Overshade [Chapter 22]-END

overshade

Judul : Overshade – Chapter 22

Author : isanyeo

Cast : Lee Young, Kai, Sehun, etc.

Rating : PG-15

Genre : School life, Romance, Family, Slice of Life.

Length : chaptered

Thankyou.

XXII: The Shelter

Imajinasi tentang Kai berada di apartemen siang itu adalah awal mula dari sekian imajinasi-imajinasi yang terus dialami Lee Young. Terkadang Young menemukan dirinya sendiri yang tengah berada di bawah kolong tempat tidur sembari berteriak-teriak tak jelas dan tak pada siapapun, sedangkan di benaknya ia begitu yakin bahwa ancaman dari masa lalu kembali datang.

Suatu ketika dia juga akan menangis sejadi-jadinya melihat Sehun berada di depannya dan memberitahu lelaki itu berbagai hal yang ia rasakan, lalu hanya bisa terdiam ketika akhirnya Young menyadari bahwa ia menangisi angin yang menerpa tubuhnya, tak pada siapapun.

Halusinasi. Itu mungkin yang akan mereka katakan

“Bagaimana kau bisa menyimpulkan bahwa kau sedang berhalusinasi, Nona Lee Young?”

Lee Young mengerutkan keningnya dan menatap pria di depannya dengan perasaan takut. Papan nama di  atas meja pria lelaki itu semakin memperjelas mengapa Lee Young berada di ruang yang begitu dingin dan sepi, hanya ada mereka berdua dengan telinga yang siap mendengar dan mulut yang siap bercerita.

“Entahlah, aku hanya tahu itu ketika aku tiba-tiba menyadari bahwa aku tengah berada dalam unit apartemen..temanku, dan tidak ada siapapun, tidak ada apapun. Sedangkan aku terus saja mengoceh dan-.” Ucapan Lee Young terhenti dengan nafasnya yang tersedak di tengah-tengah, mata yang membendung air mata dan kerutan kening yang semakin terlihat jelas.

“Tidak apa-apa, katakan saja, Nona Lee Young. Kami tengah berusaha membantu anda, kami akan mendengarkan semuanya.” Dokter Park, begitulah yang disebutkan Lee Young ketika pertama kali berbicara dengan lelaki tersebut, ketika dia hanyalah seorang pendatang baru di Seoul.

“Dokter Park, aku tidak mengerti kenapa aku bisa seperti ini, tapi kurasa ini jauh lebih parah dibandingkan mimpi-mimpi buruk yang kualami selama ini.”

“Kapan terakhir kali anda mengonsumsinya,Nona Lee Young?”

Lee Young menggeleng lemah dan menaikkan kedua bahunya. Ia tidak mengingatnya. Tentang kapan terakhir kali ia mengonsumsi pil yang sengaja diberikan olehnya sebagai obat penenang.

“Seberapa sering anda mengonsumsinya, Nona Lee Young?”

“Setiap malam. Setidaknya aku meminum 1 pil tiap malam, namun aku ingat kapan terakhir kali aku mengonsumsinya.”

“Bukankah sudah kukatakan tentang batas konsumsi obat itu, Nona?”

“Ya. Tapi aku tidak bisa jika tidak mengonsumsinya.”

“Apakah ada beban pikiran atau sesuatu krisis yang anda pikirkan, Nona Lee Young?”

Lee Young menganguk lemah dan memeluk dirinya sendiri dan menatap takut ke arah Dokter Park yang terlihat begitu serius dengan apa yang ia catat. Selanjutnya yang ia lakukan hanya menunggu hingga gerakan tangan Dokter Park terhenti dan memandangnya tajam untuk beberapa detik.

Lee Young hanya bisa menahan nafas dan air matanya ketika akhirnya dia mendengar bagaimana Dokter Park mulai menjelaskan situasi kondisinya saat ini. Lee Young mengedipkan matanya sekali, dua kali, lalu hanya bisa menarik nafas sedalam-dalam hingga rasanya dada begitu sesk dan tak ada ruang lagi.

Konsumsi berlebih. Candu. Tingkat kesadaran. Stress. Efek samping. Kontrol diri. Halusinasi.

Lee Young hanya bisa menundukkan kepalanya dan menangis.

Kim Jaein memutar bola matanya dengan sedikit erangan lalu menghempaskan tubuhnya di atas sofa yang begitu nyaman baginya.

