The Dim Hollow Chapter 15 by Cedarpie24

Thedimhollow

The Dim Hollow

                                                                   —Chapter 15

Realize

.

a fanfiction by cedarpie24

.

Oh Sehun x Son Dahye

Slight!Kim Taehyung, Kim Jongin, Byun Baekhyun

Romance, school-life, hurt, teacher-student relationship || PG-16 || Chaptered

.

I just own the storyline and original-chara

.

Aku menyayangimu sedalam kau menyukaiku. Memujamu sebanyak kau mengagumiku. Menginginkanmu sesering kau merindukanku. Namun ada begitu banyak hal yang membuatku tak pantas untukmu. Aku, terlalu banyak kekelaman yang kupunya.—Oh Sehun

.

Foreword ♣ Chapter 1—Got Noticed ♣ Chapter 2—NightmareChapter 3—Detention ♣

Chapter 4—The Kiss ♣ Chapter 5—Sinner ♣ Side Story : Secret ♣

Chapter 6—Take Care of Her ♣ Chapter 7–Adore ♣ Chapter 8–Him ♣ Chapter 9—Confession ♣ Chapter 10—Elude ♣ Chapter 11—Decision ♣ Chapter 12—Deserve ♣ Chapter 13—Jealous ♣ Chapter 14—Meet Them

            “Sehun … tolong aku, kumohon ….”

Tepat ketika Dahye usai menuntaskan kalimatnya, sambungan terputus sepihak. Sehun di tempatnya kian dikuasai panik. Tanpa pikir panjang pemuda itu segera putar balik menuju rumah Dahye. Mengabaikan peraturan lalu lintas dan menginjak pedal gas sekencang mungkin. Sepanjang perjalanan kepalanya disesaki oleh berbagai pertanyaan yang membuat hatinya semakin tak tenang. Ada apa dengan Dahye? Kenapa dia menangis? Kenapa dia kedengaran begitu takut?

Sehun tak mau mengira yang bukan-bukan, tapi otaknya justru bekerja sebaliknya. Ia mulai memikirkan kemungkinan-kemungkinan buruk yang tak pelak malah membuatnya frustasi sendiri. Sehun menggeram lantas menambah kecepatan mobilnya.

Kurang dari sepuluh menit ia telah kembali di depan kediaman Son. Jantungnya bertalu begitu cepat ketika ia bergegas turun dari mobil dan masuk ke dalam rumah. Pintu depan yang terbuka lebar membuat pikiran Sehun semakin menjalar kemana-mana.

“Dahye, kau di dalam?” Sehun berseru pada rumah yang kosong. Keningnya mengerut kala ia mendengar isak tangis dari bagian dalam. Disusunnya langkah mendekati sumber suara, dan Sehun tak tahu harus lega atau justru semakin cemas begitu menemukan Dahye duduk bersimpuh membelakanginya di suatu ruangan.

Apa yang terjadi?

“Dahye, kau baik-baik saja?” Sehun bergegas menghampiri Dahye, ikut duduk di sampingnya, dan segera tahu apa yang membuat gadis itu begitu takut.

Di sampingnya, Dahye tengah duduk sembari memeluk tubuh neneknya yang kini tak sadarkan diri. Gadis itu mengubur wajahnya di pundak sang nenek sembari menangis tersedu-sedu. Mungkin Dahye belum menyadari presensi Sehun di sana, sebab ketika Sehun menyentuh pundaknya hati-hati, gadis itu segera tersentak dan mendongakkan kepalanya.

Kedua mata Dahye melebar begitu ia menemukan Sehun duduk di sampingnya. Lega tergambar dengan jelas dalam sorot matanya. Ia membuka mulutnya, dan suaranya bergetar ketika ia berbisik, “Sehun, kau datang ….”

Sehun bisa merasakan matanya ikut memanas melihat Dahye menangis seperti ini. Ia mengangguk kecil lalu menyantuh lengan Dahye lembut. “Kau baik-baik saja?”

“Aku tidak apa-apa.” Suara Dahye kedengaran tercekat, ia mengerling sang nenek dalam pelukannya, dan buliran air mata kemballi jatuh membasahi pipinya. “Tapi tidak dengan nenek … aku tak tahu apa yang terjadi, nenek telah seperti ini ketika aku tiba. Aku … aku takut ….”

“Tenanglah, semuanya akan baik-baik saja,” ujar Sehun perlahan, menatap Dahye lurus-lurus mencoba menenangkannya. “Kita harus bawa nenek ke rumah sakit sekarang.”

Dahye mengangguk setuju. Ia membiarkan Sehun membawa neneknya ke dalam mobil, duduk bersamanya di jok belakang. Gadis itu tak henti merapalkan doa selama perjalanan, berharap semoga tak ada yang buruk terjadi pada neneknya. Dahye begitu takut, ia takut jika sampai neneknya harus pergi meninggalkannya.

Setelah kedua orang tuanya dan eonninya, Dahye tak mau ditinggalkan untuk ke sekian kalinya. Ia tak mau merasakan sepi yang mencekik itu lagi.

Tanpa sadar air matanya kembali jatuh. Dahye mengeratkan pelukannya pada neneknya.

Di belakang kemudi, Sehun mengerling Dahye lewat spion tengah. Hatinya bagai diremas oleh tangan tak kasat mata. Ia ikut terluka melihat Dahye yang kini kembali terisak sembari memeluk neneknya erat-erat. Tanpa mengatakan sepatah kata pun, Sehun melajukan mobilnya semakin kencang, membelah jalanan kota Seoul yang beruntung tak begitu padat. Hanya butuh dua puluh menit untuk sampai ke rumah sakit terdekat.

Dahye sama sekali tak bisa tenang ketika menunggu neneknya yang kini dibawa ke dalam Unit Gawat Darurat. Ia terus berjalan mondar-mandir sambil menggigiti kuku jarinya sendiri. Sorot matanya dipenuhi gelisah dan takut, sementara wajahnya nampak pucat. Melihat ini membuat Sehun ikut tak tenang. Perlahan pemuda itu bangkit dari duduknya, lantas menarik Dahye ke dalam pelukannya.

