[FREELANCE] PERFECTIONIS CHAPTER 7

tumblr_nz7wj7CS591r2adv1o1_1280

Author :

Jung Ji Hyoen

 

Main Cast :

  • Kim Rei Na / Lusia Kim
  • Oh Sehun
  • Xi Luhan
  • Lee Mi Na or Ny. Kim (Rei oemma)
  • Kim Jin Pyo / Hans Kim or Tn. Kim (Rei Appa)
  • And other support cast

 

Genre : romance, complicated, family, marriage life (Little)

 

Ranting : 17+

 

Disclaimer : This fanfic is totally mine. Sehun and Luhan belong on his agency. Don’t be plagiator, don’t bashing. Ready? Let’s read. CHUU ~

 

Chapter : 1 || 2 || 3 || 4 || 5 || 6 || 7…

Perfectionis

 

Author POV

Kediaman mewah dengan polesan warna pastel membuat siapa saja akan merasa nyawan hanya dengan melihat tembok tersebut, di tambah dengan taman luas yang memiliki koleksi tanaman mahal dengan bunga – bunga yang mendominan.

Wanita itu disitu. Duduk di tepi kolam dekat taman dengan bikini two pieces.

Wanita dengan rambut hitam kelam dan tubuh indah menggodanya.

Dengan melihatnya hanya duduk di pinggir kolam, sepertinya wanita itu hanya ingin bersantai tanpa berminat untuk benar – benar berenang.

Terdengar suara langkah kaki panjang menyusul wanita itu di tepi kolam dengan kemeja kerah sanghai dan jas navynya.

Setelah mendekat pria itu membungkuk hormat pada sang wanita.

“Kau sudah mencari tau, gadis Kim itu?”

“Tentu Nyonya Lee.” Pria itu kemudian memberikan amplop silver dengan beberapa lembar kertas dan foto.

“Namanya Kim Rei Na. Keturunan Korea – Inggris. Nama Inggrisnya, Lusia Kim. Tinggi 168cm, berat 45kg. Lahir di Korea, 5 Mei 1995. Putri tunggal dari Kim Jin Pyo Ceo dari Sekang Groub. Lulus dengan nilai mendekati sempurna di Seoul National University jurusan Business Management dengan waktu 3 tahun. Sekolah menengah pertama ditempuh 2 tahun begitu juga sekolah menengah atas 2 tahun. Pernah memenangkan penghargaan menjadi duta yang mewakili menteri social menanggulangi kemiskinan dan gelandangan di Korea selatan tahun 2013 memenangkan olimpiade matematika 2 tahun berturut turut. Ah, ya dia sudah menerima 5 penghargaan tentang fashion dan kewirausahaan dalam 1 tahun terakhir ini.”

Wanita itu mendengar dengan cermat setiap kata yang diucapkan pria berjas navy tersebut dengan melihat lagi lembaran yang ada di tangannya. Beserta foto – foto dari Rei selama beberapa tahun terakhir.

“Jadi karena itu dia mendirikan sebuah perusahaan dengan usia yang sangat muda.” Wanita itu kemudian melihat dengan cermat berbagai foto Rei di dalam map tersebut.

“Dia cukup menarik. Harusnya dia bisa memenangkan kontes kecantikan. Bahkan miss Korea sekalipun.”

“Kim Rei Na tidak suka dengan hal – hal yang berbau intertaimen, dia benci paparazzi dan dia benci jika kehidupan pribadinya di ekspose dunia luar. Sejauh ini artikel yang bermunculan hanya membicarakan tentang penghargaannya tentang dunia fashion atau rancangan busananya setiap musim yang selalu menjadi tren satu tahun terakhir ini”

Wanita itu sedikit kesal dengan setiap penjelasan yang diucapkan oleh tangan kanannya. Jika dibandingkan dengan Rei dia bukan apa – apa. Meraih kesuksesan diusia muda memang sangat mengesankan bagi siapapun termasuk wanita dua puluh lima tahun itu.

“Mengesankan sekali hidupnya.” Wanita berambut hitam itu tersenyum meremeh. “lalu apa hubungannya dengan Sehun?”

“Rei dan Sehun adalah teman masa kecil.”

Wanita itu sedikit tercengang. “Kau yakin? Aku melihatnya sendiri mereka bertengkar di butik.”

“Rei pernah mengalami kecelakaan saat tahun pertama di universitas dan itu membuatnya mengalami amnesia.”

