The Day [1/3]

req-byeonieb-the-day-by-laykim

The Day

-ByeonieB@2016-

 

“My heart can’t ever forget you”

 

Byun Baekhyun & Han Minjoo (OC) || Marriage-Life, Angst, Romance, Drama || PG-18 || Three-Shots || Poster by Laykim @ Indo Fanfictions Arts

Inspired by The DayBaekhyun&K-Will.

🌾 🍁 🍂 🍀 ☘ 🌿 🌼 🌼 🌼 🌼 🌿 ☘ 🍀 🍂 🍁 🌾

H A P P Y  R E A D I N G

🌾 🍁 🍂 🍀 ☘ 🌿 🌼 🌼 🌼 🌼 🌿 ☘ 🍀 🍂 🍁 🌾

Ini bukanlah kisah perjodohan seperti masa dinasti Joseon. Bukan juga seperti kisah pangeran dan putri yang dijodohkan karena sesama memiliki darah bangsawan. Pernikahan ini terjadi murni ketika dua pasang manusia, dua pasang hati dan dua pasang jemari manis mereka menyatu karena cinta.

Di dalam kamar itu, Minjoo terduduk diam di atas kasurnya sambil memeluk kakinya. Di hadapannya kini sedang ia jejerkan semua foto yang ia ambil ketika bersama suaminya, di masa indah mereka sebulan, dua bulan, satu tahun dan bahkan beberapa tahun silam.

Tanpa ia sadari, air mata itu jatuh satu per satu ketika ia menyentuh foto itu. Menyentuh semua kenangan manis mereka di masa lalu.

“Baekhyun-ah..”

🌾 🍁 🍂 🍀 ☘ 🌿 🌼 🌼 🌼 🌼 🌿 ☘ 🍀 🍂 🍁 🌾

The Day

🌾 🍁 🍂 🍀 ☘ 🌿 🌼 🌼 🌼 🌼 🌿 ☘ 🍀 🍂 🍁 🌾

Mungkin matahari sudah berada pada ufuknya, sudah mulai menyinari sebagian muka bumi ini dengan cahaya berkekuatan 1 juta hertz. Mungkin juga seluruh ayam para peternak sudah mengeluarkan ‘morning-call’nya untuk membangunkan para umat manusia dari istirahat panjangnya selama matahari bersembunyi.

Ya itu mungkin saja terjadi, pikir Minjoo yang sebenarnya sudah terbangun sejak 10 menit yang lalu hanya saja Minjoo masih membiarkan tubuhnya terbaring sambil mengenyampingkannya menghadap seorang lelaki yang berstatus sebagai suaminya, Baekhyun. Membiarkan matahari serta ayam-ayam itu menyuarakan ‘tarian pagi’ mereka tanpa mau mempedulikannya.

Minjoo tersenyum begitu cerah, tersenyum gemas sambil menggerakan jemari tangan kanannya di atas wajah suaminya. Entah itu Minjoo menyentuh pipi Baekhyun, menyentuh hidung Baekhyun atau menyentuh bibir Baekhyun. Minjoo juga menyentuh dan sedikit mencubit gemas tahi lalat yang terdapat di ujung bibir Baekhyun. Menurutnya, tahi lalat itu adalah hal termanis yang Baekhyun miliki dan itu tidak ada pada pria lain selain Baekhyun.

“Minjoo..”

Baekhyun merenguh saat Minjoo sengaja memainkan tahi lalatnya semakin gemas. Minjoo sendiri juga tidak tahu kenapa ini terjadi pada Minjoo sejak 10 menit yang lalu. Yang Minjoo tahu, saat pertama kali ia membuka matanya dan melihat Baekhyun di sampingnya, jantung Minjoo langsung begitu berdegup dengan kencang. Hatinya begitu meletup-letup, seakan-akan dia bahagia sampai langit ketujuh. Membuatnya ingin terus menyentuh prianya, membuatnya ingin membangunkan prianya dan lalu bercuddling seperti setiap malam yang mereka lakukan sebelum tidur.

“Selamat pagi, Baekhyun-ku..” ucap Minjoo sambil masih memainkan bibir Baekhyun. Saking gemasnya, bahkan ia mencubit bibir Baekhyun hingga menggerakan kepala Baekhyun ke kanan dan ke kiri.

“Ya… Apa yang kau lakukan…” tutur Baekhyun masih dengan lemas karena masih mengumpulkan nyawanya yang hilang selama ia tidur. Minjoo hanya menanggapi renguhan Baekhyun dengan kekehan sambil mencubit bibir Baekhyun dengan semakin gemas lagi. “Aku bilang, ‘Selamat pagi, Baekhyun-ku..’”

“Iya, selamat pagi, Minjoo-ku..” Baekhyun membalas sambil mengangkat tangan Minjoo dari mulutnya dan kemudian ia menaruh tangan Minjoo didadanya, menggenggam sekaligus memeluknya dengan erat. “Ada apa huh? Sampai-sampai kau membangunkanku dari tidur tampanku..”

“Ck.” Minjoo mendorong dada Baekhyun pelan lalu melepas tangannya dari genggaman Baekhyun. “Percaya diri sekali bilang dirimu tampan, Baek..”

Baekhyun tersenyum sambil kini sedikit membuka matanya untuk melirik pada Minjoo, “Kan dirimu sendiri yang bilang bahwa aku itu pria paling tampan versi duniamu..” lalu kemudian Baekhyun ikut mengeyampingkan tubuhnya sama seperti Minjoo serta menghadap gadis itu sempurna. “Coba kau lihat, mataku hitam, hidungku mancung, kulitku putih dan bibirku tipis. Bukankah aku tampan?”

Mendengar perkataan Baekhyun tentu membuat Minjoo tertawa bukan main. Ya Tuhan, saat Baekhyun berkata seperti itu ia persis sekali seperti bocah 5 tahun.

“Ya! Apa itu…” Minjoo pun menghentikan gelak tawanya lalu mencubit kedua pipi Baekhyun dengan gemas, “Tapi ya… kau benar. Kau suamiku paling tampan di dunia ini dan aku sangat-sangat menyukaimu!” tuturnya dengan semangat.

Baekhyun hanya terkekeh pelan lalu melakukan hal yang sama seperti Minjoo lakukan padanya, “Istriku juga istri paling cantik di dunia ini dan aku sangat-sangat mencintainya!” ucapnya tak kalah semangat dari Minjoo. Mendengar ucapan Baekhyun membuat Minjoo terkekeh pelan. Tak kuasa menahan gejolak yang ada di dalam tubuhnya, selanjutnya Minjoo malah mengecup bibir Baekhyun dengan kilat.

“Aku mencintaimu juga, Byun Baekhyun.”

Mendapat ‘serangan dadakan’ seperti itu lantas membuat Baekhyun kaget namun senang bukan main. Matanya ia picingkan pada Minjoo namun detik selanjutnya Ia langsung bangkit dan menahan Minjoo dibawahnya.

“Kau mau memancingku, huh?”

Minjoo tertawa lalu ia mengkondisikan dirinya seperti gadis murahan di luar sana dengan menarikan jemarinya di atas dada Baekhyun, “Kalau iya.. bagaimana?”

Baekhyun terkekeh pelan lalu ia menarik tangan Minjoo dari dadanya, kemudian mengusap lembut jemari Minjoo. “Kau sedang merindukanku ya?” lalu dia mengecup setiap jemari Minjoo. “Sampai-sampai kau menggodaku seperti itu..”

Minjoo mengangguk seperti anak anjing, “Hm, aku merindukanmu. Saat aku melihatmu tadi pagi rasanya aku ingin memelukmu begitu erat sampai kau sesak nafas karena ya aku sangat-sangat merindukanmu..”

Mendengar perkataan Minjoo tentu membuat Baekhyun terenyuh. Memang, akhir-akhir ini Baekhyun sedang disibukkan dengan pekerjaannya hingga waktunya bersama Minjoo sedikit ia ambil untuk melakukan pekerjaannya. Belum sepenuhnya mengambil waktunya bersama Minjoo, ralat Baekhyun.

“Ya sudah, bagaimana kalau 5 menit lagi baru kita bersiap untuk pergi kerja?” tanya Baekhyun sambil memosisikan tangannya  memeluk pinggang Minjoo.

Minjoo tampak berpikir sebentar, lalu kemudian ia menaruh tangannya di bahu Baekhyun. “15 menit? Sekali-kali telat tidak apa kan, Baek?” ujarnya sambil tersenyum memohon.

“Astaga..” Baekhyun memundurkan wajahnya lalu menggeleng-gelengkan kepalanya melihat Minjoo. “Minjoo-ku benar-benar merindukanku ya?”

Minjoo pun hanya terkekeh pelan namun setelahnya ia melingkarkan lengannya di leher Baekhyun hingga membuat hidung mereka bersentuhan.

“Oh ayolah Baekhyun.. sekali ini saja, hm?” ujarnya memohon lagi.

Baekhyun tertawa sedetik lalu sedetik selanjutnya ia langsung mengulum bibir Minjoo dengan dalam.

“Iya, iya. Minjoo-ku.”

.

.

.

Hari itu pekerjaan Baekhyun tidaklah terlalu banyak. Hanya mengecek beberapa kerjaan dari staffnya untuk didokumenkan setelahnya. Tapi, itu tidak berarti Baekhyun tidak sibuk. Nyatanya, ia sangat sibuk.

Masih ingat saat Baekhyun bilang bahwa ia akhir-akhir ini sedang sibuk? Sekitar satu minggu yang lalu, ada kejadian cukup besar yang terjadi di perusahaan tempat dimana Baekhyun bekerja, Polar Corporation. Polar Corporation adalah perusahaan yang menyediakan berbagai banyak jasa, mereka membuat supermarket, membuat statiun televisi, sekolah dan banyak lainnya. Salah satu perusahaan terbaik di Korea Selatan.

Tentunya itu membuat Polar Corporation menjadi sangat terkenal akan kekayaannya hingga salah satu rekan Baekhyun yang memengang kepala divisi keuangan ketahuan menggelapkan uang perusahaan hingga beratus juta won. Tentu saja itu membuat Polar Corpoation rugi besar-besaran hingga kehilangan sahamnya beberapa persen, mungkin menebus angka 10%.

Karena kerugian yang besar-besaran itulah, para petinggi perusahaan menyuruh Baekhyun sebagai kepala manajemen perusahaan serta kepala divisi yang lain untuk membuat suatu proyek baru.

“Kita akan membuat proyek baru, yaitu kita akan membuat sebuah apartemen berkelas dengan nama Light Apartemen.” Ujar CEO dari Polar Corporation, Kim Junmyeon. “Kita akan membangun sebuah apartemen klasik bernuansa barat dan terletak di tengah kota Seoul. Aku yakin, dengan begitu Light Apartemen ini bisa naik daun hanya dalam waktu beberapa bulan saja.”

Para kepala setiap divisi pun mengangguk setuju dengan perkataan CEO Kim.

“Kalau begitu, hal pertama yang harus kalian lakukan adalah mencari sebanyak-banyaknya investor yang mau bekerja sama dengan kita.” CEO Kim kemudian menunjuk seorang lelaki yang duduk di sebelah Baekhyun, Park Chanyeol, “Dan itu akan menjadi tugasmu, Park Chanyeol.”

“Baiklah, Tuan Kim.” Chanyeol mengangguk mengiyakan.

“Dan kau.. Byun Baekhyun, kau harus bisa menarik para investor itu agar dia mau bekerja sama dengan kita. Buat proyek ini menjadi terlihat sangat menarik di mata mereka.”

Baekhyun mengangguk, “Baik, Tuan.”

.

.

.

Minjoo tersenyum cerah sambil sesekali melantunkan lagu kesukaannya. Tangannya kini dibalut oleh sarung tangan plastik dan sarung tangan itu berlumuran tanah. Di hadapannya terdapat bunga yang sedang ia urus dalam toko bunganya, Han’s Florist. Ya, Minjoo adalah pemilik toko bunga yang berada di sebrang jalan Myeondong itu.

Minjoo selalu menyukai bunga. Baginya, bunga adalah salah satu ciptaan Tuhan yang paling indah. Lihatlah mereka, tubuh mereka begitu rentan dan cantik. Saking rentan dan cantiknya, manusia kerap kali enggan menyentuh bunga karena mereka takut merusak kecantikannya. Bunga selalu melambangkan kehidupan untuk seorang Han Minjoo.

Tring.

Suara bel dari pintu tokonya terdengar oleh Minjoo, membuat Minjoo menolehkan wajahnya ke belakang, berusaha melihat siapa pelanggannya meskipun ia tidak bisa melihat karena ia sedang berada di ruang belakang dimana tempat bunga-bunga yang belum siap di jual di simpan.

“Yeri-ya.. kau dimana? Ada pelanggan, tanganku kotor dan aku tidak bisa melayani mereka dahulu..” teriaknya pada asistennya di toko bunga itu.

