[Freelance] When a Man Loves (Part 3)

waml 1

When a Man Loves Part 3

 

Author                 : deergalaxy0620

Genre                   : Romance, Hurt, School-Life (a little bit)

Cast                     : Oh Jong Seok a.k.a Eddy ( JJCC )

Park Seo Yeol ( OC )

Song Se Hin ( OC )

Park Chan Yeol ( Seo Yeol’s brother ) ( EXO )

Wu Yi Fan a.k.a Kris

Oh Hae Ryung ( OC )

Ryu Ha Yeon ( OC ) as Seo Yeol’s close-friend

Lee Hwan Hee as Ha Yeon’s boyfriend ( UP10TION )

Rating                  : PG-15

Length                 : Chaptered

Disclaimer           : All the story is MINE. Jika ada kesamaan dalam alur cerita, mohon maaf.

 

https://deergalaxy0620.wordpress.com/2016/06/08/ff-chaptered-when-a-man-loves-part-3/

 

 

 

Saat Seo Yeol memberikan pernyataan palsu tentang hubungan khususnya dengan lelaki lain, Eddy tak sampai berpikir bahwa gadis itu mengatakannya tanpa menimbang keadaan. Eddy tahu bahwa Seo Yeol tak mungkin berniat untuk berkencan dengannya karena mereka saling belum kenal satu sama lain. Entah persetan apa yang mendorong Seo Yeol untuk berbohong, demi kebaikannya agar tak ingin menemui Yi Fan. Tetapi tentu saja Yi Fan ingin marah dan menahan amarahnya untuk membentak Seo Yeol. Sayangnya, lelaki itu harus terpaksa diam jika Seo Yeol membeberkan pernyataan palsunya.

Dan di suatu tempat, yang tak lagi adalah gerai kaki lima, Eddy memerhatikan Seo Yeol yang tengah minum soju sedikit demi sedikit. Apa yang dilakukan gadis itu tentu saja Eddy tak tega melihat gadis tak dikenalnya itu pulang dalam keadaan mabuk. Akan ada sebuah peristiwa yang kembali menimpa gadis bersurai hitam itu.

Bagi Eddy, seorang murid mabuk-mabukkan memang sebenarnya tak boleh, namun entah alasan mereka membangkang dan memilih untuk bermabuk-mabukkan dengan langkahan mereka yang sempoyongan. Dan untuk Seo Yeol, gadis itu memperbolehkan untuk meminum soju sedikit demi sedikit agar ia segera melupakan kejadian yang menimpanya, terutama Yi Fan. Karena sesungguhnya, Seo Yeol sudah muak untuk memikirkan lelaki yang telah mencampaknya itu.

“Seo Yeol-ssi,” panggil Eddy saat Seo Yeol menuangkan sedikit minuman tersebut, “Kamu jangan terlalu mabuk.” Ujar lelaki bersurai cokelat sembari merebut botol soju dari tangan Seo Yeol.

“Mengapa lelaki brengsek itu malah muncul dihadapan saya? Apakah anda tahu bahwa saya memang memiliki hubungan khusus dengannya? Tentu saja saya mencintainya, meski kami terpaut usia yang sangat jauh. Hubungan kami telah berjalan selama dua tahun dan saya masih mencintainya. Dia sangat perhatian padaku dan mengajariku belajar Matematika.” Seo Yeol malah menceracau tak jelas dengan panjang-lebar, membuat Eddy mengangguk pelan.

“Jika kamu masih mencintainya, bukankah seharusnya kamu segera melepaskannya?”

“Saya tahu saya harus melepaskannya, demi kebaikanku untuk menghadapi ujian nasional. Tetapi, apalah diriku yang masih terlalu obsesi dengan lelaki tampan seperti Yi Fan ahjussi. Jika saya melihat pria tampan di mataku, saya merasa pikiranku tak terkendali dan penuh dengan para lelaki tampan. Itulah mengapa saya tak ingin melepaskan Yi Fan ahjussi, meskipun dia berselingkuh dengan wanita lain.” Eddy mulai tertegun dengan perkataan Seo Yeol yang semakin tak jelas akibat ia bermabuk-mabukkan. Perlahan tangan lelaki itu menaruh botol soju di bawah meja agar Seo Yeol tak segera menambah dosis kadar alkoholnya.