“Ada apa dengan kau yang tiba-tiba pindah kemari Kim Jongin?”

Kai yang sedari tadi berjalan mondar-mandir memindahkan barang-barangnya berhenti di tengah-tengah dan memandang Jaein sekilas lalu melanjutkan aktifitasnya. “Kau ingin aku berkata jujur?”

“Ya, tentu saja.”

“Karena aku tidak punya uang untuk bayar uang sewanya.”

Jaein seketika bangun dari tidurnya dan meraih apapun di sekelilingnya yang bisa ia lemparkan ke arah Kai. Sedangkan Kai hanya tertawa kecil dan berusaha menghindari bantal-bantal sofa yang dilempar kakaknya itu.

“Kenapa tidak pulang ke rumah saja, Kai!”

Kai menaikkan kedua bahunya dan tertawa kecil sekali lagi. “Tentu saja, Jaein. Hanya saja tidak sekarang.”

“Kapan? Menunggu aku bangkrut menghidupimu?”

Kai mengangukkan kepalanya tanda setuju. Sekali lagi tertawa kecil dengan candaan keduanya. “Kau sendiri kenapa tidak pulang, Kim Jaein?”

Jaein seketika terdiam di tempatnya. Menggelengkan kepalanya beberapa detik kemudian. Bibirnya mengerucut mungil berakting menggemaskan. “Di rumah terlalu sepi. Bukan begitu, Kai?”

Kai hanya bisa menganguk setuju namun mulutnya terbuka sekali lagi. “Sekarang kau sudah mengerti, Kim Jaein?”

“Mengerti apa?” tanya Jaein.

“Tentang kesempurnaan yang orangtua kita sengaja ciptakan untuk kita ternyata membuat kita-.”

“Merasa kosong?”

Kai melirik kakak perempuannya itu dan menyunggingkan senyum tipis. “Kesempurnaan yang Ayah maksudkan bukan seperti yang kuharapkan. Tapi biarlah, kini Ayah sudah mengerti. Aku dan dirimu hanya perlu hidup dengan baik sekarang, bukan begitu, Jaein?”

Jaein terdiam lalu mengingat percakapannya dengan Kai beberapa waktu lalu, tentang apa yang ia tak pahami dari Kai. Lalu dengan begitu banyak asumsi dan berkali-kali pemikiran, ia akhirnya mengerti.

“Lalu bagaimana dengan gadis itu?”

Kai menaikkan kedua alisnya dan terdiam sejenak. Wajah Lee Young yang memandangnya sewaktu berada di sekolah kala itu kembali terlintas di kepala Kai. Ia bisa melihat berbagai makna dari tatapan Young, ia juga bisa melihat berbagai maksud dari gerakan tubuh Young. Ia tak bisa berbuat apapun pada gadis yang tengah kebingungan itu.

“Dia butuh waktu.”

Jaein hanya bisa mengerutkan kening mendengar jawaban Kai yang terdengar melantur itu. Lalu sedetik kemudian niatnya untuk bertanya apa maksud adik lelakinya itu terurungkan, pasalnya dilihatnya untuk pertama kali sosok Kai dengan wajah yang begitu sendu dan mata yang memerah.

Mungkin dua minggu atau lebih, sosok Kim Kai tak terlihat ujung rambut hingga ujung kakinya di lingkungan sekolah. Dan selama itu pula, Lee Young tak tahu dimana keberadaan dan kondisi Kai saat ini, bahkan untuk sekedar bertukar kabar pun tidak.

Tanpa Lee Young sadari pula, keadaannya justru semakin memburuk. Teriakan yang keluar dari mulutnya tidak hanya terdengar sewaktu dia terlelap, namun juga dalam keadaan sadar sekalipun. Hal itu merupakan salah satu dari sekian alasan mengapa Lee Young memutuskan untuk tidak datang sekolah hari ini. Satu hal yang ia takutkan adalah bahwa mungkin ia tak bisa mengendalikan halusinasi yang terus saja ia alami.

“Lee Young?”

Young menoleh ke sumber suara. Pintu kamarnya terbuka perlahan-lahan dan menampakkan sosok laki-laki dengan mata bulat yang menatapnya girang. Pekikan suaranya terdengar di telinga Young dan tak butuh waktu lama untuk Young merasakan sebuah pelukan tiba-tiba.

“K-Kwon?”

