[Freelance] BEAUTIFUL HANGOVER (SENA’S STORY)

BEAUTIFUL HANGOVER

TITTLE

BEAUTIFUL HANGOVER [SENA’S STORY]

AUTHOR

SYAMMER

MAIN CAST

OH SEHUN & HWANG NANA

SUPPORT CAST

VARIOUST ARTISTS AND OTHER

GENRE

AU, ROMANCE, FLUFF, DRAMA, & FRIENDSHIP

LENGTH

TWOSHOOT

RATING

PG 17+ (WARNING!!!)

DISCLAIMER

THE PLOT IS MINE BUT OF ME AND GOD IS KNOW

INSPIRATED

BEAUTIFUL HANGOVER – BIG BANG

COPYRIGHT © SYAMMER 2016

 

 

 

 

 

 

™˜

 

Pria itu tengah sibuk dengan kerjaannya yang menumpuk dimeja kerja itu. manik elangnya terus bergerak mengoreksi beberapa berkas yang ada tangannya. Beberapa kali ia mendesah tertahan membaca rentetan kata. Terkadang tangan mencoret tulisan itu disalah satu kata disana. Mata itu terus bergerak mengikuti kalimat-kalimat panjang itu, kemudian manik elang itu terhenti pada sebuah kata hingga membuatnya mengangkat salah satu alisnya. Bahkan dahinya sesekali mengeryit saat memahami tulisan itu namun beberapa kali ia mendapatkan pesan tapi ia abaikan. Kemudian ada panggilan masuk. Ia pun menoleh pada ponselnya yang tergeletak diatas meja disamping tangannya. Manik elang itu melihat nama yang tertera dilayarnya ternyata sahabatnya sendiri. Jemarinya meletakkan berkas-berkas itu dan pennya diatas meja lalu beralih meraih ponselnya sembari menggeser tombol hijau pada layar itu seraya menempelkan benda persegi ditelinga.

 

Yak!” pekik seseorang diseberang. “Wae? Wae? Kenapa kau tak membalas pesanku?”

 

Pria itu mendesah, “Aku pusing, Lu…” ujarnya lirih.

 

Dengan pekerjaanmu?” tandas Luhan diseberang.

 

“Yeahꟷ” ujarnya terpotong oleh Luhan.

 

Kemarilah!”

 

“Eodiya?” tanyanya, menyandarkan punggung disandaran kursi.

 

“ELLEI! Aku menunggumu disana, sekarang. Aku tak suka penolakan.” Pria itu langsung menutup ponselnya sembari menatap map yang bertumpukan dimeja walau 85% sudah ia revisi. Ia juga butuh hiburan sejenak melepas penat yang membebani pikirannya. Ia beranjak berdiri sembari menyambar ponsel dan jas hitamnya.

 

Ia sedikit mengendorkan dasi hitamnya, rambutnya sedikit berantakan. Kulit putihnya seperti susu. Hidung mancung, alis tegas, manik elangnya begitu mengintimidasi. Bibir tipis nude muda, rahang tajam, tubuh tinggi tegap, bahu lebar. Bahkan pria itu mempunyai wibawa, karisma yang kuat dan tak ketinggalan daya tarik yang kuat dan mempesona membuat kaum hawa langsung terpikat olehnya. Tak jarang ia sering mengabaikannya pada wanita cantik yang melemparkan diri kepadanya. Pria itu. Oh Sehun. C.E.O InterContinental Hotel Seoul. OH Sehun yang sudah menjadi seorang direktur. Bahkan usianya masih terbilang muda, sekitar 24 tahun. Langkah kaki panjangnya menggiringnya keluar dari hotel menuju suatu tempat yang ditunjukan oleh seseorang tadi ditelepon. Ia mengendarai Aventadornya itu. Lalu lintas pun sedikit lenggang hingga dengan bebas melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Sembari ia melirik jam rolex metalik yang melingkar di tangannya dan sudah menunjukan pukul 22.30 KST.

 

Gadis itu suka dengan dunia malam, bukan berarti seorang penghibur diclub itu. Gadis cantik berperawakan tinggi mungil semampai, rambut hitam kecoklatan bergelombang sepunggung, tubuhnya S-Line hampir sempurna, kulit putih mulus bak pualam. Manik hazel begitu tajam namun menggoda, hidungnya mancung, bibir mungil merah ceri, rahangnya begitu tirus. Kini gadis itu tengah mengenakan gaun bandagen mewah namun sexy warna nude yang meliuk indah ditubuhnya seatas lutut. Tangannya begitu lincah memainkan alat DJ disana. Tak sedikit para pria datang untuk dekat dengannya namun para pria itu bernasib malang karena selalu ditolak oleh gadis itu yang miliki karakter dingin, cuek dan sifat pemimpin namun tidak ada yang tahu sebenarnya gadis itu adalah orang yang hangat. Gadis itu bukan hanya seorang DJ tapi gadis itu adalah pemilik Club mewah itu usianya masih sangat belia sekali. 23 Tahun. Ia sangat mawas diri pada pria-pria yang mendekatinya dan begitu seleksi memilih pria sebagai teman dekat.

 

“Na!” teriak seorang gadis cantik yang berdiri disampingnya karena alunan music begitu keras membuat mereka saling teriak. Ia menoleh, “Boooeeee?!” sahut gadis itu.

 

“Aku kembali ketempatku dulu! Aku sudah ditunggu Luhan diatas. Ditempat biasa kita pesan. Bye!” gadis cantic itu berlalu meninggalkannya. “Ya! KIM SERA! Temani aku sebentar!” pekik gadis itu memanggil sahabatnya. Namun Sera tak menghiraukannya.

 

Tiba-tiba bodyguardnya mendapat pesan dari teman gadis itu, “Nona. Teman anda, menyuruh Nona agar naik kelantai VIP.” Gadis itu menoleh sembari mengangguk pelan. “Wait five minutes again.” Sahutnya cepat. Gadis itu. Hwang Nana masih larut dengan kesenangannya. Memainkan DJ yang menjadi hobinya yang tak bisa ia tinggalkan. Sesekali bahkan dua kali ia salurkan hobinya. Tubuhnya bergoyang mengikuti alunan music yang memekik telinga dan entah kenapa membuatnya nyaman dengan hobinya ini.

 

Ditempat berbeda, Sehun pun tiba dan berjalan melewati para pemuda pemudi yang sibuk berdansa dilantai dansa. Ia menaiki anak tangga menuju tempat VIP yang ditunjukan oleh sahabatnya. Hingga ia tiba dan disambut hangat oleh para sahabatnya dengan kekasihnya masing-masing. Ya. Pemandangan yang selalu membuat Sehun iri. Ia sudah menikah tapi ia sekarang bercerai. Duda muda.

 

“Duduklah. Tuan Oh… wajahmu lesu sekali.” Perintah Dongwoon setengah candaan disana. “Sepertinya kau butuh hiburan.” Timpal Eunji kekasih Dongwoon. “Sera! Panggilkan dia!” tiba-tiba Eunji menyuruh Sera memanggilkan seorang.

 

Sera ber-Oh. Lalu tersenyum miring. “Aku akan mengenalkanmu dengan seseorang.”

 

“Apa maksudmu?” Tanya Sehun bingung namun disisi lain ia penasaran dengan ucapan Sera. Sembari manik elangnya mengikuti gerak-gerik Sera yang beranjak berdiri kemudian melenggang pergi setelah berbisik ditelinga Luhan.

 

“Kau layu sekali.” Ucap Luhan retoris. Kemudian kemudian menyunggingkan senyuman miringnya. “Mungkin setelah ini, tidak.”

 

“Kkaja!” ajak Sera memaksa Nana turun dari lantai DJ. “Why? What happen?” Tanya Nana bingung dengan sikap aneh Sera. Namun gadis itu malah mengabaikanya, Nana mendengus sembari mengikuti langkah Sera yang terus menarik lengannya.

 

Hingga akhirnya mereka sampai ditempat itu. Nana masih terus bertanya pada Sera tak melihat disekelilingnya kecuali Sera didepan matanya. Sera melihat Sehun yan masih sibuk berbincang-bincang dengan kekasihnya, entah apa yang dibicarakan.

 

“Cha!” pekik Sera langsung menginterupsi mereka yang disana. Mereka menoleh kearah Sera begitu pun Nana dengan Sehun. Sera menarik tangannya dari tangan Nana sambil tersenyum sumringah.

 

Deg.

 

Manik hazel dan manik elang itu bertemu. Rasanya de javu sekaligus sakit. Rasa rindu, sakit, dan terluka berbaur menjadi satu. Mereka mematung tak bergerak sama sekali. Manik hazel itu memerah dan berair dengan ekspresi yang tak terbaca meskipun oleh Sehun sendiri. Pria itu menyadari, ia dengan cepat beranjak.

 

“Kenalkan iniꟷ” ucap Sera yang menunjuk Sehun namun terpotong oleh Sehun. “Nana…” panggil Sehun sambil beranjak berdiri dengan nada menyesal sembari langkah mendekati Nana yang hendak berlalu begitu saja. Luhan, Aron, Jackson, Minho, Dongwoon dan kekasih mereka melongo dengan Nana dan Sehun. ‘Sejak kapan mereka kenal?’ pertanyaan itulah yang berputar dipikiran mereka dan terlebih lagi mereka melihat adegan diluar dugaan mereka. Sehun mendadak memeluk Nana dari belakang yang hendak berlalu.