“Dan bodohnya kakakku yang memberiku hadiah ulang tahun kemarin. Dia kembali membuatku sakit hati karena hadiahnya yang tak saya harapkan hingga aku nyaris tak bisa menjawab soal ujian nasional yang sama brengseknya dengan Yi Fan ahjussi!” tiba-tiba saja Seo Yeol menjatuhkan gelas kecil yang dipegangnya hingga gelas tersebut nyaris pecah. Eddy kembali meraih gelas tersebut sebelum Seo Yeol harus meraih gelas itu.

“Kakakku dan Yi Fan ahjussi sama saja. Mereka sama-sama membuatku sakit hati, bahkan aku ingin sekali membunuh Yi Fan ahjussi! Bukan hanya lelaki brengsek itu saja, melainkan seorang wanita yang menurutku lebih cantik dariku!” Eddy hampir terkejut saat perkataan Seo Yeol itu hampir mencapai emosi. Kali ini, lelaki itu paham sekali dengan kisah yang keluar dari mulut Seo Yeol. Mungkin gadis itu memang harus segera melepaskan Yi Fan sebelum wanita perusak suasana Seo Yeol itu kembali menghadang.

“Park Chan Yeol oppa! Kali ini aku tak akan pernah memaafkanmu hingga kamu menjelaskan alasan kamu memberiku hadiah yang menyakitkan. Apa jangan-jangan, oppa bersekongkol dengan Yi Fan ahjussi untuk membuatku jatuh ke lubang hitam?”

Dengan seketika Eddy terkejut dan mulai tertegun saat Seo Yeol menyebut nama kakak kandungnya itu, yakni Park Chan Yeol. Dan tiba-tiba saja Eddy tak sengaja menjatuhkan kembali gelas kecil itu ke meja, memecahkan suasana hening dan kesedihan yang Seo Yeol rasakan. Eddy ingin sekali berlari ke kamar mandi untuk mengeluarkan sesuatu yang menjijikkan. Perlahan-lahan, lelaki itu memerhatikan wajah Seo Yeol yang tampak sama dengan Chan Yeol. Mereka benar-benar saudara kandung tanpa perpisahan.

“Jangan kamu pikirkan, Seo Yeol-ssi,” ujar Eddy seraya menahan terkejutnya itu, “pikirkan saja ujianmu agar kamu dapat membanggakan orang tuamu.” Lanjutnya.

“Bagaimana aku bisa marah jika dia sendiri yang membuatku marah?” tanya Seo Yeol sebelum kepala gadis itu terkapar di meja bulat itu, menimbulkan suara gelas kecil yang bergetar itu mengagetkan orang lain. Sementara Eddy hanya tertegun saat tahu gadis belia itu tertidur mendadak.

“Seo… Seo Yeol-ssi,” panggil Eddy dengan menggoyangkan tubuh Seo Yeol, “kamu harus kembali ke rumah dan belajar, bukan tidur dalam keadaan mabuk begini.” Lanjutnya sebelum kepala Seo Yeol menengadah dan kembali bertatapan dengan Eddy. Ekspresi terkejutnya itu membuat Eddy tersenyum kecil.

“Anda benar! Aku harus belajar Matematika.” Gumam Seo Yeol.

“Sekarang, kita harus pulang sebelum kakakmu marah padamu.” Eddy segera bangkit dari kursi, kemudian membantu Seo Yeol untuk berdiri. Tubuh gadis itu kembali sempoyongan akibat mabuk. Beruntung Eddy dapat menahan tubuh gadis bersurai hitam itu agar seimbang.