“Lee Young aku merindukanmu.”

Pelukan Kwon semakin erat dan Young mengerutkan keningnya. “Apakah ini benar-benar Kwon?”

Kwon melepaskan pelukannya dan menatap aneh ke arah Young, kemudian meletakkan sebelah telapak tangannya di atas dahi Young. “Young, apakah kau sakit?”

Lee Young dapat merasakan kehangatan yang tersalurkan dari telapak tangan adik lelakinya itu, namun sekali lagi Lee Young menggelengkan kepalanya. Hal sama juga terjadi di apartemen Kai beberapa waktu lalu. Ia dengan jelas merasakan kehangatan dari sentuhan Kai, namun akhirnya ia tak menemukan Kai di manapun.

“Bagaimana bisa kau ada di sini, Kwon?”

“Ibu bilang kau sakit, jadi aku meminta ibuku untuk membawaku kemari, Lee Young,” ujar Kwon dengan suaranya yang masih saja terdengar sok dewasa di telinga Young.

“Young, apa kau yakin kau tidak apa-apa?” Sebuah suara memanggil dirinya untuk sekali lagi. Dilihatnya Nyonya Shin, ibu Kwon, berdiri di mulut pintu menatapnya dengan tatapan khawatir.

Young yakin bahwa ibunya telah memberitahu Nyonya Shin tentang hal ini. Young tahu bahwa ibunya itu mendengar setiap teriakannya di malam hari, lalu mengetuk pintu dengan lembut dan bertanya apakah dia baik-baik saja, lalu menunggu hingga pagi datang dan menyiapkan sarapan layaknya seorang ibu lakukan.

Tuan Lee memberikan dampak yang begitu hebat pada Ibu Lee Young. Entah itu buruk maupun baik.

“Lee Young?”

Lee Young menundukkan kepalanya, sadar dari lamunannya. “Aku tidak apa-apa, Nyonya Shin.”

“Tapi kau tidak nampak baik, Lee Young.”

“Aku benar-benar tidak apa-apa, Nyonya Shin.”

Nyonya Shin berjalan mendekat dan Young kembali membuka matanya setelah ia pejamkan untuk beberapa detik. Ia melihat Nyonya Shin duduk di hadapannya dengan tatapan yang tak pernah ia lihat sebelumnya. Marah, kecewa, sedih, bercampur menjadi seperti itu.

“Sungguh kau baik-baik saja? Setelah apa yang terjadi?”

Lee Young mengerutkan keningnya. “N-Nyonya-.”

“Setelah apa yang terjadi pada Sehun, kau bilang kau tidak apa-apa?”

Young semakin mengerutkan keningnya dan ia bisa merasakan jantungnya yang berdegup kencang. “A-Aku-.”

Nyonya Shin berdiri dari duduknya dan masih di hadapan Young, ia menurunkan kepalanya hingga sejajar dengan Young. “Oh Sehun. Ingatlah bahwa ia mati karenamu, Lee Young.”

Young merasa kebas dan melompong dadanya. Ia tak bisa lagi merasakan detak jantung dan nafasnya tertahan di tenggorokkan. Sedetik kemudian ia bisa mendengar suara-suara asing yang menyerbu telinganya, berbisik-bisik dan berteriak-teriak bahwa ia yang bersalah atas kematian Oh Sehun.

Untuk sekali lagi Lee Young berteriak-teriak sembari memukul-mukul kedua telinganya, berusaha tak mendengar suara-suara itu. Namun apa daya rupanya suara itu bukan berasal dari luar, namun dari dalam. Urat nadi Lee Young terlihat dan wajahnya memerah.

“Lee Young! Lee Young!”

Nyonya Shin memegang kedua pundak Young dan matanya menampakkan ekspresi kaget. “Kwon cepat panggilkan bantuan.”

Lee Young bisa merasakan tubuhnya yang lemas seketika suara-suara itu terhenti dan ia bisa melihat Nyonya Shin yang memegang kedua pundaknya dan melihatnya penuh kaget. Lee Young bisa membaca ekspresi itu.

Sedetik kemudian yang dilakukan Lee Young adalah menangis sejadi-jadinya. Hal yang ia paling takuti akhirnya terjadi juga, bahwa ia tak mampu lagi membedakan mana yang nyata dan mana yang tidak.

