[Se-Tae Series] Never Ending Story

Author : ohnajla

Genre : Drama, romance, marriage life, friendship

Length : oneshoot

Rating : Teen

Cast : Kim Tae Hyung aka V BTS, Jeon Jungkook BTS, Oh Sena (OC), Min Hyorin (OC), Kim Yuna (OC)

*hallo semuanya ^^ saya comeback nih sambil bawa Se-Tae. Mungkin udah pada lupa ya ceritanya, ya iyalah udah setahunan nggak dilanjutin😀 aku aja harus buka-buka file lama buat nyari biodata asli para cast😄 aku anggep ini comeback karena aku lagi kangen sama readers-ku :v maafkan kalo ceritanya aneh. aku sangat menghargai yang membaca, mau koment atau nggak, ngelike atau nggak ya nggak masalah. asalkan ada yang baca #tears sudah deh, nggak usah banyak pidato lagi. Saatnya cuss!

Happy Reading !

Taehyung melangkah dengan tenang mendekati ranjangnya. Caranya berjalan sudah tidak seperti dulu lagi, sekarang dia pincang karena kaki kanannya menggunakan kaki palsu. Namun begitu dia tidak merasa kesulitan saat berjalan, karena kaki palsu itu sudah ada di kakinya selama setahun ini.

Ia meletakkan dua lembar kartu undangan di atas nakas. Kedua-duanya memiliki bentuk dan warna yang sama, tapi berbeda pada isian kolom nama.

Kepada: Kim Tae Hyung

Kepada: Oh Se Na

Kartu undangan itu didapatnya setelah membuka pintu apartemen mereka, di mana seorang pengirim bertandang. Siapa lagi orang itu kalau bukan Jungkook.

“Oh, ternyata kau. Ada apa?”

Taehyung telah memersilahkan Jungkook untuk duduk di ruang tamu, tapi Jungkook menolak.

“Aku hanya mau memberikan kartu undangan untuk kalian.”

“Undangan? Acara apa?”

“Reuni SMP. Untuk angkatan kita dan Sena,” ujarnya seraya menyodorkan dua kartu persegi panjang ke hadapan Taehyung.

Taehyung menerimanya, meneliti tulisan besar-besar di sampul kartu tersebut. Ada namanya dan Sena, ditulis dengan tulisan tangan yang menurutnya sangat indah.

“Oh, tulisannya bagus.”

“Itu Hyorin yang menulisnya.”

“Ah, Hyorin.” Pandangannya pun tertumbuk pada Jungkook. “Kau masih berhubungan dengannya?”

Jungkook menggaruk tengkuknya yang sebenarnya tidak gatal. “Tidak juga sih.”

Taehyung hanya mengangguk kecil, malas bertanya lebih lanjut. “Masih ada lagi?”

Jungkook menggeleng. “Aku mau ke rumah yang lain, Hyorin menitipkan banyak undangan padaku.”

“Ah begitu. Ya sudah, semoga lancar.”

Eoh. Annyeong.”

Meskipun Taehyung yang membukakan pintu untuk Jungkook, sebenarnya di apartemen itu tidak hanya ada dia seorang. Sena sedang sibuk di kamar mandi, mandi sekaligus memandikan putra mereka. Ya, setahun telah berlalu semenjak kejadian mengerikan yang membuat Taehyung kehilangan setengah kaki kanannya. Kehidupannya dengan Sena sekarang lengkap sudah. Lima bulan lalu, tepat 9 bulan kehamilan Sena, Kim Tae Hun akhirnya lahir ke dunia. Anak itu lahir normal, bobotnya 3 kg dan menangis keras beberapa detik setelah keluar dari rahim. Dia tidak mewarisi kulit pucat ibunya, melainkan kulit tan ayahnya. Meski begitu kelahirannya sangat istimewa, selain ada Taehyung, saat persalinan berlangsung ada juga Sehun, Daena, Daehun, Sehyun, kembar empat Cheon, ayah ibu Daena, ibu Sehun, keluarga Kai, Daehyun, Baekah, Jungkook, Mark, bahkan Ryeju yang datang jauh-jauh dari Beijing. Baekhyun dan Jung Ah berperan sebagai dokter persalinannya.

Taehyung menoleh ketika pintu kamar dibuka. Sena datang bersama putra kecil mereka. Keduanya sama-sama memakai jubah mandi. Taehun tampak tidak nyaman di pelukan Sena, terbukti dari caranya mencoba melepaskan diri.

