Alunno Guerra [ Chapter 1 ]

krystal

Title : Alunno Guerra

Cast  : Jung Soojung, Kim Jongin

Support Cast : Oh Sehun, Kang Seulgi, Park Chanyeol, Bae Joo Hyun

Genre : School life, Romance, Friendship, and action later

Desclimer : This story is pure mine, Don’t Plagiat!

Spoiler :

Semua ini berawal dari surat yang dikirim dirinya 15 tahu mendatang, dan membuatnya harus memperbaiki semua yang telah ia perbuat bahkan menyangkut keutuhan seluruh manusia.

Opening klik disini

***

Soojung POV

Saat istirahat Chanyeol dan Sehun segera menyambangi meja Jongin, mengajaknya bermain sepak bola di lapangan dan ia langsung menyetujuinya. Sepeninggalan mereka, Seulgi menarikku keluar kelas. ” Ayo makan bekal di pinggir lapangan. Aku ingin melihat Yifan sunbae main.” Aku hanya mengangguk lalu berjalan bersamanya keluar kelas.

Di lorong kami bertemu dengan Yuri sunbae dan Yoona sunbae. Mereka adalah primadona sekolah. Tubuhnya sempurna, wajahnya cantik, rambut yang panjang juga indah, percayalah, mereka idaman semua namja. Aku menunduk hormat ketika mereka lewat. Mereka melambaikan tangan padaku, maklum karena mereka sahabat Jes eonni.

Di pinggir lapangan banyak murid yang duduk duduk sekedar membaca atau makan bekal mereka. Namun banyak juga yang fokus melihat para namja bermain sepak bola di lapangan. ” Fan fan oppa!!! Andweee!! kenapa ia bisa sekeren itu, Gosh!” Kalian harus tahu jika Seulgi adalah yeoja paling berisik jika akan bertemu Yifan sunbae. Ya, Yifan sunbae setingkat dengan Jes eonni, Yuri sunbae juga. dan ia keturunan Cina juga kuakui ia memang tampan namun bukan tipe yang bisa menarik perhatianku seperti namja yang tengah menggiring bola menuju ke gawang lawan itu.

Di lapangan Kim Jongin tengah serius mengelabuhi lawannya dan menggiring bola dengan lincah.

“GOL!!!” Teriak para namja tingkat 2 di sebelahku. Yang tengah bertanding merupakan tingkat 2 dan tingkat 3, jadi tak heran banyak sekali murid yang menonton apalagi cassanova sekolah yang digilai para yeoja seperti Yifan sunbae, Sehun dan Chanyeol bermain.

Aku melahap tomat ceriku sambil mengamati sekeliling. Di seberang, murid tingkat 3 juga menyupport timnya tak kalah riuh dengan kami. Peluit berbunyi dan semua pemain menyingkir ke pinggir. Chanyeol dan Sehun berjalan ke arahku dan Seulgi. Dan Jongin di belakangnya mengekor membuatku kembali gugup.

“Aish! Kau kan punya minum sendiri, Oh Sehun!” Seulgi berteriak sebal karena minumannya diteguk habis Sehun. “Aku hanya bawa air mineral sedangkan kau bawa jus, tega sekali kau, huh!” Jawab Sehun terdengar seperti anak kecil yang balas marah. Mereka berdua mulai adu mulut di antara Chanyeol.

Aku mengerutkan dahi ketika tidak menemukan Jongin di belakang mereka. Kuedarkan pandangan ke kananku. ” Gosh!” Ia langsung menoleh ke arahku. Yang benar saja, sejak kapan ia duduk di sebelahku. ” Wae?” Tanyanya.

Aku berusaha bersikap senormal mungkin. “Aniya, bukan apa- apa.” ucapku sambil menggeleng. Kulihat ia mengibaskan tangannya kegerahan. segera kuambil botol minumku. Dengan ragu-ragu kusodorkan botol berisi jus jeruk yang masih dingin ke arahnya.

