[Freelance] When a Man Loves (Part 2)

waml 1

When a Man Loves Part 2

 

Author                 : deergalaxy0620

Genre                   : Romance, Hurt, School-Life (a little bit)

Cast                     : Oh Jong Seok a.k.a Eddy ( JJCC )

Park Seo Yeol ( OC )

Song Se Hin ( OC )

Park Chan Yeol ( Seo Yeol’s brother ) ( EXO )

Wu Yi Fan a.k.a Kris

Oh Hae Ryung ( OC )

Ryu Ha Yeon ( OC ) as Seo Yeol’s close-friend

Lee Hwan Hee as Ha Yeon’s boyfriend ( UP10TION )

Rating                  : PG-15

Length                 : Chaptered

Disclaimer           : All the story is MINE. Jika ada kesamaan dalam alur cerita, mohon maaf.

 

https://deergalaxy0620.wordpress.com/2016/06/02/ff-chaptered-when-a-man-loves-part-2/

 

 

 

Jam 07.00 KST…

 

Seorang lelaki yang tengah tidur di ranjang dengan seluruh tubuhnya ditutupi selimut. Dia tidak terlihat toples, hanya saja suhu udara di kamarnya begitu dingin. Mengingat kamarnya memiliki AC di atas pintu, tetap dia merasa kedinginan. Bukankah dia seharusnya menurunkan suhu udara di AC agar dia tetap merasa nyaman dan sejuk? Lelaki bersurai hitam itu enggan untuk mengecilkan suhu pendingin ruangan itu.

Tiba-tiba, entah datang berasa dari mana, datanglah seorang wanita berperawakan tinggi dengan kulit putih yang mulus. Ia datang dengan mengenakan setelan hitam-putih. Wajah cantik dan manisnya itu alhasil membuat lelaki berwajah blasteran itu menggeliat pelan, seolah ada matahari membias ruangan. Dengan pelan, wanita itu membelai wajah lelaki dihadapannya dengan senyumnya yang manja.

Chagiya,” panggil wanita bersurai cokelat sepunggung itu dengan berbisik, “ireona. Ini sudah pagi.” Bukannya bangun, justru lelaki itu memutarkan tubuhnya ke samping – bertolak belakang dengan wanita bertubuh sintal itu.

“Bukankah seharusnya kamu bangun, kemudian mandi dan sarapan? Aku sudah membuatkan sarapan untukmu.” Intonasi wanita itu menjadi ketus karena kekasihnya yang enggan bangun dan melanjutkan untuk menjelajahi mimpi.

“Kamu berangkat sendiri saja sana. Aku sedang tidak ingin masuk kerja.” Gumaman lelaki bersurai hitam itu malah semakin membuat wanita bertubuh sintal itu kesal. Wanita itu bernama Oh Hae Ryung.

“Kita, kan selalu pergi bersama, kemudian pulang ke rumah ini bersama-sama pula. Mengapa kamu malah mengusirku?” ketus Hae Ryung yang akhirnya sukses menyadarkan seorang lelaki bermata bulat itu hingga ia terbangun. Lelaki itu bernama Wu Yi Fan.

“Mengapa kamu justru manja setelah kamu merebut perhatian dariku?!” Yi Fan bertanya balik dengan menggerutu.

“Apa katamu?! Merebut perhatian?!”

“Benar! Jika bukan karena kamu, aku mungkin tak merasa terbebani oleh sikap manjamu itu!”

“Mengapa kamu justru menyalahkanku?!”

“Karena aku tak menyukai wanita yang manja!”

Hae Ryung mulai mengatupkan bibir ranumnya dengan menahan geram setelah Yi Fan menyalahkan dirinya, “jika statusmu adalah mantan, aku sudah tak merasa peduli lagi padamu, bukan justru menggodaku!” lanjutnya hingga ia hampir kehabisan napas untuk sekadar mengoceh dan membentak. Tetapi, justru Hae Ryung yang lebih marah dari Yi Fan.