Sehun membawa kepala Dahye agar bersadar di dadanya. Ia menaruh dagunya di puncak kepala gadis itu, dan sebelah tangannya yang lain bergerak mengelus punggung Dahye perlahan.

“Jangan takut, Dahye-ya. Yakinlah semua akan baik-baik saja. Nenek pasti bertahan.” Sehun berbisik menenangkan di samping telinga Dahye.

Tubuh Dahye yang semula menegang, pelan-pelan menjadi sedikit lebih rileks dalam pelukan Sehun. Gadis itu kemudian melingkarkan kedua lengannya di sekeliling pinggang Sehun, dan mulai terisak lagi.

“Aku takut. Takut sekali, Sehun,” ujar Dahye di sela isakannya, suaranya teredam pelukan Sehun. “Aku tak tahu apa yang akan terjadi pada nenek, tapi bagaimana kalau—bagaimana kalau nenek harus pergi? Bagaimana kalau orang yang kusayang kembali meninggalkanku? Bagaimana kalau aku harus kembali sendirian seperti dulu? Aku tidak punya siapa-siapa lagi, Sehun. Nenek satu-satunya yang kumiliki. Aku sendirian jika nenek pergi ….”

Perlahan Sehun melonggarkan pelukannya. Ia kemudian menangkupkan kedua pipi Dahye, membuat gadis itu segera mendongak menatapnya. Sepasang manik memerah yang dibanjiri air mata kini tengah balas menatapnya. Sehun menarik napas berat, mencoba untuk tak ikut menangis.

“Kau keliru, Dahye-ya.” Sehun berujar sementara matanya menatap jauh ke dalam manik Dahye, membiarkan gadis itu melihat ketulusannya ketika ia meneruskan, “Kau lupa bahwa kini kau punya aku. Kau tidak akan pernah sendirian lagi karena aku akan selalu ada untukmu. Jadi jangan pernah berpikiran bahwa kau tak punya siapa-siapa, Dahye-ya. Aku ada di sisimu.”

Dahye, entah mengapa, justru semakin terisak mendengar ini. Sehun berhasil menyentuh bagian terdalam hatinya, membuatnya terenyuh dan tak sanggup menahan tangis lagi. Gadis itu memejamkan matanya, dan membiarkan Sehun kembali merengkuhnya. Hangat tubuh Sehun sanggup membuat Dahye menjadi jauh lebih tenang. Ia merasa ketakutannya perlahan memudar hanya dengan keberadaan pemuda itu di dekatnya.

Untuk beberapa saat keduanya bertahan dalam posisi tersebut. Sampai kemudan pintu Unit Gawat Darurat menggeser terbuka, membuat mereka bergegas melepaskan diri. Dahye berjalan menghampiri dokter yang berdiri dengan raut tak terbaca.

“Anda keluarga nyonya Son?” Dokter itu bertanya sembari menatap Sehun dan Dahye bergantian,

“Saya cucunya,” sahut Dahye cepat. “Bagaimana keadaan nenek? Dia baik-baik saja?”

Dokter itu tersenyum tipis sebelum menjawab. “Nyonya Son hanya kelelahan. Kelihatannya beliau telah melakukan kegiatan yang menguras banyak tenaga. Di usianya yang seperti ini, tak seharusnya nyonya Son beraktivitas terlalu berat. Beliau harus beristirahat sekitar dua sampai tiga hari hingga keadaannya benar-benar pulih kembali.”

Dahye bisa merasakan kelegaan segera membanjiri sekujur tubuhnya. Rupanya nenek baik-baik saja, rupanya hal yang paling ditakutkannya tak terjadi. Dahye tersenyum penuh syukur lantas membungkuuk pada dokter di hadapannya.

“Terima kasih, Dokter, terima kasih banyak.”

Setelahnya nenek dibawa ke dalam salah satu ruang inap. Dahye duduk di samping sang nenek yang masih tak sadarkan diri karena obat bius dari dokter. Melihat nenek seperti ini tetap saja membuat hati Dahye sesak, meski tak dipungkiri ia tak segelisah tadi. Setidaknya kini Dahye tahu keadaan neneknya tidak kritis.

Perlahan Dahye meraih tangan nenek yang terkulai lemah. Ia menautkan jemari mereka, kemudian menatap wajah renta neneknya dengan sedih. Ada sesal yang menyelinap ke dalam hatinya. Sejak kepindahannya ke rumah nenek, Dahye tak pernah bersikap sebagai cucu yang baik. Ia selalu membangun dinding kokoh yang membatasi ruangnya dengan nenek. Dahye tak mau diusik—merasa sendiri lebih baik. Namun kini, ketika kenyataan nenek hampir pergi menubruknya, Dahye tersadar ia terlalu takut untuk kembali ditinggalkan. Ia tersadar bahwa keberadaan neneknya benar-benar berharga.

“Maafkan aku, Nek.” Dahye bergumam penuh sesal sembari mencium tangan neneknya. Ia kemudian mendongak, merasakan seseorang tengah memandanginya. Ditolehkannya kepala ke samping, lantas segera bersitatap dengan Sehun yang berdiri di ambang pintu.

Sehun tersenyum begitu matanya bertemu dengan Dahye. Ia berjalan mendekati gadis itu, dan meletakan sekantung keresek yang dibawanya ke atas nakas.

“Mungkin kau lapar. Tadi aku beli roti dan air mineral,” ujar Sehun.

Dahye membalas senyuman Sehun kemudian menyahut, “Terima kasih, Sehun.”

“Tidak masalah—“

“Untuk semuanya.”

“Huh?” Sehun bergumam bingung. Ia menemukan senyuman yang terulas di bibir Dahye begitu lembut.

“Terima kasih untuk semuanya. Terima kasih karena telah menolongku, terima kasih karena telah menghiburku, terima kasih karena telah menemaniku di saat aku merasa takut dan sendirian.” Dahye berujar tulus. Lagi-lagi Sehun kembali hadir di sisinya ketika ia merasa begitu sendirian dan tak punya siapa-siapa. “Aku benar-benar berterima kasih.”

Sehun tersenyum kecil mendengar ini. Ia lantas mengusap puncak kepala Dahye dengan sayang. “Kau tahu kau tak perlu berterima kasih untuk hal-hal itu.”

