The Day [2/3]

req-byeonieb-the-day-by-laykim

The Day

-ByeonieB@2016-

 

“My heart can’t ever forget you.”

 

Byun Baekhyun & Han Minjoo (OC) || Marriage-Life, Angst, Romance, Drama, Hurt || PG-18 || Three-Shots || Poster by Laykim @ Indo Fanfictions Arts

Inspired by The DayBaekhyun&K-Will.

🌾 🍁 🍂 🍀  🌿 🌼 🌼 🌼 🌼 🌿  🍀 🍂 🍁 🌾

H A P P Y  R E A D I N G

🌾 🍁 🍂 🍀  🌿 🌼 🌼 🌼 🌼 🌿 🍀 🍂 🍁 🌾

Jika dibilang Minjoo ingin menyerah, ya Minjoo ingin menyerah.

Tapi.. Jika ditanya apakah Minjoo masih ingin tetap tinggal, maka Minjoo masih menjawab ‘ya, Minjoo masih ingin tetap tinggal.’

🌾 🍁 🍂 🍀  🌿 🌼 🌼 🌼 🌼 🌿  🍀 🍂 🍁 🌾

The Day

🌾 🍁 🍂 🍀  🌿 🌼 🌼 🌼 🌼 🌿 🍀 🍂 🍁 🌾

Minjoo tahu, Minjoo salah. Pertengkaran hebat semalam adalah salahnya karena dia yang tidak mengerti Baekhyun, tidak menuruti perkataan Baekhyun padahal status Baekhyun adalah suaminya. Mungkin juga, tidak seharusnya Minjoo selalu menuruti perkataan Baekhyun karena walaupun Baekhyun adalah suaminya, Minjoo masih mempunyai hak asasinya sendiri untuk melakukan apa pun yang ia inginkan. Tapi, jika Minjoo memang menghargai Baekhyun sebagai suaminya, harusnya dia mengikuti apa perkataan Baekhyun.

Minjoo terbangun dengan mata yang sedikit sendu, akibat menangis semalaman. Kemudiannya, setelah ia duduk di atas kasur, ia melihat ke ranjang sebelahnya yang kosong. Jelas saja kosong, Baekhyun tidak tidur bersamanya tadi malam. Minjoo memutuskan untuk tidur di kamar tamu rumahnya daripada harus tidur bersama Baekhyun hingga membuat pria itu tersulut lagi emosinya karena melihat Minjoo.

Satu kalimat itu begitu terngiang-ngiang di telinga Minjoo, membuat hati Minjoo berdenyut menyakitkan tiba-tiba.

“Baru kali ini aku benci untuk melihatmu, Han Minjoo.”

Dan Minjoo tak kuasa untuk menahan air matanya kembali.

.

.

.

Baekhyun tak tahu apa yang terjadi pada dirinya. Entah setan dari negeri mana, kini telah merasuki seluruh raga Baekhyun.

Semuanya tampak berat bagi Baekhyun ketika pagi itu. Saat dia membuka matanya dan lalu mendudukan dirinya diatas kasur, entah mengapa hatinya masih bergejolak oleh yang namanya api amarah. Di sana, di dalam organ tubuh yang terletak di balik rusuk dada, jantung itu begitu terbakar. Entahlah, dia pun bingung dia marah pada siapa. Baekhyun tahu, dia marah pada Minjoo—dan memang sepertinya itu pemicu amarahnya—namun, Baekhyun tahu itu bukan hanya karena ia marah pada Minjoo.

Di satu sisi, ia merasa sangat bersalah juga karena ia telah membentak Minjoo sekeras itu. Oh Tuhan, Baekhyun bahkan baru tahu jika ia berbicara pada Minjoo begitu keras. Dia bahkan tidak pernah memarahi bawahannya sekeras semalam saat ia marah pada Minjoo. Tapi, Baekhyun pun punya satu sisi yang mengatakan bahwa wajar jika ia marah pada Minjoo sekeras itu karena Minjoo benar-benar tidak menghargainya sebagai suami. Apa yang kau rasakan saat mendengar bahwa istrimu bermain dengan lelaki lain disaat kau, suaminya, bekerja keras untuk mencari nafkah demi kebutuhannya? Bukankah itu sangat menyebalkan?

“Argh!” Baekhyun pun mengacak rambutnya dengan kasar, merasa kesal karena dua sisi itu benar-benar membuat kepalanya ingin pecah.

Baekhyun menyerah, dia tidak ingin memikirkan atau menyesali pertengkaran semalam. Ia pun beranjak dari kasurnya lalu mulai mempersiapkan dirinya untuk bekerja kembali.

.

.

.

Baekhyun menuruni tangga rumahnya dengan badan yang segar tapi dengan otak yang kusut. Oh, bahkan wajahnya pun masih sama kusut dengan semalam.

Sesaat ia sudah menjumpai dapur rumah yang berada di bawah tangga, ia menemui Minjoo disana. Seperti rutinitas seorang istri di pagi hari, menyiapkan sarapan.

Jika mereka tidak bertengkar semalam, pasti saat ini Baekhyun akan menghampiri Minjoo, memeluk Minjoo dari belakang lalu mengganggu aktivitas memasak Minjoo dengan mengigit bahunya atau menggelitik pinggangnya.

Tapi, yang Baekhyun lakukan saat itu adalah ia berjalan dan duduk di atas kursinya untuk mengambil sepotong roti dan selai sebagai sarapannya.

Minjoo menyadari itu, maka ia pun langsung memutar tubuhnya dan melihat ke arah Baekhyun.

“Selamat pagi, Baekhyun.” Ucapnya seramah mungkin walaupun sepertinya terdengar sedikit ragu.

Baekhyun diam. Hanya tetap melakukan kegiatannya untuk mendapatkan sarapan roti dan selainya.

Minjoo pun rasanya ingin menangis detik itu juga. Hanya saja, ia tidak boleh menangis. Ia harus terlihat kuat di mata Baekhyun karena ia yang salah dalam situasi itu.

“Baek, aku membuatkanmu sarapan. Makanan kesukaanmu, japchae dan dakgalbi.” Minjoo mencoba tersenyum walaupun itu percuma. Baekhyun tidak memperhatikannya juga. “Kau jangan sarapan roti, hm?”

“Aku sedang terburu-buru. Aku harus rapat lagi.”

Baekhyun tahu tidak seharusnya ia menolak permintaan Minjoo seperti itu. Baekhyun harus bisa mengontol emosinya, bagaimanapun juga Minjoo itu istrinya. Seorang istri yang harus ia lindungi. Tapi, tetap. Ia tidak mau meminta maaf atas pertengkaran semalam karena menurutnya itu salah Minjoo.

Baekhyun pun berdeham, “Rapat dadakan. Aku harus cepat-cepat pergi.” Ucapnya. Setidaknya itu tidak terdengar sedingin sebelumnya.

“Ah..” Hanya kata itu yang mampu keluar dari mulut Minjoo. Minjoo terdiam lagi, bibirnya sedikit bergetar. Baekhyun tidak pernah menolak masakan Minjoo. Ini semua pasti terjadi karena Baekhyun masih sangat-sangat marah pada dirinya.

Bagaimana jika aku membungkusnya untuk makan siangmu?” ujar Minjoo. Dia tidak boleh menyerah, dia harus mendapatkan hati Baekhyun kembali.

Baekhyun terdiam tidak menjawab perkataan Minjoo. Lebih tepatnya ia bingung, karena sesungguhnya dia masih kesal pada Minjoo tapi dia juga tidak ingin marah pada Minjoo terlalu lama.

Diamnya Baekhyun seperti menjadi sebuah celah harapan untuk Minjoo, dia sedikit tersenyum. “Kau mau ya? Baiklah aku siapkan.” Minjoo pun mulai menyibukkan dirinya kembali untuk mencari kotak makan dan setelah menemukannya Minjoo langsung mempersiapkan untuk bekal Baekhyun. Dan kali itu, Baekhyun membiarkannya.

“Ini.” Minjoo menyerahkan kantung berisi kotak makanan itu pada Baekhyun dan tepat saat itu, Baekhyun juga mengangkat pantatnya. Dia telah selesai dengan sarapannya.

Baekhyun menggerakan tangannya untuk mengambil kantung makanan yang Minjoo berikan padanya dan ia berniat langsung pergi setelah itu. Tanpa mencium kening Minjoo dan mengatakan ‘Aku mencintaimu’ seperti yang biasanya ia katakan saat Ia akan berangkat kerja.

“Baek..”

Namun Minjoo membuat Baekhyun berhenti melangkah. Minjoo menahan tangannya sesaat Baekhyun baru saja memutar tubuhnya untuk pergi.

“A..ku.. minta maaf.”

Minjoo menggenggam seluruh jemari Baekhyun, dengan erat. Seakan ia tidak pernah mau melepasnya lagi. Dan Baekhyun merasakan perasaan Minjoo waktu itu.

“Aku benar-benar minta maaf untuk kejadian kemarin, Baek..”

Baekhyun tidak tahu ia harus seperti apa. Baekhyun bingung apakah ia harus mengampuni permohonan maaf Minjoo atau tidak. Baekhyun bingung apakah ia harus memutar tubuhnya dan memeluk Minjoo.

Harusnya pada saat itu, Baekhyun melupakan semua kebingungannya dan merendam emosinya. Harusnya, Baekhyun memutar tubuhnya dan memeluk Minjoo dan memaafkan Minjoo, pada saat itu.

Namun,

“Aku harus pergi.”

Baekhyun melepas tangan Minjoo.

“Sampai jumpa, Han Minjoo.”

Dan berjalan meninggalkan Minjoo disana, sendirian. Membuat Minjoo lagi-lagi harus menundukkan wajahnya dan menangis dalam diam.

🌾 🍁 🍂 🍀  🌿 🌼 🌼 🌼 🌼 🌿  🍀 🍂 🍁 🌾

The Day

🌾 🍁 🍂 🍀  🌿 🌼 🌼 🌼 🌼 🌿 🍀 🍂 🍁 🌾

Kepala Baekhyun meledak. Itu bukan kiasan, tapi sungguh-sungguh terjadi. Rasanya seperti mercon kembang api telah dipentaskan kepalanya. Ya seperti itu, meledak.

Pekerjaan ini membuatnya merasakan seperti itu. Walaupun ia telah mendapatkan kerja sama dari perusahaan Starlight, nyatanya pekerjaan Baekhyun tidak berhenti sampai situ saja. Perusahaan Starlight meminta proyek apartemen ini diubah lagi konsepnya, mengikuti kemauan perusahaan Starlight hingga ia harus merombak beberapa konsepnya. Hanya beberapa memang, tapi itu membutuhkan otak Baekhyun diputar balikkan.

“Taeyeon-ah, bisakah kita istirahat sebentar?”

Jangan lupakan Kim Taeyeon yang menjadi perwakilan dari perusahaan Starlight. Tentunya dia sama pusingnya dengan Baekhyun untuk memperbaharui konsep dari atasannya itu.

Taeyeon tersenyum kecil, “Tentu saja.”

Baekhyun pun menjatuhkan punggungnya pada sofa di ruangannya. Pekerjaan ini membuatnya lelah. Di tambah pertengkarannya dengan Minjoo yang belum berakhir dari satu minggu yang lalu semakin memperburuk pikirannya. Ia harus membagi otaknya dalam dua bagian, satu untuk pekerjaannya satu lagi untuk Minjoo-nya. Tapi pun, satu otak saja tidak cukup untuk memikirkan kedua hal itu dalam bersamaan.

“Argh!”

Baekhyun merenguh kesal. Ini semua bisa membuatnya gila.

“Ya!” Oh, Baekhyun melupakan Taeyeon yang sedang bersamanya saat ini. “Kau kenapa, huh?” ujarnya sedikit terkekeh pelan karena melihat tingkah Baekhyun yang kesal seperti tadi.

“Huh? Tidak-tidak..” Baekhyun tersenyum pelan, berusaha meyakinkan Taeyeon. Setelahnya ia menutup matanya dan lalu menengadahkan wajahnya menghadap langit-langit ruangan. “Hanya lelah..”

Taeyeon pun terdiam dan melihat tingkah Baekhyun. Setelahnya Taeyeon pun tersenyum dan lalu menutup semua pekerjaan yang sebelumnya ia dan Baekhyun kerjakan.

“Ayo kita pergi!”

Ajakan Taeyeon itu membuat Baekhyun menaikkan alisnya, “Huh?”

Taeyeon tidak mempedulikan itu dan dia malah bangun dari duduknya serta menarik-narik tangan Baekhyun, “Ayo kita pergi bersenang-senang!”

Perlakuan Taeyeon itu berhasil membuat Baekhyun membuka matanya, “Lalu pekerjaan kita?”

Taeyeon berdecak sebal lalu ia menarik kedua tangan Baekhyun.

“Sudahlah, pokoknya ayo cepat kita pergi!”

.

.

.

“Ya! Benar yang itu! Tangkap, Baek!”

Taeyeon tersenyum cerah disebelah Baekhyun, memperhatikan Baekhyun yang sedang berusaha mengambil boneka bugs bunny dari mesin boneka. Taeyeon mengajaknya ke games center yang berada di mall terdekat kantor Baekhyun, berusaha untuk menghilangkan penat akan pekerjaan mereka.

“Sedikit lagi, Taeyeon-ah..” ucap Baekhyun sambil mengigit bibirnya, berkonsentrasi penuh pada permainannya.

“Sebentar—Ah!!!” Baekhyun dan Taeyeon mengeluh secara bersamaan. Bonekanya jatuh, sebelum pada corong utama dimana boneka itu bisa diambil dibawah mesin permainan. Ya, Baekhyun kalah.

“Kau payah, Baekhyun!” geram Taeyeon pada Baekhyun. Baekhyun tentunya tidak terima Taeyeon meremehkannya seperti itu, “Coba saja sendiri! Ini susah, asal kau tahu!”

Taeyeon pun menyingkirkan Baekhyun dari permainan tersebut, “Jika aku menang, kau akan mentraktirku eskrim, kau berjanji?”

Baekhyun dengan gamblangnya mengatakan, “Coba saja jika kau bisa!”

Taeyeon tersenyum meremehkan pada Baekhyun, “Lihat ini ya, Byun Baekhyun..”

Baekhyun pun terkekeh pelan, meremehkan lebih tepatnya, saat Taeyeon memulai permainannnya.

“Ck. Jangan sombong seperti itu, Kim Taeyeon. Mana mungkin seorang—“

“Aku berhasil!!!”

Baekhyun membulatkan matanya saat suara kemenangan dimerdukan di mesin itu. Taeyeon benar-benar berhasil.

Taeyeon kemudian mengeluarkan boneka itu dari mesin permainan dan menengadahkannya tepat di hadapan Baekhyun.

See?! Kau payah, Byun Baekhyun!” ejeknya.

Baekhyun tersedak oleh perkataan Taeyeon, “Ya! Kau bisa menang karena boneka itu tadi tergeser olehku saat aku memainkan alat itu tadi!”

“Dasar pria payah.. pria payah!” ejeknya lalu menodong Baekhyun pada wajahnya menggunakan boneka tersebut. Baekhyun merenguh saat boneka itu berada di hadapannya, baru saja ia akan memprotes kelakuan Taeyeon, gadis itu telah berlari menjauhinya.