“Kamu mulai menyalahkanku karena aku telah menggodamu kemarin? Lantas, jika statusku sudah menjadi mantan, aku adalah wanita yang tak peduli dimatamu?! Justru kamu yang ingin modus terhadapku hingga aku kembali jatuh cinta padamu! Dan aku tak ikhlas dan tak rela jika kamu memiliki kekasih lain yang lebih cantik dariku!”

“Hentikan semua kekonyolanmu, Oh Hae Ryung! Aku mencintainya bukan karena kecantikan, melainkan dia sangat pintar dan baik hati! Dia juga sangat patut untuk menjadi istri idaman saya jika dia telah lulus suatu hari nanti!

“Kalau begitu, kamu akan menganggap aku adalah wanita jalang setelah menggodamu?!” Yi Fan kali ini menjadi diam dan tak tahu harus menjawab apa, “baiklah jika itu maumu. Karena kamu telah menganggap aku adalah wanita jalang, lebih baik aku akan memanggilmu dengan sebutan pria yang tak tahu diri. Sementang-mentang jabatanmu lebih tinggi dari yang lain, terutama sahabatmu itu, kamu sudah mulai merasa sombong atas jabatanmu itu. Dan bersiap-siaplah untuk menanti kehancuran hidupmu.”

Hae Ryung langsung saja pergi meninggalkan Yi Fan sendirian, akan tetapi tiba-tiba saja tubuh wanita itu tersungkur ke lantai sebelum melangkah keluar dari kamar Yi Fan. Entah apa yang terjadi dengan Hae Ryung, justru keringat bercucuran di dahinya.

Ini bukan salah Yi Fan jika Hae Ryung secara tiba-tiba ia pingsan. Entah mengapa ini bisa terjadi jika bukan Hae Ryung yang menjadi lemah dan tak berdaya. Membuat Yi Fan harus segera bertindak sebelum wanita itu sadar dan beraktivitas seperti biasanya. Tetapi, apa yang harus lelaki itu lakukan?

***

Mwo? Sekretaris Oh pingsan?” Eddy tampak sedikit terkejut saat Yi Fan memberitahu tentang kondisi Hae Ryung yang tiba-tiba pingsan. “Mengapa ini bisa terjadi?” lelaki berperawakan tinggi itu kembali bertanya.

“Aku… aku tidak tahu, Tuan Oh.” Jawab Yi Fan sedikit tergagap. Eddy menggigit bibirnya seraya memikirkan sesuatu.

“Apakah kamu sudah membawanya ke rumah sakit? Seharusnya dia sudah hadir dalam acara rapat dan Pak Hong pasti menganggapnya alasan ini tak berdasar.” Yi Fan teringat sesuatu setelah mendengar perkataan Eddy. Saat rapat nanti, tak ada yang tak hadir tanpa alasan apapun. Jika ada satu orang, dua orang, atau beberapa orang yang tak hadir dalam acara rapat nanti, mereka akan di-skorsing selama satu minggu dan gaji mereka akan dipotong setengah dari beliau.

Pasalnya, Hae Ryung memang tak hadir dalam kerjanya.

“Ra… rapat?”

“Apakah kamu tidak tahu bahwa hari ini diadakan rapat?” pertanyaan itu membuat Yi Fan kembali mengatupkan bibirnya. Jujur saja bahwa dia memang tidak tahu bahwa hari ini akan diadakan rapat nanti malam.

“Aku… aku…”

Belum selesai Yi Fan menjawab untuk menjelaskan masalah rapat itu, tiba-tiba seseorang mengetuk pintu dan akhirnya Yi Fan tak jadi menjawab. Kemudian, datanglah seorang wanita bersurai blonde pendek dengan mengenakan setelan serba hitam. Lipstik merah mudanya terlalu tebal sehingga Yi Fan enggan berniat untuk menoleh ke arah wanita itu. Sementara Eddy justru tertegun saat wanita itu melangkah dan berdiri tegap di samping Yi Fan, membuat lelaki bersurai hitam itu harus pamit dan keluar dari ruangan Eddy. Kini, hanya Eddy dan wanita bertubuh kurus yang masih di dalam ruangan.