“Taehun, jangan begitu ah,” gumam Sena sembari mempererat pelukannya. Dia membuka lemari, mencari pakaian yang cocok untuknya dan untuk Taehun. Bibirnya terus mendesis tatkala Taehun sulit diatur, dia kesulitan mengambil pakaian mereka karena ulah Taehun.

“Taehun-a…”

“Sini, berikan padaku.” Taehyung sudah berdiri tepat di belakang Sena. Dia langsung mengambil alih anak tampan itu lalu membawanya ke atas ranjang dan direbahkan di sana dalam keadaan telentang.

“Tampannya anakku.”

Taehyung menciuminya, mengajak bicara, bermain, dan apa pun itu sampai Sena datang sambil membawa satu setel pakaian mungil untuk Taehun. Tidak perlu disuruh, Taehyung dengan alaminya langsung memakaikan baju itu ke tubuh Taehun. Ia begitu cekatan dan terlatih. Sementara Sena berganti baju di ruang kecil di kamar itu yang sebenarnya difungsikan untuk ruang kerja Taehyung. Setelah selesai, dia bergabung dengan Taehyung dan Taehun.

Matanya tak sengaja melihat kartu undangan di atas nakas. Diraihnya satu, tanpa melihat milik siapa kartu itu.

“Siapa yang memberikan ini?”

“Hm?” Taehyung menoleh sekilas, lalu kembali fokus pada Taehun. “Jungkook, barusan dia datang.”

“Ah … Jungkook sunbaenim.” Kartu itu kembali tergeletak di atas nakas. Sena naik ke atas ranjang, duduk tepat di sebelah Taehyung. “Kau akan datang?”

“Entahlah. Bagaimana denganmu?”

Sena memandang Taehyung dan Taehun bergantian. “Sebenarnya aku sedikit khawatir.”

Wae?”

“Ini reuni SMP. Aku tidak siap datang bersamamu dan Taehun.”

Taehyung tersenyum melihat Taehun selesai memakai baju. “Jadi kau menghawatirkan itu? Memangnya salah ya sudah menikah dan punya anak?”

Sena menggeleng, wajahnya masih dirundung kekhawatiran yang sama. Entah mengapa, tiap kali akan bertemu banyak orang pasti dia memiliki banyak hal yang sebenarnya tidak patut dikhawatirkan. Dan karena menghawatirkan hal yang sepele itulah Sena mudah sekali berpikiran buruk terhadap sesuatu.

Taehyung membalik tubuh Taehun menjadi tengkurap, kemudian menepuk pelan pantatnya. Giliran dia menoleh pada Sena. Kelihatan jelas sekali mendung di wajah itu. Matanya terbuka, tapi seakan ada sesuatu yang menutupnya sehingga tidak menyadari bahwa mata lain sedang tertuju padanya. Ini bukan pertama kalinya tentu saja. Taehyung sudah sering melihatnya, bahkan sebelum mereka resmi berumah tangga.

Sena tersentak ketika sebuah lengan melingkari lehernya. Ketika dia menoleh, sebuah kecupan mendarat mulus di dahinya, membuatnya tenang saat itu juga. Saat kecupan itu berakhir, ia mendongak, bersitatap dengan pemilik iris cokelat yang merangkulnya. Tatapan itu, tanpa perlu dijelaskan, memberikan efek sihir yang positif untuknya. Semua kekhawatiran yang melandanya seketika lenyap. Tatapan itu seolah menawarkan kenyamanan.

“Kau tidak perlu mengkhawatirkan apa pun.”

Hanya dengan satu kalimat itu, senyum Sena pun merekah. Jemari lelaki Taehyung mengusap bibir itu dengan lembut.

“Teruslah tersenyum seperti ini, kau sangat cantik.”

Pipi Sena memanas. Tak mau Taehyung melihatnya, ia pun menyembunyikannya sembari memeluk pria itu. Tawa ringan Taehyung terdengar. Membuat Sena semakin erat memeluknya.

**

Hari itu, akhirnya Taehyung dan Sena datang ke pesta reuni SMP mereka. Mereka pergi bersama Jungkook dengan mobil miliknya. Pesta reuni itu bertempat di tempat yang sama di mana Taehyung dan Sena bertemu untuk pertama kali. Tapi kini Sena tidak memakai gaun Princess, dia memakai gaun yang sesuai untuk ukuran tubuh dan usianya.

Mereka turun dari mobil. Taehyung membantu Sena sekaligus dalam posisi menggendong Taehun. Setelah semuanya keluar, Jungkook menekan tombol kunci otomatis. Ketiganya sepakat untuk masuk gedung aula.