“Pria payah!” ejeknya lagi sambil menarikan boneka itu di hadapannya.

Baekhyun kehabisan kata-katanya melihat tingkah Taeyeon. Saat itu, sesungguhnya Baekhyun menyesali pada apa yang hatinya telah perbuat. Ia menyesali saat hatinya tiba-tiba merasakan kehangatan yang biasanya Minjoo berikan padanya. Baekhyun tahu ia salah, tapi pada waktu itu ia tidak bisa menolak.

Ia pun tersenyum karena tingkah Taeyeon.

“Ya! Jangan kabur, Kim Taeyeon!”

.

.

.

Mereka masih tertawa cukup keras saat ini. Siapalagi kalau bukan Taeyeon dan Baekhyun, yang sedang bermain bersama sebagai sahabat tanpa mereka sadari bahwa orang-orang menganggap mereka seperti sepasang kekasih.

Oh, Baekhyun, kau benar-benar harus menyesali perbuatanmu pada waktu itu.

“Kau payah dalam segala permainan, Baekhyun! Kau tidak bisa mengambil boneka pada mesin boneka itu, kau tidak bisa memenangkan pertandingan basket, kau kalah dalam lomba balapan denganku!” Taeyeon terus mengoceh, menertawai kekalahan Baekhyun dari dua jam waktu mereka bermain di game center sebelumnya. “Dasar Byun Baekhyun si payah!”

Kini, mereka tengah berjalan menyusuri taman yang ada, bermaksud untuk pulang menuju kantor kembali.

“Aku hanya tidak ingin menunjukkan kemampuanku di hadapan orang lain, Taeyeon-ah.” Ucapnya asal. “Kemampuanku terlalu membuat para gadis terpesona.”

Taeyeon membuka mulutnya dan melihat jijik pada Baekhyun, “Dasar pria genit!” ujarnya lalu memukul Baekhyun menggunakan boneka yang ia dapatkan tadi.

“Bercanda-bercanda.” Bela Baekhyun dan menjauhkan pukulan Taeyeon.

Mereka pun terdiam setelahnya, membiarkan sisa-sisa tawa menjadi sebuah senyuman di bibir mereka.

“Ah..” Taeyeon pun kembali membuka suaranya dan itu membuat Baekhyun menolehkan wajahnya pada dirinya.

“Ya?”

“Kalau aku boleh bertanya, kenapa denganmu akhir-akhir ini, Baekhyun?” Taeyeon sedikit berbicara dengan ragu, takut itu masalah privasinya. “Aku rasa kau sedang memiliki masalah..?” tanyanya kemudian.

Baekhyun terdiam. Bingung harus menceritakannya pada Taeyeon atau tidak.

“Ah, kalau ini masalah privasimu dan kau tidak mau menceritakannya, tidak apa-apa, Baek.” Taeyeon meralat perkataannya, merasa tidak enak karena Baekhyun langsung terdiam. “Maaf jika itu menyinggungmu..”

Baekhyun tersenyum, “Tidak perlu minta maaf, Taeyeon.” Dia menjeda perkataannya untuk berpikir sebentar, memutuskan untuk bercerita pada Taeyeon atau tidak. “Tapi ya.. seperti yang kau katakan, ini masalah pribadiku jadi belum saatnya aku menceritakannya padamu.” Baekhyun memutuskan untuk diam dan tidak memberitahu Taeyeon tentang permasalahannya dengan Minjoo. Tidak tahu kenapa ia memilih keputusan itu, namun yang jelas itu adalah keputusan yang salah saat ia tidak menceritakan tentang Minjoo pada Taeyeon.

“Ah..” Taeyeon mengangguk-angguk, “Baiklah jika itu masalah pribadimu..” Taeyeon kini kembali terdiam. “Ditambah juga dengan pekerjaan ini, aku benar bukan?” tambahnya lagi.

“Apakah aku sejelas itu?” ucap Baekhyun sambil terkekeh pelan pada pertanyaan Taeyeon dan Taeyeon juga ikut terkekeh pelan.

“Aku juga merasakannya, Baekhyun. Aku pun lelah dengan pekerjaan itu.” Taeyeon mengubah ekspresinya menjadi sedikit kecewa, “Aku bingung dengan atasanku sendiri. Awalnya, Tuan Kwon bilang bahwa konsep darimu itu sudah sangat bagus. Tapi kenapa tiba-tiba dia memintaku untuk mengubahnya lagi sesuai dengan yang dia inginkan.”

Baekhyun pun tertawa pelan mendengar keluhan Taeyeon, “Mungkin dia baru saja menemui ide terbarunya agar proyek kita ini bisa menembus pasar dengan harga yang tinggi, Kim Taeyeon.” Baekhyun menjeda perkataannya lalu melanjutkan kembali, “Ada baiknya juga, bukan, jika benar seperti itu?”

Taeyeon tampak menyipitkan matanya lalu mengangguk-angguk setuju, “Benar juga.” Kemudian ia tersenyum pada Baekhyun, “Ya sudahlah, Baekhyun. Lagipula kita bekerja sama juga, jadi aku pasti akan sangat membantumu dalam membuat proyek ini, hm? Tidak usah diambil terlalu banyak beban pada pekerjaan ini, ok?”

“Haha, tentu saja. Kita bekerja sama dalam pembuatan proyek ini.”

“Selain itu, jika kau membutuhkan bantuanku untuk masalah pribadimu itu, kau bilang saja.. aku pasti akan membantumu.”

Baekhyun begitu terenyuh oleh perkataan Taeyeon. Saat itu, Baekhyun tidak sadar bahwa sesungguhnya ia sedikit mulai menganggumi sosok Taeyeon karena, yang tanpa ia sadari juga, sosok Taeyeon begitu menggambarkan Minjoo pada dirinya. Penuh perhatian dan selalu disampingnya. Senyumnya dan tawanya.

Harusnya dia ingat bahwa hanya ada satu Minjoo di dunia ini dan tidak ada lagi yang menyerupai Minjoo. Harusnya, Baekhyun ingat bahwa Minjoo akan selalu ada di hatinya dan gadis di luar sana hanya menjadi bayang-bayang dari Minjoo-nya. Satu hal yang selalu harus Baekhyun ingat.

“Baiklah, terima kasih.”

🌾 🍁 🍂 🍀  🌿 🌼 🌼 🌼 🌼 🌿  🍀 🍂 🍁 🌾

The Day

🌾 🍁 🍂 🍀  🌿 🌼 🌼 🌼 🌼 🌿 🍀 🍂 🍁 🌾

Minjoo mencoba sekuat mungkin untuk tetap tersenyum di hadapan pelanggannya, meskipun hatinya berteriak lain dari senyuman itu.

“Bagaimana dengan pilihan bunga saya yang terakhir kali, Tuan Yoo?” tanyanya pada Tuan Yoo yang lagi-lagi memesan bunga untuk kekasihnya. Kali ini karena kekasihnya akan berulang tahun dan lagi-lagi Tuan Yoo mempercayakan pemilihan bunga pada Han Minjoo.

“Dia sangat menyukainya! Dia juga mengetahui apa arti dari mawar biru, seperti katamu waktu itu, nona Han.” Ujarnya tersenyum cerah mengingat kekasihnya yang begitu bahagia pada hari jadi ke-100 mereka waktu silam.

“Haha, tentu saja dia mengetahuinya.” Minjoo terkekeh pelan, “Biasanya, perempuan itu banyak mengetahui arti dari mawar, Tuan Yoo.”

Tuan Yoo mengangguk-angguk setuju, “Kali ini, aku memesan mawar merah saja ya nona Han. Kekasihku sudah memintanya dari awal karena dia sedang suka warna merah sekarang..”

“Tentu saja.”

“Omong-omong…” Tuan Yoo tampak sedikit menyipitkan matanya pada Minjoo, melihat sesuatu yang mengganjal pada Minjoo. “Nona Han sedang sakit? Kenapa kau terlihat pucat sekali?”

Minjoo menggeleng-geleng kepalanya, menolak perkataan Tuan Yoo walaupun dia berbohong. “Tidak, aku tidak sakit.” Minjoo kemudian membasahi bibirnya yang tampak kering, mungkin itu terlihat sedikit memutih bagi Tuan Yoo makanya dia menebak Minjoo sakit. “Aku baik-baik saja.”

Bagaimana tidak pucat? Minjoo membiarkan dirinya terbangun selama dua minggu semenjak pertengkarannya dengan Baekhyun. Baekhyun tidak pernah pulang lagi semenjak yang terakhir itu, saat pertengkaran mereka. Yang Minjoo tahu, saat dia menghubungi Chanyeol sekitar satu minggu yang lalu, Chanyeol memang bilang bahwa pekerjaan di kantor mereka belum selesai dan Baekhyun memang selalu lembur di kantornya.

Minjoo sangat mengkhawatirkan keadaan Baekhyun, demi dewa apapun. Itulah alasannya kenapa ia selalu terbangun saat ia mencoba untuk tidur, ia memikirkan Baekhyun yang mungkin belum bisa tidur, yang mungkin belum makan, yang mungkin harus menyelesaikan pekerjaannya sampai subuh datang. Mungkin Minjoo tidak bisa tidur juga karena ia memikirkan pertengkaran mereka yang tidak kunjung selesai. Minjoo mengkhawatirkan jika pertengkaran ini berlanjut lebih lama lagi dan Baekhyun akan terus menjauhinya dalam waktu yang lama.

“Kau dengar perkataan itu, Han Minjoo?”

Suara Sehun menginterupsi telinga Minjoo saat Tuan Yoo pamit untuk membayar pesanannya.

“Bukan hanya aku yang bilang, tapi pelangganmu sendiri yang bilang bahwa kau sakit, Han Minjoo.”

“Dia tidak bilang aku sakit, dia bilang aku tampak—“

“Tampak sakit dan sakit itu sama saja, Han Minjoo!” Sehun sedikit menaikkan suaranya. Demi Tuhan, Sehun benar-benar mengkhawatirkan kondisi Minjoo. Minjoo dengan wajah seperti itu telah terjadi dari 3 hari yang lalu. Sehun sudah berapa kali mencoba untuk mengajak Minjoo pergi ke rumah sakit agar setidaknya Minjoo bisa mendapatkan obat disana.

Tapi Minjoo menolaknya dan membiarkan dirinya mengonsumsi obat-obat warung.

“Aku baik-baik saja, Sehun-ah.” Minjoo mencoba tersenyum, meyakinkan bahwa dirinya baik-baik saja padahal tidak sama sekali. “Aku mungkin lelah saja, Oh Sehun.”

“Oh astaga, Han Minjoo!” Sehun pun frustasi. Dia bingung harus membujuk Minjoo sampai bagaimana lagi agar Minjoo mau menuruti perkataannya. “Kau sakit, Han Minjoo! Kau sakit! Kau bilang kau mengkhawatirkan Baekhyun tapi apakah kau tidak lihat kondisimu sendiri sekarang, huh? Kau seharusnya yang lebih pertama dikhawatirkan kondisinya dibanding pria itu!” Sehun sedikit meninggikan suaranya dan itu membuat beberapa pelanggan melihat mereka dengan tatapan aneh.

“Oh Sehun, kumohon kecilkan sedikit suaramu..” Minjoo menarik nafasnya dalam-dalam, “Sudahlah, Sehun-ah.. saat aku bilang aku baik-baik saja, aku benar-benar baik. Aku tidak berbohong.”

“Eonnie..”

Yeri menghampiri mereka berdua karena Yeri mendengar suara Sehun yang sedikit menaik tadi.

“Apa yang dikatakan Sehun Oppa benar.. Eonnie sakit dan eonnie harus ke rumah sakit.”

Minjoo melihat ke arah Yeri dengan perasaan bersalahnya. Mungkin bersalah karena membuat Yeri khawatir padanya karena bagaimanapun juga Yeri sudah ia anggap seperti adik sendiri.

“Eonnie.. mau ya ke rumah sakit? Setidaknya eonnie disana bisa mendapatkan infusan untuk mengisi kekurangan nutrisi eonnie atau mungkin bisa mendapatkan obat-obat yang sesuai dengan kebutuhan Eonnie..”

Minjoo pun terdiam dan ia melihat ke arah Sehun.

“Dengar? Bukan hanya aku atau pelangganmu. Kim Yeri juga telah menjelaskannya bahwa kau sakit, Han Minjoo.” Ujar Sehun.

Minjoo pun menyerah dan ia menyerosotkan bahunya. Sebenarnya, ia paling benci dengan rumah sakit.

“Baiklah, aku mau untuk dibawa ke rumah sakit.”

.

.

.

“Kau hanya perlu banyak istirahat, nona Han.”

Mereka, Han Minjoo dan Kim Yeri, berjalan keluar dari sebuah ruangan dokter dengan nama yang terpatri dipintu ruangan ‘Kang Mo Yeon.’

“Aku akan memberikan beberapa obat agar itu bisa membantumu untuk tidur, selebihnya benar-benar kau harus yang memaksa dirimu untuk istirahat.” Dokter Kang tersenyum sambil menggerakan jemari telunjuknya ke kanan dan ke kiri. “Jangan terlalu memikirkan yang tidak-tidak. Itu hanya membuat dirimu stress.”

Setelah mereka berada diluar ruangan, Sehun yang menunggu diluar pun langsung menghampiri mereka. Membuat Dokter Kang menolehkan wajahnya dan tersenyum pada Sehun.

“Kau suaminya? Jaga dia baik-baik, kalau kalian sedang bertengkar jangan sampai membuatnya stress sendirian.” Dokter Kang mengangkat tangannya dan mengusap bahu Minjoo pelan, “Kasihan dia, istrimu sekarang sedang menghadapi stress berlebih.”

Tentu saja Minjoo dibuat kikuk dengan perkataan Dokter Kang, “A-ah.. dia bukan suamiku, Dokter.” Minjoo meralat perkataan Dokter Kang dan Sehun hanya terdiam mendengarnya.

“Ah maaf.. kukira kau suaminya..” Dokter Kang tersenyum meminta maaf.

“Ya sudah, kalau begitu aku tinggal ya? Jaga kondisimu selalu, nona Han Minjoo.” Ucapnya lalu ia berjalan kembali masuk ke dalam ruangannya.

“Benar kataku, bukan? Kau sakit, Minjoo-ya.” Sehun langsung menyerocos tepat saat dokter Kang menutup pintu ruangannya. “Dia membuatmu terluka, Minjoo.”

Minjoo tahu siapa yang Sehun sebut dengan Dia. “Sudahlah, Sehun. Jangan berlebihan, Baekhyun tidak menyakitiku. Ini semua karena aku sendiri, aku yang memaksa diriku untuk tidak tidur dan tidak makan. Tidak ada sangkut pautnya dengan Baekhyun.”

“Ck.” Sehun berdecak kesal pada penuturan alasan Minjoo, “Kau tidak tidur dan tidak makan karena memikirkannya, Han Minjoo. Jika dia bisa sekali saja melihatmu.. bertemu dengan dirimu, kau pasti tidak akan memikirkannya selama 24 jam setiap hari.” Sehun kesal sungguh. Minjoo selalu membela Baekhyun di hadapannya. Bukannya dia cemburu, tapi Sehun tidak suka saat Minjoo membela Baekhyun yang jelas-jelas secara tidak langsung dan langsung juga menyakiti Minjoo. “Aku akan menghubunginya, aku akan mengatakan bahwa kau sakit—“

“Jangan!” Minjoo membentak Sehun cukup keras hingga membuat beberapa pengunjung melihati mereka. “Jangan bilang padanya bahwa aku sedang sakit, Oh Sehun.”