Song Se Hin, wanita yang kala itu membuat Eddy harus jatuh ke lubang hitam akibat hubungan mereka berakhir. Yang terlebih dahulu putus adalah Se Hin dan tidak tahu apa alasan dibalik berakhirnya hubungan mereka. Dan Eddy harus menerima takdirnya untuk menemukan penggantinya. Sayangnya Se Hin justru mendorong Eddy kembali ke lubang yang sama akibat sebuah berita yang mengharuskan Eddy yang menanggungnya secara terpaksa.

Beberapa hari yang lalu, Eddy terpaksa ditahan di kantor polisi akibat tuduhan membunuh adik kandung Se Hin. Eddy menyangkal atas berita itu, tetapi seorang saksi mengatakan bahwa dialah pembunuhnya sehingga Eddy mau tak mau gajinya dipotong drastis. Untungnya, tuduhan bahwa Eddy membunuh adik kandung Se Hin itu bohong dan dapat terbukti kebenarannya dari CCTV. Belum dapat diketahui siapa pembunuh adik kandung Se Hin.

“Jika tidak ada yang mau dibicarakan, lebih baik kamu keluar saja dan…”

“Aku ingin mengatakan sesuatu kepada anda.”

“Tidak ada yang mau kita bahas selain tuduhan anda terhadap saya beberapa hari yang lalu.”

“Ini benar-benar serius. Dan aku mau kita berbicara empat mata sekarang.” Eddy tak bisa membantah perkataan karyawannya karena dianggap penting. Dan mau tak mau lelaki itu terpaksa bertemu kembali dengan wanita dihadapannya sekarang.

“Katakan padaku jika kamu anggap penting dan serius.” Ujar Eddy yang intonasinya berakhir dengan dingin dan tegas.

***

“Ya! Park Seo Yeol!” Ha Yeon tiada hentinya menyahut nama Seo Yeol saat gadis itu melangkah keluar dari kelasnya. Saat itu, mereka telah menyelesaikan ujian hari kedua mereka dan meluangkan waktu mereka untuk beristirahat sejenak sebelum kelas belajar kembali dimulai. Dan Seo Yeol berniat untuk pergi menuju perpustakaan untuk mempersiapkan materi untuk diuji esok.

Tiba-tiba saja, Seo Yeol menoleh ke belakang dan mendapati Ha Yeon yang setengah berlari menghampirinya. Namun, Seo Yeol tak melihat Ha Yeon bersama Hwan Hee. Biasanya sepasang kekasih itu selalu bersama dan tak pernah berpisah karena hal lain. Ini membuat Seo Yeol bingung. Apa mungkin Ha Yeon tengah sedih karena Hwan Hee?

“Ha Yeon-ah,” panggil Seo Yeol setengah kebingungan, “dimana Hwan Hee? Biasanya kalian selalu bersama setiap hari.” tanyanya.

“Dia sedang belajar bersama teman-temannya.” Jawab Ha Yeon sedikit menghela napas.

“Tumben dia bersama teman-temannya. Bukankah kamu yang sekelas dengannya ikut belajar?”

“Aih, Hwan Hee menolak seluruh teman-teman wanitanya untuk belajar karena dia ingin bersama teman-teman pria.”

Memang Hwan Hee adalah tipe pria yang menolak teman-teman wanita sekelasnya itu untuk belajar bersama. Bukan karena dia kikir dalam berbagi ilmu, melainkan hanya fokus belajar bersama teman-teman prianya saja. Terkadang teman-teman wanitanya itu bersikap berisik dan genit sehingga Hwan Hee enggan untuk belajar bersama mereka. Takut konsentrasinya terganggu akibat teman-teman wanitanya yang selalu menimbulkan keributan.