Suara derap langkah dari ruangan sebelah terdengar oleh Minjoo, lalu detik selanjutnya seorang gadis berumur 5 tahun lebih muda dari Minjoo muncul menggunakan seragam berwarna turquoise di campur pink—warna dari toko Minjoo.

“Baiklah, eonnie.” Ucap Yeri lalu hendak melangkah ke ruang depan, toko bunga Minjoo.

“Maafkan mengganggu waktu belajarmu, Yeri-ya..”

Yeri hanya tersenyum sambil membulatkan jemari telunjuk dan jempolnya, “Tidak apa-apa, Eonnie.”

Sepeninggal Yeri ke ruang tokonya, Minjoo kembali memfokuskan dirinya untuk merawat bunga-bunga itu. Minjoo sedang mencoba untuk menyelamatkan bunga mawar putihnya yang hampir mati dengan memindahkannya ke pot yang baru untuk dirawat kembali. Sayang sekali bukan jika satu mawar mati?

Tak jauh dari situ, Minjoo mendengar suara derap langkah lagi mendekatinya. Minjoo pikir, Yeri telah kembali menuju ruangannya maka dari itu Minjoo pun menolehkan wajahnya ke belakang.

“Yeri-ya, memangnya ujianmu—“

“Halo, Minjoo-ku!”

Jantung Minjoo rasanya naik sampai ke tenggorokan saat Baekhyun tiba-tiba memeluknya dan mengagetkannya dari belakang. Dengan kesal, Minjoo menepuk tangan Baekhyun yang berada di perutnya, “Ya! Kau membuatku ingin pingsan rasanya!”

Baekhyun terkekeh pelan lalu mengecup pipi Minjoo kilat, “Kau sedang apa, Han Minjoo?”

Masih kesal dengan Baekhyun yang mengagetinya, Minjoo pun mendorong-dorong perut Baekhyun untuk menjauh darinya. “Sana, aku masih terlalu kaget jadi aku membencimu.”

Yeri yang sedang berjalan untuk menuju ke ruangannya kembali pun tertawa melihat Minjoo yang kesal pada Baekhyun, “Eonnie, itu pelanggannya. Katanya, dia ingin mengganggumu.” Ucapnya sambil tertawa di akhir kata.

Minjoo mendengus sebal, “Lain kali kalau pelanggannya seperti dia, lebih baik kau langsung tutup saja tokonya. Kita tidak menerima pelanggan yang bertujuan mengganggu pemilik tokonya.”

Baekhyun dan Yeri pun tertawa serempak mendengar ucapan Minjoo. Sambil mencoba untuk memeluk Minjoo kembali, Baekhyun menambahkan, “Kau yakin ingin mengusir pelanggan setampan diriku?”

“Cih, bahkan rasanya aku ingin mengusirmu detik ini juga, Baek.”

Yeri tertawa pelan, “Eonnie jangan seperti itu, kan eonnie bilang padaku bahwa eonnie merindukan Baekhyun Oppa, bukan? Baekhyun Oppa terlalu sibuk dengan pekerjaannya sehingga waktunya bersama Eonnie jadi tersisihkan.. Sekarang, gilirian Baekhyun Oppa berada disini Eonnie malah mengusirnya..”

Minjoo pun melirik Yeri dengan geram, “Terima kasih karena telah mengucapkannya, Kim Yeri.”

Baekhyun dan Yeri pun tertawa kembali mendengar ucapan Minjoo.

“Omong-omong, benar juga..” Minjoo melirikkan matanya ke jam tangannya, “Sekarang baru pukul 4 sore. Kau sudah pulang, Baek?”

Baekhyun mengangguk mengiyakan.

“Cepat sekali?”

Baekhyun kemudian melepaskan tangannya dari perut Minjoo, “Jadi kau ingin aku pulang malam, begitu?”

Minjoo terkekeh pelan, “Tidak.. aku bertanya, Baekhyun. Memangnya pekerjaanmu sudah selesai?”

“Sebenarnya belum hanya saja aku beserta rekan-rekan kepala divisi yang lain disuruh beristirahat dahulu karena sudah hampir dua minggu kami bekerja larut di kantor, Minjoo-ya..” Sebenarnya ada sesuatu yang ingin Baekhyun bicarakan dengan Minjoo. Hanya saja, Baekhyun rasa tempatnya bukan disini. Ia pun mencoba untuk mengalihkannya, “Pekerjaanmu sudah selesai? Kalau belum, sini kubantu.”

Minjoo melirik kembali ke bunga yang dipegangnya, “Tidak usah, Baek.” Kemudian ia menaruh bunga itu di pot yang baru, memasukkan tanahnya dan lalu merapihkannya. Terakhir, ia menyiramnya dan menaruh pot beserta bunga itu di tempat sebelumnya.

“Aku sudah selesai. Karena kau pulang cepat, jadi sebaiknya kita pulang cepat juga. Aku akan memasakan sesuatu yang spesial untukmu.”

Baekhyun tertawa pelan, “Baiklah.”

“Yeri-ya.. kau boleh ikut pulang juga, besok kau ujian kan? Lebih baik kau belajar di rumah saja, tokonya kita tutup sampai jam 4 saja hari ini..” Yeri adalah salah satu pegawainya yang masih duduk di bangku sekolah, tingkat akhir.

Yeri mengangguk-angguk, “Terima kasih, Eonnie. Kalau begitu aku akan mengambil tasku dan langsung pulang.” Ucapnya lalu meninggalkan Baekhyun dan Minjoo berdua.

Setelah Yeri pergi mengambil tasnya, Minjoo menghadap Baekhyun sebentar, “Aku juga akan mengambil tasku dulu ya, kau tunggu sini.”

“Sebentar.” Tutur Baekhyun menghentikan langkah Minjoo dan Minjoo pun kembali menghadap Baekhyun.

“Kenapa?”

Baekhyun memerhatikan mata Minjoo, tersenyum dan lalu kemudian mencium kening Minjoo setelahnya.

“Aku juga merindukanmu, Minjoo.” Ucapnya setelah ia melepas bibirnya dari kening Minjoo. “Sangat merindukanmu.”

Minjoo tersenyum. Ah, Baekhyun.. kau membuat Minjoo selalu semakin menyayangimu.

“Iya, aku tahu.”

.

.

.

Baekhyun membaca buku di atas kasurnya sambil menyandarkan punggungnya di sandaran tempat tidur. Hari ini, setelah Minjoo memberikannya masakan spesial ditambah mereka menonton televisi bersama cukup menaikkan mood Baekhyun yang sebelumnya sedang turun karena pekerjaannya. Sebenarnya.. Baekhyun beserta rekan-rekannya dipulangkan cepat hari ini karena satu sampai dua minggu ke depan, Baekhyun beserta rekan-rekannya itu mungkin akan susah pulang karena harus mengerjakan pekerjaan mereka di kantor. Terlebih Baekhyun, karena ia kepala manajemen perusahaan berarti ia harus mengeluarkan seluruh akalnya untuk memikirkan strategi pemasaran tersebut.

Baekhyun mendesis kesal lalu menutup bukunya. Moodnya tiba-tiba menghilang ketika memikirkan pekerjaannya. Rasanya.. ia ingin marah pada semua orang di dunia karena waktunya yang seharusnya ia habiskan bersama Minjoo harus ia tukar untuk mengerjakan pekerjaan sialan itu. Jika pekerjaan itu tidak menghasilkan uang untuk memenuhi kebutuhan Minjoo, Baekhyun bersedia sekali membuang pekerjaan itu ke tempat sampah dan membakarnya.

Minjoo keluar dari kamar mandi setelah melakukan rutinitasnya sebagai seorang wanita sebelum tidur.

“Kau belum tidur, Baek? Kau bilang tadi mengantuk makanya kau ingin berhenti menonton televisi..” ucapnya lalu berjalan menuju meja riasnya. Menyisir rambutnya.

“Mana mungkin aku tidur jika kau belum disini, sayang..” Baekhyun kemudian menepuk-nepuk kasur sebelahnya yang kosong, tempat Minjoo tidur tentunya. “Sini kemari. Ayo kita tidur, tidak usah menyisir rambutmu biar aku yang menyisirnya dengan jariku nanti.”

Minjoo terkekeh pelan, “Astaga, Baek. Tanganmu itu sisir memangnya huh..”

“Tanganku bisa jadi apa saja asal itu untukmu, Minjoo-ku.”

Minjoo kemudian menaruh sisirnya dan setelahnya ia langsung beranjak pada kasurnya. “Dasar penggombal.” Ucapnya sambil mencubit pipi Baekhyun. Setelahnya, Baekhyun langsung menarik Minjoo pada pelukannya hingga akhirnya mereka berbaring di atas kasur dengan tubuh yang saling terkait.

“Minjoo-ya..”

“Hm?”

“Jika aku tidak pulang selama satu sampai dua minggu.. apa kau akan marah?”

Minjoo sedikit terkejut. Satu bahkan dua minggu adalah waktu yang bukan sebentar. Membayangkan diri Minjoo tanpa Baekhyun dalam waktu selama itu cukup membuat hati Minjoo sesak saat ini.

“Memangnya kenapa..?”

Baekhyun tahu pasti Minjoo akan kecewa mendengar perkataannya. Baekhyun pun melepas pelukannya lalu menatap mata Minjoo. Satu tangannya ia angkat untuk mengusap pipi Minjoo yang lembut.

“Kau tahukan jika perusahaan sedang mengalami masalah?” Baekhyun sudah menceritakan pada Minjoo sebelumnya, “Saat ini.. perusahaanku sedang mencoba untuk mengatasinya dengan membuat proyek baru.”

Kini tangan Baekhyun pindah menjadi mengusap rambut Minjoo, menyisiri setiap helai rambut Minjoo. “Karena aku adalah kepala manajemen perusahaan, maka dari itu aku dan timku harus merencanakan strategi baru dari proyek ini ini. Dan itu akan membutuhkan waktu yang sangat lama untuk melakukan perencanaannya maka..” Sesungguhnya Baekhyun berat mengatakan ini, terlebih sorot mata Minjoo sudah berubah menjadi kekecewaan pada Baekhyun dan itu menyakitinya. “Jika aku tidak pulang selama satu sampai dua minggu.. apa kau akan marah?”

Minjoo mencoba untuk menenangkan dirinya. Minjoo tidak boleh menangis, Minjoo tidak boleh membuat Baekhyun khawatir hanya karena Minjoo tidak membiarkan Baekhyun pergi darinya. Baekhyun melakukan semua ini pun pasti untuk dirinya, bukan hanya untuk kepentingan karirnya sendiri. Tapi, sesungguhnya bukan hal itu saja yang membuat Minjoo ingin rasanya mengatakan ‘iya’ pada pertanyaan Baekhyun. Minjoo juga mengkhawatikan kesehatan Baekhyun.

“Baek.. kalau marah mungkin aku bisa bilang tidak, tapi jika pertanyaannya apa aku akan khawatir maka jawabannya akan iya.” Minjoo melepas tangan Baekhyun darinya lalu menggenggamnya, “Kau juga perlu istirahat, Baekhyun. Satu minggu menginap di kantor itu bukanlah ide yang baik, apalagi dua minggu. Tubuhmu bisa ambruk jika kau tidur hanya sebatas di atas sofa. Belum lagi makanmu yang menjadi tidak teratur. Kau akan sakit, Baekhyun, dan aku mengkhawatirkan itu.”

Kau tahu, Inilah salah satu hal yang membuat Baekhyun rasanya selalu bersyukur kepada Tuhan. Minjoo adalah seribu satu gadis yang selalu membuat diri Baekhyun merasa spesial. Minjoo selalu memposisikannya menjadi pria paling beruntung di dunia ini karena bisa mendapatkan dirinya. Seperti saat ini, Minjoo lebih mengkhawatirkan kesehatan pria itu dibandingkan dirinya yang marah karena Baekhyun tidak bisa menemaninya.

“Aku tahu.. aku pun tidak ingin seperti itu, Minjoo-ya. Aku pun inginnya tidur disini, bersamamu. Makan makanan buatanmu. Memelukmu, menggenggam tanganmu, mencubit pipimu, mengelus rambutmu, menciummu, hanya bersamamu. Itu saja yang ingin kulakukan.” Baekhyun kemudian mengelus kembali pipi Minjoo dengan jempolnya, “Tapi.. aku tidak bisa. Aku harus bertanggung jawab atas dirimu, aku harus menafkahimu karena aku suamimu. Aku harus bisa membuatmu hidup bahagia, Han Minjoo.”

Minjoo tersenyum haru mendengar ucapan Baekhyun. Baekhyun seakan-akan bilang bahwa Minjoo adalah satu hal yang paling penting di dunia ini dan hanya dirinya yang harus Baekhyun lindungi, sayangi. Dan memang benar adanya begitu, hanya Minjoo yang menjadi tujuan hidup dari Baekhyun.