“Wow dia bahkan tak bisa mengingat kembali Sehun, amnesia ini cukup parah.” Wanita tersenyum miring sambil melihat lagi foto Rei.

“Tapi anehnya sampai saat ini Sehun tidak juga memberitahu yang sebenarnya, ataukah memang dia berusaha menyembuhkan amnesia Rei secara perlahan.”

“Tentu saja, tak bisa mengenang masa kecil itu menyakitkan. Pasti seorang dokter tahu dengan apa yang sedang dia perbuat.”

“Dan satu lagi, dia terlihat begitu dekat dengan sekertarisnya. Xi Luhan. Bahkan sejauh ini Rei tidak cukup memiliki teman.”

Wanita itu kemudian melempar asal berkas yang ada di tangannya dan menyandarkan kepalanya pada kursi malas. “Baiklah, kau bisa pergi.”

“Baik, Ny. Jun He”

 

Rei POV

Aku menutup pintu kamarku rapat – rapat. Sehun begitu memuakkan, bagaimana bisa dia menyelidiki latar belakangku? Ingin sekali rasanya segera kembali ke Seoul.

Aku benar – benar merasa tak nyaman disini. Tersudutkan. Ya, itu yang kurasakan saat ini. Bagaimana juga pria itu mampu mengorek informasi itu dariku. Bahkan ayah dan ibuku belum tahu tentang OCD yang ku derita.

Apakah aku salah berurusan dengan orang, aku rasa Oh Sehun bukanlah orang yang tepat. Dia begitu mengerikan. Diamnya menyimpan berjuta rahasia. Bagaimana seharusnya aku menyikapinya?

 

Aku mulai terduduk lesu di lantai, tubuhku melorot. Kakiku begitu lemas, tak mampu lagi menyangga beban tubuhku. Lama – kelamaan kepalaku mulai pusing dan nafasku tak beraturan.

 

Aku tidak membawa obat – obatanku. Ya Tuhan, bantulah aku. Haruskah aku hanya pergi begitu saja? apa aku harus memberitahukannya pada Sehun? ah! Kurasa itu tidak benar.

 

Tok tok tok!

 

“Hya! Kim Rei Na, buka pintunya!” Terdengar suara Sehun dengan nada tinggi dari balik pintu bermotif kayu klasik itu.

 

“Pergi!”

 

“Rei! ada apa dengan suaramu, kau kenapa di dalam sana? Ku mohon buka pintunya!” aku masih betah menahan nafas ini agar Sehun segera pergi. Dia membuatku semakin panik.

 

“Aku akan mendobrak pintunya jika kau tak segera membukanya!”

 

Aku sedikit shock ketika mendengar teriakan terakhirnya. Dan benar saja, pintu kamar ini lalu bergetar dan mengeluarkan suara dentuman keras.

 

Aku benci saat – saat seperti ini, dan sialnya kepalaku semakin pening di buatnya.

 

Beberapa saat kemudian suara dentuman keras pintu berganti suara click kunci pintu berwarna coklat klasik itu.

 

Dunia seperti menjungkir balikanku. Kepalaku begitu pening dan tanpa sadar diriku ambruk dan penglihatanku mengabur. Aku tak bisa merasakan apa – apa lagi selain tangan besar Sehun yang sedang menangkup wajahku dan dia berkata ‘Rei’

 

***

 

Author POV

 

Malam itu di maanfaat kedua belah keluarga untuk mengadakan pertemuan di Mansion milik keluarga Oh. Tempatnya sedikit terpencil dan terdapat di pinggiran kota, tapi itu membuat Mansion milik keluarga Oh itu begitu terlihat begitu mewah dengan berbagai fasilitas asri yang tersedia di alam terbuka. Keluarga Oh memang tipikal orang klasik. Apapun yang mereka miliki selalu membuat iri orang lain.

 

“Jadi Sehun dan Lusia pergi ke Villa Sehun? kenapa tiba – tiba?” Tanya Ny. Kim ketika makan malam mewah itu berlangsung.

 

“Mungkinkah mereka mencoba untuk berbaikan? Sejak kapan mereka jadi tidak akur begitu?” Ny. Oh ikut mengutarakan rasa penasarannya.

