[Ficlet] Noctis

 

moodboard_yongaire

NOCTIS

“Every moments, thinking of you endlessly.”

Noctis from Roman –means midnight ; tengah malam.

– aiveurislin’s masterpiece © 2016 ; Lee Taeyong & Ashlaire Ahn ; a ficlet counts 1189 words include sad, romance, hurt/comfort things for restricted 

Picture © aiveurislin


Tengah malam ini, aku dikejutkan dengan kedatangannya, Lee Taeyong, berdiri di ambang kusen pintu rumahku dengan setelan kaus putih yang tertutup coat dan jeans yang membalut kaki panjangnya. Sederhana namun tetap mengesankan, bagiku. Pemuda itu mengajakku pergi. Sekadar berjalan-jalan, katanya. Pun kuturuti permintaannya dan di sinilah aku sekarang, terjebak dalam situasi diluar pranalar yang bisa aku duga-duga.

“Bagaimana kabarmu?” tanyaku. Taeyong menoleh disela kegiatannya mengemudi. Dengan kecepatan konstan menyusuri jalan sembari menyapukan pandangan lewat ekor mata liarnya, aku hanya terbisu menunggunya berucap. Beberapa anak rambutku pun beterbangan oleh angin, serta-merta pula atensiku tak teralih sedikit pun dari refleksinya yang terpagut di kaca spion depan.

“Jalanannya kabur,” dahiku berkerut mendengar jawabnya. Kusapukan arah pandangku pada tembusan kaca yang mengimplikasi jalan yang remang-remang, samar. Benakku pun berkecamuk heran karena Taeyong tak menyalakan lampu depan mobil yang kami tumpangi sejak awal perjalanan.

Lama tak mendengar jawaban, aku kembali bersuara, “Kenapa kau kembali?”

Oh sungguh, Ada rasa getir yang menggerayapi lidahku ketika mengulas pertanyaan ini. Entahlah, ada persepsi skeptis yang tiba-tiba muncul di benakku. Takut-takut jika Taeyong menganggap sensitif pertanyaanku sebagai penolakan atau hal negatif apa pun itu.

“Kau tidak senang ya kalau aku kembali?”

Kugigit bibir bawahku kuat-kuat. Benar ‘kan persepsiku? Ah bodoh!

“Tidak, bukan itu maksudku. Aku kira kau sudah nyaman dengan tempat barumu dan berencana menetap di sana. Itu saja,” jelasku berusaha memutus kesalahpahamannya. Taeyong pun mengulas senyum yang lagi-lagi memesonaku untuk kesekian kalinya walau hanya melihatnya dari refleksi kaca.

Tentu saja memoriku masih merekam jelas bagaimana kami berpisah. Yeah, sesuatu hal yang tidak perlu aku umbar-umbar mengenai statusku sekarang sebagai masa lalu seorang Lee Taeyong. Aku tak mau melebih-lebihkannya dan juga aku sudah cukup muak dengan segala kabar burung yang hinggap pun perlahan-lahan meluluh-lantakkan rasa kagumku padanya. Aku sudah tidak ingin memiliki koneksi apa pun dengannya.

Ingin rasanya aku berteriak, menyuruhnya untuk menghilang dari hidupku. Menyisakan suatu konteks konfrontasi tindak-tanduknya yang belum kupastikan faktanya.

Taeyong memutar stir mobil. Kurasa, mobil yang kami tumpangi perlahan menepi. Aku belum ingin melayangkan sepatah kata pun, membiarkan situasi ini mengambang ambigu. Tidak realistis memang. Namun aku sungguh tidak tahu apa yang harus aku lakukan sekarang.

Dia menatapku. Aku bisa merasakan itu walaupun siratku hanya menatap kosong kaca depan yang merujuk implikasi jalanan yang terlihat samar dalam fokusku. Terpaku. Ada sensasi aneh yang menjalar urat nadiku ketika kulitnya bersentuhan dengan tanganku. Kutolehkan wajahku ragu, dan obsidianku bersirobok dengan miliknya bagai serdadu. Mungkinkah dia bisa merasakan setitik rasa yang tertinggal melalui jendela bola mataku?

“Bagaimana bisa kau tidak berubah, Aire? Apa kau menemukan kebahagiaanmu tanpa aku?”