***

Di tengah jalan, Seo Yeol masih dibantu jalan Eddy agar tubuh gadis itu tak ambruk seketika. Eddy hanya menatap lurus dan merelakan tangannya menjadi penahan tubuh Seo Yeol yang ideal dan cukup pendek. Perjalanan menuju apartemen Seo Yeol hampir mendekat, sementara Eddy juga tinggal di apartemen seorang diri. Lebih tepatnya apartemen mereka bersebelahan. Itu diketahui saat mereka pulang bersama setelah Seo Yeol mentraktir Eddy makan Haejangguk – rebusan untuk menyembuhkan mabuk di gerai kaki lima. Dan setelah Eddy tahu bahwa apartemen Seo Yeol bersebelahan dengan apartemennya, mereka jadi bertemu kembali di pagi hari tadi.

Setelah sampai di apartemen Seo Yeol, tiba-tiba langkahan Eddy dan gadis itu terhenti saat Chan Yeol membukakan pintu apartemennya. Lelaki itu sedikit terkejut saat adik kandungnya, Park Seo Yeol, pulang bersama Eddy dalam keadaan mabuk. Sementara yang menjemput Seo Yeol hanya tertegun dan menyerahkan gadis itu kepada Chan Yeol. Eddy secara tiba-tiba wajahnya datar dan sedikit menunduk. Pasti Chan Yeol akan menyalahkannya karena Seo Yeol pulang dalam keadaan mabuk.

“Dia sendiri yang membawaku ke gerai kaki lima tadi dan dia tiba-tiba meminum satu botol soju. Jadi, aku menjemputnya.” Eddy mulai menjelaskan dan dibalas dengan dengusan kesal Chan Yeol.

“Kau seharusnya melarang, bukan malah membiarkannya minum-minum,”

“Yang membangkang siapa, dia sendiri yang menginginkannya,”

“Tetap saja kamu seharusnya melarangnya,”

“Dia banyak minum agar segera melupakan kejadian sejak tadi.”

Akhirnya, Chan Yeol tertegun saat mendengar penjelasan terakhir Eddy. Lelaki berperawakan jangkung itu menyuruh Seo Yeol untuk membersihkan diri agar dia dapat berbicara empat mata dengan Eddy. Seo Yeol pun menurut dan melepaskan sepatu dan kaus kakinya, kemudian melangkah masuk ke dalam apartemen. Dan kali ini, hanya Eddy dan Chan Yeol yang masih berada di luar.

Eddy kali ini enggan untuk berbicara dengan Chan Yeol jika tak ada lagi yang ingin dibicarakan. Chan Yeol pun memerhatikan seniornya yang selalu diam dan dingin terhadapnya. Baginya, tak ada masalah diantara mereka dan seharusnya Eddy memperlakukan Chan Yeol dengan baik sesuai dengan tugas dari Tuan Hong. Entah Chan Yeol mulai merasakan keanehan dengan sikap baik dan tegas seorang Eddy untuknya.

“Jika tak ada yang…”

“Mengapa hyung bersikap aneh terhadapku seperti biasanya?” pertanyaan itu, Eddy mulai menengadahkan sedikit, memandang bola mata Chan Yeol yang lebar itu.

“Pertanyaanmu itu, seharusnya aku yang bertanya.” Ujar Eddy yang kembali mengeluarkan sikap dinginnya itu.

“Apa yang salah terhadapku? Aku selalu menuruti apa yang kamu perintahkan sesuai prosedur Tuan Hong. Kemudian, aku selalu membantumu saat kamu menghadapi kendala. Masih banyak yang telah aku bantu padamu. Sekarang kamu justru bersikap dingin seolah aku adalah dalang dari masalah ini.” Eddy masih diam saat Chan Yeol tak hentinya berbicara. Bukannya membalas perkataan lelaki berjangkung itu, Eddy langsung melangkah masuk ke dalam apartemennya tanpa menghiraukan Chan Yeol yang kembali bertanya.

“Aku akan mentraktirmu makan jika kamu menjelaskan kesalahanku. Aku sedang memiliki uang yang cukup dari Tuan Hong. Aku janji, Eddy-ah.” Bahkan suara Chan Yeol mampu menangkap ke telinga Eddy, meskipun pintu apartemennya tertutup. Chan Yeol kembali berkata dengan menyertakan janjinya jika Eddy akan memberitahu apa permasalahannya.