 

“Sehun memang sedikit buruk dalam hal kepribadian, akan lebih buruk ketika terjadi sesuatu di perusahaan.” Ny. Oh seketika menatap tajam Tn. Oh yang sedang mengutarakan keburukan anaknya sendiri di depan calon mertua anak mereka. Takut – takut jika setelah mereka tau sifat buruk Sehun akan membatalkan perjodohan ini.

 

“Hahahaaa, tenang saja. Kami bisa memakluminya, mana ada anak muda jaman sekarang yang tidak memiliki masalah kepribadian. Lagi pula putri kami juga pasti memiliki kekurangan. Maka biarlah perjodohan ini menjadi pelengkap dari dua insan ini.” Ucapan Tuan Kim membuat keluarga Oh itu menghembuskan nafas lega.

 

“Berbicaralah dengan nyaman, sebentar lagi kita akan jadi keluarga.” Ucap Ny. Kim lembut menenangkan.

 

“Tentu saja, kita harus lebih akrab lagi. Apakah kau suka makan malam disini? Maaf membuat kalian datang jauh – jauh ke sini.”

 

“Tentu saja kami suka Ny. Oh, suasana disini sangat nyaman. Bagaimana kalian bisa mendapatkan tempat seperti ini?”

 

Dan percakapan antar dua keluarga itu terus berlanjut hingga malam semakin larut. Kedua keluarga sudah mulai mengakrabkan diri. Bagaimana dengan sang calon pengantin?

 

***

 

Sehun POV

 

Aku hampir gila di buatnya, pernikahan dua hari lagi dan aku membuat penyakitnya kambuh. Dasar bodoh! Kau memang bodoh Sehun!!

 

Aku tidak bisa duduk tenang di ruang tunggu, benar – benar sial!

 

“Oh Sehun-ssi!”

 

“Ne, bagaimana istriku?”

 

“Silahkan ikut saya.” Perawat itu menuntunku ke ruang praktek Doktor dengan marga Park itu. Lalu aku memasuki ruang serba putih.

 

“Silahkan duduk Tn. Oh.” Dokter paruh baya itu begitu ramah memintaku untuk duduk dihadapannya.

 

“Bagaimana istri saya dok?”

 

“Apakah anda tau apa yang di derita istri anda?”

 

“Bukankah dia menderita OCD (Obsesif compulsive disorder)?”

 

“Ya, anda benar Tn. Oh, saya rasa OCD.nya semakin parah. Apakah istri anda bekerja?”

 

“Ne usainim. Apakah itu juga berpengaruh?”

 

“Tentu saja tuan, untuk saat ini biarkan istri anda istirahat dan jangan membuat istri anda terbebani ataupun stress. Pada tahap ini, istri anda sangat mudah gugup dan itu membuat OCDnya semakin parah. Selain itu anda harus benar – benar memantaunya dan paham apa – apa saja yang membuat istri anda mengalami gangguan mental ini. OCD harus segera di sembuhkan, jika tidak itu akan menyakiti istri anda.”

 

“Apakah membuatnya senang dan membuatnya tidak khawatir sudah cukup?”

 

“Ne, saya rasa itu cukup. Dan tolong lanjutkan pemeriksaan ke spesialis karena saya hanya mampu membantu sampai disini saja.”

 

“Tentu saja, Terima kasih uisanim.” Aku menjabat tangan Park uisanim dan berlalu meninggalkanya.

 

“Oh Ya, Sehun-ssi. Istri anda bisa pulang malam ini.” aku hanya mampu tersenyum menanggapinya. Dan akhirnya aku benar – benar berlalu dari ruangan itu dan menuju ruangan Rei.

 

Menggeser pintunya dan duduk di sebelah tempat tidurnya. Tanganku terulur untuk menggenggam tangan rapuhnya. Aku merasa begitu bersalah melihatnya seperti ini. Dia pasti shock karena aku mengetahui penyakitnya.

 

Aku melihat tubuh rapuhnya yang begitu mungil berbaring di atas tempat tidur. Ingin sekali merengkuhnya dalam dekapanku, tapi aku takut menyakiti tubuh rapuhnya. Bagaimana Seharusnya aku?

 

Aku akan membantumu Rei. Sungguh itu sudah tekatku, bunuh saja aku jika aku tidak bisa melindungimu.

 

***

Author POV

 

Keesokan harinya, Rei dan Sehun kembali ke Seoul. Mereka perlu melihat apakah semua persiapan telah berada pada tempatnya tanpa kurang satu apapun.

