan. Anda harus makan agar anda tidak mabuk lagi.” Seo Yeol segera menahan rasa malunya terhadap Eddy.

“Baiklah. Terima kasih telah mentraktirku makan.” ujarnya dengan senyumannya yang lebar, membuat Seo Yeol cukup terpesona dengan ketampanan Eddy. Dengan segera, gadis itu mengulurkan tangan ke arah Eddy, berniat untuk berkenalan.

“Nama saya Park Seo Yeol. Siapa nama anda?” sapa Seo Yeol ramah yang kemudian dibalas dengan uluran tangan Eddy.

“Nama saya Eddy. Kamu boleh memanggil saya ahjussi.” Balas Eddy yang membuat Seo Yeol segera melepaskan uluran tangannya.

“Ahjussi? Menurut saya terdengar sopan, tetapi saya selalu berbuat santai terhadap orang yang lebih tua. Entah apakah mereka mungkin merasa tak nyaman dengan saya atau tidak.” Seo Yeol sedikit menunduk dengan perasaan sedikit canggung. Entah apa yang terjadi.

“Kamu mungkin belum terbiasa untuk bersikap sopan terhadap orang yang lebih tua. Atau mungkin kamu merasa risih untuk bersikap sopan?” terdengar mengejek bagi Seo Yeol, namun cukup menyadarkan bahwa dia harus bersikap sopan terhadap orang yang lebih tua.

“Tak apa. Untukmu, aku mengizinkanmu untuk berbicara sedikit santai.” Eddy mengizinkan Seo Yeol untuk sedikit berbicara dengan banmal – bahasa informal. Ada sedikit kelegaan dari Seo Yeol, namun tetap saja dirinya cukup merasa tak nyaman saja.

“Te… terima kasih.” Ucapan Seo Yeol sedikit terbata-bata karena merasa cukup terbebani dengan orang yang lebih tua. Memang Seo Yeol dikenal sebagai seorang gadis yang berbicara santai terhadap orang yang lebih tua darinya, bahkan kepada Chan Yeol saja sudah dianggap sebagai teman, bukan kakak kandung. Meski begitu, Eddy merasa tak keberatan jika Seo Yeol berbicara dengan bahasa informal sedikit saja. Toh, gadis itu sudah membawanya menuju rumah sakit terdekat jika bukan Seo Yeol.

Di mata Eddy, dia tampak seperti dirinya mengenal Seo Yeol, bahkan paras cantik gadis itu terlihat sama dengan tampannya Chan Yeol. Iya, Eddy adalah teman dekat Chan Yeol, meski mereka berbeda jabatan. Awalnya, Eddy tak mengenal Seo Yeol karena paras cantiknya dan kebaikannya. Jika dilihat lebih dekat, Seo Yeol memang benar bahwa dia adalah adik kandung Chan Yeol. Dan Eddy hanya dapat mengingat wajah Seo Yeol saja, bukan nama lengkapnya.

Mungkin suatu saat, Eddy mungkin akan jatuh cinta dengan Seo Yeol jika saja mereka sudah saling mengenal lebih dari sekadar murid dan direktur. Namun, Eddy dapat meraba kisah Seo Yeol yang memilukan dan membuat lelaki itu memiliki daya tarik untuk mengenal sang adik kandung Chan Yeol lebih dalam. Mungkin akan terlibat sebuah cinta, tetapi itu mustahil jika Seo Yeol menyukai Eddy. Biarkan segalanya serahkan kepada tuhan dan menentukan apakah Seo Yeol dapat menjadi daya tarik Eddy lebih dalam atau tidak.

Saat mataku bertemu dengan mata sang gadis belia, ada hal yang membuatku mungkin tertarik dengannya. Bukan hanya paras cantiknya saja, melainkan juga dia telah membantuku dan membawaku ke rumah sakit. Kebaikan yang lebih tepat. Apakah aku harus mungkin mengenalnya lebih lanjut atau berhenti sampai disini saja? Mungkin suatu saat, aku dan dia tak dapat bertemu kembali.

 

To be continued…

 

5 responses to “[Freelance] When a Man Loves (Part 1)

  1. Emang kadinya apaan? Kok aku jadi penasaran banget kayak gini yah?
    Seoyeol orgnya easy going ya, aku suka 😊
    Ditunggu kelamjutannya authornim

  2. Entahlah.. Mungkin aku baru pertama kali ini baca yg gaya bahasanya kayak gini.. Jadi berusaha memahami 👍🏻👍🏻

  3. Pingback: [FREELANCE] When a Man Loves Part 4 | SAY KOREAN FANFICTION·

  4. Pingback: [FREELANCE] When a Man Loves Part 5 | SAY KOREAN FANFICTION·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s