Inilah alasan Ha Yeon berpisah sejenak bersama Hwan Hee dan berniat untuk pergi bersama Seo Yeol. Lagipula dia adalah sahabatnya yang baik dan ramah.

“Kamu ingin pergi kemana?” tanya Ha Yeon sembari menyamakan langkahannya bersama Seo Yeol.

“Aku berniat untuk pergi ke perpustakaan sebelum perpustakaan itu tutup.” Jawab Seo Yeol yang tiba-tiba saja Ha Yeon mendengus.

“Mengapa kamu selalu pergi ke perpustakaan?” gerutunya.

“Karena aku senang membaca buku pelajaran.” Seo Yeol memang terbukti sebagai murid yang cerdas, meskipun sedikit orang lebih cerdas lainnya.

“Baiklah, aku ikut denganmu.” Ha Yeon terpaksa mengikuti kemana Seo Yeol pergi dan tanpa mereka sadari mereka mendengar jeritan histeris murid wanita. Seo Yeol menghentikan langkahnya dan mendengar asal jeritan tersebut. Sementara Ha Yeon merinding ketakutan karena jeritan mereka terdengar menyeramkan.

“A… apa yang terjadi?” tanya Ha Yeon dengan memeluk lengan Seo Yeol penuh ketakutan.

“Tak apa. Mungkin karena mereka melihat Jung Kook sunbae datang kembali ke sekolah untuk mengambil ijazah.” Dan benar dugaan Seo Yeol. Jung Kook – mantan senior Seo Yeol – datang dengan pakaian santainya, membuat banyak sekali teriakan histeris dari para murid wanita, terutama adik kelas yang paling hoobae.

“Bagaimana kamu tahu?” tanya Ha Yeon.

“Kemarin, setelah kita selesai ujian hari pertama, aku melihatnya datang ke ruang administrasi untuk berbicara sesuatu kepada pihak tata usaha. Dan kebetulan dia bertemu denganku saat aku hendak pergi ke perpustakaan. Aku dan dia sudah seperti saudara, meski kamu jarang berbicara.” Jawab Seo Yeol dengan menjelaskan, membuat Ha Yeon melingkarkan bibirnya – menanggapinya dengan berkata ‘oh’.

“Kamu sangat beruntung karena dia menganggapmu seperti adiknya. Semua hoobae kita pasti cemburu dan menganggap kamu adalah musuh bagi mereka.” Ha Yeon memasang ekspresi cemburunya, sama cemburunya saat para adik kelas mereka. Ini membuat Seo Yeol menahan senyum malunya.

“Aku dan dia tak pernah bertingkah seolah kita adalah sepasang kekasih.” Bantahnya sembari melihat Jung Kook yang melangkah memasuki ruang administrasi.

“Bagi mereka, mengapa Jung Kook sunbae sangat populer?” tanya Ha Yeon bingung.

“Dia tampan, pintar menari, menyanyi, dan rap. Segalanya dia memiliki bakat yang tak sadar dia dapat melakukannya. Tak hanya bakatnya, dia juga sangat tampan di sini,” jawab Seo Yeol saat mereka kembali memandangi para adik kelas mereka, bahkan adik kelas pria saja ikut histeris.

“Sayangnya, setelah dia lulus, sekolah menjadi sepi. Mereka semua tampak sedih karena Jung Kook sunbae telah lulus.” Lanjutnya ikut sedih.

“Mengapa jadi dirimu yang sedih? Kesedihanmu saja masih belum memudar. Ada apa denganmu sejak kemarin?” pertanyaan yang keluar dari mulut Ha Yeon cukup menyindir dan sukses membuat Seo Yeol tertegun. Ha Yeon sadar bahwa sejak tadi seharusnya tak usah bertanya dan beginilah Seo Yeol yang akhirnya kembali mengingat kekasihnya itu berselingkuh dengan wanita lain.