 

Rei terlihat begitu lelah dan bosan. Ya, Rei bosan. Tapi dia tak bisa berbuat apa – apa. Ingin bicarapun malas karena dia sedang kesal dengan Sehun. Entahlah, tak ada satu hal pun yang membuat Rei menyukai Sehun.

 

“Sebegitu bencikah kau padaku?” Rei tetap saja diam, membisu sambil menatap keluar jendela.

 

“Aku tak akan memberitahukan kepada siapapun…” ujar Sehun kemudian karena merasa Rei tak akan menjawab. “tapi dengan syarat,” lanjut Sehun.

 

Rei mendengarkan sambil tetap menatap keluar jendela “kau berani mengancamku sekarang?”

 

Sehun melihat perubahan ekspres Rei dari ekor matanya sambil tersenyum miring.

 

“Kau harus mengikuti pengobatan untuk OCD mu.”

 

Rei langsung memutar kepalanya dan menatap Sehun tak percaya. “Sejak kapan kau bebas mencampuri urusan pribadiku, ha!” Ucap Rei sedikit berteriak dengan mata tajamnya.

 

Sedangkan Sehun hanya balas senyum meremeh sambil matanya tetap fokus ke depan. “Kau tidak dalam posisi bisa memilih. Kau belum tahu berurusan dengan siapa Lusia-ssi.”

 

“Ah, satu lagi.”

 

“Ini bukan permintaan, ini perintah.”

 

Seketika jatung Rei berdetak lebih kencang dari biasanya. Ada sisi dimana Rei takut melihat Sehun begitu mengerikan dengan senyum miringnya. Lebih mengerikan daripada Sehun yang ingin menyentuhnya waktu itu.

 

Rei begitu penasaran dengan Sehun dan seperti de javu dia seperti mengingat kata – kata itu jauh sebelum hari ini.

 

Kepala Rei begitu sakit ketika dia mencoba untuk mengingatnya. Tapi akhirnya Rei menyerah untuk mencoba mengingatnya, karena seberapapun dia mencobanya dokter selalu mengatakan bahwa hal itu hanya akan menyakiti Rei.

 

Dan akhirnya mereka kembali melanjutkan perjalanan ke Seoul tanpa sepatah katapun terucap oleh keduanya. Bayangkan bagaimana kaku dan dinginnya suasana itu.

 

***

 

“Abeojji, eomma?” Sehun sedikit tertegun ketika menemukan kedua orang tuanya yang pagi – pagi sekali sudah berada di halaman belakang rumah Rei.

 

Tak hanya Sehun, Rei pun juga terlihat terkejut dengan kedatangan mertuanya secara mendadak.

Sebenarnya ini bukanlah mendadak dan bukan hal yang luar biasa karena sebenarnya mereka akan menjadi keluarga, tapi menurut Rei dan Sehun ini bukanlah hal biasa. Yah, seperti yang semua orang tahu bahwa keduanya cukup berpotensi membuat seluruh ruangan menjadi dingin hanya dengan mereka berdua berada didalamnya.

 

“Annyeonghasseyo abbeonim, eommonim.” Rei membungkuk hormat pada tetua yang sedang menikmati sarapan mereka.

 

“Oh, kau sudah pulang sayang. Bagaimana vila Sehun? ini pertama kalinya Sehun membawa seseorang ke vilanya selain sekertarisnya.” Ny. Oh tersenyum menang.

 

Sehun yang mendengar hal itu menatap ibunya tajam dan hanya di tanggapi dengan senyum miring ibunya.

Berbeda dengan Rei, dia malah tersenyum kikuk saat Ny. Oh berkata demikian.

 

“Baiklah, kalian segeralah ke atas dan berganti pakaian. Mari sarapan bersama.” Ucap Tn. Kim pada keduanya, yang hanya dibalas dengan menundukan kepala dari keduanya tanda hormat.

 

***

 

Sehun turun lebih awal dengan sweater biru muda dan celana putih milik Tuan Kim. Tentu saja Sehun tidak mebawa baju, karena yang Sehun tahu dia hanya harus menghantar Rei kerumah dan menyapa Tuan dan Nyonya Kim. Tak disangka orang tuanya juga ada disana.

 

“Wah, apakah ini karena kau yang memakainya Sehun. Kenapa bajunya terlihat bagus sekali.” Canda Tuan Kim.