Minjoo pun kemudian memangkas jarak tubuh mereka dengan memeluk pinggang Baekhyun. “Aah.. Baekhyun-ku memang pria paling manis di dunia ini!” ucapnya sambil memeluk Baekhyun semakin erat.

Baekhyun terkekeh pelan lalu ikut memeluk Minjoo. “Kan aku hanya mencintai Minjoo seorang di dunia ini. Dari 6 tahun yang lalu, hanya Han Minjoo yang Byun Baekhyun cintai.”

Minjoo pun mengangguk-angguk seakan mengiyakan pernyataan Baekhyun, “Aku pun begitu.. hanya Byun Baekhyun yang aku cintai dari 6 tahun yang lalu sampai saat ini dan sampai maut menjemputku.”

Baekhyun dan Minjoo pun tersenyum di pelukan mereka. Menutup matanya dan meresapi semua kehangatannya. Memang, hati mereka telah diciptakan hanya untuk mereka berdua.

“Jadi.. tidak apa-apa kan aku tidak pulang selama satu sampai dua minggu?”

Minjoo mengangguk dalam dada Baekhyun, “Hm, tidak apa-apa asal setidaknya aku boleh mengunjungimu ya setiap hari?”

“Tentu saja kau harus. Walaupun tidak di rumah, setidaknya aku bisa bercumbu denganmu di ruanganku.”

“Ya!”

🌾 🍁 🍂 🍀 ☘ 🌿 🌼 🌼 🌼 🌼 🌿 ☘ 🍀 🍂 🍁 🌾

The Day

🌾 🍁 🍂 🍀 ☘ 🌿 🌼 🌼 🌼 🌼 🌿 ☘ 🍀 🍂 🍁 🌾

Cuaca Seoul hari itu cukuplah cerah. Mataharinya cukup panas, tapi itu tidak membuat para pejalan kaki harus membuka payungnya atau menggunakan topinya. Awannya masih mau membela umat manusia dari serangan matahari panas itu.

Di cuaca yang cukup cerah itu tentu membuat toko bunga milik Minjoo masih tidak sepi pengunjungnya. Ya tidak terlalu ramai juga sih, pelanggan yang ada di tokonya detik itu terdapat dua orang.

“Jadi begini nona Han, saya ingin membelikan kekasih saya bunga karena hari ini adalah hari jadi kita yang ke-100. Menurutmu bunga apa ya yang cocok untuk kekasihku?”

Minjoo yang mendengar ucapan pelanggan lelakinya itupun tersenyum cerah, dia selalu senang bisa membantu pelanggannya untuk memilihkan bunga.

“Hm, pertama-tama, kira-kira kekasih anda menyukai warna apa?”

Lelaki itu tampak berpikir sebentar, “Kalau tidak salah sih warna biru.. ah, benar warna biru. Waktu itu saya pernah menanyakan soalnya.”

Minjoo terkekeh pelan, “Tuan Yoo ini bagaimana sih, masa warna kesukaan kekasih anda sendiri tidak tahu?” kemudian ia berjalan dan Tuan Yoo itu menanggapi candaan Minjoo dengan garukan kepala. Minjoo berjalan menuju salah satu jejeran bunga mawar dengan aneka warna dan ia mengambil satu mawar biru dari jejeran bunga tersebut.

“Mawar selalu menjadi bunga yang tepat untuk diberikan ke setiap pasang kekasih. Karena kekasih tuan Yoo menyukai warna biru, maka saya menyarankan mawar biru untuk kekasih anda.”

Tuan Yoo pun memerhatikan bunga itu dengan seksama lalu beberapa detik selanjutnya ia mengangguk-angguk setuju, “Saya setuju denganmu, nona Han. Mawar selalu menjadi pilihan yang tepat untuk diberikan kepada setiap pasangan.”

Minjoo tersenyum mendengar perkataan tuan Yoo, “Selain itu, mawar biru sendiri melambangkan kesungguhan dan keseriusan cinta seseorang pada seseorang yang ia berikan bunga. Jadi itu bisa menjadi pilihan yang tepat untuk diberikan kekasih anda.”

Tuan Yoo tersenyum lalu mengangkat jempol, “Han’s Florist selalu menjadi pilihan yang tepat untuk saya membeli bunga. Saya pesan mawar biru ini untuk satu buket, nona Han.”

Minjoo terkekeh pelan lalu tersenyum, “Terima kasih.”

Setelahnya, Minjoo pun menyuruh pegawainya yang lain untuk membuatkan pesanan tuan Yoo hingga akhinya tuan Yoo pun pergi menuju kasir untuk melakukan pembayaran dan meninggalkan Minjoo untuk melihat jejeran bunga mawarnya. Ia sedang memerhatikan setiap mawar yang terpampang disana.

“Minjoo?”

Minjoo menolehkan wajahnya ke belakang saat seseorang memanggilnya.

“Kau Han Minjoo, benar?”

Minjoo menyipitkan matanya dan memerhatikan lelaki putih yang jangkung di hadapannya. Dia tersadar detik kemudiannya dan langsung tersenyum lebar.

“Oh Sehun?”

.

.

.

“Kau membuka toko bunga sekarang, Minjoo-ya?”

Minjoo mengangguk mengiyakan pada Sehun, “Hm, aku pemilik toko bunga sekarang.”

Sehun terkekeh pelan, “Kau tahu, aku hampir setiap hari melewati toko bunga itu namun aku hanya melewatinya saja tanpa mau masuk ke toko bunga itu.”

“Eh, menyebalkan sekali tidak mau masuk ke toko bungaku!” tutur Minjoo dengan sedikit mengerucutkan bibirnya, bercanda. “Lalu kenapa kau tadi masuk ke toko bungaku?”

“Saat aku melewati tokomu tadi, aku melihat seseorang yang mirip denganmu. Aku pun masuk dan berusaha memastikannya dan ternyata itu benar-benar dirimu.” Sehun kemudian menatap Minjoo dengan tatapan yang Minjoo tidak tahu itu apa, “Kurasa kita berjodoh, hm?”

Minjoo menggeleng-geleng kepalanya, “Aku sudah menikah, Oh Sehun.”

Sehun hanya tertawa kecil kemudian ia menyeruput Ice Moccacinonya yang ia pesan 10 menit lalu, “Apa kabarmu, Minjoo-ya?”

Minjoo pun ikut menyeruput minuman yang ia pesan saat mereka berdua memutuskan untuk berbincang di café sebelah toko Minjoo, “Aku baik. Kau?”

“Ya.. cukup tidak baik saat kau pada akhirnya tetap memilih Baekhyun dibanding diriku.”

Minjoo terkekeh pelan dan itu membuka kenangan lamanya bersama Sehun. Sehun adalah teman lama Minjoo, mereka adalah rekan kerja saat Minjoo masih menjadi pegawai di sebuah bank. Saat itu, jika Minjoo dan Sehun dibilang sangat dekat, maka jawabannya mereka memang sangat dekat. Minjoo dan Sehun selalu bersama kemana pun mereka pergi, dijuluki si duo Min-Hun—Minjoo dan Sehun. Tapi itu semua dengan maksud tujuan pekerjaan. Bukan hal yang lainnya. Namun, saat waktu terus berjalan, tenyata Sehun menaruh perasaan lebih pada Minjoo. Sehun menjadi sedikit menyebalkan di akhir-akhir pertemuannya dengan Minjoo karena dia mencoba untuk membuat Minjoo putus dengan Baekhyun—ketika Baekhyun dan Minjoo menjadi sepasang kekasih dahulu. Namun, pada akhirnya Sehun mengalah dan pergi meninggalkan Korea karena Minjoo selamanya hanya akan memilih Baekhyun.

“Ya.. itu sudah lama. Jangan kau membahas kenangan itu lagi, hm? Kita kan teman, kau tidak ingat?” ucap Minjoo sambil tersenyum, ya setidaknya itu sekaligus permintaan maafnya secara tidak langsung.

Sehun pun hanya mendengus untuk menjawab pertanyaan Minjoo, setelahnya ia membicarakan yang lain. “Bagaimana kabar Baekhyun? Apakah dia memperlakukanmu dengan baik?” tanya Sehun dengan sedikit sinis namun Minjoo tahu ia hanya bercanda. Saat Minjoo menikah dengan Baekhyun 8 bulan yang lalu, Sehun mengiriminya sebuah surat yang menyatakan bahwa ia meminta maaf dan menyesal pernah mencoba untuk merusak hubungannya dengan Baekhyun. Cukup jelas bahwa Sehun seharusnya sudah tidak memiliki perasaan lagi pada Minjoo.

“Dia sedang sibuk dan dia memperlakukanku dengan sangat baik, Oh Sehun.” Ucapnya sedikit menekan kata-kata di akhir.

Mendengar perkataan Minjoo sontak membuat Sehun menjentikkan jarinya, “Bagaimana jika dia berbohong saat dia bilang bahwa dia ‘sibuk’, Minjoo-ya? Bagaimana jika ternyata dia itu selingkuh, Minjoo-ya?” ucapnya sambil melebih-lebihkan suasana. Minjoo tahu jika Sehun sedang bercanda, jadi Minjoo tidak terlalu ambil hati saat Sehun bilang bahwa Baekhyun selingkuh darinya.

“Jangan membuatku ingin memukulmu ya, Oh Sehun!” Minjoo memajukan tangannya lalu ia memukul pelan kepala Sehun. “Ah aku memukulmu ternyata!” ucapnya sambil tersenyum menyebalkan di akhir kata.

“Ya!” Sehun merenguh kesakitan. “Itu sakit!”

“Kau masih tetap sama seperti Sehun yang dulu. Si Sehun yang berlebihan.”

“Kau juga masih tetap sama seperti Minjoo yang dulu. Minjoo yang membuat si Sehun yang berlebihan ini jatuh hati.” Ucapnya sambil terkekeh pelan.

“Cukup, Oh Sehun!”

🌾 🍁 🍂 🍀 ☘ 🌿 🌼 🌼 🌼 🌼 🌿 ☘ 🍀 🍂 🍁 🌾

The Day

🌾 🍁 🍂 🍀 ☘ 🌿 🌼 🌼 🌼 🌼 🌿 ☘ 🍀 🍂 🍁 🌾

Cuaca yang cukup cerah itu juga tidak berarti cukup cerah untuk seluruh orang. Buktinya, ada beberapa orang yang tidak menganggap hari itu tidak cerah.

“Mungkin sekian dari presentasi proyek yang akan Polar Corporation ciptakan selanjutnya. Terima kasih.”

Setelah penutupan dari rapat itu, Baekhyun pun berjalan keluar dari ruangan. Saat Baekhyun berjalan keluar dari ruangan, pikiran Baekhyun sedikit kacau. Pasalnya saat ia mempresentasikan proyek Polar Coporation yang terbaru tadi, para investor yang berada dihadapannya terlihat tidak tertarik dengan proyek ciptaannya dan Baekhyun merasa kesal karena itu. Itu berarti membutuhkan Baekhyun dan rekan-rekan yang lain menambah waktu keberadaan mereka ketika di kantor, waktu lain untuk menghabiskan malam mereka di kantor.

Sambil berjalan menuju ruangannya, Baekhyun melepas kancing, melonggarkan dasinya. Sungguh, dia benar-benar kesal dan cuaca menjadi panas rasanya. Di satu sisi ia merasa takut jika proyeknya tidak bisa mendapatkan investor-investor karena proyeknya membutuhkan dana yang cukup besar juga. Tapi, di sisi lain dia juga merasa kesal karena dia harus mengambil waktunya bersama Minjoo untuk mengerjakan pekerjaannya itu. Ini sudah 15 hari Baekhyun tidak pulang ke rumah, sudah sepuluh hari juga Baekhyun tidak bertemu Minjoo. Memang, selama 15 hari itu Minjoo selalu mengunjunginya, memberikannya pakaian ganti ataupun makanan. Lima hari saat Baekhyun menghabiskan hari-harinya di kantor, Baekhyun masih bisa setidaknya bertemu dengan Minjoo. Tapi setelah hari kelima, Baekhyun benar-benar sangat sibuk sampai istirahat siang pun baru bisa ia rasakan saat kantor tutup—pukul 7 malam. Dia benar-benar kesal karena ia merindukan Minjoo-nya.

Mengingat Minjoo pun tak kuasa membuat Baekhyun untuk mengambil ponselnya. Baekhyun sudah tak tahan lagi, dia benar-benar merindukan Han Minjoo.

 

My Minjoo.

Calling

 

Tut. Tut.

 

“Annyeong, Baekhyun-ku!”

Ah, betapa Baekhyun merindukan suara ini.

“Annyeong, Minjoo-ku..” ucapnya dengan sedikit terharu. Baekhyun memang sesenang sekaligus sesedih itu saat mendengar suara Minjoo lagi. “Apa kabarmu?”

“Aku baik, Baek.” Ucapnya, “Harusnya aku yang bertanya itu padamu. Kau baik tidak? Kau sehat tidak? Kau istirahat yang cukup tidak?”