 

Airmatapun terjatuh tak tertahan. Merasakan dekapan hangat dipunggungnya. Namun hatinya masih terluka, sakit hati. Ia mencoba melepaskan dekapan itu malah semakin erat. “Mianhae…” gumam Sehun lirih dibahu sempit Nana. Bahu gadis itu semakinterguncang pelan. Nana menangis dalam diamnya. Sehun merasakan bahu Nana dalam pelukannya terguncang pelan membuatnya langsung memutar tubuh Nana kemudian memeluk gadis itu kembali. Aroma tubuh Nana menusuk indera penciuman Sehun. Ia masih dengan jelas mengingat aroma tubuh Nana dari dulu sampai sekarang yang tak berubah.

 

Gadis menangis sambil memukul dada Sehun tanpa tenaga. “Wae? Kenapa kau datang lagi? Wae….? Kenapa aku tak bisa melupakan cintaku padamu meskipun kau sudah milik Sooyoung? Kenapa cintaku terlalu besar kepadamu hingga membuatku tak bisa melupakanmu? Wae?” ucap Nana diisak tangisnya. Ucapan Nana semakin membuat Sehun semakin bersalah dan semakin mengeratkan pelukannya. Berarti selama dua tahun Nana tak bisa melupakannya.

 

“Kenapa semakin melupakanmu semakin hatiku sakit?”

 

Mianhae… penyebab pernikahan itu terjadi karena kebohongan Sooyoung bukan aku.” Aku Sehun jujur semakin membuat bahu Nana semakin terguncang. “Kumohon dengarkan penjelasanku, Na. Jangan membenciku. Aku tahu aku tersiksa dan kau lebih tersiksa saat melihatku dialtar bersama wanita lain bukannya kau. Sooyoung ingin mendapatkanku dengan cara yang licik, ia hamil dengan pria lain lalu Sooyoung bilang aku yang menghamilinya dan aku sama sekali tak menyentuhnya sejengkal pun. Aku tahu kebohongannya setengah tahun yang lalu, aku sudah menceraikannya. Setelah bercerai, aku mencarimu selama eman bulan terakhir. Mencarimu disetiap sudut kota namun aku tak bisa menemukanmu bahkan lebih tepatnya dua tahun aku mencarimu tanpa Sooyoung ketahui. Ku mohon Na, jangan pergi lagi. Aku masih mencintaimu dan tolong jangan berhenti mencintaiku, Na.” jelas Sehun panjang lebar dan membuat isak tangis Nana mulai mereda sembari menata emosinya.

 

“Kau tahu saat makan malam, saat aku masih menikahꟷ” tambah Sehun namun terpotong dengan ucapan kesal dari mulut Nana. “Geumanhae! Aku membenci ucapanmu yang terakhir!”

 

Sehun tersenyum geli mendengar ucapan Nana sembari mengeratkan pelukannya. “Aku belum selesai, chagiya…”

 

“Dengar dulu. Saat makan malam bersama eomma dengan santainya berkata kalau kau adalah menantu idamannya didepan Sooyoung.” tambah Sehun kalem dan jujur. Sontak membuat wajah Nana merona.

 

Namun beberapa detik kemudian, Nana sedikit merenggangkan pelukannya lalu mendongak dengan wajah sembabnya menatap wajah tampan yang ada dihadapannya dengan ekspresi geram. “Aku. Mantan. Kekasihmu. Oh. Sehun.ssi.” ucap Nana ketus sambil menekankan setiap kalimatnya.

 

Sehun menaikan salah satu alisnya, ‘ah… iya.’ Batinnya membenarkan ucapannya. Tapi Sehun masih ingin mendapatkan kembali wanita yang ia cintai. “Tapi. Kau. Calon. Istriku. Nona Hwang Nana.” ucap Sehun telak sambil mengusap lembut jejak airmata itu.

 

Blush.

 

Wajah cantik itu semakin memanas saja setelah mendengar ucapan Sehun dengan penuh penekanan. Sukses membungkang mulut Nana. Lalu dengan cepat Sehun menghujami kecupan gemas dibibir mungil itu. Ucapan Nana selalu terpotong bibirnya yang dibungkam oleh Sehun. Dengan cepat Nana menenggelamkan wajahnya didada bidang Sehun lalu mendekap kembali pinggang pria itu untuk menghentikan kecupan rindu.

 

“YAK! YAK!” tiba-tiba ada yang menginterupsi mereka. Siapa lagi kalau bukan Aron sang biang keroknya. Sehun dan Nana perlahan merenggangkan pelukannya kemudian menoleh pada si penginterupsi pelukan mereka. “Sejak kapan kaꟷ” ucap Aron menggantung menerka-nerka situasi antara Nana dengan Sehun. “ꟷjangan bilang kalian mempunyai hubungan khusus?” Tanya Aron to the point pada Sehun dan Nana yang sedang berdiri tidak jauh dari mereka, Sehun yang merangkul dengan posesif pinggang Nana yang berdiri disisinya.

 

“Menurutmu, bagaimana?” Tanya Sehun dengan santai. Tiba-tiba waiters lewat membawa nampan soft drink dan wine. Sehun mengambil dua gelas wine untuknya dan untuk wanitanya. Sembari melanjutkan ucapannya, “memangnya ada yang salah?” Sehun membalikan pertanyaan pada Aron. “Dan sepertinya aku harus berterima kasih pada kekasihmu, Lu!” pandangan Sehun beralih pada Sera yang duduk disamping Luhan. “Mempertemukanku dengan wanita yang membawa hatiku selama ini.”

 

“Owhh… so cheesy, Mister Oh.” Sera yang mendengarkan ucapan Sehun langsung tersenyum geli dan bahkan mencibirnya.

 

Sehun melangkah menghadap keteralis penghalang lantai. Membawa Nana kembali kedekapannya memeluknya dari belakang sambil meminum wine, membelakangi para sahabatnya dan mengabaikannya. Sukses membuat para sahabatnya melongo.

 

“Sehun ssi.” Panggil Nana pelan dan formal sembari sedikit mendongakkan wajahnya menoleh kesamping.

 

Sehun yang terpanggil membuatnya sedikit menundukan kepala dengan ekspresi tak suka saat menatap Nana yang ia dapati sudah menatapnya lurus. “Kenapa kau memanggilku seperti itu?” Tanya Sehun tak suka sekaligus tak percaya.

 

Nana langsung mengalihkan pandangannya menatap kelantai dasar dimana tempat lantai dansa berada setelah mendengar pertanyaan Sehun. “Karena aku bukan lagi milikmu.”

 

Sehun melihat Nana memutuskan kontak mata diantara mereka dan lebih memilih melihat DJ dari atas. “Lalu? Kau sudah milik pria lain? Tak mungkin kau akan jatuh pada pria lain sedangkan dirimu masih mencintaiku.” Tandas Sehun menimpali ucapan Nana.

 

“Bukan begitu, Sehun ssi.”

 

“Ku tegaskan sekali lagi. Aku tak suka kau memanggilku seperti itu. Aku seperti orang lain bagimu.” Tambah Sehun sedikit kesal.

 

“Memang seperti itu hubungan kita sekarang.” ucap Nana santai lalu sekilas menoleh pada Sehun.

 

Stop talk doesn’t mean word, Nona Hwang Nana. Aku masih ingin bertanya banyak padamu. Sejak kapan kau masuk didunia malam seperti ini? Kau ini wanita, Na. Bahkan aku tak menyangka kau berubah setelah kejadian itu. Aku saja rasanya ingin mengajakmu keranjang dan bercinta disana.”

 

Nana memutar malas bola matanya menanggapi ucapan vulgar dari Sehun, “O… aku lupa memberitahumu, kalau aku disini adalah pemegang kendali tempat ini. Aku bebas melakukan apapun bahkan menghancurkan tempat ini.”

 

Sehun menoleh terkejut sekaligus bingung dengan ucapan Nana seraya mencerna setiap kata yang berucap dari bibir mungil Nana. “Apa maksudmu?”

 

“Kau sendiri membuatku seperti ini. Aku hampir despresi saat melihat kau membangun rumah tangga dengan Sooyoung. Aku hampir gila, appa menuruti keinginanku agarku bisa bangkit dari despresiku dan aku meminta appa kalau aku ingin memiliki tempat hiburan malam mewah hanya milikku yang unlimited tanpa campur tangan orang lain. Sempat appa menolak, membuatku semakin despresi bahkan ingin bunuh diri dari kantor appa.” Jelas Nana sekilas menatap Sehun datar.

 

“Kau tahu, banyak pria kaya dan tampan yang menghampiriku untuk sekedar berbincang sama sepertimu. Namun sayang, banyak yang ku tolak. Aku tahu banyak background pria-pria tampan dan kaya yang dekat denganku. Sudah ada yang beristri, mempunyai anak, anak konglemerat, tapi mereka semua adalah pria berhidung belang. Bahkan ada yang terluka ditangan bodyguardku.” Aku Nana santai dan jujur.

 

Membuat Sehun terhenyak, ia tak menyangka hal itu akan terjadi. Ia baru tahu posisi jabatan Nana. disisi lain ia bersalah membuat Nana seperti ini. Raut wajah tampan itu langsung memasang tak suka mendengar ucapan Nana yang begitu santai. “Aku ingin menjadi milikmu seutuhnya dan juga sebaliknya.” Tandas Sehun. Ucapannya sedikit ambigu membuat Nana berpikir sedikit lamban dan kesempatan untuk Sehun melakukan sesuatu.

 

“Apa maksudmu?! Yak! Kau mau bawa aku kemana!” pekik Nana terkejut saat pergelangan tangannya ditarik paksa Sehun. “Tarawa!”

 

“Sehun! Tas dan ponselku ketinggalkan dimeja Sera!” cegah Nana, Sehun mengiyakan Nana tapi tidak dengan tangannya yang masih menggenggam erat pergelangannya. “Lu! Lemparkan tas Nana padaku!” seru Sehun pada Luhan yang jaraknya kurang lebih tiga meter dimana Sehun berdiri.