Langit kota Seoul semakin gelap tapi tak pernah benar-benar gelap. Walau tengah malam pun, langit Seoul masih saja berwarna. Lampu-lampu pinggir jalan dari setiap bangunan di kota Seoul membuat kota itu semakin hidup.

Dimana satu lampu kota Seoul menyala di antara ribuan lainnya, terdapat sosok Lee Young yang menatapnya dengan tatapan kosong. Dengungan suara-suara didengarna namun tak dihiraukannya. Ibu Lee Young, Tuan Lee, Nyonya Shin, dan Kwon tengah memandanginya di balik kaca ruangan dimana Lee Young berada sekarang. Lee Young mungkin tidak tahu mereka yang tengah mengamatinya saat ini tengah menangis tanpa suara, melihatnya di kondisi seperti itu.

Dokter bilang kondisi mental Young sudah tak lagi sehat, tak lagi normal. Ibu Lee Young menangis sejadi-jadi begitu mengingat bagaimana Young telah bertahan selama ini, bagaimana Young berusaha untuk hidup senormal mungking dengan pengalaman pahit yang tak mudah dilupakan begitu saja, bagaimana Young mengatasi semua rasa sakit yang bisa membunuhnya kapan saja.

“Maafkan Ibumu ini, Lee Young. Maafkan Ibumu,” rintih Ibu Lee Young dengan telapak tangan yang memukul-mukul dadanya.

Anak perempuannya tegah berbaring menatap cahaya lampu ruangan itu seperti tak bernyawa. Mereka bilang mereka butuh waktu untuk menyembuhkan kondisi mental Lee Young, dan sebagai seorang ibu, Ibu Lee Young mengatakan bersedia melakukan apa saja.

Hari-hari berlalu dan berganti minggu, minggu-minggu pun berlalu berganti bulan, dan bulan-bulan juga berganti menjadi tahun. Sudah selama itu, Lee Young menjalani berbagai treatment kesehatan jiwa.

Lee Young tak lagi berhalusinasi. Ia tak lagi candu dengan obat penenang. Ia tak lagi hilang kesadaran tiba-tiba. Ia juga tidak lagi menangis histeris tiba-tiba.

“Lee Young?”

“Ya?”

Lee Young, gadis itu lagi-lagi menjawab dengan nada tak senang dengan pria tua yang masuk ke dalam kamarnya dengan papan dada yang selalu dibawanya.

“Apakah kau-.”

“Ya, aku baik-baik saja.”

“Hari ini, apakah kau-.”

“Ya, aku makan dengan baik.”

“Tidak adakah-.”

“Tidak ada gejala apapun atau perasaan ganjil apapun. Semuanya normal. Setidaknya menurutku.”

Pria di depannya itu tertawa. “Melihat kau sudah hafal betul dengan pertanyaan harianku, nampaknya memang semuanya normal, Lee Young.”

“Terimakasih, Dokter. Jadi apakah aku bisa sendirian sekarang?”

“Lee Young?”

“Ya?”

“Apakah kau ingin pulang?”

Lee Young tersenyum kecil. “Kenapa tidak, Dokter?”

Tahap awal dari semua proses yang dialami Lee Young adalah proses penerimaan diri dan kenyataan. Daripada mengatakan semuanya akan menjadi lebih baik dan menjanjikan masa depan yang indah untuk Lee Young, mereka mengatakan kenyataan yang sebenarnya dan alasan logis mengapa semua itu terjadi dan alasan yang logis pula untuk Lee Young bisa menerima semua kenyataan yang ia alami. Lalu perlahan menanamkan padanya tentang apa yang akan ia terima jika ia mampu menerima, menghilangkan rasa takut yang sebenarnya ia ciptakan sendiri dan menanamkan bahwa pikiran yang kompleks adalah hal yang tidak boleh ia lakukan saat itu.

“Lee Young, perlu kau ingat, dari semua tahap ini. Menjalani masa depan yang tidak terduga adalah hal yang harus kau lakukan pada akhirnya. Kau tidak perlu khawatir, karena tidak hanya dirimu yang tidak tahu bagaimana masa depan, aku juga begitu, semua orang pun juga. Jadi jika seseuatu buruk terjadi padamu, ingatlah bahwa tidak hanya kau yang mengalami hal itu, semua orang di dunia ini pasti pernah mengalami kegagalan dan rasa sakit dalam hidupnya, hanya saja di waktu yang berbeda, di tempat yang berbeda dan hal yang berbeda darimu.”