Baekhyun tersenyum mendengar pertanyaan Minjoo yang begitu menderet. Sudah lama sekali tidak mendengar perhatian Minjoo padanya.

“Aku tidak baik-baik saja. Aku merindukanmu dan itu menyiksaku.”

“Aah…” Minjoo membuat suara yang menggemaskan. Oh Tuhan, Baekhyun bisa membayangkan bagaimana gemasnya wajah Minjoo saat membuat suara itu dan itu semakin membuat Baekhyun gila merindukannya. “Aku juga merindukanmu, Baekhyun-ah..”

Baekhyun mendesah kasar pada ponselnya, “Aku benar-benar merindukanmu, Minjoo-ya. Aku ingin melihatmu, ingin memelukmu, ingin menciummu, ingin tidur bersamamu, ingin itu dan ingin ini dan semuanya keinginanku itu ingin bersamamu.” Ucapnya dengan sedikit merengek. “Aku benar.. benar.. benar…” Baekhyun mengucapkan katanya dengan sedikit menekan, menunjukkan keseriusannya, “Merindukanmu, Han Minjoo.”

Baekhyun bisa dengar jika Minjoo terdiam cukup lama di sebrang panggilan. Baru saja Baekhyun akan bertanya ‘Kau kemana?’, Minjoo kemudian menjawab, “Kau sekarang sedang rapat, Baek?”

Baekhyun menggeleng seolah Minjoo melihat, “Tidak. Aku sedang istirahat.”

“Kau ada dimana?”

“Di ruanganku.”

Baekhyun mendengar jika Minjoo seperti sedang berjalan ke suatu tempat, “Tunggulah disana kalau begitu.” Ujarnya kemudian.

Baekhyun bingung dengan maksud perkataan Minjoo, “Maksudmu?”

Minjoo tidak menjawab apapun dan Baekhyun hanya mendengar suara derap langkah Minjoo ke suatu tempat.

“Minjoo-ya?”

Minjoo masih tidak menjawab, namun tiba-tiba ada seseorang yang mengetuk pintunya. Membuat Baekhyun menjauhkan ponselnya dari telinganya dan menyahut ketukan itu dengan, “Masuklah!”

Kenop pintu pun mulai berputar dan Baekhyun masih menunggu siapa yang datang.

Dua detik kemudian, seorang gadis yang membuat hati Baekhyun tiba-tiba terbang ke langit tujuh muncul dari sana.

“Annyeong, Baekhyun.” Ucap Minjoo muncul dari pintu sambil tersenyum manis. Sangat manis menurut Baekhyun pada waktu itu.

Baekhyun pun tidak bisa menyembunyikan senyum cerahnya. Ia pun menutup panggilannya dan langsung bangkit dari baringannya di atas sofa.

“Minjoo?!”

Minjoo terkekeh pelan, “Apa kau lupa dengan wujud istrimu sendiri, Baekhyun?” lalu setelahnya ia tersenyum dan melanjutkan kembali perkataannya, “Iya, ini aku, Baek.”

Baekhyun semakin tidak bisa menyembunyikan bahagianya. Ia pun berjalan cepat menghampiri Minjoo dan saat Minjoo sudah berada dihadapannya, Baekhyun memeluk Minjoo sangat erat.

“Minjoo-ya.. aku merindukanmu..” ucapnya sambil sedikit terharu. “Sangat..sangat, merindukanmu.”

Minjoo terkekeh pelan dan ikut membalas pelukan Baekhyun tak kalah erat, “Aku juga, Baek. Aku sangat merindukanmu.”

Saking merindukannya pada Minjoo, Baekhyun kemudian smengangkat tubuh Minjoo ke udara hingga wajahnya bisa menelusup pada leher Minjoo. Harum Minjoo yang Baekhyun rindukan kembali menggerogoti paru-paru Baekhyun dan itu membuatnya begitu bahagia.

“Ah Minjoo-ya.. aku benar-benar merindukan ini!!” ucapnya sedikit teriak, kegirangan.

Minjoo hanya tertawa pelan sambil mengusap-usap rambut Baekhyun.

“Baekhyun.. baekhyun..”

.

.

.

Baekhyun tidak pernah mau melepas tangan Minjoo meski itu hanya satu per sepuluh detik lamanya. Saat mereka makan, saat Baekhyun mau menyerahkan laporannya ke sekretarisnya, Baekhyun pasti menggenggam tangan Minjoo. Sekarang waktu pun sudah menunjukkan pukul 7 malam. Sudah gelap tapi Baekhyun masih tidak mau melepas Minjoo. Ya begitulah jika Baekhyun sedang merindukan Minjoo-nya.

“Minjoo-ya, tadi kenapa kau bisa ada di kantorku?” ucapnya seraya mengelus jemari Minjoo. “Bukankah biasanya kau datang ke kantor saat istirahat siang?”

“Aku sudah ke kantormu tadi siang, membawakanmu pakaian ganti dan makan siang. Hanya saja, saat tadi kau meneleponku, kebetulan aku sedang dalam perjalanan pulang dan aku sengaja mengambil jalan yang melewati kantormu.”

“Untuk apa kau melewati kantorku? Kan rumah kita bukan lewat arah kantorku?” tanya Baekhyun kebingungan.

“Karena aku merindukanmu, Baek.” Ujar Minjoo sambil mengusap rambut Baekhyun. “Karena aku merindukanmu, aku jadi mengambil jalan pulang melewati kantormu supaya siapa tahu jika kau sedang berada di luar kantor, aku bisa menemuimu walaupun itu hanya sedetik.”

Minjoo kemudian menurunkan tangannya mengusap pipi Baekhyun, “Tahunya kau meneleponku dan bilang bahwa kau merindukanku. Ya sudah, aku sudah tidak tahan jadi saja aku langsung menghampirimu.”

Baekhyun terkekeh pelan, “Baguslah.” Kemudian Baekhyun mengecup telapak tangan Minjoo dan memeluknya di dada, “Kurasa kita memang berjodoh.”

“Kau benar. Kita memang berjodoh.”

Setelahnya mereka pun terdiam lagi dengan membiarkan Baekhyun memeluk tangan Minjoo dan Minjoo mengusap-usap kepala Baekhyun menggunakan tangan yang lainnya.

“Oh iya, Baek, beberapa hari yang lalu aku bertemu teman kita dahulu loh.”

Baekhyun yang tadinya sedikit mengantuk karena terlalu nyaman dengan posisi seperti ini pun sedikit sadar atas pernyataan Minjoo, “Siapa?”

“Oh Sehun.”

Saat nama itu muncul dari mulut Minjoo, mata Baekhyun benar-benar terbuka lebar. Dia kemudian menengadahkan wajahnya untuk menatap mata Minjoo.

“Siapa?!”

“Oh Sehun.” Minjoo sedikit terkekeh pelan, Minjoo tahu reaksi Baekhyun pasti akan begini. “Oh Sehun temanku ketika aku bekerja di Bank dulu..”

Mendengar kejelasan dari perkataan Minjoo pun membuat Baekhyun bangkit dari baringannya dan langsung menghadap Minjoo sempurna.

“Oh Sehun si pria yang menggilaimu itu?!”

Minjoo mengangguk sambil menahan tawanya, “Iya.. Oh Sehun yang menggilaiku itu.”

“Kenapa dia ada disini?! Bukankah seharusnya dia berada di London?!”

“Bagaimana pun juga dia adalah warga negara Korea, Byun Baekhyun.” Minjoo mencubit pipi Baekhyun dengan gemas, “Sudah sewajarnya dia berada disini.”

Baekhyun mendecakkan lidahnya dengan kesal. Ini tidak baik, dia tentu ingat dengan semua hal yang Sehun lakukan untuk merebut Minjoo darinya. Dan tentunya Sehun bukanlah teman untuk seorang Byun Baekhyun.

“Kau.. jangan pernah temui dia lagi. Aku tidak suka jika kau bertemu dengannya!” ujar Baekhyun dengan sedikit meninggikan suaranya karena emosinya sedikit tersulut mendengar keberadaan Oh Sehun.

“Baek.. dia itu hanya teman bagiku—“

“Tapi dia tidak menganggapmu teman, Han Minjoo.” Ucap Baekhyun dengan pandangan yang mulai kesal. “Kau tidak ingat bagaimana keras usahanya untuk membuatmu memilihnya?”

“Tapi pada akhirnya aku tidak memilihnya. Aku pun tidak pernah menjadikannya pilihan karena aku sudah memilihmu sejak dari awal, Baek.”

Perkataan Minjoo membuat emosi Baekhyun sedikit menurun. Benar perkataan Minjoo, untuk apa Baekhyun marah saat Minjoo sendiri tidak pernah menganggap Sehun lebih dari sekedar teman kerja?

“Sudahlah, itu juga hanya kenangan masa lalu. Sekarang aku sudah menjadi istrimu, berarti hatiku juga sudah menjadi milikmu. Tidak ada orang yang bisa merebutnya darimu, Baek.” Lanjutnya kemudian.

Baekhyun pun tersenyum, “Kau berjanji? Tidak ada orang yang bisa merebutnya selain aku?”

Minjoo pun memajukan wajahnya, bibirnya lebih tepatnya.

“Cium saja aku maka itu adalah janji sah nya.”

“Ck.” Baekhyun pun menempelkan bibirnya satu detik di bibir Minjoo. “Deal.”

Minjoo mengangguk lalu tersenyum, “Deal.”

Baekhyun juga ikut tersenyum namun setelahnya ia menarik leher serta pinggang Minjoo untuk ia kecup bibir Minjoo kembali lebih dalam dari sebelumnya. Sedikit menuntut, tapi itu semua karena Baekhyun masih merindukannya.

“Aku mencintaimu, Han Minjoo.”

🌾 🍁 🍂 🍀 ☘ 🌿 🌼 🌼 🌼 🌼 🌿 ☘ 🍀 🍂 🍁 🌾

The Day

🌾 🍁 🍂 🍀 ☘ 🌿 🌼 🌼 🌼 🌼 🌿 ☘ 🍀 🍂 🍁 🌾

Baekhyun keluar dari ruangannya sambil membawa beberapa berkas untuk diberikan kepada sekretarisnya.

“Nona Lim, kau harus selesai mengerjakan laporan ini besok hari, ok? Kau juga harus meminta tuan Kim untuk mendatanginya karena harus aku berikan pada Intel Corporation lusanya.”

“Baik, Tuan Byun.”

Setelah memberikan berkas itu pada sekretarisnya, Baekhyun berjalan kembali menuju ruangan Chanyeol karena Chanyeol bilang ada investor yang tertarik dengan proyeknya dan ingin bertemu Baekhyun hari ini. Baguslah, jika investor itu benar tertarik, maka setidaknya waktu Baekhyun yang ia habiskan untuk bekerja akan bertambah untuk waktu Baekhyun menghabiskan dengan Minjoo.

“Ya, Chanyeol-ah!” ujar Baekhyun tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu dan itu sukses mengageti Chanyeol yang sedang duduk di kursinya.

“Ya! Byun Baekhyun!” Chanyeol mengusap-usap dadanya dan melihat geram pada Baekhyun, “Bisa tidak setidaknya kau mengetuk pintu dahulu?!”

Baekhyun terkekeh pelan, “Maafkan aku, Park Chan.” Lalu kemudian ia melanjutkan pada tujuan utamanya menghampiri Chanyeol. “Dimana investor yang ingin menemuiku itu? Kau bilang dia mau menemuiku?”

Masih terlihat geram dengan Baekhyun, Chanyeol pun menjawab perkataan Baekhyun dengan sinis, “Dia sedang dalam perjalanan, mungkin sebentar lagi datang.” Chanyeol menjeda perkataannya selama beberapa detik namun kemudian ia melanjutkan lagi dengan mata yang berapi-api. “Jika tadi dia sudah datang dan sudah berada di ruanganku dan kau melakukan hal seperti tadi.. aku benar-benar akan membunuhmu, Baek!”

Baekhyun hanya tertawa menanggapi perkataan Chanyeol lalu kemudian dia duduk di salah satu kursi di sofa tamu Chanyeol. Karena Chanyeol ada kepala divisi humas, berarti semua tamu yang ingin mengunjungi Polar Corporation harus melalui dia dan berada di ruangannya. Mendengar bahwa si investor tadi sudah dalam perjalanannya, maka Baekhyun pun memutuskan untuk menunggu di ruangan ini.

“Bagaimana kabar istrimu, Baek?” tutur Chanyeol setelah dirasa sudah tidak kesal lagi pada Baekhyun.

“Dia baik. Kenapa kau menanyakannya?”

“Tidak. Hanya saja kemarin aku melihat istrimu keluar dari ruanganmu saat kau sedang rapat. Apa kau bolos rapat hanya untuk menemuinya?”

“Tentu saja tidak, bodoh. Kemarin itu dia datang ke ruanganku untuk membawakanku pakaian ganti dan makanan saja. Aku kan sedang rapat.”