Ia menatapku sekilas. ” Untukku?” Tanyanya. Aku mengangguk pelan. Langsung terpampang senyum khasnya itu padaku lalu diambilnya botol minumku. ” Gomawo, Soojung-ssi” Ucapnya lalu meneguk jusku hingga setengah. Aku masih menatapnya tanpa berkedip entah mengapa.
“Kau membuatnya sendiri?” Tanyanya. ” Eoh? Nde, tadi malam aku membuatnya lalu

kudinginkan di kulkas hingga agak membeku agar saat istirahat masih segar.” Ucapku.
” Enak sekali, aku suka jusmu.” Jawabnya sambil tertawa pelan. Aigoo…tawanya itu. Bisa sakit jantung aku setelah ini. Aku ingin bicara dengannya agak lama. Aku mengambil sebuah roti isi strawberry dari tempat makan dan ingin kuberikan padanya.

PRIT!

“Ya! Ayo kembali ke lapangan!” Ucap Sehun lalu Chanyeol dan Jongin berlari mengikutinya bersemangat. Secercah perasaan kecewa timbul di diriku. Ya, mungkin masih bisa lain waktu, lalu kumasukkan kembali makanan kedalam tempatnya dan membereskan lainnya.

 

Author POV

Bel tanda sekolah berakhir telah berbunyi. Para murid Gwangnam pulang lebih awal karena belum ada pelajaran tambahan yang biasa berlangsung hingga malam. Semua murid di kelas Soojung dengan menggebu-gebu membereskan semua bukunya kecuali Soojung yang masih duduk mencoba menyelesaikan halaman pertama bacaannya pada surat misterius yang ia temukan tadi.

Saat pulang sekolah lebih awal, Sehun akan mengajak kami bermain ke bukit bintang. Dan Jongin pun juga ikut.

Tapi percayalah itu ide buruk untuk keluar dari sekolah. Berusahalah tetap ada di sekolah.

Soojung mengernyit. Berusaha untuk tetap di sekolah? Memangnya akan ada apa?
Sehun menghampiri Seulgi dengan wajah amat cerah. “Ya, ayo ke bukit bintang. Ini masih terlalu awal untuk pulang, bukan?” Chanyeol yang duduk di depan Jongin pun ikut berdiri. ” Hemm, aku setuju denganmu.” Jawabnya. Seulgi mengangguk pula.

Soojung lalu melipat surat yang dibacanya diam-diam tadi. Lalu berpikir keras akan menuruti surat itu atau tidak. Jika menolak ajakan Sehun pasti sayang sekali, namun bagaimana jika yang dikatakan surat itu benar? Apa yang akan terjadi jika ia tidak menuruti surat itu?

“Jongin-ah, kau mau ikut?” Sehun bertanya pada Jongin yang hendak berdiri dari kursinya. Jongin mengerutkan dahinya sekilas. “Hmm, seperti apa bukit itu?” Tanyanya.

” Kujamin kau akan suka, kita akan melihat sunset dengan jelas disana.” Timpal Sehun sambil tersenyum menaik-naikan alisnya. ” Ikut tidaaak?” Godanya karena melihat Jongin masih berpikir.

” Arraseo, aku ikut. Lagipula orang tuaku tengah pergi dan hanya ada noonaku di rumah.” Ucapnya lalu mendapat rangkulan bersahabat dari Sehun.

” Soojung-ah, kau ikut kan?” Tanya Chanyeol. Seulgi langsung menggandeng tangan Soojung mengikuti Sehun dan Jongin yang lebih dulu berjalan keluar kelas. ” Tentu saja, kami kan selalu bersama kemana pun. Jika aku ikut, Soojung juga, iya kan?” Ucap Seulgi percaya diri.

Soojung masih ragu ketika ia sudah mencapai lobby sekolah. ” T-tunggu dulu.” Ucapnya langsung menghentikan langkah semua temannya. ‘Pikirkan apapun Soojung. Kau harus tetap disini.’ Batinnya.

” Ada apa?” Tanya Sehun dari depan.

Soojung melihat semua ekspresi temannya yang menunggu. ” Em.. sepertinya akan mendung hari ini. Bagaimana kalau kita tinggal sebentar disini?” Mendengar ucapan Soojung, semua temannya menatap ke langit. Langit berwarna biru cerah dan tidak terdapat awan mendung dimanapun. Soojung merutuki kebodohannya.

