10 Steps Closer [Prolog]

10steps-closer-chanjun-poster

 

Ziajung’s Storyline©

Casts: Park Chan Yeol | Choi Jun Hee

Genre: Romance, Comedy, Marriage Life

———————————————–

Prolog

Dua orang itu duduk berhadapan dengan sebuah meja sebagai penghalang. Si Wanita duduk di sofa panjang berwarna merah marun, sedangkan pria—satu orang lainnya—duduk di kursi kecil dengan warna senada. Pria itu menumpukan siku ke pahanya sambil menunggu wanita itu berbicara terlebih dulu. Pasalnya memang wanita itulah yang mengajaknya untuk berbicara tadi. Tapi sampai lima belas menit berlalu, tidak ada satu pun kata yang wanita itu ucapkan.

Akhirnya wanita itu berdeham, memulai pembicaraan.

“Sebelumnya, maaf karena sudah mengganggu jam istirahatmu dan mengajakmu berbicara sebentar di sini.” Kata wanita itu.

Si Pria hanya mengangguk kecil, menandakan ia tidak terlalu mempermasalahkan hal itu.

“Jadi…” Choi Jun Hee—si Wanita—berdeham sekali lagi. “Pertama-tama aku akan menjelaskan situasi kita, lalu membahas apa yang ingin kusampaikan. Bagaimana?”

“Baiklah.”

Dalam hati, Jun Hee mendecih. Pria ini badannya saja yang tinggi, tapi mulutnya sangat pelit kata.

“Seperti yang kita berdua tahu—dan benar-benar terjadi, kita sudah menikah, dan tidak ada satu pun dari kita yang menginginkan pernikahan ini. Maksudnya, bukan aku atau dirimu tidak ingin menikah, tapi… kita sama-sama belum mengenal satu sama lain, kan?”

Jun Hee sebenarnya agak tidak yakin dengan apa yang baru diucapkannya. Ia seratus persen yakin kalau Park Chan Yeol—pria tinggi, tampan, mapan, tapi baru satu minggu dikenalnya dan langsung dinikahkan—sudah mengecek segala sesuatu di hidupnya. Seperti tokoh pria kaya raya di novel-novel atau film romantis itu. Walaupun namanya perjodohan, dia pasti tidak mau kalau dia sendiri tidak mendapatkan keuntungan.

Jun Hee pun melanjutkan. “Jadi aku memikirkan sebuah jalan keluar yang sama-sama menguntungkan. Kau mau mendengarnya?”

“Apa kau mau mengatakan kalau kita harus bercerai setelah tiga bulan?”

“Tidak juga…” Jun Hee menggantung kalimatnya, lalu menggeser selembar kertas ke hadapan Chan Yeol begitu tatapan pria itu menajam ke arahnya. “Ini, kau bisa lihat sendiri.”

Chan Yeol tidak langsung mengambil kertas itu. Ia menegakkan tubuhnya, menyilangkan kaki sambil melipat tangannya di dada. Tatapan matanya tetap lurus ke arah Jun Hee. “Apa itu?”

Jun Hee ingin sekali berteriak “Kau bisa baca sendiri! Kau punya sepasang mata yang bahkan masih sangat normal, kan?!” tapi ia cukup punya otak untuk tidak melakukan itu kepada Park Chan Yeol. Seminggu berhadapan dengan pria ini, setidaknya Jun Hee sudah tahu garis besar sifat Chan Yeol.

“Surat perjan—ah, maksudku peraturan rumah.” Jun Hee yakin, kalau ia mengatakan ‘surat perjanjian’, Chan Yeol pasti akan langsung bangkit dan meninggalkannya masuk kamar kembali.

Chan Yeol mengambil selembar kertas itu dan membacanya dalam diam. Wajahnya masih datar, membuat Jun Hee harus memicingkan matanya untuk melihat reaksinya. Siapa tahu ia tidak terlalu suka dengan apa yang tertulis di sana dan tiba-tiba merobek kertas itu sampai kecil-kecil. Kalau sudah begitu, Jun Hee tidak punya pilihan lain selain menusukkan pulpen ke dada Chan Yeol dan membuat pria itu menandatangani ‘peraturan’ itu.