 

Dengan cekatan Luhan melemparkan handbag Nana berwarna nude lalu mendarat mulus ditangkap tangan Sehun. Bibirnya menyunggingkan senyuman miring, “Thanks Buddy!” ucap Sehun sembari meninggalkan para sahabatnya.

 

“Sehun! Kita mau kemana?” Tanya Nana terus pada Sehun. Pria itu hanya diam dan tersenyum miring namun tak menghiraukan Nana. Pria itu terus menariknya hingga keluar dari tempat itu sembari menghampiri mobilnya yang terparkir disana. Sehun berhenti disalah satu sisi pintu mobilnya lalu membukakan pintu untuk Nana.

 

Nana menatap Sehun bingung dan ragu disaat bersamaan. “Jangan menatapku seperti itu. Kau tahu seperti apa sikap dan sifatku. Kau membuatku seperti orang lain yang sedang mengemis cinta padamu.” Ujar Sehun ketus.

 

Nana tersenyum geli mendengar ucapan Sehun, “mobil ini tak pernah berubah tapi yang berubah adalah penumpang yang duduk disampingmu.” Ujar Nana datar sambil bersandar disisi mobil sport itu sekilas melihat bagian dalam mobil itu.

 

Sehun yang mengerti ucapan Nana yang seperti teka-teki untuknya seraya merangsek maju memenjarakan tubuh Nana dikurungannya. “Tak pernah berubah, hanya kau yang boleh duduk disana. Siapa bilang ada wanita lain yang kuperbolehkan duduk disana? Jangankan Sooyoung. Ibuku sendiri tak kuperbolehkan kecuali keadaan yang mendesak.” Ujar Sehun kalem sembari sembari mengikis jarak mereka. Nana hanya memutar bola matanya jengah.

 

“Kalau begitu masuklah. Gaun yang kau kenakan terlalu terbuka.” Perintah Sehun lembut sembari melepas jas hitamnya lalu membungkus tubuh mungil itu. Nana tersenyum miring lalu menangkup wajah tampan itu dan mengecup ujung bibir Sehun seraya dengan cepat menarik tangan dari wajah itu. Kemudian bergerak masuk kedalam mobil itu dan menutupnya dari dalam.

 

Sehun mematung beberapa detik. Detak jantungnya berdegup tak karu-karuan dengan tempo tak seperti biasanya. Ia kemudian tersenyum tipis lalu mengitari mobilnya kemudian masuk kedalam mobil tepat dibelakang handling. Sehun sibuk mengenakan seatbelt sembari menyala mesin mobil lalu melajukan mobil sport itu entah kemana.

 

™˜

 

“Mereka memiliki hubungan khusus?” Tanya Aron yang masih menerka dengan kejadian tadi. Sehun memanggil Nana, memeluk dari belakang, ciuman, dan sekarang membawa gadis itu pergi entah kemana.

 

“Aku sendiri baru tahu. Sejak kenal dengannya aku tak pernah mendengar ia bercerita mengenai asmara terlebih lagi dengan Sehun.” Sera menimpali ucapan Aron.

 

“Apa Nana mantan kekasih Sehun yang masih dicintainya, meskipun sudah bercerai?” terka Dongwoon.

 

“Mungkin itu bisa terjadi. Dari mata mereka sudah tergambar dengan jelas.” Luhan menambahi.

 

“Sooyoung bukankah gadis itu hanya terobsesi dengan Sehun. Tapi sayangnya terbongkar oleh Sehun sendiri. Berbohong kalau ia mengandung anak Sehun melainkan menganduk anak dari Choi Jong Hoon, mantan kekasihnya.” Jelas Minho mengambil semua inti percintaan Sehun dan Sooyoung.

 

“Yang aku dengar Sehun malah mengantarkan Sooyoung kembali pada Choi Jong Hoon, mantan kekasih sekaligus ayah dari janin yang Sooyoung kandung.” Ucap Sandara denga tersenyum miris.

 

˜™

 

Sesekali manik elang itu melirik sosok indah yang tengah duduk dengan nyaman dikursi penumpang disampingnya tanpa sepengetahuan gadis itu. Pemandangan yang sungguh mengoda dimata Sehun. Bagaiman pria tidak tergoda dengan dress yang kenakan Nana. Dress bandagen meliuk indah ditubuhnya warna yang senada dengan kulit putihnya membuat terkesan anggun sekaligus sexy disaat bersamaan, belahan dada rendah membuat dada hampir tumpah disana, dress tanpa lengan yang bertali diperpotongan bahu dan lengan saja bahkan terbilang backless punggungnya sedikit terekspos, panjang dress yang dikenakan Nana 15 senti dari lututnya, saat duduk paha mulusnya terekspos dengan mudah bahkan kaki jenjangnya begitu indah saat mengenakan stiletto warna hitam.

 

“Tuan Oh! Tolong singkirkan tatapan laparmu itu!” ujar Nana datar tanpa menoleh Sehun sikitpun dan langsung membuyarkan fantasi liar Sehun. “Kau sungguh menyebalkan!”

 

“Kau yang salah, kenapa kau mengenakan dress seperti itu.” sahut Sehun tak terima dan malah menggoda Nana dengan halus. “Kau tahu? Sedari tadi aku menahan sesuatu.”

 

Nana langsung menoleh kearah Sehun dengan tatapan garang, ia tahu maksud ucapan pria itu dan mengatakan menahan ‘sesuatu’. “Jangan macam-macam denganku Oh Sehun.” Ancam Nana memperingatkan Sehun yang sedang sibuk mengendarai handling mobilnya.

 

Sehun menoleh kesamping kearah Nana yang mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. Ia terkejut setengah mati saat Nana mulai mengeluarkan benda berbentuk L Gold metalik berpelatuk. Yaitu, Gletcher Steckhin APS Gold Blowback CO2 BB Pistol Airguns. Dan Sehun membelalakan matanya terkejut dan langsung membanting setirnya menepi.

 

“Kau gila!” pekik Sehun tak percaya setengah takut saat menoleh pada Nana. Ternyata mantan kekasihnya berbahaya sekali. Nana kemudian condong kearahnya tentu saja Sehun langsung terpojok disisi pintu itu kemudian Nana menggerakkan pelan benda itu dirahang Sehun yang tajam. Sehun yang sedari tadi sedikit takut tapi ia mencoba tenang.

 

Sehun menatap benda dingin itu terus membelai kulit rahangnya dengan Nana terus tersenyum miring. “Jangan bermain dengan airgun itu, sayang.” Ujar Sehun tenang. Kemudian Sehun menatap lurus manik hazel lurus dengan tatapan tak terbaca, “maafkan aku. Aku yang salah membuatmu terluka dan membuatmu berubah menjadi seperti ini. Jika kau ingin membunuhku, silahkan. Aku tak akan menolaknya. Karena aku tetap mencintaimu.”

 

Nana menyadari perubahan tatapan Sehun begitu pula ucapan pria itu begitu rapuh dan menyesal. Membuat Nana tertegun, perlahan Sehun mengarahkan pistol yang berada digenggaman Nana kearah pelipisnya. “Disini. Tembak disini. Agar aku cepat mati.” Ujar Sehun lirih namun tatapan matanya tak berpaling dari manik hazel itu. Nana begitu terkejut melihat airgun-nya diarahkan kepelipis pria itu, ia sendiri bukan wanita yang kejam. Dan perlahan manik elang itu terpejam.

 

Tuk!

 

Pistol itu terjatuh dari genggaman Nana dan mendarat mulus dipangkuan Sehun. Nana kemudian menangkup wajah tampan pria itu sontak membuat manik elang itu membuka matanya. “Aku bukan wanita sekejam itu, Sehun ah…” ujar Nana lirih dengan wajah sendu sambil menatap Sehun dan ia mendapati Sehun menatapnya lurus.

 

“Laꟷummpphh!” ucapan Sehun terpotong dan tertahan dengan kecupan tiba-tiba yang diberikan Nana. Bibir mereka hanya menempel dan Nana hanya menekan bibirnya dibibir tipis itu. posisi mereka bertahan hanya lima detik.

 

Nana menjauhkan wajahnya dan menatap Sehun yang juga menatapnya. “Aku tak bisa melakukan itu karena aku mencintaimu.” Tandas Nana sembari mengambil soft gun-nya dipangkuan Sehun.

 

“Lalu kenapa kau mengarahkan benda itu padaku?” Tanya Sehun serius. Ia melihat Nana dengan santainya memutar benda itu.  Nana menoleh kearah Sehun, “aku hanya ingin memberitahumu kalau aku sudah punya fire a gun licence. Untuk jaga diriꟷ” Sahut Nana seraya mengerucutkan bibirnya sambil memasukkan kembali airgun-nya kedalam sapu tangan khusus lalu ia masukkan kedalam handbag. Nana menoleh kearah Sehun melanjutkan ucapannya, “ꟷdari pria-pria bejat.”

 

Sontak membuat manik elang itu membulat apalagi ucapan Nana tertuju padanya, “Yak! Aku bukan termasuk pria yang kau sebutkan!” pekik Sehun geram sambil menatap Nana dengan tatapan tajam.

 

Nana malah tersenyum geli melihat ekspresi Sehun lalu berucap, “aku rindu melihat ekspresi kesalmu.”

 

“Ne?”