Lee Young menganguk singkat. Ia menatap Dokter Park yang selama ini selalu berusaha membantunya untuk sembuh. Jika ia mengingat-ingat bagaimana kondisinya dulu, ia ingin tertawa sekaligus menangis. Ia ingin tertawa kenapa sosok Lee Young yang dulu sangat dangkal pemikirannya dan sangat lemah, ia juga ingin menangis karena ia mengingat bagaimana ia bertahan dengan pemikiran dangkal yang mampu membuatnya merasakan sakit yang luar biasa walau luka itu tak berwujud.

Ia masih mengingat bagaimana ia kerap kali menangis ketika halusinasi itu terjadi lagi dan lagi. Ia juga mengingat bagaimana Dokter Park tidak menyerah dan memberinya obat penenang begitu saja. Melawan halusinasi tersebut ketika itu terjadi adalah hal yang membuat Dokter Park harus bekerja keras selama ini.

“Terima kasih, Dokter Park.”

Lee Young memeluk tubuh Kwon yang entah kenapa lebih besar dan daripada yang ia ingat dulu.

“Sekarang kau cantik lagi, Lee Young,” puji Kwon sembari melepas pelukan keduanya.

Lee Young tertawa dan mengacak-acak rambut adik lelakinya tersebut, lalu beralih menatap Ibunya yang menatapnya sedih.

“Jangan sedih Bu, ini bukan salahmu, bukan salah siapapun. Ini memang sudah hidupku, dan sudah seharusnya aku berusaha demi hidupku sendiri. Ini ujian bagiku.”

Ibu Lee Young hanya bisa menganguk dan menarik Young dalam pelukannya. Sekali lagi Ibu Lee Young menangis sembari menepuk-nepuk pundak anak perempuannya. Ia masih ingat bagaimana setiap kali ia mengunjungi Lee Young selama ini, gadisnya telah berusaha sangat keras.

Sementara Lee Young hanya bisa tersenyum lega, menginga-ingat kembali apa saja yang telah ia lalui. Lalu, tiba-tiba Young merasakan sesuatu yang membuncah di dalam dadanya, pikirannya teringat pada satu sosok yang entah bagaimana membuatnya merasa rindu. Sosok lelaki yang entah bagaimana membuatnya lagi-lagi tersipu malu hanya dengan mengingatnya. Sosok lelaki yang harus segera ia temui, meskipun terakhir kali ia berusaha menjauh darinya.

Kim Kai.

Malam itu, lagi-lagi Tilda terasa begitu ramai dan hangat. Ini adalah malam kesekian kalinya yang dengan sengaja Young kunjungi. Pemusik memetik gitar dan melantunkan nada lembut di telinganya. Tapi mata Lee Young tak ada hentinya menyebar ke seluruh ruangan, berharap ia akan mengenali satu dari sekian orang yang ia perhatikan. Berharap bahwa seseorang yang diharapkannya muncul.

“Young?”

Young menoleh begitu namanya dipanggil. Ia tersenyum lebar melihat perempuan tersayangnya itu berjalan mendekat ke arahnya. Ahn Soojin.

“Soojin?”

Soojin duduk berhadapan dengan Young dan meneguk minuman Young yang ada di hadapannya, sembari melirik ke arah panggung kecil pemusik malam di Tilda. Tersenyum simpul ia ke arah Young dan menatap gadis itu lama. “Masih menunggu si malas itu, Young?”

Young menaikkan kedua bahunya dan tersenyum. “Aku harus bertemu dengannya, kau tahu itu, bukan?”

“Tapi semenjak kau tak datang ke sekolah. Kim Kai juga tak pernah muncul, Young. Bahkan sampai sekarang pun, tidak ada yang tahu ia dimana, dan apa yang ia lakukan saat ini. Aku saja tidak yakin kalau dia masih sekolah.”

Young tertawa. “Kau menyindirku? Kau juga tahu aku bahkan belum tamat SMA.”

“Maka dari itu, cepat-cepatlah selesaikan SMA dengan otak cerdasmu itu. Kehidupan di kampus jauh lebih menyenangkan, kau tahu?”

“Ya, aku tahu.” Lee Young hanya menjawab ala kadarnya, menuruti apa saja yang dikatakan Soojin padanya.

“Tapi ngomong-ngomong, kenapa kau menunggu Kai di Tilda, Young? Bisa saja dia ada di tempat selain di sini.”

