10 Steps Closer [1st Step] + Announcement

10steps-closer-chanjun-poster

Ziajung’s Storyline©

Casts: Park Chan Yeol | Choi Seo Ah

Genre: Romance, Comedy, Marriage Life

Prev : 10 Steps Closer [Prolog]

———————————————–

Haiiii

 

Mau pengumuman nih.

Berhubung Juniel sudah comeback, dan berhubung ada info baru tentang bebeb tersayangku ini, mulai sekarang TIDAK ADA LAGI NAMA CHOI JUN HEE

 

Kenapa?

 

Kenapa??

 

Karena nama asli Juniel diganti jadi Choi Seo Ah T.T so, mulai sekarang nama Juniel bakal aku ganti jadi Seo Ah, termasuk di ff 10 Steps Closer. *ps tapi aku males ngedit di prolog, jadi biarkan saja hehe

 

Sekian… maaf atas ketidaknyamanannya

♠♠♠

1st Step

 

Ini pertama kalinya Chan Yeol melihat ekspresi Jun Hee yang seperti itu

 

***

                Seo Ah merasakan otot lehernya kaku karena sudah lebih dari tiga jam duduk di meja berhadapan dengan laptopnya. Jam digital di meja kerjanya sudah menunjukkan pukul 10 lewat 45 menit. Kalau di hari biasa, Seo Ah pasti sedang duduk menonton tv sambil menunggu Chan Yeol pulang. Tapi berbeda malam ini, deadline tugasnya menumpuk sehingga memaksanya untuk bergadang. Seo Ah harus membuat soal untuk tes tengah semester Bahasa Inggris, sekaligus memasukkan nilai murid-murid ke data base sekolah. Kebiasaan Seo Ah; selalu mengulur waktu, sampai-sampai ia lupa deadline-nya tengah malam ini.

Seo Ah mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi sambil meregangkan seluruh ototnya. Ia sudah menyelesaikan naskah soalnya dan sudah pula mengirimkannya ke email panitia ujian, hanya tinggal memasukkan nilai siswa. Ini bukan pekerjaan mudah, jujur saja. Seo Ah harus ekstra teliti kalau tidak mau mendapat surat protes dari orangtua murid. Terkadang menjadi guru muda selalu menjadi sasaran empuk omelan para orangtua murid.

Seo Ah melirik jam digitalnya, lalu menerawang ke luar jendela perpustakaan di dalam rumah itu, seolah ia mempunyai kekuatan pandangan jarak jauh. Pasalnya, meski jendela itu tidak tertutup gordyn, yang terlihat dari tempat Seo Ah hanyalah pohon pine yang berjejer rapi. Ia menghela nafas kemudian. Chan Yeol pasti pulang telat lagi hari ini, tapi kenapa dia belum menguhubunginya?

Dan tepat saat itu, ponsel Seo Ah bergetar.

Diberkatilah, kau, Park Chan Yeol.

Aku pulang sedikit terlambat. Matikan tv dan tidur. Jangan menungguku.

Bahkan dalam sebuah pesan singkat pun pria ini juga pelit kata. Seo Ah bisa mendengar jelas di kepalanya bagaimana Chan Yeol mengucapkan kata-kata itu kalau dia berada di hadapan Seo Ah sekarang.

Seo Ah meletakkan kasar ponselnya ke meja. “Kalau dengan tidur aku bisa menyelesaikan semua tugasku, aku pasti sudah memiliki anak dengan Chris Evans di alam mimpi.”

Wanita itu kembali berhadapan dengan layar laptopnya. Satu tangannya berada di keyboard laptop, sedangkan satunya lagi membuka buku nilai lalu menyusuri nama per nama muridnya dengan jari telunjuk. Dalam saat-saat seperti ini, Seo Ah selalu berharap kalau ia adalah guru khusus kelas internasional yang hanya memiliki kurang lebih sepuluh murid, daripada guru-Bahasa-Inggris-kesayangan-di-SMA-Yongsan-Gangnam. Bayangkan! Seo Ah harus memasukan semua nilai 120 murid kelas dua, dan 40 murid kelas satu itu ke data base kurang dari dua jam lagi. Kecepatan jari-jari dan ketelitian matanya sedang diuji sekarang.

Memerangi rasa kantuk yang mulai menghantuinya, Seo Ah mengambil remote DVD Player yang tergeletak tidak jauh dari sana dan menyalakan benda itu di sana. Dan ketika tahu bahwa alunan piano klasik yang mengalun memenuhi perpustakaan ini, Seo Ah mendesah. Ia lupa kalau Chan Yeol lebih sering menghabiskan waktunya di sini daripada dirinya, jadi sudah pasti DVD Player itu berisi koleksi Chan Yeol.

Ini tidak berhasil!

Seo Ah mematikan kembali DVD Player itu dan memilih memutar musik keras-keras dari ponselnya. Lagu “Worth It” milik Fifth Harmony pun menghentak, dan Seo Ah kembali melanjutkan pekerjaannya sambil menggoyangkan pinggul di kursi.

Tok tok tok

Seo Ah mengalihkan pandangannya dari layar laptop dan menatap pintu perpustakaan yang tertutup. Ia rasa mendengar sesuatu, lalu mengecilkan volume musik dari ponselnya. Ketukan di pintu terdengar lagi. Menyenderkan punggungnya di kursi, Seo Ah lalu berdiri dengan sedikit paksaan. Yang ia mau hanya menyelesaikan tugasnya sebelum tengah malam—dan kalau beruntung, sebelum Chan Yeol pulang—lalu pergi tidur agar ia bisa bangun pagi-pagi.