Berpasang-pasang mata tertuju pada mereka. Taehyung menunjukkan senyumnya, mengangkat tangan Taehun untuk melambai.

“Benarkah itu Taehyung? Taehyung yang itu?”

“Bagaimana bisa dia datang dengan Jungkook?”

“Siapa gadis di sebelahnya? Dan itu … anaknya?!”

Suara-suara itu terdengar jelas di telinga Sena. Darahnya serasa mendidih, entah kenapa pertanyaan-pertanyaan orang itu sangat menyebalkan. Apa salah Taehyung datang bersama Jungkook? Sena tahu, semua orang di sini masih menganggap Taehyung sebagai seorang pecundang, yang tidak punya apa-apa selain kecerdasan. Ingin sekali Sena berteriak, mengatakan pada mereka kalau Taehyung bukan pria yang seperti itu lagi. Dan satu hal yang membuatnya geram. Aku ini istrinya, dan itu anak kami!

Sena hampir saja menabrak seseorang jika sebuah lengan tidak menahannya. Dia menoleh, bersitatap dengan pemilik iris cokelat tersebut.

“Jangan melamun.”

Sena hanya mengangguk lemah. Ia meraih lengan itu, lalu merangkulnya di sisi tubuh. Tidak peduli apa yang akan dikatakan mereka, Sena tidak mau berjalan berjauhan dengan Taehyung. Bahkan satu jengkal pun tidak akan ia biarkan.

Sesampai mereka di dalam, seorang gadis mungil dalam balutandress marun ketat menghampiri mereka sambil membawa segelas wine. Ia tersenyum begitu manis, memamerkan wajah ayunya.

“Ah, akhirnya kalian datang juga,” ucapnya penuh wibawa. Sena paling benci dengan cara bicara gadis itu.

Min Hyorin masih tersenyum. Tapi Sena tahu, mata gadis itu sedang meneliti dirinya dan Taehyung. Sena risih sendiri, dia mempererat rangkulannya di lengan Taehyung.

“Jadi benar ya, kalian ternyata sudah menikah.” Lagi-lagi Sena kesal dengan cara bicaranya.

Tidak hanya Sena, Jungkook sebenarnya juga risih. Ia pun maju, lalu menyeret Hyorin untuk pergi. Sebelum itu dia menoleh. “Kalian carilah tempat duduk.”

Min Hyorin nampak keberatan saat Jungkook menyeretnya. Mereka terlibat aksi saling tarik menarik sampai bayangan keduanya tertelan oleh kerumunan orang.

Sena tersadar dari perang pikirannya ketika Taehyung menariknya menuju sebuah meja kosong di sudut ruangan. Mereka berdua duduk bersebelahan di meja tersebut, Taehun duduk di pangkuan ayahnya.

“Kau haus?”

Sena menggeleng. “Kau sendiri?”

“Eum. Bisa kau ambilkan.”

Sena berdiri untuk meraih segelas sirup di tengah-tengah meja. Ia kembali duduk setelah menyerahkan gelas kaca berisi cairan merah muda di hadapan Taehyung. Pemuda itu menghabiskannya dalam sekali teguk. Saat dia minum, Taehun mendongak, memperhatikan apa yang dilakukan ayahnya.

“Taehun mau?” tawar Taehyung saat melihat putranya sedang memperhatikannya.

Anak mungil yang memakai baju kasual lucu itu mengangguk dengan mata berbinar. Sena pun menuangkan sirup ke dalam gelas tadi, dan menambahkannya dengan pipet. Taehyung membantu putranya meminum sirup tersebut.

Tak lama kemudian Jungkook datang. Tanpa Hyorin di sampingnya. Ia langsung menduduki kursi kosong di sebelah Sena. Meraih satu gelas sirup, menghabisinya dengan ganas. Sena menggeleng pelan, sedikit khawatir Jungkook akan tersedak kalau minum seperti itu.

“Kemana perginya si sombong itu?” tanya Taehyung setelah Taehun menghabiskan sirupnya. Ia menyeka sekitar bibir Taehun yang basah dengan tisu.

Sena menoleh pada Jungkook, menunggu jawaban.

“Aku tidak memperbolehkannya menemui kalian,” jawab Jungkook tenang, sangat tenang malah. Ia memperhatikan bagaimana Taehyung mengurus Taehun.

“Kenapa kau melakukan itu? Dia pasti sangat kesal padamu. Aku tahu dia sangat merindukanku, rindu menghinaku seperti dulu.”