“Lalu kau hanya membiarkan dirimu sendiri terluka, begitu!? Kau membiarkannya disana, mungkin senang-senang, tanpa tahu kau terluka, begitu!? Kau membiarkannya lari dari tanggung jawabnya sebagai suamimu, iya Han Minjoo!?”

Minjoo terdiam, menunduk dengan mata yang panas saat Sehun memarahinya sepeti itu. Tidak, ia tidak menangis karena Sehun memarahinya. Minjoo takut.. saat semua perkataan Sehun itu menjadi sebuah kenyataan bagi Minjoo.

“Kau mengkhawatirkan kondisinya disana tapi orang yang seharusnya dikhawatirkan adalah dirimu sendiri, Han Minjoo.” Sehun mulai menurunkan volume suaranya karena Sehun tahu bahwa Minjoo sedang menangis di hadapannya. “Tidak selamanya harus selalu kau yang mengalah, Han Minjoo. Baekhyun juga harus mengerti dirimu.”

“Pokoknya jangan mengatakan apapun tentang kondisiku.” Minjoo menarik nafas dalam-dalam untuk menahan tangisnya. “Jika kau memang masih menganggapku temanmu, jangan katakan sepatah kata apapun pada Baekhyun.”

Minjoo pun memutar tubuhnya, disusul Yeri yang berjalan di belakangnya mengikutinya. Meninggalkan Sehun yang memijat kepalanya karena emosi mendengar titahan Minjoo.

“Eonnie.. perkataan Sehun Oppa ada benarnya..” Yeri mencoba menginterupsi Minjoo sesaat dia mereka telah berada di ruang tunggu administrasi.

“Kita harus memberitahu Baekhyun Oppa bahwa Eonnie sakit.” Yeri berusaha berbicara selembut mungkin karena ia mengerti hati Minjoo yang sedang tersakiti. “Tidak bisa selamanya harus eonnie yang mengalah..”

Minjoo pun menyerah. Ia memutar tubuhnya dan menangis sambil memeluk Yeri.

“Yeri-ya.. aku benar-benar takut..” Minjoo menggenggam erat bahu Yeri dan menangis terisak disana. “Aku takut.. Yeri-ya..”

Yeri pun terdiam dan membiarkan Minjoo membasahi bajunya. Yeri tahu, hanya itu yang bisa setidaknya membuat Minjoo tenang dan walaupun tidak banyak, bisa setidaknya satu persen saja mengurangi beban pikiran Minjoo.

Baekhyun-ah.. kau benar-benar sedang bekerja disana bukan? Kau… tidak melupakanku bukan, Baekhyun-ah?

.

.

.

Sehun menghentikan mobilnya tepat di rumah Minjoo. Mereka terdiam cukup lama, terlebih Minjoo yang beradu dengan otaknya memikirkan Baekhyun kembali.

“Aku minta maaf.”

Sehun berbicara, menginterupsi Minjoo.

“Aku minta maaf karena memarahimu seperti tadi. Tidak seharusnya aku berbicara seperti itu padamu.”

Perkataan Sehun itu membuat Minjoo menolehkan kepalanya pada pria itu. “Tidak, kau tidak perlu minta maaf.” Minjoo tahu, Sehun berbicara seperti itu karena Sehun mengkhawatirkannya. Bagaimana tidak khawatir saat melihat Minjoo seperti mayat hidup berkeliaran di toko bunga dan Sehun menyaksikan itu setiap hari. Sehun berbicara seperti itu karena ia peduli pada Minjoo. Sehun ingin Minjoo tidak terluka.

“Aku tahu kau berbicara seperti itu untuk kebaikanku dan aku mau mengucapkan terima kasih.” Minjoo tersenyum pada Sehun, senyuman tulus ucapan terima kasihnya pada Sehun. “Terima kasih karena telah peduli padaku.”

Sehun terkekeh pelan dan dia pun membalas senyuman Minjoo, “Bukan masalah.”

Detik kemudiannya, Sehun pun keluar dari mobil dan begitu pula juga dengan Minjoo.

“Kalau aku lihat..” Sehun memerhatikan rumah Minjoo yang tampak sedikit gelap. “Sepertinya Baekhyun tidak pulang lagi, apa aku benar?”

Minjoo tersenyum kecut dan mengiyakan pertanyaan Sehun, “Sepertinya begitu.” Minjoo tertawa pelan di atas hatinya yang berdenyut kembali karena Baekhyun. “Aku selalu sendiri akhir-akhir ini, Sehun-ah.”

“Tidak usah sedih seperti itu..” Sehun mencoba untuk menghibur Minjoo dengan bercandaannya, “Minjoo yang kukenal dahulu kan berani, tidak takut hantu.”

“Bukan hantu yang kutakutkan, Oh Sehun!”

Sehun terkekeh pelan, “Kau tidak sendirian, Han Minjoo.” Sehun kemudian mengangkat tangannya, mencapai puncak kepala Minjoo dan mengacak-acak rambut Minjoo. “Kan ada aku yang menemanimu.”

Minjoo tahu ia salah pada waktu itu. Tak seharusnya ia membuat Sehun melakukan hal itu padanya.

Baru saja Minjoo hendak menggeser tangan Sehun dari kepalanya, Minjoo mendengar sebuah suara yang membuat jantungnya mati seketika.

“Han Minjoo.”

Demi Tuhan, waktu itu tubuh Minjoo benar-benar bergemetar. Seperti gempa bumi telah terjadi di bawah kakinya.

Minjoo dan Sehun pun langsung melihat ke arah sumber suara yang memanggil Minjoo.

Baekhyun ada disana. Di depan pintu rumahnya dengan mata yang begitu tajam. Malamnya gelap pun tidak menjadi penghalang untuk penglihatan Minjoo karena Minjoo bisa melihat wajah Baekhyun yang begitu merah. Jelas sekali, dia marah besar.

“B-baek..”

Baekhyun tidak mempedulikan Minjoo yang memanggilnya. Yang Minjoo ingat adalah Baekhyun berjalan sangat cepat, menghampiri keberadaannya, dan seperti angin lalu, tangan Baekhyun yang mengepal jatuh ke wajah Sehun.

“Untuk apa kau datang kembali, huh?!” Baekhyun berteriak memaki Sehun yang tersungkur jatuh di atas tanah, “Kau mau menghancurkan hubunganku kembali, huh?!”

Sumpah, tidak ada hal yang paling menakutkan melihat Baekhyun marah. Dan itu membuat tangan Minjoo bergetar untuk menahannya.

“B-baek.. kumohon berhen—“

“Diam disitu, urusanku dengan urusanmu nanti!” Baekhyun—lagi—membentak Minjoo. Ya, Tuhan.. Minjoo bisa lihat jika urat nadi Baekhyun begitu kentara di kulitnya. Baekhyun benar-benar marah besar.

“Baekhyun-ah..” Minjoo menangis, memohon agar Baekhyun mau mendengarkannya sambil menahan tangan pria itu. “Berhenti, jangan pukuli Sehun. Kita urusi saja semuanya di dalam—“

“Kau membelanya?!” Baekhyun lagi-lagi berteriak pada Minjoo hingga gadis itu merundukkan kepalanya, “Kau membelanya dihadapanku, Han Minjoo!?”

“Ya!” Sehun juga tersulut emosinya melihat Baekhyun memarahi Minjoo sekencang itu. “Jaga nada bicaramu, Baekhyun! Dia itu istrimu!”

“Kau…” Baekhyun menghajar kembali Sehun tepat di wajahnya, “Tidak usah mencampuri urusanku dengannya, brengsek!”

“Baekhyun-ah!!”

Sumpah, Minjoo benar-benar melihat wujud monster saat melihat Baekhyun marah seperti itu.

“Kau ingin aku tidak memukulinya kan?!” Baekhyun kemudian menggenggan tangan Minjoo begitu keras dan itu sangat menyakiti Minjoo. “Ikut aku ke dalam, sekarang!!”

Entah seberapa banyak air mata Minjoo yang sudah ia keluarkan saat itu. Entah seberapa takutnya ia saat Baekhyun menariknya ke dalam rumah, menyeretnya dengan kasar. Minjoo hanya menyerah, membiarkan Baekhyun membawanya ke dalam rumah dan Minjoo tahu, keadaan setelah ini akan lebih parah dari yang Baekhyun lakukan pada Sehun.

Sehun berteriak memanggil Minjoo, mencoba untuk menyelamatkan Minjoo dari amukan Baekhyun. Tapi, Minjoo menahannya dan menyuruhnya untuk pulang saja.

“Aku akan baik-baik saja, Sehun-ah” ucapnya tanpa suara pada Sehun lalu benar-benar membiarkan Baekhyun membawanya ke dalam rumah.

“Kenapa kau menemuinya kembali, Han Minjoo!!”

Baekhyun menyeretnya dan sedikit mendorongnya untuk masuk ke dalam kamar. Demi Tuhan, Minjoo benar-benar takut saat itu.

“Kau benar-benar tidak menganggapku sebagai suamimu kembali, huh!?”

“Baekhyun-ah.. kumohon kali ini dengar penjelasanku dengan benar—“

“Dua kali.. dua kali kau menemuinya.” Baekhyun memotong perkataan Minjoo dan tersenyum kecut pada gadis itu. “Itu berarti ada sesuatu di antara kau dengannya, Minjoo.” Baekhyun membuat konklusinya sendiri lagi tanpa mau mendengar Minjoo.

“Baekhyun-ah..”

“Sekarang jawab pertanyaanku..” Baekhyun mengubah raut wajahnya, menatap Minjoo dengan tajam dan rasanya itu benar-benar menusuk jantung Minjoo. “Apa kau masih mencintaiku?! Apa kau masih menganggapku sebagai suamimu!?”

Demi Tuhan, pertanyaan Baekhyun benar-benar membuat jantungnya jatuh ke dasar. Apakah Baekhyun semeragukan itu pada cinta Minjoo yang bahkan Minjoo pun berani mengorbankan apa saja demi Baekhyun? Tidak pernah Minjoo terpikirkan olehnya untuk bahkan melepas cincin pernikahan mereka di jemari manisnya. Karena apa? Karena ia menghargai Baekhyun sebagai suaminya, karena ia ingin memberitahu kepada dunia bahwa ia sudah menjadi milik Baekhyun. Karena ia mencintai Baekhyun sepenuh hatinya.

“Tentu saja aku mencintaimu, Baekhyun.” Minjoo menangis dan entah itu sudah ke berapa kalinya, “Demi Tuhan, Baekhyun-ah.. tidak pernah terpikir olehku bahwa aku akan berhenti untuk mencintaimu.”

“Lalu kenapa kau mengulangi kesalahan yang sama, Han Minjoo!!” Baekhyun kembali berteriak dan itu membuat Minjoo kembali menundukkan kepalanya dan terisak disana. “Jika benar kau menghargaiku sebagai suamimu, kau harusnya mendengarkan perkataanku!! Kau seharusnya menjauhi Sehun dan tidak pernah menemui pria itu kembali!!!!”

Baekhyun, berhentilah. Kau benar-benar harus menahan emosimu. Kau melupakan Minjoo yang statusnya sebagai istrimu. Kau melupakan bahwa Minjoo adalah gadis pujaanmu dari 6 tahun yang lalu. Kau melupakan Minjoo dari hatimu, Baekhyun.

Baekhyun memutar tubuhnya dalam satu detik, bermaksud untuk pergi meninggalkan Minjoo. Tapi Minjoo tidak bisa melepasnya, Baekhyun tidak boleh pergi lagi dengan pertengkaran mereka yang semakin parah.

“Jangan pergi!” Minjoo memohon sambil menarik tangan Baekhyun. “Jangan pergi, Baekhyun-ah.. kumohon, kita selesaikan semuanya saat ini juga.”

“Selesaikan apa, Minjoo?!” Baekhyun melepas tangan Minjoo dengan kasar. “Kau.. kau yang harus menyelesaikan urusanmu dengan Oh Sehun.”

“Baek..”

“Dan satu hal yang aku ingin beritahu padamu.” Baekhyun tidak berani menatap Minjoo karena perkataan itu benar-benar setan yang menyuruhnya.

“Jangan temui aku dahulu sampai aku benar-benar bisa memaafkanmu, Han Minjoo.”

Baekhyun berjalan keluar dari kamar mereka. Meninggalkan Minjoo yang terdiam, tercengang dan tertusuk oleh perkataan Baekhyun.

Kakinya lumpuh, saat itu yang Minjoo rasakan tubuhnya langsung ambruk ke atas lantai dan dia menatap tubuh Baekhyun yang perlahan demi perlahan hilang di balik pintu dan di anak tangga.

“B-baek..” Air matanya turun dan detik selanjutnya, Minjoo benar-benar menangis terisak disana.

Baekhyun-ah.. kenapa kau seperti ini? Apakah pertanyaan yang kau maksudkan itu untuk padamu sendiri? Apa kau masih menganggapku istriku?

Apa kau.. masih mencintaiku?

🌾 🍁 🍂 🍀  🌿 🌼 🌼 🌼 🌼 🌿  🍀 🍂 🍁 🌾

The Day

🌾 🍁 🍂 🍀  🌿 🌼 🌼 🌼 🌼 🌿 🍀 🍂 🍁 🌾

Baekhyun membuka kancing teratas kemejanya dengan kasar lalu keluar dari luar ruangan. Dengan muka yang begitu merah ia pun berjalan menjauh dari ruang rapat itu.

“Baekhyun-ah!” Chanyeol pun ikut keluar dari ruang rapat itu dan memanggil Baekhyun. “Baekhyun! Tunggu sebentar!”

“Apa, Chanyeol!?” Baekhyun menatap Chanyeol dengan garang. “Kau mau menyuruhku untuk meminta maaf pada Tuan Kim dan Tuan Kwon, iya!?”

Tadi, Baekhyun baru saja mengeluarkan emosinya karena merasa tidak terima saat Tuan Kim dan Tuan Kwon merubah rencana dari proyek yang akan mereka buat. Proyek apartemen itu sudah hampir 80 persen jadi, seperti yang sebelumnya Tuan Kim dan Tuan Kwon minta pada dirinya—juga Taeyeon—untuk dikerjakan. Tapi, baru saja tadi mereka meminta untuk mengubah ulang proyek mereka karena menurut mereka tidak sesuai dengan apa yang mereka inginkan.

“Ya.. tenangkan dirimulah..” Chanyeol pun menepuk-nepuk pundak Baekhyun. “Kau butuh sesuatu yang menyegarkan, Baek.”

.

.

.

Chanyeol mendorong pintu ruangan Baekhyun menggunakan pinggulnya. Tangannya ia gunakan untuk memegang soda kaleng yang ia dapatkan di mart terdekat kantor mereka.

Baekhyun duduk persis di kursinya. Menumpu kepalanya dengan kedua tangannya sambil sesekali berdecak kesal dan mengacak rambutnya kasar.

“Ini.” Chanyeol menaruh soda kaleng itu tepat dibawah wajah Baekhyun. Mungkin hawa dinginnya bisa mendinginkan pria itu. “Minumlah dan dinginkan dulu wajahmu yang memerah itu!”