” Aku tidak melihat awan mendung dimanapun.” Ucap Seulgi. Jongin dan yang lain juga mengangguk setuju.

Soojung menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sambil tertawa canggung. ” Ahahaha, sepertinya aku berhasil menipu kalian. haha.” Tawanya dipaksakan. ‘ Bodoh, cari yang lain’ Batinnya merutuk.

Jongin melihat aneh ke arah Soojung. “Kau memang suka bercanda seperti itu ya? Hahaha.” Ucapnya sambil tertawa diikuti Sehun dan Chanyeol. ” Yeoja itu candaannya lain ya hahaha.” Chanyeol menimpali sambil melanjutkan langkahnya menuju parkiran.

Sesampainya di parkiran, Sehun lalu menaiki motor sport barunya dan Chanyeol masuk ke mobil sportnya. Jongin berjalan agak jauh menuju ke motor sport hitamnya hampir serupa dengan Sehun namun berbeda tipe. Soojung dan Seulgi berhenti mematung. ” Jung-ah, aku tidak bawa mobil, aku lupa.” Ucap Seulgi menepuk dahinya.

” Mwo ? Lalu kita bagaimana?” Tanyanya.

Terdengar suara derungan motor Jongin mendekat ke mereka. Sehun pun sudah siap di atas motornya. ” Hey, kau tidak naik ke mobilmu?” Tanya Sehun pada Seulgi. ” Aku tidak membawanya, aku lupa.” Ucap Seulgi sambil mengunjukkan giginya.

Sehun mendengus. ” Kenapa tidak bilang dari tadi. Ya! Chanyeol ah!” Chanyeol membuka kaca mobilnya. “Naiklah dengan Chanyeol.” Ucap Sehun. Seulgi berlari kecil ke arah mobil Chanyeol lalu berhenti sejenak. ” Keundae. ini hanya muat untuk 2 orang, bagaimana dengan Soojung? Dia kan tidak bawa helm?” Tanya Seulgi. Sehun berpikir. ” Aku juga sedang tidak bawa helm cadangan.” Gumamnya.

” Yah, kalau begitu kita harus tinggal dulu disini. Mungkin untuk beberapa saat.” Ucap Soojung tersenyum penuh arti menemukan alasan untuk tinggal di sekolah lebih lama.
” Kalau begitu denganku saja. Kebetulan aku membawa helm cadangan.” Ucap Jongin membuka helm fullfacenya. Ia lalu membuka jok motornya Tangannya yang terbungkus sarung tangan hitam lalu menyodorkan helm berwarna coklat muda pada Soojung.

Sebenarnya Soojung merasa kalah lagi mendengar ada saja alasan untuk pergi namun perasaan itu tertutupi rasa yang tak bisa dideskripsikan melihat helm yang tengah diberikan Jongin padanya. ” T-tapi..” Ucapnya terbata saat Jongin langsung memakaikan helm itu padanya dan naik kembali ke motornya.

” Kajja! Aku pengendara aman, tenang saja.” Ucapnya menatap Soojung meyakinkan.
Dengan ragu Soojung naik ke motor Jongin dan sebisa mungkin menjaga jarak dengan punggung tegap namja itu, takut jika degupan jantungnya yang menggelora itu terdengar. Setelah memastikan Soojung naik dengan benar, Jongin mengangguk pada Sehun lalu derungan motor Sehun menggema diikuti Jongin lalu Chanyeol.

Udara sejuk sore hari di Seoul membuat wajah Soojung yang memikirkan apa yang akan terjadi nanti menghilang sejenak. Tangannya yang berbalut jas sekolah terulur menyentuh kosong hembusan angin yang muncul akibat gerakan motor namja berjaket hitam di depannya. Ia memejamkan mata merasa tenang akan suasana seperti ini.

” Jadi, kalian sudah bersahabat sejak tingkat 1?” Suara bass Jongin menggema pada gendang telinga Soojung. Soojung kembali tersenyum lebih lebar mendengar suara yang menjadi kesukaannya sejak hari ini.