Sena mencubit lengan Taehyung. Mengatakan lewat tatapannya kalau Taehyung tidak boleh berbicara seperti itu di depan Taehun.

Yaa, Taehun akan belajar kata-kata yang kau ucapkan. Hati-hati dengan ucapanmu,” peringat Jungkook mewakili Sena bicara.

Taehyung berlagak tidak peduli. Dia hanya menciumi putranya.

Semua perhatian di aula tersedot oleh suara yang keluar darisound system. Gadis dengan dress marun ketat, Min Hyorin berdiri di panggung sembari memegang mic. Dia mengatakan sesuatu yang membuat ruang itu hening seketika. Sena tidak mendengarnya dengan seksama, tapi dia tahu intinya. Hyorin akan membuat acara reuni ini seperti acara Dies Natalies dulu, pesta dansa akan dimulai.

Beberapa gadis senior Sena berbondong-bondong menghampiri meja mereka. Semua gadis itu kompak mengajak Jungkook berdansa. Jungkook sedikit kewalahan mengurusnya. Dia ingin menolak tapi takut membuat sakit hati, mau diterima juga dia enggan berdansa. Akhirnya kerumunan gadis senior itu berlalu dari meja mereka.

“Mereka pasti kesal sekali,” gumam Taehyung sembari melirik Jungkook. Yang dilirik hanya menghela napas, malas berbicara dengan Taehyung.

Dan orang yang paling tidak diinginkan di meja itu pun datang. Hyorin. Dia duduk dengan santai mengisi kursi kosong di sebelah Taehyung.

“Anak itu lucu sekali,” ucapnya saat memperhatikan duplikat mini di pangkuan Taehyung.

“Oh maaf, sepertinya Taehun sedang malas menyapamu,” balas Taehyung enteng. Ia merangkul perut anaknya, memaksa anak itu untuk bersandar padanya.

Hyorin hanya menyeringai. Giliran dia menoleh pada Sena. Tatapan keduanya saling bertumbuk, terdapat listrik bertegangan rendah yang tak kasat mata di antara mereka. Jungkook juga ikut menatap Hyorin, menambah tinggi tegangan dari arus listrik tersebut.

“Entah kenapa aku sangat kesal melihat kalian berdua dari sudut ini. Jungkook, kau tak lebih dari seorang loser. Semua orang tahu bagaimana dulu kau sangat tergila-gila pada gadis di sebelahmu itu. Kau bahkan hampir membunuh ayah dari anak kecil itu. Dan sekarang. Hahaha, kau sungguh membuatku ingin tertawa. Semudah itukah kau menyerah?”

Jungkook sudah mengepalkan tangannya, tinggal kapan waktu yang tepat untuk melayangkan kepalan tangan itu ke wajah gadis sombong tersebut. Sebelumnya dia sudah memberi peringatan pada Hyorin untuk tidak mendekati mereka, tapi sepertinya peringatan itu tidak membuat Hyorin takut. Gadis bermental kekanak-kanakkan itu membuatnya ingin berkata kasar saja.

Yaa, siapa dirimu yang berani bicara seperti itu pada Jungkook?”

Hyorin, Sena dan Jungkook menoleh ke asal suara. Taehyung, pria itu, menatap lurus pada Hyorin. Dia marah, tapi tidak memperlihatkannya. Justru yang seperti itulah yang mengerikan.

“Kau….” Belum sempat Hyorin melanjutkan, Taehyung menginterupsinya.

“Memangnya kau siapanya? Ibunya? Bahkan ibunya tidak menyebutnya sebagai loser. Jadi dia adalah loser karena gagal merebut Sena dariku? Lalu kau apa? Kau juga gagal merebutku dari Sena ‘kan?”

Wajah Hyorin sudah memerah. Hanya perlu menunggu waktu kapan dia akan menyemburkan kemarahannya.

“Tak mengapa kalau Jungkook mau membunuhku, toh dia sahabatku sekarang. Aku bisa memaafkan kesalahannya di masa lalu, tapi aku tidak bisa memaafkanmu bahkan saat aku terlahir kembali. Di sini, kaulah loser sebenarnya.”

BRAK!

Taehyung reflek menutup kedua telinga Taehun. Sena dan Jungkook menatap Hyorin sengit.