“Seo… Seo Yeol… Seo Yeol-ah… apakah pertanyaanku sejak tadi…” Ha Yeon tampak merasa bersalah karena pertanyaannya yang kembali mengiris hati Seo Yeol. Sayangnya, gadis itu malah enggan menanggapi dan pikirannya menjadi kacau. Jika bukan karena Ha Yeon saja pikiran di benak Seo Yeol tak sekacau tadi.

***

Se Hin menyodorkan amplop putih kepada Eddy, membuat lelaki itu tinggal diam. Bukannya meraih amplop, justru lelaki itu menoleh ke arah Se Hin. Apakah mungkin surat pribadi lagi? Tidak mungkin jika amplop itu bukanlah surat pribadi. Entah apa isi amplop putih itu, tetapi isinya cukup tebal. Eddy segera meraih amplop tersebut tanpa melepaskan pandangannya dari Se Hin. Sayangnya, lelaki itu tak merobek bagian sisi amplop, melainkan hanya disimpan saja tanpa menimbulkan penasaran.

Eddy memang masih mencintai Se Hin, meski wanita itu telah mencampakkannya. Dan lelaki itu tak ada niat untuk menemukan penggantinya. Wanita mana yang lebih dicintai Eddy selain Se Hin.

“Mengapa kamu justru menatapku?” tanya Se Hin cukup dingin, membuat Eddy mengedip, lalu mengalihkan pandangan tertuju ke sebuah jendela besar.

“Jika kamu hanya menyodorkanku ini, tak ada lagi yang harus kita bicarakan. Apakah kamu masih menuduhku dengan kasus masa lalumu?” Eddy bertanya balik.

“Soal kasus pembunuhan itu, memang aku yang menyeretmu ke sebuah kasus.” Jawab Se Hin dengan teganya tak mengasihani keadaan Eddy.

“Mengapa kamu menuduhku?”

“Karena aku mulai membencimu. Dan kebencian ini telah membawamu ke sebuah kasus yang sebenarnya bukan kamu pelakunya.” Eddy menahan geramnya saat mendengar alasan Se Hin yang begitu mencekam.

“Apakah kamu akan kembali menyeretku ke sebuah masalah baru agar aku segera dikeluarkan dari gedung ini?” lelaki bersurai cokelat itu menahan geramnya dengan menyertakan sebuah pertanyaan dari mulutnya. Tangannya kemudian merogoh amplop putih yang Se Hin sodorkan tadi.

“Lalu, jika amplop ini berisikan sejumlah uang tunai, mungkin aku berada dalam masalah lagi.” Eddy berhasil membuat Se Hin mengatupkan bibirnya, kemudian lelaki itu menyodorkan kembali amplop putih itu ke meja kacanya. Se Hin kali ini merasa kesal dan menahan amarahnya yang bergejolak di hatinya.

“Kamu boleh saja marah padaku, tetapi kelicikanmu tak akan pernah mendatang padaku. Kamu yang lebih jenius dari orang lain, tetapi justru jenius dalam hal menipu orang. Pantas saja korbanmu sangat banyak sehingga mereka membencimu.” Se Hin akhirnya meraih kembali amplop putih tersebut, kemudian melenggang pergi dari ruangan Eddy. Wanita itu membanting pintu ruangannya hingga dinding kacanya cukup bergetar sekilas.

Eddy malah akhirnya menyesal, bukan turut senang. Bukan karena berhasil jeblos dari tipuan Se Hin, justru lelaki itu membuat mantan kekasihnya itu marah. Nyawanya hampir merosot dan kini malah dia yang kalah. Perlahan ia menggigit bibirnya dengan menahan kesalnya. Tangannya kemudian meremas bagian bawah jasnya saking menyesalnya ia.

***

Malam harinya, Eddy melangkah keluar dari gedung perkantorannya dengan perasaan sedikit berkecamuk setelah menghadiri rapat. Melirik sejenak sepasang kekasih yang tengah berciuman di bawah pohon, membuat hati Eddy kian memanas. Wanita itu tak lain adalah Se Hin yang tengah berciuman dengan kekasih barunya. Eddy juga mulai membenci dan enggan untuk bersahabatan lagi dengan lelaki itu. Tubuhnya yang bak tiang listrik dan tampan yang membuat Se Hin menyukainya.