 

“Anyo abeonim, anda hanya melebih – lebihkan.” Ujar Sehun sambil menarik kursi kosong di depan para Tetua.

 

“Apakah Sehun selalu setampan ini, beruntung sekali Rei bisa menjadi calon istri Seorang Oh Sehun.” ujar Ny. Kim memuji

 

“Seharusnya aku yang berterima kasih pada anda, karena merelakan putri berbakat anda menjadi istri saya.” Sehun mencoba merespon yang membuat Tn. dan Ny. Oh tersenyum senang.

 

Inilah yang di harapkan semua orang, keluarga kecil yang harmonis. Seandainya, jika saja Rei dan Sehun tidak sedingin ini.

 

Kemudian Rei menyusul turun dengan menggunakan dress rumah berwarna biru muda, senada dengan baju Sehun.

 

“Min Ah, bagaimana kau bisa melahirkan putri secantik Lusia? Kau dulu suka makan apa waktu hamil Lusia.” Ujar Ny. Oh pada Ny. Kim

 

“Saya tidak secantik itu eommonim” Rei mencoba merendah.

 

“Cantik darimana, lihatlah badan kurusnya” Ny. Kim menyela.

 

“Apa kau melakukan perawatan atau semacanya Lusia.”

 

“Perawatan darimana, dari kecil yang dia tahu hanya belajar dan belajar. Selalu saja membawa buku kemanapun dia pergi.” Ny. Kim kembali menyela.

 

“Benarkah? Bukankah itu lebih bagus, wanita juga harus pandai. Karena kelak anaknya akan meniru gen dari ibunya.” Ny. Oh kembali tersenyum.

 

“Eomma, eommonim. Bukankah sebaiknya anakku mewarisi genku. Jika aku mempunya anak seperti Lusia tak terbayangkan bagaimana aku harus meladeni dua orang pemarah dirumah.”

 

“Hya!” Rei tanpa sengaja berteriak dan hanya di balas senyum miring dari Sehun.

 

Para tetua hanya tertawa geli melihatnya. Bukankah mereka terlihat serasi bersama? Oh, tunggu saja ketika mereka sudah menikah.

 

“Kenapa kau selalu menggoda Lusia.”

 

“Karena sangat menyenangkan menggodanya, sejak dia masih sangat kecil.” Ucap Sehun sambil menatap mata hazel milik Rei dalam – dalam.

 

Rei yang tak mengerti ucapan Sehun lalu mengalihkan tatapanya pada piring di depannya yang masih kosong. Dan mengambil nasi di depannya.

Sedangkan Sehun masih setiap menatap Rei dengan senyum mengembang.

 

“eommeonim, katakan pada Sehun oppa jangan menatapku seperti itu. Dia akan membuat lubang padaku.”

 

“Lihatlah eomma, dia sangat lucu. Wah, aku jadi semakin bersemangat.”

 

Kedua keluarga itu kemudian tertawa terbahak – bahak mendengar guyonan mereka berdua, dalam hati berharap suasana seperti ini akan terus ada dan terjalin. Sedangkan Rei hanya melotot tak suka pada Sehun dengan mulut penuh nasi.

 

“Jadi, besok adalah harinya. Harusnya kalian tidak boleh bertemu seperti ini. Semuanya jadi gagal karena kau membawa kabur Lusia, Sehun.”

 

“Tenang saja eomma, bertemu ataupun tidak aku tak akan kaget denganya di hari pernikahan.”

 

Semua mata menatap Sehun tak mengerti. Termasuk Rei, dia menatap Sehun dengan mata hazelnya. Tanpa disangka ketika semua mata menatapnya, Sehun balas menatap Rei “Karena dia selalu secantik ini” ujarnya dengan saling memandang di depan orang tua mereka.

 

Rei masih tetap menatap Sehun, dia merasakan ada yang aneh pada dirinya. Dia merasa pernah mendengar kata – kata itu. Tapi kapan, dimana dan siapa yang pernah mengucapkannya. Dia tak bisa mengingat apapun. Tatapan itu cukup lama, hingga Tuan Oh berdeham cukup keras untuk menyadarkan keduanya.

 

“Kurasa kalian bisa melanjutkannya nanti Sehun, sekarang mari kita sarapan.”