” Ya, kami sekelas dulu.” Jawabnya lalu setelah itu hanya suara motor Jongin yang terdengar.

” Emm… Boleh kutanya kenapa kau pindah kesini? Padahal Incheon kota besar yang lengkap jika ingin membeli apa-apa.” Ucap Soojung memulai pembicaraan.

Jongin memelankan laju motornya agar bisa lebih jelas mendengar suara yeoja berambut hitam kecoklatan itu. ” Noonaku sorang dokter, ia dipindah tugasakan disini, sedangkan appa dan eommaku tidak ingin noona tinggal berjauhan jadi kami semua ikut pindah kemari.” Jelasnya.

Soojung mengangguk-angguk mengerti. ” Apa kau tidak sedih meninggalkan temanmu disana?”

Jongin tersenyum tipis mendengar hal yang ditanyakan Soojung. ” Di kota metropolitan seperti Incheon, kau akan sangat sulit menemukan teman yang tulus berteman padamu tanpa menginginkan apa-apa seperti disini. Jadi jawabannya tentu tidak karena aku menemukan orang-orang baik disini.”

Kerutan kembali muncul di dahi Soojung mendengar jawaban Jongin. ” Memang apa yang diinginkan teman-temanmu disana?” Tanyanya penasaran.
Jongin menghela nafas pelan. ” Banyak hal.”

Sementara Soojung dan Jongin mengobrol ringan, Sehun yang merasa paling sendiri di barisan depan tengah asik menikmati Seoul di daerah perbukitan sore hari. Ia menoleh ke samping melihat deretan rumah penduduk yang terlihat jelas. Hamparan rumput yang jarang bisa ia temukan di daerah rumahnya di kota itu terlihat menyegarkan mata.

Ia lalu mengalihkan pandangannya ke depan. Terlihat seorang yeoja mengenakan jaket kulit merah muda dengan rok bermotif serupa seperti celana sekolahnya meluncur bersepatu roda sambil asik mendengarkan musik di telinganya.

Sehun menarik remnya pelan namun ia terlonjak saat rem itu tidak berfungsi. Ia menarik rem di tangannya yang satu, laju motornya tetap tidak memelan. ” Sial! Ada apa dengan motor ini! Yaa! Ya! Minggir!! Yaa!!” Ia berteriak membuka kaca helmnya sambil mengibas-ngibaskan tangannya pada yeoja yang memungginya agar menyingkir, namun percuma, yeoja itu mengenakan headphone di telinganya.

Sehun semakin berteriak kencang membuat Jongin dan Soojung yang tadi asik berbincang menatap ke arahnya. ” Ada apa dengan Sehun?” Tanya Soojung. Jongin hanya menatapnya tak mengerti. ” Ada yeoja di depannya kenapa ia tak memelankan motornya. Jangan-jangan remnya blong!” Ucap Jongin mulai panik.

Sedangkan Sehun masih sibuk berteriak sehingga menarik perhatian penduduk yang ada di pinggir jalan. Para penduduk pun ikut memperingatkan yeoja berambut hitam legam itu. Melihat orang-orang di jalan seakan memberinya tanda akan sesuatu, yeoja itu lantas memberhentikan laju sepatu rodanya dan menoleh ke belakang.

” Mwoya! Berhenti!! Yaa!!” Ia juga sama sama berteriak panik ketika Sehun tak memberhentikan motornya.

” Remku blong paboya!!” Yeoja itu hanya kaku di tempat seakan tak bisa bergerak. Ia menutup mata dengan tangannya. Sehun pun juga melakukan hal serupa.

” Tolong aku, Tuhan. Aku bahkan belum pernah pacaran mengapa ini terjadi.” Batin Sehun dalam hati.

KYAAAAA

1 detik

2 detik

5 detik

20 detik

Tak ada yang terjadi. Semua hening tiba-tiba. Sehun masih memejamkan matanya hingga satu tepukan menyentuh bahunya. Ia membuka mata pelan dan menoleh ke samping.

” Hya!! Jongin kau tidak bilang padaku kau ini malaikat pencabut nyawaku. Apa aku sudah mati?” Ucap Sehun kaget.