“Aku hanya bertanya saja, Byun Baekhyun.” Chanyeol menatap sinis pada Baekhyun. “Tidak usah menyebutku bodoh.”

“Ck. Kalau kau, kapan kau melamar Kim Yejin, hm? Kasian dia sudah terlalu lama menunggumu.”

“Eh, kau tidak sadar apa kalau kau membicarakan dirimu sendiri?” Chanyeol tersenyum merendahkan Baekhyun. “Kau juga membuat Minjoo menunggu 6 tahun untuk dilamar olehmu!”

“Kami menjadi sepasang kekasih sejak kami kuliah. Kita tentunya tidak bisa kan menikah saat kuliah? Setelah lulus kuliah pun aku hanya berpacaran selama 3 tahun dengannya.” Baekhyun tersenyum menang pada Chanyeol, “Aku menikah saat aku sudah mapan. Kalau kau? Sudah mapan, tapi statusmu masih menjadi kekasih saja dengan Kim Yejin. Selama 4 tahun pula kau memegang status itu!”

Chanyeol menggeleng-geleng kepalanya melihat Baekhyun. Demi Tuhan, jika Baekhyun bukan sahabatnya dari semasa kuliah, mungkin Chanyeol akan menghajar Baekhyun saat ini.

“Baekhyun-ah, kau tahu.. rasanya aku benar-benar ingin membunuhmu saat ini juga.”

Baekhyun pun tertawa mendengar perkataan Chanyeol, “Tapi aku serius dengan perkataanku, Chanyeol. Kau kenapa sih tidak melamar Kim Yejin saja? Kau serius dengannya kan?”

“Aku serius menjalin hubungan dengannya, Baek. Hanya saja aku masih membutuhkan waktu untuk menjadikannya istriku.”

“Apa yang kau tunggu? Menunggunya sampai di rebut lelaki lain, begitu?”

“Ya!”

Baekhyun tersenyum, saat ini ia berbicara sebagai sahabat. Bukan sebagai rekan kerja atau teman beradu mulut Chanyeol. Chanyeol adalah sahabatnya sejak kuliah. Jika ada kata lebih dari sahabat, maka itu dirasa lebih cocok untuk menggambarkan pertemanan Baekhyun dan Chanyeol.

Chanyeol memang telah memiliki seorang kekasih, Kim Yejin itu. Mereka telah menjalin hubungan selama 4 tahun, pertama kali bertemu saat mereka sama-sama melamar kerja di perusahaan ini, Polar Corporation. Hanya saja, Kim Yejin ditolak ke perusahaan ini dan bekerja di tempat lain sedangkan Chanyeol diterima dan bekerja di tempat ini.

Perkataan Baekhyun mengenai Chanyeol harus cepat melamar Kim Yejin bukanlah suatu ejekan. Ini mengingatkannya pada saat Baekhyun dan Minjoo masih menjadi sepasang kekasih waktu silam. Banyak sekali pria di luar sana yang mendekati Minjoo dan salah satu yang terparah adalah si Oh Sehun itu. Untungnya, Minjoo benar-benar menaruh seluruh hatinya pada Baekhyun hingga Baekhyun tidak perlu terlalu ambil pusing saat banyak sekali pria yang mengejar Minjoo. Minjoo hanya akan mencintainya dan begitu pula sebaliknya pada Baekhyun. Sama persis seperti janji yang mereka buat tempo hari lalu.

“Kau harus cepat melamarnya, Chanyeol. Kalau dia sudah diambil lelaki lain, kau baru merasakan penyesalannya.”

“Ya. Ya. Baiklah, Love-Expert.” Ucapnya sedikit mengejek. “Awas saja jika kau menyelingkuhi Minjoo disaat kau sudah menyeramahiku seperti Ayahku sendiri!” Ujar Chanyeol kembali dengan nyalak.

“Ck. Tentu saja tidak. Aku hanya mencintai Minjoo seorang.” Ucap Baekhyun seolah itu adalah perkataan termudah yang pernah ia ucapkan. Harusnya sih begitu.

Setelah perbincangan itu, seorang sekretaris menghubungi Chanyeol dan mengatakan bahwa investor itu telah datang. Baekhyun dan Chanyeol pun bersiap-siap untuk menyambut investor tersebut.

Saat pintu ruangan Chanyeol dibuka, seorang gadis masuk ke dalam ruangan tersebut. Gadis yang cukup cantik dengan dress berwarna hitam elegan.

“Selamat siang tuan-tuan. Saya Kim Taeyeon, perwakilan dari perusahaan Starlight yang tertarik pada proyek terbaru Polar Corporation.”

.

.

.

“Jadi begitulah presentasi dari proyek Polar Corporation ini.” Ujar Baekhyun di hadapan Kim Taeyeon dan Chanyeol dengan layar proyektor yang menyala di sebelahnya.

Baekhyun bisa melihat jika Kim Taeyeon itu mengangguk suka pada presentasi yang Baekhyun berikan dan itu sedikit membuat Baekhyun senang.

“Saya suka dengan konsep yang proyek Polar Corporation akan buat. Dari saat tuan Kwon, pemilik perusahaan Starlight, memberitahu saya bahwa Polar Corporation akan membuat proyek baru pun saya sudah tertarik dengan melihat dari proposal konsep yang pernah anda kirim ke perusahaan kami. Maka dari itu pun saya datang kemari untuk memastikannya dan benar, saya suka.”

Baekhyun tidak bisa menyembunyikan senyumannya lalu membungkuk hormat, “Terima kasih, Nona Kim.”

“Tidak perlu memanggilku nona. Panggil saja aku Taeyeon. Kita akan melakukan kesepakatan kerja sama ini, bukan?”

Baekhyun semakin mengembangkan senyumannya. Tidak ada waktu lembur lagi, pikirnya dengan senang hati.

“Tuan Byun, kau bisa duduk dan kita akan membahas pekerjaan ini.”

Baekhyun pun duduk di sebelah Chanyeol dan di seberang Taeyeon. “Kau pun tidak usah memanggilku Tuan, jika benar kita akan melakukan kesepakatan untuk bekerja sama.” Ujar Baekhyun menanggapi dan itu membuat Taeyeon terkekeh pelan.

“Mungkin kita akan sering bertemu untuk melakukan pekerjaan ini, jadi mohon kerja samanya tuan—maksudku, Baekhyun.” Taeyeon kemudian mengulur tangannya.

Baekhyun mengangguk dan menyalami jabatan tangan Taeyeon.

“Mohon kerja samanya juga, Taeyeon.”

🌾 🍁 🍂 🍀 ☘ 🌿 🌼 🌼 🌼 🌼 🌿 ☘ 🍀 🍂 🍁 🌾

The Day

🌾 🍁 🍂 🍀 ☘ 🌿 🌼 🌼 🌼 🌼 🌿 ☘ 🍀 🍂 🍁 🌾

Minjoo terbangun dari paginya saat ia rasa matahari telah menyinari bagian tubuhnya. Saat pertama kali Minjoo membuka matanya, perasaan hampa itu langsung menyergahi seluruh batin Minjoo. Tangannya Minjoo panjangkan untuk mengusap kasur sebelahnya yang kosong, tempat dimana biasanya Baekhyun tidur.

Ini sudah minggu ketiga dan Baekhyun masih membiarkan Minjoo untuk tidur sendiri di kamarnya. Membiarkan Minjoo menjalani seluruh aktivitasnya sendirian, terlebih saat di rumah. Tidak ada kecupan hangat yang selalu Baekhyun berikan pada Minjoo, tidak ada pelukan hangat Baekhyun saat sebelum Minjoo tidur, tidak ada harum Baekhyun yang menggerogoti paru-paru Minjoo dan tidak ada sentuhan lembut tangan Baekhyun pada tubuh Minjoo.

Minjoo tersiksa dengan ini semua. Mungkin, ketika mereka belum menikah dahulu saat Baekhyun sibuk dengan pekerjaannya, rasa rindunya pada Baekhyun tidak sebesar sekarang ini. Harusnya, Minjoo sudah terbiasa dengan Baekhyun yang selalu sibuk bekerja karena saat mereka belum menikah pun Baekhyun pernah beberapa kali menghilang karena sibuk oleh pekerjaannya.

Hanya saja, mungkin karena mereka baru menikah dan pernikahan mereka baru berjalan 8 bulan dan selama 8 bulan itu Baekhyun tidak pernah hilang dari pandangan Minjoo, kesibukan Baekhyun yang saat ini adalah yang terberat bagi Minjoo. Minjoo tahu, Baekhyun melakukan ini semua demi Minjoo, menanggungjawabi Minjoo sebagai seorang istrinya.

Tapi, bolehkah sekali saja Minjoo egois? Kebahagiaan bukan selamanya berasa dari uang. Dan itu berlaku bagi Minjoo.

Minjoo mengusap kasur itu dengan hatinya yang kelam. “Kau bilang hanya dua minggu, Baek..” Minjoo terus mengusap-usap kasur itu dengan lemas, “Tapi ini sudah minggu ketiga dan kau belum pulang..”

Minjoo menarik nafasnya hingga matanya memanas. Dia merindukan Baekhyun, sangat.

“Baekhyun-ah.. kapan kau pulang, hm?”

.

.

.

Hari itu, Minjoo benar-benar malas untuk melakukan apapun. Tahulah apa yang membuatnya malas jika bukan karena dirinya yang sudah berada pada titik puncaknya merindukan Baekhyun? Bahkan, hari itu pun ia memutuskan untuk datang terlambat ke tokonya. Membiarkan tokonya baru buka pukul 12 siang. Jika bisa diibaratkan, Baekhyun itu sumber nutrisi bagi seorang Minjoo. Tidak ada nutrisi, maka segalanya akan menjadi melelahkan.

“Selamat siang, Han Minjoo!”

Minjoo hanya menanggapi perkataan Sehun dengan senyuman kecil. Satu hal yang belum Minjoo ceritakan pada Baekhyun. Semenjak pertemuan itu, Sehun jadi sering mengunjunginya. Jika ditanya apakah setiap hari, maka jawabannya iya. Minjoo tahu, seharusnya Minjoo mengatakan ini pada Baekhyun agar Baekhyun tidak salah paham padanya. Hanya saja, mengetahui Baekhyun sedang teramat sibuk saat ini membuat Minjoo berpikir bahwa Baekhyun tidak perlu tahu dulu mengenai Sehun yang kerap kali mengunjunginya. Lagi pula, Sehun mengunjunginya sebagai teman, bukan sebagai apa-apa.

“Halo, Sehun.” Ucap Minjoo dengan sangat lemas. Bahkan terlihat seperti zombie.

Melihat wajah Minjoo yang murung membuat Sehun bertanya heran.

“Kenapa dengan wajahmu? Kau sedang ada masalah?”

Minjoo terdiam tidak menanggapi pertanyaan Sehun dan membiarkan dirinya membersihkan tokonya. Hari ini Yeri tidak bisa masuk karena ia sedang melaksanakan hari kelulusan sekolahnya. Maka yang menjaga toko ini hanya dirinya dan beberapa pegawai saja.

“Aku sedang tidak mood Sehun-ah. Jadi jangan ganggu aku.”

Sehun pun terdiam, namun ia tidak bisa membiarkan Minjoo murung terlalu lama.

Maka, selang tak lama dari situ Sehun tiba-tiba menarik tangan Minjoo hingga membuat Minjoo terlonjak kaget dan kesal pada Sehun.

“Ya! Apa yang kau lakukan?!” teriak Minjoo.

Sehun tidak membalas perkataan Minjoo dan ia malah menarik Minjoo keluar dari tokonya lalu membawa Minjoo untuk masuk ke dalam mobilnya.

“Ayo kita bersenang-senang!”

.

.

.

Lotte World adalah salah satu destinasi paling tepat untuk kau jadikan tempat wisata. Disini, semua wahananya menjamin orang-orang untuk bisa menaikkan moodnya hingga menjadi 100% kembali. Yang kesal, sedih dan murung pasti langsung tersenyum cerah kembali setelah keluar dari Lotte World.

Mobil Sehun pun telah berhasil terparkirkan di parkiran Lotte World. Iya, Sehun langsung terpikirkan untuk mengunjungi Lotte World saat mengetahui Minjoo sedang dalam kondisi bad-mood.

“Kenapa kau bawa aku kemari?!” ucap Minjoo langsung menyambar kesal pada Sehun setelah Sehun mematikan mesin mobilnya. “Aku kan sedang menjaga tokoku, Sehun..” ucapnya kemudian menjadi merengek. Sesungguhnya Minjoo sudah sangat kesal saat ini hanya saja moodnya yang buruk membuatnya lelah untuk sekiranya teriak-teriak memarahi Sehun.

Sehun masih kekeuh tidak menjawab perkataan Minjoo dan ia malah langsung keluar dari mobilnya lalu menghampiri Minjoo lewat pintu sebelah.