Tetapi Eddy langsung melangkah ke arah lain tanpa menghiraukan sepasang kekasih yang kembali bermesraan dengan kecupan yang mesra. Eddy justru menitikkan air matanya kala ia melihat sepasang kekasih itu berhubungan mesra tanpa ada seorang pun yang tahu. Lelaki itu menghela napas panjang dan mencoba untuk melupakan kejadian yang telah berlalu dan sekarang. Se Hin sudah cukup tepat untuk dijadikan lelaki lain sebagai calon istri, bukan Eddy. Dan menganggap Se Hin adalah teman kerja Eddy, bukan kekasih.

“Ahjussi!” tiba-tiba, sebuah sahutan cukup mengagetkan Eddy dan lelaki itu segera mengusap air matanya sebelum seseorang berlari menghampirinya. Tetapi ini sudah terlanjur membuat orang itu bertanya-tanya.

“Apakah anda kembali bermabuk-mabukkan?” ternyata dia adalah Seo Yeol. Eddy menggeleng pelan dengan senyumannya yang manis, membuat Seo Yeol akhirnya tersipu.

Ani, saya hanya kelelahan saja.” Jawab Eddy berbohong.

“Aku merasa kesepian. Sahabatku pulang bersama kekasihnya. Sementara aku harus pulang sendirian tanpa ada yang menemaniku.” Seo Yeol merasa sedih karena Ha Yeon telah berjanji untuk pulang bersama Hwan Hee sekaligus belajar bersama. Eddy malah tertawa kecil mendengar keluhan Seo Yeol.

“Maukah aku menemanimu?” Seo Yeol hampir merasa kegirangan saat Eddy mengajaknya untuk mencari udara segar. Gadis itu mengangguk pelan dengan perasaan senangnya. Untung-untung ada Eddy jika Seo Yeol tak segera diculik orang lain.

Dan pada akhirnya, mereka pergi ke sebuah taman yang tak ada lagi pengunjung. Saat itu, suasananya malah menjadi hening dan bingung mereka harus memulai darimana. Seo Yeol hanya memandang langit gelap yang ditaburi kilauan bintang. Sementara Eddy justru merenung karena segala perkataannya yang malah membuat Se Hin marah dan kecewa, meski rencana yang dibuat wanita itu sungguh licik dan tak tahu diri. Tetapi, lelaki bersurai cokelat itu perlahan-lahan melirik Seo Yeol yang cukup senang dengan bintang yang menyinari dunia malam.

“Seo… Seo Yeol-ssi.” Eddy merasa cukup canggung saat ia memanggil nama Seo Yeol, membuat gadis itu menoleh ke arahnya dan mereka saling bertatapan. Sayang, Eddy segera mengalihkan pandangan ke arah lain.

“Aku… aku ingin bercerita kepadamu. Bolehkah?” tanya Eddy pelan dan hati-hati.

“Tentu saja. Selama ahjussi bercerita, saya boleh mendengar cerita anda.” Seo Yeol memilih menjawab pertanyaan Eddy selama lelaki itu harus bersikap sopan.

Dan Eddy memulai ceritanya dan tentu saja mengenai mantan kekasihnya itu, Song Se Hin. Seo Yeol tampaknya menikmati cerita demi cerita dari bibir Eddy. Gadis itu tiba-tiba saja tertegun saat tahu bahwa Se Hin telah berbuat tega dan tanpa berpikir panjang dalam hal kasus Eddy yang sebenarnya hanya tuduhan. Betapa jahatnya Se Hin terhadap mantan kekasihnya agar dapat hidup bahagia bersama kekasih barunya. Tentu saja Seo Yeol merasa kasihan terhadap kehidupan Eddy yang akhirnya harus berjuang keras agar mendapatkan gajinya yang telah dipotong lebih dari setengah.