Baekhyun tidak membalas perkataan Chanyeol namun dia mengikuti perkataan Chanyeol. Ia mengambil soda kaleng itu dan langsung meneguknya dengan cepat. Tak peduli bahwa soda itu menyakiti tenggorokannya.

“Mereka itu bodoh atau apa, huh!? Proyek ini sudah 80 persen jadi. Investor juga sudah banyak yang mau untuk menaruh sahamnya di proyek ini tapi apa!?” Baekhyun meninggikan suaranya lagi walaupun itu tidak setinggi saat ia memarahi Minjoo tempo lalu. “Mereka tidak menghargai pekerjaanku! Aku sudah mengerjakan ini selama hampir 2 bulan dan mereka seenaknya memintaku untuk mengganti konsepnya!? Demi Tuhan, Park Chan, aku ingin membunuh mereka!”

“Hey, tenanglah..” Chanyeol berusaha meredam emosi Baekhyun. “Mungkin maksud mereka ada baiknya, Baek—“

“Baik!? Mereka jelas-jelas ingin menjatuhkanku, Park Chanyeol!”

Chanyeol terdiam melihat Baekhyun yang membentaknya. Ini bukan seperti Baekhyun yang dikenalnya.

“Kau.. sedang ada masalah dengan Minjoo, Byun Baekhyun?” tanyanya langsung to the point. “Kau tidak pernah membentakku seperti itu jika kau tidak ada masalah dengan Minjoo, biasanya..”

Baekhyun pun terdiam dan termenung oleh perkataan Chanyeol.

Hari-hari terasa lebih berat bagi Baekhyun setelah malam itu. Tubuhnya seperti setiap hari di terjang oleh angin puting beliung. Darahnya seperti tersendat setiap kali mengalir di nadinya. Kepalanya pecah, seratus persen pecah dan berserakan di dalam tengkoraknya.

Benar seperti perkataan Chanyeol, emosi Baekhyun selalu meluap-luap beberapa minggu ini akibat pertengkarannya dengan Minjoo yang tak kunjung usai.

Bayang-bayang dimana Minjoo menangis di hadapannya, memohon di hadapannya benar-benar seperti hantu bagi Baekhyun. Membuatnya takut dan menyakitinya.

Baekhyun tahu.. ia salah. Tak seharusnya Baekhyun membentak Minjoo. Memaki Minjoo. Dan bahkan yang paling parah adalah saat Baekhyun menyeret Minjoo ke kamar mereka. Sumpah, Baekhyun bergidik ngeri mengingat perlakuannya pada Minjoo saat itu karena ia benar-benar seperti monster yang hendak memakan mangsanya kapan saja.

“Maafkan aku, Chanyeol-ah.” Baekhyun mengusap wajahnya dengan kasar. “Ya, aku sedang bertengkar dengan Minjoo.”

“Aku bisa menebaknya, Baek..” Chanyeol memerhatikan Baekhyun dengan menyelidik, “Beberapa hari ini aku lihat kau sering marah pada sekretarismu. Seperti di ruang rapat tadi, kau cepat sekali tersulut karena perkataan Tuan Kim dan Tuan Kwon.”

“Kau tidak biasanya cepat marah seperti itu jika kau sedang tidak memiliki masalah dengan Minjoo, Byun Baekhyun.”

Baekhyun lagi-lagi harus mengiyakan perkataan Chanyeol. Rasanya setiap hari yang ingin ia lakukan hanyalah marah, marah dan marah pada siapapun. Entah pada dirinya sendiri atau orang lain.

“Aku mungkin tidak ingin terlalu mencampuri urusan kalian tapi menurutku.. jangan kau campuri urusan pribadimu dengan pekerjaan, Baekhyun. Kau harus professional, kau harus membedakan dimana kau marah karena pekerjaan yang salah dan kau marah karena pertengkaranmu dengan Minjoo.”

“Iya, aku tahu.. Chanyeol.”

“Ya sudah, aku berharap kau dan Minjoo cepat berbaikan. Bukankah satu minggu yang lalu kau pulang? Kau bertengkar pada saat itu?”

Baekhyun mengeluh kesal, dia tidak mau mengingat malam itu lagi.

“Sudahlah, Chanyeol. Aku tidak mau membahas itu kembali.” Baekhyun menumpu kembali kepalanya dengan kedua tangannya, “Kau keluarlah dulu, Chanyeol. Aku ingin menenangkan diriku sejenak.” Sambil memikir ulang semuanya kembali, Baekhyun menambahkan, “Omong-omong, terima kasih sudah mengingatkanku.”

“Bukan masalah, Baek. Baiklah aku akan pergi dan membiarkanmu menenangkan pikiranmu dahulu baru setelahnya kita akan membicarakan mengenai permasalah proyek tadi. Ok?”

Baekhyun tidak menjawab perkataan Chanyeol dan itu membuat Chanyeol tersenyum pelan sambil menggeleng-gelengkan kepalanya lalu beranjak keluar dari ruangan Baekhyun.

Setelah Chanyeol pergi, ruangan begitu sunyi. Pikiran Baekhyun terbuka kembali pada hari-hari dimana sebelum pertengkarannya dengan Minjoo. Dimana mereka masih bisa tersenyum cerah, dimana Baekhyun bisa memeluk Minjoo kapan saja. Dimana Baekhyun bisa bersama Minjoo kapan saja.

Ini semua membuatnya gila. Baekhyun merindukan sosok Minjoo. Tapi, pertengkaran malam itu membuatnya menjauh dari Minjoo.

“Argh!”

Baekhyun mengangkat kepalanya dan saat ia mengangkat kepalanya, ia tiba-tiba meluncurkan air matanya disana.

Tepat saat ia melihat foto Minjoo yang ia bingkai di ujung mejanya.

Minjoo-ya.. aku menyakitimu tapi aku merindukanmu.

.

.

.

Hari ini Baekhyun ada janji bersama Taeyeon untuk melihat tempat dimana proyek apartemen mereka ini akan dibuat.

Pada akhirnya, Tuan Kim dan Tuan Kwon tidak jadi menyuruh Baekhyun untuk mengonsep ulang proyek apartemen mereka. Mereka bilang, konsepnya sudah mendekati sempurna dan perhitungan mereka mengenai penambahan pada konsepnya itu salah.

“Terima kasih, Taeyeon-ah.” Baekhyun tersenyum pada Taeyeon yang berdiri di sampingnya.

“Terima kasih untuk apa, Baek?”

“Terima kasih karena telah meyakinkan Tuan Kim dan Tuan Kwon mengenai konsep proyekku.” Baekhyun tersenyum lebih cerah lagi, “Jika bukan karena kau, mungkin aku akan bekerja dalam bawah tekanan selama berbulan-bulan kembali.”

Itu semua pun karena Kim Taeyeon yang meyakinkan Tuan Kim dan Tuan Kwon mengenai proyek mereka. Taeyeon benar-benar gadis yang pintar, dia bisa menjelaskan sedetail mungkin tentang proyek ini dan sebanyak apa keuntungannya hingga Tuan Kim dan Tuan Kwon menyadari kesalahan perhitungannya.

“Haha. Bukan hanya kau yang harus bekerja, Baek.” Taeyeon menyenggol lengan Baekhyun, “Tapi aku juga. Jangan lupa kalau proyek itu tanggung jawab kita.”

“Ah, benar.” Baekhyun terkekeh pelan, “Aku melupakanmu.”

“Ya!” Taeyeon memukul lengan Baekhyun dengan gemas, “Kau jahat, Byun Baekhyun! Kau bilang kita teman!”

“Bercanda-bercanda..”

.

.

.

Malam itu, Polar Corporation dan Starlight mengadakan acara makan malam sebagai wujud perayaan fiksasinya tempat dimana Proyek Apartemen mereka. Tidak semua di undang sih, hanya setiap kepala divisi dari tim proyek tersebut seperti Baekhyun, Chanyeol dan tentunya Taeyeon sendiri.

“Baekhyun-ah, kami meminta maaf karena waktu itu kami dengan seenaknya memintamu untuk membuat perubahan konsep, hm?” Tuan Kim menuturkan lalu kemudian Tuan Kwon menambahkan.

“Ya, kami meminta maaf karena waktu itu kami salah memperhitungkan strategi pemasaran kami. Pantas saja kau begitu kesal saat itu.”

Baekhyun tersenyum, “Tidak apa-apa, Tuan Kim dan Tuan Kwon. Malah justru harusnya saya yang menyesal karena telah berbicara pada anda sekeras itu pada saat itu.”

Baekhyun menundukan kepalanya, simbolisasi dari permintaan maafnya.

“Maaf Tuan Kim dan Tuan Kwon.”

Mereka tersenyum lalu mengangguk-angguk mengiyakan.

“Ah iya, omong-omong kau hebat sekali Tuan Kwon, mempunyai wanita pintar dan berbakat seperti Kim Taeyeon.” Puji Tuan Kim dan itu membuat Taeyeon tersipu malu.

“Tuan Kim.. jangan memujiku seperti itu. Aku tidak seperti yang Tuan Kim bicarakan.” Ucap gadis itu.

“Haha, kau juga mempunyai pria pintar dan berbakat seperti Baekhyun.” Tuan Kwon tersenyum pada Baekhyun. “Dia benar-benar favoritku.”

“Haha.. Tuan Kwon jangan seperti itu. Aku kan kemarin ini sedikit membentakmu..” dan jawaban Baekhyun itu membuat semua yang berada di meja meka bergelak tawa.

“Omong-omong.. bagaimana denganku, Tuan Kwon?” Chanyeol membenarkan jasnya, “Apa aku juga menjadi salah satu favoritmu?” candanya.

“Aish, Park Chanyeol!” Baekhyun merangkul Chanyeol di sikutnya, “Jaga bicaramu, jangan mempermalukanku!”

“Ya, Baekhyun-ah! Aku juga ingin menjadi salah satu favoritnya dari Tuan Kwon!”

Dan pertengkaran itu pun menjadi gelak tawa di meja mereka. Bagi Baekhyun, setidaknya malam itu sedikit mengurangi sakit di kepalanya karena Minjoo.

.

.

.

Cuaca malam itu cukup dingin, tapi itu tak membuat Baekhyun dan Taeyeon berhenti berjalan menyusuri taman dengan senyuman merekah mereka. Setelah makan malam tadi, Baekhyun, Taeyeon dan Chanyeol memutuskan untuk jalan-jalan di sekitar taman. Makan tteokbokki jalanan, meminum soda kaleng dan mereka bercanda bersama. Memang, dibandingkan karyawan yang lain, hanya mereka bertiga yang dekat saat Polar Corporation dan Starlight menjalan kerja sama. Namun, baru beberapa waktu yang lalu Chanyeol di telpon oleh kekasihnya—Kim Yejin—untuk menjemputnya dan meninggalkan mereka berdua menyusuri taman itu.

Baekhyun dan Chanyeol adalah dua pria yang menyenangkan menurut Taeyeon. Mereka berdua adalah si duo happy virus, selalu bisa menghidupkan suasana dengan candaan atau tingkah konyol mereka. Mengingat bagaimana lucunya Baekhyun dan Chanyeol bertengkar hanya karena ingin mendapatkan perhatian dari Tuan Kwon tadi pun tak kuasa membuat Taeyeon tiba-tiba terkekeh pelan.

“Kenapa kau tertawa?” dan itu membuat Baekhyun langsung menolehkan kepalanya juga.

“Huh? Tidak..” Taeyeon mencoba menahan tawanya walau ia masih tetap tertawa. “Itu.. aku ingat dengan kelakuan Chanyeol saat meminta perhatian dari Tuan Kwon..” ucapnya lalu tertawa kecil lagi.

“Oh..” Baekhyun pun tertawa mengingat hal itu, “Dia memalukan, bukan? Kadang aku menyesal bersahabat dengannya..”

“Haha, kalian dua pribadi yang cocok tahu!” Taeyeon menyenggol lengan Baekhyun, “Mungkin sepertinya kalian cocok jika berpacaran..”

“Ya! Memangnya aku gay apa?!”

Dan Taeyeon tertawa lebih kencang lagi. Setelahnya mereka terdiam dan membiarkan sisa-sisa tawa terukir di bibir mereka.

“Omong-omong aku dengar dari Chanyeol.. kemarin saat kau marah pada Tuan Kim dan Tuan Kwon itu bukan sepenuhnya karena kau kesal mereka memintamu mengulang konsep ya?” Taeyeon menolehkan wajahnya dan sedikit menatap ragu Baekhyun, “Kudengar.. masalah pribadimu yang waktu itu belum selesai.. apa aku benar?”

Baekhyun terdiam, bingung sebenarnya harus cerita atau tidak. Dan itu membuat Taeyeon sedikit tidak enak.

“Jika kau masih belum mau menceritakannya tidak apa-apa, Baek—“

“Aku ingin bertanya padamu, Taeyeon-ah.. Apa yang akan kau lakukan saat melihat orang yang kau sayangi pergi dengan gadis lain?”

Taeyeon sedikit membulatkan matannya, bingung dengan pertanyaan Baekhyun yang tiba-tiba seperti itu.

“H-hm? Aku.. akan bertanya dahulu padanya siapa gadis itu dan apa status gadis itu..”

“Jika ternyata gadis itu adalah orang yang pernah mencoba untuk menghancurkan hubunganmu dengan kekasihmu.. apa yang kau lakukan?”

Taeyeon menggigit bibirnya kebingungan, “Mungkin untuk kasus itu ya.. aku marah.” Taeyeon kemudian berpikir sejenak, “Artinya kekasihku berselingkuh dengan gadis itu.”

Baekhyun langsung menghembuskan nafasnya dengan kasar. Dengar? Bahkan orang lain pun memiliki pemikiran yang sama seperti Baekhyun. Harusnya.. Baekhyun tidak salah bukan? Saat melihat kekasihmu atau untuk Baekhyun, Minjoo, pergi bersama lelaki lain dan lelaki lain itu adalah Oh Sehun, si pria yang pernah mengejar Minjoo dan mencoba merebut Minjoo darinya, bukankah itu berarti mereka berselingkuh di belakang Baekhyun?

Pemikiran itu membuat Baekhyun memunculkan kembali kenangan pahitnya akan pertengkaran malam itu dengan Minjoo. Pertengkaran yang mengeluarkan tangisan Minjoo dan amarah Baekhyun. Lagi dan lagi, Baekhyun selalu bergidik ngeri jika sudah mengingat pertengkaran itu.

“Memangnya ada apa, Baek? Kenapa kau menanyakan hal itu..?” tanya Taeyeon penasaran.

Baekhyun terus diam karena ia sedang memutar video pertengkaran mereka di otak itu. Memutar ulang semua kepedihan yang begitu menyakiti matanya.

 

“Kembang api!”

 

Perkataan Taeyeon menyadarkan Baekhyun dari monolognya. Entah Baekhyun masuk ke dimensi mana karena saat itu suara Taeyeon terdengar mirip sekali dengan suara gadisnya, Han Minjoo.

~

~

“Baekhyun-ah! Kau bisa beritahu aku alasan tidak kenapa aku begitu menyukai kembang api?”

“Haha.. ya mana aku tahu, Han Minjoo. Aku tanya padamu, kenapa kau menyukai kembang api?”