“Sudah turun saja dahulu. Pemilik toko bunga juga butuh hiburan.” Ucap Sehun.

“Tapi kan tidak saat—“

Sehun dengan tiba-tiba mengangkat tubuh Minjoo keluar dari mobilnya hingga membuat perkataan Minjoo terhentikan. Tentu saja Minjoo tersedak kaget dan ia langsung meronta-ronta untuk minta diturunkan saat Sehun melakukan itu.

“Ya!” Minjoo memukul dada Sehun saat Sehun telah membawanya keluar dari mobilnya. Orang-orang tengah melihati mereka dengan penuh senyuman, seakan-akan mengejek ‘wah pasangan yang bahagia’ dan itu berarti buruk untuk Minjoo. “Turunkan aku! Aku ini seseorang yang telah bersuami, Oh Sehun!”

Sehun pun tertawa pelan dan kemudian menurunkan Minjoo dari pangkuannya. “Memangnya salah jika seorang istri mempunyai teman lelaki?”

Minjoo menarik nafasnya pelan-pelan sambil membenarkan roknya yang terlipat, “Tapi tidak dengan posisi seperti—“

“Ayo kita masuk sebelum tempat ini dipenuhi oleh para pelajar yang baru pulang sekolah!” ucap Sehun memotong perkataan Minjoo—lagi.

Rasanya, emosi Minjoo sudah sampai di ubun-ubun saat itu hanya saja yang Minjoo bisa lakukan haya mendesah kasar.

“Oh, astaga..”

.

.

.

Wajah Sehun benar-benar terlihat bahagia, berbanding terbalik dengan Minjoo yang masih murung ditambah kesal dengan Oh Sehun. Minjoo benar-benar tidak dalam kondisi yang baik untuk mendatangi taman hiburan saat ini, sungguh.

“Minjoo-ya, ayo kita naik wahana itu!” tunjuk Sehun pada wahan roller coaster disana. Mereka telah menaiki dua wahana sebelumnya, yaitu great-wheels dan carousel. Minjoo masih ingat sekali bagaimana cerahnya wajah Oh Sehun saat menaiki dua wahana itu. Persis seperti anak 5 tahun yang baru pertama kali datang ke Lotte World.

Minjoo terkekeh menyebalkan pada Sehun, “Bukankah kau takut ketinggian? Kurasa kau akan menjerit-jerit seperti anak kecil saat menaiki wahana itu.” Minjoo ingat saat dahulu pernah Minjoo mengajak Sehun untuk mengujungi menara Namsan, Sehun menolak mentah-mentah ajakan Minjoo karena ia takut ketinggian dan ia tidak bisa berada di ketinggian untuk waktu yang lama.

“Aku sudah tidak takut ketinggian.” Jawab Sehun sedikit ragu namun Minjoo mengetahui itu.

“Apa buktinya jika kau tidak takut ketinggian?” tanya Minjoo menantang.

“Aku akan membuka mataku saat menaiki roller coaster ini dan aku berjanji tidak akan berteriak.”

“Tidak akan mungkin.”

“Aku akan menaiki roller coaster ini sebanyak TIGA KALI dan aku berjanji TIDAK AKAN BERTERIAK.” Ucapnya menekan setiap katanya.

“Deal?” Minjoo menjulurkan tangannya. Mungkin melihat Sehun buang air kecil di celana cukup menyenangkan, pikir Minjoo.

Sehun menyambut uluran tangannya, “Deal.”

.

.

.

“Huwek!”

Minjoo tertawa puas saat melihat Sehun muntah-muntah dihadapannya setelah menaiki roller coaster itu sebanyak tiga kali. Benar, Sehun tidak berteriak sama sekali dan ia benar-benar membuka matanya saat menaiki wahana roller coaster itu.

“Hahaha, tapi kau muntah-muntah, Oh Sehun!” ujar Minjoo masih tidak bisa menahan gelak tawanya. Jujur, ini sedikit menaikkan mood Minjoo karena melihat Sehun tersiksa begitu menyenangkan. Itu tidak berarti Minjoo jahat ya, hanya saja Sehun itu temannya. Bukankah itu lucu saat melihat temanmu takut ketinggian hingga ia muntah-muntah karena menaiki wahana roller coaster sebanyak tiga kali?

Sehun pun masih menundukan wajahnya ke bawah, menumpukan siku tangannya pada lututnya dan mencoba mengatur nafasnya.

“Hahaha, harusnya kau tidak menantangku seperti itu, Sehun-ah! Memangnya aku percaya saat kau bilang kau sudah tidak takut dengan ketinggian?!” Minjoo tertawa puas sembari mengejek Sehun. “Oh Sehun, Oh Sehun! Kau masih si pria yang sok-jagoan seperti dahulu ya!”

“Kau sudah senang kembali, Minjoo-ya?”

Minjoo menghentikan gelak tawanya dan menatap Sehun dengan diam.

“Huh?”

Setelah memastikan perutnya sudah tak terkocok lagi, Sehun mengelap mulutnya lalu kembali menegakkan tubuhnya dan menatap Minjoo dengan senyuman.

“Nah ini Han Minjoo yang kukenal dahulu. Selalu membullyku, bercanda denganku, dan tertawa bersamaku.”

Minjoo tertegun mendengar perkataan Sehun.

“Aku tidak ingin tahu dan tidak ingin membuatmu mengingat lagi kesedihanmu hanya saja..” Sehun terdiam selama beberapa detik menatap Minjoo, begitu pula dengan Minjoo.

“Jangan terlihat sedih di hadapanku. Aku tidak suka melihatmu sedih.”

🌾 🍁 🍂 🍀 ☘ 🌿 🌼 🌼 🌼 🌼 🌿 ☘ 🍀 🍂 🍁 🌾

The Day

🌾 🍁 🍂 🍀 ☘ 🌿 🌼 🌼 🌼 🌼 🌿 ☘ 🍀 🍂 🍁 🌾

Baekhyun meminum pesanannya yang baru saja datang beberapa detik lalu. Saat ini Baekhyun sedang berada di sebuah café dimana ia membuat janji bersama Kim Taeyeon, perwakilan dari perusahaan Starlight, untuk melanjutkan program kerja bersama mereka.

Tring.

Suara bel café terdengar dan itu langsung membuat Baekhyun menolehkan wajahnya pada pintu café. Baekhyun langsung melambaikan tangannya saat mengetahui pengunjung yang datang itu adalah Taeyeon.

“Maaf membuatmu menunggu lama, Baekhyun.” Ucap Taeyeon saat ia berhasil duduk dihadapan Baekhyun. “Urusan di kantor sangat banyak dan..” Taeyeon sedikit memutar kedua bola matanya, mungkin maksudnya lelah menghadapi urusan kantor itu. “Kau tahulah bagaimana rasanya dikejar deadline..”

“Sangat tahu. Bahkan sepertinya aku sudah berteman dengan yang namanya ‘deadline’” ucapnya dan itu membuat Taeyeon terkekeh pelan. Setelahnya Baekhyun pun memanggil salah satu pelayan untuk membantu Taeyeon memesan minuman.

“Oh iya, kulihat dari riwayatmu, kau merupakan lulusan Busan University, bukan?”

Baekhyun mengangguk-angguk, “Kau benar.. tapi, mengapa kau melihat riwayatku?”

“Tentu saja aku harus melihatnya, kita akan bekerja bersama selama beberapa minggu dan berarti aku harus tahu cara kerjamu, bukan?” ucap Taeyeon dan itu membuat Baekhyun mengangguk setuju.

“Karena kau lulusan dari Busan University, apa kau mengenal pria bernama Luhan saat kau kuliah disana dahulu?”

Baekhyun tampak berpikir sebentar, “Kurasa aku pernah mendengar namanya..” Baekhyun berpikir keras hingga akhirnya ia mengingat nama Luhan yang Taeyeon maksud, “Ah aku ingat. Si pria cantik yang digilai banyak wanita. Kenapa memangnya?”

Taeyeon tertawa cukup keras mendengar perkataan Baekhyun, “Apakah dia sepopular itu?”

Baekhyun tertawa kecil, “Iya, dia sepopular itu.” Jawabnya.

“Kalau aku bilang bahwa aku adalah mantannya, kau percaya tidak?” tanya Taeyeon kemudian.

“Kau seorang lesbi, huh?” Baekhyun menjawab itu dengan tertawa, hanya bercanda sebenarnya dan Taeyeon langsung tertawa mendengar jawaban Baekhyun itu.

“Kau sangat lucu, Baek.” Tutur Taeyeon sambil menghapus air matanya, “Benar-benar lucu.”

“Aku hanya bercanda saja, jangan diambil hati, ok?” ucap Baekhyun dengan terkekeh pelan.

“Tentu saja tidak, aku kan memang bukan seorang lesbi!” nyinyir Taeyeon dengan masih menyelipkan kekehannya.

“Iya maka dari itu jangan diambil hati ya..” ucap Baekhyun lagi sambil tertawa pelan.

“Sepertinya, akan menyenangkan untuk bisa berteman denganmu, Baek.” Lanjutnya lagi setelah mereda tawanya. Taeyeon kemudian menunjuk-nunjuk Baekhyun, “Kau benar-benar humoris.”

Baekhyun tersenyum dan mengangkat bahunya, “Kita memang berteman karena kita menjalankan proyek ini bersama, bukan?”

Taeyeon mengangguk dan tersenyum setuju, “Kau benar.”

.

.

.

Setelah selesai membahas proyeknya bersama Taeyeon, mereka pun berpisah dengan Baekhyun yang mengantar Taeyeon untuk mendapatkan taksi.

“Nanti kukirim rancangan design yang telah arsitek perusahaan kami buat, hm?” ucap Baekhyun sambil membuka pintu taksi untuk Taeyeon.

“Iya, santai saja, tidak usah terburu-buru. Kau bilang saja pada temanmu yang bernama deadline itu untuk menghilang dahulu, hm?” Taeyeon mengimbuhi kekehan di akhir kata.

“Tentu saja.” Balas Baekhyun dengan tertawa juga.

“Kalau begitu aku pamit, Baekhyun.” Ucapnya lalu menutup pintu taksi. Kemudiannya ia langsung membuka kaca jendela, “Kalau kau punya rencana baru lagi, hubungi aku.” Tambahnya.

Baekhyun mengangguk, “Tentunya.” Dan setelah itu taksi yang membawa Taeyeon pun berjalan menjauhi Baekhyun.

Dari pertemuannya dengan Taeyeon hari itu, Baekhyun senang bisa bekerja sama dengan seseorang seperti Taeyeon. Taeyeon adalah seorang gadis yang pintar dan dewasa. Selera humornya pun sama seperti Baekhyun. Sambil bekerja untuk membuat proyek mereka tadi, mereka bercerita banyak dan setiap cerita yang mereka lontarkan itu mengeluarkan satu tawa yang sama.

Rasanya menyenangkan punya teman seperti Taeyeon, pikir Baekhyun.

“Ah!” Baekhyun pun teringat suatu hal. Ia kemudian mengambil ponsel dari kantungnya dan menekan nomor satu sangat lama sampai keluar:

My Minjoo

Calling

Hari ini Baekhyun sudah boleh diijinkan untuk pulang ke rumah karena ia sudah mendapatkan media partner untuk bekerja bersama, perusahaan dimana Taeyeon bekerja itu. Pekerjaannya sudah berkurang walaupun itu hanya 2 persen saja. Tapi, setidaknya ia bisa pulang dan menemui Minjoo-nya yang sudah sangat teramat ia rindukan.

“Kenapa dia tak mengangkat?” tanya Baekhyun keheranan saat suara operator wanita muncul dari panggilannya pada Minjoo.

Ia pun kemudian melirik jam, pukul 4 sore.

“Minjoo biasanya pulang jam 5..” Baekhyun berpikir sebentar, apakah ia harus menjemput istrinya atau tidak.

“Kurasa aku akan menjemputnya saja.”

.

.

.

Baekhyun pun menghentikan mobilnya di depan toko bunga Han Minjoo. Saat Baekhyun baru saja turun dari mobilnya, ia dikagetkan oleh pegawainya yang menutup toko Minjoo. Padahal, biasanya Minjoo yang menutup tokonya sendiri dan ini masih pukul setengah 5 sore.

“Kemana Minjoo?” tanya Baekhyun saat ia menghampiri pegawai lelaki Minjoo, namanya Yook Sungjae.

“Ah,” Sungjae pun telah berhasil mengunci toko dan sebelum menjawab pertanyaan Baekhyun, Sungjae memastikan pintu telah terkunci dengan benar.

“Tadi siang, Minjoo noona pergi bersama seseorang dan aku disuruh untuk menjaga tokonya. Karena aku ada urusan, aku menutup tokonya lebih cepat hari ini.”

Baekhyun tahu, ada sesuatu yang tidak benar saat Sungjae bilang bahwa Minjoo pergi bersama seseorang.

“Bersama siapa?”