Young hanya terdiam sambil berpikir. Soojin benar, mungkin saja Kai berada di tempat yang sangat jauh dengannya, tapi kenapa dia hanya diam dan menunggu Kai di Tilda, hanya di Tilda, ia pun juga tak mengerti alasan yang tepat untuk menjawabnya. Young hanya merasa ia harus menunggu di Tilda.

“Entahlah, Soojin. Ngomong-ngomong, kau menemaniku sampai nanti?”

“Tidak. Aku ada janji. Maafkan aku, Young.”

Young tersenyum mengerti dan menganguk. Malam itu, Tilda semakin terasa hangat dan percakapan keduanya terus saja berlanjut. Hingga tinggal Young dan beberapa pengunjung lain yang tersisa, dan sebentar lagi Tilda akan tutup. Lagi-lagi, mungkin Young harus menunggu satu malam lagi.

Young berjalan menuju halte terdekat. Kini ia tak lagi tinggal di apartemen lantai 8 yang dulu ia tempati. Ia kini tinggal bersama Tuan Lee atau yang sekarang ia panggil sebagai Ayah di kediamannya di salah satu sudut Kota Seoul. Sebuah rumah yang terasa sejuk di pagi hari dan hangat di malam hari.

Tapi malam ini Seoul terasa begitu dingin dari biasanya, membuat Young merapatkan jaketnya dan menaikkan kedua bahunya, bermaksud untuk membuat dirinya merasa lebih hangat.

“Dingin?”

Lee Young berhenti melangkah begitu didengarnya suara itu. Young bisa merasakan jantungnya yang berdetak begitu kencang, kepalanya yang entah kenapa terasa berdenyut pula, dan kedua kaki yang membeku. Nafasnya tertahan di tenggorokan dan lidahnya kelu untuk sekedar menjawab.

Young mendengar langkah kaki yang semakin mendekat. Lalu saat ini Young mampu melihat siapa yang berbicara padanya. Ia berdiri di depan Young dengan mata yang hangat dan senyum tipis yang menawan. Young bisa merasakan matanya yang memanas dan tangannya yang bergetar mengenggam jaketnya.

“Apakah kau kedinginan, Lee Young?”

Lee Young semakin merasakan sakit di tenggorokannya. Mendengar namanya disebut dengan nada yang begitu lembut di telinganya membuat Young semakin bergetar. Young menganguk singkat sembari terdengar isakan kecil keluar dari bibir Young. Sosok lelaki di depannya itu tersenyum kian lebar sembari berjalan semakin mendekat, lalu pada akhirnya ia merengkuh tubuh Lee Young dengan sangat lembut. Mendekap gadis itu dalam pelukannya, berusaha memberikan kehangatan sekaligus ketenangan.

“Aku memberimu waktu. Apakah selama ini sudah cukup untukmu, Lee Young?”

Dalam pelukannya, Lee Young menganguk lemah. Kim Kai. Lelaki yang tengah memeluknya itu telah memberikannya waktu. Young tahu betul tentang itu, Kai memberikannya waktu untuk meyakinkan dirinya dari semuanya yang telah terjadi, memberikannya waktu untuk menjadi lebih kuat dan memikirkan semuanya dengan benar.

“Jadi, apakah kau masih tidak ingin melihatku?” tanya Kai.

Young membalas pelukan Kai. Ia memeluk lelaki itu dengan sangat erat. Memberikan isyarat bahwa ia tidak ingi Kai pergi meninggalkannya. “Aku masih ingin melihatmu, Kai.”

Bahkan meskipun semua telah terjadi, walaupun Lee Young sempat ragu dengan apa yang ia rasakan. Ia akan tetap memilih Kai. Walaupun jika Oh Sehun mengatakan semuanya dari awal tentang siapa ia sebenarnya, mungkin Lee Young akan tetap memilih Kai. Kai adalah lelaki yang ia butuhkan. Lelaki yang mampu membuat hatinya bergetar ketika tidak ada seorangpun yang mampu. Kai hanya perlu menjadi dirinya sendiri untuk mampu membuat Lee Young jatuh padanya.

“Terimakasih, Lee Young.”