Dahye kemudian mengerling jam yang melingkari pergelangan tangannya. “Sudah pukul satu pagi. Kau mau pulang, Sehun?”

“Kau juga pulang?” Sehun malah balik bertanya.

Gelengan pelan adalah jawaban yang kemudian Sehun terima. “Aku akan menemani nenek sampai siuman. Aku tidak mau nenek terbangun sendiri.”

“Kalau begitu aku akan menemanimu di sini,” sahut Sehun sembari mengangguk-angguk.

“Jangan begitu,” tukas Dahye kemudian. “Aku bisa sendiri sekarang. Kau pasti lelah mengemudi selama berjam-jam sejak sore tadi. Pulang dan istirahatlah, Sehun.”

Sehun menggeleng mencoba menolak usulan Dahye. “Tidak, aku—“

“Jangan membuatku cemas, Sehun. Aku tidak mau kau ikut jatuh sakit karena kelelahan—terlebih karena aku.” Dahye menyela perkataan Sehun dengan cepat. Suaranya kedengaran begitu halus. “Jadi pulang saja. Ya?”

Sehun bisa merasakan kedua pipinya menghangat. Ini kali pertama Dahye kelihatan benar-benar mengkhawatirkannya. Pemuda itu berdehem pelan, berusaha menyembunyikan kenyataan ia tengah merona.

“Baiklah. Aku akan pulang.” Ia berujar. Tatapannya kembali pada Dahye. “Kuharap nenek cepat siuman. Kau hati-hati di sini, ya?”

Dahye mengangguk pasti. Ia membuat gerakan mengusir dengan sebelah tangannya, namun Sehun hanya bergeming. Sebelah alis Dahye berjingkat, bertanya-tanya kenapa pemuda itu tak juga pergi. Sampai kemudian Sehun mengambil selangkah mendekat, dan membungkukkan badan untuk mendaratkan satu kecupan di kening Dahye. Jantung gadis itu serta-merta dibuat bertalu cepat. Dahye bisa merasakan sekujur tubuhnya membeku sementara Sehun bertahan dalam posisi itu untuk beberapa sekon.

Ketika akhirnya ia melepaskan diri, satu senyuman manis disuguhkannya untuk Dahye.

“Aku pergi kalau begitu,” ujar Sehun, lalu berbalik setelah melambai pada Dahye.

Sampai pintu berayun menutup dan sosok Sehun menghilang dari pandangan, Dahye masih saja terpaku di kursinya. Perlahan tangannya terangkat untuk menyentuh bagian yang tadi dikecup Sehun. Hangat bibir pemuda itu masih terasa, membuat pipi Dahye ikut menghangat pula.

Dahye tertawa kecil setelahnya. Ia menggeleng berusaha mengusir bayangan Sehun dari benaknya meski tak mungkin. Pada akhirnya gadis itu memutuskan untuk tidur saja. Ia menggeser kursinya semakin mendekati ranjang nenek, dan meletakan kepalanya di atas kasur sementara tangannya menggenggam tangan nenek. Dahye baru memejamkan matanya ketika kemudian ia teringat sesuatu.

Jongin.

Kemana saja sepupunya itu?

Lekas-lekas Dahye merogoh sakunya, mengeluarkan ponselnya dan mengetikan pesan singkat untuk pemuda itu.

            “Nenek dirawat. Datanglah kalau kau masih peduli.”

            Pagi itu Jongin terbangun dengan denyutan tak tertahan di kepalanya. Ia meringis lantas memandang kamar asing tempatnya kini terbaring. Kepalanya menoleh ke samping, hanya untuk menemukan seorang gadis tak dikenal tengah berbaring di sebelahnya hanya dengan berbalut selimut. Semula kernyitan tercipta di keningnya, sampai kemudian ia teringat apa yang membuatnya bisa berakhir di tempat ini.

Oh benar.

Park Chanyeol. Semalam temannya itu mengadakan pesta untukknya. Ia menyewa satu klub malam, dan mereka bersama sejumlah kawan menghabiskan malam di sana. Lalu Jongin bertemu gadis ini yang begitu menarik perhatiannya, dan berakhirlah mereka di hotel ini.

Jongin mengesah lalu bergerak bangun dari tidurannya. Ia berjalan menuju kamar mandi dan cepat-cepat membersihkan diri. Pemuda itu lantas meninggalkan ruangannya setelah meletakkan sejumlah uang di atas nakas untuk si gadis yang masih saja terlelap. Sambil meneguk sekaleng kopi yang dibelinya, Jongin mengecek ponselnya yang sejak semalaman kemarin ia acuhkan.

Matanya melebar begitu menemukan sebuah pesan beratasnamakan Dahye di kotak masuknya.

Jongin tahu jantungnya berhenti berdegup untuk beberapa sekon ketika ia membaca isi pesan Dahye.

Nenek. Dirawat.

Bergegas Jongin menyusun langkah menuju mobilnya, lantas melajukannya dengan kecepatan penuh menuju rumah sakit yang Dahye sebutkan. Begitu sampai, ia segera menanyai resepsionis di mana ruangan neneknya dirawat. Langkahnya berderap memecah koridor rumah sakit yang masih sepi, sementara napasnya memburu dan jantungnya berdebar begitu cepat.

Langkah Jongin sempat terhenti ketika ia menemukan sosok yang dikenalinya duduk tertidur di salah satu kursi tunggu di samping ruang rawat neneknya.

Oh Sehun.

Pemuda itu duduk sambil menyilangkan kedua tangan di depan dada, sementara kepalanya menunduk, tertidur pulas.

Untuk apa pemuda itu di sini? Mungkinkah … ia yang membawa neneknya kemari?

Jongin menggelengkan kepalanya, merasa tak penting mempertanyakan keberadaan Oh Sehun. Cepat-cepat ia meneruskan langkahnya yang sempat tertunda menuju ruangan neneknya. Ia mendorong pintu hingga terbuka, dan segera menemukan neneknya yang terbaring di atas ranjang dan Dahye yang terlelap di kursi di sampingnya.