Jongin menghela nafas sambil memutar bola matanya. ” Aku ini manusia bukan malaikat kematian dan kau masih hidup Oh Sehun. Lihatlah tubuhmu utuh dan aku masih bisa memegangmu.”

Sehun meraba raba tubuhnya. Benar. Ia percaya ia masih hidup. Lalu ia membuka helmnya dan melihat ke sekeliling. Motor Jongin telah berhenti begitu pula mobil Chanyeol dan kendaraan di sekitarnya. ” Apa yang sedang terjadi disini?” Tanyanya heran ketika menyadari keadan sekitar yang kacau. Semua pengemudi berada di luar mobil dan kendaraan mereka dengan wajah bingung.

” Entahlah, semua kendaraan berhenti tiba-tiba dan tidak bisa hidup. Begitu pula motormu. Beruntung kau tidak menabrak yeoja itu.” Jelas Jongin. Yeoja itu. Sehun teringat akan kejadian yang baru saja dialaminya lalu mencari-cari keberadaan seseorang dan dilihatnya Soojung juga Seulgi mengelus-elus bahu seorang yeoja masih dengan sepatu roda menempel di kakinya terduduk di pinggir jembatan. Ketika itu mereka tengah melewati jembatan layang yang membentang di atas sebuah sungai besar.

Dengan langkah menggebu-gebu, namja berjaket biru tua itu melangkah mendekati yeoja yang tadi hampir ditabraknya meninggalkan Jongin yang kebingungan. Yeoja itu menunduk masih dalam keadaan shock ketika Sehun di depannya. Soojung yang melihat Sehun sudah berdiri dengan tangan dilipat di depan dada menggeleng memberi isyarat Sehun untuk tidak marah sekarang namun sia-sia.

” Hanya orang bodoh yang memakai headphone di jalanan, nona!” Ucapnya dingin. Sehun dapat melihat raut pucat di wajah yeoja itu ketika kepalanya mendongak. Sepintas terbesit perasaan bersalah telah membuat seorang yeoja bisa menjadi sepucat itu.

” Bodoh? Hanya orang tolol yang tidak membelokkan kemudinya ketika melihat seseorang ada di depannya. Walaupun remnya blong sekalipun, Tuan.” Ucapnya tak kalah ketus.

‘ Damn! Dia pintar membalas kata-kataku.’ Batin Sehun.

” Kau mengataiku tol-”

” Ya Oh Sehun hentikan!” Ucapan Sehun terpotong ketika Chanyeol menoyor kepalanya dari belakang.

” Bukan saatnya untuk berkelahi. Semua benda elektronik tidak bisa berfungsi. Apa handphonemu bisa?” Tanyanya sambil menilik ponsel. Sehun lalu merogoh saku jaketnya dan mengeluarkan ponselnya namu ketika memencet tombol power, ponsel itu bergeming.

Ia menggeleng. Chanyeol berdecak. ” Sebenarnya apa yang sedang terjadi disini!” Ucapnya frustasi. Jongin menghampiri mereka dengan wajah serius. ” Semua benda elektronik benar-benar tidak berfungsi. Aku memeriksa rumah penduduk disini semua listriknya mati bahkan benda yang menggunakan batu baterai sekalipun.” Jelasnya. Mereka semua masih kebingungan akan kejadian itu sambil masih menenangkan Sehun dan yeoja yang hampir ditabraknya tadi.

” Eomma, apa itu?” Ucap seorang anak kecil di pinggir jembatan menunjuk ke arah langit di belakang Soojung dan lainnya. Seketika mereka menoleh dan menganga tak percaya. Sebuah benda besar hitam tak dikenal mengambang di langit, terlihat menutupi sepertiga langit.

” Igo mwoya?” Seulgi masih menganga tak percaya begitupun dengan yang lainnya. Mereka terpaku dengan benda hitam mirip piring raksasa bergerigi.

NGINGG!!

Tiba-tiba terdengar suara derungan mesin sangat memekakan telinga datang dari belakang mereka. Semua orang di jembatan itu mendongak melihat sebuah pesawat terbang amat rendah dan menukik 45 derajat ke bawah. Pesawat itu melewati mereka lalu jatuh ke sungai yang ada di bawah mereka.