Young menggeleng. Harusnya ia yang berterimakasih. Jika ia tak pernah bertemu dengan Kai, ia mungkin telah menyerah dengan hidupnya dari awal. Ia tidak akan berusaha untuk memperbaiki hidupnya. Selama proses penyembuhannya, ia selalu membayangkan bahwa Kai tengah berada di sisinya dengan mengucapkan sederet kalimat yang biasa ia dengar dulu. Kalimat yang entah bagaimana mampu membuatnya tenang. Mengingat bagaimana suara hembusan nafas Kai yang ia sering dengarkan, yang mana entah bagaimana juga bisa menjadi obat yang mampu menenangkannya.

“Aku yang berterimakasih, Kai.”

“Lee Young. Berkat dirimu, aku menyadari bahwa hidupku sangat beruntung. Bertemu denganmu, mampu bersanding denganmu, adalah hal yang lebih dari sekedar cukup. Walaupun kau sempat ragu, aku yakin bahwa kau bisa menjalani semuanya. Dan kau adalah wanita yang terkuat yang pernah kutemui. Terimakasih.”

Kai memeluk gadisnya semakin erat. Jika saja ia egois, mungkin saat ini ia tidak akan bisa bertemu Lee Young dan mendekapnya seperti ini. Jika saja ia egois, mungkin Kai akan kehilangan Lee Young dan gadis itu tidak akan mungkin berada di sini. Maka dari itu, dulu, Kai memberikan keduanya waktu, waktu untuk Kai menunggu dan waktu untuk Lee Young melewati semuanya.

Pada akhirnya, keduanya sama-sama bertemu manis setelah pahit-pahit yang keduanya rasakan selama ini.

“Jadi apa rencanamu setelah ini, Lee Young?”

Young tertawa kecil di sela tangisannya. “Kurasa aku harus menamatkan SMA dulu.”

Malam itu, Kai tertawa masih dengan memeluk gadisnya. Lee Young merasakan menjadi gadis yang paling beruntung. Memang ia harus mengalami pahitnya hidup. Ia memiliki masa lalu yang kelam. Tapi itu tidak sebanding dengan apa yang ia terima hari ini. Sebuah keluarga, seorang sahabat, dan seorang kekasih. Lebih dari cukup.

Dan saat ini Lee Young memejamkan mata sembari berdoa. Terimakasih untuk apa yang telah ia terima sampai dengan hari ini dan apa yang ia akan terima di masa yang akan datang. Terimakasih.

-END

 

Maafkan untuk update yang lama. Maafkan untuk ending yang klise.

Maafkan juga kalau ada salah ya selama ini. Terima kasih sudah mau membaca da menunggu.

Terima kasih🙂

21 responses to “Overshade [Chapter 22]-END

  1. Finally end. Chukkahe authornim…
    Tadi pas part awal aku sempet bingung karna aku ngiranya ff yg satunya yg main cast nya juga kai.
    Agak lupa ma jalan ceritanya tp seneng ma endingnya. Akhirnya young ama kai…

  2. Jujur aku agak sedikit lupa jalan ceritanya seluruh, but overall ketika aku baca chapter ini aku masih bisa mengikuti jalan ceritanya. Aku senang eonnie buat ceritanya happy ending, dan bahagia karena young & kai bisa bersatu, walaupun banyak rintangan yg mereka hadapi. Demi apapun aku selalu suka sama ff eonnie karena selalu memberikan banyak pesan positif. Intinya I always wait your another story…

  3. akhirnya dilanjut juga. nggak nyangka ternyata udah end. aku sempet ngira endnya bakalan sad gitu.
    ditunggu karya ff selanjutnya ^^

  4. Yeay update,, good job ya, ceritanya endingnya suka kok ,, kai yg disini org yg sabar yg pernah aku baca,, yap berntung young punya kai.. Young juga bisa melawatin masa sulitnya sendiri good job,, this story bagus lho. Seneng mereka bisa kembali, krna sempet ngira mereka bakal pisah terutama young akan berakhir buruk. Whoaaa sekali lagi good job atas ff ini yaaa

  5. ya ampun gak kerasa udah ending lagi…
    akhirnya young sembuh dari halusinasinya yang membuat young tidak tenang…
    yeee young dan kai jadian juga…

  6. wahhh daebakkkk kerennn ajibb emang nihh ff
    gak nyeselll lahh bacanya good job thor

  7. Kak, cerita kakak semuanya aku suka serius, bahasanya yang mudah dipahami, cerItanya yang bisa dihayati seakan kita yang berada didalam cerita tersebut, lanjut next project ya kak ku tunggu kokkkk