“Aku lupa namanya.. dia seorang lelaki..” Sungjae menghentikan perkataannya untuk mengingat dan saat itu, puncak kepala Baekhyun terasa sangat panas. Persis seperti api telah terbakar di kepalanya saat Sungjae bilang bahwa Minjoo pergi bersama seorang lelaki.

“Lelaki?” tanya Baekhyun mengulang perkataan Sungjae.

“Aku lupa namanya hyung, hanya saja lelaki itu hampir setiap hari mengunjungi toko jadi aku tahu siapa dia.”

Sumpah, rasanya Baekhyun ingin mematahkan tiang listrik saat itu juga.

“Setiap hari mengunjungi toko?” tanya Baekhyun mengulang kembali perkataan Sungjae.

“Iya.”

Baekhyun diam. Diamnya Baekhyun artinya ia sedang menahan amarahnya dalam-dalam di hatinya.

“Baiklah, terimakasih. Aku pergi.” Jawab Baekhyun dan langsung mengambil langkah besar-besar untuk masuk ke dalam mobilnya, meninggalkan Sungjae kebingungan atas penuturan kata Baekhyun yang terdengar sinis olehnya.

Baekhyun tidak peduli, satu yang ia tahu. Ia benar-benar kesal saat ini.

🌾 🍁 🍂 🍀 ☘ 🌿 🌼 🌼 🌼 🌼 🌿 ☘ 🍀 🍂 🍁 🌾

The Day

🌾 🍁 🍂 🍀 ☘ 🌿 🌼 🌼 🌼 🌼 🌿 ☘ 🍀 🍂 🍁 🌾

Mobil Sehun berhenti tepat di depan rumah minimalis Minjoo dan Baekhyun. Tidak terlalu besar dan tidak terlalu mewah. Hanya rumah bertingkat dua berwarna abu-abu dan berpagar hitam.

Waktu sudah malam dan jika kalian bertanya apakah mereka menghabiskan hari mereka untuk mengunjungi Lotte World, maka jawabannya iya. Saat Sehun mengatakan hal itu, akhirnya Minjoo berterus terang pada Sehun atas apa yang membuatnya sedih hari itu. Ya, ia menceritakan Baekhyun yang terlalu sibuk hingga tak memiliki waktu untuk menemui Minjoo dan itu membuat Minjoo tersiksa karena merindukan Baekhyun.

“Sudahlah, Minjoo-ya.. dia kan bekerja untuk dirimu juga. Baekhyun berusaha menafkahimu dan bertanggung jawab karena telah menikahimu. Jangan bersedih kembali..”

“Iya, aku tahu, Sehun-ah.. tapi.. bukankah kebahagian itu tidak selalu berasal dari uang? Maksudku.. dia tidak perlu bekerja sekeras itu untuk mencari nafkah hanya demi diriku..”

Sehun tertawa pelan, “Ya.. memangnya dia hanya memikirkanmu saja? Dia memikirkan jangka panjangnya, Han Minjoo. Dia juga memikirkan bagaimana nanti jika kalian sudah mempunyai anak, siapa yang akan menafkahi anak kalian?”

Minjoo pun terdiam karena perkataan Sehun. Merasa tersuduti karena perkataan Sehun benar.

“Jangan sedih lagi, hm? Kalau kau kesepian, izinkan aku menginap di kamarmu kalau begitu?” ucapnya, bercanda namun itu berhasil membuat Minjoo menampar dahi Sehun.

“Maumu saja! Sudah aku pergi!” Minjoo kemudian keluar dari pintu mobil Sehun walaupun Minjoo mendengar Sehun merenguh kesakitan sekaligus menyalak marah pada Minjoo.

“Ah iya, terimakasih untuk hari ini.” Minjoo kembali membuka pintu mobil Sehun, “Kau benar-benar temanku, Oh Sehun.” Ucap Minjoo penuh dengan perasaan terima kasih.

Sehun terkekeh pelan, “Bukan masalah.”

Setelahnya, Minjoo pun menutup kembali pintu mobil Sehun dan membiarkan Sehun untuk pergi meninggalkan rumahnya. Sesaat setelah Sehun pergi, Minjoo pun membuka pagarnya.

“Sendiri lagi..” ujarnya sambil berjalan menunduk tanpa sadar bahwa ada mobil yang terparkir di tempat parkir rumahnya. “Aku tidur sendiri lagi.. astaga..” rengeknya.

Saat Ia telah berada di depan pintu rumahnya, ia pun membuka pintunya.

Cklek.

“Darimana saja kau?”

Suara itu..

Minjoo pun dengan segera mencari sumber suara yang sangat ia rindukan dan ia menemukannya. Seorang pria yang selama ini Minjoo rindukan berada di kursi sofa ruang tamunya. Kalian tahu bagaimana rasanya saat kalian sesak nafas lalu tiba-tiba selang oksigen terpasang di hidung kalian hingga membuat paru-paru kalian lega? Itu persis dengan Minjoo saat itu. Melihat Baekhyun membuat perasaannya yang kelam, sesak karena merindukan menjadi cerah, lega.

“Baekhyun-ah!” ujarnya begitu riang. Tanpa menunggu Baekhyun membalas panggilannya, Minjoo langsung menghampiri Baekhyun dan langsung duduk tepat di sebelah Baekhyun.

“Baekhyun-ah, Baekhyun-ah, Baekhyun-ah! Kau sudah pulang?!” Sumpah, Minjoo benar-benar bahagia pada waktu itu. Sama bahagianya saat Baekhyun melamarnya 8 bulan silam.

“Aku tanya, kau darimana, Han Minjoo?”

Minjoo belum sadar jika nada yang Baekhyun lontarkan terdengar sangat tajam karena gadis itu masih berada di euphoria bahagianya melihat Baekhyun kembali.

“Aku baru saja dari Lotte World, Baek!” ucapnya tanpa mempedulikan apa yang baru saja ia katakan memicu emosi Baekhyun. “Kalau tahu kau pulang, aku bisa pulang lebih cepat dan memasakkanmu—“

“Dengan siapa?”

Dan dari situ, Minjoo sadar bahwa raut wajah Baekhyun tidak hangat. Sangat tidak hangat, bahkan ia menatap Minjoo dengan dingin.

Minjoo pun terdiam sambil menyatukan kedua tangannya. Bingung harus menjawab atau tidak.

“Dengan siapa, Han Minjoo?” Tanya Baekhyun dan kali ini suaranya sedikit ia tinggikan. “Jawab pertanyaaku, jangan diam.” Tuturnya lagi sedikit keras.

“Dengan..” Minjoo menyerah, ia tidak bisa untuk berbohong pada Baekhyun.

“Oh Sehun.”

Baekhyun rasa saat itu musim panas terpanas sepanjang hidupnya telah datang. Ia merasa seperti hatinya telah terbakar dan tak menyisakan apapun selain perasaan benci dan emosi. Untuk mengurangi rasa kesalnya, Baekhyun pun menutup matanya, mengambil semua nafasnya untuk menahan emosinya. Tapi, ia rasa itu tidak berhasil.

“Kurasa aku sudah pernah mengatakan ini padamu, Minjoo..” Baekhyun kemudian membuka matanya dan menatap Minjoo datar. “Perkataan mana yang kau tidak mengerti dari ‘Jangan-pernah-temui-Oh-Sehun-kembali, huh?!”

Minjoo terdiam. Minjoo bisa melihat jika wajah Baekhyun sedikit memerah, menandakan pria itu benar-benar kesal saat ini dan itu sedikit membuat Minjoo takut.

“Tapi.. bukankah sudah kubilang juga bahwa Sehun itu teman—“

“Dia tidak menganggapmu teman, Han Minjoo-ssi!” Sudah, Baekhyun sudah terlampau tersulut api amarahnya. Sampai-sampai ia memanggil Minjoo dengan panggilan seformal itu. “Dia itu menyukaimu! Dia itu berusaha untuk mendapatkanmu kembali!”

Baekhyun membentak Minjoo. Sangat keras sampai Minjoo menundukkan wajahnya. Demi Tuhan, Baekhyun benar-benar marah saat ini. Dan ini kali pertamanya Baekhyun semarah itu pada Minjoo. Dan saat ini Minjoo merasakan hatinya yang sebelumnya menghangat menjadi penuh ketakutan.

“Baek.. dengarkan aku dahulu, sungguh aku dan Sehun hanya berteman. Aku pergi bersama Sehun karena dia temanku dan tidak aku anggap lebih.”

“Jika kau tidak menganggap lebih, mengapa kau tidak mendengarkan perkataanku untuk menjauhinya!?” Baekhyun kembali membentak Minjoo hingga ia berdiri dari tempatnya. “Atau jangan-jangan kau sudah tidak menganggapku sebagai suamimu lagi, begitu!?”

Sungguh, perkataan itu benar-benar menyakitinya. Tidak pernah selama ini terpikirkan oleh Minjoo bahwa Baekhyun bukan suaminya apalagi bukan miliknya.

“Baek…” Minjoo pun ikut berdiri dan kini mencoba untuk meraih tangan Baekhyun, “Aku tidak pernah berpikir seperti itu. Tidak pernah terpikirkan olehku bahwa aku tidak menganggapmu suamiku.”

Baekhyun pun menjauhkan tangannya dari tangan Minjoo, “Kau tidak ingat apa dengan semua hal yang ia lakukan untuk mendapatkanmu?! Kau tidak ingat dengan semua hal yang ia lakukan untuk menjauhimu dariku?!”

Siapapun, tolong hentikan Baekhyun saat ini.

“Baek.. kumohon..”

“Dengar ya, Han Minjoo..” Baekhyun menajamkan lagi pandangannya pada Minjoo, “Jika kau benar-benar menganggapku suamimu, jauhi dia dan jangan pernah temui dia lagi! Mengerti?!” bentaknya.

Dan mata Minjoo mulai memanas.

“Baekhyun-ah..”

Baekhyun melihat jika mata Minjoo mengeluarkan cairan dan sesungguhnya itu sedikit menyakiti hatinya. Tapi bagaimana lagi? Amarah itu benar-benar menguasai tubuhnya.

“Hari ini kukira akan menjadi hari yang menyenangkan untukku karena aku pulang, aku bisa melihatmu, Minjoo.” Tuturnya.

“Nyatanya apa? Kau malah bersenang-senang dengan pria lain disaat suamimu ini sedang berusaha untuk mencukupi kebutuhanmu.”

Byun Baekhyun, berhentilah. Semua kata-kata itu akan kau sesesali di hari mendatang.

“Baru kali ini aku merasa benci untuk melihatmu, Han Minjoo.”

Baekhyun pun berjalan meninggalkan Minjoo sendirian dengan amarahnya yang begitu meluap. Sedangkan Minjoo, gadis itu menunduk dan detik kemudiannya tubuhnya jatuh ke atas sofa dengan getaran bahu yang detik demi detiknya bergetar cukup hebat.

“Baek..hyun-ah…”

🌾 🍁 🍂 🍀 ☘ 🌿 🌼 🌼 🌼 🌼 🌿 ☘ 🍀 🍂 🍁 🌾

To Be Continued

🌾 🍁 🍂 🍀 ☘ 🌿 🌼 🌼 🌼 🌼 🌿 ☘ 🍀 🍂 🍁 🌾

Hai semuanya!!! Aku gak tau apa kalian senang atau ngga saat aku kembali but.. hey, I miss you guys. So much. Its been so long though to see ur comments and I really really miss it so much. Ada beberapa orang yang komen di dua ffku yang sebelumnya dan serius deh itu bikin aku kangen banget buat nulis. Huaa..
Hm ok, untuk cerita ini aku ngga tahu kalian bakal suka atau ngga. Yang jelas, aku nulis karena aku gatel banget pengen nulis lagi. Apalagi saat sekitar satu bulan yang lalu Baekhyun rilis lagu ‘The Day’ beserta music video nya yang bikin hit right at my feeling. Hehe, udah deh segitu aja cuapnya, ohiya kalau tulisanku jadi semakin jelek.. maafkan yah. Maklum udah lama ga nulis jadi begini:”)

 

수_줍_수_줍

I’m missing you again

The warm wind remembers you back then

The Day by Baekhyun&K-Will

-Baek’s sooner to be wife-

 

113 responses to “The Day [1/3]

  1. Lah ada taeyeon :v taeng kayaknya suka ya sama baekhyun 😂 jadi baver inget jaman mereka pacaran😂 tidak, tidak baekhyun gaboleh sama teyen sehun juga tidaaaaak cari yang lain aja ya onni :v

  2. i can’t ini terlalu jleb buat aku baca, awalaNnya bikin senyum-senyum, banyak kenangan manis, pas diujung konfliknya bikin jantung senut senut, soalnya…aku perempuan, ya jadi aku ikut ngerasain waktu baek ngebentak. huhuhhu

    udah lama gak baca ffnya ByeonieB-nim, kangen… *tapipasbacasenutsenutjantungku* abaikan!! intinya aku seneng bisa baca ffnya lagi!! SEMANGAT!!!!