Langkahnya terasa berat ketika ia mendekati ranjang nenek. Dahye yang mungkin mendengar derap langkah Jongin, perlahan terjaga. Semula gadis itu mengucek matanya beberapa kali, sampai kemudian tatapannya segera jatuh pada Jongin. Pemuda itu berdiri semeter di hadapannya, kelihatan tak tahu harus berbuat bagaimana.

Melihat Jongin, Dahye segera bangkit dari duduknya. Kantuknya begitu saja pergi digantikan kesal tak tertahan. Ia menatap Jongin tajam sementara keningnya berkerut dalam.

“Kemana saja kau semalaman tadi, huh?” Dahye mendesis, berusaha menjaga agar suaranya tak terlalu keras meski tak berhasil juga.

Bola mata Jongin bergerak ke sana kemari, berusaha mencari jawaban yang takkan membuat Dahye mengamuk. “Aku … aku ada sedikit urusan.”

“Urusan? Urusan, kau bilang?” tukas Dahye, suaranya kini melengking tinggi. Ia tak peduli lagi tengah berada di mana. Rasa kesalnya pada Jongin sudah tak bisa lagi ia tahan. “Kau pikir aku tidak tahu kau pergi ke klub sialan itu, huh? Semalaman tidak pulang, kemana lagi tujuanmu selain tempat menjijikan itu!”

“Dahye, aku—“

“Kubilang ‘kan aku tidak peduli kalau kau mau menghabiskan seluruh uangmu untuk perempuan jalang di klub itu, tapi cobalah untuk tidak menelantarkan nenek begini! Kalau aku tidak mengirimimu pesan, apa kau akan tahu keadaan nenek bagaimana? Tidak ‘kan?” Dahye benar-benar meledak marah sekarang, kedua mata gadis itu membeliak sementara napasnya mulai memburu. Ia sudah kehabisan kesabaran menghadapi Jongin yang sejak dulu tak pernah bisa mengubah kebiasaan buruknya.

“Dahye-ya … Jongin-ah ….”

Baik Dahye maupun Jongin tersentak mendengar suara parau tadi. Keduanya segera berbalik dan menemukan nenek yang rupanya telah siuman. Nenek berusaha untuk bangun, namun Dahye segera mencegahnya.

“Nenek, jangan banyak bergerak dulu,” ujar Dahye sembari membantu nenek kembali berbaring. “Biar kupanggil dok—“

“Jangan marah-marah pada Jongin, Dahye sayang.” Nenek tahu-tahu berujar, tangannya menggenggam tangan Dahye dengan lembut.

“Apa?”

Nenek tersenyum kecil pada Dahye, lalu beralih pada Jongin. Senyumnya kian lebar.

“Kau tidak boleh marah pada orang yang baru berulang tahun, sayang,” ujar nenek pada Dahye, lantas beralih pada Jongin. “Selamat ulang tahun, Jongin sayang.”

Dahye tentu dibuat terkejut mendengar ini. Ia menatap neneknya dengan mata melebar, lalu pada Jongin yang juga membeku. Ulang tahun, katanya? Gadis itu berusaha memutar otak, dan seketika teringat. Benar. Jongin berulang tahun di tanggal 14 Januari. Tepatnya kemarin …

Oh, astaga. Dahye melupakannya.

“Padahal nenek sudah membuat banyak makanan kesukaan Jongin kemarin. Tapi nenek malah berakhir di sini.” Nenek tertawa kecil sambil menepuk-nepuk tangan Jongin.

Jadi neneknya kelelahan sampai jatuh pingsan karena membuat makanan untuk ulang tahun Jongin.

Perlahan Dahye menoleh pada Jongin yang masih membisu. Ia merasa bersalah melupakan tanggal kelahiran sepupunya sendiri. Sesal juga menyapanya karena telah marah-marah pada Jongin tadi. Oh ya ampun, Dahye benar-benar sepupu yang buruk.

“Jongin, aku ….”

Jongin segera menoleh padanya. Alih-alih marah, sepupunya itu justru tersenyum kecil. Seolah tak masalah dengan Dahye yang melupakan ulang tahunnya. Dan ini membuat Dahye merasa semakin tak enak.

“Dahye-ya, kau tidak sekolah, hm? Sudah pukul berapa sekarang?” Nenek bertanya sembari berusaha melirik jam di dinding.

“Aku … kurasa aku tidak akan sekolah hari ini. Aku ingin menjaga Nenek,” sahut Dahye kemudian.

Nenek menggeleng mendengar ini. “Jangan, Dahye-ya. Kau pasi sudah menjaga Nenek semalaman. Kalau tidak ke sekolah, setidaknya pulang dan beristirahat saja. Nenek tidak apa-apa di sini.”

“Aku—“

“Nenek benar. Lebih baik kau pulang, Hye-ya,” tukas Jongin kemudian. “Biar aku yang menjaga Nenek sekarang.”

Semula Dahye ingin menolak, namun dengan Jongin dan nenek yang mendesaknya, ia tak bisa berbuat banyak. Maka setelah berpamitan dan memeluk nenek, Dahye memutuskan untuk pergi.

Lalu baru saja selangkah ia keluar dari ruangan neneknya, dirinya telah dibuat terkejut dengan keberadaan Sehun yang tertidur di kursi tunggu,

“Sehun? Apa yang kau lakukan di sini?”

            “Jadi kau tidak pulang semalaman?” Dahye bertanya begitu makanan pesanan mereka tiba.

Setelah dari rumah sakit, Sehun memutuskan untuk membawa Dahye ke salah satu kedai roti terdekat dan menyantap sarapan bersama cokelat hangat di sana. Mereka duduk berhadapan di salah satu meja yang nyaman. Sepagi ini, belum terlalu banyak pengunjung yang datang.

Di kursinya Sehun mengulas cengiran lebar. Pemuda itu mengigit rotinya sebelum berujar. “Aku tidak tenang membiarkanmu menunggu di rumah sakit sendirian. Jadi kuputuskan untuk tidur saja di sana.”

“Kau ini!” Dahye menukas lantas menghadiahi Sehun cubitan keras di pinggang, membuat yang dicubit segera memekik kesakitan.

“Aku ‘kan hanya khawatir,” gumam Sehun sambil mengelus bekas cubitan Dahye tadi.