Melihat Chan Yeol belum mengucapkan apa-apa, Jun Hee pun berbicara lagi. “Kupikir, karena kita adalah orang-yang-tadinya-tidak-saling-mengenal-dan-langsung-menikah, peraturan tertulis harus ada. Ya… meskipun secara teknis ini adalah rumahmu.”

“Aku tahu, kau menyetujui pernikahan ini karena proyek besar dengan ayahku, juga karena kau tidak enak menolak permintaan sahabatmu, tapi aku mengerti dan tidak ingin mengekangmu. Kau bisa melanjutkan hidupmu seperti biasa dan menganggapku tidak ada. Anggap saja aku hanya menyewa salah satu kamar di rumahmu.” Kata Jun Hee sambil memainkan jarinya.

Sebenarnya pernyataan itu lebih untuk dirinya sendiri. Bagaimana ia tidak kaget, saat pulang dari tempatnya mengajar, tiba-tiba ayahnya mengenalkan seorang pria dan mengatakan kalau mereka akan menikah minggu depan. Bahkan mereka tidak memberinya waktu untuk merasakan perawatan khusus pengantin wanita selama seminggu itu, dan menyerahkan semuanya pada orang-orang profesional. Dan sekarang, satu hari setelah hari pernikahannya, masih dalam cuti menikah, Jun Hee memberanikan diri mengajak Chan Yeol bicara untuk membahas hal yang mengganjal ini. Kalau diingat-ingat, ini pertama kalinya mereka berbicara empat mata seperti ini.

Chan Yeol tiba-tiba menatap Jun Hee, membuat wanita itu kaget setengah mati dan langsung menegakkan tubuhnya. Apa jangan-jangan dia tidak suka peraturan yang Jun Hee buat?

“K-Kenapa?” tanya Jun Hee.

“Nomor tiga, aku tidak setuju.”

Jun Hee melongo beberapa saat, sebelum menyambar kertas ‘peraturan’ lainnya, yang ia siapkan untuk dirinya sendiri. “Nomor tiga…” Jun Hee membaca peraturan itu, lalu memekik. “Kenapa?!”

“Harusnya aku yang bertanya, apa maksudnya ‘dilarang menyentuh makanan yang bukan miliknya’? Pelit sekali.” Komentar Chan Yeol.

Jun Hee ingin membalas, tapi mulutnya hanya terbuka lalu mengatup lagi. Ya memang sih terdengar sedikit kejam. Tapi bagaimana kalau itu makanan kesukaan, limited edition, hanya ada setahun sekali, mahal, dan dibeli dengan uang gajinya selama sebulan?! Bukankah itu kerugian besar untuk salah satu pihak.

“Aku tidak setuju dengan nomor tiga. Sebagai gantinya, aku akan mentrasfer gajiku ke rekeningmu, jadi apa yang kaubeli akan menjadi punyaku juga. Mengerti?”

Tanpa menunggu jawaban Jun Hee, Chan Yeol mengambil pulpen yang ada di meja dan mencoret peraturan nomor tiga lalu menggantinya dengan kalimat “makanan di rumah ini adalah milik bersama dan harus berbagi”.

Jun Hee mau tidak mau menyetujuinya. Ia juga mengganti tulisan di kertasnya.

“Nomor enam.” Kata Chan Yeol. Dan sebelum Jun Hee mengucapkan apapun, ia kembali berkata. “Kita tidur di kamarku.”

Mwo?!” saking kagetnya, Jun Hee memekik dengan banmal, padahal ia selalu menggunakan jeondaemal kepada Chan Yeol.

“Kau tidak berpikir, bagaimana kalau tiba-tiba orangtua kita datang dan mengetahui kalau kita tidur di kamar terpisah? Apa kau yakin mereka tidak akan menikahkan kita untuk kedua kalinya?”