“Mentang-mentang kau menikah dengan gadis kaya raya, kau tetap tidak bisa menutupi dirimu yang sebenarnya, Kim Taehyung! Kau ini hanya seorang pecundang! Sampah masyarakat! Baj*ngan! Ingatlah! Sebelum bertemu dengannya kau ini bukan apa-apa. Kau tidak punya apa pun selain otakmu! Hah, aku muak mendengarmu bersombong di depanku!”

PLAK!

Kini Taehyung menutup kedua mata Taehun dengan tangannya. Ia tak ingin putranya melihat adegan itu.

Hyorin memegangi pipinya, menatap Sena geram. “Kau….”

Sena balas menatap sengit. “Kau boleh menjelek-jelekkanku, tapi tidak dengan Taehyung. Kau benar, sunbae, dia tidak memiliki apa-apa sebelum bertemu denganku. Tapi, bukankah kau yang lebih dulu bertemu dengannya? Kalau kau adalah gadis yang punya pikiran maju, kau pasti akan membantunya keluar dari keadaan sebatang karanya itu. Setidaknya kau harus jadi temannya. Tapi, kau malah menghinanya, menyudutkannya dengan kata-kata kasarmu. Aku masih bisa menolerir kesalahan Jungkook sunbaenim di masa lalu. Tapi ini, maaf, kau bahkan sudah mengucapkan kata-kata itu di depan Taehun.”

Tanpa menunggu jawaban dari Hyorin, Sena langsung berbalik dan pergi begitu saja. Suasana aula yang semula hening tiba-tiba disentak oleh suara tangisan Taehun. Dan suasana pun makin kacau saat sebagian besar yang hadir di sana mulai membicarakan perkara masa lalu, permasalahan yang tidak pernah selesai antara Taehyung, Sena, Jungkook dan Hyorin.

Taehyung tenang-tenang saja duduk di kursinya, dia mengacuhkan yang lain karena sibuk menenangkan Taehun. Sementara Jungkook, langsung ambil langkah membawa Hyorin keluar dari sana, membicarakan masalah yang diperbuat gadis itu.

Jungkook menyentak tangan gadis itu, membuat Hyorin meringis kesakitan karena pergelangan tangannya mulai memerah.

“Bukankah sudah kuperingatkan! Jangan ungkit-ungkit masa lalu di depan mereka lagi! Kau itu manusia atau batu, hah?!”

Nyalang mata Jungkook membuat Hyorin gentar. Jungkook tidak pernah semarah ini sebelumnya, karena Jungkook selalu ada di sisinya. Tapi karena keributan tadi, Jungkook berubah menjadi orang yang sama sekali asing untuknya.

“Kau bahkan meneriakiku.”

“Ya! Karena kau salah! Bisakah kau pakai otakmu, hah?!”

“Ini semua kulakukan untukmu!” Mata Hyorin mulai berkaca-kaca. “Sena memilih orang yang salah. Taehyung memilih jalan yang salah. Kau … kau….”

Jungkook masih belum bisa meredakan amarahnya meski air mata mulai mengalir di wajah gadis itu. “Aku tidak pernah meminta bantuanmu untuk hal seperti ini. Tidak cukupkah kau melihat aku dan Taehyung berdamai? Tidak puaskah kau melihat Taehyung bahagia dengan Sena? Kau … kenapa kau melakukan ini?!!!”

“Aku mencintaimu Jungkook, aku sangat mencintaimu!!”

Jungkook sedikit kaget mendengarnya. Mencintainya?

Isakan gadis itu mulai terdengar keras. “Aku ingin melihatmu bahagia dengan orang yang kau cintai, apa aku salah? Meski aku tidak bisa memilikimu … aku ingin kau memiliki orang yang kau cintai. Aku melakukan semua itu untukmu, hanya untukmu. Aku tidak membenci siapa pun, aku hanya kesal melihat Sena mencampakkanmu. Kau tahu, melihatmu sedih karenanya aku juga ikut sedih. Aku benci melihat kebahagiaan mereka di atas penderitaanmu, Jungkook-a!”

Jungkook menghela napas. Jadi itu permasalahannya. Pernyataan cinta Hyorin sangat mengejutkan, tapi lebih mengejutkan lagi karena Hyorin ingin dia bisa bersama Sena. Jungkook menghargai perasaan itu. Namun, cara ini salah. Lagipula sekarang perasaannya pada Sena sudah mulai terkikis, Hyorin sama sekali tidak tahu bahwa ada orang lain yang akan menggeser tempat Sena di hatinya.