 

“Antarkan aku pulang!” ucap Nana mengalihkan ucapannya. Sehun malah tersenyum miring menanggapi ucapan Nana, “kau pikir aku akan memulangkanmu setelah aku menemukanmu?” Tanya Sehun balik pada Nana sambil membenarkan posisi duduknya seraya menyalakan mesin mobilnya tanpa menoleh kearah Nana yang sedikit terkejut dengan ucapan Sehun. Pria itu kembali melajukan mobilnnya. Ia hanya menatap Sehun sekilas, percuma saja merengek pada Sehun agar mengantarnya pulang ke apartementnya Sehun juga tak akan mengijinkannya. Ia memilih menatap pemandangan malam Gangnam diluar jendela mobil itu. Tak lama kemudian, mobil itu memasuki pelataran sebuah hotel mewah. ‘InterContinental Hotel.’ Tempat ini, bukankah ini tempat ia bekerja? Lalu kenapa Sehun mengajaknya kemari? Melewati basement parkiran dan Sehun memarkirkan mobilnya disana. Sehun mematikan mesin mobilnya dan melepaskan seatbelt yang melingkar ditubuhnya. Nana juga begitu. Sehun keluar dan Nana menyusulnya. Sehun menyambar lembut jemari menariknya pelan mengikuti langkah panjangnya.

 

“Sehun ah…” panggil Nana lirih kemudian Sehun menoleh kebelakang sekilas melihat Nana dengan ekspresi melas disana. Sehun tetap menariknya dan tak menghirau ucapan Nana hingga mereka berhenti didepan lift lalu jemari memencet tombol lift itu.

 

“Kau membuatku seperti wanita penghibur.” Jelas Nana tak suka. Sehun hanya tersenyum miring menanggapi ucapan Nana. Sontak membuat wanita itu geram dan langsung memukul bahu lebar Sehun dengan handbag-nya. “Kenapa kau tersenyum seperti itu, hah? Kau mengejekku?”

 

Ting!

 

Suara lift itu berdenting dan perlahan daun pintu lift terbuka lalu dengan cepat Sehun masuk tak sabaran kemudian menarik tangan wanita itu ikut masuk kedalam. Sehun dengan cepat memencet tombol close dan memencet tombol 12 secara perlahan pintu lift itu tertutup. Lift itu kosong hanya ada mereka berdua. Sehun mendadak memeluknya dari belakang, mendekapnya posesif dan membuatnya tak nyaman saat Sehun dengan nakal mulai menciumi pelipisnya menurun kepipinya, lalu kerahangnya, bawah rahangnya, dan terakhir mengendus sambil mengecup lehernya. Membuatnya menjelinjang oleh sentuhan Sehun. Ia menggigit bawah bibirnya agar tak mengeluarkan suara laknat itu dari mulutnya. Namun apa daya ia tidak bisa menahan karena Sehun terus menggoda salah satu titik kelemahannya.

 

“Se-sehun… geuꟷaahhh!” ucapnya terhenti oleh ucapan laknat itu bahkan Sehun semakin asyik dengan kegiatannya bahkan Sehun mengecup lagi sisi lain lehernya. Tiba-tiba…

 

Ting!

 

Suara lift berdenting menginterupsi kegiatan Sehun yang memabukan itu. Nana mendesah lega. Bahkan lehernya masih ada bekas saliva Sehun disana dan ada bekas mawar merah disana sini. “Apa yang kau lakukan, heum?”

 

Dengan santainya Sehun menjawab sambil menarik Nana keluar dari lift, “menandaimu. Bahkan itu tadi hanya pemanasan saja. Dan sekarang aku menginginkan lebih dari itu, Na.” seketika Nana merinding mendengar ucapan Sehun.

 

Sehun terus menariknya hingga berhenti didepan pintu nomor 1004. Kemudian Sehun membuka password pintu dan terdengar suara kunci terbuka. Sehun membuka pintu itu dan kembali menariknya masuk kedalam dan menutup pintu itu dari dalam.

 

“Jadi ini maksudmu kau tak mengantarkanku pulang?” ujar Nana ketus sambil melepas jas hitam milik Sehun seraya melemparkan jas itu pada pemiliknya sembari melewati Sehun dan berjalan menuju dapur mini yang tidak jauh dari sofa.

 

Pria itu malah menyungging senyum misteriusnya sambil menatap punggung mulus Nana yang terekspos dengan bebas. Sehun kembali mengikuti Nana dari belakang menikmati lekuk tubuh Nana dengan bebas. Ia memilih duduk disofa dan melemparkan jas hitam milik disembarang sofa yang ada disampingnya, perlahan ia melepaskan dasi yang menggantung dikerah lehernya, ia melepas kancing kemeja yang ada dilengannya lalu melipatnya sampai kesiku dan ia melepaskan tiga kancing kemejanya bahkan dada bidangnya sedikit terekspos tapi matanya tak lepas dari sosok indah yang masih berdiri disana.

 

Nana masih sibuk menuangkan wine red kedalam gelas duduk itu. Bahkan Nana sedikit nakal mencampurkan setetes cairan entah apa itu disalah satu gelas itu. ‘Sehun ah! Mianhae… Kalau kau tak ku beri obat tidur kau pasti akan memintaku lebih karena aku sedang tak ingin bercinta denganmu.’ Batin Nana menyesal. Nana pun mengambil dua gelas wine red itu lalu meminum salah satu yang tidak ia beri obat tidur.

 

Ia berbalik melangkahkan kakinya dimana Sehun duduk dengan nyaman disofa. Ia melihat penampilan Sehun menurutnya sedikit menggoda. Rambut sedikit berantakan, tatapan matanya begitu teduh, senyumannya begitu menawan dengan posisi duduk sedikit membungkuk dengan kedua lengan menyangga tubuhnya diatas lutut seperti menunggu kedatangannya dan membuat Nana tersenyum miring sembari menyerah red wine yang sudah tercampur obat tidur, Sehun dengan senang hati bahkan ia tak tahu kalau minumannya sudah dicampur obat tidur oleh Nana. Ia kembali mendudukkan tubuhnya disofa tepat disamping Sehun. Nana sudah menghabis setengah gelas red wine itu lalu meletakan kembali ke meja sofa itu.

 

Ia melihat Sehun menandas habis red wine itu lalu menaruh kembali gelas bekas wine itu keatas meja sofa, kemudian ia menoleh kearah Nana yang ia dapati sedang menatapnya. Ia tersenyum lembut sembari salah satu tangannya bergerak lembut merangkul bahu Nana, sedangkan aroma tubuh Sehun yang selalu menggoda indera penciuman Nana membuat wanita itu betah disampingnya. Sehun bergerak pelan memangkas jarak mereka. Sehun perlahan sedikit memiringkan wajahnya. Nana tahu yang akan dilakukan Sehun, ia tak mau ada bekas obat dimulut Sehun. Tiba-tiba ia menginterupsi Sehun yang membuat pria itu bingung dan menghentikan pergerakannya.

 

Baby… Nampaknya sayang kalau wine itu terbuang sia-sia. Bisakah kau menghabiskan wineku?” tawar Nana lembut sambil melirik gelas wine-nya sembari membelai mesra rahang tajam itu. Sehun melirik gelas itu yang masih terisi setengah lebih.

 

“Baiklah…” Sehun menyetujuinya dan dengan cepat menyambar wine itu lalu menegaknya hingga tandas bahkan sisa wine itu mengalir pelan dilehernya dan ia tak menyia-nyiakan kesempatan melihat jakun Sehun naik turun terlihat begitu menggiurkan dan menggoda sekaligus sexy.

 

Ia mengikuti setiap gerak-gerik Sehun hingga meletakan gelas itu kembali keatas meja. Dan Nana langsung beranjak berdiri memunguti dua gelas itu lalu melangkah kedapur disaat bersamaan Sehun juga mengikutinya. Ia berhenti dibak cuci piring dan menaruh dua gelas itu disana. Tiba-tiba ia merasakan lengan kekar menyusup tanpa ijin memeluk pinggangnya. Ia tahu siapa pelakunya. Kalau bukan Oh Sehun.

 

Nana malah memutar tubuhnya menghadap penuh kearah Sehun dan mengalungkan tangannya dileher Sehun, tentu saja Sehun membalas pelukan Nana dengan merapatkan pinggang ramping ketubuh kokohnya, “kiss me…” manik hazelnya menangkap tatapan elang itu setengah menutup dan jatuh pada bibirnya.

 

Sehun memiringkan wajahnya seraya sedikit menunduk bergerak menautkan bibir mereka. Lumatan menuntut langsung Sehun pada Nana, dari menggigit gemas bibir mungil itu, mengecupnya bergantian, menjilat dan menyesapnya bahkan menggoda lidah Nana. Wanita itu membiarkan lidah Sehun menginvasi seluruh rongga mulutnya, membiarkan pria itu memperdalam ciumannya. Tangan pria itu juga tak kalah nakalnya, mengelus seduktif punggung Nana yang backless. Bergerak naik turun mencari kehangatan disana.

 

Sedangkan Nana terus menikmati sentuhan yang diberikan Sehun, ia melenguh. Nana menarik tengkuk pria itu untuk memperdalam ciumannya. Jemarinya menyusup kedalam sela-sela surai hitam kecoklatan milik Sehun. Nana menurunkan salah satu tangannya meraba dada bidang Sehun begitu seduktif. Kemudian Nana melepaskan ciuman lalu beralih mencium rahang tajam milik Sehun menyerukan wajahya ke leher panjang pria itu kemudian mencium jakun pria itu beberapa saat bahkan menyesap bekas wine yang masih tertinggal disana, lalu menarik wajahnya dari leher pria itu dan meninggalkan jejak merah dijakun Sehun. Ia tadi mendengar Sehun mengerang tertahan. Nana menyunggingkan senyuman miringnya. Lalu sekarang gantian pria itu yang menggoda lehernya membuatnya harus mengadahkan kepala keatas. Membiarkan Sehun menyentuhya dengan keinginannya.