Saat Seo Ah membuka pintu, seorang wanita paruh baya sudah berdiri di sana, sambil menunduk. Seo Ah mengangkat sebelah alisnya, tumben sekali Yoon Ahjumma menghampirinya malam-malam begini. Biasanya, Yoon Ahjumma—asisten rumah tangga di rumah initidak akan mengganggu Seo Ah ketika wanita itu langsung masuk perpustakaan, bukan kamarnya. Bahkan untuk menawarkan camilan, sebelum Seo Ah memintanya, ia tidak akan pernah membawakannya, karena Seo Ah bukan tipe orang yang suka diganggu. Tapi melihat gelagat Yoon Ahjumma, Seo Ah tidak bisa mengusir wanita ini begitu saja.

“Maaf, Nona Seo Ah sudah mengganggu pekerjaan Anda. Ada sesuatu yang ingin saya sampaikan.”

Meski Seo Ah selalu mengatakan tidak perlu seformal itu saat Chan Yeol tidak ada, tetap saja Yoon Ahjumma terkadang memanggilnya begitu. Seo Ah memang dibesarkan di lingkungan elit, tapi ia tidak nyaman diperlakukan begini.

“Ya? Ada apa?”

Yoon Ahjumma mengangkat kepalanya. Kerutan di dahi Seo Ah bertambah saat melihat mata sembab wanita itu. “Saya baru mendapat kabar bahwa anak saya mengalami kecelakaan, dan sekarang sedang dalam masa kritis. Jadi saya—“

“APA?! KALAU BEGITU APA YANG AHJUMMA LAKUKAN SEKARANG?! CEPAT PERGI KE RUMAH SAKIT!”

Mendengar penjelasan terpotong Yoon Ahjumma, Seo Ah menjadi panik sendiri seolah anggota keluarganyalah yang mengalami itu. Mata Seo Ah bergerak gelisah, sebelum akhirnya beranjak dari pintu perpusatakaan menuju kamarnya—dengan Chan Yeol. Yoon Ahjumma, yang masih belum bisa menata perasaannya, hanya diam di pintu perpustakaan sambil sesenggukkan.

Yoon Mi Rae tahu, baik Seo Ah maupun Chan Yeol adalah majikan yang baik, tapi tetap rasanya ia melepas tanggung jawab begitu saja kalau pergi dari rumah ini malam-malam. Namun di satu sisi, ia tidak bisa berhenti bagaimana nasib anak laki-lakinya di Daegu sana. Seorang tetangganya menelepon dan mengatakan kalau anaknya tertabrak mini bus saat pulang sekolah dengan sepedanya. Anaknya sudah duduk di kelas tiga SMA, dan membuatnya sering pulang malam belakangan ini. Padahal Yoon Mi Rae sudah mengingatkan untuk selalu berhati-hati, namun tidak ada yang bisa memprediksi apa yang terjadi satu detik berikutnya.

Seo Ah mendekati Yoon Ahjumma dengan terburu-buru, dan langsung meraih kedua tangan wanita paruh baya itu sambil meremasnya pelan, memberikan kekuatan. Bersamaan itu, Seo Ah meletakkan amplop putih berisi uang di tangan Yoon Ahjumma.

“Ini, sedikit dariku untuk membantu biaya perawatan anak Ahjumma.”

“Tapi, Nona…”

“Ambillah, tidak apa-apa. Ini uangku sendiri,” Seo Ah menahan tangan Yoon Ahjumma yang ingin mengembalikan uang itu. “Apa Ahjumma sudah menyiapkan apa saja yang akan dibawa? Perlu kubantu?”

Kini giliran Yoon Mi Rae yang menahan tangan Seo Ah saat wanita itu berbalik. Perlakuan Seo Ah sangat membuatnya berat hati. Bukan apa-apa, ia makin merasa bersalah karena meninggalkan tanggung jawabnya di sini, terlebih Seo Ah sangat baik. Melihat majikannya panik setengah mati begini, Yoon Mi Rae yakin kalau dia adalah wanita yang baik.

“Tidak perlu khawatir, Nona. Saya… sangat berterima kasih dan juga mohon maaf karena mengganggu Nona malam-malam begini.” Yoon Ahjumma kembali menangis.

Ahjumma kenapa begitu… kita ini hidup dalam satu atap, itu berarti kita adalah keluarga.” Seo Ah meremas telapak tangan Ahjumma. “Sekarang, Ahjumma bersiap-siap dan segera pulang ke Daegu. Aku yakin anakmu pasti ingin kau ada di sana.”

Yoon Ahjumma menggeleng. “Aku akan berangkat setelah Tuan Chan Yeol pulang.”

“Aku yang akan mengatakan pada Chan Yeol bahwa Ahjumma kembali ke Daegu malam ini. Jangan khawatir.”

“Terima kasih, Nona… terima kasih…” Yoon Ahjumma membungkuk berkali-kali kepada Seo Ah, dan langsung saja wanita itu tahan.

“Aku sudah menelepon Supir Park tadi, mungkin dia sudah berada di depan untuk mengantar Ahjumma.”

“Nona… tidak perlu repot-repot, saya bisa naik bus saja.” Sambil menahan haru, Yoon Mi Rae berkata pada Seo Ah.