Setelah tak ada lagi suara Chan Yeol, Eddy terduduk lemas dan menyandarkan punggungnya ke pintu. Menatap langit-langit atap yang gelap dan penuh keheningan. Eddy perlahan memejamkan matanya, mencoba untuk melupakan sejenak permasalahannya dengan Chan Yeol. Dan dia mengakui bahwa dirinya tak ada salah dengan Eddy? Omong kosong bagi Eddy. Orang yang memiliki masalah terhadap orang lain, tetapi malah menganggap semuanya tak ada masalah.

“Maafkan aku, Chan Yeol-ah.” gumam Eddy dengan membuka pelan matanya. Dan tanpa terasa sebulir air bening kembali jatuh ke pipinya. Bagaimana tidak jika Eddy kembali meringis kesakitan dan tentu saja di hatinya. Teman dekatnya yang selalu tertawa bahagia, becanda, dan bermain dalam melakukan tugas. Chan Yeol yang selalu membantunya dalam pekerjaan, selalu mentraktir makan, bahkan mereka selalu mampir sejenak ke tempat karaoke dan bernyanyi dengan kehilangan kendali. Dan Eddy tampak menganggap Chan Yeol adalah saudara kandungnya sendiri.

Namun untuk sekarang, Eddy membiarkan Chan Yeol menemukan kesalahannya, lalu meminta maaf. Eddy tak akan membeberkan apa yang salah dari Chan Yeol dan membiarkan masalahnya itu terpendam di hati Eddy. Membiarkan luka lamanya melebar dan menyebar ke seluruh tubuhnya. Justru pikiran Eddy yang terbawa sakit hingga lelaki itu mulai menangis. Dia tak bisa membenci Chan Yeol yang sudah menganggapnya saudara kandung, tetapi hatinya justru berbisik untuk melakukan sebaliknya.

***

Yi Fan tertegun di sebuah taman yang sama saat ia tak sengaja bertemu dengan Seo Yeol dan Eddy. Memandang mereka yang tampak seperti sedang berkencan romantis, padahal kenyataannya tidak. Perkataan Seo Yeol sejak tadi terngiang di benak Yi Fan. Tentu saja lelaki itu merasa sakit hati. Pasalnya, dirinya tak mengerti mengapa Seo Yeol mendadak berubah menjadi gadis yang dingin dan pendiam. Jauh berbeda dengan Seo Yeol yang dulu selalu mentraktir makan untuk Yi Fan dan selalu mengajaknya berkencan.

Apakah mungkin dia berubah karena hubungan gelapnya dengan Hae Ryung? Yi Fan mungkin dapat meyakinkan alasan dibalik berubahnya sikap Seo Yeol. Lelaki itu berharap Seo Yeol dapat menjelaskan alasan sikapnya yang berubah itu. Dan Yi Fan akan menemukan jalan terangnya agar dapat mencintai Seo Yeol dan berharap perkataannya sejak tadi hanya menjadi angin berlalu saja.

“Tak apa jika kamu membenciku, Seo Yeol-ah.” gumam Yi Fan penuh sesal.

***

Keesokan harinya, Hae Ryung membuka pelan matanya saat sinar matahari membias ruangan. Mengerjap pelan dan segera bangun dari ranjang. Hae Ryung tertegun karena dirinya sudah berada di kamar tidurnya. Wanita itu terpikir apa yang Yi Fan lakukan terhadapnya kemarin. Dan entah bagaimana bisa dirinya berada di kamarnya, bukan kamar Yi Fan. Hae Ryung segera bangkit dari ranjang dan turun dari tangga. Apakah Yi Fan sudah berada di rumahnya?

Saat di ruang makan, Hae Ryung tertegun saat menu sarapan sudah siap di meja makan. Cukup banyak dan dapat mengisi perutnya yang kosong akibat tak makan tiga kali sehari. Tetapi, kemana orang yang membuatkan sarapan ini? Hae Ryung celingak-celinguk menemukan sumber tersebut. Tak ada orang di rumah ini dan hanya dirinya yang berada di rumah? Jika memang benar tak ada orang selain dirinya, siapa yang menyiapkan sarapan yang cukup banyak itu?