“Tapi cara seperti ini juga salah, Hyorin. Setiap pengorbanan itu ada bayarannya, dan inilah bayaran yang harus kulakukan sebagai pengorbananku mengikhlaskan hubungan mereka. Aku menghargai perasaanmu, tapi tolong jangan ikut campur lagi, ini adalah pilihanku.”

Hyorin menatapnya, entah mengapa melihat Jungkook seperti itu semakin membuat perasaannya teriris. Dia ingin cinta pertamanya itu bahagia dengan orang yang dikasihinya, tapi yang ia lakukan ini, yang dia anggap membantu ini malah salah di mata cinta pertamanya itu. Hyorin menggigit bibirnya, hatinya hancur sudah. Sekarang dia tak lebih seperti hama di kehidupan Jungkook. Hanya merugikan dan tidak membawa manfaat apa pun.

Melihat pakaian Hyorin yang terbuka, Jungkook risih sendiri. Ia pun melepas jaketnya, lalu ia sampirkan di punggung gadis itu. Tatapan mereka saling bertumbukan.

“Setelah ini urusilah riasanmu. Kau akan ditertawakan banyak orang kalau kembali dalam keadaan seperti ini.”

Jungkook mengeratkan jaket itu di tubuh Hyorin terlebih dulu sebelum berbalik dan pergi. Hyorin menatap punggungnya sambil mencengkram erat jaket tebal yang membalut tubuhnya.

**

Jungkook tidak menemukan keberadaan Taehyung saat kembali ke dalam, jadi dia langsung menuju tempat di mana mobilnya berada. Dia melihat sejoli itu di sana, duduk di bangku kayu yang berada tepat di sebelah moncong mobilnya. Dia langsung mendekat saat Taehyung menyadari keberadaannya.

Jungkook berlutut di hadapan Sena yang sedang menangis. “Kau baik-baik saja? Maafkan dia kumohon.”

Taehyung hanya memperhatikan, enggan berkomentar karena Taehun sedang tertidur di pelukannya.

Sena menyeka wajahnya yang sembab. Menatap Jungkook dengan matanya yang masih merah.

“Aku baik-baik saja.”

Jungkook ingin sekali menyeka air mata yang mengalir dari mata itu. Tapi dia enggan, dan sudah keduluan Taehyung. Ia pun menghela napas, mengeluarkan kunci mobil dari sakunya, menekan tombol unlock otomatis.

“Kalau begitu ayo kuantar pulang.”

Pemuda itu bangkit dan melangkah mendekati kursi kemudi. Dan langkahnya terhenti saat dia mendengar pembicaraan singkat di belakangnya.

Oppa, bolehkah aku memeluknya? Sekali saja.”

“Eum, tentu kau boleh melakukannya.”

Suara ketukan sepatu tinggi terdengar dari belakangnya, dan sesaat kemudian sepasang lengan melingkar di pinggangnya. Jungkook hanya bisa diam, mematung tanpa melakukan apa pun. Dia merutuki Taehyung karena membiarkan Sena memeluk mantan rivalnya.

“Sena-ya….”

“Hanya sebentar, sunbaenim. Aku hanya ingin mengatakan sesuatu padamu.”

Jungkook menunggunya dengan sedikit tidak sabaran. Apa yang ingin Sena katakan sampai harus memeluknya seperti ini?

“Mungkin dulu aku pernah membencimu. Tapi, setelah waktu berlalu, setelah aku lihat kau sangat perhatian pada Taehyung dan aku, aku tidak bisa tidak mengucapkan ini padamu. Terima kasih banyak. Kau sudah sangat banyak membantu keluarga kecilku. Aku tidak tahu harus membayar budimu ini dengan apa. Aku hanya berharap, kau bahagia dengan pilihanmu nanti. Maafkan aku yang tidak bisa membalas perasaanmu.”

Jungkook tersenyum tipis, dia bisa melihat pantulan dirinya dari kaca mobil. Ia pun mengambil napas dan menghelanya yakin. Dilepasnya rangkulan Sena di pinggangnya, sembari menoleh.

“Kau tidak perlu meminta maaf. Itu bukanlah hal yang perlu dimintai maaf. Terima kasih. Aku juga berharap kau bahagia dengan Taehyung.”

Sena tersenyum haru. Mengangguk.

Dan setelah adegan haru itu selesai, Jungkook pun memutuskan mengantar mereka kembali ke apartemen.

**

“Taehun, ucapkan selamat tinggal pada Jungkook samchon.”

Dengan bantuan Taehyung, Taehun melambaikan tangannya kepada Jungkook yang hanya terlihat bagian kepalanya dari jendela mobil yang dibuka. Jungkook membalas lambaian tangan Taehun dengan perlakuan serupa.