 

“Se-sehunꟷaaaahhh!” ucap Nana terpotong oleh desahannya. Nana menangkup wajah tampan itu agar sejenak menjauh darinya, “bisakah kita mecari tempat yang lebih nyaman selain disini?”

 

Sehun mengerti ucapan Nana. Senyuman menyeringai pun ia tunjukkan pada Nana, ia melangkah mundur lalu dengan cepat menggendong Nana ala bridal style. Membawa wanita itu mejauhi dapur melangkah menuju kamarnya yang tidak jauh dari dapurnya.

 

Sehun menutup dengan salah satu kakinya dan menghampiri ranjang berukur King Size, “Turunkan aku…” Sehun mengiyakan permintaan Nana untuk menurunkan tubuh wanita itu dari gendongannya dipinggiran ranjang itu. Nana menghadap penuh kearah Sehun sembari memiring kepalanya sambil tersenyum miring. Sehun sendiri masih menikmati pemandangan indah didepan matanya, sayang untuk dilewatkan. Nana kembali menegakan kepalanya lalu dengan cepat mendorong dada Sehun kebelakang membuat buat pria itu berbaring diatas ranjang, ia dengan cepat mengurung tubuh Sehun dibawah kuasanya.

 

“WOW! Apa yang kau lakukan, Nona?” Tanya Sehun terkejut sekaligus senang. Apalagi posisi yang ia sukai. “Aku hanya ingin berada diatasmu seperti ini.” Jawab Nana santai sambil menunduk menatap pria itu seraya tersenyum menggoda Sehun. Dan Sehun tak menyangka Nana yang dulu pendiam yang selalu menurutinya sekarang berbeda 180°. Nana sekarang terlalu berbahaya, agresif, sexy dan tentunya lebih jauh menggoda dari sebelumnya.

 

“Kau sungguh berbahaya, sayang!” ujar Sehun yang berada dibawahnya sambil tersenyum misterius. “Bukankah kau suka dengan posisi ini, heum?” Tanya Nana kalem lalu sedikit merendahkan wajahnya sembari membelai seduktif rahang tajam pria itu dengan jemari lentiknya. Tangan Sehun juga tak tinggal diam, menyentuh lembut untuk memberikan kenyamanan pada Nana. Tubuh Nana yang sedikit berat dan berisi namun tetap nyaman dipeluk dengan porsi yang pas untuk ia peluk.

 

Sehun malah terkekeh pelan mendengar ucapan vulgar yang keluar dari mulut Nana. Wanita itu membungkukkan tubuhnya lalu kedua tangannya menekuk diatas dada bidang pria itu agar dadanya tak menempel didada pria itu. Jemari seperti ranting sakura itu terus menggoda kulitnya. Membelai rahangnya, lehernya, dan terakhir didada lebarnya sesekali ia land kissing di ujung bibir tipis itu dengan gemas tentu Sehun sama sekali tak beratan menerima kecupan itu malah ia menginginkan kembali kemudian Nana membuka kancing kemeja hitam miliknya dengan tak sabaran. Dan tak lama kemudian kemeja hitam itu terbuka sempurna, Nana kembali melancar manuvernya. Menyentuh abs yang terbentuk sempurna disana, begitu keras dan kokoh.

 

“Sudah lama mataku tak melihat tubuhmu, Oh Sehun…”

 

Tanpa banyak bicara Sehun lagsung mengganti posisinya. Kini sekarang Nana berada dibawah kurungannya. Menatap Nana penuh kemenangan kemudian perlahan ia menurunkan wajahnya tapi tak lama kemudian, matanya mulai berkunang-kunang, matanya berat untuk membuka bahkan kepalanya mendadak pusing, tapi Sehun tetap memaksakan dirinya. Ia menggeleng keras agar kepala tak nyeri. Sedangkan Nana berada dibawahnya pura-pura bingung melihat Sehun yang sedikit aneh apalagi memegang dan memijit pelipisnya sendiri dengan salah satu tangannya.

 

‘Obatnya mulai bereaksi sekarang.’ batin Nana melihat Sehun seperti itu. “Sayang… kepalaku pusing sekali, tiba-tiba aku ingin tidur…” lapor Sehun pada Nana dengan suara lirih. Nana pura-pura mendadak kecewa. ‘Itu lebih bagus Oh Sehun. Kalau kau tak kubuat begini, kau pasti tak akan membiarkanku tidur nyenyak.’ Batin Nana bersorak gembira.

 

“H-heumm… ne…” ujar Nana pelan sembari melihat pria itu menjatuhkan tubuhnya disampingnya lalu dengan cepat manik elang itu terpejam sempurna dan bahkan kaki beserta tangan pria itu melingkar sempurna ditubuhnya.

 

“Astaga… tidurmu sama sekali tak berubah dari dulu.” Gumam Nana pelan sambil menoleh kesamping dengan menyinggungkan senyum lembutnya seraya membelai lembut sisi wajah tidur milik pria tampan itu.

 

Tak lama kemudian Nana bergerak pelan menyingkirkan pelan tangan dan kaki Sehun yang melingkar ditubuhnya. Ia menegakan pelan tubuhnya sembari menoleh kebelakang melihat Sehun menggeliat pelan mencari kenyamanan disana dengan mata terpejam. Berantakan. Entah kenapa ia menyukai penampilan Sehun yang seperti itu kemudian naik keatas ranjang lalu menarik tubuh Sehun keatas untuk membenarkan posisi tidur pria itu.

 

“Susah juga.” Gumam Nana pelan. Ia berusaha mendudukkan tubuh Sehun dengan menyandarkan kepala pria itu kebahunya. Dan tangannya sibuk membenarkan bantal itu. Sehun sendiri tak terganggu oleh Nana yang sedari tadi membantunya untuk membenarkan posisi tidur karena ia sibuk dengan mimpi indahnya. Ia mencium aroma musk yang pekat menguar dari tubuh Sehun, perlahan jemari lentik itu menanggalkan kemeja hitam yang Sehun kenakan. Tak lama kemudian kemeja itu terlepas dari pemiliknya, membuat Nana memeluk dengan bebas tubuh Sehun yang hangat.

 

Kemudian tangannya menurun melepaskan ikat pinggang yang melingkar dipinggang pria itu kemudian melemparkan benda itu kelantai. Seraya merebahkan tubuh Sehun dengan posisi tidur yang benar dengan lembut. Sekarang Nana turun dari ranjang pria itu menuju sebuah lemari yang tidak jauh darinya. Ia membuka tak lama kemudian manik hazelnya menemukan bebrapa kemeja putih tipis mungkin sedikit tembus pandang, ia mengambil salah satunya.

 

Tak lama kemudian ia menanggalkan dress yang ia kenakan ia hanya mengenakan mini-pant hitam. Lalu dengan cepat itu mengenakan kemeja, ia berjalan melangkah mendekati ranjang itu sambil tak mengancingkan semua kancing kemeja itu hanya tiga kanting teratas yang ia tak kancingkan sebelum itu ia mengambil ponselnya yang berada didalam handbagnya. Setelah itu ia kembali menemui Sehun yang sudah tertidur pulas diatas ranjang. Kemudian Nana bersila disamping Sehun, ia bergerak menyelimuti Sehun setengah badan. Kemudian ia mengotak-atik ponselnya lalu mengarahkan kamera ponselnya dengan resolusi tinggi kearah Sehun yang tengah tidur dengan damainya. Ia mendapat capture dengan bagus dari segala arah. Bahkan absnya terlihat begitu kekar dan liar.

 

Ia memutar sensor lampu agar lebih redup sekaligus menaruh ponselnya diatas nakas itu dan tidur dilengan kekar milik Sehun. Tiba-tiba ada suara berat menginterupsinya, “sudah puas mengambil gambarku?” gumam Sehun pelan tanpa membuka matanya sukses membuat Nana terkejut setengah mati.

 

“Kau belum tidur?!” Tanya Nana tak percaya sekaligus menjengit mendengar suara berat dan serak itu. Perlahan Sehun membuka matanya sedikit sayu karena masih mengantuk sambil menatap tetap diirisnya. “Jangan bersuara sayang, aku terlalu peka dengan suara yang menggoda.” Ujar Sehun lirih sambil membelai seduktif sisi wajah Nana yang sedikit panik dan pucat. Nana mengangguk patuh. ‘Bagaimana Sehun bisa bangun dari tidurnya? Padahal sudah kutuangkan obat tidur.’ Batin Nana terus menerka-nerka dengan kerja obat tidur itu dan sekarang detak jantung Nana semakin tak karu-karuan melihat Sehun, entah bangun atau setengah tak sadar dari tidurnya. Ia tak ingin Sehun akan melakukan itu dengannya.

 

Dengan cepat Sehun mengganti posisinya mengurung Nana. “A-apa yang kau lakukan?” cicit Nana sekaligus gugup dengan posisinya sekarang, membuatnya semakin gelisah. “Ssttttt….” Sehun menempelkan jari telunjuknya dibibirnya agar mulutnya berhenti berucap. Nana melihat mata itu begitu sayu karena mengantuk, ia memilih untuk diam menatap wajah Sehun yang ingin tidur. Tak lama kemudian, Sehun kembali menjatuhkan tubuhnya disamping Nana dan kembali memejamkan kedua manik elangnya. Seketika membuat Nana mendesah lega. Pria itu malah mengeratkan pelukannya. Kaki dan tangannya melingkat erat ditubuh Nana, rasa hangat yang mereka rasakan saat ini.

 

“Seharusnya aku menghamilimu waktu itu… agarku bisa menikah denganmu bukan dengan Sooyoung.” Ujar Sehun serak dengan kedua mata tertutup.