Sebenarnya lelucon Chan Yeol cukup lucu kalau saja diucapkan bukan dalam keadaan seperti ini, dan dengan nada yang sedikit… lebih bersahabat. Mana ada orang melucu dengan wajah datar begitu?

“Tapi tetap saja…” Jun Hee mencoba berdalih. “A-Aku… aku tidak bisa tidur dengan orang lain. Kau pasti akan menyesal kalau tidur bersamaku.”

“Apa kau tidak suka kasur sempit? Aku akan membeli—“

“Tidak! Bukan itu! Pokoknya tidak bisa!” Jun Hee buru-buru menambahkan. “Bagaimana kalau semua barangku ditaruh di kamarmu, tapi aku tidur di kamar lain?”

Chan Yeol tampak berpikir sejenak, sebelum mengangguk sambil berkata “baiklah”. Ia pun kembali mengganti tulisan di kertas itu, begitupun dengan Jun Hee.

“Kurasa—“

“Nomor tujuh. Apa kita ini masih SMA? Kenapa harus ada jam malam?!”

“Itu… aku tidak bisa tidur sebelum seluruh anggota keluargaku pulang ke rumah.” Jawab Jun Hee. “Karena kita berada di satu rumah, kupikir tidak ada salahnya seperti itu.”

“Kau tidak perlu menungguku.”

“Ah… baiklah…”

Chan Yeol diam sejenak untuk melihat ekspresi Jun Hee yang sepertinya tidak begitu rela. Chan Yeol pun merasa kalau ia sudah terlalu egois, dan seolah menyuruh Jun Hee menuruti kemauannya. Menutupi rasa bersalahnya, Chan Yeol pun kembali berucap.

“Aku akan mengabarimu.”

Jun Hee mengangkat pandangannya dari kertas.

“Kalau aku pulang telat, aku akan mengabarimu. Dan sebagai gantinya, kau juga harus begitu.”

Jun Hee kembali mengangguk dan bergumam “baiklah”, tapi kali ini wajahnya lebih cerah.

“Apa… ada lagi?” tanya Jun Hee hati-hati.

“Aku tidak mengerti maksud nomor delapan.”

Jun Hee segera melihat kertasnya. Tapi ternyata matanya menangkap hal lain, yang membuatnya gugup beberapa saat. Sial! Chan Yeol tidak boleh menyadari tulisan satu itu.

“Nomor delapan ya…” kata Jun Hee. “Maksudnya, kau maupun aku boleh memiliki hubungan cinta dengan orang lain. Tapi jangan sampai orang selain kau dan aku mengetahui hal itu—terutama keluarga kita.”

Kini giliran Chan Yeol yang mengangguk. Melihat itu, Jun Hee menghela nafas dan ingin segera mengakhiri pembicaraan ini sebelum pria itu sadar ada maksud tersembunyi di ‘peraturan itu’. “Jadi, kita sudah sepakat—“

“Tunggu, satu lagi. Nomor sepuluh.”

Jun Hee menahan nafasnya. Sial! Gagal sudah rencana untuk mengalihkan perhatian Chan Yeol dari peraturan terakhir yang ia buat. Ia tahu, Chan Yeol pasti tidak akan setuju. Tapi sepertinya mata pria itu lebih jeli karena sudah terbiasa melihat puluhan-kombinasi-angka-tidak-bagus di laporan keuangan.

“Kau bilang ini bukan kontrak.” Chan Yeol masih memasang wajah datarnya, tapi—demi apapun, Jun Hee bersumpah—nada bicaranya menjadi semakin dingin.

“K-Kau kan tadi bertanya setelah tiga bulan… tapi ini… lima bulan?” Sebenarnya Jun Hee ingin mengatakan sebuah pernyataan, tapi malah ia seolah sedang melakukan penawaran dengan Chan Yeol.

“Biar kutegaskan di sini, Jun Hee-ssi.” Chan Yeol meletakkan kertasnya di meja dan mengubah posisi duduknya. “Tidak ada batas waktu tiga bulan, atau lima bulan, bahkan satu tahun sekalipun. Kita tidak akan bercerai.”

