Choose One ― ShanShoo

choose one

Choose One

ShanShoo’s present

 

Starring by BTS Jin, Infinite L/Myungsoo, OC Jira, T-Ara Jiyeon | fluff, friendship, slight!romance | vignette +950ws | PG-15

.

Aku bingung harus pilih yang mana.

 

-o-

 

 

Sekolah pagi, duduk di kursi, cari sesuatu di loker meja, dan dapat sebuah amplop biru berisi secarik kertas.

Sudah biasa.

Dan aku bosan.

Amplop itu segera kuambil dari loker mejaku, lalu merobeknya tanpa asa. Tanpa babibu atau apapun itu, aku lekas membaca surat di dalamnya. Dan, isinya,

Aku menyukaimu, Han Jira

J

Iya, isinya hanya begitu. Hanya sebuah pengakuan yang menurutku terlalu berlebihan! Kalau memang dia menyukaiku, kenapa tidak langsung katakan saja?! Huh, dasar laki-laki kurang gentle!

Lekas, aku mencari sesuatu lagi di dalam loker. Bukannya ingin mendapat sesuatu lagi di sana, hanya saja, aku sudah yakin kalau sesuatu di dalam sana tak hanya kertas. Melainkan,

Sebuah kotak transparan, berisi cokelat dengan bentuk mengikuti kotak itu.

 

Di atas kotak itu ada secarik kertas yang ditempel menggunakan selotip. Tulisannya; kalau kau memakan cokelat ini, itu tandanya kau menyukaiku juga.

 

M J

Aduh! Apa lagi, sih?!

“Terima saja, Ra. Daripada ditolak. Kan sayang sekali kalau kau menolak salah satu dari mereka.” Suara Park Jiyeon serta merta menusuk gendang telingaku. Teman sebangkuku ini baru saja datang, dan tanpa bertanya apa-apa juga ia sudah tahu, kalau aku sedang berurusan dengan… yah, bisa dibilang dua secret admirer. Entahlah, aku sendiri merasa merinding kalau menyangkut masalah ini.

“Tidak, mereka itu tidak ‘berwujud’.” Ujarku sarkastis. Meletakkan kepala di atas meja seraya mendesah panjang.

“Eh? Tidak… tidak apa?” tanya Jiyeon keheranan.

“Mereka itu tidak ‘berwujud’. Aku tidak tahu bagaimana rupa mereka sampai sekarang.” Selagi kedua mataku terpejam, kudengar Jiyeon terkekeh pelan seolah sedang mengejekku.

“Kau ini bodoh atau bagaimana? Masa iya, kau tidak tahu siapa penggemar rahasiamu itu?”

Tahu, ah!” desisku, tak mau mendengar apapun perkataan Jiyeon. Sampai suara gedebuk serta debaman keras yang bersumber dari pintu kelasku, membuatku refleks mendongak dan menatap ke arah sana. Dan yang kulakukan saat ini adalah melebarkan pandangan. Tepat di saat dua laki-laki berseragam yang sama denganku, tengah menatapku berbinar disertai senyuman lebar, juga saling mendorong satu sama lain, hingga terkadang satu di antara mereka sama sekali tak terlihat dari depan pintu.

Iya, terus saja begitu sampai salah satu dari mereka bersuara,

“Hai, Han Jira! Aku Kim Seokjin!”

“Aku Kim Myungsoo!”

“….” aku terperangah bukan main. Yang jadi masalahnya di sini adalah, siapa itu Kim Seokjin dan Kim Myungsoo? Aku bahkan tidak mengenal mereka berdua.

“Aku yang selama ini menyimpan cokelat untukmu di loker mejamu. Aku menyukaimu―”

Aish! Jangan mau sama Kim Myungsoo, dia playboy―”

“Memangnya kau ini bukan playboy, huh? Eh―”

Semua teman-teman sekelas akhirnya menertawakanku. Aku juga mendengar ada yang mendesis kesal karena yang namanya Kim Seokjin dan Kim Myungsoo di depan kelasku itu ternyata menyukaiku. Entah apa alasannya. Tapi ketika kudengar Jiyeon berbisik,

“Mereka itu dua siswa populer di sekolah. Dan yang namanya Kim Seokjin itu adalah kapten tim basket sekolah kita.”

Aku benar-benar tidak percaya. Bagaimana bisa mereka menyukaiku? Apa kelebihanku? Apa yang menarik dariku? Aku hanyalah gadis biasa yang ingin hidup tenang selama bersekolah di sini. Hanya itu.

Tanpa kuduga, Myungsoo berlari memasuki kelas lalu menghampiriku. Senyuman yang―well, kuakui― begitu mempesona masih tercetak jelas di bibirnya. Kemudian, disusul Seokjin yang juga berlari menghampiriku. Membuat semua para siswi di kelas berteriak karena adanya kehadiran mereka.