 

Nana langsung menoleh kesisi kanannya, ia begitu terkejut mendengar ucapan Sehun. Bibirnya terbungkam seribu Bahasa. Setiap kalimat yang diucapkan Sehun begitu rapuh dan penuh penyesalan. “Sekarang aku tak akan pernah melepaskanmu untuk selamanya…” tambah Sehun lirih. Ia pun lebih memilih tidur karena rasa kantuknya tak bisa terbendung lagi sambil mendekap erat tubuh Nana merapat ketubuhnya sikap Sehun tentu membuat wanita itu tersenyum sembari membalas pelukan Sehun. Nana pun menyusul Sehun masuk kedala mimpi yang indah.

 

Keesokan harinya, Nana bangun lebih awal. Perlahan ia memindahkan tangan kekar itu dari tubuhnya dan berusaha tak mengusik Sehun yang sedang tidur. Ia bergerak kepinggiran ranjang dan beranjak dari ranjang itu pelan-pelan sembari mengendap-ngendap seperti pencuri. Ia menghampiri lemari Sehun seraya menyiapkan tuxedo yang akan dikenakan Sehun nantinya.

 

Ia memilih untuk mandi terlebih dulu sebelum pria itu terbangun dari tidurnya. Ia juga terpaksa memakai sabun mandi milik Sehun. Tapi entah kenapa, ia begitu menyukai aroma musk dari sabun itu, dengan cepat ia menyelesaikan acara bersih-bersihnya dan masih mengenakan kemeja putih itu ia langsung melesat menuju dapur mini yang tidak jauh dari kamar tidur, ia pun memulai memasak untuk Sehun.

 

Ditempat bereda, Sehun perlahan mengerjapkan kelopak matanya menyesuaikan cahaya yang masuk kedalam retinanya. Perlahan mendudukan tubuhnya setengah duduk bersandar diheadboard dengan tampilan rambut berantakan. Ia sambil memegang pelipisnya dengan kedua jari tangan kanannya, rasa pusing masih bersarang dikepalanya yang masih juga belum lekas hilang. Kemudian ia menoleh ke samping kirinya, ia tak menemukan sosok yang tadi malam menemani ia tidur. Tak mungkin wanita itu pulang sedangkan handbag-nya masih teronggok rapi diatas nakasnya. Manik matanya beralih pad jam digital yang menunjukan waktu. Sunday, 14 Feb 16. 09.00 KST. Tak lama kemudian, ia merasa sesuatu didahinya. Ada sebuah notestick menempel didahinya. Dengan cepat ia meraihnya kemudian membacanya.

 

‘Mandi dulu sebelum keluar dari kamar, Dasar Tiang!’

 

FLASHBACK

 

Lima belas menit sebelumnya. Nana berdiri disamping ranjang menatap wajah tidur membuatnya tersenyum kagum melihat pria yang tengah tidur dihadapannya sambil menulis notestick ditangannya lalu menempelkan didahi luas milik Sehun membuatnya mekikik pelan.

 

“Dasar kerbau!” gumamnya pelan seraya memasukkan notesticknya kedalam handbacknya lalu menaruhnya diatas nakas sembari dengan cepat ia meninggalkan Sehun yang tengah bermimpi indah disana.

 

FLASHBACK END

 

Sehun tersenyum membaca notesticknya, “kau tak pernah berubah dengan kata-kata ketusmu itu, sayang…” sembari tangannya menyingkirkan selimut tebal dari tubuhnya kemudian bangkit dan melangkahkan kaki panjangnya menuju kamar mandinya. Nampaknya pria itu melaksanakan perintah Nana dengan baik.

 

Tak lama kemudian, pria itu keluar dari kamar mandi dengan celana hitam longgar dan shirtless. Rambutnya basah habis keramas, wajahnya nampak segar. Entah kenapa sedari tadi, ia tersenyum sendiri saat keluar dari kamar mandi sambil mengusap kasar rambutnya dengan jemarinya yang sudah nampak mengering. Ia pun menghampiri lemarinya, ia melihat tuxedo yang sudah disiapkan Nana, bibirnya mengembang lebar. Tapi sayang, Sehun tak berniat untuk bekerja. Ia ingin libur sejenak. Ia malah mengambil kemeja dari tuxedo itu lalu ia kenakan namun ia tak berniat untuk mengancingkan kancing kemeja itu. Ia pun melangkah keluar dari kamarnya, manik elangnya menyapu seluruh inchi setiap ruangan itu dan mata pemangsa itu terhenti oleh makhluk penggoda yang berdiri didapur mininya. Seringaian tersungging dibibir tipis itu. Tangan gadis itu begitu lihai memainkan alat-alat dapur itu. Sehun melangkahkan kaki panjangnya kearah wanita itu tanpa sepengetahuan wanita itu. bahkan derap kakinya tak terdengar. Hingga…

 

GREPP…

 

Wanita itu langsung menjengit terkejut, Nana yang tadi sibuk memasak tiba-tiba lengan kekar menyelinap merangkul seduktif dipinggangnya, bahkan ia mendapatkan beban disalah satu bahunya. Rasa hangat dan nyaman langsung menyerbu punggungnya yang hanya berlapiskan kemeja putih kebesaran yang membungkus tubuhnya. Konsentrasinya mendadak hilang karena ulah pria itu bahkan detak jantungnya tak karu-karuan juga ulah pria itu. Siapa lagi kalau bukan Oh Sehun.

 

“Se-sehun…le-lepas…” ucap Nana sedikit terpotong karena Sehun mencium lehernya. “Makananmu sudah siap!” tegas Nana sontak membuat Sehun seketika menghentikan kegiatannya lalu menunduk menatap Nana lalu dengan cepat Sehun mematikan kompor itu, tanpa menunggu lama pria itu memutar tubuh Nana menghadap kearahnya.

 

Nana terkejut melihat penampilan Sehun ya… terbilang cukup menggoda iman menurut Nana. Rambut berantakan, kemeja tak dikancingkan kancingkan, aroma musk yang langsung menguar dari tubuh Sehun dan ditambah abs serta tubuh yang propesional menambah sempurna pria itu. Tiba-tiba Sehun mengangkat tubuhnya lalu membawa ke patry yang tidak jauh dari tempat ia berdiri kemudian mendudukkan tubuh Nana disana lalu merangkap sisi tubuh wanita itu.

 

“Kenapa kau tak mengenakan tuxedo-mu?” Tanya Nana langsung mengamati penampilan Sehun. Pria itu hanya tersenyum miring mendengar pertanyaan Nana. “Aku terlalu malas untuk pergi bekerja dan ingin menghabiskan waktu bersamamu…”

 

Nana langsung memutas bola matanya malas, “sarapanmu sudah kusiapkan, Oh Sehun.” Sela Nana dan Sehun malah memajukan wajahnya mendekat dan Nana malah menjauh tapi sayangnya Sehun tak akan menyerah.

 

“Aku tidak lapar, Naꟷ” Sehun menggantungkan ucapannya lalu berbisik husky ditelinga Nana sembari melanjutkan ucapannya, “ꟷtapi aku lapar dengan hal lain, sayang…”

 

Membuat Nana meremang seketika mendengar ucapan Sehun terlebih lagi hembusan napas Sehun yang begitu hangat menerpa daun telinganya. “You look so damn hot with that dress, baby…” tambah Sehun berbisik ditelinganya. Langsung membuat Nana tersenyum miring mendengar bisikan Sehun.

 

“Kepalaku pusing dan sakit saat bangun tidur setelah tadi malam kita minum…” ujar Sehun pelan kembali menghadapkan wajahnya didepan wajah wanita itu.

 

“Benarkah?” Tanya Nana datar. Sehun mengangguk lalu berucap menambahi ucapan Nana, “Penampilanmu sungguh membuatku ingin mengajakmu keranjang sekarang, sayang…” sembari mengendus leher jenjang wanita itu, harum aroma tubuh Nana membuatnya betah hingga ia baru menyadari ternyata Nana juga mengenakan sabun yang sama dengan ia ia pakai saat mandi.

 

“Sehun…” panggil Nana mencoba untuk tidak goyah dengan serangan Sehun. Namun pria itu masih sibuk dengan kegiatannya. “Aku ini siapa untukmu?” Tanya Nana langsung membuat Sehun seketika membuatnya menghentikan aktifitasnya. Ia menarik wajahnya dari leher Nana yang jenjang. Manik elang itu menatap lurus kearah manik hazel itu.

 

Nana hanya ingin kejelasan hubungan mereka dari mulut Sehun. “Aku ini siapa bagimu? Aku juga tak ingin seperti jalang atau apapun itu.”

 

Sehun mengerti dan paham maksud ucapan Nana. Jemarinya membelai lembut sisi wajah cantik itu, “kau calon istriku, Na. Putri Hwang Seung Hyung pemilik HS Grup. Dan kau bukanlah wanita jalang. Tunggu tiga hari lagi untukku mempersiapkan semuanya.”

 

“Apa kita perlu mengadakan pertunangan?” cicit Nana menatap Sehun sedikit ragu. Sehun hanya diam sembari menggeleng mantap. “Aniyo.” Ujar Sehun tegas. “Aku ingin langsung menikahimu, aku tak ingin menundanya lagi. Aku tak ingin melepasmu untuk kedua kalinya.”

 

Jantung Nana terus menerus bergerilya didalam sana mendengar ucapan Sehun. Cairan bening berkumpul dipelupuk hazelnya dan perlahan jatuh, Sehun yang melihatnya langsung panik. “Wae-waegeurae?” Tanya Sehun bingung, wanita itu hanya menggeleng sembari menarik leher Sehun dan memeluknya erat.

 

Aniya…” ujarnya sedikit bergetar. “Mungkin aku hanya terlalu bahagia…” Nana semakin mengeratkan pelukannya. Sehun mengembangkan senyumannya sembari membalas pelukan Nana. Tiba-tiba ada suara baritone menginterupsi.