Jun Hee menyipitkan matanya. “Jangan-jangan, kau menyukaiku diam-diam, ya?”

“Kalau kau ingin alasan, anggap saja begitu.”

Biarpun Chan Yeol menjawab begitu, Jun Hee sama sekali tidak tersentuh atau merasa hatinya berdebar karena ia tidak bisa melihat itu dari mata Chan Yeol. Meskipun bukan ahli cinta, tapi Jun Hee beberapa kali pernah pacaran. Jadi ia tahu persis bagaimana tatapan orang yang sedang jatuh cinta, atau paling tidak berusaha menunjukkan rasa sukanya.

Sebenarnya, pria ini orang seperti apa?

“Bagiku, menikah hanya satu kali. Walaupun ini hanya perjodohan—yang mungkin kau anggap konyol atau gila—aku tetap tidak ingin bercerai.”

“Jadi kau percaya dengan cerita macam itu? Tentang… cinta akan tumbuh jika kau terbiasa hidup dengan seseorang?”

Chan Yeol tidak langsung menjawab. Ia menatap hampa meja di depannya, lalu menjawab. “Tidak. Kita ganti nomor sepuluh; tidak ada kata percerai—“

“Chan Yeol-ssi, dengarkan aku.” Potong Jun Hee, dan berhasil membuat Chan Yeol menatapnya lagi. “Bagaimanapun, kita belum saling mengenal, dan mungkin banyak masalah yang akan kita hadapi ke depannya. Apa kita harus bertahan kalau itu menyakiti satu sama lain?”

Jun Hee ada benarnya juga, pikir Chan Yeol. Apakah mereka tetap harus bertahan kalau pernikahan ini ternyata malah menghasilkan luka? Chan Yeol tidak pernah berpikiran sampai ke sana. Ia hanya berpikir bagaimana ia bisa menjaga hatinya untuk tidak dilukai, dan ia lupa kalau pernikahan bukan hanya tentang dirinya. Ia lupa kalau mungkin saja Jun Hee yang akan terluka nanti.

Setelah beberapa saat saling berdiam dan fokus pada pikiran masing-masing, Chan Yeol pun berkata. “Kita akan bercerai jika waktu mengehendaki.”

Dan, final. Chan Yeol meletakkan kertas ‘peraturan’ yang sudah diubahnya ke atas meja bersama dengan pulpennya, lalu beranjak dari sana. Jun Hee dibuat melongo. Apa benar manusia ini adalah keturunan chaebol? Tata kramanya buruk sekali!

“Ah, Jun Hee-ssi.”

Jun Hee, yang ingin mengambil kertas milik Chan Yeol, menghentikan gerakkannya dan menoleh ke arah Chan Yeol yang sudah berdiri di sebelah rak tinggi berisi Bear Brick koleksi Chan Yeol, yang menjadi pembatas ruang tv dengan ruangan sebelahnya.

“Ketik itu dengan rapi dan tanda tangani sebelum kau meminta tanda tanganku.”

Jun Hee mendengus, dan tanpa sadar mulutnya berucap sendiri. “Tidak sekalian memanggil pengacara sebagai saksi, heh?”

“Tidak perlu. Ini masalah internal.”

Jun Hee berhasil dibuat Chan Yeol mematung karena tiba-tiba pria itu malah membalas ejekkannya—yang harusnya hanya dirinya yang tahu. Nada bicara Chan Yeol membuatnya seolah adalah sekretaris atau bawahan Chan Yeol, bukan istri atau paling tidak partner yang hidup di satu rumah. Jun Hee tidak tahu berapa lama ia bisa bertahan di bawah kutukan pria-tua-yang-ia-panggil-ayah itu. Mengapa ia tidak menjodohkan oppa-nya saja dengan noona Chan Yeol, kenapa harus dirinya yang dikorbankan?!

Tapi, sudahlah… semua sudah terlanjur terjadi. Meski Jun Hee merobek akta nikahnya lalu membakarnya sampai hangus, ia tetap menjadi istri Park Chan Yeol secara hukum dan adat. Satu-satunya cara melepas titel itu adalah bercerai. Tapi ini tidak semudah bagaimana orang-orang menceritakan di dalam novel-novel itu.