Seo Ah menggeleng keras. “Tidak, Ahjumma. Anggap saja ini perintah dariku!”

***

Seo Ah tidak tahu seberapa lama ia berdebat dengan Yoon Ahjumma malam tadi, sampai akhirnya ia mau juga diantar Supir Park yang sudah menunggu selama dua puluh menit di depan rumah. Setelah mengantar kepergian Yoon Ahjumma sampai gerbang, mata Seo Ah langsung membulat begitu jam menunjukkan hampir setengah dua belas malam. Ia pun mengerahkan seluruh kekuatan jari tangan dan kemampuan-sistem-kebut-semalamnya untuk menyelesaikan deadline. Akhirnya pukul dua belas lebih lima belas menit dini hari ia berhasil memasukan semua data. Untungnya ia menghubungi Lee Seonsaengnim sebelumnya, jadi beliau tidak mengunci database sebelum Seo Ah menyelesaikan tugasnya.

Seo Ah membuka matanya saat ia merasakan lehernya sangat sakit. Saat ia sadar, kepalanya sudah berada di pinggir kasur. Kepalanya langsung pusing karena melihat pintu kamarnya dengan posisi terbalik. Sambil melenguh, dan menahan sakit di lehernya, Seo Ah pun duduk di atas kasur.

Jam berapa ini?

Kenapa Yoon Ahjumma tidak membangunkannya?

Dengan mata setengah terbuka, Seo Ah meraba nakas di sebelah tempat tidurnya untuk mencari ponsel. Setelah menemukan, ia menyalakan layar ponsel itu, lalu terbelalak sendiri. Sudah pukul tujuh lewat! Dan ia belum melakukan apa-apa selain mengelap sisa air liur di sudut bibirnya.

Seo Ah pun meluncur ke luar kamar sambil memanggil Yoon Ahjumma. Dan ketika ia sudah sampai di dapur, ia baru ingat kalau dirinya sendiri yang mengantar Yoon Ahjumma sampai pintu gerbang semalam. Seo Ah mengumpat. Sial! Pantas saja rasanya ada yang berbeda pagi ini.

Ia melihat sekeliling dapur, sangat sunyi, seolah tidak ada kehidupan di sana (tentu saja! Hanya Seo Ah satu-satunya makhluk hidup di tempat itu). Perlu waktu beberapa detik sebelum Seo Ah mengetahui apa yang harus ia lakukan selanjutnya. Membangunkan Chan Yeol! Meski terlihat seperti pria rajin yang tidak suka membuang waktu, Chan Yeol tidak bisa bangun pagi kecuali ia dibangunkan. Dan itu sudah menjadi kewajiban Yoon Ahjumma di pagi hari sebelum membuat sarapan.

Ya… Seo Ah hanya berharap Chan Yeol tidak menyemburnya dengan sumpah serapah karena telat membangunkannya sehingga pria itu tidak sempat lari pagi di taman dekat sungai.

Seo Ah kembali menaiki anak tangga, lalu berbelok ke kanan, menuju kamar Chan Yeol—yang juga sebagian kamarnya. Meski secara teknis kamar ini juga merupakan kamar Seo Ah, tetap saja wanita itu agak canggung memasukinya. Ia pun mengetuk pintu itu tiga kali. Tidak ada jawaban, Seo Ah pun membuka pintu itu yang memang tidak pernah dikunci, karena Chan Yeol sadar diri juga kalau Seo Ah pemilik kamar ini. Selain itu, agar Yoon Ahjumma lebih mudah membangunkannya.

Chan Yeol tertidur dengan damainya di atas kasur besar itu. Cahaya matahari menyelip dari celah jendela yang tidak tertutup gordyn. Siluet punggung tegap yang nyaman itu baru pertama kali Seo Ah lihat. Biasanya Seo Ah selalu melihat sosok kaku dan dingin Chan Yeol, bahkan beberapa kali wanita itu tidak menganggap Chan Yeol sebagai manusia saking kakunya. Tapi melihat bagaimana Chan Yeol bernafas dengan teratur dalam tidur, sosok yang tenang tanpa beban, dan rambut tanpa tatanan apapun, Seo Ah sadar kalau pria ini manusia biasa juga.

Seo Ah menggeleng. Ia terlalu lama menganggumi sosok-tidak-normal-Park-Chan-Yeol sampai ia lupa sudah berapa menit waktu berharganya terbuang. Dengan langkah lebar, Seo Ah berjalan menuju jendela dan membuka gordyn lebar-lebar. Ia pikir setelah itu Chan Yeol—setidaknya—akan merasa terganggu dan berbalik badan, tapi pria itu masih saja betah dengan posisi seperti itu. Cahaya matahari yang masuk membuat Seo Ah bisa melihat jelas bagaimana wajah tidur suaminya itu.

Dahi yang biasa terpampang jelas, kini tertutup poni Chan Yeol yang berwarna hitam. Pandangan Seo Ah turun ke mata pria itu yang tertutup rapat, alisnya sangat rapi, dan bulu mata itu—bahkan lebih panjang dari punya Seo Ah. Hidungnya yang mancung dan bibirnya… yang penuh dan menggoda. Sial! Bagaimana bisa ia terlihat tiga kali lebih cantik dari Seo Ah. Pantas saja banyak karyawan wanita yang tergila-gila padanya. Chan Yeol hanya perlu menggerakkan satu milimeter—tidak, bahkan setengah milimeter—sudut bibirnya untuk membuat wanita-wanita itu pingsan besimbah darah dari hidung, sedangkan Seo Ah butuh kerja ekstra agar mata sayunya terlihat lebih hidup saat berangkat kerja.