“Jongin ulang tahun.” Dahye lantas berujar tiba-tiba. Gadis itu membuang tatapannya ke luar jendela besar di samping mereka.

“Huh?”

“Kemarin Jongin ulang tahun, dan aku melupakannya,” sahut Dahye, kali ini menoleh pada Sehun. Wajahnya dipenuhi raut bersalah. “Dan aku marah-marah padanya.”

Sehun tertawa kecil mendengar ini. “Kau ‘kan memang senang marah-marah pada siapa saja.”

“Menurutmu aku harus memberinya hadiah? Kejutan?” tanya Dahye, tak memedulikan komentar Sehun sebelumnya.

Sesungguhnya sebagian hati Sehun tak suka dengan ide Dahye memberi hadiah untuk Jongin, mengingat lelaki Kim itu menyimpan rasa pada Dahye melebihi untuk saudara biasa. Namun jelas tak mungkin jika Sehun mengutarakan ketidaksukaannya.

“Ya. Tentu saja kau harus memberinya hadiah,” ujar Sehun akhirnya. Pemuda itu segera menyesap cokelat hangatnya, berharap semoga kegondokannya tak begitu kentara di mata Dahye. “Omong-omong kau tidak akan sekolah hari ini?”

Dahye mengerling Sehun sejenak lalu menggedikan bahunya. “Kurasa tidak. Aku mau istirahat saja di rumah. Kau sendiri tidak akan mengajar?”

“Tentu saja! Memangnya aku bisa absen mengajar semudah kau bolos sekolah,” tukas Sehun membuat Dahye memutar matanya.

Tepat ketika itu, bel yang tergantung di pintu masuk berdenting nyaring menandakan seorang pengunjung baru saja masuk. Dahye mungkin tidak akan terlalu peduli kalau saja ia tidak menyadari seragam sekolahnya dikenakan oleh pengunjung itu. Rasa panik seketika menjalarinya begitu ia mengenali siapa si pengunjung dengan seragam sekolahnya itu.

Oh sial. Di antara begitu banyak pengunjung tempat makan ini, kenapa Dahye harus bertemu dengan Kim Taehyung!

Cepat-cepat Dahye mengubur kepalanya di lipatan tangan, berusaha menyembunyikan diri dari Taehyung yang kini berjalan menuju counter untuk memilih pesanan.

“Yah—kenapa?” Sehun di hadapannya mencolek-colek lengan Dahye, bingung dengan tingkah gadis itu.

Dahye mendesis lalu menyingkirkan tangan Sehun darinya. “Jangan berisik!”

“Ada apa memangnya?” Sehun yang masih belum mengerti terus saja bertanya.

“Ssht! Kubilang diam, Sehun!”

“Ah, bukannya itu guru Oh?”

Didengarnya suara nyaring milik seorang gadis berseru dari ujung ruangan. Dahye mengernyit lantas semakin mengubur wajahnya. Kelihatannya, Sehun mulai mengerti apa yang membuat Dahye bertingkah begitu. Karena kemudian, pemuda itu tak lagi bertanya pada Dahye.

Sudah tertangkap basah pula, Sehun menolehkan kepalanya pada sumbe suara lalu memasang senyum. “Halo.”

“Wah, memang benar guru Oh!” Gadis itu lagi-lagi berseru, masih dari ujung ruangan.

Sehun terkekeh kecil lalu menganggukan kepalanya. Dahye yang masih mengubur wajah, diam-diam mendengus mendengar kekehan Sehun. Laki-laki itu kelihatannya senang sekali, ya tebar pesona pada perempuan mana pun.

“Ah, kau pasti Kim Chaeyeon, ya?” Sehun kemudian bertanya.

Apa? Kim Chaeyeon? Kim Chaeyeon saudara kembar Kim Taehyung itu?

Serius, apa lagi yang bisa lebih buruk dari ini.

“Senangnya Saem mengenaliku!” Chayeon menukas kesenangan.

Setelah itu, Dahye mendengar derap langkah mendekatinya. Dahye pikir Chaeyeon-lah yang berjalan menuju meja mereka, mengira mungkin saja gadis itu ingin bicara lebih jauh dengan Sehun—mengingat nyaris semua murid perempuan di sekolah mereka senang sekali jika punya kesempatan dekat-dekat dengan Sehun. Sampai kemudian sebuah tangan mendorong bahunya dengan kelewat keras, membuat ia segera mengaduh kesakitan dan refleks mendongak dari posisinya sejak tadi.

Dan detik itu pula, Dahye menyesali gerakannya. Karena kemudian, ia segera bersitatap dengan Kim Taehyung yang berdiri di samping mejanya.

“A-apa yang—apa yang kau lakukan di sini?” Dahye berusaha menguasai dirinya, meski tak begitu berhasil juga.

Taehyung menyilangkan kedua lengannya di depan dada dan menatap Dahye bosan. “Rumahku di dekat sini. Setiap pagi aku selalu datang kemari untuk sarapan.”

Hah. Rupanya kesalahannya karena telah memilih tempat ini untuk makan.

“Kau sendiri, apa yang kau lakukan?” tanya Taehyung, matanya menatap Sehun dan Dahye bergantian. Tatapannya sekilas jatuh pada kaus yang dikenakan keduanya. “Kau tidak sekolah, huh?”

Dahye tahu maksud pertanyaan Taehyung sebenarnya merujuk pada pakaian yang dikenakannya dan Sehun. Mereka masih mengenakan kaus couple kemarin, karena keduanya belum sempat berganti pakaian. Sekilas Dahye mengerling Sehun yang sejak tadi memilih bungkam, seolah mencoba meminta bantuannya.

“Eh, makan, tentu saja,” jawab Dahye, kembali mengirimi Sehun sinyal SOS. Dahye tidak mengerti kenapa ia harus segugup ini menghadapi Taehyung. Seharusnya ia bisa bertingkah galak seperti biasanya. Tapi kini ia tengah terjebak dalam posisi menyudutkan, di mana Taehyung seolah menangkap basah ia dan Sehun yang sedang bersama.