Membisu. Lidahku melemas kelu. Seruan itu… sudah lama sekali sejak terakhir kali aku mendengarnya. Aku tak dapat menggunakan imajiku saat ini. Taeyong mencari jawaban melalui jendela netraku. Dan aku sungguh berharap dia dapat menemukan sesuatu yang tak bisa aku ungkapkan saat ini.

Aku tak tahu apa ruhku masih memagut dalam aliran darahku atau tidak. Desiran aneh itu menjalari tubuhku manakala sentuhannya membuatku semakin kehilangan akal. Napasku terasa sengal saat jemarinya membuatku tenggelam lebih dalam halusinasi yang ia ciptakan ketika ia menyatukan bibirnya dengan milikku.

So addictive. Aku sangat merindukan sentuhan ini, asal kautahu saja. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku bisa mendengar deru napasnya yang menerpa wajahku, merasakan kembali kehangatan dari setiap jengkal sentuhannya pun membuatku semakin terjerat oleh pesona yang hidup dalam raganya. Gairahnya yang mendidih ikut pula membangkitkan gairah yang selama ini berusaha aku kubur.

“Aku masih sangat menyukaimu, Aire… tak bisakah kita mulai kembali semuanya dari awal?” bisiknya halus. Napasnya terasa hangat menerpa kulit wajahku. Perlahan, lenganku terulur memberi jarak. Jujur saja, aku tak bisa menolak sentuhannya saat ini. Apalagi kerja otakku yang seakan melumpuh tanpa daya kini mulai tak kupedulikan. Kuberanikan diri menjelajahi gurat wajah tegasnya. Jujur saja, aku merindukannya, sangat.

“Kudengar, selama ini kau bermain-main dengan para gadis? Apa itu benar?” tanyaku parau. Taeyong hanya mengulas senyum tipis mendengar pertanyaanku yang terdengar getir. Apakah itu artinya aku masih peduli padanya selama ini?

“Ya, yang kau dengar itu benar adanya. Tapi entah mengapa hatiku tak bisa melupakan tentang kita. Apalah artinya para gadis itu jika dibandingkan dengan dirimu, Aire,” aku menatapnya dalam, diam. Sejujurnya aku tidak ingin mempercayai ucapannya. Semua hal ini tampak mustahil. Sungguh, aku tidak ingin jatuh ke lubang yang sama untuk kedua kalinya.

Aku menghela napas sejenak, dengan susah payah kutelan salivaku dan kuberanikan sepasang netraku memagut gurat wajah nan rupawan itu dalam lensa mataku, “Aku juga bagian dari mereka, Lee Taeyong. Dan aku pikir kau juga telah bermain-main saja denganku selama ini,” lenguhku. Setitik likuid bening mulai memenuhi pelupuk mataku. Semakin memanas dan penuh. Suaraku parau, berat serta tercekat. Aku sungguh tidak ingin mempercayai semua ini.

“Bawa aku pulang saja. Aku ingin pulang sekarang,” pintaku semakin parau. Putus asa.

Taeyong melenguh berat. Aku hanya membisu melihatnya melepas coat yang membalut tubuhnya, menyisakan kaus putih dan jeans yang masih menempel apik di tubuh prianya. Aku berlagak acuh. Dia menariku mendekat, seketika itu pula membuatku tercekat hebat lalu meraih bibirku kembali dengan paksa. Aku tentu saja tak serta-merta jatuh begitu saja. Aku menolaknya, sungguh, tapi gairah yang telah ia percik membuatku kehilangan arah. Kupaksakan tubuhku untuk mendorong bahunya lebih kuat hingga ia melepaskan sentuhannya lalu memutuskan pergi dari radar penglihatannya dan kupastikan untuk memberi jarak yang cukup jauh.

Angin malam berhembus menerpa tubuhku yang hanya tertutup gaun putih polos sepanjang lutut. Tubuhku hampir ambruk, tak mampu menahan terpaan angin malam yang terasa menggeronggoti rangka tubuhku. Jalanan yang bisu dengan hembusan dingin angin malam, tak ada satupun kendaraan yang melewati tempat ini.

“Ashlaire…..”