 

“Kau memakai sabunku, ya?” Tanya Sehun berbelok dari topik sembari merenggangkan pelukannya. “Ne. Memangnya kau punya sabun untuk wanita? Tidakkan?” Tanya Nana ketus. Sehun menggeleng pelan. “Bukan begitu. Hanya sajaꟷ” Sehun menggantungkan ucapannya sembari mengendus leher wanita itu seraya melanjutkan ucapannya, “ꟷaku menyukainya.”

 

Sehun mendekap tubuh ramping itu merapat ketubuhnya sembari berucap, “jadilah milikku seutuhnya, sayang…” Nana perlahan mengalungkan lengannya leher pria itu sembari memiringkan wajahnya menepis jarak diantara mereka sambil memejamkan setengah tertutup sengaja menggoda Sehun, “setelah kau mengucapkan janji dialtar, dan didepan orang tuaku.” Nana membenarkan ucapan Sehun dan berbisik didepan bibir tipis itu, Sehun tersenyum kulum menanggapi semua kalimat yang terlontar dari mulut Nana lalu dengan cepat mendaratkan kecupan lembut dibibir menggoda itu. “Tentu saja…”

 

Kecupan itu berubahan menjadi ciuman yang menuntut, tak hanya Sehun. Nana juga. Saling mengejar. Hembusan napas mereka memburu. Lidah Sehun mencoba masuk kedalam rongga mulut Nana, menginvasi seluruhnya dan mengajak lidah Nana bertautan disana, decapan bibir mereka mengisi setiap inci ruangan itu. Kaki Nana melilit dipinggang Sehun dan tangannya menjambak pelan rambut Sehun, sedangkan jemari Sehun sibuk membuka seluruh kancing kemeja yang dikenakan Nana sekarang hingga dengan mudah mengakses tangan menyelinap masuk kedalam kemeja yang Nana kenakan, mengusap punggung polos Nana naik turun dan membuat Nana melenguh disela ciuman panas itu. Jemari Nana juga tak tinggal diam, menyentuh leher, lalu dibahu lebar sang pria, menurun kedada bidang, hingga berhenti di perut Sehun yang terbentuk abs menonjol jelas disana. Terkadang Sehun mengerang tertahan ditenggerokannya saat merasakan sensasi sentuhan dari tangan Nana.

 

Sehun yang tidak tahan lagi, mengangkat tubuh Nana kedalam gendongannya dan wanita itu semakin mengeratkan tangannya dileher Sehun bahkan tanpa melepaskan ciuman mereka. Pria itu membawa Nana kembali kekamar dan merebahkan Nana diranjang. Punggung Nana mendarat lembut diatas Kasur empuk dan tiba-tiba Nana melepas ciuman panas itu dengan sepihak, saat membuka manik hazelnya. Ia melihat Sehun berada diatasnya dan berada dibawah kurungan pria itu. Ia melihat tatapan lapar itu tertuju pada dadanya yang terekpos, dengan cepat kedua tangannya menarik kemejanya dan menutupinya.

 

Sehun menatap begitu intens dan tatapan kelaparan dimanik elangnya dan Nana bergidik, “Sehun ah…” panggil Nana mencicit seraya menelan salivanya sendiri. “Jangan menatapku seperti itu…”

 

Sehun menyeringai puas disana. “Posisimu sangat memudahkanku, Nana sayang…”

 

Manik hazel itu melebar karena terkejut. Lalu dengan cepat ia mengancingkan dua kancing kemeja itu untuk menutupi dadanya lalu mendorong dada Sehun agar menyingkir, “pikyeo!” pekik Nana yang mencoba melepaskan diri dari kuasanya. Namun sayangnya, Sehun tak bergeser sedikit pun. ‘Bagaimana aku bisa keluar dari kurungannya?’ batin Nana bertanya pada dirinya sendiri.

 

Sehun masih mempertahankan seringaiannya dan menikmati ekspresi Nana yang membuatnya gemas. “Kau tak akan bisa, sayangꟷ” ujar Sehun kalem dan menggantungkan ucapannya. “ꟷkecuali kau melawanku terlebih dulu.”

 

“Maksudmu?” Tanya Nana singkat dan masih mencoba mendorong dada Sehun yang mulai merendah. “Aku suka perlawananmu, sayang.”

 

Nana menatap garang Sehun yang berada diatasnya, yang mengurungnya. Nana mencoba mencerna dan merencanakan sesuatu untuk terbebas dari kurungan Sehun. Pria itu perlahana menurunkan tubuhnya namun kedua tangan wanita itu menahan dadanya, lalu dengan cepat Sehun mengunci kedua tangan Nana disamping kepala wanita itu dengan menyunggingkan seringaianya. Nana mendesis mencoba melepaskan diri, genggaman Sehun terlalu kuat dan erat mencengkram pergelangannya.

 

“Lepaasss!!!” desis Nana meronta dikurungan Sehun. “Tidak akan, sayang.” Sahut Sehun kalem.

 

Sehun melihat Nana tak pantang menyerah untuk melepas diri darinya, “kau ternyata tak menyerah juga…” sanjung Sehun melihat Nana yang mencoba melepas tangannya dari genggamannya. Nana hanya memutar matanya malas mendengar sanjungan Sehun.

 

Nana sedikit kelelahan dan diam sejenak sembari menatap lurus kearah manik elang itu, ‘jika aku seperti ini aku pasti tak akan lepas dari kurungannya. Pasti ada lain… oh… mungkin aku bisa menggunakan kedua kakiku… aisshh kenapa aku baru kepikiran itu?’ batin Nana menyalahkan dirinya sendiri.

 

Dengan perlahan Nana menekuk didepan perut Sehun tanpa pria itu ketahui. Nana sedikit meringis sembari mengumpulkan energy untuk mendorong Sehun. di dalam hati ia menghitung mundur.

 

Hana…

 

Dul…

 

Set…

 

Duk!

 

Sedetik kemudian Sehun terkejut, terjungkal kebelakang dan pantatnya mendarat dengan mulus dilantai hotelnya. Tangannya reflek mengusap pantatnya untuk mengurangi rasa sakitnya. Sedangkan Nana bersorak menang telah bebas dari kurungan Sehun. Ia langsung beranjak berdiri diatas ranjang itu sambil menjulurkan lidahnya mengejek Sehun kemudian dengan cepat turun dari ranjang itu sambil menyambar dompetnya dan kemudian memasang langkah seribu keluar dari kamar Sehun dan kesempatan Nana untuk lari karena Sehun berusaha menegakan tubuhnya sambil mengusap pantat sambil meringis kesakitan. Nana keluar dengan membawa kunci pintu kamar Sehun. Manik elang itu langsung melebar saat Nana menutup pintu kamarnya dari luar dan mendengar…

 

CEKLEK!

 

CEKLEK!

 

Pria itu langsung lari menghampiri pintu itu dan mencoba memutar kenop pintu berkali-kali ternyata dikunci dari luar. Ia menggedor-gedor pintu itu sambil berteriak berkali-kali memanggil nama wanita itu.

 

“SAYANG! Buka pintunya!” mohon pria itu dari dalam kamar. Nana yang berada diluar hanya tersenyum menang.

 

“Tidak akan ku buka pintunya.” Sahut Nana dari luar.  Ia malah meninggalkan pintu kamar itu lalu melangkahkan kaki kecilnya ke bar meja makan itu untuk melanjutkan makan paginya yang tertunda dari karena ulah Sehun. Beberapa menit kemudian…

 

DRITT… DRITT… DRITT…

 

Mendadak ponselnya bergetar. Tangannya terhenti, mendengar ponselnya bergetar dengan cepat ia membuka tasnya dan mengambil ponselnya. Ia melihat nomor baru masuk kedalam panggilan itu membuatnya mengeryitkan dahinya lalu dengan enggan menggeser tombol hijau pada ponselnya dan menempelkan benda persegi menempelkan ketelinganya dan mendengar…

 

“Sayang, buka pintunya! Aku tak bisa keluar!” keluh seseorang diseberang telepon. “Aku ingin keluar, Na. Sekarang.”

 

Nana memutar bola matanya malas menanggapi ucapan Sehun, “Memangnya aku percaya dengan ucapanmu?” Tanya Nana sarkanis.

 

“Ayolah, Na. Aku ada urusan mendadak yang harus kuselesaikan Nana… aku tak punya waktu lagi.” Sehun memberitahu Nana. Sehun sendiri pusing karena ia mendadak mendapat telepon dari sekertarisnya ada meeting dari perusahaan asing. Ditambah lagi Nana tak kunjung membuka pintu kamarnya.

 

Nana hanya mengedikan bahunya, tak menanggapi ucapan Sehun dan malah menutup sambungannya. Sehun sedikit kesal pada wanita itu dan padahal ia sudah mengenakan tuxedo dan bersiap meeting. Tak ada pilihan lain, Sehun terpaksa menghubungi sekertarisnya untuk membantunya keluar dari kamarnya karena ulah Nana.

 

Tak lama kemudian, bel kamarnya berbunyi. Nana sedikit menjengit karena bell pintu itu. ia beranjak dari sofa itu dan berjalan menghampiri intercom itu. Ia melihat dua orang berpakaian rapi didepan pintu kamar itu. satu pria dan satu wanita.

 

“Kalian siapa?” Tanya Nana lewat intercom itu.

 

Dua orang itu sedikit terkejut tiba-tiba ada suara wanita yang menjawab intercom itu bukannya CEO-nya. “Kami sekertarisnya, nona.” Kata pria itu. “Kami dipanggil sajangnim. Karena sekarang ada rapat mendadak dan sekarang kurang lima menit lagi akan dimulai.”