“Kapan-kapan kita bertemu lagi ya, keponakan.”

“Hati-hati di jalan,” ucap Sena lirih. Jungkook tersenyum padanya.

“Sering-seringlah datang ke apartemen kami. Rumah itu jadi sepi karena kalian jarang berkunjung.”

Mendengar ucapan Taehyung, Jungkook tertawa. Ya, akhir-akhir ini dia, Jongsoo, Mark, dan Daehun memang jarang berkunjung ke rumah Taehyung lagi. Rutinitas mereka di kampus sangat padat, jadi sulit meluangkan waktu untuk sekadar berkunjung.

“Ah ya, kapan kau akan kembali kuliah?” tanya Jungkook setelah dia teringat soal kuliahnya yang sebentar lagi selesai.

“Eum, benar, aku hampir lupa dengan kuliahku.” Taehyung nyengir. “Seharusnya tahun ini angkatan kita lulus ‘kan? Hm, aku akan mulai tahun depan saja. Sekalian satu angkatan dengan Sena.”

“Ah, begitu. Ya sudah. Aku pergi dulu. Sampai jumpa.”

Taehyung dan Sena mundur satu langkah ke belakang, membiarkan mobil mewah warna hitam sekelam malam itu melesat pergi dari hadapan mereka. Setelah bayangan mobil itu hilang, keduanya memutuskan untuk naik ke tempat tinggal mereka.

**

Mobil hitam itu berhenti di pelataran parkir gedung fakultas seni Universitas Seoul. Saat dia keluar dari mobil itu, bertepatan seseorang yang ingin dicarinya keluar dari gedung tersebut. Jungkook tersenyum, melangkah dengan tenang menghampiri gadis itu.

“Aku datang tepat waktu ‘kan?”

Gadis itu tersenyum lebar, memperhatikan Jungkook dengan mata indahnya yang berbinar-binar. “Sehabis acara reuni SMP, kau langsung kemari?”

Jungkook mengangguk. Ekspresi wajahnya berubah lelah, sambil memegangi bahunya dia berkata, “Aku lelah sekali, ah … ternyata reuni semelelahkan ini.”

“Kalau begitu aku yang akan menyetir mobilnya.”

“Tidak boleh,” jawab Jungkook cepat. Dia langsung menggaet lengan gadis itu, menyuruhnya masuk ke pintu di samping kemudi.

“Kau ini putri, seorang putri tidak boleh menyetir kendaraannya sendiri.”

Gadis itu hanya tersenyum geli. Ia pun menuruti perintah Jungkook untuk masuk ke dalam mobil. Jungkook sendiri duduk di bagian kemudi, membawa kendaraan itu menuju tempat yang ingin mereka tuju sekarang.

**

Seoul nampak indah di malam hari. Terlebih untuk taman sungai Han-nya. Lampu di jembatan yang membentang di atas permukaan sungai Han itu menyala, menawarkan warna-warni indah untuk memanjakan mata setiap orang.

Mobil hitam mewah milik Jungkook bisa kita lihat berada di area parkir yang tak jauh dari area taman. Si pemiliknya sudah berada di pinggiran sungai, menggandeng mesra tangan seorang gadis cantik.

“Lampunya cantik, warna-warni,” gumam gadis itu yang masih terpesona akan keindahan yang ditawarkan lampu-lampu tersebut.

Jungkook bukannya ikut melihat lampu-lampu itu, dia malah mengamati gadis di sampingnya. Rona warna-warni lampu seakan menyapu wajah cantik gadis itu.

“Tapi lebih cantik dirimu.”

Yuna akhirnya menoleh. Tersenyum simpul mendengar penuturan Jungkook. “Bisakah kau berhenti mengatakan itu? Kau membuatku malu.”

Jungkook mengecup dahinya, menandakan bahwa dia tidak mau berhenti. “Kau selalu cantik.”

“Sepertinya ada sesuatu yang terjadi di acara reuni. Kau tidak berniat memberitahuku?”

“Memangnya kau mau mendengarnya?”

“Tentu saja,” balas Yuna sebal dengan wajah cemberut. “Aku ‘kan selalu mendengarmu.”

Jungkook memperhatikan tiap lekuk wajah Yuna dengan lamat-lamat. Dia tidak pernah bosan, meski sudah berulang kali melihatnya. Dia hampir saja terlena dengan kecantikan itu sebelum tangan Yuna dengan gemasnya membuat wajahnya menoleh. Dia tertawa.