“Hm.. karena mereka berwarna-warni dan begitu cerah. Aku suka yang cerah-cerah..”

“Kalau aku sukanya dirimu, bagaimana?”

“Aish! Gombal!”

~

~

Baekhyun melihat sosok Minjoo disana, lebih tepatnya sosok Taeyeon benar-benar berubah menjadi sosok Minjoo saat itu.

“Baekhyun-ah! Kemari! Lihat, kembang apinya indah sekali!”

Wajahnya, wajah Taeyeon benar-benar berubah menjadi wajah Minjoo saat itu. Seperti orang bodoh, Baekhyun berjalan menghampiri Taeyeon. Berdiri di samping gadis itu dan memerhatikan setiap sudut wajah Taeyeon.

Bagi penglihatan Baekhyun, saat ini sosok Minjoo benar-benar tengah berada di hadapannya.

“Minjoo-ya..”

Taeyeon yang semula tersenyum begitu cerah, langsung menoleh bingung pada Baekhyun.

“Apa maksudmu, Baek?”

Baekhyun terdiam dan terus menatap mata Taeyeon yang saat ini baginya itu adalah mata Minjoo.

Karena bayangan bodoh itulah, Baekhyun melakukan sesuatu yang lebih bodoh daripada kalian pikirkan.

Baekhyun mengangkat tangannya, lebih tepatnya ia menaruh tangannya pada pipi Taeyeon hingga membuat Taeyeon tercekat nafasnya.

“Baek.. ada apa—“

Dan Baekhyun mengunci bibir Taeyeon mnggunakan bibirnya.

Baekhyun mencium Taeyeon.

Bermimpi bahwa yang ia cium adalah Minjoo-nya.

Satu detik.

Dua detik.

Dan saat detik ketiga, Baekhyun langsung merasakan jika bibir yang ia sentuh sama sekali bukan bibir Minjoo. Tidak manis dan tidak membuat Baekhyun merasa ingin memilikinya.

Baekhyun membulatkan matanya lebar-lebar dan ia kembali pada realita yang langsung meninjunya begitu keras.

Ia bodoh dan ia merasa ia menjadi pria terbrengsek di muka bumi ini.

“Taeyeon-ah..” Baekhyun memundurkan wajahnya dan langsung menutup bibirnya. Begitu pula dengan Taeyeon, bedanya gadis itu tampak memerah di pipinya.

“M-maaf.. aku tidak bermaksud..”

Bukan, lidah Baekhyun bukan kelu karena ia merasa senang mencium Taeyeon. Saat itu rasanya Baekhyun ingin menyuruh petinju kelas dunia untuk menghajarnya sampai mati.

Dia melakukan sesuatu yang tidak seharusnya seorang suami lakukan. Baekhyun.. mengkhianati Minjoo dengan membiarkan benda yang harusnya berkepemilikan Minjoo di sentuh oleh orang lain.

Baekhyun mengkhianati Minjoo di balik gadis itu.

🌾 🍁 🍂 🍀  🌿 🌼 🌼 🌼 🌼 🌿  🍀 🍂 🍁 🌾

The Day

🌾 🍁 🍂 🍀  🌿 🌼 🌼 🌼 🌼 🌿 🍀 🍂 🍁 🌾

“Nona Han!”

Tuan Yoo, si pelanggan langganan toko Minjoo memanggil Minjoo dari pintu masuk toko sambil tersenyum lebar.

“Hai, Tuan Yoo!” Minjoo menyapa balik panggilan, dengan senyuman yang sebisa mungkin ia torehkan karena jujur Minjoo masih lemas saat itu.

“Lihat!” Begitu Tuan Yoo berhasil berada di hadapan Minjoo, pria itu menunjukan seluruh jemarinya di hadapan Minjoo. “Lihat jari manisku!”

Minjoo membulatkan matanya lalu tersenyum cerah, “Kau resmi melamar kekasihmu!?” ucapnya sedikit kencang karena turut bahagia.

Tuan Yoo mengangguk-angguk, “Iya. Aku resmi menjadi tunagannya.” Pria itu tersenyum begitu cerah. Minjoo tahu sendiri rasanya bagaimana saat kau dan kekasihmu telah resmi bertunangan. Minjoo juga dulu begitu, saat Baekhyun melamarnya rasanya matahari selalu bersinar cerah di dalam tubuh Minjoo. “Saat kekasihku ulang tahun kemarin, aku sekaligus melamarnya. Dia menerima lamaranku dan ya.. kami bertunangan.”

“Ah.. aku turut bahagia mendengarnya..” Minjoo tersenyum lega karena ia memang benar-benar merasa senang. “Selamat, Tuan Yoo.”

“Aku mau mengucapkan terima kasih padamu, nona Han.” Tuan Yoo memainkan cincin itu di jemari manisnya, “Kau juga turut andil dalam membuat kekasihku mau menerima lamaranku.. bunga-bungamu itu loh.. benar-benar mempunyai sihir tertentu untuk merayu kekasihku.” Ucapnya sambil terkekeh kemudian.

Menanggapi itu, Minjoo hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. “Ck. Kau ada-ada saja, Tuan Yoo.” Ayolah masa iya bunga mempunyai sihir tertentu?

“Omong-omong.. kau sudah ke dokter, nona Han?” Tuan Yoo kini memerhatikan wajah Minjoo dengan mengkerut menyelidik. “Wajahmu masih sama pucatnya saat aku datang beberapa waktu lalu.”

Minjoo mencoba tersenyum walaupun itu terlihat seperti dipaksakan, “Aku tidak apa-apa, aku hanya lelah.”

“Ya, pemilik toko bunga ini sangat lelah.” Sehun menyambar dari balik pintu toko. Membuat Tuan Yoo memutar tubuhnya dan menatap Sehun bingung. “Dia terlalu mengurusi hal-hal yang seharusnya tidak ia urusi.” Lanjutnya lagi sambil menghampiri Minjoo dan berdiri di sampingnya.

Minjoo sedikit menatap kesal pada Sehun, apa maksudnya ia berbicara seperti itu? Apa yang dimaksud Sehun saat ia bilang ‘mengurusi hal-hal yang seharusnya tidak ia urusi’? Jika maksud Sehun adalah Baekhyun, maka Minjoo ingin memukul Sehun detik itu juga. Baekhyun kan suaminya, sudah seharusnya Minjoo mengurusi hal-hal yang berkaitan dengan Baekhyun.

“Kau perlu hiburan, nona Han. Jangan terlalu memforsir dirimu untuk terus bekerja..” Tuan Yoo menjeda perkataannya namun kemudia matanya membulat cerah, “Ah! Kalau begitu bagaimana kita piknik bersama kekasihku? Sebagai wujud terima kasihku padamu..” ucapnya.

Minjoo tersenyum namun ia menggeleng-geleng kepalanya, “Tidak usah, aku kan harus menjaga tokoku—“

“Bawa saja dia, Tuan Yoo!” Yeri berteriak dari dalam toko. Jujur, Yeri juga turut sedih melihat Minjoo yang begitu terlihat seperti mayat hidup karena pertengkarannya dengan Baekhyun. Yeri tahu persis kondisi Minjoo dan itu membuatnya sangat khawatir. “Eonnie, biar aku saja yang menjaga tokonya untuk hari ini!” lanjutnya lagi.

Tuan Yoo tersenyum semakin cerah, “Ayolah, nona Han! Aku sekaligus ingin mengenalkanmu pada kekasihku!” Dia kemudian menatap Sehun, “Kau juga ikut saja! Kau suaminya kan?”

“Dia bukan suamiku!” Minjoo meralat kesal perkataan Tuan Yoo dan itu membuat Sehun memutar bola matanya malas.

“Biasa saja, Han Minjoo. Tidak usah menyalak seperti itu.”

Tuan Yoo tertawa melihat mereka, “Ayolahh… ikut bersamaku dan kekasihku, hm?!” ajaknya kemudian.

Minjoo pun menghembus nafasnya pelan. Ya sudahlah, hitung-hitung untuk hiburannya juga.

“Baiklah.”

.

.

.

Minjoo turun dari mobil Sehun sesaat mobil Tuan Yoo yang berada di hadapannya juga berhenti di hadapan sebuah taman. Taman kota Seoul lebih tepatnya.

“Kekasihku sudah berada di taman duluan, dia bilang dia mau menjaga tempat..” jelasnya saat Minjoo bertanya mengapa Tuan Yoo tidak menjemput kekasihnya. Mereka bertiga pun berjalan dengan Tuan Yoo di hadapannya sebagai penunjuk jalan mereka ke tempat dimana kekasihnya berada.

“Mo Yeon-ah!!”

Tuan Yoo berteriak memanggil kekasihnya yang sedang duduk di atas tikar plastik dengan keranjang di sebelahnya. Gadis itu tersenyum cerah lalu melambaikan tangannya memanggil Tuan Yoo.

“Sijin-ie!!” Gadis itu tersenyum lalu setelah Tuan Yoo berada di hadapannya dia memeluk erat Tuan Yoo.

Ini sedikit membuat Minjoo merasa jatuh hatinya karena ia teringat dengan Baekhyun-nya. Rasanya.. sudah lama sekali memeluk Baekhyun.

“Ini siapa, Jin-ah..” Kekasih Tuan Yoo itu melihat ke arah Sehun dan Minjoo sambil tersenyum.

“Ini temanku, nona Han dan..” Tuan Yoo memang belum berkenalan dengan Sehun jadi dia tidak tahu nama Sehun.

“Sehun. Oh Sehun.”

“Nona Han ini pemilik toko bunga dari bunga-bunga yang suka kuberikan padamu.. dia juga yang sering merekomendasikan bunga-bunganya.” Lanjutnya lagi kemudian.

“Ah! Bunga-bungamu benar indah, nona Han. Aku sangat menyukainya..” Pujinya. “Tapi, omong-omong.. aku seperti mengenal kalian berdua..” Gadis itu mengeryitkan keningnya, mengingat apakah benar mereka pernah bertemu.

“Kau dokter Kang, bukan? Dokter Kang di rumah sakit Seoul?” Sehun menginterupsi karena Sehun mengingatnya.

Kekasih Tuan Yoo, atau Dokter Kang yang waktu itu memeriksa Minjoo di rumah sakit langsung tersenyum begitu cerah.

“Kau nona Han dan Sehun yang waktu itu, benar!?”

Minjoo pun tersenyum cerah karena ia juga mengingat dokter itu. “Ya, benar. Aku Han Minjoo dan dia Oh Sehun..”

Dokter Kang tersenyum tak percaya, “Astaga.. dunia benar-benar sempit. Kau teman kekasihku tapi kau pasienku juga..” ucapnya sambil terkekeh pelan.

Minjoo mengangguk-angguk, “Benar, dunia memang sangat sempit.”

.

.

.

Waktu sudah berganti larut, membiarkan matahari kembali pada tempat tidurnya dan bulan pada waktu kerjanya.

Minjoo dan Sehun sedang berada dalam perjalan menuju rumah Minjoo.

Jujur, Minjoo cukup senang dengan hari itu. Tuan Yoo dan Dokter Kang adalah pasangan yang sempurna. Mereka sama-sama orang yang menyenangkan. Saat piknik kecil tadi, Minjoo, Sehun, Dokter Kang dan Tuan Yoo bercerita banyak dan tak jarang itu mengeluarkan tawaan yang benar-benar menggelikan perut. Sangat cukup untuk menaikkan mood Minjoo yang masih sangat buruk.

“Mereka benar-benar serasi ya, Sehun-ah.” Minjoo membuka suara dan Sehun langsung menolehkan wajahnya pada Minjoo. “Dokter Kang cantik, baik.. Tuan Yoo juga tampan dan orang yang sangat ramah.” Mengingat bagaimana Tuan Yoo menatap Dokter Kang begitu penuh cinta dan itu berlaku sebaliknya dari Dokter Kang pada Tuan Yoo membuat Minjoo sedikit iri. Ya, dia iri, karena sudah lama sekali melihat Baekhyun melakukan hal-hal manis pada Minjoo, melihat Minjoo penuh dengan cintanya. Jujur, detik itu Minjoo lagi-lagi harus patah hati mengingatnya.

“Tuhan memang sangat baik mempertemukan mereka..” ucap Minjoo dengan nada sedih.

Tak lama dari situ, mobil Sehun berhenti di depan rumah Minjoo. Kemudiannya lagi, Sehun langsung menatap sempurna tubuh Minjoo.

“Ya, kenapa kau menjadi sedih kembali? Kau bilang kau senang dengan hari ini..” Sehun mengeluh karena Minjoo menjadi murung kembali.

“Sehun-ah.. apakah Baekhyun setidakpercayanya itu padaku? Aku benar-benar mencintainya, Sehun. Aku tidak pernah berpikir untuk menyukai orang lain selain dia. Aku tidak pernah berpikir untuk mencintai orang lain selain dirinya. Bahkan aku berani sumpah aku tidak pernah melirik atau bilang bahwa ada lelaki lain yang lebih baik darinya karena hanya Baekhyun yang menjadi priaku.” Minjoo mulai menangis tersedu.

Minjoo lelah sungguh. Ia lelah harus terus menerus bertengkar dengan Baekhyun. Katakan Minjoo frustasi karena itu benar. Minjoo ingin bertemu Baekhyun. Minjoo ingin memeluk Baekhyun. Minjoo ingin mencium Baekhyun. Minjoo benar-benar ingin untuk menghabiskan seluruh waktunya bersama Baekhyun seperti dari 6 tahun yang lalu dan sampai 3 bulan yang lalu.

“Apa yang harus kulakukan, Sehun-ah..?” Tubuhnya bergetar. “Aku.. benar-benar merindukannya.”

“Kau tidak pantas menangisi pria sepertinya, Han Minjoo.” Perkataan Sehun itu membuat Minjoo menghentikan isakannya. “Kau tidak pantas merindukan pria bajingan sepertinya.”

Minjoo menatap Sehun dengan tersinggung, jelas sekali karena penghinaannya pada Baekhyun.

“Jaga omonganmu, Oh Sehun. Dia bukan pria bajingan. Baekhyun-ku bukan pria bajingan.”

Sehun menutup matanya, mengambil nafasnya dalam-dalam dan menyiapkan semua kata-kata yang cukup lama ia pendam.

“Dari dahulu sampai sekarang.. aku tidak mengerti mengapa kau memilih Byun Baekhyun, si pria brengsek yang sekarang ini menyakitimu. Lihat kan apa yang dia lakukan sekarang padamu?! Dia menyakitimu, dia mengkhianatimu! Dia melupakanmu, Han Minjoo!”

Minjoo tercengang dengan Sehun yang memarahinya.

“Kau tidak pantas menangisinya! Air matamu itu terlalu suci untuk menangisi pria bajingan yang harusnya dikutuk oleh neraka! Baekhyun tidak pernah pantas untuk mendapatkanmu, Minjoo!” Sehun menjeda perkataannya untuk mengambil nafas karena dia benar-benar tersulut emosi. “Harusnya.. harusnya kau menikah denganku, Minjoo! Kau harusnya hidup bersamaku! Harusnya saat ini kau tersenyum bahagia karenaku! Harusnya saat piknik bersama Yoo Sijin dan Dokter Kang adalah kencan ganda dari kita! Harusnya kau bisa tersenyum terus, tertawa terus, Han Minjoo!”