 

Nana sedikit terkejut lalu menoleh kebelakang menatap pintu kamar Sehun yang tertutup. Ia merasa sedikit bersalah pada Sehun yang tak percaya ucapan pria itu.

 

“Oh… ya… sebentar.” Tutup Nana langsung berjalan menghampiri pintu kamar Sehun, tangannya bergerak pelan membuka kuncian itu. Ia mendapati Sehun berdiri bersandar di dinding sambil melipat tangan dibawah dada menghadap kearahnya dan menghujaminya dengan tatapan tajam.

 

Sehun memasang ekspresi dingin sembari menarik tangannya dan menegakan tubuhnya, ia menarik daun pintu dan membukanya lebar dengan paksa dan matanya tak mengalihkan pandangan dari Nana yang menunduk bersalah didepannya. Sehun hanya diam saat melewatinya.

 

“Tidak sarapan dulu?” cicit Nana sedikit takut dengan ekspresi Sehun saat ini. Dan disisi lain Nana sedikit terpesona dengan penampilan Sehun yang saat ini mengenakan tuxedo merah marun dengan kemeja putih dan rompi warna hitam serta rambut ditata keatas.

 

“Tidak.” Ucap Sehun dingin dan singkat. Tiba-tiba Sehun menghentikan langkahnya dan hanya sedikit menoleh kebelakang. “Jangan harap kau keluar dari sini dengan mudah. Nona Hwang Nana. Aku akan segera kembali.” Ucap Sehun dingin bahkan setiap kalimatnya memberikan ultimatum pada Nana karena kesal pada wanitanya itu.

 

“Arrasseo…” gumam Nana lirih namun cukup terdengar jelas ditelinga Sehun. Sehun benar-benar marah padanya. Ia mengangatkat wajahnya Sehun sudah menjauh darinya bahkan Sehun mengunci kamar hotel itu dari luar.

 

“Pria itu tidak bercanda dengan ucapannya dan bahkan sekarang mengurungku disini sendirian.” Gumam Nana sambil mengerucutkan bibirnya sambil menatap daun pintu itu. Kemudian ponselnya bergetar yang tengah ia genggam. Nana melihat ternyata ada satu pesan. Ia pun membuka pesan itu dan ternyata. Dan ternyata dari nomor itu lagi.

 

Sender : +010 1204 1 XXX

 

Ku harap aku datang kau sudah berdandan cantik.

 

OH SEHUN.

 

Nana mendesah pelan saat membaca pesan singkat dari Sehun. “Aku tak pernah melihat Sehun yang seperti ini. Itu memang salahku. Mian.”

 

Three hours later.

 

Tiga jam Nana habiskan hanya mondar-mandir didepan sofa seperti setrika, terkadang mendudukan tubuhnya disofa itu. Hampir dua puluh kali ia melirik jam yang melingkar di tangannya. Bahkan Nana sudah dandan cantic dengan gaun warna merah maroon selutut yang meliuk indah ditubuhnya, berlengan panjang dan belahan dada rendah. Nana bosan, ia melangkahkan kakinya ke jendela berkaca lebar itu sembari memasangkan earphone dikedua telinganya. Ia melipat kedua tangannya dibawah dadanya. Matanya menatapa keluar menyapu seluruh kota Seoul dari kamar itu.

 

Tiba-tiba pintu kamar itu terbuka, namun Nana tak terganggung sedikitpun. Sehun muncul dari balik pintu kemudian menutup dari dalam. Pandangan Sehun terkunci oleh siulet cantik yang tengah berdiri dibelakang jendela sambil melipat tangan dibawah dada. Pria itu melangkahkan kaki panjangnya kearah wanita itu sambil menyunggingkan seringaiannya dan matanya mengunci wanita itu, bahkan Nana tak menyadari kedatangannya.

 

GREPP…

 

Tiba-tiba ada lengan kekar menyelinap disisi pingggang rampingnya dan mengeratkan tautan jemarinya diperut Nana yang ramping dan rata itu. Nana begitu terkejut dengan perlakuan Sehun. Nana menoleh kerah samping dan ternyata pria itu lagi yang ia dapati pria itu juga menunduk menatapnya dan Nana sambil mengelus dadanya karena terkejut.

 

“Kenapa kau mengejutkanku?” pekik Nana sambil menguraikan jemari Sehun diperutnya. Tapi sayangnya Sehun malah mengeratkan pelukanya.

 

Sehun malah terkekeh mendengar ucapan Nana, “tubuhmu hangat sekali danꟷ” ucap Sehun kalem dan menggantungkan ucapannya dan menurunkan wajahnya untuk mencium Nana tapi sayangnya Nana menolaknya, Sehun menaikan sebelah alis, heran dengan sikap Nana.

 

“Aku ingin keluar dari tempat ini.” Ucap wanita itu cepat memotong perkataan Sehun.  Sempat pria itu terkejut mendengar ucapan Nana namun tak lama kemudian ia malah mengeratkan pelukannya dan menenggelamkan wajah tampannya dibahu sempit itu sembari mengecup bahu lalu perpotongan antara bahu dan leher kemudian naik keleher jenjang wanita itu dan kemudian dipipi lalu kecupan lembut itu berakhir dipelipis Nana. Wanita itu tersenyum simpul setelah mendapatkan kecupan lembut dari Sehun.

 

Sehun pun berbicara lembut didaun telinga wanita itu, “aku akan mengantarmu pulang kepada orang tuamu dan aku juga ingin berbicara penting dengan appa-mu.”

 

“Membicarakan hal apalagi?” Nana menghela napas panjang. Sehun tersenyum sambil mencium puncak rambut Nana. “Itu urusan para pria, sayang. Kau tak perlu tahu.” Balas Sehun lembut.

 

“Hah…” Nana menghela napas lagi. “Kau sama sekali tak berubah dari dulu, ucapanmu selalu ambigu. Membuatku bingung dan terus bertanya-tanya.” Keluh Nana.

 

Sehun hanya terkekeh mendengar keluhan Nana seraya menarik lembut tangannya dari bahu Nana. Wanita itu sedikit lega karena sedari tadi jantungnya terus berdetak tak stabil saat didekap oleh tubuh hangat pria itu yang menjulang tinggi dibelakang tubuhnya sembari kedua lengannya dicengkram erat kemudian membalikan tubuhnya kearah Sehun seutuhnya. Manik hazelnya terkunci oleh teduhnya tatapan lembut dari manik elang itu. Seakan tak membiarkannya pergi berpaling darinya. Tubuh Sehun yang tinggi menjulang dihadapannya membuatnya sedikit mendongakkan wajah cantiknya kearah pria itu yang tengah menunduk menatapnya sambil tersenyum kearahnya.

 

“Kkaja…” ajak Sehun sambil meraih salah satu jemari lentik wanitanya lalu menariknya untuk mengikuti langkah kakinya. Wanita itu menatapnya dengan penuh tanya. “Kita mau kemana?” tanya Nana bingung. Sehun hanya tersenyum tanpa mengeluarkan sepatah kata terucap dari bibirnya dan hanya menarik tangannya.

 

Sehun dan Nana kini berdiri berdampingan didepan pintu lift yang tengah tertutup dengan jemari mereka saling bertautan sempurna. Tak lama kemudian suara lift itu berdenting nyaring dan perlahan pintu itu terbuka. Didalam sana ada beberapa orang. Sepertinya beberapa karyawan Sehun. Mereka sedikit terkejut melihat Sehun berdiri dihadapan mereka dengan seorang wanita dan terlebih lagi Sehun dan Nana saling menggenggam tangan. Sehun hanya memasang wajah dingin dan seperti mengatakan ‘bukan urusanmu! Dan lakukan tugasmu!’, membuat karyawannya menundukkan kepala. Sehun melangkah masuk sembari menarik Nana untuk mengikutinya.

 

Sehun dan Nana berdiri didepan beberapa karyawan itu. Nana sedari tadi menggerakkan jemarinya pelan untuk melepaskan genggaman erat jemari Sehun karena tak nyaman. Nana menoleh kearah Sehun dan ia mendapati Sehun juga menatapnya bingung. Nana menatap Sehun dengan tatapan melas seperti mengucapkan ‘Lepaskan tanganku…’. Sehun menggeleng pelan mengolak ucapan nonverbal dari Nana.

 

Nana mendesah panjang. Matanya melirik jemari Sehun memencet tompol 30. Angka itu adalah angka lantai tertinggi digedung ini. Tapi tak lama kemudian suara lift itu berdenting. Lantai lift itu menunjukan lantai 25. Para karyawan itu bergerak keluar dari lift itu dan meninggalkan dua pasangan sejoli itu lalu dengan lembut pintu lift itu benar-benar tertutup rapat. Kemudian berjalan naik menuju angka 30. Nana menarik paksa jemarinya dari genggaman Sehun, “Sehun lepaskan tanganmu!” keluhnya.

 

“Aku tak akan lari darimu Oh Sehun.”

 

 

 

13 responses to “[Freelance] BEAUTIFUL HANGOVER (SENA’S STORY)

  1. ini part awal yg series kmrn ya? udah jelas deh kiaah mereka, tp pengen lagi, semoga ada kisah2 mereka lagi deh

  2. Huaa sempet kaget sehun udah nikah? Adakah part yg aku kelewat ato gimana ni?
    Tp seneng nana sehun ketemu lagi, ketemu pertama langsung hot ckck, eh gk deng dr dulu hot kali yaaaa
    Kak ini dilanhut dong, sena couple keren bgt!

  3. Ini harus nya d post d awal jadi baca nya gk bingung .kirain lanjutanya kemaren.tp malh ep sebelum nya.makin penasaran nih kdepannya d tunggu next chapternya fighting🙋🙋🙋

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s