Beruntung Sehun segera menangkap maksud Dahye. Pemuda itu berdehem, membuat Taehyung yang sejak tadi menatap Dahye mengintimidasi—entah karena apa.

“Kemarin malam nenek Dahye masuk rumah sakit. Dahye menemani neneknya semalaman, jadi kurasa dia harus beristirahat di rumah hari ini,” tukas Sehun cepat, yang segera diamini anggukan Dahye.

Taehyung terdiam sejenak menatap Sehun. Sebelum akhirnya ia bertanya tajam, “Memangnya Saem siapanya Dahye?”

Pertanyaan Taehyung tadi sesaat hanya menjumpai hening sebagai jawaban. Baik Sehun maupun Dahye dibuat tak mampu berkutik dengan pertanyaannya. Agak mengejutkan mendapati pertanyaan begitu secara tiba-tiba.

Sehun merupakan yang pertama kali menguasai diri. Ia mengulas senyum, lalu segera menjawab lugas, “Kau mungkin belum tahu, aku sepupu Dahye, tuan Kim.”

Taehyung menatap Sehun agak lama setelahnya. Rautnya tak terbaca, membuat Dahye mulai mengira yang bukan-bukan. Pemuda Kim ini kenapa bertingkah seaneh ini,sih?

“Oh, sepupu,” sahut Taehyung sembari mengangguk kecil, matanya lagi-lagi menatap Sehun dan Dahye bergantian dengan cara yang membuat keduanya tak nyaman. “Baiklah. Kalau begitu aku duluan.”

Tanpa mengatakan sepatah kata pun lagi, Taehyung segera berbalik badan. Ia memacu langkahnya dengan cepat menuju pintu keluar. Bahkan Chaeyeon yang sejak tadi diam menunggunya di depan counter diabaikannya begitu saja.

“Y-yak! Kimtae, mau kemana kau?” Chaeyeon berseru pada Taehyung yang kini berjalan melesat melewati pintu keluar. “Bayar dulu makanannya! Yak!”

Sementara Chaeyeon menggerundel kesal tentang ia yang harus membayar makanan Taehyung, Dahye di kursinya masih saja dibuat bingung dengan tingkah teman barunya tadi. Kenapa Taehyung kelihatan … kesal?

Memang untuk alasan apa Taehyung kesal padanya? Karena ia memilih tidak sekolah hari ini? Atau karena alasan lain?

Sebelum Dahye sempat menemukan jawabannya, gadis itu telah terlebih dulu tersadarkan. Tadi, ia baru saja menyebut Taehyung sebagai teman barunya. Teman?

Oh, astaga. Yang benar saja! Sampai kapan pun Taehyung takkan mungkin jadi temannya!

“Sudah jangan dipikirkan lagi.” Sehun tahu-tahu berujar. Ia meraih tangan Dahye di atas meja dan mengganggamnya. “Kau takut anak itu membeberkan kabar kita berdua makan bersama? Tidak perlu cemas, dia tidak akan berani melakukan itu.”

Dahye menoleh pada Sehun, lantas mengangguk seadanya.

Bagaimana pun pertanyaan-pertanyaan tadi tetap tak bisa ia usir dari benaknya. Kenapa Taehyung kelihatan begitu kesal padanya?

Tatapan Dahye jatuh pada tangan Sehun yang tengah menggenggamnya, lalu keluar jendela di mana ia bisa melihat punggung Taehyung yang berjalan di kejauhan.

Mungkinkah …?

            “Kimtae! Yak, Kim Taehyung!”

Bahkan seruan Chaeyeon dari belakang sana tak mampu menghentikan langkah Taehyung. Pemuda itu tak tahu kemana kedua kakinya membawanya pergi, ia hanya berjalan tanpa arah—mungkin mengikuti hatinya yang kini entah mengapa dikuasai perasaan aneh.

“Kau mau kemana, Kimtae? Halte busnya di sana, hei!” Chaeyeon berseru semakin heboh begitu melihat Taehyung mengambil arah berseberangan dari sekolah mereka. “Yak! Kimtae!”

Perlahan kedua tungkai Taehyung berhenti melangkah. Sebelah tangannya terangkat, untuk menyentuh dadanya di mana hatinya berada. Ia menunduk, mencoba merasakan sesuatu yang kini mendominasi di sana.

Sakit.

Begitu saja bayangan Dahye dan Sehun duduk bersama kembali menyapanya. Bersamaan dengan kejadian-kejadian lain tempo hari. Mengingat semua ini berhasil membuat hati Taehyung terasa semakin pedih.

“Yak, Kimtae, kau mau apa, sih?” Chayeon bertanya lagi, menghampiri Taehyung yang kini sepenuhnya membeku. Gadis itu lantas tersentak, ketika mendapati keadaan saudara kembarnya. “Yah—Kimtae, kau … menangis?”

Sakit.

Kenapa hatinya terasa begitu sakit? Mungkinkah karena Dahye, mungkinkah karena ia … menyukai gadis itu?

            Setelah memastikan nenek terlelap sehabis menyantap makan siangnya, Jongin memutuskan untuk menghirup udara segar di luar. Seharian ini ia menghabiskan waktunya di ruang rawat nenek, bermaksud menebus kesalahannya karena membuat nenek sampai jatuh sakit begini. Tentu saja meski tak langsung, dirinyalah penyebab neneknya masuk rumah sakit. Jika saja nenek tak membuatkannya makan malam khusus ulang tahunnya, mungkin nenek tidak akan sampai kelelahan.

Jongin menghela napas perlahan lalu membenahi letak selimut nenek. Ia lantas melangkah keluar ruangan neneknya, dan menutu pintu secara perlahan, berupaya tak menciptakan suara sekecil apa pun. Begitu berbalik, pemuda itu segera dikejutkan dengan sosok yang begitu dikenalnya duduk di kursi tunggu.

“Dahye?”

Dahye yang semula menundukan kepalanya, mendongak kala mendengar suara Jongin. Di pangkuannya terdapat sebuah kotak lumayan besar. Ia menepuk kursi di sampingnya, meminta Jongin ikut duduk di sana.

“Kenapa tidak masuk ke dalam?” tanya Jongin sembari memperhatikan Dahye yang kini sibuk membuka kotak di pangkuannya.