“Apakah kamu sedang mencariku?” tiba-tiba, Yi Fan melangkah dari dapur dengan celemek yang masih melekat di tubuhnya yang terbalut kaus putih. Hae Ryung melongo saat lelaki itu sudah ada di meja makan.

“Kamu harus makan, kemudian kerja. Bukankah kamu tak ingin sakit kembali?” Hae Ryung masih heran dengan sikap Yi Fan yang cukup dingin itu.

“Mengapa kemarin aku tak bangun saat aku jatuh pingsan?” tanya Hae Ryung seraya melangkah menghampiri tempat duduk yang berhadapan dengan Yi Fan.

“Kamu sedang dalam keadaan lelah. Aku dengar kamu memiliki anemia dan kamu tak diperbolehkan untuk bekerja kemarin.” Jawab Yi Fan yang tiba-tiba Hae Ryung menyadari sesuatu.

“Bagaimana dengan rapat kemarin?! Apakah kamu memberikan alasan yang tak jelas kepada Tuan Hong?!” Hae Ryung menuduh Yi Fan melalui pertanyaannya.

“Aku sudah meyakinkan Tuan Hong bahwa kamu sedang sakit dengan menyerahkan surat izin dari dokter. Dan juga…” tiba-tiba Yi Fan mengatupkan bibirnya karena ada hal yang tak harus dia katakan kepada Hae Ryung.

“Dan juga apa?” wanita itu penasaran.

“Kamu… kamu…” Yi Fan bingung harus mengatakan hal ini atau tidak.

“Cepat katakan padaku.” Tegas Hae Ryung.

“Kamu hamil, Oh Hae Ryung. Kamu hamil dan aku telah menghamilimu beberapa tempo yang lalu.” Beber Yi Fan yang akhirnya Hae Ryung tertegun. Seketika tubuhnya bergemetaran dengan ekspresi tak percaya. Jantungnya berdetak tak karuan dan wanita itu merasakan panas dingin di tubuhnya.

“Apa… apakah… Tuan Hong…”

“Tenang saja. Surat kehamilanmu ada di tangan saya. Jika Tuan Hong tahu bahwa aku menghamilimu, mungkin diantara kita akan dipecat.” Yi Fan menyela perkataan Hae Ryung dengan senyuman yang kecil.

“Lalu… lalu… apa yang harus… aku… lakukan? Tentu saja kekasihmu marah padaku jika kamu menghamiliku! Dan ini semua…”

“Bukankah kamu yang memulai semuanya dengan tujuan agar aku lebih mencintaimu dari Seo Yeol? Kamu cemburu, kan bahwa aku lebih mencintai Seo Yeol darimu? Tentu saja kamu terbakar cemburu karena kita tak ada hubungan lagi.” Yi Fan kembali menyela perkataan Hae Ryung yang membuat wanita itu menutup mulutnya. Kali ini perkataannya memojokkan wanita dihadapannya. Seakan Yi Fan ingin mengatakan yang sejujurnya, bukan hanya dari bibir tebalnya saja.

“Kamu pernah berkata padaku bahwa kamu masih mencintaiku dan kamu siap melakukan apa saja demi membahagiakanku. Namun pada kenyataannya, beginilah keadaanmu sekarang.” Hae Ryung masih merapatkan bibirnya seakan dialah dalang dibalik kehamilannya. Dan sekarang, apa yang harus wanita itu lakukan agar semuanya berjalan lancar? Yi Fan pun melontarkan pertanyaannya dengan demikian.

“Aborsi tak baik untuk kandunganmu, bahkan itu sama saja kamu membunuh anakmu sendiri yang telah dihamili olehku.” Tak ada jalan keluar memang, padahal aborsi merupakan jalan yang terbaik. Namun sekali lagi, Yi Fan menekankan perkataannya agar Hae Ryung tak melakukan hal yang keji. Lelaki itu memang dikenal baik para karyawan dan menolak apa yang dilakukan orang lain yang hendak melakukan yang tidak.