 

Rei dibuat tersipu olehnya, Rei bertanya – tanya. Kenapa kata – kata picisan itu bisa membuatnya malu dan juga berdebar – debar. Perasaan ini tak asing baginnya, tapi dia masih saja tak mengingat apapun.

 

***

“Oppa!” Suara lembut nan nyaring itu menyadarkan Luhan dari lamunannya di meja cafetarian Rei Lu Industry.

 

“Herin-ah, ada apa?” jawab Luhan seadanya. Gadis itu menarik kursi di depan Luhan lalu duduk berhadapan.

 

“Kau terlihat murung akhir – akhir ini.”

 

“Siapa? Aku? Hahaa.” Hanya tawa hambar yang keluar dari mulut Luhan.

 

“Oppa.” Luhan kemabali memfokuskan dirinya pada makanan di depannya. “Jadi rumor itu benar, kau dan sajangnim.” Luhan hanya diam menanggapi ucapan dari He Rin yang merupakan bawahannya sebagai staff manager Rei Lu Industry.

 

“Kau bicara apa?”

 

“Jujur saja, kalian terlihat cocok bersama. Dengan segala tingkah konyol kalian ketika bersama. Tapi itu tidak benar kan, bahwa kalian memiliki hubungan seperti itu?”

 

“Hahaa” Luhan kembali tertawa hambar. “Apa gunanya terlihat cocok jika kita memang tak seharusnya bersama.” Ucapan menyayat hati itu tanpa disangka keluar dari mulut Xi Luhan. Seseorang yang mungkin menjadi pemuja rahasia Rei.

 

“Oppa…”

 

***

 

Hans Kim’s Mansion 02.16 pm

 

Setelah sarapan pagi tadi keluarga Oh langsung bergegas pulang karena ingin mempersiapkan secara matang pernikahan esok harinya. Begitu juga Sehun, yang dengan manisnya mengucapkan salam perpisahan dengan mengecup telapak tangan Rei di depan semua orang.

Hal itu membuat Rei sedikit risih dengan sikap sok manis yang di lakukan Sehun padanya.

Tapi anehnya rasa panik bercampur sedikit kikuk itu terasa sangat familiar pada dirinya.

 

Siang itu keluarga Kim berada di ruang tengah mansion, tembok coklat muda di padukan dengan berbagai perabotan kayu dan juga sofa empuk berwarna cream. Disanalah Rei dengan anggun duduk di depan orang tua nya mengenakan gaun panjang tanpa lengan berwarna peach dengan kerah mini mouse, membuatnya terlihat anggun dan lucu di saat bersamaan.

 

“Lusia.” Panggil Ny. Kim yang hanya di jawab Rei dengan senyum simpul.

 

“Kau masih terlihat tidak suka dengan pernikahan ini?” Ny. Kim tampak mendesah pelan melihan Rei yang semakin pendiam. Sedangkan Tn. Kim masih terlihat sibuk menyesap kopi dan membaca majalah bisnis.

 

“Tidak ibu, aku menyukainya. Mungkin memang ini keputusan terbaik untuk hidupku. Hanya saja, aku masih merasa bisa meraih kesuksesan tanpa harus menikah terlebih dahulu bu.” Rei tampak memainkan jari – jari lentiknya.

 

“Lusia, kami merasa bersalah karena kau tak mendapatkan masa kecilmu. Tapi dengan melihatmu bekerja dan bekerja terus seperti ini membuat kami semakin merasa bersalah. Kau harus tahu bila kau masih muda, jalanmu memang masih panjang dan juga kau masih bisa menikmati masa mudamu setelah menikah, hanya saja kami merasa kau membutuhkan seseorang yang akan memberitahumu kapan harus berhenti dan harus istirahat. Kau terlalu terpaku pada ke sempurnaan hidupmu sayang. Yang perlu kau tahu tidak ada manusia yang sempurna.”

 

Rei tertegun mendengar hal itu, matanya mulai merah dan berkaca – kaca. Entah apa yang membuatnya sedih. Karena sudah terlalu egois. Terlalu membanggakan diri. Atau kenyataan dia tak pernah menikmati sedikitpun hasil jerih payahnya.

Ny. Kim benar bahwa Rei memang butuh seseorang yang akan mengontrolnya dalam melakukan hal – hal yang sekiranya sudah cukup. Memberitahunya kapan harus berhenti dan istirahat. Kenyataan pahit yang harus Rei sadari adalah orang tuanya belum tahu tentang kesehatan psikisnya.