Jun Hee mendesah, lalu melihat kertas ‘peraturan’ milik Chan Yeol. Dasar sialan! Bukan hanya isi yang dikomentari pria itu, tapi juga penggunaan tanda baca bahkan penulisan pun dikoreksinya. Memangnya Jun Hee anak SD?! Ah, sial! Pria ini memang sangat menyebalkan.

Awalnya Jun Hee merasa ini akan mudah dan—mungkin—menyenangkan. Tapi setelah dikomentari Chan Yeol ini-itu, peraturan ini bagai tata-cara-agar-kau-bisa-berenkranasi-sebagai-putri-kerajaan-Inggris. Begitu berat.

“Baiklah, Choi Jun Hee. Ini hanya sepuluh peraturan, tidak sulit.”

Ya, semoga.

***

***

10 Peraturan Demi Kenyamanan dan Ketentraman Park Chan Yeol dan Choi Jun Hee

 

  1. Menjaga kebersihan dan ketertiban rumah. Bersihkan kembali kamar mandi, ruang tv, ruang tamu, dan tempat-tempat tidak terduga setelah menggunakannya.
  2. Tidak saling mencampuri urusan pribadi masing-masing.
  3. Makanan di rumah ini adalah milik bersama dan harus berbagi. *ps Park Chan Yeol akan mengirimkan seluruh gajinya ke rekening Choi Jun Hee sebagai gantinya
  4. Pernikahan ini hanya diketahui oleh kerabat dan orang terdekat. Dengan kata lain, RA-HA-SI-A
  5. Harus terlihat seperti ‘pasangan mesra dan serasi’ di hadapan orangtua.
  6. Choi Jun Hee hanya diizinkan menggunakan kamar lain untuk tidur. Barang-barang dan pakaian Choi Jun Hee berada di kamar Park Chan Yeol.
  7. Batas jam malam; pukul 11 malam. Jika pulang telat harus mengabari orang rumah.
  8. Dilarang ketahuan selingkuh. *ps diizinkan memiliki hubungan dengan orang lain
  9. Tidak boleh membawa orang lain—terutama lawan jenis—ke rumah. Dalam alasan apapun!
  10. Akan bercerai jika waktu mengehendaki.

———————————————————-

*jengjengjenggg

 

Memperingati comeback-nya Juniel tanggal 6 nanti, akhirnya rilislah ff baru ini wkwkwk. Dan… ganti pairing nih ceritanya, mau pake JunChan (karena ternyata lebih banyak shipper JunChan daripada JunKai di luar sana. Juga karena sudah tidak memungkinkan menggunakan JunKai dengan hati seperti ini—azek)

Semoga chapter 1 dan chapter selanjutnya bisa selesai dengan cepat yaaa… dan karena ini liburan, aku akan berusaha yeaay

 

Regards: Ziajung (vanillajune.wordpress.com)

94 responses to “10 Steps Closer [Prolog]

  1. Wahh…, dari prolog aja comedy-nya udah kelihatan. Jadi penasaran sama chap selanjutnya. Semoga kisah cinta mereka nggak se-rumit pikiranku(?). >_< keep writing!🙂

  2. aku baru mulai baca ff ini haha, baru baca prolog tapi udah tertarik sama ceritanya..
    jangan bilang kalo ternyata Chanyeol dari awal udah suka sama Jun Hee??
    aku lanjut baca next chapternya dulu ya ^^

  3. Waaah aku telat bgt baru baca sekarang. Ini yang harusnya udah sampe konflik aku malah br baca dari jaman bikin peraturan wqwqwq. Mustread dah ini kalo cuma sampe 10th step bakalan lebar bgtt. Fightinggg!!

  4. Ih hallo aku reader baru dsni btw hehe, keliatannya seru deh. Aku baru baca prolog aja udah penasaran. Semangat terus ya!