Untuk kali ini, Yi Fan telah meruntuhkan pendiriannya untuk menolak semua yang orang lain lakukan yang tidak-tidak. Dan dalangnya adalah Hae Ryung karena wanita itu selalu menggodanya. Jika waktu dapat berputar, Yi Fan pasti menolak secara mentah-mentah dan menganggap Hae Ryung adalah seorang sekretaris jalang. Tidak hanya Yi Fan saja yang dipermainkan wanita itu, Tuan Hong – atasan mereka – bahkan digoda dengan wanita yang sama. Dan jika Hae Ryung tak menggoda beliau, istrinya pasti tak mengamuk dengan segala kemarahan yang membara.

Bagi Yi Fan, Hae Ryung sudah tak lagi waras setelah hubungan mereka kandas satu tahun yang lalu. Awalnya pengawal Yi Fan sempat menyeret Hae Ryung ke rumah sakit jiwa, sayangnya wanita itu malah kabur dan lebih memilih untuk mengasingkan diri di rumah kosongnya. Entah datang darimana wanita itu, kini ia berubah menjadi wanita yang memikat hati para pria. Dengan segala godaannya yang ia lakukan, akhirnya Yi Fan gagal mengukuhkan pendiriannya. Lelaki itu sungguh menyesal dan menyesal.

“Aku akan bertanggung jawab karena telah menggodamu,”

“Aku saja yang bertanggung jawab atas kehamilanmu. Bukan karena kamu menggodaku, melainkan aku hendak merenungkan segala perbuatanmu yang telah berhasil merusak pendirianku.” Yi Fan menyela perkataan Hae Ryung sebelum wanita itu berbicara kembali. Hae Ryung mungkin menyesal karena lelaki dihadapannya itu telah menghamilinya.

“Bukankah kamu senang jika kamu hamil? Ini semua atas rencanamu, bukan untuk menghancurkan hubunganku dengan Park Seo Yeol?” lagi-lagi Hae Ryung terpojok oleh pertanyaan Yi Fan. Memang wanita itu merasa senang karena berhasil memikat hati lelaki bersurai hitam itu, tetapi Seo Yeol memiliki perasaan juga sebagai kekasih Yi Fan. Hae Ryung cukup terbebani dengan pertanyaan Yi Fan, apalagi jika mengenai Seo Yeol.

“Jangan pernah mendekati wanita itu jika aku sedang hamil,” ungkap Hae Ryung yang membuat Yi Fan mematung, “Atau aku akan membunuh seorang malaikat yang ada di janinku.” ujarnya setengah mengancam. Yi Fan tak takut dengan sebuah ancaman Hae Ryung. Tentu saja lelaki itu pasti melanggarnya.

“Sampai kapanpun Seo Yeol mungkin tahu berita ini, sampai kandungan ini kian membesar, dan sampai orang lain tak tahu hubungan gelap kita, jangan pernah kamu dekati gadis busuk itu. Dialah dalang yang membuat hubungan kita retak satu tahun yang lalu.”

“Kalau begitu, gugurkan saja kandunganmu jika aku tak lagi mencintaimu.”

“Permisi, Wu Yi Fan-ssi!”

“Kamu tak tahu bahwa aku tak bisa kembali padamu? Jika bukan karena Seo Yeol, aku terus saja mengejar hatinya hingga tanganku berhasil menggapai hatinya. Dan lebih baik kamu gugurkan saja kandunganmu jika pada kenyataannya aku tak bisa mencintaimu kembali.” Yi Fan segera bangkit dari kursi kayunya sebelum Hae Ryung mulai menyulut emosinya. Wanita itu mengepalkan kedua tangannya saat Yi Fan mulai menghilang dari ruang makan. Hae Ryung tak akan membiarkan lelaki tercintanya itu kembali menjadi milik Seo Yeol. Dia akan membuat gadis belia itu menghilang dari dunia, sampai kapanpun.