Kerja… ya…

Ah, sial! Benar! Ia harus bekerja!

“Chan Yeol-ssi! Chan Yeol-ssi! Bangun! Kau tidak bekerja hari ini?” Tanpa menyentuh Chan Yeol, Seo Ah berkata dari tempatnya berdiri.

“Eung?”

“Chan Yeol-ssi! Ini sudah hampir setengah delapan!”

Mendengar ada gangguan kecil yang menggelitik gendang telinganya, bola mata Chan Yeol mulai bergerak. Seharusnya ia sudah tidak asing lagi dengan situasi pagi seperti ini, tapi tetap saja ada yang aneh. Ia merasa suara Yoon Ahjumma tidak semerdu ini sebelumnya. Dan lagi… darimana cahaya itu? Ah… apa Yoon Ahjumma khilaf sampai ia lupa Chan Yeol benci kalau dibangunkan dengan cara begini?

“Chan Yeol-ssi…”

Dan… ‘ssi’?! Apa sekarang undang-undang persamaan hak juga termasuk memanggil majikannya dengan sesantai itu?

“Ayolah… cepat bangun! Aku juga bisa telat!”

Oke, rasa penasaran Chan Yeol mulai tidak terbendung. Dengan berat, ia membuka matanya. Hal pertama yang ia lihat adalah seberkas cahaya yang menyilaukan bersama dengan siluet seseorang. Setelah pandangannya jelas, ia baru sadar kalau orang itu bukan Yoon Ahjumma, tapi istrinya.

“Choi Seo Ah? Sedang apa di sini?” sambil mengusap wajahnya, Chan Yeol duduk di kasur.

“Yoon Ahjumma kembali ke Daegu semalam, jadi—ah, sudahlah! Akan kujelaskan nanti. Cepat bersiap, aku sudah terlambat!”

Seo Ah pun keluar dari kamar itu, meninggalkan Chan Yeol dengan dahi berkerut. Kapan Yoon Ahjumma kembali ke Daegu? Kenapa ia tidak tahu? Ah… Chan Yeol lupa kalau semalam ia pulang lewat tengah malam. Keadaan rumah yang sepi memang sudah menjadi pemandangan yang biasa untuknya, jadi ia tidak curiga.

Tapi, tunggu…

Kalau Yoon Ahjumma kembali ke Daegu, itu berarti… dia hanya berdua dengan Seo Ah di rumah ini selama beberapa hari ke depan?

***

Chan Yeol turun dari kamarnya dengan pakaian kantor yang rapi—celana bahan abu-abu, kemeja putih, dan dasi abu-abu yang sudah melekat rapi di lehernya. Keadaannya sangat kontras dengan Seo Ah yang seolah sedang berperang di dapur. Wanita itu sudah berpakaian rapi, namun wajahnya masih pucat karena belum memakai make-up. Rambutnya pun masih diikat asal dengan satu rol di poninya. Kedua tangan Seo Ah sibuk mengolah makanan yang sudah ia siapkan di pantry, sesekali mulutnya menggerutu karena detik demi detik terbuang hanya untuk membuat sarapan.

“Kenapa Yoon Ahjumma kembali ke Daegu?”

Untung saja Seo Ah sudah mulai terbiasa dengan kehadiran Chan Yeol yang tiba-tiba seperti itu, jadi ia tidak sampai menuang kopi panas itu ke wajah Chan Yeol saking kagetnya. Setelah menuang kopi ke cangkir dan memberikannya pada Chan Yeol, Seo Ah pun menjawab.

“Anaknya kecelakaan dan masuk ICU semalam. Maaf aku tidak memberitahumu lebih awal, semalam benar-benar panik.”

“Apa sekarang sudah baik-baik saja?”

Seo Ah mengangguk, masih menyiapkan sarapan. “Iya. Tadi dia menghubungiku, anaknya sudah stabil katanya.”

“Syukurlah.”

Kalau boleh dibilang, ini adalah percakapan pagi terpanjang yang mereka punya. Tidak, mereka bukan saling membenci sampai-sampai tidak sudi untuk saling berbicara, tapi karena memang tidak ada yang ingin mereka bicarakan. Mereka tinggal di satu rumah bagai orang asing yang tinggal di satu gedung apartemen namun enggan ikut campur urusan masing-masing. Bahkan pesan-pesan yang masuk ke ponsel mereka selalu berbunyi sama; ‘aku pulang telat, jangan menunggu’.

Yoon Ahjumma seolah menjadi penghubung dan satu-satunya alasan mereka saling berbicara. Entah itu hanya untuk menanyakan mau makan apa, atau hal-hal kecil lainnya. Dan sekarang, ketika Yoon Ahjumma tidak ada di antara mereka, kekhawatiran muncul di hati Chan Yeol. Bagaimana hubungannya dengan Seo Ah nanti?

“Nah, makanlah.” Seo Ah meletakkan piring berisi dua potong Sandwich Bacon di hadapan Chan Yeol, lalu menggigit satu miliknya dan beranjak dari dapur.

“Setelah selesai makan, taruh saja piringnya di bak cuci piring. Akan kucuci nanti.” Lanjut Seo Ah sambil mengunyah.