Sekilas Dahye mengerling Jongin. “Aku sengaja menunggumu di sini.”

Rupanya isi kotak itu merupakan kue coklat yang dihias sedemikian cantik. Dahye meletakannya di antara ia dan Jongin, lalu menancapkan berbatang-batang lilin warna-warna di permukaan kuenya. Jongin tertawa kecil melihat ini.

“Ini kue untukku?” tanyanya, lantas membantu Dahye menancapkan lilin.

“Yep. Kue ulang tahun untukmu,” tukas Dahye, lalu memasang cengiran untuk Jongin.

Jongin tertegun melihat cengiran itu. Ia masih tak terbiasa dengan Dahye yang tersenyum padanya.

Begitu selesai dengan lilinnya, Dahye mengeluarkan pemantik api dan menyalakan lilin-lilinnya. Ia lantas mengangkat kue itu ke hadapan Jongin sembari tersenyum.

“Selamat ulang tahun, Jongin. Maaf terlambat sekali mengucapkannya, tapi yah kuharap kau suka dengan kuenya,” ujar Dahye, senyum itu masih tetap menghias wajah cantiknya.

Jongin menatap Dahye lama lewat cahaya lilin yang berkilauan. Dari sini senyuman Dahye kelihatan lebih cerah dan mampu membuatnya merasa begitu hangat. Entah mengapa, kehadiran Dahye di sini terasa jauh lebih istimewa sebagai hadiah ulang tahunnya ketimbang pesta besar-besaran yang kemarin malam Chanyeol buat khusus untuknya.

Senyum Jongin perlahan mengembang. Ia kemudian meniup satu-persatu lilin hingga mati, dan kembali menatap Dahye yang rupanya masih saja tersenyum padanya.

“Selamat ulang tahun.” Dahye berujar lagi, kali ini dalam bisikan pelan.

Jongin tertawa kecil kemudian menggeleng-gelengkan kepalanya. “Aku tidak pernah sangka ulang tahunku akan dirayakan di koridor rumah sakit seperti ini. Terlambat satu hari, pula.”

Dahye ikut tertawa, malu sebenarnya. Ia lalu mulai memotong kuenya, memberi potongan pertama untuk Jongin dan potongan kedua untuk dirinya sendiri.

“Maaf,” gumamnya pelan, menatap Jongin lurus-lurus. “Maaf karena telah jadi sepupu yang buruk.”

Jongin kembali menggeleng mendengar ini. “Aku juga bukan sepupu yang baik untukmu.”

“Memang benar,” tukas Dahye sambil mengangguk-angguk, sukses membuat Jongin tergelak setelahnya. Sambil menyuap kuenya, Dahye kemudian bertanya, “Omong-omong apa harapanmu tadi?”

Jongin menelengkan kepalanya. “Aku tidak bisa memberi tahumu.”

“Eish, kenapa?” Dahye kedengaran jengkel sekarang. “Sejak dulu kau tak pernah berhenti jadi si-sok-misterius.”

Kekehan kecil lolos dari mulut Jongin. Tahu benar gadis itu merujuk pada kenangan di masa kecil mereka. Di mana dahulu Dahye pernah memaksa Jongin memberi tahu siapa perempuan yang disukainya.

Tentu saja Jongin tak bisa memberi tahu Dahye rahasia terbesarnya, juga harapan yang selama ini ia kubur di bagian terdalam hatinya—karena Jongin, selalu menaruh nama Dahye di setiap harapan terbesar dan tergelapnya. Ia seringkali berharap meski tahu tak mungkin, bahwa gadis di hadapannya ini bukanlah saudaranya.

Dahye yang asyik sendiri dengan kuenya sama sekali tak menyadari ada yang berubah dalam tatapan Jongin. Ketika akhirnya pemuda itu bergerak mendekat dan menyentuh dagunya, barulah Dahye tersentak. Disadarinya kini perlahan wajah Jongin mendekatinya, mencoba menghapus jarak yang memisahkan mereka.

            Sekali ini saja, sekali ini saja izinkan aku melupakan kenyatan bahwa dia adalah keluargaku sendiri …

…kkeut

Note♥

Haluuuuu^^ astogeh astogeh si jongin mau ngapain dahye, sadar jong, dia sodara luu ((ko jadi aku yang berisik-_-))

Ayolo mana yang kemaren bilang kangen jongin taehyung? Dua-duanya nongol sekarang ehehe, si bekyun belum ada aja sih yah, jangan tanya aku kenapa, aku juga bingung kenapa bekyun ga muncul-muncul /lah/

Gatau deh chapter ini ga aku edit dulu, jadi maafkan kalo banyak typo bergentayangan:( daan makasih buat kalian yang udah baca The Dim Hollow chapter 15 ini^^

Seeya on next chap gengs~~

…mind to leave a review?

132 responses to “The Dim Hollow Chapter 15 by Cedarpie24

  1. Taehyung nangis, baru sadar kalo dia suka sama Dahye, tapi suka aja gitu kalo Dahye, Sehun sama Taehyung ketemu haha
    Jong please Jong mau ngapain si? nanti dihajar Sehun baru tau raanya.
    eh iyaa aku juga penasaran gimana reaksi Dahye kalau tau masa lalu Sehun itu ada hubungannya sama Dahye, duh belum juga belum udah baper duluan hihi
    ditunggu ya thor next chapter nya….