Minjoo tidak mengerti dengan perkataan Sehun, setiap kata yang Sehun lontarkan tak bisa Minjoo tangkap dengan baik.

“Apa yang kau maksudkan, Sehun?” Minjoo bertanya dengan mata yang menajam. “Apa maksudmu dari harusnya aku menikah denganmu?”

“Aku masih menyukaimu, Han Minjoo.” Sehun menatap Minjoo dengan serius dan Minjoo bisa menyadarinya. “Aku masih menyayangimu, Minjoo-ya. Perasaanku masih kusimpan untukmu.”

Demi Tuhan, hati Minjoo benar-benar mencelos saat itu. Selama ini.. Minjoo selalu membela Sehun di hadapan Baekhyun karena Minjoo pikir Sehun telah berubah. Minjoo pikir, semua perhatian Sehun padanya hanya karena hubungan sebuah sahabat dan tidak pernah lebih. Minjoo pikir Sehun telah membuang semua perasaannya pada Minjoo dan benar-benar menganggap Minjoo sebagai teman. Dan satu hal yang benar-benar menyakitinya. Nyatanya.. perkataan Baekhyun benar dan Minjoo tidak mempercayainya.

“Sehun-ah.. kenapa kau seperti ini? Kukira kau telah melupakan perasaanmu padaku. Kupikir kau telah berubah dan benar-benar temanku, sahabatku!” Minjoo sedikit meninggikan suaranya. Kemudiannya ia menghapus air matanya, “Sehun-ah aku benar-benar kecewa padamu.” Dan Minjoo langsung keluar dari mobil Sehun.

“Minjoo-ya!” Sehun memanggilnya tapi Minjoo tidak peduli. Minjoo benar-benar kecewa dan kesal pada Sehun.

Tapi Sehun tidak sampai situ saja. Dia turun dari mobil dan mengejar Minjoo, menarik tangan gadis itu.

“Cukup, Sehun-ah! Jangan temui aku sampai kau benar-benar melupakan perasaanmu padaku!”

“Kau gila!? Memangnya semudah itu melupakan perasaanku padamu!?” Sehun menarik tangan Minjoo dan menggenggamnya, memohon. “Kumohon, Minjoo-ya.. hiduplah bersamaku. Tinggalkan Baekhyun, aku janji akan selalu membahagiakanmu..”

“Kau yang gila, Oh Sehun!” Minjoo menarik tangannya dan langsung meninggalkan Sehun disana.

Namun, belum satu langkah yang Minjoo ambil untuk menjauhinya, Sehun menariknya kembali. Memeluk pinggangnya. Dan menjatuhkan bibirnya di bibir Minjoo dengan sangat memaksa.

Minjoo terbelalak kaget dan demi Tuhan, jantungnya benar-benar mencelos saat itu. Ia meronta-ronta agar Sehun melepaskannya tapi Sehun menahannya begitu erat. Detik selanjutnya, Minjoo mengeluarkan seluruh tenaganya dan itu berhasil walaupun bibirnya terluka karena Sehun benar-benar melumatnya dengan kasar.

“Kau bajingan, Oh Sehun!” Minjoo menampar Sehun begitu keras. “Benar kata Baekhyun.. kau pria brengsek yang ingin menghancurkan hubunganku dengan Baekhyun.”

Setelahnya Minjoo langsung berlari sambil mengusap-usap darah yang mengalir dari bibirnya menuju rumahnya.

Seketika di dalam rumahnya, Minjoo langsung berlari ke kamarnya dan mengunci dirinya disana. Menjatuhkan tubuhnya di atas kasur dan lalu memeluk gulingnya.

Minjoo menangis disana, menangis begitu tersendu-sendu karena dia merasa menjadi istri paling buruk di dunia ini. Minjoo mengkhianati Baekhyun karena gadis itu tidak mempercayai Baekhyun. Baekhyun sudah memberitahunya, Baekhyun sudah mengingatkannya. Tapi apa? Minjoo malah tidak mempercayai perkataan Baekhyun dan lebih parahnya lagi membela Sehun di depan Baekhyun.

Saat ia sedang memikirkan kebodohannya, tak sengaja Minjoo melihat bingkai foto dirinya bersama Baekhyun di atas nakas. Foto yang mereka ambil saat mereka merayakan hari jadi mereka yang ke-100, sekitar 6 tahun yang lalu.

“Aku memang bodoh bukan, Baekhyun-ah..” Ia mengambil bingkai foto itu dan kali ini, air mata itu jatuh ke atas foto mereka.

“Pantas saja kau membenciku, Baek. Aku memang bukan istri yang tepat untukmu. Pantas saja kau bilang bahwa aku tidak menghargaimu sebagai suami, Baek..” Minjoo mengusap foto itu dan menatap Baekhyun difoto dengan sendu. “Mempercayaimu saja tidak.. aku mengkhianatimu, Baekhyun.”

Minjoo merundukkan wajahnya dan menutupnya dengan tangannya. Terisak karena ia sangat menyesal dengan kebodohannya.

.

.

.

Baekhyun baru saja akan mengistirahatkan tubuhnya di atas sofa sebelum tiba-tiba teleponnya berdering di atas meja dihadapannya. Baekhyun menautkan alisnya bingung, waktu sudah pukul 11 malam. Siapa yang menghubunginya di waktu selarut ini?

Saat ia mengambil ponselnya, ia rasa jantungnya berhenti berdetak saat itu juga. Sebuah foto dari gadis yang masih ada di hatinya muncul disana berserta nama panggilan ‘My Minjoo’ muncul disana.

Baekhyun mendudukan dirinya di sofa memerhatikan ponselnya yang masih terus bergetar di tangannya. Dia bingung, di satu sisi ia merasa malu pada status suaminya pada Minjoo karena kejadiannya dengan Taeyeon beberapa tempo lalu. Namun.. disatu sisi, ia ingin sekali mendengar suara Minjoo. Baekhyun merindukan Minjoo, sangat.

Mungkin, Baekhyun melawan egonya saat ia menslide tombol hijau di papan ponselnya.

“Annyeong, Baek..”

Demi Tuhan, rasanya Baekhyun ingin berlari ke Minjoo dan memeluk gadis itu saat ini juga.

“Hm. Halo.”

“Apa kabarmu? Kau baik-baik saja, bukan? Kau istirahat yang cukup juga, bukan?”

Aku tidak baik-baik saja Minjoo-ya. Aku merindukanmu dan aku tersiksa.

“Ya. Aku baik-baik saja, aku istirahat dengan cukup.”

“Baguslah..” Baekhyun bisa merasakan jika Minjoo tersenyum di sebrang sana. Senyuman yang selalu menggetarkan hatinya.

“Ada perlu apa kau menelepon?”

“Tidak.. aku hanya merindukanmu, Baek.”

Sumpah, rasanya Baekhyun ingin menangis.

“Aku.. sangat-sangat merindukanmu.”

Baekhyun diam karena tenggorokannya tercekat. Kenapa rasanya susah sekali untuk membalas perkataan Minjoo dengan hal yang serupa?

“Ah.. mungkin kau akan istirahat ya, Baek? Aku mengganggumu ya?”

Baekhyun ingin sekali berteriak dan bilang ‘Tidak, kau tidak menggangguku, Minjoo-ya. Aku juga merindukanmu.’ Tapi yang Baekhyun lakukan hanyalah diam mendengar gadis itu berbicara dan menderukan nafasnya disana.

“Mungkin aku mengganggumu, baiklah akan kututup teleponnya tapi sebelumnya aku ingin memberitahumu sesuatu..”

Baekhyun membuka telinganya lebar-lebar.

“Apa pun yang kau dengar.. apa pun yang kau lihat di masa depan tentang diriku dari orang-orang di luar sana.. Aku.. tidak peduli jika kau mendengarnya atau mempercayai apa yang orang bilang padamu. Hanya saja aku ingin bilang bahwa aku hanya mencintaimu.”

Dan Baekhyun menjatuhkan air matanya.

“Dan hanya mencintaimu. Selamanya.”

Jantungnya mencelos saat itu juga.

“Itu saja. Selamat malam, Baek..”

“Aku mencintaimu.”

Telepon mati dan menyisakan Baekhyun yang menjatuhkan air matanya lagi sambil terpaku pada telepon genggam di telinganya.

Minjoo-ya, aku juga hanya mencintaimu dan selamannya hanya mencintaimu.

 

🌾 🍁 🍂 🍀  🌿 🌼 🌼 🌼 🌼 🌿  🍀 🍂 🍁 🌾

The Day

🌾 🍁 🍂 🍀  🌿 🌼 🌼 🌼 🌼 🌿 🍀 🍂 🍁 🌾

Hari-hari Minjoo menjadi semakin berat setelah kejadian malam itu. Rasanya pisau-pisau di rumahnya selalu menusuk dadanya—oh bahkan seluruh tubuhnya. Pisau-pisau itu bernama ‘kebodohan’ dan ‘penyesalan’. Ya, kebodohan dan penyesalannya lah yang membuat Minjoo semakin tersiksa.

“Selamat pagi, nona Han!” Tuan Yoo menyapa Minjoo begitu cerah, seperti biasanya. Karena Minjoo sedang sangat tidak dalam kondisi yang baik, Minjoo hanya tersenyum kecut.

“Pagi, Tuan Yoo. Kau mau memesan bunga apa lagi untuk kekasihmu?” ucapnya to the point.

“Oh bukan-bukan.. kali ini bukan untuk kekasihku.” Tuan Yoo baru saja akan bilang bahwa itu untuk orang tuanya namun Minjoo tiba-tiba memegang kepalanya, memijitnya karena kepalanya tiba-tiba begitu sakit.

“Nona Han! Kau baik-baik saja!?” ucapnya sedikit panik dan itu membuat Yeri yang mendengar ucapan Tuan Yoo langsung menghampiri mereka.

“Eonnie! Eonnie baik-baik saja?!” ucapnya sambil menahan pinggang Minjoo.

Minjoo tersenyum sambil melambaikan tangannya, “Tidak-tidak, aku baik-baik saja.”

“Kau tidak baik-baik saja, eonnie!” Yeri sedikit menyentak karena ia khawatir. Pasalnya Yeri tahu jika Minjoo benar-benar tidak tidur selama 5 hari ini dan bahkan baru makan saat Yeri membawakannya sarapan pagi ini. “Eonnie sakit! Ayo kita pulang saja!”

“Biar aku antar!”

Suara yang tiba-tiba datang dari pintu toko Minjoo itu pun membuat Yeri geram. Suara siapa lagi jika bukan suara Sehun.

“Kau masih berani menunjukkan mukamu disini huh!?” Yeri tahu kejadian malam itu karena Minjoo telah menceritakannya. “Pergi sana kau pria bajingan! Jangan pernah muncul dihadapan Minjoo eonnie lagi!”

“Yeri-ya! Apakah itu penting sekarang?!” Sehun juga meninggikan suaranya, “Minjoo sakit, kita harus membawanya ke rumah sakit!”

“Tapi tidak denganmu, pria brengsek!”

“Yeri-ya!”

Bruk.

Mereka langsung terdiam saat Minjoo telah tergeletak di atas lantai toko dengan mata yang tertutup. Membuat Yeri langsung panik dan menangis seketika.

“Eonnie! Eonnie! Sadarlah!” Dia kemudian melihat ke arah Tuan Yoo, “Tuan Yoo kumohon antar Minjoo eonnie ke rumah sakit sekarang!”

Tuan Yoo pun mengangguk dan setelahnya ia mengangkat tubuh Minjoo dan bergegas pergi dari toko.

“Jangan kau berani-berani muncul di hadapanku dan Minjoo eonnie lagi atau aku tidak segan-segan akan membunuhmu, Bajingan Oh!” ancam Yeri lalu meninggalkan Sehun di toko Minjoo dengan mengusap wajahnya gusar.

.

.

.

Baekhyun merasakan ponselnya bergetar di saku celananya. Dia ingin mengangkat tapi saat ini ia sedang mempresentasikan proyek Polar Corporation dan Starlight di dalam ruang rapat. Ia pun memohon maaf lalu mengambil ponselnya dan mematikannya tanpa ingin tahu siapa yang menelopnnya.

“Maaf untuk itu, kini saya akan melanjutkan lagi presentasi dari proyek apartemen perusahaan kami..”

.

Rapat itu berakhir memuaskan bagi Baekhyun. Para investor yang datang tadi, kali ini menyukai dengan konsep dari Baekhyun dan Taeyeon buat. Mereka semua sangat tertarik untuk menanam saham di proyek tersebut.

“Selamat, Baek.” Suara Taeyeon menginterupsi Baekhyun.

“Akhirnya pekerjaanmu hampir selesai.”

Jujur sebenarnya Baekhyun merasa sedikit canggung untuk bertemu Taeyeon karena malam itu. Hanya saja, ia mencoba sebisa mungkin terlihat biasa saja dan melupakan kejadian malam itu.

Baekhyun tersenyum, “Bukan hanya pekerjaanku, tapi pekerjaan kita.” Lalu dia menjulurkan tangannya pada Taeyeon, “Selamat, Kim Taeyeon.”

Taeyeon tersenyum lalu menjabat uluran tangan Baekhyun.

“Baek.. mengenai kejadian malam itu—“

“Byun Baekhyun!”

Perkataan Taeyeon terputus saat Chanyeol berteriak dari sebrang mereka. Membuat Baekhyun menolehkan wajahnya pada Chanyeol dengan tatapan kesal.

“Ya!” Baekhyun memaki Chanyeol sesaat Chanyeol telah menghampirinya dan Taeyeon.

“Kenapa kau berteriak!? Tidak bisakah kau—“

“Minjoo pingsan, Baek!”

Baekhyun rasa malaikat maut telah mencabut nyawanya saat itu.

“Minjoo sakit dan dia pingsan di tokonya!”

Demi Tuhan, saat itu Baekhyun benar-benar merasakan jika Tuhan telah mencabut nyawanya. Jantungnya berhenti berdetak mendengar perkataan Chanyeol.

“D-dimana.. dia..” Lidah Baekhyun kelu. Sarafnya seperti mati saat itu. “..sekarang?”

“Dia di rumah, tadi setelah di bawa ke rumah sakit dia langsung di pulangkan kembali karena Minjoo tak ingin di rawat.” Chanyeol menepuk-nepuk pundak Baekhyun, “Ayo ku antar, aku tak yakin kau bisa menyetir dengan tenang mendengar berita seperti ini..”

Baekhyun mengangguk-angguk seperti orang bodoh. Tatapannya kosong, karena ia tidak bisa memikirkan apapun selain Minjoo.

.

.

.

Minjoo terbaring. Di sana. Di atas kasur mereka dengan matanya yang tertutup.

Wajah cantik yang biasanya ceria memanggil Baekhyun dengan manja sebelum pertengkaran mereka ,terlukis pucat saat ini. Dan itu benar-benar menyakiti Baekhyun.

Baekhyun kemudian duduk dengan lututnya yang lemas tepat di samping Minjoo. Memerhatikan gadis itu dengan hati yang retak tiap detiknya.

“Minjoo-ya..” Bibir Baekhyun bergetar memanggil nama Minjoo. Tangannya dia angkat untuk mengusap rambut gadis itu, menyingkirkan helaian rambut Minjoo yang menutupi wajahnya. Dan Baekhyun rasa menyesal saat melakukan itu karena melihat keadaan Minjoo dalam jarak sedekat ini benar-benar menyakitinya.