DUAR!

Pesawat itu meledak membuat mereka semua menunduk terkaget. Setelah kejadian itu semua orang yang ada di jembatan berlari meninggalkan tempat dan kendaraan mereka. Bagaikan semut yang berlarian menjauh dari pusat sebuah pukulan. Namun Soojung dan yang lainnya masih shock dengan kejadian itu dan terpaku tak bergerak di tempat mereka berdiri.

” Kurasa kita harus segera pergi dari sini!” Ucap Jongin lalu membuka joknya dan memasukkan sesuatu yang diambilnya itu ke dalam tasnya. Ia lalu menepuk bahu temannya satu persatu untuk menyadarkan mereka lalu menggiring mereka menjauh dari jembatan. Yeoja yang tadi hampir ditabrak Sehun juga mengikuti mereka masih dengan sepatu rodanya. Soojung yang berlari dengan tangan tertaut pada tangan Seulgi yang dingin tiba-tiba teringat akan kata-kata di surat yang ia baca tadi.

” Apa ini yang dimaksud surat itu?” Batinnya bertanya.

.

Di ruang operasi tengah berlangsung tindakan medis untuk pengangkatan tumor di tulang seorang pasien yang berbaring di meja besi nan dingin itu. Semua dokter dan perawat yang ada di dalam sana seketika panik mendapati listrik tidak berfungsi juga listrik cadang yang tidak menyala.

” Oksigen manual!” Titah dokter yang tengah menjahit bagian terakhir. Beruntung hanya tinggal jahitan menutup sayatan di kaki pasien itu yang harus dikerjakan. Obat bius pun masih tahan hingga waktu yang diprediksi dokter anestesi.

” Sooyoung-ah, kau bisa selesaikan ini, kan? jahit dengan rapi. Aku akan memeriksa keadaan di luar.” Ucap dokter muda itu pada dokter co-ass yang ada di sampingnya.

Ia lantas pergi meninggalkan ruang operasi setelah sebelumnya meminta dokter senior lain untuk mengawasi juniornya itu. Setelah membersihkan diri dan melepas semua atribut operasi, ia berjalan keluar ruangan dengan rambut terikat ke belakang dan mengenakan jas putih kebanggaannya. Matanya tak lepas dari ponselnya yang mati.

” Ck, ada apa dengan hari ini?” Ucapnya kesal. Seisi rumah sakit terpecah menjadi kacau ketika mendapati listrik mati dan genset cadangan pun juga ikut tidak berfungsi. Namun dokter muda berparas cantik itu malah mengkhawatirkan namdongsaengnya yang baru memasuki hari pertama di sekolah dan tak bisa saling menghubungi, sedangkan ia merasa bertanggung jawab penuh setelah dititip appa dan eommanya untuk menjaga namja yang 5 tahun lebih muda darinya itu.

” Wae, Taeyeon-ah? Percuma saja kau melakukan itu. Semua alat elektronik mati termasuk ponselku juga.” Ucap Donghae yang mendapati raut frustasi Taeyeon.

” Huh, aku harus memastikan Jongin baik-baik saja tanpa lecet. Anak itu, ia bukan seperti kebanyakan namja lainnya yang seumuran dengannya.” Ucapnya sambil berjongkok dan masih menatap ponselnya resah.

Donghae mengerutkan dahinya. ” Ia berkekurangan atau…?” Ucapnya ragu.

” Bukan itu yang kumaksud. Ia terlalu berani dalam segala hal. Dan pasti ia tengah berada di luar sekolah, namun tidak di rumah.”

Taeyeon melirik Donghae, namja berseragam tentara dengan lambang pangkat yang telah diraihnya tersemat di pundak lebarnya. ” Kenapa kau disini? Apa ada yang sakit?” Tanya Taeyeon.

” Hanya mengantar temanku yang ingin menjenguk kakaknya. Oh ya, adikmu..memang dimana sekolahnya?” Tanya Donghae.