 

“Tapi ibu, aku sudah sejauh ini. Sedikit lagi ibu.” Rei masih berusaha menahan air matanya.

 

“Sayang, kau masih bisa meneruskan kuliahmu ketika menikah. Sehun bukan tipe orang pengekang.” Ujar Ny. Kim tulus. Meskipun begitu, hati seorang ibu tetaplah akan teriris melihat putrinya yang masih muda harus berkorban seberat ini. Tapi Ny. Kim harus tega, demi Rei.

 

“Ayah, Ibu aku ingin keluar sebentar.” Rei membungkuk hormat lalu memanggil seorang pelayan untuk mengambilkan sweeternya. Beberapa saat Rei langsung meraihnya dan berjalan lebar menuju taman dekat danau dengan spatu kets birunya.

 

Baru beberapa langkah Rei melangkah keluar mansion, air matanya langsung jatuh. Dia berjalan cepat menuju bangku panjang di bawah pohon dekat danau dekat perumahan mansion.

 

Rei hanya duduk diam sambil mencengkram erat dressnya. Air matanya terus mengalir dan semakin menjadi.

 

“Aku benar – benar tak ingin menikah.” Ujarnya sambil terisak.

 

“Aku memang bodoh karena terus jatuh dan amnesia.”

 

“Apa yang salah denganku!”

 

“Penyakit bodoh ini!”

 

“Kenapa aku menangis seperti orang bodoh.”

 

Perasaan tak teruraikan ini membuatnya sedih, Rei masih ingin meraih banyak hal dalam hidupnya. Sempat terlintas difikirannya untuk tidak menikah dan menjadi wanita karir.

Disisi lain dia bingung, apa yang harus dia lakukan. Rei bertanya – tanya apakah hidupnya akan benar – benar berubah. Ia tahu, Ibunya hanya khawatir melihatnya bekerja terus menerus. Tapi Ibunya pasti tahu betapa kesalnya Rei ketika di jodohkan seperti ini. Dia juga kesal kenapa tak mampu sedikitpun mengingat tentang Sehun sedangkan Sehun dengan tak sopannya mengatakan hal – hal bodoh tentagnya di masa kecil. Rei merasa perasaan dan fikirannya kacau balau. Seperti benang kusut, yang meskipun memiliki pola tak seorangpun mengerti akan pola itu.

 

“Apa yang harus aku lakukan?” ujarnya kembali sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya yang memucat kedinginan. Angin musim gugur cukup buruk untuk kesehatan.

 

Rei belum mampu mengekspresikan kekesalannya. Hanya saja ada yang lebih teriris mengetahui Rei yang sedang menangis sendirian.

 

Tanpa di sadari lelaki itu ikut menangis di belakang Rei. Beberapa pohon besar mampu menyembunyikan tubuh kecilnya.

 

“Kau harus bahagia bodoh. Dia cinta pertamamu!” dengan langkah lebar pria itu kembali menuju mobil sedan hitamnya terparkir dan pergi secepat yang dia bisa.

 

***

 

“Lusia terlihat tak mampu mengendalikan emosinya. Dia pasti sedang berfikir di suatu tempat.” Ujar Ny. Kim pada Tn. Kim yang kini tampak sedang berfikir.

 

“Dia hampir lepas control Mi Na. Kau harus tahu bagaimana dia bekerja. Sungguh, kali ini kita harus egois.”

 

“Aku sedih melihatnya tanpa seseorang disisinya. Hanya saja putri kecil kita tumbuh terlalu cepat.” Ny. Kim tampak mulai berkaca – kaca.

 

“Aku yakin, dengan sedikit paksaan Lusia akan mengerti dan menuruti apa yang Sehun katakan. Kita Tahu, Lusia dan Sehun mereka saling menyukai. Ingatan Lusia akan pulih dengan dia bersama Sehun.” Tn. Kim nampak yakin dan memandang tepat di manik mata istrinya.

 

“Acaranya besok dan Lusia pasti sedang menangis saat ini, itu tidak baik. Apakah aku harus menelfon Sehun dan menemaninya.” Ny. Kim mencoba mencari solusi dengan keadaan yang kalut seperti ini.

 

“Tidak perlu. Lusia perlu melepaskan emosinya. Ini memang akan terasa sedikit menyakitkan melihatnya seperti ini. Dan menyakitkan juga baginya, tapi ini demi Lusia. Dia harus sembuh. OCD bukan penyakit yang mudah di sembuhkan.”