  2. ternyata taehyung beneran suka sama dahye
    itu jong in mau ngapain dahye ?
    penasaran sm lanjutan critanya
    next d tunggu
    figthing^^

  3. aigooo
    eottokhe?? ap yg dlakukn jong??
    3 cwo lngsung dbkin klepk2 sma dahye
    prtma hun, sneng bgt sma hbungan mrk skrng, smg msa lalu hun gak mnjdi hlngan buat mrk b2, dan trs brsma
    trs jong, y ampun nyesek bgt cba klo dposisi dia, ska sma spupu sndri dan udh lma bgt, apkh skrng jong bkal mnunjukkn prsaanny yg sbnrny??
    trs tae, hmmm sbnerny aku ska prnny dia krna ad dia hun jdi gak rela gtu klo dahye sma orng lain, tpi ksian jga dia smpai nangis gtu gra2 cmbru -__- kykny dia jga cinta bgt sma dahye
    dtunggu next chptrny

  4. Duhilaaah jongin jongin jongin lama tak muncul sekalinya muncul ya begini :” eon sukses bgt nge buat reader nya penasaran dan menantikan chapter selanjutnya. FIX PENASARAN BGT APA YANG DILAKUKAN SAMA JONGIN SELANJUTNYA ㅠㅠ fighting eon^^

  5. kirain dahye yang kenapa-napa lah malah nenenknya dan itu ceritanya hari ketemunya dahye sama keluarga Oh itu tanggal 14 januari ulang tahun Jongin, wow.
    no no please jongin jangan lakukan sadarlah sadarlah SADARLAH alihkan hatimu pada wanita lain agar kau lebih sadar/?
    aku hampir melewatkan chapter ini. bahkan aku gak tau ini kapan updatenya maaf :3 terlalu asik dengan liburan😀
    SEMANGAT UNTUK CHAPTER SELANJUTNYA sampai bertemu juga di chapter selanjutnya author aku tunggu

  6. BARU BACA WOYYY SUMPAH SUMPAAAAH . Ternyata dahye nangis gegara nenek nya huhuhuhu kirain dia kenapa2, jongin juga nihhhh masih aja bandel huhu. Anw!!!! tuhkan taehyung beneran suka dahye hmmmm, sehun sweet banget gasih????? IYAAA SAMPE DIABETES RASANYA HUFT. Btw, jongin mau ngapain………. dont be silly pls aku gamau dia di benci dahye atau gimana hhhhhuhuhu. Semangat terus ya kak❤❤

  7. Huaaaaaa seruuuuuuu tambah ngegemesin apa lagi sehun haduhhhhhhh >< tapii denger harapan kami jadi lebih setuju kai dahye wkwkwkwk kebanyakan baca ff jongin ini tapi sayang sodaraaaa hehehehe lnjutttt yang cepet kakkk

  8. Huaaaaaa seruuuuuuu tambah ngegemesin apa lagi sehun haduhhhhhhh >< tapii denger harapan kami jadi lebih setuju kai dahye wkwkwkwk kebanyakan baca ff jongin ini tapi sayang sodaraaaa hehehehe lnjutttt yang cepet kakkk 😂😂😂😂😂

  9. Aaaaahhh.. Jongin ngapain sih ih ganggu dah. Dahye ngapa jadi banyak namja usil disekitarnya. Bikin gereget nih lama lama ceritanya kak. Udahlah gatau mau bilang apa tentang nih ff, yg jelas semua readers ff ini tau, ini ff yang sangat menarik. Thanks for update..!

  10. Heu si jongin udah di kasih kue juga malah bikin masalah/? Udah tau sepupunya duh gereget:v gak deng lebih gereget taehyung nangis tadi:v jadi ada 3 orang yg nyukain dahye sekarang? Ga sabar apa reaksi dahye pas tau masa lalunya sehun , ga sabar juga gimana nnti taehyung. Bakalan ngedeketin dahye apa enggak :v ditunggu chapter selanjutnya kaaak😁

  11. heolll.. jongin andwae.. dia sodaramu walau dulu aku suka nih kople tapi sekarangkan sehun udah comeback sama dahye jadi jongin jng ngrebut dahye dari jongin, walau sebenarnya aku masih suka sama kople jongin dan dahye

  12. Pingback: The Dim Hollow Chapter 16 by Cedarpie24 | SAY KOREAN FANFICTION·

  13. waa jongin stoop, dia mau nyium dahye kan, iya kan??
    waahh ini bukan lagi sahabat jadi cinta, tapi sepupu jadi cintaa..waduuuhhhh
    lahh itu sii taehyung sampe nangis gituu, duh dalem nii kayanya, padahal belom lama sukanya lho yaa

  14. Pingback: The Dim Hollow Side Story: Forbidden by Cedarpie24 | SAY KOREAN FANFICTION·

  15. Ih kak dev, masa baru kebaca sih part ini😦 maafkan sy reader tak becus ini. Yawla nenek oh nenek, jgn sakit atuh nek, kan kasian d ahye jd megap2 sendiri. Mungkin kecapean bikin tumpengny jongin jd sakit gt😦 gws nenek dahye :v. Aku salvok sm si nenek, jd komen kali ini aku dedikasikan buat nenek aja :v. Semangat kak dev nulisnyaa ^^

  16. Mungkin si jongin mau ngelapin sisa kue di mulutnya dahye kali kak?
    Tapi pake apa? Tangan? Atau …… Bibir ?
    Aaaaaa khayalan tingkat dewa wkwkwkw

  17. Pingback: The Dim Hollow Chapter 17 by Cedarpie24 | SAY KOREAN FANFICTION·

  18. Pingback: The Dim Hollow Chapter 18 by Cedarpie24 | SAY KOREAN FANFICTION·

  19. Pingback: The Dim Hollow Chapter 19 by Cedarpie24 | SAY KOREAN FANFICTION·

  20. Pingback: The Dim Hollow Chapter 20 by Cedarpie24 | SAY KOREAN FANFICTION·

  21. taehyungie cup cup cup sini sama aku aja sayangg #plakk
    hooo udah panik aja ngebayangin neneknya pingsan ternyata garagara ulangtahunnya jongin … jonginn ckck jadi cucu nakal terus ya kamu …
    nah loh jongin jangann ingat dia sepupumu dan dia milik sehun tidak jonginn tidakkkkkkk/?

  22. Sehun nunjukin kalo dia laki yang baik.. hahah.. rela nungguin perempuannya didalam sana yang lagi nungguin neneknya.. hehehe..
    Kalo Taehyun suka sama Daehye bakal jadi ujiannya Sehun nih, sexara dia ngenalin kalo mereka itu sepupuan..
    Itu si Jongin mau ngapain lagi?

  23. Jongin? Jongin ngapain pas sebelum ke rumah sakit ):
    sehun sweeettt bgt,ternyata dia nunggu di ruang tunggu(?)ㅋㅋㅋ jongin kamu mau ngapain ><

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s