***

Eddy melangkah keluar dari apartemennya dengan mengenakan setelan jas hitamnya. Surai cokelatnya itu dibentuk gaya jambul, membuatnya terlihat lebih tampan dari sebelumnya. Meski tubuhnya cukup tinggi, lelaki itu tampak lebih luar biasa.

Matanya menangkap Seo Yeol yang ikut melangkah keluar dari apartemennya, kemudian disusul dengan Chan Yeol yang notabenenya adalah teman kerja Eddy. Jika Chan Yeol sedang tak bersama Seo Yeol, Eddy dapat mengucapkan selamat pagi. Dan alih-alih lelaki berjangkung itu telah hadir di matanya, membuat Eddy memilih untuk diam. Mengingat ia sedang memiliki urusan khusus dengan Chan Yeol, Eddy lebih memilih untuk diam dan menjalani hidup layak orang normal saja.

Telinga Eddy menangkap seorang gadis yang tak lain adalah Seo Yeol. Iya, gadis itu mengucapkan selamat pagi terlebih dahulu kepada Eddy tanpa malu. Entah setan apa yang merasuki tubuh Eddy sehingga lelaki itu terpaksa membalas ucapan Seo Yeol. Sialnya lagi, gadis itu tersenyum ramah dengan lengkungan bibir yang sempurna. Jangan sangka bahwa Chan Yeol merasa bingung dengan sikap adik kandungnya itu.

“Seo Yeol-ah,” panggil Chan Yeol yang berhasil mengganggu Seo Yeol yang tengah bersikap sopan terhadap Eddy, “Kita harus berangkat atau kamu akan terlambat.” Perintahnya hingga Seo Yeol harus berpamitan kepada Eddy.

“Eddy-ssi, saya berangkat terlebih dahulu. Jika kita…”

“Tak apa. Kamu lebih baik berangkat ke sekolah daripada kamu tidak diperbolehkan untuk mengikuti ujian.” Eddy membenarkan perkataan Seo Yeol yang tak terselesaikan itu. Dan dengan terpaksa Seo Yeol segera melangkah meninggalkan Eddy bersama Chan Yeol. Sementara Eddy menatap punggung Seo Yeol dengan tatapan yang sedikit tajam. Chan Yeol telah merusak apa yang dilakukan Seo Yeol barusan. Jika bukan karena lelaki itu, Eddy yang pertama mengucapkan selamat pagi untuk Seo Yeol. Atau perlukah Eddy menculik Chan Yeol, kemudian menghajar lelaki itu hingga babak belur biar tahu rasa.

Di sisi lain, Chan Yeol tengah mengendarai mobilnya. Sesekali ia melirik Seo Yeol yang hanya duduk termenung dan menghadap ke jendela. Chan Yeol merasa heran dengan sikap adiknya akhir-akhir ini. Tak seperti biasanya ia membuka buku, kemudian serius untuk belajar, mengingat gadis itu sedang menghadapi ujian nasional. Dan sekali-sekali gadis itu bertanya tentang pelajaran yang dia ujikan. Chan Yeol tak habis pikir jika ada hubungan khusus antara Eddy dan Seo Yeol.

“Oppa,” panggil Seo Yeol dengan ramah, “Apakah oppa berteman dengan Eddy ahjussi?” Seo Yeol kembali menekankan panggilan Eddy dengan ahjussi. Chan Yeol tak segera menuduh terlebih dahulu.

“Kita ini satu kerja, bahkan aku selalu membantunya karena dia berada di posisi yang cukup terhormat.” Jawab Chan Yeol dengan tetap fokus mengendara.

“Bagi oppa, Eddy ahjussi memiliki kekasih, bukan?” bukan menjawab pertanyaan Seo Yeol, Chan Yeol tiba-tiba teringat sesuatu. Seo Yeol sudah memiliki Yi Fan, tetapi mengapa gadis itu malah bertanya mengenai hubungan asmara Eddy? Tak mungkin, kan Seo Yeol langsung jatuh cinta dengan lelaki itu karena mereka hanya saling bertemu dan bertegur sapa. Tidak lebih.