“Minjoo eonnie sedang istirahat, Oppa. Tadi dokter Kang bilang Minjoo eonnie benar-benar sedang drop dan yang ia butuhkan hanya tidur untuk saat ini.” Ujar Yeri yang berdiri di pintu kamar mereka.

“Minjoo eonnie hampir tidak tidur setiap hari setelah pertengkarannya denganmu, Oppa.” Yeri menjelaskan dan itu membuat Baekhyun merasa semakin hancur. “Dia selalu menunggumu untuk pulang namun Oppa tak kunjung pulang. Dia selalu tertidur dan terbangun di waktu dini hari karena mengingatmu, mengkhawatirkanmu.”

Demi Tuhan, perkataan Yeri seperti tamparan keras untuk Baekhyun.

“Jujur, aku kesal padamu Oppa. Oppa menyakiti Minjoo eonnie yang begitu mempedulikanmu. Oppa menyakiti Minjoo eonnie yang begitu mengkhawatirkanmu. Saat Minjoo eonnie berusaha untuk peduli pada Oppa, Oppa malah memfitnah dengan mengatakan bahwa Minjoo eonnie sudah tidak menyayangi Oppa lagi.” Yeri menjeda perkataannya karena dia sedikit tersulut emosinya. Dia mencoba mengambil nafas lalu melanjutkan kembali. “Kenapa Oppa seperti itu? Kenapa Oppa meragukan cinta Minjoo eonnie yang jelas-jelas hanya untuk Oppa?”

“Oppa.. melupakan Minjoo eonnie, begitu?”

Baekhyun terdiam karena perkataan Yeri. Semua perkataan Yeri seperti gugatan hukuman mati dari jaksa kepadanya. Begitu membuatnya takut dan tersakiti. Demi Tuhan, apakah Baekhyun sejahat itu pada Minjoo? Membiarkan gadis itu tidak tidur sedangkan Baekhyun disana malah menghabiskan waktunya dengan Taeyeon? Memaki gadis itu, memarahi gadis itu dan mengatakan bahwa Minjoo selingkuh darinya disaat dia sendiri yang mencium Taeyeon di belakang Minjoo. Menyelingkuhi gadis itu di belakangnya.

Jika Tuhan ingin menghukumnya, Baekhyun sangat bersedia jika ia dihukum mati dengan cambukan 1000 kali. Meskipun meminta seperti itu, rasanya itu belum bisa membayar apa yang telah ia lakukan pada Minjoo-nya.

“Aku memberitahu ini karena aku masih percaya bahwa Oppa masih mencintai Minjoo eonnie..” Yeri tahu Minjoo pasti marah jika Yeri memberitahu Baekhyun perihal Sehun kemarin ini. Tapi, bagaimana pun juga Baekhyun suami Minjoo yang berarti Baekhyun harus tahu hal itu.

“Oppa lihat ada luka di sudut bibir Minjoo eonnie?”

Baekhyun yang mendengar perkataan Yeri pun tersadar dari kesedihannya dan langsung melihat ke sudut bibir Minjoo. Benar, ada luka disana.

Sambil mengangkat tangannya untuk menyentuh luka Minjoo itu, Baekhyun berbicara pada Yeri. “Kenapa bisa seperti ini? Apa yang terjadi dengannya?”

“Sehun Oppa yang melakukan itu.” Saat itu, Baekhyun sudah menyalakan api kompornya dan ketika Yeri mengatakan perkataan selanjutnya, puncak kepala Baekhyun benar-benar panas. Terbakar.

“Dia mencium Minjoo eonnie. Memaksanya hingga melukai Minjoo eonnie.”

Demi Tuhan, tidak ada apapun yang Baekhyun pikirkan saat itu kecuali untuk membunuh Sehun. Seruan Yeri yang memanggilnya, bertanya dia pergi kemana tidak Baekhyun hiraukan. Yang Baekhyun tahu, setan itu benar-benar merasukinya dan mengendali seluruh tubuh Baekhyun. Dia bahkan mengemudikan mobil begitu cepat, di atas kecepatan rata-rata. Untung saja saat itu Seoul sudah sepi, tidak ada korban jiwa dengan pelaku Byun Baekhyun.

Dor. Dor.

Baekhyun mengetuk apartemen Sehun yang sudah ia ketahui dengan sangat keras. Tidak peduli itu mengganggu ketenangan orang lain karena emosi itu benar-benar membakarnya.

Cklek.

.

Bugh.

Sehun langsung terjatuh di atas lantai apartemennya dan Baekhyun langsung naik ke atas tubuh Sehun.

“Apa.”

Satu tinjuan.

“Yang.”

Dua tinjuan.

“Kau lakukan.”

Tiga tinjuan.

“Pada istriku, brengsek!!!”

Baekhyun benar-benar seperti kerasukan. Baekhyun yang waktu itu memaki Minjoo keluar kembali namun yang saat ini jauh sepuluh kali lebih menyeramkan. Seperti induk monster yang marah saat anaknya di bunuh oleh musuhnya.

“Kau bajingan brengsek! Kau gila! Kau tidak pernah berubah, Oh Sehun!” Tinjuan itu seperti imbuhan disetiap kalimat Baekhyun. “Kau selalu menghancurkan hubunganku! Kau selalu menghancurkan Minjoo!” ucapnya lagi sambil berteriak di akhir kalimat.

Sehun benar-benar sudah babak belur saat ini. Dia tidak bisa berkata apa-apa karena kesadarannya hampir menghilang. Darah berlumuan di setiap wajahnya, begitu juga dengan baju Baekhyun.

“Dengar ya, Oh Sehun!” Baekhyun menarik kerah Sehun. “Jika aku melihatmu berdiri dalam jarak sepuluh meter dari Minjoo, aku tak akan segan-segan untuk membunuhmu saat itu juga!!” Dan Baekhyun menghadiahi wajah Sehun pukulan terakhirnya. “Kau dengar, Oh Sehun!!? Ingat perkataanku itu, brengsek!” tuturnya lalu membanting Sehun lagi ke atas lantai.

Ya Tuhan, wujud Baekhyun benar-benar seperti pembunuh saat itu. Kemejanya berlumuran darah, wajahnya memerah dan matanya begitu tajam menatap Sehun. Baekhyun tidak peduli jika dia harus masuk penjara saat itu. Yang ia tahu, ia akan membunuh siapapun yang berani menyakiti Minjoo-nya. Terlebih, menyentuh Minjoo-nya.

“K-kau bilang.. aku menghancurkan Minjoo?”

Sehun berucap dan itu membuat Baekhyun melihat padanya lagi.

“Bukankah itu lebih tepat kukatakan padamu, Byun Baekhyun?” dia tersenyum dengan darah di sekitar giginya. “Bukankah kau yang menghancurkan Minjoo, Baekhyun?”

Merasa kesal karena perkataan Sehun menyinggungnya, Baekhyun turun lagi dan menarik kerah Sehun.

“Tidak usah mengikut campuri permasalahanku dengan Minjoo, brengsek!”

“Bukankah kalian impas, Baekhyun?” Perkataan Sehun membuat alis Baekhyun bertaut.

“Aku mencium Minjoo.. kau mencium gadis lain..”

Mata Baekhyun membulat mendengar perkataan Sehun.

“Bukankah itu artinya kalian sudah tidak saling menyayangi? Ah salah, maksudku.. bukankah itu artinya kau sudah tak menyayangi Minjoo?” Sehun terkekeh pelan dan menatap Baekhyun berani meskipun matanya sudah terlumuri oleh darah.

“Kau yang menghancurkannya, Baekhyun. Bukan aku. Kau yang mengkhianatinya..bukan Minjoo, Byun Baekhyun.”

Baekhyun seperti tertohok oleh pisau saat mendengar perkataan Sehun. Perkataan Sehun seperti mengingatkan kembali atas dosa yang ia berusaha sembunyikan karena dosa itu menakutinya. Menyakitinya. Dosanya yang mengkhianati Minjoo dibalik gadis itu.

“Sudahlah, Baekhyun.. tidak usah berlaga selayaknya kau adalah suami Minjoo.” Sehun menambahkan kembali kata-katanya.

“Kau bukan suaminya. Kau tidak pantas menjadi suaminya.”

Merasa kesal karena perkataan Sehun, Baekhyun pun memukul kembali wajah Sehun hingga pria itu jatuh kembali ke atas lantai.

“Aku suaminya. Aku suami dari Han Minjoo!!” Baekhyun menghantam Sehun sekali lagi. “Tutup mulutmu dan tidak usah mengurusi permasalahan kami!!!!”

Baekhyun bangkit dari duduknya untuk berjalan keluar. Namun, perkataan Sehun itu benar-benar menciutkan nyalinya.

“Minjoo akan meninggalkanmu, Baekhyun. Cepat atau lambat, dia akan pergi darimu.” Dan Baekhyun pun merasakan jika jantungnya mencelos saat itu juga.

.

.

.

“Kau yang menghancurkannya, Baekhyun. Bukan aku. Kau yang mengkhianatinya..bukan Minjoo, Byun Baekhyun.”

 

“Kau bukan suaminya. Kau tidak pantas menjadi suaminya.”

 

“Minjoo akan meninggalkanmu, Baekhyun. Cepat atau lambat, dia akan pergi darimu.”

 

Perkataan Sehun itu benar-benar membuat Baekhyun takut. Baekhyun tidak bisa kehilangan Minjoo-nya. Dia sudah terlalu lama hidup bersama Minjoo, Minjoo sudah seperti nafasnya. Minjoo sudah menjadi sebagian tubuh Baekhyun.

Baekhyun tahu, Baekhyun yang salah disini. Dia yang menyakiti Minjoo. Disaat Minjoo sudah sepenuhnya memberikan hatinya pada Baekhyun, Baekhyun malah meragukannya. Memakinya. Dan yang paling parah adalah Baekhyun berkhianat dari Minjoo.

Baekhyun mengangkat tangannya untuk mengusap pipi Minjoo yang berbaring menghadapnya diatas kasur mereka.

“Sudah lama rasanya tidak tidur seperti ini denganmu, Minjoo-ya..” Baekhyun mengusap lembut pipi Minjoo dengan pelan, tidak mencoba untuk membangunkan Minjoo yang masih tertidur untuk istirahat. “Aku merindukanmu, Minjoo-ya. Sama sepertimu, aku juga merindukanmu.”

Detik selanjutnya, Baekhyun menangis karena ia tak kuasa untuk menahan semua penyesalan yang telah ia perbuat.

“Minjoo-ya.. akulah yang sepatutnya kau benci. Aku lah yang sepatutnya kau marahi, kau maki. Harusnya kau menamparku, membunuhku. Apapun yang kau ingin lakukan untuk menyiksaku, siksalah aku karena aku yang menghancurkanmu. Benar kata Sehun, Aku memang tidak pantas untuk menjadi suamimu..” ucapnya.

“Tapi, Minjoo-ya.. aku sudah terlalu menyayangimu. Aku sudah terlalu mencintaimu..” Baekhyun menjatuhkan air matanya kembali dan masih terus mengusap pipi serta rambut Minjoo. “Jika aku memintamu untuk memaafkanku.. apakah kau mau? Rasanya tidak pantas tapi aku benar-benar tidak bisa jauh darimu, Han Minjoo.”

Baekhyun pun memajukan bibirnya dan mencium kening Minjoo cukup lama.

Minjoo-ya.. aku masih ingin bersamamu tapi.. apakah aku masih pantas untuk bersama dirimu disaat aku telah menyakitimu sedalam itu..?

.

.

.

Berkas cahaya sinar matahari menerangi Baekhyun. Itu sedikit mengganggunya karena Baekhyun baru saja tidur pukul 4 pagi. Dia tidak bisa berhenti untuk menyesali semua dosanya yang ia perbuat pada Minjoo hingga otaknya terjaga untuk memutar balik semua kesalahan yang ia perbuat.

Tepat saat Baekhyun membuka matanya, sepasang mata indah dari gadis yang paling ia cintai menatapnya. Menatapnya begitu lembut hingga rasanya tubuh Baekhyun menghangat.

“Selamat pagi, Baek.”

Minjoo tersenyum begitu cerah, secerah matahari pagi menurut Baekhyun saat itu.

“Kau sudah pulang, Baek? Semalam kau tidur disini..?” tanyanya. “Bersamaku..?” lanjutnya lagi sambil menahan senyum gummynya.

Ya Tuhan, aku ingin menciumnya.

Menahan dalam-dalam hawanya, Baekhyun pun mengangkat tangannya lalu memegang kening Minjoo.

“Kau sudah sembuh?” tanyanya dengan datar.

Minjoo melihat ke keningnya namun kemudiannya lagi ia melihat ke arah Baekhyun sambil mengangguk-angguk, “Aku sudah sembuh, Baek.” Kemudian ia menggeser tubuhnya untuk memangkas jaraknya dengan Baekhyun. Mata dan mata, hidung dan hidung, bibir dan bibir hanya berjarak lima sentimeter.

“Karena kau sudah pulang, aku jadi sembuh, Baek.”

Saat itu, Baekhyun ingin sekali memeluk Minjoo. Baekhyun ingin sekali meraih tangan Minjoo, menciumi setiap jemarinya. Baekhyun juga ingin mencium setiap sudut wajah Minjoo karena dia merindukan Minjoo-nya. Ini membuatnya gila karena Baekhyun benar merindukan Minjoo sampai puncak kepalanya.

Tapi, perkataan Sehun tadi malam benar-benar sudah tertanam di otaknya dan itu membuatnya berpikir bahwa saat ini ia belum bisa untuk melakukan semua yang ia ingin lakukan pada Minjoo dahulu. Ia merasa.. bahwa ia sangat berdosa dengan hanya bertemu Minjoo.

“Aku pulang hanya untuk mengetahui apa kau sudah sembuh atau tidak.” Ucapnya dengan datar.

Dengan berat hati, Baekhyun pun mulai bangkit dari baringannya. “Karena kau sudah sembuh, sekarang aku akan pergi kembali—“

Namun tubuhnya tertahan oleh sepasang lengan yang melingkar di pinggangnya begitu erat. Begitu hangat.

“5 menit saja, Baek.”

Nafas Minjoo menerpa dada Baekhyun dan itu membuatnya lemas seketika. Membuat Baekhyun merasa teradiksi hingga seluruh sarafnya terasa lumpuh.

“Sekali ini saja, Baek.. kabulkan permintaanku. Aku tidak meminta banyak, hanya 5 menit.” Minjoo menjeda perkataannya,

“Aku.. benar-benar merindukanmu, Baekhyun.”

Baekhyun pun menyerah, hatinya meluluh saat Minjoo mengatakan hal itu. Baekhyun terdiam tanpa membalas pelukan Minjoo dan membiarkan Minjoo memeluknya, sepuas gadis itu merindukan Baekhyun. Membiarkan secara tidak langsung kepuasan pada diri Baekhyun akan merindukan Minjoo terpenuhi saat kehangatan itu menjalar di antara mereka. Tangannya ia naikkan sedikit untuk menyentuh rambut Minjoo, setidaknya hanya itu yang bisa ia lakukan sebagai bentuk ‘balasan’ pelukan Minjoo-nya.

Aku juga merindukanmu, Han Minjoo.