  8. Endingnya keren banget kak. Serius.
    Ini pas banget. Aku sukaaa^^
    Awalnya sempet nangis2 bacanya. Tapi pas hampir selesai, gatau kenapa ngerasa lega.
    Sumpah lee young cobaannya berat bamget. Tp aku juga ngerasa kalo lee young itu juga beruntung. Beruntung dapet cowo kaya kai, sahabat kaya sehun sama soojin.
    Dari sini juga aku bisa ambil pelajaran untuk ga teralu gampang menyerah sama hidup. Serius aku suka banget.

    Endingnya juga mereka jadian. Kai itu pacar idaman banget. Dewasa, bijak, pengertian<3
    Ditunggu karya selanjutnha kakkk^^

  9. Walaupun udh lamaaa nunggu sampe lupa..
    Terimakasih akhirnya penantianku ga sia2.
    Aku selalu suka sama ff yg kakak tulis..

    Pokoknya the best lah buat kakak.

  10. Huaaaa rasa.a pengen nangis kena terharu, tapi aku lagi baca ff d dpn ortu jadi ngga sempet nangis deh
    Bagus banget kak, bisa ambil pelajaran dari ff ini, aku juga salut sma maka bisa seluas ini ngehayal.a
    Aku aja ngga pernah kepikiran klo bsa kya gni jalan cerita.a

    Keep writing ya kak!

  11. Suka banget sama endingnya, keren banget sumpah. Sampe terharu bacanya..

    Suka banget sama karakternya si young. Karakter young yang kuat bner2 menginspirasi.

    Jujur aja sebenernya rada gak ikhlas kalo ff ini udah end aja. Bener2 ff favorit deh pokoknya..

    Okedeh aku tunggu ya ff lainnya dari kakak..

  12. waah, udah ending yaahhh,, pengin baca cerita mereka lg, bener2 kangen sama couple ini
    di tunggu squelnya…. ataupun cerita selanjutnya, terima kasih sudah bikin cerita ini sampai akhir

  13. Setelah sekian lama menunggu akhirnya update…
    Yeay akhirnya mreka bersama walaupun harus menunggu dan menekan ego (kai).
    Terimkasih buat author yang sudah menyelesaikan ceritanya…
    Adakah sequelnya?? Hehehe

  14. yaahh!!! selamattt authorr-nim!! akhirnya cerita yang kau buat sudah pada ujungnya kkk kau sudah banyak berjuang untuk mengakhiri cerita ini kak kkk mulai dari urusan personal, ceritamu yang dijiplak, kau susah mendapat feel lagi untuk melanjutkan, bahkan kasus kai juga mempengaruhimu kan? dan juga siders. apa aku salah satunya? emm aku rasa tidak kk cuz aku baru baca chap 1 sampai end dua hari ini kkk. lalu bagaimana aku tahu?? kau yang mengatakan padaku btw kkk

    kak? mau main sebentar gak?? kakak pasti gak tau aku siapa kkk aku ganti blog juga hing! tapi JANGAN BUKA BLOG-KU DULU kkk apa kau ingin tahu aku siapa? emmm simple
    1. coba baca setiap komentar yang choco selipkan di tiap chap, gak perlu galau komentarku ada pada baris terakhir
    2. awalnya ada pathcode masing-masing chap aku selipkan satu huruf untuk kakak rangkai and you will know who am i. tapi choco give up kk karena choco bukan young wkwkwk

    itu aja kkk yah walaupun aku juga gak tau apa kau akan membaca ini. tapi tidak ada salahnya berharap kan, ingat kata kai kkk

    aku menunggumu, kak 😉😉

  15. Happy ending yeeay,meskipun sad jugaa ):
    Ini ffnyaa keren bgttt♡♡♡ dan buat author maaf bgtt yaa klo aku suka komen gak jelas ): soalnya aku suka bingung mau komen apaa ;/

  16. Baru buka astaga, ini udah apdet hampir dua bulan ckcckk
    Aaaah suka sama endingnyaaa, akhirnya mereka bersatu, kai sabar banget nungguin lee young sweet aeyy, tp agak kependekan sih masih pengen baca eh udah end aja hihi
    Gapapa yg penting ceritanya oke,
    Ditunggu lah ff selanjutnya 😁👍👍

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s