“Haruskah aku menjawab disaat kamu sudah memiliki kekasih?” Chan Yeol membalikkan pertanyaannya, membuat Seo Yeol mendengus.

“Aku bertanya seperti ini bukan berarti aku harus jatuh cinta dengannya. Aku dan Eddy tak ada hubungan khusus. Lagipula, Eddy sudah memiliki kekasih. Untuk apa aku harus merebut lelaki yang telah memiliki wanita?” Seo Yeol membantah dengan menahan kekesalan yang hampir mendidih. Chan Yeol hanya tertawa kecil.

“Dia memang memiliki kekasih dan hubungan mereka tampak membaik.” Chan Yeol menjawab dengan meyakinkan Seo Yeol bahwa Eddy memiliki kekasih.

“Bukankah Eddy ahjussi sudah mengakhiri hubungannya dengan kekasihnya? Kalau tidak salah, kekasihnya bernama Song Se Hin. Alasannya adalah karena kekasihnya itu telah mencampakkannya. Dan dengan teganya ia menyeret Eddy ke suatu permasalahan yang rumit sehingga gajinya terpaksa dipotong drastis.” Chan Yeol bertanya-tanya bagaimana ia tahu tentang kehidupan Eddy. Apakah mungkin dia bercerita kepada Seo Yeol? Chan Yeol rasa begitu.

“Kalau boleh tahu, Song Se Hin itu… siapa kekasihnya sekarang?”

 

CIITT!

 

Tubuh Seo Yeol terguncang hebat saat Chan Yeol tak sengaja menginjak rem secara mendadak. Seo Yeol langsung mengeluarkan kekesalannya terhadap kakak kandungnya yang tipikal mengendarai mobil balap. Lagipula, mobil Chan Yeol kini telah sampai di depan halaman sekolah Seo Yeol yang mewah.

“Mengapa oppa mendadak mengerem begitu saja?! Apakah oppa sedang mencari mati untukku?!” tanya Seo Yeol dengan kesalnya sembari turun dari mobilnya.

“Maafkan oppa, Seo Yeol-ah. Aku takut kamu akan terlambat nanti.” Sahut Chan Yeol.

“Jika aku terlambat, kenapa tidak? Lagipula guru hanya menegurku saja, tidak secara langsung memberiku hukuman.” Seo Yeol langsung menutup pintu mobil Chan Yeol keras, kemudian melangkah masuk ke halaman sekolahnya yang terpantau ramai. Chan Yeol merasa sedikit bersalah. Ia sebenarnya melakukan itu agar Seo Yeol tak lagi banyak bertanya hingga mengorek segala kehidupan pribadinya dan Eddy. Telinga lebar Chan Yeol tak lagi menampung rentetan pertanyaan yang telah dia jawab. Dan dia tak mau Seo Yeol turut ikut campur ke dalam urusan pribadi seseorang.

Saat Chan Yeol hendak menjalankan kembali mobilnya, tiba-tiba ponselnya berbunyi – tanda pesan masuk. Ponselnya selalu mengganggu. Chan Yeol segera meraih ponselnya, kemudian membaca isi pesan tersebut. Pesan singkat dari Eddy. Chan Yeol langsung bertanya-tanya tentang isi pesan Eddy.

 

Chan Yeol menghela napas panjang saat pertanyaan di dalam pesan tersebut menegangkan tubuhnya. Eddy akan mengeluarkan segala curahan hatinya dan membeberkan alasannya ia marah pada Chan Yeol. Mungkin, jika dugaan Chan Yeol benar. Dengan terpaksa ia membalas isi pesan dari Eddy. Berharap ada titik jalan terang dibalik pertemuan nanti.

 

 

 

To be continued…

2 responses to “[Freelance] When a Man Loves (Part 3)

  1. Pingback: [FREELANCE] When a Man Loves Part 4 | SAY KOREAN FANFICTION·

  2. Pingback: [FREELANCE] When a Man Loves Part 5 | SAY KOREAN FANFICTION·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s