“Sepertinya kau memang tidak mau memberitahuku.”

“Aku mau baru memberitahu, tapi sedikit tertunda karena melihat paras dewi di hadapanku.”

Wajah Yuna merona hebat. Ia memukuli Jungkook sambil tertawa pelan.

“Tadi, ada dua gadis yang memintaku untuk bahagia.”

Sekarang ekspresi Yuna berubah serius. “Dua gadis? Siapa mereka?”

Jungkook menatap tepat ke manik mata Yuna. “Sena dan Hyorin.”

“Sena?”

“Eum.”

“Kenapa?”

Jungkook merangkul pinggang Yuna, sekadar membuat Yuna tidak kedinginan. “Kau belum tahu, dulu dia pernah mengisi hati ini.”

Mendengarnya Yuna sedikit kecewa. “Dan sekarang, apa masih?”

Jungkook tidak menjawabnya dengan kata-kata, melainkan tatapan matanya. “Tempat itu sudah direbut oleh orang yang kulihat sekarang.”

Yuna membalas tatapan pria itu. Ada kegelaan di sana melihat bayangannya di mata Jungkook. “Benarkah?”

“Eum. Semua tempat itu sudah dikuasai oleh orang yang kulihat ini.”

Yuna tersenyum lebar. “Aku tersanjung.”

“Itu harus,” balas Jungkook sembari memeluknya. “Aku belajar kata-kata seperti itu setelah mengenalmu. Kalau kau tidak tersanjung mendengarnya, itu berarti aku gagal.”

Gadis itu hanya menertawai kepolosan Jungkook. Balas memeluk pria tersebut.

“Aku sudah mendapat tempat di salah satu perusahaan rekaman. Selulus kuliah, bagaimana kalau aku berkunjung ke rumahmu? Aku akan mengajak serta ibuku dan Jihwan saat ke sana.”

“Untuk apa datang ramai-ramai seperti itu?” tanya Yuna geli.

“Ya untuk apa lagi. Tentu saja melamarmu.”

“Me-me-melamar?”

“Eum.”

Yuna mendorong pelan bahu Jungkook agar mereka bisa saling bertatap muka. “Kau serius?”

“Kapan aku tidak serius?”

“Tapi….”

“Ah aku kedinginan.” Jungkook memotong ucapan Yuna dengan memeluk gadis itu lagi. Diam-diam ia tersenyum, membayangkan masa depannya dengan Yuna nanti yang semoga saja lebih bahagia dari kehidupan Sena dan Taehyung. Bahkan dia sudah memikirkan nama-nama anak mereka, benar-benar sangat berharap rupanya.

END

14 responses to “[Se-Tae Series] Never Ending Story

  1. wahh keluarga bahagiaa..
    gk nyangka Jung Kook makin dewasa ya haha.. dan dia mau ngelamar yuna.. bagus2 ka bikin ff tentang jungkook pas ngelamar Yuna ka..
    keep writing.. Semangat!!!

  2. Iya si ka, gatau jalan ceritanya dari awal tp buat part ini bagus ko
    Suka ama mini family’nya SeTae, duhh yg bikin gagal fokus bukannya konfliknya tp malah mukanya Taehun, nggemesin banget kali yaaa kalo dibayangin wkwk
    Jeon diem2 juga udah punya Yuna yg mau dilamar huhh tinggal nunggu gimana kedepannya Jeon ama Yuna, makin sweet kali ya ampe bikin iri + envy wkwk

  3. keluarga taehyung sena kok kyknya harmonis bgt ya.. jadi pengen punya keluarga yg kyk gitu ^^ semoga jungkook jg bisa bahagia sama pacar barunya ya hehe
    kangen deh baca seriea ff ini.. sering2 update ya ^^

  4. Lah mbayangin v punya anak lucu ya..
    Kookie sweet banget sih.. Jadi ngiri ama yuna..
    Keepwriting^^

  5. kangen banget ama couple ini finally comeback juga
    happy wedding pokoknya mereka jangan ada lagi masalah baru yang dateng
    min hyorin kasian banget ngenes banget nasibnya gk dapet siapapun dan gk ada yang menghargai keegoisannya
    jungkook bahkan udah menemukan tambatan hati yang sejati yaitu yuna

  6. Waah setae kambek!!! Untung mampir ke SKF😀 tak apelaaaaa kalo cerita nextnya fokus ke jungkook atau anak2 exo lainnya. Overall aku sukaaaa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s