 

To Be Continuee….

 

Hik sedih banget ngelanjutin part ini. Tapi bagaimanapun juga hidup terus berlanjut. Aku minta maaf ya karena updatenya ngareeet banget. Tiba – tiba ide terputus, dan aku masih belum mendapatkan kiriman serbuk ajaibnya Tingkerbell. Halah ngawur deh

Oh ya menurut kalian solusi buat Rei gimana nih? Jadi dia sedih karena bingung, disisi lain dia udah nyaman dengan kariernya yang sekarang lagi tinggi – tingginya, tapi juga dihadapkan dengan gangguan penyakit jiwanya yang mulai parah. Tapi orang tuanya memutuskan untuk ngejodohin dia dengan harapan bisa lebih mengontrol kegiatan Rei. kalian pasti bingung gimana orang tua Rei tau soal penyakitnya? Hahaa

See you in next chapter. Pai pai ^^

 

Thanks for like, comment and sharenya

23 responses to “[FREELANCE] PERFECTIONIS CHAPTER 7

  1. ka itu ko chapter sebelum nya gabisa kebuka ya? tulisan nya page not found itu kenapa ya ka? padahal pengen baca yg sebelum nya dulu karna baru nemu ini ff ‘-‘

    • Cobaa kamu cari disini deh saykoreanfanfiction.wordpress.com/author/amaliaparahita-2/

  2. Karakter sehun disini bikin gereget yaaaa (っ˘̩╭╮˘̩)っ aku ngarep sehun sm lusia bisa sama2 bahagia *pasti xD
    Lanjutnya ditunggu banget kaa

  3. Moga lusia cepet sembuh dri ocd nya .dan bisa mengingat sehun kembali.makin penasaran kdepannya d tunggu next chapter nya fighting

  4. Ternyata mrk saling suka….tpi dulu sehun prnah pcaran jga….ortu rei kyknya tau klo rei sakit..apa sehun diam2 beritahu ortu rei…junhee psti ada niat jahat…jng2 junhee bkal bocorin ttg pnyakit rei…yg tdi itu luhan kan???apa sehun prnah putus asa krn rei amnesia jdi dy berusaha jalin hubungan dng cewe lain???

  5. Rei kenapa sakit begitu >,< kasian dia. sakitnya kayanya parah banget yakk. ko aku ngarepnya tar sehun selalu setia menemani rei sampe rei sakit pun #eaaa abis itu rei nya jadi suka juga deh sama sehun, trus happy ending /singkat sekali ya hahaha/ yahhh moga moga rei-sehun bisa langgeng yakk!! aku dukung koo. next kaka😀 ditunggu sangat looh , gomapta🙂

  6. Jdi orgtua rei tau penyakitnya rei? Kok bsa?
    Smg aja sehun bsa ngilangin pnyakit rei dn mreka cpt saling suka ky dluu
    Itu si junhe jan mcm2 dh hihhh
    Nextnyaa cpt yaa thorr dtunggu

  7. apa ortuny tau penyakitny dr sehun?? pokokny lusia sm sehun HRS bersatu agar lusia terbiasa dan ingatannya mulai kembali

    ditunggu lanjutannya yaaa

  8. Pingback: [FREELANCE] PERFECTIONIS CHAPTER 7 – Ji Hyoen Tale·

  9. Kpn lusia inget kl sehun cinta pertamanya….. lo ortunya tau dia sakit. Hwaiting writing eonni

  10. Next chapjangan lama2 ya kak..
    Ini aku suka banget sama ffnya ..sering nungguin kakak postnya
    .ternyata orang tua lusia uda tau klo lusia kena penyakit OCD…KIRAIN CUMA SEHUN..
    PESEN AKU NEXT CHAP JANGAN LAMA2 YA KAK

  11. jadi yg lain udh tau rei sakit ocd? ya ampun masalahnya udh makin rumit aja, pengen cepet baca next chap, semangat author

  12. Jadi makin seru dan bikin tambah penasaran critanya. Btw, cowok yg d balik pohon tadi tuhan ya??
    Sepertinya sehun dan rei punya something sebelum rei amnesia. Mgkin org tua rei ingin ngejodohin rei ama sehun biar ingatan rei cepet pulih juga…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s