  3. Aku seneng banget malah kaka mau sempet nulis lagi soalnya disini kan udh jarang gitu ff yg cast nya Baekhyun😌 dan untung aku baca pas lagi ga puasa😂/ehh
    Aku sampe nangis trs dada aku ikutan sesak jga😂 seriusan aku orng nya cengeng+baperan bgt-_-
    Btw, yg awalan itu si Baekhyun nya udh ninggalin Minjoo gtu atau blm? Jangan bilang iya trs si Baekhyun sma taeyeon😭 ahhh pokonya hidup mereka harus bahagia titik! Kenapa sih akhir2 ini aku baca ff si Baek pasti orng ke3 nya Tae-_- kesel jdinya pdhal Taeyeon bias-_-

  4. baca dari paragraf awal emang udah nyesek. apalagi yang diputer lagu the day sambil baca. awalnya ragu buat baca karena the day lagunya cukup bikin aku nangis aku ga terlalu suka ff angst tapi ff ini bikin penasaran. aku udah takut sama ending ff ini, semoga happy ending. next yaaa ditunggu

  5. Taeyeon padahal bias… tapi kalo jd orang ketiga gini gasukaㅠㅠㅠㅠ
    Itu sama aja Oh Sehun bias aku jugaㅠㅠㅠㅠ
    Baekhyun ini sakit tau rasanya di bentak ntah kenapa pas aku baca aja kaya aku yg dibentakㅠㅠㅠ.ㅜ

  6. waw baekhyun bkin merinding marah” nya,tpi ngliat muka nya si baek yg imut jdi susah bayangin muka dy klo lg marah..

  7. halooooo… miss u tooooo…
    hehehe
    yah baekhyunny slah paham ini.. sbnrnya minjoony jg slah, tp mau gmna lagi kalo sehunnya gatel gtu.. eh
    hayoooo.. jgn2 ntr baek m taeyeon lg 😣😣😣
    keep writing ^^

  8. yeayyyy! Finally keluar juga cerita dari kak ByeonieB ini,aku suka tiap kali kakak ngeluarin ff baru alurnya apalagi cast nya si cantik baekhyun hehe
    trus gimana dong? Jangan bilang nnti mereka cerai atau jangan jangan salah satunya kecelakaan apa… yahh pkoknya ditunggu kelanjutan ceritanya ini kak.hwaiting!

  9. Kesel sendiri kalo inget ada taeyeon disitu. Jangaan ada pho gzzz. Apalagi pas inget mv nya the day bikin baper njirr:”” Semoga aja happy ending yaa

  10. Miss you kak byeonieB 😄,,, aahh ff baek lgi gemes liatnya,, awalnya lovey dovey yeeyy tpi ujung2 ad konfliknya,, daebakk 👏👏
    Tpi klo aku jdi baek emank udh seharusnya ngomong kek gitu krna suami adlh pemimpin*ehcie
    Minjoo knp sih keras kpla bgt udh di blgin jg,, baek kek gitu kn krna syg, ok lah ditunggu kelanjutannya,, ini cuma 3 chap ya? Jgn lama2 ya udh ga sabar nunggu next chapnya,, see you

  11. Sialan anjirrrrrrr fakfakfak kezeeeeel bangetttt jadi runyam udaaaah huwaaaa baekhyun-ah kasian minjoo nya:””””” hiks jjangan sampe pisaaaah pokoknya:(((( fast update yaaaa kak:*

  12. Lah gak tau kenapa nyesek ._. Apalagi ada mbak taeyeon 😂😂 haduh gimana jadinya ntar hubungan mereka ….
    Ya ngerti sih baekhyun gak suka sama sehun tapi kan ya harusnya dia percaya aja sama minjoo kalo dia gak bakal selingkuh .. kalo dia gak percaya gini malah bisa kacau semua ._.

  13. jadi akhirnya gimana iniii dududuuu pasti sad ending (?) –‘ ada taeyeon, jadi nambahin feel bacanya bwahaaa.. susah juga yah kalo punya suami yg overprotective kek gitu.. dan kata2 yg ini ”
    Byun Baekhyun, berhentilah. Semua
    kata-kata itu akan kau sesesali di hari
    mendatang.” bikin otak bertanya2, apalagi pembukaannya, si minjoo ditinggal baek?? huaah aku banyak tanya hahaa dan hallooo kaaak kita ketemu lagi ^^ terakhir aku baca tulisan kakak di ff the sun, ya? dududuuu bogopa >< hhaa

  14. YEAYY!!! YOU’RE BACK THORR💕💕💕💕💕
    Baru chap1 langsung salah paham gini yaaa ㅋㅋ

  15. aarrghh ngapain ada taeyon segalaa ga pokoknya baekhyun harus sm minjoo, kasian baek minjoonya:(( lagian baekhyun jg bukannya pulang udh 2 minggu malah sm taeyeon truss ahh gasuka taeyon..

  16. WAAAAAAA AKHIRNYAA BALIK LAGII BAEKHYUN MINJOOOO😍😍😍 lagi lagi masalahnya cemburu ya hadehh baekhyun😥

  17. Yaah ada taeyeonn 😂 konfliknya bakalan heboh jangan jangan *sotau* aku suka ffnya beda dari yang lainn 😄😄😄😄😄💞

  18. aduuh ini gatau harus seneng,sedih,galau,atau baper😥😥
    keren ni ff walaupun ada typo ny dikit.hehe but it’s okay msh ttp bagus ko…jjang
    duh kesian si minjoonya..y wajar si y klo pasangn kita jln sm org lain,,apalagi posisiny mreka udh menikah pan sehrusny seorang istri hrus nurut ap kata suaminy..tp yg namany jg manusia y pasti khilaf#lahapaini wkwkwk
    lmao ada si tae nyempil nih diih jd baper lg klo ada si itu tuh..ewww
    tambah tambah sekrg bru liat si tiang listrik aka cy kissing looh..saoloh double tuh mampusny..:'(😥 :'(…wkwk sorry panjang bgt commentny🙂 but next chap ny dtunggu banget..fighting buat yg nulis btw semoga next bisa tmbah greget ulekanny(?)abaikan.haha

  19. jahat banget baek… persis kayak di mv the day… tega bangt baek blg benci minjoo.. jgn sampe nyesel ntr.. duuhh nyes bgt ini… hiks😥

  20. Huaaa aku tidak suka kesalah pahaman iniii
    Authooor tolong janji, di akhir cerita nanti tetap kembalikan kebahagiaan baekhyun-minjoo yaa. Janji yaaa
    Agak khawatir juga nih setelah nama taeyeon muncul.

  21. Why, why, dolaseo tto neon
    Why, why, kkumman gadeukhae.
    Eaaaaalaahhh kok virus taeyeon meraja lele :v
    plis deh di sini konflik nya ada sehun sebagai si pembuat salah sangka, ada si taeyeon siii… si…. si……??????
    mana pula baek emosional :s
    dahh lahhh yg sabar wae yo mbak minjoo

  22. Aku sukaa ih sama ceritanya. Dijelaskan secara bertahap gtt bikin deg2an bacanya wkwk. Trs datangnya taeyeon jeng jeng jeng gatau knp bikin tambah suka😍😍😍

  23. Taeyeon di sini baik kah?atau malah jadi perusak?Baekhyun jangan gitu dong ke Minjoo :'((

  24. Kakak is why, huh!? Why!? Aku ga nahan banget karena Minjoo di sakiti T.T
    Heol, keposesifan Baekhyun emang benar-benar yak? Tapi sebenarnya jadi Baekhyun pantas marah sih. Suami mana coba yang ga panas dingin, mendengar istrinya jalan-jalan/yang bisa dikatakan sebagai kencan/dengan seorang teman laki-lakinya? Lebih-lebih si laki-laki pernah suka sama istrinya. Pasti rasa was-was ada kan yaa…
    Tapi-lagi, Baekhyun terlalu keras sama Minjoo. Tau juga kalo Minjoo itu pastilah Friendly, ahh syudahlah ini membuatku ikut pusing_-

    Hey, disini ada ChanBaek. Cieee tulisannya diselipin ChanBaek yang Brothership. Yeahh…seperti yang aku tanyaka kemaren/halah
    Maaf aku komen telat. Sebenarnya kemaren aku liat ff ini tapi aku ga liat nama Author sama Castnya, kalo tau ini dari Author ByeonieB, pastilah aku baca!
    Udah ahh gitu aja nyampahnya :v

  25. ingin ku berkata kasar saat nemu nama taeyeon muncul~ gile gile gile ini udah kek baca 3 chapter sekaligus dari awal cerita pas cuddle an sumpah greget bgt udah seneng bgt baru awal udah ada cuddlean gitu. bahagia udah. trus pas baek nanya buat gak marah istrinya klo dia bakal nginep dikantor selama itu paling romantis sumpah yah kak sumpah sumpah udah kek pen bilang udah jan ganggu mereka, mereka udah bahagia.titik. trus ya pas mreka cuyung2an kangen2an dikantor ahh tau deh udah kek disambar 3 setrum ikut baper ngeliat 3 kejadian romantis. udah lama gabaca fluff gini yatuhaaan. terimakasih kaka authornim yg pling ku sayangg haha lebay emang gue, serah deh lelah liat baekyun nyemprot gitu pulang2 rumah.bye ka mau cus ke 2/3😂💕💞💞💕💞💕💞❤

  26. Baper sumpah bacanya!!😂😂😂😂
    Wah aku lihat Yang komen panjang2.
    Wah Ada Taeyeon eonni.

  27. Baekhyun sama minjoo….entah knp aku suka banget sama couple mereka..sweet banget

    Ahhh…aku agak nggak suka k sehun d cerita ini…masa baru muncul udh jelek-jelekin baekhyun …. Trs taeyeon juga kayak ngasih perhatian gitu k baekhyun……

    Tapi aku langsung baper pas bag terakhir nya…
    Mereka udh sweet di awal…knp terakhir hrs bertengkar…..sampe baekhyun bentak minjoo lg????

  28. YA ALLAH KAK APA KABAAAR? AKHIRNYA NGELUARIN FF BARU JUGAAAA TT.TT
    Ini 3 part ae ya? Gapapa deh:’3
    DAN INI APA APAAN KOK FEELINGKU SI TAEYEON BAKAL JADI PHO YAAA :’3
    Baper tau kak, apalagi bacanya sambil denger lagu the day :”
    Seperti biasa, 1 part kak byeonieB pasti panjang, jadi suka bacanya ahahahaa
    Ditunggu kelanjutannya kakk□□

  29. aaaaa setiap kli baca ff kaka, bwaannya pengen nangis terus, bikin baverrr😥
    Baekhyun kya gtu lagi, nykitin minjoo ˋˍˊ

  30. Kakk byeoniBbbbbbbbbb…. 😄😄😄😄
    Aku si silent reader , hehhehehe… 😂😂 tapi udh tobat sekarang . ^-^
    Saya udh baca seluruh karya kakak , dan ya tuhannn.. lagi lagi saya pengen kasih 10 jempol buat kak byeonib. 👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍 Setelah sukses bikin aku uring uringan, senyum senyum sendiri dikelas, nangis sendiri, baver sendiri, de el el dengan ff ” The Sun ” dan sekarang , engkau buat karya baru lagi . Aaaaaa… why ? Oh why? Ff ini bikin aku ngefeel bangettttt… 😭😭😭
    Dari kemarin aku baca chapter 1&2 , aku bolak balik dan selalu nyempetin check SKF untuk ngecheck udh update atau belum .

    Semangatttt yaaaa authorniiimm .. 😍😍😍
    Ff mu luarr luarrrrr biasssaaa…
    ByeoniB jjang!!!!

  31. Pingback: The Day [3/3] | SAY KOREAN FANFICTION·

  32. Selalu suka ff buatan kakak😊
    agak telat sih ya bacanya. Tapi itu juga gk bakal kejadian klo HP gk ilang. Ahh gk sabar baca selanjutnya. Komentarnya segini dulu deh😃

  33. Dari awal bacaa ini udah berasa janggal waktu si minjoo nangis di kamarnya…tapi di scene selanjutnya malah jadi beda banget ceritanya…. aku kiraiin baekhyun nya meninggal ato gimana gitu???
    Tapi entah kenapa aku punya firasat buruk sama taeyon itu… padahal kan yang bikin minjoo dan baekhyun berantem itu oh sehhhhùn…
    Penasaran sama kelanjutannya…

    Oh iya ngomong ngomong aku kangen banget sama tulisannya kak byeonib…setelah ff yang terakhir itu..yang konfliknya bikin aku gereget setengah mati dan berharap jadi happy ending aku juga hiatus dari baca ff karena ujian…dan akhirnya bisa baca ff lagi apalagi punyanya kak byeonieb seneng banget apalagi satu chapter nya panjang banget kayak gini..berasa baca novel kkkk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s