  5. Halo. Aku reader baru nih. Selama ini belum pernah baca ff Ziajung-author. Ini ff pertama dari author yang aku baca. Selama ini, setiap buka SKF, “10 Steps Closer” selalu masuk top post dan karna penasaran akhirnya hari ini aku memutuskan untuk mulai baca.

    Prolog-nya seru. Penulisannya juga rapi. Suka ^^

    Banyak scene lucu di prolog, favorit aku yang ini 》“Harusnya aku yang bertanya, apa maksudnya ‘dilarang menyentuh makanan yang bukan miliknya’? Pelit sekali.” Komentar Chan Yeol. Wkwk asli ngakak bacanya. Dengan prolog yang seru kaya gini, aku bisa jamin first chapter-nya pasti bakal makin seru.

    Sekian dulu cuap-cuapnya. Mau goes baca chapter 1 nih. Udah banyak ketinggalan soalnya.

    Salam kenal ya Ziajung-author. Oiya, kalo mau kenalan sama author lewat mana ya? Btw, Keep writing ^^ Terus berkarya ya ^^

    • Haluuuuwww hehehe makasih ya udah sempetin baca ff absurd ini xD
      bisa ke blog aku di vanillajune.wordpress.com , di sana aku taro sosmed yang bisa dijadikan media untuk pendekatan (?) haha

  6. hai hai hai…
    oo… maapkeun ane baru sempat komen dan.. eng ing eng.. *paansih
    ini prolognya lumayan panjang ya.. tapi kusuka hohow
    ini komedi romantis ya.. kikikik…
    yo.. mau lanjut komen selanjutnya

  7. asikkk!! dapet ff baru yg bisa aku baca yeyey… walau sbenernya ak kurang suka ff yg yeojanya bukan oc tp gk papa hehe. aku suka jalan ceritanya … aku paling suka perjodohan hehehe.. Keep writing and hwaiting thor!!~

  8. Aloha~
    hai Ziajung… zia? panggil apa enaknya? wkwkwkwk
    oke kembali ke ff
    marriage life atau ff dengan tema arranged marriage itu emang gak pernah ada matinya hahahaha, aku suka banget sama karakter chanyeol sama junhee disini, junheenya kesannya polos dan chanyeolnya… ngelucu muka datar itu asli bkin ngakak jadi inget cak lontong #plakk
    perjanjian pernikahannya juga lucu pas lagi kompromi, dan yang dibahas duluan masalah makanan dong huahahahahaha, chanyeol suka ngelucu emang
    ini telat banget aku bacanya… hihi maapkan, saking banyaknya ff chanyeol disini jadi picky deh mw bacanya~

    • haluuwww
      iya panggil zia gapapa kok ^^ panggil istrinya yonghwa juga gapapa hahahaha #abaikan

      itu itu!! cak lontong astagaaa… gak tau ya, awalnya mau pake jongin tapi masih kit ati, jadi pindah aja ah ke abang abs seksih ><

  9. Anyeong author-nim. Salam kenal. Aku baru nemu ini story dan terarik langsung baca. Setelah baca bagian prolognya aja, udah berasa dibawa ke khayalan marriage life with my beloved chanyeol. So, ijinkan saya untuk berdelusi diini story di chapter-chapter selanjutnya. Author-nim fighting! 😍😍😍

  10. hallo kak ziajung^^ wahh aku udah direkomen sama tmen baca ini udah lama dan baru keburu baca hehe dan ternyata ceritanya aku suka :p
    comedy nya di prolog udah terlihat dan bagaimana di chap selanjutnya? ahh izin baca ya kak🙂

  11. hai aku pembaca baru
    ijin mengikuti kisah junchan ya hehe
    prolognya udah menarik nih apalagi yeolnya punya sifat dingin2 gitu

  12. Hi authorrr aku baru nemu nihhh ff nyaaa sebekum aku baca aku mau ijin dulu.
    aku ijin baca ff nya yaa thor thank you

  13. Ommo.. ku kira jun hee akan tidur ama chanyeol.. hihihi. Melenceng rupanya.

    Wahh.. prolognya aja udah seru bgt, apalagi next partnya.. teruskan kerja bagusmuu..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s