“Kalau boleh tahu… siapa kekasihnya?” Seo Yeol tampak penasaran dengan setengah menginterogasi.

“Jika saya menjawab pertanyaan anda, mungkin anda akan mengetahui lelaki itu.” jawaban yang keluar dari mulut Eddy justru menambah rasa keingintahuan Seo Yeol. Gadis belia itu tak peduli siapapun lelaki yang menjadi kekasih Se Hin sekarang.

“Dia… dia adalah…”

“Park Seo Yeol-ah!” tiba-tiba saja Eddy tak menjawab pertanyaan sebelumnya karena seseorang memanggil nama lengkap Seo Yeol dengan sahutan yang jelas. Seo Yeol dapat mengenal jelas siapa yang memanggil dan Eddy terlebih dahulu memutarkan kepalanya ke belakang. Seorang lelaki berperawakan tinggi bak tiang listrik itu, ekspresinya menunjukkan ketidak senang. Bisa diartikan bahwa dia sedang cemburu. Sementara Seo Yeol enggan untuk melihat ke belakang karena ia sedang tak ingin melihat lelaki itu.

“Seo Yeol-ssi,” Eddy merasa kebingungan dengan panggilan yang keluar dari bibir lelaki di belakang mereka. Sapaan yang informal dan jelas akrab. “Apakah kamu…”

“Lebih baik kita pergi saja daripada membuang waktu disini.” Seo Yeol segera bangkit dari kursi panjangnya dan melangkah pergi sebelum lelaki lain itu kembali menyahut.

“Mengapa kamu pergi bersama lelaki lain?! Apakah kamu tahu bahwa aku sedang mencarimu ke segala penjuru tempat?! Ternyata kamu sedang bersama lelaki lain yang tak lain adalah temanku sendiri!” Seo Yeol tetap tak mengindahkan perkataan lelaki lain itu, sementara Eddy segera mengejar Seo Yeol dan menyeret gadis itu agar membuatnya nyaman.

“Apakah kamu sedang berkencan dengan Eddy?!” lelaki bersurai hitam itu kembali bertanya, membuat Seo Yeol melepaskan pegangan tangan Eddy dan menutup telinganya dengan tangannya. Gadis bersurai hitam itu enggan mendengar pertanyaan semacam hubungan khusus dengan Eddy.

“Apakah kamu memiliki hubungan khusus dengannya?” tiba-tiba saja Seo Yeol dapat melihat lelaki dihadapannya, membuat Eddy segera menjauhkan pandangan Seo Yeol dari lelaki lain, yang tak lain adalah Yi Fan.

“Jawab pertanyaanku, Seo Yeol-ah! Jangan hanya diam saja hanya karena Eddy!” Yi Fan mulai membentak Seo Yeol, membuat gadis itu semakin diam dan sedikit ketakutan.

“Apa yang telah kamu lakukan?! Dia masih muda dan kamu malah membentaknya!” Eddy akhirnya membentak Yi Fan sebagai perlindungan Seo Yeol dari bentakan orang lain yang akan mengancam psikologisnya, terutama gadis itu tengah menghadapi ujian nasional.

“Lantas, apa yang sedang kamu lakukan terhadap kekasihku?!” tanya Yi Fan yang hendak mengajak Eddy untuk berdebat.

“Kekasih?! Bhak! Lelaki sepertimu masih menyebut dirimu kekasih Seo Yeol?!” Eddy tertawa tak percaya hingga Yi Fan segera menyeret Seo Yeol menjauh dari Eddy, sayangnya Seo Yeol menghentakkan kakinya dan langkahan mereka terhenti karena Seo Yeol.

“Seo… Seo Yeol-ah…”

“Menjauhlah dariku, Yi Fan-ssi.” Yang Yi Fan dengar kali ini terasa asing karena Seo Yeol telah menggunakan sapaan sopan terhadap orang yang lebih tua.