” Gwangnam High School.” Jawab Taeyeon yang membuat Donghae memetikkan jarinya. ” Ia satu sekolah dengan sepupuku. Kalau begitu, ayo kesana. Kau tidak ada jadwal kan?” Tanyanya lalu diangguki Taeyeon.

” Tapi jarak dari rumah sakit menuju Gwangnam sekitar 3 km. Kau bilang semua barang elektronik tidak berfungsi, apa mobil termasuk juga?” Tanya Taeyeon kembali.

” Ya, tapi tenang saja aku punya ini. Kau bisa berjalan dengan sepatu roda kan?” Letnan muda itu mengeluarkan dua sepatu roda dari mobilnya lalu mengambil sebuah tas yang cukup besar dan ia gendong pada punggungnya.

” Kau meragukan seorang mantan atlit sepatu roda, huh?” Ucap Taeyeon berdiri dengan percaya diri di atas sepatu roda itu.

” Arraseo, ayo kita berangkat.” Ucap Donghae lalu meluncur beriringan dengan Taeyeon yang tak sadar masih mengenakan jas dokternya itu.

.

” Hah, sebenarnya sudah berapa jauh kita berjalan tadi, untuk pulang saja sampai begini lelahnya. Aku tidak sanggup lagi!” Ucap Seulgi yang terduduk begitu saja di tengah jalan. Mereka telah berjalan sekitar 20 menit menggunakan kendaraan dan itu akan makan waktu berkali-kali lipat untuk menempuhnya kembali dengan berjalan kaki.

Soojung pun ikut-ikut duduk, merasa sama lelah dengan sahabatnya satu itu. Sehun menyandarkan tubuhnya pada tiang tinggi. Sebenarnya ia ingin duduk seperti Soojung dan Seulgi atau sekedar mengistirahatkan kaki seperti Chanyeol dan Jongin tapi ia entah karena alasan apa ingin tetap terlihat dingin dan kuat di hadapan yeoja bersepatu roda yang kini ikut terduduk sambil memutar-mutar tangannya pegal.

” Kita masih 1,5 km lagi untuk sampai ke sekolah. Mungkin sekitar 15 menit lagi untuk berjalan dengan kondisi seperti ini.” Ucap Chanyeol sambil membuka seragamnya dan memperlihatkan kaos abu-abu yang telah basah oleh keringat.

Sehun mendengus lalu menyerah. Ia duduk lalu membaringkan tubuhnya asal di jalanan sambil menarik nafas panjang. Yeoja yang tadi hampir ditabrak Sehun itu terkekeh.

“Akhirnya duduk juga kau, namja sok kuat.” Ucapnya yang langsung membuat Sehun terduduk dan menatapnya sinis.

” Aku berjalan dengan kaki dan tenagaku sendiri, tidak seperti kau yang menggunakan sepatu rodamu itu, Yeoja pabo!” Ucap Sehun tak kalah sengit.

” Itu salahmu sendiri hanya mengandalkan barang yang berbensin dan aku punya nama, namaku Bae Joo Hyun bukan yeoja pabo asal kau tahu itu, Namja lemah.” Ucapnya lalu melengos.

Sehun menghembuskan nafasnya sebal. ” Siapa juga yang ingin tahu namamu, aku tak butuh itu asal kau tahu, Paboya!” Kini keempat orang lainnya hanya mendengus jengah melihat pertengkaran dari kedua manusia itu masih belum mereda juga bahkan dalam keadaan seakan dunia akan berakhir.

” Stop it, okey! You two just make this worse.” ucap Soojung jengah. Jongin yang juga melepas kancing seragamnya menyisakan kaos putih di dalamnya bangkit berdiri. ” Kajja, lebih cepat berangkat akan lebih cepat sampai juga. Lagipula hari sudah hampir gelap. Kita tidak akan bisa berjalan jika sinar matahari menghilang.” Ucapnya lalu semua dari mereka berdiri dan mulai kembali berjalan.

5 menit mereka berjalan, terdengar suara seruan dari belakang. ” Oh Sehun!” Si empunya nama lantas menoleh ke belakang dan langsun tersenyum sumringah melihat Donghae yang melaju mendekat dengan sepatu rodanya.