Chan Yeol baru saja ingin memakan Sandwich-nya ketika ia melihat Seo Ah mengambil tasnya yang diletakkan di kursi meja makan. Wanita itu terlihat lebih terburu-buru dari biasanya. Penasaran, Chan Yeol pun melirik jam tangannya. Sudah hampir setengah 8 lewat ternyata, pantas wanita itu kelabakan. Biasanya Seo Ah berangkat dari rumah pukul setengah 8 kurang sepuluh. Karena lalu lintas yang padat dan jarak rumah ke sekolah tempat Seo Ah mengajar cukup jauh, ia bisa menghabiskan tiga puluh menit sendiri di jalan. Itu juga sudah menggunakan mobil pribadi.

Mengalihkan pandangan, Chan Yeol berucap dengan datar. “Sarapan dulu.”

“Tidak ada waktu, aku sudah sangat terlambat.” Jawab Seo Ah. Ia memeriksa sekali lagi dokumen dan buku yang harus ia bawa. “Aku pergi duluan, Chan Yeol-ssi.”

“Seo Ah-ya, tunggu.”

Seo Ah menghentikan langkahnya lalu berputar. Dengusan pelan keluar dari hidungnya. “Apa lagi? Kalau ada yang ingin kau bicarakan, bisa saja nanti? Atau… kirimi saja aku pesan, oke?”

Chan Yeol tidak merespon, malah bangun dari kursi tinggi meja pantry lalu menghampiri Seo Ah. Pria itu berhenti tepat di hadapan Seo Ah. Ketika Seo Ah mengangkat kepalanya, ia baru sadar, kalau tinggi badannya sama sekali tidak berarti bagi Chan Yeol. Pria itu menjulang di hadapannya, dan menatapnya dengan sorot mata yang datar. Tapi entah kenapa itu malah membuat Seo Ah harus menelan air liurnya.

“Ke-Kenapa?”

Tangan Chan Yeol terulur, menyentuh sesuatu di kepala Seo Ah. Rol rambut. “Lain kali, bangunlah lebih pagi.” Setelah itu, ia pun kembali duduk di kursinya.

Seo Ah mencibir. Kalau bukan karena deadline-nya itu, ia pasti sudah berada di jalan sekarang! Ah, sial! Waktunya makin menipis!

***

                Ada yang lebih canggung daripada tidak adanya Yoon Ahjumma di antara suami istri yang tidak pernah berbicara lebih dari lima kalimat sebelumnya; yaitu hari libur tanpa ada janji apapun. Biasanya, saat hari libur, mereka selalu ada janji keluar atau berusaha untuk tidak ada di rumah seharian. Tapi minggu ini, sungguh di luar rencana. Hari Jumat ini kebetulan Chan Yeol mengambil cuti karena minggu depan ia harus pergi ke Dallas untuk urusan bisnis. Dan karena Jumat ini ada festival olahraga di sekolah, maka jam pelajaran ditiadakan. Seo Ah lebih memilih tinggal di rumah daripada harus keringatan di lapangan seperti guru-guru lainnya.

Tapi kemudian Seo Ah berpikir, mungkin belum terlambat untuk pergi ke sekolah sekarang, meski jam sudah menunjukkan pukul sepuluh.

“Kau… libur?” Seo Ah mengawali pembicaraan saat tanpa sengaja menemukan Chan Yeol sedang bersantai di pinggir kolam renang sambil mendengarkan musik.

“Ya.”

“Baik… lah….” dengan canggung, Seo Ah memutar langkahnya, masuk kembali ke dalam rumah. Niatnya untuk membaca novel di kursi malas itu tiba-tiba hilang, dan sekarang ia tidak tahu harus melakukan apa. Seharian di dalam kamar sama sekali tidak menyenangkan! Apalagi menyusun materi untuk minggu depan.

Setelah lima menit mundar-mandir tidak jelas di dalam rumah, Seo Ah akhirnya masuk ke home theater. Jarang-jarang ia masuk ke sini karena tempat ini seolah area pribadi Park Chan Yeol selain perpustakaan. Ia hanya masuk untuk sekadar meminjam film berbahasa Inggris untuk materi pelajaran. Seo Ah bukan pencinta film.

Tapi sekarang, karena tidak ada pilihan lain, ia pun masuk ke tempat ini. Pantas saja Chan Yeol betah di tempat ini, AC-nya sangat dingin! Seo Ah duduk di sofa selama beberapa saat sebelum berdiri dan mulai memilih film. Tidak apa-apa, kan? Toh, secara teknis rumah ini juga rumahnya, jadi ia bisa melakukan apapun di sini. Yang penting Seo Ah tidak mengganggu Chan Yeol.

Melihat genre film koleksi Chan Yeol, Seo Ah semakin yakin kalau mereka berdua sama sekali tidak cocok. Kebanyakan film di sini berbau spy, casino, sci-fic, dan hal-hal yang-sangat-dunia-Park-Chan-Yeol. Seo Ah sampai mengerutkan hidung dibuatnya. Tidak ada pilihan lain, Seo Ah memilih satu film yang dimainkan aktor yang ia ketahui—selain Chris Evans.

“Sedang apa?”

Seo Ah mengalihkan pandangan dari DVD Player dan melihat ke balik punggungnya. Chan Yeol bersender di kusen pintu sambil melipat tangannya. Nada yang digunakan Chan Yeol memang bukan nada mencurigai, tapi tetap saja Seo Ah terganggu. Sepertinya pria itu tidak punya nada lain selain datar. Ingin sekali Seo Ah menjawab; ‘memangnya apa lagi yang kulakukan di tempat seperti ini?! Mencuci baju?!’.