 

🌾 🍁 🍂 🍀  🌿 🌼 🌼 🌼 🌼 🌿  🍀 🍂 🍁 🌾

To Be Continued

🌾 🍁 🍂 🍀  🌿 🌼 🌼 🌼 🌼 🌿 🍀 🍂 🍁 🌾

35 pages nih, sabar sabar ya bacanya ^^ aku aja sabar banget ngetiknya, butuh hours and days loh ini:”)
Untuk part terakhirnya mungkin setelah lebaran. Sampai sini, kalau cerita ini aneh.. you can just read and leave without comment^^

 

love12

No matter how hard I try to forget you
No matter how much I long for you
I remember you
The Day by Baekhyun & K-Will
-Baek’s sooner to be wife-

95 responses to “The Day [2/3]

  1. 35 pages, tpi pas baca berasa dikit *mungkin terlalu menghayati bacanya kali ya+terlalu seruuuu, baper, nyesek* (*^﹏^*) disini taeyeon berasa jadi pho, padahal taeyeon gak tau apa apa #pooronni ..
    Sehun kejem amett yakkk! Ngekiss sampe bersarah gitu ..
    ditunggu chapter ending nya onni ╯ε ╰

  2. Nyesek stagah😢 baek nya ga punya pendirian banget sih): udah tau si minjo sayang sama dia eh dia mau pergi lagi gimana sih ughh. Fighting ya kaa nulis next chapternya😘😘

  3. Duh makin kesini kesel bgt sm baekhyun deh. Gak pernah mau denger penjelasan minjoo dulu. Dikit2 marah, hbs makan cabe brp sih kok panas mulu hatinyaa. Jengkel deh pas kamu main nyosor ke taeyon aja, padahal minjoo nunggu kamu smpe sakit tuh.
    Pas giliran sudah nyesel sm kelakuanmu, eh malah ngehindar dari minjoo. Maunya apa sih ini cowok? Kok ribet bgt yaa

  4. duh baekhyunnya greget deh.. bkin slah paham mulu.. ayolah dtrunkan egonya.. iya deh ngrasa slah tp jgn tenggelam karena rasa bersalah itu dong..
    minjoonya yg sbar ya.. tp jd cwek jgn trima gtu aja dong.. gemes jg mentang2 saking cintanya..
    pdhl ini yg komen envy m cintanya mreka brdua nih..
    dtunggu setelah lbaran aja deh final partnya..
    keep writing ^^

  5. thooooorrr,,selalu sukses bikin aku baper,,aku jdi penggemarmu nih eonni,,dari ff the sun,flower in autumn,and now the day,,aku suka semuanya..

  6. ARGHHH! AKU JADI KEBAWA EMOSI BACANYA!!
    BAEKHYUN GA MAU DENGERIN MINJOO
    ITU JUGA BAEK CIUM TAEYEON KENAPA BAEK??? HAH KENAPA??!! SADAR BAEK!!
    SEHUN JUGA KAMU BAGUS NAK! BIAR TAU RASA ITU SI BAEK. TP BUKANNYA TAMBAH DEKET, KAMU MALAH TAMBAH JAUH KENAPA BAEK??! ARGGGHH KAMU TERLALU GENGSI! *haduh sabar2

    *maapin kebawa emosi, keep writing aja buat eonni!

    • SAYA SETUJUUUU!!
      tuh kenape si.. orang pake nyosar nyosor-_-
      Mana yg disosor bibir tae lagi-_-
      Gw jadi kepengen ngeden, pas bacanya :v

  7. AAARRGGHHH RASANYA BOOM BUNUH DIRI UDAH HAMPIR MELEDAK DI OTAKKU MASA! AKU BENERAN GREGET BANGET, KAK! DEMI UBUN-UBUN! KENAPA BAEKHYUN BODOH BANGET JADI ORANG! KENAPA DIA MALAH KEK MAKIN BENCI BANGET SAMA MINJOO! MINJOO PASTILAH MERASA MAKIN BERSALAH GEGARA BAEKHYUN YG MAKIN DINGIN! HELL, BISAKAH ADA HARAPAN SEDIKIT SAJA UNTUK MINJOO SENANG!? AKU GREGET LAGI SAMA SEHUN! DEMI TUHAN, AKU KESEL BANGET HAMPIR MENYAMAI MELIHAT CHANYEOL KISS SCENE/ABAIKAN INI/ JADI MAKLUMI CAPSLOCK YANG MENYAKITI MATA__-

    Ya ampun, maaf kan aku. Aku ga nahan pen marah-marah sama Baekhyun! Sumpah ya! Demi apapun! Aku pen teriak didepan Sehun dan Baekhyun sekarang! Padahal aku udah membaca 3 ceritanya kakak. Yang sama-sama konfliknya bikin panas-dingin, tapi tetap aja aku ga bisa santai ngadepinnya. Kim Taeyeon. Aku ga terlalu suka dia. Meskipun dia ga terlalu ngriwekin/? tapi udah keburu ga terlalu suka dari awal 2014 *eh
    Oke sekian. Ditunggu Happy Endingnya ya, Kak? *maksa
    Maaf karena komen aku menyakiti mata/senyum gaje/karena aku sayang kamu/gaaa nyambuu~ng____-

    Regard
    SulisPcy(sulistiANA)

  8. ya ampun baekhyun kelepasan gitu k taeyeon…kasihan minjoo, semoga happy ending, nggak sabar nunggunya

  9. Well Aku menyimpulkan dari cerita ini “Bahwa sebuah hubungan Yang terpenting adalah kepercayaan”
    Jujur,aku tidak suka bagian Baek nyium #sensor😒😂

  10. ini sedih banget, aku ampe nangis bacanya.. semoga happy ending.
    author maafkan aku yg baru komen disini^^

  11. ASTAGA AKU EMOSI BACANYAA PINGIN LEMPAR NIH HANDPHONE ASTAGAAAH
    BYUN BAEKHYUN TOLONG SADARLAAAH
    PLS PLS AUTHOR NIM YG BAIK HATI PART TERAKHIR TOLONG BUATLAH MEREKA BAHAGIA YAA

  12. kaka tau ga?aku nangisㅠㅠ gapercaya? sini deh kak dateng aja ke rumah aku sekalian bawain tisu di meja ruang tamu ye kak. :’ ntar aku kasi alamatnya lewat email klo mau, serius. :’3

  13. Ahhh sumpah sehun parah bgt!!!
    Baekhyun keterlaluan lama lamaaa
    Btw gomawo udah masukin yoosijin sama kang moyeon😀
    LOVE YOU THORRRR

  14. oemji baek jahat bgt yawlah nangis aku baca ini kasian minjoo pasti sakit bgt hatinya untung ini cuma ff ㅠㅠ

  15. baek.. astaga.. jangan dengerin si Sehun itu!! please balik jadi baekki nya minjoo!! huaaa.. emakk.. *nangis kejer*

    sangat bagus ceritanya authornim.. luvluv..

  16. akh….jadi jengkel juga lihat baekki
    hrusnya nanya minjoo dulu apa alsannya..
    pnsaran ending nya..
    next ya…fighting

  17. nyesek bngt part ini huhu 😢 , jahat bngt sehun nya jdii kasian sma minjoo. cepet balikan ya sma baekhyun…

  18. Aku gak kuat kalo hurt gini tapi karena penasaran bgt lanjut deh dan baper bgt kenapa pic Baekhyun harus manis gitu kayak gak ada dosa padahal numpuk jahat banget gak sadar2 Minjoo baru sadar malah sok dingin gitu :3

  19. TIDAAAAAAAAAAAAAKKKKKKKK!!
    NO NO NO NO NO NO!!!!
    KENAPA HARUS ADA KISSING SCENE DISITUUUUUUUU ㅠㅅㅠ
    GW SAMPE NANGIS NANGIS BACANYAAAA :”
    DUH GUSTI… DEMI BOKONG BAEKHYUN YANG SEKSI.. KENAPA HARUS ADA KISSING SCENE????

    Maap, kebablasan capslock nya..
    Duh, beneran dah… gw benci sebenci bencinya, pas baca “detik berikutnya bibir….” omgg!!!!
    Duh, gila kali ah gw :””
    Tapi untung aja disitu ada kata “tapi kenapa rasanya tidak manis” :v saowlohhhhh…. iyalah kaga manis.. kebanyakan minum cuka tuh orang :v
    Btw, didetik detik terakhir gw baca “apakah aku masih pantas denganmu”
    Omaigat.. gw langsung mikir “jangan cerai plis… jangaaann”
    Huh.. sudah lah, pokonya harapan gw cuma satu di last chap, SEMOGA TAE TAE TENGGELAM! dan gak muncul lagi..

    *clinggg* *ngilang*

  20. Aduh nyesek bgt bacanya >< bikin gemes sendiri kak wkwk apalagi part terakhir. Hehe
    Next chap bakal ditunggu🙂

  21. AAAAARRRRRGGGGHHHHH……… Sumpah ceritanya nyulut emosi akuu banget…
    Baekhyun…knp km kejam banget sama minjoo??????
    Aaahhh gimana reaksi minjoo kalau tau baekhyun pernah cium taeyeon walau pun khilaf?????? Ahh penasaran sama part selanjutnya……
    Di tunggu yah thor…. Keep writing and tetap semangat😀

  22. AAAAARRRRRGGGGHHHHH……… Sumpah ceritanya nyulut emosi akuu banget…
    Baekhyun…knp km kejam banget sama minjoo??????
    Aaahhh gimana reaksi minjoo kalau tau baekhyun pernah cium taeyeon walau pun khilaf??????plissss mereka jangan sampe CERAI…kalau mereka CERAI….aku jd benci sama taeyeon and sehun…
    Ahh penasaran sama part selanjutnya……
    Di tunggu yah thor…. Keep writing and tetap semangat😀

  23. Heell.. ya ampun, pingin teriak sekeras-kerasnya.. Byun Baekhyun bodoh sebodoh bodohnya.. kmu tega sekali, menyakiti Minjoo yg jelas2 cintanya cuma buat kmu, tpi kmu malah maki, marah, benci bahkan nusuk dia dari belakang??!! Sehun juga sama aja ternyata, aku kira dy bkalan bner2 tulus perhatian sama Minjoo tanpa pamrih, tpi nyatanya…., heol knpa Minjoo mesti dihadapkan pada pria-pria seperti mereka-_-
    P.s Songsong couple ada nyempil disini😅😅.. pantesan di part 1 rada kenal2 gitu sama Tuan Yoo hihihi

  24. kzl, marah, sedih,sakithati bacanya, pengen mukul baekhyun deh… ngeselin bngt dia. aaaaargh kesel aku jadinyaa huhuhuu

  25. ingin ku berkata kasar dan mengabsen semua penghuni kebun bintang😭/apaanseh-,-/ sumpah aku benci bgt sama Baek sampe tadinya aku mikir mending sama sehun aja lah dia aja masih setia nyimpen perasaannya ke minjoo-_-
    Berani-beraninya kmu Baek meragukan cinta minjoo dan ngehianatin minjoo dibelakang!! Si minjoo sakit menderita gara-gara dirimu eh dirimu malah lagi asik hengkang-hengkeng(?) sama si taeyeon.
    Rasanya aku kalo jadi minjoo trs tau klo Baekhyun nyium taeyeon sumpah aku bakal marah ngelebihin si Baek marah ke minjoo rasanya aku pen maki-maki si Baekhyun trs pen nonjok, tendang, sumpelin cabe ke mulut sama matanya trs dorongin ke jurang paling dalam didunia tapi hayalan itu semua sirna begitu liat pict si Baekhyun diatas😭Ampunn si Baek bisa aja bikin hati ini tenang😩 Pokonya part ini berhasil bikin aku nangis darah plus kejang-kejang(?)😩 Ditunggu next chapternya setelah lebaranT_T

  26. Ohiya satu lagi kak😁 Semoga akhirnya Happy endingT_T ya walaupun di part ini aku pen bgt bunuh si Baek yg nyebelinnya maksimal-_- tapi aku pen Happy ending aja plissT_T dan satu lagi semoga kamu*nunjuk taeyeon* jangan baper ya dicium sama si Baekhyun-_-

  27. Aduhohoho baek kejam banget sih tega banget sama minjoo.
    susah banget buat denger penjelasan minjoo, aduh jadi kesel sendiri sama pria tamvan ini, wakakakaka
    makin penasaran sama next chapnya…
    huwaaa disini juga ada kopel yang aku suka song2
    baekhyun pokonya nyebelin banget dah sumpah greget sendiri jadinya. semanagt^^

  28. Sumpah nangisss, nyesek bangettt. Rasanya marah sama baekhyun. Rasanyaa sumpah gabisa berkata2. Nangis sepanjang chapter😭. Plzzz kalo sad ending, hati ini gakuatt:'(. Apalagi inspired dari the day nya baekhyun k.will kan sad banget tu:'( pokoknya sukses aja deh kak. Masih pengen nangis:'( oh yaa sampek lupa kehadiran songsong couple. Sippp kak ff nya, nguras hati perasaan emosi air mata juga

  29. Aku ingin ini ceritanya happy ending dong kak aku gk bisa bayangin klw ini sad ending. Rasanya aku pengen musnahin taeyeon deh, ditunggu kak next chapnya

  30. Aku telat banget baca ff ini..
    Baekhyun nyebelin banget, harusnya dia minta maaf dong sama Minjoo, dia egois banget..
    Bahkan dia juga sama Taeyeon kan, seolah2 cuma Minjoo aja yg salah..
    Kalo kaya gini Minjoo harus kasih pelajaran ke Baekhyun, biar Baekhyun nyesel..
    Di tunggu next chapternya ^^

  31. Omo omo omo jinjaro baekkiyaaaa tp cocok sih klo ama kelakuanmu yg nakal tp klo liat wjhmu jdinya heummm bnr2 gk nyangka bsa berbuat kyk gtu.😦;>;(:>

  32. aaaarrrggghhh,,,, gk bisa aku gk komen,,, bacanya aja butuh dua hari untuk nyeleseinnya,,,, udah bikin anak sungai dipipi juga,,,,, gimna nanti akhirnya cerita ini,,,,,, baek kalo sampe ngelepasin minjoo , dia benarrr benar pria bodoh , paling bodoh didunia,,,,

  33. Ruwet yahh 😂😂
    Gatau deh harus mihak ke siapa huhu
    Tapi di tengah tengah keruwetan(?) Cerita ini, gua ngakak karna ada yoo sijin sama kang moyeon nyempil AHAHAHA😄

  34. Udh kelamaan ga buka wordpress jadi lupa sama ceritanya. Jadi baca ulang chap 1 deh/? Tuh kan bener si taeyon pasti jadi orang ketiga deh ah. Tp aku ko agak kasian ya sama sehun, menurut aku dia ga salah, tapi kenapa semua orang benci dia/? Aku juga jd ga suka tuh sama sifatnya baekhyun disini, kenapa dia jadi gampang emosi? Lagi bulanan/? Tapi kalo diliat dari chap 1 nya, kayaknya sad ending ya ? Jangan sampe sad ending dong kaak>< ya semoga saja taeyon itu cepat menghilang/? Entah kenapa bawaannya kesel kalo taeyon muncul disini:v ditunggu chapter terakhirnya kaak😁

  35. Pingback: The Day [3/3] | SAY KOREAN FANFICTION·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s