” Hyung!!” Donghae lalu berhenti ketika sampai di depan Sehun, sepupunya.

“Gwenchanayo? Dimana motormu?” Mendengar itu Sehun hanya meringis menanggapinya. ” A-ah.. itu…aku…me-ninggal-kannya.. hehe” Mendengar itu Donghae langsung menyerang Sehun dengan segenap omelannya. Mengingat ia juga ikut ambil bagian dalam pembelian motor baru Sehun yang umurnya belum genap 1 bulan itu.

Taeyeon pun menghampiri Jongin yang berada di belakang. ” Jongin-ah, ada yang terluka? atau sakit?” Ucapnya memeriksa seluruh badan Jongin dengan teliti. Jongin hanya menghela nafas bosan dengan sikap over noonanya itu.

” Aniya, noona. Gwenchanayo.” Ucapnya lalu membuat Taeyeon menghela nafas lega.

Donghae yang merasa puas telah membuat telinga Sehun kebas karena omelannya lalu meneliti sahabat-sahabat sepupunya itu. ” Wajah kalian seperti baru saja menyebrangi samudra atlantika hahaha.” Tawanya meledak menyadari semua dari mereka berwajah kumal dan tidak berbentuk lagi.

Chanyeol medengus kesal mendengar candaan tentara muda itu. ” Daripada hyung mengejek kami, lebih baik pikirkan bagaimana cara kami pulang. Aku tidak mungkin berjalan dari sekolah sampai ke rumahku.” Ucapnya.

” Hmmm…Aku hanya membawa 3 sepatu roda dan 1 papan skateboard di tasku.” Ucapnya berpikir. Karena jumlah mereka 5 jadi kurang 1.

” Aku membawa skateboardku di tas.” Ucap Jongin sambil mengeluarkan sebuah papan skateboar warna merah dengan banyak sticker di atasnya.

Sehun lalu mengambil skateboard yang dibawa Donghae. ” Oke, masalah selesai ayo kita pulang bersama-sama.” Lalu diangguki semua dari mereka dan bergegas mengenakan kendaraan mini di kaki masing-masing.

” Kajjaa!!”

TBC

Hai, Dateng lagi bawa chap 1, hehe, jangan lupa comment yaa readers, aku emang ngadaptasi konsep dari film orange dan dipaduin sama beberapa film lainnya, jadi jangan kaget kalo nanti ada cerita yang mirip. Gomawoo!!

8 responses to “Alunno Guerra [ Chapter 1 ]

  1. Gangerti deh ini maksudnya gimanaaa-.- ada alien gtt?
    Kok tiba tiba jadi nakutin seluruh kota gituuu…
    lanjut deh thorr

  2. benda apa yang jatuh je sungai??? trus ko bisa jatuh ya??? ditambah semua elektronik maupun listrik pada mati semua…
    jadi makin penasaran

  3. Kenapa semua benda elektronik bisa mati tiba” gitu? Terus benda hitam itu piring terbang? Ada aliennya gitu? Makin penasaran lah sama kelanjutannya. Btw aku suka sama penyampaian cerita yg kakak pake. Simple & jelas banget. Ditunggu banget lah kelanjutannya kak🙂

  4. Wah daebak~
    ff ini keren,bikin penasaran sekaligus bingung …
    Ditunggu chap selanjutnya . Fighting!! Semoga karyanya tambah daebak dan banyak yg suka

  5. Gangerti sumpah thor . tentang ufo gitu kahh?? Truss yang ngirim surat itu krystal 15 tahun kemudian?
    Ahh penasaran tapi gangerti, pokoknya next chap jan lama2 yaa
    #fighting

  6. seruuuuu seruuu tapi penasaran kenapa bisa ga berfungsi itu terus soojung dapet surat itu dari siapaaa

  7. Masih belom ngerti 100% sih. Karna chapter 1 kali yak.
    Tp sejauh ini cukup bikin penasaran.
    Cara penulisannya asik.
    Cast nya juga pada asik.
    Ditunggu kelanjutannya 😍

  8. Pingback: Alunno Guerra [ Chapter 2 ] | SAY KOREAN FANFICTION·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s