Tapi tidak sampai hati ia melakukan itu, jadi ia hanya menjawab seadanya. “Aku bosan, jadi ingin menonton saja.”

“Biasanya kau menonton di kamar.”

Seo Ah menaikan sebelah alisnya, tersinggung. “Jadi aku tidak boleh menonton di sini? Baiklah—“

“Tidak, bukan begitu,” Chan Yeol bergeser sedikit, sehingga kini ia menutupi seluruh pintu masuk, ketika Seo Ah beranjak dari depan DVD Player. “Duduklah. Biar aku yang menyalakan.”

Dengan perasaan—masih—sedikit jengkel, Seo Ah duduk di sofa, sementara Chan Yeol berkutat dengan DVD Player. Setelah layar tv menampilkan gambar awal film, Chan Yeol ikut bergabung bersama Seo Ah di sofa. Itu membuat Seo Ah refleks menggeser duduknya, membuat jarak lebih jauh.

Dan Chan Yeol tidak begitu peduli.

Detik demi detik pun berjalan, Seo Ah mulai merasa bosan di tempatnya. Oke, ia mengerti jalan cerita film itu, tapi tidak mengerti di mana letak menariknya. Berbeda dengan Seo Ah, Chan Yeol terlihat sangat antusias menonton meski—Seo Ah yakin—ini bukan pertama kalinya ia menonton film tersebut. Seo Ah pun sedikit takut untuk bertanya pada Chan Yeol karena sebaik apapun perasaan pria itu, tetap saja wajahnya datar.

“Chan Yeol-ssi.” Panggil Seo Ah akhirnya, Chan Yeol pun menoleh.

“Aku ingin mengambil camilan sebentar.”

“Hm.”

Seo Ah melirik Chan Yeol dengan ujung matanya. Cih! Kalau saja ia tidak sabar hati, ia pasti sudah melempar sofa itu sampai Chan Yeol terbalik. Untungnya Seo Ah hanya mewujudkan itu dalam pikirannya, dan memilih cepat-cepat pergi dari sana menuju dapur.

Setelah Seo Ah keluar ruangan, Chan Yeol menghela nafas panjang. Ia merasa tidak enak hati pada wanita itu. Kentara sekali kalau Seo Ah tidak menikmati film. Sedari tadi Seo Ah hanya duduk dengan wajah datar dan sesekali mengerutkan dahinya. Memang tidak ada pilihan lain, semua film yang Chan Yeol punya memang begini.

Awalnya Chan Yeol sedikit kaget juga saat melihat Seo Ah berkeliaran di rumah pada hari Jumat. Sebagai guru, ia memiliki jadwal kerja lima hari seminggu dan jarang sekali dapat libur selain libur nasional. Chan Yeol pikir, ia bisa menikmati waktu santainya sendiri hari ini dengan menonton film. Tapi melihat Seo Ah duluan berada di home theater, rencananya seketika berubah. Mungkin tidak ada salahnya menikmati waktu libur bersama.

Momen seperti ini memang sangat jarang. Biasanya mereka menghabiskan waktu di tempat favoritnya masing-masing tanpa saling mengganggu. Bahkan Seo Ah terkadang tidak pulang seharian saat hari libur karena keluar kota bersama teman-temannya. Makanya, sekarang suasana di rumah terasa sangat canggung.

Seo Ah datang sepuluh menit kemudian dengan sebungkus popcorn instan, kripik kentang, setoples permen mint, dan dua botol jus apel. Sepertinya ia sengaja mengulur waktu karena bosan, tapi lucunya ia tetap kembali ke sana.

Tidak seperti sebelumnya, Seo Ah lebih memilih duduk di lantai, berhadapan dengan sebuah meja. Perhatian wanita itu masih mencoba menikmati film, meski jelas sekali terlihat kalau popcorn itu lebih menarik perhatian. Chan Yeol pura-pura tidak tahu dan meminum jus apelnya. Akhirnya 120 menit pun berlalu begitu saja.

“Chan Yeol-ssi, apa kau tidak punya film yang… lebih menarik?” tanya Seo Ah ketika credit title bergerak di layar kaca.

“Entahlah. Kau bisa memilih sendiri.” Dengan gerakan kepala, Chan Yeol menunjuk rak berisi koleksi filmnya.

Seo Ah tanpa sadar mendengus. Yang ia mau adalah Chan Yeol bangun dari sofa bodoh itu, mengambil sebuah film yang setidaknya—sedikit—membuat Seo Ah terkesan, lalu memutarnya. Dasar pria tidak peka!

“Kau tidak punya film horor?” tanya Seo Ah ketika sudah berhadapan dengan rak koleksi film Chan Yeol. Telunjuknya menyusuri satu per satu punggung case DVD yang berderet rapi.

“Aku tidak percaya hantu atau sejenisnya.”

Jawaban yang keluar dari mulut Chan Yeol sukses membuat Seo Ah memutar kepalanya. Ia sangat sangat sangat ingin berkata kasar. Entah keanehan apa lagi yang akan Chan Yeol tunjukkan selanjutnya, sepertinya Seo Ah harus kuat-kuat menahan diri untuk tidak membakar rumah. Ternyata Chan Yeol lebih membosankan dari yang Seo Ah bayangkan sebelumnya.