“Menjaulah dariku atau aku akan melaporkan ini ke kantor polisi.” Ancam Seo Yeol yang membuat Yi Fan melepaskan tangan gadis dihadapannya. Sementara Eddy malah memerhatikan mereka dengan tatapan yang cukup memanas.

“Seo… Seo Yeol-ah…”

“Anda sudah membentak saya dan kali ini saya harus menahan tangis akibat bentakan anda terhadap seorang gadis yang kini telah menginjak usia cukup umur. Tetapi, saya, secara pribadi, masih merasa tertekan dengan bentakan anda sejak tadi. Ini mengingatkanku saat anda membentak saya karena nilai ujian sekolahku tak mencapai nilai sangat sempurna. Sekarang, anda tak berhak untuk membentak saya kali ini.” sebelum Seo Yeol hendak melangkah pergi meninggalkan Yi Fan, justru lelaki berperawakan tinggi itu kembali meraih tangan Seo Yeol hingga tubuhnya berbalik menghadapnya. Kali ini Yi Fan harus menahan amarahnya sebelum emosinya memuncak.

“Mengapa kamu tiba-tiba berubah menjadi dingin seperti ini? Apakah karena lelaki itu?” Yi Fan menunjuk Eddy yang hendak melangkah menghampiri mereka.

“Aku dan dia belum mengenalku, tetapi…” Seo Yeol segera melirik Eddy saat lelaki itu berdiri di sampingnya, “dia sudah kuanggap kekasihku sendiri karena aku merasa nyaman dengannya.”

 

DEG!

 

Eddy merasa sangat terkejut dengan pernyataan Seo Yeol yang palsu itu. Hatinya memang merasa kegirangan, tetapi belum pernah ia temukan seorang gadis yang dianggapnya kekasih tanpa status. Sementara Seo Yeol segera meraih tangan Eddy, kemudian izin pamit kepada Yi Fan untuk pulang. Ini membuat suasana diantara mereka semakin canggung, mengingat Eddy bertemu dengan Seo Yeol untuk kedua kalinya dan tak pernah menganggap gadis itu kekasihnya. Bagi Eddy, Seo Yeol sudah seperti teman dekatnya sendiri karena Seo Yeol ingin mendengar cerita yang keluar dari mulut Eddy.

Sementara Yi Fan menahan geramnya karena pernyataan palsu tersebut. Memandang Seo Yeol yang tengah menarik tangan Eddy untuk pergi meninggalkan taman. Yi Fan tahu dirinya merasa bersalah dengan sikap Seo Yeol yang kian dingin. Dan lelaki itu tak berhak untuk mengetahui dibalik perubahan sikap Seo Yeol karena gadis itu telah mengetahui kebenarannya. Dan terlebih lagi, Yi Fan tak perlu membahagiakan Seo Yeol karena terlanjur membuatnya sakit hati.

Dia tak mungkin bersikap dingin terhadapku, kan? Tetapi, apakah dia mengetahui kebenaranku ini? Apakah kamu tahu bahwa aku merindukanmu, Seo Yeol-ah? Kamu boleh marah padaku karena aku telah mencampakmu. Batin Yi Fan dengan menahan sakitnya yang hatinya diiris pisau. Padahal kenyataannya Seo Yeol tak memiliki hubungan khusus dengan Eddy.

 

To be continued…

 

3 responses to “[Freelance] When a Man Loves (Part 2)

  1. Mantan kekasih Seoyeol itu Yi Fan? Dan pacarnya Se Hin sekarang Yi Fan? Terus Hae Ryung apanya Yi Fan? Jadi bingung tp gereget bacanya ~
    updatenya jangan lama lama soalnya penasaran banget , baca ff ini kayak tebak teka teki😀 ^^
    Fighting! Semoga aja nggak nge-blank sampai ff ini END

  2. Pingback: [FREELANCE] When a Man Loves Part 4 | SAY KOREAN FANFICTION·

  3. Pingback: [FREELANCE] When a Man Loves Part 5 | SAY KOREAN FANFICTION·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s