Seokjin lantas berkata, “Kau ingat aku? Waktu itu kau menolongku saat terkena hukuman guru Jeon. Iya, yang waktu kau bilang bukan aku yang memecahkan kaca kelas pakai bola basket.”

“….”

Kemudian, Myungsoo menimpali, “Hei, kau ingat padaku juga, kan? Waktu itu kau mengobati goresan luka di tanganku. Yah, meskipun itu juga disuruh sama penjaga UKS.”

“….”

O-oh… jadi… mereka ini… adalah… dua siswa yang aku tolong secara tak sengaja?

“Sejak saat itu, aku tertarik padamu.” Myungsoo meraih tanganku, namun Seokjin menepisnya. Dan giliran dia yang menyentuh tanganku.

“Aku menyukaimu, bahkan sebelum kau menolongku.”

Ya! Kim Seokjin! Aku yang lebih dulu mengenal Han Jira! Jadi lebih baik kau pergi saja!”

“Kau bilang apa?! Aku yang lebih dulu mengenalnya! Dan harusnya kau yang pergi dari sini!”

Bagiku, ocehan mereka terdengar seperti “@$#^&^!%@” yang tak pernah usai.

“Hei, hanya karena kau menolong mereka satu kali, dan mereka sudah menaruh hati padamu? Daebak!” dan ucapan Jiyeon bagiku tak terdengar seperti pujian, melainkan angin lalu yang harus kulupakan secepatnya.

Maka, selama Seokjin dan Myungsoo masih beradu kata, aku memutuskan untuk keluar kelas. Tapi baru saja beberapa langkah, kudengar Myungsoo menyerukan namaku, lalu,

“Han Jira! Kau memakan cokelatnya, kan? Jadi, kau menerimaku?” dari nada bicaranya, aku yakin kalau dia itu sedang memasang wajah berbinar. Ugh!

“Kau tak mungkin memakannya, kan? Hei, Han Jira! Pokoknya jangan mau jadi kekasih Myungsoo, dia itu―”

“Jangan dengarkan ucapan Seokjin, dia― Jira-ya, kau mau ke mana?”

Pertanyaan itu refleks membuatku menghentikan langkah tepat di ambang pintu kelas. Kepalaku menoleh pada mereka berdua, memberikan tatapan jengah sekaligus terasa horror bagi siapapun yang melihat tatapanku ini.

Sudah cukup! Aku lelah jika mereka terus bersikap seperti ini selama dua bulan lamanya!

Ya, Han Jira, setidaknya kau memilih salah satu di antara mereka. Kau tahu? Mereka ini berisik sekali!” omel Jiyeon pada akhirnya. Namun aku masih belum memberi jawaban.

“Iya, pilih salah satu dari kami, Ra.” Kata Seokjin, menimpali.

Aku masih terdiam menatap mereka. Dan kurasa seluruh teman sekelas juga memerhatikanku dengan makna tatapan berbeda-beda. Tapi tiba-tiba saja, sudut mataku menangkap pergerakan seorang laki-laki yang tengah memakai tas punggung. Sepertinya ia baru saja datang. Dan siswa ini adalah seseorang yang kukenal.

Ah, akhirnya aku mendapatkan jalan keluar!

“Baiklah kalau begitu, aku akan memilih,” menghirup napas dalam-dalam lalu mengeluarkannya perlahan, membuat Seokjin dan Myungsoo semakin menaruh harapan padaku. Butuh jeda dua detik lamanya untuk melanjutkan perkataanku sembari menarik paksa siswa yang sudah kukenal beberapa bulan lamanya,

“Aku mau pilih Jung Chanwoo saja!”

Hening.

Dan kulihat,

Kim Seokjin dan Myungsoo terperangah tak percaya,

Jiyeon tak mengerjapkan matanya,

Chanwoo memasang wajah tak mengerti,

Dan aku hanya bisa memasang cengiran lebar.

 

.

.

.

.

.

.

Nah, aku sudah membuat keputusan yang tepat, bukan?

.

.

.

.

Fin.

 

 

18 responses to “Choose One ― ShanShoo

  1. Nah loh,, paling gak enak di posisi jira,,,
    Kadang dicintai tanpa mencintai itu sulit,, apa lagi disuru milih dan dipaksa balas perasaan,,,
    Jadi tekanan batin sama otakk,,
    Yang enak tu kalau saling mencintai,

  2. Nah loh,, paling gak enak di posisi jira,,,
    Kadang dicintai tanpa mencintai itu sulit,, apa lagi disuru milih dan dipaksa balas perasaan,,,
    Jadi tekanan batin sama otakk,,
    Yang enak tu kalau saling mencintai,
    Gue malah baper hahaha

  3. Wahahaaha tadi nya mau milih seokjin tapi ada cogan berondong jadi ajaaa milih canu kkkkk…eh myung juga mau dipilih deng :v tapi ntar takut syirik ama seokjin:”
    kalau boleh sih tiga tiganya di pilihh:d
    kapan yah bisa di rebutin ma 3 cowo kaya gitu:”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s