“Baik… lah….”

Seo Ah secara acak memilih satu film dan memasukkannya ke player. Tepat ketika film dimulai, ponsel Chan Yeol berdering. Pria itu pun mengangkat panggilan itu lalu keluar dari ruangan, dan… tidak kembali lagi setelah itu.

Seo Ah mendengus—lagi dan lagi. Antara lega dan jengkel.

Lega karena ia tidak lagi satu ruangan dengan pria menyebalkan yang sama sekali tidak peka itu, dan jengkel karena ia harus ‘menikmati’ film ini sendirian.

***

                Drrt… drrt…

Merasakan getaran di kepalanya, Seo Ah pun membuka mata. Ia langsung memegangi lehernya yang kaku dan sakit. Ternyata ia tertidur di meja, masih di home theater. Layar tv di depannya sudah gelap karena sudah diatur agar otomatis mati ketika tidak ada aktivitas selama lima belas menit. Keadaan masih sama seperti yang terakhir Seo Ah ingat, dan Chan Yeol sepertinya memang tidak kembali lagi ke sini.

Ponselnya bergetar lagi. Ada sebuah pesan masuk dari anak muridnya. Sebagai guru muda, Seo Ah cukup terkenal di kalangan para murid. Banyak sekali yang menjadikan Seo Ah teman curhat, bahkan beberapa kentara sekali menunjukkan ketertarikannya sebagai lawan jenis. Ya, seperti ‘perjanjian’ yang Chan Yeol dan Seo Ah tulis, pernikahan mereka masih berstatus rahasia.

Kali ini pesan itu masuk dari seorang murid bernama Kang Chan Hee. Ia mengirimkan beberapa fotonya bersama teman-temannya di festival olahraga. Tidak lupa ungkapan sedihnya karena Seo Ah tidak bisa datang. Hari ini, karena ingin istirahat seharian, Seo Ah beralasan pulang kampung karena ibunya sakit. Makanya dari pagi diam-diam Seo Ah terus menggumamkan kata maaf kepada ibunya di dalam hati.

Seo Ah pun membalas pesan itu dengan beberapa stiker lucu dan ucapan maaf, setelah itu ia mematikan ponselnya. Tidur dalam posisi itu dalam waktu cukup lama membuat lehernya sakit. Belum lagi AC yang sangat dingin, bisa-bisa Seo Ah masuk angin kalau terus berada di sini. Dengan malas, Seo Ah pun keluar dari tempat itu dan masuk ke kamarnya.

Chan Yeol baru keluar dari perpustakaan saat melihat Seo Ah masuk ke kamarnya. Wanita itu terlihat sangat berantakan, dengan mata setengah terbuka dan rambut acak-acakkan. Chan Yeol tebak, wanita itu pasti ketiduran saat menonton film. Ia jadi merasa bersalah. Kalau saja sekretarisnya tidak memberitahu kalau ada beberapa kesalahan yang cukup fatal di perusahaan secara tiba-tiba, ia pasti menemani wanita itu. Chan Yeol harus memeriksa dokumen-dokumen di email dan hasil fax seketarisnya berulang-ulang dan mencocokan dengan laporan yang ia terima. Dan tanpa terasa, jam sudah menunjukkan hampir pukul lima sore. Mereka berdua sama-sama melewati makan siang dan sibuk dengan urusan masing-masing.

Chan Yeol berdiri di depan pintu kamar Seo Ah yang tertutup rapat. Harusnya ia bisa memanfaatkan waktu langka ini untuk lebih dekat dengan istrinya. Oke, bukan berarti mesra, setidaknya sebagai teman satu rumah. Segala yang ia lakukan tadi kelihatannya malah membuat Seo Ah jengkel.

Tapi kalau dipikir sekali lagi, ini pertama kalinya Chan Yeol melihat ekspresi Seo Ah yang seperti itu. Meski Seo Ah bukan wanita dingin, tapi ia selalu menunjukkan wajah yang sama saat berbicara padanya. Tidak tersenyum, tidak marah, tidak takut, hanya… begitu. Namun seharian ini, ia bisa melihat wajah terkejut Seo Ah saat tahu dirinya juga mengambil cuti, wajah bosan wanita itu, sampai ekspresi seolah ingin mengunyah Chan Yeol hidup-hidup.

Chan Yeol terkekeh pelan. Oke, hari ini tidak terlalu buruk.

Beranjak dari pintu kamar Seo Ah, Chan Yeol melangkah ke home theater. Sepertinya ia harus melakukan perombakkan sedikit dengan koleksi filmnya. Menambahkan beberapa film horor dan romantis kedengarannya tidak terlalu buruk. Anggap saja sebagai persiapan kalau hari seperti ini datang untuk kedua kalinya, jadi Chan Yeol bisa melihat ekspresi macam-macam lagi dari wanita itu.

Namun, senyum Chan Yeol pudar bergitu saja ketika ia membuka pintu home theater. Ia tidak tahu harus mengeluarkan kata apa setelah ini. Rasanya mengutuk Seo Ah dengan satu kalimat pun tidak cukup. Bagaimana tidak? Seo Ah meninggalkan home theater ini bersama dengan jejak-jejaknya; botol jus yang tumpah sehingga meninggalkan noda jus di karpet tebal, remahan kripik kentang, bungkus permen di mana-mana dan juga bungkus popcorn bersamaan dengan sisa popcorn-nya, dan… rol rambut?