“Berhenti! Aku tidak ingin menyentuhmu saat ini!” tolakku saat dia semakin mendekat padaku. Aku tertunduk dalam menahan isakan yang sedari tadi kupendam. Saat ini, aku tak lagi mampu membendung perasaanku yang kerap kali menyesakkan dadaku. Implikasi kedukaan itu jatuh begitusaja, melepaskan segala tekanan yang membuatku hampir gila.

Dia menarikku mendekat hingga sepasang lengan kekarnya mendekap tubuhku. Disaat itulah aku tak mampu menahan segala harga diriku yang telah kujunjung tinggi. Isakanku terdengar makin keras. Kaus putihnya kini telah basah karena airmataku.

Taeyong mendekapku erat, berusaha menenangkanku. Yeah, dia sudah tahu segalanya tentang aku dan masih mengingatnya setiap detail diriku dengan baik.

“Aku tak ingin merasakan sakitnya dipermainkan lagi, Lee Taeyong,” isakku padanya. Taeyong mendekapku kian erat. Ia tak berusaha membalas ucapanku, membiarkannya mengambang bersama desauan suara para binatang malam.

“Kita berhubungan lalu putus tanpa alasan. Lalu kembali bersama seolah tidak ada yang terjadi. Kaupikir aku suka ketidakjelasan seperti itu? Selama ini kau hanya ingin bermain-main denganku, membuatku merasa terbang tinggi lalu menghempaskanku begitu saja. Kaupikir, aku ini apa?” semua arogansiku runtuh sudah. Aku meremas kuat-kuat kaus putihnya yang kini kian kusut, melampiaskannya hingga termometer amarahku mencapai titik kestabilannya.

Setelah beberapa momen berlalu, Siratnya memandang lurus ke arah lensaku. Entahlah, ada seberkas sinar kehangatan yang terpancar dari dwimanik yang tengah menatapku itu. Sudah sekian lama aku tak melihat sinar itu seakan-akan matahari telah beranjak dari dunia ini.

“Bisakah kau memberiku satu kesempatan lagi?” ujarnya dengan suara lembut.

Bibirku kelu dibuatnya. Jemari kekarnya menyentuhku, menyalurkan kehangatan yang telah lama kurindukan. Embusan napas hangatnya terasa menenangkan. Sepasang netraku pun terpejam. Jika ini mimpi, tolong jangan pernah bangunkan aku dari mimpi ini. Aku ingin selamanya berada dalam mimpi ini.

“Jangan pernah mempermainkanku lagi, Lee Taeyong.”

–finish.


notes ;

  • comeback ((SAY HI YEORUBUN))
  • Taeyong-Ashlaire masih butuh perjuangan, guys.
  • Aku greget liat mereka gini terus, duh kapan kalian seneng-senengnya, mas&mbak?
  • btw, itu moodboard-nya edisi dark-monochrome. jadi pas buat fanfiksi ini ((muehuehue))
  • HAPPY (LATE) BIRTHDAY, TAEYONG-A!! ASHLAIRE-NYA JANGAN DI SIA-SIA IN YA😀
  • Check my other YongAire fic, x ; x, and my coming-soon project x

 

see you soon, ya!

aiveurislin.

7 responses to “[Ficlet] Noctis

  1. Hmm…. intinya dapet, dan diksi kamu beneran mendayu-dayu cantik dan jatohnya jadi pas. angsty angsty gimana gitu deh hehe. But … kalo bisa nih ya, aku saran aja sih, biar lebih epic scene-nya lebih dieksplor. Percakapan mereka agak muter-muter dan ternyata intinya sederhana, kalau misal ada penjelasan dalam narasi (misal Taeyong ke mana pas pergi, ada masalah atau apa, itu bisa lebih rasional buat Aire mau balik. eh apa ini ada di cerita lain mereka? aku blm baca hehe) atau mungkin flashback singkat lah dalam dialog buat penjelasan lebih hehe. Saran aja sih biar nda monoton. Anw salam kenal yaah (bisa panggil apa ya? nama penamu cantik banget btw kusukaa ♥) Niswa di sini dari garis 99🙂

    Keep writing dear ^^

  2. uwaaaaahhhh
    ini keren bangeet
    serius,,uwaaahhhhh
    bneran deh aah, ini keren bangett,,
    aku suka bangeetttt
    tetep ssemangat nulisnya yaa authorr
    keep writing

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s