Chan Yeol memijit pelipisnya sambil menghela nafas. Apa perlu Chan Yeol ingatkan, siapa yang pertama kali membuat aturan ‘menjaga kebersihan’ di rumah ini?! Hah?!


♠♠♠

 

*Tanda panjang, artinya partnya selesai muehehehehe

Gimana? Bosen? Hm… ya begitulah. Gak mau ngomong panjang lebar dulu.

Kritik dan saran diterimaaaa

Regards: Ziajung (vanillajune.wordpress.com)

83 responses to “10 Steps Closer [1st Step] + Announcement

  1. Chanyeol baik sih, Seo Ah yg lebih cuek sebenernya..
    walaupun diem2 tapi Chanyeol tetep masih suka merhatiin Seo Ah..
    banyakin moment Chanyeol Seo Ah dong, mereka masih awkward banget sekarang..

  2. Ahhh rumahnya kyk enak bngt 😂😂😂 aturam enak dong kalo cuma ber 2 dirumah kan bisa mengenal satu sama lain asekkkk hahaha

  3. Seo Ah emang baik. Pembantu aja diperlakukan kaya gitu. Haha Chanyeol baru ngerasain dibangunin Seo Ah. Eits, dibuatin kopi nih sama istrinya? Kkk~ Rol rambut😄

    Mereka liburnya bisa bareng gitu ya? Sama-sama canggung cuma berdua di rumah. Giliran ada kesempatan nonton berdua, eh film-nya nggak asik. Chanyeol juga pake acara ninggalin Seo Ah kan jadinya Seo Ah ketiduran. Wkwk ekspresi Chanyeol pasti lucu banget pas ngeliat home theater berantakan trus ditinggal gitu aja sama Seo Ah padahal Seo Ah sendiri yang bikin peraturan tentang menjaga kebersihan😄

    Ya udah sih dinikmati aja. Justru seru tau…

    Keep writing ^^

  4. wowowo…
    enak bgt ya ada home theaternya u.u
    btw ini si seo ah emang ya.. siapa yg buat perjanjian siapa yg nglanggar wkwk
    tp sebenarnya seo ah baik ya
    eh dua”nya baik sih *mencoba untuk adil etapi emang iya sih wkwk

  5. Ff ny bagus kak😂 btw mereka berdua ini lucu ya, mungkin harusnya mereka ini lebih terbuka biar tau satu sama lain dan ga cuma diem diem sama bingung mau ngobrol apa pas berdu doang dirumah😂

  6. Wkwk kok aku ketawa gitu ya baca chapter ini, lucu ih alur ceritanya jadi bisa kebayang gitu. Semangat terus thor!

  7. bagian ending bikin ngakak…
    ibu guru lho seo ah itu, ibu guru… OTL
    segala rol rambut ditinggal, jadi inget diri sendiri yg ninggalin apa pun dimana pun hahaha
    padahal dia sendiri yang bikin perjanjian ya
    harusnya walaupun gak saling mencampuri, udah aja ngobrol biar gak gaje di rumah, mayan temenan ama suami/istri sendiri biar pun gak pake cinta yee kan? wkwkwkwk
    btw aku br tau nama asli juniel tuh seo ah, aku juga suka lagu2 dia hihihihi

  8. Nyesel baru tau keberadaan fanfic ini.ahhh,kenapa gak dari maren aja -,-

    Huwaaaa,aku suka . Suka banget malah,ceritanya simple,alurnya gak kecepetan,santai. Tapi bisa banget dinikmati. Aaaaaaaaaaa,aku fans baru mu kak❤❤

  9. Wkwkwkwk….. Seo Ah yang buat peraturannya sendiri, eh malah dia sendiri yang ngelanggar. Wkwkwkwk……

  10. Senyum-senyum nih baca part sea ah dilepasin roll rambut sama chanyeol pas mau brangkat kerja. A sweet! Mau walaupun sepertinya bakal malu-maluin tp gpp mau bgt digituin cy. Penasaran sama chapter selanjutnya 😍

  11. ada rambut juga? ya ampun seo ah :3
    yg ngebuat peraturannya lagi jengkel sama cy kkk~ dan ya nyatanya chanyeol juga ngerasa canggung pas nonton fil berdua sampe sampe chanyeol menghela nafas pas seo ah keluar yampun-_-

  12. mereka kapan nikahnya ? ko ga dicerirain hehe
    kayanya yg bakalan suka duluan yeol deh liat dari kelakuannya yg dingin tapi ga tegaan ke seo ah

  13. makin greget critanya
    dasar seo ah buat peraturan sendiri mlh dia yg melanggar
    chanyeol sm seo ah masih canggung gitu y
    lanjut baca penasaran …

  14. aku baru pertama kali nih baca ff yang castnya chanyeol .. itu berkat aku baru nonton filmnya chanyeol yg i married the anti fan dan sumpah chanyeol disitu super duper wow banget tampannya .. dan akhirnya cari cari ff chanyeol dan ketemu 10 steps closer ini aku suka banget sama karakter chanyeol disini dingin dingin datar gitu bikin orang penasaran jadinya ..
    dan karakter seo ah juga bagus ..
    tanpa mereka sadari sebenernya mereka saling merhatiin gitu ya .. hahah ..
    tapi aku bingung mereka ga tidur satu kamar? mereka dijodohin ya? mereka belum jatuh cinta?
    aku jadi penasaran heheh ..
    aku izin baca ya kak🙂
    semangat!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s